Mar 7, 2011

Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung




Oleh Marsigit

Pakar Pendidikan Bingung Utama:

Waha..haha..bingung aku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam pendidikan di negeri ini. Bingungnya lagi aku tidak bisa menjawab mengapa diriku itu disebut pakar pendidikan.

Moderator:
Hai..Pakar Pendidikan Bingung Utama...saatnya anda dipersilahkan untuk bicara. Para peserta seminar nasional pendidikan sudah beberapa saat menunggumu berbicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Wuha..oh ..ternyata aku harus bicara ta? Lalu apa topiknya atau temanya? Maaf aku terlena sesaat karena aku tadi ternyata tergoda memikirkan persoalan yang lain. Maaf..maaf.

Moderator:
Bukannya bapak sudah diberi undangan? Baiklah, temanya tentang Perbandingan Metode Pengajaran di Sekolah dan di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Bagaimana menurut pendapat bapak?

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Maaf..sebetulnya aku tidak paham betul seluk-beluk apalagi hakekat Metode Pembelajaran (Oh maaf..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja). Tetapi karena saya diangap pakar dan diundang sebagai narasumber, maka saya harus tampil meyakinkan. Saya harus tampil meyakinkan walaupun ada keraguan di dalam diriku karena kekurang pahamanku ((Oh maaf..mengapa saya ucapkan lagi..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja).

Moderator:
Silahkan bapak nara sumber sekarang waktu dan tempat saya haturkan untuk bapak, untuk segera bicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Lha..menurut saya gampang saja. Lihat saja gejalanya. Anak itu lebih suka nggarap soal, dari belajar. Anak lebih suka belajar di bimbel karena bimbel menyediakan trik-trik. Buat apa susah-susah belajar ala sekolah yang bertele-tele. Malah metode di sekolah itu merupakan pemborosan. Mengapa? Karena di sekolah para siswa mempelajari hal yang didak keluar dalam UN. Gitu saja. Jadi menurut saya, sekolah itu dibubarkan saja. Atau paling tidak sekolah harus merombak metode menjadi seperti metode di bimbel? Kalau nggak mau mengadaptasi metode bimbel ya bubarkan saja Departemen Pendidikan Nasional, dan ganti dengan Departemen Bimbingan Belajar Nasional. Begitu beres.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Waha..hihi..hihi...inilah yang aku mau. Aku tak terlalu pedulilah dengan benar dan salah. Yang penting aku mendapat berita besar. Bukannya berita besar itu biasanya benar. Toh yang bicara ini adalah Pakar Pendidikan Bingung Utama. Walaupun bingung kan pakar utama. Setidaknya juga mengobati kebingungan saya. Masabodoh dengan orang ideal yang sok ngerti hakekat pendidikan. Wahai para sobatku...aku punya berta besar buatmu. Yakinlah bahwa berita itu tentu benar, karena berasal dari Pakar Pendidikan Bingung Utama.

Guru Bingung Dewasa:
Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..setelah mendengarkan uraianmu, yang tadinya saya tidak bingung malah saya sekarang menjadi bingung. Mengapa engkau menyebarkan kebingungan-kebingungan pendidikan kepada diriku?


Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Engkau bingung karena belum mengambil sikap. Agar engkau tidak bingung maka engkau harus ikhlas mengakui kesalahanmu sebagai guru di sekolah yang selama ini mempraktekan metode pembelajaran tidak efektif, tidak efisien, boros, tak keluar di UN, ...dst. Maka segera bertobatlah dan mengakui kesalahanmu.

Tentor Bimbel Berbesar Hati:
Waha..bagus..bagus..begitulah mauku. Terimakasih aku ucapkan kepada panitia seminar. Lain lagi kalau mengundang pakar pendidikan ambil pakar yang bingung-bingung saja. Lebih baik aku membayar berapapun pakar pendidikkan bingung dari pada bekerjasama dengan Guru Muda Sadar. Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya, jangan tanggung-tanggung, umumkan saja sekarang juga di masmedia tentang hasil-hasil seminar yang gemilang ini.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Baiklah...wahai sobat-sobatku...aku membawa khabar gembira, yaitu hasil-hasil pemikiran Pakar Pendidikan Bingung Utama yang menyatakan BAHWA METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH TERTINGGAL DIBANDING DENGAN TRIK BELAJAR DI LBB. Bacalah pengumumanku itu karena sudah aku muat diberbagai mas media termasuk internet, milinglis, dsb. Wahai semua guru dan sekolah-sekolah renungkanlah dalam-dalam TEMUAN AGUNG ini.

Guru Sadar Pembina:
Protes...wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..jangan asal bicara kamu itu. Aku memang tak begitu paham tentang hakekat metode pembelajaran itu. Tetapi aku tidak terima jika sekolah-sekolah disalahkan dan dibandingkan hanya sekali hanya dengan sebuah lembaga bimbingan belajar. Naif itu.

Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:

Hai..Guru Sadar Pembina..jangan sok berani engkau. Ketahuilah apa implikasi dari temuanku itu? Implikasinya adalah jika semua Pejabat Pendidikan Pusat sudah percaya omonganku, maka sekolahmu akan saya bubarkan. Ketahuilah tidak hanya itu, departemenmu yaitu Departemen Pendidikan Nasional juga harus diubah menjadi Departemen Bimbingan Belajar Nasional.

Guru Sadar Pembina, Guru Sadar Madya, dan Guru Sadar Muda:

Ohohoh..UN...UN? Demikianlah akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karena perilaku dirimu. Para Pakar Pendidikan telah engkau buwat bingung dan telah engkau butakan mata dan engkau tulikan telinganya. Mereka telah berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendirinya masing-masing. Ya Tuhan berilah pahala dan terimalah di sisimu UJian Nasional jika dia itu benar dan bermanfaat secara hakiki. Tetapi kutuklah dia dan masukkanlah ke neraka jika dia memang telah berlaku dholim di negeri ini. Dengarkanlah doa-doa orang lemah ini ya Tuhan. Amiin.

Yogyakarta, 2 Januari 2010

73 comments:

  1. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dilihat-lihat begitulah keadaaan yang ada pada pemegang kebijikan pendidikan di Indonesia. Karena dalam memutudkan kebijakan bukan mementingkan tentang kemajuan pendidikan namun ada kepentingan politik dialamnya. Hal itu pula yang menyebabkan samapi ke tangan para siswa. Meraka hanya mementingkan hasil UN, sehingga untuk mendapatkan nbilai yang baik meraka mengambu\il kursus yang ada di Bimbingan Belajar. Namun keadaan di Bimbingan belajar bukanlah yang terbaik, bukan mengajarkan logos namun hanya memikirkan kepraktisan, hanya menggunakan rumus-rumus yang telah mereka rancang dengan mudah diterapkan di UN.

    ReplyDelete
  2. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dilihat-lihat begitulah keadaan pemegang kebijakan di Bangda ini. Kebijakan yang dibuat oleh pemegang kebijakan tidak mementingkan kemajuan pendidikan namun lebih mementingkan kepentingan politik. Bigitulah keadaanya, sehingga menyebabkan peara siswa bepikir untuk mementingkan hasil UN bukan Ilmu yang didapatkannya. Menyebabkan banyaknya Bimbingan Belajar yang mengkhususkan pada UN atau Ujian-Ujian serupa. Memakai metodenya berupa rumus-rumus yang mudah dihapalkan dan diterapkan oleh siswa untuk mengerjakan soal-soal di Indonesia.

    ReplyDelete
  3. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Sangat mencengangkan memang jika melihat kenyataan yang ada, hakekat pendidikan sudah tidak ada lagi. Tujuan dari pendidikan yang diamanatkan undang-undang telah beralih. Dimana tujuan dari UN menjadi prioritas utama. Tujuan ujian nasional  adalah untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Namun, ujian nasional memiliki dampak yang besar bagi keadaan pendidikan di Indonesia. Pembelajaran di sekolah juga orientasinya hanyalah ujian nasional. Mungkin memang sudah benar-benar kacau keadaan pendidikan di negeri ini. Inilah yang perlu kita perjuangkan bersama, menjadikan pendidikan sebagai sebenar-benar pendidikan.

    ReplyDelete
  4. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah kompleks. Yang menjadi perhatian saya adalah pelaksanaan ujian nasional yang notabennya malah menjauhkan siswa dari sikap kreatif, mandiri, dan percaya diri. Pasalnya dengan adanya ujian nasional bukan melatih siswa untuk berpikir kreatif, inovatif, berkomunikasi dengan baik, dan percaya diri, namun pembelajaran di sekolah cenderung bertujuan untuk menyiapkan siswa dalam menghadapi ujian nasional.

    ReplyDelete
  5. Ika AGustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan pada dasarnya adalah melatih siswa pada hal-hal yang baru yang mampu melatih kemampuan berpikir dan bernalar. Pendidikan mampu dilaksanakan dimana saja, termasuk di lembaga belajar. Namun sangat disanyangkan, pelaksanaan pembelajaran di lembaga belajar bertolak belakang dengan pembelajaran di sekolah yang telah disusun dan dikaji sedemikian sehingga siswa mampu berpikir dan bernalar dengan baik. Lembaga belajar yang cenderung meberkan jalan pintas akan membuat siswa mudah menyerah dalam melakukan hal-hal kompleks.

    ReplyDelete
  6. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pembelajaran di bimbel menyediakan rumus cepat yang dapat membuat siswa merasa lebih cepat mengerjakan jika menggunakan rumus tersebut daripada menggunakan rumus dari sekolah biasa. tetapi biar bagaimanapun menggunakan rumus yang dari sekolah juga sama saja. sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara rumus bimbel maupun rumus dari sekolah.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Salah satu sistem yang paling berkembang adalah sistem bimbingan belajar atau privat. Bimbingan belajar merupakan salah satu alternatif bagi kebanyakan siswa untuk mempermantap materi yang mereka di dapatkan di sekolah. Di sisi lain bimbingan belajar juga mengajarkan siswa mengenai cara cepat untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Namun terkadang cara cepat yang diajarkan menyalahi konsep yang diberikan di sekolah. Meski pun demikian cara cepat ini tentunya juga mempunyai nilai positif, yaitu akan sangat berguna apabila siswa mengerjakan soal pilihan ganda yang dibatasi oleh waktu tertentu khususnya pada mata pelajaran matematika atau pelajaran lain yang membutuhkan perhitungan. Jadi oleh karena itu bimbingan belajar juga mempunyai peranan penting dalam penanam konsep bagi siswa.

    ReplyDelete
  8. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan “Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung”, saya mendapat pelajaran bahwa jika kita menjadi orang yang dipandang dan orang yang mempunyai kedudukan tinggi, kita tidak boleh bertindak dan berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan pendapat orang lain. Lebih baik dilakukan musyawarah mufakat untuk menentukan keputusan yang menyangkut kepentingan orang lain.

    ReplyDelete
  9. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengenai sekolah dan LBB, menurut saya sekolah itu penting. Ada beberapa yang kita dapatkan di sekolah namun tidak kita dapatkan di LBB. Di LBB, waktu mengajar terbatas dan biaya yang dibbutuhkan tidaklah murah. Di sekolah kita diajarkan untuk menemukan konsep, sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar. Peserta didik di sekolah juga diajarkan pelajaran moral, sosial dan spiritual.

    ReplyDelete
  10. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi tersebut dijelaskan tentang pendidikan nonformal dan formal. Dengan kata lain dapat disimpulkan dalam pendidikan formal dengan susah payah mengajar agar mendapat nilai bagus saat ujian, tetapi dengan mudah dari pendidikan nonformal mengajarkan trik trik cara cepatnya. Menurut sebagai calon pendidik maupun pendidik jangan sampai menanamkan pada siswa bahwa pendidikan semata-mata bukan hanya untuk mengejar nilai saja.

    ReplyDelete
  11. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendidikan adalah salah satu hal menentukan maju tidaknya suatu negara. Begitu pentingnya pendidikan yang kemudian sudah seharusnya menjadi topik penting di negara ini. Akan tetapi, krisis pendidikan sedang dialami di negeri ini, dimana Pendidikan tidak lagi dilaksanakan berdasarkan tujuan awal berdasarkan hakekatnya. Pendidikan kini telah keluar dari tujuannya,pendidikan telah di manfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi. Kini pendidikan dimanfaatkan menjadi sarana penyebarluasaan rasis, di manfaatkan untuk alasan-alasan yang kadang membuat kita berpikir mengapa harus melalui pendidikan, bahkan untuk kepentingan bisnis. Hal ini benar-benar mencoreng nama pendidikan yang seharusnya memiliki tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa.
    Untuk itu, mari sebagai generasi muda untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini.

    ReplyDelete
  12. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan di Indonesia memang masih membingungkan. Tujuan pendidikan yang belum jelas kemana arahnya seshingga siswa pun ikut bingung. Tujuan pendidikan seharusnya menjadikan pendidikan sebuah wadah untuk siswa membangun ilmu pengetahuannya secara mandiri. Namun adanya ujian nasional menyebabkan siswa merasa perlu mendapatkan cara cepat agar mampu lulus ujian nasional dengan baik. Salah satunya dengan bimbingan belajar.

    ReplyDelete
  13. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan pendidikan di sekolah dan di bimbingan belajar adalah saat siswa di sekolah, mereka membangun pengetahuannya sendiri, tidak hanya pengetahuan, dan keterampilan, namun juga sikap dan moral yang dibangun di sekolah. Sedangkan saat di bimbel, siswa hanya diajarkan untuk mengerjakan soal-soal yang nantinya dapat digunakan saat mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  14. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Elegi di atas menggambarkan potret pendidikan negeri ini yang telah “dipimpin” oleh para pakar yang bingung. Dan saya mengasumsikan tidak semua pakar yang terlibat di dalam “lingkaran” tersebut dalam keadaan bingung. Mereka ada yang sadar namun tetap saja tidak bisa merubah keadaan karena terbatasnya kekuatan untuk merubahnya. Itulah akibat dari Powernow, semakin hari semakin banyak hal-hal yang dirubah olehnya demi kepentingan segelintir orang saja.

    ReplyDelete
  15. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Penyelengaraan ujian nasional di Indonesia ialah salah sebab timbulnya kebingungan, baik bagi kita maupun pakar pendidikan. Hal ini dapat disebbakan oleh bagaimana pembelajaran di sekolah berbeda dengan bagaimana yang diajarkan pada tempat bimbingan belajar. Pembelajaran di sekolah nampak lebih tertinggal dibandingkna di tempat bimbingan. Di tempat bimbingan akan diberikan berbagai trik ringkas, cepat, dan efisien dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  16. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Belajar hanya berorientasi mengejar predikat lulus dan nilai baik agar dapat diterima di sekolah favorit. Semoga pemerintah kita melalui para pakarnya dapat menetapkan kebijakan yang tepat dan terbaik bagi semuanya. Sehingga adanya UN nasional ini tidak menjadi suatu kebingungan kembali.

    ReplyDelete
  17. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan bahwa pembelajaran Bimbel itu lebih efektif disbanding di sekolah. Apabila dilihat dari sudut pandang UN memang betul, namun tujuan dari didirikannya sebuah sekolah adalah tempat untuk belajar, belajar untuk pembentukan karakter, kepribadian, dan kecerdasan. Bimbel memang menghasilkan siswa-siswi yang memiliki nilai UN tinggi, namun disana tidak diajarkan akhlak, budi pekerti, sopan santun, dan nilai nilai kemanusiaan yang lain. Sehingga pendidikan disekolah adalah yang utama, bimbel hanya sebagi tambahan untuk meningkatkan kemampuan akademis.

    ReplyDelete
  18. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Saat ini banyak siswa yang mengikuti pembelajaran di lembaga bimbingan belajar. Hal ini tidak terlepas dari adanya pelaksanaan UN sebagai tolak ukur kualitas pendidikan di negeri ini. Soal-soal UN yang berbentk pilihan ganda merupakan suatu tuntutan yang dapat dipenuhi lembaga bimbingan belajar yang memberikan trik cepat dalam menyelesaikan soal. Sedangkan materi yang diberikan di lembaga sekolah yang begitu banyak dan panjang lebar tidaklah relevan dengan UN yang hanya berupa pilihan ganda. Rumitnya materi yang diajarkan di sekolah sedangkan siswa hanya dituntut menyelesaikan soal pilihan ganda menjadikan mereka lebih menyukai trik cepat yang diajarkan di lembaga bimbingan belajar. Sedangkan sebenarnya metode yang diajarkan di lembaga sekolah dan lembaga bimbingan belajar sama pentingnya tergantung ruang dan waktu. Penting bagi siswa untuk memahami konsep-konsep dasar yang diajarkan di sekolah dan setelah memahami konsep-konsep dasarnya, siswa juga perlu untuk belajar trik cepat menyelesaikan suatu soal.

    ReplyDelete
  19. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Ujian Nasional dapat dikatakan sukses dalam membangun pengetahuan siswa untuk belajar secara instan, tanpa mengetahui apakah sudah memahami konsepnya atau belum. Hal ini biasa terjadi di suatu Lembaga Bimbingan Belajar yang dekat dengan kehidupan sekolah siswa. Menurut hemat saya, keberadaan LBB ini bisa menjadikan siswa lebih pandai, tetapi dapat pula menjadikan siswa hanya faham sesaat. Sebagai contohnya, disuatu LBB tertentu, akan diberikan suatu rumus maupun trik dan tips instan dalam menjawab soal. Hal ini memang diperlukan bagi siswa untuk membantu mempersingkat waktu ketika menjawab soal. Biasanya trik ini dilakukan ketika UN. Akan tetapi hal ini tidak sejalan jika siswa belum faham betul bagaimana konsep sebenarnya. Oleh karena itu, polemik adanya LBB dan UN masih terus menjadi bahan pembicaraan menarik di kalangan pendidik.

    ReplyDelete
  20. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung”, saya mendapat pelajaran bahwa jika kita menjadi orang yang dipandang, orang yang mempunyai kedudukan tinggi, jangan bertindak dan berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan pendapat orang lain. Sebaiknya dilakukan musyawarah mufakat.
    Selain itu, mengenai sekolah dan LBB, menurut saya sekolah itu penting, apa yang kita dapatkan di sekolah, kita tidak mendapatkannya di LBB. Di LBB terbatasnya waktu mengajar dan biaya yang tidaklah murah. Di sekolah kita diajarkan untuk menemukan konsep, sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar. Peserta didik di sekolah juga diajarkan pelajaran moral, sosial dan spiritual.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Ikut dibikinnya bingung. Benar juga ya. Saat ini masih riuh orang membicarakan betapa jitunya trik-trik belajar di lembaga bimbingan belajar. Betapa karena hal ini mereka sedikit menganggap enteng pembelajaran di sekolah. Toh kalau di sekolah tidak paham bisa dipahamkan di lembaga bimbingan belajar dengan cara yang lebih praktis.

    Menurut saya, kasus atau fenomena ini berkaitan dengan betapa kebijakan pendidikandi Indonesia tidak berjejaring sistemik. Salah satunya seperti kasus yang dimunculkan dalam elegi ini, yaitu UN. Mata pelajaran thirik-thirik uakehe polll. Tapi UN cuman itu aja. Lah kepie?
    Ini lah pertanyaan saya

    ReplyDelete
  22. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebuah bahasan yang menarik kebijakan pemerintah mengenai Ujian Nasional yang digunakan sebagai salah satu syarat kelulusan utama di jenjang pendidikan Indonesia. Fenomena tahunan yang menarik, antara proyek, kurikulum, tuntutan zaman atau apapun itulah. Yang jelas karena UN, Bimbel mendapatkan banyak rezeki, siswa jadi rajin solat Tahajud, sekolah jadi mengadaka kelas tambahan, mata pelajaran yang lain terabaikan, murid banyak yang stres karena terbebani materi yang sangat banyak. Entahlah, saya pikir kalau tidak merubah orang-orang atau pemikiran pengambil kebijakan fenomena ini akan tetap berlanjut.

    ReplyDelete
  23. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    UN memberikan dampak yang luas bagi pendidikan. Kebanyakan masyarakatpun menjadi lebih mempercayai LBB dalam proses belajar dibandingkan dengan proses belajar di sekolah. Mereka beranggapan bahwa LBB lebih berhasil dalam membuat siswa memperoleh hasil yang tinggi pada UN. Proses belajar yang ditawarkan di LBB biasanya merupakan cara-cara yang instan sehingga tampak lebih mudah dan lebih efisien. Padahal cara-cara tersebut tidak mampu memberdayakan potensi siswa. Selain itu, cara-cara tersebut juga tidak mampu membangun pemahaman konsep pada siswa sehingga siswa akan kesulitan dalam belajar materi yang selanjutnya. Yang lebih parah lagi ialah jika para pakar pendidikan dan para pendidik lebih mempercayai cara-cara yang ditawarkan oleh LBB tersebut hingga mempengaruhi kebijakan pendidikan. Tentu hal ini akan sangat berbahaya bagi pendidikan kita.

    ReplyDelete
  24. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Inilah yang terjadi apabila Ujian Nasional dijadikan acuan lulus atau tidaknya siswa. Orang-orang akan lebih memilih untuk mengikuti metode-metode pembelajaran di LBB karena merasa bahwa cara yang ditawarkan lebih efisien dibandingkan pengajaran di sekolah. Di LBB, mereka diajarkan tips dan trik untuk cepat menyelesaikan soal, sehingga mereka akan lebih mementingkan hasil dibandingkan proses. Hal ini akan terlihat saat mereka mengerjakan soal yang modelnya sama, maka mereka dapat lebih mudah menyelesaikannya. Akan tetapi, ketika diberikan soal yang berebeda modelnya namun memiliki konsep yang sama, mereka pasti akan kebingungan. Agar lebih bermakna, sebaiknya dalam pembelajaran kita tidak hanya menilai hasil akhirnya saja, kita perlu melihat prosesnya juga untuk mempersiapkan siswa/i di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Persaingan akibat tuntutan zaman melahirkan disharmoni kehidupan di segala aspek. Banyak posisi yang ditempati oleh orang-orang yang berkuasa namun tidak kompeten di bidangnya akibatnya banyak hal penting terabaikan dan orang lain tersalahkan demi kepentingan sendiri. Salah satu disharmoni yang paling berpengaruh terhadap peradaban adalah para ilmuan dengan pemahaman yang membingungkan. Ilmu adalah jihad maka hendaklah yang disampaikan itu adalah kebenaran dan ingatlah bahwa segala kebenaran dan kesalahan akan minta pertanggung jawabnya.

    ReplyDelete
  26. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Guru, apapun status pendidikannya (lulusan SD, SMP, SMA, S1, S2), adalah pelaku pendidikan yang paling mengerti keadaan pendidikan pada praktiknya di lapangan melebihi para pakar pendidikan. Mengapa? Karena guru berada di kelas setiap hari bersama para peserta didik. Guru mengenal betul kondisi peserta didik berikut dengan masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Tetapi, kebanyakan guru tidak dilibatkan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan pendidikan. Banyak pakar pendidikan (atau orang yang menyebut dirinya pakar) yang sebenarnya tidak terlalu mengetahui kondisi pendidikan di lapangan yang justru dilibatkan dalam pengambilan keputusan pendidikan dan ujung-ujungnya hanya mengambil keputusan berdasarkan keinginan pihak tertentu yang bahkan tak punya kepentingan di bidang pendidikan. Contohnya Ujian Nasional. Berapa lama lagi guru-guru harus terus memperdebatkan, membahas ulang dan menevaluasi apakah Ujian Nasional efektif untuk mengukur kemampuan siswa? Memang banyak pro dan kontra mengenai diadakannya Ujian Nasional, dan perubahan cara pengadaan Ujian Nasional menjadi Computer Based memang salah satu cara pemerintah mencoba proses "trial and error" dalam pengambilan keputusan kedepannya. Tetapi, hal ini kurang dipikirkan pelaksanaannya di lapangan sehingga banyak siswa yang bahkan semakin kesulitan dalam mengerjakan Ujian.
    Ketika sekolah tidak mencapai target yang ditentukan dari kebijakan yang sudah ditetapkan para pakar pendidikan, maka gurulah yang dituntut bersalah dan dianggap telah melalaikan tugas sebagai pendidik. Ketika guru dinilai lalai mendidik, maka LBB menjadi pelarian para siswa atau orang tua siswa yang memiliki ambisi tinggi. LBB dianggap lebih penting karena standar pendidikan yang telah ditetapkan oleh para pakar adalah lulus Ujian Nasional. Jadi apakah LBB lebih penting daripada sekolah?

    Ini menjadi keprihatinan kita bersama, bagaimana tujuan pendidikan telah bergeser dari pengembangan cara pandang, kepribadian, akhlak, dan keterampilan siswa menjadi hanya berpusat pada soal kelulusan Ujian Nasional. Perlu menjadi refleksi bersama, apakah peserta didik bersekolah hanya untuk mendapat nilai UN yang baik ataukah mengembangkan dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

    ReplyDelete
  27. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Elegi ini sangat menarik, yaitu menonton pakar pendidikan bingung. Saat ini, kondisi pendidikan bisa dibilang tidak sesuia dengan penerapannya. Banyak pakar dengan segudang penelitiannya mengenai pendidikan padahal mereka tidak atau belum tau kondisi riil nya pelaksanaan pendidikan tersebut, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara pendapat pakar pendidikan dengan kondisi pendidikan yang ada. Contohnya pelaksanaan kurikulum 2013, para pakar telah menyusun begitu rapinya proses K13, namun tidak melihat kesiapan guru, siswa, dan kondisi sekolah.

    ReplyDelete
  28. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih bapak atas postingannya. Postingan kali ini mengenai Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung.
    Pada elegi ini, menceritakan keadaan pendidikan di negara kita khususnya. Dengan keberadaan UN, membuat momok untuk murid dan guru sebagai pakar pendidikan. Sehingga guru menjadi klabakan, dengan metode pembelajaran disekolah, namun prosesnya pun tidak menjadi hal penting lagi.
    Dengan adanya UN juga, membuat murid menjadi panik, sehingga banyak siswa yang mengikuti LBB. Yang anehnya, ketika siswa dinyatakan lulus, kenapa yang menjadi pertanyaan adalah "Kamu les dimana?", bukan "Siapa gurumu di sekolah?". Tapi jika ada siswa yang dinyatakan tidak lulus, pertanyaan yang ada malah "Siapa gurumu di sekolah?". Ini yang menjadikan pakar pendidikan menjadi bingung. Ketika siswa dinyatakan lulus, tempat bimbel yang menjadi kebanggan. Sedangkan ketika siswa dinyatakan tidak lulus, guru dan nama sekolah yang dijelekkan.

    ReplyDelete
  29. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Menurut pendapat saya elegi ini berisikan kritikan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang menginginkan pendidikan yang merata dari setiap daerah dari sabang sampai merauke, dari kota sampai ke pelosok perbatasan daerah. Niat meratakan pendidikan itu sangatlah baik artinya keinginan untuk bersikap adil itu telah ada memang dari atas. Namun yang merasa kebingung tidak hanya pakar pendidikan namun semua orang yang berhubungan dengan pendidikan. Setiap jenjang pendidikan sekolah yang ada di Indonesia tidak hanya melalui satu proses dan dapat menyelesaikan sekolah. Namun selama berada dalam jenjang sekolah banyak proses yang dilakukan untuk membentuk pengetahuan seorang siswa. Namun, dengan proses yang panjang tersebut keberhasilan siswa hanya diukur dalam beberapa hari saja dengan melupakan proses panjang yang telah dilalui tersebut. Tolak ukur hasil proses kegiatan belajar tersebut disebut dengan UN. UN sendiri bertujuan untuk menyama ratakan kompetensi siswa dari setiap daerah di Indonesia. Namun dengan diberlakukannya UN tersebut maka siswa mengalami kebingan dan kecemasan karena proses belajar di sekolah yang lama itu hanya ditentukan dalam beberapa hari. Karena tuntutan materi yang banyak dan dalam waktu yang singkat siswa harus memahami semua materi pelajaran yang diajarkan selama tiga samapai enam tahun hanya dalam kurun waktu yang relatif sebentar, sehingga siswa lebih memilih untuk masuk ke lembaga bimbingan belajar yang menerapkan jalan cepat dalam menyelesaikan soal tanpa melihat dan menelaah proses yang harus dilakukan untuk menjawab suatu pertanyaan.

    ReplyDelete
  30. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi ini menyiratkan banyaknya pertentangan pada pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian yang selalu diadakan setiap tahunnya, dimana para siswa dipush sedemikian hingga untuk belajar agar bisa menyelesaikan UN dengan sebaik-baiknya. Walaupun dalam beberapa tahun ini Un tidak menjadi harga mati penentu kelulusan, namun selalu menimbulkan polemik baik dikalanan atas atupun sampai dikalangan siswa. Para siswa yang dipacu untuk bisa membawa nama baik sekolah, para guru yang selalu dituntut untuk menyiapkan anak-anak murid kelas akhir agar dapat melalui UN dengan hasil memuaskan, agar bisa membawa nama sekolahan lebih baik, orang tua yang menginginkan anaknya untuk meraih yang terbaik sehingga terkadang menyudutkan anaknya untuk mengikuti Bimbel ataupun les tambahan yang menguras waktu dan pemikiran anak dan menguras keuangan orang tua Semoga ke depannya kebijakan akan berpihak kepda orang-orang yang mau berusaha sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  31. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Ujian Nasional adalah salah satu kebijakan pemerintah untuk melihat sejauh mana kompetensi lulusan di setiap sekolah. Kebijakan yang diambil pemerintah harus serta merta dilaksanakan oleh pelaksana, terutaa kami para guru. Namun terkadang yang menjadi pertanyaan, apakah kebijakan itu juga sudah memepertimbangan kami sebagai pelaksana kebijakan. Semoga ke depannya segala bentuk kebijakan bisa lebih melihat dampak dari pelaksanaan kebijakan tersebut.

    ReplyDelete
  32. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    menurut saya, metode pembelajaran di sekolah ataupun di lembaga bimbingan belajar sebenarnya salign berkaitan, saling berhubungan, saling menguatkan. jika siswa telah berusaha di sekolalh dan masi ada yang belum dipahaminya, maka karena keterbatasan waktu, mereka memanfaatkan belajar di LBB. begitu juga dengan metode belajar di LBB, kebanyakan dari mereka hanyamemberikan langkah cepat yang disukai siswa, walaupun tidak semuanya seperti itu. tapi langkah cepat tidak akan efektif jika siswa belum mendapatkan konsep awal yang diajarkan di sekolah. salah satu pandangan yang harus diubah yaitu bahwa siswa hanya mau mepelajari yang keluar di UN. padahal ilmu itu luas, jika dipelajari akan ada manfaatnya dan tidak sia-sia walaupun tidak keluar di UN.

    ReplyDelete
  33. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pakar Pendidikan Bingung karena memikirkan bagaimana seharusnya pendidikan Indonesia di bangun. Jika dilihat-lihat menjamurkan bimbingan belajar saat ini dikarenakan tuntutan KKM yang tinggi di sekolah namun pelayanan dan fasilitas pendidikan yang kurang memadahi oleh karenanya BIMBEL hadir sebagai salah satu solusi. Mengubah system pendidikan memang buka perkara yang mudah seperti membalikkan tangan’, namun perlahan dikomunikasikan dari berbagai aspek pendidikan agar pelayanan pendidikan bagi siswa terlayani dnegan baik, gar belajar tidak hanya transfer ilmu, namun lebih dari itu pendidikan jua merupakan pengolahan akhlak. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  34. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Jika melihat lebih dalam, permasalahan pendidikan tiada habis-habisnya. Lingkup pendidikan yang dijadikan sebagai pemanfaatan bagi pihak lainnya. Layaknya juga dengan ujian nasional yang ditetapkan sebagai hasil kelulusan bagi siswa. Pakar pendidikan yang mengalami kebingungan, sebenarnya apakah tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan itu sendiri? Sampai kapan kami terombang-ambing yang disebabkan karena kebingunganmu? Sudilah kiranya engkau berbesar hati untuk melihat pendapat dan masukan dari para ahli yang sudah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Jika perlu engkau mengajak mereka berdiskusi untuk mencapai solusi terbaik akan permasalahan yang sedang dihadapi.

    ReplyDelete
  35. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Begitulah kalau belajar di sekolah orientasinya hanya pada nilai (skor) ujian. Sekolah bukan lagi sebagai tempat menimba ilmu, melainkan tempat untuk mengejar nilai UN. Wajar saja kalau guru di sekolah lebih “dicuekin” ketimbang guru di bimbingan belajar. Bimbingan belajar menyediakan bank soal yang lebih lengkap dari pada di sekolah, bimbingan belajar menyediakan trik-trik cepat dalam mengerjakan soal UN Matematika, bimbingan belajar menyediakan tentor-tentor muda yang lebih menarik dan menyenangkan, bimbingan belajar menyediakan tryout-tryout UN, hasil nilai, bahkan sampai detail pembahasannya. Kalau tujuannya hanya mengejar UN, sekolah-sekolah lebih baik ditutup saja, karena memang lembaga bimbingan belajar lebih berperan aktif dari pada sekolah. Belum lagi, Sang penerima nilai UN terbaik biasanya mendapat hadiah bahkan sampai dimuat di berbagai media massa. Kalau nilai UN nya jelek, siswa akan malu dan susah untuk mencari sekolah pada jenjang berikutnya. Hal ini semakin membuat siswa menjadi pragmatis, sampai-sampai menghalalkan segala cara untuk mendapat nilai UN yang tinggi.

    ReplyDelete
  36. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita disadarkan satu ironi lagi yaitu berkaitan dengan pendidikan di sekolah dan di lembaga bimbingan belajar. pada awalnya saya juga telah menebak atau memiliki hipotesis awal. Mengapa anak-anak sekarang semua ingin masuk ke lembaga bimbingan belajar. hipotesis pun bermunculan mungkin saja memang pembelajaran di sekolah yang kurang menarik dan di lembaga belajar lebih menarik. Disini kita disadarkan bersama bahwa pendidikan di sekolah haruslah melakukan inovasi-inovasi pendidikan sehingga pendidikan tidak Dibanding-bandingkan dengan lembaga bimbingan belajar. karena sesungguhnya masing memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing.

    ReplyDelete
  37. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Solusi yang bisa dilakukan yaitu solusi yang menyeluruh. Mulai dari sistem pendidikan nasional, Ujian nasional, profesi pendidik, hingga model pembelajaran dan media yang digunakan. Karena inilah maka kita diharapkan terus menerus melakukan perubahan agar pendidikan di Indonesia tidak mengalami kesenjangan. Pelaksanaan evaluasi UN yang kerap kali di jadikan tujuan adalah sesuatu yang perlu diluruskan. Karena hakikat pendidikan adalah memaksimalkan potensi pendidik bukan hanya semata-mata menggapai nilai yang tinggi di UN.

    ReplyDelete
  38. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Kebingungan sudah ada dimana-mana. Kebingungan dalam bidang pendidikan pun dirasakan oleh para pemegang kekuasaan. Bingung menentukan kebijakan. Bingung akan semua yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Saling menyalahkan juga terjadi. Ternyata kebingungan itu adalah dampak dari UN, segala kegiatan saling salah menyalahkan saling merasa benar sendiri itu adalah dampak dari UN. Semua yang menjadi korban adalah siswa. Padahal siswa adalah generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa ini. Semoga semua pihak yang terlibat dapat segera memperoleh jalan terbaik demi memajukan pendidikan bangsa ini.

    ReplyDelete
  39. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang sangat bermanfaat di atas. Iya, itulah akibat dan dampak adanya kebijakan UN. Sekolah menjadi tidak penting karena yang di ajarkan bukan tentang UN, bukan untuk lulus UN. Sebagian besar orang tua kaman sekarang sudah sadar akan pentingnya bimbel disamping sekolah. Sehingga para guru pun menjadi dilema apakah yang harus diajarkan disekolah sesuatu yang praktis-praktis saja atau lebih. Namun jeleknya, siswa menjadi lebih tertutup karena ilmu yang di dapat disana adalah ilmu instan, formula dan rumus-rumus cepat sehingga siswa terpatok dan terpaku pada satu strategi pemecahan masalah saja. Andai UN tidak ada, siswa menjadi tidak tertuntut akan hal itu, dan mungkin siswa lebih leluasa dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi sehari-hari. Sehingga inilah yang mmembuat kualitas pendidikan tidak berkembang dengan baik, semakin siswa terkekang dengan UN, semakin ia sulit untuk kreatif, aktif, dan inovatif. Semoga di masa mendatang akan ada kebijakan lain terbaru yang dapat menjadi jalan keluar ini semua. amin, Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  40. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Bukanlah hal yang tidak lazim bahwa siswa menyukai yang instant-instant karena lingkungan merekapun sekarang serba instant, mulai dari makanan instant, minuman instant, bahkan untuk berkomunikasi dengan orang lain tidak perlu datang ke kantor pos yaitu secara instant dapat menggunakan internet. Hal yang telah menjadi kebiasaan baru untuk mendapatkan sesuatu dengan instant inilah yang menyebabkan cara berpikir siswa yang ingin instant, saya sering menjumpai siswa yang tidak ingin mengetahui cara memperoleh rumusnya dia hanya ingin mengetahui rumus jadinya dan contoh penggunaanya. Hal yang lebih parah lagi adalah ingin mengetahui cara instant mengerjakan soal menggunakan rumus yang instant atau rumus cepat.

    ReplyDelete
  41. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Berbicara tentang UN pasti terdapat pro dan kontra yang mengikuti. Menurut saya, UN adalah hal yang perlu sebagai evaluasi belajar siswa, namun penyelenggaraannya mungkin masih perlu dibenahi pada beberapa hal. Fenomena larisnya LBB karena trik-trik yang mereka berikan supaya lulus UN menunjukkan bahwa orientasi masyarakat tentang pendidikan saat ini adalah untuk fokus lulus UN. Padahal, tentu saja anak tidak dapat langsung diberikan trik-trik ujian supaya mendapatkan nilai yang memuaskan. Tentunya diperlukan pengalaman belajar yang bermakna, tidak hanya menghafal trik-trik saja tanpa tahu darimana asal trik-trik tersebut. Seharusnya, siswa dapat mengerjakan soal UN tanpa trik-trik cepat tersebut, jika memang proses pendidikan di sekolah itu disebut sukses. Jika ternyata hanya dengan melalui proses belajar di sekolah siswa belum/ tidak lulus ujian, maka dapat disimpulkan bahwa proses belajarnya gagal, atau mungkin proprorsi soal yang ada pada UN belum sesuai dengan proses belajar siswa. Menanggapi hal ini, mungkin pendidikan di Indonesia sekarang ini perlu dibenahi. Pihak-pihak yang berwenang perlu berkumpul untuk memecahkan masalah ini dengan jujur, objektif, factual dan ikhlas secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  42. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Berbicara tentang UN pasti terdapat pro dan kontra yang mengikuti. Menurut saya, UN adalah hal yang perlu sebagai evaluasi belajar siswa, namun penyelenggaraannya mungkin masih perlu dibenahi pada beberapa hal. Fenomena larisnya LBB karena trik-trik yang mereka berikan supaya lulus UN menunjukkan bahwa orientasi masyarakat tentang pendidikan saat ini adalah untuk fokus lulus UN. Padahal, tentu saja anak tidak dapat langsung diberikan trik-trik ujian supaya mendapatkan nilai yang memuaskan. Tentunya diperlukan pengalaman belajar yang bermakna, tidak hanya menghafal trik-trik saja tanpa tahu darimana asal trik-trik tersebut. Seharusnya, siswa dapat mengerjakan soal UN tanpa trik-trik cepat tersebut, jika memang proses pendidikan di sekolah itu disebut sukses. Jika ternyata hanya dengan melalui proses belajar di sekolah siswa belum/ tidak lulus ujian, maka dapat disimpulkan bahwa proses belajarnya gagal, atau mungkin proprorsi soal yang ada pada UN belum sesuai dengan proses belajar siswa. Menanggapi hal ini, mungkin pendidikan di Indonesia sekarang ini perlu dibenahi. Pihak-pihak yang berwenang perlu berkumpul untuk memecahkan masalah ini dengan jujur, objektif, factual dan ikhlas secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  43. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Metode pembelajaran di sekolah dan di bimbel sangatlah bertolak belakang. Menurut hemat saya, metode yang digunakan di bimbel menggunakan metode yang instan dan paktis karena sebagian besar di bimbel itu hanya mengulang materi yang sudah diajarkan di sekolah, jadi ketika di sekolah siswa mengalami kebingungan, di bimbel siswa bisa memperdalam lagi dengan berbagai metode praktis. Jika di sekolah, siswa harus melalui proses pembelajaran itu perlahan, karena yang diharapkan bukan hanya hasil akhir, melainkan sikap, ketekunan, kedisiplinan, keaktifan, ketaqwaan, dll. Yah meskipun tidak dipungkiri jika ujung-ujungnya sekolah juga mengharapkan berhasilnya UN dengan hanya melihat hasil akhir dan tidak melihat bagaimana proses pembelajaran selama bertahun-tahun. Tetapi, meskipun begitu, proses yang sudah dibangun di sekolah sangat bermanfaat untuk pembentukan karakter siswa dalam menghadapi kehidupan di luar sekolah nanti.

    ReplyDelete
  44. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari elegi menonton pakar pendidikan bingung ini saya dapat menceritakan bahwa sistem pendidikan saat ini sedang mengagung-agungkan UN yang harus menjadi tujuan utama baik disekolah maupun di lembaga bimbinga belajar. Jika berpatokan pada hal ini, sekolah yang sifatnya tidak hanya mengejar target agar siswa paham akan materi juga membentuk karakter siswa tidak bisa seperti bimbel yang menerapkan metode trik cepat untuk mengerjakan soal-soal. Karena memang pda dasarnya adalah kedua lembaga tersebut saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Sehingga seharunsya mereka saling bersinergi untuk memajukan pendidikan Indonesia.

    ReplyDelete
  45. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Di setiap negara, pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting perlu diperhatikan. Dengan pendidikan akan menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter. Generasi itulah yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat ini. Sehingga tentu saja dalam perkembangannya yang diinginkan adalah pendidikan yang terbaik. Pada elegi ini menggambarkan bahwa sekarang ini banyak sekolah yang hanya memperhatikan nilai akhir pada ujian nasional saja tanpa memperhatikan metode pembelajaran yang sesuai. Contohnya saja pada pembelajaran matematika, untuk memenuhi target nilai ujian nasional tidak sedikit guru yang menggunakan model hafalan, trik atau cara cepat, tanpa mengajarkan konsep suatu materi. Padahal pembelajaran matematika yang baik adalah pembelajaran yang mengajarkan konsep dengan benar sehingga nantinya siswa dapat membangun dan mengembangkan pengetahuannya sendiri, tidak hanya sekedar hafalan atau cara cepat saja.

    ReplyDelete
  46. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Sangat disayangkan apabila sekolah hanya menjadi UN oriented. Padahal di sekolah siswa seharusnya tidak hanya belajar menyelesaikan soal-soal UN saja. Di sekolah siswa juga perlu dibekali dengan akhlak, karakter, softskill dan budi pekerti yang kelak dibutuhkan dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Karena apabila siswa hanya dibekali cara cepat menyelesaikan soal UN, maka keterampilan yang lain yang sebenarnya diperlukan malah terabaikan.

    ReplyDelete
  47. Muh Wildanul Firdaus
    17709251057
    Pendidikan Matematika S2 Kelas C

    Sangat disayangkan apabila sekolah hanya menjadi UN oriented. Padahal di sekolah siswa seharusnya tidak hanya belajar menyelesaikan soal-soal UN saja. Di sekolah siswa juga perlu dibekali dengan akhlak, karakter, softskill dan budi pekerti yang kelak dibutuhkan dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Karena apabila siswa hanya dibekali cara cepat menyelesaikan soal UN, maka keterampilan yang lain yang sebenarnya diperlukan malah terabaikan.

    ReplyDelete
  48. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Memang sedih rasanya melihat fakta di lapangan bahwa anak-anak lebih senang belajar di lembaga bimbingan belajar yang hanya mengajarkan trik-trik atau cara cepat mengerjakan soal dibandingkan dengan belajar di sekolah. Saat dulu saya masih menjadi siswa, jujur saya juga senang ketika diajari trik-trik cepat menyelesaikan soal. Namun, setelah kini menempuh kuliah, ternyata pemahaman konseplah yang sangat penting. Dengan memahami konsep ilmu secara benar, maka kita akan lebih mudah dalam menyelesaikan persoalan. Cara-cara cepat yang diajarkan di lembaga bimbingan belajar tanpa menjelaskan konsep awalnya dapat menyebabkan siswa kehilangan kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Ia menjadi robot penghafal rumus saja. Selain itu hal tersebut juga bisa berdampak buruk bagi perkembangan kepribadiannya. Siswa menjadi senang dengan hal-hal yang cepat saji, instan. Sehingga dikhawatirkan ia tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah, daya juang rendah, sehingga memungkinkan terjadinya suka berbuat curang, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.

    ReplyDelete
  49. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Memang, ada yang berubah dengan fenomena pendidikan yang terjadi setelah di adakannya UN. Siswa – siswa mau tidak mau menjadikan UN sebagai tujuan dari belajar. Yang penting lulus. Lainnya dikesampingkan. Siswa sekarang lebih menyukai hal – hal yang bersifat instan. Oleh karena itu hal ini menjadi tantangan sendiri bagi guru ketika ingin menerapkan pembelajaran di kelas. Siswa cenderung tidak sabaran apabila dilakukan metode pembelajaran penemuan terbimbing

    ReplyDelete
  50. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Adanya UN memberikan banyak dampak, salah satunya banyaknya Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Rumitnya materi yang diajarkan di sekolah sedangkan siswa hanya dituntut menyelesaikan soal pilihan ganda menjadikan mereka lebih menyukai trik cepat yang diajarkan di LBB. Sedangkan sebenarnya metode yang diajarkan di lembaga sekolah dan LBB sama pentingnya tergantung ruang dan waktu. Menurut saya alangkah lebih baik jika siswa memahami materi dasar, konsep dasarnya terlebih dahulu yang diajarkan di lembaga sekolah untuk kemudian tahu trik cepat menyelesaikan suatu soal dengan dasar- dasarnya. Maka menjadi tugas guru agar konsep dan materi dasar matematika tidaklah menjadi sesuatu yang tidak menarik.

    ReplyDelete
  51. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Pendidikan merupakan hal penting untuk memajukan suatu negara. Dikarenakan pentingnya pendidikan, maka banyak sekali orang yang berniat mendalami maslah pendidikan. Orang berlomba-lomba menjadi pakar pendidikan. dengan benyaknya pakar pendidikan tidak semua satu pemikiran dan tidak semua benar-benar memahami masalah pendidikan. hendaknya selalu berhati-hati jika mengutip pemikiran pakar pendidikan maupun meminta pendapat pakar pendidikan.

    ReplyDelete
  52. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Elegi ini menggambarkan betapa ketika orang yang bukan ahlinya berbicara maka yang keluar adalah hal-hal yang justru dapat merusak. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad bahwa “jika suatu urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. Kalimat ini begitu seram. Bayangkan saja, jika pendidikan kita saat ini dikendalikan oleh orang-orang yang tidak paham, yang bukan ahli, maka kita tidak bisa membayangkan apa jadinya generasi muda kita sekarang. Dan lebih lanjut, bagaimana dengan nasib negara ini ke depan, dimana kaum muda adalah cerminan masa depan negara.

    ReplyDelete
  53. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Tujuan ujian nasional adalah untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Namun, ujian nasional memiliki dampak yang besar bagi keadaan pendidikan di Indonesia. Pembelajaran di sekolah juga orientasinya hanyalah ujian nasional. Dengan adanya ujian nasional, lembaga bimbingan belajar menjadi tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Ironisnya, banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke sana. Ini merupakan suatu gejala orang tua kurang mempercayai sekolah dalam mempersiapkan siswa-siswanya untuk menghadapi ujian nasional. Di lembaga bimbingan belajar, biasanya siswa diberikan trik-trik dalam mengerjakan soal. Lembaga bimbingan belajar lebih mementingkan keberhasilan siswa dalam ujian nasional daripada siswa memahami ilmu yang dipelajarinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai seorang yang pernah menjadi siswa, saya merasakan bagaimana trik-trik jitu bimbingan belajar mampu mengatasi soal-soal dengan singkat dan terlihat mudah, namun yang terasa saat itu adalah lebih pada menghafal rumus dan bukan mempelajari dari mana rumus itu didapat. Jika seperti itu, maka dampaknya rumus-rumus itu tidak bertahan lama dalam ingatan siswa dan hanya berupa angka-angka saja tanpa makna.

      Delete
  54. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Alhamdulillah sekarang UN sudah tidak menjadi penentu kelulusan siswa SMA, sehingga UN sudah tidak menjadi momok bagi siswa, guru, sekolah, dsb. Meski UN sudah tidak menjadi faktor utama kelulusan, siswa tidak boleh santai, karena untuk masuk PTN siswa harus berlatih keras karena level soal-soalnya berkali lipat dibanding UN.

    ReplyDelete
  55. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Memang, jika kita membandingkan pembelajaran yang ada di sekolah formal dengan bimbingan-bimbingan belajar anak lebih semangat belajar di bimbingan belajar. Metode pembelajarannya lebih asik dan lebih mudah untuk dipahami. Cara pengerjaan juga lebih singkat, atau sering kita sebut sebagai cara praktis. Itu karena bimbel hanya berorientasi pada UN, belajar soal. Sedangkan si sekolah adalah belajar konsep materi dari awal. Siswa yang tidak memiliki prior knowledge yang cukup untuk belajar materi tersebut akan mengalami kesulitan untuk memahami materi yang akan dipelajari.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  56. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya yang sebelumnya, siswa yang belajar di bimbel sebagian besar telah memperoleh prior knowledge di sekolah. Sehingga ia merasakan kalau belajar di bimbel lebih mudah. Padahal pengetahuan konsep yang sebenarnya lebih besar didapatkan di sekolah. Kita sebagai calon pedidik, baik kelak pendidik di sekolah formal maupun di bimbingan-bimbingan belajar, sebaiknya tidak memberikan materi dengan cara yang instan. Berikan konsep atau apersepsi yang dapat membuat materi yang kita sampaikan bermakna pada siswa.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  57. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pakar pendidikan sering kali bingung. Bagaimana tidak? Mereka selalu berusaha memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Namun selalu saja tidak ada yang sempurna pasti ada kendala dan hambatan. Meskipun sudah dirancang sedemikian rupa sehingga namun masih saja terdapat kekurangan yang selalu ingin diperbaiki. Hal ini tidak jauh dari sifat manusia yang tidak pernah memiliki rasa puas. Contoh sistem pendidikan di Indonesia yang selalu mencari hot topik adalah UN. Sistem yang selalu berganti membuat banyak orang pusing tidak hanya pakar pendidikan namun juga sekolah, guru dan siswa.

    ReplyDelete
  58. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Setelah saya membaca elegi ini, saya mencoba untuk memahami bahwa Ujian Nasional adalah masalah standar bagi semua orang. Jika kita melihat masalah Ujian Nasional sekarang ini, hal ini terlihat kurang berfaedah. Banyak uang yang dikeluarkan dan tidak ada manfaatnya. Ujian nasioanal semakin terlihat sebagai sekedar formalitas dan ajang politisasi pendidkan. Semoga ke depan nya kualitas pendidikan di indonesia bisa lebih meningkat lagi

    ReplyDelete
  59. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Setiap orang harus mengetahui secara pasti kapasitasnya masing-masing. Jangan karena demi nama baik, malah mengorbankan kepentingan orang banyak karena ucapan yang tidak dengan keyakinan dan tidak berlandaskan. Mudah-mudahan para pengambil kebijakan pendidikan di negeri kita merupakan pakar yang memang mengerti tentang dunia pendidikan, bukan pakar bingung semata karena setiap kebijakan yang para petinggi ambil akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan dan kemajuan bangsa.

    ReplyDelete
  60. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Walaupun memang banyak seklai pakar pendidikan yang egois hanya memikirkan diri mereka sendiri, pakar pendidikan yang tidak egois juga banya. Jika kita hanya fokus pada mereka yang melakukan kesalahan di dunia pendidikan, maka seakan-akan dunia pendidikan itu jelek. Namun, jika kita juga fokus pada perkembangan positif yang diberikan oleh para pakar pendidikan yang sangat memberikan kontribusi semaksimal mungkin, maka harapan akan mendapatkan pendidikan yang baik itu muncul sehingga pemikiran untuk selalu berkembang ke hal yang positif itu ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  61. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sekarang ini pendidikan yang diberikan hanya berdasar pada kecepatan menyelesaikan permasalahan tanpa mendalami akar permasalahan yang dihadapi. kita diajak untuk menyelesaikan masalah secara instan tanpa mengetahui benar akar permasalahan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  62. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    kita diajak untuk menyelesaikan masalah secara instan tanpa mengetahui benar akar permasalahan.hal ini dapat menjadi bumerang bila kita tidak mengetahui secara mendalam apa yang dihadapi. bisa saja kita keliru dalam menyelesaikan permasalahan akibat dengan penyelesaian instan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  63. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    UN, UN, dan UN adalah akan terus menimbulkan kontroversial. UN diharapkan oleh pemerintah sebagi alat evaluasi yang berstandar nasional, namun UN pun dalam praktek tidak bisa menjadi alat evaluasi yang sesungguhnya karena terlalu banyak tuntutan yang berada didalamnya menimbulkan berbagai praktek curang pun dilakukan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berdasarkan pengalaman saya sebagai siswa, ketika UN akan tiba maka semua orang akan sibuk mulai dari siswa, orang tua, guru bahkan sekolahnya. siswa sibuk mencari bocoran soal, orang tua sibuk menyuruh anaknya untuk berikhtiar seperti apapun asalkan lulus UN, sekolah dan guru sibuk mengerjakan bocoran UN karena hasil UN akan mempengaruhi mutu sekolahnya. Sejauh yang saya ketahui UN hanya bisa menimbulkan kesulitan,namun mengapa prakteknya tetap dilaksanakan setiap tahun, bahkan ada isu yang mnegatakan bahwa tahun ini UN akan ada isian singkat.

      Delete
  64. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini dapat kita ketahui bahwa sekaliber pakar pendidikan pun terkadang masih mementingkan ego pribadi, atau ego kelompoknya, tanpa melihat kepentingan yang lebih umum, dalam hal ini siswa. Harus benar-benar berpikir keras untuk memberikan solusi terkait kebutuhan dan kewajiban pendidikan yang ideal, sesuai fitrahnya manusia

    ReplyDelete
  65. Setiap kebijakan yang berlaku, pasti tentunya ada pro dan kontra, dalam hal ini kebijakan pendidikan. Para pakar harus mempertimbangkan pro dan kontra tersebut sehingga didapat kebijakan yang mengedepankan kepentingan umum. COntohnya UN, yang selama ini menimbulkan pro dan kontra, namun telah banyak terbukti itu sebagai momok dan menimbulkan berbagai inovasi pembelajaran tak berdaya dibuatnya.

    ReplyDelete
  66. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Tujuan siswa belajar matematik adalah untuk memahami konsep, fakta dan aturan matematika untuk kemudian digunakan dalam mengerjakan soal. jadi urutan yang benar adalah siswa memahami konsepnya dulu baru kemudian ia dapat mengerjakan soal. bukan sebaliknya, siswa diberikan trik mengerjakan soal dengan cepat tanpa mengetahui konsepnya sehingga jika menemukan soal yang sedikit saja berbeda dengn yang biasa dilatihkan, siswa akan merasa bingung.

    ReplyDelete
  67. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Memang Ujian Nasional telah membuat kebingungan bagi para pakar pendidikan. Namun seiring berjalannya waktu UN juga mengalami perbaikan. UN CBT menjadi solusi agar hasil lebih dapat dipercaya, menghindarkan siswa dari saling mencontek, dan mengurangi sampah kertas (go green). Akhir-akhir ini juga muncul wacana bahwa UN akan dilengkapi dengan soal-soal uraian atau isian singkat. Semoga rencana tersebut cepat terealisasi sehingga menjadikan kualitas UN semakin baik dan dapat memetakan kemampuan siswa sesungguhnya.

    ReplyDelete
  68. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Membandingkan antara mana yang lebih baik antara pembelajaran di sekolah dengan pembelajaran di bimbingan belajar sebenarnya lebih baik pembelajaran yang dilakukan di Sekolah. Akan tetapi, jika dilihat dari tingkat efektif dan efisiennya, lebih efektif dan efisien pembelajaran yang dilakukan di bimbingan belajar. Namun, tidak jarang yang namanya bimbingan belajar, misal yang mengajarkan matematika itu bukan dari jurusannya, inilah yang membuat bobroknya pemahaman konsep siswa mengenai matematika. Karena mereka bermodalkan hafalan dan trik-trik cepat dalam mengerjakan soal, tanpa bisa membuktikan kebenaran rumus dan teorinya. Sebenarnya, yang terpenting dalam pembelajaran itu bagaimana siswa mampu memahami konsepnya, bukan menghafal rumus/materinya. Sehingga siswa dapat mengerjakan UN dengan baik.

    ReplyDelete
  69. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Sebagai seorang calon pendidik, saya tidak setuju dengan pendapat pakar pendidik bingung. Jelas kita ketahui bahwa selama ini pemberian trik cepat mengerjakan soal matematika tanpa memberikan pemahaman konsep terlebih dulu sama dengan mematikan matematika siswa. Jika hanya berorientasi pada nilai UN pun, sekarang tidak terlalu berguna trik cepat yang ditawarkan bimbel karena mulai tahun ini UN sudah menambahkan soal essay sehingga trik cepat takkan berfungsi. Lagi pula sudah hampir 3 tahun terakhir ini nilai UN SMA/SMK sudah tidak lagi digunakan untuk pendaftaran SNMPTN bahkan tidak digunakan untuk menentukan kelulusan. Oleh karena itu, sebagai pendidik kita harus menerapkan pembelajaran bermakna dengan mengutamakan pemahaman konsep siswa, bukan sekedar memberikan trik cepat.

    ReplyDelete
  70. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Yang diceritakan dalam elegi ini memang benar adanya. Disetiap negara pasti mempunyai sistem pendidikan sendiri-sendiri, tak terkecuali Indonesia. Dari dahulu sejak sekarang Ujian Nasional (UN) menjadi hal yang diagung-agungkan di ujung pembelajaran. UN ini menjadi momok besar bagi kebanyakan siswa, sehingga muncullah lembaga bimbingan belajar untuk mengatasi rasa takut dan menambah jam pelajaran anak. Namun yang sangat disayangkan, bimbingan belajar ini merusak esensi dan proses pendidikan. Mengapa ? menurut saya sebenar-benarya belajar bukan perkara nilai tetapi perkara bagaimana kita mencapai goals dari pembelajaran tersebut. Jika bimbingan belajar memberikan cara singkat tanpa mengindahkan esensi proses belajar, bagaimana dengan nilai afektif anak? Lantas bagaimana pula moral bangsa ini deperbaiki? Itu yang masih berkecamuk dipikiran saya hingga saat ini.

    ReplyDelete