Mar 8, 2011

Elegi Menggapai Pendidikan Bukan Laskar




Oleh Marsigit, Yogyakarta

Pendidikan bukanlah laskar melainkan kebutuhan. Tetapi jangan salah paham. Pendidikan bukanlah kebutuhan para juragan, tetapi kebutuhan para subyek didik. Yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana juragan dan godfather laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik? Tentu tidaklah semudah yang dipikirkan.

Ontologi laskar pendidikan dan jelmaan-jelmaannya

Kita mempunyai referensi banyak perihal terminologi “laskar”, ada laskar Pajang, laskar Pajajaran, laskar Mataram, dan laskar-laskar yang lain. Apapun tentang laskar, maka ada makna-makna pokoknya di sana.

Makna pokok dalam terminilogi “laskar” kemudian menjadi karakteristik ontologi laskar pendidikan.

Karakteristik ontologi laskar pendidikan kemudian dapat dideskripsikan sebagai berikut: terdapat pengerahan secara besar-besaran, diarahkan ke suatu tujuan tertentu, ada pengendali laskar, tujuan laskar bersifat tunggal, terdapat pergerakan masive secara linear ke depan, sangat fokus kepada hal-hal yang di depan, mengeksploitasi segenap sumber daya, arah komunikasi bersifat tunggal kedepan, kompetisi ketat, yang kalah yang tertinggal, yang kalah menjadi pecundang, yang menang yang berjaya, melindas dan melibas apa saja yang dilewati, sangat patuh (patuh buta) terhadap komando, tidak mampu melihat dan tidak perlu melihat persimpangan jalan, keberhasilan adalah keseluruhan, tidak perlu tanya jawab ketika sudah berangkat, bersifat kompetitif dari pada kooperatif, tidak kompromi terhadap laskar yang lain, lebih baik menggunakan cara dari pada mengerti cara, mementingkan hasil, paradigma menghancurkan musuh, tidak sempat melakukan refleksi, meninggalkan residu-residu laskar, memerlukan keseragaman gerak dan langkah, mempunyai pembagian tugas yang ketat, mempunyai kontrol yang kuat, tidak ada skema untuk kembali, ukuran bersifat lebih kuantitatif, seleksi sangat ketat, bersifat eksklusif, paradigma mengontrol dan menguasai dunia, bersifat real dan kongkret, bersifat mekanistis, terstruktur kuat, didominasi komunikasi kekuasaan,selaras dengan filsafat diterminism, selaras dengan filsafat vitalism, merupakan paradigma salah benar, anti fallibism, makna di luar pikiran, selaras dengan paradigma behaviorism, selaras dengan psikologi stimulus response, bercirikan external evaluation, bersifat monoculture, bersifat rigid, bersifat absolut, selaras dengan filsafat realism, didukung empiricism, merupakan tulang punggung utilitarian dan pragmatism, selaras dengan jargon investasi, menghasilkan hedonism, bersifat materialism, kebenaran diukur dari manfaat, kebenaran diukur dari kekuasaan, didukung metode trial and error, didukung metode logico empirical hypotetiko dan logico deductico hypotetico, lebih bersifat kuantitatif dari pada kualitatif, jati diri atau identitas diri tertutup oleh jati kelompok, anti relativism, bersifat arogan terhadap alam karena merasa bisa memanipulasikannya, laskar utilitarian, laskar pragmatism, laskar hedonism, laskar teknologi, laskar naturalis, masa depan adalah warisan orang tua dan bukanlah warisan cucu, neo empiricism, neo pragmatism, dikendalikan oleh para juragan dan pemodal, selaras dengan filsafat dan psichologi reductionism dan penyederhanaan, selaras dengan jargon karakter bangsa atau nation building, bersifat eksternal, wadah atau lambang terlebih dulu baru kemudian isinya jika memang terjangkau, social capital dan economy menjadi ukuran yang paling tinggi, kontrol ekonomi dari atas dan fakta ekonomi dari bawah, selaras dengan filsafat strukturalism, bermasyarakat struktur kekuasaan-struktur ekonomi–struktur eksploitasi, struktur masyarakat kedudukan-kepemilikan-kekuasaan-pemilik modal-pekerja dan buruh, berhukum sebab-akibat, selaras dengan feudalism dan masyarakat burgois, kerusakan tidak bisa diperbaharui, anti filsafat, berhadap-hadapan dengan humaniora, yang benar yang nyata dan yang terukur, spiritual merupakan tahapan primitif sedangkan teknologi merupakan tahapan maju, temuan baru adalah segala-galanya dibanding dengan akibatnya, pengetahuannya bersifat a posteriori, ilmunya bersifat naturewissenschaften, bersifat anti geisteswissenschaften, berlogika sistem input-proses-output, terinspirasi oleh Machiavelianism, bersumber pada filsafat positivism dari Auguste Comte dan St.-Simon, bersinergi dengan John Adam Smith, bersinergi dengan Karl Mark, dipengaruhi oleh Will to Power nya Nietze, disindir oleh Will dan Ideas nya Schopenhauer, didukung oleh William James, Ranke, Croce, Max Weber, and Meinecke, diprotes oleh Nihilismenya Paul Nietze dan Satre, diprotes oleh spiritualism, diprotes oleh idealism, diprotes oleh socio-constructivist, didukung oleh jargon atasan, diprotes oleh jargon bawahan, berorientasi hasil dan standard, ditentang oleh proses dan portfolio, bersinergi dengan penyeragaman, tidak berselera akan keanekaragaman, ontologi laskar pendidikan diberangkatkan dari negara-negara Industri, sasaran ontologi laskar pendidikan adalah negara-negara berkembang sampai ke ujung dunia beserta sumber dayanya, ontologi laskar pendidikan telah berangkat sejak jaman modern, di jaman sekarang ontologi laskar pendidikan semakin berjaya dan dominan.

Kesimpulan

Tidaklah mungkin juragan dan godfather ontologi laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan subyek didik. Mereka lebih enjoy bahwa pendidikan adalah kewajiban-kewajib subyek didik. Jika tampaknya ikhlas maka itu hanyalah sementara dan tidaklah konsisten, demi menjaga situasi kondusif untuk lajunya ontologi laskar pendidikan.

24 comments:

  1. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Selama ini hampir semua orang menganggap bahwa pendidikan itu merupakan suatu kewajiban. Seperti program pendidikan yang ada di Indonesia yakni Wajib Belajar 9 Tahun. Dari kata tersebut sudah jelas kita ketahui bahwa anggapan kita selama ini bahwa pendidikan itu merupakan kewajiban bukanlah suatu kebutuhan. Pendidikan semestinya dapat dibangun tanpa ada keterpaksaan, dalam suasana yang menyenangkan melibatkan siswa. Saya sependapat dengan yang bapak sampaikan dibagian kesimpulan semua akan terwujud jika penentu kebijakan dalam pendidikan itu mengerti bahwa pendidikan adalah subyek didik. Semoga kelak ada yang dapat menyatukan semua pihak sehingga pendidikan menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  2. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Pendidikan merupakan media atau alat yang digunakan untuk meningkatkan semua aspek kebaikan yang berhubungan dengan subyek didik. Pendidik, pemimpin dan pemangku kebijakan di bidang pendidikan seyogyanya adalah pekerja yang bekerja demi kepentingan subyek didik. Akan tetapi, keadaan yang ada sekarang semua hal berhubungan dengan pendidikan seolah beralih tujuan yang mulanya untuk memenuhi kebutuhan subyek didik menjadi memenuhi kebutuhan para laskar pendidikan dalam hal ini ialah juragan dan godfather laskar pendidikan. Cara yang dapat dilakukan agar pendidikan yang baik tercapai adalah mengubah perspektif atau cara pandang para pendidik, pemangku kebijakan, dan pemimpin di bidang pendidikan menjadi berorientasi pada subyek didik bukan berorientasi pada kepentingan individu atau golongan.

    ReplyDelete
  3. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Proses pembelajaran perlu menjadi perhatian khusus dalam pembelajaran. Didalam proses pembelajaran itu siswa sbagai subyek pembelajaran perlu difasilitasi dalam belajar, guru bisa mendampingi siswa dan menjaga supaya proses pembelajaran terarah. Dengan fokus dalam proses, maka akan memudahkan dalam memasukkan nilai-nilai karakter kepada siswa, pembelajaran jadi ramah, bisa belajar bermakna, belajar sesuai konteks sehari-hari maupun lingkungan sekitar siswa. Proses yang baik tentu menghasilkan hasil yang baik baik secara akademik maupun karakter siswa.

    ReplyDelete
  4. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Pendidikan bukanlah sebuah laskar, kata laskar biasanya digunakan dalam militer pada jaman perang seperti yang disebutkan diatas. Pendidikan semestinya dapat dibangun tanpa ada keterpaksaan, dalam suasana yang menyenangkan melibatkan siswa. Saya rasa setiap guru ingin siswa-siswanya terlibat dalam setiap pembelajaran dikelas tetapi mereka dibayang-bayangi oleh banyak hal diantaranya materi yang banyak, ujian nasional dll.
    Selayaknya pendidikan memang untuk melayani subyek dalam hal ini adalah siswa, bukan untuk sebuah proyek untuk mencapai tujuan tertentu. Saya sependapat dengan yang bapak sampaikan dibagian kesimpulan semua akan terwujud jika penentu kebijakan dalam pendidikan itu mengerti bahwa pendidikan adalah subyek didik. Semoga kelak ada yang dapat menyatukan semua pihak sehingga pendidikan menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Pendidikan kita saat ini lebih banyak dipandang sebagai ambisi orang dewasa. Padahal seharusnya pendidikan seharusnya merupakan kebutuhan siswa. Jika pendidikan dipandang sebagai suatu kebutuhan, maka siswa akan merasa menikmati proses pembelajaran di kelas. Tetapi sayangnya tidaklah mungkin para juragan dan godfather ontologi laskar pendidikan ikhlas menerima bahwa pendidikan adalah kebutuhan siswa. Hal ini lah yang harus dirubah dari sistem pendidikan di negeri ini. Bagaimana pendidikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi kebutuhan bagi siswa bukan menjadi kewajiban yang membebani mereka. Dengan begitu siswa tidak perlu dipaksa untuk sekolah, tetapi mereka akan menikmati setiap prose pembelajaran.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Pendidikan itu merupakan kebutuhan subyek didik. Ilmu itu adalah kebutuhan bukan kewajiban. Karena ilmu itu adalah kebutuhan, maka semestinya siswa belajar sesuai kebutuhannya. Selain itu, belajar itu tidak bisa dipaksa, melainkan harus berbekal dari kesadaran individu masing-masing. Sehingga tugas seorang guru adalah memfasilitasi siswa sehingga ia dapat menyadari dan memenuhi kebutuhannya akan ilmu, serta memfasilitasi siswa agar senang belajar. Hanya memfasilitasi saja tidak mewajib-wajibkan atau memaksa secara otoriter.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Penampakan pada dasarnya adalah hakekat. Untuk menemukan suatu hakekat butuh pemikiran yang tidaklah mudah. Saya sangat tertarik dengan pernyataan bahwa ilmu kita yang tertinggi adalah pengakuan bahwa kita tidak dapat menemukan hakekat, dan ilmu kita yang paling rendah adalah kita merasa mudah untuk menemukan hakekat.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saya setuju bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dari siswa. Jika siswa sudah menyadari bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, maka ia akan belajar dengan senang hati. Namun sayang, kebijakan – kebijakan dalam pendidikan belum sepenuhnya berada di pihak siswa. Siswa kerap kali menjadi orang yang tidak tahu apa – apa dan menurut saja terhadap kebijakan yang ada dalam pendidikan. Materi ditentukan oleh pusat. UN dan standar kelulusan ditentukan oleh pusat. Tentu saja mau tidak mau siswa harus memenuhi target tersebut.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Pendidikan merupakan hak seluruh anak-anak indonesia bahkan dunia. Setiap negara pasti menjamin hal ini dalam undang-undang mereka. Pendidikan bukan merupakan kewajiban peserta didik. Siswa harus mendapatkan haknya terhadap pendidikan yang layak dimanapun mereka berada. Selruh warga negara harus menyadari hak para siswa untuk belajar dan mendapat pendidikan, dan fasilitas pendidikan yang layak. Hak-hak mereka untuk belajar, berpendapat, bersosialisasi juga perlu diperhatikan.

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Saya setuju bahwa pendidikan adalah kebutuhan bukan kewajiban. Ketika setiap dari kita memandang pendidikan sebagai kebutuhan, maka kita akan lebih ikhlas dalam menjalani setiap kegiatannya. Namun ketika kita menganggapnya sebagai sebuah kewajiban, ada sedikit unsur paksaan yang membuat kita tidak sepenuh hati menjalaninya. Jika setiap siswa memandang bahwa pendidikan adalah sebuah kebutuhan, maka tidak akan ada kasus anak bolos sekolah, dan berbagai penyimpangan pelajar, karena mereka sadar mereka sekolah karena mereka membutuhkan pendidikan, mereka membutuhkan ilmu.

    ReplyDelete
  11. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Pendidikan memang kebutuhan bagi semua orang. Dalam tataran pendidikan formal, pendidikan haruslah menjadi kebutuhan bagi subjek pendidikan secara khusus. Dimana melalui pendidikan ini, subjek pendidikan belajar untuk mengembangkan dirinya, kompetensi, agar menjadi pribadi yang lebih bermakna sesuai dengan karakter maupun keunikannya sendiri. Namun pemahaman ini memiliki gap dengan pemahaman yang dimiliki oleh para pemangku kebijakan. Dimana mereka menuntut adanya penyeragaman, seperti penyeragaman kompetensi, yang pada akhirnya menghilangkan keunikan setiap subjek belajar

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Saat ini seringkali pendidikan bukan lagi dipandang sebagai kebutuhan para subjek belajar. Pandangan bahwa subjek sama saja objek, maka akan menyebabkan ketidaksempurnaan perkembangan. Untuk itu para pendidik diharapkan dapat memenuhi kebutuhan para subjek belajar. Dengan pandangan demikian, maka siswa akan lebih dihargai sebagai subjek belajar, lebih termotivasi dalam belajar.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Subjek belajar sebagai yang melakkan aktivitas pembelajaran, dipandang hanya bertuas melakukan kewajiban kewajiban yang telah dibebankanna dan wajib melaksanakannya. Guru akibatnya menjadi lebih focus pada kewajiban subjek belajar, tanpa memberikan hak nya sebagai subjek belajar.

    ReplyDelete
  14. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Pendidikan dengan tujuan untuk mencari ilmu haruslah disadari oleh kesadaran diri sendiri yang memang kebutuhan yang meminta bukan hanya sebagai sebuah kewajiban saja. Karena menuntut ilmu harus didasari oleh rasa ikhlas agar dapat memperoleh hasil yang memang benar-benar sesuai dengan harapan. Mengubah pandangan masyarakat dan kebijakna pemerintah mengenai wajib untuk sekolah lah yang menjadi tuags kita sebagai calon pendidik selanjutnya. Mewujudkan proses dan suasana belajar yang menyenangkan, ramah dengan anak anak akan dapat merubah stigma masyarakat itu sendiri. Dari sanalah, siswa akan menyadari bahwa mencari ilmu merupakan sebuah kebutuhan yang memang harus dijalankan dengan ikhlas tanpa rasa sombong yang berlebih.

    ReplyDelete
  15. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas mengajarkan bahwa pendidikan sangat penting bagi kita semua. dari pendidikan kita mendapat ilmu dan dari ilmu kita bisa menciptakan suatu penemuan. pendidikan berguna bagi kesejahteraan suatu bangsa dan berguna baagai kemajuan bangsa kedepannya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  16. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Selama inipendidikan menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang, orang yang menempuh pendidikan berkualitas baik dan mendapat hasil yang baik merupakan suatu keberhasilan. Sehingga orang berlomba-lomba dalam menempuh pendidikan hanya agar mendapat predikat orang yang berhasil, sehingga pendidikan bersifat wajib baginya. Padahal pendidikan adalah kebutuhan manusia yang menginginkan dirinya berilmu, pendidikan merupakan sarana seseorang dapat bertahan hidup maka sebenarnya pendidikan adalah kebutuhsn.

    ReplyDelete
  17. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Masih banyak ditemui kenyataan bahwa pendidikan, pendidikan disekolah khususnya, merupakan pendidikan yang memaksa bahkan mengarah pada penyiksaan. Padahal seharusnya pendidikan itu menyenangkan dan tidak membuat peserta didik tertekan.

    ReplyDelete
  18. Dan para pendidik juga sebaiknya tidak hanya melihat profesi pendidik sebagai mata pencaharian semata. Pendidik seharusnya benar-benar menjalankan profesinya dengan optimal untuk menciptakan generasi yang lebih baik. Pendidik harus bisa melakukan pekerjaannya secara ikhlas, baik ikhlas hati maupun ikhlas pikir

    ReplyDelete
  19. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dengan mengatakan bahwa pendidikan adalah kewajiban-kewajiban subyek didik, juragan dan godfather ontology laskar pendidikan memaksa subyek didik untuk mengenyam pendidikan sesuai dengan apa yang mereka inginkan, bukan berdasarkan apa yang subyek didik butuhkan. Para juragan dan godfather seringkali mengambil berbagai macam keuntungan untuk dirinya sendiri atas nama pendidikan. Haruslah ditanamkan pemikiran kepada subyek didik bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan, supaya subyek didik bisa menikmati pendidikan tanpa adanya paksaan.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Antara pendidikan dan laskar emmang memilki perbedaan. Hal ini dikarenakan pada pendidikan itu lebih pada mendidik manusia untuk menjadi insan yang lebih baik dengan sebelumnya dengan acuan dari kurikulum yang dijalankan dan juga dengan landasan yang diacu untuk mealakukan pendidikan terhadap peserta didik.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Pendidikan merupakan hak bagi setiap individu. Saya setuju dengan statement pada awal elegi bahwa pendidikan bukan laskar tetapi kebutuhan. Karena itu seharusnya pendidikan yang berlangsung bukan mengedepankan ego beberapa kelompok tapi untuk kemaslahatan banyak orang. Semoga di Indonesia, kita semakin bijak dalam menyikapi problematika pendidikan.

    ReplyDelete
  22. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Makna pokok laskar menjadi karakteristik laskar pendidikan. Laskar dicirikan dengan terdapat pengarahan terhadap tujuan tertentu, ada pengendali serta tujuan yang bersifat tunggal, dll. Namun pendidikan haruslah mengedepankan kebutuhan subjek didik, dalam hal ini siswa.

    ReplyDelete
  23. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pendidikan laskar bukanlah pendidikan yang sesuai untuk pendidikan dengan demokrasi, Pendidikan bagi negara demokrasi seharusnya merupakan pendidikan dengan asas kebutuhah, yaitu kebutuhan siswa. Pendidikan laskar merupakan pendidikan bagi negara kapitalis, yang semuanya di dasarkan pada perintah penguasa, demi kepentingan penguasa. Ketika penguasanya mengalami kegagalan maka pendidikan pun akan mengalami kegagalan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  24. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Subjek dari pendidikan adalah siswa, bahkan saat ini pun bahwa pendidikan berorientasi pada siswa, maka seharunya pendidikan pun dimulai oleh kebutuhan siswa, bukanlah dengan kebutuhan/kepentingan para juragan & godfather. Siswa memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda-beda, maka pendidikan yang dibuat pun harus mampu menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan untuk membangun kehidupannya sesuai dengan potensi dan karakteristiknya masing-masing.

    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete