Mar 8, 2011

Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah




Oleh Marsigit

Raja Lebah:
Wk..wk..wk...hai semua prajurit lebah...sudahkah engkau melaksanakan tugasmu menjaga sarang lebah dan mencari makanan untuk telur-telurku?. Laporkanlah segala persoalan yang ada.

Prajurit Lebah:
Ampun paduka yang mulia sang Raja Lebah...tiadalah suatu kekurangan apapun yang ada pada sarang kita itu. Hanya sedikit persoalan kecil yang ingin saya laporkan.

Raja Lebah:
Apa masalahnya?

Prajurit Lebah:
Untuk segala jenis musuh...besar, kecil, tua, muda, sedikit, banyak, ...aku tidak merasa takut...sampai matipun aku pertaruhkan jiwaku untuk kebesaran sarang kita ini. Tetapi kali ini kami menghadapi fenomena yang agak aneh?

Raja Lebah:
Lho...fenomena apa?

Prajurit Lebah:
Kami menangkap ada getaran atau frekuensi yang tidak diketahui asalnya...tetapi sebetulnya cukup mengganggu bagi telur-telurmu. Jika dibiarkan maka telur-telurmu terancam bisa tidak menetas atau kalau menetas maka akan mengalami perubahan genetika. Jika telur-telur kita yang menetas nanti mengalami perubahan gen maka bisa membahayakan kerajaan kita...karena keturunan kita itu akan mempunyai sifat dan tabiat yang berbeda. Pelan tetapi pasti maka keturunan kita itu justru akan menjadi musuh kita sendiri.

Raja Lebah:
Wheh...lha.. dhalah.....aku perintahkan kepada engkau semua untuk mencari dimana dan siapa sumbernya. Tangkap dan bawalah ke sini. Jika perlu kita jadikan dia sebagai makanan telur-telurku.

Prajurit Lebah:
Sudah dicari kemana-mana tetapi tidak ditemukan.

Raja Lebah:
Kalau begitu ...strategi saya adalah ...pertebal dan perkuat benteng pertahanan kita. Semua tembok pelidung dibuat rangkap. Setiap lobang dipasang senjata penangkal.

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai Bagawat...sedang melakukan kegiatan apakah dirimu itu? Sejak tadi kelihatannya engkau mempunyai kegiatan yang bertujuan. Tetapi engkau itu kelihatan seperti meniup-niup udara? Untuk apakah? Bolehkah saya mengetahui?

Bagawat:
O...oo...Cantraka...engkau harus mengetahuainya. Kenapa? Jika aku capai maka engkau akan bisa menggantikanku. Demikian juga agar semua Cantraka murid-muridku mempunyai ketrampilan meniup udara seperti diriku ini...sehingga pada saatnya nanti bisa menggantika diriku.

Cantraka:
Tetapi tolong jelaskan wahai Bagawat....bagaimana cara meniup, apa yang engkau tiup, dan apa meksud tiupanmu itu?

Bagawat:
Oo..ooo tentu akan saya jelaskan. Dengarkanlah baik-baik. Sederhana saja teorinya. Saya sebetulnya sedang melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar?

Bagawat:
Lihatlah di sana itu...! Di sana ada sebuah Kerajaan Lebah lengkap dengan Raja, Punggawa dan Prajuritnya. Disamping kebaikan-kebaikannya ...tetapi saya melihat terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst.

Cantraka:
Lho...apa pedulinya?

Bagawat:
Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

Cantraka:
Lantas...apa yang akan engkau lakukan?

Bagawat:
Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Prajurit Lebah1:
Apa pedulinya tiaupan angin sepoi-sepoi kaya gini. Bagiku cuek saja...gak usah dipikirin.

Prajurit Lebah2:
Kalau cuma sekali sih gak apa-apa. Karena kejadiannya berkali-kali saya jadi merasa terganggu.

Prajurit Lebah3:
Lagi pula tiupan ini itu kan tak sebanding dengan tiupan angin kencang seperti biasanya? Tetapi karena polanya sama dan dengan durasi yang tetap pula...maka telah mempengaruhi intuisiku. Ketahuilah bahwa sebuah intuisi itu dapat dipengaruhi oleh fenomena berfrekuensi tetap dan kontinu.

Raja Lebah:
Benar apa kata Prajurit Lebah3...sebetulnya akan aku abaikan saja fenomena ini...tetapi ibarat suarat tetesan air di atas batu...suara khas dan frekuensi rutin talah menyebabkan ....intuisiku menjadi tertarik keluar. Hemmm....bagaimana cara mengatasinya?

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai sang Bagawat...lapor. Ada seekor anak lebah setengah dewasa terjatuh di sampingmu itu. Ini dia aku tangkap...silahkan terimalah...dia masih hidup walaupun badannya kelihatannya lemas sekali.

Bagawat:
Ooo...ooo syukurlah...ini mungkin jalan yang diberikan bagi keberhasilan programku ini. Wahai si Anak Lebah...istirahatlah dulu, tenangkanlah pikiranmu, pelankan nafasmu, ....minumlah air putih ini...

Anak Lebah:
Lho ...engkau siapa? Ada orang ...kok tidak seperti biasanya. Biasanya orang-orang itu selalu mengejarku dan berusaha membunuhku. Tetapi engkau itu lain. Engkau malah menolongku. Terimakasih wahai orang tua atas pertolonganmu. Siapakah namamu dan dia...?

Bagawat:
Kenalkanlah...namaku Bagawat sedangkan dia itu si Cantraka. Wahai si Anak Lebah...terserahlah apa yang engkau pikirkan, apa yang akan engkau lakukan, apa yang engkau kerjakan, apa yang engkau rencanakan. Aku dengan Cantraka ini tak sengaja bisa menolongmu. Jika engkau ingin pulang dan minta saya antar...maka akan saya antar. Namun jika engkau ingin beristirahat di sini ya bolehlah. Aku akan mencarikan madu kesukaanmu dan tempat yang aman bagimu.

Anak Lebah:
Wahai sang Bagawat...pertemuanku dengan kamu kali ini telah merubah persepsiku. Persepsiku terdahulu adalah bahwa semua unsur-unsur di luar diriku itu bersifat konfrontatif dengan duniaku. Itu sebabnya maka kami bersifat protektif.

Bagawat:
Apakah ada maksud dibalik pernyataanmu itu yang ingin engkau sampaikan kepadaku?

Anak Lebah:
Sungguh darimu aku telah belajar nilai-nilai kehidupan. Aku telah menangkap nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif...dst.

Bagawat:
Kongkritnya seperti apa?

Anak Lebah:
Setelah badanku sehat...aku akan pulang dan akan berjuang untuk menyampaikan temuanku. Aku bahkan ingin melakukan sosialisasi perihal temuanku. Lebih dari itu aku juga ingin menyampaikan proposal kepada Rajaku. Proposal itu ada intinya adalah bagaimana mengembangkan Kerajaan Lebah yang tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, .....dst.

24 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada elegi diatas bila diaplikasikan pada kehidupan maka manusia harus memiliki pribadi yang terbuka, dapat menerima kritik dan saran yang membangun, dapat bertukar pemikiran antara satu dan yang lainya, intinya janganlah menutup diri dari dunia luar.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas kita dapat ambil pelajaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk keluarga atau ras tertentu saja. Namun hidup ini adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi manusia dan alam yang ada di dunia ini. Kita dituntut untuk mengenal dunia luar agar terbuka pikiran kita. Dengan terbukanya pikiran kita, kita akan memperoleh nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif dan lain-lain.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas kita dapat ambil pelajaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk keluarga atau ras tertentu saja. Namun hidup ini adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi manusia dan alam yang ada di dunia ini. Kita dituntut untuk mengenal dunia luar agar terbuka pikiran kita. Dengan terbukanya pikiran kita, kita akan memperoleh nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif dan lain-lain.

    ReplyDelete
  4. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Mengomentari orang lain pasti kita fasih tapi apakah bisa kita mengomentari diri kita sendiri. Elegi di atas menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan tetapi takut kepada orang lain karena ia memandang orang lain selalu lebih rendah dari dirinya. Jika kita ingin dihargai orang lain maka hilangkan sikap sombong dan angkuh dalam dirikita karena kita semua sama di pandangan Allah SWT yang membedakan bukan harta melainkan amalan-amalan kita selama di bumi, maka gunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar ketika Allah mengambil nyawa kita, kita dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Betapa hidup ini butuh keseimbangan. Hidup butuh berteman dengan "ruang dan waktu". Tradisional itu tradisi perlu diuri-uri tapi jangan sampai bikin kita "anti" inovasi. Inovasi itu pembaharuan, inovasi itu penyegaran, sewajarnya kita sambut layaknya tamu kehormatan, tapi jangan sampai kita dibikinnya kebablasan.

    Elegi ini sedikit banyak mengaduk-aduk pikiran saya. Saya menjadi tertunduk, melihat diri saya sedalam-dalamnya. Di sebelah mana kira-kira posisi saya sekarang?

    Saya setuju bahwa ilmu dan hal baru yang bermanfaat tidak datang dengan sendirinya, bahkan mereka malah malas mendatangi orang yang diam saja. Maka benar juga kelakukan si "bagawat" ini,
    "Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr..."

    Maka saya setuju, maka ingatlah, bahwa "Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem"

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca elegi di atas bahwa menjadi seorang pemimpin tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya dia sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, dll.
    Belajar nilai-nilai kehidupan itu penting.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  7. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Saya akan mmbahas beberapa poin. Yang pertama kondisi manusia yang angkuh. Sudah banyak bukti di sekitar kita. Semakin berkembangnya IPTEK, manusia melupakan adat kesopanannya. Tidak ada lagi bertegur sapa, silaturrahmi antar tetangga, menghargai tamu. Seolah-olah angkuh dan memiliki dunia sendiri dengan gadget yang mereka miliki.
    Kedua yaitu menekan bawahan. Tidak dapat dipungkiri banyak kaum miskin yang semakin tertindas karena memiliki bos/majikan yang semena-mena. Mana sikap tenggang rasa dan kasih sayang Indonesia dulu? Sudah mulai lunturkah? Hidup ini tidak sendiri, setiap orang berhak untuk bahagia dan merdeka. Bukan penindasan, mangambil hak orang lain, dan ingin berkuasa sendiri.

    ReplyDelete
  8. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Hal utama yang saya petik dari elegi adalah kita harus membuka diri tehadap lingkungan sekitar agar kita memiliki pemikiran yang berkembang. Sikap tertutup malah akan membuat diri menjadi seseorang angkuh dan merasa selalu benar. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri namun manusia membutuhkan orang lain. Oleh karena itu kita harus membuka diri termasuk atas masukan dan kritikan. Masukan dan kritikan adalah sarana utama dalam membangun diri menjadi lebih baik. Dengan membuka diri kita bisa hidup berdampingan dengan yang lain dengan rukun sehingga kita menemukan nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif. Semoga kita sebagai pendidik bisa menjadi begawat mengoda sarang lebah. Ilmu yang kita punya menjadikan kita peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Amin.

    ReplyDelete
  9. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Dari sini kita belajar bahwa sifat yang tertutup dan angkuh tidak akan dapat membuat kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama hidup, kita sebaiknya lebih terbuka dan bersedia belajar dari berbagai sumber agar pengetahuan kita berkembang. Penting juga bagi kita untuk dapat bergaul dengan dunia di luar lingkungan kita, baik dalam kanca nasional maupun internasional agar semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Dengan demikian, kita juga dapat memperbaiki ilmu yang mungkin selama ini kita anggap benar tetapi sesungguhnya tidak tepat. Tentu dalam melakukan itu semua kita tetap harus melandaskan diri kita pada spiritualitas dan ati diri kita sehingga kita harus pandai pandai memilahnya.

    ReplyDelete
  10. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seperti salah satu komentar yang pernah saya tuliskan sebelumnya, bahwa mempunyai prinsip hidup yang dipegang teguh itu adalah hal yang baik, karena artinya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempunyai pendirian. Tetapi menjadi tidak baik jika prinsip yang kita pegang itu membuat kita tidak mau menerima pendapat atau masukan dari orang lain dengan alasan ingin memegang teguh prinsip hidup. Karena seperti yang telah dijelaskan pada tulisan di atas, sifat yang tertutup akan mengundang sifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme sehingga akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

    ReplyDelete
  11. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Long life education mengajarkan kita agar tidak selalu berhenti belajar, segala inovasi harus tetap ada baik baru maupun pengembangan. Inovasi diperlukan agar kehidupan ini selalu berjalan sesuai perkembangan zamannya, selain itu tujuan inovai adalah untuk mempermudah kehidupan manusianya. Tetapi untuk menjadi inovator juga harus diingat bahwa tidak boleh ersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama . Agar inovasi yang dibuat dapat bermanfaat bagi setiap orang.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Sang Begawat Menggoda Sarang Lebah. Setelah membaca elegi ini pelajaran yang saya dapat adalah sikap tertutup dari dunia luar akan menjadikan kita seorang yang sombong, merasa memiliki kedudukan yang paling tinggi dan tidak memiliki empati dan simpati terhadap sesama. Selain itu, menutup diri dari dunia luar hanya akan menajdikan kita manusia yang selalu berada di zona zaman sehingga susah untuk mengembangkan pontensi yang dimiliki. Manusia sebagai mahluk sosial haruslah terbuka dengan dunia luar. Hal itu karena, manusia sejatinya tidak dapat hidup sendiri tanpa saling membantu dengan sesamanya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Sebagai makhluk yang tidak sempurna, sewajarnya kita terbuka pada setiap kritikan, saran dan masukan yang diberikan agar bisa menjadi lebih baik. Apalagi di era globalisasi yang teknologi dan ilmu pengetahuannya berkembang sangat pesat. Sebagai pendidik, kita harus mau terbuka terhadap perubahan yang ada tanpa meninggalkan nilai-nilai spriritual. Sikap terbuka diperlukan agar para peserta didik kelak akan mampu bersaing di dunia luar. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ratu Rania dari Yordania, "I believe that if we want our children to understand the world beyond their classroom, we must bring the world into their classroom".

    ReplyDelete
  15. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari elegi ini, dapat saya pelajari bahwa manusia hidup tidak bisa sendiri. Dalam pelajaran PKN, pernah diajarkan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Dalam artian manusia dalam hidupnya tidak bisa hidup sendiri, pasti memerlukan bantuan orang lain. Maka dari itu, kita janganlah menutup diri pada lingkungan. Kita harus keluar dari zona nyamannya kita, mencoba bersosialisasi dengan sesama.

    ReplyDelete
  16. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dalam hidup bermasyarakat tidak bisa hidup sendiri dan menutup diri dari masyarakat. Karena kita membutuhkan komunikasi, kerjasama, sosialisasi, kerukunan,...dst. Keterbukaan sangatlah penting, apalagi keterbukaan dalam menerima saran dan kritikan dari orang lain. Satu kritikan bisa membuat kita menjadi lebih baik, tetapi seribu pujian bisa jadi malah membuat kita jadi lebih buruk karena bisa menimbulkan benih-benih kesombongan dalam hati. Pentingnya kita terbuka dengan masyarakat luas yaitu kita bisa memiliki pergaulan dan teman yang lebih beragam, sehingga pengetahuan kita menjadi luas dan lebih bisa memahami berbagai macam karakter orang banyak (tidak semena-mena mematenkan sifat orang lain). Dengan begitu dapat menciptakan suasana kehidupan yang humanis dan berbudaya.

    ReplyDelete
  17. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Hidup bermanfaat bagi orang lain merupakan kebermaknaan dalam hidup. Salah satu caranya adalah dengan saling berbagi kepada sesama. Dengan ilmu yang sudah dimiliki tidak menjadikan diri menutup telinga untuk mendengar kritik maupun saran terkhusus bagi para pemimpin, apalagi sampai pada merasa angkuh dan sombong. Dengan membuka diri untuk menerima masukan maupun saran mengurangi sifat-sifat yang tidak diinginkan, seperti arogan, mengandalkan kekuasaan, dll. Saling mengingatkan dalam kebaikan terutama untuk para pemimpin bangsa agar tidak bersifat tertutup, tidak angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak mengandalkan kekuasaan dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  18. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini adalah plural. Ketika seseorang menutup diri dan enggan bergaul dengan orang lain atau sekelompok orang lain maka hidupnya akan tetap tanpa perubahan. Menilai segala sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahuinya. Tidak dapat membuka diri untuk bergaul dengan orang lain sehingga menganggap bahwa pihak-pihak lain adalah musuh dan akan selalu menyerangnya. Elegi sang begawat menggoda sarang lebah memberikan kesadaran bagi kita agar selalu bergaul, membuka diri, dan dapat berinteraksi dengan orang lain, namun semua itu harus tetap dikomandani dengan hati masing-masing.

    ReplyDelete
  19. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya mendapat beberapa hikmah. Yang pertama berkaitan dengan rumah lebah memiliki kerajaan yang kuat dan tentu sangat bermanfaat. Namun pesan yang ingin ditunjukkan pada elegi di atas berkaitan dengan kekuasaan, kerajaan dan kewenangan. Kerajaan lebah dan rumah lebah di analogikan sebagai suatu tatanan masyarakat atau bisa berupa negara atau apapun. Dimana ketika memiliki kekuasaan itu seharusnya bersikap adil, mendengar suara rakyat, tidak tertuput atau sebaiknya demokratis. Menerima masukan baik dari manapun. Namun inilah yang terjadi di beberapa negara bahkan negara sendiri yang perlu banyak berbenah dan belajar dari kerajaan lebah ini. melakukan revolusi kerajaan dalam upaya menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ulasan yang begitu menarik. Saya mencermati dari ulasan di atas adalah seseorang cenderung melihat keindahan yang tampak dari luarnya saja. Layaknya pada kerajaan lebah bak istana dengan sejuta kemegahannya. Namun, di dalam kerajaan mewah juga dapat mengancam nyawa seseorang. Penting untuk mengetahui apa yang sebenar-benarnya terjadi sebelum melakukan penilaian terhadap orang lain. Bersyukur atas kehidupan yang dijalani dengan kondisi apapun itu adalah jalan yang terbaik. Saya menyadari bahwa saat seseorang ingin membawa suatu perubahan yang besar tentunya harus disertai dengan tekad yang kuat meski mengorbankan hidup dan mati sekalipun.

    ReplyDelete
  21. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Menjadi berpemikiran open-ended (terbuka) memang dibuthkan bagi seorang pembelajar yang haus akan ilmu. Janganlh sombong dengan apa yang telah kita punya. Kita tidak tahu sejauh dan seberapa banyak ilmu yang kita punya jika tidak pembandingnya. Sifat menutup diri itu memang tidak baik, saya banyak belajar dari sang bagawat dengan segala niat baiknya mengganggu kerajaan lebah hanya untuk membuat mereka sadar bahwa mereka telah bersikap idealis dan tertutup, tidak peduli dengan segala yang ada di luar, mengindahkan kritikan, anti perubahan dan pembaharuan, arogan dan seolah-olah hanya mereka yang ada dan memiliki segalanya. Selanjutnya, saya mulai berpikir apakh saya sudah mampu seperti seorang bagawat dan bersikap terbuka akan segala hal selama ini?. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebagai manusia yang hidup di zaman ini, kita harus terbuka akan keadaan lingkungan sekitar. Terbuka bukan berarti hanyut dalam kehidupan yang ada, tetapi menyaring apa yang kita sadari cocok dan tak cocok untuk kehidupan kita. Sikap tertutup malah akan membuat kita berpikiran buruk tentang dunia luar. Baik dan buruk itu relatif. Alangkah tak bijaksana jika menilai sesuatu baik atau buruk hanya karena sikap tertutup kita.

    ReplyDelete
  23. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elegi-elegi bapak selalu menarik, memberikan alur yang susah di tebak dan tak disangka. Terlebih berbicara tentang lebah karena kami menyukai lebah karena setiap komponen lebah dapat dimanfaatkan manusi. Namun, setelah membaca elegi ini kami mempelajari sisi lain dari sifat lebah yakni menggambarkan manusia yang bersifat tertutup akan dunia sosial yang memiliki sifat angkuh, dominan dan ,ain sebagainya. Sifat-sifat ini memang tidak akan menguntungkan karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk hidup. Oleh karenanya agar hidup manusia seimbang di perlukan keseimdangan berinteraksi dengan sesaman manusia dan keseimbangan interaksi kepada Tuhan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  24. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam mengajar, tidak menutup kemungkinan guru akan menghadapi berbagai macam kritikan, baik dari siswa maupun dari luar. Guru tidak boleh menutup diri terhadap kritik-kritik tersebut. Guru yang bijak dapat menjadikan kritik-kritik tersebut untuk membangun dirinya terutama dalam hal memperbaiki proses pembelajaran yang dialkukannya. Guru juga tidak boleh bersikap anti-pembaruan. Semakin berkembang zaman, banyak sekali pembaruan-pembaruan dalam pembelajaran. Seperti misalnya pengguanaan teknologi informasi, internet, media sosial, hendaknya dapat dimanfaatkan pula untuk kegiatan pembelajaran. Hendaknya kita terhindar dari pola-pola pembelajaran yang stagnan, tidak bervariasi, dan cenderung mematikan kreativitas.

    ReplyDelete