Mar 8, 2011

Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah




Oleh Marsigit

Raja Lebah:
Wk..wk..wk...hai semua prajurit lebah...sudahkah engkau melaksanakan tugasmu menjaga sarang lebah dan mencari makanan untuk telur-telurku?. Laporkanlah segala persoalan yang ada.

Prajurit Lebah:
Ampun paduka yang mulia sang Raja Lebah...tiadalah suatu kekurangan apapun yang ada pada sarang kita itu. Hanya sedikit persoalan kecil yang ingin saya laporkan.

Raja Lebah:
Apa masalahnya?

Prajurit Lebah:
Untuk segala jenis musuh...besar, kecil, tua, muda, sedikit, banyak, ...aku tidak merasa takut...sampai matipun aku pertaruhkan jiwaku untuk kebesaran sarang kita ini. Tetapi kali ini kami menghadapi fenomena yang agak aneh?

Raja Lebah:
Lho...fenomena apa?

Prajurit Lebah:
Kami menangkap ada getaran atau frekuensi yang tidak diketahui asalnya...tetapi sebetulnya cukup mengganggu bagi telur-telurmu. Jika dibiarkan maka telur-telurmu terancam bisa tidak menetas atau kalau menetas maka akan mengalami perubahan genetika. Jika telur-telur kita yang menetas nanti mengalami perubahan gen maka bisa membahayakan kerajaan kita...karena keturunan kita itu akan mempunyai sifat dan tabiat yang berbeda. Pelan tetapi pasti maka keturunan kita itu justru akan menjadi musuh kita sendiri.

Raja Lebah:
Wheh...lha.. dhalah.....aku perintahkan kepada engkau semua untuk mencari dimana dan siapa sumbernya. Tangkap dan bawalah ke sini. Jika perlu kita jadikan dia sebagai makanan telur-telurku.

Prajurit Lebah:
Sudah dicari kemana-mana tetapi tidak ditemukan.

Raja Lebah:
Kalau begitu ...strategi saya adalah ...pertebal dan perkuat benteng pertahanan kita. Semua tembok pelidung dibuat rangkap. Setiap lobang dipasang senjata penangkal.

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai Bagawat...sedang melakukan kegiatan apakah dirimu itu? Sejak tadi kelihatannya engkau mempunyai kegiatan yang bertujuan. Tetapi engkau itu kelihatan seperti meniup-niup udara? Untuk apakah? Bolehkah saya mengetahui?

Bagawat:
O...oo...Cantraka...engkau harus mengetahuainya. Kenapa? Jika aku capai maka engkau akan bisa menggantikanku. Demikian juga agar semua Cantraka murid-muridku mempunyai ketrampilan meniup udara seperti diriku ini...sehingga pada saatnya nanti bisa menggantika diriku.

Cantraka:
Tetapi tolong jelaskan wahai Bagawat....bagaimana cara meniup, apa yang engkau tiup, dan apa meksud tiupanmu itu?

Bagawat:
Oo..ooo tentu akan saya jelaskan. Dengarkanlah baik-baik. Sederhana saja teorinya. Saya sebetulnya sedang melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar?

Bagawat:
Lihatlah di sana itu...! Di sana ada sebuah Kerajaan Lebah lengkap dengan Raja, Punggawa dan Prajuritnya. Disamping kebaikan-kebaikannya ...tetapi saya melihat terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst.

Cantraka:
Lho...apa pedulinya?

Bagawat:
Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

Cantraka:
Lantas...apa yang akan engkau lakukan?

Bagawat:
Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Prajurit Lebah1:
Apa pedulinya tiaupan angin sepoi-sepoi kaya gini. Bagiku cuek saja...gak usah dipikirin.

Prajurit Lebah2:
Kalau cuma sekali sih gak apa-apa. Karena kejadiannya berkali-kali saya jadi merasa terganggu.

Prajurit Lebah3:
Lagi pula tiupan ini itu kan tak sebanding dengan tiupan angin kencang seperti biasanya? Tetapi karena polanya sama dan dengan durasi yang tetap pula...maka telah mempengaruhi intuisiku. Ketahuilah bahwa sebuah intuisi itu dapat dipengaruhi oleh fenomena berfrekuensi tetap dan kontinu.

Raja Lebah:
Benar apa kata Prajurit Lebah3...sebetulnya akan aku abaikan saja fenomena ini...tetapi ibarat suarat tetesan air di atas batu...suara khas dan frekuensi rutin talah menyebabkan ....intuisiku menjadi tertarik keluar. Hemmm....bagaimana cara mengatasinya?

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai sang Bagawat...lapor. Ada seekor anak lebah setengah dewasa terjatuh di sampingmu itu. Ini dia aku tangkap...silahkan terimalah...dia masih hidup walaupun badannya kelihatannya lemas sekali.

Bagawat:
Ooo...ooo syukurlah...ini mungkin jalan yang diberikan bagi keberhasilan programku ini. Wahai si Anak Lebah...istirahatlah dulu, tenangkanlah pikiranmu, pelankan nafasmu, ....minumlah air putih ini...

Anak Lebah:
Lho ...engkau siapa? Ada orang ...kok tidak seperti biasanya. Biasanya orang-orang itu selalu mengejarku dan berusaha membunuhku. Tetapi engkau itu lain. Engkau malah menolongku. Terimakasih wahai orang tua atas pertolonganmu. Siapakah namamu dan dia...?

Bagawat:
Kenalkanlah...namaku Bagawat sedangkan dia itu si Cantraka. Wahai si Anak Lebah...terserahlah apa yang engkau pikirkan, apa yang akan engkau lakukan, apa yang engkau kerjakan, apa yang engkau rencanakan. Aku dengan Cantraka ini tak sengaja bisa menolongmu. Jika engkau ingin pulang dan minta saya antar...maka akan saya antar. Namun jika engkau ingin beristirahat di sini ya bolehlah. Aku akan mencarikan madu kesukaanmu dan tempat yang aman bagimu.

Anak Lebah:
Wahai sang Bagawat...pertemuanku dengan kamu kali ini telah merubah persepsiku. Persepsiku terdahulu adalah bahwa semua unsur-unsur di luar diriku itu bersifat konfrontatif dengan duniaku. Itu sebabnya maka kami bersifat protektif.

Bagawat:
Apakah ada maksud dibalik pernyataanmu itu yang ingin engkau sampaikan kepadaku?

Anak Lebah:
Sungguh darimu aku telah belajar nilai-nilai kehidupan. Aku telah menangkap nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif...dst.

Bagawat:
Kongkritnya seperti apa?

Anak Lebah:
Setelah badanku sehat...aku akan pulang dan akan berjuang untuk menyampaikan temuanku. Aku bahkan ingin melakukan sosialisasi perihal temuanku. Lebih dari itu aku juga ingin menyampaikan proposal kepada Rajaku. Proposal itu ada intinya adalah bagaimana mengembangkan Kerajaan Lebah yang tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, .....dst.

78 comments:

  1. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Kesombongan dan keegoisan adalah awal dari kehancuran. Ketika seseorang itu sombong, egosi maka dia akan merasa benar sendiri tanpa memperhatikan kritikan dari orang lain, bahkan dia akan marah ketika dia beri saran atau dikritik orang lain. Kalau kita ingin berkemabang, ilmu bertambah, dan ingin sukses maka terimalah kritik, saran dari orang lain. Karena kita selaku manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna, kita rentan berbuat kesalahan, maka kita membutuhkan orang lain untuk menilai kita, sudah sampai dimana kita.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Jujurlah pada dirimu sendiri. Mengakulah jika dirimu adalah makhluk lemah dan memerlukan orang lain. Namun kelemahan tersebut jangan membuatmu terpuruk. Jadikan kelemahan tersebut membuat dirimu bangkit dengan kreativitas yang ditunjukkan dengan karya. Untuk menunjukkan karya tersebut keluarlah dari zona amanmu, berinteraksilah dengan lingkungan baru dimana akan banyak ilmu yang diperoleh dari sana. Dari yang salah dapat diperbaiki menjadi benar.

    ReplyDelete
  3. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Perubahan merupakan bentuk yang wajar terjadi dan sesuatu yang harus terjadi, tetapi tidak jarang untuk dihindari oleh manusia, semua perubahan akan membawa resiko. Begitu pula dengan kurikulum. Kurikulum merupakan suatu yang esensial dalam suatu penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum harus mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang berbeda secara individual, baik dari segi waktu maupun kemampuan belajar. Kurikulum merupakan bentuk inovasi dalam bidang pendidikan, apabila suatu kurikulum terus seperti itu saja (tidak berubah) maka pendidikan kita akan tertinggal dan generasi bangsa tidak dapat mengejar kemajuan yang diperoleh melalui perubahan.
    Dengan demikian perubahan selalu dibutuhkan terutama dalam bidang pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak hanya sebatas masalah pendidikan saja tetapi juga masalah yang mempengaruhi kelancaran proses pendidikan. Dengan adanya perubahan itu kita semua bisa memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  4. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini, saya dapatkan bahwa orang yang tertutup akn tergantung pada prejudice atau prasangkat pertamanya. Sehingga jika merak berperasangka buruk terhadap sesuatu maka mereka akan kokoh atas ketertutupannya dan akan menyombongkan diri atas kehebatannya sendiri. Sehingga perlu adanya a priori yang banya adanya tentang sesuatu sehingga baik baginya untuk membuka diri memerdekaan pikirannya.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Perubahan dunia sekarang ini tidak seharusnya disikapi dengan menutup diri. Saat kita menutup diri, kita hanya akan merasa diri kita benar, kemudian berhenti mencari ilmu lagi. jika demikian, bukan ikhlas yang ada melainkan lama kelamaan kita menjadi sombong. Ilmu boleh banyak, tapi jika tidak ada perubahan malah hanya akan menjadi mitos. Apalagi sebagai seorang pemimpin, jika dia tidak mendengar hal-hal yang baik yang membawa perubahan, maka lama-kelamaan tempatnya memimpin akan musnah.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini menceritakan tentang usaha bagawat untuk menggoda sarang lebah karena dia melihat disamping kebaikan-kebaikan terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst. usahanya meniup sarang lebah tidak berhenti sampai ada anak lebah yang jatuh dan belajar untuk berubah. Ini mengajarkan kepada kita agar tidak takut untuk menegur teman kita jika ada yang salah.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini juga menceritakan usaha sang Bagawat yang tidak kenal lelah untuk meniup sarang lebah sampai ada anak lebah yang datang dan kemudian berubah pikiran. Bagawat melambangkan seorang guru. Sebagai seorang guru seharusnya kita pun tidak mengenal lelah dalam mendidik murid-murid kita ke arah yang lebih baik. Dengan begitu banyak perubahan perkembangan teknologi saat ini penting bagi kita untuk bisa terus berinovasi dan tak kenal lelah membekali diri serta membimbing para siswa ke arah yang lebih baik. Mungkin sekarang belum terlihat, namun suatu saat nanti pasti usaha kita terjawab.

    ReplyDelete
  8. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam kehidupan tentunya akan saling membutuhkan. Anak lebah dalam elegi tersebut menurut saya memberikan pesan bahwa sebagai manusia hendaknya peka dan peduli terhadap hal – hal yang terjadi di sekitar kita dan juga hendaknya menghindari sikap sombong. Semoga kedepannya sebagai manusia yang beriman mampu semakin peduli terhadap kesusahan orang lain dan menghindari sikap sombong serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan agar tercipta kerukunan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

    ReplyDelete
  9. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Manusia adalah makhluk sosial yang mebutuhkan orang lain dalam hidupnya. Belajar dari lebah yang angkush sombong dan bersifat tertutup maka tidaklah patut dicontoh sifat yang seperti itu. sifat yang baik baik saja yang perlu untuk kita contoh. manusia harus saling tolong menolong karena sejatinya manusia membutuhkan peran dan pertolongan orang lain.

    ReplyDelete
  10. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menceritakan tentang sebuah kerajaan lebah dengan raja yang super protective. Dia takut dengan segala perubahan, kritik, masukan, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, dan hal-hal lain di luar ruang lingkupnya. Sebab dalam pemikirannya, perubahan hanyalah pengganggu yang akan mengancam dirinya. Hal tersebut sungguh ironi mengingat bahwa untuk menggapai kemajuan pasti membutuhkan masukan dari luar. Sebab, kita jauh dari kata ‘sempurna’.

    ReplyDelete
  11. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitu juga dalam hal pendidikan, untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dibutuhkan berbagai perubahan. Contohnya dari segi kurikulum. Indonesia telah banyak mengalami perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum semata-mata untuk memperbaiki pendidikan yang dimaksudkan agar lebih baik.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari segi pendidik (guru) juga diperlukan adanya berbagai perubahan, seperti metode pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran inovatif, media pembelajaran yang mengarah pada usaha memfasilitasi siswa, dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menutup diri kita dari pengaruh luar. Namun kita juga harus mempunyai filter dalam menghadapi arus globalisasi tesebut agar perubahan dapat dimanfaatkan untuk menggapai kemajuan dalam berbagai bidang.

    ReplyDelete
  13. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk menjadi kerajaan atau negara yang hebat, kita jagan bersifat seperti kerajaan lebah yang tertutup dan seakan kerajaannya yang terhebat dari lainnya. Padahal sebenarnya untuk menjadi kerjaan yang hebat kita harus memiliki sifat yang terbuka dan bisa menerima kritik dan saran yang rakyat dan lainnya. Begitu pula dengan manusia, untuk menjadi manusia yang bahagia dan ingin dianggap ada oleh orang di sekitarnya, dia harus memiliki sifat terbuka atas kritik dan saran (yang diibaratkan sebagai begawat) dari orang lain.

    ReplyDelete
  14. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya apabila elegi di atas diaplikasikan dalam pembelajaran matematika adalah kerajaan lebah sebagai siswa. Sebagai siswa kita jangan menganggap bahwa bahwa matematika itu sulit, (dunia luar adalah matematika). Kemudian untuk membuat siswa dapat belajar matematika adalah metode yang tepat yang digunakan oleh guru sehingga siswa dapat memahami matematika yang diajarkan. Dalam elegi ini metode tersebut diibaratkan sebagai begawat yang meniup sarang lebah. Sehingga hasilnya kerjaan lebih mulai terbuka menerima dunia luar, dan siswa bisa belajar matematika dengan senang.

    ReplyDelete
  15. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi di atas menggambarkan bahwa anak lebah, setelah diberi kesadaran ia bertekad merubah persepsinya yang tidak memberikan manfaat di luar golongannya. Saat kita tumbuh dalam suatu golongan atau perkumpulan orang yang hanya memikirkan golongannya sendiri, lalu Tuhan dengan cara-Nya yang indah memberikan kita hidayah-Nya, maka kita pun hendaknya mampu berjuang dan berusaha merubah persepsi yang telah dianut di dalam golongan kita yang hanya memikirkan kesejahteraan golongan. Dalam hal ini kita dapat mengasumsikan lebah itu sebagai siswa, jika kita sebagai guru mampu memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan baik, maka satu murid yang kita ajarkan kemudian mengajarkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada yang lain dan seterusnya maka akan tercipta suatu kehidupan yang aman, kondusif yang berlandaskan kecerdasan spiritual.

    ReplyDelete
  16. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas diceritakan bahwa kerajaan lebah bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif. Sifat sifat tersebut ada karena para lebah tidak pernah berinteraksi dengan makhluk makhluk lain sehingga pemikiran kurang terbuka dan merasa sangat superior.

    ReplyDelete
  17. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, hal yang patut kita pelajari adalah kita tidak boleh sombong, merasa superior. Kita harus berinteraksi dengan yang lain supaya kita tahu bahwa banyak yang lebih baik dari kita dan kita tidak akan sombong.Percayalah, di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete
  18. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada elegi diatas bila diaplikasikan pada kehidupan maka manusia harus memiliki pribadi yang terbuka, dapat menerima kritik dan saran yang membangun, dapat bertukar pemikiran antara satu dan yang lainya, intinya janganlah menutup diri dari dunia luar.

    ReplyDelete
  19. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas kita dapat ambil pelajaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk keluarga atau ras tertentu saja. Namun hidup ini adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi manusia dan alam yang ada di dunia ini. Kita dituntut untuk mengenal dunia luar agar terbuka pikiran kita. Dengan terbukanya pikiran kita, kita akan memperoleh nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif dan lain-lain.

    ReplyDelete
  20. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas kita dapat ambil pelajaran bahwa hidup ini tidak hanya untuk diri sendiri. Tidak hanya untuk keluarga atau ras tertentu saja. Namun hidup ini adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi manusia dan alam yang ada di dunia ini. Kita dituntut untuk mengenal dunia luar agar terbuka pikiran kita. Dengan terbukanya pikiran kita, kita akan memperoleh nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif dan lain-lain.

    ReplyDelete
  21. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Mengomentari orang lain pasti kita fasih tapi apakah bisa kita mengomentari diri kita sendiri. Elegi di atas menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan tetapi takut kepada orang lain karena ia memandang orang lain selalu lebih rendah dari dirinya. Jika kita ingin dihargai orang lain maka hilangkan sikap sombong dan angkuh dalam dirikita karena kita semua sama di pandangan Allah SWT yang membedakan bukan harta melainkan amalan-amalan kita selama di bumi, maka gunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar ketika Allah mengambil nyawa kita, kita dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.

    ReplyDelete
  22. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Betapa hidup ini butuh keseimbangan. Hidup butuh berteman dengan "ruang dan waktu". Tradisional itu tradisi perlu diuri-uri tapi jangan sampai bikin kita "anti" inovasi. Inovasi itu pembaharuan, inovasi itu penyegaran, sewajarnya kita sambut layaknya tamu kehormatan, tapi jangan sampai kita dibikinnya kebablasan.

    Elegi ini sedikit banyak mengaduk-aduk pikiran saya. Saya menjadi tertunduk, melihat diri saya sedalam-dalamnya. Di sebelah mana kira-kira posisi saya sekarang?

    Saya setuju bahwa ilmu dan hal baru yang bermanfaat tidak datang dengan sendirinya, bahkan mereka malah malas mendatangi orang yang diam saja. Maka benar juga kelakukan si "bagawat" ini,
    "Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr..."

    Maka saya setuju, maka ingatlah, bahwa "Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem"

    ReplyDelete
  23. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca elegi di atas bahwa menjadi seorang pemimpin tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya dia sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, dll.
    Belajar nilai-nilai kehidupan itu penting.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  24. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Saya akan mmbahas beberapa poin. Yang pertama kondisi manusia yang angkuh. Sudah banyak bukti di sekitar kita. Semakin berkembangnya IPTEK, manusia melupakan adat kesopanannya. Tidak ada lagi bertegur sapa, silaturrahmi antar tetangga, menghargai tamu. Seolah-olah angkuh dan memiliki dunia sendiri dengan gadget yang mereka miliki.
    Kedua yaitu menekan bawahan. Tidak dapat dipungkiri banyak kaum miskin yang semakin tertindas karena memiliki bos/majikan yang semena-mena. Mana sikap tenggang rasa dan kasih sayang Indonesia dulu? Sudah mulai lunturkah? Hidup ini tidak sendiri, setiap orang berhak untuk bahagia dan merdeka. Bukan penindasan, mangambil hak orang lain, dan ingin berkuasa sendiri.

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Hal utama yang saya petik dari elegi adalah kita harus membuka diri tehadap lingkungan sekitar agar kita memiliki pemikiran yang berkembang. Sikap tertutup malah akan membuat diri menjadi seseorang angkuh dan merasa selalu benar. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri namun manusia membutuhkan orang lain. Oleh karena itu kita harus membuka diri termasuk atas masukan dan kritikan. Masukan dan kritikan adalah sarana utama dalam membangun diri menjadi lebih baik. Dengan membuka diri kita bisa hidup berdampingan dengan yang lain dengan rukun sehingga kita menemukan nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif. Semoga kita sebagai pendidik bisa menjadi begawat mengoda sarang lebah. Ilmu yang kita punya menjadikan kita peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Amin.

    ReplyDelete
  26. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Dari sini kita belajar bahwa sifat yang tertutup dan angkuh tidak akan dapat membuat kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama hidup, kita sebaiknya lebih terbuka dan bersedia belajar dari berbagai sumber agar pengetahuan kita berkembang. Penting juga bagi kita untuk dapat bergaul dengan dunia di luar lingkungan kita, baik dalam kanca nasional maupun internasional agar semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Dengan demikian, kita juga dapat memperbaiki ilmu yang mungkin selama ini kita anggap benar tetapi sesungguhnya tidak tepat. Tentu dalam melakukan itu semua kita tetap harus melandaskan diri kita pada spiritualitas dan ati diri kita sehingga kita harus pandai pandai memilahnya.

    ReplyDelete
  27. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seperti salah satu komentar yang pernah saya tuliskan sebelumnya, bahwa mempunyai prinsip hidup yang dipegang teguh itu adalah hal yang baik, karena artinya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mempunyai pendirian. Tetapi menjadi tidak baik jika prinsip yang kita pegang itu membuat kita tidak mau menerima pendapat atau masukan dari orang lain dengan alasan ingin memegang teguh prinsip hidup. Karena seperti yang telah dijelaskan pada tulisan di atas, sifat yang tertutup akan mengundang sifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme sehingga akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

    ReplyDelete
  28. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Long life education mengajarkan kita agar tidak selalu berhenti belajar, segala inovasi harus tetap ada baik baru maupun pengembangan. Inovasi diperlukan agar kehidupan ini selalu berjalan sesuai perkembangan zamannya, selain itu tujuan inovai adalah untuk mempermudah kehidupan manusianya. Tetapi untuk menjadi inovator juga harus diingat bahwa tidak boleh ersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama . Agar inovasi yang dibuat dapat bermanfaat bagi setiap orang.

    ReplyDelete
  29. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Sang Begawat Menggoda Sarang Lebah. Setelah membaca elegi ini pelajaran yang saya dapat adalah sikap tertutup dari dunia luar akan menjadikan kita seorang yang sombong, merasa memiliki kedudukan yang paling tinggi dan tidak memiliki empati dan simpati terhadap sesama. Selain itu, menutup diri dari dunia luar hanya akan menajdikan kita manusia yang selalu berada di zona zaman sehingga susah untuk mengembangkan pontensi yang dimiliki. Manusia sebagai mahluk sosial haruslah terbuka dengan dunia luar. Hal itu karena, manusia sejatinya tidak dapat hidup sendiri tanpa saling membantu dengan sesamanya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  30. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Sebagai makhluk yang tidak sempurna, sewajarnya kita terbuka pada setiap kritikan, saran dan masukan yang diberikan agar bisa menjadi lebih baik. Apalagi di era globalisasi yang teknologi dan ilmu pengetahuannya berkembang sangat pesat. Sebagai pendidik, kita harus mau terbuka terhadap perubahan yang ada tanpa meninggalkan nilai-nilai spriritual. Sikap terbuka diperlukan agar para peserta didik kelak akan mampu bersaing di dunia luar. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ratu Rania dari Yordania, "I believe that if we want our children to understand the world beyond their classroom, we must bring the world into their classroom".

    ReplyDelete
  31. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari elegi ini, dapat saya pelajari bahwa manusia hidup tidak bisa sendiri. Dalam pelajaran PKN, pernah diajarkan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Dalam artian manusia dalam hidupnya tidak bisa hidup sendiri, pasti memerlukan bantuan orang lain. Maka dari itu, kita janganlah menutup diri pada lingkungan. Kita harus keluar dari zona nyamannya kita, mencoba bersosialisasi dengan sesama.

    ReplyDelete
  32. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dalam hidup bermasyarakat tidak bisa hidup sendiri dan menutup diri dari masyarakat. Karena kita membutuhkan komunikasi, kerjasama, sosialisasi, kerukunan,...dst. Keterbukaan sangatlah penting, apalagi keterbukaan dalam menerima saran dan kritikan dari orang lain. Satu kritikan bisa membuat kita menjadi lebih baik, tetapi seribu pujian bisa jadi malah membuat kita jadi lebih buruk karena bisa menimbulkan benih-benih kesombongan dalam hati. Pentingnya kita terbuka dengan masyarakat luas yaitu kita bisa memiliki pergaulan dan teman yang lebih beragam, sehingga pengetahuan kita menjadi luas dan lebih bisa memahami berbagai macam karakter orang banyak (tidak semena-mena mematenkan sifat orang lain). Dengan begitu dapat menciptakan suasana kehidupan yang humanis dan berbudaya.

    ReplyDelete
  33. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Hidup bermanfaat bagi orang lain merupakan kebermaknaan dalam hidup. Salah satu caranya adalah dengan saling berbagi kepada sesama. Dengan ilmu yang sudah dimiliki tidak menjadikan diri menutup telinga untuk mendengar kritik maupun saran terkhusus bagi para pemimpin, apalagi sampai pada merasa angkuh dan sombong. Dengan membuka diri untuk menerima masukan maupun saran mengurangi sifat-sifat yang tidak diinginkan, seperti arogan, mengandalkan kekuasaan, dll. Saling mengingatkan dalam kebaikan terutama untuk para pemimpin bangsa agar tidak bersifat tertutup, tidak angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak mengandalkan kekuasaan dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  34. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini adalah plural. Ketika seseorang menutup diri dan enggan bergaul dengan orang lain atau sekelompok orang lain maka hidupnya akan tetap tanpa perubahan. Menilai segala sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahuinya. Tidak dapat membuka diri untuk bergaul dengan orang lain sehingga menganggap bahwa pihak-pihak lain adalah musuh dan akan selalu menyerangnya. Elegi sang begawat menggoda sarang lebah memberikan kesadaran bagi kita agar selalu bergaul, membuka diri, dan dapat berinteraksi dengan orang lain, namun semua itu harus tetap dikomandani dengan hati masing-masing.

    ReplyDelete
  35. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya mendapat beberapa hikmah. Yang pertama berkaitan dengan rumah lebah memiliki kerajaan yang kuat dan tentu sangat bermanfaat. Namun pesan yang ingin ditunjukkan pada elegi di atas berkaitan dengan kekuasaan, kerajaan dan kewenangan. Kerajaan lebah dan rumah lebah di analogikan sebagai suatu tatanan masyarakat atau bisa berupa negara atau apapun. Dimana ketika memiliki kekuasaan itu seharusnya bersikap adil, mendengar suara rakyat, tidak tertuput atau sebaiknya demokratis. Menerima masukan baik dari manapun. Namun inilah yang terjadi di beberapa negara bahkan negara sendiri yang perlu banyak berbenah dan belajar dari kerajaan lebah ini. melakukan revolusi kerajaan dalam upaya menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  36. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ulasan yang begitu menarik. Saya mencermati dari ulasan di atas adalah seseorang cenderung melihat keindahan yang tampak dari luarnya saja. Layaknya pada kerajaan lebah bak istana dengan sejuta kemegahannya. Namun, di dalam kerajaan mewah juga dapat mengancam nyawa seseorang. Penting untuk mengetahui apa yang sebenar-benarnya terjadi sebelum melakukan penilaian terhadap orang lain. Bersyukur atas kehidupan yang dijalani dengan kondisi apapun itu adalah jalan yang terbaik. Saya menyadari bahwa saat seseorang ingin membawa suatu perubahan yang besar tentunya harus disertai dengan tekad yang kuat meski mengorbankan hidup dan mati sekalipun.

    ReplyDelete
  37. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Menjadi berpemikiran open-ended (terbuka) memang dibuthkan bagi seorang pembelajar yang haus akan ilmu. Janganlh sombong dengan apa yang telah kita punya. Kita tidak tahu sejauh dan seberapa banyak ilmu yang kita punya jika tidak pembandingnya. Sifat menutup diri itu memang tidak baik, saya banyak belajar dari sang bagawat dengan segala niat baiknya mengganggu kerajaan lebah hanya untuk membuat mereka sadar bahwa mereka telah bersikap idealis dan tertutup, tidak peduli dengan segala yang ada di luar, mengindahkan kritikan, anti perubahan dan pembaharuan, arogan dan seolah-olah hanya mereka yang ada dan memiliki segalanya. Selanjutnya, saya mulai berpikir apakh saya sudah mampu seperti seorang bagawat dan bersikap terbuka akan segala hal selama ini?. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  38. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebagai manusia yang hidup di zaman ini, kita harus terbuka akan keadaan lingkungan sekitar. Terbuka bukan berarti hanyut dalam kehidupan yang ada, tetapi menyaring apa yang kita sadari cocok dan tak cocok untuk kehidupan kita. Sikap tertutup malah akan membuat kita berpikiran buruk tentang dunia luar. Baik dan buruk itu relatif. Alangkah tak bijaksana jika menilai sesuatu baik atau buruk hanya karena sikap tertutup kita.

    ReplyDelete
  39. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elegi-elegi bapak selalu menarik, memberikan alur yang susah di tebak dan tak disangka. Terlebih berbicara tentang lebah karena kami menyukai lebah karena setiap komponen lebah dapat dimanfaatkan manusi. Namun, setelah membaca elegi ini kami mempelajari sisi lain dari sifat lebah yakni menggambarkan manusia yang bersifat tertutup akan dunia sosial yang memiliki sifat angkuh, dominan dan ,ain sebagainya. Sifat-sifat ini memang tidak akan menguntungkan karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk hidup. Oleh karenanya agar hidup manusia seimbang di perlukan keseimdangan berinteraksi dengan sesaman manusia dan keseimbangan interaksi kepada Tuhan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  40. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam mengajar, tidak menutup kemungkinan guru akan menghadapi berbagai macam kritikan, baik dari siswa maupun dari luar. Guru tidak boleh menutup diri terhadap kritik-kritik tersebut. Guru yang bijak dapat menjadikan kritik-kritik tersebut untuk membangun dirinya terutama dalam hal memperbaiki proses pembelajaran yang dialkukannya. Guru juga tidak boleh bersikap anti-pembaruan. Semakin berkembang zaman, banyak sekali pembaruan-pembaruan dalam pembelajaran. Seperti misalnya pengguanaan teknologi informasi, internet, media sosial, hendaknya dapat dimanfaatkan pula untuk kegiatan pembelajaran. Hendaknya kita terhindar dari pola-pola pembelajaran yang stagnan, tidak bervariasi, dan cenderung mematikan kreativitas.

    ReplyDelete
  41. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Elegi diatas mengingatkan kita untuk selalu terbuka dengan segala kritik dan saran yang datang kepada kita. Selama kita menutup diri maka sebenarnya kita telah termakan mitos, tetapi jika kita menerima mentah-mentah juga kita akan termakan mitos. Jadi kita harus menanggapi secara bijak semua yang ada dan mungkin ada, dan kebijakan sejati hanya milik Allah SWT. Maka marilah kita dekatkan diri, dan semoga Allah selalu memberi kita petunjuk dan hidayah. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  42. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini kami mendapatkan suatu pelajaran bahwa dalam menjalani kehidupan kami harus mampu bersikap dan berpikir secara kritis ketika menghadapi dan melihat segala fenomena yang ada di sekitar kami. Kami menyadari bahwa dengan membuka dan menerima informasi secara kritis kan dengan sendirinya memperluas wawasan kami. Dengan memiliki wawasan yang luas kami berharap kami mampu untuk bersikap secara bijaksana.

    ReplyDelete
  43. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Semangat menuntut ilmu secara filsafat adalah mempelajari secara intensif dan ekstensif, maksudnya adalah menuntut ilmu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Sehingga menuntut ilmu tidak cukup hanya di permukaannya saja, tetapi perlu untuk dipelajari secara mendalam. Sedangkan jika hanya mempelajari secara mendalam saja itu tidaklah cukup. Ilmu yang sudah kita peroleh secara mendalam harus kita kembangkan menjadi seluas-luasnya agar semakin berkembang dan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  44. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini menyadarkan saya bahwa alasan mengapa selama ini seseorang/kelompok/masyarakat/negara bersikap tertutup terhadap perubahan dan pembaharuan, penguasa pada kelompok tersebut mematikan peran dan keaktifan yang dikuasainya adalah prasangka buruk mereka terhadap hal di luar dunia mereka. Mereka berpikir bahwa unsur-unsur di luar diri mereka bersifat konfrontatif dengan dunia mereka. Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]. Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk. Hal ini akan menjadi pelajaran bagi saya jika menjadi pendidik matematika nantinya, karena pendidikan membutuhkan inovator pendidikan yang hal ini tidak akan bisa tercapai jika pendidik mengganggap dirinya ekslusif dan tidak mau menerima masukan dari dunia luar.

    ReplyDelete
  45. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Intuisi itu dapat dipengaruhi oleh fenomena berfrekuensi tetap dan kontinu. Itu artinya intuisi dapat diperoleh melalui latihan atau aktivitas secara konsisten. Seperti orang yang terbiasa menaiki motor berkopling ketika suatu kali menaiki motor matic maka pada saat berbelok atau berhenti, secara refleks orang tersebut akan melakukan gerakan menambah atau mengurangi kopling. Hal tersebut dikarenakan intuisi orang tersebut telah terbentuk.

    ReplyDelete
  46. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Hmm... saya masih belum habis pikir tentang analogi sarang lebah ini... Apakah untuk membantu memahami tentang keterbukaan terhadap kebaikan di luar, atau apa maknanya? Saya belum bisa membayangkan apa yang terjadi jika lebah berubah pola hidupnya. Bukankah lebah pada hakekatnya bersifat demikian agar alam ini seimbang? Atau jika ada perubahan genetis berikutnya alam akan teru mencari keseimbangannya yang baru, demikiankah yang dimaksud dengan dinamis, semua tidak ada yang tetap kecuali tetap absolut yaitu Tuhan sendiri?

    ReplyDelete
  47. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebagai seorang pendidik, saya mengasumsikan lebah itu sebagai siswa, jika kita sebagai guru mampu memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan baik, maka satu murid yang kita ajarkan kemudian mengajarkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada yang lain dan seterusnya maka akan tercipta suatu kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya,dan konstruktif.

    ReplyDelete
  48. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Dalam kehidupan ini tidak ada yang sempurna, maka tidak pantaslah seseorang berada di dunia ini dengan berlaku sombong untuk membanggakan apa yang dimilikinya. Kita tidak akan bisa hidup tanpa ada interaksi dengan dunia luar. Hidup manusia ditakdirkan untuk membantu orang lain. Untuk itu, kita harus peka terhadap apa yang terjadi, tidak melihat hal-hal hanya dari apa yang tampak ada di dalamnya, tapi juga harus melihat ke dunia luar dengan apa yang terjadi disekitar kita. ini mensyaraktan berpikir intensif dan ekstensif.

    ReplyDelete
  49. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dlam dunia pendidikan, elegi diatas berkaitan. Sebagai contoh adalah sering bergantinya kurikulum di indonesia, itu karena Indonesia sedang membuka diri dan sering meniru negara-negara lain dalam hal kurikulum untuk diterapkan di dalam negeri. Artinya Indonesia tidak menutup kemungkinan terhadap pengaruh pendidikan dari luar. Hal ini tentu baik asalkan yang ditiru juga baik. Maka dari itu harus bisa mencari teladan dalam pendidikan dari negara yang baik pendidikannya. Pendidikan yang baik tentunya menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran, fokus pada proses, menanamkan karakter, dan menjadikan belajar itu nyaman dan ramah bagi siswa.

    ReplyDelete
  50. Nur Dwi laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita diciptakan sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling bersosialisasi agar tercipta keseimbangan. Apabila suatu kelompok bersikap tertutup, angkuh, anti pembaharuan, arogan, eksploitasi akan berdampak buruk tidak hanya pada kelompok tersebut tetapi juga pada kelompok lain. Karena itulah agar tercapai keseimbangan kelompok tersebut harus berubah. Kelompok lain harus membantu upaya perubahan tersebut. Meskipun upaya merubahnya tidaklah mudah tetapi kita harus yakin bahwa dengan dilakukan pelan-pelan, terus menerus, dan dengan memperlihatkan kebaikan akan membuahkan hasil.

    ReplyDelete
  51. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Setelah membaca elegi di atas bahwa menjadi seorang pemimpin tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya dia sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, dll. Belajar nilai-nilai kehidupan itu penting.

    ReplyDelete
  52. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Manusia kadang sulit sekali melihat kekurangan yang ada pada diri sendiri, tetapi lebih mudah mencari kesalahan orang lain. Seperti pepatah yang mengatakan “ Gajah dipelupuk mata tak tampak, sedangkan kuman diseberang mata tampak” Agar tidak selalu merasa benar, selalu terjemah dan menterjemahkan pengalaman kehidupan. Manusia akan menemukan kekurangan – kekurangan dirinya apabila ia sudah mengetahui indicator baik dan buruk

    ReplyDelete
  53. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. perkembangan jaman memberikan pengaruh pada perkembangan siswa. Perkembangan tersebut bisa jadi baik ataupun buruk. Perlu diambil tindakan atas perubahan yang ada, entah itu baik maupun buruk. Guru harus bersifat terbuka terhadap perubahan, karena perubahan dapat menambah inovasi dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat memfasilitasi siswa menjadi lebih mandiri, bersosialisai, berpikiran terbuka, dan berani mengemukakan pendapat.

    ReplyDelete
  54. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Adalah sangat penting membuat diri kita maupun bangsa ini menjadi "Tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, .....dst."

    ReplyDelete
  55. Karena ketika kita bersifat tertutup, anti pembaharuan dan tidak menerima saran dan masukan yang membangun dari pihak lain, maka kita tidak akan mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri. Ketika kita bersifat angkuh dan eksklusif maka kita akan merasa cukup dan tidak membutuhkan perbaikan, sehingga kita tidak dapat mengembangkan diri. Pun juga ketika kita tidak berusaha menekan sifat-sifat negatif dalam internal diri kita, kita tidak akan menjadi orang yang lebih baik dan maju.

    ReplyDelete
  56. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Andai setiap pemimpin di dunia ini memiliki nurani untuk membangun negara atau kerajaan seperti Kerajaan Lebah yang ingin dikembangkan oleh anak lebah. Mereka ikhlas bekerja dan juga berpikir untuk menciptakan negara atau kerajaan yang demokratis, terbuka, tidak arogan, saling menghargai. Tidak menutup diri dengan adanya perubahan yang terus berkembang. Dengan demikian, dunia ini pasti akan damai. Namun demikian itu hanya ada di dalam pikiran seperti yang sering Prof. katakan di kelas saat perkuliahan. Yang ada di dunia adalah yang berlawanan dengannya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  57. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Sebuah system selalu memiliki mekanisme pertahanan seperti system yang hidup dalam kerajaan lebah seperti itu. System pertahanan ini berfungsi untuk mengamankan dan menyaring segala hal dari luar yang tidak sesuai atau berbeda dengan system yang ada di dalam. Sehingga ia dikatakan bersifat tertutup. Hal ini bisa jadi juga terjadi dalam system kehidupan kita, atau secara mikro juga terjadi pada diri kita msaing-masing. dimana diwujudkan pada sulitnya kita menerima saran, nasehat atau kritikan yang dialamatkan pada kita. kita hanya mau mendengar atau menerima apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang kita butuh.

    ReplyDelete
  58. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Elegi di atas menggambarkan proses pembelajaran yang ada saat ini. Banyak guru yang masih tertutup dengan dunia luar. Mereka tidak mau untuk menerima hal-hal baru atau inovasi dari luar. Hal ini dikarenakan oleh persepsi yang mereka miliki bahwa sesuatu yang baru itu belum tentu bagus untuk mereka. Selain itu mereka sudah merasa nyaman dengan pembelajaran yang mereka laksanakan.
    Kebanyakan pembelajaran saat ini masih bersifat tradisional. Guru masih mendominasi pembelajaran sehingga komunikasi hanya berjalan satu arah yang menyebabkan menurunnya intuisi siswa. Untuk mengubah cara mengajar ini diperlukan usaha. Usaha ini haruslah bersifat continue agar hasilnya bisa maksimal. Jika tidak dilakukan secara continue maka tidak akan ada gunanya

    ReplyDelete
  59. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dunia berjalan dengan system, ada yag bertugas sebagai pengatur, da nada yang diatur. Pengatur sebagai objek dan yang diatur sebagai objek. Antara subjek dan objek harus saling berinteraksi agar tercipta system yang stabil. Subjek harus mampu menerima kritik dantidak otoriter sedangkan objek mampu menerima aturan dan melaksanakan dengan baik. Artinya system semestinya bersifat terbuka.

    ReplyDelete
  60. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Orang yang berkuasa dalam suatu system struktur, sudah seharusnya melihat kepentingan-kepentingan diluar dirinya, bukan hanya mementingkan ego pribadi dalam mengatur struktur. Artinya apapun kebijakan yang keluar sebagai manifestasi kepentingan-kepentingan yang ada dalam masyarakt.

    ReplyDelete
  61. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menceritakan bahwa seorang atasan tidak ingin ada cacat terhadap apa yang telah menjadi kebijakannya. Semua yang ia lakukan dia menganggap selalu benar. Hal apa saja yang menghambat perlu disingkirkan. Pemimpin yang seperti ini tidak patut dicontoh. Terlebih dalam dunia pendidikan. Adanya perubahan kebijakan yang sering dlakukan, sebaiknya selalu dipertimbangkan dan melihat kondisi siswa Indonesia jangan hanya terobsesi mengikuti perkembangan negara lain jika memang kondisi Indonesia seperti ini, ya inilah kita inilah Indonesia dengan beragam kharajteristiknya.

    ReplyDelete
  62. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Tidak semua yang diluar diri kita itu bersifat kontradiktif dan sesuai dengan pikrian kita. Allah telah menyuruh kita untuk selalu memiliki berbaik sangka dengan segala sesuatu hal. Tidak semua orang itu buruk (oknum), pasti masih ada satu atau dua orang atau bahkan lebih yang memiliki sifat yang positive. Seperti halnya kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah, tidak semua orang itu sejalan. Tetapi ketidak sejalanan ini memiliki alasan yang masuk akal. Maka dari itu, sebagai pemerintahlah yang harusnya terbuka dalam memampung aspirasi masyarakat. Bukan malah menjudge bahwa masyarakat itu sifatnya kontradiktif dan tidak mau sejalna dengan pemerintah.

    ReplyDelete
  63. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa manusia membutuhkan orang lain untuk berkembang. dengan adannya hal itu wajar bila maanusia lainnya mengkkritik manusia lain, hal ini dilakukan agar dia dapat berkembang dan sama-sama berkembang.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  64. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Pemahaman saya dalam membaca elegi diatas adalah ketika kita merasa apa yang kita miliki adalah yang terbaik, kita akan menolak pandangan atau pemikiran dari pihak lain yang sekiranya dianggap tidak penting. Kita akan sibuk dengan pemikiran kita, dan tertutup terhadap pemikiran yang lain, hal seperti inilah yang membuat kita tidak berkembang karena keterbatasan ilmu yang kita miliki dan tidak kita ambah dengan ilmu yang lain.

    ReplyDelete
  65. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menurut saya cerita dalam artikel di atas dapat dianalogikan sebagai katak di dalam tempurung yang tidak mengetahui suasana dunia luar. Tetapi lebah lebih ekstrem lagi. Selain menutup diri, mereka juga berpikir bahwa hal yang berada diluar itu adalah musuhnya semua.

    ReplyDelete
  66. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    kita hidup di dunia ini tidaklah sendiri. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang mampu berdiri sendiri. Antara satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Hidup adalah pergerakan dan bagaimana kita mampu untuk berkembang. Supaya mampu berkembang ke arah yang positif, kita membutuhkan berbagai saran, nasehat dari orang lain untuk kemajuan dan perbaikan kualitas hidup kita. Janganlah berburuk sangka terhadap orang yang memberikan kritikan dan saran karena sebaik-baiknya kita adalah yang mampu menerima setiap kritikan dengan ikhlas dan digunakan sebagai alat untuk introspeksi diri.

    ReplyDelete
  67. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Hidup memang tidak bisa seenaknya sendiri dan menganggap dimiliki oleh diri sendiri. Karena pada dasarnya dalam kehidupan terdapat struktur kehidupan memang dibutuhkan agar adanya keselarasan dalam kehidupan. Namun dalam sebuah struktur juga harus saling mengerti dan memberi satu sama lain. jangan adanya sifat egois dalam diri masing-masing. Hal ini akan menjadikan keromantisan antara individu dalam struktur itu terjalin.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  68. Dari elegi diatas, kita bisa belajar dari sang Begawat dan anak lebah. Ketika kita memiliki sifat tertutup pada dunia luar akan muncul sikap egois, angkuh dan anti pembaharuan. Untuk itulah, penting juga untuk kita melihat lingkungan sekitar kita agar kita menjadi lebih fleksibel dengan perubahan. Kemampuan kita dalam berkomunikasi pun juga turut mendukung diri kita untuk dapat melakukan pembaharuan. Banyak pesan-pesan yang dapat kita ambil dari elegi di atas, beberapa yang saya sampaikan hanya bagian kecil saja dari semua pesan tersirat dalam elegi di atas.

    ReplyDelete
  69. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Benar bahwa suatu bangsa harusnya tidak menutup diri. Suatu bangsa harusnya menjalin kerja sama dengan bangsa lain dalam usaha memajukan bangsanya. Namun dengan membuka diri ke dunia internasional harus diiringi dengan adanya filter spiritual serta budaya agar kearifan lokal serta sifat asli ketimuran bangsa kita tidak hilang.

    ReplyDelete
  70. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Anak lebah dalam elegi di atas ibarat seorang pebelajar yang telah terbuka pola pikirannya mengenai nilai-nilai kehidupan yaitu nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif, dsb. yang diperoleh melalui pengalaman yang tidak lain ialah diajarkan secara tersirat oleh begawat, sehingga mengubah persepsi mengenai unsur-unsur yang berada diluar diri yang menyebabkan lingkungannya bersifat protektif. Sehingga, dia menjadi tergoda dan memiliki keinginan untuk menyosialisasikan dan menyampaikan temuannya kepada pemimpinnya yaitu agar lingkungan (kerajaan lebah) tidak bersifat tertutup, tidak anti pembaharuan, tidak anti pada perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat arogan dan mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi satu arah, tetapi juga menghargai tamu, menghargai gagasan, dan tidak menutup telinga dari kebaikan serta mampu membrantas korupsi, kolusi dan nepotisme.

    ReplyDelete
  71. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah yang telah Bapak share kepada kami. Dari judulnya saja saya dapat menerka-nerka kiranya seperti apa jika seseorang itu mencoba untuk menggoda sarang lebah. Pastinya apabila sarang lebah itu digoda maka pemilik sarangnya akan marah. namun ternyata apa yang saya terka itu belum sepenuhnya benar. Elegi ini menyadarkan saya bahwa alasan mengapa selama ini seseorang/kelompok/masyarakat/negara bersikap tertutup terhadap perubahan dan pembaharuan, penguasa pada kelompok tersebut mematikan peran dan keaktifan yang dikuasainya adalah prasangka buruk mereka terhadap hal di luar dunia mereka. Mereka berpikir bahwa unsur-unsur di luar diri mereka bersifat konfrontatif dengan dunia mereka. Hal ini akan menjadi pelajaran bagi saya jika menjadi pendidik matematika nantinya, karena pendidikan membutuhkan inovator pendidikan yang hal ini tidak akan bisa tercapai jika pendidik mengganggap dirinya ekslusif dan tidak mau menerima masukan dari dunia luar.

    ReplyDelete
  72. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Elegi di atas mengilustrasikan betapa pentingnya sosialisasi dengan masyarakat sekitar, agar memiliki pemikiran yang terbuka, saling peduli, humanis, berbudaya dan lain sebagainya. Sehingga sebetulnya kritikan dari orang lain sangatlah dibutuhkan untuk memperbaiki diri, dengan catatan kita menerimanya sebagai kritik dan saran yang membangun agar pribadi kita menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  73. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Untuk mengahadapi perubahan zaman yang semakin menjadi-jadi, kita harus bersikap dinamis. Jika kita menutup diri, hal itu hanya akan membuat kita buta akan ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia luar. Harus kita pahami bahwa perubahan tidak melulu buruk, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Oleh karena itu, kita harus membuka diri terhadap perubahan zaman agar tidak buta ilmu di zaman yang serba modern ini.

    ReplyDelete
  74. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Kehidupan bersifat dinamis, berubah tiap saatnya. Jika kita untuk memilih untuk tertutup pada perubahan berarti kita memilih untuk menjadi statis dan tidak mengikuti perkembangan dunia. Menutup diri dari perubahan berarti pula bahwa menganggap diri sudah paling sempurna sehingga tidak perlu lagi adanya perubahan, berarti menutup diri merupakan indikator keegoisan. Hidup yang dinamis, diikuti pula oleh pendidikan yang dinamis. Saat ini adalah saat bagi dunia pendidikan untuk mengikuti perkembangan dunia. Bukalah diri pada perubahan-perubahan. Bagi guru dan calon guru, marilah kita bersama-sama larut dalam kedinamisan dunia dan pendidikan, supaya ke depannya pendidikan mengalami perkembangan, sama seperti dunia yang terus-menerus mengalami perkembangan. Bukankah hakekat dari belajar itu adalah sebuah perkembangan?

    ReplyDelete