Sep 20, 2013

Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih




Oleh Marsigit

Wartawan:
Apa yang engkau maksud elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu adalah nyanyian susah

Wartawan:
Kenapa engkau gunakan elegi sebagai judul setiap karangan bebasmu?

Orang tua berambut putih:
Untuk menggambarkan betapa susahnya memahami isi karyaku itu.

Wartawan:
Kenapa engkau buat elegi-elegi?

Orang tua berambut putih:
Elegi adalah salah satu cara yang aku gunakan untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat.

Wartawan:
Apa maksud tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Biasanya orang berpendapat filsafat itu sulit. Banyak juga orang yang berpendapat bahwa filsafat itu tak bermanfaat atau bahkan sesat.

Wartawan:
Lantas, kalau memang demikian, lalu kenapa?

Orang tua berambut putih:
Justeru itulah, melalui elegi-elegi aku ingin menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi itu aku juga berusaha menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Wartawan:
Lalu apa yang dimaksud dengan tanpa menyebut-sebut filsafat?

Orang tua berambut putih:
Tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.

Wartawan:
Bagaimana awalnya engkau membuat elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi itu muncul sebagai kebutuhan. Aku merasa perlu mengembangkan komunikasi filsafat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat.

Wartawan:
Apa referensi yang engkau gunakan untuk membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa referensi itu ada banyak ragamnya. Sumber pertama yang langsung dari pelakunya, itu disebut sumber primer (pertama). Jika sumber itu merupakan penuturan dari orang lain, maka sumber tersebut disebut sumber seconder (kedua). Sedangkan elegi-elegi ini aku susun berdasarkan refleksi pengalamanku. Balam elegi-elegi ini, sumber pertama dan kedua adalah sebagai inspirasi saja. Sedangkan yang paling pokok dan paling banyak adalah refleksi
pengalaman saya setelah membaca filsafat dan mengalami kehidupan langsung.

Wartawan:
Metode apa yang anda gunakan untuk menyusun elegi?

Orang tua berambut putih:
Untuk menyususun elegi ini, aku menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
menterjemahkan dan diterjemahkan.

Wartawan:
Siapakah orang tua berambut putih.

Orang tua berambut putih:
Orang tua berambut putih adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka orang tua berambut putih itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir. Jadi orang tua berambut putih itu juga bisa berarti filsafat. Jika dia diartikan sebagai sipembawa pesan filsafat, bolehlah, khusus dalam elegi ini, jika engkau artikan bahwa elegi itu adalah dosen filsafat, setidak-tidaknya orang tua berambut putih itu adalah pikiranku, yaitu pikiran seorang Marsigit.

Wartawan:
Bagaimana seseuatu elegi itu muncul?

Orang tua berambut putih:
Sekali lagi aku katakan bahwa elegi itu muncul karena kebutuhan. Ketika aku melihat situasi lingkungan tertentu dimana saya merasa perlu mengungkapkannya maka aku buatlah elegi.

Wartawan:
Kenapa antara beberapa elegi ada yang terkesan kontradiksi?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

Wartawan:
Kenapa kuliah filsafat pendidikan matematika, kelihatannya lebih banyak filsafatnya, lalu apa hubungan antara filsafat dan filsafat matematika?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa filsafat itu dapat ditaruh di depan apapun. Maka kita punya filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Apapun filsafatnya, maka filsafat itu selalu mempunyai 3 jalur utama yaitu ontologi (ilmu hakekat), epistemologi (ilmu cara), dan aksiologi (etik dan estetika). Hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Jika ini sudah dipahami, maka untuk mempelajari filsafat-filsafat yang lain, misalnya filsafat pendidikan matematika, kita tinggal tarik analogi-analogi dan benang merahnya.

Wartawan:
Apakah akan ada elegi-elgi tentang matematika atau pendidikan matematika.

Orang tua berambut putih:
Tentu bisa saja hal demikian itu dibuat oleh para mahasiswa untuk latihan.

Wartawan:
Apa sebetulnya tujuan utama atau visi dibuatnya elegi.

Orang tua berambut putih:
Elegi dibuat sebagai sarana berlatih memberbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka mahasiswa matematika itu perlu kemampuan memperbincangkan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai seorang guru, maka perlu mempunyai keterampilan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

Wartawan:
Apa yang dimaksud sebagai memperbincangkan.

Orang tua berambut putih:
Bukan subyek yang bicara, bukan dosen yang bicara, bukan guru yang bicara. Jika mereka itu yang bicara, maka bicaranya bersifat otoriter, merayu, membujuk atau memaksa para siswa untuk percaya. Tetapi yang bicara adalah para obyek, para mahasiswa dan pada siswa serta semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebetulnya yang ada dan yang mungkin ada itu berhak bicara. Jika anda telah mampu memperbincangkan mereka maka kemampuanmu itu mempunyai dimensi setingkat lebih tinggi.

Wartawan:
Apa yang engkau maksud dengan yang ada dan yang mungkin ada?

Orang tua berambut putih:
Yang ada dan yang mungkin ada itu adalah obyek kajian filsafat.

Wartawan:
Apakah engkau akan terus membuat elegi?

Orang tua berambut putih:
Belum tahu, karena elegi merupakan kebutuhan.

Apa sisi kelemahan elegi:
Satu-satunya kelemahan atau sisi kekurangan elegi adalah jika dia digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya.

Wartawan:
Apa yang dimaksud digunakan tidak sesuai ruang dan waktunya?

Orang tua berambut putih:
Elegi itu hanya untuk sarana berpikir filsafat. Itu saja hanya salah satu. Jadi porsinya memang perlu dibatasi. Dia juga bukan suatu topik pembelajaran. Jadi elegi itu tidak cocok untuk digunakan pada pembelajaran disekolah. Tetapi substansinya itulah yang di ambil.

Wartawan:
Apa yang dimaksud substansi?

Orang tua berambut putih:
Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Begitu saja maksudnya.

Wartawan:
Apa beda mitos dan patung filsafat? Apa beda logos dan orang tua berambut putih?

Orang tua berambut putih:
Mitos adalah patung filsafat. Logos adalah orang tua berambut putih.

Wartawan:
Mengapa sering banyak cerita dalam elegi selalu berakhir kepada hati atau Tuhan?

Orang tua berambut putih:
Filsafat itu tergantung orangnya. Dia bisa berangkat dari mana saja, melalui mana saja, dan berhenti di mana saja dan tentu kapan saja. Elegi-elgi ini setidaknya menggambarkan keadaan diriku atau filsafatku.

Wartawan:
Bagaimana peran para filsof?

Orang tua berambut putih:
Filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi tiadalah artinya kita bicara filsafat jika kita tidak membicarakan pikiran para filsufnya.

Wartawan:
Tetapi kenapa dalam elegi ini jarang muncul pemikiran para filsuf?

Orang tua berambut putih:
Pemikiran mereka tersembunyi atau muncul secara implisit.

Wartawan:
Terimakasih

Orang tua berambut putih:
Terimakasih kembali.

65 comments:

  1. Novice Ayu Abrianti
    13301244028
    Pendidikan Matematika C 2013

    Jika memang elegi adalah suatu ungkapan dukacita, mengapa menggunakan kata elegi untuk mengungkapkan karangan bebas Prof Marsigit yang membicarakan tentang filsafat. Apakah filsafat begitu menjadi momok bagi masyarakat? Sehingga Prof menggunakan kata elegi sebagai pengganti bahasan mengenai filsafat. Berusaha mengkomunikasikan filsafat tanpa harus menyebut kata filsafat, bahkan menggantinya dengan suatu 'nyanyian susah'.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Dari wawancara dengan orang tua berambut putih tentang elegi, elegi itu disusun karena kebutuhan. Dengan elegi, penulis berusaha untuk mengenalkan dengan bahasa yang lebih sederhana seputar filsafat. Untuk memberitahu pembaca bahwa filsafat itu dekat dengan kita, dan bermanfaat. Sumber yang digunakan penulis itu pun didominasi oleh pengalamannya berfilsafat. Elegi itu tempat memperbincangkan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  3. Firda Listia Dewi
    16701251014
    PEP B 2016

    Filsafat itu sangatlah dekat dengan kita, bahkan filsafat itu adalah diri kita sendiri. Melalui elegi dapat dipergunakan untuk menjelaskan filsafat dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat menunjukan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia. Elegi tersebut dibuat berdasarkan refleksi dari pengalaman dengan menggunakan bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih (ilmu pengetahuan, filsafat, si pembawa pesan filsafat), komunikasi, menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  4. Fauzul Muna Afani
    13301241010
    Pendidikan Matematika A 2013
    Assalamu’alaikum
    Setelah membaca artikel ini saya tahu bahwa elegi merupakan suatu saran atau alat untuk dapat menyampaikan filsafat dengan cara yang mudah dipahami oleh orang lain. Elegi terbentuk apabila ada suatu situasi/ kejadian dilingkungan yang ingin diungkapkan melalui filsafat. Elegi yang disampaikan harus sesuai dengan ruang dan waktu agar bermakna.

    ReplyDelete
  5. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Setelah membaca beberapa elegi dalam blog ini, baru ketika membaca elegi ini saya menyadari fungsi elegi.
    Elegi itu nyanyian susah, dibuat untuk menunjukkan seberapa susah memahami tulisan dalam elegi-elei tersebut. Namun, pada hakikatnya tantangan bagi orang yang berfilsafat adalah bagaimana menjelaskan filsafat itu dengan bahasa yang paling mudah dipahami. Sedangkan kata filsafat itu sendiri merupakan istilah yang sulit dipahami.
    Maka, fungsi elegi-elegi adalah untuk menunjukkan bahwa tidaklah demikian. Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita. Bahkan aku dapat katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita. melalui elegi-elegi ersebut dibuat untuk menunjukkan bahwa kajian filsafat itu banyak manfaatnya dan langsung bersentuhan dengan kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  6. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013


    Orang tua berambut putih adalah karakter yang menggambarkan sebuah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui belajar memiliki definisi masing-masing oleh tokoh-tokohnya. Seperti yang terdapat pada elegi di atas, sang orangtua berambut putih menanyakan definisi dirinya kepada beberapa tokoh dan semuanya memiliki pandangan yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Maka guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. Maka guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik dalil Pythagoras. itulah sesungguhnya guru yang bijaksana

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Filsafat itu sangatlah dekat dengan kita, bahkan filsafat itu adalah diri kita sendiri. Filsafat itu sangatlah dekat dengan kita, bahkan filsafat itu adalah diri kita sendiri. Ketahuilah bahwa hidup itu kontradiksi. Hakekat berubah dan hakekat diam itu kelihatannya kontradiksi. Tetapi keduanya itu ada. Maka aku mengkhawatirkan jika ada seseorang hanya berhenti sampai hakekat perubahan saja, karena hal yang demikian berarti dia hanya berpikir parsial.

    ReplyDelete
  9. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Laksana wadah dan isinya. Begitulah hubungan Elegi-elegi dengan filsafat. Setiap elegi yang dipaparkan di blog ini memuat nilai dan makna filsafat. Pelajaran filsafat dapat diperoleh dari setiap elegi yang memunculkan tokoh-tokoh yang juga menggunakan istilah filsafat. Kesemuanya diramu sebagai bentuk komunikasi dalam menyampaikan materi filsafat dengan tanpa menyebut-nyebut filsafat.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  10. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Untuk memahami elegi maka landasan utamanya adalah spiritual, agar ketika kita ingin mereduksi ataupun mengembangkan elegi tetap mempunyai batasan-batasan dalam mentafsirkan elegi itu dan pemikiran kita tidak lari kemana-mana. Jangan sampai setelah kita memahami elegi secara brutal maka kita semakin jauh dari Allah SWT. Tetunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Oleh Karena itu tetap harus dalam kerangka spiritual dalam memahami elegi. Sekian dan terima kasih.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Satu kata memang bisa sangat mengubah persepsi, seperti penggunaan kata elegi. Di dalamnya juga tidak ada perintah, lebih ke empati sehingga kita yang sedang belajar pun timbul kesadaran sendiri. Kesadaran sebagai mahasiswa masih banyak yang perlu dipelajari dan terus membaca elegi..

    ReplyDelete
  12. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Logika dan rumus-rumus matematika adalah yang ada, yaitu di dalam pikiran. Sedangkan matematika sekolah adalah yang mungkin ada, yaitu di luar pikiran. Rumus-rumus adalah mitos, siswa perlu mengetahui makna dibalik rumus-rumus itu sesuai dengan tahapannya yaitu matematika real, model real, kemudian model formal, lalu matematika formal

    ReplyDelete
  13. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saya sangat terkesan dengan pembelajaran yang diterapkan oleh Proff. Marsigit. Karena Proff. Marsigit mampu menyajikan pembelajaran yang berbeda, mampu menyajikan gambaran-gambaran filsafat dengan sesuatu yang lebih menarik, melalui elegi-elegi ini misalnya.

    ReplyDelete
  14. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dari elegi ini kita tau alasan dibalik setiap judul elegi ada elegi. Elegi adalah salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat. Karena filsafat dianggap sulit dan tak bermanfaat atau bahkan sesat. Padahal Filsafat itu sangat dekat dan dekat sekali dengan kita karena sebenar-benarnya filsafat adalah dirimu sendiri. Muncullah si Elegi sebagai kebutuhan. Ketika penulis melihat situasi lingkungan tertentu dan merasa perlu mengungkapkannya maka terciptalah elegi-elegi.

    ReplyDelete
  15. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Manfaat guru matematika belajar filsafat adalah agar jika seorang guru matematika mendidik siswa tidak hanya dengan meminta siswa menghapal rumus atau dalil. Namun guru seharusnya mengetahui apa makna dibalik rumus atau dalil itu. Dengan begitu guru juga berusaha agar siswanya mengetahui apa makna dibalik rumus atau dalil itu. Sehingga terciptalah suasan belajar matematika yang bermakna.

    ReplyDelete
  16. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    dalam elegi ini beberapa poin yang bisa saya ambil yaitu filsafat bisa mencakup banyak bidang, hanya saja bapak marsigit sering mengarah ke hati dan ketuhanan. walaupun beggitu filsafat tidak bisa dipisahka dari para filsuf karena filsafat merupakan buah pikiran para filsuf yang kita pelajari dan pikirkan kembali.

    ReplyDelete
  17. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    dari wawancara dengan orang tua putih, terkait dengan elegi-elegi, elegi adalah saran dalam berfikir filsafat tanpa menyebutkan kata filsafat, karena jika menyebut nama filsafat itu mitos, menghindari filsafat itu mitos maka diapakialah kata elegi.

    ReplyDelete
  18. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Jika saya mengingat-ingat kembali bagaimana saya bertanya-tanya terkait dengan filsafat ini, yang menimbulkan pertanyaan yang sama seperti yang diutarakan oleh wartawan dalam dialog diatas. Maka sekarang saya sudah mendapatkan jawabannya, bahwasannya elegi ini merupakan uraian yang disampaikan oleh para filsuf yang maknanya dapat kita tangkap secara tersirat, sehingga dalam memahami elegi ini kita perlu membacanya berulang kali dan membacanya kembali pelan-pelan agar makna yang terkandung dalam pestiap kalimat dapat tercerna dengan baik. Agar bisa memahami hakikat filsafat maka berelegi merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh oleh kita semua.

    ReplyDelete
  19. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Dari elegi di atas saya menyimpulkan bahwa Elegi-elegi yang ada merupakan salah satu sarana untuk berpikir filsafat yg disediakan oleh orang tua berambut putih. Di dalam elegi mengandung banyak hal tentang filsafat dan juga merupakan hasil dari pengalaman berfilsafat orang tua berambut putih. Maka membaca Elegi-elegi yg ada agar dapat mengerti mengenai filsafat.

    ReplyDelete
  20. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Selamat malam Prof..

    Terima kasih ,pak. Elegi di atas telah menjawab pertanyaan yang ada dalam benak saya.
    Dengan membaca elegi di atas, kita dapat mengetahui apa dan bagaimana elegi itu. Kita dapat mengetahui bahwa elegi merupakan salah satu cara untuk mengkomunikasikan filsafat yang sulit untuk dipahami menjadi lebih mudah dipahami. Meskipun, tetap saja memerlukan pemikiran yang mendalam untuk dapat memahami substansi dan makna yang terkandung, melalui elegi-eleginya, Prof Marsigit berusaha untuk menunjukkan bahwa filsafat merupakan sesuatu yang bermanfaat dan dekat dengan kehidupan.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Menurut saya elegi itu disusun berdasarkan kebutuhan kita. Dengan elegi, penulis berusaha untuk mengenalkan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami seputar filsafat. Dengan demikian kita akan merasa bahwa filsafat itu berada dekat dengan kita dan berbicara tentang kehidupan kita sendiri.

    ReplyDelete
  23. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Elegi yang dibuat oleh Prof. Marsigit menjadi sarana belajar filsafat yang keluar dari mainstream. Meskipun demikian, yang tidak mengikuti mainstream inilah yang ternyata membantu saya memahami filsafat dengan cara lain, membantu saya berfilsafat secara tidak formal, karena inti filsafat adalah olah pikir.Ada banyak sisi lain filsafat yang sebelumnya tidak saya ketahui sebelumnya. Terima kasih, Prof...

    ReplyDelete
  24. Retno Widyaningrum
    16701261004
    Elegi di buat oleh Prof adalah sebagai sarana untuk memahami filsafat, dengan adanya elegi maka mahasiswa akan belajar olah bicara dalam berfilsafat. banyak penggambaran tentang filsafat dalam bentuk elegi-elegi, jika memahami alur elegi itu maka kita masuk kedalam elegi yang dibuat dan merasakan elegi tersebut sehingga kita mampu memahaminya... insya Allah.

    ReplyDelete
  25. Retno Widyaningrum
    16701261004
    Elegi ini di susun sebagai latihan mahasiswa untuk mampu berbicara dalam bentuk tulisan dengan bahasa filsafat yang telah dipahami. Dengan latihan berbicara ini maka mahasiswa akan terbiasa memahami elegi dengan bahasanya sendiri.

    ReplyDelete
  26. Retno Widyaningrum
    16701261004
    Dengan adanya elegi ini maka sebagai pemicu mahasiswa untuk mempelajari elegi yang dibicarakan dengan mengkaitkan pengetahuan elegi tersebut dengan smber lain sehingga wawasan filsafat semakin luas. Belajar tidak ada batasnya, apalagi IT semakin maju, maka untuk belajar filsafat bisa kapan saja, dimana saja, dan ketika apa saja.

    ReplyDelete
  27. Miftahir Rizqa
    PEP kelas A
    16701261027
    banyak yang bilang, filsafat itu sulit. itu kenyataan yang dialami hampir semua orang yan ingin memahami filsafat. sudah seharusnya tugas para pengajar filsafat memberikan cara terbaik dan termudah dalam memahami filsafat.

    ReplyDelete
  28. Miftahir Rizqa
    PEp Kelas A
    16701261027
    Memahami sesuatu yang sulit perlu diterjemahkan kepada bahasa yang mudah dipahami. artinya memahami filsafat perlu trik khusus agar sampai pada pembaca. Elegi sangat membantu kita dalam memahami itu semua

    ReplyDelete
  29. Menjadi sosok yang memahami dan dipahami, seperti orang tua berambut putih. Ia mampu membuat elegi sebagai kisah nyata dan petuah dalam waktu yang bersamaan. Kepintaran yang dimiliki Orang Tua Berambut Putih adalah gambaran imaji keilmupengetahuan yang tiada batas. Ilmu pengetahuan yang tiada batas, namun pengetahuan manusia yang berbatas untuk memahami ilmu pengetahuan tersebut.
    Memahami setiap aspek, seperti orang tua berambut putih adalah kekuatanya untuk menggunakan kesederhanaan dan "rambut putihnya" dalam menguasai alam logos dan mitos.
    Jika semua sudah dipahami oleh manusia berambut putih, maka manusia akan menyerah pada pengetehuannya. Manuasia tinggal memosisikan diri dan menikmati keberadaannya di antara orang lain untuk menjadikan dirinya sendiri.
    Orangtua berambut putih masih menyimpan misteri dalam cerita yang tidak diketahui para elegi awal akhir zaman, karena orang tua berambut putih adalah pengendali semua logos dan mitos dalam kemampuannya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP 2016 UNY

    ReplyDelete
  30. Berbicara mengenai sumber ilmu, maka berbicara masalah keluasan pandangan. Batasan ilmu pengetahuan adalah tidak berbatas, namun batas itu adalah ilmu pengetahuan. Sumber ilmu juga tidak berbatas seperti elegi, karena elegi tidak akan dihapus, namun kebutuhan. Kalau sudah merasa cukup maka elegi itu akan dicukupkan.
    Jika ilmu pengetahuan adalah ketidak ada batasan, maka sebenarnya ia akan terus berkembang sampai batas yang tidak bisa diimajinasikan. Elegi membentuk epilog dan epilog kembali ke prolog. Epilog adalah tesis, dan prolog adalah tesis. Berarti sumber belajar adalah kuumpulan tesis. JIka begitu harus ada antitesis yang membangun dirinya sendiri melalui aspek yang ditidaktahunya.
    Aspek yang membangun tiap elegi akan berakhir dalam sebuah cerita seperti parsialnya
    "bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi"
    Jika dunia separsial itu, maka manusia akan semena-mena membangun dunianya masing-masing.
    Pembenahanan elegi dan sosok orangtua berambut putih adalah sebuah imajinasi, dan kekuatannya lebih dahsyat daripada mitos apalagi logos.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP 2016 UNY

    ReplyDelete
  31. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Elegi bisa diartikan sebagai wadah, dimana kita yang mengisinya dengan olah pikir sederhana karena pemahaman dari suatu bacaan atau cerita didalamnya. Elegi juga media pembelajaran kita yang sifatnya terbuka, bisa dibaca siapa saja dan kita bisa mengomentari apa saja sesuai bagaimana kita memahaminya. Tentunya elegi ini diharapkan bisa membangun pemikiran kita.

    ReplyDelete
  32. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Elegi adalah salah satu cara mudah untuk dapat memahami filsafat lebih baik dibandingkan sebelum-sebelumnya walaupun untuk secara keseluruhan kita tidak dapat memahaminya. Dari elegi-elegi yang telah dibuat oleh pak Prof. Marsigit, sebagai mahasiswa beliau kami dapat mempelajarinya tanpa batas ruang dan waktu, itu sesuai dengan hakekat filsafat. dan dengan kehadiran orang tua berambut putih yang berupa ilmu pengetahuan juga mengajarkan kita dan mengambarkan kepada kita bahwa ia akan selalu hadir ketika timbul suatu pertanyaan, karena sebenar-benar ilmu adalah dengan bertanya.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Orang tua berambut putih yang tidak lain tidak bukan adalah pemikiran dari Prof.Marsigit yang menginspirasi. Elegi-elegi yang dibuat merupakan torehan dari pikiran dan pengalaman yang selama ini dibangun berdasarkan pengalaman langsung maupun membaca pemikiran filsuf. Elegi-elegi ini cukup sulit dipahami, dan atau mungkin setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Memang, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada itu berdimensi, termasuk sudut pandang kita terhadap elegi-elegi ini.

    ReplyDelete
  34. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Filsafat itu bukan merupakan sebuah bahasan yang akan selesai kita bahas setelah membaca satu atau dua referensi. Banyak referensi yang merupakan pemikiran-pemikiran dari para filsuf yang wajib kita baca dalam rangka menggapai filsafat. Ditambah juga pengalaman-pengalaman kita untuk bersinggungan langsung dengan objek filsafat. Elegi hadir dengan merangkum kesemuanya dengan bahasan yang mudah dipahami. Pemikiran dan pengalaman dari Prof.Marsigit yang dituangkan dalam elegi ini sedikit banyak bisa mendekatkan jarak antara kita dengan filsafat, meskipun kita belum bisa menggapainya.

    ReplyDelete
  35. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Wawancara yang sangat inspiratif. Dari wawancara ini seperti memfasilitasi mahasiswa maupun orang yang membaca blog ini untuk mengetahui tujuan dari penulisan elegi-elegi di dalam blog ini. Tentu tujuan dari semua bacaan ini adalah kita berusaha untuk mengambil substansi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pendidikan matematika.

    Filsafat sangat dekat dengan kehidupan, penulisan di dalam blog ini adalah salah satu cara untuk memfasilitasi filsafat ini sendiri.

    ReplyDelete
  36. Setelah saya membaca tentang “ Elegi wawancara orang tua berambut putih”. Saya dapat mengetahui dan memahami apa itu elegi dan untuk apa elegi itu dibuat. Karena elegi itu mampu membuka pikiran saya secara luas dan kreatif, dan saya menyadari betapa pentingnya belajar filsafat didalam kehidupan saya. sebab filsafat merasuk dalam setiap elemen kehidupan berdasarkan ruang dan waktu.

    M. Saufi rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  37. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Apa itu elegi?, mungkin sebelum saya mengikuti kuliah filsafat pendidikan matematika saya belum pernah mendengarnya apalagi kenal dengannya. Tapi setelah saya mengikuti kuliah Filsafat Pendidikan Matematika hampir setiap pagi, siang, sore, malam saya merasakan saya selalu membuat elegi baik itu elegi yang saya tulis dengan kata-kata maupun yang tidak dan tiada mampu kutulis.
    Menurut saya elegi itu banyak sekali pengertiannya, dan rangkaian kata-katapun sebenarnya tiada mampu memberikan pengertian ataupun mendefinisikan sebuah elegi karena hanya elegi sendiri yang mampu memberi pengertian ataupun mendefinisikan atas dirinya.
    Elegi adalah bahasa kalbu. Dengan Elegi kita bisa mengungkapkan isi hati kita pada sebuah tulisan yang susunannya terserah kita yang membuat, hingga tulisan kita tiada terpatok oleh pagar-pagar peraturan penulisan. Dari situ segala yang di hati yang ingin kita curahkan terasa lebih ringan karena bisa kita curahkan pada tulisan-tulisan elegi yang meski terkadang menurut orang lain terasa aneh dan tiada bermakna. Namun, bagi sang pembuat elegi itulah sebenar-benarnya tulisan yang sungguh bermakna.

    ReplyDelete
  38. Defy kusumaningrum
    13301241022
    Pedidikan Matematika A 2013

    Menurut saya artikel ini berisi tentang cara prof.Marsigit membelajarkan filsafat kepada kami. Mendengar kata filsafat, hal yang terlintas adalah sebuah pemikirat yang rumit, berbelit-belit, dan susah dipahami. Padahal filsafat itu adalah sesuatu yang dekat dengan kita. Bersumber dari pemikiran kita dengan menggunakan yang ada dan mungkin ada dari pikiran kita. Oleh karena itu beliau mengubah kata filsafat dengan elegi. Walaupun elegi pun berarti nyanyian susah, tapi beliau berusaha menghilangkan pikiran sulit dari mahasiswanya.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Objek filsafat yang ada dan yang mungkin ada, metode belajar filsafat dengan hermeneutika dari dalam yang sedalam dalamnya telaah yang luas seluasnya. Objek formal dan material, objek material adalah yang ada dan mungkin ada sedangkan objek formalnya adalah metodenya. Segala sesuatu selama di dunia dengan menggunakan bahasa analog yang lebih tinggi dari kiasan atau perumpamaan. Bahasa analog itu paling tinggi, ketika seseorang berkata hati: hati bisa bermaksud spiritual, bisa bermaksud Tuhan, bisa bermaksud do’a, bisa punya makna akhirat tergantung dari konteknya walaupun dikatakan hati. Sulitnya dan seninya berfilsafat bisa bersembunyi dimanapun dengan bahasa analog, sedangkan tentang pikiran selama orang masih bisa terpikirkan masih hidup itu hanya urusan dunia.

    ReplyDelete
  40. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Emanuel Kant membangun ilmu di atas struktur yang berjalan, padahal strukturnya kontradiktif antara pikiran dan pengalaman yang tidak akan pernah bertemu yang akhirnya pengalaman menjadi bayangan daripada pikiran. Diam dalam arti bergerak, maka sebenar-benar manusia itu diam, dalam gerak dan gerak dalam diam, A dalam B, B dalam A, luar didalam, didalam di luar, sempurna di dalam sempurna di dalam tidak sempurna yang di luar itu semua karena kemampuan manusia itu terbatas.

    ReplyDelete
  41. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kapan kerterbatasan manusia tidak ada batasannya, ketika nanti sudah di Akhirat yang sudah menyatu dengan Sang Pencipta, Sang Hakikat, Yang Tunggal disitu tidak ada kontradiksi lagi semua itu sudah kuasa Tuhan itu semua yang dinamakan Kenyataan.

    ReplyDelete
  42. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan elegi di atas, yang bisa saya pahami adalah perkataan dari orang tua berambut putih yang mengatakan bahwa filsafat adalah pikiran para filsuf. Jadi saat belajar filsafat hal yang perlu dilakukan adalah membicarakan pikiran para filsufnya. Mencoba memahami apa yang ada dipikiran para filsuf. Dan sampai saat ini saya masih berusaha untuk belajar dan memahami filsafat.

    ReplyDelete
  43. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Filsafat itu melingkupi hal yang ada dan mungkin ada. Untuk belajar filsafat, digunakan bahasa analog jadi penerimaan yang didapat antara yang satu dengan yang lainnya itu berbeda. Berfilsafat mengajarkan kita cara berfikir yang intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Salah satunya melalui elegi. Jadi untuk belajar filsafat harus banyak membaca dan membaca, serta membuat sistesis dan anti tesisnya.

    ReplyDelete
  44. Assalamualaikum wr. wb.

    Alhamdulillah dengan elegi ini tergambar bagaimana filsafat berwujud dalam bentuk apa saja. Elegi-elegi yang muncul merupakan logos-logos perantara memahami filsafat. Semoga filsafat semakin mudah dipahami dan diresapi sebagai tuntunan dalam berkehidupan.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP kelas A

    ReplyDelete
  45. Assalamualaikum wr. wb.

    Alhamdulillah dengan elegi ini tergambar bagaimana filsafat berwujud dalam bentuk apa saja. Elegi-elegi yang muncul merupakan logos-logos perantara memahami filsafat. Semoga filsafat semakin mudah dipahami dan diresapi sebagai tuntunan dalam berkehidupan.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP kelas A

    ReplyDelete
  46. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Setelah membaca ini saya jadi tahu banyak apa, mengapa dan untuk apa elegi dibuat. Elegi ada berdasarkan kebutuhan. Elegi mampu membuat kita berpikir dan membuat kita belajar berfilsafat yaitu dengan memikirkan yang ada dan yang mungkin ada dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  47. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Berfilsafat mengajarkan berfikir secara intensif dan ekstensif dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Belajar filsafat itu dapat dari berbagai sumber termasuk pikiran kita sendiri. Karena sesungguhnya filsafat itu sendiri adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  48. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Saya merasa suka dan tertarik untuk membaca tentang elegi-elegi ini karena bahasa yang digunakan sangat bagus dan menarik pembaca untuk mengetahui makna yang sedalam-dalam dari kata/kalimat-kalimat tersebut. Bahasanya seperti bahasa kiasan atau terkadang juga seperti analogi.

    ReplyDelete
  49. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Orang tua berambut putih diibaratkan dengan ilmu pengetahuan. Untuk sebagian orang, kata filsafat adalah kata yang dianggap sulit, maka dari itu elegi dibuat sebagai salah satu sarana untuk belajar filsafat. Filsafat adalah pikiran para filsuf, pikiran para filsuf juga dituangkan ke dalam elegi dengan cara implisit. Filsafat dapat ditaruh di depan apapun termasuk filsafat pendidikan matematika. Elegi juga dibuat untuk melatih komunikasi antara subyek dan obyek dengan memperbincangkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  50. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Sesuai dengan pengalaman pribadi juga awalnya saya menganggap bahwa filsafat itu ilmu yang sulit dipahai dan (maaf) cenderung menyesatkan. Ternyata setelah saya membaca elegi-elegi pada blog ini barulah mulai terbuka pikiran saya bahwa filsafat itu seperti ini. Secara sadar atau tidak kita berhubungan dengan filsafat. Maka filsafat itu bermanfaat bagi yang bisa mengambil pelajaran darinya.

    ReplyDelete
  51. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Ketika mendengar kata "filsafat", mereka menganggap bahwa itu adalah hal yang sulit, atau mereka selalu berkata "itu berat". Namun, setelah saya belajar filsafat, saya justru berpendapat bahwa filsafat ini menyenangkan. Kenapa tidak? Belajar filsafat menuntun saya untuk mempelajari kehidupan saya dan lingkungan. Dengan filsafat pula saya mengerti mengapa sesuatu hal terjadi dan apa yang harus saya lakukan terhadap sesuatu.

    Terima kasih

    ReplyDelete
  52. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Membaca blog ini sama halnya belajar filsafat. Dalam blog ini, terutama elegi-eleginya, saya mendapat banyak pelajaran tentang filsafat. Dengan elegi-elegi yang ditulis Bapak Marsigit, kita belajar filsafat dengan cara berbeda atau melalui jalur yang berbeda karena tidak hanya teori, namun dan atau langsung ke contoh atau penerapannya. Terima kasih untuk eleginya.

    ReplyDelete
  53. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dalam Muhmidayeli (2011), filosofis pendidikan sejatinya dikembangkan yakni pendidikan yang secara konsisten akan pencapaian perilaku moral etis anak didik dan dapat pula mengapresiasi persoalan sosial masyarakat yang timpang secara struktural, yang pada gilirannya anak didik dapat memberikan ide-ide pemikiran akan pentingnya sistem-sistem penataan kehiupan sosial yang transformatif, emansipatoris, dan elegan guna terciptanya nilai-nilai etis sosial dalam kehidupan masyarakat.
    Itulah salah satu alasan pula mengapa pendidikan matematika juga mempelajari filsafat. Pendidikan matematika atau pendidikan secara umum, memiliki tujuan yang sama untuk menciptakan anak didik yang bermoral. Dan itu merupakan bagian dari filsafat.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  54. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Elegi wawancara dengan orangtua berambut putih merupakan salah satu sarana untuk belajar filsafat, masih banyak sarana belajar yang lain. Harapan dari elegi ini adalah kita sebagi guru matematika bisa mengambil substansi dari elegi ini yaitu guru hendaknya tidak hanya menghapal rumus namun juga dapat memahami dan memahamkan maknanya. Namun janganlah menggunakan elegi untuk menjelaskan matematika di sekolah, karena sudah berbeda ranahnya.

    ReplyDelete
  55. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi ini mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan itu berasal dari pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, sampai batas pikiranmu. Maka pengetahuan itu dapat berupa pertanyaan-pertanyaan, tesis-tesis, anti-tesis, sintesis, dan semuanya yang tergolong olah pikir(filsafat). filsafat ternyata adalah keseharian kita, segala aktivitas adalah berfilsafat. kadangkala kita merasa filsafat menuju kearah kesesatan karena filsafat selain sebagai olah pikir juga reflektif. bagi orang yang tidak memiliki landasan spritual yang tinggi maka ia akan tebawa kejurang kegelapan dari filsafat.

    ReplyDelete
  56. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Elegi merupakan sarana belajar filsafat tanpa harus menyebutkan filsafat. Filsafat sangat dekat dengan hidup kita, bahkan filsafat itu adalah diri kita sendiri. Prof . Marsigit pernah mengatakan bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah dirimu sendiri. Elegi-elegi hanya sebuah sarana untuk dapat memahami filsafat dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  57. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013
    Dari wawancara dengan Orang Tua berambut putih ini banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan. Bahwa dalam membuat elegy menggunakan beberapa peralatan meliputi: bahasa analog, reduksi atau penyederhanaan, kelengkapan, pengandaian, personifikasi, pengembangan pola, korespondensi (isomorphisma), teleologi, phenomenologi, induksi, deduksi, berpikir kritis, membuat pertanyaan-pertanyaan, membuat figur orang tua berambut putih, komunikasi,
    menterjemahkan dan diterjemahkan. Dan komunikasi filsafat dibuat dalam bentuk yang netral, tidak menyuruh, tidak memaksa, lebih bersifat empati tetapi tetap memuat tesis-tesis filsafat. Terima kasih

    ReplyDelete
  58. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013
    Filsafat dapat diterapkan dalam bidang apapun, seperti filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat negara, filsafat umum, filsafat alam, ..dst. Menurut orang tua berambut putih hal yang paling berat bagi orang yang ingin mempelajari filsafat adalah pada bagian depan, yaitu ada filsafat umum. Dan jika sudah menguasai filsafat umum maka filsafat-filsafat yang lainnya dapat dengan mudah dipelajari. Sehingga kita perlu belajar filsafat umum terlebih dahulu untuk dapat lebih mudah memahami filsafat pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  59. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013
    Elegi merupakan sarana untuk berfikir filsafat. Dalam pembelajaran matematika sendiri sangat bermanfaat walaupun tidak secara langsung. Seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hapal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Seorang guru haruslah memberikan pembelajaran bermakna kepada siswa. Guru harus melibatkan siswa dalam menemukan rumus. Siswa juga harus diberikan pengalaman pembelajaran yang bervariasi. Sehingga siswa tidak mengidentikan matematika dengan rumus-rumus.

    ReplyDelete
  60. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Melalui elegi-elegi yang tertulislah filsafat diperkenalkan dengan bahasa yang lebih sederhana. Bahasa ini umumnya disebut dengan bahasa analog. Untuk memberitahu pembaca bahwa filsafat itu dekat dengan kita, dan tentu bermanfaat bagi kehidupan. Sumber yang digunakan penulis itu pun didominasi oleh pengalamannya berfilsafat. Dengan demikian individu yang mempelajari filsafat akan lebih mudah dalam mencerna dan memahami filsafat.

    ReplyDelete
  61. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Ketika kita memulai untuk berfilsafat, maka tetapkan bahwa belajar filsafat bertujuan untuk mengubah pola piker, yaitu pola pikir yang senantiasa berpikir bersih. Karena dengan berpikir bersih kita akan mudah untuk membaca, mengamati, memikirkan, menganalisa, menanggapi, dan mendiskusikan bagaimana mestinya hidup ini akan dijalani. Selain itu, hati yang bersih pun sangat diperlukan untuk merasakan fenomena dan petunjuk-petunjuk yang dianugerahkan oleh Tuhan, karena Tuhan adalah sumber dari segala sumber. Sebagai seorang yang akan beranjak dewasa kita harus tahu sebab dan akibat atas segala perbuatan kita. Filsafat yang diikutsertakan dengan kehadiran Tuhan tak akan membuat hidup tersesat.

    ReplyDelete
  62. Praneswari Kusuma Dewi
    13301241033
    Pendidikan Matematika A 2013

    Beberapa hal yang dapat saya simpulkan setelah membaca elegi di atas adalah :
    1. Elegi merupakan cara Bapak Marsigit dalam memperkenalkan dan menyampaikan filsafat agar lebih mudah untuk dipahami.
    2. Elegi-elegi tersebut dibuat berdasarkan kebutuhan, bersumber dari pengalaman-pengalaman beliau ketika membaca filsafat, dan mengkaji teori-teori para filsuf, serta merupakan refleksi langsung dari pengalaman kehidupan sehari-hari beliau.
    3. ELegi bukanlah suatu topik pembelajaran tertentu, ia juga tidak cocok diterapkan dalam pembelajaran sekolah, tetapi substansi dari elegi-elegi itulah yang diambil manfaatnya.
    4. Objek filsafat adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Jadi, objek kajian filsafat sangatlah luas dan dalam. Matematika dan pendidikan Matematika bisa menjadi objek kajian filsafat.

    Jadi, dapat saya simpulkan kembali bahwa, berfilsafat itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Karena filsafat itu sendiri adalah diri kita, filsafat berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia. Dengan belajar filsafat akan membuka cakrawala kita, karena objek kajiannya sangat luas dan dalam. Menurut saya filsafat yang disampaikan oleh Bapak Marsigit melalui elegi-elegi beliau, terkesan sangat menarik, memberikan banyak ilmu dan hikmah kehidupan, serta selalu mengingatkan kita bahwa belajar filsafat itu harus senantiasa menghadirkan hati. Karena hati itu letaknya spiritualitas, yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Jadi, tidak akan pernah merugi orang yang belajar filsafat, dan membaca elegi-elegi Bapak Marsigit. Semua itu menjadikan kita sebagai manusia yang selalu berusaha agar hidupnya sesuai ruang dan waktu. Memahami segala kehidupan dengan batas-batas akal, pikiran dan pengetahuan kita sehingga tidak sombong dan bisa senantiasa bersyukur.

    ReplyDelete
  63. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Menarik sekali melihat karakter orang tua berambut putih yang menjadi protagonis dalam setiap elegi prof. Marsigit. Dengan membaca dan mamahami sedikit demi sedikit saya mulai memahami tentang orang tua berambut putih tersebut berikut dengan paedah yang dia tuturkan. Setelah saya memahami elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwa Orang tua berambut putih mengajarkan bahwa perlu bagi kita untuk berfilsafat agar dapat memahami hakekat dari sesuatu. Berfilsafat berarti kita hanya memandang dengan sudut padang yang berbeda. Dengan berfilsafat juga kita dapat memahami makna terdalam dari sesuatu berdasarkan kapasita kita. Tetapi untuk menyalurkan hasil filsafat agar mudah difahami dibutukan elegi sebagai medianya. Dengan adanya elegi kita akan lebih mudah memhami hasil dari filsafat seseorang dan juga dapat mengetahui siapa yang menuturkan filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  64. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    orang tua berambut putih merupakan logos. Yaitu sumber pengetahuan yang dapat menjawab pertanyaan, dalam hal ini dosen. selain itu, ada pula patung filsafat, patung filsafat merupakan sebuah mitos. Adapun patung filsafat adalah berdiam diri ditempat dengan tidak membudidayakan membaca karangan filsafat. Filsafat dalam pendidikan matematika bukan menghafal rumus, tetapi mencari makna dibalik rumus tersebut.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ReplyDelete
  65. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Sesungguhnya di dalam filsafat itu merupakan ilmu yang komplek untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, elegi merupakan cara mengkomunikasikan filsafat tanpa menyebut-sebut filsafat. Filsafat berada diantara ruang dan waktu dalam kehidupan manusia dan dalam keadaan sadar maupun tak sadar sebenarnya seseorang berada di dalam dimensi kehidupan yang saat itu berada diantara ruang dan waktu.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id