Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru menggapai Diri?




Oleh: Marsigit
Kata-kataku terbukti tidak cukup:
Tiadalah tolok bandingan apa yang baru saja aku alami. Terangnya pikiranku melebihi terangnya lampu seribu watt. Jernihnya pikiranku melebihi jernihnya air tirisan. Lembutnya hatiku melebihi lembutnya salju. Ikhlasnya hatiku seikhlas hilangnya jiwa ragaku. Kutatap sekelilingku, maka mereka menebar senyum kepadaku. Kupalingkan wajahku maka karunia dan rakhmat Nya lah yang terpancar. Keburukan meluruh menjadi kebaikan.

Semuanya seakan memberi selamat kepadaku atas terangku yang baru aku dapat. Semua yang kulihat terbaca olehku ayat-ayat Nya. Apakah ini yang disebut sebagai kun fayakun maka jadilah, jika Tuhan menghendakinya. Maka hanya doa syukur ku lah yang selalu meluncur tiada henti atas karunia Mu ya Tuhan. Janganlah keadaan ini cepat berlalu ya Tuhan. Aku tidak mau pergi, aku ingin tetap di sini, karena aku merasa segar walaupun tiadalah setetes air menyentuh bibirku. Aku merasa kuat walaupun tiada sesuap nasi masuk dalam perutku. Oh Tuhan, jikalau Kau perkenankan aku, tetapkanlah aku selamanya disini. Karena inilah kerinduan yang selama ini aku dambakan. Tetapi saya ragu apakah permohonanku benar, karena ternyata saya mulai sadar bahwa kata-kataku tidaklah cukup. Padahal masih banyak pertanyaanku. Ketika aku tidak mampu bertanya, apakah diriku sudah mati atau masihkah aku bisa menghirup udara segar?
Aku meragukan kesadaranku sendiri:
Sambil melantunkan doa-doaku tak terasa air mataku jatuh menimpa kakiku. Setetes air mataku telah menyadarkan kakiku dari tidurnya. Pelan-pelan kesadaran itu menjulur keseluruh tubuhku. Badan terasa hangat, kepala terasa berat, mata terasa kantuk. Maka kutengok kiri, tiadalah orang disampingku, ketengok kanan tiadalah juga orang di sana. Pelan-pelan aku mulai sadar bahwa selama ini aku telah sendiri. Dalam kesendirian ini mulai terasa dinginnya sepi. Maka dengan sisa-sisa tenagaku, dengan gontai aku mulai berjalan meniti lorong. Terlihat jelas di sana banyak lorong-lorong itu. Ada lorong yang lebar, ada lorong yang sempit, ada lorong yang panjang ada pula lorong yang pendek. Di ujung-ujung lorong selalu ada pemandangan yang bermacam-macam, ada yang indah, ada yang terang, ada yang kelam, ada yang ramai seperti pasar, tetapi juga ada gambar yang menakutkan seperti raksasa. Dalam kegamangan melangkah, aku sempat bertanya dalam hati, dimanakah aku ini. Masih hidupkah aku? Apakah ini dunia? Jangan-jangan ini akhirat. Maka kuraba erat-erat tanganku, kugerakan kakiku, kugelengkan kepalaku, dan kukedipkedipkan mataku. Semuanya tampak jelas sesuai dengan kriteria bahwa aku masih hidup.
Tetapi aku tidak bisa meragukan pertanyaanku:
Walaupun saya masih meragukan kesadaranku sendiri, tetapi ada yang sangat jelas tidak dapat kuragukan, yaitu pertanyaanku. Setelah aku merasa mendekati batas itu, maka luruh dan layulah semua tanaman yang ada dalam pikiranku. Pikiranku seakan padang pasir yang luas dengan bukit-bukit. Aku seakan lupa akan semuanya. Mengapa? mengapa? Dan yang tersisa ternyata hanyalah pertanyaanku.
Untung si orang tua berambut putih datang kembali:
Wahai muridku aku mengerti bahwa dirimu ada dalam keadaan gelisah. Untuk menggapai pengetahuanmu maka bertanyalah.
Aku bertanya:
Bolehkah aku bertanya siapa sebetulnya diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Oh pertanyaan yang luar biasa. Tidak biasanya seseorang bertanya demikian. Karena pertanyaan demikian memerlukan syarat-syarat tertentu. Orang yang bisa bertanya demikian adalah tentu orang yang telah berilmu. Jadi pertama-tama saya mengucapkan puji syukur ke hadlirat Nya bahwa engkau telah diberi nikmat mendapatkan ilmu itu. Namun saya ingin menyampaikan bahwa yang demikian itulah tidak bersifat dalam keadaan diam. Karena dalam keadaan diam dapat diartikan berhenti. Dan keadaan berhenti dapat pula dikatakan bahwa engkau belum berilmu. Oleh karena itu bergeraklah dan gerakanlah selalu dirimu sinergis tali temali bersama ilmumu dalam ruang dan waktu. Namun telah terbukti bahwa engkau ternyata telah dapat mengajukan pertanyaan yang demikian. Maka saya dapat menyimpulkan bahwa engkau ternyata juga tidak dalam keadaan diam. Untuk itu saya mengucapkan selamat. Itulah sebetul-betulnya ilmu. Dan untuk itulah aku juga merasakan keharuan di dalamnya.
Aku bertanya:
Aku bertanya singkat mengapa guru menjawabnya panjang lebar.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebetul-betul ilmu. Jawabanku adalah kata-kataku dan kata-kataku adalah ilmuku. Ilmuku tidak bukan tidak lain adalah engkau sendiri. Jadi bersyukurlah jika engkau mendapatkan jawaban yang panjang lebar, karena itu juga pertanda bahwa rakhmat Nya telah datang. Demikianlah hendaknya jika engaku pun ditanya oleh siswa-siswamu. Pertanyaan dari siswa-siswamu itu juga adalah rakhmat Nya. Jadi jemputlah rakhmat dengan rakhmat pula. Memang demikianlah kodratnya. Untuk memperoleh pertanyaan kita bermodal pertanyaan, untuk memperoleh ilmu kita perlu bekal ilmu, dan juga untuk mendapat rakhmat Nya kita juga perlu rakhmat Nya. Jadi tawaduk dan berdhikirlah menjemput rakhmat Nya.
Aku bertanya:
Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?
Orang tua berambut putih:
Kesulitanmu itu pertanda bahwa kau juga telah berilmu dan akan memperoleh ilmu. Bagi orang-orang yang sudah tidak bisa lagi mengajukan pertanyaan, maka tiadalah kesulitan apapun di situ. Hanya pahala atau dosa-dosanyalah yang dia tanggung di tempat abadi. Sebagai seorang guru akupun tentu perlu mengajukan pertanyaan kepadamu. Kapan dan di mana kah kau itu tidak dapat mengajukan pertanyaan? Tolong renungkanlah. Tetapi baiklah aku juga ingin menyampaikan siapa sebetulnya kau itu. Sudah sering saya ucapkan bahwa aku tidak lain tidak bukan adalah engkau juga. Padahal aku adalah pengetahuanmu. Jadi tidak bukan tidak lain kau itu sebetulnya adalah pengetahuanmu sendiri. Demikian juga jika kamu bertanya siapakah aku dan juga siapakah murid-muridmu. Maka aku juga dapat katakan bahwa murid-muridmu tidak lain-tidak bukan adalah pengetahuannya.
Aku bertanya:
Mengapa guru masih berbelit-belit dan panjang lebar?
Orang tua berambut putih:
Berbelit-belit dan panjang lebar itu sebetulnya belum cukup. Berapakah usiamu?
Aku menjawab:
Amurku sekitar 36 tahun
Orang tua berambut putih:
Nah jika suatu peristiwa terjadi dalam waktu 1 detik, memerlukan penjelasan selama 1 menit agar orang-orang jelas betul apa hakekat peristiwa itu. Maka aku sebenar-benarnya memerlukan 60 kali 36 tahun untuk dapat menjelaskan siapa dirimu sebenarnya. Itu pun dengan asumsi hidupmu diskrit atau putus-putus tiap menit, padahal aku tahu bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontinu. Maka apa yang saya terangkan hanyalah manipulatif saja dan penyederhanaan saja. Ketahuilah bahwa segala macam bentuk penyederhanaan adalah nama lain dari eliminasi. Tahukah kau betapa sedihnya seseorang yang tereliminasi atau mengalami penghilangan sifat atau karakternya. Maka sekali lagi aku ingatkan bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain. Bukankah kamu sebetul-betulnya tidak menghendaki satu atau dua sifatmu tereliminasi? Jika demikian bagaimanakah nasib murid-muridmu? Bukankah muridmu itu adalah cermin bagi dirimu? Tahukah kamu seperti apa ciri-ciri orang paling berbahaya itu? Adalah orang yang tidak penyabar. Adalah orang yang menginginkan hasil yang cepat tanpa berusaha. Adalah orang yang suka melakukan penyederhanaan. Adalah orang yang suka membuat label-label atas banyak sifat. Adalah orang yang suka memberi nama secara tidak proporsional. Adalah orang yang suka mengukur-ukur. Adalah orang yang suka menilai-nilai dengan bilangan-bilangan. Adalah orang yang suka menghakimi. Adalah orang yang suka memberi keputusan-keputusan. Adalah orang yang suka mewakili dan diwakilkan. Yang semuanya itu dilakukan secara tidak proporsional. Ketahuilah bahwa untuk itu semua tiadalah absolutly benar untuk orang-orang yang dia perlakukan.
Aku merasakan sesuatu:
Guru, mendengar uraianmu yang terakhir aku merasakan sesuatu dalam diriku. Tubuhku mulai agak gemetar, perasaanku mulai agak kacau, pikiranku mulai agak bimbang, kepercayaan diriku mulai agak luntur.
Orang tua berambut putih:
Kenapa?
Aku menjawab:
Karena apa yang guru katakan itu ternyata semuanya aku lakukan. Aku melakukan selama ini terhadap murid-muridku. Tetapi aku masih merasa punya pembelaan guru. Apakah aku harus menterjemahkan muridku juga selama 15 tahun sesuai dengan umurnya? Kalau demikian kapan selesainya aku mengajar? Bukankah saya juga harus cepat-cepat menentukan bagaimana hasil belajarnya. Saya juga harus memberi skor dan nilai matematika yang memang dia mendapat 6. Saya juga harus memberi label bahwa dia adalah seorang murid yang sedang-sedang saja dalam belajar matematika. Saya juga harus memberi keputusan dia naik kelas atau tidak. Bahkan saya pernah menulis angka merah buat muridku sehingga dia tidak naik kelas. Apakah yang saya lakukan itu semua adalah penyederhanaan? Jika demikian maka aku termasuk orang-orang yang kau sebut sebagai orang paling berbahaya di dunia. Benarkah itu. Tolong guru, tolonglah ayo jawab segera.
Orang tua berambut putih:
Nah kalimatmu yang terakhir itu pertanda kamu tidak penyabar. Itu artinya ciri-ciri orang yang paling berbahaya.
Aku bercermin:
Baiklah guru aku sekarang merasa sudah bisa mulai menjadi seorang penyabar. Akan aku turunkan nada dan frekuensi bicaraku. Mengapa aku seakan merasa bisa tenang. Karena aku telah menemukan cermin. Siapakah cermin itu guruku? Tidak lain tidak bukan kecuali kau sendiri. Kaulah cerminku wahai guruku. Seperti berkali-kali kau katakan bahwa engkau juga diriku, dan diriku juga dirimu. Tetapi aku ingin menyampaikan fakta sebagai rasa keadilan bahwa engkau juga harus bertanggung jawab atas segala ucapanmu. Bukankah sejak awak engkau guruku selalu berbicara. Bukankah setiap kata yang engkau lantunkan itu sebetulnya adalah penyederhanaan? Kalau begitu aku telah menemukan god-fathernya orang yang paling berbahaya di dunia itu ternyata adalah engkau guruku sendiri. Wahai guruku, janganlah hanya terdiam di situ. Maka jawablah bantahanku ini jika kau memang pantas menjadi guruku.
Orang tua berambut putih:
Jangankan kau tunjuk, jangankan kau katakan, jangankan kau tuduhkan. Kau tidak berbuat apapun sebenarnya aku telah merasakan. Bahwa setiap kata yang kita produksi sebenarnya adalah penyederhanaan. Jangankan sebuah kata, selembar daun yang jatuh ketanah itu juga telah menutup sifat-sifat tanah yang tertimpanya. Itulah hakikat sifat, subyek dan obyek. Ketika aku berbicara kepadamu maka akulah subyek yang membahayakan sifat-sifatmu sebagai obyek. Ketika kamu berbicara denganku maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifatku sebagi obyek. Ketika kau berbicara kepada murid-muridmu maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifat murid-muridmu sebagai obyek. Siapakah orang yang paling produktif menghasilkan kata-kata, dan dengan demikian dia menjadi orang yang paling berbahaya. Itulah kebanyakan orang-orang yang berkuasa. Tetapi janganlah salah paham. Maksud kuasa di sini adalah kuasa dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bukankah ketika kamu mulai berbicara itu tanda bahwa kamu berkuasa untuk bicara. Jadi guru adalah berkuasa atas muridnya, orang tua berkuasa atas orang muda. Orang kaya berkuasa atas orang miskin. Orang sehat berkuasa atas orang sakit. Orang gemuk berkuasa atas oarang kurus. tetapi jangan salah paham. Karena orang kuruspun berkuasa terhadap orang gemuk, yaitu ketika badan langsing menjadi pilihan. Dan muridmu juga berkuasa atas dirimu ketika dia menuntut hak-haknya. Maka jika kau telah merasa menemukan siapa diriku ini itu pertanda bahwa kau akan menemukan siapakah dirimu itu. Maka tiadalah dapat terbebas wahai bagi orang-orang yang melantunkan kata-katanya dari segala bahaya dan dosa-dosanya. Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya.
Kesimpulanku mungkin:
Kalau begitu aku sekarang akan diam, supaya tidak membahayakan orang lain.
Orang tua berambut putih:
Berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmumu. Berbicara dapat membahayakan tetapi tidak berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi dirimu, yaitu bagi orang yang berusaha diam. Mengapa? Karena diam pertanda selesai dan selesai pertanda justru kamu sendirilah yang membahayakan dirimu sendiri. Bukankah itu justru dosanya lebih besar ketimbang kamu dibahayakan oleh orang lain? Mengapa, dalam diam itu pertanda kamu telah menyimpulkan hidupmu sebagi diam dan menyederhanakan hidupmu ke dalam diam. Artinya kamu telah mengeliminasi hakekat hidupmu yang tidak diam, dan dengan demikian kamu telah mendholimi hakekat bicaramu. Bukankah sebenar-benar hidup adalah hijrah? Sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah tidak diam. Kamu tidak lain tidak bukan adalah bicaramu. Maka jika terpaksa engkau ingin diam, maka asukkan semua yang aku katakan tadi dalam diammu. Itulah sebenar-benar blakc-hole. Diam kelihatannya, padahal sangat ramai di dalamnya.
Aku bingung:
Jadi aku harus bagaimana guru. Begini salah, begitu salah. Bingung aku jadinya.
Orang tua berambut putih:
Jikalau kamu bisa mengatakan sesuatu salah, itu pertanda kau punya potensi bisa mengatakan sesuatu itu benar. Diantara salah dan benar itulah sebenar-benar ilmumu. Bingung itu ada diantara benar dan salah. Maka bingungmu itu merupakan bagian dari ilmumu.
Aku capai:
Aku capai guru, aku lelah, aku lemas. Aku merasakan tenagaku tidak mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas muliaku. Padahal aku harus membelajarkan murid-muridku belajar matematika. Padahal tidak cuma satu kelas, padahal kelas paralel, padahal aku tidak hanya mengajar kelas satu, tetapi kelas dua, padahal aku harus mengurusi keluargaku, isteriku dan anak-anakku. Padahal aku harus..., aku harus...., aku harus....di dunia....di akhirat....?
Orang tua berambut putih:
Capai dan lelah adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda engkau masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidupmu. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu? Seberapakah kemampuanmu itu? Seberapakah tenagamu itu? Seberapa luas pikiran dan hatimu? Tenaga dan pikiranmua sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuasaan Nya. Padahal kau telah menyebut begitu banyak urusanmu baik tentang dunia maupun akhiat. Itulah pertanda kekuasaan dan kebesaran Tuhan pencipta alam. Maka kekuasaan Nya tiadalah tolok bandingannya. Dirimu dan juga diriku hanyalah setitik pasir ditepi samudra. Maka tiadalah sesorang mampu mengerjakan urusan dunia dan juga akhirat tanpa bantuan dan kuasa Allah SWT. Amien. Dirimu adalah ikhtiarmu sekaligus kodrat Nya. Maka marilah kita selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya. Amien. Agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan keselamatan widunya wal akhirat. Amien. Amien. Amen.

67 comments:

  1. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Pendidik adalah tugas yang mulia, seorang guru mestinya sebelum memberikan materi kepada siswa tanamkan niat yang benar semata-mata karena Allah. Keikhlasan hal yang penting dalam memberikan ilmu, karena dengan keikhlasan memberikan ilmu kepada orang lain maka orang yang menerima ilmupun akan mudah mendapatkannya. Sehingga alangkah baiknya seorang guru itu mengkaji dirinya terlebih dahulu, apakah dia sudah sanggup untuk memberikan ilmu atau belum, baik dari segi niat, kepercayaan diri, ilmu yang luas dan teladan yang baik. semuanya itu tidak terlepas dari bagaimana seorang guru melihat dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Seorang guru dapat menjadi panutan bagi siswanya. Tidak jarang seorang guru menjadi terasa sangat berkesan bagi siswanya, baik itu dari bagaimana guru berada di depan kelas sebagai pendidik, baik itu guru sebagai pribadi yang menyenangkan, bahkan guru sebagai sumber motivasi dan tempat mencurahkan isi hati untuk mendapatkan solusi. Maka tidak sembarang orang dapat menjadi guru yang menjadi panutan bagi siswa. Hal tersebut merupakan salah satu mengapa saya menyenangi dunia pendidikan ini.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    sebagai manusia biasa, guru yang sebagai teladan bagi siswanya tidak terlepas untuk terus memperbaiki diri dan selalu intropeksi diri. itu demi kebaikan bagi dirinya dan orang lain yang mencontohnya. karna peran guru sangat penting di dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  4. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru mungkin sangat erat dengan Pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, Guru sebagai pendidik, tetaplah terus berinovasi dalam menciptakan variasi-variasi dalam pembelajarannya. Tidaklah, membatasi diri karena cukup pengetahuan itu saja yang perlu siswa dapatkan sehingga cukup sekian pengethuan yang perlu saya hayati. Bukan hanya dalam mendidik pengetahuan namun guru juga tetap harus menjunjung sikapnya, baik sikap spiritual maupun sikap sosialnya. Karena guru itu digugu lan dituru atau teladan.

    ReplyDelete
  5. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menjalani hidup akan ada banyak pertanyaan yang belum tentu semuanya dapat terjawab seketika, begitu juga dalam mendapatkan ilmu. Ketika ada pertanyaan – pertanyaan yang belum terjawab tentang suatu ilmu yang ingin diketahui maka akan mendorong seseorang untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga jawaban atas pertanyaan itu dicari sesuai dengan ruang dan waktunya masing – masing. Setinggi – tingginya ilmu yang dicari tidak akan lepas dari kuasa Tuhan. Maka hendaknya manusia selalu menjaga hatinya dan tetap taqwa kepada Tuhan agar hidupnya selalu disertai dan dijaga Tuhan dalam jalan yang benar.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Tanggapan yang berbeda dari setiap orang yang membaca artikel yang sama merupakan cermin sejauh mana ilmu yang melekat dalam dirinya dengan kata lain sejauh mana mereka mengenali dirinya. Komentar ini merupakan cermin dari kemampuan dalam mengenali diriku sendiri. Untuk dapat menggapai diri maka kita perlu mengenal seberapa besar kemampuan kita, dan seberapa luas pikiran dan hati kita. Jadi dengan menyadari ini maka kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita.

    ReplyDelete
  7. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Menjadi seorang guru memang bukan hal yang mudah. Guru memiliki tanggung jawab yang besar kepada masa depan siswanya. Guru sebaiknya memberikan dan memang seharusnya memberikan apa yang benar bukan yang salah kepada para siswa siswanya. Guru seharusnya bersikap bijaksana, bukan sok bijaksana. Menjadi guru memang pekerjaan yang tidak mudah oleh karenanya menjadi guru adalah pekerjaan mulia.

    ReplyDelete
  8. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tugas seorang guru yang harus mengajar, mendidik, dan memfasilitasi siswa sangatlah berat. Sikap kehati-hatian guru perlu diperhatikan dengan seksama. Guru harus mengenali dirinya sendiri sebelum berhadapan dengan siswa. Jangan sampai himbauan-himbauan kecil yang dilontarkan kepada siswa malah ada pada diri seorang guru. Pepatah jawa mengatakan "Guru, digugu lan ditiru" atau dalam bahasa Indonesia artinya "Guru, dipercaya dan dicontoh/diikuti". Oleh karena itu, guru harus mampu mengenali pribadinya.

    ReplyDelete
  9. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Menurut saya, guru yang baik adalah guru yang senantiasa melakukan kegiatan refleksi terhadap dirinya sendiri. Kegiatan refleksi ini berguna sebagai bahan evaluasi untuk menengok kembali proses pembelajaran yang telah ia lakukan di kelas. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa metode pembelajaran yang ia lakukan sebelum sesuai atau tidak dengan kebutuhan siswa dengan berbagai macam karakteristik, sehingga kedepannya guru dapat menyesuaikan metode yang digunakan dengan karakteristik siswanya. Selain itu, guru harus juga terbuka, dalam artian bersedia menerima kritikan-kritikan guna untuk selalu memperbaiki dirinya.

    ReplyDelete
  10. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang saya dapatkan dari elegi di atas adalah selalu sabar, jangan tergesa – gesa, apalagi dalam menuntut ilmu. Kita harus bersabar, karena itu proses untuk menggapai dirimu. Selain itu juga jangan asal bicara, maksudnya setiap kata – kata yang diucapkan harus hati – hati.

    ReplyDelete
  11. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk menjadi guru tidaklah mudah, menjadi seorang guru tidak mungkin diam selama pembelajaran. Guru akan berbicara, namun harus diingat bahwa setiap orang harus berhati – hati dalam berbicara. Karena apa yang dikeluarkan melalui kata – kata dapat memengaruhi orag lain, misalkan menutupi sifat dan karajter orang lain. Begitu pula dengan guru yang berbicara kepada siswa, karena setiap perkataan guru akan sangat berpengaruh terhadap perembangan siswa. Dengan kata – kata guru, siswa bisa saja menjadi termotivasi tetapi sebaliknya jika guru salah berucap dapat menjadikan siswa tertekan atau kehilangan sifat dan karakternya.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak penyabar, semua yang diinginkan seketika tanpa menikmati proses yang ada semuanya serba instan. Inilah yang harus dijauhkan dari diri seorang guru. guru dilarang untuk memberikan konsep kepada siswa tanpa siswa tahu konsep tersebut berasal dari mana yang artinya hanya memberikan metode menghafal kepada siswa, ketika siswa diberi permasalahan lain, siswa akan merasa kesulitan untuk memecahkannya. Banyak guru kesulitan untuk membuat perangkat pembelajaran dikarenakan berbagai alasan, maka ada guru yang menggunakan cara instan untuk mendownload lewat internet saja. Hal yang semacam ini akan membahayakan guru sendiri maupun siswa atau orang lain. Karena dengan seperti ini guru tidak mampu berinovasi.

    ReplyDelete
  13. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Menjadi seorang guru tidaklah mudah, karena guru merupakan orang tua kedua siswa-siswa di sekolah. Menjadi guru hendaknya menjadi pribadi yang baik, menjadi orang tua sekaligus teman bagi siswanya. Untuk menjadi guru maka yang diperlukan tidak hanya nilai IPK yang tinggi, melainkan bagaimana cara guru mentransfer ilmu kepada siswanya dengan tidak mereduksi sifat-sifat siswanya dan menambahkan sifat lain. Karena guru adalah orang tua, maka guru juga diharapkan untuk tidak mengatakan “jangan” kepada siswanya. Sesungguhnya tidak ada siswa yang yang salah, tidak ada siswa yang bodoh, tidak ada siswa yang malas, hanya saja siswa tersebut belum mengerti sehingga belum benar, belum pintar karena belum tau, belum rajin karena belum mencoba.

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    “Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah” petikan kalimat dari Elegi di atas menurut saya menarik. Saya pribadi terkadang masih sering mengeluh ketika merasakan lelah. Padahal Allah SWT telah meminta hambaNya agar selalu bersyukur. Bersyukur memang hal kecil namun sulit dilakukan. Siapa kita, apa kemampuan kita, apa tenaga kita, seberapa luas pikiran kita, memang merupakan hal yang sangat kecil dibandingkan dengan Kekuasaan Allah SWT. Profesi sebagai seorang pendidik memanglah tidak ringan untuk dilakukan kecuali kita mampu untuk selalu bersyukur atas nikmatNya dan selalu berdoa memohon yang terbaik untuk peserta didik. Dengan begitu, semoga apa yang kita kerjakan akan diberikan kemudahan serta kelancaran. Aamiin.

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Aku bingung. Aku Capai". Pernah, bahkan sering aku mengucapkan itu.
    Kesekian kalianya, membaca elegi tentang guru, terfikir sosok guru dan betapa hebatnya dia, tapi ku ingin cerita. Lebih dari itu, aku memang terfikir sosok guru, tapi hanya 20%. 80% sisanya, elegi ini membuatku semakin tertunduk saja. Elegi ini meletakkan saya pada titik permulaan hidup. Memaksaku berjalan menyusuri jalan menuju titik di ujung sana, di ujung sini maksutku. Terciptalah garis kehidupanku. Ohwalah betapa hidup ini belum hidup. Ohwalah betapa sering aku merasa paha dan terang. Padahal, baru ku tahu sifat yang seperti itu sebenar-benar telah menutup ilmuku. Lahdalah gusti, paringi pangapuro

    "Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya"

    Tiadalah kata-kata yang benar-benar "benar". Jadi selama ini aku..... astagfirulloh.
    Bismillah, mari kita belajar

    ReplyDelete
  16. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca ‘Elegi Seorang Guru menggapai Diri?’ bahwa sebuah pertanyaan itu bisa mencerminkan ilmu seseorang. Sehingga jika kelak kita menjadi seorang guru, biasakanlah peserta didik untuk bertanya, sehingga kita bisa menilai peserta didik itu dari pertanyaan yang ia lontarkan.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  17. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Manusia adalah makhuk yang paling sempurna karena manusia mempunyai akal, pikiran dan hati. Tetapi karena dilengkapi itu membuat pandangan manusia itu berbeda-beda, sehingga tidak ada manusia yang memiliki sifat yang sama. Jadi ada beberapa manusia yang terkadang memiliki sifat yang bertentangan dengan norma, aturan, adat istiadat. Oleh karena itu tidak ada manusia yang sempurna. Guru pun juga begitu, pasti banyak kesalahan saat mengajar, kadang harus butuh banyak kesabaran untuk memahami banyaknya karakter yang ada di kelas membuatnya tidak adil kepada setiap siswa. Selain itu, karena siswa yang banyak dan berbeda-beda karakter itu kadang susah untuk mengendalikan emosi . Untuk itu, menjadi guru itu tidaklah mudah, karena guru mempunyai tanggung jawab yang besar. Harus bersikap baik karena memberikan contoh yang baik kepada siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Menjadi guru memang tidaklah mudah. Banyak sekali yang harus diperhatikan. Di samping mengenali siswanya, guru juga perlu mengenali dirinya sendiri, yaitu dengan mengukur seberapa besar tanggung jawabnya, seberapa besar perannya, seberapa besar kemampuannya dan lain-lain. Mengenali diri pun bukan merupakan pekerjaan yang mudah, kita tidak akan pernah mampu benar-benar mengenali diri kita sendiri, terlebih jika masih ditutupi dengan kesombongan. Namun, dengan terus berusaha mengenali diri setidaknya kita akan dapat menyadari berbagai keterbatasan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  19. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Orang yang paling mengenal bagaimana pribadi kita yang sesungguhnya ialah diri kita sendiri. Begitu juga dengan guru, fikiran dan hatinyalah yang dapat menggapai hakikat dirinya sendiri. Oleh karena itu, seorang guru harus benar-benar memahami hal apa saja yang dapat ia lakukan agar siswa-siswanya menjadi seseorang yang memiliki potensi yang baik sehingga dapat memilih jalan kehidupan yang dia inginkan. Jangan sampai seorang guru tidak memahami fungsinya sebagai guru sehingga sebaliknya malah menutupi perkembangan siswanya. Karena menurut tulisan di atas, "...bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah ketika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain...". Semoga guru-guru di seluruh dunia terhindar dari sikap-sikap tersebut.

    ReplyDelete
  20. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ilmu seseorang bisa dilihat dari bahasanya. Seorang yang berilmu memiliki bahasa yang santun dan bermakna. Maka hendaklah kita menjaga lisan baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Begitu pula seorang guru dalam mengajar hendaklah memiliki kesabaran, rasa syukur, dan ikhtiar karena sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah bicara. Maka jadilah guru yang penyabar agar siswa-siswa juga menjadi pribadi yang penyabar dan senantiasa selalu berikhtiar. Ingatlah murid adalah cermin gurunya.

    ReplyDelete
  21. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Manusia diciptakan di dunia ini memiliki tujuan. Bukan hanya hidup saja, namun juga ibadah. Apapun yang manusia lakukan di sunia ini akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Manusia hendaknya selalu berbuat baik sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat.
    Selain itu, manusia yang dapat mendahulukan akhirat ketimbang dunia akan memperoleh derajat yang tinggi di hadapan Allah. Karena urusan dunia itu akan mengikuti urusan akhirat. Sebagai contoh: ketika berdagang dan sudah masuk waktu sholat. Maka hendaknya manusia menghentikan kegiatan berdagangnya dan bergegas untuk sholat.

    ReplyDelete
  22. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebagai seorang guru, seorang makhluk yang merupakan bagian dari makhluk Tuhan yang diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini. sebagai makhluk yang bergitu kecil dibandingkan dengan dunia ini, kita tidak seharusnya merasa superpower dan merasa paling hebat di depan siswa kita. Kita harus mengembangkan kreativitasnya, mengembangkan perangkat pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk belajar melakukan evaluasi yang sesuai, dan juga melakukan refleksi di setiap akhir pembelajaran kita untuk perbaikan. Semangat perbaikan.

    ReplyDelete
  23. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Seorang Guru menggapai Diri? Setelah membaca elegi ini salah satu pelajaran yang saya dapat adalah selalu bersyukur walaupun kita capai dan lelah. Sesungguhnya, ketika kita masih merasakan capai dan lelah itu berarti kita masih merasakan kehidupan. Sebagai seorang guru, wajar jika kadang kala ada titik dimana lelah menghadapi berbagai macam karakteristik siswa. Namun jangan sampai kelelahan tersebut, membuat guru menyerah untuk menghadapi keberagaman siswa sehingga menganggap semua siswa itu sama. Kelelahan tersebut harusnya menjadi motivasi guru untuk mengembangkan sebuah metode yang dapat memfasilitasi berbagai karakteristik siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi guru dan siswa tanpa terhalang oleh keberagaman yang ada. Oleh karena itu, tetaplah bersyukur walaupun kelelahan itu melanda. Terimakasih.

    ReplyDelete
  24. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Saat ini, kita banyak mendengar kasus-kasus kekerasan yang menimpa guru maupun siswa. Baik guru yang menganiaya siswa, siswa yang menganiaya guru, ataupun orang tua yang menganiaya guru. Hal ini mengindikasikan bahwa dunia pendidikan sedang mengalami krisis mental. Hubungan guru dan siswa seharusnya harmonis dan memiliki dampak positif bagi kehidupan keduanya. Sebagai pendidik, guru perlu mengenal seberapa besar kemampuannya, seberapa besar tenaganya, serta seberapa luas pikiran dan hatinya. Untuk menjalankan amanah, guru perlu merefleksi dirinya dan melihat bagaimana serta apa dirinya sehingga dapat melaksanakan tugas sesuai dengan proporsi, kemampuan, ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  25. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pada elegi seorang guru menggapai diri, menceritakan mengenai guru yang ingin mencari jati diri yang baik. Dari sini kita di ajarkan untuk menjadi orang yang penyabar, jangan inginkan hasil yang cepat tanpa berusaha, jangan suka melakukan penyederhanaan, jangan membuat label-label atas banyak sifat, jangan suka memberi nama secara tidak proporsional, jangan suka mengukur-ukur dan menilai-nilai dengan bilangan-bilangan, jangan suka menghakimi, jangan suka memberi keputusan-keputusan, jangan suka mewakili dan diwakilkan, harus bertindak secara proporsional.
    Selain itu, yang dapat saya ketahui dari postingan ini bahwa berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmu. Berbicara dapat membahayakan tetapi bukan berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi diri kita, yaitu bagi orang yang berusaha diam.
    Capai dan lelah juga adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika kita masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda kita masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidup. Tetap semangat menjalani kehidupan. Syukuri apapun itu, jalani dengan Ikhlas, selalu berikhtiar, berusaha dan berdoa. Terimakasih

    ReplyDelete
  26. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?"
    Saya juga merasakan hal ini. Kok memahami diri saja sulit ya? Ya karena manusia terkait dengan ruang dan waktu. Berbeda 1 detik saja diriku sudah berubah. Maka untuk menjelaskan diriku seumur hidup diperlukan seumur hidup yang lain. Sungguh menggapai diri adalah hal yang sulit. Yang perlu dilakukan adalah refleksi diri untuk sedikit demi sedikit menyadari diri dalam ruanh dan waktu.

    ReplyDelete
  27. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dalam menggapai diri adalah dengan memahami kodrat pribadi masing-masing. Dalam elegi seorang guru menggapai diri ini dimaksudkan kepada guru yang menggapai dirinya atau kodratnya. Untuk menggapai diri, seorang guru harus mampu memberikan dan sukses dalam menyampaikan pelajaran kepada siswa-siswa. Karena sebagai kodratnya, guru tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Tidak ada siswa yang bodoh merupakan pegangan bagi guru dalam rangka mencapai dan menggapai dirinya agar selalu rendah hati kepada siswanya.

    ReplyDelete
  28. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Terkadang seorang guru merasa bingung untuk menentukan pilihan. Bingung dalam memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang profesional. Terkadang terlalu banyak bicara ternyata tidak baik dan diam pun juga tidak baik. Sehingga yang diharapkan dalam hidup ini adalah keadaan yang seimbang karena ilmu berada di batas antara salah dan benar dan hidup berada di antara lelah dan tidak lelah. Semua yang kita gapai, sebenar-benarnya Tuhan yang menentukan sehingga dalam menggapai diri hendaknya juga disertai memohon ridho Tuhan agar memperoleh kemudahan.

    ReplyDelete
  29. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Diri erat kaitannya dengan kehidupan. Sehingga ketika berbicara diri maka konteksnya yaitu hakikat hidup. Elegi yang disampaikan awalnya seperti kisah salah seorang filsuf yang awalmulanya ia bermimpi sehingga tidak bisa dibedakan antara mimpi dan kenyataan. Lalu satu-satunya hal yang meyakinkan bahwa ia tidak mimpi atau ia berada pada keadaan sadar dan hidup yaitu dengan bertanya. Bertanya adalah kunci orang hidup, begitu juga halnya dengan belajar bertanya adalah awal mula ilmu. Seperti yang kita ketahui pembelajaran sekarang dengan kurikulum 2013 menekankan pula kegiatan awal dengan kegiatan menanya. Pertanyaan muncul karena kegelisahan atau kebingungan, sehingga kebingungan itu awal mula ilmu.
    Dan pada akhirnya kita menyadari bahwa kita adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada tetapi jangan lupakan aspek spiritualitas, bahwa kita adalah hamba, sehingga yang paling Kuasa adalah Tuhan.

    ReplyDelete
  30. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Kerendahan hati adalah sifat penting yang wajib kita tanam dalam hati dan pikiran kita. Yang dapat saya tangkap dari percakapan panjang di atas adalah semakin kita bertanya, itulah sebenar-benar ilmu kita, artinya ilmu tentang ketidak tahuan kita terhadap ilmu itu banyak sehingga muncullah berbagai pertanyaan dalam benak. Sebenar-benar ilmu pengetahun kita itulah diri kita, artinya apa yang ada di diri kita itulah ilmu pengetahuan yang kita punya. Padahal segala yang bermula dari pertanyaan akan menghasilkan ilmu, itulah sebenar-benar diri kita yang terus haus akan ilmu. Menggapai diri sejatinya menggapai segala yang dianggap sempurna di mata Tuhan, keluarga, teman , dan orang lain sekalipun. Ketika guru itu mampu menyadari atas ketidak tahuan dan ketidak mampuan dia, itulah diri dia yang sedang berikhtiar untuk menggapai diri yang seharusnya. Ketika ia mencapai pada titik lelah, capek, bosan dan suntuk, maka bersyukurlah karena itu pertanda diri itu masih hidup. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu mencakup seberapakah kemampuanmu, tenagamu, luas pikiran dan hatimu dibanding dengan kekuasaan Nya. Sehingga hendaknya selalu libatkan Allah dalam usahamu berikhtiar untuk menggapai diri dan pribadi yang lebih baik, agar bermanfaat baik diri sendiri dan orang lain. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof. Ulasan yang membuat diri ini merenung dan terus merenung. Saya menjadi sadar bahwa tidak ada yang mampu menjelaskan diri seseorang. Hanya satu yang tidak boleh terlupakan, yakni keberadaan ku tidak lain adalah kehendak Tuhan yang telah menciptakan sampai sejauh ini. Saya menjadi terdorong untuk terus bertanya saat diri ini tidak tahu akan hal apapun. Saya semakin yakin setiap kata, perbuatan dan pemikiran diri ini tidak dapat dikatakan benar secara absolut. Mohon ampun gusti, terkadang diri ini merasa mengagungkan pemikiran sendiri. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  32. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Guru harus dapat mengenali dan memahami dirinya dengan baik. Layaknya “bercermin” seorang guru sangat perlu untuk menyadari hakikat menjadi seorang guru. Guru juga sebaiknya mempunyai sifat penyabar. Seperti dalam artikel diatas menyebutkan bahwa orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak penyabar. Guru yang tidak penyabar akan cenderung memaksakan kehendak pada siswanya, seperti memberikan PR dan tugas yang sangat banyak, menerangkan pelajaran dengan cepat agar materi segera selesai, suka menghakimi atau menghukum siswa-siswanya, dan sebagainya. Guru juga tidak boleh mengeluh capek atau lelah. Mengajar tidak boleh dijadikan sebagai beban melainkan harus dilakukan dengan penuh semangat, kecintaan, dan keikhlasan.

    ReplyDelete
  33. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Manusia tidak lepas dari salah dan khilaf oleh karenanya elegi menggapai diri ini mencerminkan seorang yang sedang muhasabah tentang apa yang telah dilakukannya selama ini, muhasabah tentang siapa sejatinya dirinya. Menurut kami, ini lah tipe orang-orang yang sedang benar-benar hidup karena dia dapat berfikir, dia dapat mencoba untuk mengevaluasi demi kebaikan dirinya yakni yang dalam hal ini adalah guru dan orang lain yang dalam hal ini adalah murid. Proses muhasabah dan menuju perbaikan diri memang tidak selalu bisa dilakukan sendiri, kita membutuhkan penuntut atau guru yang dapat mengarahkan kita menuju jalan kebenaran Nya yakni Allah SWT. Karena sungguh semulus apapun seorang guru merencanakan pembelajaran bagi siswanya, Namun semua kehendak ada milik Allah oleh karena itu hidup ini tidak cukup dengan berfikir secara rasional. Namun, spiritual memegang peranan penting untuk membangun karakter siswa. Terlebih seorang siswa dapat sukses juga karena doa yang dilantunkan dengan ikhlas oleh gurunya. Terima Kasih

    ReplyDelete
  34. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Mulianya seorang guru karena pencapaiannya dalam mendidik anak didiknya tidak lah semudah yang dibayangkan. Kuncinya menjadi seorang guru atau pendidik adalah sabar dan ikhlas. Jikalau tidak sabar, maka akan membahayakan dirinya sendiri maupun murid-muridnya. Dengan bersabar pula seorang guru bisa lebih bisa menjaga apa yang diucapkannya, karena bicaranya seorang guru harus berhati-hati, jika salah atau melenceng dan itu didengar oleh murid-muridnya, fatal lah akibatnya. Maka, seorang guru pun harus bertawakal, bertawadu dan beristigfar kepada Allah SWT. Selain sabar, seorang guru juga harus ikhlas. Perjuangan seorang guru dalam memfasilitasi murid-muridnya belajar, itu adalah hal yang sangat luar biasa capai dan lelahnya, tidak hanya sekedar lelah fisik saja, tetapi lelah fikiran dan lelah hati. Karena dalam mengajar, tidaklah cukup hanya mengandalkan kemampuan fisik dan pikiran saja, tetapi harus diselimuti dengan hati yang ikhlas dan ridho karena Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa dalam proses pembelajatan, kami sebagai guru tidak akan lepas dari keyakinan lami terhadap cara pembelajaran yang kami terapkan. Kami sebagai guru dituntut tidak hanya untuk menetap pada suatu zona yang disebut zona nyaman, yaitu telah merasa cukup dan merasa puas dengan apa yang telah kami lakukan. Kami menyadari bahwa sebagai guru kami harus senantiasa mengembangkan diri serta meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi baik itu pada aspek profesional maupun aspek pedagogis. Dengan demikian kami bisa berharap bahwa kami bisa senantiasa meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran yang kami laksanakan dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  36. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa dalam proses pembelajatan, kami sebagai guru tidak akan lepas dari keyakinan lami terhadap cara pembelajaran yang kami terapkan. Kami sebagai guru dituntut tidak hanya untuk menetap pada suatu zona yang disebut zona nyaman, yaitu telah merasa cukup dan merasa puas dengan apa yang telah kami lakukan. Kami menyadari bahwa sebagai guru kami harus senantiasa mengembangkan diri serta meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi baik itu pada aspek profesional maupun aspek pedagogis. Dengan demikian kami bisa berharap bahwa kami bisa senantiasa meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran yang kami laksanakan dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  37. Alfiramita hertanti
    NIM 17709251008
    P.Matematika kelas A 2017

    assalamualaikum wr. wb. menggapai diri erat kaitannay dengan memahami hakikat diri sebagai manusia. ada banyak manusia yang berada di perismpangan jalan kehidupan yang berliku demi untuk mencari jati dirinya. ada yang masih berjalan dan ada yang terjebak dalam kegilaan. semua itu tergantung seberapa pantas dan siap kah kita menggapai hakikat diri itu. ada yang orang yang ragu sehingga memilihi untuk diam. ada yang berjalan tapi tak membawa bekal. dan ada pula yang berlari tapi jatuh seketika. sulit kiranya menggapai diri itu. namun di balik kesulita itu, ada tanda-tanda/rambu-rambu yang harus dipatuhi. itulah hukum allah. allah menciptakan islam untuk kita pelajari, kita pahami, dan amalkan. di sinilah pendidikan hadir sebagai penerang untuk mengarungi jalan kehidupan yang berliku.

    ReplyDelete
  38. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Seorang guru menggapai diri, saya katakan dengan kata lain seorang guru merefleksikan diri. Reflektif merupakan salah satu upaya pembenahan diri. Kebutuhan guru untuk membenah diri benar-benar dibutuhkan mengingat guru adalah ujung tombak bangsa yang berhubungan langsung dengan generasi penerus bangsa. Cara pembenahan terbaik adalah dengan selalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan zamannamun tidak hanyut dalam arus perkembangan yang ada.

    ReplyDelete
  39. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sebagai seorang guru, kewajiban mereka tidak hanya untuk mengajar di kelas, tapi juga mendidik, membimbing, menasihati, dll. Sebagai manusia, musuh terbesar di kita dipengaruhi oleh mitos. Guru yang mengajar hanya dengan mitos, itu hanya memberi menghafal rumus tapi tidak tahu maknanya. Secara langsung atau tidak langsung, hal ini hanya akan menghilangkan identitas para siswa karena tidak memberi siswa kebebasan untuk berpikir kritis. Agar seorang guru dalam mendidik murid-muridnya berhasil, ia harus membangun hubungan sinergis antara dirinya dan murid-muridnya satu sama lain untuk menerjemahkan dan menerjemahkan dimensi ruang dan waktu. Dengan demikian guru telah dikatakan berada dalam posisi sistemik untuk melakukan hijrah dalam inovasi pendidikan.

    ReplyDelete
  40. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Pencarian jati diri merupakan salah satu momen yang akan dirasakan oleh masing-masing individu. Termasuk yang akan dialami oleh seorang guru. Apapun profesi yang dijalani oleh seseorang, suatu ketika akan timbul keraguan terhadap diri sendiri apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh diri dan orang-orang di sekitar atau malah jauh dari harapan. Sebagai seorang guru, diharapkan senantiasa untuk terus mengupgrade kapasitas diri yaitu dengan melakukan kerjasama antar guru dan terus menambah ilmu.

    ReplyDelete
  41. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi seorang guru menggapai diri ini menggambarkan tentang pencarian jati diri seorang guru. Dimana ia ragu akan sifat-sifatnya, ragu dengan labelnya sebagai guru. Sebagaimana yang selama ini dipahami banyak orang adalah bahwa guru itu harus pintar, guru itu harus menjadi teladan, guru itu harus bisa membimbing murid-muridnya menjadi lebih baik, dsb. Guru dipandang sebagai sosok yang ideal, harus begini harus begitu. Namun kenyataannya guru juga manusia biasa, punya kelebihan dan kekurangan. Pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya yang muncul dari dalam dirinya adalah sebenar-benar ilmunya. Dengan mengenali dirinya sendiri ia akan menjadi guru yang menggapai siswanya. Dengan mengenali dirinya sendiri ia akan pula mengenali siswanya. Sebenar-benar guru adalah guru yang berusaha menggapai diri.

    ReplyDelete
  42. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menjadi seoarang guru bukanlah hal mudah. Ia harus dapat mengerti dirinya dan mengerti akan murid-muridnya. Guru harus mampu menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu, karena guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Oleh karena itu seorang guru harus mampu menggapai dirinya terlebih dahulu baru nanti ia akan mampu menggapai murid-muridnya.

    ReplyDelete
  43. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Guru mempunyai batasan, karena ada batasan ini guru merefleksikan diri. Dengan merefleksikan diri, guru melakukan usaha untuk menggapai diri yang lebih baik untuk diri dan siswanya. Untuk menggapai diri yang lebih baik dilakukan dengan cara yang ada dan yang mungkin ada , tetapi tetaplah rasa lelah itu ada karena sifat dari manusia. Sehingga menggapai diri yang baik harus juga sesuai dengan ruang dan waktu yang ada. Tetaplah seorang guru harus selalu menggapai diri yang lebih baik dengan menggapai ridho Allah, bukanm ridho manusia.

    ReplyDelete
  44. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. sebagai seorang manusia biasa, akan ada saatnya bagi guru untuk merasa lelah dengan rutinitasnya sebagai pendidik. Harus ditandai bahwa rasa lelah itu merupakan tanda bahwa sang guru telah berusaha. Agar tidak merasa lelah dengan rutinitas hendaknya guru selalu belajar dan mengupdate kemampuan dirinya. Agar ia senantiasa menggingat tugas besar yang diembannya.

    ReplyDelete
  45. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Seseorang yang berilmu harus senantiasa menuntut ilmu. Jika orang yang berilmu berhenti menuntut ilmu maka dia dikatakan tidak berilmu. Misalkan ilmu itu A, maka orang yang berilmu itu dirumuskan A = A + 1. Artinya, seseorang yang berilmu tidak pernah berhenti mencari ilimu, krena ilmu itu bekal untuk mencari ilmu lainnya. Menuntut ilmu itu pada hakekatnya adalah menyeimbangkan antara sifat obyek di dalam pikiran dan sifat obyek diluar pikiran. Karena keduanya mampu membangun ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  46. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Membaca elegi ini saya melihat ada situasi dilematis yang sedang dirasakan oleh guru. Dimana ia tidak ingin menjadi orang yang membuat penyederhaan, namun keadaan ataupun kondisi harus membuat dia melakukan penyederhanaan. Misalnya, dalam menilai siswa, terkadang kita melakukan penyederhanaan dengan hanya memberikan angka 6, atau 7 atau 8 dst. Padahal angka 6 7 8 dst ini tidaklah cukup untuk menilai siswa.

    ReplyDelete
  47. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Manusia hanyalah setitik pasir d i atas samudra. Jika dibayangkan berarti manusia itu sangat-sangat kecil sekali. Dalam menjalani hidup, ada kalanya seorang manusia merasakan lelah dengan apa yang telah ia lakukan, lelah dengan harapan yang pupus. Lelah fisik maupun psikis. Hal tersbut karena seluruh anggota badan kita masih berfungsi dengan baik atau dangan kata lain kita masih hidup. Maka bersyukurlah jika kita masih dikaruniai rasa lelah bukan justru mengeluh.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  48. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Dengan membaca elegi ini, itu menimbulkan kebingungan dalam diri ini, dan itu berarti bahwa apa yang telah saya baca mendapatkan reaksi dari ilmu yang ada dalam diri ini. Tanggapan yang berbeda dari setiap orang yang membaca elegi yang sama merupakan cermin sejauh mana ilmu yang melekat dalam dirinya dengan kata lain sejauh mana mereka mengenali dirinya. Dan komentar ini merupakan cermin dari kemampuan dalam mengenali diriku sendiri. Untuk dapat menggapai diri maka kita perlu mengenal seberapa besar kemampuan kita, seberapa besar tenaga kita, seberapa luas pikiran dan hati kita. Jadi dengan menyadari ini maka kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk dapat menggapai diri maka kita perlu mengenal seberapa besar kemampuan kita, seberapa besar tenaga kita, seberapa luas pikiran dan hati kita. Jadi dengan menyadari ini maka kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Sebagai contoh, misalnya bekerja sesuai dengan proporsi dan kemampuan. Untuk dapat mengenali diri maka kita perlu juga merefleksi diri, dengan bercermin dan melihat siapa dan bagaimana diri kita

      Delete
  49. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa diri setiap manusia, bahkan guru pun memiliki kodrat untuk lelah. Lelah dan capek adalah sudah menjadi kodrat manusia dalam hidupnya, karena manusia berpikir dalam setiap aktivitasnya. Maka hakekat diri adalah kodratnya yang hanya dapat diimbangi dengan ikhtiar dan ikhlas.

    ReplyDelete

  50. Sudah menjadi kodrat manusia menjadi makhluk yang lemah dihadapan Tuhannya. Mka sevebenar benar diri adalah memahami kelemahan tersebut dan memohon dikuatkan. Bukan menyombongkan diri karena segala hal yang dicapai berkah kerja kerasnya. Tetapi manusia tidak sadar hal apapun yang mereka capai akan habis dan mereka harus berusaha keras lagi, itu artinya urusan manusia tidak akan pernah habis, begitupun kekuasan-Nya.

    ReplyDelete
  51. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Berbenah diri, mengevaluasi diri, mengupgrade diri, dan lain sebagainya saya artikan sebagai menggapai diri. Selalu berinovasi dalam melakukan pembelajaran adalah suatu hal yang ditunggu tunggu oleh para peserta didik itu sendiri. Karena proses timbal balik akan terjadi secara sempurna jika kedua belah pihak mau saling berusaha sesuai dengan porsinya masing-masing. Seorang guru yang mampu menggapai dirinya sneidir, maka ia pun akan dengan mudahnya dapat menggapai para peserta didiknya sendiri.

    ReplyDelete
  52. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb


    elegi diatas mengajarkan kita bahwa kita harus mengenali diri kita, mengenali batasan yang ada didalam diri kita. dalam hal ini patutnya kita merefleksi diri dan menerima kekurangan kita dengan lapang dada. karena kodratnnya manusia tidak ada yang sempurna.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  53. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menjadi seorang guru adalah bagaiman cara belajar menjadi manusia yang lebih sabar, mensyukuri setiap letih yang dirasakan sebagai suatu nikmat dalam hidup, dan selalu berusaha menggapai dan meningkatkan nilai diri demi meningkatkan kualitas hidup itu sendiri.

    ReplyDelete
  54. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Menjadi seorang guru kita haruslah menjadi sosok yang mampu, tidak hanya mengajar namun juga mengevaluasi siswa. Ketika mengevaluasi siswa, kita haruslah mampu dalam melihat secara obyektif. Terkait hal ini kita haruslah mampu dalam menggapai diri siswa dan memberi penilaian, sebelum dapat menggapai diri siswa, tentu saja dibutuhkan kemampuan dalam menggapai diri sendiri, bagaimana penilaian, evaluasi diri, dan perbaikan.

    ReplyDelete
  55. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seorang guru tidak akan menggapai diri mereka jika mereka masih menganggap apa yang dimilikinya merupakan hasil yang diperoleh dari usaha yang dilakukan selama ini oleh dirinya. Hal ini akan memberikan dampak pada kesombongan dalam dirinya. Jika kesombongan dalam dirinya itu terus ditumbuhkan, maka kaan menyebabkan ketidak percayaan akan bantuan yang diberikan oleh Tuhan sang pencipta ilmu yang diperoleh seorang guru tersebut.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  56. Dari elegi di atas, saya mendapatkan bahwa kita adalah sifat kita. Semua usaha dan lelah kita pasti akan ada hasilnya. Jangan mudah mengeluh dengan segala sesuatu yang terjadi pada kita. Sebagai seorang guru, kita harus memberikan yang terbaik untuk siswa kita. Tidak hanya mengajar tapi juga mendidik mereka. Sebagai seorang calon pendidik, mudah-mudahan suatu hari nanti ketika kita menjadi seorang guru kita diberi kelancaran dalam mendidik siswa kami. Amin.

    ReplyDelete
  57. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Guru menggapai diri bermakna bagaimana seorang guru memahami profesi dan fungsinya sebagai guru, apa tugas dan tanggunga jwab sebagai seorang guru, bagaimana seorang guru yang profesional dan lain sebagainya yang berkaitan dengan profesi dirinya sebagai seorang guru. jadi bisa dikatakan bahwa guru menggapai diri adalah refleksi seorang guru terkait profesi yang dijalani selama ini.

    ReplyDelete
  58. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Seringkali guru terjebak dalam penyederhanaan sesuatu misalnya dalam bentuk kata-kata maupun yang tertulis. Misalnya saja meilai kemampuan siswa dengan angka 1-10 merupakan salah satu tindakan reduksi karena kemampuan siswa lebih dari sekedar angka 1-10 tersebut.

    ReplyDelete
  59. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Beberapa cuplikan yang ada pada elegi ini menjelaskan mengenai ciri-ciri orang yang paling berbahaya, yaitu orang-orang yang tidak penyabar yang menginginkan hasil cepat tanpa berusaha, orang yang suka melakukan penyederhanaan, labelling, memberi nama secara tidak proporsional, orang yang suka mengukur-ngukur, dan orang yang suka menghakimi. Sebagai seorang guru yang ingin menggapai diri seharusnya mampu menjadi seorang penyabar karena sebaik-baiknya guru adalah cermin bagi murid-muridnya. Maka dari itu berhati-hatilah dalam berbicara, karena setiap kata yang diucapkan sebenarnya adalah penyederhanaan, dimana itu merupakan ciri-ciri orang yang paling berbahaya. Solusinya, selalu tawakal, tawadu’dan istighfarlah kepada kodrat Nya

    ReplyDelete
  60. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Seorang Guru Menggapai Diri yang telah Bapak share kepada kami. sungguh artikel ini sangatlah bermanfaat bagi saya untuk ke depannya. Guru menggapai diri bermakna bagaimana seorang guru memahami profesi dan fungsinya sebagai guru, apa tugas dan tanggunga jwab sebagai seorang guru, bagaimana seorang guru yang profesional dan lain sebagainya yang berkaitan dengan profesi dirinya sebagai seorang guru. jadi bisa dikatakan bahwa guru menggapai diri adalah refleksi seorang guru terkait profesi yang dijalani selama ini.Menjadi seorang guru haruslah bisa digugu dan ditiru.

    ReplyDelete
  61. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Pertanyaan merupakan indikasi awal seseorang yang berilmu dan akan memperoleh ilmu baru. Jawaban yang diberikan sesorang atas pertanyaan yang telah dilontarkan merupakan ilmu orang tersebut. Hal ini juga menjadi tanda bahwa rahmatNya telah datang dari jawaban pertanyaan tersebut, sebab jawabannya merupakan suatu ilmu baru. Akan tetapi, jawaban yang terucap harus dipertanggungjawabkan oleh orang tersebut. Jadi untuk menjawab pertanyaan juga dibutuhkan ilmu. oleh karena itu, untuk mendapatkan ilmu seseorang harus berbekal ilmu, dan untuk mendapatkan pertanyaan seseorang harus bermodal pertanyaan pula.

    ReplyDelete
  62. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Menjadi seorang guru berarti menjadi tauladan baik dalam bertutur kata maupun bersikap. Sebagai seorang guru kita harus tau kapan harus diam dan kapan harus berbicara. karena, seseorang dapat terlihat wibawa atau ilmunya dari caranya berbicara dan menanggapi suatu hal. Selain itu, kita juga harus terus mencari ilmu dan jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita dapat agar ilmu kita terus bertambah.

    ReplyDelete
  63. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof atas elegi yang sangat menarik ini. Menanggapi apa yang dikatakan orang tua berambut putih yaitu “berbicara dapat membahayakan tetapi tidak berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya” yang saya tangkap dari elegi ini yaitu, sebaiknya kita membatasi diri dalam berbicara. Membatasi bukan berarti tidak sama sekali, tetapi mengurangi jika tidak ada perlunya atau membahayakan baik diri sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  64. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya setuju dengan pernyataan bahwa menjadi guru harus menjadi seorang yang penyabar. Seorang guru juga tidak boleh mengeliminasi sifat-sifat muridnya, akan tetapi menurut saya juga tidak begitu diperlukan untuk benar-benar mendalami tiap-tiap siswa. Itulah keterbatasan, yang tidak bisa lepas dari manusia. Yang bisa saya ambil dari elegi ini adalah seorang guru perlu memberikan perhatian bagi siswanya, bukan hanya fokus pada hasil belajarnya. Pembelajaran di dalam kelas bukanlah semata-mata misi untuk mencapai nilai terbaik, tetapi pembelajaran harus diarahkan pada perkembangan peserta didik.

    ReplyDelete
  65. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Ada kalanya guru harus berbicara, tetapi ada kalanya pula guru harus diam. Guru berbicara ketika siswa membutuhkan seorang fasilitator dalam belajar. Guru diam ketika siswa sedang melakukan aktivitas belajarnya. Jangan sampai peran guru terlalu mendominasi, tetapi juga jangan sampai guru terlalu tidak peduli. Nampaknya kompleks sekali menjadi guru itu. Namun apakah bisa dilakukan? Tentu bisa. Bagaimana jika seorang guru masih punya banyak kekurangan? Ya guru harus belajar. Tidak hanya murid yang belajar, tetapi guru juga masih boleh belajar karena guru pun juga manusia, manusia yang belajar sepanjang hidupnya.

    ReplyDelete