Mar 8, 2011

Elegi MengungkapTempurung Pendidikan




Oleh Marsigit

Tempurung Pendidikan Archaic:
Wahai para siswa, selama engkau belum mau bicara maka tongkatku ini tidak akan saya ambil dari kepalamu. Selama engkau belum benar menggambarnya, maka engkau tidak terbebas dari pukulanku. Camkan itu. Sebagai uji coba maka terimalah pukulanku untuk mengetahui seberapa efektif pukulanku bisa mendidikmu.

Tempurung Pendidikan Tribal:
Wahai muridku, untuk setiap pengetahuan yang engkau dapat dari diriku, maka tebusannya adalah pilih, boleh satu pukulanku, boleh satu tendanganku atau kalau nggak mau pilih maka tunggu siksaanku. Untuk setiap kelalaianmu maka terimalah sepuluh hukumanmu.

Tempurung Pendidikan Anarkhis:

Wahai muridku, untuk setiap satu kebaikan yang engkau raih dariku, maka tebusannya adalah kuasaku. Jika engkau bisa mengukur-ukur kekusaanku maka ambillah satu kebaikkan dariku. Jika engkau tidak mau dengan kesepakatan ini, maka nantikanlah siksaanku. Sungguh aku lebih kuasa menyiksamu dari pada membiarkanmu.

Tempurung Pendidikan Kanibal:
Wahai muridku, untuk setiap derajat kekuasaanmu yang engkau raih dariku maka tebusannya adalah persembahanmu, terserah engkau akan mempersembahkan apa dari diriku. Tetapi jika terpaksa engkau tidak dapat melakukan persembahan sedikitpun kepada diriku, maka tebusannya adalah dirimu sendiri. Sebagi uji coba terimalah gigitanku ini, sekaligus supaya engkau mengerti betapa pedih gigitanku itu.

Tempurung Pendidikan Pedalaman:
Heemm apapun yang terjadi aku tidak mungkin tidak meluluskan walaupun satu saja dari muridku. Jelas di depan mataku, di sebalik semak-semak, orang tua siswa selalu siap membawa pedang dan siap menghunjamkannya kepada diriku manakala mendengar putranya tidak akan lulus. Heem ingat semua muridku silahkan engkau menghendaki apa dariku, pasti saya kabulkan.

Tempurung Pendidikan Laskar:
Heem ingat semua muridku, slogan pendidikanku adalah laskar tanpa batas. Paradigmanya adalah menghancurkan musuh. Berlatihlah sampai berdarah-darah. Lebih baik berdara-darah dalam latihan dari pada berdarah-darah dala pertempuran. Sebesar-besar pengorbananku adalah untuk diriku. Siapkan jiwa ragamu. Jika terpaksa engkau telah gugur di sini maka itu bersifat off the record dan hanya untuk konsumsi kalangan sendiri. Ingat motoku, jadikanlah dirimu mesin-mesin pembunuh musuhmu.

Tempurung Pendidikan Terpencil:
Hemm tak ada pilihan lain, aku tidak tahu mengapa saya tahu-tahu telah bergaul dengan murid-muridku yang jumlahnya sedikit, kadang datang, kadang silih berganti. Sudah cukup bagus bagi diriku mengajar empat hari dalam satu minggu, karena jika hujan maka aku terpaksa hanya dua kali mengajar. Tetapi jika sampai banjir, maka dua minggu aku libur.

Tempurung Pendidikan Prematur:

Wahai para murid-murid baru, aku dipercaya sebagai sub cabang pendidikan buat dirimu. Walaupun aku tidak mempunyai sertifikat untuk mendidikmu, walaupun aku hanya berbeda satu tahun lebih tua darimu, tetapi akau telah memaksa untuk mendapatkan mandat bisa mendidikmu. Aku tak peduli apakan namanya plonco atau ospek. Pimpinanku memberikan mandat kepadaku itu dikarenakan dia terpaksa dan juga karena dia tidak mengerti. Maka untuk setiap kebaikan yang engkau peroleh dariku tebusannya adalah keburukanmu. Untuk setiap ilmu yang engkau peroleh dariku tebusannya adalah penderitaanmu. Semau tebusanmu itu telah menjadikan seakan libidoku telah berhasil menguasaimu semua. Itulah jati diriku yang selama ini aku dambakan. Sebagai perkenalan maka terimalah pukulanku ini. Itulah uji coba kekuatan libidoku.

Tempurung Pendidikan Lokal:

Hemm sayangnya saya hanya bisa mendengar informasi saja. Dari koran bungkus roti, aku kok pernah mendengar ada guru dikirim TOT, apa itu TOT? Aka juga pernah membaca Lesson Study tetapi hanya judulnya saja. Apa itu Lesson Study. Dunia kok semakin rumit, mbok sudah nggak usah repot-repot. Akupun tak akan pernah datang jika diuandang MGMP, karena hanya membahas rencana-rencana yang pada akhirnya mungkin ujung-ujungnya iuran. Tetapi ada satu berita dikoran di mana saya sangat ngiler, konon apa iya guru akan digaji dua kali lipat? Untuk yang terakhir ini, wah apapun akan saya lakukan jika saya bisa mendapatkan kesempatan.

Tempurung Pendidikan Ilalang:
Wahai muridku, ketahuilah bahwa aku menjadi gurumu itu karena takdir saja. Aku sebenarnya tidak suka menjadi gurumu, dan tidak suka mempunyai murid dirimu. Aku juga tidak mampu mendidikmu dan juda tidak mampu menghidupimu. Jangankan menghidupimu, untuk hidupku sendiri saja aku kesulitan. Maka jika engkau mampu bertahan, bertahanlah di situ. Jika tidak maka pergilah. Berikan khabar pada diriku jika engkau sudah mampu memberikan sesuatu kepada diriku.

Tempurung Pendidikan Munafik:
Hai murid-muridku. Dikarenakan tugas sajalah aku terpaksa menjadi gurumu. Tetapi aku ingin sampaikan ambilah kebaikan dari keburukanku. Ambilah kecerdasan dari kebodohanku. Ambilah kelebihan dari kekuranganku. Ambilah teladan dari bukan teladanku. Pahami dan laksanakan pikiranku, walaupun aku juga sulit melaksanakannya. Jangan lakukan keburukan walaupunaku sulit mencegah diriku melakukannya. Segala yang baik datangnya dari diriku, dan segala yang buruk datangnya dari dirimu.

Tempurung Pendidikan Jalanan:
Ikut aku. Duduk dan berdiri disini. Kamu harus bisa tampil supaya dikasihani banyak orang. Jangan bicara capai. Tunggu kode-kodeku dari seberang jalan. Setiap putaran lampu merah, bawalah kesini uangnya. Awas jika tidak menurut perintahku, akan aku pukul engkau.

Tempurung Pendidikan Feudal:
Ning nong ning gung...wahai punggawa buwatlah wargaku agar selalu mengerti tentang Rajanya, siapa dia, bagaimana sifatnya, bagaimana perasaannya, bagaimana pikirannya, bagaimana harapannya, bagaimana tuntutannya, bagaimana peraturannya, bagaimana sedekahnya, bagaimana ...dst. Maka didiklah wargaku itu untuk mengerti sopan santun. Sadarkan bahwa segala sesuatu itu datangnya dari atas. Ilmu, rejeki, kebenaran, etika, estetika, aturan, tata cara, adat istiadat, ...itu semua datangnya dari atas. Sadarkan dulu tentang kewajiban-kewajiban sebagai warga. Kalau usul harus pakai aturan..misal pepe di alun-alun. Berpikir juga dari atas ke bawah, maka ajarkan pada mereka untuk selalu memikirkan yang ada dibawahnya, dan jangan sekali-kali memikirkan yang ada di atasnya, karena yang demikian akan melanggar kodrat. Buatlah banyak-banyak mitos tetapi jangan disebut sebagai mitos, sebutlah mereka itu warisan nenek moyang yang adiluhung yang datangnya dari atas pula. Maka didiklah mereka agar jangan terbiasa memikirkan mitos, karena sebenar-benar mitos itu adalah metodeku. Maka sadarkan pula bahwa metode itupun datang nya dari atas. Jika terpaksa aku harus menjelaskan mengapa segala sesuatu itu datangnya dari atas, itu karena aku adalah wakil dari yang Maha Kuasa.


Tempurung Pendidikan Tradisional:

Wahai muridku, duduklah yang manis, tangane sideku, tidak boleh nakal, tidak boleh bergerak, tidak boleh bicara, tidak boleh ngantuk, tidak boleh menulis, tidak boleh batuk, tidak boleh melakukan kegiatan sebelum saya suruh. Tidak boleh bernapas..ooh nanti dulu..kalau yang ini boleh nggak ya..ooh silahkan anak-anak..silahkan bernapas sedalam-dalamnya. Duduknya yang tegap, pandanglah selalu wajah saya, dengarkan baik-baik petunjukku. Tidak boleh usul, karena usul itu tidak sopan.

Tempurung Pendidikan Sentral:
Ahh tak beres itu otda. Kalau mereka minta ciri khas, ya ini solusinya ktsp. Mereka tahu apa tentang ktsp. Bikin saja sampulnya tingkat satuan pendidikan, wah ternyata sangat manjur. Mereka ternyata cukup puas dan terbuai dengan sanjunganku itu. Hah hah dasar daerah, maunya juga sok kuasa di daerah, kalau dituruti ya minta semuanya. Ktsp..ktsp..inilah sebenar-benar payungku untuk melenggangkan kuasa pendidikan pusatku terhadap pendidikanmu daerah. Untung pulpennya sang juragan sudah berhasil aku belokkan untuk syahkan ini permen-permen. Permen-permen itulah monumen keberhasilan pendidikan sentralku. Oh permen-permen hanya jika bumi ini terbalik sajalah orang bisa merubah atau mencabutmu. Akan aku buat semua aspek pendidikan bisa dipermenkan. Kalau perlu siswa ijin kencing kekamar mandi juga perlu dijamin dengan permen. Pas dengan pikiran juraganku, bahwa keberhasilan pendidikan di negeri ini dapat diukur dari banyaknya permen.

Tempurung Pendidikan Proyek:

Berapa yang diundang? Oh kurang banyak, kalau sedikit nanti sulit masuk berita. Saya usul jumlah pesertanya 400. Jangan bicara efektif dan kualitas. Nara sumber? Ambil saja dari daerah-daerah terdekat. Pilih hotel yang kompromis. Pilih nara sumber yang kompromis. Ah guru daerah sudah terbiasa dengan porsi yang kecil. Buat pembukaan yang meriah. Undang wartawan. Bukankah berita di koran itu sudah sebagaian dari laporan. Walaupun satu putaran saja, tapi namakan saja tot. Bukankah dengan tot itu akan memberi harapan bagi peserta? Perkara putaran kedua, ketiga ..ah masa bodoh.

Tempurung Pendidikan Kapital/Powernow:
Jangan berlaku bodoh partnerku. Pertama, kembangkan penelitian, teori, dan beri contoh penerapan biar para tradisional, para tribal dan para arhaic terdecak kagum melihat sepak terjang kita. Kedua, kondisikan hidup dengan standar kapital/powernow. Ketiga, ciptakan slogan dan jargon. Keempat, selidiki, cermati seberapa efektif slogan dan jargon yang kita buat berdampak bagi mereka. Ingat sasaran kita adalah sumber daya dan sumber alamnya. Kelima, ajak kerjasama dengan porsi terbatas dan syarat-syarat ketat, walaupun sebetulnya aku tahu bahwa aku dan mereka tidak setara untuk bekerja sama, tetapi sementara biarlah mereke mengenal istilah itu. Keenam, buktikan bahwa mereka ternyata tak mampu bekerja sama dengan kita. Ketujuh, buat mereka tergantung kepada kita, tetapi ingat kalau bisa ketergantungan mereka itu bersifat ikhlas yaitu dengan mengakui dan mengagumi keunggulan kita. Kedelapan,kalau mereka sudah tergantung dengan kita, ciptakan mesin penyedot untuk menyedot sumber alam dan sumber dayanya. Hias mesin penyedotku dengan tradisi dan budayanya,sehingga mereka cukup puas dan bangga menjadikan mesin penyedotku itu sebagai monumen kebanggaan mereka. Bagi mereka yang sudah mulai curiga, libatkan secukupnya kalau perlu diberi kompensasi. Hindarilah bekerjasama dengan mereka yang kritis, karena mereka yang kritis akan mengetahui motif kita. Cari mereka yang berpengetahuan pas-pasan saja, tetapi berambisi, patuh,hormat dan kalau perlu takut dengan kita. Begitulah cara menguasai duniake tiga.

No comments:

Post a Comment


Note: Only a member of this blog may post a comment.