Mar 8, 2011

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat...saya ingin bertanya bagaimana engkau bisa mendefinisikan Ritual.

Bagawat:
Hemm...aku terbiasa berpikir merdeka....artinya definisiku itu selalu saya ambil dari karakter yang ada kemudian saya intensikan dan ekstensikan.

Cantraka:
Terserahlah...tetapi untuk kali ini aku ingin minta pendapatmu tentang apa itu Ritual.

Bagawat:
Ritual itu biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ... dst.

Cantraka:
Kalau contohnya?

Bagawat:
Ya...segala jenis ibadah yang berkaitan dengan Agama menurut saya bisa disebut Ritual. Tetapi sebagian orang mengkonotasikan Ritual misalnya dengan Upacara Adat atau tradisional misalnya Sekaten, Nyadran, Selamatan Desa, Bedhol Desa, Sesaji, Ruwatan...

Cantraka:
Apakah esensi dari Ritual itu?

Bagawat:
Esensi dari Ritual adalah berdoa. Sekarang bolehkah aku ganti bertanya...mengapa engkau kelihatansemangat sekali bertanya tentang Ritual?

Cantraka:
Aku sedang memikirkan fenomena Ujian Nasional atau Unas.

Bagawat:
Lho...memangnya kenapa dengan Unas itu?

Cantraka:
Aku sedang dan telah melihat dan menyaksikan fenomena pelaksanaan Unas yang terjadi di masyarakat mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan yang engkau katakan.

Bagawat:
Apakah ciri-ciri pelaksanaan Unas di masyarakat menurut pengamatanmu?

Cantraka:
Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadapi dan mempersiapkan diri mengikuti Unas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ....dst.

Bagawat:
Contohnya?

Cantraka:
Ada seorang siswa, katakan saja Soplo, yang menurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat...pokoknya sekolahnya tidak serius. Malah suatu ketika terlibat kejahatan mencuri motor...dan terpaksa mengikuti Unas di kantor polisi. Melihat anaknya demikian, maka orang tuanya sangat prihatin...pergilah dia ke dhukun minta tolong agar anaknya bisa lulus Unas. E.eee...ternyata lulus. Begitu dinyatakan lulus maka bergegaslah mereka mengadakan selamatan di tempat mbah dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Anehnya ada seorang siswi, katakan Lintri, yang dianggap pandai oleh gurunya, aktif, menjadi pengurus osis, selalu mengerjakan PR dan tugas, tidak pernah mbolos,nilai hariannya juga baik ...dst...Ternyata tidak lulus Unas. Apa komentar si orang tua Soplo..katanya karena si orang tua Lintri itu tidak mau ke dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Sekarang mulai ngetrend dimana-mana di sekolah mengadakan “malam renungan atau doa bersama” atau mujahadah beberapa hari sebelum Unas. Dalam malam renungan itu biasanya dibuat suasana sangat sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi, ...dst...yang intinya sampai sangat menyentuh perasaandan nurani sehingga bisa khusuk berdoanya memohon agar minta diluluskan dalam Unas. Saking khusuknya terkadang beberapa siswa sampai menangis histeris, teriak-teriak bahkan kesurupan. Mereka seakan sudah sangat menyatu baik Kepala Sekolah, Guru, siswa bahkan karyawan semuanya larut dalam suasana emosional dan menangis bersama menghadapi Unas.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Di suatu daerah tertentu aku juga menemukan sudah mulai banyak masyarakat ikut mendukung, katakanlah Ritual Unas...Seperti yang dilakaukan di sekolah...di masyarakat juga dilakukan kegiatan seperti itu.

Bagawat:
Masih ada?

Cantraka:
Masih ada. Kemarin saya menyaksikan sendiri...ada seorang siswa, katakanlah Satri, mengalami stress berat ketika baru saja mengikuti Unas hari pertama. Pada tengah hari pertama anak itu stress sehingga hanya terdiam saja...matanya melotot...keringatnya gemrobyos...dan sampai akhir ujian dia hanya terdiam saja di tempat duduk. Dia tidak dapat melanjutkan Unas. Menurut penuturan teman saya..Satri itu mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas yang diwajibkan oleh sekolah dan oleh kampungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa orang tua Satri telah kehilangan Satri karena dia sekarang telah menjadi gila.

Bagawat:
Masih ada yang lain?

Cantraka:
Saya mendengar berita ada anak pingsan ketika mengikuti Unas kemudian di bawa ke Puskesmas terdekat...setelah siuman..dia mengikuti Unas dari Puskesmas itu. Berdasar penuturan temannya..dia juga mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas ditambah beban pikiran agar lulus Unas yang dipesankan oleh Kepala Sekolah, Guru maupun Orang Tuanya.

Bagawat:
Ada lagi?

Cantraka:
Sementara cukup. Tetapi saya ingin bertanya apakah engkau setuju jika saya menilai Unas sekarang telah menjadi fenomena Ritual Unas?

Bagawat:
Hemmm...kita harus berpikiran jernih. Kita lihat dulu maksud dan tujuan Unas. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Cantraka:
Tetapi mengapa banyak segmen masyarakat atau anggota masyarakat, sekolah, guru atau siswa cenderung melakukan hal-hal yang irrasional dalam menghadapi Unas?

Bagawat:
Hemmm...mungkin karena mereka mengganggap Unas adalah peristiwa besar bahkan sangat besar bagi hidupnya. Ketahuilah bahwa Unas itu juga sekaligus adalah harga diri Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten dan Propinsi. Tidak cukup hanya harga diri tetapi juga mempunyai dampak atau akibat-akibat yang diciptakan atau dikaitkan dengan perolehan blockgrant, atau bantuan lainnya. Maka tentu...daerah-daerah saling berlomba agar dapat menjadi yang terbaik dan tidak yang terjelek.

Cantraka:
Begini Bagawat...sebetulnya engkau itu setuja nggak sih dengan Unas itu?

Bagawat:
Ada negara yang menyelengarakan Unas ada yang tidak. Di Eropah Barat dan Selandia Baru misalnya...maka guru berjuang sampai berdarah-darah menolak sebangsa Unas. Kata mereka...sebagai guru mereka harus melindungi siswa-siswanya. Membiarkan para siswanya dinilai oleh orang lain yang tidak mendidiknya dianggap sebagai perbuatan guru yang tidak bertanggung jawab. Menurut mereka...hanya gurunyalah orang yang paling boleh menilai siswa-siswanya, karena gurunya itulah yang mengerti prosesnya, psikologinya, persoalannya, pencapaiannya, hariannya, portofolionya, track recordnya,...dst.

Cantraka:
Bagaimana filosofinya Unas itu?

Bagawat:
Jika sekolah dan guru bisa melakukan kegiatan assessment atau penilaian hasil belajar dengan baik sebetulnya tidak perlu Unas. Secara psikologis maupun filsafat ...maka orang yang paling mengetahui prestasi siswanya adalah gurunya. Masalahnya apakah gurunya memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan.

Cantraka:
Kok nada-nadanya engkau itu selalu menyalahkan guru? Artinya apakah guru belum bisa dipercaya? Apakah dengan diadakannya Unas berarti guru tidak bertanggungjawab terhadap muridnya?

Bagawat:
Barangkali begitu.

Cantraka:
Apakah karena guru belum bisa dipercaya maka Unas harus dilaksanakan?

Bagawat:
Mungkin begitu.

Cantraka:
Lho kalau begitu mengenaskan sekali nasib guru kita itu...tidak dipercaya dan dianggap tidak bertanggungjawab lagi?

Bagawat:
Saya kan mengatakan barangkali begitu.

Cantraka:
Bagaimana dengan dampak yang terjadi misalnya...masyarakat cenderung irrasional, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban, sms jawaban, ...dst

Bagawat:
Dampak itu relatif.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud dampak adalah relatif?

Bagawat:
Ya..tergantung penilaian masing-masing? Kalau menurut saya dampak yang paling serius dan mengkhawatirkan justru dampak pedagogik. Mengapa? Ketahuilah bahwa Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya. Mereka enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengambangkan metode pbm ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant.

Cantraka:
Lho kan sudah banyak dilakukan penataran-penataran untuk para guru?

Bagawat:
Itulah yang terjadi...sehebat apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan ...tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas...orientasi Unas...sukseskan Unas tanpa kecuali. Buat apa bertele-tele dan muluk-muluk mengembangkan metode pembelajaran jika banyak yang tidak lulus Unas. Ah...guru...jangan sok muluk engkau itu...pegang satu hal saja...Lulus Semua pada Unes...tanpa reserve. Nasib yang sama juga dialami oleh para mahasiswa calon guru yang praktek di sekolah; semua teori dan pengalaman mengembangkan pbm di universitas seakan rontok tak tersisa satupun begitu mereka masuk ke sekolah. Unas oriented telah menyebabkan para mahasiswa juga hanya diberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal setara Unas. Saking bingungnya ada pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Inilah ambivalensi yang telah dihasilkan oleh Unas.

Cantraka:
Wahai Bagawat...terimakasih atas jawaban-jawabanmu.

Bagawat:
Aku sangat puas dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu.

26 comments:

  1. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pada elegi ini, adanya unas menjadikan para guru dan siswa hanya berorientasi pada bagaimana agar dapat sukses dalam unas saja. Padahal sebenarnya unas itu digunakan untuk menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Bila waktu unas sekamin dekat, maka siswa hanya fokus ke unas dan mengerjakan soal-soal yang berhubungan unas saja. Sehingga pemberian soal-soal seperti ini akan menjadikan siswa paham akan pola-pola soal yang mungkin akan disajikan saat unas. Sehingga model pembelajaran, teori belajar, metode konstruktivis tidaklah diterapkan dalam pembelajaran sekarang ini karena yang dikejar hanyalah pencapaian unas belaka.

    ReplyDelete
  2. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Saya katakan bahwa saya bersyukur beberapa tahun ke belakang Unas atau UN tidak menjadi satu-satunya penentu kelulusan bagi siswa. Sekarang peran guru seperti yang dikatakan pada elegi ini mulai dihidupkan kembali. Jika Unas dan UN masih menjadi satu-satunya penentu kelulusan tentu kejadian-kejadian irrasional pada elegi di atas dan disorientasi para pelaku praktis pendidikan akan terulang kembali dan terjadi terus-menerus. Akan tetapi, benar bahwa yang harus benar-benar diperhatikan adalah kemampuan dan keingingan kuat guru untuk memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan agar kelulusan siswa tetap pada standar capaian yang diinginkan.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Unas menjadi momentum yang menakutkan khususnya bagi siswa. Hal yang menjadi berbahaya yaitu ketika semua pihak berorientasi bahwa Unas satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan. Padahal jika kita lihat realita di lapangna, tindak kecurangan pun tak jarang kita temukan, seperti bocornya soal Unas, penyebaran kunci jawaban, penggandaan soal secara ilegal, kurang meratanya pendistribusian soal, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  4. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Ujian Nasional (UNAS) selalu menjadi momok yang menakutkan dan menyeramkan bagi kalangan pelajar, sehingga mereka menjadi stres dan histeris. Tidak hanya siswa saja yang mengalami stres, namun para orang tua, guru, dan kepala sekolah pun ikut stres memikirkan siswanya. Mengapa? karena, jika siswa tidak lulus UNAS maka mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan hal-hal unik dan aneh pun dilakukan oleh orang tua dan anaknya, mulai dari sungkeman ke ibu, membasuh kaki orang tua terutama ibu. Hal ini marak dilakukan ketika menjelang UNAS, terutama di daerah dengan harapan mendapat restu dari orang tua, agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi UNAS. Namun ada hal yang sangat menggelitik hati, ada siswa yang membawa pensil ke dukun, karena takut UNAS. Bayangkan, hanya untuk lulus UNAS sampai-sampai hal yang tidak rasional pun dilakukan Klimaks dampak buruk UNAS adalah detik-detik hasil kelulusan yang mengakibatkan hal yang sangat fatal yaitu kematian. Banyak siswa yang stres karena merasa malu, tertekan, putus harapan, hingga nekat gantung diri. Hal ini tentu sangat miris bagi kita semua, terutama bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan. Hanya karena ingin lulus ujian, nyawa seorang siswa harus melayang

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    UN diharapkan menjadi tolak ukur pendidikan di Indonesia. Tetapi sayangnya saat ini banyak hal-hal negatif yang terjadi karena UN. UN telah menyebabkan banyak guru hanya berfokus pada UN sehingga lebih memilih menggunakan metode cepat agar siswa lulus. Hal ini telah terjadi selama bertahun- tahun dan telah membentuk karakter guru yang seperti itu. Tetapi ketika UN ditiadakan akankah guru dapat mengajar dengan berbagai variasi metode pembelajaran lainnya. Dan ketika UN ditiadakan akankah siswa masih memiliki motivasi untuk belajar.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi ritual dan serba-serbi UNAS menyajikan fakta-fakta yang ada seiring diselenggarakannya UNAS. Rasanya memang tidak adil ketika para siswa belajar banyak mata pelajaran, bahkan dari pagi sampai sore di sekolah, namun seolah-olah keberhasilan mereka hanya ditentukan oleh UNAS yang notabene hanya diselenggarakan satu minggu saja dan hanya beberapa materi pelajaran saja. Akibatnya anak-anak terpaksa menambah jam ekstra untuk les yang isinya latihan-latihan soal, selain itu juga masih harus mengerjakan latihan-latihan yang diselenggarakan sekolah secara rutin menjelang UNAS, dan berbagai kegiatan ritual UNAS lainnya. Selain itu, dampak bagi guru mata pelajaran selain UNAS adalah bahwa sang guru sering diabaikan, disepelekan, dianggap bahwa pelajaran guru tersebut tidak penting karena bukan mata pelajaran yang diujian nasionalkan. Dampak psikis pun dirasakan oleh siswa dan orang tua. Siswa menjadi mudah stres, mudah takut, dan fenomena yang paling mengejutkan adalah bahwa ada siswa yang sudah berprestasi setaraf internasional tetapi tidak lulus ujian nasional, betapa hal tersebut dapat menimbulkan beban mental yang luar biasa bagi siswa. Gurupun demikian menjadi tertekan dan tidak leluasa.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Keberadaan UN membawa dampak tersendiri. Terkadang apa yang telah di teorikan ketika kuliah harus terbentur ketika mengajar. Hal ini karena ada tuntutan untuk lulus UN dengan nilai tinggi. Para guru hanya berorientasi agar siswanya lulus UN. Hal ini naïf sekali. Telah dicontohkan bahwa ada orang yang mengerjakan UN sampai dikantor polisi. Apakah Indonesia lebih mementingkah hasil akhir daripada akhlak yang mulia? Belum lagi masalah kecurangan dan ketidakadilan ketika mengerjakan soal UN. Jadi jika pada awalnya UN dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa secara nasional maka hal itu tidak lagi objektif karena terjadi kecurangan

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. UN memang selalu menjadi topik diskusi yang selalu menarik untuk dibahas. UN memiliki kelebihan karena dapat mengukur kemampuan secara merata, tapi juga punya kelemahan karena hanya mengukur pada saat itu saja, mengabaikan kegiatan belajar mengajar yang telah ditempuh. Terlepas dari prokontra UN, pemerintah tetap menjalankan UN, dan sudah menjadi konsekuensi dunia pendidikan untuk mematuhinya.

    ReplyDelete
  9. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Ujian Nasional telah menjadi obrolan kontroversial sejak beberapa tahun lalu. Di satu sisi, banyak yang mendukung, di sisi lain banyak yang mencaci. Seperti yang disampaikan dalam tulisan di atas, bisa jadi ia merupakan bentuk ketidakpercayaan pemerintah pada kinerja guru dan sekolah, bisa jadi. Karena memang pada dasarnya, yang paling berhak menilai seorang siswa adalah gurunya yang melihat prosesnya belajar. Namun sebenarnya, ada pula sisi positif dari UAN, yaitu standarisasi. Dengan UAN, kita bisa mengetahui tingkatan pencapaian siswa dalam setiap daerah, mana yang sudah tergolong baik, mana yang masih perlu diperhatikan lagi. Namun sayangnya, pada pelaksanaannya, UAN memiliki banyak kekurangan, dilihat dari berbagai penyimpangan yang terjadi di sekolah maupun masyarakat. Menurut saya, UAN tak lagi efektif sebagai standar kelulusan. Kita pernah mengalami masa yang tidak masuk akal dimana UAN menjadi tolok ukur mutlak dalam kelulusan. Namun setidaknya, sekarang ada kebijakan yang mengarah pada sesuatu yang lebih baik, bahwa pemerintah telah sedikit banyak memperhatikan pendapat rakyat dengan mengeluarkan kebijakan tak lagi menjadikan UAN sebagai satu-satunya tolok ukur kelulusan.

    ReplyDelete
  10. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    UN sekarang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak menjadi satu-satunya syarat kelulusan siswa. UN terbaru yang akan diimplementasikan di tahun 2018 kususnya matematika adalah adanya soal isian singkat, hal ini merupakan hal yang lebih baik. Siswa yang biasanya hanya mengerjakan multiple choice sekarang sudah ada tambahan isian singkat. Kedepan mungkin akan dikembangkan lagi sehingga ada soal esai. Sekarang juga ada US berstandar nasional, sehingga mata pelajaran lain juga sudah tidak dipandang sebelah mata.

    ReplyDelete
  11. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Unas memang selalu menjadi pro dan kontra sehingga selalu mengalami revisi atau perubahandi setiap tahunnya. Seperti misalnya penambahan paket soal yang bertujuan menghilangkan atau setidaknya mengurangi angka kecurangan siswa dalam mencontek, kemudian perubahan status unas yang awalnya sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa menjadi sebagai salah satu penentu kelulusan siswa bersama dengan nilai uas. Dan perubahan yang lain, baik yang sudah dilakukan maupun yang belum dilakukan sampai ditemukannya format atau system unas yang paling ideal.

    ReplyDelete
  12. ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    UNAS, jika dilihat dari segi siswa sangatlah luar biasa, siswa berjuang tanpa mengenal lelah, pagi sekolah sore bimbingan belajar tambah lagi malam hari, dapat diibarat kata tiada waktu untuk yang lain kecuali untuk persiapan UNAS. Semua itu takut kalau tidak lulus atau takut tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Sehingga soal-soal dilalapnya tanpa mengenal lelah. Disisi lain tentu punya kelemahan karena mereka mengerjakan soal-soal dengan cara yang mudah diterima dengan mengenyampingkan proses konsep materi yang diterimanya. Hal ini mengakibatkan siswa berfikir bahwa tolak ukur penilaian adalah nilai UNAS. Dengan tolak ukur nilai UNAS, motivasi siswa dikala masih duduk di kelas level sebelumnya sangatlah kurang

    ReplyDelete
  13. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas, Saat ini, UNAS merupakan momok bagi siswa. UNAS adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar di sekolah. Bila UNAS gagal, maka siswa itu akan dianggap gagal dalam belajar di sekolah. Oleh karena itu, berbagai pihak mengupayakan berbagai cara agar siswa dapat “lulus” UNAS dengan hasil yang maksimal. UNAS merupakan suatu ketakutan tersendiri bagi siswa, guru maupun orang tuanya. Padahal tujuan diadakannnya UNAS adalah untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Namun, yang terjadi di lapangan adalah pihak guru maupun orang tua begitu menekan siswa agar “lulus” UNAS bagaimanapun caranya dan proses dianggap tidaklah penting karena hasil UNAS ini akan menentuikan harga diri orang tua, guru, maupun sekolah. Proses pembelajaran tidak terlalu diperhatikan, seringkali kita melihat di sekolah-sekolah, menjelang UNAS yang dilakukan hanyalah terus-terusan mengerjakan latihan soal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilania Eka Andari
      17709251050
      S2 pmat c 207

      Kemampuan yang harus dinilai dari peserta didik bukan hanya pada aspek kognitif, melainkan pengetahuan, keteraampilan dan sikap. Maka Ujian Nasional bukanlah alat yang tepat untuk mengukur kemampuan siswa, karena UN hanya menilai aspek kognitif saja. Kemudian, UN selalu berdampak negatif pada kondisi psikologis siswa, karena siswa cenderung dipaksa untuk menguasai bahkan menghafal segala pelajaran untuk UN dengan cepat. Hanya guru atau pendidik yang seharusnya menilai proses pembelajaran siswa.

      Delete
  14. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Unas atau yang sekarang kita sebut UN, adalah tes kemampuan siswa dalam bidang mata pelajaran yang ditentukan dengan soal pilihan ganda. Hasil tes soal tersebut menjadi penentu kelulusan peserta didik. Akan tetapi, Unas sebenarnya sama sekali tidak dapat mencerminkan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Kita tidak dapat mengetahui apakah hasil jawaban benar tersebut adalah hasil pemikiran dengan proses yang tepat atau hanya hasil lirik kanan kiri saja. Sehingga perlu dipikirkan kembnali Unas yang baik adalah Unas yang seperti apa, namun setidaknya dapat menilai proses agar kemampuan yang sebenarnya dari peserta didik dapat diketahui.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  15. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Ujian nasional sebagai sebuah standar dalam penilaian secara nasional memang memberikan dampak yang luas. Walaupun otonomi daerah menjadi prinsip demokrasi, tetapi otonomi penilaian sepertinya tidak kebagian jaahnya, karena untuk masalah ini pemerintah pusat seperti tidak ingin melepasnya. Banyak pro dan kontra tetnunya, namun efek nya tetap, apapun kurikulum dan detil penilaiannya, unas menjadi acuan nomor satu dalam setiap pembelajaran disekolah.

    ReplyDelete

  16. Kebijaka tetap adanya ujian nasional sebenarnya adalah ego-pemerintah, karena memang sepertinya jika unas dimoratorium akan banyak efek domino yang terjadi. Seperti bimbel yang tidak laku lagi,para penerbit akan kehabisan bahan, dan pemerintah itu sendiri. Bahkan melihat fenomena bimbel yang begitu menjamurnya, seolah ingin mengatakan bahwa system pembelajaran di bimbel llebih baik daripada di sekolah.

    ReplyDelete
  17. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Unas merupakan momok terbesar bagi para siswa karena Unas merupakan syarat lulus dari sekolah tempat mmereka belajar. apabila tidak lulus Unas banyak diantara mereka menganggap masa depan mereka akan suram. lulus dan tidak lulus Unas tidak menjamin kehidupan seseorang.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  18. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ujian nasional tentunya mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Sistem pendidikan di Indonesia di tuntut untuk memiliki standar bagi lulusan mereka. Sehingga muncullah unas untuk memberikan standar yang sama bagi lulusan nantinya.

    ReplyDelete
  19. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    disisi lain pemerintah tidak memikirkan bahwa infrastruktur dan SDM pengajar antara Indonesia barat dan Indonesia Timur sangat jauh perbedaannya. Hal itu saya mendengarnya sendiri dari teman saya yang mengikuti SM3T, sebelum ada program SM3T, guru-guru mereka hanya masuk mengajar paling banyak 4 kali dalam sebulan, sungguh miris mendengarnya ketika mereka nantinya dituntut memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah di pulau jawa. Pembangunan pendidikan tidak merata tetapi pemerintah ingin standar lulusan yang sama. Hal tersebut tidak mudah untuk dipahami.

    ReplyDelete
  20. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Di Indonesia, UNAS masih menjadi patokan dalam melihat hasil belajar siswa selama ini. Tetapi lambat laun, kelulusan siswa sudah tidak berpatokan dengan UN saja, melainkan masih ada nilai nilai lain yang masih menjadi perhitungan. Hal ini masih belum terlalu efektif karena masyarakat sudah terlalu termakan stigma tentang nilai UN yang di gunakna sebagai patokan. Sehingga, dalam proses pencapaian belajar tidak terlalu diperhitungkan. Dengan adanya hal itu, banyak dari siswa bahkan orangtua yang berusaha membaut anaknya bisa mengerjakan soal UN dengan berbagai cara. Peran guru sehari-hari lah yang dinilai tidak berguna lagi.

    ReplyDelete
  21. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    UN di Indonesia masih menjadi patokan keberhasilan seseorang dalam menjalani proses pembelajarannya, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA/SMK. Hal ini dapat dilihat juga ketika bulan-bulan seperti sekarang, sekolah lebih fokus pada pengayaan untuk materi yang di UN kan. Sehingga semakin membuat siswa terpaku dengan hal tersebut. Sebenarnya saat ini nilai kelulusan juga dipengaruhi oleh nilai ujian sekolah, namun karena sejak dahulu sudah muncul stigma mengenani UN, hiruk pikuk menyambut UN punmasih tidak bisa dihindarkan. Padahal UN hanya dilakukan satu kali untuk melihat pemahaman siswa selama 3 tahun untuk SMP dan SMA pada materi terkait, tanpa melihat proses dan progress dari siswa.

    ReplyDelete
  22. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Efek yang diberikan dalam pelaksanaan ujian nasional memberikan banyak sekali dampak pada hal yang positif maupun negatif. Hal ini dikarenakan memang ujian nasional masih menjadi perdebatan akan tetap diadakan untuk pemetaan zona hitam dan putih atau dihilangkan karena pelaksanaan ujian nasional itu hanya dilaukan sebagai laporan kurikulum yang dilakukan selama periode kepemimpinan dari suatu golongan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  23. Suatu elegi yang menarik, karena memang fenomena Ujian Nasional ini tengah menjadi bola panas yang sering diperdebatkan. Elegi diatas juga menjelaskan bahwa esensi dari ritual adalah berdoa. Namun, jika dikaitkan dengan Ujian Nasional maka yang terjadi pada masyarakat kita adalah ritual ujian nasional yang seringkali ditemukan beberapa penyimpangan. Inilah yang sering kali menimbulkan pro dan kontra mengenai Ujian Nasional. Kebijakan pemerintah terkait kelulusan dengan mengombinasikan nilai UN dengan nilai sekolah saya rasa sudah cukup baik.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Pro kontra Ujian Nasional masih belum berujung, belum ada titik terang terkait permasalahan tersebut. banyak fenomena-fenomena tak terduga terjadi terkait dengan ujian nasional, mualai dari ritual-ritual aneh para peserta ujian nasional, fenomena guru yang membagikan kunci jawaban, samapai pada fenomena siswa bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional. siapa salah dan siapa benar dalam permaslahan ini hanya tuhan yang maha mengetahui dan maha benar yang mengetahui kebenarannya.

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Salah satu faktor yang mungkin menyebabkan pendidikan indonesia masih berada di belakang beberapa negara lain adalah orientasi pendidikan kita yang masih berlandaskan ujian nasional. siswa diberikan latihan soal yang dianggap mirip dengan soal ujian nasional sehingga siswa hanya terbiasa mengerjakan soal yang telah dikerjakan contohnya.

    ReplyDelete