Mar 8, 2011

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat...saya ingin bertanya bagaimana engkau bisa mendefinisikan Ritual.

Bagawat:
Hemm...aku terbiasa berpikir merdeka....artinya definisiku itu selalu saya ambil dari karakter yang ada kemudian saya intensikan dan ekstensikan.

Cantraka:
Terserahlah...tetapi untuk kali ini aku ingin minta pendapatmu tentang apa itu Ritual.

Bagawat:
Ritual itu biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ... dst.

Cantraka:
Kalau contohnya?

Bagawat:
Ya...segala jenis ibadah yang berkaitan dengan Agama menurut saya bisa disebut Ritual. Tetapi sebagian orang mengkonotasikan Ritual misalnya dengan Upacara Adat atau tradisional misalnya Sekaten, Nyadran, Selamatan Desa, Bedhol Desa, Sesaji, Ruwatan...

Cantraka:
Apakah esensi dari Ritual itu?

Bagawat:
Esensi dari Ritual adalah berdoa. Sekarang bolehkah aku ganti bertanya...mengapa engkau kelihatansemangat sekali bertanya tentang Ritual?

Cantraka:
Aku sedang memikirkan fenomena Ujian Nasional atau Unas.

Bagawat:
Lho...memangnya kenapa dengan Unas itu?

Cantraka:
Aku sedang dan telah melihat dan menyaksikan fenomena pelaksanaan Unas yang terjadi di masyarakat mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan yang engkau katakan.

Bagawat:
Apakah ciri-ciri pelaksanaan Unas di masyarakat menurut pengamatanmu?

Cantraka:
Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadapi dan mempersiapkan diri mengikuti Unas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ....dst.

Bagawat:
Contohnya?

Cantraka:
Ada seorang siswa, katakan saja Soplo, yang menurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat...pokoknya sekolahnya tidak serius. Malah suatu ketika terlibat kejahatan mencuri motor...dan terpaksa mengikuti Unas di kantor polisi. Melihat anaknya demikian, maka orang tuanya sangat prihatin...pergilah dia ke dhukun minta tolong agar anaknya bisa lulus Unas. E.eee...ternyata lulus. Begitu dinyatakan lulus maka bergegaslah mereka mengadakan selamatan di tempat mbah dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Anehnya ada seorang siswi, katakan Lintri, yang dianggap pandai oleh gurunya, aktif, menjadi pengurus osis, selalu mengerjakan PR dan tugas, tidak pernah mbolos,nilai hariannya juga baik ...dst...Ternyata tidak lulus Unas. Apa komentar si orang tua Soplo..katanya karena si orang tua Lintri itu tidak mau ke dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Sekarang mulai ngetrend dimana-mana di sekolah mengadakan “malam renungan atau doa bersama” atau mujahadah beberapa hari sebelum Unas. Dalam malam renungan itu biasanya dibuat suasana sangat sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi, ...dst...yang intinya sampai sangat menyentuh perasaandan nurani sehingga bisa khusuk berdoanya memohon agar minta diluluskan dalam Unas. Saking khusuknya terkadang beberapa siswa sampai menangis histeris, teriak-teriak bahkan kesurupan. Mereka seakan sudah sangat menyatu baik Kepala Sekolah, Guru, siswa bahkan karyawan semuanya larut dalam suasana emosional dan menangis bersama menghadapi Unas.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Di suatu daerah tertentu aku juga menemukan sudah mulai banyak masyarakat ikut mendukung, katakanlah Ritual Unas...Seperti yang dilakaukan di sekolah...di masyarakat juga dilakukan kegiatan seperti itu.

Bagawat:
Masih ada?

Cantraka:
Masih ada. Kemarin saya menyaksikan sendiri...ada seorang siswa, katakanlah Satri, mengalami stress berat ketika baru saja mengikuti Unas hari pertama. Pada tengah hari pertama anak itu stress sehingga hanya terdiam saja...matanya melotot...keringatnya gemrobyos...dan sampai akhir ujian dia hanya terdiam saja di tempat duduk. Dia tidak dapat melanjutkan Unas. Menurut penuturan teman saya..Satri itu mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas yang diwajibkan oleh sekolah dan oleh kampungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa orang tua Satri telah kehilangan Satri karena dia sekarang telah menjadi gila.

Bagawat:
Masih ada yang lain?

Cantraka:
Saya mendengar berita ada anak pingsan ketika mengikuti Unas kemudian di bawa ke Puskesmas terdekat...setelah siuman..dia mengikuti Unas dari Puskesmas itu. Berdasar penuturan temannya..dia juga mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas ditambah beban pikiran agar lulus Unas yang dipesankan oleh Kepala Sekolah, Guru maupun Orang Tuanya.

Bagawat:
Ada lagi?

Cantraka:
Sementara cukup. Tetapi saya ingin bertanya apakah engkau setuju jika saya menilai Unas sekarang telah menjadi fenomena Ritual Unas?

Bagawat:
Hemmm...kita harus berpikiran jernih. Kita lihat dulu maksud dan tujuan Unas. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Cantraka:
Tetapi mengapa banyak segmen masyarakat atau anggota masyarakat, sekolah, guru atau siswa cenderung melakukan hal-hal yang irrasional dalam menghadapi Unas?

Bagawat:
Hemmm...mungkin karena mereka mengganggap Unas adalah peristiwa besar bahkan sangat besar bagi hidupnya. Ketahuilah bahwa Unas itu juga sekaligus adalah harga diri Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten dan Propinsi. Tidak cukup hanya harga diri tetapi juga mempunyai dampak atau akibat-akibat yang diciptakan atau dikaitkan dengan perolehan blockgrant, atau bantuan lainnya. Maka tentu...daerah-daerah saling berlomba agar dapat menjadi yang terbaik dan tidak yang terjelek.

Cantraka:
Begini Bagawat...sebetulnya engkau itu setuja nggak sih dengan Unas itu?

Bagawat:
Ada negara yang menyelengarakan Unas ada yang tidak. Di Eropah Barat dan Selandia Baru misalnya...maka guru berjuang sampai berdarah-darah menolak sebangsa Unas. Kata mereka...sebagai guru mereka harus melindungi siswa-siswanya. Membiarkan para siswanya dinilai oleh orang lain yang tidak mendidiknya dianggap sebagai perbuatan guru yang tidak bertanggung jawab. Menurut mereka...hanya gurunyalah orang yang paling boleh menilai siswa-siswanya, karena gurunya itulah yang mengerti prosesnya, psikologinya, persoalannya, pencapaiannya, hariannya, portofolionya, track recordnya,...dst.

Cantraka:
Bagaimana filosofinya Unas itu?

Bagawat:
Jika sekolah dan guru bisa melakukan kegiatan assessment atau penilaian hasil belajar dengan baik sebetulnya tidak perlu Unas. Secara psikologis maupun filsafat ...maka orang yang paling mengetahui prestasi siswanya adalah gurunya. Masalahnya apakah gurunya memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan.

Cantraka:
Kok nada-nadanya engkau itu selalu menyalahkan guru? Artinya apakah guru belum bisa dipercaya? Apakah dengan diadakannya Unas berarti guru tidak bertanggungjawab terhadap muridnya?

Bagawat:
Barangkali begitu.

Cantraka:
Apakah karena guru belum bisa dipercaya maka Unas harus dilaksanakan?

Bagawat:
Mungkin begitu.

Cantraka:
Lho kalau begitu mengenaskan sekali nasib guru kita itu...tidak dipercaya dan dianggap tidak bertanggungjawab lagi?

Bagawat:
Saya kan mengatakan barangkali begitu.

Cantraka:
Bagaimana dengan dampak yang terjadi misalnya...masyarakat cenderung irrasional, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban, sms jawaban, ...dst

Bagawat:
Dampak itu relatif.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud dampak adalah relatif?

Bagawat:
Ya..tergantung penilaian masing-masing? Kalau menurut saya dampak yang paling serius dan mengkhawatirkan justru dampak pedagogik. Mengapa? Ketahuilah bahwa Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya. Mereka enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengambangkan metode pbm ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant.

Cantraka:
Lho kan sudah banyak dilakukan penataran-penataran untuk para guru?

Bagawat:
Itulah yang terjadi...sehebat apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan ...tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas...orientasi Unas...sukseskan Unas tanpa kecuali. Buat apa bertele-tele dan muluk-muluk mengembangkan metode pembelajaran jika banyak yang tidak lulus Unas. Ah...guru...jangan sok muluk engkau itu...pegang satu hal saja...Lulus Semua pada Unes...tanpa reserve. Nasib yang sama juga dialami oleh para mahasiswa calon guru yang praktek di sekolah; semua teori dan pengalaman mengembangkan pbm di universitas seakan rontok tak tersisa satupun begitu mereka masuk ke sekolah. Unas oriented telah menyebabkan para mahasiswa juga hanya diberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal setara Unas. Saking bingungnya ada pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Inilah ambivalensi yang telah dihasilkan oleh Unas.

Cantraka:
Wahai Bagawat...terimakasih atas jawaban-jawabanmu.

Bagawat:
Aku sangat puas dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu.

30 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Jika berbicara serba serbi UNAS tentu banyak pro dan kontra didalamnya. Apakah sudah tepat jika penentuan kelulusan pembelajaran selama 3 tahun ditentukan oleh mata pelajaran tertentu saja, padahal kita ketahui minat dan bakat masing masing siswa berbeda. Serta jika hasil UNAS seorang siswa tidak lulus belum tentu siswa tersebut tidak baik dalam mengikuti pembelajaran selama 3 tahun.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Hal itulah yang telah saya alami di bangku sekolah. Kita tidak dapat juga 100% menyalahkan guru yang hanya berorientasi pada UN. Karena pada saat ini memang hanya nilai UN lah yang menjadi tolak ukur apa yang akan dilalui peserta didik kedepannya setelah lulus. Memang sekarang nilai UN tidak menentukan lulus atau tidaknya peserta didik, ketentuan kelulusan ditentukan oleh sekolah. Tetapi nilai UN tetap dilihat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berarti sama saja. UN juga harus mendapatkan nilai yang baik. Hal ini lah yang membuat para guru tetap melakukan hal yang sama pada saat ini.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Membicarakan Unas memang tidak pernah akan ada habisnya. Unas belum dilaksanakan pun sudah banyak polemik apalagi ketika sudah dilaksanakan. Unas sejatinya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa selama di tingkat satuan pendidikan tertentu. Ritual ini dilaksanakan agar Unas berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Unas bukan hanya tanggungjawab siswa dan guru tetapi juga tanggung jawab orang tua. Orang tua mempunyai kewajiban mendampingi dan mengontrol siswa selama di rumah dan dilingkungan rumah. Jangan sampai orang tua menyalahkan gruu ketika hasil yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan harapan.

    ReplyDelete
  4. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Saya (dulu) pernah ada di dalamnya. Ritual. Bulan depan Unas, tiap minggu renungan malam. Sampai menangis memang, saya menangis mamak saya pun ikut menangis. Sampai menangis, sampai saya sendiri menyadari bahwa saya menangis karena tidak enak jika tidak ikut menangis seperti yang lainnya. Saya setuju dengan tulisan pada postingan di atas, disebutkan bahwa mungkin Unas merupakah peristiwa besar jadi dibutuhkan renungan. Tapi agak lucu bukan? menurut saya proses pendidikan (seluruhnya) adalah proses pendidikan. Jadi kenapa hanya Unas saja?

    Saya pernah ada di dalamnya. Ketakutan, terbawa arus kecemasa, memikirkan Unas. Seakan hidup saya selama menempuh pendidikan ditentukan oleh Unas. Sangat terlihat jelas bukan? Bahwa kala itu mungkin saja atau memang kecemasan itu memperlihatkan bahwa hasil akhir pendidikan ini adalah Unas. Terkesan membelakangi proses, bukan? Bagaimana lagi? Kala itu kami siswa (lebih tepatnya "saya"), belum mengetahui apa apa, sekalipun tahu sedikit, tetap belum berani menyampaikan apa yang menjadi beban pikiran. Apakah keadaan saya kala itu termasuk dalam "Jargon Pertengkaran Guru dengan Siswa"? atau malah ada jargon pertengkaran yang lain, "Jargon Pertengkaran Seseorang dalam Pendidikan dengan (Sistem) Pendidikan itu Sendiri? Entahlah, saya akan coba lagi membaca. Terimakasih, sekali lagi tulisan di atas sangat menarik

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ritual dan serba serbi Unas menceritakan tentang banyaknya fenomena yang terjadi sebelum dan saat Unas dilaksanakan. Sebelum Unas hamper setiap sekolah melakukan doa bersama, istilah dalam islamnya istighosah. Namun ternyata ada beberapa siswa dan orang tua siswa yang pergi melakukan tindakan lain dan ritual ritual tertentu yang tidak sesuai dengan agama Islam.Unas menjadi momok tersendiri bagi siswa dan orang tuanya. Sekolah 3 tahun atau 6 tahun nasibnya hanya ditentukan selama 3-6 hari dengan Unas. Karena apabila tidak lulus, selain malu adalah hal itu akan mempengaruhi sekolah yang mereka tempati. Sekolah akan kehilangan namanya, akan kehilangan kepercayaan masyarakat apabila sampai tidak meluluskan semua siswanya.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Fenomena Ujian Nasional memang menarik untuk diperbincangkan. Elegi ini ditulis 6 tahun lalu. Pada tahun 2017 ini UN sudah tidak menjadi penentu kelulusan siswa pada setiap jenjang pendidikan. Hal ini tentu sudah melalui pemikiran para penggagas pendidikan di Indonesia. Jika tujuan UN adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, apakah penilaian proses tidak dapat menjadi pertimbangan? Berdasarkan pengamatan saya, teori behaviorisme yang dulu disinyalir dapat menyukseskan pendidikan di Indonesia, pada kenyataannya sudah tidak lagi. Para pendidik sudah berpindah dan meyakini teori kognitivisme untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  7. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Membaca “Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas” sangat menarik, dari elegi tersebut terlihat banyak fenomena-fenomena yang terjadi ketika menghadapi UNAS. Memang banyak kecurangan yang terjadi. Sebenarnya UNAS itu dilakukan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik selama belajar di sekolah. Hadapilah UNAS dengan gembira dan tidak perlu tekanan fisik dan batin yang nantinya akan membuat kita setres. Anggap UNAS sebagai ulangan biasa. Belajar yang rajin dan do’a merupakan kunci sukses UNAS. Jika iman kita kuat kita tidak usah repot-repot membeli kunci jawaban dengan harga yang mahal, ke dukun, dll.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Pada dasarnya, UN diselenggarakan untuk mengukur dan menentukan standar nasional mutu pendidikan. Namun, di sisi lain, adanya UN menimbulkan dampak yang besar bagi pendidikan. Salah satu masalah serius yang ditimbulkan oleh adanya UN adalah masyarakat, siswa, guru-guru, kepala sekolah, hingga para pemegang kekuasaan menitikberatkan pendidikan yang hanya berorientasi pada UN. Pendidikan hanya bertujuan untuk dapat lulus UN membuat pembelajaran yang dilakukan di kelas menjadi tidak mempehatikan proses perpikir siswa dan mengabaikan proses konstruksi pengetahuan. Pengetahuan yang hanya fokus pada UN tidak akan mampu memberikan pemahaman yang baik bagi siswa.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Tulisan ini memberikan pandangan yang baru bagi saya tentang UNAS. Selama ini saya menganggap UNAS penting dilakukan agar sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mempunyai standar yang sama dalam mengukur kemampuan belajar siswa, meskipun tidak dipungkiri bahwa pelaksanaan UNAS banyak membawa kontroversi. Tetapi setelah membaca ini, saya mempunyai pandangan baru bahwa UNAS ternyata berpeluang untuk menghambat proses pembelajaran konstruktivisme. Seperti yang dikatakan pada tulisan di atas, adanya UNAS terkadang menciptakan proses pembelajaran di sekolah hanya mengambangkan metode pembelajaran ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant. Sehingga bagaimana sebaiknya Ritual dan pelaksanaa UNASdi Indoensia ini?

    ReplyDelete
  10. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ujian nasioal adalah persoalan yang tidak pernah habisnya. Tidak sedikit pihak yang menuntut penghapusan Unas. Dan tidak sedikit pula disharmoni yang lahir di tengah persiapan dan pelaksanaan Unas. Tidak hanya menjadikan masyarakat cenderung irrasional; melakukan berbagai ritual, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban namun juga mengakibatkan lunturnya nilai pedagogik. Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya sehingga urusan pedagogik malah terabaikan. Berbagai disharmoni ini semoga mampu menjadi bahan pertimbangan lahirnya kebijakan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Di sisi lain UN juga perlu dipertahankan karena dengan UN, pemerintah dapat mengetahui kondisi dan tingkat pendidikan di Indoensia. Namun perlu dikaji lagi bagaimana pelaksanaannya. Akan lebih baik jika UN dijadikan bahan evaluasi bukan sebagai penentu kelulusan yang ujung2nya banyak ketidakberesan dan kecurangan didalamnya.
    Saya akan mencoba sedikit memberikan solusi. Mungkin di Indonesia perlu menerapkan UN seperti yang diterapkan di Amerika. Setiap daerah memiliki otonomi untuk mengatur UN sendiri. UN sebagai bahan evaluasi pendidikan bagi emerintah bukan menjadi penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan oleh sekolah sendiri karena hanya guru lah yang paling tau kemampuan dan kondisi siswanya. Hasil UN akan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depannya. Dengan mengetahui hasil UN, pemerintah akan tau daerah mana yang pendidikannya masih rendah dan mana yang sudah maju sehingga akan memudahkan untuk memeratakan pendidikan di sebuah negara.

    ReplyDelete
  12. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Di satu sisi unas telah menyebabkan guru hanya berfokus pada unas sehingga lebih memilih menggunakan metode cepat agar siswa lulus. Materi-materi yang tidak keluar di unas seringkali diabaikan, siswa lebih banyak terfokus dengan drill contoh-contoh soal unas. Banyak pula siswa yang mengikuti bimbel hanya sekedar lulus unas. Di sisi lain unas diperlukan untuk memetakan kemampuan siswa secara nasional. Sayangnya banyak pula kecurangan yang terjadi di unas sehingga patut dipertanyakan apakah unas benar-benar dapat mengukur dan memetakan kemampuan siswa secara nasional. Karena itulah diperlukan evaluasi dan perbaikan kembali agar tujuan siswa sekolah selama tiga tahun bukan hanya sekedar lulus unas dan bagaimana agar pelaksanaan unas lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Ritual biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadnga ada pengorbanan, kikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada syarat-syarat sesaji, ada tradisi, ada pantangan-pantangan, ada tata cara tertentu, ada kegiatan yang irrrasional, … dan sebagainya. Sedangkan unas memiliki ciri-ciri yang sama dengan kegiatan ritual. Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadi dan mempersiapkan diri mengikuti uas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadnga ada pengorbanan, kikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada syarat-syarat sesaji, ada tradisi, ada pantangan-pantangan, ada tata cara tertentu, ada kegiatan yang irrrasional, … dan sebagainya.
    Contoh kasusnya adalah ada seorang siswa yangmenurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat … pokoknya sekolahnya tidak serius. Bahkan sering terlibat tawuran dan maslah-masalah di sekolah maupun luar sekolah hingga terpaksa mengikuti uas di kantor polisi. Melihat anaknyaseperti itu, maka orangtuanya sangan prihatin. Sehingga mereka pergi ke dukun untuk minta tolong agar anaknya bisa lulus unas. Tentu saja dibarengi dengan ritual-ritual mistis. Selain itu ada juga sekolah yang mengadakan kegiatan malam renungan menjelang unas. Menurut penyelenggaranya kegiatan ini dilaksanakan dengan dibuat suasana sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi dan seterusnya, tujuannya agar siswa-siswanya lulus unas 100%.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    UNAS atau ujian nasional dapat menyebabkan guru, siswa dan sekolah menjadikan hanya UNAS orientasi pendidikannya. Berbagai pengembangan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual akan dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang UNAS, yang membuat segala penelitian yang menyangkut teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual hanyalah menjadi penelitian saja yang tidak pernah diaplikasikan ditingkat sekolah. Hal tersebut dikarenakan pihak sekolah akan lebih suka mengambangkan metode pembelajaran Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant. Hal ini merupakan tuntutan dari pemerintah yang harus dipenuhi sekolah tersebut. Sehingga sehebat apapun penataran dilakukan dan kurikulum penyedia tenaga kependidikan hal tersebut akan sia-sia apabila hal tersebut hanya berorientasi pada UNAS

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Elegi Ritual dan Serbaserbi Unas. Fenomena Unas memang menjadi perbincangan yang menarik. Dahulu di Indonesia tahun 2011 masih menganut Unas yang dijadikan satu-satunya tolak ukur kelulusan siswa. Siswa yang belajar ditingkat SMP/Mts dan SMA/MA selama tiga tahun, kelulusanya hanya ditentukan dengan 3 hari. Sebenarnya tujuan Unas awalanya adalah untuk meratakan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun rasanya kurang adil bagi siswa, jika penentu kelulusan hanya nilai Unas semata. Kemudian bagimana peran guru yang sudah membersamai mereka selama 3 tahun? Jika penilaian mereka tidak menentukan kelulusan?. Unas dalam perjalannya juga membuat orientasi belajar disekolah berubah. Proses pembelajaran yang seharusnya juga membentuk cara berpikir siswa, kemudian hanya berorientasi pada nilai akhir Unas. Akhirnya, saat proses pembelajaran siswa hanya hanya difokuskan untuk mengerjakan soal Unas. Namun, itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Untuk tahun ini, Unas tetap ada namun bukan lagi sebagai penentu tunggal kelulusan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Sebelum memulai ujian nasional, memang banyak ritual yang dilakukan murid, guru, orang tua atau sekolah dengan harapan para murid dapat lulus ujian. Ini menunjukkan bahwa UN dianggap sebagai sesuatu yang 'horor' bagi sebagian besar orang. Ada murid yang dalam proses belajar aktif dan dianggap pandai oleh guru tidak lulus UN, justru murid yang malas-malasan selama proses pembelajaran dan dianggap tidak pandai oleh guru lulus dalam pelaksanaan UN. Ada pula murid yang lulus karena bocoran soal dan mendapat kunci jawaban UN. Hal ini dirasakan tidak adil dan proses pengambilan keputusan seorang murid lulus sekolah tidak berbanding lurus dengan proses pembelajaran yang dilakukannya selama 3 atau 6 tahun. Namun sepertinya pakar pendidikan saat ini sudah menyadari hal tersebut, ditunjukkan dengan UN tidak lagi menjadi syarat utama kelulusan dan digunakan sebagai pemetaan mutu program dan/atau Satuan Pendidikan. Hal ini mengurangi beban yang dirasakan oleh murid, orang tua dan guru.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi rituL dan serba serbi UNAS. Pada elegi ini menceritakan bahwa dengan adanya UNAS menjadi momok pada sekolah, karena hasil UNAS akan mempengaruhi harga diri sekolah. Karena tingkat paniknya sekolah membesar maka, sering disekolah maupun individu siswa, contohnya dilakukannya ritual seperti doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional. Ada kegiatan yang positif, dan ada kegiatan yang negatif. Semua dikarenakan UNAS menjadi hasil penentu bagi kelulusan siswa. Untungnya pada zaman sekarang UNAS bukan menjadi pnentu akhir kelulusan. Jadi suatu hal yang negatif akan terhindar. Terimakasih

    ReplyDelete
  19. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Membahas tentang UN tiada habisnya. Banyak kejadian dan aktivitas baru yang terjadi akibat UN. Sudah ada beberapa kasus terjadinya bunuh diri siswa karena UN. Seakan-akan siswa selalu menjadi korban dari kebijakan. Di sisi lain guru juga dituntut untuk mampu mengajar siswanya agar mendapat nilai UN dengan baik. Tidak sedikit pula menyebabkan guru berorientasi pada UN sehingga pembelajaran akan kurang bermakna bagi siswa. Meskipun tujuan UN sebenarnya baik tetapi terkadang menimbulkan kejadian yang justru merugikan pihak tertentu. Kejadian-kejadian tersebut semoga menjadi perhatian pemegang kekuasaan dalam menyusun kebijakan.

    ReplyDelete
  20. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    UNAS selalu menarik, selalu mengandung pro dan kontra. Tujuan pendidikan memang seharusnya menjadi dasar pelaksanaan UNAS. Jika tujuan pendidikan adalah agar siswa memiliki standar yang sama ketika lulus, maka UNAS memang pantas dilaksanakan karena ujung-ujungnya hanya akan menghasilkan standar yang sama. Jadi jika ada siswa yang tidak lulus UNAS, ya dia harus banyak berdoa dan berusaha sampai lulus,tak ada cara lain,karena memang hanya untuk mencapai standar. Tetapi, ketika tujuan pendidikan adalah menjawab kebutuhan belajar siswa, maka keberadaan UNAS perlu ditinjau ulang. Harus kita mulai dengan "apakah UNAS dapat menjawab kebutuhan belajar setiap siswa?"

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Menurut saya ulasan ini mengarahkan kepada suatu standar yang ingin dicapai namun tidak melupakan proses yang akan menyertai dalam perjalanannya. Saya menjadi bertanya-tanya, metode apa yang bersifat lebih efektif dan cocok digunakan untuk melihat kemampuan dan evaluasi belajar siswa?

    Saya yang saat itu juga terlibat dalam pencapaian kelulusan berdasarkan standar nilai ujian nasional menganggap bahwa pantaskah kelulusan saya hanya ditentukan oleh pelaksanaan ujian beberapa hari padahal proses belajar yang ditempuh-tempuh bertahun-tahun. Saya merasa kondisi tersebut tidak fair namun saya tetap mengikuti peraturan kelulusan melalui ujian nasional. Sungguh dalam diri bergejolak namun tetap menerima dan mengikuti standar yang telah ditetapkan. Lagi lagi saya terjebak pada situasi dan sistem yang ada.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Jika membahas Ujian Nasional maka tidak akan ada habisnya. Berbagai pendapat mengenai bagaimana sebaiknya penilaian yang bagus untuk kelulusan siswa Indonesia sudah marak dibicarakan. Namun seiring perkembangan zaman, penilaian kelulusan juga mengalami perubahan, mulai dari hanya mengutamakan murni nilai UN sampai pada sekarang nilai Ujian Akhir Sekolah juga diperhitungkan. Apabila kita mengingat kembali apa yang terjadi pada tahun sebelumnya, dimana kelulusan hanya ditentukan oleh nilai UN, banyaknya ritual (dalam elegi ini disebut sebagai segala apapun yang bisa dilakukan untuk meningkatkan nilai UN) sudah menjadi rahasia umum. Bimbel-bimbel yang memfokuskan kepada kisi-kisi soal UN, sampai pada iklan yang menawarkan untuk mengganti fee jika tidak lulus. Pandangan yang hanya mengedepankan bagaimana agar siswa lulus, menjadi ritual yang secara sadar maupun tidak sadar sudah merasuki pemikiran masyarakat. Namun apabila sekarang nilai UAS juga diperhitungkan, maka artinya sekolah juga berperan penting dalam meningkatkan hasil yang akan diperoleh siswa. Sehingga siswa memperoleh nilai yang memuaskan. Salah satu caranya adalah dengan memperbaiki proses belajar yang salah atau mengembangkan proses pembelajaran yang sudah ada menjadi lebih kreatif dan inovatif sehingga menarik minat dan motifasi siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  24. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ritual dan serba serbi unas ini membicarakan fenomena UN yang banyak terjadi belakangan ini dalam lingkup dunia pendidikan kita. Ironis memang, disaat unas dijadikan satu-satunya patokan utama kelulusan siswa selama belajar di SD SMP atau SMA tetapi menjadi momok tersendiri tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi sekolah penyelenggaran UN tersebut. Fenomena ini menimbulkan ketakutan dan mengantar mereka melakukan sesuatu diluar nalar dan rasional, ketika secara logika siswa yang lulus ujian harus banyak belajar malah pergi ke dukun dan melakukan berbagai ritual keagamaan.

    ReplyDelete
  25. Ironis sekali, bahkan sekolah pun ikut melakukan ritual-ritual seperti itu dan menggunakan berbagai macam cara agar supaya siswa siswi didiknya lulus dalam UN, satu diantaranya adalah memalsukan jawaban atau membocorkan kunci jawaban kepada siswa. Hal ini bukanlah suatu jalan keluar melainkan salah satu pembodohan bagi siswa karena bisa jadi mereka berpikir instan dengan tidak belajar giat pun mereka bisa lulus ujian nasional. Kasian sekali anak-anak yang sudah berupaya keras dan gigih di iringi doa jika hasil akhirnya disamakan dengan siswa yang tidak jujur, dan birokrasi sekolah yang menyesatkan.

    ReplyDelete
  26. Bahkan baru-baru ini ISU UN akan dihapuskan semakin gencar. UN saat ini menjadi pro dan kontra yang asik untuk dibahas. Menurut saya, memang ada sisi positif dan negatifnya. Dari segi positif kalau standardized test itu sudah banyak penelitiannya yang membuat anak semakin tidak cerdas dan tidak kreatif, ya seperti halnya mencontek dan membeli kunci jawaban. Sedangkan negatifnya, tidak ada standar penilaian secara nasional padahal dalam peraturan pemerintah jelas disana terdapat aturan adanya penilaian siswa. Selain itu, siswa akan belajar semaunya sendiri karena tidak ada UN, Bahkan Guru pun bisa mengajar semaunya sendiri, yang ditakutkan siswa akan belajar secara tradisional kembali.

    Ada atau tidak adanya UN semoga siswa di Indonesia jujur, semangat belajar dan tidak kehilangan jati diri dan bisa menjadi salah satu penerus bangsa berkualitas yang bisa membawa perubahan positif pada perkembangan bangsa ini. Amin

    ReplyDelete
  27. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    UNAS menjadi suatu fenomena yang terjadi di Indonesia. Bahkan beliau Bapak marsigit mengistilahkan dengan nama ritual. Sedangkan ritual itu sejatinya berkaiatan dengan spiritualitas. Sehingga menurut saya seharusnya adanya unas semakin bisa meningkatkan aspek spiritualitas diri kita menjadi lebih baik lagi. Pro kontra mengenai unas hingga sekarang pun masih terjadi. Dilihat dari tujuan unas sendiri, tentu baik yaitu agar pendidikan di Indonesia dapat di evaluasi dan sebagai bahan peningkatan. Namun demikian dilapangan tindak irrasional dan penyimpangan malah terjadi berkaitan dengan unas ini. sehingga menurut saya, kita perlu luruskan lagi niat dan langkah kita dalam melakukan unas ini. dilakukan oleh semua pihak, siswa, guru dinas dan lain-lain. Memandang positif dan bertindak positif. Hingga ditemukan formula yang terbaik agar pendidikan Indonesia lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang menarik ini. Ritual adalah suatu perilaku/ tindakan dan perbuatan yang menunjukkan bentuk penghambaan diri seseorang terhadap sesuatu, dalam ranah islam berarti Allah. Ritual dalam persiapan sebelum Ujian Nasional juga banyak, dan telah sering dilakukan oleh siswa, guru, orang tua demi memohon kelulusan saat Ujian Nasional nanti. Namun jika ditransformasikan dengan jaman kontemporer dalam bidang pendidikan, ternyata ritual tidak hanya bentuk ibadah kepada Tuhan namun juga bentuk kebiasaan dimana manusia menjadi berorientasi dan bertujuan atasnya. Ritual Ujian Nasional mungkin hanya terjadi di negara Indonesia. Dengan adanya pembiasaan berlakunya kebijakan ini, seolah-olah guru, siswa dan sekolah seakan hanya Ujian Nasionallah orientasi dan tujuan adanya pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Mereka enggan mengembangkan metode dan strategi pembelajaran, lebih baik menggunakan cara instan dan cepat guna membantu siswa memenuhi kompetensi kelulusan di Ujian Nasional nanti. Kemudian, nilai UN pula lah yang menajdi syarat siswa dapat mendaftar ke sekolah di jenjang berikutnya. Sungguh, segala sesuatu yang ada dan yang mungkin selalu bernilai dan berdampak negatif maupun positif. Namun seiring berjalannya waktu, penilaian kelulusan juga mengalami perubahan, mulai dari hanya mengutamakan murni nilai UN sampai pada sekarang nilai Ujian Akhir Sekolah juga diperhitungkan. Mungkin setelah ini akan ada kebijakan yang lebih baik, dimana tidak mengutamakan Ujian Nasional sebagai tujuan akhir, namun penilaian-penilaian lain selama siswa bersekolah juga dapat dijadikan instrumen penilaian kelulusan siswa dari sekolahnya. Semoga pemerintah kita mampu membuat pembaharuan dalam masalah ini, karena jika tidak siswa hanya akan berpangku dan berpatok pada nilai UN sedang aspek yang lain ia lupakan. Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    UN merupaka ritual tahunan dalam system pendidikan di Indonesia dan tidak jarang menjadi momok besar karena kelulusan seseorang dari sekolah yang dialami selama 3 tahun ditentukan dengan nilai UN yang hanya dilaksanakan dalam waktu 4 hari. Namun, seiring perkembangan zaman dan evaluasi terhadap hasil UN bahwa kelulusan siswa selain ditentukan dengan UN juga ditentukan dengan nilai kognitif pembelajaran selama 3 tahun sehingga dapat mengurangi kekhawatiran yang biasa terjadi setiap tahun. Adanya UN memberikan dampak yang luar biasa karena jika seseorang tidak lulus UN maka secara sosial dia akan malu, dia harus mengikuti ujian paket dengan ijazah atas nama paket sehingga bisa dikatakan sekolah selama 3 tahun menghasilkan ijazah paket dan itu sangat menyedihkan.Oleh karenanya, karena masyarakat memiliki tingkat spiritualisme yang tinggi maka dilakukanlah segala maca ritual agar Tuhan memberikan hasil yang terbaik tentang perkara UN karena sesungguhnya semua adalah pemberian Tuhan dan manusia dapat mengubah dengn ikhtiar dan doa. Terima kasih.

    ReplyDelete
  30. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Begitulah kalau padangan terhadap pendidikan hanya sesempit “Unas oriented”. Apapun dilakukan untuk menuju hasil Ujian Nasional terbaik. Bahkan ritual-ritual kesyirikanpun seperti pergi ke dukun menjadi salah satu alternatifnya. Biasanya mendekati Ujian Nasional, sekolah-sekolah gencar mengadakan malam doa bersama, istighosah, malam renungan, dan beberapa kegiatan lain semacamnya. Mendekati Ujian Nasional, baik guru maupun siswa menjadi semakin khusyuk dalam sholatnya, semakin rajin melakukan puasa sunah dan sederet ibadah-ibadah yang sebenarnya jarang dilakukan. Sayangnya begitu Ujian Nasional selesai atau setelah nilai UN diumumkan, aktivitas-aktivitas itu sirna, berubah 180 derajat. Yang sebelum UN rajin puasa senin-kamis, pasca UN menjadi tidak pernah lagi. Yang awalnya sholat tepat waktu, pasca UN menjadi tidak pernah sholat. UN oriented juga ditandai dengan banyaknya kecurangan-kecurangan yang terjadi saat UN, seperti mencontek, bocoran soal, dan lain-lain. UN menyebabkan siswa berfikir pragmatis. Mereka melakukan reduksi besar-besaran terhadap substansi materi menjadi rumus-rumus instan. Mereka tidak lagi mengetahui hakikat dari belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Gurupun juga demikian. Mereka cenderung mengajarkan soal-soal yang akan keluar dalam Ujian Nasional. Mereka tidak lagi menerapkan model-model pembelajaran kooperatif seperti yang mereka dapatkan semasa kuliah, namun kembali ke zaman dahulu dengan metode klasikal dengan materi rumus-rumus singkat untuk UN. Maka jangan heran kalau banyak siswa mendapat nilai 90 atau 100, tetapi sebenarnya tidak memahami substansi materi secara holistik. Sehingga nilai UN bukanlah representasi kemampuan siswa sesungguhnya.

    ReplyDelete