Mar 8, 2011

Elegi Konferensi Internasional Imajiner

Oleh: Marsigit

Orang tua berambut putih ingin menyelenggarakan konferensi internasional imajiner. Semua orang penting diundang. Temanya adalah mengungkap hakekat ilmu. Moderatornya Socrates. Berikut jalannya sidang:

Socrates:
Wahai Permenides, Heraclitos, Pythagoras, ....Apakah ilmu menurut dirimu?



Thales:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam air. Barang siapa mampu mengungkap misteri air, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari air.

Anaximenes:
Menurutku ilmu itu terkandung dalam udara. Barang siapa mampu mengungkap misteri udara, maka dialah yang akan mempunyai ilmu itu. Maka tiadalah sesuatu itu tercipta, kecuali dari udara.

Pythagoras:
Menurutku ilmu itu suci. Maka hanya orang-orang sucilah yang berhak mempunyai ilmu.

Permenides:
Menurutku, ilmu itu bersifat tetap. Tiadalah sesuatu yang berubah dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang berubah bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah tetap. Hanyalah yang tetap yang aku sebut sebagai ilmu. Maka sebenar-benar segala sesuatu itu pada hakekatnya adalah tetap.

Heraclitos:
Menurutku, ilmu itu bersifat berubah. Tiadalah sesuatu yang tetap dalam ilmu itu. Itulah sebabnya maka sesuatu yang tetap bukanlah suatu ilmu. Maka sebenar-benar ilmu adalah berubah. Hanyalah yang berubah yang aku sebut sebagai ilmu.

Demokritos:
Menurutku, ilmu ada yang benar dan ada yang tidak benar. Ilmu yang benar adalah yang berada dalam pikiran. Sedangkan ilmu yang tidak benar yang diperoleh dengan melihat.

Plato:
Menurutku manusia mempunyai dua dunia, yaitu dunia pengalaman dan dunia ide. Sedankan ilmuharus bersifat tetap, dan yang tetap itu adalah ide. Jadi menurutku ilmu adalah ide itu sendiri.

Aristoteles:
Menurutku ilmu adalah pengalaman. Tiadalah ilmu tanpa pengalaman. Jadi pengalaman itulah sebenar-benar ilmu.

Euclides:
Menurutku ilmu adalah deduksi. Maka tiadalah ilmu kecuali ditemukan dengan metode deduksi.

Plotinos:
Menurutku ilmu adalah pancaran dari Tuhan. Maka tiadalah ilmu jika hal demikian tidak dipancarkan oleh Tuhan.

Rene Descartes:
Menurutku ilmu itu identik dengan keraguan. Maka tiadalah ilmu tanpa keraguan. Keraguanku itulah ilmuku.

Bacon:
Menurutku ilmu itu kalau terbebas dari idol. Idol adalah berhala pengganggu manusia dalam memperoleh ilmunya. Jadi sebenar-benar ilmu menurutku adalah terbebas dari idol.

Berkely:
Menurutku, ilmu adalah tipuan belaka. Sesungguhnya dunia itu tipuan. Maka tiadalah aku mempunyai ilmu kecuali tipuan belaka.

Hume:
Menurutku ilmu adalah totalitas dari pengalaman kita. Ilmu itu berada di atas pengalaman kita. Jadi tiadalah ilmu jika tidak berada di atas pengalaman.

Kant:
Menurutku ilmu adalah keputusan. Keputusanku itulah ilmuku. Maka janganlah berharap mempunyai ilmu jika tidak dapat mengambil keputusan.

Fichte:
Menurutku ilmu adalah diriku yang otonom. Diriku yang otonom itulah ilmuku. Itu sama artinya bahwa ilmuku adalah idealismeku.

Hegel:
Menurutku ilmu adalah sejarah. Dunia itu mensejarah. Maka sebenar-benar ilmu adalah sejarahnya dunia dengan segenap isinya.

Comte:
Menurutku ilmu adalah positive. Ilmu itu tentang hal yang sungguh-sungguh terjadi dan real. Itulah sebenar-benar ilmu yaitu positive.

Darwin:
Menurutku ilmu adalah perkembangan. Suatu perkembangan betul-betul disebut ilmu jika sesuai dengan hukum-hukum mekanik.

Husserl:
Menurutku ilmu adalah mengabaikan yang tidak diselidiki, dan memperhatikan yang diselidiki. Itulah fenomenologi. Maka sebenar-benar ilmu adalah fenomenologi.

Hartman:
Menurutku ilmu adalah nilai. Tiadalah ilmu jika tidak mempunyai nilai.

Satre:
Menurutku ilmu adalah merdeka. Merdeka dari segala macam aturan itulah ilmu. Itulah sebenar-benar nihilisme.

Freud:
Menurutku ilmu adalah asmara. Maka sebetulbetul dunia adalah asmara. Ilmuku itulah asmaraku.

Enstein:
Menurutku, ilmu adalah relatif. Semuanya adalah relatif. Duania itu adalah relativitas. Itu juga ilmuku.

Piaget:
Menurutku ilmu adalah membangun. Tiadalah orang dapat dikatakan berilmu jika tidak mampu membangun. Itulah sebenar-benar konstructivist.

Wittgenstain:
Menurutku ilmu adalah bahasa. Maka bahasaku itulah rumah sekaligus ilmuku.

Brouwer:
Menurutku, ilmu adalah intuisi. Maka intuisiku adalah ilmuku. Itulah sebenar-benar intuisionisme.

Russell:
Menurutku, ilmu adalah logika. Tiadalah suatu dikatakan sebagai ilmu jika dia tidak logis.

Lakatos:
Menurutku ilmu adalah kesalahan. Maka tiadalah sesuatu disebut ilmu jika tidak ada kesalahan. Itulah sebenar-benar fallibisme.

Stuart Mill:
Menurutku ilmu adalah manfaat. Maka tiadalah sesuatu disebut sebagi ilmu jika tidak membawa manfaat.

Ernest:
Menurutku, ilmu adalah pergaulan. Maka tiadalah seseorang dapat memperoleh ilmu tanpa interaksi dengan sesama untuk membangun ilmunya. Itulahh sebenar-benar socio-constructivist.

Materialist:
menurutku, ilmu adalah materi. Tiadalah sesuatu hakekat apapun kecuali materi. Itulah sebenar-bear materialis.

Hedonist:
Menurutku ilmu adalah kenikmatan. Maka tiadalah ilmu kecuali aku mendapat kenikmatan. Kenikmatan dunia itulah sebenar-benar ilmuku.

Fatalist:
Menurutku, ilmu adalah takdir. Maka suratan takdir itulah ilmuku. Tiada daya upaya manusia kecuali sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Itulah sebenar-benar ilmu, yaitu seratus persen berserah diri.

Humanis:
Menurutku, ilmu itulah diri manusia. Maka tiadalah ilmu berada diluar diri manusia. Itulah sebenar-benar humanisme.

Kapitalist:
Menurutku, ilmu adalah kapital. Maka tiadalah sebenar-benar ilmu tanpa kapital. Itulah sebenar-benar kapitalisme.

Liberalist:
Menurutku, ilmu adalah bebas mutlak. Itulah hak-hak ku. Itu pula sebenar-benar liberalisme.

Pancasilaist:
Menurutku, ilmu adalah mono-dualis. Dua yang satu, satu yang dua. Habluminallah dan habluminanash itulah hakekat ilmuku.

Religist:
Menurutku, ilmu adalah ibadah. Maka tiadalah sesuatu itu dikatakan ilmu jika tidak untuk ibadah.

Semua pembicara bertanya kepada Moderator:
Wahai Socrates, kalau menurutmu sendiri apakah ilmu itu.

Socrates:
Menurutku, ilmu adalah pertanyaan. Maka sebenar-benar ilmuku adalah pertanyaanku. Janganlah engkau berharap memperoleh ilmu jika engkau tidak mampu bertanya. Itulah mengapa pada konferensi ini aku banyak bertanya.

25 comments:

  1. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu untuk setiap orang dapat dimaknai berbeda-beda. Seperti halnya apa yang dimaknai sebagai ilmu oleh kalangan tokoh cendekia. Pendapat mereka pun tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Karena hal tersebut juga merupakan sudut pandang masing-masing orang dalam melihat apa itu ilmu.

    ReplyDelete
  2. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematka A 2014

    Penjelasan ilmu dipaparkan para filsuf dalam elegi ini, dibagi menjadi banyak sekali pemaknaanya. Tapi ilmu memiliki satu tujuan dengan keanekaragamaan pemaknaan di dalamnya. Menurut Stuart Mill: Menurutku ilmu adalah manfaat. Maka tiadalah sesuatu disebut sebagi ilmu jika tidak membawa manfaat. Maka carilah ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Ilmu dimiliki oleh siapapun yang ada dan yang mungkin ada. Dari elegi di atas dapat dilihat bahwa pengertian ilmu itu bermacam-macam sesui dengan teori mereka sesuai dengan “ciri khas” mereka masing-masing. Batu, rerumputan, air, dan lain-lain memiliki imunya masing-masing sesuai dengan ruang dan waktunya. Dan setinggi-tingginya ilmu adalah dimiliki oleh Dzat Yang Maha Mengetahui, Allah subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu di alam semesta ini.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Elegi ini menjelaskan bahwa para filusuf mengungkapkan berbagai macam pengertian ilmu. Ilmu sangat luas dan bagus kita pelajari. Mengapa ada ilmu, karena ilmu ada untuk dipelajari dan dilestarikan kebermanfaatanya. Dunia ini bukanlah apa-apa jika tidak ada ilmu.

    ReplyDelete
  5. Ferry IrwansyahJune 18, 2017 at 4:48 AM

    Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bila tidak ada ilmu maka akan kacau dan tidak selaras. Maka kita sekarang ini bertugas untuk mempelajari dan mengkaji berbagai macam ilmu yang telah ada dan menyebarluaskannya serta memanfaatkannya demi kemaslahatan umat manusia.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 Kelas B

    "Elegi Konferensi Internasional Imajiner". Saya membaca terdapat beberapa definisi ilmu dari beberapa sudut pandang. Ada yang berbicara bahwa ilmu itu adalah tetap, ada yang menimpali bahwa ilmu itu adalah segala sesuatu yang berubaha. Lantas, apakah hakikat imajiner selalu berjubungan dengan sesuatu yang kontradiktif?
    Terlepas dari hal yang saya tanyakan, melalui postingan ini saya jadi tahu beberapa hakikat ilmu dari berbagai pandangan. Bagaimana hedonist berbicara tentang ilmu, tentu tentang kenikmatan, dan yang lainnya. Bahkan pada postingan ini saya melihat bahwa "socrates" yang diposisikan sebagai moderator juga memiliki idealisme terkait hakikat ilmu yang ia yakini.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda tentang ilmu sesuai dengan kapasitas dan disiplin ilmu masing-masing. Maka janganlah menyalahkan definisi ilmu orang lain yang mungkin berbeda dengan definisi ilmu menurut kita. Karena yang terpenting adalah bagaimana kemauan seeorang untuk mencaro ilmu. Dan sebenar- benar orang yang mencari ilmu adalah orang yang bertanya. Karena bagaimana kita akan memperoleh ilmu jika kita tidak bertanya. Sesuatu yang tidak kita tanyakan dan hanya kita yakini bukanlah suatu ilmu melainkan mitos. Oleh karena itu sebagai pencari ilmu hendaklah kita berusaha selalu berpikir. Dari berpikir itulah akan muncul pertanyaan- pertanyaan karena semakin kita memeplajari sesuatu kita akan semakin merasa belum memahami apa- apa.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan mengenai berbagai macam arti ilmu menurut pandangan para filsuf. Sesungguhnya ilmu itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, dan dari yang ada yaitu memiliki sifat tetap dan berada dalam pikiran. Sehingga ilmu itu berada dalam pikiran manusia, dan manusia mendefinisikan apa itu ilmu relatif terhadap ruang dan waktunya dan hal inilah yang mengakibatkan banyaknya definisi tentang ilmu. Masing-masing filsuf memiliki alas an tersendiri dalam mendefinisikan apa itu ilmu.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendefisian ilmu dapat ditinjau dari banyak sudut pandang. Para filsuf mendefinisikan ilmu berdasarkan argumen mereka sendiri. Ilmu dapat bersifat tetap maupun berubah. Tidaklah benar ketika ilmu hanya apa yang dapat dilihat, namun ilmu juga harus berada dalam pikiran. Banyaknya definisi ilmu yang Bapak ulas dalam Elegi ini memberikan pengetahuan baru tentang apa itu ilmu. Apa yang sedang kita lakukan sekarang juga merupakan salah satu bagian dalam mempelajari suatu ilmu. Saya sependapat dengan Einstein yang mengatakan bahwa ilmu itu relatif, tidak mutlak dan bisa saja berubah seiring dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Yang terpenting adalah tujuan dari ilmu yaitu untuk mendapatkan kebenaran. Salah satu upaya dapat kita pelajari melalui ilmu agama.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca ‘Elegi Konferensi Internasional Imajiner’ diperoleh beberapa hakikat ilmu. Banyak sekali pendapat tentang apa itu ilmu. Hal tersebut tergantung ruang, waktu, serta sebanyak orang yang memikirkannya. Menurut saya, ilmu adalah segala sesuatu yang didapat seseorang setelah melakukan kegiatan yang nantinya akan berguna.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sifat setiap orang itu memang beda-beda, banyak pandangan-pandangan, karena memang karakternya saja juga berbeda. Perbedaan itu meliputi, bahasa, kemampuan berpikir, pengalaman, kekuasaan, dll. Dalam berpendapat itu tidak ada yang salah, karena berpendapat adalah hak dari setiap manusia. Maka, tidak ada yang salah, hanya saja harus disesuaikan dengan ruang dan waktu, nanti yang akan menentukan pas atau tidaknya. Sehingga pendapat itu harus disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang berkembang di lingkungan masyarakat/lingkungan, agar pendapat kita itu dapat diterima oleh orang lain.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum prof,
    Setiap filsuf dan setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing tentang ilmu. Setiap pengertian bisa saling melengkapi atau bahkan saling bertentangan. Seperti yang kita tahu bahwa semua yang ada di dunia ini bersifat relatif. Maka dalam mengartikan suatu ilmu pun relatif terhadap ruang dan waktunya. Misalnya dipengaruhi oleh konteks kehidupannya, pengalaman, persepsi, lingkungan, keyakinan, dan lain sebagainya. Definisi ilmu tersebut akan terus-menerus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Jika merujuk pada pendapat Socrates, ilmu merupakan pertanyaan. Menurutnya, tidak ada ilmu tanpa ada pertanyaan.

    ReplyDelete
  13. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Dalam hal apapun, perbedaan pendapat selau saja kita temukan. Salah satu contohnya ialah pada tulisan di atas, yakni perbedaan pendapat mengenai definisi ilmu. Setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya mengenai definisi tertentu, meskipun definisi yang disebutkan belum diketahu benar atau salah, karena sesungguhnya sebuah pendapat itu relatif, bisa benar, salah, atau bahkan tidak benar dan tidak salah. Ilmu itu datangnya dari Tuhan YME, tidak akan seseorang mendapatkan sebuah ilmu jika tanpa seizin-Nya. Ilmu dapat ditemukan dimana saja dan kapan saja, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Ilmu yang benar akan mengantarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Dengan ilmu pula lah maka dimensi manusia naik setingkat baik di hadapan sesama manusia maupun di hadapan Tuhan YME.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Karena ilmu itu sangat luas, kita hendaknya memiliki usaha yang sungguh-sungguh untuk mempelajari banyak ilmu. Karena ilmu apapun pasti akan berguna bagi kehidupan kita. Ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit. Jangan mudah untuk puas dengan ilmu yang telah didapatkan saat ini.
    Selain itu, kita sebaiknya selalu memiliki semangat dalam menuntut ilmu. Ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat dan berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Apalagi jika ilmu itu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Akan ada nilai ibadah didalamnya.

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda meskipun tentang hal yang sama. Orang yang benar-benar berilmu lahir dari orang-orang yang rajin bertanya karena sebenar-benar ilmu adalah pertanyaan yang dia ditanyakan. Maka supaya menjadi orang yang berilmu kita harus memegang satu pepatah yaitu ‘malu bertanya sesa dijalan’. Tidak alasan bagi kita untuk terpuruk dalam kebingungan. Selagi kita mampu bertanya maka ilmu itu akan datang dan berkembang.

    ReplyDelete
  16. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Definisi ilmu bagi setiap individu dapat berbeda-beda. Ada yang sama, serupa dan bahkan bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Maka ilmu itu relatif tergantung sudut pandang tiap individu. Ilmu itu sangat luas, mencakup segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Ilmu muncul ketika seseorang memikirkannya, seperti yang dikatakan Socrates bahwa ilmu itu adalah pertanyaan, maka sebenar-benar ilmuku adalah pertanyaanku. Namun jangan sekali-kali kita bertindak sombong dalam menggapai ilmu, karena sebenar-benarnya ilmu adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  17. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Konferensi Internasional Imajiner, elegi ini membahas mengenai berbagai definisi ilmu. Membaca elegi ini, membuat saya menyadari bahwa definisi ilmu itu sangat peragam. Pendefinisian ilmu yang beragam itu tergantung sudut pandang orang yang mendefinisikan. Semua definisi mengenai ilmu tidak ada yang salah, selama pembuat definisi mampu mempertahankan argumenya. Dari, sekian banyak definisi ilmu yang diungkapkan saya tertarik dengan definisi ilmu menurut Socraters bahwasanya ilmu adalah pertanyaan. Menurut saya, hal itu benar adanya karena jika kita sebagai pembelajar malu untuk bertanya maka ilmu kita akan terbatas dan bahkan ilmu kita akan menyesatkan diri kita sendiri bahkan oranglain. Terimakasih.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi Konferensi Internasional Imajiner. Mendefinisikan ilmu dari berbagai sudut pandang dan olah pikir orang yang mendefiniskan. Ini hal yang wajar, karena manusia diciptakan dengan olah fikir yang berbeda-beda. Maka akan banyak definisi yang diutarakan mengenai ilmu.
    Dari beberapa pendapat mengenai ilmu, saya lebih tertarik dengan ungkapan dari Socrates, yang mengatakan bahwa "ilmu adalah pertanyaan. Maka sebenar-benar ilmuku adalah pertanyaanku. Janganlah engkau berharap memperoleh ilmu jika engkau tidak mampu bertanya. Itulah mengapa pada konferensi ini aku banyak bertanya".
    Saya sependapat dengan Socrates, karena ilmu sendiri berasal dari pertanyaan. Dengan kita menanya, maka akan ada informasi yang kita terima, informasi inilah yang dapat kita sebut ilmu baru yang kita peroleh. Maka dari itu, sebenar-benarnya ilmu berasal dari pertanyaan.

    ReplyDelete
  19. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Elegi ini membuat saya semakin memahami pernyataan "sebenar-benar filsafat dalah dirimu sendiri". Ilmu dipahami berbeda-beda oleh setiap orang. Karena di dunia memang selalu ada perbedaan dan persamaan yang hidup berdampingan. Adalah tugas kita untuk menerimanya dan merenungkannya..

    ReplyDelete
  20. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita mengetahui bahwa hakikat ilmu itu memiliki dunianya. Meliputi semua contoh dan sifat-sifat ilmu itu sendiri. sebagai contoh para ahli menyebutkan apa itu ilmu menurut mereka maka belum selesai ilmu itu di definisikan. Karena ilmu itu meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga kita mampu berpikir luas akan ilmu itu sendiri. jika boleh ber sintesis maka menurut saya ilmu lebih kepada milik Tuhan, dan yang perlu kita ketahui seberapapun kita memiliki ilmu, itu bukan seberapa karena Allah Maha memiliki.

    ReplyDelete
  21. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ilmu yang sudah diberikan. Banyak sekali yang saya peroleh dari berbagai sudut pandang para tokoh terkait dengan ilmu. Saya dapat mengacu pandangan para tokoh tersebut sesuai dengan konteksnya. Namun, bisa saja seiring perjalanan saya mencari ilmu, saya dapat menemukan dan membuat makna ilmu dari sudut pandang diri saya sendiri.

    ReplyDelete
  22. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Terima kasih Prof. karena melalui elegi di atas kami dapat mengetahu bahwa bermacam makna ilmu dari berbagai sudut pandang para filusuf. Bermacam makna ini tidak melahirkan definisi yang salah ataupun yang paling benar. Ilmu adalah sebuah pengetahuan. Pengetahuan yang kita peroleh dari Tuhan melalui banyak hal bisa diperoleh dari pengalaman ataupun dengan belajar dan definisi ilmu menurut pytagoras mengingtkan kami maqolah arab bahwa “ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diperuntukkan untuk orang-orang yang bermaksiat”. Terima Kasih

    ReplyDelete
  23. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas ulasan di atas. Saya makin sadar bahwa "sebenar-benar filsafat dalah dirimu sendiri". Setiap filsuf memiliki sudut pandang filsafat yang berbeda-beda dan kita tidak mampu menyatakan dan menilai itu benar atau salah. Itu berarti juga bahwa dari bermacam sudut pandang dan ilmu yang dimiliki manusia, kita tidak mampu menilai itu benar atau salah. Dan selagi saya masih dapat berpikir, alangkah baiknya saya tetap mengambil makna dan pelajaran serta mengaplikannya ke dunia nyata. Tentunya selalu dengan diriringi Doa dan mohon perlindungan Allah swt, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  24. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ilmu memiliki definisinya masing-masing mneurut pahamnya masing-masing. Itulah indahnya hidup, memiliki keanekaragaman segala hal, tak terkecuaali hakekat ilmu. Semua yang ada dan yang mungkin ada itu adalah ilmu. Untuk ibadah ada ilmunya, maka itulah ilmu ibadah. Untuk bertanya ada ilmunya, maka itulah ilmu bertanya, untuk intuisi ada ilmunya, maka itulah ilmu intuisi, dan lain sebagaianya. Dengan begitu, sebenar-benar ilmu adalah diriku sendiri, apa yang diriku gapai itulah ilmu ku.

    ReplyDelete
  25. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Ilmu merupakan salah satu hal yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Hakikatnya mencari ilmu merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap insan di bumi. Seseorang dapat terlihat ingin mendapatkan ilmu ketika seorang tersebut mau mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya. Oleh karena itu ketika siswa bertanya guru tidak boleh merasa terbebani justru guru harus merasa bangga siswanya dapat bertanya dan ingin mencari ilmu.

    ReplyDelete