Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Kesempatan




Oleh: Marsigit
Guru menggapai kesempatan berada di persimpangan jalan:

Di persimpangan jalan inilah aku mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatanku untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa aku mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini aku cari dan aku perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku. Aku sangat gembira dengan kesempatan ini. Tetapi di tengah euporia ku maka aku mulai bertanya apakah sebenar-benar kesempatan itu? Untuk itulah maka aku ingin bertanya. Tetapi bertanya kepada siapakah aku ini?

Orang tua berambut putih datang menghampirinya:
Muridku, kau telah memanggilku. Ada apakah gerangan?

Guru menggapai kesempatan:
Aku belum bertanya kenapa kau sudah datang?

Orang tua berambut putih:
Bukankah kalimatmu terakhir adalah suatu pertanyaan. Dan sesuai janjiku, dikarenakan sifat hakikiku, bahwa aku akan selalu datang pada setiap pertanyaan dari manapun, oleh siapapun dan tentang apapun.

Guru menggapai kesempatan:
Oh iya, terimakasih atas peringatanmu. Guru, dapatkah kau menjelaskan kepadaku apa sebenar-benar kesempatan itu?

Orang tua berambut putih:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan tugasku sebagai guru

Orang tua berambut putih:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai guru harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridmu. Murid-muridmu yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang hidup?

Orang tua berambut putih:
Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan.

Guru menggapai kesempatan:
Hebat nian kau guru. Aku bertanya tentang kesempatan mengapa engkau sampai pada penjelasan tentang dunia dan pikiran.

Orang tua berambut putih:
Baiklah aku kembali akan menjelaskan tentang kesempatan. Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Guru menggapai kesempatan:
Lalu apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan tugasku sebagai guru.

Orang tua berambut putih:
Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sedangkan murid-muridnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup gurunya. Maka sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka engkau adalah guru yang sangat berbahaya bagi murid-muridmu jika engkau sangat menikmati kegiatanmu menutupi sifat murid-muridmu. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Guru menggapai kesempatan:
Mohon guru, mohon guru, yang ini diteruskan lebih detail karena menurut saya sangat penting.

Orang tua berambut putih:
Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan.

Guru menggapai kesempatan:
Baik guru, di sini saya mulai antusias karena saya merasa sangat cocok dengan persoalan saya sebagai guru. Kemudian saya ingin bertanya lagi, bilamana dan bagaimana saya dikatakan menutup sifat murid-muridku.

Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat. Itu adalah pertanyaan dari seorang yang cerdas. Ciri-ciri guru menutup sifat-sifat murid-muridnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika kau katakan muridmu sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu engkau telah menutupi sifatnya. Jika engkau katakan bahwa muridmu bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bekerja sementara muridmu melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu bertanya sementara muridmu berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu berinisiatif sementara muridmu menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika kamu menilai prestasi siswamu maka itu adalah kejadian lain dari kegiatanmu menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan.

Guru menggapai kesempatan:
Sebentar guru, jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu siwa, yaitu siswa menutupi sifat gurunya, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai.

Guru menggapai kesempatan:
Kenapa engkau sebut aku sebagai guru menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraiannya mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai guru memberi kesempatan.

Orang tua berambut putih:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Guru menggapai kesempatan:
Ah guru, mohon maaf, bukankah guru telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam guru sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau semakin pandai saja. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Guru menggapai kesempatan:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Au menjadi penasaran dibuatnya.

Orang tua berambut putih:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutipi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat diriku.

Guru menggapai kesempatan:
Oh guru mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikutimu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Guru menggapai kesempatan:
Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Orang tua berambut putih:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya.

Guru menggapai kesempatan:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Orang tua berambut putih:
Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Guru menggapai kesempatan:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Orang tua barambut putih:
Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Guru menggapai kesempatan:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Maka sebenar-benar Filsafat itu adalah refleksi. Refleksi itu artinya melihat diri sendiri. Belumlah engkau dikatakan belajar filsafat jika engkau belum mampu melihat dirimu sendiri. Padahal syarat untuk mampu melihat diri adalah tidak sombong dalam dirimu.  Tidak sombong artinya ikhlas dalam hatimu dan jernih dalam pikirmu. Ikhlas dalam hatimu adalah mensyukuri setiap hal sebagai Rakhmat Nya. Jernih dalam pikirmu adalah terbebas dari prejudice, buruk sangka, atau negatif thinking. Maka untuk menggapai kesempatan, belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Ikutilah kuliah filsafat dan bacalah elegi-elegi tanpa prasyarat apapun. Inilah salahsatu kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Amien.

78 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Elegi ini menjelaskan bahwa dalam kehidupan, seseorang terkadang memiliki kesempatan baik atau sebaliknya. Oleh karena itu seseorang harus mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta menggunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Dalam menggapai kesempatan tersebut juga harus disertai dengan usaha dan doa.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Banyak hal yang dapat diambil dari elegi ini, seorang guru tidak boleh menutup kesempatan murid-muridnya. Ketika seorang guru hanya menyampaikan ilmunya kepada muridnya dan mendiskripsikan dirinya, maka bisa dikatakan dia melakukan pembunuhan secara perlahan. Itu sama saja seperti kesombongan seorang guru. Padahal disini dijelaskan ketika kita ingin berfilsafat, kita harus dapat melihat dirinya. Ketika kita ingin merefleksi diri, kita juga harus menghindari kesombongan yang ada dalam diri kita. Selalu bersyukur atas kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Karena sebenar-benar hidup adalah memberi kesempatan dan diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  3. Firda Listia Dewi
    16701251014
    PEP B 2016

    Hidup adalah kesempatan. Sebagai seorang pendidik janganlah kita menutup kesempatan siswa kita dengan menutup sifat-sifat siswa kita seperti memberikan label siswa kita dengan si malas, bodoh, dan lain sebagainya karena belum tentu demikian atau kita hanya menjelaskan dan memberikan pertanyaan/tugas kepada siswa kita tanpa mempersilakan siswa kita untuk bertanya/berinisiatif, karena ini berarti kita sebagai guru telah menutup sifat-sifat siswa kita. Sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan siswa-siswanya untuk menggapai kesempatannya pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Nah, untuk menggapai kesempatan kita harus selalu belajar, membaca, bertanya, dan terus berdoa.

    ReplyDelete
  4. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Memang seorang guru di dalam kelas itu menjadi poin atau orientasi siswa dalam belajar, sebab guru yang bisa mengarahkan kegiatan dan diskusi siswa akan ke mana dan materi siswa sampai mana, namun alangkah baiknya jika guru juga sering memberi kesempatan pada siswa untuk menunjukkan dirinya. Banyak yang bisa dilakukan guru, misal dengan kuis atau menyuruh siswa maju untuk mengerjakan soal. Jadi siswa bisa turut aktif dan kita tahu perkembangan siswa sendiri. Kita patut memberi kepercayaan pada siswa tersebut bahwa siswa tersebut bisa asalkan ada kesempatan, tanpa kita mengabaikan bahan ajar kita. Tugas seorang guru memang berat karena harus universal, kadang ada kegalauan karena penyerapan materi oleh siswa itu berbeda-beda, harus menyampaikan dan mengejar materi, terkadang kekurangan waktu. Jadi memang perlu manajemen waktu yang baik.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  5. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Seorang guru sebagai pemilik kekuasaan dalam kelas pembelajaran dikatakan dapat menggapai kesempatan bila dia sudah memberikan kesempatan kepada muridnya. Pemberian kesempatan di sini bisa berupa tidak melakukan pemaksaan menggunakan cara-cara guru agar siswa memahami pengetahuan yang disampaikan melainkan membiarkan siswa berusaha juga mengkonstruk pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru yang diberikan.

    ReplyDelete
  6. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.
    Dan guru, selalu memiliki kesempatan emas yang tak dimiliki orang lain. Seorang guru lah yang mampu menghidupkan murid-muridnya. Dari murid-muridnya tersebut akan ada lagi yang menjadi guru yang mengajarkan dan akan lebih banyak pula yang memili kesempatan lain dalam menjalani hidupnya agar menjadi benar-benar hidup.
    Kita dianggap hidup karena anggapan orang lain bahwa kita hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

    ReplyDelete
  7. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Sebenar-benarnya filsafat adalah diri sendiri dan untuk mengetahui sebenar-benarnya diri sendiri yaitu dengan ikhlas dalam hati dan jernih fikirannya. Ada pepatah yang mengatakan kesempatan itu tidak datang dua kali tapi saya pikir kesempatan itu akan selalu ada untuk orang yang mengetahui bagaimana memberikan kesempatan orang lain agar diberikan kesempatan orang lain.

    ReplyDelete
  8. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Guru memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya untuk membuat siswa pandai seperti yang diamanahkan dalam tujuan pendidikan. Langkah guru bagaimana memberikan kesempatan kepada siswa agar bisa berkembang dan mengembangkan kemampuan serta keterampilan siswanya.

    ReplyDelete
  9. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Sebenar-benar Filsafat itu adalah refleksi. Tak perlu menjadi sombong tetapi tetap ikhlas dalam bertindak dan dalam berucap. Guru berhak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan, memberikan pendapatnya, mengkontruksikan pengetahuannya, menanyakan keragu-raguannya dan lain-lainya begitu pula siswa juga memberi kesempatan pada gurunya.

    ReplyDelete
  10. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Ketika seorang guru hanya menyampaikan ilmunya kepada muridnya dan mendiskripsikan dirinya, maka bisa dikatakan dia melakukan pembunuhan secara perlahan. Itu sama saja seperti kesombongan seorang guru. Guru memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya untuk membuat siswa pandai seperti yang diamanahkan dalam tujuan pendidikan.

    ReplyDelete
  11. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    seorang guru selalu memiliki kesempatan emas yang tak dimiliki orang lain. Seorang guru lah yang mampu membentuk siklus pendidikan. Dari murid-muridnya tersebut akan ada lagi yang menjadi guru yang mengajarkan dan akan lebih banyak pula yang memili kesempatan lain dalam menjalani hidupnya agar menjadi benar-benar hidup.

    ReplyDelete
  12. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Setelah membaca elegi ini, menurut saya tugas guru tidak hanya mengajar atau mentransfer materi kepada peserta didik, akan tetapi juga memfasilitasi peserta didik dengan mengkondisikan kelas sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat belajar dengan mudah. Dengan demikian, peserta didik akan semangat dalam belajar dan aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya berani mengemukakan pendapat ketika diskusi dengan teman-temannya. Selain itu, guru juga harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terus meningkatkan kemampuan berpikir siswa serta merefleksi diri terhadap apa yang telah dilaksanakan selama mendidik dan membimbing siswa-siswinya.

    ReplyDelete
  13. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs PEP B 2016

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Hal yang sama juga terjadi dalam miniature kehidupan seperti sekolah. Interaksi antara guru dan murid adalah memberi dan diberi kesempatan sehingga guru dapat hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Seorang guru seharusnya memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan sebaik baiknya, yakni belajar dengan membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan pemahaman dan pengalaman sebelumnya. Begitupun dengan guru yang seharusnya diberi kesempatan untuk membantu muridnya dalam membangun pengetahuannya. Hingga terciptalah hidup yang sebenar-benarnya dalam kelas. Masing-masing punya kesempatan untuk memberi dan diberi.

    Terima Kasih,
    Wassalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  14. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs PEP B 2016

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Elegi guru menggapai kesempatan ini sontak mengingatkan saya pada sabda baginda Rasulullah SAW. terkait memanfatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tersebutlah lima perkara sebelum lima perkara, yakni gunakanlah masa muda mu sebelum datang masa tuamu, gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, gunakan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, gunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan gunakan hidupmu sebelum kematianmu. Maka sesungguhnya kesempatan merupakan salah satu anugerah terindaah yang diberikan oleh Allah SWT. Sebenar-benarnya orang sukses adalah orang yang pandai dalam menggunakan kesempatannya.

    Terima Kasih,
    Wassalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  15. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan. Ciri-ciri guru menutup sifat-sifat murid-muridnya: jika kau katakan muridmu sebagai malas, padahal dia belum tentu malas. Jika engkau katakan bahwa muridmu bodoh, padahal belum tentu dia bodoh. Ketika kamu bicara sementara muridmu mendengar. Ketika kamu bekerja sementara muridmu melihat. Ketika kamu bertanya sementara muridmu berusaha menjawab. Ketika kamu berinisiatif sementara muridmu menunggu. Ketika kamu menyuruh sementara muridmu melaksanakannya. Ketika kamu menilai prestasi. Padahal sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan.

    ReplyDelete
  16. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kesempatan memang sangat banyak, termasuk memilih doing nothing adalah kesempatan. Tetapi dalam konteks sebagai siswa, mereka yang terpaksa doing nothing atau lebih tepatnya pasif tidak bisa dikatakan memiliki kesempatan juga, karena keadaannya sebagai "yang dikuasai".

    ReplyDelete
  17. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kesempatan bagi siswa adalah keadaan dimana tidak ada sifat yang ditutupi. Maka tugas guru adalah untuk tidak menutup sifat-sifat tersebut. Maka bisa dikatakan guru itu angkuh jika tidak bisa memberikan siswanya kesempatan. Tapi saya pun juga adalah kontradiksi jika mampu berkata-kata tapi belum bisa melaksanakan. Sehingga sebagai manusia yang selalu memiliki kontradiksi harus merefleksi dirinya, ikhlas, dan membersihkan hati serta pikiran

    ReplyDelete
  18. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Guru memang harus selalu memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk dapat berkembang/ mengembangkan diri mereka masing-masing. Guru tidak boleh mengubah/ membentuk murid-murid seperti apa yang ia kehendaki, sebab itu artinya guru telah merampas hak/ mematikan sifat mereka.

    ReplyDelete
  19. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hidup adalah kontradiksi. Apa yang ada dalam fikiran kita memang penuh dengan kontradiksi. Oleh karena itu tidak masalah jika kita mengalami kebingungan dalam berfikir, sebab itu artinya kita sedang dalam proses be
    ajar. Akan tetapi dalam hati kita tidak boleh mengalami kebingungan. Apa yang ada dalam hati harus benar-benar kita yakini.

    ReplyDelete
  20. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Kesempatan merupakan keadaan untuk dapat melaksanakan sesuatu. Siswa mempunyai banyak kesempatan di kelas untuk berkreasi dalam belajar matematika. Begitu juga dengan guru, guru juga mempunyai kesempatan untuk mengajar siswa dengan selalu berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran dan merefleksi diri untuk menuju yang lebih baik.

    ReplyDelete
  21. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Guru sebaiknya selalu memberikan kesempatan kepada muridnya untuk berusaha mengikuti pembelajaran dengan baik, menjadikannya pandai dan tidak menutup sifat-sifat mereka seperti yang telah dijelaskan dalam elegi ini.

    ReplyDelete
  22. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

    Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

    hal yang sama juga berulang kali dikatakan oleh bapak masigit dalam perkuliahan di kelas bahwa keragu-raguan dlam pikiran itu bagus, berarti kita belajar. keragu-raguan dalam hati jangan sampai terjadi karea itu adalah gangguan syaitan.

    ReplyDelete
  23. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    kasus-kasus yang baru-baru ini tejadi pada perbedaan jawaban gur dengan jawaban siswa, permasalahannya adlah "sendok yang digunakan untuk makan ada 6. ibu masih punya 14 sendok yang belum dipakai. jadi berapa jumlah sendok ibu?" jawaban siswa 6+14 = 20 dan kemudian guru menyalahkan siswa dengan menjawab memberkan jawaban yang bena adaah 14 - 6=8. sifat gur yeng demikian menurut aya adalah sifat yang menutup hidup siswa. gur menunjukkan sifat kedewaannya, guru menunjukkan sifat arogannya. permsalahan matematika yang tidak salah, karena matematika sekolah bersifat kongkrit yang penuh dnegan kontradiksi, bagiaman guru memanfaatkan kontradiksi tersebut menjdi sebuah kesesuaian. seharusnya permasalahan yang diberikan bersifat terbuka, jika buku tidak enyediakannya, maka guru haruslah membuka/menambahkan/memodifikasi soal tersebut mejadi soal terbuka, sehingga, siswa mnajdi aktif bbeabs berpendapat, bebsa berfikir, sehingga kitaguru tidak menutup kehidupan siswa, dan menurunkan kedewaan guru ke bumi.

    ReplyDelete

  24. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Elegi menggapai kesempatan ini mengajarkan kepada kita para guru maupun calon guru, untuk belajar belajar dan senantiasa belajar memahami keadaan. Keadaan yang dimaksud di sini adalah keadaan belajar peserta didik, karena peserta didik adalah tanggung jawab kita selama proses pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Kesempatan ini memang bermacam-macam. ada kesempatan untuk mengetahui kebutuhan siswa, mengetahui letak kesulitan yang dihadapi siswa, kesempatan untuk mencari tahu tipe belajar siswa, dan lain sebagainya., Sebagai seorang guru hendaknya memahami karakteristik dari hal-hal tersebut, hal ini diperuntukan agar guru dapat memahami siswanya dengan baik sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar ke depannya.

    ReplyDelete
  25. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Allah memberikan kita kehidupan yang indah. Kehidupan ini adalah kesempatan dan kesempatan ini silih berganti dan bervariasi. Kesempatan dapat berupa kedudukan atau jabatan, dan sebaik-baiknya kesempatan adalah bermanfaaat bagi orang lain. Dalam memanfaatkan kesempatan kita sebagai guru, maka sebenar-benar gur menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Berikan kesempatan kepada murid untuk menggapai kesempatannya meraih cita-citanya, mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Dalam mengajar, guru tidak hanya menyampaikan apa yang menjadi kehendaknya, namun juga perlu mendengarkan pendapat muridnya. Dengan mengajak murid untuk berdiskusi, maka guru memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dan murid akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.

    ReplyDelete
  26. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, namun itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Saya setuju dengan penyataan ini, karena dengan memberi kesempatan kepada murid untuk bertanya, guru akan mengetahui apakah muridnya sudah memahami pelajaran yang ia terangkan. Langkah guru untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya tentang bagian yang sulit ia pahami dapat memperbaiki ketidakpahaman, dan bagi murid yang lain dapat mengambil manfaat ketika mendengarkan jawababan dari pertanyaan yang diajukan. Adanya pertanyaan dari murid juga sebagai introspeksi bagi guru untuk kembali mengevaluasi cara penyampaian pelajarannya, yaitu ketika ia mengetahui dari pentanyaan-pertanyaan yang disampaikan murid-muridnya bahwa muridnya belum memahami pelajaran dengan baik

    ReplyDelete
  27. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Sungguh bijak perkataan orang tua berambut putih “hatimu adalah jiwamu, hatimu adalah hidupmu, barang siapa baik hatinya maka baik pula kehidupannya, dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Setiap orang memiliki cermin didalam dirinya, yaitu hati nurani. Sayangnya kita sering mencampakkan nurani kita bahkan membunuhnya dengan perilaku-perilaku kita, sehingga tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Wahai Tuhan yang Maha membolak balikkan hati, tetapkan hatiku untuk senantiasa berpegang pada agamaMu….

    ReplyDelete
  28. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Selamat Malam Prof..

    Setelah membaca elegi di atas, saya menjadi tersadar bahwa di dalam kehidupan, terdapat suatu hubungan sebab akibat. Kita bisa menjadi sebab dalam kehidupan orang lain, dan apa yang terjadi dalam hidup kita bisa jadi merupakan akibat. Begitupun dengan seorang guru. Guru memiliki pilihan untuk menutup sifat muridnya atau memberikannya kesempatan. Dengan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, itu artinya guru telah berusaha untuk tidak menutup sifat muridnya serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dirinya. Teringat pada suatu peribahasa, guru kencing berdiri dan murid kening berlari. Guru adalah sepatutnya sebagai sosok tauladan bagi siswanya.

    ReplyDelete
  29. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Kesempatan lah yang menjadikan seseorang hidup. Menjadi seorang guru merupakan kesempatan yang sangat baik. Dengan menjadi guru yang baik, ada banyak kesempatan untuk bisa menghidupkan murid-murid karena sebenar-benar hidup adalah yang dapat menhidupkan.. Menjadi guru yang bisa menghidupkan murid-muridnya tidak mudah. Guru harus melepaskan pakaian 'kedewaannya.' Guru harus menjaga diri dari motif yang sangat mungkin dapat menghampirinya.

    ReplyDelete
  30. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Lagi-lagi saya memenemukan bahaya sifat sombong dalam diri manusia. Sifat sombong dapat menutup sifat-sifat yang ada pada diri orang lain. Sifat sombong dapat menghilangkan dan menutup kesempatan, sifat sombong menjadikan hidup kita menjadi mati.

    ReplyDelete
  31. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Guru adalah sebagian perantara awal generasi muda mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, maka bagaimana guru mampu menciptakan suasana pembelajaran dengan prinsip student center. Karena dengan adanya student center ini siswa diminta aktif, kreatif, inovatif. Guru sebagai fasilitator yang bertindak mengamati dan mengarahkan yang belum sesuai dengan yang sebenarnya. itulah yang sesuai dengan elegi yang guru tidak menutupi siswanya.

    ReplyDelete
  32. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Hidup itu penuh dengan misteri, untuk menuju kesempurnaan harus menempatkan hati, pikiran, jiwa dengan penuh keikhlasan, jauh menghindari kesombongan, karena kesombongan adalah penyakit hati. Penyakit yang dapat meluas dengan tidak disadari. Hati, pikiran dan jiwa yang baik akan membuat hidup baik disertai keikhlasan, ikhtiar, tawakal dan doa. Dan sebaliknya hati, jiwa, pikiran yang buruk maka hidup akan menjadi buruk. Na'udzubillahi mindalik.... semoga kita dijauhkan darinya.

    ReplyDelete
  33. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Apabila dalam hidup menyadari ada yang tidak sesuai dengan ajaranNya maka segeralah mohon ampun atas segala kekhilafan yang telah diperbuat dan tobat tidak akan megulangi lagi. Karena Allah adalah Maha Pemaaf. Berbuat lebih baik dari yang telah dipebuat sebelumnya. aamiin yra

    ReplyDelete
  34. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Setelah membaca elegi ini, saya mendapatkan information bahwa seorang guru tidak boleh menutup kesempatan murid-muridnya. Ketika seorang guru hanya menyampaikan ilmunya (transfered of knowledge) kepada muridnya dan mendiskripsikan dirinya, maka bisa dikatakan dia melakukan pembunuhan karakter secara perlahan kepada murid-muridnya. Itu sama saja seperti kesombongan seorang guru. Padahal disini dijelaskan ketika kita ingin berfilsafat, kita harus dapat melihat dirinya. Ketika kita ingin merefleksi diri, kita juga harus menghindari kesombongan yang ada dalam diri kita. Selalu bersyukur atas kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

    ReplyDelete
  35. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hidup yang kita jalani ini adalah kontradiksi. Apa yang ada dalam pikiran kita memang penuh dengan kontradiksi dengan apa yang kita peroleh di luar pikiran (yang kita alami). Oleh karena pikiran itu bersifat tetap, sedang di luar pikiran itu sudah banyak sekali perjuangan karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Oleh karena itu tidak masalah jika kita mengalami kebingunganan dalam berpikir, sebab itu artinya kita sedang dalam proses be
    ajar. Namun, apa yang ada di dalam pikiran kita, supaya tetaplah ada di dalam pikiran kita yang bersifat tetap, absolut, dan konsisten.

    ReplyDelete
  36. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Bisa dikatakan bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara memberi dan diberi kesempatan. Interaksi antara guru dan murid adalah memberi dan diberi kesempatan sehingga guru dapat hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Seorang guru seharusnya memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan sebaik baiknya, yakni belajar dengan membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan pemahaman dan pengalaman yang mereka miliki. Baik melalui intuisi yang secara eksplisit atau tidak. Begitupun dengan guru yang seharusnya diberi kesempatan untuk membantu muridnya dalam membangun pengetahuannya. Hingga terciptalah pembelajaran yang sebenar-benarnya dalam kelas. Masing-masing dapat berkesempatan dan diberi kesempatan, saling melengkapi.

    ReplyDelete
  37. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Ketika kita akan bertindak dan punya kesempatan untuk memilih mana tindakan yang baik dan buruk, kembalilah pada tujuan awal bahwa pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya dan menggapai sebenar-benar ilmu. Guru yang seperti inilah yang merupakan guru yang selalu memberikan kesempatan yang luas terhadap siswa dalam mengembangkan potensinya melalui proses pembelajaran di kelas.

    ReplyDelete
  38. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Kesempatan adalah suatu keadaan dimana keadaan tersebut tidak tertutupi oleh keadaan yang lain, atau dapat juga dikatakan suatu sifat tidak menutupi sifat yang lain. Maka ketika kita ingin sukses sebagai seorang guru maka jangalah menyia-nyiakan kesempatan yang ada demi kesuksesan guru dan keberhasilan murid-muridnya. dan sebagai guru janganlah menjadi manusia yang menutupi keterampilan murid-muridya, sehingga murid-murid tersebut bisa saja menjadi bayangan kita. untuk itu jangalah seperti itu dan terus ambil kesempatan dalam keberhasilan.

    ReplyDelete
  39. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Di dalam kehidupan kita banyak menemukan sebuah pilihan-pilihan hidup yang membuat kita berhenti sejenak dan berpikir untuk mengambil jalan hidup yang tepat untuk diambil. Dan tidak sedikit yang menjatuhkan pilihan untuk diam dan tidak mengambil kesempatan tersebut sehingga tidak ada yang bisa ia dapatkan. Sehingga, ambil kesempatan itu dan senantiasa lakukan refleksi. Ketiaka memang kita mengambil pilihan yang salah, tidak ada kata terlambat dan malu untuk memperbaiki. Refleksikan dan perbaiki. Maka kita tidak akan menjadi orang yang merugi.

    ReplyDelete
  40. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kesempatan adalah situasi terbaik yang sedang kita hadapi di mana kita memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan hasil akhir yang terbaik pula.
    Bagaimana cara kita mengetahui bahwa saat ini kita sedang berada dalam “kesempatan”? Sadarilah bahwa kita memiliki kesempatan untuk hidup hari ini. Lakukanlah hal yang berarti setiap detiknya karena detik-detik yang telah berlalu tidak akan pernah kembali dan kita juga tidak bisa memperbaiki kesalahan masa lalu.

    ReplyDelete
  41. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kita sebagai mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengubah masa depan mulai dari sekarang. Saat kita ingin menjadi orang yang sukses, maka kita harus belajar dengan sungguh-sungguh. karena yang bersungguh-sungguh dialah yang berhasil

    ReplyDelete
  42. Sebagaimana yang kita ketahui dalam elegi ini, kesempatan adalah kemerdekaan, kesempatan adalah keadaan, dan kesempatan adalah hidup, dan seorang guru memiliki kesempatan emas untuk menghidupkan murid-muridnya. Oleh karena itu, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk tumbuh dan berkembang sendiri, misalnya guru mendengarkan ide-ide atau pemikiran-pemikiran mereka mengenai suatu hal, karena disitulah guru memberikan kesempatan pada murid-muridnya untuk mengembangkan pemikiran mereka. Dan sebagai seorang guru jaganlah kita menutup kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang. Seperti kata bijak “ Jika kau memiliki pengetahuan, biarkan orang lain menerangi lilin mereka pada pengetahuanmu (Margaret Fuller)”.


    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  43. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    In my opinion, this is wonderful elegy. Well, Opportunity is condition. Become a teacher is really difficult thing. Teacher should be patient, patient, and patient. Life of students is life of teacher. So, for teacher, students is really important person. Teacher should be facilitator for students. Make the classroom become students domination. Make students become active. That is opportunity that are gived by teacher. So, for teacher, students is their life. I think that is enough. Thank you.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seftika Anggraini
      13301241013
      Pendidikan Matematika I 2013

      Saya setuju dengan pendapat Mbak Kumala bahwa menjadi guru adalah suatuhal yang sulit. Selain guru harus selalu sabar, guru juga harus selalu peduli dan paham dengan keadaan siswa. Guru harus bisa mencioptakan pembelajaran yang membantu siswa mengembangkan diri siswa sendiri. Itulah sejatinya tugas guru, yaitu memfasiliasi siswa.
      Terima kasih

      Delete
  44. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016


    Guru menjadi sosook yang mengemban tanggung jawab besar atas profesinya. Semua yang terjadi didalam proses pembelajaran semua bergantung pada bagaiamana, mengapa, dan apa yang akan diberikan kepada siswa dikelas. Agar siswa memperhatikan, agar siswa termotivasi, agar siswa mampu mengkonstruk pengetahuannya, agar siswa belajar bermakna. Guru memiliki partisipasi yang besar dalam tujuan ini dan pada akhirnya guru perlu kesempatan yang besar mencari lagi dan belajar lagi bagaimana untuk mengatasi kondisi yang wajib ia emban

    ReplyDelete
  45. 16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Guru adalah pemimpin bagi siswa dalam pembelajarannya, bagi kolega atau teman-teman seprofesinya, dan bagi dirinya sendiri. Guru adalah pemimpin ketika ia sedang melaksanakan pembelajaran di kelasnya. Ia adalah pemegang kendali dan pengambil keputusan saat melaksanakan pemebalajaran. Setiap saat guru harus melakukan suatu tindakan sebagaimana seorang pemimpin di dalam kelasnya. Bagi kolega atau teman seprofesinya, seorang guru juga merupakan pemimpin, tentu saja bukan pemimpin dalam arti formal. Seorang guru yang profesional akan mampu menjadi seorang yang berdiri di depan menunjukkan bagaimana seharusnya menjadi guru yang berkualitas bagi guru-guru lainnya. Bagi dirinya sendiri, seorang guru juga adalah pemimpin. Apapun yang ia lakukan dalam menjalani profesinya sebagai guru tergantung bagaimana ia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia harus dapat menentukan dan memutuskan apa yang harus ia lakukan demi menjadi guru yang baik dan profesional.

    ReplyDelete
  46. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sebagai pendidik, guru harus memiliki sifat-sifat mendidik. Naluri mendidik sudah harus ada dan berkembang dalam kepribadian guru sejak awal. Naluri mengajar sudah dimiliki oleh semua orang. Namun tidak semua orang memiliki naluri mendidik. Mendidik berkaitan dengan norma (agama, sosial, hukum, dll). Mendidik juga berkaitan dengan karakter baik dan kepribadian terpuji. Tentu saja, meskipun sebagai pendidik, guru adalah manusia biasa yang tak luput dari kekurangan.Tugas pribadi pendidik adalah memerangi kekurangan itu secara berkesinambungan diantara sifat –siafat yang perlu dihindari oleh guru diantaranya: egois, gila hormat, ketidakpercayaan, mudah kecewa dan marah.

    ReplyDelete
  47. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Kesempatan itu adalah hidup, dan hidup itu adalah kesempatan. hidup dan kesempatan saling berkaitan satu sama lain. Kesempatan adalah dimana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Sebagai guru yang baik, seorang guru harus memberikan kesempatan kepada siswa nya untuk mengaktualisasikan diri nya dan juga untuk menghidupkan para siswanya. Sebanar-benar guru yang dapat menggapai kesempatan adalah guru yang dapat menghidupkan siswanya dan tidak menutupi sifat-sifat siswa nya.

    ReplyDelete
  48. Manusia yang tidak memiliki kesempatan itu sangat menakutkan, ia hidup dalam kehidupan tanpa pilihan dan berada di sebuah jalan lurus tanpa ujung. Manusia tidak punya intuisi dan tidak punya pilihan, berada di titik yang tak lagi jemu, namun mitos yang tidak akan pernah berubah kembali menjadi logos. Apa risikonya menjadi mitos? Ia akan berada di titik paling rendah sekaligus kecil. manusia di titik yang ia sendiri tak bisa lihat, sayangnya ia tidak bisa bisa lihat. Berarti manusia itu sudah selesai dalam perspektifnya sendiri.
    Cabang bisa diciptakan untuk ditangkap tiap manusia lain dalam rangka mengubah paradigma. Paradigma yang digapai adalah susunan mitos mitos untuk membuat sebuah elegi baru yang tentu membuatnya memahami dan terus berjalan. Menggapai kesempatan demi menjadi logos adalah keuntungan besar.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 UNY PEP

    ReplyDelete
  49. Manusia dalam elegi kehidupan yang ia ciptakan selalu berlomba untuk dapat menghadapi kontradiksi-kontradiksi dalam hidup yang sengaja ia buat atau tidak. di era ini, sudah tidak mudah untuk mencapai sesuatu tanpa melalui perjuangan yang tidak ringan. Dalam kehidupan yang dijalani setiap manusia pasti mempunyai kesempatan untuk dengan mudah dapat mencapai suatu tujuan yang diinginkan.

    Beruntungnya manusia yang masih memiliki kesempatan di setiap waktunya, baik luangnya maupun sempitnya. Manusia berkembang dalam himpunan yang mereka buat sendiri, maka sebaik-baiknya manusia yang bisa membuat peluangnya dalam setiap perspektif yang nyata dan riil untuk umat dalam himpunananya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 UNY PEP

    ReplyDelete
  50. Seperti orang yang lemah dalam ketakutannya sendiri, bila kesempatan yang ia nanti belum jua datang dia akan menunggu dan menunggu dengan penantian yang kosong atau penantian depan yang baik, sampai kesempatan itu datang. atau memang kesempatan itu sudah hilang dan terlewatkan. Apabila sekian lama ditunggu kesempatan itu belum juga datang, maka dia akan mengambil keputusan

    Keputusan apa yang bisa diambil dan putusan apa itu?

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 UNY PEP

    ReplyDelete
  51. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Setiap orang pasti memiliki kesempatan yang baik, untuk itu saat menemukannya janganlah menyia-nyiakan kesempatan itu. Kita perlu memanfaatkan kesempatan baik itu dengan sangat baik. Karena kesempatan baik itu tidak muncul setiap harinya. Jadi saat menemuinya haruslah segera bertindak cepat.

    ReplyDelete
  52. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Hidup adalah tentang memanfaatkan kesempatan yang ada. Sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Dan janganlah kita menutupi potensi yang ada dalam diri siswa dengan sikap guru yang mendominasi. Berilah mereka kesempatan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.

    ReplyDelete
  53. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

    ReplyDelete
  54. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Guru memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya untuk membuat siswa pandai seperti yang diamanahkan dalam tujuan pendidikan. Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaanmu dan kegiatanmu sebagai guru menutup sifat-sifat murid-muridmu. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan.

    ReplyDelete
  55. Kesempatan adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Kesempatan hanya akan didapat ketika masih hidup. Wajib bagi guru untuk selalu menghidupkan murid-muridnya. Sebagai guru harus selalu terbuka dengan permasalahan yang menghambat siswanya untuk faham. Menghidupkan suasana belajar tanpa memandang sifat dan perilaku buruk siswa. Justru menjadikan keberagaman sifat ini sebagai kesempatan untuknya dalam membimbing dan mendidik siswa ke arah yang benar. Tidak menutup diri dan bahkan tidak peduli dg permasalahan siswa.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  56. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Guru menggapai kesempatan adalah ketika guru dapat menyadari kelemahannya kemudian berusaha mengambil kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi dalam upaya merefleksikan dirinya. Guru menggapai kesempatan juga adalah guru yang memberikan kesempatan pada dirinya untuk berbagi pengetahuan dengan siswanya dan siswanya pun bisa mengambil kesempatan untuk belajar dengan gurunya. Maka sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika siswanya menggapai kesempatan juga.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  57. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Dari elegi di atas dapat diambil pelajaran bahwa murid itu bukan seperti gelas kosong yang siap diisikan air oleh gurunya. Biarkanlah mereka berkembang mekonstuksikan pengetahuan mereka sendiri. Tugas guru hanya sebagai fasilitator. Memberikan kesempatan pada murid untuk berekspresi tentang pengetahuan merupakan langkah guru menggapai kesempatan.

    ReplyDelete
  58. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Kesempatan akan selalu datang di setiap kehidupan seseorang, begitu pula ketika belajar. setiap proses belajar itu berarti siswa diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang diajarkan. dan guru dalam hal ini perlu memberikan kesempatan kepada siswa memilih cara belajar, cara menyalurkan informasi yang guru berikan dan cara menyimpulkan pengetahuan yang ia dapat. selayaknya guru hanya menjadi fasilitator bagi siswa dalam memanfaatkan kesempatan tersebut.

    ReplyDelete
  59. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Elegi guru menggapai elegi adalah ungkapan orangtua berambut putih yang tidak ingin menutupi sifat guru tersebut, sesungguhnya kita bisa memberi judul guru memberikan kesempatan, namun tidak akan bijak rasanya. Disinilah sebenar-benar filsafat yaitu refleksi kita terapkan. Kita sebagai guru janganlah sampai menutupi sifat-sifat murid, jangan pernah tergesa-gesa dalam melabeli murid, berilah kesempatan murid untuk menyampaikan pendapat dan dengarkan. Disinilah sebenar-benar elegi menggapai kesempatan.

    ReplyDelete
  60. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Setiap manusia pasti mempunyai pilihan dalam hidupnya. Dan setiap manusia juga dapat bebas memilih jalan hidupnya masing-masing. Perlu pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan jalan mana yang harus dipilih. Pertimbangan dapat dilakukan dengan meminta pendapat ataupun nasehat dari orang-orang sekitar. Dan yang terpenting harus selalu berserah diri dan berdoa akar setiap langkah yang kita pilih merupakan langkah yang terbaik untuk kita. Terima kasih

    ReplyDelete
  61. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013
    Seorang guru selalu memiliki berbagai kesempatan. Guru hanya tinggal memilih kesempatan yang mana. Guru dapat memilih pembelajaran yang seperti apa untuk muridnya. Apakah pembelajaran student center ataupu teacher center. Dari pilihan guru inilah nanti akan berakibat pada hasil yang diperoleh siswa dalam pembelajaran. Semoga setiap pilihan tersebut dapat menghasilkan hasil yang baik untuk siswa sehingga ilmu dapat seluruhnya diperoleh dan bermanfaat bagi siswa

    ReplyDelete
  62. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013
    Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”. Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa guru itu kuasa terhadap muridnya, di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. Maka guru itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya. Sehingga sebenarnya beban guru sangat berat karena harus menentukan siswa harus mendapatkan apa dll. Dari pilihan guru inilah nanti akan berakibat pada hasil yang diperoleh siswa dalam pembelajaran. Semoga setiap pilihan tersebut dapat menghasilkan hasil yang baik untuk siswa sehingga ilmu dapat seluruhnya diperoleh dan bermanfaat bagi siswa. AMIN

    ReplyDelete
  63. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013
    Guru yang baik adalah guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-muridnya. Karena disadari atau tidak disadari guru memiliki kuasa untuk menutup sifat muridnya. Sehingga seorang guru memiliki kesempatan untuk memilih pembelajaran yang bisa menggembangkan potensi siswa dan menghidupkan siswa. Pembelajaran yang dapat dipilih salah satunya adalah pembelajaran student center, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa dituntut aktif dalam setiap pembelajaran. Pembelajaran yang bervariasi juga perlu dipilih untuk mengembangkan semua potensi siswa.

    ReplyDelete
  64. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend Matematika S2 Kelas B

    Kita sebagai guru hendaknya mau memberikan kesempatan kepada siswa. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”. Hendaknya kita sebagai guru dapat memberikan kesempatan siswa untuk memperoleh keterampilan matematika, membangun konsep dan pengertiannya sendiri, menemukan rumus-rumus matematika. Semoga kita sebagai guru mampu memberikan kesempatan untuk mempelajari matematika yang beraneka ragam, dengan alat peraga atau fasilitas yang beraneka ragam pula, dengan buku matematika yang beraneka ragam pula, dengan kompetensi yang beraneka ragam pula, dengan waktu yang beraneka ragam pula, walaupun mereka semua ada dalam satu kelas, yaitu kelas pembelajaran matematika yang akan kita selenggarakan. Karena apabila kita tidak memberikan kesempatan pada siswa maka dapat dikatakan pembunuhan karakter, padahal niat awal membangun karakter namun cara yang digunakan adalah cara membunuh karajter. Semoga kelak jika menjadi guru kita terhindar dari upaya pembunuhan karakter murid dan diberi rahmatNya agar senantiasa mampu meberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan ilmunya

    ReplyDelete
  65. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Menurut sepemahaman saya, elegi seorang guru menggapai kesempatan ini menjelaskan tentang bagaimana sebenarnya peran seorang guru di dalam dunia pendidikan. Yang dimaksud kesempatan di dalam dunia ini adalah keadaan dimana keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”. Oleh karena itu, sebagai seorang guru, guru tidak boleh menutu sifat muridnya. Guru tidak boleh bersifat otoriter, berkuasa di dalam kelas, memaksakan kehendak kepada murid. Biarkan murid bebas berekspresi, dalam artian bebas mengemukakan ide, gagasan pendapat, ide mengenai apa yang mereka pelajari di dalam kelas, biarkan mereka membangun sendiri konsep pengetahuan yang ada. Guru berperan sebagai fasilitator yang akan mengarahkan atau membimbing jika ada kesalahan yang dilakukan oleh murid dalam memahami suatu konsep sehingga nantinya akan mempermudah di dalam memahami konsep-konsep selanjutnya.

    ReplyDelete
  66. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Setelah membaca elegi ini, saya menjadi sadar bahwa begitu banyak dosa yang dilakukan guru kepada siswa-siswanya. Ketidakhati-hatian guru dapat menutup sifat yang seharusnya milik siswa. Menutup sifat ini berarti mengambil atau merebut kesempatan yang dimiliki oleh siswa. Sesungguhnya siswa berhak atas semua itu, semua yang biasa dilakukan guru itu seharusnya keempatan yang diberikan untuk siswa.


    Terima kasih

    ReplyDelete
  67. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kesempatan itu tentang milik siapa dan untuk siapa. Merebut kesempatan dan memberi kesempatan adalah dua hal yang seharusnya dapat kita bedakan dan seharusnya kita menjadi cerdas jika berbicara kesempatan. Kesempatan siswa untuk belajar, kesempatan siswa untuk berbicara, kesempatan siswa untuk menjadi kreatif, dan kesempatan-kesempatan lainnya adalah milik siswa dan bukan milik guru.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  68. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hati adalah rahmat-Nya dan hati adalah doa, Hati adalah ibadah. Dari kalimat tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa hati adalah tentang bagaimana kedekatan kita dengan-Nya. Mendekatkan diri dengan ibadah dan doa untuk mencapai hati yang bersih seperti yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  69. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh.

    Elegi guru memberikan kesempatan. Tersirat bahwa kata kesempatan tersebut berkonotasi positif. Kesempatan itu adalah semangat, kesempatan bertanya, menjawab, motivasi, materi pembelajaran, pola pikir visioner dan hal positif lainnya termasuk hikmah pengalaman seorang guru. Guru yang berhasil menggapai kesempatan adalah guru yang mampu mentransfer seluruh kesempatan tersebut kepada murid sehingga sang murid juga menerima kesempatan dan bisa menerapkan serta mengkonstruksikan hidup mereka di masa yang akan datang. Guru mengarahkan dan menggiring murid untuk belajar dan memanfaatkan kesempatan tersebut.

    Ketika murid mendapatkan kesempatan tersebut maka ia juga akan memberikan kesempatan kepada yang lain agar memperoleh kesempatan yang sama. Di sini terjadi hubungan memberi dan diberi. Ketika kita sudah menerima, maka selanjutnya kita memberi. Ketika kita sudah memberi maka selanjutnya kita akan menerima kesempatan kesempatan yang lain.

    Guru mengajarkan bahwa setiap orang itu menginspirasi dan terinspirasi. Raihlah selalu kesempatan kesempatan itu karena hidup tidak pernah jauh dari memberi dan diberi.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh.

    ReplyDelete
  70. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Berdasarkan elegi ini saya mendapatkan arti dari kesempatan. Kesempatan banyak diartikan sebagai keadaan, kemerdekaan, sifat, dan lain-lain. Sejatinya kesempat selalu ada selama kita masih bernafas, namun yang menjadi berat kapan kesempat itu kita tetapkan disaat yang tepat dan dalam keadaan yang benar. Kesempatan yang kita miliki selalu terhubung dengan kesempatan orang lain, sedangkan kesempatan itu sangat banyak. Sebagai seorang calon guru saya mendapat banyak wejangan dari prof. Marsigit tentang menjadi guru dan memilih kesempatan. Bagaimana kesempatan kita ditetapkan, bagaimana memberikan kesempatan kepada murid untuk berkembang sesuai sifat-sifatnya, dan bagaimana cara melihat kesempatan orang lain (murid) yang terhubung dengan kesempatan kita (guru). Yang jelas kesempatan harus dipilih dengan memandang kesempatan orang lain dan menggunkan hati yang tak terinfeksi penyakitnya hati, agar mendapatkan kesempatan di saat yang tepat dan benar.

    ReplyDelete
  71. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Elegi yang memuat percakapan antara seorang guru dan orang tua berambut putih ini sangat menarik dan mudah dipahami.
    Bahwa hakikat ilmu adalah ketika kita menyadari kelemahan dan memohon ampun kehadirat Allah swt. Dan dalam berfilsafat, kita harus selalu refleksi, melihat diri sendiri.
    Karena hidup sendiri sudah merupakan kesempatan, maka jangan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan.

    ReplyDelete
  72. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    “Sebenar-benar guru menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya”. Dari pernyataan tersebut tersirat nilai-nilai kebijaksanaan yang luar biasa. Begitu besar tanggup jawab yang besar dari seorang guru. Dikatakan disana adalah “murid-muridnya”, yang berarti jamak, tidak hanya satu. Maka bisa dibayangkan betapa luar biasanya menjadi seorang guru itu. Membimbing siswanya supaya dapat berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa. Menghidupkan murid-muridnya itu berarti guru menransfer ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya agar muridnya kelak dapat hidup dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang telah diberikan guru.

    ReplyDelete
  73. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Sejatinya seperti yang diuraikan elegi di atas, seorang guru dapat dikatakan berhasil menggapai kesempatan apabila beliau berhasil membuat para muridnya hidup. Hidup dalam artian para murid bebas mengekspresikan apa yang mereka tahu, apa yang mereka fahami, bebas bertanya apabila mereka benar-benar tidak tahu akan suatu hal. Seorang guru juga tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada para muridnya, jangan buat murid merasa terbebani, jangan buat murid merasa terkekang dalam belenggu kuasa guru. Bersikap menjadi pendengar yang baik ketika para murid sedang berbicara menyampaikan apa yang mereka tahu, menjadi penonton yang baik ketika para murid mengespresikan apa yang mereka ingin ekspresikan dan menjadi pemberi masukan atau saran yang baik ketika para murid melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

    ReplyDelete
  74. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dalam elegi ini menceritakan bagaimana peran guru dalam proses pembelajaran. Guru memiliki wewenang dalam mengatur proses pembelajaran baik mengatur jalannya pembelajaran maupun segala tingkah laku siswa. Guru juga memiliki kekuasaan dalam kelas. Guru dapat menggapai kesempatan apabila guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Guru juga tidak memaksakan kehendak siswa dengan menggunakan cara-cara guru. Namun, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkontruksi konsep yang telah diberikan.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  75. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Betul-betul luar biasa ternyata kesempatan itu banyak sekali, Hidup adalah kesempatan..Kita tinggal memilih kesempatan mana yang diambil. Dengan kesempatan itulah kita hidup. Bayangkan jika kita hidup tidak diberi kesempatan makan, tidak diberi kesempatan bernapas tentulah tidak hidup. Dalam berpikir ketika kita mampu berpikir dan memikirkan sesuatu itulah kesempatan. Ketika kita mampu mengutarakan maksud kita itu juga kesempatan. Apalagi ketika kita mampu kuliah dan mendapat mata kuliah Filsafat Ilmu itu adalah kesempatan..

    ReplyDelete
  76. Miftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Dalam Elegi ini ada beberapa hal yang dapat saya peroleh. Diantaranya adalah mengenai kesempatan itu sendiri. Hidup adalah kesempatan. Kesempatan adalah hidup. Berikan kesempatan yang seluas-luasnya dan manfaatkan kesempatan yang seluas-luasnya dalam hidup.

    ReplyDelete
  77. Miftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Guru mempunyai otoritas untuk siswanya. oleh karena itu guru perlu memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk beraktivitas mengembangkan potensi dirinya. kesempatan itu akan diberikan panjang lebar, tanpa ada batasan-batasan, mestinya ini tercermin dalam pembelajaran

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id