Mar 8, 2011

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat...saya ingin bertanya bagaimana engkau bisa mendefinisikan Ritual.

Bagawat:
Hemm...aku terbiasa berpikir merdeka....artinya definisiku itu selalu saya ambil dari karakter yang ada kemudian saya intensikan dan ekstensikan.

Cantraka:
Terserahlah...tetapi untuk kali ini aku ingin minta pendapatmu tentang apa itu Ritual.

Bagawat:
Ritual itu biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ... dst.

Cantraka:
Kalau contohnya?

Bagawat:
Ya...segala jenis ibadah yang berkaitan dengan Agama menurut saya bisa disebut Ritual. Tetapi sebagian orang mengkonotasikan Ritual misalnya dengan Upacara Adat atau tradisional misalnya Sekaten, Nyadran, Selamatan Desa, Bedhol Desa, Sesaji, Ruwatan...

Cantraka:
Apakah esensi dari Ritual itu?

Bagawat:
Esensi dari Ritual adalah berdoa. Sekarang bolehkah aku ganti bertanya...mengapa engkau kelihatansemangat sekali bertanya tentang Ritual?

Cantraka:
Aku sedang memikirkan fenomena Ujian Nasional atau Unas.

Bagawat:
Lho...memangnya kenapa dengan Unas itu?

Cantraka:
Aku sedang dan telah melihat dan menyaksikan fenomena pelaksanaan Unas yang terjadi di masyarakat mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan yang engkau katakan.

Bagawat:
Apakah ciri-ciri pelaksanaan Unas di masyarakat menurut pengamatanmu?

Cantraka:
Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadapi dan mempersiapkan diri mengikuti Unas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ....dst.

Bagawat:
Contohnya?

Cantraka:
Ada seorang siswa, katakan saja Soplo, yang menurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat...pokoknya sekolahnya tidak serius. Malah suatu ketika terlibat kejahatan mencuri motor...dan terpaksa mengikuti Unas di kantor polisi. Melihat anaknya demikian, maka orang tuanya sangat prihatin...pergilah dia ke dhukun minta tolong agar anaknya bisa lulus Unas. E.eee...ternyata lulus. Begitu dinyatakan lulus maka bergegaslah mereka mengadakan selamatan di tempat mbah dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Anehnya ada seorang siswi, katakan Lintri, yang dianggap pandai oleh gurunya, aktif, menjadi pengurus osis, selalu mengerjakan PR dan tugas, tidak pernah mbolos,nilai hariannya juga baik ...dst...Ternyata tidak lulus Unas. Apa komentar si orang tua Soplo..katanya karena si orang tua Lintri itu tidak mau ke dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Sekarang mulai ngetrend dimana-mana di sekolah mengadakan “malam renungan atau doa bersama” atau mujahadah beberapa hari sebelum Unas. Dalam malam renungan itu biasanya dibuat suasana sangat sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi, ...dst...yang intinya sampai sangat menyentuh perasaandan nurani sehingga bisa khusuk berdoanya memohon agar minta diluluskan dalam Unas. Saking khusuknya terkadang beberapa siswa sampai menangis histeris, teriak-teriak bahkan kesurupan. Mereka seakan sudah sangat menyatu baik Kepala Sekolah, Guru, siswa bahkan karyawan semuanya larut dalam suasana emosional dan menangis bersama menghadapi Unas.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Di suatu daerah tertentu aku juga menemukan sudah mulai banyak masyarakat ikut mendukung, katakanlah Ritual Unas...Seperti yang dilakaukan di sekolah...di masyarakat juga dilakukan kegiatan seperti itu.

Bagawat:
Masih ada?

Cantraka:
Masih ada. Kemarin saya menyaksikan sendiri...ada seorang siswa, katakanlah Satri, mengalami stress berat ketika baru saja mengikuti Unas hari pertama. Pada tengah hari pertama anak itu stress sehingga hanya terdiam saja...matanya melotot...keringatnya gemrobyos...dan sampai akhir ujian dia hanya terdiam saja di tempat duduk. Dia tidak dapat melanjutkan Unas. Menurut penuturan teman saya..Satri itu mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas yang diwajibkan oleh sekolah dan oleh kampungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa orang tua Satri telah kehilangan Satri karena dia sekarang telah menjadi gila.

Bagawat:
Masih ada yang lain?

Cantraka:
Saya mendengar berita ada anak pingsan ketika mengikuti Unas kemudian di bawa ke Puskesmas terdekat...setelah siuman..dia mengikuti Unas dari Puskesmas itu. Berdasar penuturan temannya..dia juga mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas ditambah beban pikiran agar lulus Unas yang dipesankan oleh Kepala Sekolah, Guru maupun Orang Tuanya.

Bagawat:
Ada lagi?

Cantraka:
Sementara cukup. Tetapi saya ingin bertanya apakah engkau setuju jika saya menilai Unas sekarang telah menjadi fenomena Ritual Unas?

Bagawat:
Hemmm...kita harus berpikiran jernih. Kita lihat dulu maksud dan tujuan Unas. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Cantraka:
Tetapi mengapa banyak segmen masyarakat atau anggota masyarakat, sekolah, guru atau siswa cenderung melakukan hal-hal yang irrasional dalam menghadapi Unas?

Bagawat:
Hemmm...mungkin karena mereka mengganggap Unas adalah peristiwa besar bahkan sangat besar bagi hidupnya. Ketahuilah bahwa Unas itu juga sekaligus adalah harga diri Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten dan Propinsi. Tidak cukup hanya harga diri tetapi juga mempunyai dampak atau akibat-akibat yang diciptakan atau dikaitkan dengan perolehan blockgrant, atau bantuan lainnya. Maka tentu...daerah-daerah saling berlomba agar dapat menjadi yang terbaik dan tidak yang terjelek.

Cantraka:
Begini Bagawat...sebetulnya engkau itu setuja nggak sih dengan Unas itu?

Bagawat:
Ada negara yang menyelengarakan Unas ada yang tidak. Di Eropah Barat dan Selandia Baru misalnya...maka guru berjuang sampai berdarah-darah menolak sebangsa Unas. Kata mereka...sebagai guru mereka harus melindungi siswa-siswanya. Membiarkan para siswanya dinilai oleh orang lain yang tidak mendidiknya dianggap sebagai perbuatan guru yang tidak bertanggung jawab. Menurut mereka...hanya gurunyalah orang yang paling boleh menilai siswa-siswanya, karena gurunya itulah yang mengerti prosesnya, psikologinya, persoalannya, pencapaiannya, hariannya, portofolionya, track recordnya,...dst.

Cantraka:
Bagaimana filosofinya Unas itu?

Bagawat:
Jika sekolah dan guru bisa melakukan kegiatan assessment atau penilaian hasil belajar dengan baik sebetulnya tidak perlu Unas. Secara psikologis maupun filsafat ...maka orang yang paling mengetahui prestasi siswanya adalah gurunya. Masalahnya apakah gurunya memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan.

Cantraka:
Kok nada-nadanya engkau itu selalu menyalahkan guru? Artinya apakah guru belum bisa dipercaya? Apakah dengan diadakannya Unas berarti guru tidak bertanggungjawab terhadap muridnya?

Bagawat:
Barangkali begitu.

Cantraka:
Apakah karena guru belum bisa dipercaya maka Unas harus dilaksanakan?

Bagawat:
Mungkin begitu.

Cantraka:
Lho kalau begitu mengenaskan sekali nasib guru kita itu...tidak dipercaya dan dianggap tidak bertanggungjawab lagi?

Bagawat:
Saya kan mengatakan barangkali begitu.

Cantraka:
Bagaimana dengan dampak yang terjadi misalnya...masyarakat cenderung irrasional, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban, sms jawaban, ...dst

Bagawat:
Dampak itu relatif.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud dampak adalah relatif?

Bagawat:
Ya..tergantung penilaian masing-masing? Kalau menurut saya dampak yang paling serius dan mengkhawatirkan justru dampak pedagogik. Mengapa? Ketahuilah bahwa Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya. Mereka enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengambangkan metode pbm ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant.

Cantraka:
Lho kan sudah banyak dilakukan penataran-penataran untuk para guru?

Bagawat:
Itulah yang terjadi...sehebat apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan ...tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas...orientasi Unas...sukseskan Unas tanpa kecuali. Buat apa bertele-tele dan muluk-muluk mengembangkan metode pembelajaran jika banyak yang tidak lulus Unas. Ah...guru...jangan sok muluk engkau itu...pegang satu hal saja...Lulus Semua pada Unes...tanpa reserve. Nasib yang sama juga dialami oleh para mahasiswa calon guru yang praktek di sekolah; semua teori dan pengalaman mengembangkan pbm di universitas seakan rontok tak tersisa satupun begitu mereka masuk ke sekolah. Unas oriented telah menyebabkan para mahasiswa juga hanya diberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal setara Unas. Saking bingungnya ada pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Inilah ambivalensi yang telah dihasilkan oleh Unas.

Cantraka:
Wahai Bagawat...terimakasih atas jawaban-jawabanmu.

Bagawat:
Aku sangat puas dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu.

50 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Selama ini orientasi para guru, kepala sekolah, maupun siswa terkesan semata-mata hanya agar lulus Ujian Nasional. Seakan selama belajar 3 tahun hanya ditentukan selama 3 sampai 6 hari saja. Menurut saya ini tidak adil. Semoga para pakar pendidikan memikirkan hal ini kembali terutama dengan mengkaji kurikulum yang diterapkan sekarang dan lebih memikirkan siswa baik itu dari sisi psikologis, proses belajar, maupun potensinya.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Keberadaan UN membawa dampak tersendiri. Terkadang apa yang telah di teorikan ketika kuliah harus terbentur ketika mengajar. Hal ini karena ada tuntutan untuk lulus UN dengan nilai tinggi. Para guru hanya berorientasi agar siswanya lulus UN. Hal ini naïf sekali. Telah dicontohkan bahwa ada orang yang mengerjakan UN sampai dikantor polisi. Apakah Indonesia lebih mementingkah hasil akhir daripada akhlak yang mulia? Belum lagi masalah kecurangan dan ketidakadilan ketika mengerjakan soal UN. Jadi jika pada awalnya UN dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa secara nasional maka hal itu tidak lagi objektif karena terjadi kecurangan.

    ReplyDelete
  3. UNAS seakan menjadi momok yang menakutkan dan paling penting bagi pelaku-pelaku pendidikan seperti siswa dan guru. Bahkan Unas dipandang sebagai tolak ukur dan kualitas suatu sekolah. Maka sekolah akan beramai-ramai menjadikan nilai unas sebagai satu-satunya ujian dimana siswa harus lulus semuanya, hal ini juga menjadi beban bagi para siswa dimana lulus unas merupakan suatu keharusan, dan menganggap tidak lulus unas adalah akhir dari masa depan dan cita-citanya. Oleh karena itu, saking pentingnya nilai unas, maka berbagai cara dilakukan agar siswa dapat lulus unas, bahkan sampai cara-cara yang tidak rasional seperti melakukan ritual-ritual.

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ujian Nasional selalu menjadi pembicaraan yang panas di setiap tahunya. Fenomena ini selalu menarik baik dari siswa, guru bahkan sistem yang melingkupinya. Pada elegi ini begawa memaparkan sifat dari unas yang memberatkan siswa, siswa merasa begitu berat mealani kegiatan pembelajaran yang menuntut mereka mampu pada seluruh mata pelajaran, alokasi waktu yang minim dan metode pembelajaran yang bisa. Namun dengan serangkain itu siswa dituntut untuk mereka medapatkan predikat LULUS melalui Unas. Sehingga jika ada banyak bentuk kecurangan yang dilakukan siswa guru ataupun sekolah adalah hal yang biasa.

    ReplyDelete
  5. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pendidikan yang hanya terfokus pada UNAS (UNAS oriented) lebih mementingkan hasil (nilai) daripada proses pembelajaran yang telah dijalani di sekolah. Hal ini perlu mendapatkan perhatian utama dari pakar pendidikan agar penilaian setiap selesai menempuh jenjang pendidikan diukur dari berbagai aspek terutama penilaian perilaku atau karakter.

    ReplyDelete
  6. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Ujian Nasional yang diselenggarakan selama ini memberikan banyak efek. Banyak kegiatan yang dilakukan untuk mensukseskannya sehingga menyebabkan apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan selama ini tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas.
    Semua terfokus untuk mensukseskan Unnes.

    ReplyDelete
  7. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Ritual unas yang saya lihat umum di kalangan warganahdliyin adalah dengan mujahadah. Dalam mujahadah tersebut melakukan pembacaan sholawat dan doa bersama. Dalam acara tersebut peserta membawa pensil yang akan digunakan untuk mengerjakan unas dan diletkan di depan pemimpin mujahadah dengan harapan terdapat keberkahan di dalamnya. Dengan adanya keberkahan akan menjadi jalan dilancarkannya unas siswa. Tidak lupa biasanya juga diletakkan air dalam botol terbuka di acara mujahadah itu dan diminum siswa agar berkah. Dalam acara lain yang juga umum, biasanya siswa melakukan renungan bersama yang diajak untuk mengingat keburukan yang telah diperbuat, kemudian di ajak untuk bertaubat.

    ReplyDelete
  8. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Hal buruk yang terjadi pada siswa adalah ketika meneima pengumuman hasil UN, mereka melakukan konvoi dan hura hura dan kadang merusak ketertiban umum. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah karena akan memicu kerusakan pendidikan indonesia.

    ReplyDelete
  9. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Salah satu usaha dalam mensukseskan ujian nasional adalah dengan mengikutsertaan anaknya ke bimbel. Hal ini dianggap orangtua sebagai salah satu cara yang dapat dipilih.
    Hingga banyak pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Karena di bimbel lebih menfokuskan pada penyelesaian soal-soal Ujian Nasional bukan pada pemahaman konsep.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Fenomena Unas terjadi memang membuat beberapa, dan kebanyakan dari kita melakukan banyak hal untuk berusaha lulus. Unas seolah menjadi tujuan pembelajaran yang selama ini dilakukan. Hal ini tentu tidak sepantasnya terjadi, karena hakekatnya unas diadakan untuk menilai pemerataan pendidikan dinegeri kita, bukan semata-mata untuk syarat agar lulus sekolah

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Ujian nasional sering menjadi sumber perdebatan bagi orang yang mendukung dan yang tidak mendukung. Tujuan ujian nasional yang sebenarnya sebagai pemerataan pendidikan sekarang malah menjadikan guru berpusat pada UN dan akhirnya siswa lebih suka pembelajaran yang onstan karena fokusnya hanya pada kelulusan ujian nasional. Hal ini tentunya perlu dikaji lagi dan perlu adanya persamaan persepsi antara guru dan pemerintah yang memberikan kebijakan peraturan yang ada sehingga tidak berkontradiksi satu sama lain.

    ReplyDelete
  12. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. UN memang selalu menjadi topik diskusi yang selalu menarik untuk dibahas. UN memiliki kelebihan karena dapat mengukur kemampuan secara merata, tapi juga punya kelemahan karena hanya mengukur pada saat itu saja, mengabaikan kegiatan belajar mengajar yang telah ditempuh. Terlepas dari prokontra UN, pemerintah tetap menjalankan UN, dan sudah menjadi konsekuensi dunia pendidikan untuk mematuhinya.

    ReplyDelete
  13. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Selama ini Ujian Nasional menjadikan momok bagi para pelajar dan juga orang tua. Hal ini dikarenakan Ujian Nasional sebagai standar kelulusan siswa sekolah, setelah mengikuti beberapa tahun belajar disekolah dan nantinya hanya ditentukan oleh 3-6 hari dari Ujian Nasional. Orang tua dan siswa yang takut tidak akan lulus, mereka menghalalkan semua cara agar anaknya lulus. Contohnya adalah membeli kunci jawaban, pergi kedukun dan masih banyak lainnya. Hal tersebut menjadikan tujuan UN menjadi salah kaprah.

    ReplyDelete
  14. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setiap tahun pelaksanaan unas selalu menjadi salah satu pembahasan yang menarik. Dengan berabgai pembaruan yang dilakukan saat ini, unas menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu. Pada saat ujian nasional sekolah, orang tua, aparat pemerintahan, pemerintah, semua sibuk dengan persiapannya. Terdapat ritual-ritual sebelum Unas menurut saya itu dikarenakan siswa, siswi, sekolah, pemerintah belum siap dengan ujian nasional. Sehingga menimbulkan kecemasan yang berlabihan serta syaitan menggoda manusia untuk percaya dengan hal-hal mistis atau ritual-ritual. Apabila sudah dipersiapkan denga baik alangkah baiknya disikapi dengan penuh percaya diri, yakin semua akan lulus. Walaupun tidak lulus janganlah malu dan tidak perlu dimodifikasi dengan melakukan kecurangan. Terima dan ambil hikmahnya. Agar kualitas anak bangsa ini bagus.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Bagi siswa Unas adalah satu ujian yang sangat menakutkan, hampir setiap tahunnya berita tentang Unas banyak macamnya. namun, yang harus kita tahu, ketetapan pemerintah ini sudha melalui tahap-tahap sebelum diputuskannya dilaksanakan Unas dan dari ketetapan Unas ini, pemerintah pastinya ingin membeikan yang terbaik bagi kita semua. hanya pelru untuk renungan bagi masing-masing pihak, dimana masih banyak pro dan kontra mengenai Unas ini.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas_D 2016

    Unas memang menjadi sesuatu yang sakral dalam diri peserta didik, sehingga begitu sakralnya banyak siswa yang stres diakibatnya memikirkan tentang Unas. Kalau menurut hemat saya, akar dari permasalahan ini adalah dari guru, karena sering guru menanamkan sejak dini dalam benak siswa akan pentingnya Unas itu untuk kehidupan siswa di masa depan. Jadi menurut saya yang perlu diperbaiki itu yang pertama adalah gurunya. Dan Alhamdulillah untuk saat sekarang ini Unas atau Un itu sudah tidak terlalu membuat siswa stres lagi, karena nilai Unas itu tidak semuanya menentukan lulus atau tidaknya seseorang dari suatu sekolah.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ujian Nasional adalah evaluasi akhir untuk menaiki tingkatan lebih tinggi. Banyak pro kontra dengan penyelenggaraan Ujian Nasional ini. Dengan adanya Ujian Nasional guru terfokus pada materi yang diajarkan harus sesuai dengan standar kelulusan agar nantinya siswa tidak mendapati kesulitan dalam mengerjakannya dan rating sekolah tidak memburuk. Padahal kompetensi dasar untuk per materi telah jelas ditetapkan. Jika siswa telah menguasai hal tersebut maka ia sudah dapat dipastikan dapat dengan mudah menyelesaikan soal Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  18. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Bila berbicara tentang serba-serbi ujian nasional memang tidak akan ada hentinya. Kendati ujian nasional memang dianggap sebagai suatu hal yang penting. Ujian nasional menjadi soroton utama bagi para pelaku akademisi, terjadi pro dan kontra. Dalam diri siswa sendiri ketika akan ujian nasional diajak untuk doa bersama, shalat hajat bersama dan lain sebagainya, agar proses panjang selama ini membuahkan hasil saat ujian nasiona. Namun, dibalik itu semua terlihat fenomena yang dirasakan di sekolah adalah pembelajaran seolah hanya berorientasi pada UN semata padahal ada proses lain yang seharusnya dikembangkan dalam proses pembelajaran tersebut misalnya saja pembentukan karakter dengan menerapkan berbagai metode yang dapat mengkontruksi pengetahuan siswa. Belum lagi dampak dari kasus kebocoran soal, ketidakjujuran dalam pelaksanaannya. Semoga sistem pendidikan di Indonesia semakin baik dan dapat membentuk karakter generasi bangsa. Amiin...

    ReplyDelete
  19. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional atau orang dahulu mengenalnya sebagai UNas merupakan momok yang cukup besar bagi siswa-siwa sejak dulu. Karena UNas menjadi penentu dalam hitungan hari menentukan kelulusan yang ditempuh selama 3 tahun. Memang tidaklah adil, karena seyogyanya gurulah yang dapat menilai siswa yang mereka didik, Bukanlah selembar kertas ujuan dalam unas. Sehingga Unas dijadikan sebagai biang kesurupan bagi siswa.

    ReplyDelete
  20. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional atau UN atau yang dahulu dikenal dengan Unas merupakan momok besardalam pendidikan sejak dahulu. Karena Unas menjadi penentu dari apa yang siswa pelajar dalam 3 tahun dan hanya ditentukan dala beberapa hari saja. Oleh karena itu, banyak sekolahan menjalankan berbagai ritual dalam mempersiapkan Unas. Seperti dalam ritual-ritual pendidikan, juga ritual spiritual dan ritual emosional. Namun, seyogyanya pendidikan itu bukan ditentukan oleh nilai Unas namun guru sebagai pendidika\ yang mendidik siswa karena merka yang tahu kondisi sesungguhnya dari siswa.

    ReplyDelete
  21. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Sepertinya Unas dapat menjadi suatu hal yang menakutkan bagi siswa, bagaimana tidak, selama bertahun – tahun belajar banyak hal hanya ditentukan dalam waktu beberapa hari dan hanya beberapa mata pelajaran yang di Unas kan. Belum tentu siswa menguasai semua mata pelajaran yang dipakai untuk Unas. Bisa jadi ada siswa yang sama sekali tidak tertarik dengan mata pelajaran yang akan dipakai dalam ujian tersebut. Ada kemungkinan juga bahwa siswa akan menganggap remeh pelajaran yang tidak diujikan. Maka sebenarnya Unas hanya akan membentuk pola pikir yang berbeda pada siswa terhadap pelajaran – pelajaran yang ia terima saat sekolah.

    ReplyDelete
  22. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Ujian Nasional memang menimbulkan pro dan kontra. Padahal tujuan diadakannnya UNAS adalah untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Tetapi UNAS merupakan momok bagi siswa sekaligus menjadikan siswa sebagai korban. Karena UNAS adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar di sekolah. Bila UNAS gagal, maka siswa itu akan dianggap gagal dalam belajar di sekolah. Oleh karena itu, berbagai pihak mengupayakan berbagai cara agar siswa dapat lulus UNAS dengan hasil yang maksimal. Mulai dari mengikuti bimbel, drill soal, hingga yang bersifat religius sampai dengan cara-cara yang tidak jujur seperti membeli kunci jawaban dan lain lain, akibatnya anak yang biasanya pandai, nilai UNAS nya bisa kalah dengan anak yang malas bahkan suka bolos.  Namun, yang terjadi di lapangan adalah pihak guru maupun orang tua begitu menekan siswa agar lulus UNAS bagaimanapun caranya dan proses dianggap tidaklah penting karena hasil UNAS ini akan menentukan sehingga proses pembelajaran tidak terlalu diperhatikan. Sehingga hanya difokuskan pada drill siswa bukan pada konsep.

    ReplyDelete
  23. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Karena sebegitu takutnya siswa akan ujian nasional maka banyak siswa yang melakukan berbagai cara yang beragam dan aneh guna agar mereka dapat lulus dan mendapat nilai baik. mungkin mereka takut jika tidak lulus orangtua akan marah, apalagi bagi siswa yang memang tidak pernah dan tidak mau belajar. karena sesungguhnya jika mereka tekun belajar maka pastilah mereka akan lulus.

    ReplyDelete
  24. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penyelenggaraan ujian nasiolan/UN/Unas berdampak langsung kepada proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang seharusnya berdasarkan pada kebutuhan siswa akan cenderung mengejar kebutuhan ujian nasional. Pembelajaran yang seharusnya melatih kemampuan berpikir, kreatif, kemandirian, komunikasi, dan rasa percaya diri siswa, malah menuntut siswa untuk memenuhi kriteria ujian nasional dengan memperbanyak latihan-latihan soal.

    ReplyDelete
  25. Ika Agustina Fitriani
    1430124018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaksanaan ujian nasioanal yang diselenggarakan pemerintah menuntut siswa untuk lulus dari sekolah. Segala macam cara dilakukan siswa untuk memperoleh nilai yang memuaskan pada ujian nasional tersebut. Banyak diantara siswa yang mengikuti lembaga bimbingan belajar di luar pembelajaran disekolah. Namun yang sangat disanyangkan adalah pembelajaran di lembaga bimbel sangat berbeda dengan di sekolah. Lembaga belajar lebih mengedepankan hasil dibanding proses. Padahal hakekat pendidikan yang sesungguhnya adalah proses.

    ReplyDelete
  26. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaksanaan Ujian nasional memang masih menyimpan pro dan kontra yang belum juga menemukan titik cerah. Ada yang setuju dengan pelaksanaan Unas yang dianggap mampu meningkatkan mutu pendidikan. Namun di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa Unas menjadi momentum yang menakutkan khususnya bagi siswa. Hal yang menjadi berbahaya yaitu ketika semua pihak berorientasi bahwa Unas satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan. Padahal jika kita lihat realita di lapangna, tindak kecurangan pun tak jarang kita temukan, seperti bocornya soal Unas, penyebaran kunci jawaban, penggandaan soal secara ilegal, kurang meratanya pendistribusian soal, dan lain sebagainya. Melihat fenomena tersebut, apakah Unas masih perlu dilakukan?

    ReplyDelete
  27. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pelaksanaan Unas juga mengakibatkan guru enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengembangkan metode pembelajaran ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant. Hal tersebut lama kelamaan akan merusak kualitas pendidikan yang condong pada pembelajaran yang instant tanpa mengetahui langkah kerja perolehannya. Oleh karena itu, diperlukan kontrol dari berbagai pihak mengenai pelaksanaan Unas tersebut. Unas hendaknya hanya sebatas pemicu yang dapat membangkitkan semangat siswa dan guru dalam mencapai tujuan pendidikan. Jangan jadikan Unas sebagai tolok ukur utama pendidikan.

    ReplyDelete
  28. Sekarang unas masih menentukan kelulusan siswa tapi bukan berdasarkan nilainya tetapi berdasarkan keikutsetaannya. Kelulusan siswa ditrmtukan antara lain oleh keikutsertaan UN dan rapat dewan guru. UN sekarang dapat menjadi dasar pemetaan bagi pemerintah untuk melihat daerah yang masih perlu diperbaiki mutunya. Guru dan siswa sudah mulai tidak menaruh perhatian khusus pada UN, hanya bantuan yang diperlukan. Walaupun tidak menentukan kelulusan tetapi masih ada beberapa daerah yang mencari kebanggan dengan menekan guru untuk memberi hasil yang yang tinggi pada UN. Karena guru tidak hanya berfokus pada UN maka diharapkan guru melakukan dan mengemabngkan inovasi dan kreasi dalam peningkatan kualitas pembelajaran. pembelajaran berkualitas dapat mengakibatkan hasil yang tinggi.

    ReplyDelete
  29. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Jika kita perhatikan realitas saat ini adalah benar bahwa UNAS telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya UNAS lah orientasi pendidikan di sekolah tersebut. Meskipun sekitar 2-3 tahun terakhir, UNAS tidak menjadi lagi syarat utama bagi kelulusan siswa, namun UNAS selalu menjadi momok yang menakutkan dan menyeramkan terhadap kalangan pelajar, sehingga mereka stres dan histeris. Tidak hanya siswa saja yang mengalami stres, namun para orangtua, guru, dan kepala sekolah pun ikut stres memikirkan siswanya. Jika siswa tidak lulus UNAS maka mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak siswa yang stres karena merasa malu, tertekan, dan putus harapan. Hal ini tentu sangat miris bagi kita semua, terutama bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan. Baru-baru ini tentunya, terdengar di telinga kita khususnya yang berkecimpun di dunia pendidikan bahwa oleh menteri pendidikan yang baru mengusulkan berbagai program yang salah satu nya adalah penghapusan UNAS, dan diganti dengan USBN (ujian sekolah berstandar nasional) dan pemerintah telah mengklaim bahwa pengganti UNAS tersebut telah siap sekitar 70% untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  30. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, "Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas" ini sangatlah menarik. Dari elegi tersebut terlihat banyak fenomena-fenomena yang terjadi ketika menghadapi UNAS. Memang banyak kecurangan yang terjadi. Sebenarnya UNAS itu dilakukan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik selama belajar di sekolah. Oleh karena itu, seharusnya siswa menghadapi UNAS dengan gembira dan tidak perlu tekanan fisik dan batin yang nantinya akan membuat mereka stres. Belajar dengan rajin dan berdoa dengan khusyuk kepada Allah merupakan kunci sukses UNAS.

    ReplyDelete
  31. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional memang masih menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi pemerintah ingin mengadakan ujian nasional untuk menjaga sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan nasional, di sisi lain unas menjadikan siswa sebagai korban. Hal ini karena nilai dari ujian nasional bukan hanya gengsi dari siswa namun juga gengsi sekolah, dinas pendidikan kabupaten dan dinas pendidikan provinsi, sehingga pihak pihak tersebut berlomba lomba melakukan yang terbaik dan membebankan harapan mereka pada siswa. Siswapun tertekan harus memiliki hasil ujian nasional yang bagus, bahkan apapun bisa dilakukan temasuk cara cara tidak jujur seperti membeli kunci jawaban dan lain lain , akibatnya anak yang biasanya pandai, nilai UN nya bisa kalah dengan anak yang malas bahkan suka bolos.

    ReplyDelete
  32. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tidak dipungkiri lagi jika negara ini sudah masuk ke dalam pusaran UN seperti yang dijelaskan dalam elegi di atas. Ketika menjelang diadakan UN untuk jenjang SD, SMP, dan SMA banyak sekali yang membicarakan tentanh UN. Berita – berita di televisi pun turut ambil bagian di dalamnya, memberitakan persiapan – persiapan yang dilakukan oleh pemerintah, siswa, sekolah dan lain – lain. Seakan – akan UN merupakan hal yang paling ditunggu – tunggu atau bahkan menjadi hal yang menakutkan bagi siswa.

    ReplyDelete
  33. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dampak buruk dari terselanggaranya UN sudah dijelaskan dalam elegi di atas, namun saya ingin menambahkan bahwa damak lain yang terjadi adalah UN yang seharusnya digunakan sebagai penilaian anak membuat anak – anak yang berada di aderah pinggir atau terpencil merasa tertekan karena ilmu yang dia peroleh dengan fasilitas yang pas – pas an berbeda dengan mereka yang tersedia segala keperluan untuk menuntut ilmu. Sehingga bisa dikatakan UN merupakan alat penilaian yang kurang pas untuk digunakan.

    ReplyDelete
  34. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    UNAS suatu hal yang mampu menarik perhatian seluruh kalangan di setiap tahunnya. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan UNAS memberikan dampak beragam untuk siswa, orang tua, guru maupun sekolah. Berbagai sorotan dilakukan dan digencarkan melalui berbagai media untuk melaporkan kabar unas di berbagai belahan kota di Indonesia. Masih menjadi pro dan kontra dengan keberadaan unas ini. Sebagian orang berpikir Unas sangatlah penting karena menunjukkan bukti kelulusan di jenjang sekolah untuk bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Akan tetapi, sebagian orang yang lain mengganggap Unas justru menjadikan guru tidak kreatif dalam mengembangkan pembelajaran karena hanya berorientasi pada soal Unas yang kuarng dikembangkan.

    ReplyDelete
  35. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Indonesia dikenal dengan negara kaya budaya, tradisi dan penuh cara unik dalam merayakan suatu event yang dianggap penting oleh kalangan masyarakat luas. Begitupun dengan UN yang setiap tahun dilaksanakan di janjang pendidikan dari SD, SMP, SMA. Hal yang sering dilakukan oleh beberapa sekolah dalam menyambut Unas adalah dengan ritual doa bersama. Akan tetapi, masih terdapat beberapa perilaku menyimpang karena masih ada yang menyambut Unas dengan kegiatan yang cenderung iraasional, pemujaan, dan doa hanya dengan tujuan agar dapat lulus dari Ujian Nasional. Hendaklah semuanya itu diserahkan kepada Tuhan seraya kita tetap berdoa dan belajar, tanpa harus melakukan pemujaan atau pergi ke dukun. Kuncinya adalah DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal).

    ReplyDelete
  36. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya juga setuju dengan pendapat bahwa UN membuat siswa dan guru berorientasu pada UN, membuat acara cepat dan mudah untuk mengerjakan soal UN. Padahal sebenarnya siswa bersekolah untuk belajar, dan belajar bukan merupakan mengerjakan soal UN. Itu merupakan hal yang berbeda jauh, sehingga sebenarnya tidak relevan penilaian yang digunakan itu UN. Padahal hasil belajar siswa dilihat dari banyak sudut pandang seperti, proses, psikologis siswa, progress dan lain –lain.

    ReplyDelete
  37. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hasil ujian nasional masih menjadi tolok ukur untuk menentukan kualitas suatu sekolah. Padahal ujian nasional hanya dilaksanakan selama beberapa hari saja. Dan dalam pelaksanaannya tidak memperhatikan proses pembelajaran. Bahkan tak sedikit siswa yang menggunakan jalan pintas untuk memperoleh nilai yang diinginkan.

    ReplyDelete
  38. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saat ini masih banyak siswa yang takut akan UN sehingga banyak sekali cara yang dilakukan oleh siswa untuk lulus dari UN dengan nilai yang bagus. Saat banyak cara yang digunakan oleh siswa yaitu dengan jalur bantuan orang ketiga yaitu membeli kunci jawaban. Dengan cara ini sudahlah menyesatkan siswa karena siswa sudah dilatih tidak jujur. Selain itu aksi hura-hura yang dilakukan siswa setelah pengumuman kelulusan sudah menjadi tradisi di Indonesia hal ini menilbulkan banyak kerugian bagi masyarakat umum. Semoga kedepannya UN digantikan dengan yang lebih bisa mendidik siawa menjadi generasi peerus bangsa yang berkualitas tinggi.

    ReplyDelete
  39. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  40. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pelaksanaan UNAS yang menjadi penentu kelulusan sekolah dirasakan siswa menjadi momok yang menakutkan. Banyak usaha yang dilakukan guru dan siswa dalam persiapan untuk menghadapi UNAS tersebut. Tidak sedikit guru yang justru menjadikan UNAS sebagai orientasi dalam pendidikan. Dampaknya pada siswa pun banyak yang melakukan hal-hal irasioanl dan melanggar aturan untuk dapat lulus UNAS. Tetapi dampak yang paling mengkhawatirkan ialah dampak pedagogik yang terjadi. Berbagai macam teori belajar, pembelajar konstruktivis dll dikesampingkan karena dirasa tidak menunjang UNAS.

    ReplyDelete
  41. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pemerintah sudah semestinya peka akan dampak UNAS yang terjadi selama ini. Pendidikan seharusnya berorientasi pada proses, bukan semata-mata pada hasil dan menutup mata pada proses yang terjadi. Sekolah, khususnya guru yang paling mengetahui karakter dan kemampuan siswanya. Pemerintah perlu memberikan kepercayaan pada sekolah sebagai penentu kelulusan siswanya, bukan memasang patokan yang sama pada siswa yang memiliki kemampuan berbeda.

    ReplyDelete
  42. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Unas merupakan assesmen atau penilaian hasil belajar dalam skala nasional, untuk mengukur pencapaian siswa Indonesia secara keseluruhan di tingkat nasional. Namun masih dipertanyakan eksistensi unas itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa penilaian paling baik adalah yang dilakukan gurunya sendiri, karena gurunya lah yang mengetahui dan memahami prestasi siswanya. Hanya saja perlu pemahaman mengenai standar nasional, kriteria kelulusan, ataupun standar kompetensi lulusan.

    ReplyDelete
  43. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Namun dijumpai adanya ‘ritual’ yang mengelilingi pelaksanaan unas. Bahkan ada kasus-kasus yang terjadi berkaitan dengan unas. Kasus yang terjadi juga bermacam-macam, dan bahkan bisa dibilang merugikan siswa itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karena orientasi yang sangat mengarah kepada hasil unas, dari pihak sekolah, daerah, bahkan nasional sendiri mengakibatkan beban yang diampu oleh siswa semakin berat. Padahal bukan itu hakikat tujuan pendidikan sebenarnya. Pembelajaran bukan berorientasi pada hasil unas, namun bagaimana siswa belajar berdasarkan pengalaman hidup, dengan difasilitasi oleh guru dengan metode yang baik, berdasarkan teori-teori belajar yang membantu mengembangkan kemampuan siswa itu sendiri

    ReplyDelete
  44. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ternyata pelaksanaan unas menggeser tujuan pembelajaran. Seperti yang disebutkan di elegi di atas, berdasar pengalaman ternyata mahasiswa calon guru yang sedang praktek di sekolah yang semestinya mengembangkan pembelajaran berdasarkan teori dan metode yang dipelajari di perkuliahan justru diarahkan untuk membantu siswa menyelesaikan soal-soal unas. Siswa juga diarahkan untuk mampu menyelesaikan soal-soal unas, mungkin malah tanpa mengetahui makna mereka mengerjakan soal-soal tersebut. Bahkan siswa cenderung lebih suka cara cepat daripada secara runtut mengerjakan soal tersebut

    ReplyDelete
  45. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Hal itulah yang telah saya alami di bangku sekolah. Kita tidak dapat juga 100% menyalahkan guru yang hanya berorientasi pada UN. Karena pada saat ini memang hanya nilai UN lah yang menjadi tolak ukur apa yang akan dilalui peserta didik kedepannya setelah lulus. Memang sekarang nilai UN tidak menentukan lulus atau tidaknya peserta didik, ketentuan kelulusan ditentukan oleh sekolah. Tetapi nilai UN tetap dilihat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berarti sama saja. UN juga harus mendapatkan nilai yang baik. Hal ini lah yang membuat para guru tetap melakukan hal yang sama pada saat ini.

    ReplyDelete
  46. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terdapat banyak kontroversi mengenai UNAS. Ada pihak yang menyatakan setuju karna itu dapat mengukur kemaampuan siswa, namun ada pula yang tidak setuju karena UNAS membuat siswa terbebani. Saya pribadi memandang UNAS memang agak memberatkan. Ada beberapa siswa yang tidak belajar dengan baik di sekolah karena mereka berpikir bisa membeli kunci agar lulus. Ada pula yang memandang nilai akhir tersebut sebagai tolok ukur kepintaran, padahal beum tentu setiap siswa yang nilainya jelek saat UNAS, kesehariannya di kelas juga jelek.
    Selanjutnya untuk bimbel, bimbel skrg juga banyak dipilih karena bimbel mampu menyajikan rumus singkat pdat dan jelas namun pasti kebenarannya untuk menjawab soal UNAS, akibatnya, saya sendiri pernah mengalami, konsep dari materi yang dipelajari tersebut menjadi kurang mengena.

    ReplyDelete
  47. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sekarang ini UNAS sudah tidak menjadi penentu utama dalam kelulusan, tapi mitos akan UNAS itu selalu menjadi momok bagi murid dan orang tua murid yang akan melaksanakan UNAS sehingga mereka melakukan ritual yang seharusnya tidak dilakukan.

    ReplyDelete
  48. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Jika berbicara serba serbi UNAS tentu banyak pro dan kontra didalamnya. Apakah sudah tepat jika penentuan kelulusan pembelajaran selama 3 tahun ditentukan oleh mata pelajaran tertentu saja, padahal kita ketahui minat dan bakat masing masing siswa berbeda. Serta jika hasil UNAS seorang siswa tidak lulus belum tentu siswa tersebut tidak baik dalam mengikuti pembelajaran selama 3 tahun.

    ReplyDelete
  49. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Hal itulah yang telah saya alami di bangku sekolah. Kita tidak dapat juga 100% menyalahkan guru yang hanya berorientasi pada UN. Karena pada saat ini memang hanya nilai UN lah yang menjadi tolak ukur apa yang akan dilalui peserta didik kedepannya setelah lulus. Memang sekarang nilai UN tidak menentukan lulus atau tidaknya peserta didik, ketentuan kelulusan ditentukan oleh sekolah. Tetapi nilai UN tetap dilihat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berarti sama saja. UN juga harus mendapatkan nilai yang baik. Hal ini lah yang membuat para guru tetap melakukan hal yang sama pada saat ini.

    ReplyDelete
  50. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Membicarakan Unas memang tidak pernah akan ada habisnya. Unas belum dilaksanakan pun sudah banyak polemik apalagi ketika sudah dilaksanakan. Unas sejatinya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa selama di tingkat satuan pendidikan tertentu. Ritual ini dilaksanakan agar Unas berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Unas bukan hanya tanggungjawab siswa dan guru tetapi juga tanggung jawab orang tua. Orang tua mempunyai kewajiban mendampingi dan mengontrol siswa selama di rumah dan dilingkungan rumah. Jangan sampai orang tua menyalahkan gruu ketika hasil yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan harapan.

    ReplyDelete