Mar 7, 2011

Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung




Oleh Marsigit

Pakar Pendidikan Bingung Utama:

Waha..haha..bingung aku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam pendidikan di negeri ini. Bingungnya lagi aku tidak bisa menjawab mengapa diriku itu disebut pakar pendidikan.

Moderator:
Hai..Pakar Pendidikan Bingung Utama...saatnya anda dipersilahkan untuk bicara. Para peserta seminar nasional pendidikan sudah beberapa saat menunggumu berbicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Wuha..oh ..ternyata aku harus bicara ta? Lalu apa topiknya atau temanya? Maaf aku terlena sesaat karena aku tadi ternyata tergoda memikirkan persoalan yang lain. Maaf..maaf.

Moderator:
Bukannya bapak sudah diberi undangan? Baiklah, temanya tentang Perbandingan Metode Pengajaran di Sekolah dan di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Bagaimana menurut pendapat bapak?

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Maaf..sebetulnya aku tidak paham betul seluk-beluk apalagi hakekat Metode Pembelajaran (Oh maaf..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja). Tetapi karena saya diangap pakar dan diundang sebagai narasumber, maka saya harus tampil meyakinkan. Saya harus tampil meyakinkan walaupun ada keraguan di dalam diriku karena kekurang pahamanku ((Oh maaf..mengapa saya ucapkan lagi..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja).

Moderator:
Silahkan bapak nara sumber sekarang waktu dan tempat saya haturkan untuk bapak, untuk segera bicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Lha..menurut saya gampang saja. Lihat saja gejalanya. Anak itu lebih suka nggarap soal, dari belajar. Anak lebih suka belajar di bimbel karena bimbel menyediakan trik-trik. Buat apa susah-susah belajar ala sekolah yang bertele-tele. Malah metode di sekolah itu merupakan pemborosan. Mengapa? Karena di sekolah para siswa mempelajari hal yang didak keluar dalam UN. Gitu saja. Jadi menurut saya, sekolah itu dibubarkan saja. Atau paling tidak sekolah harus merombak metode menjadi seperti metode di bimbel? Kalau nggak mau mengadaptasi metode bimbel ya bubarkan saja Departemen Pendidikan Nasional, dan ganti dengan Departemen Bimbingan Belajar Nasional. Begitu beres.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Waha..hihi..hihi...inilah yang aku mau. Aku tak terlalu pedulilah dengan benar dan salah. Yang penting aku mendapat berita besar. Bukannya berita besar itu biasanya benar. Toh yang bicara ini adalah Pakar Pendidikan Bingung Utama. Walaupun bingung kan pakar utama. Setidaknya juga mengobati kebingungan saya. Masabodoh dengan orang ideal yang sok ngerti hakekat pendidikan. Wahai para sobatku...aku punya berta besar buatmu. Yakinlah bahwa berita itu tentu benar, karena berasal dari Pakar Pendidikan Bingung Utama.

Guru Bingung Dewasa:
Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..setelah mendengarkan uraianmu, yang tadinya saya tidak bingung malah saya sekarang menjadi bingung. Mengapa engkau menyebarkan kebingungan-kebingungan pendidikan kepada diriku?


Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Engkau bingung karena belum mengambil sikap. Agar engkau tidak bingung maka engkau harus ikhlas mengakui kesalahanmu sebagai guru di sekolah yang selama ini mempraktekan metode pembelajaran tidak efektif, tidak efisien, boros, tak keluar di UN, ...dst. Maka segera bertobatlah dan mengakui kesalahanmu.

Tentor Bimbel Berbesar Hati:
Waha..bagus..bagus..begitulah mauku. Terimakasih aku ucapkan kepada panitia seminar. Lain lagi kalau mengundang pakar pendidikan ambil pakar yang bingung-bingung saja. Lebih baik aku membayar berapapun pakar pendidikkan bingung dari pada bekerjasama dengan Guru Muda Sadar. Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya, jangan tanggung-tanggung, umumkan saja sekarang juga di masmedia tentang hasil-hasil seminar yang gemilang ini.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Baiklah...wahai sobat-sobatku...aku membawa khabar gembira, yaitu hasil-hasil pemikiran Pakar Pendidikan Bingung Utama yang menyatakan BAHWA METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH TERTINGGAL DIBANDING DENGAN TRIK BELAJAR DI LBB. Bacalah pengumumanku itu karena sudah aku muat diberbagai mas media termasuk internet, milinglis, dsb. Wahai semua guru dan sekolah-sekolah renungkanlah dalam-dalam TEMUAN AGUNG ini.

Guru Sadar Pembina:
Protes...wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..jangan asal bicara kamu itu. Aku memang tak begitu paham tentang hakekat metode pembelajaran itu. Tetapi aku tidak terima jika sekolah-sekolah disalahkan dan dibandingkan hanya sekali hanya dengan sebuah lembaga bimbingan belajar. Naif itu.

Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:

Hai..Guru Sadar Pembina..jangan sok berani engkau. Ketahuilah apa implikasi dari temuanku itu? Implikasinya adalah jika semua Pejabat Pendidikan Pusat sudah percaya omonganku, maka sekolahmu akan saya bubarkan. Ketahuilah tidak hanya itu, departemenmu yaitu Departemen Pendidikan Nasional juga harus diubah menjadi Departemen Bimbingan Belajar Nasional.

Guru Sadar Pembina, Guru Sadar Madya, dan Guru Sadar Muda:

Ohohoh..UN...UN? Demikianlah akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karena perilaku dirimu. Para Pakar Pendidikan telah engkau buwat bingung dan telah engkau butakan mata dan engkau tulikan telinganya. Mereka telah berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendirinya masing-masing. Ya Tuhan berilah pahala dan terimalah di sisimu UJian Nasional jika dia itu benar dan bermanfaat secara hakiki. Tetapi kutuklah dia dan masukkanlah ke neraka jika dia memang telah berlaku dholim di negeri ini. Dengarkanlah doa-doa orang lemah ini ya Tuhan. Amiin.

Yogyakarta, 2 Januari 2010

3 comments:

  1. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan bahwa pembelajaran Bimbel itu lebih efektif disbanding di sekolah. Apabila dilihat dari sudut pandang UN memang betul, namun tujuan dari didirikannya sebuah sekolah adalah tempat untuk belajar, belajar untuk pembentukan karakter, kepribadian, dan kecerdasan. Bimbel memang menghasilkan siswa-siswi yang memiliki nilai UN tinggi, namun disana tidak diajarkan akhlak, budi pekerti, sopan santun, dan nilai nilai kemanusiaan yang lain. Sehingga pendidikan disekolah adalah yang utama, bimbel hanya sebagi tambahan untuk meningkatkan kemampuan akademis.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Saat ini banyak siswa yang mengikuti pembelajaran di lembaga bimbingan belajar. Hal ini tidak terlepas dari adanya pelaksanaan UN sebagai tolak ukur kualitas pendidikan di negeri ini. Soal-soal UN yang berbentk pilihan ganda merupakan suatu tuntutan yang dapat dipenuhi lembaga bimbingan belajar yang memberikan trik cepat dalam menyelesaikan soal. Sedangkan materi yang diberikan di lembaga sekolah yang begitu banyak dan panjang lebar tidaklah relevan dengan UN yang hanya berupa pilihan ganda. Rumitnya materi yang diajarkan di sekolah sedangkan siswa hanya dituntut menyelesaikan soal pilihan ganda menjadikan mereka lebih menyukai trik cepat yang diajarkan di lembaga bimbingan belajar. Sedangkan sebenarnya metode yang diajarkan di lembaga sekolah dan lembaga bimbingan belajar sama pentingnya tergantung ruang dan waktu. Penting bagi siswa untuk memahami konsep-konsep dasar yang diajarkan di sekolah dan setelah memahami konsep-konsep dasarnya, siswa juga perlu untuk belajar trik cepat menyelesaikan suatu soal.

    ReplyDelete
  3. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Ujian Nasional dapat dikatakan sukses dalam membangun pengetahuan siswa untuk belajar secara instan, tanpa mengetahui apakah sudah memahami konsepnya atau belum. Hal ini biasa terjadi di suatu Lembaga Bimbingan Belajar yang dekat dengan kehidupan sekolah siswa. Menurut hemat saya, keberadaan LBB ini bisa menjadikan siswa lebih pandai, tetapi dapat pula menjadikan siswa hanya faham sesaat. Sebagai contohnya, disuatu LBB tertentu, akan diberikan suatu rumus maupun trik dan tips instan dalam menjawab soal. Hal ini memang diperlukan bagi siswa untuk membantu mempersingkat waktu ketika menjawab soal. Biasanya trik ini dilakukan ketika UN. Akan tetapi hal ini tidak sejalan jika siswa belum faham betul bagaimana konsep sebenarnya. Oleh karena itu, polemik adanya LBB dan UN masih terus menjadi bahan pembicaraan menarik di kalangan pendidik.

    ReplyDelete