Mar 7, 2011

Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung




Oleh Marsigit

Pakar Pendidikan Bingung Utama:

Waha..haha..bingung aku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam pendidikan di negeri ini. Bingungnya lagi aku tidak bisa menjawab mengapa diriku itu disebut pakar pendidikan.

Moderator:
Hai..Pakar Pendidikan Bingung Utama...saatnya anda dipersilahkan untuk bicara. Para peserta seminar nasional pendidikan sudah beberapa saat menunggumu berbicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Wuha..oh ..ternyata aku harus bicara ta? Lalu apa topiknya atau temanya? Maaf aku terlena sesaat karena aku tadi ternyata tergoda memikirkan persoalan yang lain. Maaf..maaf.

Moderator:
Bukannya bapak sudah diberi undangan? Baiklah, temanya tentang Perbandingan Metode Pengajaran di Sekolah dan di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Bagaimana menurut pendapat bapak?

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Maaf..sebetulnya aku tidak paham betul seluk-beluk apalagi hakekat Metode Pembelajaran (Oh maaf..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja). Tetapi karena saya diangap pakar dan diundang sebagai narasumber, maka saya harus tampil meyakinkan. Saya harus tampil meyakinkan walaupun ada keraguan di dalam diriku karena kekurang pahamanku ((Oh maaf..mengapa saya ucapkan lagi..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja).

Moderator:
Silahkan bapak nara sumber sekarang waktu dan tempat saya haturkan untuk bapak, untuk segera bicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Lha..menurut saya gampang saja. Lihat saja gejalanya. Anak itu lebih suka nggarap soal, dari belajar. Anak lebih suka belajar di bimbel karena bimbel menyediakan trik-trik. Buat apa susah-susah belajar ala sekolah yang bertele-tele. Malah metode di sekolah itu merupakan pemborosan. Mengapa? Karena di sekolah para siswa mempelajari hal yang didak keluar dalam UN. Gitu saja. Jadi menurut saya, sekolah itu dibubarkan saja. Atau paling tidak sekolah harus merombak metode menjadi seperti metode di bimbel? Kalau nggak mau mengadaptasi metode bimbel ya bubarkan saja Departemen Pendidikan Nasional, dan ganti dengan Departemen Bimbingan Belajar Nasional. Begitu beres.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Waha..hihi..hihi...inilah yang aku mau. Aku tak terlalu pedulilah dengan benar dan salah. Yang penting aku mendapat berita besar. Bukannya berita besar itu biasanya benar. Toh yang bicara ini adalah Pakar Pendidikan Bingung Utama. Walaupun bingung kan pakar utama. Setidaknya juga mengobati kebingungan saya. Masabodoh dengan orang ideal yang sok ngerti hakekat pendidikan. Wahai para sobatku...aku punya berta besar buatmu. Yakinlah bahwa berita itu tentu benar, karena berasal dari Pakar Pendidikan Bingung Utama.

Guru Bingung Dewasa:
Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..setelah mendengarkan uraianmu, yang tadinya saya tidak bingung malah saya sekarang menjadi bingung. Mengapa engkau menyebarkan kebingungan-kebingungan pendidikan kepada diriku?


Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Engkau bingung karena belum mengambil sikap. Agar engkau tidak bingung maka engkau harus ikhlas mengakui kesalahanmu sebagai guru di sekolah yang selama ini mempraktekan metode pembelajaran tidak efektif, tidak efisien, boros, tak keluar di UN, ...dst. Maka segera bertobatlah dan mengakui kesalahanmu.

Tentor Bimbel Berbesar Hati:
Waha..bagus..bagus..begitulah mauku. Terimakasih aku ucapkan kepada panitia seminar. Lain lagi kalau mengundang pakar pendidikan ambil pakar yang bingung-bingung saja. Lebih baik aku membayar berapapun pakar pendidikkan bingung dari pada bekerjasama dengan Guru Muda Sadar. Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya, jangan tanggung-tanggung, umumkan saja sekarang juga di masmedia tentang hasil-hasil seminar yang gemilang ini.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Baiklah...wahai sobat-sobatku...aku membawa khabar gembira, yaitu hasil-hasil pemikiran Pakar Pendidikan Bingung Utama yang menyatakan BAHWA METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH TERTINGGAL DIBANDING DENGAN TRIK BELAJAR DI LBB. Bacalah pengumumanku itu karena sudah aku muat diberbagai mas media termasuk internet, milinglis, dsb. Wahai semua guru dan sekolah-sekolah renungkanlah dalam-dalam TEMUAN AGUNG ini.

Guru Sadar Pembina:
Protes...wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..jangan asal bicara kamu itu. Aku memang tak begitu paham tentang hakekat metode pembelajaran itu. Tetapi aku tidak terima jika sekolah-sekolah disalahkan dan dibandingkan hanya sekali hanya dengan sebuah lembaga bimbingan belajar. Naif itu.

Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:

Hai..Guru Sadar Pembina..jangan sok berani engkau. Ketahuilah apa implikasi dari temuanku itu? Implikasinya adalah jika semua Pejabat Pendidikan Pusat sudah percaya omonganku, maka sekolahmu akan saya bubarkan. Ketahuilah tidak hanya itu, departemenmu yaitu Departemen Pendidikan Nasional juga harus diubah menjadi Departemen Bimbingan Belajar Nasional.

Guru Sadar Pembina, Guru Sadar Madya, dan Guru Sadar Muda:

Ohohoh..UN...UN? Demikianlah akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karena perilaku dirimu. Para Pakar Pendidikan telah engkau buwat bingung dan telah engkau butakan mata dan engkau tulikan telinganya. Mereka telah berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendirinya masing-masing. Ya Tuhan berilah pahala dan terimalah di sisimu UJian Nasional jika dia itu benar dan bermanfaat secara hakiki. Tetapi kutuklah dia dan masukkanlah ke neraka jika dia memang telah berlaku dholim di negeri ini. Dengarkanlah doa-doa orang lemah ini ya Tuhan. Amiin.

Yogyakarta, 2 Januari 2010

53 comments:

  1. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Pakar pendidikan saja dibuatnya bingung pada pendidikan zaman sekarang. Apalagi terkait dengan masalah UN atau ujian nasional yang menjadi pro kontra dimana pakah fektik memang menggunakan UN sebagai kriteria kelulusan, padahal dia dari kelas 1 sampai 3 selalu juara selalu berprestasi akan tetapi saat UN dia tidak lulus. Apakah UN bisa menjamin bisa menilai siswa. Sebaiknya direnungkan dulu para metri-mentri.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pola belajar di sekolah dengan di bimbel memang berbeda. Di bimbel, siswa cenderung diberikan jalan pintas. Pola belajar di bimbel ini sangat cocok digunakan jika tujuan belajar hanya untuk menghadapi UN, namun cenderung tidak dapat membantu siswa dalam proses mengkontruksi pikirannya. Walaupun memang pada dasarnya tujuan UN adalah untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Hal inilah yang dibingungkan oleh para guru di sekolah, di satu sisi mereka bertugas untuk membantu siswanya dalam mengkontruksi pikiran, di sisi lain mereka juga bertugas dalam membimbing siswanya agar sukses UN yang menuntut ‘cara cepat’ di setiap penyelesaian butir soanya.

    ReplyDelete
  3. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Memang, ada yang berubah dengan fenomena pendidikan yang terjadi setelah di adakannya UNAS. Siswa – siswa mau tidak mau menjadikan UNAS sebagai tujuan dari belajar. Yang penting lulus. Lainnya dikesampingkan. Siswa sekarang lebih menyukai hal – hal yang bersifat instan. Oleh karena itu hal ini menjadi tantangan sendiri bagi guru ketika ingin menerapkan pembelajaran di kelas. Siswa cenderung tidak sabaran apabila dilakukan metode pembelajaran penemuan terbimbing.

    ReplyDelete
  4. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Orientasi pendidikan ketika UN masih menjadi tolak ukur utama bagi pemerintah untuk mengetahui hasil belajar siswa selama 3 tahun berada di sekolah tentunya akan menimbulkan pandangan-pandangan bahwa tujuan siswa belajar di sekolah hanya untuk menggapai kesuksesan dalam UN. Tetapi, ketika pembelajaran di sekolah tidak dirasa efektif bagi siswa untuk mencapai tujuan tersebut, maka siswa banyak yang berbondong-bondong untuk mengikuti bimbel-bimbel yang menawarkan trik-trik belajar yang lebih cepat agar siswa dapat sukses mengikuti UN. Sehingga inilah yang menjadi persoalan, untuk apa belajar di sekolah apabila bimbel sudah memfasilitasi siswa untuk belajar sehingga siswa sukses dalam UN. Apalagi biasanya bimbel banyak yang diikuti siswa sepulang sekolah, maka banyak waktu siswa yang tersita yang harusnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan lain. Selain itu, siswa juga akan kecapaian apabila terus-terusan menjalani rutinitas seperti ini. Akibatnya, siswa seringkali tidak memperhatikan dan menyepelekan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Mereka akan beranggapan bahwa tidak usah memperhatikan penjelasan guru di kelaspun tidak apa-apa karena nanti juga di bimbel akan dibahas mengenai materi tersebut dengan rumus-rumus yang lebih cepat. Hal ini, akan menjadikan peran sekolah yang seharusnya menjadi sarana utama bagi siswa dalam belajar dan menuntut ilmu tergantikan oleh bimbel-bimbel yang diikuti oleh siswa tersebut.

    ReplyDelete
  5. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sistem pendidikan disekolah dan bimbel entu berbeda. Disekolah siswa diutamakan dalam proses membangun pengetahuannya sendiri dan bekerjasama dengan siswa lainnya untuk memecahkan masalah. Sedangkan pada bimbel siswa diharapkan bisa cepat untuk menyelesaikan soal-soal ujian. Sangat bertentangan, namun keduanya berusaha mewujudkan harapan masing-masing. Terkait hal ini semestinya sistem pendidikan dan bimbel ada korelasi.

    ReplyDelete
  6. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Tujuan pendidikan nasional yang dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun, fenomena yang terjadi adalah menjadikan UN sebagai tolak ukur utama keberhasilan seseorang setelah menempuh jenjang pendidikan. Padahal jika dianalisis, UN mengukur kemampuan peserta didik dengan lebih menekankankan pada aspek kognitif saja. Ini jelas tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang mementingkan pada keseimbangan antara aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pakar Pendidikan yang dapat kita lihat sekarang seringkali mereka lebiih berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendirinya masing-masing. Bukan lagi mengedepankan kebutuhan pendidikan yang ada.
    Kebutuhan dan kewajiban pendidikan seperti apakah yang sebaiknya ada. Akan tetpi lebih pendidikan yang bagaimana yang dapat membuat mereka lebih unggul.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D
    Tujuan pendidikan sebenarnya bukan hanya untuk lulus UN. Namun karena tuntutan yang ada, banyak sekolah yang akhirnya membimbing anak untuk lulus UN saja, tidak memperhatikan aspek-aspek penting dalam pendidikan lainnya seperti sikap dan keterampilan. Dari elegi ini terlihat, jika pimpinan tidak mengerti, maka semua kebijakan yang diambil salah dan menyesatkan. Yang memimpin dan yang dipimpin akhirnya malah membuat kerusakan yang lebih lagi. Maka, hendaklah seseorang terus memperbaharui dirinya dan mau menerima teguran.

    ReplyDelete
  9. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Pendidikan merupakan hal penting untuk memajukan suatu negara. Dikarenakan pentingnya pendidikan, maka banyak sekali orang yang berniat mendalami maslah pendidikan. Orang berlomba-lomba menjadi pakar pendidikan. dengan benyaknya pakar pendidikan tidak semua satu pemikiran dan tidak semua benar-benar memahami masalah pendidikan. hendaknya selalu berhati-hati jika mengutip pemikiran pakar pendidikan maupun meminta pendapat pakar pendidikan.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dari segala kebijakan yang ada dan yang dibuat oleh Para Pakar Pendidikan dalam hal ini adalah Ujian Nasional sebagai warga kita hanya bisa mendoakan “Tuhan berilah pahala dan terimalah di sisimu UJian Nasional jika dia itu benar dan bermanfaat secara hakiki. Tetapi kutuklah dia dan masukkanlah ke neraka jika dia memang telah berlaku dholim di negeri ini.”
    Semoga doa kita diterima di sisiNya. Aamin.

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini hal yang saya peroleh adalah kebingungan dari pakar pendidikan dimana tujuan pendidikan formal dan nonformal itu berbeda. Dimana pendidikan formal diharuskan mengikuti Ujian Nasional sebagai standar kelulusan sekolah tetapi penerapan pembelajaran sekolah tidak semudah pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal justru menerapkan pembelajaran yang simple dan menggunakan trik trik jitu untuk menyelesaikan suatu masalah dan orang-orang menjadikan pendidikan nonformal sebagai salah satu jalan untuk mempermudah menyelesiakan ujian nasioanl. Hal tersebut yang menjadikan kebingungan dari pakar pendidikan , kenapa pendidikan formal harus ada UN yang nantinya hanya di bantu oleh pendidikan nonformal, kenapa kalau begitu tidak langsung menggunakan pendidikan nonformal saja.

    ReplyDelete
  13. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan, perlu diadakan suatu penilaian terhadap keberhasilan peserta didik, yang diukur dari berbagai ranah, seperti pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (psikomotor). Selain penilaian yang dilakukan ketika ujian berlangsung, seorang pendidik bisa memperhitungkan tindak-tanduk peserta didik di luar ujian. Pendidik mungkin saja tidak akan meluluskan seorang peserta didik yang mengikuti ujian mata pelajaran tertentu karena perilaku peserta didik tersebut sehari-harinya adalah kurang sopan, selalu usil, dan suka berbuat keonaran meskipun dalam mengerjakan ujian, peserta didik itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan jawaban ujian dengan tulisan yang jelas dan rapi. Oleh karenaa itu, akan tepat apabila pada setiap mata pelajaran dirumuskan tujuan pengajaran yang mencakupi kemampuan dalam semua ranah. Artinya, pada setiap rencana pembelajaran termuat kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan demikian, seorang pendidik akan menilai kemampuan dalam semua ranah ujian suatu mata pelajaran secara abash, tanpa ragu dan dapat dipertanggungjawabkan.

    ReplyDelete
  14. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Artikel diatas persis apa yang ada dalam pemikiran saya, karena sekolah formal memang banyak menghabiskan waktu dan bertele-tele. Namun itu tidak bisa kita salahkan karena kebanyakan di negeri kita ini kalau tidak ada ijazah formal walaupun keahlian ada, namun apabila ingin masuk kedunia kerja orang yang tidak punya ijazah tersebut tidak akan diterima sehingga seolah-olah ijazah adalah syaraat mutlak untuk bekerja. Imbasnya kepada pendidikan adalah orang akan berlomba-lomba untuk sekolah walaupun hanya asal-asalan yakni hanya untuk mendapatkan ijazah. Setelah dapat ijazah walau keilmuannya diragukan dan deking (sogok sana, sogok sini) ada maka orang tersebut akan masuk kerja baik dia sebagai pegawi negeri atau swasta. Dan pendidikan di Indonesia menurut saya adalah sebuah proyek oleh golongan tertentu sehingga kualitas tidak diutamakan, yang penting sekolah, berkualitas atau tidak berkualitas itu urusan belakangan. Begitu juga bisa kita lihat banyak oknum guru utamanya guru pegawai negeri mereka hanya mengajar asal-asalan. Mereka sudah menganggap bahwa sudah diposisi aman sehingga kualitas keilmuan tidak lagi butuhkan. Kalau boleh jujur jika kita bandingkan keilmuan guru-guru bimbel dengan guru-guru di sekolah baik negeri maupun swasta, saya yakin guru-guru bimbel itu jauh lebih unggul. Kalau hal seperti ini yang terjadi di Indonesia, maka jangan harapkan pendidikan di Indonesia akan maju.

    ReplyDelete
  15. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Setelah membaca elegi tersebut maka dapat saya katakan bahwa Elegi menonton pakar pendidikan bingung. Bingung, saya pun bingung melihat pendidikan di Indonesia ini. System yang ada sebenarnya sudah benar, namun untuk pelaksanaannya mungkin membingungkan, karena praktek tidak sesuai dengan teori, seperti contohnya pada pelaksanaan UN, jika dilaksanakan dengan baik, sebenarnya bagus tujuan dari di adakannya UN ini, namun karena pelaksanaannya yang tidak sesuai dengan tujuannya, maka system menjadi kacau.

    ReplyDelete
  16. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    jika kebingungan hanya kita tonton tidak akan memberikan dampak yang baik untuk bangsa kita namun sebaliknya. mungkin formal dan nonmformal dalam peraturan pemerintahan menimbulkan pro dan kontra namun ketahuilah, jika kita mampu menerima segala perbedaan maka pertentangan yang membawa dampak buruk bisa ditangani bersama salah satunya kebingungan.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Lagi – lagi Ujian Nasional membuat pakar pendidikan kebingungan. Apakah harus terus diselenggarakan atau tidak? Suatu kebijakan pasti memiliki pro dan dan kontra, dampak positif dan negative. Semua kembali kepada para pakar dan bapak/ibu pengambil keputusan dalam mempertimbangkan apakah lebih banyak dampak positifnya atau tidak? Apakah akan memajukan pendidikan negara ini atau tidak?

    ReplyDelete
  18. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Fenomena UN memang sangat hangat dan menarik untuk diperbincangkan pada setiap tahunnya. Karena dari kalangan pakar pendidikan ada yang setuju dan tidak dengan berbagai pendapat yang didukung oleh tujuan pendidikan. Sebagian dari pelaku pendidikan menjadikan UN sebagai tolak ukur atas keberhasilan atau perkembangan pendidikan di Indonesia, namun ada juga para pelaku yang tidak berpendapat demikian kendati persoalan-persoalan yang dihadapi oleh guru beserta siswanya, sehingga UN ini dijadikan sebagai tujuan utama pendidikan Indonesia. Padahal, hakekatnya tujuan pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sehingga yang paling penting disini adalah bagaimana mengembangkan sumber daya manusia agar berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan agamanya.

    ReplyDelete
  19. Muhammad Nurfauzan
    14301241015
    Pendidikan MAtematika s1 2014 A

    Pembelajaran di Bimbel memang menawarkan jalan lintas untuk mendapatkan Nilai yang baik saat UN ataupun dapat lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Entah gengsi apa yang membuat siswa-siswa di Indonesia sangat membutuhkan nilai UN yang baik. Padahal pendidikan tak hanya mengejakan soal, tapi bagaimana ilmu yang didapat dapat berguna bagi Bangsa dan Negara ini.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  20. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Tak hanya siswa, dari aspek pengajar juga mendapatkan tekanan karena guru dipacu untuk bekerja ekstra keras terutama guru-guru yang mengajar mata pelajaran UN. Ujian Nasional pada akhirnya menyebabkan mata pelajaran yang di-UN-kan lebih dianak-emaskan, seolah mata pelajaran UN menjadi yang paling penting dan paling utama di antara deretan pelajaran lain yang diajarkan di sekolah. Sementara itu, di tengah ketatnya persaingan antara sekolah untuk mendapatkan pengakuan publik, persaingan ini kemudian menimbulkan kecurangan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional. Singkat kata, sekolah yang banyak siswanya tidak lulus akan akan dihakimi publik sebagai sekolah gagal.

    ReplyDelete
  21. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Sistem pelaksanaan Ujian Nasional telah merenggut kewajiban seorang Guru sebagai pendidik yang mengetahui secara detail karakter setiap peserta didiknya. Para guru dibuat resah dan gelisah karena evaluasi sebagai aspek yang cukup penting dalam penyelenggaraan pendidikan direnggut oleh Negara.Dengan dalil penyetaraan kualitas pendidikan di tanah air, Negara kemuadian menjadikan Ujian Nasional sebagai satu-satunya aspek penentu kelulusan siswa. Intelligence Question (IQ) merupakan aspek utama yang di nilai dalam system ujian nasional. Sementara aspek lain seperti Emotional Question (EQ) dikesampingkan. Pada kenyataanya jika diamati bukan hanya IQ yang membentuk karakter seseorang tapi ada aspek lain seperti EQ juga. Keanehan ini semakin nyata ketika pada saat yang sama adanya pemaksaan dari pemerintah untuk mendapat hasi UN yang baik. Sementara di sisi lain, pemerintah tidak pernah memperhatikan fasilitas, ketersediaan Guru dan sarana prasarana di sekolah-sekolah terutama di pelosok seperti NTT dan Papua.

    ReplyDelete
  22. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dilihat-lihat begitulah keadaaan yang ada pada pemegang kebijikan pendidikan di Indonesia. Karena dalam memutudkan kebijakan bukan mementingkan tentang kemajuan pendidikan namun ada kepentingan politik dialamnya. Hal itu pula yang menyebabkan samapi ke tangan para siswa. Meraka hanya mementingkan hasil UN, sehingga untuk mendapatkan nbilai yang baik meraka mengambu\il kursus yang ada di Bimbingan Belajar. Namun keadaan di Bimbingan belajar bukanlah yang terbaik, bukan mengajarkan logos namun hanya memikirkan kepraktisan, hanya menggunakan rumus-rumus yang telah mereka rancang dengan mudah diterapkan di UN.

    ReplyDelete
  23. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dilihat-lihat begitulah keadaan pemegang kebijakan di Bangda ini. Kebijakan yang dibuat oleh pemegang kebijakan tidak mementingkan kemajuan pendidikan namun lebih mementingkan kepentingan politik. Bigitulah keadaanya, sehingga menyebabkan peara siswa bepikir untuk mementingkan hasil UN bukan Ilmu yang didapatkannya. Menyebabkan banyaknya Bimbingan Belajar yang mengkhususkan pada UN atau Ujian-Ujian serupa. Memakai metodenya berupa rumus-rumus yang mudah dihapalkan dan diterapkan oleh siswa untuk mengerjakan soal-soal di Indonesia.

    ReplyDelete
  24. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Sangat mencengangkan memang jika melihat kenyataan yang ada, hakekat pendidikan sudah tidak ada lagi. Tujuan dari pendidikan yang diamanatkan undang-undang telah beralih. Dimana tujuan dari UN menjadi prioritas utama. Tujuan ujian nasional  adalah untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Namun, ujian nasional memiliki dampak yang besar bagi keadaan pendidikan di Indonesia. Pembelajaran di sekolah juga orientasinya hanyalah ujian nasional. Mungkin memang sudah benar-benar kacau keadaan pendidikan di negeri ini. Inilah yang perlu kita perjuangkan bersama, menjadikan pendidikan sebagai sebenar-benar pendidikan.

    ReplyDelete
  25. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah kompleks. Yang menjadi perhatian saya adalah pelaksanaan ujian nasional yang notabennya malah menjauhkan siswa dari sikap kreatif, mandiri, dan percaya diri. Pasalnya dengan adanya ujian nasional bukan melatih siswa untuk berpikir kreatif, inovatif, berkomunikasi dengan baik, dan percaya diri, namun pembelajaran di sekolah cenderung bertujuan untuk menyiapkan siswa dalam menghadapi ujian nasional.

    ReplyDelete
  26. Ika AGustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan pada dasarnya adalah melatih siswa pada hal-hal yang baru yang mampu melatih kemampuan berpikir dan bernalar. Pendidikan mampu dilaksanakan dimana saja, termasuk di lembaga belajar. Namun sangat disanyangkan, pelaksanaan pembelajaran di lembaga belajar bertolak belakang dengan pembelajaran di sekolah yang telah disusun dan dikaji sedemikian sehingga siswa mampu berpikir dan bernalar dengan baik. Lembaga belajar yang cenderung meberkan jalan pintas akan membuat siswa mudah menyerah dalam melakukan hal-hal kompleks.

    ReplyDelete
  27. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pembelajaran di bimbel menyediakan rumus cepat yang dapat membuat siswa merasa lebih cepat mengerjakan jika menggunakan rumus tersebut daripada menggunakan rumus dari sekolah biasa. tetapi biar bagaimanapun menggunakan rumus yang dari sekolah juga sama saja. sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara rumus bimbel maupun rumus dari sekolah.

    ReplyDelete
  28. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Salah satu sistem yang paling berkembang adalah sistem bimbingan belajar atau privat. Bimbingan belajar merupakan salah satu alternatif bagi kebanyakan siswa untuk mempermantap materi yang mereka di dapatkan di sekolah. Di sisi lain bimbingan belajar juga mengajarkan siswa mengenai cara cepat untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Namun terkadang cara cepat yang diajarkan menyalahi konsep yang diberikan di sekolah. Meski pun demikian cara cepat ini tentunya juga mempunyai nilai positif, yaitu akan sangat berguna apabila siswa mengerjakan soal pilihan ganda yang dibatasi oleh waktu tertentu khususnya pada mata pelajaran matematika atau pelajaran lain yang membutuhkan perhitungan. Jadi oleh karena itu bimbingan belajar juga mempunyai peranan penting dalam penanam konsep bagi siswa.

    ReplyDelete
  29. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan “Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung”, saya mendapat pelajaran bahwa jika kita menjadi orang yang dipandang dan orang yang mempunyai kedudukan tinggi, kita tidak boleh bertindak dan berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan pendapat orang lain. Lebih baik dilakukan musyawarah mufakat untuk menentukan keputusan yang menyangkut kepentingan orang lain.

    ReplyDelete
  30. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengenai sekolah dan LBB, menurut saya sekolah itu penting. Ada beberapa yang kita dapatkan di sekolah namun tidak kita dapatkan di LBB. Di LBB, waktu mengajar terbatas dan biaya yang dibbutuhkan tidaklah murah. Di sekolah kita diajarkan untuk menemukan konsep, sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar. Peserta didik di sekolah juga diajarkan pelajaran moral, sosial dan spiritual.

    ReplyDelete
  31. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi tersebut dijelaskan tentang pendidikan nonformal dan formal. Dengan kata lain dapat disimpulkan dalam pendidikan formal dengan susah payah mengajar agar mendapat nilai bagus saat ujian, tetapi dengan mudah dari pendidikan nonformal mengajarkan trik trik cara cepatnya. Menurut sebagai calon pendidik maupun pendidik jangan sampai menanamkan pada siswa bahwa pendidikan semata-mata bukan hanya untuk mengejar nilai saja.

    ReplyDelete
  32. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pendidikan adalah salah satu hal menentukan maju tidaknya suatu negara. Begitu pentingnya pendidikan yang kemudian sudah seharusnya menjadi topik penting di negara ini. Akan tetapi, krisis pendidikan sedang dialami di negeri ini, dimana Pendidikan tidak lagi dilaksanakan berdasarkan tujuan awal berdasarkan hakekatnya. Pendidikan kini telah keluar dari tujuannya,pendidikan telah di manfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadi. Kini pendidikan dimanfaatkan menjadi sarana penyebarluasaan rasis, di manfaatkan untuk alasan-alasan yang kadang membuat kita berpikir mengapa harus melalui pendidikan, bahkan untuk kepentingan bisnis. Hal ini benar-benar mencoreng nama pendidikan yang seharusnya memiliki tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa.
    Untuk itu, mari sebagai generasi muda untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini.

    ReplyDelete
  33. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam tulisan tersebut pakar pendidikan bingung dan bahkan dia tidak sadar mengapa dia bisa menjadi pakar pendidikan. Hal ini menjadi cermin untuk para pakar pendidikan di negeri ini, pakar yang dianggap menguasai bidang pendidikan dan menjadi tumpuan bagi pendidik yang lain ternyata tidak serius menjalankan perannya. Hal ini menjadi bahan evaluasi bagi kita semua, meskipun kita bukan pakar pendidikan di negeri ini, tapi kita tetap harus memperbaiki pendidikan di negeri ini dengan mengambil peran kita masing-masing.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  34. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Pendidikan adalah salah satu sarana dan media bagi suatu negara untuk membangun masa depannya, karena melalui pendidikan suatu bangsa dapat membentuk karakter bangsanya. Dengan pembentukan karakter ini yang kemudian akan menentukan tingkat kemakmuran suatu negara. Oleh karena itu pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting bagi suatu negara. Pendidikan suatu begara harus mampu menunjukan tujuan dana rah dalam pengembangan jati diri negara tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  35. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam tulisan tersebut menggambarkan keadaan pembuat kebijaksanaan di indonesia. Seolah-olah pembuat kebijaksanaan pendidikan di negeri ini hanya bermain-main dengan kebijaksanaan yang mereka buat. Siswa dipaksa mendapat hasil yang baik dalam Ujian Nasional dan tidak mengutamakan aspek pemahaman yang mereka kuasai. Hal ini membuat banyak siswa berlomba mendapat nilai yang baik dalam UN dan tidak mengutamakan pemahaman mereka dalam pembelajaran.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  36. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam dunia pendidikan tidak dipungkiri lagi banyak terdapat hal – hal yang membingungkan. Hal itu tidak hanya terjadi pada guru, tetapi juga pada siswa, kepala sekolah, dan bahkan pemerintah. Kebijakan untuk melakukan UN juga masih menjadi hal yang memicu pro dan kontra. Menurut saya, apapun itu tergantung dari bagaimana masing – masing individu menyikapinya. Dari yang pro dan kontra juga memiliki pandangan masing – masing terhadap kelebihan dan kekurangan dari UN. Semoga kedepannya aturan yang dibuat tidak semakin membingungkan.

    ReplyDelete
  37. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan yang terjadi di negeri ini sebenarnya masih bingung, belum ada patokan tertentu, hal ini dibuktika dengan kurikulum yang terus berubah setiap kali menteri pendidikan berubah. Sehingga poros pendidikan yang ada di negeri ini selalu berubah – ubah.

    ReplyDelete
  38. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kebingunan guru – guru di Indonesia telihat dengan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh pemerintah, melaksanakan sesuai dengan peraturan yang ada. Padahal peraturan itu belum tentu sesuai dengan kebutuhan siswa akan pendidikan sehingga, terjadi kesenjangan pendidikan.

    ReplyDelete
  39. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini menunjukkan bahwa peraturan perubahan dalam pendidikan tidak dibarengi dengan kesiapan dari komponen-komponennya. Sepertihalnya perubahan kurikulum dari KTSP ke Kurikulum 2013, pemerintah terkesan terburu-buru dalam penerapannya sehingga menjadikan tujuan perubahan tidak tercapai secara optimal.

    ReplyDelete
  40. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan ada ujian nasional maka banyak siswa yang memprioritaskan ujian nasional menjadi fokus utamanya. Yang penting lulus ujian dengan apapun jalan ditempuhnya. Salah satunya dengan bimbel atau bimbingan belajar. Bimbel mengajarkan siswa untuk menemukan cara dengan cepat dan juga tepat atau kata lain menggunakan rumus singkat. Hal ini membuat siswa lebih mengandalkan rumus-rumus dari bimbel dari pada rumus yang diperoleh dari gurunya.

    ReplyDelete
  41. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kita selalu saja dibuat bingung dengan sistem pendidikan di negeri ini. Metode pembelajaran di sekola dianggap oleh siswa terlalu bertele-tele dan tidak keluar saat UN. Sedangkan metode bimbel, dengan pemberian rumus instan dapat langsung diterapkan pada soal UN. Hal tersebut membuat siswa berbondong-bondong lebih menyukai cara praktis dari bimbel. Hal tersebut menggambarkan bahwa siswa sangat berorintasi pada kelulusan UN dan bukan pada ilmu yang akan mereka dapat.

    ReplyDelete
  42. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya setuju jika banyak siswa yang mulai tidak bersemangat untuk belajar di sekolah dikarenakan pembelajran yang monoton dan tujuan pendidikan yang ada bukan untuk memenuhi kebutuhan siswa tetapi bertujuan pada UN. Sehingga banyak siswa lebih memilih untuk belajar di Bimbingan Belajar yang bisa mendapatkan cara cepat dan sukses pada UN. Sehingga siswa tidak berorientasi pada belajar tetapi mengerjakan soal.

    ReplyDelete
  43. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya pernah mendapat pertanyaan, "Kenapa harus les, padahal sudah sekolah, apa bedanya?". Membaca elegi di atas mengingatkan saya akan keputusa saya mengikuti bimbel waktu sekolah dulu. Ya, jawabannya pun tertuang dalam elegi di atas. Saya mengikuti bimbel karna bimbel memberikan latihan soal yang kemungkinan besar muncul di ujian nasional. Saya merasa yakin dan saya banyak menghafal rumus, berlatih soal di bimbel, hingga saya sendiri lupa memaknai apa yang saya pelajari.
    Sekolah mengajarkan hal yang benar, yakni konsep dari suatu materi tertentu. Namun, paradigma sekarang menutuk siswa sukses dalam ujian, bukan proses di kelas. Sehingga, siswa sendiri pun dilema.

    ReplyDelete
  44. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu yang membuat para guru bingun yaitu anggapan masyarakan yang berpilarkan pendidikan dilihat dari hasilnya salah satunya UN. Sehingga focus pembelajaran yang disusun guru menargetkan kepada Ujian Nasioan. Hal ini terjadi kare tolak ukur masyarakat Indonesia saat ini masih berpandangan pada hasil Ujian Nasional, bokan proses pembelajaran. Sehingga agar guru dianggap benar oleh masyarak guru dengan kecemasnya mengajar dengan pandangan seperti itu. Namun seharusnya pembelajran itu bertolak ukur terhadap pembelajran yang dapat dimaknai oleh siswa sehingga siswa mampu menyelasaikan

    ReplyDelete
  45. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas juga bisa mengilustrasikan keadaan petinggi – petinggi pemerintahan yang ada. Ataupun orang – orang yang berkuasa. Mereka memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki untuk memengaruhi kalangan bawah untuk turut serta mengikuti keinginan orang berkuasa. Padahl itulah yang bisa merugikan bangsa dna negeri ini.

    ReplyDelete
  46. Harumas Anom
    14301244013
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Kebingungan-kebingungan ini seperti halnya dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Guru-guru yang sepantasnya sudah terbiasa mengajar sebaik-baiknya dengan cara mereka sendiri, malah harus dibingungkan dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Namun lebih parah lagi kebijakan-kebijakan ini dikarenakan pemeran pemerintah dengan kepentingan politik mereka. Hasilnya, siswa bukan mencari ilmu, tetapi lebih mementingkan nilai. Setelah ujian, semua ilmu yang seharusnya melekat malah langsung dilupakan.

    ReplyDelete
  47. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pendidikan merupakan salah satu yang dipandang dan dapat menentukan kemajuan suatu negara. Elegi menonton pakar pendidikan bingung ini bahwa penerapan pendidikan formal diindonesia ditempuh melalui UN. UN menjadi tolak ukur keberhasilan seorang siswa dalam metode pembelajaran formal. Sedangkan minat siswa sendiri belum tentu ada pada mata pelajaran yang ada di dalam UN. Sedangkan pendidikan formal ditempuh dalam waktu 3 tahun dengan semua mata pelajaran yang diberikan, menurut saya sebaiknya pihak terkait mengkaji masalah penentuan kelulusan ini sebab lebih baik menggali minat masing masing siswa dan medorong bakat serta kemampuan yang siswa miliki di masing masing bidang.

    ReplyDelete
  48. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Banyak pihak yang pro dan kontra akan penerapan pendidikan formal yang kelulusanya diterapkan melalui UN. Apakah UN ini sudah tepat sasaran atau perlu dikaji kembali, sebab banyak orang tua siswa menempuh pendidikan nonformal untuk metode pembelajaran siswa agar siswa dapat mengerjakan penentuan kelulusan yang berupa UN dengan ringkas dan tepat.

    ReplyDelete
  49. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan di Indonesia memang masih membingungkan. Tujuan pendidikan yang belum jelas kemana arahnya seshingga siswa pun ikut bingung. Tujuan pendidikan seharusnya menjadikan pendidikan sebuah wadah untuk siswa membangun ilmu pengetahuannya secara mandiri. Namun adanya ujian nasional menyebabkan siswa merasa perlu mendapatkan cara cepat agar mampu lulus ujian nasional dengan baik. Salah satunya dengan bimbingan belajar.

    ReplyDelete
  50. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan pendidikan di sekolah dan di bimbingan belajar adalah saat siswa di sekolah, mereka membangun pengetahuannya sendiri, tidak hanya pengetahuan, dan keterampilan, namun juga sikap dan moral yang dibangun di sekolah. Sedangkan saat di bimbel, siswa hanya diajarkan untuk mengerjakan soal-soal yang nantinya dapat digunakan saat mengerjakan soal-soal Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  51. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Elegi di atas menggambarkan potret pendidikan negeri ini yang telah “dipimpin” oleh para pakar yang bingung. Dan saya mengasumsikan tidak semua pakar yang terlibat di dalam “lingkaran” tersebut dalam keadaan bingung. Mereka ada yang sadar namun tetap saja tidak bisa merubah keadaan karena terbatasnya kekuatan untuk merubahnya. Itulah akibat dari Powernow, semakin hari semakin banyak hal-hal yang dirubah olehnya demi kepentingan segelintir orang saja.

    ReplyDelete
  52. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Penyelengaraan ujian nasional di Indonesia ialah salah sebab timbulnya kebingungan, baik bagi kita maupun pakar pendidikan. Hal ini dapat disebbakan oleh bagaimana pembelajaran di sekolah berbeda dengan bagaimana yang diajarkan pada tempat bimbingan belajar. Pembelajaran di sekolah nampak lebih tertinggal dibandingkna di tempat bimbingan. Di tempat bimbingan akan diberikan berbagai trik ringkas, cepat, dan efisien dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  53. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Belajar hanya berorientasi mengejar predikat lulus dan nilai baik agar dapat diterima di sekolah favorit. Semoga pemerintah kita melalui para pakarnya dapat menetapkan kebijakan yang tepat dan terbaik bagi semuanya. Sehingga adanya UN nasional ini tidak menjadi suatu kebingungan kembali.

    ReplyDelete