Mar 8, 2011

Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah




Oleh Marsigit

Raja Lebah:
Wk..wk..wk...hai semua prajurit lebah...sudahkah engkau melaksanakan tugasmu menjaga sarang lebah dan mencari makanan untuk telur-telurku?. Laporkanlah segala persoalan yang ada.

Prajurit Lebah:
Ampun paduka yang mulia sang Raja Lebah...tiadalah suatu kekurangan apapun yang ada pada sarang kita itu. Hanya sedikit persoalan kecil yang ingin saya laporkan.

Raja Lebah:
Apa masalahnya?

Prajurit Lebah:
Untuk segala jenis musuh...besar, kecil, tua, muda, sedikit, banyak, ...aku tidak merasa takut...sampai matipun aku pertaruhkan jiwaku untuk kebesaran sarang kita ini. Tetapi kali ini kami menghadapi fenomena yang agak aneh?

Raja Lebah:
Lho...fenomena apa?

Prajurit Lebah:
Kami menangkap ada getaran atau frekuensi yang tidak diketahui asalnya...tetapi sebetulnya cukup mengganggu bagi telur-telurmu. Jika dibiarkan maka telur-telurmu terancam bisa tidak menetas atau kalau menetas maka akan mengalami perubahan genetika. Jika telur-telur kita yang menetas nanti mengalami perubahan gen maka bisa membahayakan kerajaan kita...karena keturunan kita itu akan mempunyai sifat dan tabiat yang berbeda. Pelan tetapi pasti maka keturunan kita itu justru akan menjadi musuh kita sendiri.

Raja Lebah:
Wheh...lha.. dhalah.....aku perintahkan kepada engkau semua untuk mencari dimana dan siapa sumbernya. Tangkap dan bawalah ke sini. Jika perlu kita jadikan dia sebagai makanan telur-telurku.

Prajurit Lebah:
Sudah dicari kemana-mana tetapi tidak ditemukan.

Raja Lebah:
Kalau begitu ...strategi saya adalah ...pertebal dan perkuat benteng pertahanan kita. Semua tembok pelidung dibuat rangkap. Setiap lobang dipasang senjata penangkal.

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai Bagawat...sedang melakukan kegiatan apakah dirimu itu? Sejak tadi kelihatannya engkau mempunyai kegiatan yang bertujuan. Tetapi engkau itu kelihatan seperti meniup-niup udara? Untuk apakah? Bolehkah saya mengetahui?

Bagawat:
O...oo...Cantraka...engkau harus mengetahuainya. Kenapa? Jika aku capai maka engkau akan bisa menggantikanku. Demikian juga agar semua Cantraka murid-muridku mempunyai ketrampilan meniup udara seperti diriku ini...sehingga pada saatnya nanti bisa menggantika diriku.

Cantraka:
Tetapi tolong jelaskan wahai Bagawat....bagaimana cara meniup, apa yang engkau tiup, dan apa meksud tiupanmu itu?

Bagawat:
Oo..ooo tentu akan saya jelaskan. Dengarkanlah baik-baik. Sederhana saja teorinya. Saya sebetulnya sedang melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar?

Bagawat:
Lihatlah di sana itu...! Di sana ada sebuah Kerajaan Lebah lengkap dengan Raja, Punggawa dan Prajuritnya. Disamping kebaikan-kebaikannya ...tetapi saya melihat terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst.

Cantraka:
Lho...apa pedulinya?

Bagawat:
Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

Cantraka:
Lantas...apa yang akan engkau lakukan?

Bagawat:
Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Prajurit Lebah1:
Apa pedulinya tiaupan angin sepoi-sepoi kaya gini. Bagiku cuek saja...gak usah dipikirin.

Prajurit Lebah2:
Kalau cuma sekali sih gak apa-apa. Karena kejadiannya berkali-kali saya jadi merasa terganggu.

Prajurit Lebah3:
Lagi pula tiupan ini itu kan tak sebanding dengan tiupan angin kencang seperti biasanya? Tetapi karena polanya sama dan dengan durasi yang tetap pula...maka telah mempengaruhi intuisiku. Ketahuilah bahwa sebuah intuisi itu dapat dipengaruhi oleh fenomena berfrekuensi tetap dan kontinu.

Raja Lebah:
Benar apa kata Prajurit Lebah3...sebetulnya akan aku abaikan saja fenomena ini...tetapi ibarat suarat tetesan air di atas batu...suara khas dan frekuensi rutin talah menyebabkan ....intuisiku menjadi tertarik keluar. Hemmm....bagaimana cara mengatasinya?

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai sang Bagawat...lapor. Ada seekor anak lebah setengah dewasa terjatuh di sampingmu itu. Ini dia aku tangkap...silahkan terimalah...dia masih hidup walaupun badannya kelihatannya lemas sekali.

Bagawat:
Ooo...ooo syukurlah...ini mungkin jalan yang diberikan bagi keberhasilan programku ini. Wahai si Anak Lebah...istirahatlah dulu, tenangkanlah pikiranmu, pelankan nafasmu, ....minumlah air putih ini...

Anak Lebah:
Lho ...engkau siapa? Ada orang ...kok tidak seperti biasanya. Biasanya orang-orang itu selalu mengejarku dan berusaha membunuhku. Tetapi engkau itu lain. Engkau malah menolongku. Terimakasih wahai orang tua atas pertolonganmu. Siapakah namamu dan dia...?

Bagawat:
Kenalkanlah...namaku Bagawat sedangkan dia itu si Cantraka. Wahai si Anak Lebah...terserahlah apa yang engkau pikirkan, apa yang akan engkau lakukan, apa yang engkau kerjakan, apa yang engkau rencanakan. Aku dengan Cantraka ini tak sengaja bisa menolongmu. Jika engkau ingin pulang dan minta saya antar...maka akan saya antar. Namun jika engkau ingin beristirahat di sini ya bolehlah. Aku akan mencarikan madu kesukaanmu dan tempat yang aman bagimu.

Anak Lebah:
Wahai sang Bagawat...pertemuanku dengan kamu kali ini telah merubah persepsiku. Persepsiku terdahulu adalah bahwa semua unsur-unsur di luar diriku itu bersifat konfrontatif dengan duniaku. Itu sebabnya maka kami bersifat protektif.

Bagawat:
Apakah ada maksud dibalik pernyataanmu itu yang ingin engkau sampaikan kepadaku?

Anak Lebah:
Sungguh darimu aku telah belajar nilai-nilai kehidupan. Aku telah menangkap nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif...dst.

Bagawat:
Kongkritnya seperti apa?

Anak Lebah:
Setelah badanku sehat...aku akan pulang dan akan berjuang untuk menyampaikan temuanku. Aku bahkan ingin melakukan sosialisasi perihal temuanku. Lebih dari itu aku juga ingin menyampaikan proposal kepada Rajaku. Proposal itu ada intinya adalah bagaimana mengembangkan Kerajaan Lebah yang tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, .....dst.

39 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial kita wajib bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama, termasuk mau menerima saran, kritik, dan masukan dari orang lain meskipun kritk itu menyakitkan. Hal tersebut semata semata tidak lain tidak bukan adalah untuk membangun diri kita kedepannya agar lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Manusia kadang sulit sekali melihat kekurangan yang ada pada diri sendiri, tetapi lebih mudah mencari kesalahan orang lain. Seperti pepatah yang mengatakan “ Gajah dipelupuk mata tampak, sedangkan kuman diseberang lautan tidak tampak”
    Agar tidak selalu merasa benar, selalu terjemah dan menterjemahkan pengalaman kehidupan. Manusia akan menemukan kekurangan – kekurangan dirinya apabila ia sudah mengetahui indicator baik dan buruk.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam rangka memperbaiki pendidikan di Indonesia, khususnya bagi pihak-pihak yang masih menutup diri terhadap perubahan dan pembaharuan tidak harus dilakukan dengan cara ekstrem seperti pemaksaan agar sesuai dengan apa yang dikehendaki. Menerapkan cara-cara yang bersifat lebih halus akan senantiasa lebih efektif bagi kalangan yang memiliki sifat tertutup., hal ini dikarenakan, orang yang menutup diri tidak akan dengan mudah menerima pengaruh-pengaruh yang datang dari luar secara langsung karena mereka meyakini bahwa segala faktor yang berasal dari luar hanya akan membawa dampak buruk baginya. maka dari itu, lakukanlah pendekatan secara halus dan sedikit demi sedikit buat mereka menyadari bahwa tidak semua yang berasal dari luar itu buruk, tetapi adakalanya pengaruh-pengaruh luar itu memiliki manfaat bagi pendidikannya, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi bukanlah meniadakan keadaan sebelumnya hanya terjadinya pembaharuan yang dapat berguna bagi kemajuan pendidikan.

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jika boleh diibaratkan elegi ini bak peribahasa bagai katak dalam tempurung. Istana lebah yang merasa dirinya hebat dan sempurna namun menutup dirinya dari luar, takut akan adanya perubahan dan selalu memandang rendah pada orang lain. Semakin kuat seseorang semestrinya membuat mereka bersikap lebih terbuka daan membaur dengan yang lainnya. Jika khawatir pada kaum lain yang mempengaruhi maka membatasi diri dan menyaring mengambil nilai positif dari yang lain menjadi solusi akan kekhawatiran.

    ReplyDelete
  5. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam sebuah kehidupan di dunia pasti akan ada struktur di dalamnya. Dari yang bertugas sebagai pengatur hingga sebagai objek atur.
    Dalam pelaksanaan struktur yang ada ini diharapkan mampu menerima masukan yang ada dari tataran ynag mengatur hingga yang di atur.
    Sehingga struktur yang ada bersifat terbuka tidak tertutup.

    ReplyDelete
  6. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari elegi sang bagawat menggoda sarang lebah, bisa kita ambil hikmah di dalamnya bahwasanya kita sebagai manusia mesti memiliki kepribadian yang terbuka atas segala hal yang baru yang sifatnya baik dan membangun, peduli dengan keadaan sekitar, tidak bersifat angkuh, menghargai pendapat dan ide orang lain, dan menjalin hubungan sosial yang positif.


    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam elegi ini mengingatkan kita kembali bahwa kita tidak sendiri di dunia ini, bahwa kita masih membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. maka janganlah sombong dan merasa mampu dalam hidup ini. toh pada kenyataannya sebagaimana cerita di atas si raja merasa sombong padahal ia masih membutuhkan prajurit lebah untuk mengurus segala keperluannya.

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini saya aplikasikan sebagai seorang pendidik kita mengasumsikan lebah itu sebagai siswa, jika kita sebagai pendidik mampu memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan baik, maka satu lebah tersebut yang kita ajarkan pasti akan mengajarkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada yang lain dan seterusnya maka akan tercipta suatu kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif yang tertera pada tulisan elegi ini.

    ReplyDelete
  9. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam struktur kehidupan yang ada sebagai pemegang kekuasaan tidak seharusnya menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada.
    Sehingga kebijakan-kebijakan yang ada lebih didasarkan pada kepentingan mereka sendiri sehingga tidak mengkover kepentingan masyarakat yang ada.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. perkembangan jaman memberikan pengaruh pada perkembangan siswa. Perkembangan tersebut bisa jadi baik ataupun buruk. Perlu diambil tindakan atas perubahan yang ada, entah itu baik maupun buruk. Guru harus bersifat terbuka terhadap perubahan, karena perubahan dapat menambah inovasi dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat memfasilitasi siswa menjadi lebih mandiri, bersosialisai, berpikiran terbuka, dan berani mengemukakan pendapat.

    ReplyDelete
  12. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Kesombongan dan keegoisan adalah awal dari kehancuran. Ketika seseorang itu sombong, egosi maka dia akan merasa benar sendiri tanpa memperhatikan kritikan dari orang lain, bahkan dia akan marah ketika dia beri saran atau dikritik orang lain. Kalau kita ingin berkemabang, ilmu bertambah, dan ingin sukses maka terimalah kritik, saran dari orang lain. Karena kita selaku manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna, kita rentan berbuat kesalahan, maka kita membutuhkan orang lain untuk menilai kita, sudah sampai dimana kita.

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Jujurlah pada dirimu sendiri. Mengakulah jika dirimu adalah makhluk lemah dan memerlukan orang lain. Namun kelemahan tersebut jangan membuatmu terpuruk. Jadikan kelemahan tersebut membuat dirimu bangkit dengan kreativitas yang ditunjukkan dengan karya. Untuk menunjukkan karya tersebut keluarlah dari zona amanmu, berinteraksilah dengan lingkungan baru dimana akan banyak ilmu yang diperoleh dari sana. Dari yang salah dapat diperbaiki menjadi benar.

    ReplyDelete
  16. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Perubahan merupakan bentuk yang wajar terjadi dan sesuatu yang harus terjadi, tetapi tidak jarang untuk dihindari oleh manusia, semua perubahan akan membawa resiko. Begitu pula dengan kurikulum. Kurikulum merupakan suatu yang esensial dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum harus mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang berbeda secara individual, baik dari segi waktu maupun kemampuan belajar. Kurikulum merupakan bentuk inovasi dalam bidang pendidikan, apabila suatu kurikulum terus seperti itu saja (tidak berubah) maka pendidikan kita akan tertinggal dan generasi bangsa tidak dapat mengejar kemajuan yang diperoleh melalui perubahan.
    Dengan demikian perubahan selalu dibutuhkan terutama dalam bidang pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak hanya sebatas masalah pendidikan saja tetapi juga masalah yang mempengaruhi kelancaran proses pendidikan. Dengan adanya perubahan itu kita semua bisa memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini, saya dapatkan bahwa orang yang tertutup akn tergantung pada prejudice atau prasangkat pertamanya. Sehingga jika merak berperasangka buruk terhadap sesuatu maka mereka akan kokoh atas ketertutupannya dan akan menyombongkan diri atas kehebatannya sendiri. Sehingga perlu adanya a priori yang banya adanya tentang sesuatu sehingga baik baginya untuk membuka diri memerdekaan pikirannya.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Perubahan dunia sekarang ini tidak seharusnya disikapi dengan menutup diri. Saat kita menutup diri, kita hanya akan merasa diri kita benar, kemudian berhenti mencari ilmu lagi. jika demikian, bukan ikhlas yang ada melainkan lama kelamaan kita menjadi sombong. Ilmu boleh banyak, tapi jika tidak ada perubahan malah hanya akan menjadi mitos. Apalagi sebagai seorang pemimpin, jika dia tidak mendengar hal-hal yang baik yang membawa perubahan, maka lama-kelamaan tempatnya memimpin akan musnah.

    ReplyDelete
  20. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini menceritakan tentang usaha bagawat untuk menggoda sarang lebah karena dia melihat disamping kebaikan-kebaikan terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst. usahanya meniup sarang lebah tidak berhenti sampai ada anak lebah yang jatuh dan belajar untuk berubah. Ini mengajarkan kepada kita agar tidak takut untuk menegur teman kita jika ada yang salah.

    ReplyDelete
  21. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini juga menceritakan usaha sang Bagawat yang tidak kenal lelah untuk meniup sarang lebah sampai ada anak lebah yang datang dan kemudian berubah pikiran. Bagawat melambangkan seorang guru. Sebagai seorang guru seharusnya kita pun tidak mengenal lelah dalam mendidik murid-murid kita ke arah yang lebih baik. Dengan begitu banyak perubahan perkembangan teknologi saat ini penting bagi kita untuk bisa terus berinovasi dan tak kenal lelah membekali diri serta membimbing para siswa ke arah yang lebih baik. Mungkin sekarang belum terlihat, namun suatu saat nanti pasti usaha kita terjawab.

    ReplyDelete
  22. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam kehidupan tentunya akan saling membutuhkan. Anak lebah dalam elegi tersebut menurut saya memberikan pesan bahwa sebagai manusia hendaknya peka dan peduli terhadap hal – hal yang terjadi di sekitar kita dan juga hendaknya menghindari sikap sombong. Semoga kedepannya sebagai manusia yang beriman mampu semakin peduli terhadap kesusahan orang lain dan menghindari sikap sombong serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan agar tercipta kerukunan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

    ReplyDelete
  23. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Manusia adalah makhluk sosial yang mebutuhkan orang lain dalam hidupnya. Belajar dari lebah yang angkush sombong dan bersifat tertutup maka tidaklah patut dicontoh sifat yang seperti itu. sifat yang baik baik saja yang perlu untuk kita contoh. manusia harus saling tolong menolong karena sejatinya manusia membutuhkan peran dan pertolongan orang lain.

    ReplyDelete
  24. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menceritakan tentang sebuah kerajaan lebah dengan raja yang super protective. Dia takut dengan segala perubahan, kritik, masukan, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, dan hal-hal lain di luar ruang lingkupnya. Sebab dalam pemikirannya, perubahan hanyalah pengganggu yang akan mengancam dirinya. Hal tersebut sungguh ironi mengingat bahwa untuk menggapai kemajuan pasti membutuhkan masukan dari luar. Sebab, kita jauh dari kata ‘sempurna’.

    ReplyDelete
  25. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitu juga dalam hal pendidikan, untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dibutuhkan berbagai perubahan. Contohnya dari segi kurikulum. Indonesia telah banyak mengalami perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum semata-mata untuk memperbaiki pendidikan yang dimaksudkan agar lebih baik.

    ReplyDelete
  26. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari segi pendidik (guru) juga diperlukan adanya berbagai perubahan, seperti metode pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran inovatif, media pembelajaran yang mengarah pada usaha memfasilitasi siswa, dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menutup diri kita dari pengaruh luar. Namun kita juga harus mempunyai filter dalam menghadapi arus globalisasi tesebut agar perubahan dapat dimanfaatkan untuk menggapai kemajuan dalam berbagai bidang.

    ReplyDelete
  27. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk menjadi kerajaan atau negara yang hebat, kita jagan bersifat seperti kerajaan lebah yang tertutup dan seakan kerajaannya yang terhebat dari lainnya. Padahal sebenarnya untuk menjadi kerjaan yang hebat kita harus memiliki sifat yang terbuka dan bisa menerima kritik dan saran yang rakyat dan lainnya. Begitu pula dengan manusia, untuk menjadi manusia yang bahagia dan ingin dianggap ada oleh orang di sekitarnya, dia harus memiliki sifat terbuka atas kritik dan saran (yang diibaratkan sebagai begawat) dari orang lain.

    ReplyDelete
  28. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya apabila elegi di atas diaplikasikan dalam pembelajaran matematika adalah kerajaan lebah sebagai siswa. Sebagai siswa kita jangan menganggap bahwa bahwa matematika itu sulit, (dunia luar adalah matematika). Kemudian untuk membuat siswa dapat belajar matematika adalah metode yang tepat yang digunakan oleh guru sehingga siswa dapat memahami matematika yang diajarkan. Dalam elegi ini metode tersebut diibaratkan sebagai begawat yang meniup sarang lebah. Sehingga hasilnya kerjaan lebih mulai terbuka menerima dunia luar, dan siswa bisa belajar matematika dengan senang.

    ReplyDelete
  29. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi di atas menggambarkan bahwa anak lebah, setelah diberi kesadaran ia bertekad merubah persepsinya yang tidak memberikan manfaat di luar golongannya. Saat kita tumbuh dalam suatu golongan atau perkumpulan orang yang hanya memikirkan golongannya sendiri, lalu Tuhan dengan cara-Nya yang indah memberikan kita hidayah-Nya, maka kita pun hendaknya mampu berjuang dan berusaha merubah persepsi yang telah dianut di dalam golongan kita yang hanya memikirkan kesejahteraan golongan. Dalam hal ini kita dapat mengasumsikan lebah itu sebagai siswa, jika kita sebagai guru mampu memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan baik, maka satu murid yang kita ajarkan kemudian mengajarkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada yang lain dan seterusnya maka akan tercipta suatu kehidupan yang aman, kondusif yang berlandaskan kecerdasan spiritual.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas diceritakan bahwa kerajaan lebah bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif. Sifat sifat tersebut ada karena para lebah tidak pernah berinteraksi dengan makhluk makhluk lain sehingga pemikiran kurang terbuka dan merasa sangat superior.

    ReplyDelete
  31. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, hal yang patut kita pelajari adalah kita tidak boleh sombong, merasa superior. Kita harus berinteraksi dengan yang lain supaya kita tahu bahwa banyak yang lebih baik dari kita dan kita tidak akan sombong.Percayalah, di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete
  32. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hakikat manusia adalah sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial. Sebagai makhluk Tuhan sejatinya harus mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sebagai makhluk sosial, artinya setiap manusia pasti membutuhkan manusia lain atau orang lain. Hal ini erat kaitannya dengan hidup bersosial dan berinteraksi dengan sesama, siap dalam menerima saran, masukan dan kritikan dari orang lain. Hal tersebut semata-mata adalah untuk membangun diri kita agar lebih baik lagi dalam bersikap dan berpikir. Kita pun juga harus menyadari, ketika mengubur jasad kita nanti tidak mungkin akan dengan sendirinya terkubur. Maksudnya adalah, kita hidup di dunia ini tidaklah sendiri, suatu saat kita pasti membutuhkan orang lain.

    ReplyDelete
  33. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam kehidupan tidaklah boeh kita hidup tertutup karena ini tidak akan membuat kita mengalami peningkatan yang ada hanya mengalami kemunduruan. Menghindari sifat sombong adalah salah satu cara agar hidup erus berkembang kearah yang lebih baik. Selain itu melihat keluar adalah salah satu hal yang bisa kita gunakan untuk merefleksi diri apakah sudah benar ataukah masih perlu adanya perbaikan-perbaikan.

    ReplyDelete
  34. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pelajaran yang saya tangkap dari elegi di atas ialah, janganlah menutup diri dan berdiam dalam zona nyaman. Ketika kita kekeh dengan dua hal tersebut, maka tidak akan ada perkembangan dalam diri ini, tak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya, setiap kritik dan saran serta cobaan dari luar ialah semata-mata untuk memperbaiki kualitas diri.

    ReplyDelete
  35. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas adalah bahwa seorang pemimpin tidak boleh bersifat tertutup, angkuh, dominan, arogan, anti pembaharuan dan perubahan, serta tidak boleh mengandalkan kekuasaan dan menganggap bahwa hanya diri sendirinyalah yang benar. Sebagai seorang pemimpin harusnya bisa menghargai tamu, menghargai ide anggota, tidak menekan bawahan, tidak menutup telinga dari bisikan baik, tidak bersifat eksklusif, tidak protektif, selalu mendengar suara rakyat dan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme.

    ReplyDelete
  36. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada elegi diatas bila diaplikasikan pada kehidupan maka manusia harus memiliki pribadi yang terbuka, dapat menerima kritik dan saran yang membangun, dapat bertukar pemikiran antara satu dan yang lainya, intinya janganlah menutup diri dari dunia luar.

    ReplyDelete
  37. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas kita dapat ambil pelajaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk keluarga atau ras tertentu saja. Namun hidup ini adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi manusia dan alam yang ada di dunia ini. Kita dituntut untuk mengenal dunia luar agar terbuka pikiran kita. Dengan terbukanya pikiran kita, kita akan memperoleh nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif dan lain-lain.

    ReplyDelete
  38. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas kita dapat ambil pelajaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk keluarga atau ras tertentu saja. Namun hidup ini adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi manusia dan alam yang ada di dunia ini. Kita dituntut untuk mengenal dunia luar agar terbuka pikiran kita. Dengan terbukanya pikiran kita, kita akan memperoleh nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif dan lain-lain.

    ReplyDelete
  39. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Mengomentari orang lain pasti kita fasih tapi apakah bisa kita mengomentari diri kita sendiri. Elegi di atas menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan tetapi takut kepada orang lain karena ia memandang orang lain selalu lebih rendah dari dirinya. Jika kita ingin dihargai orang lain maka hilangkan sikap sombong dan angkuh dalam dirikita karena kita semua sama di pandangan Allah SWT yang membedakan bukan harta melainkan amalan-amalan kita selama di bumi, maka gunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar ketika Allah mengambil nyawa kita, kita dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.

    ReplyDelete