Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran Standar dan Proses




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, standar itu proses dan proses itu standar,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon standar dan jargon proses. Wahai jargon standar dan jargon proses dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon standar kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon proses kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Standar terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi proses. Sedangkan proses kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon standar:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon standar. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. Barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada proses agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para proses tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon proses:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon proses. Saya menyadari bahwa jargon para standar itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada standar agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para standar. Ketahuilah tiadalah standar itu jika tidak ada proses. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih agar aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon standar. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon standar:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon standar. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi proses pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada proses. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada proses maka kedudukanku sebagai standar akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi standar yang kuat, yaitu sebear-benar standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai standar sejati maka aku harus mengelola semua proses sedemikian rupa sehingga semua prosesku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar proses selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para proses. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para proses. Dari pada jargon proses menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon standar, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon standar terbaik :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon standar terbaik. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai terbaik. Ketika aku menjadi terbaik maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses. Maka setelah aku menjadi terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai terbaik, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan para prosesku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai terbaik. kekuasaanku sebagai terbaik itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai terbaik itu harus jujur, sebagai terbaik itu harus peduli, sebagai terbaik itu harus patuh, sebagai terbaik itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: terbaik harus terhormat, terbaik harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai terbaik adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai terbaik terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para proses. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai terbaik. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon standar terbaik. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon standar terbaik, agar diketahui oleh para proses-prosesku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon proses. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon proses:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon proses. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para standar. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada standar. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada standar maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh standar-standarku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para standar. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai proses sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para standar. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para standar. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para standar. Tetapi apalah dayaku sebagai proses. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi prosesnya para jargon standar.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon proses, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para prosesmu menyampaikan kepadaku.

Jargon proses tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon proses tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai proses. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku diharapka mempunyai standar terbaik . Ketika aku diharapkan mempunyai standar terbaik aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai proses tertindas. Maka setelah aku mempunyai standar terbaik aku mulai kehilangan jargon proses, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon standar terbaik. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai proses yang hakiki, maka aku telah mengembangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai proses itu harus jujur, sebagai proses itu harus peduli, sebagai proses harus patuh, sebagai proses harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan standar terbaik itu mengalir melalui jargon-jargon : sebagai standar terbaik itu memang harus jujur, sebagai standar terbaik itu memang harus peduli, sebagai standar terbaik itu memang harus patuh, sebagai standar terbaik itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa standar terbaik tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: standar terbaik harus melindungi proses, standar terbaik harus menolong proses, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai proses adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur terbaik itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai proses sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para standar. Agar aku selamat dari penindasan para jargon standar. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai proses. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon proses. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon proses, agar aku bisa berlindung dari ancaman para standar. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon standar saja, saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Wahai engkau para standar dan proses saling menterjemahkan dan diterjemahkanlah agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan standar, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap proses itu. Tiadalah sebenar-benar standar sejati bagimu. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

43 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Antara standar dan proses masing - masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi kelebihan itu tidaklah baik digunakan untuk menyombongkan diri, begitu pula kekurangan itu dipakai untuk menutupi diri seperti diibaratkan memakai topeng. Standar dan proses hendaklah bersinergi, bersatu untuk mencapai saatu tujuan bersama.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Standar itu adalah proses dan proses itu adalah standar. Tidak ada kesombongan masing-masing dari mereka. Dan setiap dari standar dan protes memiliki batas-batas pemikiran. Standar memiliki jargon untuk memantapkan kedudukannya sedangkan proses memiliki jargon untuk melindunginya.

    ReplyDelete
  3. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Sebuah proses haruslah berstandar untuk mengetahui ketercapaian dari proses yang sudah dijalankan. Sebaliknya sebuah standar tidak akan tercapai tanpa adanya proses yang mendukung. Sangat terlihat jelas bahwa keduanya sama-sama berkaitan erat, sama-sama saling menerjemahkan. Maka tidak perlu ada perdebatan tentang yang mana ebih dominan karena keduanya hanya akan bermakna dalam harmoni.

    ReplyDelete
  4. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    setiap orang melakukan sebuah proses dalam dirinya, ada yang berproses dengan standar yang benar ada pula yang berproses dengan cara yang tidak tepat.standar adalah barometer untuk melihat sejauh mana proses itu berlangsung. sehingga antara proses dan standar haruslah dipahami.

    ReplyDelete
  5. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    terkadang yang kurang tepat adalah ketika ada sesuatu yang ia miliki lalu ia kesombongan dan mencul dalam sebuah proses, sedang ketika ia memiliki kekurangan maka sebisanya ia menutupi seakan-akan menggunakan topeng untuk menutupi kekurangannya.

    ReplyDelete
  6. 1. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sekali lagi, semuanya merupakan Jargon, kecuali Allah SWT. Kita bisa menjadi suatu standar (baca; memimpin) ataupun proses (baca;dipimpin) adalah bergantung pada keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai pemimpin dan sebagai dipimpin. Dalam keluarga misalnya, Ayah adalah seorang pemimpin namun ayah juga merupakan bawahan atau yang dipimpin oleh bosnya di kantor. Sehingga memimpin ataupun dipimpin memiliki batasan bergantung ruang dan waktu. Berserahlah hanya pada sang penentu kebijakan mutlak bagi alam semesta, Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  7. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Saya memandang sebuah persamaan antara jargon pertengkaran subjek dan objek sebelumnya dengan jargon pertengakaran standard dan proses ini. Semuanya adalah jargon. Semuanya memerlukan kemampuan kita dalam berhermeneutika tentang kehidupan. Dalam hal ini saya menangkap bahwa antara A dan B memiliki batasan masing-masing sehingga perlu ada sinergi yang baik antar keduanya, antara subjek dan objek, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara standar yang telah di tentukan dan proses yang berjalan. Idealnya kita ingin semuanya berjalan harmonis, tidak ada konflik. Jika ada, kita harus kembali belajar memaknai apa yang terjadi. Menyerahkannya pada sang maha menentukan, Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  8. Pada dasarnya setiap hal memiliki kelebihan dan kekurangnnya masing-masing, begitu juga dengan standar dan proses , keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing ,
    Dan maka dari itu tidak boleh ada antara keduanya saling mencibir atau merendahkan.
    Karena setiap sisi mempunyai sisi baik dan buruk.

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  9. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Standar dan proses masing-masing memiliki jargon, karena semua memerlukan jargon. Standar perlu jargon untuk kedudukannya, proses perlu jargon untuk perlindungannya. Tidak boleh ada kesombongan karena tidak ada sebenar-benarnya standar sejati

    ReplyDelete
  10. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    jadi sebenarnya standar dan proses tiak bisa dipisahkan. serngnya terjadi bentrokan antara standar dan proses apalagi dalam pembelajaran hanya dikarenakan tidak ada komunikasi yang baik antara standar dan proses.

    ReplyDelete
  11. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Dunia ini dipenuhi oleh jargon-jargon, termasuk jargon standar dan jargon proses. Baik antara jargon standar dan jargon proses ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Standar dibuat untuk menentukan tingkat keberhasilan. Kebanyakan manusia lebih mementingkan hasil akhirnya dibandingkan prosesnya, sehingga akan menghalalkan segala cara agar mencapai standar yang ditentukan dan menutup-nutupi perbuatan tercelanya agar terlihat baik dimata orang lain.

    ReplyDelete
  12. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    S1 pendidikan matematika c 2013

    Setelah membaca postingan diatas, tentang standar dan proses, itu analog dengan normatif dan formal, pikiran dan pengalaman, kedua duanya akan selalu saling nerkompetwnsi menjadi yang paling baik, kita sebagai manusia yang berfilsafata, haruslah menjadi manusia yang seimbang, manusia yang hemrnestik terhadap kedua hal tersebut sehingga bisa mwnggunakan kedua hal tersebut sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  13. KASYIFATUN AENI, 13301241055
    PMA 13

    Standar dan proses adalah dua hal yang saling terkait dan dapat berjalan bersama-sama. Standarlah yang mengelola semua proses sedemikian sehingga semua proses itu dapat terkendali. Begitupun sebaliknya. Proses sedapat mungkin mengikuti standar yang telah ditetapkan agar dapat menghasilkan output yang terstandar. Masing-masing seperti sebuah sebab akibat, saling berkaitan.

    ReplyDelete
  14. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Jargon dapat diartikan sebagai istilah khusus yang digunakan di berbagai bidang kehidupan. Lagi-lagi, sesungguhnya tak ada yang perlu “di-pertengkar-kan”. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  15. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    standar dan proses adalah suatu kesatuan yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan yang kita jalani. Karena ketika dalam pencapaian suatu tujuan tentunya ada standar untuk mencapainya misalkan untuk lulus dalam mata pelajaran tertentu di suatu sekolah maka tentunya ada standar yang diberikan yang disebut sebagai Standar Kompetensi Lulusan (SKL). SKL adalah salah satu standar nilai bagi siswa pada mata pelajaran tertentu. akan tetapi dalam menempuh pembelajaran untuk mencapai SKL itu maka siswa haruslah melalui proses yang ada dimana ia harus mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada selama satu semester, dan selama satu semester itu terdapat tugas, Ulangan Harian, UTS dan Ulangan Umum sehingga nantinya ketika proses tersebut telah dilewati barulah diketahui apakah siswa tersebut lulus atau tidak.

    ReplyDelete
  16. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Jargon standar sangat khawatir karena adanya jargon proses, seperti takut seakan-akan jargon proses akan menyamai dirinya. Padahal standar itu standar yang ditetapkan oleh dirinya sendiri bukan orang lain. Menurut saya, tidak ada yang benar-benar standar karena dalam hidup ini adalah semua berproses. Sesuatu yang bisa dianggap standar pun menurut saya bisa menjadi lebih baik lagi dengan adanya proses. Proses yang tertindas bisa keluar dari ketertindasan dan menuju proses jika ada usaha.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  17. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Untuk menghasilkan sesuatu yang ADA, kita butuh PROSES dan STANDAR. Untuk mencapai standar yang dituju, butuh proses yang harus dilalui. Dalam setiap standar dan proses ada jargon-jargon yang terlibat, ada jargon standar dan ada jargon proses. Standar membutuhkan proses, proses membutuhkan standar. Keduanya saling berhubungan, oleh karenanya keduanya perlu saling memahami, saling menerjemahkan, dan saling menghargai.

    ReplyDelete
  18. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Suatu standar tidak akan dicapai tanpa melalui suatu proses. Suatu proses tidak akan mencapai hasil yang maksimal tapa ada standar. Oleh karena itu yang menetapkan standar harus menghargai proses yang sedang berlangsung karena proses menuju standar tidak lah mulus. Di sisi lain, yang sedang berproses juga harus menghargai yang menentukan standar, karena dari jargon standar, yang berproses memiliki panduan untuk mendekati jargon standar.

    ReplyDelete
  19. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Standar dan proses memang harus berjlana bersama-sama. Jika standar dan proses merupakan dua hal yang tidan berjalan bersama, maka proses tidak akan tahu bagaimana melakukan suatu proses didalamnya jika tidak ada suatu standar. Dan standar juga tak akan berarti tanpa adanya perlakuan yang dilakukan oleh proses. Misal, jika standarnya kuliah adalah mendapatkan ijazah, dan pengetahuan. Maka dibutuhkannya proses untuk mendapatkannya. Jika seseorang hanya membeli ijazah, bukankah dia hanya memenuhi standarnya tetapi tidak mengalami prosesnya maka akan sia-sia dan tidak berguna.

    ReplyDelete
  20. Standar dan proses adalah kesatuan yang menjadi satu kesatuan yang menyeluruh dan menyatu dalam komprehensi pendidikan maupun tujuan apapun yang ingin dicapai. Pendidikan salah satunya. Proses kadang dibohongi standar yang tidak tercapai. Strategi yang sudah disusun dengan rapi dan terstruktur bisa menjadi kacau. Kacau pada situasi yang dimaksudkan adalah ketidaksesuaian standar dan hasil pada proses yang diharapkan. Kekacauan bisa menurunkan estimasi yang digarapkan. Situasi yang diharapkan pada situasi didik merupakan gambaran yang belum ada dan yang akan ada.
    Prosedur pemikiran yang dirancang membentuk stigma pada masing-masing individu dalam upaya membentuk perspektif.

    Prof., jangan sampai standar dan proses beradu, berstigma, bertengkar dan saling menjadi-jadi pada situasi yang Prof. Igit ciptakan, pasti ada solusi untuk menghentikan perseteruan di antara mereka. Pembentukan stigma inilah yang dipelajari melalui filsafat.

    Salam sungkem,
    dari mata kuliah yang kosong
    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP-A/2016

    ReplyDelete
  21. Proses dan standar adalah dua kesatuan yang berjalan terus beriringan.
    Pada kasus pembentukan mental dan karakter keluarga, yang sebenarnya lingkungan keluarga sebagai wadah paling minimalis dalam struktur sosial, menjadi ranah paling menentukan bagi proses berlangsungnya nilai-nilai budi pekerti, moralitas, keagamaan. Justru disini pula mengakar alibi keberasingan yang membuat keluarga menjadi area asing tumbuh kembang mental individu dan warga.
    Manusia mengambil beberapa metode untuk menyatukan proses dan standar pada satu tujuan yang diraih pada satu komponen yang utuh dan menyeluruh. Sayangnya, dengan mengkhianati proses dan standar yang berlaku, maka hubungan di keluarga mengarah pada paradigma yang jauh berbeda.


    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP-A/2016

    ReplyDelete
  22. ELegi ini seperti menceritakan kebutuhan standar pada standar dan kebutuhan proses pada proses. Seperti pada saat orang ikhlas butuh ikhlas, jangan sampai mengatakan dirinya ikhlas namun dimana-mana mengumbar keikhlasannya. Orang berpendidikan butuh pendidikan, tidak seperti orang berpendidikan namun tidak menguasai apapun.
    Elegi ini juga di dalamnya ada si orang berambut putih, yang selalu kental akan kemasyuran dan ilmu pengetahuan. Tiap elegi yang selalu digambarkan melalui stigma membuat manusia berada pada gambaran ontologis pribadinya sendiri. Manusia bereksperimen untuk membentuk dan mengembangkan bukti autentik dalam mendukung logos yang dihimpun dalam ontologi tersebut.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP-A/2016

    ReplyDelete
  23. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Jargon standar memiliki peran yang kuat dalam menentukan patokan, indikator, struktur yang di susun untuk mencapai tujuan tertentu. Tak adanya jargon standar maka tak ada jalan yang mengarahkan jargon proses mencapai tujuan itu. Jargon proses berjalan dengan petunjuk dari jargon standar yang kemudian proses perlu menemukan sendiri bagaimana cara tebaik menemukan petunjuk tersebut. Dalam perjalanan menemukan petunjuk sebelum menemukan tujuan, maka banyak kejadian yang terkadang menjadi sesuatu yang menguatkan atau bahkan melemahkan. Jargon standar tak pernah berubah dan bahkan tidak memperhatikan apa yang dilakukan jargon proses karena ia hanya memperhatikan hasil. Semua kembali kepada jargon proses bagaimana ia kukuh dalam jalannya untuk terus sampai pada jargon standarnya.

    ReplyDelete

  24. Budi Yanto
    1709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Setiap yang ada dan mungkin ada dapat menunjukan eksistensinya. Sifat-sifat dari yang ada dan mungkin ada merupakan bagian dari subjek dan objek. Misalnya sifat jujur, baik, suka menolong, ramah, bijak, dan seterusnya maka bagaimana kita menggapai atau berproses untuk menjadi sifat jujur, baik, suka menolong, ramah, bijak dan lain sebagainya. Seorang guru yang baik harus berproses bagaimana ia menjadi guru yang baik, guru yang dirindu, guru yang mendidik, guru yang memberi contoh dalam lisan maupun perbuatannya.

    ReplyDelete
  25. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Sebuah proses hendaklah memiliki standar, dan sebuah standar hendaklah memiliki proses. Standar dan proses saling berkaitan satu sama lain. Akan tetapi sering terjadi bahwa proses tidak sesuai dengan standar dan standar tidak menghiraukan realita sebuah proses. untuk menyikapi hal tersebut maka hendaklah kita memahami dengan baik apa itu standar dan proses agar dapat melaksanakan sebuah proses yang sesuai dengan standar.

    ReplyDelete
  26. Jargon pertengkaran standar dan proses ini menceritakan batasan tiap orang. Setiap orang mempunyai batasannya masing-masing. Jargon standar dengan kelebihannya dapat menunjukkan standar terbaiknya namun tidak terlas dari kekurangan yang brusaha dia tutupi dari orang lain. Sama halnya jargon proses yang juga mempunyai kelebihan dengan proses terbaiknya tapi tetap tidak luput dari kekurangan yang tidak ingin diketahui orang lain. Mereka saling menutupi kelemahan masing-masing tapi enggan mengakui kelebihan satu sama lain. Beruntunglah karena Tuhan Maha Bijaksana, Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana dimana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Karena di batas sana, standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar. Maka semua jargon itu akan lenyap diperbatasan pikiran masing-masing. Janganlah merasa sombong dan lebih dari yang lain kemudian menindas yang lain karena sejatinya kalian saling membutuhkan dan sebenar-benar standar sejati adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  27. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Antara standar dan proses masing-masing memiliki jargon. Jargon tersebut memiliki fungsi, untuk standar memerlukan jargon agar bisa digunakan dalam memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan untuk proses memerlukan jargon agar bisa dugunakan melindungi dirinya. Antara keduanya juga memiliki batasan. Alangkah baiknya jika kita bisa benar-benar paham batas-batas dan kaitan yang dimiliki oleh standar dan proses.

    ReplyDelete
  28. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Hidup di dunia menuntut kita untuk selalu mencari cara agar segala sesuatunya dapat kita jalani dengan baik. Ditengah harapan yang ada dalam hidup, terkadang kita menginginkan sesuatu yang ideal. Sesuatu yang menurut kita cocok untuk kita, padahal belum tentu apa yang ideal menurut kita, ideal di mata sang pencipta, Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Tak ada yang sempurna dalam hidup, yang sempurna adalah yang menciptakan kehidupan ini. Karena kita hanyalah manusia yang diberikan kesempatan sekali untuk hidup, maka alangkah bijaknya jika kita menggunakan kesempatan yang ada untuk berbuat baik. sekali lagi, jangan mencari kesempurnaan, tetapi sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita.

    ReplyDelete
  30. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sebuah peribahasa mengatakan bahwa “tiada gading yang tak retak” yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap orang dilahirkan dengan bidang dan keahlian yang berbeda-beda. Semua itu dengan tujuan agar manusia dapat saling mengenal dan bekerja sama. Jadi tidak ada yang pantas untuk disombongkan apapun prestasi yang telah kita peroleh. Semua itu tidak akan berhasil dicapai tanpa bantuan orang lain dan tentunya atas kehendak Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  31. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Standar itu adalah proses, dan proses itu adalah standar maka Standar dan proses hendaklah saling bersinergi, bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Dengan adanya standar menjadikan proses berusaha jadi terbaik. Sedangkan standar tanpa adanya proses juga tidak ada gunanya. Keberadaan standar dan proses adalah sama pentingnya.

    ReplyDelete
  32. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Standar menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi proses. Sedangkan tanpa proses, standar tidak akan lengkap dan tidak dapat terlaksana dengan baik. Jadi standar dan proses harus saling melengkapi agar dapat terwujud kesuksesan.

    ReplyDelete
  33. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Ternyata semuanya memerlukan jargon. Standar memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai standar, sedangkan proses memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Maka jelas bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana standar dan proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.

    ReplyDelete
  34. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Standar dan proses itu hal yang penting. Standar menjadi acuan atau patokan. Sedangkan proses itu merupakan rangakaian pelaksanaan dari pembelajaran atau langkah-langkah. Ketika dalam pembelajaran memiliki standar maka proses akan mengikuti standar yang diharapkan. Jadi standar merupakan subyek bagi proses sedangkan proses adalah obyek dari standar. Kedua hal ini harus seimbang, tanpa standar maka proses menjadi hal tidak berguna karena tidak mempunyai tujuan yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  35. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Standar dan proses sebenarnya tidak dapat dipisahkan, ini dikarenakan standar dan proses saling berkaitan satu sama lain. Standar adalah patokan tertentu untuk mencapai tujuan. Proses adalah runtunan peristiwa dalam perkembangan sesuatu. Oleh karena itu, proses tidak akan terjadi ketika tidak memiliki standar dan standar tidak akan mencapai tujuan ketika tidak melalui proses.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  36. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Dari postingan jargon diatas, antara standard dan proses pada dasarnya keduanya merupakan dua jargon yang tidak dapat dipisahkan. Kita menetapkan standar untuk dapat mencapai suatu tujuan. Sedangkan proses adalah serangkaian tindakan atau perbuatan untuk meghasilkan sesuatu atau untuk mencapai tujuan. Terkadang kita menetapkan standar diluar kemampuan kita, sehingga tak jarang proses pencapaian standarnya mengambil jalan pintas dan melanggar norma yang ada

    ReplyDelete
  37. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Dalam menetapkan standar terhadap sesuatu, harus dilihat kondisi dan situasi yang ada, sehinggga proses mencapainya akan mudah mengikuti. Ketika standar awal tercapai, tidak ada salahnya nilai standar tadi dinaikkan lagi, dan proses akan mengikutinya.

    ReplyDelete
  38. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Sebagai suatu kesatuan yang tidk dapat dipisahkan, yang menyatu dan menyeluruh, maka keduanya harus berjalan berdampingan. Standar dapat tercapai dengan adanya proses, dan proses juga tidak ada artinya jika tidak standar didalamnya. Misalnya dalam proses pembelajaran. Ditetapkan standar kelulusan adalah nilai rata rata 7, maka dibutuhkan proses untuk mencapainya

    ReplyDelete
  39. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Sungguh bijak apa yang diungkapan orang tua berambut putih, bahwa Tuhan Yang Maha Bijaksana telah menciptakan segalanya, termasuk suasana dimana standard an proses dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah saling menterjemahkan dan diterjemahkan agar saling memahami kedudukan dan posisi masing-masing. Pada batas tertentu, standar dapat berperan sebagai proses, dan proses adalah standar.

    ReplyDelete
  40. Rhomiy Handican
    16709251031]
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Standard dan proses adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Jargon standar dengan kelebihannya dapat menunjukkan standar terbaiknya namun tidak terlas dari kekurangan yang brusaha dia tutupi dari orang lain. Sama halnya jargon proses yang juga mempunyai kelebihan dengan proses terbaiknya tapi tetap tidak luput dari kekurangan yang tidak ingin diketahui orang lain. bayangkan ketika standard dan proses menyatu jadi satu tentu akan menjadi suatu yang luar biasa hebat.

    ReplyDelete
  41. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Standar berlaku sombong dan sok kuasa terhadap proses. Sedangkan proses selalu merasa tertindas. Sebaiknya standar dan proses saling berjalan beriiringan dengan jargonnya masing-masing. Maka solusinya adalah saling menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  42. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Standar dan proses tak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Kita berproses untuk mencapai sebuah standar terbaik, namun jangan memaksakan diri, alangkah baiknya jika kita bisa menikmati setiap proses dalam perjalanan menuju standar tersebut. Dan janganlah sebuah standar meniadakan sebuah proses, karena setiap manusia memiliki proses yang berbeda untuk mencapai standar yang sama. Maka bijaklah dalam hidup ini, khususnya sebagai guru matematika.

    ReplyDelete
  43. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Dapat diperoleh dari elegi di atas bahwa standar dan proses itu saling berhubungan satu sama lain. Tanpa adanya standar maka tidak ada patokan dalam proses yang mengakibatkan proses tersebut tidak memiliki tujuan atau tidak terarah. Begitu juga dengan standar yang apabila tidak ada proses di dalamnya maka standar yang telah ditentukan menjadi sia-sia dan tidak bermakna apa-apa. Adanya standar dan proses khususnya dalam pembelajaran adalah agar tujuan dari kegiatan pembelajaran tersebut berjalan dengan baik maka dari itu, diharapkan standar dan proses dapat saling menterjemahkan dan diterjemahkan dan saling memahami jargonnya masing-masing.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id