Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru menggapai Diri?




Oleh: Marsigit
Kata-kataku terbukti tidak cukup:
Tiadalah tolok bandingan apa yang baru saja aku alami. Terangnya pikiranku melebihi terangnya lampu seribu watt. Jernihnya pikiranku melebihi jernihnya air tirisan. Lembutnya hatiku melebihi lembutnya salju. Ikhlasnya hatiku seikhlas hilangnya jiwa ragaku. Kutatap sekelilingku, maka mereka menebar senyum kepadaku. Kupalingkan wajahku maka karunia dan rakhmat Nya lah yang terpancar. Keburukan meluruh menjadi kebaikan.

Semuanya seakan memberi selamat kepadaku atas terangku yang baru aku dapat. Semua yang kulihat terbaca olehku ayat-ayat Nya. Apakah ini yang disebut sebagai kun fayakun maka jadilah, jika Tuhan menghendakinya. Maka hanya doa syukur ku lah yang selalu meluncur tiada henti atas karunia Mu ya Tuhan. Janganlah keadaan ini cepat berlalu ya Tuhan. Aku tidak mau pergi, aku ingin tetap di sini, karena aku merasa segar walaupun tiadalah setetes air menyentuh bibirku. Aku merasa kuat walaupun tiada sesuap nasi masuk dalam perutku. Oh Tuhan, jikalau Kau perkenankan aku, tetapkanlah aku selamanya disini. Karena inilah kerinduan yang selama ini aku dambakan. Tetapi saya ragu apakah permohonanku benar, karena ternyata saya mulai sadar bahwa kata-kataku tidaklah cukup. Padahal masih banyak pertanyaanku. Ketika aku tidak mampu bertanya, apakah diriku sudah mati atau masihkah aku bisa menghirup udara segar?
Aku meragukan kesadaranku sendiri:
Sambil melantunkan doa-doaku tak terasa air mataku jatuh menimpa kakiku. Setetes air mataku telah menyadarkan kakiku dari tidurnya. Pelan-pelan kesadaran itu menjulur keseluruh tubuhku. Badan terasa hangat, kepala terasa berat, mata terasa kantuk. Maka kutengok kiri, tiadalah orang disampingku, ketengok kanan tiadalah juga orang di sana. Pelan-pelan aku mulai sadar bahwa selama ini aku telah sendiri. Dalam kesendirian ini mulai terasa dinginnya sepi. Maka dengan sisa-sisa tenagaku, dengan gontai aku mulai berjalan meniti lorong. Terlihat jelas di sana banyak lorong-lorong itu. Ada lorong yang lebar, ada lorong yang sempit, ada lorong yang panjang ada pula lorong yang pendek. Di ujung-ujung lorong selalu ada pemandangan yang bermacam-macam, ada yang indah, ada yang terang, ada yang kelam, ada yang ramai seperti pasar, tetapi juga ada gambar yang menakutkan seperti raksasa. Dalam kegamangan melangkah, aku sempat bertanya dalam hati, dimanakah aku ini. Masih hidupkah aku? Apakah ini dunia? Jangan-jangan ini akhirat. Maka kuraba erat-erat tanganku, kugerakan kakiku, kugelengkan kepalaku, dan kukedipkedipkan mataku. Semuanya tampak jelas sesuai dengan kriteria bahwa aku masih hidup.
Tetapi aku tidak bisa meragukan pertanyaanku:
Walaupun saya masih meragukan kesadaranku sendiri, tetapi ada yang sangat jelas tidak dapat kuragukan, yaitu pertanyaanku. Setelah aku merasa mendekati batas itu, maka luruh dan layulah semua tanaman yang ada dalam pikiranku. Pikiranku seakan padang pasir yang luas dengan bukit-bukit. Aku seakan lupa akan semuanya. Mengapa? mengapa? Dan yang tersisa ternyata hanyalah pertanyaanku.
Untung si orang tua berambut putih datang kembali:
Wahai muridku aku mengerti bahwa dirimu ada dalam keadaan gelisah. Untuk menggapai pengetahuanmu maka bertanyalah.
Aku bertanya:
Bolehkah aku bertanya siapa sebetulnya diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Oh pertanyaan yang luar biasa. Tidak biasanya seseorang bertanya demikian. Karena pertanyaan demikian memerlukan syarat-syarat tertentu. Orang yang bisa bertanya demikian adalah tentu orang yang telah berilmu. Jadi pertama-tama saya mengucapkan puji syukur ke hadlirat Nya bahwa engkau telah diberi nikmat mendapatkan ilmu itu. Namun saya ingin menyampaikan bahwa yang demikian itulah tidak bersifat dalam keadaan diam. Karena dalam keadaan diam dapat diartikan berhenti. Dan keadaan berhenti dapat pula dikatakan bahwa engkau belum berilmu. Oleh karena itu bergeraklah dan gerakanlah selalu dirimu sinergis tali temali bersama ilmumu dalam ruang dan waktu. Namun telah terbukti bahwa engkau ternyata telah dapat mengajukan pertanyaan yang demikian. Maka saya dapat menyimpulkan bahwa engkau ternyata juga tidak dalam keadaan diam. Untuk itu saya mengucapkan selamat. Itulah sebetul-betulnya ilmu. Dan untuk itulah aku juga merasakan keharuan di dalamnya.
Aku bertanya:
Aku bertanya singkat mengapa guru menjawabnya panjang lebar.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebetul-betul ilmu. Jawabanku adalah kata-kataku dan kata-kataku adalah ilmuku. Ilmuku tidak bukan tidak lain adalah engkau sendiri. Jadi bersyukurlah jika engkau mendapatkan jawaban yang panjang lebar, karena itu juga pertanda bahwa rakhmat Nya telah datang. Demikianlah hendaknya jika engaku pun ditanya oleh siswa-siswamu. Pertanyaan dari siswa-siswamu itu juga adalah rakhmat Nya. Jadi jemputlah rakhmat dengan rakhmat pula. Memang demikianlah kodratnya. Untuk memperoleh pertanyaan kita bermodal pertanyaan, untuk memperoleh ilmu kita perlu bekal ilmu, dan juga untuk mendapat rakhmat Nya kita juga perlu rakhmat Nya. Jadi tawaduk dan berdhikirlah menjemput rakhmat Nya.
Aku bertanya:
Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?
Orang tua berambut putih:
Kesulitanmu itu pertanda bahwa kau juga telah berilmu dan akan memperoleh ilmu. Bagi orang-orang yang sudah tidak bisa lagi mengajukan pertanyaan, maka tiadalah kesulitan apapun di situ. Hanya pahala atau dosa-dosanyalah yang dia tanggung di tempat abadi. Sebagai seorang guru akupun tentu perlu mengajukan pertanyaan kepadamu. Kapan dan di mana kah kau itu tidak dapat mengajukan pertanyaan? Tolong renungkanlah. Tetapi baiklah aku juga ingin menyampaikan siapa sebetulnya kau itu. Sudah sering saya ucapkan bahwa aku tidak lain tidak bukan adalah engkau juga. Padahal aku adalah pengetahuanmu. Jadi tidak bukan tidak lain kau itu sebetulnya adalah pengetahuanmu sendiri. Demikian juga jika kamu bertanya siapakah aku dan juga siapakah murid-muridmu. Maka aku juga dapat katakan bahwa murid-muridmu tidak lain-tidak bukan adalah pengetahuannya.
Aku bertanya:
Mengapa guru masih berbelit-belit dan panjang lebar?
Orang tua berambut putih:
Berbelit-belit dan panjang lebar itu sebetulnya belum cukup. Berapakah usiamu?
Aku menjawab:
Amurku sekitar 36 tahun
Orang tua berambut putih:
Nah jika suatu peristiwa terjadi dalam waktu 1 detik, memerlukan penjelasan selama 1 menit agar orang-orang jelas betul apa hakekat peristiwa itu. Maka aku sebenar-benarnya memerlukan 60 kali 36 tahun untuk dapat menjelaskan siapa dirimu sebenarnya. Itu pun dengan asumsi hidupmu diskrit atau putus-putus tiap menit, padahal aku tahu bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontinu. Maka apa yang saya terangkan hanyalah manipulatif saja dan penyederhanaan saja. Ketahuilah bahwa segala macam bentuk penyederhanaan adalah nama lain dari eliminasi. Tahukah kau betapa sedihnya seseorang yang tereliminasi atau mengalami penghilangan sifat atau karakternya. Maka sekali lagi aku ingatkan bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain. Bukankah kamu sebetul-betulnya tidak menghendaki satu atau dua sifatmu tereliminasi? Jika demikian bagaimanakah nasib murid-muridmu? Bukankah muridmu itu adalah cermin bagi dirimu? Tahukah kamu seperti apa ciri-ciri orang paling berbahaya itu? Adalah orang yang tidak penyabar. Adalah orang yang menginginkan hasil yang cepat tanpa berusaha. Adalah orang yang suka melakukan penyederhanaan. Adalah orang yang suka membuat label-label atas banyak sifat. Adalah orang yang suka memberi nama secara tidak proporsional. Adalah orang yang suka mengukur-ukur. Adalah orang yang suka menilai-nilai dengan bilangan-bilangan. Adalah orang yang suka menghakimi. Adalah orang yang suka memberi keputusan-keputusan. Adalah orang yang suka mewakili dan diwakilkan. Yang semuanya itu dilakukan secara tidak proporsional. Ketahuilah bahwa untuk itu semua tiadalah absolutly benar untuk orang-orang yang dia perlakukan.
Aku merasakan sesuatu:
Guru, mendengar uraianmu yang terakhir aku merasakan sesuatu dalam diriku. Tubuhku mulai agak gemetar, perasaanku mulai agak kacau, pikiranku mulai agak bimbang, kepercayaan diriku mulai agak luntur.
Orang tua berambut putih:
Kenapa?
Aku menjawab:
Karena apa yang guru katakan itu ternyata semuanya aku lakukan. Aku melakukan selama ini terhadap murid-muridku. Tetapi aku masih merasa punya pembelaan guru. Apakah aku harus menterjemahkan muridku juga selama 15 tahun sesuai dengan umurnya? Kalau demikian kapan selesainya aku mengajar? Bukankah saya juga harus cepat-cepat menentukan bagaimana hasil belajarnya. Saya juga harus memberi skor dan nilai matematika yang memang dia mendapat 6. Saya juga harus memberi label bahwa dia adalah seorang murid yang sedang-sedang saja dalam belajar matematika. Saya juga harus memberi keputusan dia naik kelas atau tidak. Bahkan saya pernah menulis angka merah buat muridku sehingga dia tidak naik kelas. Apakah yang saya lakukan itu semua adalah penyederhanaan? Jika demikian maka aku termasuk orang-orang yang kau sebut sebagai orang paling berbahaya di dunia. Benarkah itu. Tolong guru, tolonglah ayo jawab segera.
Orang tua berambut putih:
Nah kalimatmu yang terakhir itu pertanda kamu tidak penyabar. Itu artinya ciri-ciri orang yang paling berbahaya.
Aku bercermin:
Baiklah guru aku sekarang merasa sudah bisa mulai menjadi seorang penyabar. Akan aku turunkan nada dan frekuensi bicaraku. Mengapa aku seakan merasa bisa tenang. Karena aku telah menemukan cermin. Siapakah cermin itu guruku? Tidak lain tidak bukan kecuali kau sendiri. Kaulah cerminku wahai guruku. Seperti berkali-kali kau katakan bahwa engkau juga diriku, dan diriku juga dirimu. Tetapi aku ingin menyampaikan fakta sebagai rasa keadilan bahwa engkau juga harus bertanggung jawab atas segala ucapanmu. Bukankah sejak awak engkau guruku selalu berbicara. Bukankah setiap kata yang engkau lantunkan itu sebetulnya adalah penyederhanaan? Kalau begitu aku telah menemukan god-fathernya orang yang paling berbahaya di dunia itu ternyata adalah engkau guruku sendiri. Wahai guruku, janganlah hanya terdiam di situ. Maka jawablah bantahanku ini jika kau memang pantas menjadi guruku.
Orang tua berambut putih:
Jangankan kau tunjuk, jangankan kau katakan, jangankan kau tuduhkan. Kau tidak berbuat apapun sebenarnya aku telah merasakan. Bahwa setiap kata yang kita produksi sebenarnya adalah penyederhanaan. Jangankan sebuah kata, selembar daun yang jatuh ketanah itu juga telah menutup sifat-sifat tanah yang tertimpanya. Itulah hakikat sifat, subyek dan obyek. Ketika aku berbicara kepadamu maka akulah subyek yang membahayakan sifat-sifatmu sebagai obyek. Ketika kamu berbicara denganku maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifatku sebagi obyek. Ketika kau berbicara kepada murid-muridmu maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifat murid-muridmu sebagai obyek. Siapakah orang yang paling produktif menghasilkan kata-kata, dan dengan demikian dia menjadi orang yang paling berbahaya. Itulah kebanyakan orang-orang yang berkuasa. Tetapi janganlah salah paham. Maksud kuasa di sini adalah kuasa dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bukankah ketika kamu mulai berbicara itu tanda bahwa kamu berkuasa untuk bicara. Jadi guru adalah berkuasa atas muridnya, orang tua berkuasa atas orang muda. Orang kaya berkuasa atas orang miskin. Orang sehat berkuasa atas orang sakit. Orang gemuk berkuasa atas oarang kurus. tetapi jangan salah paham. Karena orang kuruspun berkuasa terhadap orang gemuk, yaitu ketika badan langsing menjadi pilihan. Dan muridmu juga berkuasa atas dirimu ketika dia menuntut hak-haknya. Maka jika kau telah merasa menemukan siapa diriku ini itu pertanda bahwa kau akan menemukan siapakah dirimu itu. Maka tiadalah dapat terbebas wahai bagi orang-orang yang melantunkan kata-katanya dari segala bahaya dan dosa-dosanya. Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya.
Kesimpulanku mungkin:
Kalau begitu aku sekarang akan diam, supaya tidak membahayakan orang lain.
Orang tua berambut putih:
Berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmumu. Berbicara dapat membahayakan tetapi tidak berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi dirimu, yaitu bagi orang yang berusaha diam. Mengapa? Karena diam pertanda selesai dan selesai pertanda justru kamu sendirilah yang membahayakan dirimu sendiri. Bukankah itu justru dosanya lebih besar ketimbang kamu dibahayakan oleh orang lain? Mengapa, dalam diam itu pertanda kamu telah menyimpulkan hidupmu sebagi diam dan menyederhanakan hidupmu ke dalam diam. Artinya kamu telah mengeliminasi hakekat hidupmu yang tidak diam, dan dengan demikian kamu telah mendholimi hakekat bicaramu. Bukankah sebenar-benar hidup adalah hijrah? Sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah tidak diam. Kamu tidak lain tidak bukan adalah bicaramu. Maka jika terpaksa engkau ingin diam, maka asukkan semua yang aku katakan tadi dalam diammu. Itulah sebenar-benar blakc-hole. Diam kelihatannya, padahal sangat ramai di dalamnya.
Aku bingung:
Jadi aku harus bagaimana guru. Begini salah, begitu salah. Bingung aku jadinya.
Orang tua berambut putih:
Jikalau kamu bisa mengatakan sesuatu salah, itu pertanda kau punya potensi bisa mengatakan sesuatu itu benar. Diantara salah dan benar itulah sebenar-benar ilmumu. Bingung itu ada diantara benar dan salah. Maka bingungmu itu merupakan bagian dari ilmumu.
Aku capai:
Aku capai guru, aku lelah, aku lemas. Aku merasakan tenagaku tidak mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas muliaku. Padahal aku harus membelajarkan murid-muridku belajar matematika. Padahal tidak cuma satu kelas, padahal kelas paralel, padahal aku tidak hanya mengajar kelas satu, tetapi kelas dua, padahal aku harus mengurusi keluargaku, isteriku dan anak-anakku. Padahal aku harus..., aku harus...., aku harus....di dunia....di akhirat....?
Orang tua berambut putih:
Capai dan lelah adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda engkau masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidupmu. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu? Seberapakah kemampuanmu itu? Seberapakah tenagamu itu? Seberapa luas pikiran dan hatimu? Tenaga dan pikiranmua sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuasaan Nya. Padahal kau telah menyebut begitu banyak urusanmu baik tentang dunia maupun akhiat. Itulah pertanda kekuasaan dan kebesaran Tuhan pencipta alam. Maka kekuasaan Nya tiadalah tolok bandingannya. Dirimu dan juga diriku hanyalah setitik pasir ditepi samudra. Maka tiadalah sesorang mampu mengerjakan urusan dunia dan juga akhirat tanpa bantuan dan kuasa Allah SWT. Amien. Dirimu adalah ikhtiarmu sekaligus kodrat Nya. Maka marilah kita selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya. Amien. Agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan keselamatan widunya wal akhirat. Amien. Amien. Amen.

22 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak penyabar, semua yang diinginkan seketika tanpa menikmati proses yang ada semuanya serba instan. Inilah yang harus dijauhkan dari diri seorang guru. guru dilarang untuk memberikan konsep kepada siswa tanpa siswa tahu konsep tersebut berasal dari mana yang artinya hanya memberikan metode menghafal kepada siswa, ketika siswa diberi permasalahan lain, siswa akan merasa kesulitan untuk memecahkannya. Banyak guru kesulitan untuk membuat perangkat pembelajaran dikarenakan berbagai alasan, maka ada guru yang menggunakan cara instan untuk mendownload lewat internet saja. Hal yang semacam ini akan membahayakan guru sendiri maupun siswa atau orang lain. Karena dengan seperti ini guru tidak mampu berinovasi.

    ReplyDelete
  2. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Menjadi seorang guru tidaklah mudah, karena guru merupakan orang tua kedua siswa-siswa di sekolah. Menjadi guru hendaknya menjadi pribadi yang baik, menjadi orang tua sekaligus teman bagi siswanya. Untuk menjadi guru maka yang diperlukan tidak hanya nilai IPK yang tinggi, melainkan bagaimana cara guru mentransfer ilmu kepada siswanya dengan tidak mereduksi sifat-sifat siswanya dan menambahkan sifat lain. Karena guru adalah orang tua, maka guru juga diharapkan untuk tidak mengatakan “jangan” kepada siswanya. Sesungguhnya tidak ada siswa yang yang salah, tidak ada siswa yang bodoh, tidak ada siswa yang malas, hanya saja siswa tersebut belum mengerti sehingga belum benar, belum pintar karena belum tau, belum rajin karena belum mencoba.

    ReplyDelete
  3. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    “Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah” petikan kalimat dari Elegi di atas menurut saya menarik. Saya pribadi terkadang masih sering mengeluh ketika merasakan lelah. Padahal Allah SWT telah meminta hambaNya agar selalu bersyukur. Bersyukur memang hal kecil namun sulit dilakukan. Siapa kita, apa kemampuan kita, apa tenaga kita, seberapa luas pikiran kita, memang merupakan hal yang sangat kecil dibandingkan dengan Kekuasaan Allah SWT. Profesi sebagai seorang pendidik memanglah tidak ringan untuk dilakukan kecuali kita mampu untuk selalu bersyukur atas nikmatNya dan selalu berdoa memohon yang terbaik untuk peserta didik. Dengan begitu, semoga apa yang kita kerjakan akan diberikan kemudahan serta kelancaran. Aamiin.

    ReplyDelete
  4. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Aku bingung. Aku Capai". Pernah, bahkan sering aku mengucapkan itu.
    Kesekian kalianya, membaca elegi tentang guru, terfikir sosok guru dan betapa hebatnya dia, tapi ku ingin cerita. Lebih dari itu, aku memang terfikir sosok guru, tapi hanya 20%. 80% sisanya, elegi ini membuatku semakin tertunduk saja. Elegi ini meletakkan saya pada titik permulaan hidup. Memaksaku berjalan menyusuri jalan menuju titik di ujung sana, di ujung sini maksutku. Terciptalah garis kehidupanku. Ohwalah betapa hidup ini belum hidup. Ohwalah betapa sering aku merasa paha dan terang. Padahal, baru ku tahu sifat yang seperti itu sebenar-benar telah menutup ilmuku. Lahdalah gusti, paringi pangapuro

    "Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya"

    Tiadalah kata-kata yang benar-benar "benar". Jadi selama ini aku..... astagfirulloh.
    Bismillah, mari kita belajar

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca ‘Elegi Seorang Guru menggapai Diri?’ bahwa sebuah pertanyaan itu bisa mencerminkan ilmu seseorang. Sehingga jika kelak kita menjadi seorang guru, biasakanlah peserta didik untuk bertanya, sehingga kita bisa menilai peserta didik itu dari pertanyaan yang ia lontarkan.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  6. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Manusia adalah makhuk yang paling sempurna karena manusia mempunyai akal, pikiran dan hati. Tetapi karena dilengkapi itu membuat pandangan manusia itu berbeda-beda, sehingga tidak ada manusia yang memiliki sifat yang sama. Jadi ada beberapa manusia yang terkadang memiliki sifat yang bertentangan dengan norma, aturan, adat istiadat. Oleh karena itu tidak ada manusia yang sempurna. Guru pun juga begitu, pasti banyak kesalahan saat mengajar, kadang harus butuh banyak kesabaran untuk memahami banyaknya karakter yang ada di kelas membuatnya tidak adil kepada setiap siswa. Selain itu, karena siswa yang banyak dan berbeda-beda karakter itu kadang susah untuk mengendalikan emosi . Untuk itu, menjadi guru itu tidaklah mudah, karena guru mempunyai tanggung jawab yang besar. Harus bersikap baik karena memberikan contoh yang baik kepada siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  7. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Menjadi guru memang tidaklah mudah. Banyak sekali yang harus diperhatikan. Di samping mengenali siswanya, guru juga perlu mengenali dirinya sendiri, yaitu dengan mengukur seberapa besar tanggung jawabnya, seberapa besar perannya, seberapa besar kemampuannya dan lain-lain. Mengenali diri pun bukan merupakan pekerjaan yang mudah, kita tidak akan pernah mampu benar-benar mengenali diri kita sendiri, terlebih jika masih ditutupi dengan kesombongan. Namun, dengan terus berusaha mengenali diri setidaknya kita akan dapat menyadari berbagai keterbatasan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  8. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Orang yang paling mengenal bagaimana pribadi kita yang sesungguhnya ialah diri kita sendiri. Begitu juga dengan guru, fikiran dan hatinyalah yang dapat menggapai hakikat dirinya sendiri. Oleh karena itu, seorang guru harus benar-benar memahami hal apa saja yang dapat ia lakukan agar siswa-siswanya menjadi seseorang yang memiliki potensi yang baik sehingga dapat memilih jalan kehidupan yang dia inginkan. Jangan sampai seorang guru tidak memahami fungsinya sebagai guru sehingga sebaliknya malah menutupi perkembangan siswanya. Karena menurut tulisan di atas, "...bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah ketika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain...". Semoga guru-guru di seluruh dunia terhindar dari sikap-sikap tersebut.

    ReplyDelete
  9. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ilmu seseorang bisa dilihat dari bahasanya. Seorang yang berilmu memiliki bahasa yang santun dan bermakna. Maka hendaklah kita menjaga lisan baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Begitu pula seorang guru dalam mengajar hendaklah memiliki kesabaran, rasa syukur, dan ikhtiar karena sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah bicara. Maka jadilah guru yang penyabar agar siswa-siswa juga menjadi pribadi yang penyabar dan senantiasa selalu berikhtiar. Ingatlah murid adalah cermin gurunya.

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Manusia diciptakan di dunia ini memiliki tujuan. Bukan hanya hidup saja, namun juga ibadah. Apapun yang manusia lakukan di sunia ini akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Manusia hendaknya selalu berbuat baik sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat.
    Selain itu, manusia yang dapat mendahulukan akhirat ketimbang dunia akan memperoleh derajat yang tinggi di hadapan Allah. Karena urusan dunia itu akan mengikuti urusan akhirat. Sebagai contoh: ketika berdagang dan sudah masuk waktu sholat. Maka hendaknya manusia menghentikan kegiatan berdagangnya dan bergegas untuk sholat.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebagai seorang guru, seorang makhluk yang merupakan bagian dari makhluk Tuhan yang diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini. sebagai makhluk yang bergitu kecil dibandingkan dengan dunia ini, kita tidak seharusnya merasa superpower dan merasa paling hebat di depan siswa kita. Kita harus mengembangkan kreativitasnya, mengembangkan perangkat pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk belajar melakukan evaluasi yang sesuai, dan juga melakukan refleksi di setiap akhir pembelajaran kita untuk perbaikan. Semangat perbaikan.

    ReplyDelete
  12. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Seorang Guru menggapai Diri? Setelah membaca elegi ini salah satu pelajaran yang saya dapat adalah selalu bersyukur walaupun kita capai dan lelah. Sesungguhnya, ketika kita masih merasakan capai dan lelah itu berarti kita masih merasakan kehidupan. Sebagai seorang guru, wajar jika kadang kala ada titik dimana lelah menghadapi berbagai macam karakteristik siswa. Namun jangan sampai kelelahan tersebut, membuat guru menyerah untuk menghadapi keberagaman siswa sehingga menganggap semua siswa itu sama. Kelelahan tersebut harusnya menjadi motivasi guru untuk mengembangkan sebuah metode yang dapat memfasilitasi berbagai karakteristik siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi guru dan siswa tanpa terhalang oleh keberagaman yang ada. Oleh karena itu, tetaplah bersyukur walaupun kelelahan itu melanda. Terimakasih.

    ReplyDelete
  13. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Saat ini, kita banyak mendengar kasus-kasus kekerasan yang menimpa guru maupun siswa. Baik guru yang menganiaya siswa, siswa yang menganiaya guru, ataupun orang tua yang menganiaya guru. Hal ini mengindikasikan bahwa dunia pendidikan sedang mengalami krisis mental. Hubungan guru dan siswa seharusnya harmonis dan memiliki dampak positif bagi kehidupan keduanya. Sebagai pendidik, guru perlu mengenal seberapa besar kemampuannya, seberapa besar tenaganya, serta seberapa luas pikiran dan hatinya. Untuk menjalankan amanah, guru perlu merefleksi dirinya dan melihat bagaimana serta apa dirinya sehingga dapat melaksanakan tugas sesuai dengan proporsi, kemampuan, ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  14. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pada elegi seorang guru menggapai diri, menceritakan mengenai guru yang ingin mencari jati diri yang baik. Dari sini kita di ajarkan untuk menjadi orang yang penyabar, jangan inginkan hasil yang cepat tanpa berusaha, jangan suka melakukan penyederhanaan, jangan membuat label-label atas banyak sifat, jangan suka memberi nama secara tidak proporsional, jangan suka mengukur-ukur dan menilai-nilai dengan bilangan-bilangan, jangan suka menghakimi, jangan suka memberi keputusan-keputusan, jangan suka mewakili dan diwakilkan, harus bertindak secara proporsional.
    Selain itu, yang dapat saya ketahui dari postingan ini bahwa berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmu. Berbicara dapat membahayakan tetapi bukan berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi diri kita, yaitu bagi orang yang berusaha diam.
    Capai dan lelah juga adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika kita masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda kita masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidup. Tetap semangat menjalani kehidupan. Syukuri apapun itu, jalani dengan Ikhlas, selalu berikhtiar, berusaha dan berdoa. Terimakasih

    ReplyDelete
  15. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?"
    Saya juga merasakan hal ini. Kok memahami diri saja sulit ya? Ya karena manusia terkait dengan ruang dan waktu. Berbeda 1 detik saja diriku sudah berubah. Maka untuk menjelaskan diriku seumur hidup diperlukan seumur hidup yang lain. Sungguh menggapai diri adalah hal yang sulit. Yang perlu dilakukan adalah refleksi diri untuk sedikit demi sedikit menyadari diri dalam ruanh dan waktu.

    ReplyDelete
  16. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dalam menggapai diri adalah dengan memahami kodrat pribadi masing-masing. Dalam elegi seorang guru menggapai diri ini dimaksudkan kepada guru yang menggapai dirinya atau kodratnya. Untuk menggapai diri, seorang guru harus mampu memberikan dan sukses dalam menyampaikan pelajaran kepada siswa-siswa. Karena sebagai kodratnya, guru tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Tidak ada siswa yang bodoh merupakan pegangan bagi guru dalam rangka mencapai dan menggapai dirinya agar selalu rendah hati kepada siswanya.

    ReplyDelete
  17. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Terkadang seorang guru merasa bingung untuk menentukan pilihan. Bingung dalam memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang profesional. Terkadang terlalu banyak bicara ternyata tidak baik dan diam pun juga tidak baik. Sehingga yang diharapkan dalam hidup ini adalah keadaan yang seimbang karena ilmu berada di batas antara salah dan benar dan hidup berada di antara lelah dan tidak lelah. Semua yang kita gapai, sebenar-benarnya Tuhan yang menentukan sehingga dalam menggapai diri hendaknya juga disertai memohon ridho Tuhan agar memperoleh kemudahan.

    ReplyDelete
  18. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Diri erat kaitannya dengan kehidupan. Sehingga ketika berbicara diri maka konteksnya yaitu hakikat hidup. Elegi yang disampaikan awalnya seperti kisah salah seorang filsuf yang awalmulanya ia bermimpi sehingga tidak bisa dibedakan antara mimpi dan kenyataan. Lalu satu-satunya hal yang meyakinkan bahwa ia tidak mimpi atau ia berada pada keadaan sadar dan hidup yaitu dengan bertanya. Bertanya adalah kunci orang hidup, begitu juga halnya dengan belajar bertanya adalah awal mula ilmu. Seperti yang kita ketahui pembelajaran sekarang dengan kurikulum 2013 menekankan pula kegiatan awal dengan kegiatan menanya. Pertanyaan muncul karena kegelisahan atau kebingungan, sehingga kebingungan itu awal mula ilmu.
    Dan pada akhirnya kita menyadari bahwa kita adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada tetapi jangan lupakan aspek spiritualitas, bahwa kita adalah hamba, sehingga yang paling Kuasa adalah Tuhan.

    ReplyDelete
  19. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Kerendahan hati adalah sifat penting yang wajib kita tanam dalam hati dan pikiran kita. Yang dapat saya tangkap dari percakapan panjang di atas adalah semakin kita bertanya, itulah sebenar-benar ilmu kita, artinya ilmu tentang ketidak tahuan kita terhadap ilmu itu banyak sehingga muncullah berbagai pertanyaan dalam benak. Sebenar-benar ilmu pengetahun kita itulah diri kita, artinya apa yang ada di diri kita itulah ilmu pengetahuan yang kita punya. Padahal segala yang bermula dari pertanyaan akan menghasilkan ilmu, itulah sebenar-benar diri kita yang terus haus akan ilmu. Menggapai diri sejatinya menggapai segala yang dianggap sempurna di mata Tuhan, keluarga, teman , dan orang lain sekalipun. Ketika guru itu mampu menyadari atas ketidak tahuan dan ketidak mampuan dia, itulah diri dia yang sedang berikhtiar untuk menggapai diri yang seharusnya. Ketika ia mencapai pada titik lelah, capek, bosan dan suntuk, maka bersyukurlah karena itu pertanda diri itu masih hidup. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu mencakup seberapakah kemampuanmu, tenagamu, luas pikiran dan hatimu dibanding dengan kekuasaan Nya. Sehingga hendaknya selalu libatkan Allah dalam usahamu berikhtiar untuk menggapai diri dan pribadi yang lebih baik, agar bermanfaat baik diri sendiri dan orang lain. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof. Ulasan yang membuat diri ini merenung dan terus merenung. Saya menjadi sadar bahwa tidak ada yang mampu menjelaskan diri seseorang. Hanya satu yang tidak boleh terlupakan, yakni keberadaan ku tidak lain adalah kehendak Tuhan yang telah menciptakan sampai sejauh ini. Saya menjadi terdorong untuk terus bertanya saat diri ini tidak tahu akan hal apapun. Saya semakin yakin setiap kata, perbuatan dan pemikiran diri ini tidak dapat dikatakan benar secara absolut. Mohon ampun gusti, terkadang diri ini merasa mengagungkan pemikiran sendiri. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  21. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Guru harus dapat mengenali dan memahami dirinya dengan baik. Layaknya “bercermin” seorang guru sangat perlu untuk menyadari hakikat menjadi seorang guru. Guru juga sebaiknya mempunyai sifat penyabar. Seperti dalam artikel diatas menyebutkan bahwa orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak penyabar. Guru yang tidak penyabar akan cenderung memaksakan kehendak pada siswanya, seperti memberikan PR dan tugas yang sangat banyak, menerangkan pelajaran dengan cepat agar materi segera selesai, suka menghakimi atau menghukum siswa-siswanya, dan sebagainya. Guru juga tidak boleh mengeluh capek atau lelah. Mengajar tidak boleh dijadikan sebagai beban melainkan harus dilakukan dengan penuh semangat, kecintaan, dan keikhlasan.

    ReplyDelete
  22. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Manusia tidak lepas dari salah dan khilaf oleh karenanya elegi menggapai diri ini mencerminkan seorang yang sedang muhasabah tentang apa yang telah dilakukannya selama ini, muhasabah tentang siapa sejatinya dirinya. Menurut kami, ini lah tipe orang-orang yang sedang benar-benar hidup karena dia dapat berfikir, dia dapat mencoba untuk mengevaluasi demi kebaikan dirinya yakni yang dalam hal ini adalah guru dan orang lain yang dalam hal ini adalah murid. Proses muhasabah dan menuju perbaikan diri memang tidak selalu bisa dilakukan sendiri, kita membutuhkan penuntut atau guru yang dapat mengarahkan kita menuju jalan kebenaran Nya yakni Allah SWT. Karena sungguh semulus apapun seorang guru merencanakan pembelajaran bagi siswanya, Namun semua kehendak ada milik Allah oleh karena itu hidup ini tidak cukup dengan berfikir secara rasional. Namun, spiritual memegang peranan penting untuk membangun karakter siswa. Terlebih seorang siswa dapat sukses juga karena doa yang dilantunkan dengan ikhlas oleh gurunya. Terima Kasih

    ReplyDelete