Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Stigma




Oleh Marsigit

Rakata:
Wah gawat benar situasinya. Aku tidak suka keadaan yang demikian. Terlalu benar perilaku si Ahilu. Semua orang memperbincangkannya. Masa tega-teganya dia ... bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya. Ah kalau begitu aku sedang melihat pemberontakan yang dilakukan oleh Ahilu. Hemmm...wahai Pampilu apa saranmu tenang keadaan yang demikian.

Pampilu:
Wahai Rakata, engkau adalah pemimpinku dan pemimpin bagi semuanya. Gejalanya memang merajalela sampai dimana-mana. Tetapi aku melihat ini bukan pemberontakan. Mengapa? Kalau pemberontakan maka gejalanya bersifat sistematis dan menuju ke suatu arah serta ada penumpukan kuasa di sana. Aku melihat ini hanyalah sebuah stigma. Tetapi karena begitu hebatnya stigma maka memang gejalanya sampai kemana-mana. Hal demikian tidaklah secara langsung mempengaruhi kekuasaanmu. Melainkan memberikan kesempatan kepada dirimu untuk bercermin diri atas pengelolaan kekuasaanmu. Maka saya mohon bertindak bijaksanalah.

Rakata:
Wahai Pampilu, bukankah sebetulnya ini tanggung jawabmu. Aku sebetulnya bisa ambil sikap menunggu, yaitu menunggu tindakanmu terhadap Ahilu.

Pampilu:
Wahai Rakata, dari keadaan yang demikian kira-kira hal-hal apa sajakah yang menyebabkan dirimu merasa tidak nyaman.

Rakata:
Wahai Pampilu, ketahuilah jika benar apa yang engkau katakan bahwa ini bukan pemberontakan tetapi hanya sekedar stigma, maka ketahuilah bahwa aku tidak suka terhadap semua apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Ahilu. Apa yang dia kerjakan itu semua bersifat kontradiksi terhadap tujuan luhur yang telah kita sepakati bersama. Menurut informasi, kenapa tega-teganya si Ahilu bersikap anohi terhadapku. Dia juga menunjukkan cara berpikir yang asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Lebih dari itu Dia itu ternyata antadiri. Padahal selama ini aku telah menjamakannya, aku telah memberikan semua fasalutasnya.

Pampilu:
Wahai Rakata, maafkan diriku. Menurutku engkau juga sudah termakan oleh stigma. Maka hati-hatilah.
Rakata:
Wahai Pampilu, coba jelaskan, menurutmu stigma itu apa, dari mana dan bagaimana ciri-cirinya?

Pampilu:
Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal. Oleh karena itu begitu dia itu muncul maka dia itu adalah urusan banyak orang, termasuk urusan dirimu. Namun stigma itu mempunyai subyek dan mempunyai obyeknya. Sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu.

Rakata:
Wahai Pampilu, lalu bagaimana aku harus bersikap terhadap stigma ini dimana subyeknya adalah Ahilu?

Pampilu:
Wahai Rakata. Yang anda perlu hati-hati adalah sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu. Maka jika engkau tidak hati-hati, maka dirimu juga akan terancam menjadi pelaku dari stigma itu.

Rakata:
Konkritnya bagaimana?

Pampilu:
Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbai bagimu adalah engkau perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma.

Rakata:
Hemmm...benar apa katamu. Ternyata setelah aku renungkan aku tidak bisa menggunakan cara tertentu. Jika aku hadapi langsung maka subyek stigma ternyata lenyap dari pandanganku. Jika aku berusaha menghancurkan subyek stigma maka aku juga terkena karena sebagian dari stigmanya telah memakan diriku. Ketika aku gunakan kekuasaanku mana kekuasaan subyek stigma adalah ternata kekuasaanku, artinya aku sama dengan menghancurkan diriku sendiri.
Wah ternyata aku mengalami kebingungan. Terus bagaimana ini Pampilu?

Pampilu:
Kita tunggu dan amati saja bagaiman kiprah dari stigma itu untuk periode berikutnya. Ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu. Maka untuk saat ini aku hanya bisa menyaranan kepada engkau untuk berlindunglah di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subyek dari stigma yaitu Ahilu.

Rakata:
Baik, aku setuju dengan saranmu.

44 comments:

  1. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs PMat A 2016

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Kebanyakan agama dan budaya memiliki masalah yang begitu tabu atau terstigma sehingga orang enggan untuk membicarakannya. Mungkin tentang seksualitas, penganiayaan, atau bagaimana perempuan dinilai lebih rendah dari pria. Mungkin ini merupakan rahasia kotor di masyarakat, dan karena kita mengabaikannya, maka masalah-masalah tersebut seolah-olah tidak ada. Tapi seringkali, topik yang kita hindari itu mempengaruhi orang-orang yang berada dalam situasi kurang beruntung, dan celakanya, kediaman kita membuat mereka makin terisolasi. Misalnya kebanyakan penyakit jiwa merupakan masalah umum yang dialami oleh orang-orang dari semua budaya, agama, dan etnis. M AbdurRashid Taylor (Islamic Chaplaincy Services Canada) menyatakan bahwa selama 15 tahun ia menjadi konselor bagi umat Islam, salah satu penyakit mental yang paling umum ia temukan adalah Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) pada laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang mengungsi dari negara yang dilanda perang. Yang juga umum adalah depresi sebagai akibat dari imigrasi dan situasi keluarga yang sulit. Dengan terus meningkatnya insiden kekerasan negara dan lemahnya hukum di sekitar kekerasan dalam rumah tangga di seluruh dunia, situasi ini akan terus muncul. Jadi bagaimana kita bisa menghadapi mereka dengan tepat dan dalam cara yang paling mendukung?
    Cara menghadapi stigma yang melekat:
    1. Mengungkapkan identitas anda
    2. Membicarakan stigma
    3. Membantu orang lain agar merasa lebih nyaman
    4. Mencari pertolongan
    5. Mengedukasi diri sendiri
    6. Meningkatkan kesadaran masyarakat
    wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  2. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Stigma pada umumnya dainggap sebagai keadaan yang tidak baik, sesuatu yang negatif. Stigma ada dalam diri setiap orang. Oleh karena adanya sifat negatif itu di dalam diri seseorang, maka untuk menghilangkan sifat tersebut adalah dengan melakukan pendekatan terhadap seseorang itu, pelan-pelan.

    ReplyDelete
  3. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Alangkah lebih baiknya jika kita berpikir sebelum bertindak dan selalu berpikir positif. Tindakan bijaksanalah yang dibutuhkan di sini. Jangan pernah memaksakan pemikiran yang menurut kita benar itulah yang sebenarnya benar. Seperti halnya keinginan untuk memusnahkan stigma pada elegi ini, sama saja membunuh dirinya sendiri. Karena ternyata kekuasaan sebuah subyek stigma itu merupakan kekuasaan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  4. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Elegi ini menggambarkan tentang stigma (berkaitan dengan hal-hal negatif) yang tidak sesuai dengan kebiasaan dan tradisi yang telah menyebar secara luas. Di sini kita diingatkan agar lebih teliti mengenali stigma agar mampu menyusun siasat untuk menghadapinya mengingat stigma maupun pelakunya mempunyai daya dan kekuatan fleksibel terencana matang yang mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek tanpa disadari.

    ReplyDelete
  5. PEP B S2
    Stigma dapat bersifat fleksibel, subjek dan obyek nya terus berganti menurut ruang dan waktunya. Sebuah sistem yang ada maka diperlukan tindakan dan pemikiran yang dinamis agar mampu memahami setiap subjek dan obyek yang ada

    ReplyDelete
  6. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal.

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Stigma terbentuk karena kesamaan ciri atau kemiripan yang akhirnya kita katakan sebagai in grup, dalam bahasa matematika dengan himpunan atau bahasa statistika dengan clustering. obyek yang kita identifikasi mempunyai kesamaan dengan kumpulan obyek maka kita anggap obyek itu pantas untuk dijadikan satu kelompok. Stigma lahir seringkali untuk tujuan simplifikasi, kemalasan berfikir, kebodohan, atau keengganan untuk mencari kebenaran karena merasa diri sudah benar dan sempurna walaupun tidak mau mengakui secara dhahir.

    ReplyDelete
  8. Jika stigma dianggap sebagai keburukan ataupun keadaan buruk, maka setiap manusia atau setiap orang memiliki stigma atau sisi buruk dalam dirinya. Maka setiap orang harus berusaha memperbaiki dirinya dengan cara yang positif. Dengan membaca elegy ini saya mengerti, memahami dan bisa mempelajari banyak hal agar saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang.

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  9. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Stigma ada di dalam diri setiap orang. Karena Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Namun, sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu. Itulah kita, terkadang kita menikmati hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan/ dilarang.

    ReplyDelete
  10. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Sebagian besar orang akan bersuka ria menyambut stigma karena mereka mendapat kenikmatan darinya. Memang itu lah sifat dasar manusia. Manusia mempunyai akal dan hati untuk menilai baik buruk suatu hal. Manusia juga mempunyai nafsu. Kecenderungan nafsu adalah mencari kesenangan. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus pandai-pandai memanage nafsu agar tidak terjerumus pada hal-hal yang buruk hanya demi kesenangan semata.

    ReplyDelete
  11. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Dalam menghadapi stigma, maka engkau harus memperhatikan subyeknya. Tetapi engkau tidak bisa menggunakan metode tunggal dalam mendekati subyeknya. Mengapa? Karena subyeknya selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbai bagimu adalah engkau perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma.
    ini sama halnya dalam pembelajaran, tidak bisa menggunakan metode tunggal karena subjeknya selalu berganti-ganti terantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  12. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Menjadi pemimpin memang haruslah bijaksana, karena semakin tinggi kedudukan kita maka akan semakin banyak pula cobaan yang menghampiri kita. Seperti dalam Elegi Pemberontakan Stigma tersebut ada pemimpin yang dikhianati dan difitnah dengan stigma (stigma adalah keadaan yang tidak baik mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu).

    ReplyDelete
  13. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan elegi di atas, disampaikan bahwa untuk menghadapi stigma kita harus memperhatikan subyeknya. Akan tetapi, subyek stigma ini selalu berganti-ganti dalam dimensi ruang dan waktu. Maka cara terbaik untuk menghadapinya ialah kita perlu mengembangkan metode dinamis dalam ruang dan waktu pula untuk menghadapi variasi subyek stigma. Kita perlu bersabar untuk menghadapinya, dan selalu berdoa agar Allah SWT melindungi kita dari hal-hal yang tidak baik.

    ReplyDelete
  14. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Hal yang dapat saya peroleh dengan membaca elegi di atas adalah bahwa secara umum stigma dianggap sebagai suatu keadaan yang tidak baik, yang dapat berasal dari subjek maupun objek. Stigma tersebut dapat memberikan pengaruh buruk, sehingga untuk menghadapinya kita perlu untuk berlindung di balik ruang dan waktu.

    Lalu. pertanyaan saya.. apakah stigma itu sebuah prasangka ?

    ReplyDelete
  15. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Setiap kita memiliki stigma masing-masing. Kadang ada yang statis dan dinamis. Yang dinamis tentunya lebih fleksibel dalam memahami subjek & objek yang ada, sehingga apa yang dipikirkan tentang segala sesuatu dapat digunakan sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  16. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Menghadapi stigma adalah suatu permainan, maka mainkanlah. Menghadapi stigma adalah strategi, maka buatlah startegi itu. Stigma dapat dengan mudah tersebar, meluas, merebak, mempengaruhi persepsi. Maka kita perlu berhati-hati dengan sifat dan pelaku stigma. Semakin luas kuasanya, maka ia akan semakin mampu memproduksi stigma yang pengaruhnya juga berbanding lurus dengan keluasan kuasanya.

    ReplyDelete
  17. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Terkadang kita tidak dapat menghindari suatu keadaan dimana kita sebenarnya tidak mengharapkan stigma tetapi dengan cara memproduksi stigma. Inilah sebenar-benarnya kontradiksi dalam hidup. Stigma tidak bisa dihilangkan namun kita bisa sekedar meminimalkan, memproduksi seperlunya saja.

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Banyak cara orang menanggapi stigma, bisa saja ia sangat senang dengan stigma, sehingga ketika disodori stigma, ia bersuka cita, sangat cepat dan bersemanngat untuk meresponnya dan selanjutkan menyebarluaskan atau memproduksi stigma-stigma turunan, sampai pada suatu titik ia akan mundur dari perlagaan karena citranya menjadi buruk oleh stigma itu sendiri. Sudah selayaknya kita harus selalu berhati-hati, karena kita tidak tahu kapan stigma itu datang dan kita tidak menyadari telah memproduksi stigma. Hanya kepada Allah kita berlindung dari semua stigma yang buruk yang merebak dilingkungan kita

    ReplyDelete
  20. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    stigma adalah keadaan yang tidak disukai oleh keaadan baik dimana itu berasal dari subyek atau obyek. Sehingga siapa saja manusia di dunia dapat saja terkena oleh perilaku-perilaku stigma yang menjadikan manusia satu dan manusia lainnya akan saling tercerai berai. salah satu perilaku stigma yaitu kesombongan, kedengkian, keegoisan, dll yang dimana perilaku-perilaku tersebut adalah hasutan-hasutan dari syaitan. untuk itu sebagai manusia kita harusnya selalu berhati-hati akan stigma-stigma yang ada demi terciptanya rasa damai, kesejukkan di antara sesama manusia.

    ReplyDelete
  21. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Stigma adalah bekaitan dengan hal-hal negatif), dalam pikiran kita ada pikiran positip ada pikiran negatip. Jika berpikiran negatip berarti pikiran kita telah terkontaminasi dengan stigma. Hal ini tidak boleh diteruskan

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Stigma bila terjadi di masyarakat sangat membahayakan karena akan meresahkan masyarakat. Karena stigma ini ada yang pro ada yang kontra. Hal inilah yang menimbulkan keresahan karen kebenarannya tidak jelas. Karena sumbernya adalah isu, fitnah dan cerita. Untuk mencari pembuktian butuh waktu, tenaga dan pikiran. Maka sebaik-baiknya hindari merespon stigma di masyarakat.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Agar kita tidak termakan stigma maka introspeksi diri dan menjauhi kesombongan, keduanya sama-sama menggunakan hati, Jika kita dipengaruhi stigma maka dengan sadar dan segera jauhi karena sebenarnya penyakit manusia adalah penasaran. Tetap pada jallur Allah SWT.

    ReplyDelete
  24. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Saya dapat merefleksikan bahwa stigma sesungguhnya adalah keadaan yang tidak baik. Memang stigma yang ada muncul karena prasangka buruk, baik dari objek maupun subjek. Untuk menghindari stigma buruk, kita perlu mengetahui keadaan yang sebenarnya, berpikir jernih, dan berhati ikhlas

    ReplyDelete
  25. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Stigma merupakan sebuah kondisi dimana setiap manusia memiliki pandangan yang kurang baik terhadap seseorang/sesuatu/benda/sifat/hakikat dari subyek/obyek.

    ReplyDelete
  26. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kita harus menjauhkan dari dari stigma karena itu akan membuat kita selalu berprasangka negatif terhadap suatu obyek tertentu. Termasuk kepada siswa kita saat kita menjadi seorang pendidik, selalu berpikir positiflah kepada mereka untuk mengembangkan kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  27. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Ketika seseorang yang lain memiliki stigma dalam dirinya, maka kita tak perlu memandangnya melalui sudut pandang kita yang terbatas, bekum tentu stigma yang kita pandang buruk bagi mereka. Karena sebenar benar hiduo manusia belajar bukan pada sesuatu yang baik saja, terkadang buruk adalah pelajaran bagi kita. Kemudian jika stigma itu ada pada diri kita, maka kita perlu menyuadarinya, melihat diri kita dari kejauhan seperti apa diri ini menjadi pemain drama kehidupan. Mendekatkan diri pada Tuhan adalah kunci yang utama.

    ReplyDelete
  28. Budi Yanto
    1709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Stigma adalah keadaan yang dianggap tidak baik atau tidak disukai. Hal ini sesuai dengan subjek dan objek tertentu atau juga bersifat aktif maupun pasif. Stigma berlaku universal atau menyangkut urusan banyak orang. Stigma menyangkut ruang dan waktu, dan merupakan bagian dari diri sendiri, maka untuk menghindari atau melindungi dari stigma yang negative pada diri sendiri maka berjalanlah didalam ruang dan waktu serta berfikir kritis maupun ikhlas.

    ReplyDelete
  29. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Stigma merupakan oandangan negatif, artinya pada umumnya stigma dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Dalam menyikapi sebuah stigma yang melekat pada diri seseorang, kita harus berhati-hati, berpikir dahulu sebelum bertindak, dan jangan cerobooh, karena jika kita salah bertindak maka stigma itu bisa melekat pada diri kita.

    ReplyDelete
  30. Pandangan negatif yang berupa stigma bisa menyerang siapa saja, tidak menutup kemungkinan bagi seorang yang mumpuni dari segi ilmu bisa saja tergelincir oleh stigma negatif tersebut. Menghadapi stigma tidak bisa dengan cara menghancurkan subyek stigma secara langsung, sebab dengan begitu sama saja kita sudah termakan stigma itu sendiri dan menghancurkan diri kita. Bersabarlah, berlidung dibalik ruang dan waktu sambil menanti dan mencari cara-cara bijak untuk menghadapi stigma tersebut.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  31. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Stigma sering di artikan sebagai sebuah pandangan negatif orang terhadap orang lain. Setiap orang mempunyai stigmanya masing-masing, stigma orang tidak selalu sama tapi berbeda.
    . Stigma negatif seharusnya dihindari, karena hal tersebut bisa menjerumuskan kita kedalam sesuatu yang tidak baik. Cara menghindarinya adalah dengan selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  32. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Dalam menjalankan hidup ini tentunya dibutuhkan optimisme dan kebijaksanaan. Tanpa optimisme dan kebijaksanaan kehidupan kita tidak akan berjalan dengan baik. Optimisme dibutuhkan agar membantu kita menjadi yakin akan tujuan hidup yang telah kita rencanakan. Optimisme juga dapat membuat kita menjadi lebih semangat dalam meraih tujuan yang kita rencanakan tersebut. Sedangkan kebijaksanaan dapat membantu kita untuk memilih keputusan-keputusan yang tepat dalam hidup.

    ReplyDelete
  33. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Ketika sebuah pilihan dipilih tanpa menggunakan kebijaksanaan dalam berpikir atau bertindak sehingga membuat kita memilih pilihan-pilihan yang salah, ini akan menghancurkan hidup kita nantinya. Untuk menemukan optimisme dan kebijaksanaan dalam hidup kita tentunya tidak mudah dan membutuhkan proses yang cukup lama.

    ReplyDelete
  34. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Seseorang yang mempunyai konsistensi diri yang tinggi akan mengaplikasikan perkataannya lewat tindakan. Yaitu kita harus bisa menerapkannya lewat tindakan-tindakan yang nyata, bukan sekedar perkataan atau omong kosong saja. Dimana teori pemahaman dalam berbicara bernilai 100, maka pada praktek pemahaman dalam bertindak pun harus bernilal 100. Sehingga akan terlihat relevan antara teori dan praktek dalam beraksi.

    ReplyDelete
  35. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Apabila konsistensi dalam diri ini tidak ada, maka akan ada efek negatif yang terjadi terhadap diri kita. Kita mudah untuk di pengaruhi oleh orang lain, tidak dapat mandiri (terlebih dalam berpikir) dan yang fatal adalah ketika hidup kita terpuruk hanya karena salah dalm mengambil keputusan yang tepat.

    ReplyDelete
  36. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek yang awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal. Oleh karena itu begitu dia itu muncul maka dia itu adalah urusan banyak orang.

    ReplyDelete
  37. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Sebagian besar orang akan bersukaria menyambut kedatangan stigma, bukan karena memperoleh kebaikan darinya, tetapi karena sebagian orang itu merasa mendapat kenikmatan dengan adanya stigma itu. Yang perlu diperhatikan adalah sifat dan pelaku stigma. Stigma itu mempunyai ciri-ciri yang sangat fleksibel dimana pelakunya bisa berganti setiap saat dan dia bisa menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  38. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Stigma biasanya adalah keadaan yang tidak baik. Stigma bisa mengenai subyek maupun obyek. Kita pun dapat terkena stigma jika tidak berhati-hati karena stigma dapat menembus ruang dan waktu, stigma bisa datang kapan saja dan dimana saja. Untuk itu tetaplah berpikir kritis dan membersihkan hati.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  39. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi pemberontakan stigma, menurut saya disini pemberontakan stigma berupa suatu proses untuk mendapatkan arti hidup yang sempurna. Stigma, maksudnya adalah persepsi atau pendapat orang lain kepada diri kita, bahwa diri kita ini melakukan hal-hal yang buruk. Kita itu salah. Stigma akan muncul tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, apa faktanya. Meskipun kita tidak salah, orang lain menganggap perbuatan kita salah. Namun kalau kita menanggapinya secara positif, maka kita akan berusaha untuk menjadi lebih baik, untuk keluar dari semua sangkaan, jika kita telah mampu memberontak dari hal-hal tersebut, maka hidup kita akan terasa indah

    ReplyDelete
  40. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Dari elegi di atas didapat informasi bahwa stigma bisa menyerang siapa saja. Tidak memandang usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan sebagainya. Semua bisa terkena stigma bahkan sekelas Ahilu dan Rakata sekalipun. Untuk itu agar kita terhindar dari stigma maka ada kalanya ternyata suatu waktu kita perlu berlndung di balik ruang dan waktu dalam menghadapi subjek stigma.

    ReplyDelete
  41. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Stigma pada umumnya berkonotasi pada keadaan yang buruk atau tidak baik. Dia bisa berasal dari objek atau subjek. Stigma bisa diibaratkan seperti bisikan setan yang mengajak kepada hal yang tidak baik, banyak orang terperdaya oleh stigma dan lalai karena kenikmatan yang diberikan olehnya. Maka berhati-hatilah, karena stigma bersifat fleksibel dan bisa menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  42. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya, dapat disimpulkan bahwa stigma adalah tindakan negatif yang terbentuk dalam pikiran kita yang dipengaruhi oleh lingkungan kemudian ditampilkan dalam bentuk tindakan. Sebaiknya sebelum kita melakukan suatu tindakan yang terbentuk dari pikiran kita akibat emosi atau suasana yang tidak enak haruslah kita pikirkan terlebih dahulu. Jangan gegabah dalam melakukan suatu tindakan.

    ReplyDelete
  43. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Untuk menghindari munculnya stigma kita sebagai manusia yang dibekali akal serta fikiran, kita sebaiknya mampu mencari kebenaran akan suatu hal, tidak cukup hanya sekedar menerima segala hal tanpa mengetahui kebenarannya. Kita harus bisa membuktikan kebenarannya sebelum melakukan suatu tindakan yang nantinya akan kita sesali. Penyesalan selalu datang terlambat.

    ReplyDelete
  44. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Stigma juga mengajarkan kepada kita tentang pengambilan suatu langkah atau keputusan dibutuhkan cara yang tepat, harus selalu memperhatikan aspek positif dan negatif atas tindakan yang kita ambil. Harus dipikirkan matang-matang terlebih dahulu sebelum memutuskan. Dengan demikian, tindakan yang kita ambil tersebut tidak berakibat buruk dan menghancurkan diri kita sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id