Sep 20, 2013

Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK




Oleh Marsigit

Paralogos:
Heem...tertegun aku menyaksikan kelakuan sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Dia tidak menyadari bahwa Paramitos selalu berusaha mencelakakannya. Apa haknya Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih sok mengatur dunia dan pemberi ilmu. Inilah buktinya sekarang telah tertangkap ada seorang Ilmuwan Plagiat dan tertangkap banyak Guru Pemalsu PAK. Pilu hatiku menyaksikan kejadian-kejadian itu. Saking pilunya hatiku maka hampir-hampir aku tak kuasa bicara apalagi menulis komen-komen pada Elegi-elegi. Pikiranku belum bisa menggapai batas hatiku, bagaimana seorang Ilmuwan tega melakukan plagiat dan seorang guru bisa memalsukan PAK untuk naik jabatan atau memperoleh sertifikasi guru. Wahai Antinomi, coba ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan gonjang-ganjing ini?

Antinomi:
Wahai Paralogos, pengetahuanku itu setali tiga uang dengan pengetahuanmu. Selama ini memang kita telah memberikan keluluasaan dan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih. Kiprah mereka yang terakhir di mulai dari Perlombaan Menjunjung Langit sampai kegiatan mengungkap Misteri Sang Konveyor dan Misteri sang Kanopi. Dalam hal tertentu aku sempat mengkhawatirkan sepak terjangnya, tetapi karena itu adalah hakekatnya maka Ruang dan Waktu sajalah yang akan memberi catatan dan penilaian.

Paralogos:
Bukannya dengan tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Para Guru Pemalsu PAK itu telah membuktikan bahwa Ruang dan Waktu telah memberikan catatan dan penilaiannya?

Antinomi:
Betul apa katamu wahai Paralogos. Tetapi aku juga ingin menyampaikan bahwa peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu sebenar-benarnya adalah puncak gunung es dari fenomena yang sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini. Itulah yang terjadi bahwa Ruang dan Waktu sebetul-betulnya tidak pernah tidur. Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.

Paralogos:
Waha..kalau begitu apa sebetulnya fenomena yang selama ini terjadi?

Antinomi:
Itulah fenomenanya...yaitu pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Peristiwa tertangkapnya Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK itu adalah puncak gunung es dari pergulatan antara Ilmuwan Ada, Ilmuwan Mengada, dan Ilmuwan Pengada; serta Guru ADA, Guru Mengada dan Guru Pengada.

Paralogos:
Waha...apakah fenomenanya bersifat tunggal atau plural?

Antinomi:
Fenomenanya bersifat plural, yaitu bahwa yang terjadi adalah pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA itu bersifat plural. Maka dibawah gunung es itu ada pergulatan-pergulatan yang lain: pergulatan antara Doktor Ada, Doktor Mengada dan Doktor Pengada; pergulatan antara Dosen Ada, Dosen Mengada dan Dosen Pengada; pergulatan antara Lurah Ada, Lurah Mengada dan Lurah Pengada; pergulatan antara Guru Ada, Guru Mengada dan Guru Pengada; pergulatan antara Pejabat Ada, Pejabat Mengada dan Pejabat Pengada; pergulatan antara Presiden Ada, Presiden Mengada dan Presiden Pengada, pergulatan antara Mahasiswa Ada, Mahasiswa Mengada dan Mahasiswa Pengada; pergulatan antara Suami Ada, Suami Mengada dan Suami Pengada; pergulatan antara semua Ada, semua Mengada dan semua Pengada; dan pergulatan antara setiap Ada, setiap Mengada dan setiap Pengada.

Paralogos:
Heemmm...luar biasa kejadiannya. Aku sebagai Paralogos Sang Diraja nya para Logos saja sempat terlena tidak menyadari fenomena ini, apalagi para logos, apalagi para Bagawat, apalagi para Orang Tua Berambut Putih...Wahai para Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih..kesinilah..sudah saatnya engkau itu melakukan instrospeksi dan memperoleh input yang bermanfaat. Maka marilah kita dengarkan penuturan lebih lanjut dari Sang Antinomi ini. Wahai Sang Antinomi, coba terangkanlah apa sebetulnya yang dimaksud dengan ADA, MENGADA dan PENGADA itu?

Antinomi:
Sebetul-betul MENGADA adalah logos bagi dirimu. Jika ADA adalah tesismu maka MENGADA adalah anti-tesismu. Jika engkau telah mempunya MENGADA maka serta merta wujudmu akan berubah menjadi PENGADA. Janganlah engkau mengharap dapat menjadi PENGADA jika engkau tidak mempunyai MENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jika engkau sebut tesis dan anti-tesis maka dimana sintesisnya?

Antinomi:
Jika tesisnya adalah ADA maka anti-tesisnya adalah MENGADA. Jika anti-tesisnya adalah MENGADA maka sintetisnya adalah MENGADA.

Paralogos:
Kalimatmu yang terakhir sangat sulit aku pahami.

Antinomi:
Itulah yang terjadi. Maka sebenar-benar MENGADA adalah sekaligus tesis, anti tesis dan juga sintesis. Sedang sebenar-benar PENGADA adalah anti-tesis dari MENGADA.

Paralogos:
Maksudnya?

Antinomi:
Tidak akan ada PENGADA jika engkau tidak MENGADA.

Paralogos:
Aku masih bingung.

Antinomi:
Itulah yang terjadi, yaitu bahwa PENGADA itu juga sekaligus tesis, anti-tesis dan juga sintesis.

Paralogos:
Baiklah bisakah engkau memberikan contoh konkritnya?

Antinomi:
Misal engkau adalah MAHASISWA yang sedang menempuh perkuliahan. Maka tanda-tanganmu dalam daftar hadir merupakan bukti bahwa engkau itu ADA. Sedangkan kegiatanmu mengerjakan tugas-tugas dari dosenmu itu menunjukkan MENGADA mu. Jika engkau telah membuat tugas-tugas maka itu bukti bahwa engkau telah menjadi PENGADA, yaitu pengada akan tugas-tugasmu.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Guru, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Guru ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu mengajar, menulis dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas itu menunjukkan dirimu sebagai Guru MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Guru PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Doktor, maka Ijazahmu dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Doktor ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan dirimu sebagai Doktor MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Doktor PENGADA.

Paralogos:
Apa ada contoh yang lain?

Antinomi:
Misal engkau adalah seorang Professor, maka SK Presiden dan penulisan gelarmu di depan namamu itu pertanda bahwa engkau Ilmuwan ADA. Sedangkan kegiatan-kegiatanmu menulis itu menunjukkan bahwa engkau Ilmuwan MENGADA. Jika engkau terbukti telah memproduksi tulisan-tulisanmu itulah maka engkau telah mewujudkan dirimu sebagai Ilmuwan PENGADA.

Paralogos:
Hemmm..kamudian apa masalahnya..bukankah kita sudah cukup bangga karena kita telah mempunyai ADA nya banyak Guru Profesional, ADA nya banyak Doktor, dan ADA nya banyak Ilmuwan?

Antinomi:
Sebentar dulu. Sebuah karya mu itu adalah ADA bagi karya mu. Dan keberadaan sebuah karyamu itu belum tentu MENGADAKAN ..ADA Dirimu dan ADA diri yang lainnya. Jika karyamu itu adalah PLAGIAT atau PALSU maka karyamu itu bukanlah suatau PENGADA mu. Maka sebuah karya mu itu bisa terancam menjadi mitos dan MENIADAKAN dirimu, yaitu jika engkau merasa puas hanya membuat karya-karya PLAGIAT dan memalsukan PAK. Maka nasib dari sebuah karyamu itu persis seperti nasib dirimu yang tidak mengetahui ADA, MENGADA dan PENGADA. Itulah bahwa PLAGIAT itu adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Ilmuwan. Itulah bahwa kegiatan memalsukan PAK adalah perilaku sang Paramitos yang mengancam keber ADA mu sebagai Guru. Jika keber ADA mu terancam maka terancam pula MENGADA mu dan PENGADA mu.

Paralogos:
Kemudia bagaimana solusinya?

Antinomi:
Tiadalah ADA dirimu itu tanpa MENGADA dan PENGADA. Maka agar engkau tetap ADA tidak ada jalan lain bagi dirimu untuk selalu MENGADA. Jika engkau telah MENGADA maka PENGADA akan selalu meyertaimu. Tiadalah Ilmuwan ADA tanpa Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Ilmuwan ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Ilmuwan MENGADA. Jika engkau telah menjadi Ilmuwan MENGADA maka Ilmuwan PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu. Tiadalah Guru ADA tanpa Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Maka jika ingin tetap menjadi Guru ADA, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap menjadi Guru MENGADA. Jika engkau telah menjadi Guru MENGADA maka Guru PENGADA akan dengan sendirinya menyertaimu.

Paralogos:
Apakah aku dapat menyimpulkan bahwa sebenar-benar Ilmuwan ADA adalah Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA sekaligus? Dan sebenar-benar Guru ADA adalah Guru MENGADA dan Guru PENGADA sekaligus?

Antinomi:
Cerdas pula engkau itu. Itulah harapanku bahwa engkau sebagai partnerku akan selalu bisa memahami dan menyimpulkan fenomena yang ada. Sangat tepatlah kesimpulanmu itu bahwa Ilmuwan ADA itu adalah sekaligus Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA. Dan Guru ADA itu adalah sekaligus Guru MENGADA dan Guru PENGADA.

Paralogos:
Sebentar, jangan ditutup dulu. Bukankah di awal pembicaraan kita engkau telah menyebut Ilmuwan PLAGIAT dan Guru Pemalsu PAK? Lalu apa maknanya?

Antinomi:
Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya.

Paralogos:
Kalau begitu apakah Ilmuwan ADA tidak harus menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Dan Guru ADA tidak harus menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA?

Antinomi:
Tidak mengenal itu tidak berarti tidak ada.

Paralogos:
Lho mengapa?

Antinomi:
Itulah kelihaian dan kelembutan Paramitos. Paramitos itu pulalah yang selalu mengajakmu menyesatkan mereka untuk berhenti hanya sebagai Ilmuwan ADA dan Guru ADA saja. Padahal jika hanya sebagai Ilmuwan ADA atau Guru ADA saja, maka akan terancam sebagai Ilmuwan TIDAK ADA dan Guru TIDAK ADA. Jika telah muncul Hukuman ADA atau Pemecatan ADA, maka Hukuman dan Pemecatan MENGADA akan segera MENIADAKAN Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK. Maka akan terasa pedih dan perih hukumannya bagi orang-orang yang di anggap TIDAK ADA. Padahal perjuangan mereka masih sangat banyak dan sangat panjang. Maka mereka akan sebenar-benar menjadi Ilmuwan ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA, yaitu dengan memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA. Mereka juga akan benar-benar menjadi Guru ADA jika mereka selalu berjuang untuk menjadi Guru MENGADA dan Guru PENGADA dengan cara memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

67 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Elegi ini membuat saya jadi bertekat untuk meraih semua yang berada dipuncak,tetapi menggunakan suatu proses yang benar-benar bisa saya jalani,tidak hanya puncaknya yang saya banggakan tetapi proses untuk meraih puncak tersebut yang harus saya tunjukkan.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Ya, saya setuju dengan pernyataannya Antinomi bahwa ilmuwan plagiat itu ilmuwan yang tidak mengenali ADAnya dirinya sendiri. Padahal sebenarnya banyak sekali yang dapat mereka lakukan untuk mengADAkan sesuatu yang MUNGKIN ADA dari mereka. Semoga dengan membaca elegi ini, kita dapat merefleksi diri kita dan membatasi diri agar tidak melakukan hal semacam itu. Karena alangkah lebih baik jika kita melakukan sesutu yang lain yang lebing bermanfaat agar kita itu ADA.

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum, wr. wb.

    wacana ini menguak fenomena yang tarjadi secara riil, hidup manusia tergantung pada kita akankah kita mau ada, mengada, dan pengada. Hidup adalah refleksi yang terstruktur dibatasi ruang dan waktunya olehkarenanya kita tetap harus berfilsafat untuk mewujudkan ada, megada dan pengada kita dan dilandasi oleh spritualisme yang tinggi sehingga terhindar dari refleksi yang sesat dan tidak sesuai dengan norma dan etika.
    semoga...

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    PEP S3 A

    ReplyDelete
  4. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK adalah contoh nyata yang telah terjebak paramitos bahkan mungkin telah mengubah logos menjadi mitos.
    Ruang dan Waktu itu sebetulnya selalu memberikan catatan dan penilaian terhadap apapun, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu.
    Ruang dan waktu lah yang natinya akan mencatat seperti apa kita. Semoga kita selalu tercatat sebagai sesuatu yang ada, bukan pengada ataupun mengada. Stop plagiatisme!

    ReplyDelete
  5. 16701251016
    PEP B S2
    Elegi ini adalah percakapan dengan paralogos dengan antinomi, namun Antinomi itu sendiri sesungguhnya saya belum mengerti, ... kurang lebih intinya adalah sebagai berikut
    Dalam kehidupan segala sesuatu adalah meliputi tesis-antitesis-sintesis.
    Ruang dan wajtu dapat mewujudkan keberadaan yang mana mampu disebut ADA. Namun ketiadaan jika tidak sesuai dengan ruang dan waktu, pkagiat misalnya. Bukan Mengada tapi meniadakan karena wujud Ada tidak nampak, bahkan karya yang dibuat hasil tukisaannya pun juga bukan pengada.

    ReplyDelete
  6. Lebih baik tidak mendapatkan status sosial, jika memperoleh dengan cara yang tidak baik. Ingatlah bahwa plagiat adalah satu cobtoh tindak kejahatan, ! Stop berbuat keburukan dlm hal apapun

    ReplyDelete
  7. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam fenomena terdapat hubungan antara ADA, MENGADA, dan PENGADA.Misal, bagi seorang guru adanya ijazah dan gelar menunjukkan bahwa guru ADA, kegiatan mengajar, menulis menunjukkan bahwa Guru MENGADA, dan jika memproduksi tulisan-tulisan sudah dapat menunjukan bahwa Guru PENGADA. begitu pula dengan profesi yang sama, misal profesor, dosen, dan lainnya. Bagi ilmuwan plagiat dan guru pemalsu PAK, akan terancam sebagai ilmuwan TIDAK ADA dan GURU TIDAK ADA. Oleh karena itu, menjadi ilmuwan ADA sebenarnya akan menjadi ilmuwan MENGADA dan ilmuwan PENGADA dengan berjuang memproduksi karya-karya sesuai hakekat ADA.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    sebenar-benar nya filsafat adalah diri kita sendiri. pada dasarnya Hidup adalah refleksi yang terstruktur dibatasi ruang dan waktunya oleh karenanya kita tetap harus berfilsafat untuk mewujudkan ada, megada dan pengada kita dan dilandasi oleh spritualisme yang tinggi sehingga terhindar dari refleksi yang sesat dan tidak sesuai dengan norma dan etika.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    pada dasarnya Ruang dan Waktu itu selalu memberikan penilaian dan catatan terhadap apapun yang terjadi, kapanpun dan dimanapun. Hanya bagi orang-orang yang ikhlas dan berpikir kritislah yang mampu membaca catatan dan penilaian yang dilakukan oleh Ruang dan Waktu. karenanya pada dasarnya kehidupan ini tidaklah sulit untuk dijalani.jika kita sudah dapat memaknai dengan mendalam tentang ruang dan waktu maka kita akan mendapatkan kehidupan yang baik.

    ReplyDelete
  10. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    S2 PEP B 2016

    Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

    Kegiatan plagiat atau plagiarisme merupakan suatu bentuk kejahatan yang termasuk hukum pidana karena termasuk sebuah tindakan pencurian berupa hak cipta milik orang lain. Kegiatan penjiplakan ini semakin hari bahkan telah menjadi sebuah trend atau budaya, miris memang namun begitu adanya.

    Sekali lagi elegi ini mengingatkan kita untuk terus berhati-hati dan menjauhkan diri dari segala bentuk plagiarisme. Bukan hanya karena takut pada hukum yang berlaku namun juga karena kesadaran diri untuk berbuat jauh lebih baik dan ikhlas di setiap proses yang dijalani.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamualaikum Warohmatullah wabarokatuh.

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Mungkin hilangnya mengada dan pengada ini bisa disebabkan oleh budaya instan yang telah menjadi bagian dari hidup kita. Ingin hasil yang cepat dan mudah tanpa proses yang baik. Meskipun ada akan tetap ada, tapi tanpa mengada dan pengada tetap akan berpengaruh terhadap ada entah bagaimana caranya

    ReplyDelete
  12. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Seiring perkembangan teknologi dan kemudahan memperoleh informasi juga turut memberikan resiko yang lebih besar terhadap plagiarisme. Sering sekali menemukan blog-blog yang isinya sama persis dan tidak diketahui entah itu sudah sumber ke berapa, dan mana sumber pertamanya. Ini menjadi cerminan kita semua untuk bisa memanfaatkan kemudahan akses informasi dalam mencari ilmu.

    ReplyDelete
  13. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Miris memang melihat keadaan saat ini. Orang-orang seolah hanya mementingkan status namun kurang bertanggung jawab akan status yang diembannya. Banyak orang puas dengan ke-ADA-annya, namun menghilangkan MENGADA dan PENGADA-nya. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang demikian. Amiin.

    ReplyDelete
  14. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memang memberi dampak yang sangat bagus jika kita dapat memanfaatkannya dengan bijaksana. Akan tetapi, di sisi lain kemajuan teknologi informasi dan komunikasi juga mempunyai dampak negatif, plagiarism misalnya. Kemudahan akses informasi memberi peluang dan kesempatan yang besar bagi para pelaku plagiarism untuk beraksi. Bekal imanlah yang harus tetap dijaga agar kita tidak turut terlibat dalam plagiarism.

    ReplyDelete
  15. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    elegi ini memotvasi kita agar bisa meraih yan terbaik namun juga memperhatikan prosesnya. karena segala sesuatu harus melalui poses dan sesuatu yang baik hendaknya didapatkan melalui proses yang biak pula/

    ReplyDelete
  16. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    dari postingan diatas, ini memberikan motivasi kepada saya bahwa, dengan jadi lulusan yang memiliki izazah s1 guru tidak berarti say asudah menjadi gur, apalagi sekatrang yang isusnya menjadi guru dipersulit, bayangakan pemerintah mepersulit guru menjadi ada, mempersulit fr yang yang ada untuk mengada, jadi bagaiman kita berusaha secara otentik asli sesaui kerya kita sendri sesuai denga usaha kita sendir sesaui dengan tindakan kita sendiri, sesuai dengan pikiran kita sendiri sehingga eksistensi kita di dunia itu ada. karena kita adalah pikiran kita sendir, kita adalah tidnakan kita sendiri.

    ReplyDelete
  17. KASYIFATUN AENI
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013
    13301241055

    Menurut saya, hal yang dapat diperoleh dengan membaca elegi di atas adalah bahwa karyalah yang akan menunjukkan keberadaan seseorang. Ada saja tidak cukup. Seseorang harus bisa mengada dan menjadi pengada, atau bisa disebut memiliki karya untuk menjadi ada. Karya itulah yang akan menunjukkan kualitas dan mewakili diri serta identitas pemiliknya. Karena itu, menjaga keaslian karya menjadi hal yang penting, bagi siapapun, ilmuwan, guru, juga mahasiswa.
    Semangat Berkarya... berbagi.. dan memberi.

    ReplyDelete
  18. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Sebenar-benarnya ilmu adalah kejujuran. Kejujuran dalam mempelajari ilmu dan berusaha mengamalkannya.
    Ilmu adalah cahaya. Cahaya ilmu akan ada dalam diri orang-orang yang ikhlas mengemban dan menyampaikannya. Maka, sebaik-baik penuntut ilmu adalah selalu melakukan introspeksi terhadap ilmu yang diraih, agar nantinya ilmu yang didapat menjadi berkah dan menjadi jalan menuju surga-Nya. Aamiin.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  19. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Plagiat adalah sesuatu mengambil sebagian atau secara keseluruhan hasil yang dibuat oleh orang lain, sehingga apa yang dibuat tersebut di akui oleh orang orang lain. Kegiatan tersebut merupakan suatu hal yang tidak patut kita contohi sebagai seorang peneliti, karena karya cipta adalah sesuatu yang telah dibuat dengan susah payah. untuk itu sebagai peneliti maka sebaiknya kita melakukan suatu penelitian dengan sungguh-sungguh demi tercapainya hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan tujuan untuk memperbaiki apa yang telah ada dan mengembangkan apa yang pernah dilakukan pada saat penelitian sebelumnya.

    ReplyDelete
  20. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Plagiat adalah kegiatan yang merusak tatanan suatu aturan. Dia memang ada tapi dia merusak apa yang disebut mengada dan pengada. Dan itu bertolak belakang dengan struktur yang ada. Dia ada sekaligus tak ada di dalam ruang dan waktu. Tak akan ada tanpa mengada dan pengada.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  21. Retno Widyaningrum
    16701261004
    Guru itu dikatakan ada bila ada bukti bahwa di mempunyai syarat-syarat syah nya menjadi guru. Guru dikatakan mengada apabila melakukan proses pembelajaran di kelas secara benar. Pengada guru apabila dia mempunyai hasil karya tulis ilmiah yang dapat di baca dan dimanfaatkan oleh guru yang lain. Bila ada plagiat PAK maka guru tersebut tidak pernah membuat karya tulis sehingga tidak memiliki atau tidak mengenal Pengada. Dan Guru Plagiat adalah dosa besar.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004
    Hidup itu hanya sekali dan waktu berjalan maju tidak akan mungkin balik mudur, artinya kita buat hidup kita yag bermakna dengan kejujuran, kebaikan ketermanfaatan kedamaian, keindhan, ketentraman, kebahagiaan, kebenaran, ke.., ke,... dan ke ke yang lain Ya Allah ampuni kami dan lindungi kami dari godaan duniawi ...aamin-amiin yra

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004
    Guru/dosen/ .... plagiasi itu adalah menginginkan kebahagiaan duniawi saja, betapa tidak memperdulikan akibat atau hal-hal lain dibalik perbuatannya. begitu si pengada yang asli dengan jerih payahnya mengada dengan hanya sesaat di ambil orang lain, betapa dosanya si plagiasi, semoga diampuni dosa-dosanya dan kembali pada yang benar. aamin yra

    ReplyDelete
  24. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Begitu membaca artikel ini, hendaknya kita langsung bercermin, melihat ke dalam lubuk hati kita masing-masing, menengok apakah hal semacam plagiarisme telah kita lakukan selama kita hidup sejauh ini ? Jika iya, maka segeralah kita memperbaiki diri kita dengan tidak mengulanginya lagi. Dan jika tidak maka pertahankan hal tersebut. Ilmu pengetahuan adalah hal yang berharga, begitu pula dengan hasil karya seseorang, setiap orang memiliki hasil karyanya masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, setiap orang memiliki hak cipta atas segala hal yang ia ciptakan. Maka kegiatan plagiarisme merupakan hal yang melanggar hak cipta itu. Disamping tidak menghargai orang lain, plagiarisme juga mengantarkan kita pada kemalasan dan menjauhkan kita dari kreativitas kita sendiri.

    ReplyDelete
  25. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Hakikat ADA adalah melalui proses MENGADA dan mewujudkan hasil PENGADA. Keberadaan ADA, tanpa MENGADA dan PENGADA adalah sesuatu yang semu, hanya kelihatan ADA tetapi sebenarnya TIDAK ADA. Hukum ini bisa berlaku bagi semua yang mungkin menjadi ADA, semua status dan profesi dalam masyarakat, mulai dari seorang individu, masyarakat sosial kecil, lebih besar, dan lebih besar lagi. Ada anak ADA, anak MENGADA, dan anak PENGADA. ADA orang tua ADA, orang tua MENGADA dan orang tua PENGADA, dan lain sebagainya. Hakikat menjadi seseorang yang ADA adalah melalui proses MENGADA dan menghasilkan PENGADA.

    ReplyDelete
  26. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Adalah suatu kesalahan yang fatal kerusakan sistem pendidikan dirusak oleh orang-orang dari kalangan pendidikan sendiri. Sayangnya fenomena ini sudah menjadi fenomena umum pada masyarakat kita. Seorang dosen yang melakukan tindakan plagiarisme demi mendapatkan jabatan dan income yang lebih tinggi sebenarnya yang didapatkannya hanyalah sesuatu yang semu. Dia telah melakukan kecurangan, begitu juga hasil yang didapat dari suatu tindakan yang curang pasti tidak akan membawa keberkahan dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  27. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Sebagai pengajar, maka adanya kita adalah eksistensinya kita karena mengajar di kelas. Tetapi, pembelajaran dikelas tidak selalu berjalan mulus, maka guru melakukan inovasi untuk pembelajarannya. Jika ada guru yang bersikap tidak peduli, maka sebenarnya dia tidak menjadi mengada karena tidak melakukan apa-apa dan pengada, karena tidak mendapatkan hasil yang baik. Apalagi dengan melakukan plagiat atas karyanya, maka guru tersebut kehilangan atas keadaannya yang ada, atas apa yang dilakukannya mengada, dan apa yang dihasilkannya pengada. Karena bukan dari diri sendiri.

    ReplyDelete
  28. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sebagai seorang manusia yang hidup di dunia ini, kita harus menjalani sesuatu sesuai dengan dimensi dimana kita berada. Kita tidak bisa hanya sekedar ADA tanpa MENGADA dan menjadi PENGADA.

    ReplyDelete
  29. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sebagai calon pendidik kita juga harus mengetahui bagaimana seharusnya menjadi seorang pendidik yang baik yang tidak hanya mementingkan sertifikasi saja, tetapi juga memntingkan pembelajaran dan siswa yang menjadi pusat pembelajaran. kita juga tidak boleh plagiat dan korupsi dalam melaksanakan tugas kita sebagai seorang pendidik.

    ReplyDelete
  30. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    "GURU adalah digugu dan ditiru". Slogan itulah yang seharusnya ditanamkan saat ini. Guru harus menjunjung tinggi profesionalitas dan juga harus selalu berinovasi tanpa harus melakukan plagiarism.

    ReplyDelete
  31. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    ADA, MENGADA dan PENGADA. Ternyata ketiga kata tersebut saling berhubungan dan memiliki arti dan makna sendiri. Bahwa sesuatu dikatakan ada jika sesuatu tersebut berusaha dan melakukan kegiatan sesuai dengan ranahnya serta memberikan karya, itulah yang dinamakan bukti. Jadi, sebenar – benarnya seseorang dapat menjadi ada, mengada dan pengada tatkala benar diakui keberadaannya, melakukan apa yang menjadi ranahnya, serta bukti bahwa telah menghasilkan sesuatu. Misalkan saja saya sebagai anak ada, maka benar adanya saya seorang anak terlihat dari akta kelahiran saya. Lalu anak mengada, yaitu benar adanya saat anak melakukan tugas sebagai anak. Anak pengada, yaitu benar memberikan manfaat bagi orangtua. Maka, tak akan pernah menjadi pengada jika tidak memiliki mengada, tiada ada tanpa mengada dan pengada.

    ReplyDelete
  32. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Saat ini banyak plagiat tidak hanya dalam skala besar, bahkan skala kecil pun sudah merambat. Bahkan terkadang seseorang tak sadar melakukannya. Plagiat memiliki kategorinya. Manuasia tidak bisa jauh dari 100 persen tanpa plagiat, tetapi wajib juga untuk tidak melakukan plagiat tersebut. Lagi lagi guru yang dibebani banyak tugas, diharapkan berjalan pada kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya. Diharapkan tidak mencari jalan cepat baik melalui pemalsuan atau plagiat.

    ReplyDelete
  33. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Berdasarkan elegi di atas, sepemahaman saya adalah kita ada jika kita mempunyai karya. Karya yang kreatif, inovatif, dan orisinil sebagai tanda aktualisasi diri kita. Tetapi pada masa sekarang ini, seiring dengan berkembangnya budaya instan, banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk menghasilkan sesuatu, salah satunya adalah untuk mengahsilkan suatu karya. Sehingga banyak plagiat dan pemalsuan yang terjadi. Jika kita mendapatkan sesuatu dengan cara ynag tidak baik maka hasilnya pun akan tidak baik pula. Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan sesuatu maka kita harus berusaha dan berjuang dengan cara yang baik untuk mendapatkannya.

    ReplyDelete
  34. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    jangan melakukan tindakan plagiat atau sejenisnya karena itu akan merugikan kita sendiri, karena kita tidak akan MENGADA dan PENGADA, sehingga apa yang kita buat dari hasil yang tidak benar maka kita pun tidak ADA, pada masanya ruang dan waktu yang akan mengungkap itu, karena ruang dan waktu tidak pernah tidur dan lalai, dia selalu mencatat setiap perbuatan manusia, sehingga kita tidak bisa lari dari kenyataan.

    ReplyDelete
  35. Pengada yang sebenar-benarnya adalah mereka yang mengubah dirinya sendiri yang tidak mengetahui menjadi belajar memahami abstraksi manusia dalam berbagai perspektif. Pendidikan sebagai saksi kunci perubahan zaman adalah sebaik-baiknya perubahan untuk mengubah paradigma yang sengaja dibuat atau yang tidak sengaja dibuat. Manusia kembali memutar logikanya demi memuaskan penciptaannya menjadi diri yang diakui dengan cara yang salah dan kurang tepat. Manusia dalam paradigmanya mampu mengubah yang lain dengan cara paling sederhana. Perubahan yang manusia ciptakan adalah kekuatannya untuk mengubah dirinya, namun akhirnya mereka berada di persimpangan yang ia sulit pecahkan sendiri.
    Pola pikir masyarakat yang instan adalah kesalahan dalam mengubah paradigma, dan pendidikan tidak bisa dijadikan bahan uji coba konsumsi instan publik melalui pendidikan dan kesehatan, Jika terjadi, maka ada kesalahan besar yang sedang dibiarkan diri sendiri.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  36. Manusia dalam bentuk yang tidak seada-adanya, ada jika sesuatu tersebut berusaha dan melakukan kegiatan sesuai dengan ranah serta memberikan karya.
    Bukti nyata dari itu. Jadi, sebaik–baiknya seseorang dapat tentu mampu ada, mengada dan pengada ketika benar memang keberadaannya. Melakukan apa yang menjadi bagiannya, serta bukti bahwa telah menghasilkan sesuatu.

    Guru>>siswa
    siswa>>orangtua
    orangtua>>guru
    keterkaitan ini seperti ada, mengada, dan pengada. Dan setiap komponen mereka terhubung secara tidak langsung.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  37. Kebohongan dunia pendidikan juga sebenarnya tidak terlalu jauh dari ekspektasi
    Setiap kali membangun ruangan baru, masjid, dan lain sebagainya, uang gedung dibebankan pada SPP bulanan siswa, LKS di jual setiap semester dan siswa wajib membelinya. Buku-buku teks pelajaran di tentukan agar “seragam”, membeli langsung dari guru lebih baik karena akan di berikan diskon 25% dan namanya akan di catat di list khusus yang entah berfungsi untuk apa.
    hehehe..
    klasikal moment,
    start from education

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  38. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Ketika guru yang semestinya bisa meramu kebutuhan pembelajarannya ternyata hampir semuanya diperoleh dari hasil memplagiat. Fenomena guru akan hal plagiat tidak hanya untuk kebutuhan pembelajaran saja, banyak juga untuk kebutuhan kenaikan P.A.K., mungkin banyak juga seperti karya ilmiah yang bukan hasil karyanya sendiri, sebenarnya peristiwa semacam ini sudah sejak lama melanda masyarakat dan bangsa ini.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sosok pendidik yang ingin mendapatkan statusnya lebih tinggi tapi dilakukan dengan cara kotor sama halnya meracuni sistem pendidikan kita dengan cara-cara curang. Jangan bermimpi para anak didik menjadi semakin baik, jika justru pendidiknya sendiri melakukan tindakan kotor dan merusak citra pendidikan. Para guru yang seharusnya membekali kejujuran pada anak didiknya justru menjadi contoh yang buruk bagi perkembangan anak didiknya. Itulah potret buram sistem bajak membajak di dunia pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  40. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Para guru yang seharusnya membekali kejujuran pada anak didiknya justru menjadi contoh yang buruk bagi perkembangan anak didiknya. Itulah potret buram sistem bajak membajak di dunia pendidikan di Indonesia. Kalau boleh jujur jika internet tidak ada mungkin kelulusan siswa dan mahasiswa akan terhambat lantaran mereka harus mengoleksi buku-buku yang dibutuhkan untuk menyusun karya ilmiah mereka, dan tentu saja mereka akan benar-benar turun ke lapang dengan biaya yang tidak sedikit.

    ReplyDelete
  41. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Seorang guru atau pendidik harus menjadi contoh yang baik bagi para siswanya. Apabila guru melakukan plagiatisme maka apa yang akan dipikirkan oleh siswanya. Mereka mungkin tahu bahwa hal tersebut adalah hal salah tapi karena melihat gurunya melakukan hal tersebut maka kemungkinan siswa akan berani juga untuk melakukannya. Hal tersebut adalah contoh yang salah. Maka dari itu, para guru sejak dini mulailah untuk memberikan contoh-contoh kejujuran kepada siswanya agar siswa juga meniru hal yang baik saja.

    ReplyDelete
  42. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Plagiarisme merupakan salah satu kejahatan. Sekarang ini, plagiarisme sedang marak terjadi dikalangan ilmuan, guru, dosen maupun mahasiswa. Hal ini dilakukan demi mempertahankan eksistensinya dan juga memperoleh keuntungan bagi diri mereka sendiri. Elegi ini mengingatkan kita untuk mempertahankan keberadaan dengan menghasilkan karya-karya yang sesuai dengan hakekat ADA, MENGADA dan PENGADA. Bukan dengan melakukan pemalsuan dan plagiat. Tindakan pemalsuan dan plagiat yang disengaja merupakan akibat dari lebih mementingkan hasil daripada proses. Padahal hasil yang dibuat tanpa adanya proses yang baik tidaklah ada artinya bahkan hanya akan menimbulkan kerugian.

    ReplyDelete
  43. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Suatu kewajiban bagi seorang guru untuk membuat karya, misalnya makalah, jurnal, dsb. Untuk menghindari plagiat, sebaiknya digunakan sumber yang valid dan dicantumkan dari mana kita memperoleh data atau informasi yang kita tuliskan dalam karya tersebut. Sehingga kita dapat mempertanggungjawabkannya.

    ReplyDelete
  44. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    tindakan kecurangan adalah suatu tindakan yang sangat tidak terpuji. Salah satu tindakan kecurangan adalah plagiat. Ilmuwan yang plagiat telah menjadikan dirinya dari ilmuwan yang telah di akui ADA karena ia dianggap telah MENGADA dan menjadi PENGADA. karena tindakan yang dilakukannya PENGADAnya menjadi bukan pengada dan bukan pula mengada, sehingga ilmuwan itu menjadi tidak ada.

    ReplyDelete
  45. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Plagiat tidak sepatutnya dilakukan, selain jelas merugikan orang lain sebenarnya kegiatan ini juga merugikan diri sendiri. Menjadikan diri sendiri krisis kejujuran dan lumpuh kreatifitas. Karya orang lain mesti kita apresiasi, sebab sebagaimana pun karya tersebut berasal dari pemikiran dan kerja keras orang lain. Sangat disayangkan apabila kegiatan ini dilakukan oleh seorang ilmuwan maupun seorang akademisi yang seharusnya mereka lah pelopor anti plagiat.

    ReplyDelete
  46. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Guru yang ada tetapi melakukan plagiat akan terancam menjadi guru yang tidak ada. Jika guru dianggap tidak ada maka guru telah gagal untuk menjadi guru mengada dan pengada. Karena sebenar-benarnya guru ada yaitu guru yang berusaha menjadi guru mengada dan guru pengada dengan karya-karyanya sendiri.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  47. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Perjuangan untuk menjadi ADA itu banyak pengorbanan dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Sangat disayangkan jika sudah sampai pada derajat ADA tidak melanjutkan menjadi MENGADA dan PENGADA. Karena jika berhenti hanya pada ADA maka akan terancam menjadi TIDAK ADA. Perjuangan untuk menjadi ADA pun sia-sia.

    ReplyDelete
  48. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Kita ada jika kita bisa menjadi mengada dan pengada. Akan tetapi, dewasa kini banyak orang yang ingin menjadi ada tapi enggan untuk melalui mengada maupun pengada. Sehingga meniru adalah jalan pintasnya. Padahal jelas bahwa plagiarisme adalah suatu bentuk kejahatan

    ReplyDelete
  49. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Perilaku plagiat adalah perilaku yang tidak terpuji, dimana perilaku ini sama halnya mengambil hak orang lain dan mengklaim menjadi hak pribadi kita. plagiat mempunyai jenis-jenis tertentu dan memiliki tingkat plagiat tertentu, kadang kala kegiatan ini secara tidak langsung kita lakukan. di tingkat yang paling rendah plagiat memiliki nilai positif dimana kita memplagiatkan cara belajar seseorang untuk kemajuan diri sendiri.

    ReplyDelete
  50. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Sebenar-benar menjadi guru adalah menjadi Guru ADA, PENGADA DAN MENGADA yang produktif menghasilkan karya-karya dengan usahnya sendiri tidak memalsukan atau plagiat karya orang lain. Ketika ia melakukan kegiatan plagiat maka sama saja ia dengan guru TIDAK ADA. Maka mari semenjak sekarang kita tekadkan untuk memproduksi karya-karyanya yang sesuai dengan hakekat ADA, hakekat MENGADA dan hakekat PENGADA dari segala sesuatu yang ADA dan yang MUNGKIN ADA di dunia Pendidikan.

    ReplyDelete
  51. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Untuk mendapatkan pangkat dan kedudukan hendaklah dilakukan melalui proses yang benar dan jujur, lebih baik berada pada keadaan yang wajar saja daripada melakukan plagiat atau perbuatan tercela untuk mendapatkan kekuasaan atau kedudukan di dunia. Sesuatu yang diperoleh dengan berbuat curang tidak akan membawa keberkahan.

    ReplyDelete
  52. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Sebagai seorang pendidik hendaklah berlaku jujur untuk mendapatkan Penetapan Angka Kredit (PAK) dan sertifikasi. Sesungguhnya sertifikasi guru ini untuk mengukur tingkat profesionalisme seorang guru, bagaimana mungkin guru berbuat curang dengan melakukan plagiatisme hanya demi mendapatkan sertifikasi. Seorang guru haruslah bersikap profesional sesuai kompetensi. Guru harus dapat memberikan panutan yang baik bagi murid dan masyarakat.

    ReplyDelete
  53. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Seorang guru dapat dikatakan ADA apabila dia memiliki bukti mengajar seperti ijazah atau sertifikat mengajar, agar selalu ADA maka guru harus MENGADA, untuk MENGADA haruslah memiliki ilmu terlebih dahulu. Apabila telah MENGADA seperti mengusulkan PAK atau melakukan penelitian tindakan kelas maka secara otomatis guru tersebut juga sebagai PENGADA. Akan tetapi, jika dalam MENGADA dia berbuat curang, melakukan plagiat atau melakukan pemalsuan maka dia juga adalah PENGADA yang curang, dan ini justru akan menghilangkan keber ADA annya. Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai guru ADA.

    ReplyDelete
  54. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Plagiat merupakan kegiatan yang tidak baik. Seorang guru memang memiliki tuntutan untuk membuat karya yang dapat berupa penelitian, jurnal, dll. Sehingga guru harus aktif dalam membuat karya-karyanya sendiri.

    ReplyDelete
  55. Pergulatan antara ADA, MENGADA DAN PENGADA. Pernyataan yang syarat makna.
    Ada ketika kita hadir dan bisa dinyatakan bentuk dan wujudnya. Mengada ketika kita melaksanakan apa yang menjadi kewajiban. Dan pengada ketika kita memproduksi sesuatu. Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK merupakan bentuk tidak ada, tidak mengada, dan bukan pengada. Mengapa? Karena apa yang dilakukan tidak orisinil. Dia tidak mengada karena orang lainlah yang bekerja. Dia bukan pengada, karena tidak pernah menciptakan produk.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  56. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Untuk bisa dihargai orang lain manusia bukan hanya harus ada bentuk fisiknya, namun ia harus melakukan kegiatan serta menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain. Apa yang ia lakukanpun berasal dari dirinya sendiri bukan hanya plagiat dari orang lain yang kemudian diakui sebagai hasil karyanya. Dengan demikian manusia akan diakui keberadaannya. Begitu pula sebaiknya apabila manusia hanya bisa melakukan plagiat dan tidak menghasilkan apa-apa, maka lama kelamaan keberadaannya tidak akan diketahui orang lain. Atau dengan kata lain ia tidak ada lagi meskipun fisiknya masih tampak.

    ReplyDelete
  57. Fazul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Memang banyak fenomena sekarang mengenai plagiat. Tidak mengherankan jika ada mahasiswa yang menjadi plagiat, hal ini dikarenakan guru/ atau dosen juga plagiat. Guru plagiat dan ilmuwan plagiat sesungguhnya ia bodoh terhadap ilmu yang ia miliki. Ia hanya mengejar kenikmatam dunia tanpa menghayati dan mendalami hakekat ilmu yang ia pelajari. Gelar guru dan ilmuwan menjadi disalah gunakan hanya untuk mendapatkan materi.

    ReplyDelete
  58. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Tindakan plagiat dapat dicegah apabila orang tersebut menyadari hakekat dari ilmu yang dipelajari. Para plagiat ini merupakan korban dari teknologi yang berekembang dengan pesat. Kemajuan teknologi membuat orang lalai sehingga mudah untuk memplagiat karya orang lain. Banggalah dengan hasil karya sendiri, jangan pernah mengaku-ngaku karya orang lain. Karna membuat karya bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan pengorbanan tenaga, pikiran dan waktu yang banyak.

    ReplyDelete
  59. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh.
    Budaya plagiarism atau menjadikan ada dalam waktu singkat adalah budaya yang berbahaya dan mendarah daging. Kita sering kali lalai, tergoda setan, sombong dan tak sopan dengan dimensi ruang dan waktu yang terus bergerak. Hanya mereka yang serius, menikmati proses dan mengerjakkan dengan ikhlas lah yang akan bertahan lama. Sedangkan mereka yang melakukan plagiat, hanya aman sementara/semu selebihnya justru membahayakan jiwa mereka sendiri. Maka, ikhlaskanlah diri kita untuk berproses, menjadikan sesuatu ada dengan melewati proses yang tidak sebentar, instan begitu saja.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  60. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Penulisan elegi ini sangat menarik. Ketika di bagian awal saya membaca mengenai ADA, MENGADA, dan PENGADA, saya belum bisa mengerti meskipun sudah diberitahukan apa itu ADA, apa itu MENGADA, dan apa itu PENGADA. Namun setelah diberikan beberapa contoh kongkritnya, saya menjadi paham betul mengenai ADA, MENGADA, dan PENGADA. Dari sini saya mendapat pelajaran bahwa bahasa dalam filsafat itu memang tinggi namun tetap bisa memahaminya dengan menurunkan tingkat bahasanya melalui contoh-contoh kongkrit.

    ReplyDelete
  61. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    ADA, MENGADA, dan PENGADA adalah satu kesatuan. Jika sudah menjadi ADA, maka kita harus melaksanakan kewajiban kita untuk MENGADA kan. Dengan begitu, kita akan menjadi PENGADA. Karena jika tidak, yang ADA itu bisa saja akan menjadi TIDAK ADA.

    ReplyDelete
  62. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Berbicara tentang ilmuwan plagiat, itulah fenomena yang terjadi sekarang. Mereka melakukan plagiat dengan tidak memikirkan orang lain yang telah diplagiat tulisannya. Sang plagiat hanya mencari instannya saja. Dahulu, yang instan itu hanya mie instan. Tapi sekarang, manusia selalu berusaha membuat segala hal menjadi instan termasuk ilmuwan plagiat.

    ReplyDelete
  63. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Berdasarkan elegi di atas yang dapat saya pahami jika seorang ilmuwan atau yang mencoba memalsukan apa yang seharusnya tidak ada menjadi ada hanya untuk memperoleh sesuatu baik gelar atau penghargaan. Memalsukan apa yang tidak ada menjadi masuk kedalam plagiarisme. Plagiarisme merupakan suatu tindak kecurangan yang dilakukan dengan cara mengcopy paste. Memanfaatkan karya-karya orang lain untuk dijadikan karyanya. Pada nyatanya di dunia pendidikan saat ini kerap ditemui ketidakprofesionalan seorang pendidik. Profesi yang dimiliki memang ada, namun gelar tidak ada. Atau gelarnya ada tapi hasil karyanya tidak ada.

    ReplyDelete
  64. Wadiyono
    16701251021
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S2 2016

    Plagiat merupakan kegiatan mengutip karya dari orang lain dan diakui untuk dirinya sendiri. Para plagiator tidak menghormati hak azasi yang ditirunya. Plagiator adalah koruptor karya orang lain. Plagiat di jaman sekarang memang sudah menjadi kebiasaan yang buruk dan membudaya,baik dari kalangan Ilmuwan,guru dan para peneliti. Karenanya peristiwa plagiat harus menjadi keprihatinan bagi semua kalangan agar semakin lama semakin berkurang. Kegiatan plagiator adalah kegiatan yang dilakukan dengan tidaak jujur dan sportif. Plagiator menggerus karateristik dan keyakinan bangsa yang adi luhung….

    ReplyDelete
  65. MIftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Sebaik-baik ilmuan adalah ilmuan ada, ilmuan mengada, dan ilmuan pengada. Begitu juga dengan guru, sebaik-baik guru adalah guru ada, guru mengada dan guru pengada. Guru dikatakan ada jika mengada dan pengada. Semua itu tidak terjadi begitu saja dan bukan tanpa disadari, tetapi dapat terjadi dengan penuh perjuangan dari waktu ke waktu.

    ReplyDelete
  66. MIftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Seseorang dikatakan ilmuan karena karya-karyanya. Sudah sepantasnya sebagai ilmuan menghasilkan karya-karyanya secara terus-menerus. Tentunya karya-karya yang berkualitas. Karena karya-karya ini yang membuktikan seseorang itu dikatakan sebagai seorang ilmuan. Namun kenyataan yang terjadi, dalam proses menghasilkan karya-karya tersebut terjadi proses yang tidak baik. Banyak karya-karya yang dihasilkan merupakan plaigiat. Sungguh menyedihkan kejadian ini. Kenapa demikian, dari segi pengetahuan tidak terukur, dari segi sikap sangat tidak baik dan dari segi keterampilan tidak dapat dinilai.

    ReplyDelete
  67. MIftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Sertifikasi guru dinilai melalui kumpulan karya-karya atau kegiatan guru dalam bentuk portofolio. Sertifikasi ini tentunya dalam rangka meningkatkan guru yang profesional. Namun kenyataannya yang terjadi karya-karya atau benuk tertulis dari kegiatan-kegiatan tersebut tidak semuanya sesuai dengan kenyataan. Penekanan yang paling utama adalah mental guru yang tidak baik. Gurunya saja tidak jujur bagaimana dengan siswanya. Apakah guru dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi siswanya. Tentu ini sangat jauh dari yang diharapkan.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id