Mar 8, 2011

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat...saya ingin bertanya bagaimana engkau bisa mendefinisikan Ritual.

Bagawat:
Hemm...aku terbiasa berpikir merdeka....artinya definisiku itu selalu saya ambil dari karakter yang ada kemudian saya intensikan dan ekstensikan.

Cantraka:
Terserahlah...tetapi untuk kali ini aku ingin minta pendapatmu tentang apa itu Ritual.

Bagawat:
Ritual itu biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ... dst.

Cantraka:
Kalau contohnya?

Bagawat:
Ya...segala jenis ibadah yang berkaitan dengan Agama menurut saya bisa disebut Ritual. Tetapi sebagian orang mengkonotasikan Ritual misalnya dengan Upacara Adat atau tradisional misalnya Sekaten, Nyadran, Selamatan Desa, Bedhol Desa, Sesaji, Ruwatan...

Cantraka:
Apakah esensi dari Ritual itu?

Bagawat:
Esensi dari Ritual adalah berdoa. Sekarang bolehkah aku ganti bertanya...mengapa engkau kelihatansemangat sekali bertanya tentang Ritual?

Cantraka:
Aku sedang memikirkan fenomena Ujian Nasional atau Unas.

Bagawat:
Lho...memangnya kenapa dengan Unas itu?

Cantraka:
Aku sedang dan telah melihat dan menyaksikan fenomena pelaksanaan Unas yang terjadi di masyarakat mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan yang engkau katakan.

Bagawat:
Apakah ciri-ciri pelaksanaan Unas di masyarakat menurut pengamatanmu?

Cantraka:
Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadapi dan mempersiapkan diri mengikuti Unas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ....dst.

Bagawat:
Contohnya?

Cantraka:
Ada seorang siswa, katakan saja Soplo, yang menurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat...pokoknya sekolahnya tidak serius. Malah suatu ketika terlibat kejahatan mencuri motor...dan terpaksa mengikuti Unas di kantor polisi. Melihat anaknya demikian, maka orang tuanya sangat prihatin...pergilah dia ke dhukun minta tolong agar anaknya bisa lulus Unas. E.eee...ternyata lulus. Begitu dinyatakan lulus maka bergegaslah mereka mengadakan selamatan di tempat mbah dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Anehnya ada seorang siswi, katakan Lintri, yang dianggap pandai oleh gurunya, aktif, menjadi pengurus osis, selalu mengerjakan PR dan tugas, tidak pernah mbolos,nilai hariannya juga baik ...dst...Ternyata tidak lulus Unas. Apa komentar si orang tua Soplo..katanya karena si orang tua Lintri itu tidak mau ke dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Sekarang mulai ngetrend dimana-mana di sekolah mengadakan “malam renungan atau doa bersama” atau mujahadah beberapa hari sebelum Unas. Dalam malam renungan itu biasanya dibuat suasana sangat sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi, ...dst...yang intinya sampai sangat menyentuh perasaandan nurani sehingga bisa khusuk berdoanya memohon agar minta diluluskan dalam Unas. Saking khusuknya terkadang beberapa siswa sampai menangis histeris, teriak-teriak bahkan kesurupan. Mereka seakan sudah sangat menyatu baik Kepala Sekolah, Guru, siswa bahkan karyawan semuanya larut dalam suasana emosional dan menangis bersama menghadapi Unas.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Di suatu daerah tertentu aku juga menemukan sudah mulai banyak masyarakat ikut mendukung, katakanlah Ritual Unas...Seperti yang dilakaukan di sekolah...di masyarakat juga dilakukan kegiatan seperti itu.

Bagawat:
Masih ada?

Cantraka:
Masih ada. Kemarin saya menyaksikan sendiri...ada seorang siswa, katakanlah Satri, mengalami stress berat ketika baru saja mengikuti Unas hari pertama. Pada tengah hari pertama anak itu stress sehingga hanya terdiam saja...matanya melotot...keringatnya gemrobyos...dan sampai akhir ujian dia hanya terdiam saja di tempat duduk. Dia tidak dapat melanjutkan Unas. Menurut penuturan teman saya..Satri itu mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas yang diwajibkan oleh sekolah dan oleh kampungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa orang tua Satri telah kehilangan Satri karena dia sekarang telah menjadi gila.

Bagawat:
Masih ada yang lain?

Cantraka:
Saya mendengar berita ada anak pingsan ketika mengikuti Unas kemudian di bawa ke Puskesmas terdekat...setelah siuman..dia mengikuti Unas dari Puskesmas itu. Berdasar penuturan temannya..dia juga mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas ditambah beban pikiran agar lulus Unas yang dipesankan oleh Kepala Sekolah, Guru maupun Orang Tuanya.

Bagawat:
Ada lagi?

Cantraka:
Sementara cukup. Tetapi saya ingin bertanya apakah engkau setuju jika saya menilai Unas sekarang telah menjadi fenomena Ritual Unas?

Bagawat:
Hemmm...kita harus berpikiran jernih. Kita lihat dulu maksud dan tujuan Unas. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Cantraka:
Tetapi mengapa banyak segmen masyarakat atau anggota masyarakat, sekolah, guru atau siswa cenderung melakukan hal-hal yang irrasional dalam menghadapi Unas?

Bagawat:
Hemmm...mungkin karena mereka mengganggap Unas adalah peristiwa besar bahkan sangat besar bagi hidupnya. Ketahuilah bahwa Unas itu juga sekaligus adalah harga diri Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten dan Propinsi. Tidak cukup hanya harga diri tetapi juga mempunyai dampak atau akibat-akibat yang diciptakan atau dikaitkan dengan perolehan blockgrant, atau bantuan lainnya. Maka tentu...daerah-daerah saling berlomba agar dapat menjadi yang terbaik dan tidak yang terjelek.

Cantraka:
Begini Bagawat...sebetulnya engkau itu setuja nggak sih dengan Unas itu?

Bagawat:
Ada negara yang menyelengarakan Unas ada yang tidak. Di Eropah Barat dan Selandia Baru misalnya...maka guru berjuang sampai berdarah-darah menolak sebangsa Unas. Kata mereka...sebagai guru mereka harus melindungi siswa-siswanya. Membiarkan para siswanya dinilai oleh orang lain yang tidak mendidiknya dianggap sebagai perbuatan guru yang tidak bertanggung jawab. Menurut mereka...hanya gurunyalah orang yang paling boleh menilai siswa-siswanya, karena gurunya itulah yang mengerti prosesnya, psikologinya, persoalannya, pencapaiannya, hariannya, portofolionya, track recordnya,...dst.

Cantraka:
Bagaimana filosofinya Unas itu?

Bagawat:
Jika sekolah dan guru bisa melakukan kegiatan assessment atau penilaian hasil belajar dengan baik sebetulnya tidak perlu Unas. Secara psikologis maupun filsafat ...maka orang yang paling mengetahui prestasi siswanya adalah gurunya. Masalahnya apakah gurunya memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan.

Cantraka:
Kok nada-nadanya engkau itu selalu menyalahkan guru? Artinya apakah guru belum bisa dipercaya? Apakah dengan diadakannya Unas berarti guru tidak bertanggungjawab terhadap muridnya?

Bagawat:
Barangkali begitu.

Cantraka:
Apakah karena guru belum bisa dipercaya maka Unas harus dilaksanakan?

Bagawat:
Mungkin begitu.

Cantraka:
Lho kalau begitu mengenaskan sekali nasib guru kita itu...tidak dipercaya dan dianggap tidak bertanggungjawab lagi?

Bagawat:
Saya kan mengatakan barangkali begitu.

Cantraka:
Bagaimana dengan dampak yang terjadi misalnya...masyarakat cenderung irrasional, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban, sms jawaban, ...dst

Bagawat:
Dampak itu relatif.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud dampak adalah relatif?

Bagawat:
Ya..tergantung penilaian masing-masing? Kalau menurut saya dampak yang paling serius dan mengkhawatirkan justru dampak pedagogik. Mengapa? Ketahuilah bahwa Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya. Mereka enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengambangkan metode pbm ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant.

Cantraka:
Lho kan sudah banyak dilakukan penataran-penataran untuk para guru?

Bagawat:
Itulah yang terjadi...sehebat apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan ...tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas...orientasi Unas...sukseskan Unas tanpa kecuali. Buat apa bertele-tele dan muluk-muluk mengembangkan metode pembelajaran jika banyak yang tidak lulus Unas. Ah...guru...jangan sok muluk engkau itu...pegang satu hal saja...Lulus Semua pada Unes...tanpa reserve. Nasib yang sama juga dialami oleh para mahasiswa calon guru yang praktek di sekolah; semua teori dan pengalaman mengembangkan pbm di universitas seakan rontok tak tersisa satupun begitu mereka masuk ke sekolah. Unas oriented telah menyebabkan para mahasiswa juga hanya diberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal setara Unas. Saking bingungnya ada pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Inilah ambivalensi yang telah dihasilkan oleh Unas.

Cantraka:
Wahai Bagawat...terimakasih atas jawaban-jawabanmu.

Bagawat:
Aku sangat puas dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu.

12 comments:

  1. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Pada dasarnya UN itu bertujuan baik yaitu semata-mata untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan UN tidak salah. Tetapi yang terjadi di Indonesia adalah dampak dari UN. Pendidikan menjadi berorientasi pada hasil. Guru-guru mengajar semat-mata fokus bagaimana caranya agara murid-murid bisa lulus. Sehingga menghilangkan esensi pendidikan itu sendiri. Menurut Saya itulah salahnya pemerintah yaitu tidak menggunakan hasil UN untuk mengevaluasi proses pendidikan di Indonesia. Bukannya mengevaluasi prosesnya malah mengevaluasi UNnya dengan menetapkan standar yang semakin tinggi tanpa memperbaiki proses menuju standar tinggi tersebut. Selain mengubah mindset guru dan masyarakat bahwa anak-anaknya itu wajib sekolah untuk diakui bahwa dia sudah lulus UN.

    ReplyDelete
  2. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Jika sudah masuk ke sekolah, dilematis memang. Di satu sisi ingin menerapkan metode-metode pembelajaran yang mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensinya, namun di sisi lain guru dituntut agar mampu mengajarkan dan menghantarkan siswa lulus unas tanpa terkecuali. Guru terkesan hanya mentransfer pengetahuan kepada siswa, demi mencapai hasil terbaik saat unas. Artinya guru berlaku demikian karena adanya tuntutan system dari pemerintah. Sedangkan pemerintah menerapkan aturan unas berlandaskan pada alasan belum mampunya guru-guru untuk melakukan penilaian secara mandiri. Artinya perlu kerjasama antar semua elemen pendidikan demi memajukan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  3. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Ritual unas memang terjadi di mana-mana. Bahkan saya sendiri pun pernah terlibat di dalamnya, yakni melakukan doa bersama dan motivasi sebelum unas. Di satu sisi ada baiknya, nama ada pula buruknya. Sisi baiknya adalah adanya pembiasaan berdoa yang coba diajarkan dari sekolah kepada siswa-siswanya. Sisi buruknya adalah dengan diadakan ritual khusus menjelang unas, siswa terkadang merasa terbebani dan menganggap unas sebagai momen yang sacral. Hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan siswa.

    ReplyDelete
  4. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Salah satu masalah pendidikan di indonesia adala ujian nasional. Ujian nasional menjadi dilema tersendiri tidak hanya bagi siswa namun juga kepada gurunya. Karena siswa dituntut untuk selalu diajarkan soal-soal yang bertipe UN begitu juga gurunya yang oriesntasinya selalu pada hasil, bagaimana caranya agar siswa harus lulus UN bukan melihat bagaimana proses yang di lalui siswa dalam pembelajaran di kelas, bukankah sekolah mengajarkan bagaimana proses belajar siswa dan pendidikan karakternya bukan dilihat dari semata-mata hasil belajarnya. Masalah seperti ini yang harus diperhatikkan dalam urusan pendidikan.

    ReplyDelete
  5. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    UN memang selalu menjadi momok sejak dulu. UN selalu dijadikan tujuan utama sekolah. UN selalu dijadikan patokan keberhasilan pembelajaran. Sekolah dengan nilai UN tinggi merupakan sekolah bagus atau sekolah favorit. Padahal masyarakat tidak tahu bagaimana proses yang terjadi dalam mendapatkan nilai UN yang bagus tersebut.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  6. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Ujian nasional memang dianggap sebagai suatu hal yang penting dalam diri siswa sehingga ketika akan ujian nasional siswa diajak untuk doa bersama, shalat hajat bersama dan lain sebagainya, Karena ujian nasional akan menentukan kelulusan mereka. Dampak yang dirasakan di sekolah adalah pembelajaran hanya berorientasi pada UN saja padahal ada proses lain yang seharusnya dikembangkan dalam proses pembelajaran tersebut misalnya saja pembentukan karakter dengan menerapkan berbagai metode yang dapat mengkontruksi pengetahuan siswa. Dampak yang lain dari UN banyaknya kasus kebocoran soal, ketidakjujuran dalam pelaksanaannya menjadikan UN yang seharusnya baik tetapi yang terlihat adalah perusakan karakter siswa itu sendiri. Mungkin dibutuhkan cara yang lain dalam pelaksanaan UN tersebut sehingga semua pihak yang terkait tidak harus melakukan sebuah ritual yang aneh-aneh saat menghadapi UN.

    ReplyDelete
  7. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    UN diadakan sebagai bentuk evaluasi pendidikan nasional tersebut dilain pihak berhasil menjadi momok tersendiri, setidaknya bagi kalangan pelajar yang menghadapi UN. Begitu pentingnya UN atau Unas maka berbagai upaya dilakukan agar para pelajar berhasil lulus UN, baik cara yang benar hingga cara yang salah. Cara – cara tersebut bahkan terkesan seperti ritual yang khusus dilakukan. Jika ritual yang dilakukan adalah lebih giat belajar, mengikuti bimbingan belajar, berdoa, dan mendekatkan diri pada Allah maka benar terpujilah mereka, namun sayangnya ada yang melakukan ritual-ritual menyimpang, ada yang melakukan kecurangan dengan membayar mahal untuk mendapat bocoran jawaban soal UN, ada pula yang melakukan hal konyol dengan meminum hasil bakaran dari buku-buku pelajaran. Seperti yang dapat kita ketahui dari berita-berita di media bahwa setiap kali dilaksanakannya UN serempak di seluruh Indonesia masih ditemukannya beberapa bentuk kecurangan yang dilakukan peserta UN.

    ReplyDelete
  8. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Pembicaraan tentang ujian nasional memang tidak pernah ada putusnya. Tak sedikit yang tidak setuju dengan diadakannya ujian nasional karena tidak dapat dijadikan patokan untuk mengukur kompetensi/kemampuan siswa yang sebenarnya. Pada dasarnya segala sesuatu itu pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan, begitu pula dengan ujian nasional. Tetapi satu hal yang pasti yaitu mengusahakan yang terbaik untuk menghadapi ujian nasional tanpa menyimpang dari aturan agama.

    ReplyDelete
  9. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Pada dasarnya, UN diselenggarakan untuk mengukur dan menentukan standar nasional mutu pendidikan. Namun, di sisi lain, adanya UN menimbulkan dampak yang besar bagi pendidikan. Salah satu masalah serius yang ditimbulkan oleh adanya UN adalah masyarakat, siswa, guru-guru, kepala sekolah, hingga para pemegang kekuasaan menitikberatkan pendidikan yang hanya berorientasi pada UN. Pendidikan hanya bertujuan untuk dapat lulus UN membuat pembelajaran yang dilakukan di kelas menjadi tidak mempehatikan proses perpikir siswa dan mengabaikan proses konstruksi pengetahuan. Pengetahuan yang hanya fokus pada UN tidak akan mampu memberikan pemahaman yang baik bagi siswa.

    ReplyDelete
  10. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Ujian Nasional pada satu sisi bertujuan untuk menguji kemampuan kognitif peserta didik setelah tiga tahun belajar dan menjadi acuan yang baik untuk menilai hasil belajar siswa dan kinerja guru dalam mengajar. Tetapi disisi lain ternyata Ujian Nasional yang seharusnya menjadi kesempatan untuk menunjukkan hasil belajar kita dipandang mengerikan karena memberikan depresi kepada para siswa buktinya sebelum ujian nasional banyak sekali ritual yang dilakukan.

    ReplyDelete
  11. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006

    Dalam Permendikbud No. 4 tahun 2018 tentang Penilaian hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan dan Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah, Ujian Nasional berfungsi sebagai pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; pembinaan dan pemberian bantuan kepada Satuan Pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Berdasarkan Permendikbud tersebut, dapat diartikan bahwa UN hanya menjadi salah satu instrumen standar untuk mengukur 'level pencapaian' siswa. Ia tidak bisa menjadi barometer absolut untuk "menjatuhkan vonis gagal atau sukses" seorang peserta didik. Tenaga pendidikan perlu "menggusur" mind-set klasik bahwa kita belajar "hanya untuk lulus". Manusia belajar sepanjang hayat. Belajar bukan hanya untuk ujian tetapi harus berkesinambungan sepanjang manusia hidup.

    ReplyDelete
  12. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Tujuan diadakannya Unas adalah tidak lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun Unas tidak secara penuh mencerminkan kualitas pendidikan. Kita tidak bisa mengukur kualitas pendidikan hanya dari Unas saja, melainkan juga harus dari proses-proses yang dilalui siswa ketika mereka belajar di kelas. Guru merupakan komponen yang sangat mengerti akan perkembangan yang dialami oleh siswanya. Hal tersebut dikarenakan guru yang mengerti akan proses, persoalan, pencapaian, dan psikologi dari siswanya. Oleh karena itu, agar guru dapat melakukan penilaian yang benar-benar bisa menggambarkan siswanya secara obyektif, maka guru harus benar-benar mengetahui tentang standar nasional, kriteria kelulusan, dan standar kelulusan nasional. Jika guru telah memahami tentang ketiga hal tersebut maka syarat kelulusan siswa di sekolah bisa dengan mengkombinasikan antara Unas dan Penilaian guru.

    ReplyDelete