Mar 8, 2011

Elegi Memahami Sang Konveyor




Oleh Marsigit

Bagawat:

Aku sedang memikirkan bagaimana agar para Cantraka mampu memahami tentang Konveyor. Sungguh sangat berat perjuanganku. Tetapi aku juga sangat menaruh iba kepada mereka, mengapa? Jika mereka hanya berada pada dimensinya masing-masing sekarang ini, sulitlah mereka bisa memahami apa itu Konveyor. Untuk dapat memahami Konveyor diperlukan ruang dan waktu dinamis yang tidak hanya memerlukan nurani, cendekia dan mandiri, tetapi diperlukan ruang dan waktu dinamis berdimensi ultima yang merangkum semua pengetahuan dan jejaring universal dalam rentang waktu lampau, sekarang dan yang akan datang. Dalam waktu relatifku,aku belum menemukan kandidat-kandidat baru bagi sang jawara menjunjung langit ini.Padahal, seperti yang berkali-kali aku katakan, bahwa perlombaan Menjunjung Langit itu tiadalah ada kata akhir.Oh para mitos, engkau betul-betul musuhnya para logos.Bahkan Cantraka dan Rakata yang baru saja aku wisuda memenangkan perlombaan ini tidak kuasa menghadapimu.Mereka semua sudah tidak tampak lagi batang hidungnya,artinya mereka juga pada akhirnya mati jatuh tidak kuat mengangkat langit, disebabkan oleh karena ulah mitos-mitosnya. Padahal hanya melalui perlombaan berikutnya lah mereka akan mampu memahami apa itu Konveyor. Hemm..kepada lagi siapa aku berbicara sekarang ini?

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai sang Bagawat..perkenankan aku datang menghampirimu. Seperti selalu aku janjikan, bahwa aku akan selalu hadir pada setiap pertanyaan, siapapun yang bertanya tentang apapun. Aku juga telah mengetahui segala apa yang engkau pikirkan dan engkau risaukan. Tidaklah sepantasnya engkau menuntut dan mengharapkan sesuatu itu melebihi kodratnya. Jika engkau paksakan semua itu pada para Cantraka, para Rakata dan para Cemani maka justru engkau sendirilah yang terjebak oleh mitos-mitosmu. Itulah sebenar-benar ancaman bagi dirimu dan juga diriku, yaitu aku dan engkau akan terancam
kehancuran. Tetapi bahwa kehancuran diriku dan dirimu itu sebetulnya adalah proses membangun kembali. Itulah kontradiksi dirimu dan diriku, yang hanya bisa diketahui oleh diri kita saja, paling tidak untuk sementara.

Bagawat:
Wahai Orang Tua Berambut Putih..terimakasih anda telah bersedia menemuiku kembali. Menurutmu bagaimana solusinya perihal keadaan terakhir? Menurutku, semua Cantraka, Rakata dan Cemani sudah saatnya mengetahui perihal Konveyor. Dengan semakin kecilnya bumi ini, maka mengerti itu lebih baik dari pada tidak mengerti.

Orang Tua Berambut Putih:
Biarkan mereka memahami secara alami saja. Yang penting kita mencari dan mendengarkan langsung saja kesaksian para pelaku Konveyor. Mari kita dengarkan dan saksikan kehebatan dan kedahsyatan mereka.

Gunung Sepajang Masa:
Wahai bumi seberapakah kebutuhanmu akan air itu, maka jika engkau masih kekurangan air, aku akan selalu menumpahkan berjuta-juta galon air-air itu melalui letusan-letusanku. Inilah letusan-letusanku itu. Glarrrr...glerrr...glurrrr...byur....

Bumi:
Wahai Gunung Sepanjang Masa, terimakasih atas budi baikmu. Sebesar-besar dan sebanyak-banyak air yang engkau berikan kepadaku, tetapi tetap saja aku masih merasa kurang. Maka silahkan meletuslah sepanjang masa agar aku mempunyai semakin banyak air untuk mencukupi hidup semua penghuniku.

Meteor Sepanjang Masa:

Wahai bumi seberapakah kebutuhanmu akan air itu, maka jika engkau masih kekurangan air, aku akan selalu menumpahkan berjuta-juta galon air-air itu melalui benturan meteor-meteorku terhadap dirimu. Inilah benturan-benturanku itu. larrrr... glerrr ...glurrrr...byur....

Bumi:
Wahai Gunung Sepanjang Masa dan Meteor Sepanjang Masa, terimakasih atas budi baikmu. Sebesar-besar dan sebanyak-banyak air yang engkau berikan kepadaku, itulah kecukupan yang aku dambakan.Dikarenakan kemurahan hatimulah aku sudah mempunyai air yang melimpah, sehingga aku merasa mampu untuk mencukupi hidup semua penghuniku. Tetapi aneh, kenapa penghuniku masih saja tertidur.Kenapa mereka belum memanfaatkan air melimpah yang aku sediakan. Oh Matahari, tolonglah kenapa dengan air yang melimpah ini aku belum juga mampu menghidupi penghuni-penghuniku?

Matahari:
Wahai Bumi, selama engkau belum mampu Menjunjung Langit maka jangan harap engkau mampu menghidupi penghunimu. Namun sebuah pertanyaanmu itu adalah awal dari ilmumu. Maka sebuah pertanyaanmu itulah awal dari hidupmu. Pertanyaanmu itu sungguh telah menggoda hatiku. Maka aku sambut dengan suka cita pertanyaanmu itu. Dengan pertanyaanmu itulah maka marilah kita telah ciptakan ruang dan waktu interaktif diantara kita. Sediakanlah semua airmu itu, kemudian terimalah semua panasku itu. Aku betul-betul telah jatuh cinta kepada dirimu.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:
Hemm..luar biasa kejadiannya. Kita telah menyaksikan bagaimana Bumi dan Matahari itu sungguh berinteraksi. Bumi menyediakan airnya, sedangkan Matahari memberikan panasnya. Itulah sebenar-benar Konveyor, yaitu produk dari interaksi antara Bumi dan Matahari melalui ruang air lautan dan panas matahari sepanjang jamanmu. Oh Tuhan ampunilah segala lancang dalam pikiranku. Heemm..inilah penyebab dari sulitnya mengapa para Cantraka, Rakata dan Cemani sangat sulit memahaminya. Mari kita teruskan mendengarkan dialog-dialog mereka. Wahai Bumi dan Matahari, agar para muridku mampu memahami apa itu Konveyor, tolong agar Konveyor mampu menceritakan segala aktivitasnya.

Bumi dan Matahari:
Wahai Konveyor anakku...segeralah bekerja agar para penghuniku mampu menghidupi dirinya di atas atau di bawah permukaan Bumi ini atau di atas atau di dalam samudra. Apakah syarat-syaratmu agar mampu menghidupinya? Terangkan bagaimana aktivitasmu? Kemudian, sesuai dengan permintaan Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih, maka ceritakan pula segala aktivitasmu, dan jawablah semua pertanyaan dari mereka.

Konveyor:
Wahai Bumi dan Matahari...sebagai dharmabhaktiku kepadamu maka akan aku persembahkan segala hidupku kepadamu. Tiadalah ada artinya diriku itu jika tanpa kuasamu. Aku memilih bertempat tinggal di dalam Samodra, tetapi ketahuilah bahwa dalam Samodra itu meliputi semua air baik yang ada di lautan maupun yang ada di darat maupun yang ada di udara.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Konveyor..bagaimana engkau bekerja dan bagaimana engkau berperan bagi kehidupan maklhuk hidup di bumi?

Konveyor:
Aku adalah segala air yang ada, maka sebanyak-banyak diriku itu bertempat tinggal di lautan. Pertama, aku tangkap sebagian panas dari sinar Matahari untuk memanaskan diriku. Kombinasi antara diriku sebagai air panas, beragam posisiku dan perputaran Matahari telah menyebabkan diriku mampu untuk bergerak ke seluruh penjuru dunia. Garakanku itu dipercepat dengan perbedaan suhu antara diriku yang berada di khatulistiwa dengan diriku yang berada di kutub. Gerakan diriku di seluruh penjuru dunia itulah yang menghantarkan plankton si pembawa oksigen itu mampu menghidupkan semua binatang laut baik yang besar maupun yang kecil.Itulah sebenar-benar diriku yaitu si panghasil oksigen bagi semua makhluk di muka bumi ini. Tanpa kegiatanku yang demikian maka tiadalah kehidupan itu dimuka bumi ini.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Konveyor...bukanah hal yang demikian itu biasa-biasa saja. Itu sudah menjadi kodrat dan takdirmu sesuai dengan hukum alam. Kenapa mesti engkau ungkapkan hal yang demikian itu kepadaku. Apakah ada peristiwa dimana engkau tidak beraktivitas?

Konveyor:

Wahai Bagawat dan Orang Tua Brambut Putih...ini adalah persoalan waktu. Hanya orang-orang yang mempunyai kemampuan memahami rentang waktu dan durasi waktu yang sangat lama, yang bisa memahami tentang diriku itu. Bukankah jika engka menggunakan segenap pengetahuanmu dan menggunakan segenap peralatanmu maka engkau bisa menemukan saat dimana aku menyatakan berhenti bekerja.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:

Kapan itu?

Konveyor:
Sebelum manusia menghuni Bumi ini, maka aku pernah menyatakan berhenti. Ketika aku tidak beraktivitas maka yang terjadi adalah tidak ada produksi oksigen di muka Bumi ini. Sebaliknya, telah berkembang semua bakteri di bawah permukaan laut penghasil Hidro Sulfat. Setelah melalui siklus perputaran panas dan hujan maka racun Hidro Sulfat itu telah memusnahkan semua tumbuh-tumbuhan dan binatang Dinosaurus yang ada di muka bumi ini. Itulah salah satu skenario Tuhan memelihara alam ini.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:

Apakah hal yang demikian bisa terjadi di waktu sekarang atau yang akan datang?

Konveyor:

Gejalanya ada.Kecenderungannyapun ada. Dengan semakin banyak manusia mengeksploitasi alam dan memproduksi Karbon Dioksida, maka dampak langsung adalah matinya Terumbu Karang. Jika Terumbu Karang mati, maka planton juga akan mati. Jika plankton mati, maka ikan kecil juga akan mati, jika ikan kecil mati maka ikan besar jiga mati. Artinya laut itu kemudian akan mati,tidak ada pergerakan dan tidak ada kehidupan. Maka lautpun tidak akan memproduksi oksigen.Padahal laut itu selama ini memproduksi oksigens sebesar lima puluh persen.Jika laut tidak lagi memproduksi oksigen maka ancaman nyata bagi kelangsungan hidup manusia sudah di depan mata. Maka lautpun seperti manusia, dia bisa hidup tetapi juga bisa mati.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:

Wahai Konveyor, aku merasa gembira bahwasanya engkau telah mampu menguraikan keadaan dirimu. Mudah-mudahan hal yang demikian itu akan memberikan pencerahan bagi semua murid-muridku, para Cantraka, Rakata dan Cemani. Tetapi ketahuilah hukumnya bahwa barang siapa berdialog dengan diriku maka serta merat dia akan menjelma menjadi muridku. Maka ketahuilah Konveyor, jika engkau tidak mau mengaku sebagai muridku maka mitosmu akan segera memangsamu. Jika engkau termangsa oleh mitosmu maka berakhirlah tugas dan fungsimu sebagai Konveyor. Tidak hanya itu maka namamu juga akan sekalian lenyap tertelan bumi dan matahari.

Konveyor:
Wahai Sang Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih, ampunilah diriku. Tugas apa lagi yang harus aku emban untuk menyempurnakan diriku sebagai muridmu.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:
Penjelasanmu itu baru separuh jalan. Jika engkau berhenti sampai di situ maka banyak diantara muridku akan tersesat. Aku mengetahui masih ada hal mendasar yang engkau sembunyikan. Lanjutkanlah.

Konveyor:
Ampun guruku, sebetul-betul Konveyor yang sudah aku jelaskan adalah Konveyor yang berada di luar diri manusia. Itulah makrokosmis. Walaupun dia yang sangat besar, sangat luas tetapi bagian-bagiannya masih bersifat kasat mata. Sedangkan yang aku masih sembunyikan adalah Konveyor yang berada dalam diri kita masing-masing. Itulah mikrokosmis. Dia itu sangat lembut dan tidak kasat mata. Jika aku telah tunjukkan Konveyor air laut yang hidup atau air laut yang mati, maka manusiapun seperti laut bisa hidup dalam kehidupan dan hidup dalam kematian. Sungguh Tuhan telah menciptakan isomorphisme di antara ciptaan-ciptaannya. Maka sebetul-betul Konveyor itu ada pada diri setiap ciptaan Tuhan. Itulah yang dapat engkau pikirkan.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:
Apakah engkau bermaksud mengatakan bahwa Konveyor dalam diri manusia itu
adalah arwah atau ruh?

Konveyor:
Oh bukan samasekali. Jangan engkau berbicara sampai arwah atau ruh. Karena arwah atau ruh itu adalah hati dan keyakinanku, maka tiadalah pikiranku itu mampu memahaminya, kecuali hanya hatiku yang meyakininya.

Bagawat dan Orang Tua Berambut Putih:
Lantas apa itu Konveyor dalam diri manusia?

Konveyor:
Konveyor dalam diri manusia adalah isomorphisma aliran potensi dalam ruang dan waktu interaksi dinamis dalam dan ke seluruh tubuh manusia sampai melebihi dirinya sehingga terjadi kesadaran, pemahaman, gerak dan interaksi manusia dengan sesamanya dalam rangka menganyam dunianya melalui lintasan potensi-potensi dan vitalitas-vitalitasnya. Letusan-letusan gunung adalah komitmen potensi untuk menggapai vitalitasnya, sedangkan tubrukan-tubrukan meteor adalah interaksi dengan potensi dan vitalitas di luar dirinya. Plankton-planton itu adalah sel-sel darahmu. Air itu adalah aliran darahmu. Oksigen adalah bebaikan-kebaikanmu. Racun Hidro Sulfat adalah keburukan-keburukanmu. Maka sebetul-betul Konveyor dalam dirimu adalah sistem isomorphis daya hidupmu yang dapat engkau pikirkan sebagai arkitektonik hidupmu. Sedangkan hatiku berkata bahwa Tuhan YME itu sebenar-benar berkuasa atas ciptaannya. Dia mampu melenyapkan kehidupan ini dengan berbagai cara. Demikian juga Dia mampu memelihara kehidupan ini dengan berbagai macam cara pula.Aku,Konveyor,seperti halnya dirimu adalah hanya salah satu unsur-unsur ciptaan Tuhan yang patuh terhadap hukum-hukumnya. Amiin.

No comments:

Post a Comment


Note: Only a member of this blog may post a comment.