Mar 8, 2011

Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah




Oleh Marsigit

Raja Lebah:
Wk..wk..wk...hai semua prajurit lebah...sudahkah engkau melaksanakan tugasmu menjaga sarang lebah dan mencari makanan untuk telur-telurku?. Laporkanlah segala persoalan yang ada.

Prajurit Lebah:
Ampun paduka yang mulia sang Raja Lebah...tiadalah suatu kekurangan apapun yang ada pada sarang kita itu. Hanya sedikit persoalan kecil yang ingin saya laporkan.

Raja Lebah:
Apa masalahnya?

Prajurit Lebah:
Untuk segala jenis musuh...besar, kecil, tua, muda, sedikit, banyak, ...aku tidak merasa takut...sampai matipun aku pertaruhkan jiwaku untuk kebesaran sarang kita ini. Tetapi kali ini kami menghadapi fenomena yang agak aneh?

Raja Lebah:
Lho...fenomena apa?

Prajurit Lebah:
Kami menangkap ada getaran atau frekuensi yang tidak diketahui asalnya...tetapi sebetulnya cukup mengganggu bagi telur-telurmu. Jika dibiarkan maka telur-telurmu terancam bisa tidak menetas atau kalau menetas maka akan mengalami perubahan genetika. Jika telur-telur kita yang menetas nanti mengalami perubahan gen maka bisa membahayakan kerajaan kita...karena keturunan kita itu akan mempunyai sifat dan tabiat yang berbeda. Pelan tetapi pasti maka keturunan kita itu justru akan menjadi musuh kita sendiri.

Raja Lebah:
Wheh...lha.. dhalah.....aku perintahkan kepada engkau semua untuk mencari dimana dan siapa sumbernya. Tangkap dan bawalah ke sini. Jika perlu kita jadikan dia sebagai makanan telur-telurku.

Prajurit Lebah:
Sudah dicari kemana-mana tetapi tidak ditemukan.

Raja Lebah:
Kalau begitu ...strategi saya adalah ...pertebal dan perkuat benteng pertahanan kita. Semua tembok pelidung dibuat rangkap. Setiap lobang dipasang senjata penangkal.

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai Bagawat...sedang melakukan kegiatan apakah dirimu itu? Sejak tadi kelihatannya engkau mempunyai kegiatan yang bertujuan. Tetapi engkau itu kelihatan seperti meniup-niup udara? Untuk apakah? Bolehkah saya mengetahui?

Bagawat:
O...oo...Cantraka...engkau harus mengetahuainya. Kenapa? Jika aku capai maka engkau akan bisa menggantikanku. Demikian juga agar semua Cantraka murid-muridku mempunyai ketrampilan meniup udara seperti diriku ini...sehingga pada saatnya nanti bisa menggantika diriku.

Cantraka:
Tetapi tolong jelaskan wahai Bagawat....bagaimana cara meniup, apa yang engkau tiup, dan apa meksud tiupanmu itu?

Bagawat:
Oo..ooo tentu akan saya jelaskan. Dengarkanlah baik-baik. Sederhana saja teorinya. Saya sebetulnya sedang melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar?

Bagawat:
Lihatlah di sana itu...! Di sana ada sebuah Kerajaan Lebah lengkap dengan Raja, Punggawa dan Prajuritnya. Disamping kebaikan-kebaikannya ...tetapi saya melihat terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst.

Cantraka:
Lho...apa pedulinya?

Bagawat:
Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

Cantraka:
Lantas...apa yang akan engkau lakukan?

Bagawat:
Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Prajurit Lebah1:
Apa pedulinya tiaupan angin sepoi-sepoi kaya gini. Bagiku cuek saja...gak usah dipikirin.

Prajurit Lebah2:
Kalau cuma sekali sih gak apa-apa. Karena kejadiannya berkali-kali saya jadi merasa terganggu.

Prajurit Lebah3:
Lagi pula tiupan ini itu kan tak sebanding dengan tiupan angin kencang seperti biasanya? Tetapi karena polanya sama dan dengan durasi yang tetap pula...maka telah mempengaruhi intuisiku. Ketahuilah bahwa sebuah intuisi itu dapat dipengaruhi oleh fenomena berfrekuensi tetap dan kontinu.

Raja Lebah:
Benar apa kata Prajurit Lebah3...sebetulnya akan aku abaikan saja fenomena ini...tetapi ibarat suarat tetesan air di atas batu...suara khas dan frekuensi rutin talah menyebabkan ....intuisiku menjadi tertarik keluar. Hemmm....bagaimana cara mengatasinya?

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai sang Bagawat...lapor. Ada seekor anak lebah setengah dewasa terjatuh di sampingmu itu. Ini dia aku tangkap...silahkan terimalah...dia masih hidup walaupun badannya kelihatannya lemas sekali.

Bagawat:
Ooo...ooo syukurlah...ini mungkin jalan yang diberikan bagi keberhasilan programku ini. Wahai si Anak Lebah...istirahatlah dulu, tenangkanlah pikiranmu, pelankan nafasmu, ....minumlah air putih ini...

Anak Lebah:
Lho ...engkau siapa? Ada orang ...kok tidak seperti biasanya. Biasanya orang-orang itu selalu mengejarku dan berusaha membunuhku. Tetapi engkau itu lain. Engkau malah menolongku. Terimakasih wahai orang tua atas pertolonganmu. Siapakah namamu dan dia...?

Bagawat:
Kenalkanlah...namaku Bagawat sedangkan dia itu si Cantraka. Wahai si Anak Lebah...terserahlah apa yang engkau pikirkan, apa yang akan engkau lakukan, apa yang engkau kerjakan, apa yang engkau rencanakan. Aku dengan Cantraka ini tak sengaja bisa menolongmu. Jika engkau ingin pulang dan minta saya antar...maka akan saya antar. Namun jika engkau ingin beristirahat di sini ya bolehlah. Aku akan mencarikan madu kesukaanmu dan tempat yang aman bagimu.

Anak Lebah:
Wahai sang Bagawat...pertemuanku dengan kamu kali ini telah merubah persepsiku. Persepsiku terdahulu adalah bahwa semua unsur-unsur di luar diriku itu bersifat konfrontatif dengan duniaku. Itu sebabnya maka kami bersifat protektif.

Bagawat:
Apakah ada maksud dibalik pernyataanmu itu yang ingin engkau sampaikan kepadaku?

Anak Lebah:
Sungguh darimu aku telah belajar nilai-nilai kehidupan. Aku telah menangkap nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif...dst.

Bagawat:
Kongkritnya seperti apa?

Anak Lebah:
Setelah badanku sehat...aku akan pulang dan akan berjuang untuk menyampaikan temuanku. Aku bahkan ingin melakukan sosialisasi perihal temuanku. Lebih dari itu aku juga ingin menyampaikan proposal kepada Rajaku. Proposal itu ada intinya adalah bagaimana mengembangkan Kerajaan Lebah yang tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, .....dst.

2 comments:

  1. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Betapa hidup ini butuh keseimbangan. Hidup butuh berteman dengan "ruang dan waktu". Tradisional itu tradisi perlu diuri-uri tapi jangan sampai bikin kita "anti" inovasi. Inovasi itu pembaharuan, inovasi itu penyegaran, sewajarnya kita sambut layaknya tamu kehormatan, tapi jangan sampai kita dibikinnya kebablasan.

    Elegi ini sedikit banyak mengaduk-aduk pikiran saya. Saya menjadi tertunduk, melihat diri saya sedalam-dalamnya. Di sebelah mana kira-kira posisi saya sekarang?

    Saya setuju bahwa ilmu dan hal baru yang bermanfaat tidak datang dengan sendirinya, bahkan mereka malah malas mendatangi orang yang diam saja. Maka benar juga kelakukan si "bagawat" ini,
    "Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr..."

    Maka saya setuju, maka ingatlah, bahwa "Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem"

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca elegi di atas bahwa menjadi seorang pemimpin tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya dia sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, dll.
    Belajar nilai-nilai kehidupan itu penting.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete