Mar 8, 2011

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat...saya ingin bertanya bagaimana engkau bisa mendefinisikan Ritual.

Bagawat:
Hemm...aku terbiasa berpikir merdeka....artinya definisiku itu selalu saya ambil dari karakter yang ada kemudian saya intensikan dan ekstensikan.

Cantraka:
Terserahlah...tetapi untuk kali ini aku ingin minta pendapatmu tentang apa itu Ritual.

Bagawat:
Ritual itu biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ... dst.

Cantraka:
Kalau contohnya?

Bagawat:
Ya...segala jenis ibadah yang berkaitan dengan Agama menurut saya bisa disebut Ritual. Tetapi sebagian orang mengkonotasikan Ritual misalnya dengan Upacara Adat atau tradisional misalnya Sekaten, Nyadran, Selamatan Desa, Bedhol Desa, Sesaji, Ruwatan...

Cantraka:
Apakah esensi dari Ritual itu?

Bagawat:
Esensi dari Ritual adalah berdoa. Sekarang bolehkah aku ganti bertanya...mengapa engkau kelihatansemangat sekali bertanya tentang Ritual?

Cantraka:
Aku sedang memikirkan fenomena Ujian Nasional atau Unas.

Bagawat:
Lho...memangnya kenapa dengan Unas itu?

Cantraka:
Aku sedang dan telah melihat dan menyaksikan fenomena pelaksanaan Unas yang terjadi di masyarakat mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan yang engkau katakan.

Bagawat:
Apakah ciri-ciri pelaksanaan Unas di masyarakat menurut pengamatanmu?

Cantraka:
Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadapi dan mempersiapkan diri mengikuti Unas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ....dst.

Bagawat:
Contohnya?

Cantraka:
Ada seorang siswa, katakan saja Soplo, yang menurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat...pokoknya sekolahnya tidak serius. Malah suatu ketika terlibat kejahatan mencuri motor...dan terpaksa mengikuti Unas di kantor polisi. Melihat anaknya demikian, maka orang tuanya sangat prihatin...pergilah dia ke dhukun minta tolong agar anaknya bisa lulus Unas. E.eee...ternyata lulus. Begitu dinyatakan lulus maka bergegaslah mereka mengadakan selamatan di tempat mbah dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Anehnya ada seorang siswi, katakan Lintri, yang dianggap pandai oleh gurunya, aktif, menjadi pengurus osis, selalu mengerjakan PR dan tugas, tidak pernah mbolos,nilai hariannya juga baik ...dst...Ternyata tidak lulus Unas. Apa komentar si orang tua Soplo..katanya karena si orang tua Lintri itu tidak mau ke dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Sekarang mulai ngetrend dimana-mana di sekolah mengadakan “malam renungan atau doa bersama” atau mujahadah beberapa hari sebelum Unas. Dalam malam renungan itu biasanya dibuat suasana sangat sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi, ...dst...yang intinya sampai sangat menyentuh perasaandan nurani sehingga bisa khusuk berdoanya memohon agar minta diluluskan dalam Unas. Saking khusuknya terkadang beberapa siswa sampai menangis histeris, teriak-teriak bahkan kesurupan. Mereka seakan sudah sangat menyatu baik Kepala Sekolah, Guru, siswa bahkan karyawan semuanya larut dalam suasana emosional dan menangis bersama menghadapi Unas.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Di suatu daerah tertentu aku juga menemukan sudah mulai banyak masyarakat ikut mendukung, katakanlah Ritual Unas...Seperti yang dilakaukan di sekolah...di masyarakat juga dilakukan kegiatan seperti itu.

Bagawat:
Masih ada?

Cantraka:
Masih ada. Kemarin saya menyaksikan sendiri...ada seorang siswa, katakanlah Satri, mengalami stress berat ketika baru saja mengikuti Unas hari pertama. Pada tengah hari pertama anak itu stress sehingga hanya terdiam saja...matanya melotot...keringatnya gemrobyos...dan sampai akhir ujian dia hanya terdiam saja di tempat duduk. Dia tidak dapat melanjutkan Unas. Menurut penuturan teman saya..Satri itu mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas yang diwajibkan oleh sekolah dan oleh kampungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa orang tua Satri telah kehilangan Satri karena dia sekarang telah menjadi gila.

Bagawat:
Masih ada yang lain?

Cantraka:
Saya mendengar berita ada anak pingsan ketika mengikuti Unas kemudian di bawa ke Puskesmas terdekat...setelah siuman..dia mengikuti Unas dari Puskesmas itu. Berdasar penuturan temannya..dia juga mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas ditambah beban pikiran agar lulus Unas yang dipesankan oleh Kepala Sekolah, Guru maupun Orang Tuanya.

Bagawat:
Ada lagi?

Cantraka:
Sementara cukup. Tetapi saya ingin bertanya apakah engkau setuju jika saya menilai Unas sekarang telah menjadi fenomena Ritual Unas?

Bagawat:
Hemmm...kita harus berpikiran jernih. Kita lihat dulu maksud dan tujuan Unas. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Cantraka:
Tetapi mengapa banyak segmen masyarakat atau anggota masyarakat, sekolah, guru atau siswa cenderung melakukan hal-hal yang irrasional dalam menghadapi Unas?

Bagawat:
Hemmm...mungkin karena mereka mengganggap Unas adalah peristiwa besar bahkan sangat besar bagi hidupnya. Ketahuilah bahwa Unas itu juga sekaligus adalah harga diri Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten dan Propinsi. Tidak cukup hanya harga diri tetapi juga mempunyai dampak atau akibat-akibat yang diciptakan atau dikaitkan dengan perolehan blockgrant, atau bantuan lainnya. Maka tentu...daerah-daerah saling berlomba agar dapat menjadi yang terbaik dan tidak yang terjelek.

Cantraka:
Begini Bagawat...sebetulnya engkau itu setuja nggak sih dengan Unas itu?

Bagawat:
Ada negara yang menyelengarakan Unas ada yang tidak. Di Eropah Barat dan Selandia Baru misalnya...maka guru berjuang sampai berdarah-darah menolak sebangsa Unas. Kata mereka...sebagai guru mereka harus melindungi siswa-siswanya. Membiarkan para siswanya dinilai oleh orang lain yang tidak mendidiknya dianggap sebagai perbuatan guru yang tidak bertanggung jawab. Menurut mereka...hanya gurunyalah orang yang paling boleh menilai siswa-siswanya, karena gurunya itulah yang mengerti prosesnya, psikologinya, persoalannya, pencapaiannya, hariannya, portofolionya, track recordnya,...dst.

Cantraka:
Bagaimana filosofinya Unas itu?

Bagawat:
Jika sekolah dan guru bisa melakukan kegiatan assessment atau penilaian hasil belajar dengan baik sebetulnya tidak perlu Unas. Secara psikologis maupun filsafat ...maka orang yang paling mengetahui prestasi siswanya adalah gurunya. Masalahnya apakah gurunya memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan.

Cantraka:
Kok nada-nadanya engkau itu selalu menyalahkan guru? Artinya apakah guru belum bisa dipercaya? Apakah dengan diadakannya Unas berarti guru tidak bertanggungjawab terhadap muridnya?

Bagawat:
Barangkali begitu.

Cantraka:
Apakah karena guru belum bisa dipercaya maka Unas harus dilaksanakan?

Bagawat:
Mungkin begitu.

Cantraka:
Lho kalau begitu mengenaskan sekali nasib guru kita itu...tidak dipercaya dan dianggap tidak bertanggungjawab lagi?

Bagawat:
Saya kan mengatakan barangkali begitu.

Cantraka:
Bagaimana dengan dampak yang terjadi misalnya...masyarakat cenderung irrasional, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban, sms jawaban, ...dst

Bagawat:
Dampak itu relatif.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud dampak adalah relatif?

Bagawat:
Ya..tergantung penilaian masing-masing? Kalau menurut saya dampak yang paling serius dan mengkhawatirkan justru dampak pedagogik. Mengapa? Ketahuilah bahwa Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya. Mereka enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengambangkan metode pbm ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant.

Cantraka:
Lho kan sudah banyak dilakukan penataran-penataran untuk para guru?

Bagawat:
Itulah yang terjadi...sehebat apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan ...tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas...orientasi Unas...sukseskan Unas tanpa kecuali. Buat apa bertele-tele dan muluk-muluk mengembangkan metode pembelajaran jika banyak yang tidak lulus Unas. Ah...guru...jangan sok muluk engkau itu...pegang satu hal saja...Lulus Semua pada Unes...tanpa reserve. Nasib yang sama juga dialami oleh para mahasiswa calon guru yang praktek di sekolah; semua teori dan pengalaman mengembangkan pbm di universitas seakan rontok tak tersisa satupun begitu mereka masuk ke sekolah. Unas oriented telah menyebabkan para mahasiswa juga hanya diberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal setara Unas. Saking bingungnya ada pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Inilah ambivalensi yang telah dihasilkan oleh Unas.

Cantraka:
Wahai Bagawat...terimakasih atas jawaban-jawabanmu.

Bagawat:
Aku sangat puas dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu.

86 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setiap tahun pelaksanaan unas selalu menjadi salah satu pembahasan yang menarik. Dengan berabgai pembaruan yang dilakukan saat ini, unas menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu. Pada saat ujian nasional sekolah, orang tua, aparat pemerintahan, pemerintah, semua sibuk dengan persiapannya. Terdapat ritual-ritual sebelum Unas menurut saya itu dikarenakan siswa, siswi, sekolah, pemerintah belum siap dengan ujian nasional. Sehingga menimbulkan kecemasan yang berlabihan serta syaitan menggoda manusia untuk percaya dengan hal-hal mistis atau ritual-ritual. Apabila sudah dipersiapkan denga baik alangkah baiknya disikapi dengan penuh percaya diri, yakin semua akan lulus. Walaupun tidak lulus janganlah malu dan tidak perlu dimodifikasi dengan melakukan kecurangan. Terima dan ambil hikmahnya. Agar kualitas anak bangsa ini bagus.

    ReplyDelete
  2. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Bagi siswa Unas adalah satu ujian yang sangat menakutkan, hampir setiap tahunnya berita tentang Unas banyak macamnya. namun, yang harus kita tahu, ketetapan pemerintah ini sudha melalui tahap-tahap sebelum diputuskannya dilaksanakan Unas dan dari ketetapan Unas ini, pemerintah pastinya ingin membeikan yang terbaik bagi kita semua. hanya pelru untuk renungan bagi masing-masing pihak, dimana masih banyak pro dan kontra mengenai Unas ini.

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas_D 2016

    Unas memang menjadi sesuatu yang sakral dalam diri peserta didik, sehingga begitu sakralnya banyak siswa yang stres diakibatnya memikirkan tentang Unas. Kalau menurut hemat saya, akar dari permasalahan ini adalah dari guru, karena sering guru menanamkan sejak dini dalam benak siswa akan pentingnya Unas itu untuk kehidupan siswa di masa depan. Jadi menurut saya yang perlu diperbaiki itu yang pertama adalah gurunya. Dan Alhamdulillah untuk saat sekarang ini Unas atau Un itu sudah tidak terlalu membuat siswa stres lagi, karena nilai Unas itu tidak semuanya menentukan lulus atau tidaknya seseorang dari suatu sekolah.

    ReplyDelete
  4. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ujian Nasional adalah evaluasi akhir untuk menaiki tingkatan lebih tinggi. Banyak pro kontra dengan penyelenggaraan Ujian Nasional ini. Dengan adanya Ujian Nasional guru terfokus pada materi yang diajarkan harus sesuai dengan standar kelulusan agar nantinya siswa tidak mendapati kesulitan dalam mengerjakannya dan rating sekolah tidak memburuk. Padahal kompetensi dasar untuk per materi telah jelas ditetapkan. Jika siswa telah menguasai hal tersebut maka ia sudah dapat dipastikan dapat dengan mudah menyelesaikan soal Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  5. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Bila berbicara tentang serba-serbi ujian nasional memang tidak akan ada hentinya. Kendati ujian nasional memang dianggap sebagai suatu hal yang penting. Ujian nasional menjadi soroton utama bagi para pelaku akademisi, terjadi pro dan kontra. Dalam diri siswa sendiri ketika akan ujian nasional diajak untuk doa bersama, shalat hajat bersama dan lain sebagainya, agar proses panjang selama ini membuahkan hasil saat ujian nasiona. Namun, dibalik itu semua terlihat fenomena yang dirasakan di sekolah adalah pembelajaran seolah hanya berorientasi pada UN semata padahal ada proses lain yang seharusnya dikembangkan dalam proses pembelajaran tersebut misalnya saja pembentukan karakter dengan menerapkan berbagai metode yang dapat mengkontruksi pengetahuan siswa. Belum lagi dampak dari kasus kebocoran soal, ketidakjujuran dalam pelaksanaannya. Semoga sistem pendidikan di Indonesia semakin baik dan dapat membentuk karakter generasi bangsa. Amiin...

    ReplyDelete
  6. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional atau orang dahulu mengenalnya sebagai UNas merupakan momok yang cukup besar bagi siswa-siwa sejak dulu. Karena UNas menjadi penentu dalam hitungan hari menentukan kelulusan yang ditempuh selama 3 tahun. Memang tidaklah adil, karena seyogyanya gurulah yang dapat menilai siswa yang mereka didik, Bukanlah selembar kertas ujuan dalam unas. Sehingga Unas dijadikan sebagai biang kesurupan bagi siswa.

    ReplyDelete
  7. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional atau UN atau yang dahulu dikenal dengan Unas merupakan momok besardalam pendidikan sejak dahulu. Karena Unas menjadi penentu dari apa yang siswa pelajar dalam 3 tahun dan hanya ditentukan dala beberapa hari saja. Oleh karena itu, banyak sekolahan menjalankan berbagai ritual dalam mempersiapkan Unas. Seperti dalam ritual-ritual pendidikan, juga ritual spiritual dan ritual emosional. Namun, seyogyanya pendidikan itu bukan ditentukan oleh nilai Unas namun guru sebagai pendidika\ yang mendidik siswa karena merka yang tahu kondisi sesungguhnya dari siswa.

    ReplyDelete
  8. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Sepertinya Unas dapat menjadi suatu hal yang menakutkan bagi siswa, bagaimana tidak, selama bertahun – tahun belajar banyak hal hanya ditentukan dalam waktu beberapa hari dan hanya beberapa mata pelajaran yang di Unas kan. Belum tentu siswa menguasai semua mata pelajaran yang dipakai untuk Unas. Bisa jadi ada siswa yang sama sekali tidak tertarik dengan mata pelajaran yang akan dipakai dalam ujian tersebut. Ada kemungkinan juga bahwa siswa akan menganggap remeh pelajaran yang tidak diujikan. Maka sebenarnya Unas hanya akan membentuk pola pikir yang berbeda pada siswa terhadap pelajaran – pelajaran yang ia terima saat sekolah.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Ujian Nasional memang menimbulkan pro dan kontra. Padahal tujuan diadakannnya UNAS adalah untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Tetapi UNAS merupakan momok bagi siswa sekaligus menjadikan siswa sebagai korban. Karena UNAS adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar di sekolah. Bila UNAS gagal, maka siswa itu akan dianggap gagal dalam belajar di sekolah. Oleh karena itu, berbagai pihak mengupayakan berbagai cara agar siswa dapat lulus UNAS dengan hasil yang maksimal. Mulai dari mengikuti bimbel, drill soal, hingga yang bersifat religius sampai dengan cara-cara yang tidak jujur seperti membeli kunci jawaban dan lain lain, akibatnya anak yang biasanya pandai, nilai UNAS nya bisa kalah dengan anak yang malas bahkan suka bolos.  Namun, yang terjadi di lapangan adalah pihak guru maupun orang tua begitu menekan siswa agar lulus UNAS bagaimanapun caranya dan proses dianggap tidaklah penting karena hasil UNAS ini akan menentukan sehingga proses pembelajaran tidak terlalu diperhatikan. Sehingga hanya difokuskan pada drill siswa bukan pada konsep.

    ReplyDelete
  10. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Karena sebegitu takutnya siswa akan ujian nasional maka banyak siswa yang melakukan berbagai cara yang beragam dan aneh guna agar mereka dapat lulus dan mendapat nilai baik. mungkin mereka takut jika tidak lulus orangtua akan marah, apalagi bagi siswa yang memang tidak pernah dan tidak mau belajar. karena sesungguhnya jika mereka tekun belajar maka pastilah mereka akan lulus.

    ReplyDelete
  11. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penyelenggaraan ujian nasiolan/UN/Unas berdampak langsung kepada proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang seharusnya berdasarkan pada kebutuhan siswa akan cenderung mengejar kebutuhan ujian nasional. Pembelajaran yang seharusnya melatih kemampuan berpikir, kreatif, kemandirian, komunikasi, dan rasa percaya diri siswa, malah menuntut siswa untuk memenuhi kriteria ujian nasional dengan memperbanyak latihan-latihan soal.

    ReplyDelete
  12. Ika Agustina Fitriani
    1430124018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaksanaan ujian nasioanal yang diselenggarakan pemerintah menuntut siswa untuk lulus dari sekolah. Segala macam cara dilakukan siswa untuk memperoleh nilai yang memuaskan pada ujian nasional tersebut. Banyak diantara siswa yang mengikuti lembaga bimbingan belajar di luar pembelajaran disekolah. Namun yang sangat disanyangkan adalah pembelajaran di lembaga bimbel sangat berbeda dengan di sekolah. Lembaga belajar lebih mengedepankan hasil dibanding proses. Padahal hakekat pendidikan yang sesungguhnya adalah proses.

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaksanaan Ujian nasional memang masih menyimpan pro dan kontra yang belum juga menemukan titik cerah. Ada yang setuju dengan pelaksanaan Unas yang dianggap mampu meningkatkan mutu pendidikan. Namun di sisi lain, ada yang beranggapan bahwa Unas menjadi momentum yang menakutkan khususnya bagi siswa. Hal yang menjadi berbahaya yaitu ketika semua pihak berorientasi bahwa Unas satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan. Padahal jika kita lihat realita di lapangna, tindak kecurangan pun tak jarang kita temukan, seperti bocornya soal Unas, penyebaran kunci jawaban, penggandaan soal secara ilegal, kurang meratanya pendistribusian soal, dan lain sebagainya. Melihat fenomena tersebut, apakah Unas masih perlu dilakukan?

    ReplyDelete
  14. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pelaksanaan Unas juga mengakibatkan guru enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengembangkan metode pembelajaran ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant. Hal tersebut lama kelamaan akan merusak kualitas pendidikan yang condong pada pembelajaran yang instant tanpa mengetahui langkah kerja perolehannya. Oleh karena itu, diperlukan kontrol dari berbagai pihak mengenai pelaksanaan Unas tersebut. Unas hendaknya hanya sebatas pemicu yang dapat membangkitkan semangat siswa dan guru dalam mencapai tujuan pendidikan. Jangan jadikan Unas sebagai tolok ukur utama pendidikan.

    ReplyDelete
  15. Sekarang unas masih menentukan kelulusan siswa tapi bukan berdasarkan nilainya tetapi berdasarkan keikutsetaannya. Kelulusan siswa ditrmtukan antara lain oleh keikutsertaan UN dan rapat dewan guru. UN sekarang dapat menjadi dasar pemetaan bagi pemerintah untuk melihat daerah yang masih perlu diperbaiki mutunya. Guru dan siswa sudah mulai tidak menaruh perhatian khusus pada UN, hanya bantuan yang diperlukan. Walaupun tidak menentukan kelulusan tetapi masih ada beberapa daerah yang mencari kebanggan dengan menekan guru untuk memberi hasil yang yang tinggi pada UN. Karena guru tidak hanya berfokus pada UN maka diharapkan guru melakukan dan mengemabngkan inovasi dan kreasi dalam peningkatan kualitas pembelajaran. pembelajaran berkualitas dapat mengakibatkan hasil yang tinggi.

    ReplyDelete
  16. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Jika kita perhatikan realitas saat ini adalah benar bahwa UNAS telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya UNAS lah orientasi pendidikan di sekolah tersebut. Meskipun sekitar 2-3 tahun terakhir, UNAS tidak menjadi lagi syarat utama bagi kelulusan siswa, namun UNAS selalu menjadi momok yang menakutkan dan menyeramkan terhadap kalangan pelajar, sehingga mereka stres dan histeris. Tidak hanya siswa saja yang mengalami stres, namun para orangtua, guru, dan kepala sekolah pun ikut stres memikirkan siswanya. Jika siswa tidak lulus UNAS maka mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak siswa yang stres karena merasa malu, tertekan, dan putus harapan. Hal ini tentu sangat miris bagi kita semua, terutama bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan. Baru-baru ini tentunya, terdengar di telinga kita khususnya yang berkecimpun di dunia pendidikan bahwa oleh menteri pendidikan yang baru mengusulkan berbagai program yang salah satu nya adalah penghapusan UNAS, dan diganti dengan USBN (ujian sekolah berstandar nasional) dan pemerintah telah mengklaim bahwa pengganti UNAS tersebut telah siap sekitar 70% untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  17. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, "Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas" ini sangatlah menarik. Dari elegi tersebut terlihat banyak fenomena-fenomena yang terjadi ketika menghadapi UNAS. Memang banyak kecurangan yang terjadi. Sebenarnya UNAS itu dilakukan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik selama belajar di sekolah. Oleh karena itu, seharusnya siswa menghadapi UNAS dengan gembira dan tidak perlu tekanan fisik dan batin yang nantinya akan membuat mereka stres. Belajar dengan rajin dan berdoa dengan khusyuk kepada Allah merupakan kunci sukses UNAS.

    ReplyDelete
  18. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional memang masih menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi pemerintah ingin mengadakan ujian nasional untuk menjaga sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan nasional, di sisi lain unas menjadikan siswa sebagai korban. Hal ini karena nilai dari ujian nasional bukan hanya gengsi dari siswa namun juga gengsi sekolah, dinas pendidikan kabupaten dan dinas pendidikan provinsi, sehingga pihak pihak tersebut berlomba lomba melakukan yang terbaik dan membebankan harapan mereka pada siswa. Siswapun tertekan harus memiliki hasil ujian nasional yang bagus, bahkan apapun bisa dilakukan temasuk cara cara tidak jujur seperti membeli kunci jawaban dan lain lain , akibatnya anak yang biasanya pandai, nilai UN nya bisa kalah dengan anak yang malas bahkan suka bolos.

    ReplyDelete
  19. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tidak dipungkiri lagi jika negara ini sudah masuk ke dalam pusaran UN seperti yang dijelaskan dalam elegi di atas. Ketika menjelang diadakan UN untuk jenjang SD, SMP, dan SMA banyak sekali yang membicarakan tentanh UN. Berita – berita di televisi pun turut ambil bagian di dalamnya, memberitakan persiapan – persiapan yang dilakukan oleh pemerintah, siswa, sekolah dan lain – lain. Seakan – akan UN merupakan hal yang paling ditunggu – tunggu atau bahkan menjadi hal yang menakutkan bagi siswa.

    ReplyDelete
  20. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dampak buruk dari terselanggaranya UN sudah dijelaskan dalam elegi di atas, namun saya ingin menambahkan bahwa damak lain yang terjadi adalah UN yang seharusnya digunakan sebagai penilaian anak membuat anak – anak yang berada di aderah pinggir atau terpencil merasa tertekan karena ilmu yang dia peroleh dengan fasilitas yang pas – pas an berbeda dengan mereka yang tersedia segala keperluan untuk menuntut ilmu. Sehingga bisa dikatakan UN merupakan alat penilaian yang kurang pas untuk digunakan.

    ReplyDelete
  21. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Jika berbicara serba serbi UNAS tentu banyak pro dan kontra didalamnya. Apakah sudah tepat jika penentuan kelulusan pembelajaran selama 3 tahun ditentukan oleh mata pelajaran tertentu saja, padahal kita ketahui minat dan bakat masing masing siswa berbeda. Serta jika hasil UNAS seorang siswa tidak lulus belum tentu siswa tersebut tidak baik dalam mengikuti pembelajaran selama 3 tahun.

    ReplyDelete
  22. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Hal itulah yang telah saya alami di bangku sekolah. Kita tidak dapat juga 100% menyalahkan guru yang hanya berorientasi pada UN. Karena pada saat ini memang hanya nilai UN lah yang menjadi tolak ukur apa yang akan dilalui peserta didik kedepannya setelah lulus. Memang sekarang nilai UN tidak menentukan lulus atau tidaknya peserta didik, ketentuan kelulusan ditentukan oleh sekolah. Tetapi nilai UN tetap dilihat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, berarti sama saja. UN juga harus mendapatkan nilai yang baik. Hal ini lah yang membuat para guru tetap melakukan hal yang sama pada saat ini.

    ReplyDelete
  23. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Membicarakan Unas memang tidak pernah akan ada habisnya. Unas belum dilaksanakan pun sudah banyak polemik apalagi ketika sudah dilaksanakan. Unas sejatinya digunakan untuk mengukur kemampuan siswa selama di tingkat satuan pendidikan tertentu. Ritual ini dilaksanakan agar Unas berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Unas bukan hanya tanggungjawab siswa dan guru tetapi juga tanggung jawab orang tua. Orang tua mempunyai kewajiban mendampingi dan mengontrol siswa selama di rumah dan dilingkungan rumah. Jangan sampai orang tua menyalahkan gruu ketika hasil yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan harapan.

    ReplyDelete
  24. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Saya (dulu) pernah ada di dalamnya. Ritual. Bulan depan Unas, tiap minggu renungan malam. Sampai menangis memang, saya menangis mamak saya pun ikut menangis. Sampai menangis, sampai saya sendiri menyadari bahwa saya menangis karena tidak enak jika tidak ikut menangis seperti yang lainnya. Saya setuju dengan tulisan pada postingan di atas, disebutkan bahwa mungkin Unas merupakah peristiwa besar jadi dibutuhkan renungan. Tapi agak lucu bukan? menurut saya proses pendidikan (seluruhnya) adalah proses pendidikan. Jadi kenapa hanya Unas saja?

    Saya pernah ada di dalamnya. Ketakutan, terbawa arus kecemasa, memikirkan Unas. Seakan hidup saya selama menempuh pendidikan ditentukan oleh Unas. Sangat terlihat jelas bukan? Bahwa kala itu mungkin saja atau memang kecemasan itu memperlihatkan bahwa hasil akhir pendidikan ini adalah Unas. Terkesan membelakangi proses, bukan? Bagaimana lagi? Kala itu kami siswa (lebih tepatnya "saya"), belum mengetahui apa apa, sekalipun tahu sedikit, tetap belum berani menyampaikan apa yang menjadi beban pikiran. Apakah keadaan saya kala itu termasuk dalam "Jargon Pertengkaran Guru dengan Siswa"? atau malah ada jargon pertengkaran yang lain, "Jargon Pertengkaran Seseorang dalam Pendidikan dengan (Sistem) Pendidikan itu Sendiri? Entahlah, saya akan coba lagi membaca. Terimakasih, sekali lagi tulisan di atas sangat menarik

    ReplyDelete
  25. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ritual dan serba serbi Unas menceritakan tentang banyaknya fenomena yang terjadi sebelum dan saat Unas dilaksanakan. Sebelum Unas hamper setiap sekolah melakukan doa bersama, istilah dalam islamnya istighosah. Namun ternyata ada beberapa siswa dan orang tua siswa yang pergi melakukan tindakan lain dan ritual ritual tertentu yang tidak sesuai dengan agama Islam.Unas menjadi momok tersendiri bagi siswa dan orang tuanya. Sekolah 3 tahun atau 6 tahun nasibnya hanya ditentukan selama 3-6 hari dengan Unas. Karena apabila tidak lulus, selain malu adalah hal itu akan mempengaruhi sekolah yang mereka tempati. Sekolah akan kehilangan namanya, akan kehilangan kepercayaan masyarakat apabila sampai tidak meluluskan semua siswanya.

    ReplyDelete
  26. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Fenomena Ujian Nasional memang menarik untuk diperbincangkan. Elegi ini ditulis 6 tahun lalu. Pada tahun 2017 ini UN sudah tidak menjadi penentu kelulusan siswa pada setiap jenjang pendidikan. Hal ini tentu sudah melalui pemikiran para penggagas pendidikan di Indonesia. Jika tujuan UN adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, apakah penilaian proses tidak dapat menjadi pertimbangan? Berdasarkan pengamatan saya, teori behaviorisme yang dulu disinyalir dapat menyukseskan pendidikan di Indonesia, pada kenyataannya sudah tidak lagi. Para pendidik sudah berpindah dan meyakini teori kognitivisme untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  27. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Membaca “Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas” sangat menarik, dari elegi tersebut terlihat banyak fenomena-fenomena yang terjadi ketika menghadapi UNAS. Memang banyak kecurangan yang terjadi. Sebenarnya UNAS itu dilakukan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik selama belajar di sekolah. Hadapilah UNAS dengan gembira dan tidak perlu tekanan fisik dan batin yang nantinya akan membuat kita setres. Anggap UNAS sebagai ulangan biasa. Belajar yang rajin dan do’a merupakan kunci sukses UNAS. Jika iman kita kuat kita tidak usah repot-repot membeli kunci jawaban dengan harga yang mahal, ke dukun, dll.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  28. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Pada dasarnya, UN diselenggarakan untuk mengukur dan menentukan standar nasional mutu pendidikan. Namun, di sisi lain, adanya UN menimbulkan dampak yang besar bagi pendidikan. Salah satu masalah serius yang ditimbulkan oleh adanya UN adalah masyarakat, siswa, guru-guru, kepala sekolah, hingga para pemegang kekuasaan menitikberatkan pendidikan yang hanya berorientasi pada UN. Pendidikan hanya bertujuan untuk dapat lulus UN membuat pembelajaran yang dilakukan di kelas menjadi tidak mempehatikan proses perpikir siswa dan mengabaikan proses konstruksi pengetahuan. Pengetahuan yang hanya fokus pada UN tidak akan mampu memberikan pemahaman yang baik bagi siswa.

    ReplyDelete
  29. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Tulisan ini memberikan pandangan yang baru bagi saya tentang UNAS. Selama ini saya menganggap UNAS penting dilakukan agar sekolah-sekolah di seluruh Indonesia mempunyai standar yang sama dalam mengukur kemampuan belajar siswa, meskipun tidak dipungkiri bahwa pelaksanaan UNAS banyak membawa kontroversi. Tetapi setelah membaca ini, saya mempunyai pandangan baru bahwa UNAS ternyata berpeluang untuk menghambat proses pembelajaran konstruktivisme. Seperti yang dikatakan pada tulisan di atas, adanya UNAS terkadang menciptakan proses pembelajaran di sekolah hanya mengambangkan metode pembelajaran ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant. Sehingga bagaimana sebaiknya Ritual dan pelaksanaa UNASdi Indoensia ini?

    ReplyDelete
  30. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ujian nasioal adalah persoalan yang tidak pernah habisnya. Tidak sedikit pihak yang menuntut penghapusan Unas. Dan tidak sedikit pula disharmoni yang lahir di tengah persiapan dan pelaksanaan Unas. Tidak hanya menjadikan masyarakat cenderung irrasional; melakukan berbagai ritual, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban namun juga mengakibatkan lunturnya nilai pedagogik. Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya sehingga urusan pedagogik malah terabaikan. Berbagai disharmoni ini semoga mampu menjadi bahan pertimbangan lahirnya kebijakan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  31. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Di sisi lain UN juga perlu dipertahankan karena dengan UN, pemerintah dapat mengetahui kondisi dan tingkat pendidikan di Indoensia. Namun perlu dikaji lagi bagaimana pelaksanaannya. Akan lebih baik jika UN dijadikan bahan evaluasi bukan sebagai penentu kelulusan yang ujung2nya banyak ketidakberesan dan kecurangan didalamnya.
    Saya akan mencoba sedikit memberikan solusi. Mungkin di Indonesia perlu menerapkan UN seperti yang diterapkan di Amerika. Setiap daerah memiliki otonomi untuk mengatur UN sendiri. UN sebagai bahan evaluasi pendidikan bagi emerintah bukan menjadi penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan oleh sekolah sendiri karena hanya guru lah yang paling tau kemampuan dan kondisi siswanya. Hasil UN akan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depannya. Dengan mengetahui hasil UN, pemerintah akan tau daerah mana yang pendidikannya masih rendah dan mana yang sudah maju sehingga akan memudahkan untuk memeratakan pendidikan di sebuah negara.

    ReplyDelete
  32. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Di satu sisi unas telah menyebabkan guru hanya berfokus pada unas sehingga lebih memilih menggunakan metode cepat agar siswa lulus. Materi-materi yang tidak keluar di unas seringkali diabaikan, siswa lebih banyak terfokus dengan drill contoh-contoh soal unas. Banyak pula siswa yang mengikuti bimbel hanya sekedar lulus unas. Di sisi lain unas diperlukan untuk memetakan kemampuan siswa secara nasional. Sayangnya banyak pula kecurangan yang terjadi di unas sehingga patut dipertanyakan apakah unas benar-benar dapat mengukur dan memetakan kemampuan siswa secara nasional. Karena itulah diperlukan evaluasi dan perbaikan kembali agar tujuan siswa sekolah selama tiga tahun bukan hanya sekedar lulus unas dan bagaimana agar pelaksanaan unas lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  33. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Ritual biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadnga ada pengorbanan, kikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada syarat-syarat sesaji, ada tradisi, ada pantangan-pantangan, ada tata cara tertentu, ada kegiatan yang irrrasional, … dan sebagainya. Sedangkan unas memiliki ciri-ciri yang sama dengan kegiatan ritual. Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadi dan mempersiapkan diri mengikuti uas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadnga ada pengorbanan, kikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada syarat-syarat sesaji, ada tradisi, ada pantangan-pantangan, ada tata cara tertentu, ada kegiatan yang irrrasional, … dan sebagainya.
    Contoh kasusnya adalah ada seorang siswa yangmenurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat … pokoknya sekolahnya tidak serius. Bahkan sering terlibat tawuran dan maslah-masalah di sekolah maupun luar sekolah hingga terpaksa mengikuti uas di kantor polisi. Melihat anaknyaseperti itu, maka orangtuanya sangan prihatin. Sehingga mereka pergi ke dukun untuk minta tolong agar anaknya bisa lulus unas. Tentu saja dibarengi dengan ritual-ritual mistis. Selain itu ada juga sekolah yang mengadakan kegiatan malam renungan menjelang unas. Menurut penyelenggaranya kegiatan ini dilaksanakan dengan dibuat suasana sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi dan seterusnya, tujuannya agar siswa-siswanya lulus unas 100%.

    ReplyDelete
  34. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    UNAS atau ujian nasional dapat menyebabkan guru, siswa dan sekolah menjadikan hanya UNAS orientasi pendidikannya. Berbagai pengembangan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual akan dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang UNAS, yang membuat segala penelitian yang menyangkut teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual hanyalah menjadi penelitian saja yang tidak pernah diaplikasikan ditingkat sekolah. Hal tersebut dikarenakan pihak sekolah akan lebih suka mengambangkan metode pembelajaran Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant. Hal ini merupakan tuntutan dari pemerintah yang harus dipenuhi sekolah tersebut. Sehingga sehebat apapun penataran dilakukan dan kurikulum penyedia tenaga kependidikan hal tersebut akan sia-sia apabila hal tersebut hanya berorientasi pada UNAS

    ReplyDelete
  35. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Elegi Ritual dan Serbaserbi Unas. Fenomena Unas memang menjadi perbincangan yang menarik. Dahulu di Indonesia tahun 2011 masih menganut Unas yang dijadikan satu-satunya tolak ukur kelulusan siswa. Siswa yang belajar ditingkat SMP/Mts dan SMA/MA selama tiga tahun, kelulusanya hanya ditentukan dengan 3 hari. Sebenarnya tujuan Unas awalanya adalah untuk meratakan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun rasanya kurang adil bagi siswa, jika penentu kelulusan hanya nilai Unas semata. Kemudian bagimana peran guru yang sudah membersamai mereka selama 3 tahun? Jika penilaian mereka tidak menentukan kelulusan?. Unas dalam perjalannya juga membuat orientasi belajar disekolah berubah. Proses pembelajaran yang seharusnya juga membentuk cara berpikir siswa, kemudian hanya berorientasi pada nilai akhir Unas. Akhirnya, saat proses pembelajaran siswa hanya hanya difokuskan untuk mengerjakan soal Unas. Namun, itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Untuk tahun ini, Unas tetap ada namun bukan lagi sebagai penentu tunggal kelulusan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  36. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Sebelum memulai ujian nasional, memang banyak ritual yang dilakukan murid, guru, orang tua atau sekolah dengan harapan para murid dapat lulus ujian. Ini menunjukkan bahwa UN dianggap sebagai sesuatu yang 'horor' bagi sebagian besar orang. Ada murid yang dalam proses belajar aktif dan dianggap pandai oleh guru tidak lulus UN, justru murid yang malas-malasan selama proses pembelajaran dan dianggap tidak pandai oleh guru lulus dalam pelaksanaan UN. Ada pula murid yang lulus karena bocoran soal dan mendapat kunci jawaban UN. Hal ini dirasakan tidak adil dan proses pengambilan keputusan seorang murid lulus sekolah tidak berbanding lurus dengan proses pembelajaran yang dilakukannya selama 3 atau 6 tahun. Namun sepertinya pakar pendidikan saat ini sudah menyadari hal tersebut, ditunjukkan dengan UN tidak lagi menjadi syarat utama kelulusan dan digunakan sebagai pemetaan mutu program dan/atau Satuan Pendidikan. Hal ini mengurangi beban yang dirasakan oleh murid, orang tua dan guru.

    ReplyDelete
  37. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi rituL dan serba serbi UNAS. Pada elegi ini menceritakan bahwa dengan adanya UNAS menjadi momok pada sekolah, karena hasil UNAS akan mempengaruhi harga diri sekolah. Karena tingkat paniknya sekolah membesar maka, sering disekolah maupun individu siswa, contohnya dilakukannya ritual seperti doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional. Ada kegiatan yang positif, dan ada kegiatan yang negatif. Semua dikarenakan UNAS menjadi hasil penentu bagi kelulusan siswa. Untungnya pada zaman sekarang UNAS bukan menjadi pnentu akhir kelulusan. Jadi suatu hal yang negatif akan terhindar. Terimakasih

    ReplyDelete
  38. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Membahas tentang UN tiada habisnya. Banyak kejadian dan aktivitas baru yang terjadi akibat UN. Sudah ada beberapa kasus terjadinya bunuh diri siswa karena UN. Seakan-akan siswa selalu menjadi korban dari kebijakan. Di sisi lain guru juga dituntut untuk mampu mengajar siswanya agar mendapat nilai UN dengan baik. Tidak sedikit pula menyebabkan guru berorientasi pada UN sehingga pembelajaran akan kurang bermakna bagi siswa. Meskipun tujuan UN sebenarnya baik tetapi terkadang menimbulkan kejadian yang justru merugikan pihak tertentu. Kejadian-kejadian tersebut semoga menjadi perhatian pemegang kekuasaan dalam menyusun kebijakan.

    ReplyDelete
  39. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    UNAS selalu menarik, selalu mengandung pro dan kontra. Tujuan pendidikan memang seharusnya menjadi dasar pelaksanaan UNAS. Jika tujuan pendidikan adalah agar siswa memiliki standar yang sama ketika lulus, maka UNAS memang pantas dilaksanakan karena ujung-ujungnya hanya akan menghasilkan standar yang sama. Jadi jika ada siswa yang tidak lulus UNAS, ya dia harus banyak berdoa dan berusaha sampai lulus,tak ada cara lain,karena memang hanya untuk mencapai standar. Tetapi, ketika tujuan pendidikan adalah menjawab kebutuhan belajar siswa, maka keberadaan UNAS perlu ditinjau ulang. Harus kita mulai dengan "apakah UNAS dapat menjawab kebutuhan belajar setiap siswa?"

    ReplyDelete
  40. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Menurut saya ulasan ini mengarahkan kepada suatu standar yang ingin dicapai namun tidak melupakan proses yang akan menyertai dalam perjalanannya. Saya menjadi bertanya-tanya, metode apa yang bersifat lebih efektif dan cocok digunakan untuk melihat kemampuan dan evaluasi belajar siswa?

    Saya yang saat itu juga terlibat dalam pencapaian kelulusan berdasarkan standar nilai ujian nasional menganggap bahwa pantaskah kelulusan saya hanya ditentukan oleh pelaksanaan ujian beberapa hari padahal proses belajar yang ditempuh-tempuh bertahun-tahun. Saya merasa kondisi tersebut tidak fair namun saya tetap mengikuti peraturan kelulusan melalui ujian nasional. Sungguh dalam diri bergejolak namun tetap menerima dan mengikuti standar yang telah ditetapkan. Lagi lagi saya terjebak pada situasi dan sistem yang ada.

    ReplyDelete
  41. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Jika membahas Ujian Nasional maka tidak akan ada habisnya. Berbagai pendapat mengenai bagaimana sebaiknya penilaian yang bagus untuk kelulusan siswa Indonesia sudah marak dibicarakan. Namun seiring perkembangan zaman, penilaian kelulusan juga mengalami perubahan, mulai dari hanya mengutamakan murni nilai UN sampai pada sekarang nilai Ujian Akhir Sekolah juga diperhitungkan. Apabila kita mengingat kembali apa yang terjadi pada tahun sebelumnya, dimana kelulusan hanya ditentukan oleh nilai UN, banyaknya ritual (dalam elegi ini disebut sebagai segala apapun yang bisa dilakukan untuk meningkatkan nilai UN) sudah menjadi rahasia umum. Bimbel-bimbel yang memfokuskan kepada kisi-kisi soal UN, sampai pada iklan yang menawarkan untuk mengganti fee jika tidak lulus. Pandangan yang hanya mengedepankan bagaimana agar siswa lulus, menjadi ritual yang secara sadar maupun tidak sadar sudah merasuki pemikiran masyarakat. Namun apabila sekarang nilai UAS juga diperhitungkan, maka artinya sekolah juga berperan penting dalam meningkatkan hasil yang akan diperoleh siswa. Sehingga siswa memperoleh nilai yang memuaskan. Salah satu caranya adalah dengan memperbaiki proses belajar yang salah atau mengembangkan proses pembelajaran yang sudah ada menjadi lebih kreatif dan inovatif sehingga menarik minat dan motifasi siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  42. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ritual dan serba serbi unas ini membicarakan fenomena UN yang banyak terjadi belakangan ini dalam lingkup dunia pendidikan kita. Ironis memang, disaat unas dijadikan satu-satunya patokan utama kelulusan siswa selama belajar di SD SMP atau SMA tetapi menjadi momok tersendiri tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi sekolah penyelenggaran UN tersebut. Fenomena ini menimbulkan ketakutan dan mengantar mereka melakukan sesuatu diluar nalar dan rasional, ketika secara logika siswa yang lulus ujian harus banyak belajar malah pergi ke dukun dan melakukan berbagai ritual keagamaan.

    ReplyDelete
  43. Ironis sekali, bahkan sekolah pun ikut melakukan ritual-ritual seperti itu dan menggunakan berbagai macam cara agar supaya siswa siswi didiknya lulus dalam UN, satu diantaranya adalah memalsukan jawaban atau membocorkan kunci jawaban kepada siswa. Hal ini bukanlah suatu jalan keluar melainkan salah satu pembodohan bagi siswa karena bisa jadi mereka berpikir instan dengan tidak belajar giat pun mereka bisa lulus ujian nasional. Kasian sekali anak-anak yang sudah berupaya keras dan gigih di iringi doa jika hasil akhirnya disamakan dengan siswa yang tidak jujur, dan birokrasi sekolah yang menyesatkan.

    ReplyDelete
  44. Bahkan baru-baru ini ISU UN akan dihapuskan semakin gencar. UN saat ini menjadi pro dan kontra yang asik untuk dibahas. Menurut saya, memang ada sisi positif dan negatifnya. Dari segi positif kalau standardized test itu sudah banyak penelitiannya yang membuat anak semakin tidak cerdas dan tidak kreatif, ya seperti halnya mencontek dan membeli kunci jawaban. Sedangkan negatifnya, tidak ada standar penilaian secara nasional padahal dalam peraturan pemerintah jelas disana terdapat aturan adanya penilaian siswa. Selain itu, siswa akan belajar semaunya sendiri karena tidak ada UN, Bahkan Guru pun bisa mengajar semaunya sendiri, yang ditakutkan siswa akan belajar secara tradisional kembali.

    Ada atau tidak adanya UN semoga siswa di Indonesia jujur, semangat belajar dan tidak kehilangan jati diri dan bisa menjadi salah satu penerus bangsa berkualitas yang bisa membawa perubahan positif pada perkembangan bangsa ini. Amin

    ReplyDelete
  45. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    UNAS menjadi suatu fenomena yang terjadi di Indonesia. Bahkan beliau Bapak marsigit mengistilahkan dengan nama ritual. Sedangkan ritual itu sejatinya berkaiatan dengan spiritualitas. Sehingga menurut saya seharusnya adanya unas semakin bisa meningkatkan aspek spiritualitas diri kita menjadi lebih baik lagi. Pro kontra mengenai unas hingga sekarang pun masih terjadi. Dilihat dari tujuan unas sendiri, tentu baik yaitu agar pendidikan di Indonesia dapat di evaluasi dan sebagai bahan peningkatan. Namun demikian dilapangan tindak irrasional dan penyimpangan malah terjadi berkaitan dengan unas ini. sehingga menurut saya, kita perlu luruskan lagi niat dan langkah kita dalam melakukan unas ini. dilakukan oleh semua pihak, siswa, guru dinas dan lain-lain. Memandang positif dan bertindak positif. Hingga ditemukan formula yang terbaik agar pendidikan Indonesia lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  46. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang menarik ini. Ritual adalah suatu perilaku/ tindakan dan perbuatan yang menunjukkan bentuk penghambaan diri seseorang terhadap sesuatu, dalam ranah islam berarti Allah. Ritual dalam persiapan sebelum Ujian Nasional juga banyak, dan telah sering dilakukan oleh siswa, guru, orang tua demi memohon kelulusan saat Ujian Nasional nanti. Namun jika ditransformasikan dengan jaman kontemporer dalam bidang pendidikan, ternyata ritual tidak hanya bentuk ibadah kepada Tuhan namun juga bentuk kebiasaan dimana manusia menjadi berorientasi dan bertujuan atasnya. Ritual Ujian Nasional mungkin hanya terjadi di negara Indonesia. Dengan adanya pembiasaan berlakunya kebijakan ini, seolah-olah guru, siswa dan sekolah seakan hanya Ujian Nasionallah orientasi dan tujuan adanya pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Mereka enggan mengembangkan metode dan strategi pembelajaran, lebih baik menggunakan cara instan dan cepat guna membantu siswa memenuhi kompetensi kelulusan di Ujian Nasional nanti. Kemudian, nilai UN pula lah yang menajdi syarat siswa dapat mendaftar ke sekolah di jenjang berikutnya. Sungguh, segala sesuatu yang ada dan yang mungkin selalu bernilai dan berdampak negatif maupun positif. Namun seiring berjalannya waktu, penilaian kelulusan juga mengalami perubahan, mulai dari hanya mengutamakan murni nilai UN sampai pada sekarang nilai Ujian Akhir Sekolah juga diperhitungkan. Mungkin setelah ini akan ada kebijakan yang lebih baik, dimana tidak mengutamakan Ujian Nasional sebagai tujuan akhir, namun penilaian-penilaian lain selama siswa bersekolah juga dapat dijadikan instrumen penilaian kelulusan siswa dari sekolahnya. Semoga pemerintah kita mampu membuat pembaharuan dalam masalah ini, karena jika tidak siswa hanya akan berpangku dan berpatok pada nilai UN sedang aspek yang lain ia lupakan. Wallahu'alam bishowab

    ReplyDelete
  47. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    UN merupaka ritual tahunan dalam system pendidikan di Indonesia dan tidak jarang menjadi momok besar karena kelulusan seseorang dari sekolah yang dialami selama 3 tahun ditentukan dengan nilai UN yang hanya dilaksanakan dalam waktu 4 hari. Namun, seiring perkembangan zaman dan evaluasi terhadap hasil UN bahwa kelulusan siswa selain ditentukan dengan UN juga ditentukan dengan nilai kognitif pembelajaran selama 3 tahun sehingga dapat mengurangi kekhawatiran yang biasa terjadi setiap tahun. Adanya UN memberikan dampak yang luar biasa karena jika seseorang tidak lulus UN maka secara sosial dia akan malu, dia harus mengikuti ujian paket dengan ijazah atas nama paket sehingga bisa dikatakan sekolah selama 3 tahun menghasilkan ijazah paket dan itu sangat menyedihkan.Oleh karenanya, karena masyarakat memiliki tingkat spiritualisme yang tinggi maka dilakukanlah segala maca ritual agar Tuhan memberikan hasil yang terbaik tentang perkara UN karena sesungguhnya semua adalah pemberian Tuhan dan manusia dapat mengubah dengn ikhtiar dan doa. Terima kasih.

    ReplyDelete
  48. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Begitulah kalau padangan terhadap pendidikan hanya sesempit “Unas oriented”. Apapun dilakukan untuk menuju hasil Ujian Nasional terbaik. Bahkan ritual-ritual kesyirikanpun seperti pergi ke dukun menjadi salah satu alternatifnya. Biasanya mendekati Ujian Nasional, sekolah-sekolah gencar mengadakan malam doa bersama, istighosah, malam renungan, dan beberapa kegiatan lain semacamnya. Mendekati Ujian Nasional, baik guru maupun siswa menjadi semakin khusyuk dalam sholatnya, semakin rajin melakukan puasa sunah dan sederet ibadah-ibadah yang sebenarnya jarang dilakukan. Sayangnya begitu Ujian Nasional selesai atau setelah nilai UN diumumkan, aktivitas-aktivitas itu sirna, berubah 180 derajat. Yang sebelum UN rajin puasa senin-kamis, pasca UN menjadi tidak pernah lagi. Yang awalnya sholat tepat waktu, pasca UN menjadi tidak pernah sholat. UN oriented juga ditandai dengan banyaknya kecurangan-kecurangan yang terjadi saat UN, seperti mencontek, bocoran soal, dan lain-lain. UN menyebabkan siswa berfikir pragmatis. Mereka melakukan reduksi besar-besaran terhadap substansi materi menjadi rumus-rumus instan. Mereka tidak lagi mengetahui hakikat dari belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Gurupun juga demikian. Mereka cenderung mengajarkan soal-soal yang akan keluar dalam Ujian Nasional. Mereka tidak lagi menerapkan model-model pembelajaran kooperatif seperti yang mereka dapatkan semasa kuliah, namun kembali ke zaman dahulu dengan metode klasikal dengan materi rumus-rumus singkat untuk UN. Maka jangan heran kalau banyak siswa mendapat nilai 90 atau 100, tetapi sebenarnya tidak memahami substansi materi secara holistik. Sehingga nilai UN bukanlah representasi kemampuan siswa sesungguhnya.

    ReplyDelete
  49. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Menurut saya bagaimana pendidikan anak sekolah dapat berkembang itu tergantung dari para pemimpin. Seperti apakah kebijakan pemimpin dapat menunjang pendidikan anak sekolah. Pengkajian tentang ujian nasisonal juga tergantung dari pemerintah, sedemikian permasalahan serbaserbi unas tidak akan dapat dihadapi oleh guru, siswa dan masyarakat tanpa adanya kebijakan dari pemerintah.

    Dalam mengetahui seperti apa keadaan pendidikan bangsa kita tidak ada yang lebih paham dari pada pelaku pendidikan itu sendiri, yaitu guru, dan para peneliti pendidikan. Namun permasalahannya adalah tidak ada hubungan yang kontinu antara hasil penelitian dan kebijakan pendidikan, jadi ini menjadikan lingkaran setan yang terus menerus terjadi, sehingga sesungguhnya kita sudah masuk dalam mitos unas.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  50. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sudah menjadi fenomena menjalankan segala macam ritual menjelang pelaksanaan Unas. Bahkan sampai saat ini pun, yang katanya Unas tidak lagi menjadi patokan seutuhnya penentu kelulusan siswa, tetap diadakan ritual untuk menghadapi Unas demi kelancaran dan kesuksesan Unas. Akibat dari adanya Unas yang hanya melihat hasil akhir tanpaa melihat prosesnya, sepertinya pendidikan sedang mengalami ketidakselarasan. Beberapa contoh ketidak adilan dijabarakan pada elegi serba-serbi Unas di atas, misalnya siswa yang tergolong memiliki kemampuan tidak begitu pandai dan tidak rajin bisa lulus Unas, sedangkan siswa yang setiap harinya rajin dan pandai justru tidak lulus Unas. Maka, tidak heran jika Unas menjadi momok yang sangat menakutkan bagi siswa-siswi yang akan menghadapinya.

    ReplyDelete
  51. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa sesungguhnya masalah Ujian Nasional (Unas) bukan merupakan masalah yang sederhana, masalah unas ini penuh dengan dilema. Apabila unas dihapuskan dan ditiadakan maka pendidikan Indonesia tidak memiliki standar untuk memetakan seluruh siswa yang ada, akan tetapi dalam prakteknya dalam pelaksanaan unas banyak terjadi berbagai kecurangan. Siswa membeli kunci, dan dalam proses pembelajaran akhirnya terfokus pada “bisa mengerjakan soal unas” saja dan mengapaikan proses dari pembelajaran itu sendiri. Siswa lebih suka dengan gaya belajar yang ada di lembaga bimbingan belajar yang dirasa lebih praktis, cepat dan mudah dalam menyelesaikan tipe-tipe soal unas. Dengan adanya fenomena seperti ini perlu adanya pengkajian lebih lanjut mengenai pendidikan di Indonesia, semoga kedepat bisa disusun suatu sitem pendidikan yang lebih baik lagi. Amin.

    ReplyDelete
  52. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Pendapat saya tentang UNAS tak berbeda dari semenjak saya duduk di bangku kuliah S1 dulu. Saya tidak setuju dengan UNAS. Alasan saya mungkin tak jauh berbeda dengan alasan orang-orang yang sama tidak setujunya dengan saya. Rasanya tidak mungkin hanya tiga atau empat hari dapat menentukan prestasi belajar selama 3 tahun. Adanya ketidakadilan dalam proses pendidikan kita. Bukankah satu diantara sembilan prinsip belajar adalah keadilan. Ketidakadilan dalam UAN bisa jadi satu faktor penyebab stress dan lemahnya kepercayaan diri siswa sebelum melaksanakan UNAS. Bahkan bisa membunuh karakter siswa yaitu meningkatnya ketidakjujuran siswa sebelum dan saat melaksanakan UNAS.

    ReplyDelete
  53. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pada elegi ini, adanya unas menjadikan para guru dan siswa hanya berorientasi pada bagaimana agar dapat sukses dalam unas saja. Padahal sebenarnya unas itu digunakan untuk menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Bila waktu unas sekamin dekat, maka siswa hanya fokus ke unas dan mengerjakan soal-soal yang berhubungan unas saja. Sehingga pemberian soal-soal seperti ini akan menjadikan siswa paham akan pola-pola soal yang mungkin akan disajikan saat unas. Sehingga model pembelajaran, teori belajar, metode konstruktivis tidaklah diterapkan dalam pembelajaran sekarang ini karena yang dikejar hanyalah pencapaian unas belaka.

    ReplyDelete
  54. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Saya katakan bahwa saya bersyukur beberapa tahun ke belakang Unas atau UN tidak menjadi satu-satunya penentu kelulusan bagi siswa. Sekarang peran guru seperti yang dikatakan pada elegi ini mulai dihidupkan kembali. Jika Unas dan UN masih menjadi satu-satunya penentu kelulusan tentu kejadian-kejadian irrasional pada elegi di atas dan disorientasi para pelaku praktis pendidikan akan terulang kembali dan terjadi terus-menerus. Akan tetapi, benar bahwa yang harus benar-benar diperhatikan adalah kemampuan dan keingingan kuat guru untuk memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan agar kelulusan siswa tetap pada standar capaian yang diinginkan.

    ReplyDelete
  55. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Unas menjadi momentum yang menakutkan khususnya bagi siswa. Hal yang menjadi berbahaya yaitu ketika semua pihak berorientasi bahwa Unas satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan. Padahal jika kita lihat realita di lapangna, tindak kecurangan pun tak jarang kita temukan, seperti bocornya soal Unas, penyebaran kunci jawaban, penggandaan soal secara ilegal, kurang meratanya pendistribusian soal, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  56. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Ujian Nasional (UNAS) selalu menjadi momok yang menakutkan dan menyeramkan bagi kalangan pelajar, sehingga mereka menjadi stres dan histeris. Tidak hanya siswa saja yang mengalami stres, namun para orang tua, guru, dan kepala sekolah pun ikut stres memikirkan siswanya. Mengapa? karena, jika siswa tidak lulus UNAS maka mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan hal-hal unik dan aneh pun dilakukan oleh orang tua dan anaknya, mulai dari sungkeman ke ibu, membasuh kaki orang tua terutama ibu. Hal ini marak dilakukan ketika menjelang UNAS, terutama di daerah dengan harapan mendapat restu dari orang tua, agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi UNAS. Namun ada hal yang sangat menggelitik hati, ada siswa yang membawa pensil ke dukun, karena takut UNAS. Bayangkan, hanya untuk lulus UNAS sampai-sampai hal yang tidak rasional pun dilakukan Klimaks dampak buruk UNAS adalah detik-detik hasil kelulusan yang mengakibatkan hal yang sangat fatal yaitu kematian. Banyak siswa yang stres karena merasa malu, tertekan, putus harapan, hingga nekat gantung diri. Hal ini tentu sangat miris bagi kita semua, terutama bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan. Hanya karena ingin lulus ujian, nyawa seorang siswa harus melayang

    ReplyDelete
  57. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    UN diharapkan menjadi tolak ukur pendidikan di Indonesia. Tetapi sayangnya saat ini banyak hal-hal negatif yang terjadi karena UN. UN telah menyebabkan banyak guru hanya berfokus pada UN sehingga lebih memilih menggunakan metode cepat agar siswa lulus. Hal ini telah terjadi selama bertahun- tahun dan telah membentuk karakter guru yang seperti itu. Tetapi ketika UN ditiadakan akankah guru dapat mengajar dengan berbagai variasi metode pembelajaran lainnya. Dan ketika UN ditiadakan akankah siswa masih memiliki motivasi untuk belajar.

    ReplyDelete
  58. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi ritual dan serba-serbi UNAS menyajikan fakta-fakta yang ada seiring diselenggarakannya UNAS. Rasanya memang tidak adil ketika para siswa belajar banyak mata pelajaran, bahkan dari pagi sampai sore di sekolah, namun seolah-olah keberhasilan mereka hanya ditentukan oleh UNAS yang notabene hanya diselenggarakan satu minggu saja dan hanya beberapa materi pelajaran saja. Akibatnya anak-anak terpaksa menambah jam ekstra untuk les yang isinya latihan-latihan soal, selain itu juga masih harus mengerjakan latihan-latihan yang diselenggarakan sekolah secara rutin menjelang UNAS, dan berbagai kegiatan ritual UNAS lainnya. Selain itu, dampak bagi guru mata pelajaran selain UNAS adalah bahwa sang guru sering diabaikan, disepelekan, dianggap bahwa pelajaran guru tersebut tidak penting karena bukan mata pelajaran yang diujian nasionalkan. Dampak psikis pun dirasakan oleh siswa dan orang tua. Siswa menjadi mudah stres, mudah takut, dan fenomena yang paling mengejutkan adalah bahwa ada siswa yang sudah berprestasi setaraf internasional tetapi tidak lulus ujian nasional, betapa hal tersebut dapat menimbulkan beban mental yang luar biasa bagi siswa. Gurupun demikian menjadi tertekan dan tidak leluasa.

    ReplyDelete
  59. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Keberadaan UN membawa dampak tersendiri. Terkadang apa yang telah di teorikan ketika kuliah harus terbentur ketika mengajar. Hal ini karena ada tuntutan untuk lulus UN dengan nilai tinggi. Para guru hanya berorientasi agar siswanya lulus UN. Hal ini naïf sekali. Telah dicontohkan bahwa ada orang yang mengerjakan UN sampai dikantor polisi. Apakah Indonesia lebih mementingkah hasil akhir daripada akhlak yang mulia? Belum lagi masalah kecurangan dan ketidakadilan ketika mengerjakan soal UN. Jadi jika pada awalnya UN dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa secara nasional maka hal itu tidak lagi objektif karena terjadi kecurangan

    ReplyDelete
  60. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. UN memang selalu menjadi topik diskusi yang selalu menarik untuk dibahas. UN memiliki kelebihan karena dapat mengukur kemampuan secara merata, tapi juga punya kelemahan karena hanya mengukur pada saat itu saja, mengabaikan kegiatan belajar mengajar yang telah ditempuh. Terlepas dari prokontra UN, pemerintah tetap menjalankan UN, dan sudah menjadi konsekuensi dunia pendidikan untuk mematuhinya.

    ReplyDelete
  61. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Ujian Nasional telah menjadi obrolan kontroversial sejak beberapa tahun lalu. Di satu sisi, banyak yang mendukung, di sisi lain banyak yang mencaci. Seperti yang disampaikan dalam tulisan di atas, bisa jadi ia merupakan bentuk ketidakpercayaan pemerintah pada kinerja guru dan sekolah, bisa jadi. Karena memang pada dasarnya, yang paling berhak menilai seorang siswa adalah gurunya yang melihat prosesnya belajar. Namun sebenarnya, ada pula sisi positif dari UAN, yaitu standarisasi. Dengan UAN, kita bisa mengetahui tingkatan pencapaian siswa dalam setiap daerah, mana yang sudah tergolong baik, mana yang masih perlu diperhatikan lagi. Namun sayangnya, pada pelaksanaannya, UAN memiliki banyak kekurangan, dilihat dari berbagai penyimpangan yang terjadi di sekolah maupun masyarakat. Menurut saya, UAN tak lagi efektif sebagai standar kelulusan. Kita pernah mengalami masa yang tidak masuk akal dimana UAN menjadi tolok ukur mutlak dalam kelulusan. Namun setidaknya, sekarang ada kebijakan yang mengarah pada sesuatu yang lebih baik, bahwa pemerintah telah sedikit banyak memperhatikan pendapat rakyat dengan mengeluarkan kebijakan tak lagi menjadikan UAN sebagai satu-satunya tolok ukur kelulusan.

    ReplyDelete
  62. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    UN sekarang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak menjadi satu-satunya syarat kelulusan siswa. UN terbaru yang akan diimplementasikan di tahun 2018 kususnya matematika adalah adanya soal isian singkat, hal ini merupakan hal yang lebih baik. Siswa yang biasanya hanya mengerjakan multiple choice sekarang sudah ada tambahan isian singkat. Kedepan mungkin akan dikembangkan lagi sehingga ada soal esai. Sekarang juga ada US berstandar nasional, sehingga mata pelajaran lain juga sudah tidak dipandang sebelah mata.

    ReplyDelete
  63. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Unas memang selalu menjadi pro dan kontra sehingga selalu mengalami revisi atau perubahandi setiap tahunnya. Seperti misalnya penambahan paket soal yang bertujuan menghilangkan atau setidaknya mengurangi angka kecurangan siswa dalam mencontek, kemudian perubahan status unas yang awalnya sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa menjadi sebagai salah satu penentu kelulusan siswa bersama dengan nilai uas. Dan perubahan yang lain, baik yang sudah dilakukan maupun yang belum dilakukan sampai ditemukannya format atau system unas yang paling ideal.

    ReplyDelete
  64. ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    UNAS, jika dilihat dari segi siswa sangatlah luar biasa, siswa berjuang tanpa mengenal lelah, pagi sekolah sore bimbingan belajar tambah lagi malam hari, dapat diibarat kata tiada waktu untuk yang lain kecuali untuk persiapan UNAS. Semua itu takut kalau tidak lulus atau takut tidak diterima di sekolah yang diinginkan. Sehingga soal-soal dilalapnya tanpa mengenal lelah. Disisi lain tentu punya kelemahan karena mereka mengerjakan soal-soal dengan cara yang mudah diterima dengan mengenyampingkan proses konsep materi yang diterimanya. Hal ini mengakibatkan siswa berfikir bahwa tolak ukur penilaian adalah nilai UNAS. Dengan tolak ukur nilai UNAS, motivasi siswa dikala masih duduk di kelas level sebelumnya sangatlah kurang

    ReplyDelete
  65. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas, Saat ini, UNAS merupakan momok bagi siswa. UNAS adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar di sekolah. Bila UNAS gagal, maka siswa itu akan dianggap gagal dalam belajar di sekolah. Oleh karena itu, berbagai pihak mengupayakan berbagai cara agar siswa dapat “lulus” UNAS dengan hasil yang maksimal. UNAS merupakan suatu ketakutan tersendiri bagi siswa, guru maupun orang tuanya. Padahal tujuan diadakannnya UNAS adalah untuk meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan. Namun, yang terjadi di lapangan adalah pihak guru maupun orang tua begitu menekan siswa agar “lulus” UNAS bagaimanapun caranya dan proses dianggap tidaklah penting karena hasil UNAS ini akan menentuikan harga diri orang tua, guru, maupun sekolah. Proses pembelajaran tidak terlalu diperhatikan, seringkali kita melihat di sekolah-sekolah, menjelang UNAS yang dilakukan hanyalah terus-terusan mengerjakan latihan soal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilania Eka Andari
      17709251050
      S2 pmat c 207

      Kemampuan yang harus dinilai dari peserta didik bukan hanya pada aspek kognitif, melainkan pengetahuan, keteraampilan dan sikap. Maka Ujian Nasional bukanlah alat yang tepat untuk mengukur kemampuan siswa, karena UN hanya menilai aspek kognitif saja. Kemudian, UN selalu berdampak negatif pada kondisi psikologis siswa, karena siswa cenderung dipaksa untuk menguasai bahkan menghafal segala pelajaran untuk UN dengan cepat. Hanya guru atau pendidik yang seharusnya menilai proses pembelajaran siswa.

      Delete
  66. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Unas atau yang sekarang kita sebut UN, adalah tes kemampuan siswa dalam bidang mata pelajaran yang ditentukan dengan soal pilihan ganda. Hasil tes soal tersebut menjadi penentu kelulusan peserta didik. Akan tetapi, Unas sebenarnya sama sekali tidak dapat mencerminkan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Kita tidak dapat mengetahui apakah hasil jawaban benar tersebut adalah hasil pemikiran dengan proses yang tepat atau hanya hasil lirik kanan kiri saja. Sehingga perlu dipikirkan kembnali Unas yang baik adalah Unas yang seperti apa, namun setidaknya dapat menilai proses agar kemampuan yang sebenarnya dari peserta didik dapat diketahui.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  67. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Ujian nasional sebagai sebuah standar dalam penilaian secara nasional memang memberikan dampak yang luas. Walaupun otonomi daerah menjadi prinsip demokrasi, tetapi otonomi penilaian sepertinya tidak kebagian jaahnya, karena untuk masalah ini pemerintah pusat seperti tidak ingin melepasnya. Banyak pro dan kontra tetnunya, namun efek nya tetap, apapun kurikulum dan detil penilaiannya, unas menjadi acuan nomor satu dalam setiap pembelajaran disekolah.

    ReplyDelete

  68. Kebijaka tetap adanya ujian nasional sebenarnya adalah ego-pemerintah, karena memang sepertinya jika unas dimoratorium akan banyak efek domino yang terjadi. Seperti bimbel yang tidak laku lagi,para penerbit akan kehabisan bahan, dan pemerintah itu sendiri. Bahkan melihat fenomena bimbel yang begitu menjamurnya, seolah ingin mengatakan bahwa system pembelajaran di bimbel llebih baik daripada di sekolah.

    ReplyDelete
  69. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Unas merupakan momok terbesar bagi para siswa karena Unas merupakan syarat lulus dari sekolah tempat mmereka belajar. apabila tidak lulus Unas banyak diantara mereka menganggap masa depan mereka akan suram. lulus dan tidak lulus Unas tidak menjamin kehidupan seseorang.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  70. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ujian nasional tentunya mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Sistem pendidikan di Indonesia di tuntut untuk memiliki standar bagi lulusan mereka. Sehingga muncullah unas untuk memberikan standar yang sama bagi lulusan nantinya.

    ReplyDelete
  71. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    disisi lain pemerintah tidak memikirkan bahwa infrastruktur dan SDM pengajar antara Indonesia barat dan Indonesia Timur sangat jauh perbedaannya. Hal itu saya mendengarnya sendiri dari teman saya yang mengikuti SM3T, sebelum ada program SM3T, guru-guru mereka hanya masuk mengajar paling banyak 4 kali dalam sebulan, sungguh miris mendengarnya ketika mereka nantinya dituntut memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah di pulau jawa. Pembangunan pendidikan tidak merata tetapi pemerintah ingin standar lulusan yang sama. Hal tersebut tidak mudah untuk dipahami.

    ReplyDelete
  72. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Di Indonesia, UNAS masih menjadi patokan dalam melihat hasil belajar siswa selama ini. Tetapi lambat laun, kelulusan siswa sudah tidak berpatokan dengan UN saja, melainkan masih ada nilai nilai lain yang masih menjadi perhitungan. Hal ini masih belum terlalu efektif karena masyarakat sudah terlalu termakan stigma tentang nilai UN yang di gunakna sebagai patokan. Sehingga, dalam proses pencapaian belajar tidak terlalu diperhitungkan. Dengan adanya hal itu, banyak dari siswa bahkan orangtua yang berusaha membaut anaknya bisa mengerjakan soal UN dengan berbagai cara. Peran guru sehari-hari lah yang dinilai tidak berguna lagi.

    ReplyDelete
  73. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    UN di Indonesia masih menjadi patokan keberhasilan seseorang dalam menjalani proses pembelajarannya, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA/SMK. Hal ini dapat dilihat juga ketika bulan-bulan seperti sekarang, sekolah lebih fokus pada pengayaan untuk materi yang di UN kan. Sehingga semakin membuat siswa terpaku dengan hal tersebut. Sebenarnya saat ini nilai kelulusan juga dipengaruhi oleh nilai ujian sekolah, namun karena sejak dahulu sudah muncul stigma mengenani UN, hiruk pikuk menyambut UN punmasih tidak bisa dihindarkan. Padahal UN hanya dilakukan satu kali untuk melihat pemahaman siswa selama 3 tahun untuk SMP dan SMA pada materi terkait, tanpa melihat proses dan progress dari siswa.

    ReplyDelete
  74. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Efek yang diberikan dalam pelaksanaan ujian nasional memberikan banyak sekali dampak pada hal yang positif maupun negatif. Hal ini dikarenakan memang ujian nasional masih menjadi perdebatan akan tetap diadakan untuk pemetaan zona hitam dan putih atau dihilangkan karena pelaksanaan ujian nasional itu hanya dilaukan sebagai laporan kurikulum yang dilakukan selama periode kepemimpinan dari suatu golongan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  75. Suatu elegi yang menarik, karena memang fenomena Ujian Nasional ini tengah menjadi bola panas yang sering diperdebatkan. Elegi diatas juga menjelaskan bahwa esensi dari ritual adalah berdoa. Namun, jika dikaitkan dengan Ujian Nasional maka yang terjadi pada masyarakat kita adalah ritual ujian nasional yang seringkali ditemukan beberapa penyimpangan. Inilah yang sering kali menimbulkan pro dan kontra mengenai Ujian Nasional. Kebijakan pemerintah terkait kelulusan dengan mengombinasikan nilai UN dengan nilai sekolah saya rasa sudah cukup baik.

    ReplyDelete
  76. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Pro kontra Ujian Nasional masih belum berujung, belum ada titik terang terkait permasalahan tersebut. banyak fenomena-fenomena tak terduga terjadi terkait dengan ujian nasional, mualai dari ritual-ritual aneh para peserta ujian nasional, fenomena guru yang membagikan kunci jawaban, samapai pada fenomena siswa bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional. siapa salah dan siapa benar dalam permaslahan ini hanya tuhan yang maha mengetahui dan maha benar yang mengetahui kebenarannya.

    ReplyDelete
  77. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Salah satu faktor yang mungkin menyebabkan pendidikan indonesia masih berada di belakang beberapa negara lain adalah orientasi pendidikan kita yang masih berlandaskan ujian nasional. siswa diberikan latihan soal yang dianggap mirip dengan soal ujian nasional sehingga siswa hanya terbiasa mengerjakan soal yang telah dikerjakan contohnya.

    ReplyDelete
  78. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Ujian Nasional kali ini wacananya akan menambahkan soal-soal uraian atau isian singkat di dalamnya. Saya setuju dengan hal ini dikarenakan soal-soal pilihan ganda tidak sepenuhnya dapat mengukur kualitas akademik siswa. Selain itu untuk Kota Yogyakarta akan menerapkan kebijakan sistem zonasi sebagai syarat masuk ke SMP, bukan menggunakan nilai UASBN SD. Sayapun setuju akan kebijakan ini karena dapat meratakan kualitas input siswa di semua sekolah. Tidak ada lagi sekolah-sekolah favorit dimana siswa-siswa bernilai tinggi berkumpul di sana. Namun sebaiknya Dinas Pendidikan DIY mempertimbangkan lagi bahwa tidak sepenuhnya menggunakan sistem zonasi melainkan mempertimbangkan juga pembobotan hasil UASBN walaupun sedikit. Hal ini dikarenakan agar siswa tetap bersemangat mengikuti UASBN.

    ReplyDelete
  79. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam cerita yang terdapat pada elegi ritual dan serba serbi unas sama seperti yang pernah saya alami ketika menjadi siswa, dimana ketika menjelang unas, guru berbondong-bondong menjejalkan banyak sekali latian-latihan soal sampai-sampai materi selain unas jarang dijamah, banyak bimbel-bimbel yang mempromosikan “daftar bimbel, jaminan lulus unas 100%”. Kemudian juga sehari sebelum unas, diadakan motivasi dan doa bersama yang malah justru membuat saya dan teman-teman semakin tertekan dan berpikir semenakutkan itu mengerjakan unas. Karena zaman dulu, unas itu sebagai penentu kualitas sekolah jadi mau tidak mau, seluruh warga sekolah saling mendukung untuk menyukseskan unas agar peserta didik dapat lulus 100% dengan predikat memuaskan. Akan tetapi, sekarang ini unas sudah tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan peseta didik. Walopun demikian, seperti yang dikatakan dalam elegi ini bahwa yang harus diperhatikan dengan benar adalah kemampuan dan keinginan kuat guru untuk memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan agar kelulusan peserta didik tetap pada capaian yang diinginkan.

    ReplyDelete
  80. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Pada zaman dahulu Unas merupakan tolok ukur satu-satunya untuk kelulusan siswa. Menjelang Unas bimbel laris walaupun biayanya cukup menguras dompet. Jika akhir dari pendidikan hanya dilihat dari hasil Unas, maka dirasa-rasa proses belajar selama tiga tahun untuk sekolah menengah dan enam tahun untuk sekolah dasar seolah-olah tidak begitu penting. Akan tetapi, saat ini pemerintah sudah menambahkan beberapa penilaian lain untuk kelulusan siswa. Jadi, tidak hanya hasil Unas yang dijadikan patokan kelulusan siswa.

    ReplyDelete
  81. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    "3 tahun ditentukan dalam 3 hari" begitu yang dulu sering dikeluhkan oleh siswa-siswa SMP dan SMA. Mungkin hal tersebut yang mebuat masyarakat berusaha melakukan berbagai cara agar anak-anaknya sukses dalam UNAS, termasuk dengan cara yang irrasional. Sebenarnya saya setuju dengan pendapat bahwa hanya guru yang bisa menilai siswanya, namun saya tidak setuju dengan sistem yang ada saat ini. Saat ini UNAS tidak lagi digunakan untuk menentukan kelulusan, namun untuk mencari sekolah di tingkat selanjutnya. Menurut saya, jika memang ingin menyerahkan seutuhnya kepada guru terkait assesment seharusnya tidak perlu lagi diadakan UNAS, namun lebih diperlukan penyetaraan kualitas guru.

    ReplyDelete
  82. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    "3 tahun ditentukan dalam 3 hari" begitu yang dulu sering dikeluhkan oleh siswa-siswa SMP dan SMA. Mungkin hal tersebut yang mebuat masyarakat berusaha melakukan berbagai cara agar anak-anaknya sukses dalam UNAS, termasuk dengan cara yang irrasional. Sebenarnya saya setuju dengan pendapat bahwa hanya guru yang bisa menilai siswanya, namun saya tidak setuju dengan sistem yang ada saat ini. Saat ini UNAS tidak lagi digunakan untuk menentukan kelulusan, namun untuk mencari sekolah di tingkat selanjutnya. Menurut saya, jika memang ingin menyerahkan seutuhnya kepada guru terkait assesment seharusnya tidak perlu lagi diadakan UNAS, namun lebih diperlukan penyetaraan kualitas guru.

    ReplyDelete
  83. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Ujian nasional yang dulunya dijadikan harga mati dan orientasi utama dalam pendidikan Indonesia memang menyebabkan munculnya ritual-ritual tersebut. UNAS yang sempat dianggap sebagai titik utama pendidikan memunculkan banyaknya joki ujian, jual beli soal, dan jual beli jawaban di jamannya. Tentunya hal ini menyebabkan gagalnya tujuan diadakan ujian nasional itu sendiri. Beruntung saat ini, di tahun 2018, ujian nasional tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya tolok ukur pendidikan. Semoga ke depannya pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan.

    Catatan: faktor yang membantu perkembangan pendidikan Indonesia adalah pikiran-pikiran kritis dari para akademisi Indonesia. Sehingga jika kita menginginkan dunia pendidikan Indonesia kian berkembang, maka kita juga tidak boleh menutup mata dengan fenomena-fenoma dalam pendidikan.

    ReplyDelete