Mar 8, 2011

Elegi Menggapai Pendidikan Bukan Laskar




Oleh Marsigit, Yogyakarta

Pendidikan bukanlah laskar melainkan kebutuhan. Tetapi jangan salah paham. Pendidikan bukanlah kebutuhan para juragan, tetapi kebutuhan para subyek didik. Yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana juragan dan godfather laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik? Tentu tidaklah semudah yang dipikirkan.

Ontologi laskar pendidikan dan jelmaan-jelmaannya

Kita mempunyai referensi banyak perihal terminologi “laskar”, ada laskar Pajang, laskar Pajajaran, laskar Mataram, dan laskar-laskar yang lain. Apapun tentang laskar, maka ada makna-makna pokoknya di sana.

Makna pokok dalam terminilogi “laskar” kemudian menjadi karakteristik ontologi laskar pendidikan.

Karakteristik ontologi laskar pendidikan kemudian dapat dideskripsikan sebagai berikut: terdapat pengerahan secara besar-besaran, diarahkan ke suatu tujuan tertentu, ada pengendali laskar, tujuan laskar bersifat tunggal, terdapat pergerakan masive secara linear ke depan, sangat fokus kepada hal-hal yang di depan, mengeksploitasi segenap sumber daya, arah komunikasi bersifat tunggal kedepan, kompetisi ketat, yang kalah yang tertinggal, yang kalah menjadi pecundang, yang menang yang berjaya, melindas dan melibas apa saja yang dilewati, sangat patuh (patuh buta) terhadap komando, tidak mampu melihat dan tidak perlu melihat persimpangan jalan, keberhasilan adalah keseluruhan, tidak perlu tanya jawab ketika sudah berangkat, bersifat kompetitif dari pada kooperatif, tidak kompromi terhadap laskar yang lain, lebih baik menggunakan cara dari pada mengerti cara, mementingkan hasil, paradigma menghancurkan musuh, tidak sempat melakukan refleksi, meninggalkan residu-residu laskar, memerlukan keseragaman gerak dan langkah, mempunyai pembagian tugas yang ketat, mempunyai kontrol yang kuat, tidak ada skema untuk kembali, ukuran bersifat lebih kuantitatif, seleksi sangat ketat, bersifat eksklusif, paradigma mengontrol dan menguasai dunia, bersifat real dan kongkret, bersifat mekanistis, terstruktur kuat, didominasi komunikasi kekuasaan,selaras dengan filsafat diterminism, selaras dengan filsafat vitalism, merupakan paradigma salah benar, anti fallibism, makna di luar pikiran, selaras dengan paradigma behaviorism, selaras dengan psikologi stimulus response, bercirikan external evaluation, bersifat monoculture, bersifat rigid, bersifat absolut, selaras dengan filsafat realism, didukung empiricism, merupakan tulang punggung utilitarian dan pragmatism, selaras dengan jargon investasi, menghasilkan hedonism, bersifat materialism, kebenaran diukur dari manfaat, kebenaran diukur dari kekuasaan, didukung metode trial and error, didukung metode logico empirical hypotetiko dan logico deductico hypotetico, lebih bersifat kuantitatif dari pada kualitatif, jati diri atau identitas diri tertutup oleh jati kelompok, anti relativism, bersifat arogan terhadap alam karena merasa bisa memanipulasikannya, laskar utilitarian, laskar pragmatism, laskar hedonism, laskar teknologi, laskar naturalis, masa depan adalah warisan orang tua dan bukanlah warisan cucu, neo empiricism, neo pragmatism, dikendalikan oleh para juragan dan pemodal, selaras dengan filsafat dan psichologi reductionism dan penyederhanaan, selaras dengan jargon karakter bangsa atau nation building, bersifat eksternal, wadah atau lambang terlebih dulu baru kemudian isinya jika memang terjangkau, social capital dan economy menjadi ukuran yang paling tinggi, kontrol ekonomi dari atas dan fakta ekonomi dari bawah, selaras dengan filsafat strukturalism, bermasyarakat struktur kekuasaan-struktur ekonomi–struktur eksploitasi, struktur masyarakat kedudukan-kepemilikan-kekuasaan-pemilik modal-pekerja dan buruh, berhukum sebab-akibat, selaras dengan feudalism dan masyarakat burgois, kerusakan tidak bisa diperbaharui, anti filsafat, berhadap-hadapan dengan humaniora, yang benar yang nyata dan yang terukur, spiritual merupakan tahapan primitif sedangkan teknologi merupakan tahapan maju, temuan baru adalah segala-galanya dibanding dengan akibatnya, pengetahuannya bersifat a posteriori, ilmunya bersifat naturewissenschaften, bersifat anti geisteswissenschaften, berlogika sistem input-proses-output, terinspirasi oleh Machiavelianism, bersumber pada filsafat positivism dari Auguste Comte dan St.-Simon, bersinergi dengan John Adam Smith, bersinergi dengan Karl Mark, dipengaruhi oleh Will to Power nya Nietze, disindir oleh Will dan Ideas nya Schopenhauer, didukung oleh William James, Ranke, Croce, Max Weber, and Meinecke, diprotes oleh Nihilismenya Paul Nietze dan Satre, diprotes oleh spiritualism, diprotes oleh idealism, diprotes oleh socio-constructivist, didukung oleh jargon atasan, diprotes oleh jargon bawahan, berorientasi hasil dan standard, ditentang oleh proses dan portfolio, bersinergi dengan penyeragaman, tidak berselera akan keanekaragaman, ontologi laskar pendidikan diberangkatkan dari negara-negara Industri, sasaran ontologi laskar pendidikan adalah negara-negara berkembang sampai ke ujung dunia beserta sumber dayanya, ontologi laskar pendidikan telah berangkat sejak jaman modern, di jaman sekarang ontologi laskar pendidikan semakin berjaya dan dominan.

Kesimpulan

Tidaklah mungkin juragan dan godfather ontologi laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik. Mereka lebih enjoy bahwa pendidikan adalah kewajiban-kewajib subyek didik. Jika tampaknya ikhlas maka itu hanyalah sementara dan tidaklah konsisten, demi menjaga situasi kondusif untuk lajunya ontologi laskar pendidikan.

28 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pendidikan adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia, pendidikan memberi pandangan yang sangat luas juga dapat membentuk karakter, menentukan masa depan, menentukan visi misi, serta menentukan tujuan hidup bagi para peserta didik. Namun mindset kebanyakan orang bahwa pendidikan itu adalah kewajiban dan dirasa memberatkan terutama bagi para calon peserta didik. Pemikiran inilah yang harus dirubah menjadi pendidikan itu adalah kebutuhan yang sangat penting. Supaya para calon peserta didik berlomba-lomba mendapat materi serta menggali ilmu. Dalam hal ini guru lah yang berperan penting merubah sudut pandang bahwa pendidikan itu adalah kebutuhan.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Lebih mementingkan hasil dari pada proses. Lebih memprioritaskan kuantitas daripada kualitas. Ingin serba instan tanpa harus berlelah-lelah. Mulailah dari yang kecil dari hal yang dapat kita jangkau. Lakukan pada diri kita sendiri dahulu, apakah kita sudah menjadikan pendidikan itu sebagai kebutuhan atau kewajiban?. Jika kita telah bisa memanage diri kita maka meskipun tidak mudah tapi kita harus tetap optimis bahwa kita bisa meluruskan pemahaman bahwa pendidikan itu adalah kebutuhan bukan kewajiban.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Matematika itu tidak bersifat tunggal agar tetap konsisten. Matematika itu diperuntukkan sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika di perguruan tinggi menggunakan platonism dan jika di sekolah menggunakan aristotelian. Dari elegi di atas dinyatakan bahwa tidaklah mungkin UJIAN NASIONAL dapat dihapus TANPA RIDLO dan KEIKHLASAN dari “mereka”. Nah, yang jadi pertanyaannya adalah mengapa “mereka” tidak ridho?, bukankah ini merupakan bidangnya aristotelian?

    ReplyDelete
  4. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pendidikan saat ini sudah bukan pada masa dimana siswa diarahkan sesuai dengan panduan guru lagi akan tetapi sudah diarahkan pada siswa membangun pengetahuannya sendiri. Yang dimaksudkan adalah siswa sebagai sumber belajar atas dirinya sendiri. Mereka mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri dan guru tetap berperan sebagai fasilitator dan pengawas dalam kegiatan yang dilakukan oleh siswanya.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pendidikan merupakan kebutuhan setiap individu bukan hanya kebutuhan guru tetapi kebutuhan murid juga. Yang namanya kebutuhan pasti akan dicapai bagaimanapun caranya. Akan tetapi pada zaman yang serba maju ini banyak siswa yang merasa bahwa pendidikan bukanlah kebutuhan, banyak yang berpikiran bahwa pendidikan bisa dibeli. Ini potret pendidikan kita yang suram, jika kita melihat banyak murid-murid didaerah terpencil harus rela berjalan berpuluh-puluh meter untuk bersekolah, karena mereka menganggap sekolah adalah kebutuhan mereka yang akan berdampak pada kehidupan yang akan datang.

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pendidikan merupakan kebutuhan kita semua. Dengan pendidikan maka kita dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Akan tetapi banyak orang yang mengartikan kebutuhan pendidikan dengan kebutuhan untuk hidup. Yang dimaksud disini adalah banyak orang yang berlomba-lomba bersekolah namun dengan tujuan untuk memperoleh gaji tinggi, pangkat yang tinggi dan juga derajat yang tinggi, padahal apabila kita ikhlas dalam mencari ilmu pengetahuan itu sendiri maka gaji yang tinggi, pangkat yang tinggi, dan derjat yang tinggi akan mengikuti seiring berjalannya waktu, karena tujuan kita bersekolah adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam hidup di dunia dan di akhirat.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Alur yang indah. Melihat ironi pendidikan di indonesia lewat rangkaian kata-kata dalam kalimat yang tak panjang-panjang amat. Beberapa kata, diakhiri koma atau titik menjadi kalimat yang sedang. Membuatku tak tersengal-sengal ketika membaca ironi kehidupan yang sedalam ini.

    Saya menyadari betul memang keadaannya mirip dengan apa yang dituliskan dalam postingan ini. Pendidikan tidak dimaknai pendidikan secara utuhnya.
    "......kebenaran diukur dari manfaat, kebenaran diukur dari kekuasaan, didukung metode trial and error, didukung metode logico empirical hypotetiko dan logico deductico hypotetico, lebih bersifat kuantitatif dari pada kualitatif, jati diri atau identitas diri tertutup oleh jati kelompok, anti relativism, bersifat arogan terhadap alam karena merasa bisa memanipulasikannya, laskar utilitarian, laskar pragmatism, laskar hedonism, laskar teknologi, laskar naturalis, masa depan adalah warisan orang tua dan bukanlah warisan cucu, neo empiricism, neo pragmatism, dikendalikan oleh para juragan dan pemodal, selaras dengan filsafat dan psichologi reductionism dan penyederhanaan,......."

    Laskar pendidikan, terdengar penuh semangat, tapi menghambat tercapainya tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca elegi di atas, bahwa pendidikan itu penting dan menjadi kebutuhan dan kewajiban setiap individu di Negara ini. Dengan pendidikan kita dapat memajukan bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendidikan kita bisa menguasai dunia.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendidikan merupakan suatu kebutuhan atau kewajiban? menurut hemat saya, dalam kaitan ini tampaknya pihak eksekutif dan atau legislatif memandang bahwa pendidikan merupakan kewajiban. Sebagai kewajiban, mereka dapat menyebutkan bahwa amanat mencerdaskan kehidupan bangsa dan amanat UUD 45 sudah dilaksanakan dalam bentuk Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Saat ini kita harus melakukan perubahan cepat untuk menggeser pola pikir terhadap pendidikan dari sebagai kewajiban menjadi kebutuhan. Apabila pendidikan dipandang sebagai kebutuhan, maka semua elemen bangsa baik perorangan ataupun pejabat akan berusaha seoptimal mungkin mencari strategi agar setiap anak bangsa mendapatkan pendidikan yang baik demi kelangsungan hidup di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  10. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pendidikan sudah menjadi kebutuhan setiap manusia. Karena memang pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan, karena itu pendidkan sangat penting bagi manusia. Sebenarnya pengetahuan tidak hanya didapatkan dari sekolah saja, tetapi dari semua lingkup kehidupan. Jadi, pengetahuan itu merupakan suatu kebutuhan karena memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebaiknya membuat pemikiran siswa tentang belajar bahwa belajar itu bukan lagi kewajiban, tetapi sudah menjadi kebutuhan, sehingga nantinya proses pembelajaran akan menjadi lebih maksimal.

    ReplyDelete
  11. Jika banyak orang yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan, saya lebih sepakat bahwa pendidikan adalah suatu kewajiban. Bagaimana tidak? Sebuah hadist mengatakan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi muslim/ah. Terlalu 'keras' mungkin, namun jika ditelisik lebih dalam, jika pendidikan adalah suatu kewajiban maka seseorang mau tidak mau harus mengenyam pendidikan.

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pendidikan adalah sesuatu yang mutlak bagi seseorang sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan. Pendidikan juga merupakan suatu proses yang kontinue mulai dari lahir hingga akhir hayat. Sebenar-benar pendidikan adalah yang diperoleh bukan hanya di bangku sekolah namun juga dari lingkungan dan alam. Terlepas pendidikan adalah kebutuhan atau kewajiban, lingkungan terutama orang tua dan guru harus menciptakan jalan untuk membangun presepsi anak bahwa pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Jika seorang anak telah memahami peran pendidikan dalam kehidupan baik dunia maupun akhirat maka ia akan menjalani pendidikan sebagai kebutuhan dan kewajiban dengan penuh keikhlasan.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi yang sangat luar biasa, kalimat-kalimat yang sangat menginspirasi.
    Pendidikan bukanlah laskar melainkan kebutuhan. Tetapi jangan salah paham. Pendidikan bukanlah kebutuhan para juragan, tetapi kebutuhan para subyek didik. Nah, yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana juragan dan godfather laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik?

    ReplyDelete
  14. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Apakah juragan dan godfather laskar pendidikan menerima pendidikan sebagai kebutuhan subyek didik? Hal itu tentu tidaklah semudah yang dipikirkan. Tidaklah mungkin juragan dan godfather ontologi laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik. Mereka lebih enjoy bahwa pendidikan adalah kewajiban-kewajiban subyek didik. Jika tampaknya ikhlas maka itu hanyalah sementara dan tidaklah konsisten, demi menjaga situasi kondusif untuk lajunya ontologi laskar pendidikan.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Memang seharusnya pendidikan merupakan kebutuhan subyek didik, bukan justru menjadi sebuah proyek yang memiliki satu tujuan tertentu. Karena pendidikan merupakan kebutuhan siswa, pendidikan semestinya dapat dibangun tanpa ada keterpaksaan dari siswa dan dalam suasana yang menyenangkan. Pendidikan harus bisa memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar dengan melibatkan siswa secara aktif di dalam pembelajaran. Namun, yang sekarang ini terjadi dalam praktek pendidikan di Indonesia ialah pendidikan laskar. Pendidikan bukan merupakan kebutuhan siswa tetapi merupakan kewajiban siswa. Pendidikan justru menjadi alat untuk menguntungkan kepentingan penguasa. Keadaan ini akan sulit untuk diubah karena hal ini telah menjadi proyek dari negara-negara industri yang membuat kita tidak menyadarinya.

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Jika memang benar yang dimaksud dengan pendidikan ialah laskar seperti berikut ini "...diarahkan ke suatu tujuan tertentu, ada pengendali laskar, tujuan laskar bersifat tunggal, terdapat pergerakan masive secara linear ke depan, sangat fokus kepada hal-hal yang di depan, mengeksploitasi segenap sumber daya, arah komunikasi bersifat tunggal kedepan, kompetisi ketat, yang kalah yang tertinggal, yang kalah menjadi pecundang, yang menang yang berjaya, melindas dan melibas apa saja yang dilewati, sangat patuh (patuh buta) terhadap komando, tidak mampu melihat dan tidak perlu melihat persimpangan jalan, keberhasilan adalah keseluruhan, tidak perlu tanya jawab ketika sudah berangkat, bersifat kompetitif dari pada kooperatif, tidak kompromi terhadap laskar yang lain, lebih baik menggunakan cara dari pada mengerti cara, mementingkan hasil, ..." maka sungguh saya tidak setuju bahwa pendidikan adalah laskar. Jika pendidikan adalah laskar, maka pendidikan setiap anak akan dikendalikan oleh oknum-oknum tertentu, keberhasilan anak hanya akan dipandang secara keseluruhan, lebih mementingkan kompetitif daripada kooperatif, dan yang kalah akan dianggap sebagai pecundang. Jika seperti itu, maka bagaimana seorang anak akan berkembang dengan pendidikannya. Saya lebih setuju bahwa pendidikan adalah kebutuhan. Jika pendidikan dipandang sebagai sebuah kebutuhan, maka seorang anak tidak akan merasa terbebani, dia akan merasa rugi jika tidak belajar dengan sungguh-sungguh, dan ia akan merasa bahwa pendidikan adalah hal yang penting, sehingga akan berusaha dengan sebaik-baiknya dalam menempuh pendidikan.

    ReplyDelete
  17. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Pendidikan merupakan kebutuhan subjeknya. Oleh karena itu pendidikan memilikki karakteristik ontologi yaitu terdapat pengarahan, pengendali, tujuan yang bersifat tunggal, pergerakan masive, fokus, mengekplotasi sumber daya, komunikasi bersifat tunggal, dsb. Selama ini godfather menganggap bahw pendidikan adalah kewajiban subjek didik, yang memiliki keharusan mutlak dalam mempelajarinya, padahal selain hakikatnya subjek harus memiliki pola pikir bahwa pendidikan merupakan kebutuhan suatu subjek sehingga subjek akan merasa ikhlas dalam menjalankan proses belajar. Saat siswa merasa ikhlas dalam memperoleh pendidikan maka siswa akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk mengoptimalkan pendidikannya dan siswa juga akan memiliki keinginan kuat dalam mengembangkan pendiidkannya.

    ReplyDelete
  18. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Pikiran saya menjadi lebih terbuka dengan adanya postingan ini dan menjadi tahu bahwa pendidikan yang ada saat ini merupakan wujud dari laskar pendidikan. Terdengar indah istilahnya, "laskar pendidikan" namun memiliki makna yang sungguh berbalikan dengan istilahnya sendiri. Semulanya, saat saya melihat topiknya sudah memiliki persepsi yang positif akan laskar pendidikan, yang mana dapat membangun semangat yang menggebu-gebu, kemandirian dan menumbuhkan kesadaran akan proses belajar itu sendiri. Justru yang saya temui adalah makna yang sebaliknya, yaitu pemaksaan, kaku, mono cultural, dan sebagainya. Dalam benak saya terpikirkan bagaimana mengembalikan proses pendidikan yang dapat sesuai dengan kebutuhan dan menyadarkan pendidikan itu sebagai kewajiban dari si subyek itu sendiri. Apapun metode yang sudah ada pastinya ada pro dan kontra saat diterapkan. Begitu dengan laskar pendidikan itu sendiri pasti memiliki sisi yang positif juga saat dijalankan.

    ReplyDelete
  19. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Saya rasa hampir setiap orang tua ingin agar anaknya memiliki pendidikan yang tinggi. Untuk itulah, mereka berjuang agar anaknya dapat bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak. Karena mereka yakin dengan pendidikan yang baik akan dapat mengubah nasibnya, terlebih lagi bagi mereka yang keadaan keluarganya kurang mampu atau tidak mampu. Sebagai pendidik, diharapkan dapat menciptakan atmosfer yang menyenangkan dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan para peserta didik. Para pendidik juga diharapkan dapat menjadi fasilitator yang baik dan dengan ikhlas dan tulus menjalankan tugas-tugasnya.

    ReplyDelete
  20. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dengan membaca saya belajar tentang laskar, apa itu laskar. Banyak sekali penjelasan tentang laskar. Semua penjelasan tersebut menurut saya menunjukkan bahwa laskar terkesan hanya mengutamakan kepentingan penguasa dan cenderung ketat dan keras. Sedangkan pendidikan harus memperhatikan kebutuhan subyek-subyeknya. Mengembangkan kurikulum berdasarkan karakteristik dan latar belakang subyeknya, memberikan layanan dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan. Serta meperhatikan segala proses untuk mencapai tujuan.

    ReplyDelete
  21. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Menggapai Pendidikan Bukan Laskar. Pada postingan ini menceritakan bahwa pendidikan itu sangat penting bagi kehidupan seseorang. Pendidikan itu berarti kita menuntut ilmu, dan menuntut ilmu itu tidak ada putusnya. Sepanjang hidup kita harus selalu menuntut ilmu. Pendidikan itu adalah kebutuhan bukan kewajiban. Tapi godfather selama ini berfikiran bahwa pendidikan itu kewajiban subyek didik.
    Dalam menjalani pendidikan subjek didik harus mempunyai mindset bahwa pendidikan itu adalah kebutuhan, agar subjek didik ikhlas dalam menjalani pendidikannya itu.

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap orang. Untuk menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan memang bukan perkara mudah. Karena nyatanya masih banyak para peserta didik beranggapan bahwa pendidikan sebagai kewajiban. Tugas utama guru sebagai pendidik tidak terlepas dari bagaimana mewujudkan hal tersebut. Karena jika ada rasa membutuhkan akan pendidikan oleh peserta didik, maka akan ikhlas dalam menuntut ilmu dan memahami materi pelajaran. Namun jika pendidikan masih dirasakan sebagai kewajiban maka siswa akan merasa terbebani dan keterpaksaan dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  24. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Laskar berarti pasukan, kurang lebihnya suatu pasukan memiliki gerak yang sama, seragam yang sama, persenjataan yang sama. Hal tersebut tak dapat diberlakukan dalam pendidikan. Setiap anak di dunia ini dilahirkan berbeda. Semua memiliki keunikan masing-masing. Dengan tiap keunikan tersebut, tentu tiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Adalah suatu kesalahan ketika kita menyamaratakan setiap anak dengan memberinya pembelajaran yang kadang tak sesuai dengan kebutuhannya demi menjadikannya seorang laskar. Saya akan behenti di pertanyaan ini: Jika esensi pendidikan adalah menjawab kebutuhan belajar tiap siswa, apakah menjadikannya laskar dapat menjawab kebutuhannya?

    ReplyDelete
  25. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas yang saya pahami berkaitang dengan pendidikan adalah bukan laskar. Sayapun mencari di wikipedi apa yang dimaksud dengan laskar secara singkat, laskar yaitu pasukan atau lebih kepada obyek dari pendidikan. Sehingga ketika pendidikana dikatakan sebagai sebuah laskar maka ia cenderung menekan para peserta didik. Padahal seharusnya subjek pendidikan adalah peserta didik itu, kesadaran muncul dari mereka. Merasa membutuhkan pendidikan harusnya muncul dari para peserta didik bukan dari petinggi pendidikan.

    ReplyDelete
  26. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof.Marsigit atas pemberian pencerahan di atas. Mungkin memang seperti permainan bahasa dan kata-kata, namun yang dapat saya tangkap bahwa pendidikan bukanlah suatu laskar yang memandang itu merupakan hal penting dan wajib dikenyam oleh seluruh siswa. Bukan hanya sekedar bak laskar yang penuh aturan untuk diikuti dan di tatati di dalamnya, namun lebih tepatnya pendidikan harus ada dan selalu bersama dalam setiap langkah kita beraktivitas, baik secara formal, nonformla, ataupun informal. Padahal, dahulu saja Rasulullah saja menyuruh kita pertama kali untuk "membaca", artinya belajar bukanlah suatu kewajiban namun suatu kebutuhan. kebutuhan itu akan terasa jika kita sudah ikhlas dan tulus dalam menjalaninya, maka ilmu yang didapatkan para siswa akan terasa sekali manfaatnya. Wallahu 'alam bishowab, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa selalu haus akan ilmu dan ikhlas dalam mempelajari segala yang ada dan yang mungkin ada. Amin

    ReplyDelete
  27. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pendidikan merupakan proses mencari pengetahuan ataupun cara seseorang subyek untuk mengembangkan potensi diri dan tanpa batasan ruang dan waktu. Melihat pendidikan sebagai lascar seperti melihat kekuasaaan pemerintahan yang berifat otoriter yakni proses berjalan satu arah (perboden) dan hal ini menurut kami dapat merugikan salah satu pihak karena dalam pendidikan sebagai lascar salah satu komponennya adalah disominasi komunikasi kekuasaan meskipuin komponen-komponen lainnya tidak menuntut kemungkinan dapat memiliki hal yang positif. Di sisi lain memadang pendidikan sebagai kebutuhan hal yang lumrah namun esensinya merupakan hal yang penting karena pendidikan salah satu cara membangun karakter seseorang. Selain kebutuhan pendidikan merupakan kewajiban, hal ini sesuai hadits Nabi SAW “ menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan”. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  28. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Pendidikan memang bukanlah sebuah laskar. Kalau pendidikan dipandang sebagai sebuah laskar, para siswa akan terbebani oleh kewajiban-kewajiban dan menjadi terpaksa. Sehingga para siswa bersekolah mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA dengan terpaksa bukan atas dasar kebutuhan. Seperti yang diungkapkan dalam uraian di atas, pendidikan sebagai laskar dianggap lebih kompetitif dibandingkan kooperatif bahkan pendidikan sebagai laskar juga melindas dan melibas apa saja yang dilewati. Jika seperti itu maka siswa hanya mengejar rangking dalam kelasnya. Ia berusaha mendapatkan rangking sebagus-bagusnya dengan mengabaikan proses untuk mendapatkannya, yang penting mendapat rangking terbaik atau juara kelas. Misal ketika mengerjakan Ujian Nasional, demi mendapatkan nilai setinggi-tingginya, siswa mencari bocoran soal, mencontek, dan melakukan kecurangan-kecurangan semacamnya. Selain itu pendidikan sebagai laskar bersifat sangat patuh (patuh buta) terhadap komando. Jika seperti itu, maka siswa harus sepatuh-patuhnya pada perintah guru, harus mengerjakan PR, mengerjakan tugas, menuruti segala yang diperintahkan, bahkan jika tidak menuruti akan dihukum atau diberi point. Tentu ini menjadikan guru bersifat otoriter. Bisa saja nanti guru bersifat semena-mena kepada para siswanya, seperti memberikan tugas (PR) berlebihan, melakukan kekerasan pada siswa, dan sebagainya. Jadi, pendidikan itu sesungguhnya merupakan kebutuhan, bukanlah laskar. Belajar itu kebutuhan. Jika sudah mengganggapnya sebagai kebutuhan, siswa tentu merasa senang ketika pergi ke sekolah, siswa tentu merasa gembira ketika mengikuti proses pembelajaran di kelas, serta siswa merasa senang ketika mengerjakan PR atau tugas yang diberikan oleh gurunya.

    ReplyDelete