Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru menggapai Diri?




Oleh: Marsigit
Kata-kataku terbukti tidak cukup:
Tiadalah tolok bandingan apa yang baru saja aku alami. Terangnya pikiranku melebihi terangnya lampu seribu watt. Jernihnya pikiranku melebihi jernihnya air tirisan. Lembutnya hatiku melebihi lembutnya salju. Ikhlasnya hatiku seikhlas hilangnya jiwa ragaku. Kutatap sekelilingku, maka mereka menebar senyum kepadaku. Kupalingkan wajahku maka karunia dan rakhmat Nya lah yang terpancar. Keburukan meluruh menjadi kebaikan.

Semuanya seakan memberi selamat kepadaku atas terangku yang baru aku dapat. Semua yang kulihat terbaca olehku ayat-ayat Nya. Apakah ini yang disebut sebagai kun fayakun maka jadilah, jika Tuhan menghendakinya. Maka hanya doa syukur ku lah yang selalu meluncur tiada henti atas karunia Mu ya Tuhan. Janganlah keadaan ini cepat berlalu ya Tuhan. Aku tidak mau pergi, aku ingin tetap di sini, karena aku merasa segar walaupun tiadalah setetes air menyentuh bibirku. Aku merasa kuat walaupun tiada sesuap nasi masuk dalam perutku. Oh Tuhan, jikalau Kau perkenankan aku, tetapkanlah aku selamanya disini. Karena inilah kerinduan yang selama ini aku dambakan. Tetapi saya ragu apakah permohonanku benar, karena ternyata saya mulai sadar bahwa kata-kataku tidaklah cukup. Padahal masih banyak pertanyaanku. Ketika aku tidak mampu bertanya, apakah diriku sudah mati atau masihkah aku bisa menghirup udara segar?
Aku meragukan kesadaranku sendiri:
Sambil melantunkan doa-doaku tak terasa air mataku jatuh menimpa kakiku. Setetes air mataku telah menyadarkan kakiku dari tidurnya. Pelan-pelan kesadaran itu menjulur keseluruh tubuhku. Badan terasa hangat, kepala terasa berat, mata terasa kantuk. Maka kutengok kiri, tiadalah orang disampingku, ketengok kanan tiadalah juga orang di sana. Pelan-pelan aku mulai sadar bahwa selama ini aku telah sendiri. Dalam kesendirian ini mulai terasa dinginnya sepi. Maka dengan sisa-sisa tenagaku, dengan gontai aku mulai berjalan meniti lorong. Terlihat jelas di sana banyak lorong-lorong itu. Ada lorong yang lebar, ada lorong yang sempit, ada lorong yang panjang ada pula lorong yang pendek. Di ujung-ujung lorong selalu ada pemandangan yang bermacam-macam, ada yang indah, ada yang terang, ada yang kelam, ada yang ramai seperti pasar, tetapi juga ada gambar yang menakutkan seperti raksasa. Dalam kegamangan melangkah, aku sempat bertanya dalam hati, dimanakah aku ini. Masih hidupkah aku? Apakah ini dunia? Jangan-jangan ini akhirat. Maka kuraba erat-erat tanganku, kugerakan kakiku, kugelengkan kepalaku, dan kukedipkedipkan mataku. Semuanya tampak jelas sesuai dengan kriteria bahwa aku masih hidup.
Tetapi aku tidak bisa meragukan pertanyaanku:
Walaupun saya masih meragukan kesadaranku sendiri, tetapi ada yang sangat jelas tidak dapat kuragukan, yaitu pertanyaanku. Setelah aku merasa mendekati batas itu, maka luruh dan layulah semua tanaman yang ada dalam pikiranku. Pikiranku seakan padang pasir yang luas dengan bukit-bukit. Aku seakan lupa akan semuanya. Mengapa? mengapa? Dan yang tersisa ternyata hanyalah pertanyaanku.
Untung si orang tua berambut putih datang kembali:
Wahai muridku aku mengerti bahwa dirimu ada dalam keadaan gelisah. Untuk menggapai pengetahuanmu maka bertanyalah.
Aku bertanya:
Bolehkah aku bertanya siapa sebetulnya diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Oh pertanyaan yang luar biasa. Tidak biasanya seseorang bertanya demikian. Karena pertanyaan demikian memerlukan syarat-syarat tertentu. Orang yang bisa bertanya demikian adalah tentu orang yang telah berilmu. Jadi pertama-tama saya mengucapkan puji syukur ke hadlirat Nya bahwa engkau telah diberi nikmat mendapatkan ilmu itu. Namun saya ingin menyampaikan bahwa yang demikian itulah tidak bersifat dalam keadaan diam. Karena dalam keadaan diam dapat diartikan berhenti. Dan keadaan berhenti dapat pula dikatakan bahwa engkau belum berilmu. Oleh karena itu bergeraklah dan gerakanlah selalu dirimu sinergis tali temali bersama ilmumu dalam ruang dan waktu. Namun telah terbukti bahwa engkau ternyata telah dapat mengajukan pertanyaan yang demikian. Maka saya dapat menyimpulkan bahwa engkau ternyata juga tidak dalam keadaan diam. Untuk itu saya mengucapkan selamat. Itulah sebetul-betulnya ilmu. Dan untuk itulah aku juga merasakan keharuan di dalamnya.
Aku bertanya:
Aku bertanya singkat mengapa guru menjawabnya panjang lebar.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebetul-betul ilmu. Jawabanku adalah kata-kataku dan kata-kataku adalah ilmuku. Ilmuku tidak bukan tidak lain adalah engkau sendiri. Jadi bersyukurlah jika engkau mendapatkan jawaban yang panjang lebar, karena itu juga pertanda bahwa rakhmat Nya telah datang. Demikianlah hendaknya jika engaku pun ditanya oleh siswa-siswamu. Pertanyaan dari siswa-siswamu itu juga adalah rakhmat Nya. Jadi jemputlah rakhmat dengan rakhmat pula. Memang demikianlah kodratnya. Untuk memperoleh pertanyaan kita bermodal pertanyaan, untuk memperoleh ilmu kita perlu bekal ilmu, dan juga untuk mendapat rakhmat Nya kita juga perlu rakhmat Nya. Jadi tawaduk dan berdhikirlah menjemput rakhmat Nya.
Aku bertanya:
Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?
Orang tua berambut putih:
Kesulitanmu itu pertanda bahwa kau juga telah berilmu dan akan memperoleh ilmu. Bagi orang-orang yang sudah tidak bisa lagi mengajukan pertanyaan, maka tiadalah kesulitan apapun di situ. Hanya pahala atau dosa-dosanyalah yang dia tanggung di tempat abadi. Sebagai seorang guru akupun tentu perlu mengajukan pertanyaan kepadamu. Kapan dan di mana kah kau itu tidak dapat mengajukan pertanyaan? Tolong renungkanlah. Tetapi baiklah aku juga ingin menyampaikan siapa sebetulnya kau itu. Sudah sering saya ucapkan bahwa aku tidak lain tidak bukan adalah engkau juga. Padahal aku adalah pengetahuanmu. Jadi tidak bukan tidak lain kau itu sebetulnya adalah pengetahuanmu sendiri. Demikian juga jika kamu bertanya siapakah aku dan juga siapakah murid-muridmu. Maka aku juga dapat katakan bahwa murid-muridmu tidak lain-tidak bukan adalah pengetahuannya.
Aku bertanya:
Mengapa guru masih berbelit-belit dan panjang lebar?
Orang tua berambut putih:
Berbelit-belit dan panjang lebar itu sebetulnya belum cukup. Berapakah usiamu?
Aku menjawab:
Amurku sekitar 36 tahun
Orang tua berambut putih:
Nah jika suatu peristiwa terjadi dalam waktu 1 detik, memerlukan penjelasan selama 1 menit agar orang-orang jelas betul apa hakekat peristiwa itu. Maka aku sebenar-benarnya memerlukan 60 kali 36 tahun untuk dapat menjelaskan siapa dirimu sebenarnya. Itu pun dengan asumsi hidupmu diskrit atau putus-putus tiap menit, padahal aku tahu bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontinu. Maka apa yang saya terangkan hanyalah manipulatif saja dan penyederhanaan saja. Ketahuilah bahwa segala macam bentuk penyederhanaan adalah nama lain dari eliminasi. Tahukah kau betapa sedihnya seseorang yang tereliminasi atau mengalami penghilangan sifat atau karakternya. Maka sekali lagi aku ingatkan bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain. Bukankah kamu sebetul-betulnya tidak menghendaki satu atau dua sifatmu tereliminasi? Jika demikian bagaimanakah nasib murid-muridmu? Bukankah muridmu itu adalah cermin bagi dirimu? Tahukah kamu seperti apa ciri-ciri orang paling berbahaya itu? Adalah orang yang tidak penyabar. Adalah orang yang menginginkan hasil yang cepat tanpa berusaha. Adalah orang yang suka melakukan penyederhanaan. Adalah orang yang suka membuat label-label atas banyak sifat. Adalah orang yang suka memberi nama secara tidak proporsional. Adalah orang yang suka mengukur-ukur. Adalah orang yang suka menilai-nilai dengan bilangan-bilangan. Adalah orang yang suka menghakimi. Adalah orang yang suka memberi keputusan-keputusan. Adalah orang yang suka mewakili dan diwakilkan. Yang semuanya itu dilakukan secara tidak proporsional. Ketahuilah bahwa untuk itu semua tiadalah absolutly benar untuk orang-orang yang dia perlakukan.
Aku merasakan sesuatu:
Guru, mendengar uraianmu yang terakhir aku merasakan sesuatu dalam diriku. Tubuhku mulai agak gemetar, perasaanku mulai agak kacau, pikiranku mulai agak bimbang, kepercayaan diriku mulai agak luntur.
Orang tua berambut putih:
Kenapa?
Aku menjawab:
Karena apa yang guru katakan itu ternyata semuanya aku lakukan. Aku melakukan selama ini terhadap murid-muridku. Tetapi aku masih merasa punya pembelaan guru. Apakah aku harus menterjemahkan muridku juga selama 15 tahun sesuai dengan umurnya? Kalau demikian kapan selesainya aku mengajar? Bukankah saya juga harus cepat-cepat menentukan bagaimana hasil belajarnya. Saya juga harus memberi skor dan nilai matematika yang memang dia mendapat 6. Saya juga harus memberi label bahwa dia adalah seorang murid yang sedang-sedang saja dalam belajar matematika. Saya juga harus memberi keputusan dia naik kelas atau tidak. Bahkan saya pernah menulis angka merah buat muridku sehingga dia tidak naik kelas. Apakah yang saya lakukan itu semua adalah penyederhanaan? Jika demikian maka aku termasuk orang-orang yang kau sebut sebagai orang paling berbahaya di dunia. Benarkah itu. Tolong guru, tolonglah ayo jawab segera.
Orang tua berambut putih:
Nah kalimatmu yang terakhir itu pertanda kamu tidak penyabar. Itu artinya ciri-ciri orang yang paling berbahaya.
Aku bercermin:
Baiklah guru aku sekarang merasa sudah bisa mulai menjadi seorang penyabar. Akan aku turunkan nada dan frekuensi bicaraku. Mengapa aku seakan merasa bisa tenang. Karena aku telah menemukan cermin. Siapakah cermin itu guruku? Tidak lain tidak bukan kecuali kau sendiri. Kaulah cerminku wahai guruku. Seperti berkali-kali kau katakan bahwa engkau juga diriku, dan diriku juga dirimu. Tetapi aku ingin menyampaikan fakta sebagai rasa keadilan bahwa engkau juga harus bertanggung jawab atas segala ucapanmu. Bukankah sejak awak engkau guruku selalu berbicara. Bukankah setiap kata yang engkau lantunkan itu sebetulnya adalah penyederhanaan? Kalau begitu aku telah menemukan god-fathernya orang yang paling berbahaya di dunia itu ternyata adalah engkau guruku sendiri. Wahai guruku, janganlah hanya terdiam di situ. Maka jawablah bantahanku ini jika kau memang pantas menjadi guruku.
Orang tua berambut putih:
Jangankan kau tunjuk, jangankan kau katakan, jangankan kau tuduhkan. Kau tidak berbuat apapun sebenarnya aku telah merasakan. Bahwa setiap kata yang kita produksi sebenarnya adalah penyederhanaan. Jangankan sebuah kata, selembar daun yang jatuh ketanah itu juga telah menutup sifat-sifat tanah yang tertimpanya. Itulah hakikat sifat, subyek dan obyek. Ketika aku berbicara kepadamu maka akulah subyek yang membahayakan sifat-sifatmu sebagai obyek. Ketika kamu berbicara denganku maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifatku sebagi obyek. Ketika kau berbicara kepada murid-muridmu maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifat murid-muridmu sebagai obyek. Siapakah orang yang paling produktif menghasilkan kata-kata, dan dengan demikian dia menjadi orang yang paling berbahaya. Itulah kebanyakan orang-orang yang berkuasa. Tetapi janganlah salah paham. Maksud kuasa di sini adalah kuasa dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bukankah ketika kamu mulai berbicara itu tanda bahwa kamu berkuasa untuk bicara. Jadi guru adalah berkuasa atas muridnya, orang tua berkuasa atas orang muda. Orang kaya berkuasa atas orang miskin. Orang sehat berkuasa atas orang sakit. Orang gemuk berkuasa atas oarang kurus. tetapi jangan salah paham. Karena orang kuruspun berkuasa terhadap orang gemuk, yaitu ketika badan langsing menjadi pilihan. Dan muridmu juga berkuasa atas dirimu ketika dia menuntut hak-haknya. Maka jika kau telah merasa menemukan siapa diriku ini itu pertanda bahwa kau akan menemukan siapakah dirimu itu. Maka tiadalah dapat terbebas wahai bagi orang-orang yang melantunkan kata-katanya dari segala bahaya dan dosa-dosanya. Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya.
Kesimpulanku mungkin:
Kalau begitu aku sekarang akan diam, supaya tidak membahayakan orang lain.
Orang tua berambut putih:
Berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmumu. Berbicara dapat membahayakan tetapi tidak berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi dirimu, yaitu bagi orang yang berusaha diam. Mengapa? Karena diam pertanda selesai dan selesai pertanda justru kamu sendirilah yang membahayakan dirimu sendiri. Bukankah itu justru dosanya lebih besar ketimbang kamu dibahayakan oleh orang lain? Mengapa, dalam diam itu pertanda kamu telah menyimpulkan hidupmu sebagi diam dan menyederhanakan hidupmu ke dalam diam. Artinya kamu telah mengeliminasi hakekat hidupmu yang tidak diam, dan dengan demikian kamu telah mendholimi hakekat bicaramu. Bukankah sebenar-benar hidup adalah hijrah? Sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah tidak diam. Kamu tidak lain tidak bukan adalah bicaramu. Maka jika terpaksa engkau ingin diam, maka asukkan semua yang aku katakan tadi dalam diammu. Itulah sebenar-benar blakc-hole. Diam kelihatannya, padahal sangat ramai di dalamnya.
Aku bingung:
Jadi aku harus bagaimana guru. Begini salah, begitu salah. Bingung aku jadinya.
Orang tua berambut putih:
Jikalau kamu bisa mengatakan sesuatu salah, itu pertanda kau punya potensi bisa mengatakan sesuatu itu benar. Diantara salah dan benar itulah sebenar-benar ilmumu. Bingung itu ada diantara benar dan salah. Maka bingungmu itu merupakan bagian dari ilmumu.
Aku capai:
Aku capai guru, aku lelah, aku lemas. Aku merasakan tenagaku tidak mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas muliaku. Padahal aku harus membelajarkan murid-muridku belajar matematika. Padahal tidak cuma satu kelas, padahal kelas paralel, padahal aku tidak hanya mengajar kelas satu, tetapi kelas dua, padahal aku harus mengurusi keluargaku, isteriku dan anak-anakku. Padahal aku harus..., aku harus...., aku harus....di dunia....di akhirat....?
Orang tua berambut putih:
Capai dan lelah adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda engkau masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidupmu. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu? Seberapakah kemampuanmu itu? Seberapakah tenagamu itu? Seberapa luas pikiran dan hatimu? Tenaga dan pikiranmua sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuasaan Nya. Padahal kau telah menyebut begitu banyak urusanmu baik tentang dunia maupun akhiat. Itulah pertanda kekuasaan dan kebesaran Tuhan pencipta alam. Maka kekuasaan Nya tiadalah tolok bandingannya. Dirimu dan juga diriku hanyalah setitik pasir ditepi samudra. Maka tiadalah sesorang mampu mengerjakan urusan dunia dan juga akhirat tanpa bantuan dan kuasa Allah SWT. Amien. Dirimu adalah ikhtiarmu sekaligus kodrat Nya. Maka marilah kita selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya. Amien. Agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan keselamatan widunya wal akhirat. Amien. Amien. Amen.

15 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Mengingat peran guru yang begitu penting dalam pembentukan karakter siswa maka seorang guru harus dapat mengenal siapa dirinya. Menjadi seorang guru, hendaknya juga senantiasa mengupgrade diri. Terutama di era perkembangan teknologi yang pesat seperti saat ini, maka pendidik tidak cukup hanya berbekal keterampilan dan pengetahuan yang telah dimilikinya saja, namun guru juga dituntut untuk terus berinovasi dan mengembangkan kemampuannya.

    ReplyDelete
  2. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Guru yang bingung akan dirinya, meragukan dirinya sendiri, apakah sebenarnya hakikat diri itu? Manusia diciptakan memiliki akal dan hati yang dapat dijadikannya sebagai dasar untuk terus berusaha dan berdoa. Tetapi disamping itu, manusia hanyalah sebagian kecil dari ketetapan dan kuasaNYA. Maka bukanlah hakikat diri manusia apabila dia tidak menggunakan akal dan hatinya untuk berusaha dan berdoa serta itulah kodrat dari yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  3. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang guru memiliki tugas yang berat untuk mendidik dan membangun karater siswa. Guru juga seorang manusia yang memiliki rasa capai dan lelah. Bersyukur merupakan cara terbaik agar terhindar dari rasa capai dan lelah. Adanya capai dan lelah merupakan tanda bahwa kita masih diberikan kehidupan oleh ALLAH SWT. Bersikaplah IKHLAS dan Slalu mensyukuri apa yang diberikan oleh ALLAH SWT, InysaAllah akan membawa kebaikan bagi diri kita.

    ReplyDelete
  4. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    “Capai dan lelah adalah kodrat Nya.” Setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini pasti akan merasakan hal yang demikian.
    Sehingga tak perlu dirisaukan ketika merasa capai dan lelah sedangkan urusan yang ada belum terselesaikan.
    Karna pada hakikatnya capai dan lelah merupakan kodrat yang dimiliki oleh hambaNya.

    ReplyDelete
  5. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Guru sebagai pendidik mengemban tugas yang tidaklah mudah karena selain memenuhi kewajiban untuk mengajar juga harus mampu mendidik akhlak peserta didiknya. Itulah sebenar-benar guru adalah pendidik. Segala usaha dikerahkan agar guru mampu menggapai diri menjadi guru yang lebih baik dari hari ke hari.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Menjadi seoarang guru bukanlah hal mudah. Ia harus dapat mengerti dirinya dan mengerti akan murid-muridnya. Guru harus mampu menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu, karena guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menggapai dirinya terlebih dahulu baru nanti ia akan mampu menggapai murid-muridnya.

    ReplyDelete
  7. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Dalam dunia pendidikan, guru merupakan faktor penting dan utama, karena guru adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, terutama di sekolah, untuk mencapai kedewasaan peserta didik sehingga ia menjadi manusia yang paripurna dan mengetahui tugas-tugasnya sebagai manusia. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru terletak tanggung jawab untuk membawa siswanya kearah kedewasaan atau taraf kematangan tertentu. Dalam rangka itu guru tidak semata-mata sebagai “pendidik” yang transfer of knowledge, tapi juga seorang “pendidik” yang transfer of values dan sekaligus sebagai “pembimbing” yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Berkaitan dengan ini maka sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar mengajar, dalam usahanya mengantarkan siswa ke taraf yang dicita-citakan. Oleh karena itu setiap rencana kegiatan guru harus dapat didudukkan dan dibenarkan semata-mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Penggalan elegi ini adalah “Padahal kau telah menyebut begitu banyak urusanmu baik tentang dunia maupun akhiat. Itulah pertanda kekuasaan dan kebesaran Tuhan pencipta alam.”
    Kerika manusia menyombongkana taupun memamerka segala yang ada baik usaha untuk menggapai dunia dan bekal di akhirat maka dengan tidak sadar mereka telah menunjukan bhawa begitu besar kuasNya sehingga sebanyak apapun, sebesar apapun urusan kita tiada habisNya seperti halnya dengan kekuasanNya.

    ReplyDelete
  9. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Pencarian jati diri adalah salah satu momen yang pasti dirasakan oleh masing-masing individu. Termasuk yang dilakukan oleh sang guru. Setiap profesi yang dijalani pasti suatu ketika akan timbul keraguan terhadap diri sendiri apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh sekeliling kita. Sebagai seorang guru, untuk terus mengupgrade diri memerlukan kerjasama antar guru dan terus menambah ilmu.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru dipandang sebagai sosok teladan bagi muridnya. Tanggung jawab seorang guru sangat besar, demi mencerdaskan anak bangsa. Agar bisa melaksanakan tugas dengan baik hendaknya seorang guru mampu mengenal dirinya sendiri, seberapa besar kemampuannya, seberapa dalam ilmu yang dimilikinya. Karena peran guru sebagai pendidik dan pengajar, harus mampu mendidik dan mengajar murid-muridnya dengan baik. Salah satu tolak ukur keberhasilan dan kegagalan siswa tergantung pada gurunya juga. Hendaknya juga guru dapat menciptakan situasi pembelajaran yang asyik dan menyenangkan, sehingga menimbulkan semangat belajar dan semangat siswa untuk mengikuti pembelajaran.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. sebagai seorang manusia biasa, akan ada saatnya bagi guru untuk merasa lelah dengan rutinitasnya sebagai pendidik. Harus ditandai bahwa rasa lelah itu merupakan tanda bahwa sang guru telah berusaha. Agar tidak merasa lelah dengan rutinitas hendaknya guru selalu belajar dan mengupdate kemampuan dirinya. Agar ia senantiasa menggingat tugas besar yang diembannya.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Kunci proses pengembangan diri adalah mengenal diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri, guru mengetahui apa yang menjadi tujuan hidupnya. Ia menyadari kemampuan dan bakat-bakatnya serta tahu bagaimana menggunakannya demi mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian ia akan lebih mudah memahami karakter dari setiap peserta didiknya. Guru yang dapat memahami kondisi siswanya dengan baik adalah awal dari terwujudnya peran sebagai guru bagi mereka, jadi langkah awal untuk menggapai diri adalah memahami diri sendiri kemudian memahami peserta didiknya.

    ReplyDelete
  13. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Pendidik adalah tugas yang mulia, seorang guru mestinya sebelum memberikan materi kepada siswa tanamkan niat yang benar semata-mata karena Allah. Keikhlasan hal yang penting dalam memberikan ilmu, karena dengan keikhlasan memberikan ilmu kepada orang lain maka orang yang menerima ilmupun akan mudah mendapatkannya. Sehingga alangkah baiknya seorang guru itu mengkaji dirinya terlebih dahulu, apakah dia sudah sanggup untuk memberikan ilmu atau belum, baik dari segi niat, kepercayaan diri, ilmu yang luas dan teladan yang baik. semuanya itu tidak terlepas dari bagaimana seorang guru melihat dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Seorang guru dapat menjadi panutan bagi siswanya. Tidak jarang seorang guru menjadi terasa sangat berkesan bagi siswanya, baik itu dari bagaimana guru berada di depan kelas sebagai pendidik, baik itu guru sebagai pribadi yang menyenangkan, bahkan guru sebagai sumber motivasi dan tempat mencurahkan isi hati untuk mendapatkan solusi. Maka tidak sembarang orang dapat menjadi guru yang menjadi panutan bagi siswa. Hal tersebut merupakan salah satu mengapa saya menyenangi dunia pendidikan ini.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    sebagai manusia biasa, guru yang sebagai teladan bagi siswanya tidak terlepas untuk terus memperbaiki diri dan selalu intropeksi diri. itu demi kebaikan bagi dirinya dan orang lain yang mencontohnya. karna peran guru sangat penting di dunia pendidikan.

    ReplyDelete