Dec 1, 2012

POSITIVISM

Ass Wr Wb
Jika ingin membaca lebih lanjut perihal POSITIVISME, silahkan konek berikut:











Wss Wr Wb

Marsigit

9 comments:

  1. Risnawati Amiluddin (13709251022)
    P.Mat A

    Assalamu Alaikum Wr.Wb
    Awal munculnya aliran positivism didasarkan kepada kepercayaan terhadap hukum-hukum alam sebagai kendali terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, dari dasar pemikiran ini kepercayaan terhadap takhayul, ketakutan, kebodohan, dan paksaan, dan konflik sosial dihilangkan dari masyarakat.
    Aliran positivism adalah aliran filsafat yang berpangkal pada fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Positivism bukanlah suatu aliran yang berdiri sendiri, aliran ini menyempurnakan emperisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, Positivism menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi pada dasarnya positivism sama dengan empirisme ditambah rasionalisme.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  2. Usi Susanti
    14709251019
    P Mat C

    Assalamu'alaikum
    Berdasarkan positivism atau positif logis, filsafat harus bisa memberikan nilai apakah pernyataan itu benar atau salah. Positif logis ini lebih ke filsafat sains yang sangat mementingkan adanya bukti empiris berdasarkan fakta dalam menentukan kebenarannya. Filsafat logis menggap bahwa bidang metafisika tidak ada artinya, seperti etika dan keindahan.
    wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  3. Nurul Husnah Mustika Sari (14709251013)
    Pend. Matematika PPs UNY Kelas D
    Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika, ilmu ghaib, dan tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivisme dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte dalam karyanya yang berjudul The Course of Positive Philosophy. Comte berpendapat bahwa positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Menurut positivisme, objek ilmu pengetahuan maupun pernyataan-pernyataan ilmu pengetahuan (Scientific Proporsition) haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: dapat di/ter-amati (observable), dapat di/ter-ulang (repeatable), dapat di/ter-ukur (measurable), dapat di/ter-uji (testable), dan dapat di/ter-ramalkan (predictable).

    ReplyDelete
  4. Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.
    Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggaris bawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi.

    ReplyDelete
  5. Hafizh Praditya Mahardika
    Pmat D / 14709251014

    Terminologi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad 19 oleh Auguste Comte. Beliau percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metafisik, dan ilmiah. Filsafat positivisme menekankan pada segi pengalaman. Menurut positifisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu – satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal.

    ReplyDelete
  6. Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu – satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian diatas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno . Terminologi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad 19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte

    ReplyDelete
  7. Ari Kuntoro
    14709251048
    P.Mat B

    Artikel yang berjudul POSITIVISM, menurut saya: positivism atau positivisme berasal dari kata positif. Kata "positif" disini sama artinya dengan faktual yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Aliran positivisme, menurut aliran ini, hakikat segala sesuatu itu harus sesuai dengan hukum alam, kaidah ilmu pasti, kebenaran harus bisa dibuktikan secara matematis, eksakta, dan objektivis. Oleh karena itu, logika yang dikembangkan oleh aliran positivisme adalah logika deduktif (formal). Jadi, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan akal pikiran yang sehat adalah tidak pernah ada. Tokoh utama aliran positivisme adalah Auguste Comte, diantara pokok-pokok pikiran dari aliran positivisme antara lain: pertama, hakikat ilmu pengetahuan dan filsafat itu harus mendasarkan kepada fakta-fakta yang nyata (realitas empirik). Positivisme menolak paham metafisika (yang mengakui hakikat segala sesuatu dibalik realitas empirik). Comte mengemukakan teori atau hukum perkembangan menjadi tiga tahap. Kedua, bagi Comte, hakikat perkembangan hidup manusia (termasuk pengetahuan dan budayanya) adalah melalui tiga tahap atau tiga jaman yang berlangsung secara evolusionis, yaitu: 1. Tahap teologis, tahap ini mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) manusia percaya akan adanya kekuatan adikodrati (supranatual) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, (2) pada tahap ini pola keyakinan atau kepercayaan seseorang diawali dengan kepercayaan Animisme (roh leluhur mempunyai pengaruh bagi kehidupan manusia) atau Dinamisme (benda-benda tertentu dianggap mempunyai kekuatan atau jiwa yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia), Dari Animisme kemudian berkembang ke tahap Politeisme (manusia percaya kepada banyak Tuhan, yang masing-masing Tuhan tersebut mempunyai kedudukan dan peran tersendiri). Kemudian tahap terakhir dari jaman teologis ini adalah Monoteisme (manusia percaya pada Tuhan Yang Maha Esa atau Maha Tunggal). Tahap monoteisme ini dianggap sebagai tahap terakhir atau paling maju dari era teologis.2. Tahap metafisis, tahap ini merupakan evolusi dari tahap pertama. Pada tahap metafisis, unsur-unsur kekuasaan adikodrati terhadap kehidupan manusia mulai dipertanyakan, bahkan sudah diganti dengan konsep-konsep abstrak tentang hakikat segala sesuatu. Manusia sudah mulai menggunakan daya kritisnya, namun sisa-sisa pemahaman supranatural masih nampak dalam praktik kehidupan sehari-hari. 3. Tahap positif, tahap ini merupakan tahap evolusi terakhir. Tahap positif ini mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) manusia tidak percaya lagi pada hal-hal yang bersifat supranatural; dan (2) semua pengetahuan termasuk filsafat harus berdasarkan realitas emprik (fakta-fakta yang nyata). Comte menilai pada era positif inilah sebagai puncak perkembangan ilmu pengetahuan (science) yang rasionalistis dan objektivistik (Wibisono, K. 1983). Setiap ilmu pengetahuan menurut Comte tidak mempunyai perkembangan yang sama, urutan perkembangan ilmu pengetahuan adalah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sebelumnya. Comte membedakan ilmu pengetahuan pokok, yaitu ilmu pasti, astronomi, fisika, kimia, biologi dan puncaknya adalah sosiologi (Wibisono, K. 1983; Praja J.S., 2005). Jadi, dalam pandangan positivisme, hakikat segala sesuatu itu harus sesuai dengan hukum alam, kaidah ilmu pasti, kebenaran harus bisa dibuktikan secara matematis, eksakta, dan objektivis, oleh karena itu logika yang dikembangkan adalah logika deduktif (formal), analisis data dalam proses research adalah menggunakan analisis statistik.

    ReplyDelete
  8. PMat P2TK 14709259013
    Positivisme adalah filsafat yang berorientasi pada realitas dan menolak pembahasan mengenai sesuatu yang ada di balik realitas, dengan dasar bahwa akal manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui entitas apapun yang melintasi alam inderawi (persepsi) dan alam kasat mata.

    ReplyDelete
  9. Lidrawati
    P MAT D ( 14709251058 )
    Bismillah...
    Ajaran positivisme timbul pada abad 19 dan termasuk jenis filsafat abad modern. Kelahirannya hampir bersamaan dengan empirisme. Kesamaan diantara keduanya antara lain bahwa keduanya mengutamakan pengalaman. Perbedaannya, positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman yang objektif, sedangkan empirisme menerima juga pengalaman-pengalaman batiniah atau pengalaman yang subjektif

    ReplyDelete