Sep 20, 2013

Elegi Jejaring Stigma




Oleh Marsigit

Awama:
Haha..hehe..haha..hehe. Ternyata nikmat itu tidak harus karena makan, minum atau uang.

Praktika:
Wahai Awama, bolehkah aku tahu apa yang menyebabkan engkau merasa nikmat bukan karena makan, minum atau uang.

Awama:
Kata orang sekarang lagi banyak stigma.

Praktika:
Apakah stigma itu?

Awama:
Aku sendiri tidak tahu. Tetapi kata orang yang membuat aku merasa nikmat itu disebut sebagai stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dapatkah engkau menjelaskan apakah yang disebut sebagai stigma itu?

Cantraka:
Kenapa engkau bertanya perihal itu kepadaku?

Awama dan Pratika:
Bukankah namamu itu Cantraka. Dari namamu saja aku bisa menebak bahwa engkau adalah seorang yang suka mencari hakekat. Maka jika engkau berkenan berikanlah penjelasan kepadaku kenapa pula banyak orang sekarang bicara perihal stigma?

Cantraka:
Sebetulnya apa yang terjadi pada dirimu, sehingga engkau bertanya perihal yang demikian? Wahai Awama apakah yang membuatmu gembira sekarang ini, coba ceritakan kepadaku?

Awama:
Aku tidak tahu apakah aku gembira atau tidak. Yang jelas aku bersemangat.

Cantraka:
Kenapa engkau bersemangat?

Awama:
Begini, tetapi ini rahasia. Jangan dikatakan kepada siapapun. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Dst..dst...pokoknya asyik dheh.

Cantraka:
lalu kenapa engkau bersemangat.

Awama:
Lho la iya ta. Kan semua orang ingin tahu. Jadi termasuk aku pun ingin tahu. Jika aku tahu, kan jadi banyak orang ingin bertanya kepadaku. Bukankah ditanya banyak orang itu menjadi hak istimewa yang banyak dicari orang?

Pratika:
Wahai Awama, engkau sedang bicara apa dengan Cantraka. Kenapa bicaramu cenderung ngegosip? Bolehlah aku ikut mengetahuinya?

Awama:
Itulah buktinya wahai Cantraka, maka selama aku simpan pengetahuanku itu maka telah terbukti bahwa Pratika pun selalu mengejar-kejar diriku. Dia ingin selalu bertanya kepadaku. Bukankah hal demikian membuatku gembira. Itulah kenikmatanku dengan tanpa makan, minum atau dibayar dengan uang. Tetapi kenapa ada orang mengatakan bahwa diriku itu sedang termakan stigma? Sementara ada orang lain mengatakan baha stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik?Jadi pikiran dan hatiku agak ragu apakah sebetulnya aku gembira, bersemangat atau gelisah? Maka jika boleh aku ingin bertanya kepadamu wahai Cantraka.

Cantraka:
Jikalau aku menjadi kamu wahai Awama, maka kemudian akupun mempunyai cukup alasan untuk kemudian mengatakan bahwa aku gembira dan bersemangat dan kemudian merasakan kenikmatan dikarenakan engkau bertanya kepada diriku.

Cantraka:
Wahai Pratika, aku sebetulnya enggan menjawab pertanyaanmu. Jangankan menjawab pertanyaanmu, mengulangi apa yang dikatakan oleh Awama saja aku enggan. Bukankah engkau tadi mendengar bahwa Awama telah mengabarkan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Pratika:
Wahai Canraka, janganlah engkau mengaku sebagai cantraka karena engkau itu sebetulnya juga sama saja dengan banyak orang. Engkau juga sama saja dengan Awama, karena engkau telah juga mengatakan bahwa itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Cantraka:
Wahai Pratika, maafkanlah daku aku tadi tidak menyadari bahwa aku juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama. Berarti menurut banyak orang aku juga sudah terkena stigma. Padahal ketahuilah bahwa seluruh hidupku itu aku tujukan bahwa aku selalu terbebas dari stigma. Tetapi bukankah engkau juga telah mengatakan seperti apa yang diwartakan oleh Awama itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Berarti engkau juga sudah termakan stigma.

Awama dan Pratika:
Wahai Cantraka, dari pada kita mutar-mutar, jelaskan saja kepadaku apakah artinya stigma itu? Tetapi aku ragu jika engkau menjawabnya. Aku ragu apakah engkau bisa menjawabnya. Karena engkau sendiri ternyata juga telah terkena stigma.

Cantraka:
Betul juga apa yang engkau ragukan. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan perkataanku tentang stigma. Pengetahuanku tentang stigma ternyata lain dengan sikapku tentang stigma. Tetapi baiklah, aku mempunyai teman yang bernama Candraka. Dia itu mempunyai pengetahuan yang selalu lebih dalam dan lebih luas dariku. Lagi pula dia belum terkena stigma.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, bolehkah engkau menjelaskan kepadaku apa artinya stigma. Konon menurut beberapa orang aku bertiga ini sedang terkena stigma.

Candraka:
Wahai Awama, Pratika dan Candraka, dengarkan dulu. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menyampaikan khabar kepadamu. Katanya itu..si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Lho..lho..lho...ternyata Candraka telah tahu ta? .. bahwa itu.. si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Wahai Candraka..bagaimana engkau tahu perihal berita itu? Berarti engkau juga telah terkena stigma.

Candraka:
Au tidak peduli aku itu terkena stigma atau bukan, tetapi aku merasakan kenikmatanku mendengar semua pertanyaanku. Dengan pengetahuanku perihal ini ternyata engkau bertiga berbondhong-bondhong berusaha bertanya kepadaku. Itulah kenikmatanku. Tetapi tidak hanya itu saja. Kenikmatanku semakin bertambah karena aku itu sebetulnya tidak suka dengan Ahilu. Maka entah salah entah benar, apapun yang terjadi maka berita ini tentu akan merugikan Ahilu. Hal yang demikian ternyata telah menambah semangatku. Ketahuilah bahwa aku juga telah menyebarkan berita-berita ini kepada orang-orang yang bukan sembarang orang. Ketahuilah bahwa Pampilu juga telah mengetahui berita ini.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wah..wah..gawat...dari pada kita terjebak di sini..ayo kita pergi saja.

Candraka:
Hai engkau bertiga, mau kemanakah engkau itu? Engkau tidak kuasa seenaknya pergi begitu saja tanpa seijinku. Ketahuilah bahwa kita semua berada dibawah kekuasaan Pampilu. Terserah kepada Pampilu akan bertindak apa terhadap kita. Pampilu juga betulbetul telah mengatahui si Ahilu. Banyak orang mengatakan bahwa si Ahilu itu.. bersikap anohi. Dia juga berpikir asonga. Dia juga bertindak arisa. Dia juga berbuat asopi. Dia juga berkata acongaet. Dia juga sedang antari. Dia sekarang bersama ajodi. Dia belum adatinga. Dia cenderung asoal. Tetapi di atas Pampilu kita masih mempunyai Rakata sebagai penguasa kita. Aku tidak tahu apakah Rakata telah mengetahui hal yang demikian itu. Tetapi aku ragu jika mengatakan hal yang demikian kepada Rakata, karena mengetahui dan tidak mengetahui bagai Rakata, maka sikap dan perbuatannya dapat menentukan hidup matinya kita semua.

Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai Candraka, lalu bagaimana sikap kita?

Candraka:
Aku juga bingung. Jika aku sampaikan kepada Rakata maka keadaanya bisa runyam. Maka tunggulah aku ingin bertanya saja kepada sang Bagawat di Kutarunggu. Wahai sang Bagawat, berikanlah kepadaku dan kepada teman-temanku apa yang dimaksud dengan stigma, lalu bagaimana kita sebaiknya menghadapi stigma.

Bagawat:
Wahai muridku semua. Ketahuilah bahwa stigma itu adalah untaian langit dan bumi. Jikalahu itu perihal langit maka itulah hatiku. Jika perihal bumi maka itulah pikiranku. Maka sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hatiku.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Ketahuilah sebenar-benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Wahai guru, aku belum jelas perihal penjelasanmu itu?

Bagawat:
Jika engkau belum juga jelas perihal penjelasanku maka itu semata-mata dikarenakan dimensimu. Ketahuilah hidup yang satu bisa menjadi stigma yang lain. Maka bagi sipelaku atau si subyek stigma, bukanlah stigma itu berlaku bagi dirinya. Jika aku definisikan stigma sebagai sifat yang tidak baik, bukankah manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikkannya. Kebaikan seseorang bisa menjadi keburukan orang lain. Maka dengan sekejap, yang engkau rasakan sebagai stigma belumlah tentu itu merupakan stigma bagi orang lain.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Bagaimanakah apakah sebaiknya semua orang-orang perlu mengetahui stigma itu?

Bagawat:
Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudhlarat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya. Maka aku tidak terlalu setuju dengan pendapat si Awama bahwa stigma itu memberi nikmat. Tidaklah perlu bagai seseorang sama dalam memikirkan stigma dengan perkatannya dan perbuatannya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Lalu bagaimana kita bersikap menghadapi stigma?

Bagawat:
Urakanlah stigma itu ke dalam 2 (dua) unsur utamanya, yaitu pikiran dan hatinya. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa untungnya mengetahui stigma?

Bagawat:
Untungnya mengetahui stigma adalah agar engkau mengerti sopan santun. Karena stigma itu adalah pengetahuan tentang sebagian hidup dan masyarakatmu. Jika engkau mengetahui hal yang demikian maka engkau dikatakan mempunyai pengetahuan. Dengan pengetahuanmu itulah maka engkau dapat bersopan santun.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa ruginya mengetahui stigma?

Bagawat:
Ruginya mengetahui stigma adalah merugikan si subyek dalam stigma.

Candraka, Awama, Pratika dan Cantraka:
Apa bahayanya mengetahui stigma.

Bagawat:
Bahayanya mengetahui stigma adalah jika engkau adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma. Karena kekuasaanmu itulah maka engkau dapat mencelakakan sipelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

39 comments:

  1. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs PMat A 2016

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Mekanisme stigma yang pertama yaitu adanya perlakukan negatif dan diskriminasi secara langsung yang artinya terdapat pembatasan pada akses kehidupan dan diskriminasi secara langsung sehingga berdampak pada status sosial, psychological well-being dan kesehatan fisik.
    Benar pernyataan di atas, berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya. Dengan mengetahui tentang stigma kita dapat bersopan santun dalam bermasyarakat, tidak mudah terjaring stigma.
    wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ReplyDelete
  2. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Stigma dapat muncul kapanpun dimanapu dan mempengaruhi siapapun yang ada disekitarnya. Kita harus senantiasa mengguanakan pikiran dan hati kita untuk mengendalikan wabah stigma yang datang kepada kita. Karena stigma dapat merugikan subjek dan pelaku stigma tersebut. Oleh karena itu, kita harus dapat hidup harmonis, selaran dan seimbang dalam masyarakat, serta sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  3. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Meskipun stigma identik dengan kata negatif, tetapi stigma itu akan tetap berada pada masing-masing individu. Namun dengan mempelajari stigma, kita dapat melihat sopan santun kita dan pengetahuan kita tentang kehidupan dan masyarakat. Jika kita melakukan yang demikian, maka kita telah mencapai pengetahuan dan kita mampu bersopan santun.

    ReplyDelete
  4. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Stigma banyak macamnya yang jelas selalu mengarahkan kepada hal-hal yang bersifat negatif. Macamnya ini bisa berupa sikap maupun perbuatan yang berasal dan dipengaruhi oleh dua unsur utamanya yaitu pikiran dan hati. Pengetahuan tentang stigma seperti ini perlu kita miliki sebagai bekal agar kita dapat berpikir kritis dalam menghadapi stigma dan bernurani dalam menyikapinya.

    ReplyDelete
  5. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Stigma sering kali membatasi pikiran kita terhadap sesuatu. Salah satu kutipan kalimat dari elegi di atas ”Pengetahuan tentang stigma itu sesuai dengan peruntukkannya. Jika itu membawa mudharat kepadamu maka sebaiknya engkau tidak perlu terlalu bersemangat untuk mengetahuinya”. Maka, bagaimanapun adanya stigma, semua tergantung pada pikiran dan hati kita.
    Stigma itu ada 2 unsur utamanya yaitu pikiran dan hati. Berpikir kritislah menghadapi stigma dan bernuranilah dalam menyikapinya.

    ReplyDelete
  6. 16701251016
    PEP B S2
    stigma merupakan 2 unsur yang tidak terpisahkan, hati nurani yang bersih dan fikiran. Stigma yang muncul adalah subjektif, sesuai dengan isinya, karena wadah menampungnya dalam bentuk kehidupan yang luas. Nuansa stigma yang muncul terkadang dapat menyebabkan keburukan jika tidak sesuai ruang dan waktu

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Stigma itu keadaan yang tidak disukai oleh keadaan baik. Artinya secara relatif stigma itu pada umumnya dianggap sebagai keadaan yang tidak baik. Sedangkan asalnya bisa berasal dari subyek atau obyek. Awal mulanya bisa bersifat aktif bisa bersifat pasif. Tetapi stigma itu mempunyai daya dan kekuatan yaitu mampu menyentuh semua subyek dan semua obyek. Maka stigma itu mempunyai sifat-sifat universal.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Stigma terbentuk karena kesamaan ciri atau kemiripan yang akhirnya kita katakan sebagai in grup, dalam bahasa matematika dengan himpunan atau bahasa statistika dengan clustering. obyek yang kita identifikasi mempunyai kesamaan dengan kumpulan obyek maka kita anggap obyek itu pantas untuk dijadikan satu kelompok. Stigma lahir seringkali untuk tujuan simplifikasi, kemalasan berfikir, kebodohan, atau keengganan untuk mencari kebenaran karena merasa diri sudah benar dan sempurna walaupun tidak mau mengakui secara dhahir.

    ReplyDelete
  9. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    S2 PEP B 2016

    Assalamu Alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Wahai, betapa hidup ini penuh dengan stigma. Stigma-stigma tersebut berseliweran menyapa hari-hari kita. Baik dan buruknya bergantunglah pada siapa yang menemuinya. Stigma sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. terletak antara hati dan pikiran kita. di sini dibutuhkan kemampuan kita dalam mengiolahnya agar hati dan pikiran kita mencapai mufakat dalam menghadapi stigma. Karena sekali lagi baik dan buruknya kita menghadapi stigma ini bergantung dari hasil olah pikir dan rasa kita. semoga Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk keburukan. Aamiin.

    Terima kasih,
    Waalaikum Salam Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  10. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Baik buruknya suatu stigma tergantung bagaimana cara orang tersebut berpandangan. Maka dalam hal ini sangat dibutuhkan pikiran yang sangat kritis dimana kita bisa mengetahui hal yang manfaat dan hal yang mudharat dari suatu stigma. Sehingga bahaya dan kerugian dapat direduksi sekecil mungkin.

    Terima kasih,
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  11. Benar sekali pernyataan prof, bahwa tidak selamanya STIGMA itu bersifat negatif tapi masih ada yang bersifat positif, tinggal bagaimana kita menyikapinya karena setiap individu memiliki karakter masing-masing dan pendapat yang berbeda-beda. Tapi kebanyakan orang menganggap STIGMA itu bersifat negative dan dapat mempengaruhi siapa pun, oleh karena itu gunakanlah akal(pikiran) dan hati dalam menghadapinya serta bernuranilah dalam menyikapinnya agar tidak membawa mudarat bagi kita dan orang lain.

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  12. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sopan santun memang sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Selain itu setiap orang harus mempunyai pengetahuan tentang kehidupannya agar dapat bersosialisasi dengan lingkungan.

    ReplyDelete
  13. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    menggunakan stigma dalam kehidupan sehari-hai diperlukan karena kita tidak bisa terpisah dari masyarakat yang mempercayai stigma sebagai sebuah kebenaran, sehingga sopan santun tergantung pada hal tersebut. tetapi menggunakan stigma juga ada ruginya karena belum tentu kebenarannya. maka dari itu sebaiknya kita bersikap kritis terhadap stigma.

    ReplyDelete
  14. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Stigma itu adalah sesuatu yang tidak baik, kita harus selalu berhati-hati karena stigma ini dapat mengenai siapa saja. Stigma akan selalu ada dalam kehidupan ini. Kita tidak boleh langsung percaya dengan kabar atau berita keburukan seseorang, janganlah kita mudah untuk ikut termakan isu, apalagi jika kita adalah orang yang berkuasa terhadap si subyek stigma, kita dapat mencelakakan si pelaku stigma, padahal yang demikian itu belumlah tentu benar adanya.

    ReplyDelete
  15. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Memang di dalam kehidupan ini akan selalu ada seseorang yang menyukai dan tidak menyukai kita, karena manusia itu mempunyai ukurannya sendiri bagi kebaikannya. Kebaikan yang kita miliki (baik menurut kita) bisa jadi dipandang buruk oleh orang lain atau tidak disukai oleh orang lain. Begitupun sebaliknya bisa saja ketika kita memandang orang lain juga seperti itu. Untuk menghadapi stigma kita harus menggunakan pikiran dan hati kita, berpikirlah kritis dalam menghadapi stigma dan bernuranilah, tanyalah hati kita bagaimana cara menyikapinya. Sehingga kita dapat mengerti sopan santun dan menghindarkan diri kita untuk mendzolimi si subyek dalam stigma.

    ReplyDelete
  16. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan mateatika c 2013

    dari postingan di atas, saya jadi mnegtahui bahagaimana kita menanggapi dan menggunakan stigma dengan bena, jika stigma adalah pengetahuan, maka stigm atersebut agar kita bisa menggunaknnyadan dapat berlaku sopan dan satun terhadap raunag dan waktu

    ReplyDelete
  17. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA 2013

    Saya sangat suka dengan kalimat ini.. ternyata nikmat itu tidak harus makan, minum dan uang..

    Dari elegi di atas, saya menyimpulkan bahwa stigma didefinisikan dengan sifat yang tidak baik yang dilekatkan seseorang kepada subjek atau diri orang lain. Karena ukuran kebaikan setiap manusia berbeda-beda, maka yang merupakan stigma bagi sesorang belum tentu merupakan stigma bagi orang lain. Mengetahui stigma memiliki keuntungan, kerugian, serta bahayanya. Di satu sisi, mengetahui stigma membuat kita dapat mengerti tentang sopan santun. Di sisi lain, hal tersebut dapat merugikan si subjek, bahkan jika kita adalah orang yang memiliki kekuasaan, kita dapat mencelakakan subjek tersebut jika mengetahui stigmanya. Karenanya, kita perlu berpikir kritis dalam menghadapi stigma dan bernurani dalam menyikapinya.

    Terimakasih Prof..

    ReplyDelete
  18. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Stigma merupakan perbuatan-perbuatan yang negatif yang dapat saja terjadi di dalam setiap individu, sehingga apabila kita terjebak di dalamnya maka kita akan terbawa ke alam yang sesat dan terjerumus oleh syaitan. Akan tetapi sebagai manusia kita mempunyai pilihan untuk tidak melakukannya dan kita cukup tahu akan stigma-stigma itu, karena ketika kita mengetahui hal tentang stigma maka kita dapat berlaku sopan dan santun sehingga kita terhindar dari stigma yang ada dan setelah kita mengetahuinya maka itulah sebenar-benarnya hidup.

    ReplyDelete
  19. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Stigma bisa menjadi aura positif dalam bertindak. Asal kita mampu berpikir kritis tentang benarkah stigma kita ini, dan menggunakan hati nurani. Hati nurani akan berperan apakah stigma kita semakin positif atau semakin negatif. Apakah kita akan semakin baik atau lebur menjadi debu.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  20. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kita mengatasinya dengan cara menghargai perbedaan itu dan mendengarkan apa yang menjadikannya pendapat. Karena setiap orang pasti punya kesalahan yang lalu. Maka sebagai makhluk sosial hendaknya saling membantu dan mengambil pelajaran darinya, sehingga kita bisa menjadi orang yang yang sopan dalam menanggapi pengalaman hidup orang lain. Serta menjadikannya pengetahuan kita yang dapat diambil sebagai pelajaran kita dimasa yang datang.

    ReplyDelete
  21. rETNO wIDYANINGRUM
    16701261004

    Memang stigma dalam pengertian orang awam adalah pelebelan negatif pada seseorag. Namun dalam filsafat Stigma adalah hasil pikiran dan hati serta peruntukannya. Tetapi pada dasarnya hal yang membicarakan orang lain adalah tidak baik dan sebisa mungkin di hindari.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Stigma sangat mudah menyebar seperti penyakit influenza begitu ada yang kena maka yang bersinggungan dengan dia akan kena juga. begitu stigma begitu ada yang menyebarkan baik senagaja atau pun tidak sengaja maka stigma itu akan berjalan dengan pasti menuju individu-individu yang akan terjangkit.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Mendapat stigma ada yang mampu mencover tapi lebih banyak yang menikmati, karena merasa mendapat kepuasan tersendiri telah mengetahui stigma-stigma (lebel negatif) orang lain, apalagi mempunyai keperuntukan khusus kepada orang tersebut. Ini yang sangat dikhawatirkan. Untuk itulah tidak bisa dipungkiri kalau hampir setiap hari kita mendapatkan stigma, tapi bagaimana kita menyikapi agar menjadi hal yang baik dan tidak berdosa tinggal kita sebagai individu, Mohon ampun atas segala kekhilafan, bersujud kepadaNya.

    ReplyDelete
  24. Budi Yanto
    1709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Sitgma tidak terlepas dari kehidupan karena berkaitan dengan hati dan pikiran individu masing-masing. maka perlunya mempelajari dan mengetahui stigma untuk melihat sopan santun kita dan pengetahuan kita tentang kehidupan dan masyarakat. Mempelajari stigma didalam diri juga penting untuk mengatahui apakah yang hadir itu diri sendiri ataupun stigma. Hal ini penting agar orang-orang yang benar-benar peduli pada diri kita dan memandang diri kita sebagai seorang manusia atau hanya memandang sebagai sebuah stigma saja.

    ReplyDelete
  25. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Pikiran itu untuk memikirkan, menganalisis, dan lain-lain. Tetapi hati merasakan apakah itu baik dan buruk melalui pikiran untuk memikirkan dan menganalisis. Jadi hati dan pikiran itu saling terkait dalam menentukan mana yang baik dan buruk. Tindakan negatif akan berdampak selain berdampak pada oranglain juga berdampak bagi diri sendiri. Selain merugikan, pandangan orang lain kepada kita juga akan berbeda. Sehingga untuk mengurangi tindakan negatif, pelajarilah norma-norma yang berlaku, adat istiadatnya, kemudian jika tidak tahu, maka bertanyalah pada orang yang lebih tahu.

    ReplyDelete
  26. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Bahagia berstruktur dan berhirarki, maka benar kebahagiaan tak terbatas pada salah satu dua tiga sesuatu dalam kehidupan manusia. Perasaan bahagia dan semangat setiap manusia berbeda satu dengan yang lainnya. Hati yang merasakan dan pikiran yang membuat bahagia itu. Manusia harus pandai mengatur hati dan pikirannya agar tidak melalukan sesuatu yang negatif walaupun pada akhirnya hasil yang dilakukannya adalah bertujuan untuk membuatnya merasa bahagia.

    ReplyDelete
  27. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Stigma secara bahsasa merupakan ciri negatif yang menempel pada seseorang. Terkadang kita sebagai manusia lebih suka untuk mengomentari hal buruk dari orang lain atau stigma orang lain. Jika mengetahui stigma dapat membawa mudharat atau bahaya maka lebih baik kita tidak mengetahuinya. Akan tetapi mengetahui stigma juga ada manfaatnya, yaitu kita tahu bagaimana norma yang berlaku dan bagaimana sebuah sopan santun.

    ReplyDelete
  28. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Stigma sering di artikan sebagai sebuah pandangan negatif orang terhadap orang lain. Setiap orang mempunyai stigmanya masing-masing, stigma orang tidak selalu sama tapi berbeda. Stigma negatif seharusnya dihindari, karena hal tersebut bisa menjerumuskan kita kedalam sesuatu yang tidak baik. Cara menghindarinya adalah dengan selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Manusia memang mempunyai sifat serakah yang tidak akan pernah puas dengan apa yang ada, baik itu harta, kekuasaan, ketenaran, tahta dan juga perempuan. Keserakahan inilah yang sering membuat manusia lupa akan fungsinya hidup di dunia ini.

    ReplyDelete
  30. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Semakin tinggi jabatan dan kekuasaan, maka semakin kuat godaan melakukan tindak korupsi, semakin banyak jalan untuk memperoleh harta yang tidak jelas halal dan haramnya.

    ReplyDelete
  31. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sering terjadi ketika seseorang lupa dengan hakikat dirinya, lupa ketidakmampuan dirinya untuk mengatur dan memimpin dirinya sendiri, lupa dengan ketidak abadian hidup, dan lupa kepada Allah yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  32. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Stigma dapat di artikan apa saja,sesuai dengan pemahaman yang menyampaikannya. Sebenar-benar stigma adalah untaian pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  33. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Sebenar -benar hidup adalah stigma dan sebenar-benar stigma adalah hidup. Tiadalah hidup itu sebenar-benar baik bagi semua orang, maka sebenar-benar baik bagi hidup semua orang hanyalah milik sang Kuasa.

    ReplyDelete
  34. Stigma berupa persepsi negatif terhadap seseorang atau suatu hal mudah sekali menyebar luas bagaikan virus. Berhati-hatilah karena stigma tidak hanya mempengaruhi orang awam tapi juga akan mempengaruhi orang berilmu. Siapapun bisa termakan oleh stigma karena stigma mempunyai jaringan yang luas bahkan hidup sekalipun bisa jadi stigma itu sendiri, bahkan orang yang anti stigma pun bisa termakan stigma saat dia mempercayai sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Untuk menghindari stigma kita bisa menggunakan dua unsur stigma yaitu pikiran dan hati, jagalah kritisnya pikiran dan bersihnya hati untuk tetap bernurani sehingga kita terbebas dari pengaruh stigma.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  35. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Mengetahui stigma juga penting untuk hidup bermasyarakat, dimana stigma kita akan belajar bagaimana bersikap sopan santun terhadap sesama karena sesuatu yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain juga. Tetapi janganlah terlalu bersemangat mengetahui stigma jika tidak memiliki pikiran kritis dan hati yang bersih. Karena jika tidak memiliki pikiran kritis dan hati yang bersih maka dikhawatirkan mengetahui stigma lebih dalam lagi akan menimbulkan mudharat.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  36. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Secara harfiah, stigma cenderung menilai diri kita negatif dengan hal-hal yang dilakukan oleh kita juga adalah hal-hal negatif. Kita merasa diremehkan oleh orang lain. Meskipun kita tidak melakukan hal-hal yang salah. Biarkanlah orang berkata. Seperti kata pujangga “anjing menggonggong khalifa berlalu”. Jadi jangan terlalu di gubris orang berkata apa. Jadilah diri kita sendiri. Jadikan diri kita sebagai seorang yang benar. Kita perlihatkan bahwa diri kita itu benar. Kita liatkan hasilnya kepada mereka. Jadi, sekarang bebaskanlah diri kita, nikmati hidup kita, pergilah kemanapun sesuka hati kita, berkaryalah sebanyak mungkin sesuai diri kita dan jangan sekali memikirkan stigma. Jadikanlah stigma sahabat hidup kita. Hidup kita hanya sekali maka dari itu raihlah apa yang kita inginkan dan jangan mau hidup dalam naungan stigma karena itu adalah penjara kita yang akan meringkus kita kapanpun itu. Agar tujuan hidup kita untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat bisa tercapai.

    ReplyDelete
  37. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Stigma berasal dari 2 hal dalam diri manusia, yaitu hati dan pikiran. Stigma bersifat subjektif, sehingga baik buruknya suatu stigma tergantung pada cara orang dalam menafsirkannya dan memperuntukkannya.

    ReplyDelete
  38. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Awama termakan oleh stigma namun dia tidak menyadarinya langsung. Itulah bahaya stigma, dia membuat subjek pelakuknya melakukan hal-hal yang tidak baik namun pelakunya tersebut tidak merasa melakukan hal-hal yang tidak baik. Untuk itu agar kita terhindar dari stigma maka tingkatkanlah dimensi hati dan pikiran kita agar sopan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  39. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Stigma pada pemahaman setiap orang bisa berbeda-beda. Jika kita mengartikan bahwa stigma adalah sesuatu yang tidak baik, namun bisa jadi bagi orang lain hal itu masih baik. Setiap manusia memiliki ukuran masing-masing tentang stigma. Namun jangan tertipu oleh stigma, ia sering menjanjikan kenikmatan namun berpikir kritislah tentang stigma. Dengan itu kita memiliki keuntungan dan kerugian setelah mengetahui tentang stigma. Keuntungan mengetahui stigma adalah engkau dapat mengerti sopan santun, namun kerugiannya adalah merugikan si subjek dalam stigma jika kita memiliki kekuasaan terhadap subjek tersebut.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id