Mar 7, 2011

Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung




Oleh Marsigit

Pakar Pendidikan Bingung Utama:

Waha..haha..bingung aku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam pendidikan di negeri ini. Bingungnya lagi aku tidak bisa menjawab mengapa diriku itu disebut pakar pendidikan.

Moderator:
Hai..Pakar Pendidikan Bingung Utama...saatnya anda dipersilahkan untuk bicara. Para peserta seminar nasional pendidikan sudah beberapa saat menunggumu berbicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Wuha..oh ..ternyata aku harus bicara ta? Lalu apa topiknya atau temanya? Maaf aku terlena sesaat karena aku tadi ternyata tergoda memikirkan persoalan yang lain. Maaf..maaf.

Moderator:
Bukannya bapak sudah diberi undangan? Baiklah, temanya tentang Perbandingan Metode Pengajaran di Sekolah dan di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Bagaimana menurut pendapat bapak?

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Maaf..sebetulnya aku tidak paham betul seluk-beluk apalagi hakekat Metode Pembelajaran (Oh maaf..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja). Tetapi karena saya diangap pakar dan diundang sebagai narasumber, maka saya harus tampil meyakinkan. Saya harus tampil meyakinkan walaupun ada keraguan di dalam diriku karena kekurang pahamanku ((Oh maaf..mengapa saya ucapkan lagi..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja).

Moderator:
Silahkan bapak nara sumber sekarang waktu dan tempat saya haturkan untuk bapak, untuk segera bicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Lha..menurut saya gampang saja. Lihat saja gejalanya. Anak itu lebih suka nggarap soal, dari belajar. Anak lebih suka belajar di bimbel karena bimbel menyediakan trik-trik. Buat apa susah-susah belajar ala sekolah yang bertele-tele. Malah metode di sekolah itu merupakan pemborosan. Mengapa? Karena di sekolah para siswa mempelajari hal yang didak keluar dalam UN. Gitu saja. Jadi menurut saya, sekolah itu dibubarkan saja. Atau paling tidak sekolah harus merombak metode menjadi seperti metode di bimbel? Kalau nggak mau mengadaptasi metode bimbel ya bubarkan saja Departemen Pendidikan Nasional, dan ganti dengan Departemen Bimbingan Belajar Nasional. Begitu beres.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Waha..hihi..hihi...inilah yang aku mau. Aku tak terlalu pedulilah dengan benar dan salah. Yang penting aku mendapat berita besar. Bukannya berita besar itu biasanya benar. Toh yang bicara ini adalah Pakar Pendidikan Bingung Utama. Walaupun bingung kan pakar utama. Setidaknya juga mengobati kebingungan saya. Masabodoh dengan orang ideal yang sok ngerti hakekat pendidikan. Wahai para sobatku...aku punya berta besar buatmu. Yakinlah bahwa berita itu tentu benar, karena berasal dari Pakar Pendidikan Bingung Utama.

Guru Bingung Dewasa:
Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..setelah mendengarkan uraianmu, yang tadinya saya tidak bingung malah saya sekarang menjadi bingung. Mengapa engkau menyebarkan kebingungan-kebingungan pendidikan kepada diriku?


Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Engkau bingung karena belum mengambil sikap. Agar engkau tidak bingung maka engkau harus ikhlas mengakui kesalahanmu sebagai guru di sekolah yang selama ini mempraktekan metode pembelajaran tidak efektif, tidak efisien, boros, tak keluar di UN, ...dst. Maka segera bertobatlah dan mengakui kesalahanmu.

Tentor Bimbel Berbesar Hati:
Waha..bagus..bagus..begitulah mauku. Terimakasih aku ucapkan kepada panitia seminar. Lain lagi kalau mengundang pakar pendidikan ambil pakar yang bingung-bingung saja. Lebih baik aku membayar berapapun pakar pendidikkan bingung dari pada bekerjasama dengan Guru Muda Sadar. Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya, jangan tanggung-tanggung, umumkan saja sekarang juga di masmedia tentang hasil-hasil seminar yang gemilang ini.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Baiklah...wahai sobat-sobatku...aku membawa khabar gembira, yaitu hasil-hasil pemikiran Pakar Pendidikan Bingung Utama yang menyatakan BAHWA METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH TERTINGGAL DIBANDING DENGAN TRIK BELAJAR DI LBB. Bacalah pengumumanku itu karena sudah aku muat diberbagai mas media termasuk internet, milinglis, dsb. Wahai semua guru dan sekolah-sekolah renungkanlah dalam-dalam TEMUAN AGUNG ini.

Guru Sadar Pembina:
Protes...wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..jangan asal bicara kamu itu. Aku memang tak begitu paham tentang hakekat metode pembelajaran itu. Tetapi aku tidak terima jika sekolah-sekolah disalahkan dan dibandingkan hanya sekali hanya dengan sebuah lembaga bimbingan belajar. Naif itu.

Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:

Hai..Guru Sadar Pembina..jangan sok berani engkau. Ketahuilah apa implikasi dari temuanku itu? Implikasinya adalah jika semua Pejabat Pendidikan Pusat sudah percaya omonganku, maka sekolahmu akan saya bubarkan. Ketahuilah tidak hanya itu, departemenmu yaitu Departemen Pendidikan Nasional juga harus diubah menjadi Departemen Bimbingan Belajar Nasional.

Guru Sadar Pembina, Guru Sadar Madya, dan Guru Sadar Muda:

Ohohoh..UN...UN? Demikianlah akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karena perilaku dirimu. Para Pakar Pendidikan telah engkau buwat bingung dan telah engkau butakan mata dan engkau tulikan telinganya. Mereka telah berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendirinya masing-masing. Ya Tuhan berilah pahala dan terimalah di sisimu UJian Nasional jika dia itu benar dan bermanfaat secara hakiki. Tetapi kutuklah dia dan masukkanlah ke neraka jika dia memang telah berlaku dholim di negeri ini. Dengarkanlah doa-doa orang lemah ini ya Tuhan. Amiin.

Yogyakarta, 2 Januari 2010

30 comments:

  1. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan di Indonesia memang masih membingungkan. Tujuan pendidikan yang belum jelas kemana arahnya seshingga siswa pun ikut bingung. Tujuan pendidikan seharusnya menjadikan pendidikan sebuah wadah untuk siswa membangun ilmu pengetahuannya secara mandiri. Namun adanya ujian nasional menyebabkan siswa merasa perlu mendapatkan cara cepat agar mampu lulus ujian nasional dengan baik. Salah satunya dengan bimbingan belajar.

    ReplyDelete
  2. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan pendidikan di sekolah dan di bimbingan belajar adalah saat siswa di sekolah, mereka membangun pengetahuannya sendiri, tidak hanya pengetahuan, dan keterampilan, namun juga sikap dan moral yang dibangun di sekolah. Sedangkan saat di bimbel, siswa hanya diajarkan untuk mengerjakan soal-soal yang nantinya dapat digunakan saat mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Elegi di atas menggambarkan potret pendidikan negeri ini yang telah “dipimpin” oleh para pakar yang bingung. Dan saya mengasumsikan tidak semua pakar yang terlibat di dalam “lingkaran” tersebut dalam keadaan bingung. Mereka ada yang sadar namun tetap saja tidak bisa merubah keadaan karena terbatasnya kekuatan untuk merubahnya. Itulah akibat dari Powernow, semakin hari semakin banyak hal-hal yang dirubah olehnya demi kepentingan segelintir orang saja.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Penyelengaraan ujian nasional di Indonesia ialah salah sebab timbulnya kebingungan, baik bagi kita maupun pakar pendidikan. Hal ini dapat disebbakan oleh bagaimana pembelajaran di sekolah berbeda dengan bagaimana yang diajarkan pada tempat bimbingan belajar. Pembelajaran di sekolah nampak lebih tertinggal dibandingkna di tempat bimbingan. Di tempat bimbingan akan diberikan berbagai trik ringkas, cepat, dan efisien dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Belajar hanya berorientasi mengejar predikat lulus dan nilai baik agar dapat diterima di sekolah favorit. Semoga pemerintah kita melalui para pakarnya dapat menetapkan kebijakan yang tepat dan terbaik bagi semuanya. Sehingga adanya UN nasional ini tidak menjadi suatu kebingungan kembali.

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan bahwa pembelajaran Bimbel itu lebih efektif disbanding di sekolah. Apabila dilihat dari sudut pandang UN memang betul, namun tujuan dari didirikannya sebuah sekolah adalah tempat untuk belajar, belajar untuk pembentukan karakter, kepribadian, dan kecerdasan. Bimbel memang menghasilkan siswa-siswi yang memiliki nilai UN tinggi, namun disana tidak diajarkan akhlak, budi pekerti, sopan santun, dan nilai nilai kemanusiaan yang lain. Sehingga pendidikan disekolah adalah yang utama, bimbel hanya sebagi tambahan untuk meningkatkan kemampuan akademis.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Saat ini banyak siswa yang mengikuti pembelajaran di lembaga bimbingan belajar. Hal ini tidak terlepas dari adanya pelaksanaan UN sebagai tolak ukur kualitas pendidikan di negeri ini. Soal-soal UN yang berbentk pilihan ganda merupakan suatu tuntutan yang dapat dipenuhi lembaga bimbingan belajar yang memberikan trik cepat dalam menyelesaikan soal. Sedangkan materi yang diberikan di lembaga sekolah yang begitu banyak dan panjang lebar tidaklah relevan dengan UN yang hanya berupa pilihan ganda. Rumitnya materi yang diajarkan di sekolah sedangkan siswa hanya dituntut menyelesaikan soal pilihan ganda menjadikan mereka lebih menyukai trik cepat yang diajarkan di lembaga bimbingan belajar. Sedangkan sebenarnya metode yang diajarkan di lembaga sekolah dan lembaga bimbingan belajar sama pentingnya tergantung ruang dan waktu. Penting bagi siswa untuk memahami konsep-konsep dasar yang diajarkan di sekolah dan setelah memahami konsep-konsep dasarnya, siswa juga perlu untuk belajar trik cepat menyelesaikan suatu soal.

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Ujian Nasional dapat dikatakan sukses dalam membangun pengetahuan siswa untuk belajar secara instan, tanpa mengetahui apakah sudah memahami konsepnya atau belum. Hal ini biasa terjadi di suatu Lembaga Bimbingan Belajar yang dekat dengan kehidupan sekolah siswa. Menurut hemat saya, keberadaan LBB ini bisa menjadikan siswa lebih pandai, tetapi dapat pula menjadikan siswa hanya faham sesaat. Sebagai contohnya, disuatu LBB tertentu, akan diberikan suatu rumus maupun trik dan tips instan dalam menjawab soal. Hal ini memang diperlukan bagi siswa untuk membantu mempersingkat waktu ketika menjawab soal. Biasanya trik ini dilakukan ketika UN. Akan tetapi hal ini tidak sejalan jika siswa belum faham betul bagaimana konsep sebenarnya. Oleh karena itu, polemik adanya LBB dan UN masih terus menjadi bahan pembicaraan menarik di kalangan pendidik.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung”, saya mendapat pelajaran bahwa jika kita menjadi orang yang dipandang, orang yang mempunyai kedudukan tinggi, jangan bertindak dan berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan pendapat orang lain. Sebaiknya dilakukan musyawarah mufakat.
    Selain itu, mengenai sekolah dan LBB, menurut saya sekolah itu penting, apa yang kita dapatkan di sekolah, kita tidak mendapatkannya di LBB. Di LBB terbatasnya waktu mengajar dan biaya yang tidaklah murah. Di sekolah kita diajarkan untuk menemukan konsep, sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar. Peserta didik di sekolah juga diajarkan pelajaran moral, sosial dan spiritual.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Ikut dibikinnya bingung. Benar juga ya. Saat ini masih riuh orang membicarakan betapa jitunya trik-trik belajar di lembaga bimbingan belajar. Betapa karena hal ini mereka sedikit menganggap enteng pembelajaran di sekolah. Toh kalau di sekolah tidak paham bisa dipahamkan di lembaga bimbingan belajar dengan cara yang lebih praktis.

    Menurut saya, kasus atau fenomena ini berkaitan dengan betapa kebijakan pendidikandi Indonesia tidak berjejaring sistemik. Salah satunya seperti kasus yang dimunculkan dalam elegi ini, yaitu UN. Mata pelajaran thirik-thirik uakehe polll. Tapi UN cuman itu aja. Lah kepie?
    Ini lah pertanyaan saya

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebuah bahasan yang menarik kebijakan pemerintah mengenai Ujian Nasional yang digunakan sebagai salah satu syarat kelulusan utama di jenjang pendidikan Indonesia. Fenomena tahunan yang menarik, antara proyek, kurikulum, tuntutan zaman atau apapun itulah. Yang jelas karena UN, Bimbel mendapatkan banyak rezeki, siswa jadi rajin solat Tahajud, sekolah jadi mengadaka kelas tambahan, mata pelajaran yang lain terabaikan, murid banyak yang stres karena terbebani materi yang sangat banyak. Entahlah, saya pikir kalau tidak merubah orang-orang atau pemikiran pengambil kebijakan fenomena ini akan tetap berlanjut.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    UN memberikan dampak yang luas bagi pendidikan. Kebanyakan masyarakatpun menjadi lebih mempercayai LBB dalam proses belajar dibandingkan dengan proses belajar di sekolah. Mereka beranggapan bahwa LBB lebih berhasil dalam membuat siswa memperoleh hasil yang tinggi pada UN. Proses belajar yang ditawarkan di LBB biasanya merupakan cara-cara yang instan sehingga tampak lebih mudah dan lebih efisien. Padahal cara-cara tersebut tidak mampu memberdayakan potensi siswa. Selain itu, cara-cara tersebut juga tidak mampu membangun pemahaman konsep pada siswa sehingga siswa akan kesulitan dalam belajar materi yang selanjutnya. Yang lebih parah lagi ialah jika para pakar pendidikan dan para pendidik lebih mempercayai cara-cara yang ditawarkan oleh LBB tersebut hingga mempengaruhi kebijakan pendidikan. Tentu hal ini akan sangat berbahaya bagi pendidikan kita.

    ReplyDelete
  13. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Inilah yang terjadi apabila Ujian Nasional dijadikan acuan lulus atau tidaknya siswa. Orang-orang akan lebih memilih untuk mengikuti metode-metode pembelajaran di LBB karena merasa bahwa cara yang ditawarkan lebih efisien dibandingkan pengajaran di sekolah. Di LBB, mereka diajarkan tips dan trik untuk cepat menyelesaikan soal, sehingga mereka akan lebih mementingkan hasil dibandingkan proses. Hal ini akan terlihat saat mereka mengerjakan soal yang modelnya sama, maka mereka dapat lebih mudah menyelesaikannya. Akan tetapi, ketika diberikan soal yang berebeda modelnya namun memiliki konsep yang sama, mereka pasti akan kebingungan. Agar lebih bermakna, sebaiknya dalam pembelajaran kita tidak hanya menilai hasil akhirnya saja, kita perlu melihat prosesnya juga untuk mempersiapkan siswa/i di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  14. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Persaingan akibat tuntutan zaman melahirkan disharmoni kehidupan di segala aspek. Banyak posisi yang ditempati oleh orang-orang yang berkuasa namun tidak kompeten di bidangnya akibatnya banyak hal penting terabaikan dan orang lain tersalahkan demi kepentingan sendiri. Salah satu disharmoni yang paling berpengaruh terhadap peradaban adalah para ilmuan dengan pemahaman yang membingungkan. Ilmu adalah jihad maka hendaklah yang disampaikan itu adalah kebenaran dan ingatlah bahwa segala kebenaran dan kesalahan akan minta pertanggung jawabnya.

    ReplyDelete
  15. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Guru, apapun status pendidikannya (lulusan SD, SMP, SMA, S1, S2), adalah pelaku pendidikan yang paling mengerti keadaan pendidikan pada praktiknya di lapangan melebihi para pakar pendidikan. Mengapa? Karena guru berada di kelas setiap hari bersama para peserta didik. Guru mengenal betul kondisi peserta didik berikut dengan masalah-masalah yang mereka hadapi sehari-hari. Tetapi, kebanyakan guru tidak dilibatkan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan pendidikan. Banyak pakar pendidikan (atau orang yang menyebut dirinya pakar) yang sebenarnya tidak terlalu mengetahui kondisi pendidikan di lapangan yang justru dilibatkan dalam pengambilan keputusan pendidikan dan ujung-ujungnya hanya mengambil keputusan berdasarkan keinginan pihak tertentu yang bahkan tak punya kepentingan di bidang pendidikan. Contohnya Ujian Nasional. Berapa lama lagi guru-guru harus terus memperdebatkan, membahas ulang dan menevaluasi apakah Ujian Nasional efektif untuk mengukur kemampuan siswa? Memang banyak pro dan kontra mengenai diadakannya Ujian Nasional, dan perubahan cara pengadaan Ujian Nasional menjadi Computer Based memang salah satu cara pemerintah mencoba proses "trial and error" dalam pengambilan keputusan kedepannya. Tetapi, hal ini kurang dipikirkan pelaksanaannya di lapangan sehingga banyak siswa yang bahkan semakin kesulitan dalam mengerjakan Ujian.
    Ketika sekolah tidak mencapai target yang ditentukan dari kebijakan yang sudah ditetapkan para pakar pendidikan, maka gurulah yang dituntut bersalah dan dianggap telah melalaikan tugas sebagai pendidik. Ketika guru dinilai lalai mendidik, maka LBB menjadi pelarian para siswa atau orang tua siswa yang memiliki ambisi tinggi. LBB dianggap lebih penting karena standar pendidikan yang telah ditetapkan oleh para pakar adalah lulus Ujian Nasional. Jadi apakah LBB lebih penting daripada sekolah?

    Ini menjadi keprihatinan kita bersama, bagaimana tujuan pendidikan telah bergeser dari pengembangan cara pandang, kepribadian, akhlak, dan keterampilan siswa menjadi hanya berpusat pada soal kelulusan Ujian Nasional. Perlu menjadi refleksi bersama, apakah peserta didik bersekolah hanya untuk mendapat nilai UN yang baik ataukah mengembangkan dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

    ReplyDelete
  16. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Elegi ini sangat menarik, yaitu menonton pakar pendidikan bingung. Saat ini, kondisi pendidikan bisa dibilang tidak sesuia dengan penerapannya. Banyak pakar dengan segudang penelitiannya mengenai pendidikan padahal mereka tidak atau belum tau kondisi riil nya pelaksanaan pendidikan tersebut, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara pendapat pakar pendidikan dengan kondisi pendidikan yang ada. Contohnya pelaksanaan kurikulum 2013, para pakar telah menyusun begitu rapinya proses K13, namun tidak melihat kesiapan guru, siswa, dan kondisi sekolah.

    ReplyDelete
  17. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih bapak atas postingannya. Postingan kali ini mengenai Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung.
    Pada elegi ini, menceritakan keadaan pendidikan di negara kita khususnya. Dengan keberadaan UN, membuat momok untuk murid dan guru sebagai pakar pendidikan. Sehingga guru menjadi klabakan, dengan metode pembelajaran disekolah, namun prosesnya pun tidak menjadi hal penting lagi.
    Dengan adanya UN juga, membuat murid menjadi panik, sehingga banyak siswa yang mengikuti LBB. Yang anehnya, ketika siswa dinyatakan lulus, kenapa yang menjadi pertanyaan adalah "Kamu les dimana?", bukan "Siapa gurumu di sekolah?". Tapi jika ada siswa yang dinyatakan tidak lulus, pertanyaan yang ada malah "Siapa gurumu di sekolah?". Ini yang menjadikan pakar pendidikan menjadi bingung. Ketika siswa dinyatakan lulus, tempat bimbel yang menjadi kebanggan. Sedangkan ketika siswa dinyatakan tidak lulus, guru dan nama sekolah yang dijelekkan.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Menurut pendapat saya elegi ini berisikan kritikan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang menginginkan pendidikan yang merata dari setiap daerah dari sabang sampai merauke, dari kota sampai ke pelosok perbatasan daerah. Niat meratakan pendidikan itu sangatlah baik artinya keinginan untuk bersikap adil itu telah ada memang dari atas. Namun yang merasa kebingung tidak hanya pakar pendidikan namun semua orang yang berhubungan dengan pendidikan. Setiap jenjang pendidikan sekolah yang ada di Indonesia tidak hanya melalui satu proses dan dapat menyelesaikan sekolah. Namun selama berada dalam jenjang sekolah banyak proses yang dilakukan untuk membentuk pengetahuan seorang siswa. Namun, dengan proses yang panjang tersebut keberhasilan siswa hanya diukur dalam beberapa hari saja dengan melupakan proses panjang yang telah dilalui tersebut. Tolak ukur hasil proses kegiatan belajar tersebut disebut dengan UN. UN sendiri bertujuan untuk menyama ratakan kompetensi siswa dari setiap daerah di Indonesia. Namun dengan diberlakukannya UN tersebut maka siswa mengalami kebingan dan kecemasan karena proses belajar di sekolah yang lama itu hanya ditentukan dalam beberapa hari. Karena tuntutan materi yang banyak dan dalam waktu yang singkat siswa harus memahami semua materi pelajaran yang diajarkan selama tiga samapai enam tahun hanya dalam kurun waktu yang relatif sebentar, sehingga siswa lebih memilih untuk masuk ke lembaga bimbingan belajar yang menerapkan jalan cepat dalam menyelesaikan soal tanpa melihat dan menelaah proses yang harus dilakukan untuk menjawab suatu pertanyaan.

    ReplyDelete
  19. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi ini menyiratkan banyaknya pertentangan pada pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian yang selalu diadakan setiap tahunnya, dimana para siswa dipush sedemikian hingga untuk belajar agar bisa menyelesaikan UN dengan sebaik-baiknya. Walaupun dalam beberapa tahun ini Un tidak menjadi harga mati penentu kelulusan, namun selalu menimbulkan polemik baik dikalanan atas atupun sampai dikalangan siswa. Para siswa yang dipacu untuk bisa membawa nama baik sekolah, para guru yang selalu dituntut untuk menyiapkan anak-anak murid kelas akhir agar dapat melalui UN dengan hasil memuaskan, agar bisa membawa nama sekolahan lebih baik, orang tua yang menginginkan anaknya untuk meraih yang terbaik sehingga terkadang menyudutkan anaknya untuk mengikuti Bimbel ataupun les tambahan yang menguras waktu dan pemikiran anak dan menguras keuangan orang tua Semoga ke depannya kebijakan akan berpihak kepda orang-orang yang mau berusaha sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  20. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Ujian Nasional adalah salah satu kebijakan pemerintah untuk melihat sejauh mana kompetensi lulusan di setiap sekolah. Kebijakan yang diambil pemerintah harus serta merta dilaksanakan oleh pelaksana, terutaa kami para guru. Namun terkadang yang menjadi pertanyaan, apakah kebijakan itu juga sudah memepertimbangan kami sebagai pelaksana kebijakan. Semoga ke depannya segala bentuk kebijakan bisa lebih melihat dampak dari pelaksanaan kebijakan tersebut.

    ReplyDelete
  21. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    menurut saya, metode pembelajaran di sekolah ataupun di lembaga bimbingan belajar sebenarnya salign berkaitan, saling berhubungan, saling menguatkan. jika siswa telah berusaha di sekolalh dan masi ada yang belum dipahaminya, maka karena keterbatasan waktu, mereka memanfaatkan belajar di LBB. begitu juga dengan metode belajar di LBB, kebanyakan dari mereka hanyamemberikan langkah cepat yang disukai siswa, walaupun tidak semuanya seperti itu. tapi langkah cepat tidak akan efektif jika siswa belum mendapatkan konsep awal yang diajarkan di sekolah. salah satu pandangan yang harus diubah yaitu bahwa siswa hanya mau mepelajari yang keluar di UN. padahal ilmu itu luas, jika dipelajari akan ada manfaatnya dan tidak sia-sia walaupun tidak keluar di UN.

    ReplyDelete
  22. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pakar Pendidikan Bingung karena memikirkan bagaimana seharusnya pendidikan Indonesia di bangun. Jika dilihat-lihat menjamurkan bimbingan belajar saat ini dikarenakan tuntutan KKM yang tinggi di sekolah namun pelayanan dan fasilitas pendidikan yang kurang memadahi oleh karenanya BIMBEL hadir sebagai salah satu solusi. Mengubah system pendidikan memang buka perkara yang mudah seperti membalikkan tangan’, namun perlahan dikomunikasikan dari berbagai aspek pendidikan agar pelayanan pendidikan bagi siswa terlayani dnegan baik, gar belajar tidak hanya transfer ilmu, namun lebih dari itu pendidikan jua merupakan pengolahan akhlak. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  23. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Jika melihat lebih dalam, permasalahan pendidikan tiada habis-habisnya. Lingkup pendidikan yang dijadikan sebagai pemanfaatan bagi pihak lainnya. Layaknya juga dengan ujian nasional yang ditetapkan sebagai hasil kelulusan bagi siswa. Pakar pendidikan yang mengalami kebingungan, sebenarnya apakah tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan itu sendiri? Sampai kapan kami terombang-ambing yang disebabkan karena kebingunganmu? Sudilah kiranya engkau berbesar hati untuk melihat pendapat dan masukan dari para ahli yang sudah berkecimpung dalam dunia pendidikan. Jika perlu engkau mengajak mereka berdiskusi untuk mencapai solusi terbaik akan permasalahan yang sedang dihadapi.

    ReplyDelete
  24. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Begitulah kalau belajar di sekolah orientasinya hanya pada nilai (skor) ujian. Sekolah bukan lagi sebagai tempat menimba ilmu, melainkan tempat untuk mengejar nilai UN. Wajar saja kalau guru di sekolah lebih “dicuekin” ketimbang guru di bimbingan belajar. Bimbingan belajar menyediakan bank soal yang lebih lengkap dari pada di sekolah, bimbingan belajar menyediakan trik-trik cepat dalam mengerjakan soal UN Matematika, bimbingan belajar menyediakan tentor-tentor muda yang lebih menarik dan menyenangkan, bimbingan belajar menyediakan tryout-tryout UN, hasil nilai, bahkan sampai detail pembahasannya. Kalau tujuannya hanya mengejar UN, sekolah-sekolah lebih baik ditutup saja, karena memang lembaga bimbingan belajar lebih berperan aktif dari pada sekolah. Belum lagi, Sang penerima nilai UN terbaik biasanya mendapat hadiah bahkan sampai dimuat di berbagai media massa. Kalau nilai UN nya jelek, siswa akan malu dan susah untuk mencari sekolah pada jenjang berikutnya. Hal ini semakin membuat siswa menjadi pragmatis, sampai-sampai menghalalkan segala cara untuk mendapat nilai UN yang tinggi.

    ReplyDelete
  25. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita disadarkan satu ironi lagi yaitu berkaitan dengan pendidikan di sekolah dan di lembaga bimbingan belajar. pada awalnya saya juga telah menebak atau memiliki hipotesis awal. Mengapa anak-anak sekarang semua ingin masuk ke lembaga bimbingan belajar. hipotesis pun bermunculan mungkin saja memang pembelajaran di sekolah yang kurang menarik dan di lembaga belajar lebih menarik. Disini kita disadarkan bersama bahwa pendidikan di sekolah haruslah melakukan inovasi-inovasi pendidikan sehingga pendidikan tidak Dibanding-bandingkan dengan lembaga bimbingan belajar. karena sesungguhnya masing memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing.

    ReplyDelete
  26. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Solusi yang bisa dilakukan yaitu solusi yang menyeluruh. Mulai dari sistem pendidikan nasional, Ujian nasional, profesi pendidik, hingga model pembelajaran dan media yang digunakan. Karena inilah maka kita diharapkan terus menerus melakukan perubahan agar pendidikan di Indonesia tidak mengalami kesenjangan. Pelaksanaan evaluasi UN yang kerap kali di jadikan tujuan adalah sesuatu yang perlu diluruskan. Karena hakikat pendidikan adalah memaksimalkan potensi pendidik bukan hanya semata-mata menggapai nilai yang tinggi di UN.

    ReplyDelete
  27. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Kebingungan sudah ada dimana-mana. Kebingungan dalam bidang pendidikan pun dirasakan oleh para pemegang kekuasaan. Bingung menentukan kebijakan. Bingung akan semua yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Saling menyalahkan juga terjadi. Ternyata kebingungan itu adalah dampak dari UN, segala kegiatan saling salah menyalahkan saling merasa benar sendiri itu adalah dampak dari UN. Semua yang menjadi korban adalah siswa. Padahal siswa adalah generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa ini. Semoga semua pihak yang terlibat dapat segera memperoleh jalan terbaik demi memajukan pendidikan bangsa ini.

    ReplyDelete
  28. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  29. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang sangat bermanfaat di atas. Iya, itulah akibat dan dampak adanya kebijakan UN. Sekolah menjadi tidak penting karena yang di ajarkan bukan tentang UN, bukan untuk lulus UN. Sebagian besar orang tua kaman sekarang sudah sadar akan pentingnya bimbel disamping sekolah. Sehingga para guru pun menjadi dilema apakah yang harus diajarkan disekolah sesuatu yang praktis-praktis saja atau lebih. Namun jeleknya, siswa menjadi lebih tertutup karena ilmu yang di dapat disana adalah ilmu instan, formula dan rumus-rumus cepat sehingga siswa terpatok dan terpaku pada satu strategi pemecahan masalah saja. Andai UN tidak ada, siswa menjadi tidak tertuntut akan hal itu, dan mungkin siswa lebih leluasa dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi sehari-hari. Sehingga inilah yang mmembuat kualitas pendidikan tidak berkembang dengan baik, semakin siswa terkekang dengan UN, semakin ia sulit untuk kreatif, aktif, dan inovatif. Semoga di masa mendatang akan ada kebijakan lain terbaru yang dapat menjadi jalan keluar ini semua. amin, Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  30. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Bukanlah hal yang tidak lazim bahwa siswa menyukai yang instant-instant karena lingkungan merekapun sekarang serba instant, mulai dari makanan instant, minuman instant, bahkan untuk berkomunikasi dengan orang lain tidak perlu datang ke kantor pos yaitu secara instant dapat menggunakan internet. Hal yang telah menjadi kebiasaan baru untuk mendapatkan sesuatu dengan instant inilah yang menyebabkan cara berpikir siswa yang ingin instant, saya sering menjumpai siswa yang tidak ingin mengetahui cara memperoleh rumusnya dia hanya ingin mengetahui rumus jadinya dan contoh penggunaanya. Hal yang lebih parah lagi adalah ingin mengetahui cara instant mengerjakan soal menggunakan rumus yang instant atau rumus cepat.

    ReplyDelete