Mar 8, 2011

Elegi Menggapai Hakekat Matematika Kesatu




Oleh: Marsigit

Matematika bermonolog imaginer:
Awalnya aku hanyalah gelaja. Sebetulnya gejalaku ada di mana-mana. Tetapi jelas tidaknya gejalaku tergantung dari tempat tinggalku.Gejalaku sangat jelas ketika aku berada di pegunungan, di lautan dan di hutan rimba. Tetapi sayangnya pada tempat-tempat itu tiadalah orang menyaksikanku, sehingga gejalaku tidak dapat bicara. Pada saat itulah aku menyadari bahwa aku perlu bekerjasama dengan manusia agar gejalaku dapat bicara. Itulah mengapa pidato pertamaku aku sampaikan pada orang-orang di tepian sungai nil. Mula-mula pidatoku aku sampaikan dengan bahasa yang sangat sederhana. Aku hanya menggunakan dua kata saja pada waktu itu yaitu naik dan turun. Ketika aku naik, maka mereka berlarian menyelamatkan diri. Ketika aku turun maka mereka berdatangan berduyun-duyun. Mereka tidak menyadari bahwa aku telah mengangkat mereka menjadi murid-muridku. Sesungguh-sungguhnya itulah pekerjaan rumah (PR) pertama yang dikerjakan manusia atas gurunya aku. Ketika aku naik, maka aku sembunyikan batas-batas mereka. Ketika aku turun maka batas batas itu sebagian aku munculkan sebagian lagi aku masih sembunyikan. Di situlah aku melihat anarkisme pertama dari manusia-manusia. Mereka saling berebut. Mereka saling berdusta. Mereka saling bertengkar. Bahkan mereka saling membunuh dalam rangka memperebutkan batas-batas yang aku sembunyikan.


Mereka tak sengaja menemukan persembunyianku:
Itulah sebenar-benar manusia. Mereka ternyata mempunyai daya ingat. Ingatan mereka ternyata dapat menemukan batas-batas yang aku sembunyikan. Padahal sebetul-betulnya batas adalah diriku sendiri. Tetapi mereka belum menyadari tentang diriku. Namun beberapa dari mereka telah sepakat menggunakan ingatan bersama tentang batas-batas yang aku sembunyikan. Itulah pertama-tama mereka menamaiku sebagai garis. Aku disebutnya sebagai garis batas. Kemudian aku disebut pula sebagai garis batas wilayah. Ternyata itulah kehebatan manusia. Mereka tidak hanya menemukan aku yang satu, tetapi aku yang lain juga mulai mereka temukan. Mereka menemukan aku sebanyak empat, kemudian mereka sepakat untuk menamaiku sebagai segi empat. Aku sengaja berpenampilan rupa ragam, ternyata mereka juga menemukanku sebanyak empat dimana aku duduk bersejajar dua-dua, kemudian mereka menyebutku sebagai persegi panjang. Masih aku sembunyikan lagi sebagian diriku. Ternyata mereka juga menemukan diriku yang empat duduk sejajar-sejajar sama panjang, kemudian mereka menyebutku sebagai persegi. Hebat benar manusia-manusia itu. Sampai disini aku bertanya apakah aku mulai dipertemukan dengan manusia. Kemudian mereka sebenarnya siapa. Dan aku sebenarnya siapa juga?

Orang tua berambut putih datang:
Wahai matematika, saatnya sudah engkau turun dari singgasanamu. Tidaklah selalu engkau harus dalam posisi seperti itu. Walaupun engkau ratu sekalipun, tetapi ada kalanya engkau harus mengabdikan diri kepada manusia sebagai pelayan. Maka pergilah dan bantulah manusia-manusia itu untuk membangun peradabannya.

Matematika:
Wahai orang tua berabut putih. Aku sanggup melaksanakan perintahmu tetapi dengan syarat. Sedangkan syarat-syaratku itu adalah: pertama aku harus bersama-sama bisa menjadi ratu sekaligus pelayan; kedua, aku harus selalu mengikutimu; ketiga, aku netral dan tidak memihak siapapun; keempat, aku harus tetap abstrak tetapi bisa berujud kongkrit jika aku mau; kelima, aku harus tetap bersifat abadi dan keabadianku mendahului manusia dan mengakhiri manusia; keenam, aku tidak memerlukan pujian dan sanjungan serta tidak memerlukan predikat apapun.

Kerumunan orang-orang:
Wahai makhluk aneh. Siapakah dirimu dan dimanakah engkau tinggal? Kenapa selama ini engkau sembunyikan batas-batasku? Bersediakah engkau membantuku untuk membangun peradabanku?

Matematika:
Ketahuilah, namaku adalah matematika. Sebagian dari engkau telah mengenalku tetapi sebagian banyak yang belum mengenalku. Sebagian dari diriku juga telah engkau kenal. Garis-garis batas itulah contohku. Tidak hanya itu contoh-contoh ku masih banyak lagi. Yang akan ku sebut berikut itu semua adalah diriku. Persegi adalah aku. Persegi panjang adalah aku. Garis lurus adalah aku. Keliling sawah-sawahmu adalah adalah aku. Luas sawah-sawahmu adalah aku. Namun dari sedikit yang aku sebut, belumlah seberapa dari banyaknya diriku yang lain. Semakin engkau benyak mengetahuiku, semakin banyak pula yang belum engkau ketahui. Itulah sebanar-benar PR ku buatmu. Maka sebenar-benar aku adalah PR buatmu.
Maka namaku pun bermacam-macam. Geometri adalah aku. Aritmetika adalah aku. Aljabar adalah aku. Kalkulus adalah aku. Bilangan adalah aku. Pengukuran aadalah aku. Rumus-rumus adalah aku. Pola-pola adalah aku. Pemecahan masalah adalah aku. Penyelidikan adalah aku. Rasa ingin tahu adalah aku. Bahkan komunikasimu adalah aku. Jikalau engkau telah menemukanku lebih banyak lagi maka aku bersedia membantumu untuk membangun peradabanmu. Lebih dari itu, jika engkau mampu menggunakan akal pikiranku untuk menemukanku, maka akupun rela menjadi pelayanmu. Itulah sebenar-benar diriku, adalah alat buat kehidupanmu. Maka perkenalan pertamamu terhadap diriku adalah mengenalku sebagai peralatan bagimu. Dan itu baik-baik saja. Sesuatu yang baik bolehlah engkau ejar-ajarkan kepada cucu-cucu maupun keturunanmu.

Kerumunan orang-orang:
Wahai matematika bagaimanakah caranya aku bisa menumpaiku.

Matematika:
Ada syarat-syarat engkau bisa menemuiku. Jika syarat-syarat itu terpenuhi, maka engkau tidak hanya bisa menemuiku, tetapi engkau bisa memilikiku. Tidak hanya itu jika engkau betul-betul telah memilikkiku maka engkau dapat menjelma menjadi engkau, dan engkau bisa menjelma menjadi aku. Maka sebenar-benar aku adalah engkau pula pada akhirnya.

Kerumunan orang-orang:
Lalu, apakah syaratnya agar aku bisa menemuimu?

Matematika:
Pertama-tama, engkau harus mempunyai niat dan usaha untuk menemuiku. Niatmu harus tulus disertai rasa syukur kepada Tuhan YME bahwa sudah saatnya lah engkau akan bertemu denganku. Kedua, engkau harus menyesuaikan sikap, perkataan dan perbuatanmu. Sikap, perkataan dan perbuatanmu itu harus berakhir pada pikiran kritismu. Karena, hakekat diriku tidak lain-tidak bukan adalah pikiran kritismu itu. Ketiga, engkau harus selalu mencari diriku yang lain, kapanpun dan dimanapun. Keempat, engkau harus selalu menjalin silaturahim dengan semua diriku. Sebenar-benar silaturahimmu kepadaku adalah usahamu menggunakan diriku untuk keperluanmu. Semain banyak engkau menggunakanku, maka semakin pula engkau mengenal diriku. Dan yang kelima adalah selalu beritahukan tentang diriku kepada orang lain, serta gunakan pula diriku ketika engkau ingin membantu orang lain.

Kerumunan orang-orang:
Terimakasih atas penjelasannmu. Bolehkah aku bertanya? Aku mempunyai sawah berbentuk persegi panjang. Panjangnya 5 sedangkan lebarnya 4. Berapakah luas sawahku itu?

Matematika:
Gunakan luas satuan. Kemudian tutupilah sawahmu itu dengan bangun-bangun satuan, maka engkau temukan bahwa banyaknya luas satuan adalah 4 kali 5 sama dengan 20. Jadi luas sawahmu adalah 20.

Kerumunan orang-orang:
Terimakasih, sekarang aku sudah mempercayaiku. Maka bersiaplah wahai matematika engkau menjadi pelayanku. Maka selalu siaplah engkau aku panggil setiap saat dan akan aku gunakan untuk bermacam-macam keperluan.

20 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Elegi di atas mengajarkan kita bahwa untuk mempelajari matematika harus dimulai dengan niat yang ikhlas; setiap sikap, perkataan dan perbuatanmu harus berakhir pada pikiran kritis; harus terus mengasah dan menambah wawasan tentang matematika; harus dapat mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari kita; dan mengajarkannya kepada sesama agar orang lain juga dapat mengambil manfaat dari matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi ini menegaskan bahwa matematika mempunyai hubungan dengan ilmu yang lainnya. Matematika berisikan lambang-lambang atau notasi yang ditemukan sejak jaman filsuf, yang kemudian ditransformasikan pada matematika sekarang atau matematika sekolah. Matematika sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, guru harus memulai pembelajaran matematika menggunakan masalah yang berhubungan dengan kehidupan nyata bukan memulainya melalui konsep. Matematika mengajarkan banyak sifat mulai dari ikhlas, sabar, ingin tahu, dan lain sebagainya. Rasa ingin tahu inilah yang dibutuhkan pada semua mata pelajaran.

    ReplyDelete
  3. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai hakekat matematika ke satu terdapat pada penggalan kalimat “Sebenar-benarnya silaturrahmimu kepadaku adalah usahamu menggunakan diriku untuk keperluanmu” ini berarti bahwa kita sebagai guru dan siswa hendaknya agar bisa menanggapi hakekat matematika dengan cara menggunakan matematika untuk segala keperluan hidup kita karena hidup itu selalu membutuhkan matematika, hidup itu berisi matematika yang tak terhitung dan juga tak kita sadari ternyata matematika mengelilingi hidup kita.

    ReplyDelete
  4. Tri Wulaningrum
    17701250132
    PEP S2 B

    Sekali lagi, menjumpai elegi tentang kehidupan sang matematika. Saya belajar. Saya awam, saya baca, saya rasa ini proses saya belajar. Terlepas dari bagaimana seluk beluk matematika yang lumayan rumit bagiku ini, saya percaya bahwa matematika adalah ilmu. Maka sudah sewajarnya kita mengejar, kita belajar, jangan pernah merasa puas. Ilmu pengetahuan dengan dilandasi keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa akan membawa kita pada kehidupan yang terang, bukan?

    "Jikalau engkau telah menemukanku lebih banyak lagi maka aku bersedia membantumu untuk membangun peradabanmu"

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari “Elegi Menggapai Hakekat Matematika Kesatu” bahwa banyak kegiatan sehari-hari kita yang berhubungan dengan matematika. Matematika itu ada dimana-mana.
    Dalam mempelajari matematika diperlukan niat dan usaha. Selain itu, sikap, perkataan dan perbuatan harus disesuaikan sehingga nantinya muncul pikiran kritis. Persoalan matematika pasti ada solusinya maka jangan pantang menyerah untuk membuktikannya. Untuk memudahkan menyelesaikan masalah, maka kenali konsep terlebih dulu. Ilmu tentang matematika kita akan bermanfaat jika kita mengajarkan kepada orang lain.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  6. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan kedudukan matematika sebagai ratu ilmu pengetahuan. Dalam menggapai kedudukan matematika yang sebenar-benarnya maka seseorang harus mempunyai niat yang tulus serta rasa syukur kepada Tuhan YME, berpikir kritis dalam menjalani kehidupan, membawa matematika dalam kehidupan dengan menerapkan matematika untuk memecahkan persoalan, serta mengajarkan matematika dan kegunaannya kepada orang lain. Semakin kita mampu menggapai matematika sesuai kedudukan yang sebenarnya maka semakin kita memahami bahwa matematika sangat berpengaruh dalam membangun peradaban. Oleh karena itu matematika dapat digunakan untuk bermacam-macam keperluan.

    ReplyDelete
  7. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Matematika sangatlah dekat dengan kehidupan kita, bahkan awal mula muncul matematika ialah karena kebutuhan hidup kita. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini bahwa pada zaman dahulu orang-orang memperebutkan wilayah di sekitar sungai nil. Air yang pasang dan surut menyebabkan batas wilayahnya menghilang. Namun, dari kebutuhan tersebut justru ditemukan ilmu matematika, mulai dari pengetahuan garis, bangun-bangun geometri hingga sampai pada aritmatika, aljabar dan lain-lain. Lebih dari itu, matematika juga membangun kemampuan kita dalam komunikasi, pemecahan masalah, dan kemampuan penting lainnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika kita mau terus menerus mengembangkannya, akan lebih banyak lagi ilmu matematika yang dapat kita gunakan.

    ReplyDelete
  8. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi menggapai hakekat matematika ini menggambarkan bahwa sebenarnya matematika berawal dari gejala-gejala alam yang ada di sekitar kita atau berasal dari hal-hal konkret yang ada di kehidupan kita. Kemudian dengan akal yang diberikan oleh Allah SWT, manusia dapat menemukan dan mengumpulkan ilmu-ilmu matematika tersebut sehingga sekarang matematika menjadi ratu dari para ilmu. Kemudian salah satu pesan yang dapat diambil ialah sebenar-benarnya pengetahuan ketika semakin engkau benyak mengetahui, maka sebenarnya semakin banyak pula yang belum engkau ketahui.

    ReplyDelete
  9. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Dari elegi tersebut, matematika merupakan ilmu yang diperlukan untuk ilmu-ilmu lain. Matematika merupakan ilmu yang penting dipelajari. Dlam mempelajari matematika, perlu niat yang kuat, pikiran yang bersih dan hati yang ikhlas sehingga pembelajaran matematika berjalan dengan baik.
    Matematika itu luas. Matematika memiliki peran penting dalam kehidupan ini. Matematika dapt diterapkan untuk ilmu-ilmu pengetahuan lain. Dalam mempelajari matematika diperlukan aktivitas agar tidak membosankan. Bukan hanya ceramah dan menghafalkan rumus.
    Selain itu, dalam mempelajari matematika juga diperlukan niat yang tulus, usaha yang sungguh-sungguh, dan doa yang khusyuk. Semua itu membutuhkan hati dan ikiran yang ikhlas dan jernih sehingga ilmu yang dipelajari dapat masuk dan dipahami dengan baik.

    ReplyDelete
  10. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini bahwa matematika itu berstruktur berhirarki, berkesinambungan. Karena berstruktur itu memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri, yang paling jelas adalah dalam penyampaian materinya. Harus sesuai dengan ruang dan waktunya dan tingkatan-tingkatan atau jenjang sekolahnya. Materi disampaikan dengan aturan tertentu, ada materi prasyaratnya sehingga harus diperhatikan guru dalam pembelajaran. Karena materi dalam matematika saling terkait satu sama lain. Dengan kata lain, materi dalam matematika berbeda-beda, tetapi membentuk suatu struktur bangunan yang kokoh.

    ReplyDelete
  11. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Menggapai Hakekat Matematika Kesatu, dari elegi ini saya belajar bahwa matematika itu ada dimana-mana. Belajar matematika akan menjadi lebih bermakana ketika kita menggunakanya dan menyampaikannya pada orang lain. Kita harus mampu berpikir kritis dan kreatif sehingga dapat mengaplikasikan konsep matematika untuk memecahkan permasalahan di kehidupan nyata. Terimakasih.

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Matematika merupakan suatu ilmu yang dianggap sebagai ratu dan pelayan bagi ilmu lainnya. Matematika selalu ada dalam tiap aspek kehidupan manusia. Namun masih banyak orang yang menganggap matematika itu sulit dan mereka merasa takut apabila dihadapkan dalam sebuah persoalan yang menyangkut matematika. Padahal, pengimplikasian ilmu matematika telah dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu kala, sehingga kehidupan manusia tidak terlepas dari matematika. Sebagai calon pendidik, kita harus terus berinovasi dan memberikan pembelajaran yang baik dan benar agar peserta didik tidak hanya sekedar tahu matematika, tetapi dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  13. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya. Pada elegi ini, menunjukkan bahwa matematika adlaah ilmu terpenting, ilmu dasar bagi setiap orang. Karena matematika mendasari semua ilmu. Dalam kehidupan sehari haripun pasti menggunakan ilmu dasar matematika. Jadi dengan satu ilmu matematika itu telah mencangkup semuanya. Terimakasin

    ReplyDelete
  14. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan yang dapat mendamaikan alurnya. Pandangan saya terkait ulasan ini adalah pikiran kritis dimulai dengan sikap, perbuatan dan perkataan yang sesuai pada kondisinya. Ini dapat menjadi refleksi diri saya. Saya akan mencoba untuk menyesuaikan antara sikap, perkataan dan perbuatan agar jendela ilmu terbuka bagi diri saya. Saya tidak ingin menyianyiakan masa perantauan saya untuk menuntut ilmu. Sudah saatnya juga saya menjemput ilmu.

    ReplyDelete
  15. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas menyadarkan kita bahwa setiap yang ada di dalam kehidupan ini berkaitan dengan mateatika. Maka tidak salah bahwa matematika sering disebut sebagai ratu. Matematika sebagai ilmu pengetahuan menjadi kunci peluang-peluang dalam mengarungi kehidupan. Tidak hanya sebagai ratu, matematika pun berperan sebagai pelayan dalam kehidupan, artinya permasalahan yang berkaitan dengan berpikir logis, kritis, kreatif, maupun pemecahan masalah itu sendiri merupakan buah pikir setelah mempelajari matematika. Sering kali terkadang para siswa merasa tidak membutuhkan matematika tersebut, padahal matematika sebagai salah satu sebagai mata pelajaran wajib bagi semua siswa dari sekolah dasar sampai sekolah menengah, merupakan sudah barang tentu dipelajari sebagai kebutuhan. Karena pada akhirnya para siswa akan terjun secara langsung ke dalam kehidupan sesungguhnya (lingkungan masyarakat) yang akan menuntut kemampuan-kemampuan tersebut.

    ReplyDelete
  16. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini dijelaskan bahwa matematika itu seperti sumber ilmu yang belum banyak manusia gunakan. Setelah berkembangnya zaman, banyak pula konsep matematika yang ditemukan oleh manusia. Dari sinilah dapat disebutkan bahwa matematika adalah ratu dari segala ilmu. Kemudian zaman berkembang lagi, ternyata konsep-konsep matematika yang ditemukan itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari sinilah matematika menjadi pelayan untuk manusia.

    ReplyDelete
  17. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini saya belajar bahwa matematika adalah sosok yang awalnya hanya ada di pikiran, kemudian turun ke dunia realistis. Namun sejatinya matematika itu dunianya ia bisa bersifat abstrak tetapi juga bisa bersifat konkrit tergantung terletak dimana, jika di pikiran maka matematika adalah abstrak, tetapi bagi anak kecil matematika adalah konkrit. Matematika akan sangat penting dan digunakan sehari-hari. Dan cara mempelajari matematika yaitu dengan niat ikhlas hanya padaNya, sungguh indah dibagian ini. karena matematika tentunya bagian dari ilmu Tuhan maka kita haruslah ikhlas.

    ReplyDelete
  18. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas ulasan di atas. dari elegi di atas sangat menyadarkan kita bahwa setiap yang ada di dalam kehidupan ini berkaitan dengan mateatika. Maka tidak salah bahwa matematika sering disebut The Queen of Science, yang berarti ratunya ilmu pengetahuan. Meski abstrak dan terkesan sulit, namun sejatinya matematika amatlah penting dan perlu menjadi pengetahuan dasar bagi semua anak sejak dini.Matematika sangatlah dekat dengan kehidupan kita, bahkan awal mula muncul matematika ialah karena kebutuhan hidup kita. Pentingnya ilmu ini menjadi tuntutan banyak siswa. Namun entah mengapa sebagian dari mereka takut dan membenci sang ratu ini, padahal implementasinya sangat terasa dan kontribusi dalam pengaplikasian di kehidupan sehari-hari juga amat sering. Saya juga sadar bahwa, belajar merupakan proses yang harus dilalui dalam tiga tahap awal, 1) meluruskan niat hanya untu Allah, 2) menyesuaikan sikap, perbuatan, dan perkataan agar sesuai dan selaras dengan ruang dan waktunya, 3)lelah pasti jika harus menuntut ilmu terus menerus, maka saatnyalah kita sadar bahwa kitalah yang menjemput ilmu, bukan memaksa ilmu berada dalam pikiran dan genggaman kita. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  19. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Matematika memang sulit tapi berguna. Tak semua orang menyadari kebutuhannya atas matematika. Sadar atau tidak matematika ada di sekitar kita dan membantu kita dalam setiap aspek kehidupan. Bahkan sekecil letak titik dan garis adalah matematika. Hal ini yang perlu ditanamkan kepada peserta didik agar mereka tak memandang matematika dari apa yg sulit terlebih dahulu. Ketika mereka menyadari bahwa matematika sangat berguna, maka mereka akan mempelajarinya denga sukarela.

    ReplyDelete
  20. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Yang saya suka dari uraian di atas yaitu untuk mempelajari matematika harus diawali dengan niat dan usaha terelebih dahulu. Setelah itu harus menyesuaikan sikap, perkataan, dan perbuatan yang berakhir pada aktivitas berfikir kritis. Mempelajari matematika memerlukan kemampuan berfikir kritis yang baik. Jika mempelajari matematika tanpa berfikir kritis tentu matematika hanya menjadi sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dipikirkan tanpa bisa diterapkan/digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tanpa berfikir kritis, pembelajaran matematika tidak ubahnya rumus-rumus belaka, pembelajaran bersifat orthodox, berfikir hanya konvergen saja. Tahap berikutnya setelah berfikir kritis, yaitu mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, tahap terakhir adalah mengajarkan matematika pada orang lain atau mengguanakan matematika untuk membantu orang lain.

    ReplyDelete