Mar 7, 2011

Elegi Mengeledhek Kaum Tribal Dengan Sebotol Sofdrink Kosong




Oleh Marsigit

Powernow:
Siapkan pesawat dan semua peralatan penginderaan jarak jauh, termasuk kamera, teleskop, komputer, handphone, dan kebutuhan akomodasi lainnya.

Neokapital:
Baik tuan. Kalau boleh tahu, tuan mau ke mana? Apa pula tujuannya?

Powernow:
Engkau sudah hebat tetapi kurang cerdas. Bukankah kita sudah menjadi penguasa dunia. Maka nikmatilah hidup ini. Kekuasanku meliputi unsur-unsurku dan unsur-unsurmu dan unsur-unsur mereka. Maka aku berhak menggali dari mereka semua kebutuhan dan keperluanku. Aku sekarang ingin bersenang-senang. Maka salah satu yang dapat menghibur diriku adalah bagaimana aku bisa menyaksikan perilaku para tribal, sesuai dengan norma-normaku.


Neokapital:

Apa tugasku tuan?

Powernow:
Tugasmu adalah merekam semua peristiwa atau kejadian yang ada. Tetapi janganlah engkau berlaku bodhoh. Sebetul-betulnya hiburan bagiku adalah jika dia itu mampu menghasilkan keuntungan bagiku. Maka kemaslah semuanya sehingga hasil dari kegiatan kita nanti akan laku jual. Ikutilah semua petunjukku dan jangan terlalu banyak bertanya. Marilah berangkat.

Neokapital:
Baik tuan. Kita terbang ke mana?


Powernow:

Arahkan pesawatnya di atas kehidupan para tribal. Semakin ditemukan para tribal semakin baik. Wah..pemandangannya sangat indah. Engkau pandai juga menerbangkan pesawat ini. Mana botol sofdrik ku? Naik pesawat di atas gurun dan rimba sambil minum Softdrink, betapa segarnya. Maka botol softdrink ku yang sudah kosong ini akan aku lempar ke bawah di dekat kerumunan para tribal itu. Aku lihat para tribal belum mengenal pakaian. Aku melihat para tribal mengira pesawatku ini sebagai para Dewa yang terbang di atasnya. Inilah sebenar-benar ilmuku yang telah menguasainya. Betul kata Francis Bacon "Knowledge is Power". Ini dia botol softdrink kosong ku, aku lemparkan kepada dirimu wahai para tribal. Ambillah. Mana kameranya akan aku abadikan perilaku para tribal itu.

Tribal Kepala:
Oh terimakasih Dewa..Engkau telah mengirimkan sebuah benda ajaib. Baru kali ini aku melihat benda seperti ini. Apa nama benda ini dan apa gunanaya. Jangan-jangan benda ini bisa menggigit. Wah halus dan mengkilap. Tetapi keras juga. Semua masyarakatku dan nenek moyangku belum pernah mendapatkan kiriman benda ajaib seperti ini. Ini berarti para Dewa mengasihaniku. Maka benda ini akan aku beri nama Bajaib. Wahai wargaku semua lihatlah aku mempunyai benda ajaib dan ku beri nama Bajaib. Kemarilah akan aku tunjukkan kepadamu.

Tribal Warga:
Aku takut. Jangan gunakan benda itu untuk membunuhku. Aku melihat dari jauh saja. Wah luar biasa pemimpinku. Dia telah mendapatkan wahyu dari para Dewa. Syukurlah.

Tribal Kepala:
Ini ternyata bajaib bisa digunakan untuk memukul batu. Prash..pecah batu ini. Dapat saya pakai untuk memukul buah yang keras. Prash..pecah pula. Jika aku tiup lubangnya maka dengarkanlah maka dia bisa bersuara. Itu adalah suara para Dewa. Siapa merasa haus? Maka Bajaib ini juga bisa aku pakai untuk menampung air. Jika dipukul benda ini juga bisa berbunyi seperti musik..thang thing thing thing. Indah bukan? Anda boleh melihat dan memegangnya. Jika mau, boleh juga menggunakannya.Kalau perlu dapat pula engkau jadikan sembahanmu yang baru. Hormatlah sebelum memegangnya. Maka aku telah melihat bahwa Bajaib ini adalah masa depanmu yang baru. Kalau perlu lupakan tradisi-tradisimu. Ubahlah hidupmu sesuai dengan sifat-sifat Bajaib ini. Itulah titahku, yaitu titah seorang pemimpin yang telah mendapatkan wahyu Bajaib. Maka dengar dan laksanakanlah.


Tribal Warga:

Aku pinjam. Aku ingin mematahkan kayu. Aku pinjam aku ingin memukul batu. Aku pinjam aku ingin mengisinya dengan air. Aku pinjam aku ingin sekedar melihatnya saja.


Tribal Kepala:

Hai..hai jangan berebut.

Tribal Warga:
Aku pinjam aku ingin mendengar suara para Dewa. Aku pinjam, aku ingin menggunakannya untuk bercermin. Aku pinjam, aku ingin memecah isi buah. Aku pinjam aku sekedar ingin mejeng saja.

Tribal Kepala:
Hai..hai jangan berebut. Gantian, karena Bajaib itu memang hanya satu.


Tribal Warga:

Lho nggak boleh. Aku pukul engkau. Aku rebut Bajaib itu. Prash..prok..grubyak. Terimalah pukulanku ini. Whuait..wadhuh..Biar hancur sekalian. Ayo mana si Bajaib itu? Aku sudah keranjingan..tidak akan ada yang bisa mencegahku memperoleh Bajaib.


Tribal Kepala:

Hai..hai jangan berkelahi.

Tribal Warga:
Tak peduli. Siapa takut. Hayo siapa berani. Aku harus memilikinya walaupun aku harus mati sekalipun.Aku merasa berwibawa setelah memiliki Bajaib. Ternyata Bajaib telah menjadi previlage dan idolaku. Tiadalah artinya hidup ini jika tidak bersama Bajaib. Maka serahkan Bajaib itu. Kalau perlu aku bersedia lakukan apa saja, menyuap, kong kalingkong, kolusi, nepotisme, atau apa sajalah. Setelah akau berurusan dengan Bajaib maka inilah yang lebih nyata dan langsung. Itulah sebenar-benar hidup, yaitu yang tampak dan kongkrit. Buat apa memikirkan yang khayal dan tak tampak. Bawalah ke sini bajaib itu.


Tribal Kepala:

Wah..wah..kejadian apa yang menempuh bangsaku ini. Oh para Dewa apa maksudmu engkau mengirim Bajaib itu kepadaku, sehingga menjadikan bangsaku mengalami malapetaka. Belum pernah bangsaku mengalami peristiwa seperti ini. Belum pernah wargaku mengabaikan perintah seperti ini. Belum pernah orang muda berani kepada orang tua seperti ini. Belum pernah para isteri senekat ini. Belum pernah para suami sebejat ini. Belum pernah para pejabat sekorup ini. Belum pernah hukum dipermainkan seperti ini. Belum pernah wargaku se individu ini. Belum pernah wargaku senekat ini menghalalkan segala cara. Belum pernah wargaku hidup dengan cara-cara instant seperti ini. Belum pernah masyarakatku separah ini. Dimana-mana terjadi tawuran. Bahkan para mahasiswa saja tawuran. Masjid dan tempat ibadah menjadi kurang bergaung lagi. Untuk mencari kebaikan, tidak segan memperolehnya dengan keburukan. Bahkan para ahli moral saja tidak malu-malu lagi melakukan korupsi. Kenapa Bajaib menyebabkan wargaku lebih mementingkan materi dunia dari pada akhirat dan berdoa. Materi telah menjadi segala-galanya bagi wargaku. Belum pernah nurani mereka sekacau ini. Oh apakah ini yang namanya dajal? Apakah ini yang namanya neraka dunia?


Tribal Warga:

Wahai yang mengaku Sang Pemimpin, janganlah engkau berlaku munafik. Gara-gara Bajaib itu aku juga melihat dirimu belum pernah se egois ini. Dirimu belum pernah sekejam itu. Dirimu belum pernah selicik ini. Dirimu belum pernah selalim ini. Dirimu belum pernah seingkar ini. Selama ini aku tertipu oleh halusnya kata-katamu. Engkau berlagak santun tetapi ternyata korup juga. Engkau juga telah selewengkan ajaran-ajaran nenek moyang kita untuk mengelabuhiku. Tetapi aku juga jadi mengerti dirimu yang sebenarnya, gara-gara si Bajaib itu. Aku juga belum pernah engkau betul-betul mendewa-dewakan benda Bajaib seperti ini. Jikalau perilakumu, mental dan pikiranmu saja tidak karuan jangan berharap engkau bisa membangun tribalmu. Janganlah pula munafik engkau menuduhku mempermainkan hukum. Sedangkan akupun melihat bahwa engkau itu lebih pandai memainkan hukum. Yang nyogok trilyunan rupiah masih bebas berkeliaran. Sedangkan yang ngambil sebuah semangka engkau hukum berat. Engkau ternyata tidak bisa menegakkan hukum, karena engkau sendiri terjerat hukum. Jangankan memikirkan pendidikan. Apalah yang engkau ketahui tentang membangun bangsa dan pendidikan itu? Maka berikanlah Bajaib itu kepadaku, karena akan aku gunakan pula untuk memukulmu. Kalau tidak boleh maka aku akan galang demo besar-besaran.

Tribal Kepala:
Whuss..lancang benar engkau itu. Sehebat-hebat engkau, engkau itu tetaplah wargaku. Artinya, aku ini penguasamu. Maka jika engkau semua tidak bisa aku kendalikan, maka aku akan gunakan kekuasaanku. Kalau perlu aku akan bikin perpu, permen, undang-uandang atau dekrit agar engkau semua bisa aku kendalikan. Wahai rakyatku hati-hati dan waspadalah, karena demo-demo yang akan mereka selenggarakan itu bermuatan politis, waspadalah.

Powernow:
Haha..hihi..hehe..hoho...hai..hai..hai.. Wahai Neokapital, lihatlah...persis seperti yang aku skenariokan. Puas..puas...puuuwaasss. Itulah yang aku kehendaki. Dasar tribal yang tetap harus tribal. Jangan biarkan dia menyadari keberadanku dan keberadanmu apalagi niatku dan niatmu. Apa haknya tribal itu hidup di sana? Apa haknya mereka mengaku menguasai tanah dan wilayah itu. Jangan biarkan dia mengetahui dan menyadari dirinya pula. Hai...Neokapital...di ajak ngomong malah diam saja.


Neokapital:

Aku tertegun dengan kecerdasanmu untuk menguasai dunia. Engkau perlakukan para tribal itu layaknya semut saja. Tetapi itu bagus. Bagus untuk kamu dan juga bagus untuk aku. Terimakasih tuan

Powernow:
Adalah tindakan bodhoh kenapa untuk menguasainya pakai kontak langsung dengan mereka. Kembangkan skenario, rencanakan program dan jangan pedulikan mereka. Taruh para tribal itu sebagai unsur-unsurmu dan unsur-unsurku. Gunakan mereka sebagai unsur-unsur penunjang. Kondisikan agar mereka terhibur dengan botol Softdrink kosong itu. Kondisikan agar sifat-sifat botol Softdrink itu menjadi budayanya. Jauhkan mereka dari spritualnya. Kondisikan mereka agar aku sang Powernow bisa menjadi dewanya. Kemuadian kuasai dan kalau perlu hancurkan bagai mereka yang mulai menyadarinya. Jangan biarkan mereka menyadari bahwa aku Powernow adalah jelmaan dari si Blackhole Diraja. Maka jika aku mau, aku bisa berupa apa saja, bahkan berujud botol Softdrink kosong sekalipun. Jadikan saja para tribal itu bagaikan anak ayam si penunggu lumbung padinya. Jika kita kurang kenyang dan kurang enak memakan padi-padi itu, maka si ayam itu bisa kita goreng sekaligus untuk menjadi lauknya. Begitu kan? Maka sebenar-benar warisan dunia adalah bagi orang-orang yang mampu menguasainya.Maka sesungguhnya kaum tribal itu adalah milik dan warisanku.

Huh..hah..heh..heh..heh.

4 comments:

  1. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan tentang bagaimana manusia telah dibohongi dan dibodohi oleh power now. Power now mengadu domba para tribal atau dengan kata lain manusia-manusia dengan cara halus dan tidak diketahui sama sekali oleh mereka. Ada pelajaran yang dapat diambil dari elegi ini, agar kita tidak dipermainkan bangsa lain maka kita haruslah meningkatkan ilmu kita ke dimensi yang lebih tinggi. Sesungguhnya manusia yang berebut kekuasaan, korupsi, tawuran, mementingkan materi dunia dari pada akhirat adalah orang-orang yang tidak berilmu.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniwati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Botol softdrink kosong ibarat teknologi yang hadir di tengah kehidupan kita. Akibat kecanggihan teknologi saat ini masyarakat menjadi kurang peka terhadap sekitarnya. Bahkan satu keluarga terkadang jarang berkomunikasi secara langsung dan justru sibuk melihat smartphone masing- masing. Karena itulah ditengah gempuran teknologi kita harus memiliki tameng yang kuat agar tidak mudah digoyahkan. Tameng tersebut penting agar kita dapat memilah-milah hal-hal apa saja yang sekiranya baik dan hal-hal apa saja yang sekiranya buruk. Dan sebaik- baik tameng ialah iman dan taqwa. Dengan iman dan taqwa kita akan menyadari bahwa sebaik-baik teknologi adalah yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Perkembangan teknologi yang sampai saat ini terjadi, tidak selamanya akan memberikan dampak positif. Nyatanya ada hal-hal yang tidak disadari dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam bidang-bidang tertentu. Dalam konteks kemajuan teknologi ada saja dampak negatif yang harus menjadi korban. Satu di antara korban tersebut adalah kemampuan diri manusia. Seperti pada elegi ini, sebuat botol softdrink yang disinyalir adalah sebuah Bajaib yang datang dari Dewa. Kemudian darinya itulah yang nanti dapat menjadi masalah bagi orang-orang yang ingin memilikinya (menguasainya). Seperti halnya teknologi. Apa yang kita dapatkan sebaiknya dicari tahu terlebih dahulu agar dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Pemanfaatan ini tentu tidak terlepas dari peran ilmu pengetahuan. Dan orang-orang berilmu itulah yang nantinya akan menguasai teknologi yang sebenarnya, bukan sebaliknya seperti kata Francis Bacon “knowledge is power” (dalam Elegi Mengeledhek Kaum Tribal dengan Sebotol Softdrink Kosong).

    ReplyDelete
  4. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Subhanallah..
    Sebuah cerita yang mungkin bisa berhubungan dengan realita yang ada saat ini. bagaimana hanya karena sebuah hal yang cukup sederhana banyak orang yang saling sikut, saling tendang, saling pukul, bahkan saling membunuh. Perang tak terhindarkan, bahkan perang pun sekarang sudah mulai modern, tidak hanya menggunakan pedang, tetapi juga bisa menggunakan Facebook, Twitter, Stasiun TV, dsb. Dan parahnya itu dilakukan oleh masyarakat yang intelektualnya tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana rakyat yang dipimpinnya? Pasti mereka akan kebingungan dan menjadi kacau..Kacau..Kacau..

    ReplyDelete