Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru menggapai Diri?




Oleh: Marsigit
Kata-kataku terbukti tidak cukup:
Tiadalah tolok bandingan apa yang baru saja aku alami. Terangnya pikiranku melebihi terangnya lampu seribu watt. Jernihnya pikiranku melebihi jernihnya air tirisan. Lembutnya hatiku melebihi lembutnya salju. Ikhlasnya hatiku seikhlas hilangnya jiwa ragaku. Kutatap sekelilingku, maka mereka menebar senyum kepadaku. Kupalingkan wajahku maka karunia dan rakhmat Nya lah yang terpancar. Keburukan meluruh menjadi kebaikan.

Semuanya seakan memberi selamat kepadaku atas terangku yang baru aku dapat. Semua yang kulihat terbaca olehku ayat-ayat Nya. Apakah ini yang disebut sebagai kun fayakun maka jadilah, jika Tuhan menghendakinya. Maka hanya doa syukur ku lah yang selalu meluncur tiada henti atas karunia Mu ya Tuhan. Janganlah keadaan ini cepat berlalu ya Tuhan. Aku tidak mau pergi, aku ingin tetap di sini, karena aku merasa segar walaupun tiadalah setetes air menyentuh bibirku. Aku merasa kuat walaupun tiada sesuap nasi masuk dalam perutku. Oh Tuhan, jikalau Kau perkenankan aku, tetapkanlah aku selamanya disini. Karena inilah kerinduan yang selama ini aku dambakan. Tetapi saya ragu apakah permohonanku benar, karena ternyata saya mulai sadar bahwa kata-kataku tidaklah cukup. Padahal masih banyak pertanyaanku. Ketika aku tidak mampu bertanya, apakah diriku sudah mati atau masihkah aku bisa menghirup udara segar?
Aku meragukan kesadaranku sendiri:
Sambil melantunkan doa-doaku tak terasa air mataku jatuh menimpa kakiku. Setetes air mataku telah menyadarkan kakiku dari tidurnya. Pelan-pelan kesadaran itu menjulur keseluruh tubuhku. Badan terasa hangat, kepala terasa berat, mata terasa kantuk. Maka kutengok kiri, tiadalah orang disampingku, ketengok kanan tiadalah juga orang di sana. Pelan-pelan aku mulai sadar bahwa selama ini aku telah sendiri. Dalam kesendirian ini mulai terasa dinginnya sepi. Maka dengan sisa-sisa tenagaku, dengan gontai aku mulai berjalan meniti lorong. Terlihat jelas di sana banyak lorong-lorong itu. Ada lorong yang lebar, ada lorong yang sempit, ada lorong yang panjang ada pula lorong yang pendek. Di ujung-ujung lorong selalu ada pemandangan yang bermacam-macam, ada yang indah, ada yang terang, ada yang kelam, ada yang ramai seperti pasar, tetapi juga ada gambar yang menakutkan seperti raksasa. Dalam kegamangan melangkah, aku sempat bertanya dalam hati, dimanakah aku ini. Masih hidupkah aku? Apakah ini dunia? Jangan-jangan ini akhirat. Maka kuraba erat-erat tanganku, kugerakan kakiku, kugelengkan kepalaku, dan kukedipkedipkan mataku. Semuanya tampak jelas sesuai dengan kriteria bahwa aku masih hidup.
Tetapi aku tidak bisa meragukan pertanyaanku:
Walaupun saya masih meragukan kesadaranku sendiri, tetapi ada yang sangat jelas tidak dapat kuragukan, yaitu pertanyaanku. Setelah aku merasa mendekati batas itu, maka luruh dan layulah semua tanaman yang ada dalam pikiranku. Pikiranku seakan padang pasir yang luas dengan bukit-bukit. Aku seakan lupa akan semuanya. Mengapa? mengapa? Dan yang tersisa ternyata hanyalah pertanyaanku.
Untung si orang tua berambut putih datang kembali:
Wahai muridku aku mengerti bahwa dirimu ada dalam keadaan gelisah. Untuk menggapai pengetahuanmu maka bertanyalah.
Aku bertanya:
Bolehkah aku bertanya siapa sebetulnya diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Oh pertanyaan yang luar biasa. Tidak biasanya seseorang bertanya demikian. Karena pertanyaan demikian memerlukan syarat-syarat tertentu. Orang yang bisa bertanya demikian adalah tentu orang yang telah berilmu. Jadi pertama-tama saya mengucapkan puji syukur ke hadlirat Nya bahwa engkau telah diberi nikmat mendapatkan ilmu itu. Namun saya ingin menyampaikan bahwa yang demikian itulah tidak bersifat dalam keadaan diam. Karena dalam keadaan diam dapat diartikan berhenti. Dan keadaan berhenti dapat pula dikatakan bahwa engkau belum berilmu. Oleh karena itu bergeraklah dan gerakanlah selalu dirimu sinergis tali temali bersama ilmumu dalam ruang dan waktu. Namun telah terbukti bahwa engkau ternyata telah dapat mengajukan pertanyaan yang demikian. Maka saya dapat menyimpulkan bahwa engkau ternyata juga tidak dalam keadaan diam. Untuk itu saya mengucapkan selamat. Itulah sebetul-betulnya ilmu. Dan untuk itulah aku juga merasakan keharuan di dalamnya.
Aku bertanya:
Aku bertanya singkat mengapa guru menjawabnya panjang lebar.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebetul-betul ilmu. Jawabanku adalah kata-kataku dan kata-kataku adalah ilmuku. Ilmuku tidak bukan tidak lain adalah engkau sendiri. Jadi bersyukurlah jika engkau mendapatkan jawaban yang panjang lebar, karena itu juga pertanda bahwa rakhmat Nya telah datang. Demikianlah hendaknya jika engaku pun ditanya oleh siswa-siswamu. Pertanyaan dari siswa-siswamu itu juga adalah rakhmat Nya. Jadi jemputlah rakhmat dengan rakhmat pula. Memang demikianlah kodratnya. Untuk memperoleh pertanyaan kita bermodal pertanyaan, untuk memperoleh ilmu kita perlu bekal ilmu, dan juga untuk mendapat rakhmat Nya kita juga perlu rakhmat Nya. Jadi tawaduk dan berdhikirlah menjemput rakhmat Nya.
Aku bertanya:
Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?
Orang tua berambut putih:
Kesulitanmu itu pertanda bahwa kau juga telah berilmu dan akan memperoleh ilmu. Bagi orang-orang yang sudah tidak bisa lagi mengajukan pertanyaan, maka tiadalah kesulitan apapun di situ. Hanya pahala atau dosa-dosanyalah yang dia tanggung di tempat abadi. Sebagai seorang guru akupun tentu perlu mengajukan pertanyaan kepadamu. Kapan dan di mana kah kau itu tidak dapat mengajukan pertanyaan? Tolong renungkanlah. Tetapi baiklah aku juga ingin menyampaikan siapa sebetulnya kau itu. Sudah sering saya ucapkan bahwa aku tidak lain tidak bukan adalah engkau juga. Padahal aku adalah pengetahuanmu. Jadi tidak bukan tidak lain kau itu sebetulnya adalah pengetahuanmu sendiri. Demikian juga jika kamu bertanya siapakah aku dan juga siapakah murid-muridmu. Maka aku juga dapat katakan bahwa murid-muridmu tidak lain-tidak bukan adalah pengetahuannya.
Aku bertanya:
Mengapa guru masih berbelit-belit dan panjang lebar?
Orang tua berambut putih:
Berbelit-belit dan panjang lebar itu sebetulnya belum cukup. Berapakah usiamu?
Aku menjawab:
Amurku sekitar 36 tahun
Orang tua berambut putih:
Nah jika suatu peristiwa terjadi dalam waktu 1 detik, memerlukan penjelasan selama 1 menit agar orang-orang jelas betul apa hakekat peristiwa itu. Maka aku sebenar-benarnya memerlukan 60 kali 36 tahun untuk dapat menjelaskan siapa dirimu sebenarnya. Itu pun dengan asumsi hidupmu diskrit atau putus-putus tiap menit, padahal aku tahu bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontinu. Maka apa yang saya terangkan hanyalah manipulatif saja dan penyederhanaan saja. Ketahuilah bahwa segala macam bentuk penyederhanaan adalah nama lain dari eliminasi. Tahukah kau betapa sedihnya seseorang yang tereliminasi atau mengalami penghilangan sifat atau karakternya. Maka sekali lagi aku ingatkan bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain. Bukankah kamu sebetul-betulnya tidak menghendaki satu atau dua sifatmu tereliminasi? Jika demikian bagaimanakah nasib murid-muridmu? Bukankah muridmu itu adalah cermin bagi dirimu? Tahukah kamu seperti apa ciri-ciri orang paling berbahaya itu? Adalah orang yang tidak penyabar. Adalah orang yang menginginkan hasil yang cepat tanpa berusaha. Adalah orang yang suka melakukan penyederhanaan. Adalah orang yang suka membuat label-label atas banyak sifat. Adalah orang yang suka memberi nama secara tidak proporsional. Adalah orang yang suka mengukur-ukur. Adalah orang yang suka menilai-nilai dengan bilangan-bilangan. Adalah orang yang suka menghakimi. Adalah orang yang suka memberi keputusan-keputusan. Adalah orang yang suka mewakili dan diwakilkan. Yang semuanya itu dilakukan secara tidak proporsional. Ketahuilah bahwa untuk itu semua tiadalah absolutly benar untuk orang-orang yang dia perlakukan.
Aku merasakan sesuatu:
Guru, mendengar uraianmu yang terakhir aku merasakan sesuatu dalam diriku. Tubuhku mulai agak gemetar, perasaanku mulai agak kacau, pikiranku mulai agak bimbang, kepercayaan diriku mulai agak luntur.
Orang tua berambut putih:
Kenapa?
Aku menjawab:
Karena apa yang guru katakan itu ternyata semuanya aku lakukan. Aku melakukan selama ini terhadap murid-muridku. Tetapi aku masih merasa punya pembelaan guru. Apakah aku harus menterjemahkan muridku juga selama 15 tahun sesuai dengan umurnya? Kalau demikian kapan selesainya aku mengajar? Bukankah saya juga harus cepat-cepat menentukan bagaimana hasil belajarnya. Saya juga harus memberi skor dan nilai matematika yang memang dia mendapat 6. Saya juga harus memberi label bahwa dia adalah seorang murid yang sedang-sedang saja dalam belajar matematika. Saya juga harus memberi keputusan dia naik kelas atau tidak. Bahkan saya pernah menulis angka merah buat muridku sehingga dia tidak naik kelas. Apakah yang saya lakukan itu semua adalah penyederhanaan? Jika demikian maka aku termasuk orang-orang yang kau sebut sebagai orang paling berbahaya di dunia. Benarkah itu. Tolong guru, tolonglah ayo jawab segera.
Orang tua berambut putih:
Nah kalimatmu yang terakhir itu pertanda kamu tidak penyabar. Itu artinya ciri-ciri orang yang paling berbahaya.
Aku bercermin:
Baiklah guru aku sekarang merasa sudah bisa mulai menjadi seorang penyabar. Akan aku turunkan nada dan frekuensi bicaraku. Mengapa aku seakan merasa bisa tenang. Karena aku telah menemukan cermin. Siapakah cermin itu guruku? Tidak lain tidak bukan kecuali kau sendiri. Kaulah cerminku wahai guruku. Seperti berkali-kali kau katakan bahwa engkau juga diriku, dan diriku juga dirimu. Tetapi aku ingin menyampaikan fakta sebagai rasa keadilan bahwa engkau juga harus bertanggung jawab atas segala ucapanmu. Bukankah sejak awak engkau guruku selalu berbicara. Bukankah setiap kata yang engkau lantunkan itu sebetulnya adalah penyederhanaan? Kalau begitu aku telah menemukan god-fathernya orang yang paling berbahaya di dunia itu ternyata adalah engkau guruku sendiri. Wahai guruku, janganlah hanya terdiam di situ. Maka jawablah bantahanku ini jika kau memang pantas menjadi guruku.
Orang tua berambut putih:
Jangankan kau tunjuk, jangankan kau katakan, jangankan kau tuduhkan. Kau tidak berbuat apapun sebenarnya aku telah merasakan. Bahwa setiap kata yang kita produksi sebenarnya adalah penyederhanaan. Jangankan sebuah kata, selembar daun yang jatuh ketanah itu juga telah menutup sifat-sifat tanah yang tertimpanya. Itulah hakikat sifat, subyek dan obyek. Ketika aku berbicara kepadamu maka akulah subyek yang membahayakan sifat-sifatmu sebagai obyek. Ketika kamu berbicara denganku maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifatku sebagi obyek. Ketika kau berbicara kepada murid-muridmu maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifat murid-muridmu sebagai obyek. Siapakah orang yang paling produktif menghasilkan kata-kata, dan dengan demikian dia menjadi orang yang paling berbahaya. Itulah kebanyakan orang-orang yang berkuasa. Tetapi janganlah salah paham. Maksud kuasa di sini adalah kuasa dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bukankah ketika kamu mulai berbicara itu tanda bahwa kamu berkuasa untuk bicara. Jadi guru adalah berkuasa atas muridnya, orang tua berkuasa atas orang muda. Orang kaya berkuasa atas orang miskin. Orang sehat berkuasa atas orang sakit. Orang gemuk berkuasa atas oarang kurus. tetapi jangan salah paham. Karena orang kuruspun berkuasa terhadap orang gemuk, yaitu ketika badan langsing menjadi pilihan. Dan muridmu juga berkuasa atas dirimu ketika dia menuntut hak-haknya. Maka jika kau telah merasa menemukan siapa diriku ini itu pertanda bahwa kau akan menemukan siapakah dirimu itu. Maka tiadalah dapat terbebas wahai bagi orang-orang yang melantunkan kata-katanya dari segala bahaya dan dosa-dosanya. Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya.
Kesimpulanku mungkin:
Kalau begitu aku sekarang akan diam, supaya tidak membahayakan orang lain.
Orang tua berambut putih:
Berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmumu. Berbicara dapat membahayakan tetapi tidak berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi dirimu, yaitu bagi orang yang berusaha diam. Mengapa? Karena diam pertanda selesai dan selesai pertanda justru kamu sendirilah yang membahayakan dirimu sendiri. Bukankah itu justru dosanya lebih besar ketimbang kamu dibahayakan oleh orang lain? Mengapa, dalam diam itu pertanda kamu telah menyimpulkan hidupmu sebagi diam dan menyederhanakan hidupmu ke dalam diam. Artinya kamu telah mengeliminasi hakekat hidupmu yang tidak diam, dan dengan demikian kamu telah mendholimi hakekat bicaramu. Bukankah sebenar-benar hidup adalah hijrah? Sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah tidak diam. Kamu tidak lain tidak bukan adalah bicaramu. Maka jika terpaksa engkau ingin diam, maka asukkan semua yang aku katakan tadi dalam diammu. Itulah sebenar-benar blakc-hole. Diam kelihatannya, padahal sangat ramai di dalamnya.
Aku bingung:
Jadi aku harus bagaimana guru. Begini salah, begitu salah. Bingung aku jadinya.
Orang tua berambut putih:
Jikalau kamu bisa mengatakan sesuatu salah, itu pertanda kau punya potensi bisa mengatakan sesuatu itu benar. Diantara salah dan benar itulah sebenar-benar ilmumu. Bingung itu ada diantara benar dan salah. Maka bingungmu itu merupakan bagian dari ilmumu.
Aku capai:
Aku capai guru, aku lelah, aku lemas. Aku merasakan tenagaku tidak mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas muliaku. Padahal aku harus membelajarkan murid-muridku belajar matematika. Padahal tidak cuma satu kelas, padahal kelas paralel, padahal aku tidak hanya mengajar kelas satu, tetapi kelas dua, padahal aku harus mengurusi keluargaku, isteriku dan anak-anakku. Padahal aku harus..., aku harus...., aku harus....di dunia....di akhirat....?
Orang tua berambut putih:
Capai dan lelah adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda engkau masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidupmu. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu? Seberapakah kemampuanmu itu? Seberapakah tenagamu itu? Seberapa luas pikiran dan hatimu? Tenaga dan pikiranmua sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuasaan Nya. Padahal kau telah menyebut begitu banyak urusanmu baik tentang dunia maupun akhiat. Itulah pertanda kekuasaan dan kebesaran Tuhan pencipta alam. Maka kekuasaan Nya tiadalah tolok bandingannya. Dirimu dan juga diriku hanyalah setitik pasir ditepi samudra. Maka tiadalah sesorang mampu mengerjakan urusan dunia dan juga akhirat tanpa bantuan dan kuasa Allah SWT. Amien. Dirimu adalah ikhtiarmu sekaligus kodrat Nya. Maka marilah kita selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya. Amien. Agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan keselamatan widunya wal akhirat. Amien. Amien. Amen.

22 comments:

  1. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Seorang guru menggapai diri, saya katakan dengan kata lain seorang guru merefleksikan diri. Reflektif merupakan salah satu upaya pembenahan diri. Kebutuhan guru untuk membenah diri benar-benar dibutuhkan mengingat guru adalah ujung tombak bangsa yang berhubungan langsung dengan generasi penerus bangsa. Cara pembenahan terbaik adalah dengan selalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan zamannamun tidak hanyut dalam arus perkembangan yang ada.

    ReplyDelete
  2. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebagai seorang guru, kewajiban mereka tidak hanya untuk mengajar di kelas, tapi juga mendidik, membimbing, menasihati, dll. Sebagai manusia, musuh terbesar di kita dipengaruhi oleh mitos. Guru yang mengajar hanya dengan mitos, itu hanya memberi menghafal rumus tapi tidak tahu maknanya. Secara langsung atau tidak langsung, hal ini hanya akan menghilangkan identitas para siswa karena tidak memberi siswa kebebasan untuk berpikir kritis. Agar seorang guru dalam mendidik murid-muridnya berhasil, ia harus membangun hubungan sinergis antara dirinya dan murid-muridnya satu sama lain untuk menerjemahkan dan menerjemahkan dimensi ruang dan waktu. Dengan demikian guru telah dikatakan berada dalam posisi sistemik untuk melakukan hijrah dalam inovasi pendidikan.

    ReplyDelete
  3. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Pencarian jati diri merupakan salah satu momen yang akan dirasakan oleh masing-masing individu. Termasuk yang akan dialami oleh seorang guru. Apapun profesi yang dijalani oleh seseorang, suatu ketika akan timbul keraguan terhadap diri sendiri apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh diri dan orang-orang di sekitar atau malah jauh dari harapan. Sebagai seorang guru, diharapkan senantiasa untuk terus mengupgrade kapasitas diri yaitu dengan melakukan kerjasama antar guru dan terus menambah ilmu.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi seorang guru menggapai diri ini menggambarkan tentang pencarian jati diri seorang guru. Dimana ia ragu akan sifat-sifatnya, ragu dengan labelnya sebagai guru. Sebagaimana yang selama ini dipahami banyak orang adalah bahwa guru itu harus pintar, guru itu harus menjadi teladan, guru itu harus bisa membimbing murid-muridnya menjadi lebih baik, dsb. Guru dipandang sebagai sosok yang ideal, harus begini harus begitu. Namun kenyataannya guru juga manusia biasa, punya kelebihan dan kekurangan. Pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya yang muncul dari dalam dirinya adalah sebenar-benar ilmunya. Dengan mengenali dirinya sendiri ia akan menjadi guru yang menggapai siswanya. Dengan mengenali dirinya sendiri ia akan pula mengenali siswanya. Sebenar-benar guru adalah guru yang berusaha menggapai diri.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menjadi seoarang guru bukanlah hal mudah. Ia harus dapat mengerti dirinya dan mengerti akan murid-muridnya. Guru harus mampu menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu, karena guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menggapai dirinya terlebih dahulu baru nanti ia akan mampu menggapai murid-muridnya.

    ReplyDelete
  6. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Guru mempunyai batasan, karena ada batasan ini guru merefleksikan diri. Dengan merefleksikan diri, guru melakukan usaha untuk menggapai diri yang lebih baik untuk diri dan siswanya. Untuk menggapai diri yang lebih baik dilakukan dengan cara yang ada dan yang mungkin ada , tetapi tetaplah rasa lelah itu ada karena sifat dari manusia. Sehingga menggapai diri yang baik harus juga sesuai dengan ruang dan waktu yang ada. Tetaplah seorang guru harus selalu menggapai diri yang lebih baik dengan menggapai ridho Allah, bukanm ridho manusia.

    ReplyDelete
  7. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. sebagai seorang manusia biasa, akan ada saatnya bagi guru untuk merasa lelah dengan rutinitasnya sebagai pendidik. Harus ditandai bahwa rasa lelah itu merupakan tanda bahwa sang guru telah berusaha. Agar tidak merasa lelah dengan rutinitas hendaknya guru selalu belajar dan mengupdate kemampuan dirinya. Agar ia senantiasa menggingat tugas besar yang diembannya.

    ReplyDelete
  8. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Seseorang yang berilmu harus senantiasa menuntut ilmu. Jika orang yang berilmu berhenti menuntut ilmu maka dia dikatakan tidak berilmu. Misalkan ilmu itu A, maka orang yang berilmu itu dirumuskan A = A + 1. Artinya, seseorang yang berilmu tidak pernah berhenti mencari ilimu, krena ilmu itu bekal untuk mencari ilmu lainnya. Menuntut ilmu itu pada hakekatnya adalah menyeimbangkan antara sifat obyek di dalam pikiran dan sifat obyek diluar pikiran. Karena keduanya mampu membangun ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  9. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Membaca elegi ini saya melihat ada situasi dilematis yang sedang dirasakan oleh guru. Dimana ia tidak ingin menjadi orang yang membuat penyederhaan, namun keadaan ataupun kondisi harus membuat dia melakukan penyederhanaan. Misalnya, dalam menilai siswa, terkadang kita melakukan penyederhanaan dengan hanya memberikan angka 6, atau 7 atau 8 dst. Padahal angka 6 7 8 dst ini tidaklah cukup untuk menilai siswa.

    ReplyDelete
  10. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Manusia hanyalah setitik pasir d i atas samudra. Jika dibayangkan berarti manusia itu sangat-sangat kecil sekali. Dalam menjalani hidup, ada kalanya seorang manusia merasakan lelah dengan apa yang telah ia lakukan, lelah dengan harapan yang pupus. Lelah fisik maupun psikis. Hal tersbut karena seluruh anggota badan kita masih berfungsi dengan baik atau dangan kata lain kita masih hidup. Maka bersyukurlah jika kita masih dikaruniai rasa lelah bukan justru mengeluh.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  11. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Dengan membaca elegi ini, itu menimbulkan kebingungan dalam diri ini, dan itu berarti bahwa apa yang telah saya baca mendapatkan reaksi dari ilmu yang ada dalam diri ini. Tanggapan yang berbeda dari setiap orang yang membaca elegi yang sama merupakan cermin sejauh mana ilmu yang melekat dalam dirinya dengan kata lain sejauh mana mereka mengenali dirinya. Dan komentar ini merupakan cermin dari kemampuan dalam mengenali diriku sendiri. Untuk dapat menggapai diri maka kita perlu mengenal seberapa besar kemampuan kita, seberapa besar tenaga kita, seberapa luas pikiran dan hati kita. Jadi dengan menyadari ini maka kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk dapat menggapai diri maka kita perlu mengenal seberapa besar kemampuan kita, seberapa besar tenaga kita, seberapa luas pikiran dan hati kita. Jadi dengan menyadari ini maka kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Sebagai contoh, misalnya bekerja sesuai dengan proporsi dan kemampuan. Untuk dapat mengenali diri maka kita perlu juga merefleksi diri, dengan bercermin dan melihat siapa dan bagaimana diri kita

      Delete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa diri setiap manusia, bahkan guru pun memiliki kodrat untuk lelah. Lelah dan capek adalah sudah menjadi kodrat manusia dalam hidupnya, karena manusia berpikir dalam setiap aktivitasnya. Maka hakekat diri adalah kodratnya yang hanya dapat diimbangi dengan ikhtiar dan ikhlas.

    ReplyDelete

  13. Sudah menjadi kodrat manusia menjadi makhluk yang lemah dihadapan Tuhannya. Mka sevebenar benar diri adalah memahami kelemahan tersebut dan memohon dikuatkan. Bukan menyombongkan diri karena segala hal yang dicapai berkah kerja kerasnya. Tetapi manusia tidak sadar hal apapun yang mereka capai akan habis dan mereka harus berusaha keras lagi, itu artinya urusan manusia tidak akan pernah habis, begitupun kekuasan-Nya.

    ReplyDelete
  14. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Berbenah diri, mengevaluasi diri, mengupgrade diri, dan lain sebagainya saya artikan sebagai menggapai diri. Selalu berinovasi dalam melakukan pembelajaran adalah suatu hal yang ditunggu tunggu oleh para peserta didik itu sendiri. Karena proses timbal balik akan terjadi secara sempurna jika kedua belah pihak mau saling berusaha sesuai dengan porsinya masing-masing. Seorang guru yang mampu menggapai dirinya sneidir, maka ia pun akan dengan mudahnya dapat menggapai para peserta didiknya sendiri.

    ReplyDelete
  15. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb


    elegi diatas mengajarkan kita bahwa kita harus mengenali diri kita, mengenali batasan yang ada didalam diri kita. dalam hal ini patutnya kita merefleksi diri dan menerima kekurangan kita dengan lapang dada. karena kodratnnya manusia tidak ada yang sempurna.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  16. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menjadi seorang guru adalah bagaiman cara belajar menjadi manusia yang lebih sabar, mensyukuri setiap letih yang dirasakan sebagai suatu nikmat dalam hidup, dan selalu berusaha menggapai dan meningkatkan nilai diri demi meningkatkan kualitas hidup itu sendiri.

    ReplyDelete
  17. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Menjadi seorang guru kita haruslah menjadi sosok yang mampu, tidak hanya mengajar namun juga mengevaluasi siswa. Ketika mengevaluasi siswa, kita haruslah mampu dalam melihat secara obyektif. Terkait hal ini kita haruslah mampu dalam menggapai diri siswa dan memberi penilaian, sebelum dapat menggapai diri siswa, tentu saja dibutuhkan kemampuan dalam menggapai diri sendiri, bagaimana penilaian, evaluasi diri, dan perbaikan.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seorang guru tidak akan menggapai diri mereka jika mereka masih menganggap apa yang dimilikinya merupakan hasil yang diperoleh dari usaha yang dilakukan selama ini oleh dirinya. Hal ini akan memberikan dampak pada kesombongan dalam dirinya. Jika kesombongan dalam dirinya itu terus ditumbuhkan, maka kaan menyebabkan ketidak percayaan akan bantuan yang diberikan oleh Tuhan sang pencipta ilmu yang diperoleh seorang guru tersebut.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Dari elegi di atas, saya mendapatkan bahwa kita adalah sifat kita. Semua usaha dan lelah kita pasti akan ada hasilnya. Jangan mudah mengeluh dengan segala sesuatu yang terjadi pada kita. Sebagai seorang guru, kita harus memberikan yang terbaik untuk siswa kita. Tidak hanya mengajar tapi juga mendidik mereka. Sebagai seorang calon pendidik, mudah-mudahan suatu hari nanti ketika kita menjadi seorang guru kita diberi kelancaran dalam mendidik siswa kami. Amin.

    ReplyDelete
  20. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Guru menggapai diri bermakna bagaimana seorang guru memahami profesi dan fungsinya sebagai guru, apa tugas dan tanggunga jwab sebagai seorang guru, bagaimana seorang guru yang profesional dan lain sebagainya yang berkaitan dengan profesi dirinya sebagai seorang guru. jadi bisa dikatakan bahwa guru menggapai diri adalah refleksi seorang guru terkait profesi yang dijalani selama ini.

    ReplyDelete
  21. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Seringkali guru terjebak dalam penyederhanaan sesuatu misalnya dalam bentuk kata-kata maupun yang tertulis. Misalnya saja meilai kemampuan siswa dengan angka 1-10 merupakan salah satu tindakan reduksi karena kemampuan siswa lebih dari sekedar angka 1-10 tersebut.

    ReplyDelete