Sep 20, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Wajah




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai wajah memulai perjalanannya:
Aku di sini akan dan sedang memulai perjalananku. Dalam mimpiku, perjalananku itu akan sangat jauh dan sangat melelahkan. Tetapi konon sangat menjanjikan dan berpengharapan. Walaupun sangat berbahaya dan menakutkan.

Konon dalam perjalananku aku harus berbekal jiwaku, berpegang pada jiwaku dan bertuju kepada jiwaku. Tidak hanya itu saja. Konon juga aku harus berteman jiwaku, bertanya kepada jiwaku. Aku dapat memilih sembarang kendaraanku, tetapi kendaraan utamaku adalah orang-orang bijak. Para nabi dan rosul adalah “pesawat” ku. Sedangkan tumpangan yang paling murah dan umum adalah pada guru. Konon aku bukan sekedar ilmu, tetapi ilmu adalah pelumasku. Agar aku bisa mencapai tujuan dengan berhasil, konon aku harus mencari teman-temanku, yaitu para siswa-siswa. Tetapi aku juga disarankan untuk bersilaturahim kepada negarawan, politisi dan ulama. Aku diperingatkan untuk waspada, karena godaan diperjalanan sangat banyak. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas tetapi banyak yang tidak tampak jelas. Tetapi apapun yang terjadi aku dipesan agar bersikap sabar, tawakal dan tumakninah. Aku harus bersabar dan tawakal ketika aku tidak dapat menemukan kendaraan untuk bebergian, bahkan aku harus sabar ketiga aku ditinggalkan teman-temanku, bahkan aku harus sabar ketika aku ditinggalkan oleh semuanya. Tetapi aku juga harus sabar melihat segala macam kejadian, bencana alam, bencana kemanusiaan, perang bahkan kiamat sekalipun. Anehnya aku diberi tugas untuk mencatat dan menyaksikan semuanya yang terjadi itu. Aku juga sekaligus diangkat untuk menjadi saksi bagi semuanya, baik dalam ruang dan waktu. Tetapi aku harus mempersiapkan diri ketika konon aku harus ikut maju ke medan laga dan pertempuran. Tetapi beritanya, musuhku yang paling berat adalah diriku sendiri. Aku diberitahu bahwa aku ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diriku sendiri. Karena konon wajahku bisa menyerupai apa saja. Wajahku bisa menyerupai apa saja yang aku pikirkan. Wajahku bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat, bisa menyerupai pejabat negara, bisa menyerupai presiden, menteri. Wajahku juga bisa menyerupai uandang-uandang, peraturan, tata-tertib. Wajahku bisa menyerupai orang tua, bisa menyerupai anak kecil, bahkan bisa menyerupai seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Tetapi perjalanan dan semua perjuanganku itu konon sebenarnya diperuntukkan untuk mencari tahu bagaimana wajahku itu. Jadi seberat inilah cobaan dan perjuangan hidupku, sekedar hanya untuk dapat mengetahui seperti apakah wajahku itu.

Hamba menggapai wajah berjumpa dengan hamba menggapai tinggi:
Wahai hamba menggapai tinggi, bolehkan aku bertanya.

Hamba menggapai tinggi:
Boleh-boleh saja. Silahkan jika engkau ingin bertanya.

Hamba menggapai wajah:
Dalam rangka mengetahui wajahku, maka aku melakukan perjalanan jauh ini. Tetapi sekarang saya bingung. Sampai di manakah dan berada dimanakah aku ini. Kemudian aku harus menuju kemanakah dan harus menemui siapakah. Kemudian aku harus melakukan apa sajakah?

Hamba menggapai tinggi:
Ketahuilah bahwa manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Maka seyogyanya, temuilah mereka dan beritahukanlah kepada mereka, walaupun hanya sekedar satu ayat sekalipun. Tegakkanlah kebenaran dan keadilan, agar mereka semua selamat di dunia maupun di akhirat.

Hamba menggapai wajah:
Terang dan jelas petunjukkmu itu. Tiadalah keraguan sekarang bagiku untuk melangkah. Doa restumu lah yang selalu aku mohon supaya aku berhasil mengemban tugas-tugasmu itu. Salam.

Hamba menggapai wajah menjumpai raksasa dan ksatria yang sedang berperang:

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa dan ksatria, kenapa engka berdua lakukan peperangan ini? Bukankah berdialog itu lebih baik.

Raksasa:
Dasar orang tidak tahu diri. Engkau kusuruh membunuhnya malah pergi tak karuan juntrungnya. Hai orang yang mengakau sebagai hamba menggapai wajah. Sekarang kau pilih saja. Kau ingin ikut denganku atau ikut dengan musuhku itu.

Ksatria:
Wahai hamba menggapai wajah. Maafkanlah aku, karena aku telah berbuat tidak bijaksana, sehingga reputasimu telah tercemarkan oleh kejadian ini. Terserahlah engkau. Jika engkau ingin membantuku bolehlah, tetapi jika engkau tidak ingin membantuku ya tidak apa-apa. Aku serahkan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku.

Hamba menggapai wajah:
Wahai raksasa. Iba dan marah hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah berperangai seburuk itu. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk meminjam wajahku. Maka aku pinjamkan wajahku kepadamu tetapi dengan pesan agar dijaga baik-baik. Mengapa engkau tidak bisa mengemban amanahku. Bahkan sekarang kondisinya sebegitu buruknya. Lebih dari itu. Engkau juga telah salah gunakan wajahku untuk kepentingan-kepentinganmu secara tidak bertanggung jawab. Bahkan engkau gunakan wajahku itu untuk menggapai ego dan kepentingan dirimu. Engkau telah bersembunyi di balik wajahku untuk melakukan kedholiman di muka bumi ini. Engka bahkan telah melakukan perusakan di muka bumi ini menggunakan wajahku. Dengan dalih-dalih kebaikan engkau ciptakan keburukan-keburukan. Dengan bersembunyi di balik wajahku, engkau telah salah gunakan kekusaaan untuk menguasai dan merampas hak-hak orang banyak. Kamu ciptakan sistem dan aturan-aturan yang mementingkan dirimu sendiri. Kamu telah merubah wajahku yang kau pinjam menjadi wajah yang rakus akan kekuasaan.

Hamba menggapai wajah:
Wahai ksatria. Iba dan menyesal hatiku melihat dirimu. Mengapa engkau telah aku biarkan dan aku tinggalkan begitu lama. Bukankah aku teringat bahwa ketika itu engkau menemuiku untuk mohon ijin melakukan perjalanan dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi aku telah melupakanmu. Maka maafkanlah diriku.

Raksasa:
Wahai orang yang mengaku-aku menggapai wajah. Sombong amat engkau itu. Emangnya gua pikirin. Memangnya siapakah dirimu itu. Dirimu itu bagiku, sebenar-benar tidak berharga. Kamu tidak mempunyai nilai bagiku. Tetapi jika kamu tetap ingin hidup maka boleh tetapi dengan saratnya. Saratnya adalah engkau cabut semua pernyataanmu itu tentang diriku. Kemudian kamu minta maaf dua ratus persen kepadaku. Setelah itu maka kamu harus tunduk tigaratus persen kepadaku. Jika tidak, maka enyahlah engkau itu dari depanku ini.

Ksatria:
Wahai orang menggapai wajah. Sungguh mulia budi dan ucapan-ucapanmu itu. Maafkanlah bahwa aku telah sekian lama tidak memberi khabar kepadamu. Aku hanya berserah diri kepada yang Maha Kuasa, suratan takdir dan ikhtiarku. Aku tidak berani menatap wajahmu seratus persen karena aku khawatir dengan caraku. Aku merasa perlu mengembangkan cara dan metode agar aku bisa menatap wajahmu. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku tidak mengetahui bagaimana wajahku itu.

Raksasa:
Ah dasar orang bodoh dan dungu. Melihat wajah sendiri saja tidak bisa. Ini, kalau engkau ingin melihat wajahku. Tentu wajahku adalah paling tampan di dunia ini, bukankah begitu?

Orang bijak datang menemui ketiga orang tersebut:
Wahai ketiga orang yang sedang bertengkar. Demikianlah kodratnya. Bahwa hamba menggapai wajah telah ditakdirkan mempunyai banyak rupa. Raksasa itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu. Ksatria itu juga dirimu. Jadi sebenar-benar dirimu adalah multi rupa.

Hamba menggapai wajah:
Tetapi aku menjadi penasaran. Sebetulnya siapakah diriku itu wahai orang bijak.

Orang bijak:
Dirimu adalah diriku juga. Dirimu mendahului sekaligus mengakhiri mereka. Jiwamu adalah jiwa mereka, jiwa mereka adalah jiwamu. Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu. Jika mereka raksasa maka menjadi raksasa pulalah dirimu. Dan jika mereka ksatria maka menjadi ksatria pulalah dirimu itu. Tiadalah arti bagimu tanpa mereka. Demikian juga tiadalah arti bagi mereka tanpa dirimu.

Hamba menggapai wajah:
Bagaimana dengan dirimu?

Orang bijak:
Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar aku tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula.

Hamba menggapai wajah:
Jadi siapakah kita ini?

Orang bijak:
Boleh boleh saja. Tetapi jika kita sepakat mencarinya maka kita boleh juga.

Hamba menggapai wajah:
Jangan berputar-putar dan bertele-tele. Tolong sebutkan saja siapa kita?

Orang bijak:
Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”

51 comments:

  1. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Pernyataan terakhir elegi ini menyebutkan bahwa “sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar mengerti diri”. Dari sini, maka kita harus memahami diri kita sendiri dahulu, kenali baik-baik apa dan bagaimana diri kita, agar kita bisa mengendalikan diri kita sendiri, jangan selalu minta dimengerti oleh orang lain, tetapi kita harus mengerti bagaimana orang lain, hal ini sebagai sebuah proses dalam menemukan jati diri, melalui pengalaman-pengalaman yang kita dapatkan, dari sanalah kita juga akan menemukan diri kita sebenarnya.

    ReplyDelete
  2. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Belajar mengenali diri merupakan hal yang sangat sulit bagi kita. Terkadang kita memang tidak sadar dan tidak tahu sebenarnya seperti apa diri kita ini. Terkadang kita bisa mnejadi sosok yang baik hati, terkadang bisa menjadi sosok yang tinggi hati, sombong dan sosok-sosok yang buruk lainnya. Akan tetpi, dengan kita mau belajar memahami diri kita dengan terus berusaha mengemabngkan sifat-sifat baik yang ada pada diri kita maka menggapai pribadi yang baik akan kita peroleh.

    ReplyDelete
  3. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Alangkah lebih baiknya jika kita menjadi diri sendiri bukan menjadi orang lain. Memalsukan jati diri sama saja dengan mengkhianati diri sendiri. Kita tidak percaya pada kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita. Kta hanya ingin menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki.Menjadikan sebuah pencitraan tentang diri kita yang ujungnya hanya akan merusak diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  4. Fauzul Muna Afani
    Pendididkan Matematika A 2013
    13301241010

    Sejatinya diri kita adalah apa yang kita perbuat. Apabila kita mengisi kehidupan kita dengan kebaikan maka kita akan menjadi orang yang baik begitu juga sebaliknya juika kita mengisis kehidupan kita dengan kebuyrukan maka kit akan menjadi orang buruk. Sebaiknya kita harus pintar dalam memahami diri kita sendiri untuk dapat membentuk diri kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain bukan menjadi pribadi yang merugikan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  5. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs PMat A 2016

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Dalam perjalanan panjang menuju Tuhan kita mengalami fase fluktuasi. Terkadang semangat kita menuju-Nya tinggi namun tidak menutup kemungkinan, rasa lelah terkadang menghampiri. Tetapi, jangan biarkan rasa jenuh dan malas menetap karena bisa jadi kita akan tertinggal jauh dan perjalanan kita akan seperti fatamorgana, fokuslah pada tujuan awal. Teruslah mencari dan ikutilah fitrah, kenalilah siapa dirimu, jangan kau cari dirimu di luar karena kau tak akan pernah menemukannya.
    Seperti kata para sufi, Dia jauh tak berjarak, dan dekat tak tersentuh.
    wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ReplyDelete
  6. Jadilah diri sendiri,bukannya dengan cara lain ingin menjadi siapa,tetapi diri sendiri.pikirkan tentang hal yang ingin anda lakukan ,pikirkan tentang jenis hubungan yang anda inginkan ,tempat yang anda inginkan,umtuk tinggal,jenis gaya hidup yang anda inginkan.setelah anda mendapat jawabannya ,mulailah membangun hidup anda pada jalur tersebut.

    M. Saufi Rahman
    16701261024
    S3 PEP (A) 2016

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Kadangkala kita tidak sadar dan tidak mengetahu sebenarnya seperti apa diri kita ini. Terkadang kita bisa mnejadi sosok yang sanat baik hati, terkadang bisa menjadi sosok yang sangat buruk. Akan tetapi, dengan kita mau belajar memahami diri kita dengan terus berusaha mengemabangkan sifat-sifat baik yang ada pada diri kita maka menggapai pribadi yang baik akan kita peroleh agar bermanfaat bagi orang lain bukan menjadi pribadi yang merugikan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    sebenar-benar nya filsafat adalah diri kita sendiri. pada dasarnya Hidup adalah refleksi yang terstruktur dibatasi ruang dan waktunya oleh karenanya kita tetap harus berfilsafat untuk mewujudkan ada, megada dan pengada kita dan dilandasi oleh spritualisme yang tinggi sehingga terhindar dari refleksi yang sesat dan tidak sesuai dengan norma dan etika.

    ReplyDelete
  9. 16701251016
    PEP B S2
    Manusia sesungguhnya adalah diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Dengan kemampuan berfikir dan menggunakan hati manusia mampu menjadikan muktifacet sesuai ruang dan waktu, namun oada jaman seperti ini banyak orang yang lalai. Lalai posisi dirinya, bahkan dengan dalih yang manis dengan konsktruk pemikiran yang diimbangi dengan alat mampu menyesatkan berbagai kalangan yang lain. Maka tiadalah berarti diri jika demikian ini.
    Salah satu yang mampu dilakukan untuk mencegah kemungkaran hanyalah bersikap sabar dan selalu ikhtiar. Nampaknya sabar ini adalah mudah, namun amat sangat sulit.

    ReplyDelete
  10. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    kalimat terakhir dari elegi ini yang disampaikan oleh "orang bijak" serig sekali disampaikan oleh bapak marsigit dalam pembelajaran mata kuliah filsafat ilmu di kelas yaitu bahwa dengan filsafat kita belajar mengerti diri. tapi tidak ada yang benar-benar bisa mencapai diri yang sebenarnya, kecuali hanya berusaha.

    ReplyDelete
  11. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Segala yang ada di dunia ini adalah titipan dari Yang Maha Kuasa, oleh karena itu kita tidak boleh sombong atas apa yang kita miliki.

    ReplyDelete
  12. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Belajar memahami diri sendiri adalah usaha yang sangat berat dijalani. Semua perilaku yang kita lakukan menunjukkan siapa sebenarnya kita. Namun sebagai manusia kita diberi keterbatasan, yaitu ketidaktahuan. Apa yang kita lakukan menurut kita baik belum tentu baik untuk orang lain. Tidak sadar keitka kita melakukan suatu keburukan.

    ReplyDelete
  13. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Maka sebaiknya dalam menjalani kehidupan ini hendaklah selalu berprasangka baik, berpikiran positif, sabar, tawadhu, dan selalu meminta keridhoanNya dalam aktivitas kita agar kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.

    ReplyDelete
  14. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    menggapai wajah adalah mengetahui diri kitas endiri, wajah disini diartikan secara konatasio sebagai diri, karena diri kita punya wajah masing, dan banyak orang yang bisa memiliki banyak wajah sesuai dengan kemamopuanya untuk menyesuaikan dengan ruangd an waktunyam, dengan belajar mengathui diri,belajar memiliki banyak wajah sehingga kita bisa menepatakan wajah kita di ruang dan waktu yang tepat

    ReplyDelete
  15. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Wajah kita mencerminkan apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Perilaku kita mencerminkan kepribadian kita. Untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita, bagaimana rupa wajah kita, tidak lain dengan cara "belajar mengerti diri" melakukan refleksi diri, introspeksi diri, tanya hati kita, kita orang yang seperti apa dan ingin menjadi seseorang yang bagaimana. Sesungguhnya manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  16. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebenar-benarnya diri kita adalah tidak lain dan tidak bkan adalah belajar menggapai diri. Mengenali diri kita yang sebenar-benarnya. Benar bahwa hidup adalah perjalanan, perjalanan menemukan diri kita. manjalankan segala peran kita di muka bumi. Sementara peran pada setiap orang dapat berubah sesuai dengan ruang dan waktunya. Begitulah manusia yang bersifat dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai dengan adaptasinya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  17. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Seseorang ketika menjalani kehidupan di dunia ini mempunyai beribu wajah sesuai dengan perlakuannya saat itu. Namun yang terpenting adalah kita harus berusaha untuk selalu berada di jalan-Nya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  18. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    wajah dalam artian disini adalah ilmu yang telah kita peroleh maupun ilmu yang hendak ingin kita capai. Terkadang apa yang kita lakukan dalam ilmu kita banyak di salah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan dalih untuk kebaikan akan tetapi kenyataan berkata lain ternyata ilmu itu telah di salah gunakan demi mencelakakan sesama, makhluk hidup lain, alam dan dunia ini. sehingga tujuan ilmu yang tadinya adalah sesuatu yang baik menjadi melenceng kearah yang telah tercemari akibat dari kesombongan, ketamakan, kerakusan hingga kekuasaan yang terus menerus terjadi dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  19. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Dalam elegi di atas ada sebuah kalimat yang menarik, “Kau ganti saja setiap kata “mereka” pada kalimat-kalimat ku di atas dengan kata “wajahmu”, “raksasa”, “ksatria”, atau “orang bijak”. Maka sebenar benar tiada lain tiada bukan adalah dirimu dan diri mereka pula”.

    Maka menurut saya, “wajah” yang dimaksud disini adalah “diri kita yang tampak pada orang lain”. Dalam berfilsafat, kita tidak hanya dituntut memahami diri sendiri tapi juga memahami orang lain serta semua aspek kehidupan yang ada. Maka untuk menggapai “wajah” tersebut, kita tidak perlu menjadi orang munafik, naudzubillah. Teruslah menjadi pribadi yang baik dan berpegang pada ajaran agama, Islam rahmatan lil ‘alamin. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri. Karena kita diciptakan untuk tidak mudah mengenali diri. Padahal dalam hidup kita perlu mengetahui siapa diri kita dalam perjalanan dan perjuangan hidup. Belajar mengerti diri ini digambarkan sebagai seorang hamba yang menggapai wajah.

    ReplyDelete
  21. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Wajah ditakdirkan multirupa, bisa raksasa bisa ksatria. Wajah tergantung wadahnya. Jika mereka raksasa maka wajahnya adalah raksasa, jika mereka ksatria maka wajahnya adalah ksatria. Mereka buruk atau baik maka itulah dirimu. Maka kenalilah diri sendiri

    ReplyDelete
  22. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jika seseorang ditakdirkan multirupa, maka di dunia ini ada banyak sekali rupa. Oleh karena itu diharapkan bisa tetap menjadi diri sendiri, ikhtiar dan berusaha dalam kebaikan, serta banyak-banyak instropeksi diri

    ReplyDelete
  23. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Menggapai wajah adalah sama dengan menggapai jati diri. Menggapai masa depan yang cerah di dunia. Menggapai tinggi adalah menggapai akhirat. Tujuan utama manusia hidup di dunia tidak lain adalah ke akhirat untuk bertemu Tuhan. Dunia-akhirat tentu sangat berbeda namun harus seimbang juga.
    Ibarat dua sisi mata uang, tentu ada hati baik dan buruk. Yang baik selalu ingin menebar kebaikan. Sebaliknya, jika hati yang buruk selalu ingin membuat kerusakan. Jika tidak dikendalikan, hati yang buruk bisa besar seperti raksasa dan akhirnya ingin menguasai segalanya tanpa pandang bulu. Akhirnya kebaikan tergeser. Tapi sudah kodratnya bahwa kebaikan selalu menang.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Untuk menggapai “wajah” bagaimanapun caranya harus berlandaskan aturan Allah, karena tugas manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Wajah kita akan terlihat baik atau buruk tercermin dari hati kita yang baik atau buruk. Karena wajah merupakan yang tampak adalah refleksi dari hati kita yang tidak tampak. Hati yang baik adalah hati yang beribadah kepada Allah dengan taat. Dari hati yang bersih tercerminlah wajah yang menyejukkan ketika dilihat. Selalulah berada pada garis beribadah, berdoa, berdzikir, mendekatkan diri kepada Allah SWT,karena setiap harinya kitalah yang menentukan wajah kita.

    ReplyDelete
  25. LINA
    16701261022
    PEP-Q/2016

    Perjalanan seorang hamba menggapai wajah adalah seperti perjalanan yang dilakukan manusia di bumi ini. Tujuan utama dalam perjalanan manusia di dunia sebenarnya bermuara pada pertemuan dengn Tuhan YME. Inilah yang seharusnya selalu diingat oleh kita. Akan tetapi saat ini banyak dari kita yang lalai terhadap tujuan hidup kita yang sebenarnya. Oleh karena itu kita harus selalu berfilsafat untuk memikirkan lagi apa tujuan kita hidup di dunia, kemudian menyusun langkah hidup yang seharusnya, karena tujuan akhir kehidupan manusia di dunia adalah akhirat.

    ReplyDelete
  26. LINA
    16701261022
    PEP-Q/2016

    Menggapai 'wajah' dalam elegi ini diartikan menggapai jati diri. Dalam uaha menggapai jatidirinya, manusia akan menghadapi banyak hal di dunia ini. Kita akan menemui segala macam manusia dengan sifat dan motifnya. kita juga akan menemui banyak bentuk ujian dan godaan bagi kita. Ujian untuk diri kita sendiri, maupun ujian bagi lingkungan kita. untuk menghadai semuanya, kita perlu mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Kita harus memiliki keteguhan hati, jiwa dan pikiran.

    ReplyDelete

  27. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Setiap manusia harus belajar mengenali dan mengerti dirinya sendiri. Siapakah aku, mengapa aku ada disini, apa tugasku, mengapa aku dan dia berbeda, mengapa tugasku dan dia berbeda, mengapa aku harus melakukan hal seperti itu, mengapa aku dilarang melakukan hal yang seperti ini, mengapa harus menjaga hubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain dan lain sebagainya. Maka dengan mengenali diri sendiri maka kita akan mengenal Tuhan pencipta kita, kita menjalankan tugas sebagai kholifah atau mengelola dan menjadi pemimpin dibumi dan mempersiapkan amal dan perbuatan untuk kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  28. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Kita sebagai manusia memiliki keterbatasan. Kita tidak akan mampu menjelaskan semua yang ada di dalam pikiran kita dan kita juga tidak akan mampu untuk memahami semua yang belum ada di pikiran kita. Begitu pula dengan diri kita sendiri, kita tidak mampu memahami semua tentang diri kita, tetapi yang kita lakukan adalah terus berusaha untuk memahami tentang diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  29. Retno Widyaningrum
    1270161004

    Inilah indahnya filsafat kita harus berpikir dan berpikir mengenali diri kita sendiri. Jika kita mampu mengenali diri kita maka akan mudah mengendalikan diri, artinya sebelum terjadi sesuatu bila hal tersebut berwajah buruk maka kita tidak akan melakukannya dan sebaliknya bila wajah itu baik maka kita akan melakukannya. Untuk membedakan baik dan buruk adalah perlu olah pikir untuk memahami diri sendiri.

    ReplyDelete
  30. Retno Widyaningrum
    1270161004

    Bila seseorang bersembunyi di balik topeng yang cantik tetapi dibelakang melakukan hal yang sangat erugikan orang lain (misal korupsi) maka ini adalah ciri orang yang tidak mampu mengenali diri sendiri karena ternyata sikap dan hati tidak sesuai. Orang yang melakukan korupsi sebenarnya sadar hal tersebut adalah merugukan orang lain tapi toh dia melakukannya, maka orang ini belum sepenuhnya mengenali diri sendiri. Artinyamembiarkan dirinya melakukan hal yang tidak baik.

    ReplyDelete
  31. Retno Widyaningrum
    1270161004

    Untuk mengerti pada diri sendiri tidak hanya dengan berpikir saja tapi harus dilandasi dengan iman dan taqwa kepada allah SWT, dengan ikhlas, tawakal, dan do'a akan selalu mengiri jalan kita menuju kesempurnaan hidup dunia dan akherat. aamiin yra....

    ReplyDelete
  32. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Elegi sorang hamba menggapai wajah, menggambarkan bagaimana manusia sebagai hamba Allah, dalam kehidupannya untuk mencapai tujuan akhir akan menghadapi jalan akan yang beliku-liku. Akan ada banyak teman, lawan, godaan dan tantangan yang akan menghampiri. Godaan itu ada yang besar seperti raksasa, ada yang tajam setajam pisau cukur, ada yang selembut salju, ada yang tampak jelas namun banyak juga tampak tak jelas. Kita sebagai hamba yang sudah dibekali akal oleh yang Maha Bijaksana hendaklah senantiasa ingat akan tujuan akhir kita, sehingga setiap langkah kita senantiasa tetap berjalan dijalan yang benar, iringilah setiap langkah kita dengan doa dan dzikir untuk selalu dekat denganNya.

    ReplyDelete
  33. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Pengendalian diri dan penemuan jati diri, adalah perkerjaan yang tidak mudah. Bagaimana kita mengidentifikasi diri kita sendiri adalah dengan introspekdi diri, melakukan renungan, berpikir dan bertanya, sebuah kritikan adalah ibarat sebuah cermin, dan kita tidak boleh antipasti dengan kritikan. Belajar untuk mengenali diri dalam elegi ini diibaratkan dengan hamba yang menggapai wajah

    ReplyDelete
  34. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Jati diri itu tentang tujuan akhir kita menghadap Allah SWT. Sebab Jati diri itu adalah wajah batiniah. Seperti apakah wajah kita ketika menghadap sang pencipta, maka jawabnnya adalah ditentukan amal-amal kita didunia

    ReplyDelete
  35. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Berdsarkan elegi di atas dapat disimpulkan bahwa manusia sejatinya dalam kehidupan selalu berusaha untuk mencari jati dirinya sendiri yang sesungguhnya. Jati diri bisa diartikan sebagai karakter dasar dari seseorang. Tidak semua manusia langsung menemukan jati dirinya, butuh proses untuk menggapainya. Jati diri dapat digapai dengan beberapa cara diantaranya adalah dengan mengidentifikasi identitas diri, merenungkan kehidupan yang telah dijalani, menerima saran dan kritikan orang lain serta jalani kehidupan dengan usaha yang maksimal.

    ReplyDelete
  36. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Selamat Pagi Pak Prof..
    Ada banyak hal yang dapat saya peroleh dari membaca elegi diatas. Diawal, elegi di atas sedikit membahas tentang tujuan manusia diciptakan yaitu untuk beribadah dan menjadi khalifah serta kewajibannya untuk menyampaikan walau hanya satu ayat.
    “sebenar-benar dirimu adalah multi rupa”. Seperti yang telah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Alloh telah mengilhamkan jiwa kebaikan dan keburukan. Kedua hal tersebut adalah potensi yang ada dalam diri manusia yang harus dikelola dengan baik agar dapat melejitkan potensi kebaikannya.
    Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”. Dan Alloh, sang Pencipta kita, yang juga paling mengerti, telah memperkenalkan diri kita melalui Al Quran. Ma'rifaullah... kemudian ma'rifatul insan.
    Semoga ilmu yang kita dapatkan selama ini berkah dan bermanfaat untuk agama nusa dan bangsa. aamin.

    ReplyDelete
  37. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Mengerti dan memahami diri sendiri akan membuat kita lebih bersyukur. Kita akan menyadari bahwa diri kita itu adalah sesuatu yang penting. Diciptakan dengan segala kerumitan didalamnya yang sangat teratur dan presisi. Segala proses yang terjadi didalam diri kita sangat kompleks namun tetap teratur. Jika kita menyadari hal ini, tentu kita tidak akan menyia-nyiakan diri sendiri.

    ReplyDelete
  38. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Seseorang akan menjadi dewasa dan matang ketika ia telah menemukan jati dirinya. Saat kita sudah memahami diri, kita akan tahu apa yang harus kita perbuat, apa yang akan kita peroleh, dan apa akibatnya jika kita tidak melakukan hal itu.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kehidupan kita di dunia ini, akan sangat menentukan kehidupan kita di akhirat kelak. Untuk itu marilah kita perbanyak melakukan muhasabah/ instrospeksi diri, karena sebaik-baik manusia adalah yang selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah kita lakukan.

    ReplyDelete
  40. Elegi seorang hamba menggapai wajah memberikan pesan moral yang sangat baik. Filsafat yang merupakan ilmu olah pikir yang merefleksikan ke dalam diri sendiri membantu kita menilai diri kita sendiri. Kita adalah seperti apa yang kita lakukan. Baik atau buruk diri kita adalah pilihan dari kita sendiri. Karena sesungguhnya manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT, semua yang kita lakukan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti maka berbuat baiklah sebanyak mungkin.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  41. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Hidup bukan karena melalui filsafat, melainkan sesorang menjalani kehidupannya dengan berfilsafat, melalukan olah pikir dan hati. Hati tempatnya spiritual manusia. Manusia perlu menggapai spiritualnya untuk kemudian ia dapat melihat siapa sejatinya dirinya yang selalu berubah ubah dalam kehidupannya. manusa tempatnya segala sifat dan diharapkan manusia tidak berjalan melebihi garis spiritualnya dalam menjalani kehidupan dalam mencari jati dirinya.

    ReplyDelete
  42. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Manusia diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada sang Pencipta. Tetapi sekarang mulai banyak orang-orang sudah tidak tahu diri lagi. Dengan kesombongan mereka seolah-olah berkuasa dan merasa hebat.

    ReplyDelete
  43. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Wajahmu akan tergantung wadahmu. Jika baik maka baik pulalah wajahmu. Jika buruk maka buruk pulalah wajahmu. Wajah adalah cerminan diri, maka Sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah “Belajar Mengerti Diri”.

    ReplyDelete
  44. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Kita tidak seharusnya menjadi orang lain, sebaik-baiknya diri kita adalah menjadi diri kita sendiri dan belajar untuk mengerti diri sendiri karena setiap manusia diciptakan berbeda-beda. Memang baik kita mengikuti seseorang yang sifatnya baik dan berprestasi tetapi tidak lantas kita mengikuti sepenuhnya dan menjadi seperti orang tersebut, juga belajarlah konsisten pada diri sendiri. Dan janganlah lupa dengan tujuan utama hidup kita diciptakan yaitu beribadah kepada Allah S.W.T.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  45. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    “Orang yang kuat bukanlah mereka yang selalu menang dalam melawan musuh, tetapi mereka yang kuat adalah yang mampu melawan hawa nafsunya sendiri. Maka lawanlah diri kita sendiri dari besarnya hawa nafsu yang lebih cenderung bersifat duniawi yang melenceng dari perintahNya. Kita ditakdirkan untuk tidak mudah mengenali diri kita sendiri. Wajah kita bisa menyerupai apa saja yang kita pikirkan. Wajah kita itu bisa menyerupai orang bijak, bisa menyerupai orang jahat. Maka berprasangka baik dan senantiasa memperbaiki diri. Sesungguhnya sebenar-benar dari kita tidak lain tidak bukan adalah belajar memahami diri sendiri. Wallahua’lam...

    ReplyDelete
  46. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi menggapai wajah. Yang saya tangkap dari judul postingan ini, adalah bagaimana kita mengetahui siapa diri kita. Tidaklah mudah untuk mengetahui siapa diri kita. Bagaimana diri kita. Apa yang telah kita lakukan. Benarkah atau salahkah dengan apa yang telah kita perbuat. Namun tak sebaliknya, sangat mudah bagi diri kita untuk menilai orang lain. Kita mudah menyimpulkan bahwa orang itu salah. Kita mudah menilai apa yang dilakukan oleh orang itu tidak benar. Padahal kita tidak tahu apa yang dilakukan itu sudah benar. Menggapai wajah, kita sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelebihan dan kekurangan, sebaiknya kita bisa mengenali wajah kita, atau diri kita sendiri. Jadikanlah diri kita sempurna, jadikanlah diri kita menjadi yang terbaik. Maka jika semua itu sudah tercapai, wajah kita akan memancarkan cahaya yang menyinari hati setiap manusia.

    ReplyDelete
  47. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Merefleksi diri sendiri dengan sebenar-benarnya refleksi itu tidak mudah. Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan ikhlaslah bisa merefleksikan dirinya. Dengan introspeksi diri kita akan mengetahui siapa sebenarnya kita. Maka berdoalah kepada Allah agar kita diberikan “wajah” yang baik bukan sebaliknya.

    ReplyDelete
  48. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Pada kalimat,"Tetapi wajahmu akan berbeda-beda pula. Wajahmu akan tergantung wadahmu. Wadahmu adalah mereka pula. Jika mereka baik maka baik pulalah wajahmu. Jika mereka buruk maka buruk pulalah wajahmu." saya teringat hadist nabi yang mengatakan bahwa ada sebuah daging di dalam diri setiap manusia, jika ia baik maka baiklah seluruh dirinya dan jika dia buruk maka buruk pulalah semuanya, dan itu adalah hati. Maka diri kita sebenar-benarnya adalah hati kita, tubuh ini adalah wadah, dan memiliki wajah yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  49. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Mengerti dan memahami diri sendiri akan membuat kita lebih bersyukur. Kita akan menyadari bahwa diri kita adalah sesuatu yang penting. Kita diciptakan pasti ada alasannya, entah untuk bisa memperbaiki orang lain menjadi lebih baik atau dengan tujuan yang lainya. Jadi, kita tidak boleh menyia-nyiakan diri kita sendiri, setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan.

    ReplyDelete
  50. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Untuk mengenali diri sendiri tentu itu bukan merupakan hal yang mudah, perlu banyak usaha dan upaya yang dilakukan untuk itu. Kita mungkin akan lebih mudah untuk mengenali orang lain daripada diri kita sendiri, atau terkadang kita juga bisa salah dalam mengerti apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus bisa menemukan jati diri kita yang sesungguhnya jangan sampai terjadi krisis identitas.

    ReplyDelete
  51. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menilai diri sendiri bukanlah hal yang mudah bisa kita lakukan dengan tepat. Oleh karena itu, kita membutuhkan orang lain untuk menilai diri kita. Dengan demikian, kita dapat melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dan memperbaiki kepribadian. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengenali diri kita sendiri agar kita bisa selalu bersyukur dan tidak sombong.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id