Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif




Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif

Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, tradisional itu inovatif dan inovatif itu tradisional,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon tradisional dan jargon inovatif. Wahai jargon tradisional dan jargon inovatif dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon tradisional kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon inovatif kelihatannya demikian juga. Aku betul-betul melihat pertengkaran yang sangat seru. Tradisional terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi inovatif. Sedangkan inovatif juga terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi tradisional. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon tradisional:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon tradisional. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada inovatif agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para inovatif tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon inovatif:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon inovatif. Saya menyadari bahwa jargon para tradisional itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada tradisional agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para tradisional. Ketahuilah tiadalah tradisional itu tanpa inovatif. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa bergaul dengan tradisional.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon tradisional. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon tradisional:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon tradisional. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi inovatif pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada inovatif. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada inovatif maka kedudukanku sebagai tradisional akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi tradisional yang kuat, yaitu sebenar-benar tradisional. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai tradisional sejati maka aku harus mengelola semua tradisi sedemikian rupa sehingga semua tradisiku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar inovatif tidak pernah menggangguku. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para inovatif. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para inovatif. Dari pada jargon inovatif menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon tradisional, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru tradisional :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru tradisional senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai guru inovatif. Ketika aku menjadi terpilih sebagai guru inovatif maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku menjadi guru inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Namun demikian aku sebetulnya belum siap untuk menjadi guru inovatif. Uku lebih suka menjadi guru tradisional. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru tradisional, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru itu tidak perlu repot-repot, rpp itu kewajiban yang memberatkan, metode mengajar cukup ceramah, ..dst. Begitu aku menemukan para siswaku itu tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai guru tradisional. Kekuasaanku sebagai guru tradisional itu mengalir melalui jargon-jargonku: siswa itu harus rajin, siswa itu harus menurut, siswa itu harus giat, siswa itu harus menghafal, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru itu manusia biasa, belajar itu memerlukan biaya, mengajarku tak ada yang mengawasi, buat apa meneliti,..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai guru tradisional adalah: inilah bisaku, inilah kemampuanku. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai guru tradisional aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru inovatif. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai guru tradisional. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru tradisional. Maka aku kurang seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya itu hanya mengganggu ketenangan jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon inovatif. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon inovatif:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon inovatif. Jikalau aku terbebas dari segala kecurigaan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya sedang berusaha mendekati para tradisional. Hal ini tidaklah off the record, sampaikanlah kepada guru tradisional. Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru tradisional maka mungkin mereka akan memahami inovatif. Padahal segenap jiwa ragaku itu betul-betul ikhlas untuk membantu guru tradisional. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala macam kekolotan. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru inovatif maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat mendekati guru tradisional. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para tradisional. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para tradisional. Tetapi apalah dayaku sebagai inovatif. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap ingin menjadi menghadap para jargon guru tradisional.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru inovatif, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru inovatif :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru inovatif. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai guru tradisional. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai kesempatan melakukan inovasi metode pembelaaranku . Ketika aku memperoleh julukan sebagai guru inovatif aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai guru tradisional. Maka setelah aku mempunyai kesempatan melakukan inovatif aku mulai kehilangan jargon guru tradisional, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru inovatif. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai guru inovatif yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: guru inovatif itu harus jujur, guru inovatif itu harus peduli, guru inovatif itu harus kreatif, guru inovatif itu harus meneliti, guru inovatif itu harus selalu belajar, guru inovatif itu harus melayani kebutuhan belajar siswa, guru inovatif itu harus mengikuti perkembangan jaman, ...dst. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara pengaruh para guru tradisional itu masih tetap mengalir melalui jargon-jargon nya: tak perlulah sok inovatif, inovatif itu asing bagiku, tradisional itu gak apa apa yang penting kompak, ..dst. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru tradisional tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonnya yang lain: tradisional itu melestarikan, tradisional itu budaya, tradisional itu sakral, tradisional itu bentengnya kebiasaan, ...dst.
Maka jargon yang paling populer bagi para guru tradisional adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya inovasi, inovasi itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Sebagai guru inovatif aku juga menghasilkan jargon populer berikutnya:
mengajar itu totalitas, profesiku adalah guru, hidupku semata-mata aku abdikan pada murid-muridku. Tetapi akupun tidak bisa menutupi kelemahan-kelemahanku. Maka terpaksa aku menjaga statusku sebagai guru inovatif menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru tradisional. Agar aku selamat dari pencemoohan para jargon tradisional. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai guru inovatif. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru inovatif. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru inovatif, agar aku bisa mengajak para guru tradisional untuk melakukan inovasi. Maka aku gembira sekali jika aku mempunyai kesempatan mengikuti seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru tradisional dan guru inovatif dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para guru tradisional dan guru inovatif, terjemah dan saling menterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, tradisional itu adalah inovatif, dan inovatif itu adalah tradisional. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan tradisional, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa mempertahankan tradisimu. Ingatlah bahwa di luar sana banyak kejadian memerlukan inovasimu. Saya juga ingin memperingatkan para guru inovatif, janganlah engkau bertindak ceroboh. Dekatilah para guru tradisional itu dengan cara-cara empati. Tiadalah sebenar-benar tradisional sejati bagimu. Dan juga tiadalah sebenar-benar inovatif bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

54 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Tradisional merupakan budaya lama yang menjadi dasar dan kebiasaan suatu hal. Antara tradisional dan inovatif merupakan dua hal yang harusnya tidak menjadi perdebatan. setiap siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda, beberapa dari mereka juga masih ingin diterangkan oleh guru, merasa paham jika materi diberikan dalam bentuk jadi, dan ada beberapa materi yang tidak memungkinkan bagi siswa untuk menemukan sendiri, maka saat inilah dibutuhkan guru tradisional.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Ketika masih ada yang menggunakan cara tradisional, lihatlah diluar sana banyak hal yang menunggu inovasi kita. Inovasi yang sesuai dengan berbagai kebutuhan saat ini. Guru yang mengajar dengan cara tradisional itu menunjukkan keangkuhan guru yang tidak menyadari bahwa muridnya itu membutuhkan suatu inovasi dalam belajar. Tidak hanya menurut dan mendengarkan apa yang menjadi titah gurunya, tetapi siswa juga harus memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuannya.

    ReplyDelete
  3. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Berbicara tentang tradisional dan inovatif serta yang manakah yang lebih unggul dari keduanya, haruslah disesuaikan dengan konteksnya. Misalnya dalam hal bahasa, kita harus bisa lebih mempertahankan tradisi agar tidah punah disebabkan pengaruh asing. Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal bahasa Inggris tetapi tidak kenal bahasa daerahnya. Namun kalau dibawa dalam konteks pendidikan khususnya pengajaran oleh guru seperti yang diungkapkan pada elegi di atas, inovasi sangat dibutuhkan ketimbang tradisi. Inovasi yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran lebih memungkinkan anak cepat memahami materi yang disampaikan disbanding dengan guru yang masih tradisional. Contoh sederhana, untuk mengajarkan penjumlahan pada anak kelas satu SD yang diinovasi menggunakan lidi ataupun benda-benda nyata akan lebih mudah dipahami anak dibanding dengan pengajaran secara tradisional yang hanya ceramah dan menuliskan simbol-simbol pada papan tulis.

    ReplyDelete
  4. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Dalam elegi di atas, makna tradisional dan inovatif dimisalkan menadi seorang guru. Dari yang saya pahami, bahwa seorang guru tradisional akan selalu mempertahankan sesuatu yang hanya bisa dilakukannya tanpa keinginan menambah kemampuannya. Guru tradisional akan memiliki berbagai alasan ketika ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan bukan memperbaikinya. Sedangkan guru inovatif selalu berusaha menaikkan kemampuannya agar terbebas dari segala macam “kekolotan”.
    Kita harus bijak mengatasi waktu yang kita lalui. Semua ada masanya. Inovatif itu mutlak diperlukan setiap makhluk, asalkan kita selalu mengambil keputusan dengan hati hati dan mampu bertanggung jawab atas itu.

    ReplyDelete
  5. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Keberadaan jargon inovatif akan selalu terancam oleh jargon tradisional. Padahal jargon tradisional tidak lagi sesuai dengan perkembagan zaman, karena perkembangan selalu bersifat dinamis sehingga para guru haruslah ber-jargon inovatif, meskipun nantinya banyak mendapat protes dari para jargon guru tradisional dimana menurut mereka hal-hal baru merupakan sesuatu yang aneh. Hal tersebut banyak terjadi disekeliling kita utamanya dalam dunia pendidikan. sesuatau yang inovatif haruslah selalu dikembangkan agar pembelajaran sesuai dengan perkembangan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  6. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Elegi diatas mengingatkan saya bahwa tiada tradisional yang sejati dan tak ada kesejatian pada yang inovatif. Kesemuanya memiliki batasan, bergantung pada ruang dan waktunya. Ada hal baik yang tetap harus di pertahankan dari ketradisionalannya menjadi sesuatu yang inovatif dan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman. Hal yang dibutuhkan dalam konflik semacam ini adalah memahami dan dipahami, sehingga tercipta sinergi yang baik antara yang harus di pertahankan dan yang harus dikembangkan demi menjawab tantangan zaman.
    Sekian, terima kasih.

    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan
    16701251018
    S2 PEP B

    Antara tradisional dan inovatif merupakan dua hal yang harusnya tidak menjadi perdebatan.akan tetapi dalam kenyataannya perubahan itu memang haruslah terjadi. Tradisional merupakan budaya lama yang menjadi dasar dan kebiasaan suatu hal. Guru yang mengajar dengan cara tradisional itu menunjukkan keangkuhan atau pun kelemahan guru yang tidak menyadari bahwa muridnya itu membutuhkan suatu inovasi dalam belajar.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP Bseharusnya seorang pendidik harus dapat memahami betul bagaimana caranya mendidik.akan berbeda anak jaman dulu dengan jaman sekarang.maka layaknya dalam proses pengajaran pun harus di bedakan.seorang pendidik harus mengikuti perkembangan jaman untuk berinovasi dalam metode pengajaran.sehingga kebutuhan murid dapat terpenuhi.

    ReplyDelete
  9. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Menjadi guru inovatif memang sangat tidak mudah. Karena pembelajaran tradisional seolah telah mengakar kuat dalam pendidikan di Indonesia. Sehingga butuh tekad kuat untuk melakukan perubahan dari tradisional menuju inovatif. Karena di luar sana banyak yang menanti inovasi kita.

    ReplyDelete
  10. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dalam konteksnya sebagai guru, jargon-jargon tradisional sangat banyak ragamnya. Jargon-jargon tersebut sangat kuat karena berakar sudah cukup lama. Mereka memilih untuk tidak meninggalkan tradisi dan tetap menjalani dengan cara tidak neko-neko. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa inovasi itu penting untuk perkembangan pembelajaran

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Keadaan-keadaan yang sudah tidak sesuai dengan jargon mereka pun belum tentu membuat mereka membuka topeng jargon tradisional tersebut. Malah akhirnya menggunakan kekuasaan sebagai jargon tradisional. Hal seperti ini tidak seharusnya dilakukan. Karena tidak ada sebenar-benar jargon tradisional maupun jargon inovatif.

    ReplyDelete
  12. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hal yang perlu dipelajari dari jargon inovatif adalah memanfaatkan kesempatan. Ada banyak kesempatan untuk belajar hal yang baru dan berinovasi. Tapi memang setelah berinovasi kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada yang tradisional, harus dilakukan dengan empati

    ReplyDelete
  13. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    sama seperti proses dan standar, dalam post ini orangtua berambut putih menengahi perdebatan antara inovatif dan tradisional dengan tidak engatakan mana yang lebih baik ataupun yang lebih penting, namun dengan saling menerjmahkan satu sama lain agar didapat hasil yang terbaik.

    ReplyDelete
  14. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    postingan di atas menceritakan tenatng kedudukan tradisional dan inovatif dalam pembelajaran, kita sebagai calon guru, mana kah yang harus dipilih antara tardisional dan inovatif, yah jawabannya adalah seimbang dan sinergi, bagaiaman bisa menerapkan keduanya sesuai dengan ruang dan waktunya,

    ReplyDelete
  15. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Pertengkaran antara tradisional dan inovatif dalam elegi di atas menggambarkan realita yang terjadi saat ini, terkhusus dalam dunia pendidikan. Ada guru tradisional dan guru inovatif. Keduanya memiliki jargonnya masing-masing. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan eksistensinya, sedangkan guru inovatif menggunakan jargonnya untuk mengajak para guru tradisional untuk berinovasi. Keduanya dapat berjalan secara bersama-sama dengan saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Menjadi seorang guru tidak cukup dengan cerdas dan pintar saja, namun berwibawa dan bersahaja.

    Terimakasih Pak..

    ReplyDelete
  16. Tradisional adalah kebiasaan yang ada pada masa lalu dan Inovasi adalah perubahan yang maju untuk jalan baru. Jadi pertahankan lah nilai-nilai tradisional yang ada dalam diri kita masing-masing dan tumbuhkan inovasi dalam diri kita untuk jalan baru. Sehingga kita dapat hidup dengan memakai tradisional dan berjalan menumbuhkan jalan baru untuk menjalani hidup atau menghadapi hidup di jaman sekakarang. jangalah saling memperdebatkan eksestensi tradisional dan inovasi, tradisional dasar klasik dan inovasi hal yang menerima perkembangan pendidikan baik dalam metode maupun sistem,

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  17. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Tradisional dan inovatif merupakan dua hal yang sering menjadi pertengkaran dalam dunia pendidikan. Para pendidik dituntut untuk mengubah pembelajaran dari tradisonal (konvensional) menjadi pembelajaran yang lebih inovatif (kreatif) agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan memberikan kesan yang berbeda kepada siswa. Dengan demikian, dalam penggunaannya haruslah disesuaikan dengan ruang dan waktu. Karena baik pembelajaran tradisonal maupun inovatif merupakan proses pembelajaran yang masih efektif untuk digunakan.

    ReplyDelete
  18. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    antara tradisional dan inovatif masing-masing mempunyai jargon untuk mempertahankan kedudukannya. Ketika kita bawa ke ranah pengajaran antara inovatif dan tradisional kecenderungan masih ada beberapa guru yang menggunakan sistem pembelajaran yang tradisional dalam proses belajar mengajarnya ini di karenakan adanya kenyamanan yang guru tersebut rasakan, akan tetapi dalam memajukan pola pikir siswa dan siap untuk menghadapi tantangan global di masa sekarang maupun masa yang akan datang maka diperlukan sistem pemblejaran yang inovatif.

    ReplyDelete
  19. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Tradisional berkaitan sekali dengan tradisi. Kita sangat memerlukan tradisi untuk menengok hal yang dianggap perlu dipelajari. Tidak ada yang benar-benar baik antara tradisional dan modern. Keduanya saling berkaitan. Inovatif diperlukan untuk rekonstruksi dan pemberdayaan. Antara tradisional dan modern saling menguatkan. Asalkan jangan jadikan tradisional sebagai tameng dirimu untuk tidak mau memperbaiki diri karena merasa gengsi. Juga jangan menyalahgunakan inovatif untuk menekan pihak yang keukeuh dengan tradisional yang sudah tertata.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  20. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    INOVATIF dan TRADISIONAL adalah dua sifat yang berbeda, masing-masing memiliki jargonnya. Inovatif muncul untuk memperbaiki aspek yang kurang tepat pada tradisional. Meskipun demikian, tidak semua aspek yang ada pada yang bersifat tradisional itu tidak baik, sehingga semua yang tradisional perlu dirombak. Ada aspek-aspek dalam tradisional yang perlu dipertahankan karena memiliki kearifan yang mungkin tidak dimiliki yang inovatif.

    ReplyDelete
  21. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Inovatif dan tradisional adalah dua hal yang berbeda. Perbedaan itu bersifat relatif, tergantung kapan memandang dua hal tersebut. Inovatif itu tradisional dan tradisional itu inovatif.Yang inovatif bisa bersifat tradisional dan yang tradisional bisa bersifat inovatif, tergantung kapan dua hal tersebut dipandang. Masing-masing memiliki jargon yang berbeda, memiliki sifat yang berbeda.

    ReplyDelete
  22. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Tradisional dan inovatif merupakan dua hal yang berbeda. Masing-masing memiliki jargon dan sifatnya yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang jika dinilai oleh kaca mata yang berbeda, kekurangan bisa dinilai sebagai kelebihan, dan kelebihan bisa dipandang sebagai kekurangan. Yang perlu dilakukan adalah saling terjemah-menerjemahkan, saling berhemeneutik, saling memahami.

    ReplyDelete
  23. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Membicarakan tentang tradisional dan inovatif, memang saling bertentangan. Karena inovatif bisa saja merubah sesuatu yang tradisional menjadi sesuatu yang dapat kita lihat menjadi berkembang. Tetapi tradisional juga sangat kuat peranannya, karena tidak semua hal bisa dilakukan inovatif, tetapi hanya caranya yang dapat diubah dan dikembangkan. Keduanya tetap harus saling memahami. Karena inovatif berasal dari sesuatu yang tradisional. Sehingga tradisional juga memiliki peran.

    ReplyDelete
  24. Retno Widyaningrum
    167011261004

    Berbicara tenatng tradisional dan inovatif adalah hal yang sangat berbeda, tapi keduanya terkait karena inovatif muncul setelah ada tradisional. Dikatakan inovatif karena ada perubahan yang mendasar dari tradisional. Bisa-bisa perubahan tersebut sangat drastis. Yang tradisional dulu menggunakan barang X maka yang inovatif juga menggunakan X tapi sudah ditambahai sehingga dikatakan berkembang dari yang tradisional.

    ReplyDelete
  25. Retno Widyaningrum
    167011261004

    Tradisional dan inovatif menarik untuk diperbincangkan. Keduanya sangat berbeda namun apabila kita mampu menempatkan ruang dan waktu yang tepat maka keduanya bisa berjalan bersama-sama. Bukan berarti tradidisonal secara tegas lebih baik daripada inovatif begitu sebaliknya. Keduanya bisa saling mengisi.

    ReplyDelete
  26. Retno Widyaningrum
    167011261004

    Dalam real pendidikan khususnya pembelajaran. ada pembelajaran tradisional, ada pembelajaran inovatif, maka kita tidak mungkin hanya menggunakan salah satu saja, karena ada beberapa materi hanya bisa dengan tradisional, ada juga materi hanya bisa dengan inovatif dan ada juga keduanya bisa di mix menjadi pembelajaran yang bagus.

    ReplyDelete
  27. Budi Yanto
    1709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Pembelajaran tradisional dan pembelajaran yang inovatif selalu berkaitan, tidalah pembelajaran inovatif tanpa pembelajaran tradisional dan tiadalah pembelajaran tradisional tanpa pembelajaran inovatif. Maka tugas guru adalah berusaha untuk melaksanakan pembelajaran yang dapat membangun pengetahuan siswa, menjadi fasilitator, membimbing, mendidik, menjadi contoh baik dalam lisan maupun perbuatan, serta berusaha menjadi motivator dan pendorong siswa untuk terus belajar mencari pengalaman dan membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  28. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan, ketika berfikir informasi dan kompetensi apa yang dimaksud oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berfikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efesien. Ini sangat penting untuk dipahami oleh setiap guru, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya. Seorang guru dituntut untuk menguasai metode pembelajaran yang dilakukannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari nilai proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal.

    ReplyDelete
  29. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Setiap guru yang akan mengajar senantiasa dihadapkan pada pilihan metode. Banyak macam metode yang bisa dipilih guru dalam kegiatan mengajar, namun tidak semua metode bisa dipilih guru dalam kegiatan mengajar. Dan tidak semua pula metode dikatakan jelek. Kebaikan suatu metode terletak pada ketatapan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran.

    ReplyDelete
  30. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Pendekatan konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Disini terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pentransfer ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu.

    ReplyDelete
  31. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan), dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam kata lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dair ketuntasannya menyampaikan seluruh meteri yang ada dalam kurikulum.

    ReplyDelete
  32. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Dalam pembelajaran itu memerlukan strategi, metode, dan tehnik pembelajaran. Hubungan antara ketiganya itu dapat digambarkan sebagai suatu kesatuan sistem yang bertitik tolak dari penentuan tujuan belajar. Walaupun ketiganya tersebut hampir sama namun sebenarnnya memiliki perbedaan tersendiri. Kalau metode merupakan cara untuk melakukan suatu pembelajaran agar lebih tepat dan sesuai situasi peserta didik,maka perlu juga diatur ketepatan penggunaan metode, tehnik dan strategi penerapan metode. Andai saja metode itu sebenarnya sudah baik tetapi karena kurang tepatnya penerapan metode maka hasil pembelajarannya pun akan kurang maksimal.

    ReplyDelete
  33. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Pembelajaran tradisional seharusnya tidak dipandang sebelah sisi. Mengapa demikian? karena dengan pemebelajaran tradisional maka dapatlah muncul pembelajaran inovatif, karena dengan pembelajaran tradisional pun pada masa itu siswa dapat mencetak prestasinya, mengerti pengetahuan baru. Hanya saja perkembangan dunia, maka pembelajaran perlu juga berkembang, namun bukan berarti pembelajaran tradisional dilihat sebelah sisi karena pembelajran inovatif belajar banyak dari pembelajaran tradisional.

    ReplyDelete
  34. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Inovatif dan tradisional merupakan dua hal yang selalu beriringan. Tradisonal dan inovatif sangat identik dalam dunia pendidikan. Seperti halnya ada guru tradisional dan ada guru inovatif. Terkadang yang tradisional merasa benar dan sombong dengan hal tersebut, sedangkan untuk yang inovatif juga merasa bahwa dirinya adalah pembawa perubahan. Maka sebaiknya tradisional dan inovatif saling bekerjasama untuk mencipatakan pendidikan yang lebih baik. Yang inovatif belajar dari yang tradisional dan yang tradisional mencoba terbuka untuk sebuah inovasi.

    ReplyDelete
  35. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Antara tradisional dan inivatif memang sering terjadi polemik, apalagi dalam dunia pendidikan. Keduanya sama-sama memiliki jargon. Misalnya saja guru, guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya, sedangkan guru inovatif memerlukan jargon untuk mengajak para guru tradisional untuk mulai beralih kepada hal yang inovatif. Keduanya tidak boleh terlalu ambisius dengan jargonnya masing-masing, haruslah ada saling pengertian. Guru yang masih memiliki pemikiran tradisional hendaknya mulai membuka pikiran agar tahu bahwa masih banyak hal di luar yang inovatif, sedangkan untuk guru yang inovatif hendaknya jangan memaksakan kepada guru tradisional, segala sesuatunya harus diajak dan diberitahukan dengan cara yang baik.

    ReplyDelete
  36. Antara jargon tradisional dan inovatif terdapat persaingan yang tidak dapat dielakkan. Tidak ada inovatif tanpa tradisonal, begitu pula sebaliknya. Tradisional dan inovatif mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hanya perlu kesadaran bagi masing-masing pihak untuk saling mengakui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sehingga bisa bekerja sama untuk saling melengkapi satu sama lain. Sang inovatif bisa mengajak sang tradisonal untuk berfikir terbuka dan membuat inovasi-inovasi baru sesuai perkembangan jaman, tapi sang tradisional juga bisa mengingatkan sang inovatif untuk tidak melupakan hal-hal sakral dan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Tidak ada satu yang lebih kuat dari yang lainnya, semua saling berkaitan dan ketergantungan.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  37. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Tradisional menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi inovatif. Sedangkan inovatif juga menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi tradisional. Keduanya saling berkaitan, dan saling membutuhkan.

    ReplyDelete
  38. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Para guru tradisional dan guru inovatif, terjemah dan saling menterjemahkanlah agar saling memahami jargon masing-masing. Bahwa di batas sana, tradisional itu adalah inovatif, dan inovatif itu adalah tradisional.

    ReplyDelete
  39. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Dalam sebuah pembelajaran kita harus bisa menyesuaikan kebutuhan. Dari elegi diatas ada dua pembelajaran yaitu tradisional dan inovatif. Diharapkan dari kedua pembelajaran itu seorang guru bisa menggunakan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Kita tidak harus menggunakan pembelajaran tradisional terus menerus tapi kita harus beralih ke pembelajaran yang inovatif yang dipercaya dapat lebih membelajarkan siswa.

    ReplyDelete
  40. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Guru yang melakukan pembelajaran tradisional, ketika berusaha untuk berubah dan berkembang maka guru tersebut bisa melakukan pembelajaran yang inovatif. Ketika guru sudah dapat melakukan pembelajaran yang inovatif maka guru harus tetap berusaha untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif lagi karena ketika pembelajaran inovatif tidak dikembangkan lagi maka pembelajaran tersebut terancam menjadi pembalajaran yang tradisional. Oleh karena itu guru diharuskan terus menciptakan pembelajaran yang inovatif.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  41. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Jika bisa memilih maka saya akan berupayan menjadi guru yang inovatif, dunia pembelajaran tradisional hendaknya kita tinggal karena tidak sejalan dengan arah perkembangan dunia saat ini. sudah selayaknya guru menjadi seorang yang inovatif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. guru dengan pembelajaran tradisional tidak sepenuhnya salah, yang salah adalah ketidak adaan kemauan mereka untuk berkembang kearah yang lebih inovatif.

    ReplyDelete
  42. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Dari bacaan ini Pembelajaran yang inovatif dan tradisional sebenarnya dapat saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Karena di batas sana, tradisional adalah inovatif dan inovatif adalah tradisional. Paling bijak ialah kita tidak merasa paling benar, pembelajaran tradisional bagus jika ia tidak bersikukuh untuk menmpertahankan segala tradisinya. Begitupun pembelajaran inovatif juga harus hati-hati, janganlah merasa paling benar dan memojokkan tradisional, ajaklah tradisional berinovasi dengan cara-cara empati.

    ReplyDelete
  43. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Guru yang mengajarnya dengan cara konvensional atau tradisional untuk mengubahnya ke cara mengajar yang inovatif biasanya sulit, karena mengajar dengan tradisional atau menggunakan metode ceramah sudah menjadi kebiasaan yang menahun sehingga sulit untuk melakukan perubahan. Dalam pembelajaran tradisional anak hanya disuruh mendengarkan dan mencatat saja, walaupun sebenarnya saat ini anak pasti merasa bosan, dan menginginkan cara mengajar yang inovatif.

    ReplyDelete
  44. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Guru yang mengajar dengan cara tradisional atau dengan metode ceramah sangat bertolak belakang dengan guru yang mengajar dengan inovatif. Seorang guru hendaklah mengajar dengan cara yang inovatif dan mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, guru harus selalu belajar hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar yang dapat membuat guru menjadi profesional. Akan tetapi, sebenarnya metode ceramah kadang juga perlu digunakan dalam pembelajaran untuk materi pelajaran tertentu.

    ReplyDelete
  45. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Guru yang inovatif hendaklah mengajak guru tradisional dengan arif bijaksana, biasanya guru tradisional akan sulit untuk mengubah ke pembelajaran yang inovatif. Guru tradisional memerlukan jargon untuk mempertahankan dirinya agar dapat mengajar pada zona nyamannya tanpa perlu melakukan perubahan, sedangkan guru inovatif juga memerlukan jargon untuk mengajak inovasi para guru tradisional. Guru tradisional janganlah berlaku sombong yaitu dengan mempertahankan tradisinya, dan tidak mau melakukan perubahan, karena kita harus mengikuti zaman yang selalu berubah.

    ReplyDelete
  46. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend Matematika S2 Kelas B

    Jika dikaitkan dengan pembelajaran khususnya matematika, antara tradisional dan inovatif dapat dihubungkan dengan budaya instan. Pembelajaran tradisional sering berkata jika bisa dipermudah mengapa harus dipersulit? Anti-tesis yang dibuat yaitu kalau bisa mengerjakan yang sulit mengapa harus mengerjakan yang mudah, dimana antitesis tersebut dianalogikan sebagai pembelajaran inovatif. Pernyataan “mengapa harus memilih yang sulit jika ada yang mudah” dilihat dari sisi psikologis kondisi tersebut mengindikasikan pelakunya cenderung dalam keadaan senang dalam zona aman dan nyaman, tidak mau meningkatkan kemampuan diri, santai, mudah menyerah, tidak ingin berkembang, tak mau bekerja keras, motivasi rendah, defensif, tidak kreatif, masa bodoh, dan lain-lain. Sementara pernyataan “mengapa harus memilih yang mudah jika ada yang sulit” dilihat dari sisi psikologis kondisi tersebut mengindikasikan pelakunya cenderung mempunyai sifat mau berkembang, kreatif, cerdas, bekerja keras, ingin tau tinggi, motivasi tinggi, dan lain-lain. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa hidup itu adalah interaksi antara kedua pernyataan di atas. Renungkanlah, berhijrahlah...

    ReplyDelete
  47. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam pendidikan sesungguhnya tidak ada model pembelajaran yang sempurna. Begitu pula pembelajaran tradisional maupun inovatif. Pembelajaran dapatdilakukan dengan mengkolaborasikan berbagai pembelajaran. Pembelajaran yang bervariasi juga sangat dianjurkan. Sehingga semua kemampuan siswa dapat dikembangkan secara maksimal.

    ReplyDelete
  48. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Perubahan dari system tradisional menjadi inovatif memang tidak semudah membalikkan tangan. System tradisional yang sudah lama dijalankan serasa sudah mendarah daging bagi para pendidik, terutama para pendidik yang lebih senior. Sehingga untuk mengubah paradigm lama ke baru, guru harus mendapatkan motivasi dan pelatihan, dipaparkan manfaat dan tujuan yang ingin dicapai serta dampak yang positif buat siswa. Dari pihak guru tradisional juga harus membuka diri terhadap perkembangan dunia dengan inovasi-inovasinya

    ReplyDelete
  49. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Adanya suatu sikap yang membanggakan dan mempertahankan cara-cara lama akan berpengaruh pada terjadinya proses perubahan. Karena adanya anggapan bahwa perubahan yang akan terjadi belum tentu lebih baik dari yang sudah ada. Hal ini terlihat dari wacana jargon pertengkaran tradisional dan inovatif diatas, dimana sang tradisional berusaha mempertahankankebiasaan yang sudah terlanjur diterapkana, dan mempertahankan diri untuk menjaga eksistensinya karena takut akan terjadi perubahan yaitu menjadi inovatif.

    ReplyDelete
  50. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Perubahan yang terjadi tentu sudah melewati serangkaian proses penelitian. Pola pengajaran lama sudah tidak dapat memenuhi tantangan dunia. Dalam mengajar guru hanya mengandalkan metode ceramah dan hanya mengandalkan satu sumber saja. Guru menjadi otoriter dengan memaksakan siswa harus mengikuti apa kehendak guru, harus menghapal dsb. Berbeda dengan guru inovatif, yang lebih bijaksana, dan lebih demokratis. Siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Keaktifan siswa tidak dipengaruhi oleh hadir tidaknya guru. Untuk itu guru harus memilki kreativitas untuk menunjang pembelajarannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk konteks ini saya setuju dengan pendapat Bu Fitri...

      dwi margo yuwono
      16701261028
      S3 PEP Kelas A

      Delete
  51. Assalamualaikum wr. wb.

    yang tradisional tentu juga harus ditinggalkan sebaliknya yang inovatif tentu juga gharus slalu digunakan..mari meletakkan hal hal yang tradisional dan inovatif sesuai ruang dan waktu...

    dwi margo yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  52. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Sebagai guru tradisonal harus menurunkan egonya karena seiring dengan perkembangannya zaman maka inovasi itu perlu dilakukan agar menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik dan dapat bersaing di era globalisasi. Namun sebagai guru inovasi juga jangan berlaku sombong, ajaklah guru tradisional untuk sama-sama belajar. Jangan merasa seolah-olah menjadi pahlawan pada saat ini, ingatlah bahwa sebelum menjadi guru inovasi, calon guru inovasi diajar oleh guru tradisonal.

    ReplyDelete
  53. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari konteks elegi tersebut, terjadi kontradiksi antara Tradisional dan inovetif. Dalam tradisional, seseorang masih menggunakan cara- cara yang lama atau mengunnakan tradisi untuk melakukan suatu hal. Sehingga, aktivitasnya pun hanya terbatas kpda suatu tradisi trtentu. Tradisional erat kaitannya dengan nggan untuk mengikuti seminar, workshop, pengajian, dll. Namun, adapula inovatif yang menggunakan cara-cara baru dalam melakukan suatu hal. Inovatif selalu mengikuti perkembangan zaman. Inovatif dapat diperoleh dengan rutin mengikuti kegiatan seminar, workshop, dll.
    Segala kontradiksi akan bisa terhindar jika saling memberikan masukkan satu sama lain dan tidak merasa tinggi hati ketika diberikan sebuah masukkan. tradisional yang berusaha untuk tidak bersikap kekeh terhadap tradisinya, begitupun inovasi yang tidak melakukan kecerobohan saat ingin mendekati tradisional.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id