Mar 7, 2011

Elegi Mengeledhek Kaum Tribal Dengan Sebotol Sofdrink Kosong




Oleh Marsigit

Powernow:
Siapkan pesawat dan semua peralatan penginderaan jarak jauh, termasuk kamera, teleskop, komputer, handphone, dan kebutuhan akomodasi lainnya.

Neokapital:
Baik tuan. Kalau boleh tahu, tuan mau ke mana? Apa pula tujuannya?

Powernow:
Engkau sudah hebat tetapi kurang cerdas. Bukankah kita sudah menjadi penguasa dunia. Maka nikmatilah hidup ini. Kekuasanku meliputi unsur-unsurku dan unsur-unsurmu dan unsur-unsur mereka. Maka aku berhak menggali dari mereka semua kebutuhan dan keperluanku. Aku sekarang ingin bersenang-senang. Maka salah satu yang dapat menghibur diriku adalah bagaimana aku bisa menyaksikan perilaku para tribal, sesuai dengan norma-normaku.


Neokapital:

Apa tugasku tuan?

Powernow:
Tugasmu adalah merekam semua peristiwa atau kejadian yang ada. Tetapi janganlah engkau berlaku bodhoh. Sebetul-betulnya hiburan bagiku adalah jika dia itu mampu menghasilkan keuntungan bagiku. Maka kemaslah semuanya sehingga hasil dari kegiatan kita nanti akan laku jual. Ikutilah semua petunjukku dan jangan terlalu banyak bertanya. Marilah berangkat.

Neokapital:
Baik tuan. Kita terbang ke mana?


Powernow:

Arahkan pesawatnya di atas kehidupan para tribal. Semakin ditemukan para tribal semakin baik. Wah..pemandangannya sangat indah. Engkau pandai juga menerbangkan pesawat ini. Mana botol sofdrik ku? Naik pesawat di atas gurun dan rimba sambil minum Softdrink, betapa segarnya. Maka botol softdrink ku yang sudah kosong ini akan aku lempar ke bawah di dekat kerumunan para tribal itu. Aku lihat para tribal belum mengenal pakaian. Aku melihat para tribal mengira pesawatku ini sebagai para Dewa yang terbang di atasnya. Inilah sebenar-benar ilmuku yang telah menguasainya. Betul kata Francis Bacon "Knowledge is Power". Ini dia botol softdrink kosong ku, aku lemparkan kepada dirimu wahai para tribal. Ambillah. Mana kameranya akan aku abadikan perilaku para tribal itu.

Tribal Kepala:
Oh terimakasih Dewa..Engkau telah mengirimkan sebuah benda ajaib. Baru kali ini aku melihat benda seperti ini. Apa nama benda ini dan apa gunanaya. Jangan-jangan benda ini bisa menggigit. Wah halus dan mengkilap. Tetapi keras juga. Semua masyarakatku dan nenek moyangku belum pernah mendapatkan kiriman benda ajaib seperti ini. Ini berarti para Dewa mengasihaniku. Maka benda ini akan aku beri nama Bajaib. Wahai wargaku semua lihatlah aku mempunyai benda ajaib dan ku beri nama Bajaib. Kemarilah akan aku tunjukkan kepadamu.

Tribal Warga:
Aku takut. Jangan gunakan benda itu untuk membunuhku. Aku melihat dari jauh saja. Wah luar biasa pemimpinku. Dia telah mendapatkan wahyu dari para Dewa. Syukurlah.

Tribal Kepala:
Ini ternyata bajaib bisa digunakan untuk memukul batu. Prash..pecah batu ini. Dapat saya pakai untuk memukul buah yang keras. Prash..pecah pula. Jika aku tiup lubangnya maka dengarkanlah maka dia bisa bersuara. Itu adalah suara para Dewa. Siapa merasa haus? Maka Bajaib ini juga bisa aku pakai untuk menampung air. Jika dipukul benda ini juga bisa berbunyi seperti musik..thang thing thing thing. Indah bukan? Anda boleh melihat dan memegangnya. Jika mau, boleh juga menggunakannya.Kalau perlu dapat pula engkau jadikan sembahanmu yang baru. Hormatlah sebelum memegangnya. Maka aku telah melihat bahwa Bajaib ini adalah masa depanmu yang baru. Kalau perlu lupakan tradisi-tradisimu. Ubahlah hidupmu sesuai dengan sifat-sifat Bajaib ini. Itulah titahku, yaitu titah seorang pemimpin yang telah mendapatkan wahyu Bajaib. Maka dengar dan laksanakanlah.


Tribal Warga:

Aku pinjam. Aku ingin mematahkan kayu. Aku pinjam aku ingin memukul batu. Aku pinjam aku ingin mengisinya dengan air. Aku pinjam aku ingin sekedar melihatnya saja.


Tribal Kepala:

Hai..hai jangan berebut.

Tribal Warga:
Aku pinjam aku ingin mendengar suara para Dewa. Aku pinjam, aku ingin menggunakannya untuk bercermin. Aku pinjam, aku ingin memecah isi buah. Aku pinjam aku sekedar ingin mejeng saja.

Tribal Kepala:
Hai..hai jangan berebut. Gantian, karena Bajaib itu memang hanya satu.


Tribal Warga:

Lho nggak boleh. Aku pukul engkau. Aku rebut Bajaib itu. Prash..prok..grubyak. Terimalah pukulanku ini. Whuait..wadhuh..Biar hancur sekalian. Ayo mana si Bajaib itu? Aku sudah keranjingan..tidak akan ada yang bisa mencegahku memperoleh Bajaib.


Tribal Kepala:

Hai..hai jangan berkelahi.

Tribal Warga:
Tak peduli. Siapa takut. Hayo siapa berani. Aku harus memilikinya walaupun aku harus mati sekalipun.Aku merasa berwibawa setelah memiliki Bajaib. Ternyata Bajaib telah menjadi previlage dan idolaku. Tiadalah artinya hidup ini jika tidak bersama Bajaib. Maka serahkan Bajaib itu. Kalau perlu aku bersedia lakukan apa saja, menyuap, kong kalingkong, kolusi, nepotisme, atau apa sajalah. Setelah akau berurusan dengan Bajaib maka inilah yang lebih nyata dan langsung. Itulah sebenar-benar hidup, yaitu yang tampak dan kongkrit. Buat apa memikirkan yang khayal dan tak tampak. Bawalah ke sini bajaib itu.


Tribal Kepala:

Wah..wah..kejadian apa yang menempuh bangsaku ini. Oh para Dewa apa maksudmu engkau mengirim Bajaib itu kepadaku, sehingga menjadikan bangsaku mengalami malapetaka. Belum pernah bangsaku mengalami peristiwa seperti ini. Belum pernah wargaku mengabaikan perintah seperti ini. Belum pernah orang muda berani kepada orang tua seperti ini. Belum pernah para isteri senekat ini. Belum pernah para suami sebejat ini. Belum pernah para pejabat sekorup ini. Belum pernah hukum dipermainkan seperti ini. Belum pernah wargaku se individu ini. Belum pernah wargaku senekat ini menghalalkan segala cara. Belum pernah wargaku hidup dengan cara-cara instant seperti ini. Belum pernah masyarakatku separah ini. Dimana-mana terjadi tawuran. Bahkan para mahasiswa saja tawuran. Masjid dan tempat ibadah menjadi kurang bergaung lagi. Untuk mencari kebaikan, tidak segan memperolehnya dengan keburukan. Bahkan para ahli moral saja tidak malu-malu lagi melakukan korupsi. Kenapa Bajaib menyebabkan wargaku lebih mementingkan materi dunia dari pada akhirat dan berdoa. Materi telah menjadi segala-galanya bagi wargaku. Belum pernah nurani mereka sekacau ini. Oh apakah ini yang namanya dajal? Apakah ini yang namanya neraka dunia?


Tribal Warga:

Wahai yang mengaku Sang Pemimpin, janganlah engkau berlaku munafik. Gara-gara Bajaib itu aku juga melihat dirimu belum pernah se egois ini. Dirimu belum pernah sekejam itu. Dirimu belum pernah selicik ini. Dirimu belum pernah selalim ini. Dirimu belum pernah seingkar ini. Selama ini aku tertipu oleh halusnya kata-katamu. Engkau berlagak santun tetapi ternyata korup juga. Engkau juga telah selewengkan ajaran-ajaran nenek moyang kita untuk mengelabuhiku. Tetapi aku juga jadi mengerti dirimu yang sebenarnya, gara-gara si Bajaib itu. Aku juga belum pernah engkau betul-betul mendewa-dewakan benda Bajaib seperti ini. Jikalau perilakumu, mental dan pikiranmu saja tidak karuan jangan berharap engkau bisa membangun tribalmu. Janganlah pula munafik engkau menuduhku mempermainkan hukum. Sedangkan akupun melihat bahwa engkau itu lebih pandai memainkan hukum. Yang nyogok trilyunan rupiah masih bebas berkeliaran. Sedangkan yang ngambil sebuah semangka engkau hukum berat. Engkau ternyata tidak bisa menegakkan hukum, karena engkau sendiri terjerat hukum. Jangankan memikirkan pendidikan. Apalah yang engkau ketahui tentang membangun bangsa dan pendidikan itu? Maka berikanlah Bajaib itu kepadaku, karena akan aku gunakan pula untuk memukulmu. Kalau tidak boleh maka aku akan galang demo besar-besaran.

Tribal Kepala:
Whuss..lancang benar engkau itu. Sehebat-hebat engkau, engkau itu tetaplah wargaku. Artinya, aku ini penguasamu. Maka jika engkau semua tidak bisa aku kendalikan, maka aku akan gunakan kekuasaanku. Kalau perlu aku akan bikin perpu, permen, undang-uandang atau dekrit agar engkau semua bisa aku kendalikan. Wahai rakyatku hati-hati dan waspadalah, karena demo-demo yang akan mereka selenggarakan itu bermuatan politis, waspadalah.

Powernow:
Haha..hihi..hehe..hoho...hai..hai..hai.. Wahai Neokapital, lihatlah...persis seperti yang aku skenariokan. Puas..puas...puuuwaasss. Itulah yang aku kehendaki. Dasar tribal yang tetap harus tribal. Jangan biarkan dia menyadari keberadanku dan keberadanmu apalagi niatku dan niatmu. Apa haknya tribal itu hidup di sana? Apa haknya mereka mengaku menguasai tanah dan wilayah itu. Jangan biarkan dia mengetahui dan menyadari dirinya pula. Hai...Neokapital...di ajak ngomong malah diam saja.


Neokapital:

Aku tertegun dengan kecerdasanmu untuk menguasai dunia. Engkau perlakukan para tribal itu layaknya semut saja. Tetapi itu bagus. Bagus untuk kamu dan juga bagus untuk aku. Terimakasih tuan

Powernow:
Adalah tindakan bodhoh kenapa untuk menguasainya pakai kontak langsung dengan mereka. Kembangkan skenario, rencanakan program dan jangan pedulikan mereka. Taruh para tribal itu sebagai unsur-unsurmu dan unsur-unsurku. Gunakan mereka sebagai unsur-unsur penunjang. Kondisikan agar mereka terhibur dengan botol Softdrink kosong itu. Kondisikan agar sifat-sifat botol Softdrink itu menjadi budayanya. Jauhkan mereka dari spritualnya. Kondisikan mereka agar aku sang Powernow bisa menjadi dewanya. Kemuadian kuasai dan kalau perlu hancurkan bagai mereka yang mulai menyadarinya. Jangan biarkan mereka menyadari bahwa aku Powernow adalah jelmaan dari si Blackhole Diraja. Maka jika aku mau, aku bisa berupa apa saja, bahkan berujud botol Softdrink kosong sekalipun. Jadikan saja para tribal itu bagaikan anak ayam si penunggu lumbung padinya. Jika kita kurang kenyang dan kurang enak memakan padi-padi itu, maka si ayam itu bisa kita goreng sekaligus untuk menjadi lauknya. Begitu kan? Maka sebenar-benar warisan dunia adalah bagi orang-orang yang mampu menguasainya.Maka sesungguhnya kaum tribal itu adalah milik dan warisanku.

Huh..hah..heh..heh..heh.

18 comments:

  1. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Belajar disini diartikan sebagai adanya perubahan pola pikir yang mengubah pemikiran siswa sebelumnya sehingga nantinya akan mempengaruhi respon yang akan diberikan dari perubahan pemikiran tersebut. Teori belajar berkembang menjadi teori kognitivisme yang intinya adalah proses belajar tidak hanya sekedar mengenai stimulus dan respon saja. Selain itu perubahan proses berikir hanya terjadi di setiap masing-masing indivisu. Maka sebenar-benarnya belajar adalah perubahan pemikiran individu itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Artikel di atas menggambarkan dengan jelas bagaimana seseorang yang memiliki ilmu yang lebih banyak dengan begitu mudahnya memainkan skenario di dunia kaum tribal. Dengan begitu tradisionalnya pemikiran kaum tradisional dapat dengan mudah terporak-porandakan oleh adanya sebuah botol softdrink. Dari artikel di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa pentingnya mencari ilmu untuk meningkatkan derajat kita.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Era globalisasi memunculkan persaingan-persaingan yang semakin ketat untuk menggapai kesuksesan. Sayangnya masih banyak orang yang memaknai kesuksesan itu dengan hal-hal yang lebih bersifat materiil saja. Mereka tidak melibatkan hatinya dalam berikhtiar. Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dan memuaskan dirinya sendiri. Didukung oleh pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, persaingan ini semakin menjadi-jadi. Kaum yang kuat menindas yang lemah. Para intektual berkelakuan tidak intelek. Memanfaatkan kepandaiannya untuk menghancurkan orang lain secara perlahan, yaitu melalui teror pikiran, teror yang halus. Seakan-akan ia memberikan keudahan-kemudahan, kenikmatan-kenikmatan, tapi mempunyai tujuan tertentu untuk melemahkan bahkan menghancurkan. Ibarat melempar kaum tribal dengan botol softdrink kosong. Tidak sakit, tetapi bisa membunuh.

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Para penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya, sering kita jumpai dalam kehidupan saat ini. Pesan tersirat yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah kita hendaknya setinggi-tingginya dalam berusaha untuk mencari ilmu. Karena dengn ilmu yang tinggi kita tidak akan mudah dibohongi atau dimanfaatkan oleh orang lain untuk suatu hal yang tidak baik.

    ReplyDelete
  5. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dari elegi diatas saya merefleksi bahwa negara maupun seseorang yang masih berkemabang, lemah, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang kurang terkadang diperalat oleh para pemilik kekuasaan. Untuk itu agar manusia tidak mudah diperalat dan dibodohi, pendidikan perlu digalakkan agar manusia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup.

    ReplyDelete
  6. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Dengan sangat jelas, elegi ini menunjukkan pada kita bahwa menjadi orang yang tidak berilmu hanya akan menjadi mainan atau dipermainkan oleh orang yang lebih berilmu. Ia bagaikan pion dalam catur yang dikendalikan oleh para pemain catur yang asli. Ia hanya menjalankan perintah, bahkan mungkin ia tidak sadar jika ia dikendalikan. Oleh karena itulah, pentingnya kita senantiasa mencari ilmu. Bahkan dalam Islam, menuntut ilmu sifatnya adalah wajib untuk semua orang, dari buaian sampai liang lahat.

    ReplyDelete
  7. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas menarik bahwa pengetahuan adalah power. Pengetahuan bisa mengantarkan sebuah negara menjadi maju dan berperadaban. Jika pengetahuan sudah hilang maka peradaban akan redup. Negara yang kalah dalam hal ilmu pengetahuan biasanya akan mudah dipengaruhi oleh negara yang berpengetahuan. Negara tersebut juga akan kalah dalam berbagai bidang, karena pengetahuan itu bagaikan oase ditengah padang pasir yang bisa menjadi sumber utama kehidupan.

    ReplyDelete
  8. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Elegi di atas menggambarkan dengan jelas bagaimana seseorang yang memiliki ilmu yang lebih banyak dengan begitu mudahnya memainkan skenario di dunia kaum tribal. Dengan begitu tradisionalnya pemikiran kaum tradisional dapat dengan mudah terporak-porandakan oleh adanya sebuah botol softdrink. Dari elegi di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa pentingnya mencari ilmu untuk meningkatkan derajat kita.
    Kekuasaan telah membuat manusia lupa akan hakekat dirinya diciptakan. Kekuasaan mampu menggoda manusia untuk menjadi seorang yang serakah, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Tidak peduli apakah caranya dapat merugikan orang lain atau tidak, tidak peduli caranya dapat mencelakakan orang lain atau tidak, yang terpenting baginya adalah kekuasaan. Manusia seperti ini lupa akan adanya hak-hak orang lain yang menjadi batas dari hak-haknya, dia lupa bahwa segala sesuatu yang telah diperbuat akan dipertanggungjawabkan kelak

    ReplyDelete
  9. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Setelah saya membaca elegi ini, dapat tergambar dengan jelas bagaimana seseorang yang memiliki ilmu lebih banyak dengan lebih mudah pula memainkan skenario di dunia kaum tribal. Sehingga pemikiran kaum tradisional dapat dengan mudah dihancurkan oleh adanya sebuah botol softdrink. Dari artikel di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa pentingnya mencari ilmu untuk meningkatkan derajat kita. Belajar disini diartikan sebagai adanya perubahan pola pikir yang mengubah pemikiran siswa sebelumnya sehingga nantinya akan mempengaruhi respon yang akan diberikan dari perubahan pemikiran tersebut.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  10. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegy ini menggambarkan bagaimana situasi bangsa kita saat ini. Efek globalisasi di Indonesia seperti teknologi akan membuat kita kagum dengan kecanggihannya. Namun, bisa jadi taktik negara adidaya ini mendominasi Indonesia khususnya dengan mengirimkan peralatan yang menurut kita sangat maju. Apakah kita menyadari sekarang bahwa kita sedang dijajah oleh negara adidaya dalam hal ideologi? Tanpa disadari, kita terlalu berpuas diri dengan realitas yang ada sampai tidak termasuk nilai spiritual. Sehingga menimbulkan permasalahan di berbagai bidang, baik di masyarakat terhadap tata kelola lingkungan.

    ReplyDelete
  11. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kita harus memiliki pemikiran yang kritis dan hati yang ikhlas dalam menjalani kehidupan yang semakin tidak terkendali ini. Jangan sampai kita terjerumus akal licik orang-orang yang ingin memperdaya dan memecah persatuan antar umat. Jadilah manusia yang berwawasan luas, berilmu dan beriman. Kurangnya ilmu dan iman hanya akan menjadikan kita orang yang mudah diperdaya dan selalu dikuasai oleh pihak lain.

    ReplyDelete
  12. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Teknologi ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi kita membutuhkan teknologi dan teknologi membawa kemajuan bagi kita. Tetapi disisi lain jika kita tidak memanfaatkan teknologi dengan baik, teknologi itu justru merusak masa depan kita. Karena itulah, ibarat sebuah pedang dalam pertempuran, menggunakan teknologi juga harus dilengkapi dengan tameng agar teknologi tidak malah merusak kita. Tameng yang kita butuhkan ialah iman dan taqwa. Dengan ilam dan taqwa kita akan dapat memilah agar menggunakan teknologi untuk hal-hal bermanfaat.

    ReplyDelete
  13. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika seorang individu maupun sebuah kelompok yang ada di dunia ini sudah memiliki i’tikad ataupun janji untuk melakukan sesuatu, maka akan dilakukan secara maksimal mungkin agar memberikan hal-hal yang terbaik untuk merealisasikan i’tikadnya maupun janjinya. Hal tersebut terjadi ketika hati kita benar-benar ikhlas ketika mengatakannya sehingga dengan godaan apapun seperti godaan menjabat sebuah jabatan tidak akan membuat lupa akan janji maupun i’tikad yang akan dilakukan. Karena jika godaan tersebut terkena pada seorang individu maupun sebuah kelompok, maka akan menimbulkan tidak akan merealisasikan apa yang sudah menjadi i’tikad dan janji yang pernah dilontarkan. Karena tujuan utama bukan kepercayaan, namun jabatanlah yang menjadi fokus utamanya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  14. Elegi ini sangat menarik. Yang saya dapatkan dari elegi di atas bahwa pengetahuan merupakan suatu kekuatan. Jadi, Ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Orang yang mempunyai ilmu dapat berkuasa, atau menguasai dunia. Maka jika kita ingin berada di atas yang lain maka kita harus rajin dan ikhlas mencari ilmu. Namun, kekuasaan juga bisa berakibat fatal jika kita tidak bisa menguasai diri. Sebaliknya, kekuasaan juga bisa berefek positif jika kita selalu bisa mengontrol diri dan ingat bahwa yang paling berkuasa di dunia ini adalah Tuhan, tidak ada manusia yang paling berkuasa dan paling sempurna. Oleh sebab itulah, sebagai seorang manusia biasa kita tidak boleh menyombongkan diri akan sesuatu yang ada pada diri kita.

    ReplyDelete
  15. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Mencari ilmu itu merupakan sebuah kebutuhan bagi manusia. Dengan memiliki ilmu, seenggak kita tidak akan dengan mudah terhasut oleh godaan setan. Negara ini akan maju dan memiliki sumber daya manusia yang unggul dan lebih baik dari negara lain jika kita sadar ilmu itu sebuh kebutuhan dan tidak dengan mudah menyerah begitu saja. Karena mencari ilmu itu tidak terbatas. Para penguasapun juga seharusnya seperti itu, jangan setelah mendapatkan kekuasaan ia dapat berbuat seenaknya.

    ReplyDelete
  16. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sudah sangat sering, dan bahkan menjadi rahasia umum jika seseorang sebelum dan sesudah menjadi pemimpin. Sebelum menjadi pemimpin, banyak janji dan harapan agar banyak yang mendukungnya, memilihnya. Namun setelh benar-benar terpilih menjadi pemimpin, dia lupa akan semua janjinya, lupa terhadap orang yang mendukungnya, dan berlaku munafik.

    ReplyDelete

  17. Dalam elegi ini juga memberikan pelajaran, bahwa segala hal yang ada di dunia ini adalah warisan dari generasi sebelumnya. Karenanya segala hal yang berbentuk dunia maka tidaklah abadi, bersifat fana, meninggalkan warisan dunia untuk generasi berikutnya. Warisan ini sebagai modal untuk manusia membangun dan menguasai dunia

    ReplyDelete
  18. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Mungkin inilah kenapa kita harus berdoa agar dunia dijadikan di genggaman kita dan bukan di hati kita. Sebab jika dunia berada dalam hati kita, kita cenderung hanya mengejar dunia dan akhirnya tidak dapat menolak ketika justru dikendalikan oleh dunia tersebut.

    ReplyDelete