Sep 20, 2013

Filsafat atau Sastra?




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah pertanyaan dari Sdr Ahmad Mujahid;

Assalamu’aalikum Wr.Wb
Maaf bapak saya sebenarnya masih bingung apakah elegi ini sebuah refleksi dari pemahaman filsafat ataukah merefleksikan sebuah pemahaman tentang kesusastraan? Ataukah saya yang masih bingung batas kajian filsafat dengan batas kajian sastra, karena ketika saya membaca elegi ini ternyata dak jauh beda dengan ketika saya mengkaji sebuah ungkapan-ungkapan sastra. Karena dalam elegi ini saya di tuntut untuk bagaimana mengereti dan memahami kata-kata yang ada bukan melogikakan ini dengan pemahaman filsafati. Jadi tidak jauh beda dengan membaca karya sastra seoarang sastrawan. Ketika mendefinisikan filsafat itu sebagai sebuah berfikir reflek dan kritis serta bagaimana berfikir bijak, di elegi yang bapak buat ini tidak ada yang mencerminkan hal itu malah yang terjadi adalah sebuah tanggapan yang tidak mengarah kepada sebuah pemahaman filsafati atau tidak mengarah kepada tujuan belajar filsafat itu. Jadi, mohon bapak menjelaskan tentang filsafat itu sehingga bagaimana itu saya jadikan sebagai acuan atau ilmu untuk menanggapi elegi yang bapak tulis dan nantinya tanggapan saya bisa terarah.
Sekian

Jawaban Saya (Marsigit):

Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.

Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri.

Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif.

Intensif itu artinya dalam sedalam-dalamnya. Ekstensif itu luas seluas-luasnya.

Terdapat tiga pilar dalam filsafat yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis dan kajian aksiologis.

Dengan kajian ekstensif maka pemikiran filsafat menjangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Maka filsafat dapat ditaruh didepan apapun yaitu di depan yang ada dan yang mungkin ada.

Dengan kajian intensif maka pemikiran filsafat akan menjangkau hakekat atau ontologisnya sampai kita tidak mampu lagi mempertanyakannya.

Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog.

Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix.

Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi.

Metode reduksi adalah metode berpikir yang paling ampuh tetapi sekaligus paling berbahaya.

Sadar atau tak sadar, manusia itu pasti menggunakan metode reduksi karena secara hakikinya manusia itu memang bersifat reduktif.

Secara ontologis, maka yang ada dan yang mungkin ada itu hanya mempunyai 2 prinsip, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiktif.

Maka. dengan obyek dan metode serta pilar yang ada maka tidak ada yang tersisa.

Bukan filsafat itu bukan sisa filsafat.

Tidak setuju filsafat itu bukan sisa filsafat.

Bahwa ketiadaan itu pun mungkin ada sebagai kajian filsafat.

Maka bukan filsafat itupun filsafat jadinya.

Tidak setuju filsafat itupun sedang berfilsafat jadinya.

Maka aku menemukan bahwa dirikupun ternyata adalah sebuah filsafat.

Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa.

Jika engkau ingin mengetahui batas antara filsafat dan sastra bahasa, tentulah itu sangat baik.

Tetapi ternyata aku juga menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku.

Maka aku dapat sembunyikan filsafatku itu dalam sastra bahasaku.

Dan juga dapat aku sembunyikan bahasaku itu dalam filsafatku.

Jikalau engkau telah cukup jelas akan uraianku maka aku khawatir bahwa engkau telah termakan oleh jargonku.

Jika engkau masih ragu akan penjelasanku maka itulah sebenar-benar awal dari pengetahunmu.Namun ternyata saya menyadari bahwa diriku itu terbatas.

Agar saya mampu menggapai batas pikiranku maka akupun dapat menggunakan metode hermenitika, yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan.

Tetapi aku kemudian menemukan bahwa dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan.

Maka aku menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah pikiranku sendiri.

Namun tidaklah mudah aku menggapai pikiranku, karena aku menemukan bahwa setiap jengkal perjalanan pikiranku terdapat terminal-terminal pemberhentian tentang kejelasan pikiranku.

Maka kemudian aku juga menemukan bahwa sebenar-benar bahaya yang aku hadapi dalam berpikirku adalah jika aku tidak mau berpikir lagi.

Keadaan itulah yang kemudian dikatakan oleh banyak orang sebagai mitos dalam pikiranku.

Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos.

Maka aku juga menemukan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada itu pada hakekatnya adalah cermin bagi diriku untuk dapat menangkap mitos-mitosku.

Maka apalah yang engkau maksud dengan pemahaman filsafat itu.

Jika engkau telah paham betul tentang hakekat pemahaman filsafat, maka akupun masih khawatir jangan-jangan itu juga salah satu mitos besarmu.

Maka marilah kita selalu saling terjemah dan menterjemahkan. Semoga kita semua mampu menggapai terang.

Amiin

Demikianlah jawaban saya semoga bermanfaat bagai para mahasiswa yang sedang belajar filsafat.

Amiin.

53 comments:

  1. Rhomiy handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Filsafat atau sastra? Keduanya itu adalah hal penting yang ada di dunia kehidupan untuk menggapai hidup yang harmoni. Karya sastra memiliki keakraban dengan filsafat. sama-sama memungut realitas sebagai sumber inspirasi, serta memahami tulisan-tulisan, kata-kata, dan kalimat yang mungkin harus benar-benar kita pahami. Karena filsafat dan sastra bahasanya sangat tinggi.

    ReplyDelete
  2. Dunia sastra sangatlah berbeda dengan yang lain cara kita mempelajarinya. Sastra bukanlah sebuah ilmu tapi untuk mempelajari sastra membutuhkan ilmu. Sastra merupakan cerminan masyarakat dalam kehidupannya. Sedangkan filsafat itu adalah sumber dari segala ilmu. Sehingga mau tidak mau, sastra harus mengenal filsafat. Sedangkan, menurut spiritualnya, Allah adalah pemilik dari segalanya, berarti disini Allah adalah pemilik ilmu. Sehingga, untuk memperoleh sastra dalam filsafat, semua kita kembalikan kepada yang maha memiliki ilmu. Manusia itu hanya makhluk dengan segala keterbatasannya. Dan, sesungguhnya filsafat dan sastra itu adalah hal yang sulit dipisahkan, karena keduanya saling menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  3. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Sebenar-benarnya filsafat adalah apa yang kamu pikirkan. Untuk itu saat kamu memikirkan filsafat sebagai sastra, benar adanya. "Dunia yang sedang aku pelajari itu ternyata sama persis seperti yang aku pikirkan." Filsafat juga adalah pandangan hidup seseorang tentang kehidupan. Hubungan antara intelektual dan spiritual. Juga hubungan antara ilmu-ilmu, seperti filsafat dan sastra.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  4. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat atau sastra kedua-duanya saling berkaitan, karena filsafat dan sastra adalah buah pikiran dari diri kita sendiri. Sastra merupakan ranah bahasa dan filsafat pula merupakan bahasa. Dibalik bahasa dapat menyembunyikan filsafat, didalam filsafat dapat menyembunyikan bahasa. Filsafat merupakan olah fikir dengan objek segala yang ada dan mungkin ada, kemudian dikeluarkan melalui bahasa sastra.

    ReplyDelete
  5. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Mungkin ini awal dari pengetahuan saya tentang filsafat dan sastra karena saya masih ragu dengan penjelasan yang ada pada elegi ini. Tentunya masih banyak keterbatasan yang ada pada diri kita untuk memahami sesuatu. Tetapi dengan seringnya kita membaca, kita dapat memperbanyak pengetahuan. Bahkan ketika kita mempelajari apa itu filsafat dan apa itu sastra, tetapi ternyata menurut elegi ini filsafat dan satra adalah pikiran kita sendiri.

    ReplyDelete
  6. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Filsafat itu filsafat atau sastra sih? Seperti yang dijelaskan artikel si atas bahwa filsafat itu bersifat luas (ekstensif) dan dalam (intensif) maka jelaslah sastra masih berada dalam ranah filsafat dan bahasa analog dalam sastra merupakan salah satu komunikasi verbal tertulis dalam menyampaikan filsafat. Para filsuf atau pengajar filsafat yang cenderung menggunakan bahasa analog yang sulit dipahami agar dapat menggambarkan dan mengungkap berbagai fenomena dalam kualitas-kualitas subyek dan obyek secara detail yang ada di dalam pikirannya. Penggambaran yang detail dari pikiran namun diungkap secara tidak gamblang kemungkinan digunakan untuk menghindari agar tidak mengganggu sistem yang ada.

    ReplyDelete
  7. SUPIANTO
    16701261001, S3 PEP 2016

    Filsafat merupakan induk dari segala ilmu. Saya juga mengakui bahwa untuk memahami filsafat dibutuhkan olah pikir tingkat tinggi dibanding untuk memahami kajian-kajian ilmu yang lainnya. Bahasa teoritical dan abstrak salah satu penyebab sulitnya kita memahami filsafat. Di sinilah mungkin titik persinggungan antara sastra dan filsafat.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Sastra bukanlah sebuah ilmu tapi untuk mempelajari sastra membutuhkan ilmu. Sastra merupakan cerminan masyarakat dalam kehidupannya. Sedangkan filsafat itu adalah sumber dari segala ilmu. Sehingga mau tidak mau, sastra harus mengenal filsafat. Para filsuf atau pengajar filsafat yang cenderung menggunakan bahasa analog yang sulit dipahami agar dapat menggambarkan dan mengungkap berbagai fenomena dalam kualitas-kualitas subyek dan obyek secara detail yang ada di dalam pikirannya.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Filsafat juga adalah pandangan hidup seseorang tentang kehidupan. Hubungan antara intelektual dan spiritual. Juga hubungan antara ilmu-ilmu, seperti filsafat dan sastra. untuk memahami filsafat dibutuhkan olah pikir tingkat tinggi dibanding untuk memahami kajian-kajian ilmu yang lainnya.

    ReplyDelete
  10. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebagaimana yang sering digaungkan dalam pelajaran filsafat bahwa objek kajian filsafat sangat luas mencakup yang ada dan yang mungkin ada, dan sastra termasuk di dalamnya. Sebagaimana bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia, maka bahasa inilah yang dimanfaatkan sebagai media dalam menyampaikan gagasan dari para filsuf. Berbagai macam Bahasa pun digunakan hermeneutika, penganalogian, identitas dan kontradiksi serta masih banyak lagi. Mudah-mudahan kita mampu menginterpretasi dengan baik.

    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  11. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sejauh ini saya memandang gaya pembelajaran yang bapak Marsigit terapkan sebagai sebuah terobosan dalam proses transfer ilmu dari dosen ke mahasiswa. Memahami filsafat dengan gaya sastra melalui elegi-elegi yang didalamnya dimunculkan berbagai tokoh dengan karakter dan sifat yang akan mendekatkan kita pada sebuah pemahaman yang interprtasinya akan sangat beragam, semuanya bergantung pada refleksi masing-masing kita. Sebagaimana membaca sebuah novel, penulis bisa saja menuliskan “Ani sedang berada di sebuah pulau yang indah.” Interpretasi dari kalimat pulau yang indah bagi pembaca sangat beragam bergantung pada imaji masing-masing.
    Sekian, terima kasih.

    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  12. Filsafat dan sastra memiliki karakteristik yang sama dan keduanya menjadi ilmu yang sangat vital terhadap diri seseorang. Dengan berfilsafat kita dapat mengetahui hakikat sesuatu. Filsafat dan sastra itu ada dalam segala hal,sehingga semua kejadian itu mengandung unsur filsafat. Berfilsafat adalah memikirkan sesuatu dengan cara yang mendalam dan menggunakan hati, maka akan tercapai tujuan yang sesungguhnya

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  13. YUNDA VICTORINA TOBONDO
    16709251015
    P.MAT A 2016

    Dalam berfilsafat kita juga menggunakan bahasa dalam mengungkapkan isi pemikiran kita. dan bahasa merupakan wujud dari sastra itu sendiri. Kemampuan kita dalam merangkai bahasa adalah kemampuan kita dalam bersastra. Oleh karenanya, filsafat dan sastra akan selalu berdampingan dan saling melengkapi.

    ReplyDelete
  14. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Filsafat adalah memikirkan pikiran. Filsafat adalah penjelasan kita tentang kehidupan kita. Dalam menjelaskan sesuatu kita selalu membutuhkan media, yaitu bahasa. Menurut saya memikirkan atau menjelaskan pikiran memang sesuatu yang rumit, sehingga bahasa yang digunakan dalam filsafat pun memang sedikit berbeda dengan bahasa keseharian kita(lebih rumit).

    ReplyDelete
  15. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Menurut saya, Sastra merupakan teks yang mengandung perintah atau pedoman. Adapun filsafat merupakan olah pikir. Jadi, sastra juga termasuk dalam obyek filsafat. Karena tidak ada batasan dalam filsafat.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  16. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    berfilsafat berarti terus berfikir mencapai logos dan tidak mempercayai mitos. mitos ada saat dimana kita tidak mau berpikir lagi dan mempercayai bulat-bulat apa yang orang lain katakan. mempercayai mitos sangat dilarang dalam filsafat karena hal tersebut kontradiksi dengan konsep filsafat yaitu berfikir, tetapi memikirkan mitos termasuk berfilsafat.

    ReplyDelete
  17. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Obyek filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu sastra juga termasuk kedalam obyek filsafat, sehingga filsafat dapat diletakkan di semua yang ada dan yang mungkin ada, termasuk sastra. Bahasa yang digunakan untuk mempelajari filsafat bisa dengan menggunakan bahasa analog dengan metode reduksi, karena manusia itu pasti menggunakan metode reduksi untuk menjelaskan sesuatu yang ada dipikirannya karena keterbatasannya.

    ReplyDelete
  18. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Assalamualaikum Prof.

    Menurut saya, filsafat dan sastra, keduanya dapat berjalan secara bersamaan. Filsafat adalah hasil dari pemikiran atau perenungan manusia, sedangkan sastra dapat difungsikan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan filsafat. Jadi, filsafat dapat disajikan dengan sastra, sedangkan sastra belum tentu mengandung suatu pemikiran atau perenungan yang mendalam.

    Terimakasih...

    ReplyDelete
  19. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Filsafat atau Sastra? Terkadang saya berpikir bahasa yang digunakan untuk menjelaskan filsafat ke dalam elegi-elegi justru lebih indah dibandingkan sastra. Dalam mempelajari filsafat, kita tidak hanya mempelajari filsafat. Nantinya kita akan mempelajari sastra, social life bahkan persoalan regilius dan segala soal tentang kehidupan.

    Untuk mempelajari filsafat kita dapat menggunakan bahasa analog. Seperti yang diungkapkan dalam elegi di atas, ”Jika sastra adalah khasanah bahasa maka akupun menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa”. Bahasa diperlukan dalam segala aspek yang kita pelajari dan segala sisi kehidupan butuh bahasa sebagai ruang berinteraksi. Jika sastra diartikan mampu memperindah bahasa, maka sah-sah saja filsafat pun menggunakan bahasa yang terkadang tampak indah seperti “sastra”. Mari berfilsafat.

    ReplyDelete
  20. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Filsafat adalah ilmu olah pikir yang berada di garis depan semua ilmu, sedangkan sastra merupakan salah satu ilmu dari sekian banyak ilmu yang ada di dunia ini. Filsafat itu terdiri dari filsafat ilmu matematika, filsafat ilmu fisika, filsafat ilmu sains, filsafat ilmu sastra, dst. sedangkan sastra sendiri berbicara tentang bahasa ilmu matematika, bahasa ilmu fisika, bahasa ilmu sains, bahasa ilmu sastra, dst. sehingga untuk menerjemahkan antara filsafat dan sastra itu saling membantu untuk menggapai pemahaman yang sesungguhnya

    ReplyDelete
  21. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Filsafat adalah menerjemahkan pikiran. Sastra adalah menerjemahkan kata. Keduanya melengkapi dan menceritakan tentang kehidupan. Keduanya saling menata dan memperbaiki life style. Antara filsafat dan sastra semakin dipikirkan kadang-kadang semakin berputar dan tidak bisa dikeluarkan dari pikiran.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Berfilsafat adalah olah pikir untuk mengada dari yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat sangat dalam dan sangat luas. dalam mempelajarinya banyak bahasa-bahasa yang mempunyai makna dibalik bahasa tersebut. Mungkin ini titik singgung dengan sastra.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Maka sebenar-benar berfilsafat adalah usaha terus menerus untuk menggapai logos dan menggapai bukan mitos. Filsafat adalah olah pikir segala-galanya (yunani), yang berusaha untuk mencari bukti dari logos-logos segala-galanya. Hal ini harus ada batas ruang dan waktu kalau tidak akan menjadi mitos-mitos

    ReplyDelete
  24. Filsafat memikirkan apa yang ada dalam pikiran. Berfilsafat berarti mengolah pikir mencari logos-logos bukan mitos. Mitos berarti berhenti berfikir.
    Miftahir Rizqa
    PEP Kelas A
    16701261027

    ReplyDelete
  25. Objek filsafat yang ada dan mungkin ada. Sastra sendiri merupakan objek filsafat yang mesti dikaji dan dipahami. Filsafat cakupannya luas, segala yang ada dan mungkin ada
    Miftahir RiZqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    ReplyDelete
  26. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Memang benar bahwa filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Di dalamnya, kita akan membahas hal yang ada dan yang mungkin ada. Jika dihitung, lebih dari 1 triliyun pangkat 1 triliyun jumlahnya. Bagaimana bisa? Ambil saja 1 contoh, misal filsafat warna biru, ada biru tua, biru muda, biru dongker, biru tosca, biru agak muda, biru agak tua, dan biru-biru lain.
    Terkadang filsafat juga hampir mirip dengan sastra karena ilmu filsafat akan terus berkembang sesuai dengan logika dan pola pikir manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  27. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Filsafat dan sastra menjadi hal yang sama-sama berdasarkan dari olah pikir. Maka jika filsafat dari filsuf-filsuf merupakan olah pikirnya masing-masing dengan kemampuannya menggunakan bahasa dalam menjelaskan sesuatu dalam filsafatnya, maka sastra pun juga, bahwa sastrawan menggunakan bahasanya masing-masing dalam menjelaskan apa yang menjadi olah pikirnya. Tetapi satu sastrawan dengan yang lainnya tidak mempunyai kesamaan dalam memberikan penjelasan walaupun memaknainya sama.

    ReplyDelete
  28. Assalamualaikum wr. wb.

    Filsafat dan Sastra menggunakan bahasa untuk dapat diketahui dan dipahami oleh orang lain. Bahasa memiliki sifat yang arbitrer dan tergantung oleh penggunanya, sebenar-benar berfilsafat adalah anda berpikir, berpikir dan berpikir untuk merepresentasikan apa yang telah kita pikir maka bahasa adalah alat yang tepat. demikian juga sastra merupakan hasil olah pikir yang berusaha mengeksplor estetika dengan bahasa...kesimpulannya keduanya baik itu filsafat maupun sastra menggunakan bahasa sebagai alat.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  29. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Filsafat merupakan sesuatu yang berasal dari pikiran. Sejak sifat fikiran itu tidak terbatas, maka filsafat pun juga akan bisa menjangkau apa yang bisa dijangkau, akan bisa meraih apa yang bisa diraih, sungguh luar biasa.

    ReplyDelete
  30. Begitu pula dengan sastra, karena sifat filsafat yang bisa menjangkau sastra mungkin seolah-olah filsafat seperti sastra atau sastra seperti filsafat. Atau sastra itu masuk ke adalam filsafat atau sebaliknya dan begitu pula.

    Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    ReplyDelete
  31. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Tak ada yang tidak memiliki relasi dalam kehidupan ini. termasuk filsafat dengan sastra, mereka saling berkaitan. Filasafat akan bermakna dengan sastra, begitu pula jika sastra diisi oleh makna filsafat akan lebih bermakna. jika filsafat membicarakan perihal tentang kebenaran pandangan hidup dan nilai-nilai humanis, sastra pun demikian sama halnya dengan filsasfat dimana setiap kaidah yang di tunjukan oleh sastra sendiri juga berasumsi dari pandangan realitas atas dasar pandangann hidup nilai-nilai humanis dan erat kaitanya dengan sejarah, dan budaya sendiri. jadi dapat di simpulkan bahwa keduanya berdiri pada latar belakang yang sama. Walaupun jika kita mambaca sastra dan filsafat jelas menunjukan konsepsi yang berbeda tentang diskursus dari sastra dan filsafat sendiri, misalnya jika sastra membicarakan tentang nilai-nilai humanis dalam bentuk narasi namun di balik narasi sastra tersimpan nilai-nilai yang menunjukan kefilsafatan sebuah diskursus sastra itu sendiri, berbeda dengan filsafat yang menunjukan dan membeberkan pandangan hidup dan nilai humanis secara terbuka.

    ReplyDelete
  32. Budi Yanto
    1709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Filasafat atau sastra, keduanya sama-sama dalam pikiran. Filsafat dapat dikatakan bahasa sastra, terjemah dan menerjemahkan. Filsafat dan sastra berkaitan dengan kehidupan manusia bagian dari alam semesta dan merupakan hasil pemikiran manusia. Menurut Plato, Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari dunia ide. Sedangkan Aristoteles mengatakan sastra sebagai kegiatan lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat

    ReplyDelete
  33. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Objek dari filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Salah satunya adalah sastra. Sastra dan filsafat saling berkaitan satu sama lain. Ketika kita mempelajari objek filsafat maka kita mempelajarinya sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Filsafat dan sastra adalah sama-sama hasil dari pikiran, hasil dari olah pikir kita. Keduanya merupakan olah pikir yang memerlukan pemahaman secara intensif dan ekstensif.

    ReplyDelete
  34. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Filsafat berbeda dari sastra, tetapi antara filsafat dan sastra memiliki satu kesatuan yang tak terpisahkan. Filsafat adalah ilmu yang berisikan logika, estetika, metafisika, dan memiliki objek segala yang ada dan yang mungkin ada. Sementara sastra adalah bahasa yang berisikan kata-kata dan gaya. Jadi dalam filsafat juga dibarengi dengan unsur-unsur sastra agar lebih bermakna dan menggapai logos.

    ReplyDelete
  35. Sastra tidak memiliki bagian yang hierarki, karena sastra menyebar sesukanya.
    Filsafat dibuat seolah-olah berhierarki agar terpantau arah dan tujuannya.
    Sastra bebas, filsafat bermakna.
    Filsafat kuat, sastra lemah dan lenyap.
    Filsafat mencari, dan sastra membeku.
    Filsafat dan sastra adalah dua makna yang saling hilang saling silang, kudu dipisahkan dengan jelas kudu dijelaskan secara terpisah. Mereka memiliki kekuatan pada hakikinya untuk membangun paradigma, namun mereka berbeda, Ada elegi yang sengaja diciptakan untuk mereka agar bersanding bersama, ada yang sengaja dipisahkan atau sengaja dibiarkan bersama agar terjadi perselisihan.

    Kedua aspek ini tidak boleh berkolaborasi, perkawinannya akan mengerikan.

    Memet Sudaryanto
    S-3 PEP UNY
    16701261005

    ReplyDelete
  36. Salah satu dari konstanta adalah yang paling sebenar-benarnya mitos, namun penting untuk memahami mengenai peran sastra dalam penaklukan wilayah dan resuffle organisasinya. Bila diamati peta dunia, sastra memiliki bagian yang kuat, bisa lihat adanya perubahan di akhir semua perang dunia, bukan cuma dalam penaklukan wilayah, tapi dalam bentuk pengorganisasiannya. Seusai Perang Dunia Pertama, ada peta dunia baru, sesudah yang Kedua, ada peta dunia lain lagi.
    Kedua kekuatan perang terbesar adalah pada sastra, sastra berperan dalam berperang dan memecah tiap komponen yang tidak menghendaki.
    Berbeda dengan filsafat yang kekuatannya menguatkan dan konstruk untuk membantu membangun kembali hasil perang yang terjadi, jika keduanya berkolaborasi dalam tiap elemen yang sengaja dibuat, maka filsafat mampu mengembangkan yang ada.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  37. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Karya sastra memiliki keakraban dengan filsafat. sama-sama memungut realitas sebagai sumber inspirasi. Bedaannya, terletak pada metodologi yang digunakan. Sastra merupakan ziarah penjelajahan seluruh realitas tanpa pretensi membuat rumusan sistematis, sedangkan filsafat tampil sebagai refleksi atas ziarah dimaksud secara sistematis.

    ReplyDelete
  38. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Filsafat akan bermakna dalam sastra kalau sastra diisi dengan nilai-nilai karena filsafat hasil perenungan manusia untuk menemukan jatidirinya. Jadi disini sastra berfungsi mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut sedemikian rupa berdasarkan karaker sastra. Sastra mengandung unsur hiburan sehingga nikmat dibaca. Keuntungan filsafat dengan sastra yaitu pemikiran kefilsafatan jadi tidak terasa. Sastra tidak menggurui beda dengan filsafat yang murni. Filsafat disebut sebagai pengetahuan lapis kedua bahkan ketiga.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang, permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya, bersifat komplementer, saling melengkapi. Masalahnya, karya sastra membicarakan dunia manusia. Demikian juga filsafat, betapapun penekanannya pada usaha unutuk mempertanyakan hakikat dan keberadaaan manusia, sumbernya tetap bermuara pada manusia sebagai objeknya.

    ReplyDelete
  40. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sastra bukanlah sebuah ilmu tapi untuk mempelajari sastra membutuhkan ilmu. Sastra merupakan cerminan masyarakat dalam kehidupannya. Sedangkan Filsafat merupakan sumber dari semua ilmu pengetahuan yang ketika di gabung antara keduanya menjadi sebuah perbedaan yang berjalan bersama-sama.

    ReplyDelete
  41. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Filsafat atau Sastra? Keduanya sama-sama sangat penting dan saling berkaitan. Keduanya juga sama-sama bersumber dari pikiran kita. Hanya terkadang dalam pengaplikasiannya antara filsafat dan sastra tidak jalan secara bersamaan. Akan sangat baik apabila kita tahu dan paham batas-batas antara filsafat dan sastra.

    ReplyDelete
  42. Filsafat merupakan ilmu olah pikir dalam mengetahui yang ada dan yang mungkin ada dalam dimensi ruang dan waktu. Filsafat dituangkan dalam kata-kata dan kalimat-kalimat bahasa. Jika sastra adalah khasanah bahasa maka kitapun akan menemukan bahwa filsafat itupun ternyata adalah bahasa. Tetapi kita juga akan menemukan bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikiranku. Maka kita dapat sembunyikan filsafat itu dalam sastra bahasa, dan juga dapat kita sembunyikan bahasa itu dalam filsafat.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  43. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Maka dalam perbincangan filsafat bisa saja kita mempelajari sastra, sastra bahasa atau bahasa itu sendiri. Tetapi ternyata bahwa baik filsafat ataupun sastra bahasa itu ternyata keduanya adalah pikirankita sendiri.

    ReplyDelete
  44. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Filsafat itu dapat tersembunyi dalam sastra bahasa yang disampaikan. Dan begitu juga bahasa itu dapat tersembunyi dalam filsafat yang di pikirkan.

    ReplyDelete
  45. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Ketika kita membaca elegy, kadang kita berfikir bahwa kita sedang membaca karya sastra. Filsafat itu membuat kita berfikir secara intensif dan ekstensif. Belajar filsafat menggunakan bahasa analog, seperti pada elegi-elegi. Bahasa analog ini tingkatannya di atas bahasa sastra. Bahasa analog mampu mengungkap kualitas-kualitas subyek dan obyeknya hingga sampai tataran radix. Bahasa analog juga sejalan dengan metode simplifikasi atau reduksi. Misalnya ketika menyebutkan tentang hati, kadang bisa berarti perasaan, ataupun hati ini dianalogikan dengan spiritual.

    ReplyDelete
  46. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Filsafat adalah pikiran kita, sastra pun adalah pikiran kita. Filsafat adalah bahasa kita, sastra pun adalah bahasa kita. Filsafat itu berstruktur berhierarki. Kajian filsafat bersifat intensif dan ekstensif. Maka filsafat dapat dituangkan dalam sastra dan sastra dapat dituangkan dalam filsafat. Filsafat dapat berupa sastra dan sastra dapat berupa filsafat.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  47. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Cakupan dari filsafat itu luas yakni meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Bahasa dan sastra termasuk yang ada sehingga sastra pun bisa menjadi filsafat. Sastra bisa menjadi objek filsafat namun bisa juga menjadi alat untuk mempelajari filsafat dengan bahasa analogi. Makanya dalam filsafat kita dituntut untuk bisa menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  48. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Elegi merupakan salah satu fasilitas untuk belajar filsafat yang memang dibuat untuk memudahkan mahasiswa mengenal dan lebih dekat dengan filsafat. Di dalam elegi terdapat banyak pemikiran-pemikiran filsuf yang tersirat namun dapat kita rasakan. Tujuan dari elegi elegi ini menurut saya juga agar kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan. Prof Marsigit selalu menuliskan elegi dengan menyentuh sisi spiritualitas kita agar kita lebih ikhlas dalam melakukan setiap aktivitas.

    ReplyDelete
  49. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Objek dari filsafat adalah hal yang ada dan mungkin ada. Jadi dapat diketahui bahwa hal yang ada dan mungkin ada apapun itu merupakan bagian dari filsafat, maka dapat dikatakan sastra juga merupakan bagian dari filsafat. Dalam memahami filsafat atau sastra, hendaknya ikhlas pikir dan ikhlas hati sehingga akan membawa kepada pemikiran kritis yang akan menambah ilmu-ilmu baru, karena masih bermiliar pangkat bermiliar hal yang masih belum diketahui dan belum dipahami. Untuk itu tidak ada namanya berhenti untuk terus mengembangkan pola pikir, dan terus meningkatkan potens diri agar menjadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  50. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Filsafat merupakan apa yang ada di pikiran kita. Apabila kita sedang berpikir tentang sastra maka hal ini juga dapat dikatakan bahwa kita sedang berfilsafat. Hubungan antara filsafat dan sastra ini adalah saling berkaitan. Filsafat merupakan pikiran diri kita sendiri yang nantinya akan diungkapkan dalam bentuk bahasa sastra baik perkataan maupun perbuatan. Dengan filsafat, kita dapat menggunakan sastra dan dengan sastra kita dapat berfilsafat.

    ReplyDelete
  51. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Bahasa dalam filsafat bak seerti bahasa dalam sastra. Berfilsafat setiap orang nantinya dapat berbeda-beda karena sesungguhnya filsafat adalah dirimu sendiri. Berfilsafat sama artinya dengan memahami dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  52. AJI SANTOSO
    13301241034
    PMA13

    Filsafat adalah segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, apa yang sedang kita pikirkan. menyadari bahwa diriku itu terbatas. Filsfat atau sastra? sastra merupakan bagian dari filsafat. sastra diperoleh dari pikiran manusia. tetapi filsafat juga disampaikan melalui sastra.

    ReplyDelete
  53. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Saya memahami sastra secara sederhana, menurut saya sastra adalah sesuatu yang mampu mengindahkan. Bahasa yang indah seringkali membuat seseorang semakin tertarik mempelajarai bahkan mengingatnya. Dalam mempelajari filsafat, kita tidak hanya mempelajari filsafat. Nantinya kita akan mempelajari sastra, social life bahkan persoalan regilius dan segala soal tentang kehidupan. Maka sastra adalah salah satu bagian dari itu. Mari berfilsafat.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id