Sep 20, 2013

Elegi Menggapai Penampakkan




Oleh Marsigit

Penampakkan benda-benda:
Besar, kecil, panjang, pendek, ......
...... indah, buram, hijau, jauh, dekat, terang, gelap, lembut, kasar, solid, terpecah, tetap, berubah, terus, terputus, berputar, bergoyang, tertutup, terbuka, terkunci, rapat, jarang, cepat, lambat, licin, tenggelam, terapung, tertumpuk, tergeletak, kuat, lemah, panas, dingin, baru, lama, modern, klasik, teratur, acak, tersedia, kosong, penuh, disiplin, malas, istirahat, hilang, muncul, capai, kusut, segar, semangat, loyo, subur, nyaman, kejam, empati, ide, pikiran, kata, kalimat, buku, dan semua benda-benda. Itulah penampakkanku. Penampakkanku kadang-kadang mandiri, kadang-kadang berkolaborasi. Penampakkanku kadang tetap kadang tidak tetap. Penampakkanku bisa sederhana, bisa sangat rumit. Bisa sedikit di balik penampakkanku, tetapi bisa banyak di balik penampakkanku. Tetapi sebenar-benar penampakkanku adalah untuk diriku sendiri. Itulah kekuatanku sekaligus kelemahanku. Kemandirian penampakkanku adalah identitasku. Ketidakmandirian penampakkanku adalah manfaat mereka. Maka sebenar-benar penampakkanku adalah terbuka sekaligus tertutup. Penampakkanku tertutup jika telah engkau ucapkan. Penampakkanku terbuka jika masih engkau pikirkan. Penampakkanku bisa engkau pikirkan sebagai apa saja. Aku bisa engkau pikirkan sebagi cahaya, sebagai gelombang, atau sebagai keduanya. Aku bisa engkau anggap sebagai nyata, tidak nyata atau khayal belaka. Aku bisa banyak dalam dirimu yang satu, dan aku bisa satu dalam dirimu yang banyak. Rumahku sembarang, tetapi tugasku sebagai saksi bagimu. Engkau bisa datang kapanpun, bisa juga pergi kapanpun, bisa juga tinggal sampai kapanpun. Tetapi aku tidak tahu kapan aku mulai dan kapan aku berakhir. Tetapi janganlah salah paham, karena sebenar-benar dirimu adalah diriku pula. Itulah sebenar-benar engkau, yaitu penampakkanmu pula. Maka sebenar-benar kita adalah satu, yaitu penampakkan.



Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 2:
Sebenar-benar diriku adalah penglihatanmu. Apalah artinya pengakuanku, jika itu tidak sesuai dengan penglihatanmu. Aku menampakkan diriku tidaklah semata-mata karena diriku. Tetapi perkenankanlah aku juga ingin bertanya. Siapakah sebenar-benar dirimu. Mengapa engkau menampakkan diri di depanku?

Penampakkan 1:
Sebenar-benar diriku adalah pikiranmu. Apalah artinya penglihatanmu, jika itu tidak sesuai dengan pikiranmu. Aku hadir dalam pikiranmu tidaklah semata-mata karena diriku.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kedengarannya engkau agak sombong. Siapakah yang berada di belakang dirimu itu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakan 2, aku adalah pikiranmu. Jika engkau menuduhku bahwa aku berlaku sombong, bukankah itu menepuk air menimpa wajahmu sendiri. Yang berada dibelakang diriku adalah ilmumu.
Namun aku juga ingin bertanya, siapakah yang berada dibelakangmu itu?

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, kelihatannya engkau ingin mengujiku. Engkau telah katakan bahwa yang berada di belakang dirimu adalah ilmuku. Mengapa engkau tanyakan siapa yang berada di belakang diriku? Bukankah menurutmu, yang berada di belakang diriku juga ilmumu?

Penampakkan 1:
Wahai penampakkan 2, kalau boleh aku akan sebut engkau bukan lagi penampakkan. Tetapi engkau akan sebut sebagai hakekat dirimu, atau hakekat 2 begitulah. Mengapa? Agar aku dapat sederhanakan saja penampakkan mu dengan yang berada di belakangmu sebagai hakekat mu begitulah.

Penampakkan 2:
Wahai penampakkan 1, engkau belum menjawab siapa yang berada di belakangku, tetapi engkau sebut aku sebagai hakekat 2. Kalau begitu agar perbincangan kita lancar, engkau akan ku sebut pula hakekat 1.

Hakekat 1:
Wahai hakekat 2, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 2:
Wahai hakekat 1, cerdas pula ternyata engkau itu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Kita puas karena ternyata kita telah menemukan hakekat. Tetapi siapakah diri kita berdua ini?

Orang tua berambut putih datang:
Salam, hakekat 1 dan hakekat 2. Pertanyaanmu yang terakhir telah mengundangku untuk hadir di hadapanmu berdua. Ketahuilah bahwa sebenar-benar perbincanganmu berdua, aku telah mengetahuinya. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Salam juga, wahai orang tua berambut putih. Terimakasih engkau telah mengingatkanku. Karena dirimulah kita berdua dapat menemukan hakekat 3 dibalik hakekat 2 dan dibalik hakekat 1. Bolehlah aku bertanya kepadamu, apakah sebenar-benar hakekat 3 itu?

Orang tua berambut putih:
Sebenar-benar hakekat 3 adalah akal dan pikiran hakekat 2 dan hakekat 1. Tetapi bukanlah engkau maklum, bahwa dibalik hakekat 3 itulah berada hakekat 4. Dibalik hakekat 4 itulah berada hakekat 5. Dibalik hakekat 5 itulah hakekat 6, ....., dibalik hakekat n itulah hakekat n + 1.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu apakah hakekat dari hakekat itu?

Orang tua berambut putih:
Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Lalu, di manakah batas hakekat atau batas akal dan pikiranku itu?

Orang tua berambut putih:
Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas oengetahuanmu sendiri.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Batas pikiranku itu terbatas atau tidak terbatas?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya.

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Aku bingung mengikuti uraianmu.

Orang tua berambut putih:
Bisakah engkau berdua mendefinisikan adalah ?

Hakekat 1 dan hakekat 2:
Adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah ...adalah ...

Orang tua berambut putih:
Menemukan hakekat adalah saja engkau tidak bisa, apalagi menemukan hakekat-hakekat yang lain. Itulah sebenar-benar dirimu. Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

60 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Segala sesuatu itu tergantung dari apa yang ada dalam pikiran. Semua yang tampak bisa dikatakan lain jika dalam pikiran kita menampakkan hal yang lain. Seperti makna hakekat, tidak ada yang dapat mendefinisikan sebuah hakekat, karena didalam hakekat ada hakekat dst sampai batas pengetahuan seseorang yang mendefinisikan hakekat itu sendiri. Semakin orang mengetahui makna hakekat, semakin dia tidak mampu mendefinisikan hakekat itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Nurul Imtikhanah
    13301244002
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dari elegi tersebut tersirat bahwa sesungguhnya penampakan-penampakan yang ada adalah hasil buah pikir kita sendiri. Dan akal pikiran manusia mempunyai batas yang berbeda0beda karena dibalik hakekat adalah hakekat dibaliknya adalah hakekat dan seterusnya sejauh mana kita dapat mendefinisikannya tergantung dari seberapa dalam pengalaman dan pengetahuan yang kita punya.

    ReplyDelete
  3. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Diri kita yang satu ini dapat berupa banyak penampakan bagi orang lain. Orang lain dapat melihat banyak penampakan banyak hal yang tampat dari kita. Penangkapan itu tertutup jika telah diucapkan dan akan terbuka jika masih dipikirkan oleh orang lain. Pemikiran itu dapat berupa apa saja yang dipikirkan.

    ReplyDelete
  4. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Penampakan adalah sesuatu yang tampak, dan sesuatu yang tampak lebih mudah dinilai dibanding yang tidak tampak. Namun, kadang kala manusia lebih sering menilai sesuatu yang tidak tampak seolah-lah nampak baginya.
    Sebenar-benar diri kita ada pada diri kita sendiri, namun penilaian tergantung pada yang menilai. Maka, sebenar benar penilaian tentang diri kita ada pada penilaian diri orang lain. Namun, layak kah kita sebagai sesama makhluk memberi penilaian?
    Akal dan pikiran kita sensiri yang akan menjawab dan memberi jawabannya pada diri kita.

    ReplyDelete
  5. Harsiti Indrawati
    13301241021
    P.MAT 2013

    Dari elegi menggapai penampakan dapat ditarik garis besar bahwa ada langit diatas langit. Artinya kadang kita merasa bahwa diri kita yang paling mengerti segala-galanya. Bahkan hingga menyimpulkan bahwa kita paham akan hakikat. Pengetahuan itu hanyalah fatamorgana. Dengan demikian janganlah kita menyombongkan diri .

    ReplyDelete
  6. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Berdasarkan elegi tersebut dapat diketahui bahwa setiap yang ada didunia ini memiliki batasnya masing-masing. Penampakan yang ada dan mungkin ada disesuaikan dengan pikiran kita masing-masing. Setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lain. Namun, memiliki persamaan bahwa pemikiran manusia itu memiliki batasnya. Karena pemikiran manusia yang terbatas tersebut mengingatkan kita untuk tidak sombong dengan apa yang kita miliki atau pun sombong karena hal yang lain.

    ReplyDelete
  7. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pelajaran baru yang dapat saya ambil, bahwa hanya kita sendiri yang mengetahui batas pengetahuan atau ilmu yang dimiliki. Tetapi, jika ditanya batas pengetahuan yang dimiliki, kita bingung untuk menjelaskannya.Pertanyaan yang mudah tetapi sulit.Banyak, sedikit, rendah tinggi pengetahuan yang dimiliki, jangan sampai membuat kita sombong.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    akal pikiran manusia mempunyai batas yang berbeda beda karena dibalik hakekat adalah hakekat dibaliknya adalah hakekat dan seterusnya sejauh mana kita dapat mendefinisikannya tergantung dari seberapa dalam pengalaman dan pengetahuan yang kita punya. Berdasarkan elegi tersebut dapat diketahui bahwa setiap yang ada didunia ini memiliki batasnya masing-masing. Penampakan yang ada dan mungkin ada disesuaikan dengan pikiran kita masing-masing.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    namun penilaian tergantung pada yang menilai. Maka, sebenar benar penilaian tentang diri kita ada pada penilaian diri orang lain. Setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda antara satu dengan yang lain. Namun, memiliki persamaan bahwa pemikiran manusia itu memiliki batasnya. Karena pemikiran manusia yang terbatas tersebut mengingatkan kita untuk tidak sombong dengan apa yang kita miliki atau pun sombong karena hal yang lain.

    ReplyDelete
  10. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Akal dan pikiran setiap orang berbeda-beda. Akal dan pikiran masing-masing orang pun bisa tampak berbeda-beda. Di setiap akal dan pikiran selalu ada akal dan pikiran dibelakangnya, dan seterusnya sampai mencapai batas pikiran

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Pemikiran manusia memiliki batas. Sehingga hakekat pun masih ada hakekat yang lain dibelakangnya, masih ada hakekat lain dibelakangnya, dan seterusnya, sehingga "Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun"

    ReplyDelete
  12. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sejatinya orang yang berilmu tinggi justru dia yang mengaku atau merasa bahwa ia tak mengetahui apa pun, sedangkan orang yang sombong atau mengaku berilmu tinggi justrulah dia yang tidak mengetahui apa-apa. "Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun".

    ReplyDelete
  13. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebenar-benar dirimu tidak bisa menemukan hakekat karena dibalik hakekat masih ada hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka di balik akal dan pikiranmu itu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya..sampai engkau menggapai batas pikranmu. Oleh karena itu Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  14. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Penampakan bisa merupakan sesuatu yang dilihat bisa juga merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat. dibalik setiap penampakan-penampakan tersebut terdapat hakekat di dalamnya. kita belum tentu dapat mengerti hakekat, mengerti apa sebenarnya hakekat dari penampakan tersebut. Dan jangan sampai kita terjebak oleh jebakan ilmu, kita menganggap diri kita bisa, menganggap diri kita tahu, padahal belum tentu kita benar-benar bisa dan tahu.Sehingga dalam menuntut ilmu senantiasa kita tidak sombong dengan ilmu yang kita punya, karena seperti kata pepatah bahwa di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete
  15. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    maksud dari elegi ini adalah mengenai apa yang nampak merupakan cerminan dari pikiran. jadi apapun yang kita lihat adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan. jika kita selalu melihat jelek terhadap sesuatu yang terjadi berarti yang jelek adalah pikiran kita.

    ReplyDelete
  16. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    penampakkan yang dimaksud di postingan di atas adalah pemikiran, dibalik pemikiran ada pemikiran lain di balik pemikiran pertama dan seterusnya dibalik emikiran n ada pemikiran n+1. menurut saya dengan banyaknya pemikiran tersebut adalah tergantung dari motif. semakin banyak pemikrian maka semakikn banyak motif, motif apa, ya tentunya motif kemenangan. menang melawan dengan penampakkan penampakkan laiin.

    ReplyDelete
  17. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A 2013

    Apa yang nampak dihadapan kita adalah hasil dari buah pikiran kita. Setiap orang memiliki batasan dalam menggunakan akal dan pikirannya. Dibalik hakikat 1 ada hakikat 2, dibalik hakikat 2 ada hakikat 3, dst. Dari hal tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa tidak ada yag tertiggi atau terbaik didalam hidup. Ketika kita merasa kita pandai, maka ada yang lebih padai dari kita. Ketika kita merasa , maka ada ranng lain yang lebih pintar.

    ReplyDelete
  18. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Penampakan ialah apa yang dapat dilihat dan yang dapat dipikirkan yang berjalan secara beriringan. Apabila seseorang melihat dan tertarik akan sesuatu maka ia pasti juga ingin mencari tahu tentang sesuatu tersebut dan akan memikirkannya. Karena ilmu sifatnya luas dan tidak terbatas, maka seorang yang berilmu pasti akan terus menerus belajar, mencari tahu tentang segala sesuatu hingga ia menguasainya.

    ReplyDelete
  19. assalamualaikum wr. wb.

    Sesuatu yang ada dalam pikiranmu adalah intuisi dan muncul dalam berbagai macam penampakan. Hakikat keilmuan kita adalah proses pencarian penampakan-penampakan yang terus mencari tanpa henti, ketika ia berhenti mencari maka sampai disitulah penampakan yag mereka pahami namun apabila terus mencari maka adalah,adalah, adalah, adalah, adalah, adalah, adalah, adalah, adalah, adalah, adalah, adalah,adalah, adalah, adalah, adalah, ini akan terus bertambah dan bertambah dengan berbagai macam penampakan hakekat yang terus kita cari. seperti perjalanan seseorang dia akan berhenti ketika merasa cukup namun ia akan berjalan menuju penampakan-penampakan yang muncul dalam setiap pikiran. semoga kita tidak berhenti untuk mengejar penampakan-penampakan hakiki yang merujuk pada kebenaran Illahi..

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  20. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Sebenar-benar hakekat adalah hakekat, bagaiman bisa berfikir tentang hakekat? hakekat dibelakangnya hakekat, dibelakangnya lagi hakekat, dibelakangnya lagi hakekat, dibelakangnya lagi hakekat ... maka hakekat itu sangat luas sesuai dengan akal dan pikiran sesorang yang tidak ada batasnya hanya yang tahu batasnya adalah diriku sendiri. Maka sebenar-benarnya hakekat adalah akal dan pikiranku sendiri

    ReplyDelete
  21. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun. Kita tidak boleh sombong karena orang yang sombong akan ilmunya maka sebenar-benarnya adalah serendah-rendahnya. karena masih ada yang lebih tinggi ilmu dari pada ilmuku. untuk itu kita harus tetap tawakal, ikhtiar dan doa, agar hati kita tetap terjaga.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sebenar-benar pengakuanmu menemukan hakekat adalah fatamorgana, karena dibelakang hakekat dirimu berdua, masihlah terdapat hakekat pula, yaitu hakekat 3. Artinya orang yang merasa bisa belum tentu bisa atau ahlinya karena itu hanya fatamorgananya, karena di belakangnya masih ada yang lebih ahli daripada merasa ahlinya. maka kita tetap harus berikhtiar untuk mendapatkan informasi dan ilmu tanpa batas tapi tawakal dan doa jangan ditinggalkan.

    ReplyDelete
  23. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Dari elegi ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa penampakan adalah sesuatu yang kasat mata, sesuatu yang mudah terlihat oleh diri kita. Apa yang sebenarnya ada di balik yang kasat mata itu lah yang seharusnya kita ketahui, kita pikirkan. Itu adalah hakikat dari yang kasat mata. Hakikat yang terlihat tidak seperti yang kita lihat, hakikat yang terlihat adalah yang kita pikirkan, karena sebenar-benarnya yang tampak adalah apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu, diperlukan pikiran yang kritis, yang netral, terbebas dari motif, untuk mengetahui apa hakikat dari penampakan, juga keihlasan.

    ReplyDelete
  24. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Sangat menarik pernyataan Prof. Marsigit; "Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak mengerti hakikat apapun. Sedangkan serendah-rendahnya ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa mengerti hakikat apapun." Ilmu yang hakiki tidak didasari dengan kesombongan. Kesombongan lah yang menyebabkan Iblis tidak mau tunduk kepada Adam, kesombongan juga yang menyebabkan Firaun merasa menjadi Tuhan. Kesombongan yang menyebabkan kita dan orang lain teraniaya.

    ReplyDelete
  25. X=T+E perspektif teori klasik
    E=X-T Perspektif generalizibilty
    hwkwkwkw

    tentu perspektif itu milik siapa saja yang berpikir. Saya membayangkan ketika sebenarnya penampakkan hanya yang tampak, belum memiliki kenyataan. Mereka seperti hidup dalam bayangan masing-masing dan berelegi. Pura-puranya mereka masing-masing memiliki ego yang sama sedangkan ego yang mereka miliki adalah sama sebenarnya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  26. Manusia memiliki batasan, tapi batasan yang mereka ciptakan seakan-akan tidak berbatas. Kesalahan terbesa manusia (menurut saya) adalah ia memahami dirinya yang tidak punya batas!
    Sedangkan batas pengetahuan manusia pun sebenarnya berbatas. Batasannya bahkan sangat jelas terlihat dari ujung kaki sampai ujung kepala. kalau rambut manusia tidak ada batasannya pasti sangat menakutkan. Ketika manusia pada akhirnya tidak memiliki rambut yang terpotong panjang lagi, terpotong panjang lagi..
    Manusia harus sadar bahwa ia terbatas!
    Penglihatan, bagaimana tidak menakutkan manusia jika bisa melihat semua yang tidak terlihat tanpa batasan?
    "Tiadalah orang lain mengetahuinya, kecuali dirimu sendiri. Itulah sebenar-benar hakekatmu, yaitu batas pengetahuanmu sendiri." Cuplikan ini sangat mengena dan menjadi inspirasi saya.

    Terimakasih Prof.,
    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  27. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Penampakkan sebagaimana yang tampak pada kita dari ilmu yang kita miliki. Jika kita menampakkan diri kita dari sesuatu yang kita ketahui tanpa mengembangkannya, maka sebenar-benarnya ilmu yang kita miliki hanya sebatas pengakuan bahwa kita mengerti dan berhenti hanya disitu sehingga kita berlaku sombong atas apa yang kita ketahui. Dan setinggi-tingginya ilmu jika kita tak mengerti maka akan terus menggali, karena ilmu tak terbatas dan luas.

    ReplyDelete
  28. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    Penampakkan adalah sesuatu yang dapat kita rasakan dengan panca indera baik itu indra penglihatan, pendengaran, perasa, peraba, dan penciuman. Sehingga penampakkan itu dapat kita rasakan oleh diri kita sendiri, akan tetapi untuk dapat memahami penampakkan yang terjadi terlebih dahulu kita harus memahami hakekat dari ilmu yang telah kita pelajari agar arah dan tujuan dari ilmu itu dapat kita ketahui keberadaanya secara jelas.

    ReplyDelete
  29. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Penjelasan dari apa yang nampak di depan kita berarti merupakan penjabaran dari sesuatu yang berada di dalam pikiran kita. Kita tidak akan pernah bisa mendefinisikan sesuatu yang tidak berada di dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  30. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kadang kala kita merasa bahwa pikiran kita sudah paling hebat dan kita mengetahui segalanya. Tetapi sesuai dengan hakikat pikiran yang terbatas, sejatinya setiap manusia memiliki batasan-batasan terkait dengan pengetahuan dan penampakan yang bisa mereka maknai atau mereka artikan. Jangan pernah merasa sombong atas apa yang mampu kita miliki. Bisalah merasa jangan merasa bisa. ^^

    ReplyDelete
  31. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Dari bacaan ini saya mendapatkan dua poin yaitu :
    1. Apa yang kita ucapkan dan lakukan adalah cerminan dri apa yang ada di dalam pikiran kita. Jika pikiran kita baik maka ucapan dan tindakan kita juga akan baik, begitupun sebaliknya. Maka sangat penting menjaga pikiran kita, mengisi pikiran kita dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat.
    2. Manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan, maka janganlah bersikap sombong dan merasa sudah mengetahui segalanya, karena sebenar-benar diri kita hanya berusaha memahami, bukan benar-benar memahami apalagi menguasai.

    ReplyDelete
  32. Setelah saya memahami elegi ini segala sesuatu memiliki penampakan dari segala aspek pikiran. Segala yang tampak semua tergantung pikiran, jika pikiran menampakn hal yang lain maka yang tampak tidak tampak seperti yang tampak atau yang terlihat. Dan sesungguhnya pikiran manusia yang berbeda-beda tergantung pikiran manusia itu sendiri. Penampakan pada diri kita akan tampak seperti yang tampak pada pikiran orang lain. Tetapi semua yang tampak belum tentu sebenar-benarnya tampak, dan segala sesuatu yang tampak akan lebih mudah dinilai dibanding yang tidak tampak seperti perilaku kita yang kita tampakan pada orang lain, maka orang lain akan berpikiran tergantung persepsi masing-masing yang kita tidak dapat mengetahuinya. Sebenar-benar penilaian diri kita adalah pada orang lain. Semua orang merasa apa yang telah dilakukannya benar namun semua tergantung orang lain bagaimana menilainya. Tapi sebenarnya kita manusia tidak memiliki hak untuk menilai orang lain karena, pada hakekatnya manusia itu sama, hanya amal ibadahnyalah yang membedakan dan hanya Allah SWT. Sajalah yang berhak menilai amal ibadah baik buruknya sesorang. Maka dari itu setiap manusia janganlah menyombongkan diri jika merasa lebih mampu dari manusia lainnya, karena diatas langit masih ada langit. Kita hanya manusia yang yang memiliki segala keterbatasan. Dan hanya Allah SWT. yang mampu segalanya dan memiliki segalanya.

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  33. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Penglihatan manusia adalah bagian dari keterbatasan manusia. Manusia tidak pernah dengan jelas melihat apa apa yang tampak dihadapannya. Segala sesuatu yang dilihat tidak sekedar apa yang nampak, melainkan apa yang tidak tampak masih memiliki nilai yang masih utuh menjadi bagian nilai yang tampak. Tetapi bukan berati manusia selalu salah menilai. yang menjadi bagian yang harus dipelajari adalah berhati hati menilai apa yang dinilainya.

    ReplyDelete
  34. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Manusia tidak mengetahui dirinya sendiri. Tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri dari sifat-sifat yang ada dan mungkin ada. Manusia juga tidak bisa menjelaskan apa saja yang dilihat oleh kedua matanya. Karena proyeksi manusia memandang sesuatu tidak hanya bisa satu daerah. Tetapi masih melihat kanan dan kiri dari suatu objek pandangnya. Untuk menjelaskan sesuatu objek yang dilihat manusia, digunakanlah reduksi dari objek-objek yang ada sehigga hanya dapat menampilkan icon tertentu saja. Maka itulah keterbatasan manusia. Sejauh mana manusia mengerti dan menyadari kelemahannya maka sejauh itulah ia dapa mengetahui ilmu dan sebaliknya sejauh mana manusia tidak mengerti dan menyadari kelemahannya maka sejauh itupula ia tidak mendapatkan ilmu apapun.

    ReplyDelete
  35. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, manusia memanusiakan diri dalam hidupnya dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini, semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  36. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016
    Semua yang ada, yang kita lihat, semua perilaku kita adalah bayangan daripada hati dan pikiran kita. Kita tidak mampu memikirkan yang tidak bisa dipikirkan atau yang tidak ada, yang mungkin ada saja tidak bisa dipikirkan apalagi yang tidak ada. Semua yang ada, kenyataan ini adalah bayangan dari pikiran kita, ketika kita tidur tidak dapat melihat bayangan kita lagi. Semua yang ada didunia adalah bayang-bayang dari Tuhan Yang Maha Kuasa

    ReplyDelete
  37. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Hakikat adalah kalimat atau ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan makna yang yang sebenarnya atau makna yang paling dasar dari sesuatu seperti benda, kondisi atau pemikiran, Akan tetapi ada beberapa yang menjadi ungkapan yang sudah sering digunakan dalam kondisi tertentu, sehingga menjadi semacam konvensi, hakikat seperti disebut sebagai hakikat secara adat kebiasaan.

    ReplyDelete
  38. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Apa yang tampak dan kita lihat adalah hasil dari refleksi pemikiran kita sendiri. Semua hal yang ada di dunia adalah bayangan dari pikiran kita. Akan tetapi jangan terlalu bangga dan meninggi-ninggikan pikiran kita, karena hal itu juga memiliki keterbatasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ida Siti Mahsunah
      13301244004
      Pendidikan Matematika I 2013

      Karena jika pikiran itu dinaikkan akan menjadi spiritual dimana spiritual itu tidak bisa tercapai kalau dirasakan di dalam hati.

      Delete
  39. Ida Siti Mahsunah
    13301244004
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sebenar-benarnya penampakan seseorang adalah untuk dirinya sendiri dan terbuka sekaligus tertutup. Sebenar-benarnya diri seseorang adalah penglihatan orang lain dan pikiran orang lain.

    ReplyDelete
  40. Ida Siti Mahsunah
    13301244004
    Pendidikan Matematika I 2013

    Ilmu tertinggi seseorang adalah pengakuannya bahwa ia dapat mengerti hakekat apapun, sedangkan ilmu terendahnya adalah ketika ia merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  41. Rizqi Khilda Amalia
    P Mat I 2013
    13301241046

    Sebenar-benar dirimu bukanlah yang engkau pikirkan. Melainkan sesuai dengan apa yang orang lain pikirkan.

    ReplyDelete
  42. Rizqi Khilda Amalia
    P Mat I 2013
    13301241046

    Janganlah kita menjadi sombong atas pemikiran kita terhadap diri kita sendiri. Sebab, sesungguhnya kita tak sesempurna yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  43. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya, penampakan memang segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata kita dan dipikirkan juga oleh pikiran kita sendiri. Untuk bisa memahami penampakan terlebih dahulu kita harus memahami hakekat dari penampakan. Dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat adalah akal dan pikiran kita. Namun akal dan pikiran kita terbatas, oleh karena itu sebenarnya sangatlah sedikit hakekat yang kita miliki.

    ReplyDelete
  44. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dari elegi ini dapat disimpulkan bahwa Ilmu yang tertinggi adalah pengakuan bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun. Sedangkan serendah-rendah ilmumu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  45. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Penampakan yang dipahami oleh semua orang itu berbeda-beda. Hal ini karena akal dan pikiran kita juga berbeda-beda. Apa yang dilihat oleh orang lain belum tentu sama dengan pandangan kita sendiri. Dan itu adalah hak orang lain untuk berargumen. Intinya adalah setiap manusia dapat memandang sesuatu dari berbagai sudut maupun bagaimana kita melihatnya.

    ReplyDelete
  46. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Kita tidak bisa mengerti akan hakekat. Karena dibalik hakekat ada hakekat. Dan dibalik hakekat ada hakekat lagi. Hingga hakekat dibalik hakekat ada hakekat ... . hingga berhenti pada batas akhir dari hati dan pikiran. Namun hati dan pikiran tidak ada yang mengetahuinya kecuali kita dan Allah. Hati dan pikiran juga tidak memiliki batas. Ilmu kita yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa kita tidak dapat mengerti hakekat apapun.

    ReplyDelete
  47. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Sungguh bijak yang disampaikan orang tua beramput putih, dibalik hakekat adalah hakekat. Hakekat-hakekat itu adalah akal dan pikiranmu. Maka dibalik akal dan pikiranmu atu adalah akal dan pikiranmu juga. Demikian seterusnya sampai enggau menggapai batas pikiranmu. Dari pemaparan ini tersirat bahwa apa yang ada setiap manusia memiliki memiliki batas pikiran masing-masing dan penampakan yang ada dan munkin ada akan sesuia dengan batas dan pikirannya tersebut. Bagaimana kita mendefenisikan sebuah hakekat akan tergantung seberapa dalam dan luas pikran dan pengetahuan kita

    ReplyDelete
  48. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Ilmumu yang tertinggi adalah pengakuanmu bahwa engkau tidak dapat mengerti hakekat apapun, sedangkan serendah-rendah dirimu adalah pengakuanmu bahwa engkau merasa bisa mengerti hakekat apapun. Dari elegi ini mengingatkan kepada kita bahwa semakin kita mengetahui sesuatu sebenarnya menampakkan bahwa masih banyak yang kita tidak tahu. Jangan kita berpuas diri ketika baru mendapatkan suatu pengetahuan baru, karena hakekatnya masih banyak pengetahuan lain yang belum kita tahu.

    ReplyDelete
  49. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Sudah selayaknya sebagai manusia yang diberi akal pikiran, untuk mencari ilmu yang setinggi-tingginya, namun jangan lupa bahwa hakekat mencari ilmu juga karena Allah,sehingga kita akan tetap berjalan dijalan yang benar. Kita tidak sombong dengan ilmu yang kita punya, karena dibalik kemampuan yang kita punya masih ada ilmu yang maha dasyatnya sang Pencipta.

    ReplyDelete
  50. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Setiap manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan melihat yang ada dan yang mungkin ada, keterbatasan mendengar yang ada dan yang mungkin ada, keterbatasan memikirkan hal yang ada dan yang mungkin ada, dan keterbatasan-keterbatasan yang lainnya. Kita terbatas dalam menyebutkan hakekat yang ada dan yang mungkin ada. Karean di dalam hakekat terdapat juga hakekat. Maka menggapai penampakkan yaitu sesuatu yang namapak dimana kita bisa menyebutkan hakekat-hakekat sesuatu yang ada dan yang mungkin ada sampai batas pikiran kita.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  51. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Di belakang hakekat 1 ada hakekat 2, dibelakang hakekat 2 ada hakekat 3, dan seterusnya. Hakekat itu adalah akal dan pikiran. Ini berarti bahwa dibalik akal dan pikiran 1 ada akal dan pikiran 2, dibalik akal dan pikiran 2, ada akal dan oikiran 3, dan seterusnya. Ini lah yang sebenarnya terjadi, akal dan pikiran itu tidak terbatasi karena ada belakangnya dari yang depan.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  52. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sebenar-benar akal dan pikiran adalah infinite regress. Tidak terbatas bisa berarti tidak mempunyai batas. Tidak mempunyai batas bisa berarti berputar-putar melampaui batasnya. Dari kalimat-kalimat tersebut, dapat diartikan bahwa infinte regress itu seperti lingkaran. Berputar-putar karena tidak memiliki ujung dan akhir.

    Terima kasih

    ReplyDelete
  53. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Sebenar-benarnya penampakan adalah satu yaitu kita, penampakan bisa berarati penglihatan kita, bisa menjadi pikiran kita, penampakan juga hakikat akal dan pikiran kita. Hingga penampakan itu kita katakan sebagai batas pikiran kita. Namun untuk menggapai hakikat ini sangat susah karena hakikat mencerminkan apa sebenarnya kita. Ketika kita merasa bisa menggapai hakikat maka itu tidak berarti apa apa.

    ReplyDelete
  54. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Sedalam-dalamnya ilmu kita dan seluas-luasnya pemikiran kita hanya kita dan Allah lah yang dapat mengukur. Di balik pengetahuan satu, tersimpan pengetahuan lainnya. Di balik pengetahuan lainnya, tersimpan pengetahuan lainnya lainnya. Lainnya lainnya begitu seterusnya seperti rantai yang panjang. Entah rantai akan berhenti di mana karena pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia di bumi ini tak terhitung jumlahnya. Bahkan saat seluruh pohon jadi pensil dan lautan-lautan adalah tintanya. Ada hal yang tidak bisa kita ukur. Jika kita merasa hebat dan bisa melampaui semuanya sekiranya itu hal yang bodoh dan tidak mencerminkan orang berilmu yang bijak.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  55. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Banyak orang yang mengaku berilmu dan menguasai suatu hal dengan sangat mendalam, padahal suatu ilmu itu tak ada batasnya, sehingga ketika mengakui bahwa kita telah menguasai suatu hal menjadikan kita terlihat bodoh, karena kita lupa bahwa di atas langit masih ada langit. Ketika kita membenturkannya dengan spiritual, maka kita bisa mengambil sebuah kisah pada masa Rasulullah SAW. Ada segerombolan kaum islam pedalaman yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada Allah SWT, sebagaimana tertuang di Q.S Al-Baqarah ayat 8 : Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.hal tersebut dikarenakan kesombongan mereka bahwa mereka telah sampai pada keimanan, padahal mereka masih sering berlaku munafik . (9)Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  56. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sesungguhnya masalah mengenai penampakan itu hanya berbeda dari cara pandang kita akan suatu obyek yang sedang diamati, pesawat yang berbadan lebarpun akan terlihat hanya sebagai sebuah titik bila dipandang dari kejauahn, begitu pula dengan bumi kita yang hanya akan terlihat sebagai sebuah titik jika dipandang dari planet mars. Padahal kita tahu sendiri bahwa permaukaan bumi itu sangat kompleks bentuknya. Semut pun yang terlihat sebagai sebuah titik akan terlihat menyeramkan bentuknya jika dilihat dari mikroskop. Jadi perbedaan cara pandang yang menyebabkan perbedaan penampakan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  57. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Elegi menggapai penampakkan memang sangat menarik. Apa yang tampak merupakan apa yang ada dipikiran kita. Jika aku melihat seseorang, maka seseorang itu ada di dalam pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat apa yang tampak itu sesuai apa yang ada di pikiranku.

    ReplyDelete
  58. Dyah Padmi
    13301241031
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Elegi menggapai penampakan menjelaskan secara implisit bahwa penampakan yang terlihat oleh mata kita selama ini adalah hasil dari akal dan pikiran kita. Melihat keindahan sebuah kota akan menimbulkan pemikiran tentang kota tersebut, kemudian lahirlah penglihatan dan pemikiran lain mengenai detail kota tersebut. Begitu seterusnya. Sedangkan cara berpikir satu orang dengan yang lainnya pastilah berbeda, maka berbeda pula penampakan yang terlihat oleh matanya.

    ReplyDelete
  59. Dyah Padmi
    13301241031
    Pendidikan Matemaitka Internasional 2013

    Penglihatan seringkali tidak sekedar melihat, namun juga berpikir dan merasakan. Maka akan berbeda esensi atau hakekat hal yang nampak tersebut. Berlaku pula untuk hal yang tidak nampak, misalnya motivasi belajar. Seorang guru tidak akan bisa melihat seberapa besar motivasi belajar siswanya jika tidak bertemu dengan siswanya kemudian mengenalnya dan melaksanakan proses belajar mengajar bersama. Karena itulah, dibalik suatu hakekat ada hakekat-hakekat yang lain. Terima kasih. Posting ini sangat menarik. Semoga Profesor Marsigit selalu diberi kesehatan.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id