Mar 8, 2011

Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat




Oleh: Marsigit

Transenden:
Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani. Wahai para Bagawat, mengingat semakin lama semakin banyak dan semakin dalam engkau para Bagawat mengalami krisis, maka saya bermaksud mengundang engkau semua dalam Konferensi Para Bagawat. Silahkan kenalkan dirimu, bicaralah dan sampaikan persoalan-persoalanmu.

Bagawat Archaic:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Archaic. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Archaic. Sebagai Bagawatnya kaum Archaic maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Tribal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tribal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tribal. Sebagai Bagawatnya kaum Tribal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Feudal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Feudal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Feudal. Sebagai Bagawatnya kaum Feudal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Feudal. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku. Namun ada satu hal yang membedakan antara aku dengan Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal, yaitu bahwa akulah yang menguasai mereka semua itu. Dalam rangka menguasai mereka beserta semua pengikutnya maka aku telah mengembangkan dan menciptakan persekongkolan bangsa. Tetapi persekongkolan-persekongkolan itu semua harus tunduk kepadaku. Maka aku adalah nilai kebenaran dan kebijaksanaan dari persekongkolan-persekongkolanku beserta pengikut-pengikutku. Ketahuilah bahwa persekongkolan utamaku adalah semua prajurit yang siap untuk menggilas dan menerjang semua kaum Archaic dan kaum Tribal.

Bagawat Tradisional:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tradisional. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tradisional. Sebagai Bagawatnya kaum Tradisional maka aku mempunyai sifat Tunggal Relatif, artinya aku berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Tunggal Relatifnya kaum Tradisional. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Tunggal relatifku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu.

Bagawat Modern:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Modern. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Modern. Sebagai Bagawatnya masyarakat Modern maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Modern. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Modern. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Modern selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Modern serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Modern. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Nilai-nilai kebajikanku adalah bagaimana sebesar-besar diriku mampu memberikan yang terbaik dari segenap jiwa ragaku dan pikiranku untuk masyarakatku walaupun kadang-kadang harus aku lakukan dengan berbagai macam cara, ee..maaf maksudku menghalalkan segala macam cara. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku, walaupun aku harus berusaha sendirian dan terkadang aku juga tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi. Tetapi itulah dilema yang terjadi bahwa aku selalu dituntut menghasilkan kebijaksanaanku yang terbaik oleh Penguasaku tetapi tidak disertai dengan fasilitas dan jejaring yang memadai.

Bagawat Powernow:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Powernow. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Powernow. Sebagai Bagawatnya masyarakat Powernow maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Powernow. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Powernow. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Powernow selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Powernow serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Powernow. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Jika Bagawat Modern berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi canggih dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Powernow Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku. Jika Bagawat Modern berusaha meraih sendirian dan terkadang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi, maka aku berusaha mengembangkan dan menciptakan Jejaring Transinternasional. Tetapi itulah kebagahiaanku bahwa yang terjadi adalah Penguasaku selalu memberikan semua fasilitas dan kebutuhan yang aku perlukan agar aku menghasilkan kebijaksanaan yang terbaik. Maka sebetul-betul kebijaksanaan terbaikku adalah kebijakkan sistem networkingku. Itulah ultima pencapaian peradaban manusia yaitu sekaligus sebagai perangkap bagi semua Bagawat dan pengikutnya yang berada di bawah levelku. Itulah sebenar-benar kemenanganku yaitu kekuatan Jejaring Transinternasionalku. Maka sebenar-benar penguasaanku atas dunia ini adalah Sistem Jejaring Transinternasionalku. Siapa yang berani menandingiku maka dia akan berhadapan dengan semua prajurit unjung-ujung syaraf Jejaring Internasionalku yang terdiri dari Neokapital, Neopragmatis, Neomaterialis, dan semua neo yang terangkum dalam Dajalku Blackhole-Diraja.

26 comments:

  1. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Perkembangan manusia yang semakin canggih menjadi pr kita bagaimana menyikapi dengan semakin tingginya perkembangan zaman. Mulai dari transenden sampai power now. Dimana kesemunya itu adalah tingkatan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Akar dari seluruh masalah dalam hidup ini adalah krisis moral. Para bagawat dalam elegi ini terlihat sangat sombong, mereka menyombongkan ilmunya. Inilah contoh orang-orang yang paling membahayakan bagi dunia. Mereka juga menginginkan kekuasaan, menginginkan untuk menjadi yang terbaik dan terutama. Keadaan yang sungguh memprihatinkan. Suatu pilihan yang berat bagi kita apakah kita mampu keluar dari krisis tersebut. Hanya dengan pertolongan Tuhan kita mampu melawannya, maka hendaklah kita selalu berdoa dan berserah diri kepada-Nya.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Bagawat powernow yang telah dipaparkan dalam elegi ini, seakan memiliki bidang kajian dan jangkauan yang lebih luas daripada bagawat-bagawat sebelumnya. Bagawat powernow mampu bersifat jamak lebih dari bagawat archaic dan tribal yang bersifat tunggal, dan memiliki sifat yang sama seperti bagawat tradisional dan modern, hanya saja bagawat powernow mampu menciptakan jejaring transinternasional yang dapat menjaring bagawat-bagawat lainnya sehingga bagawat powernow dapat menjadi bagawat paling tinggi diantara bagawat-bagawat lainnya. Apabila pemikiran saya mengenai bagawat powernow lebih tinggi diantara bagawat-bagawat lainnya, apakah itu berarti sebenarnya saya sudah terjebak dalam jaring transinternasional bagawat powernow?

    ReplyDelete
  4. Begawat banyak yang berubah dan juga tergoda untuk menjadi begawat yang krisis kepercayaan diri. Dari mereka ada yang tidak peduli, mempertahankan kedudukan walau merugikan orang lain dan plagiat. Semestinya begawat menjadi patokan dalam mengemban ilmu. Jika begawat mulai berubah akan mempengaruhi objek-objek lainnya.

    ReplyDelete
  5. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Rencana dari Bagawat Power Now adalah membangun kekuasaan tertinggi di atas para bagawat lainnya (archaic, tribal, feudal, tradisional, modern) agar tunduk di bawah kekuasaannya. Bagawat Power Now akan mempertahankan kekuasaannya dengan menghalalkan berbagai cara dan memanfaatkan kekuatan jejaring Transinternasionalnya untuk melancarkan aksinya.

    ReplyDelete
  6. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pemegang kekuasaan di dunia ini selalu berpegang teguh pada “bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat”.
    Sehingga seringkali yang terjadi tidak lagi mengenai bagaimana harus bertindak sesaui dengan kedudukan melainkan bagaimana mempertahankan kedudukan.

    ReplyDelete
  7. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Semua ingin menjadi yang paling kuasa, semua ingin menjadi yang terkaya, semua ingin menjadi yang terpandai, inilah cermin dari kehidupan saat ini. Para penguasa negeri misalnya, telah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, tidak memandang apakah cara tersebut merugikan orang lain atau tidak. Banyak yang memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Semoga Negeri kita ini dijauhkan dari penguasa-penguasa yang seperti itu. Aamiin

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Para bagawat mencerminkan para pemimpin. Dan seperti yang dibahas dalam elegi sebelumnya, setiap orang dalam dimensi yang berbeda memiliki pemikiran yang berbeda-beda pula tentang suatu hal. Oleh karena itu, para bagawat pun memiliki ciri mereka masing-masing. Namun, hal yang tidak baik adalah jika seseorang tidak menghargai perbedaan tersebut dan mau menang sendiri, merasa paling baik dan harus dihargai. Itulah yang membuat orang-orang yang dipimpinnya juga rusak moralnya karena pemimpinnya memiliki moral yang rusak.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Elegi ini mengingatkan kembali kepada kita selaku guru dan calon guru. Guru juga merupakan seorang pemimpin yang memimpin murid-muridnya. Hendaknya sebagai seorang guru dan pendidik kita lebih membekali diri, menghargai perbedaan kemampuan yang dimiliki murid-murid kita dan terus ingat untuk menetapkan hati kita sebagai komandan kita sehingga murid-murid diberi kesempatan untuk menggapai logos mereka.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam elegi ini dijelaskan bahwa sebetul-betul kebijaksanaan terbaik adalah kebijakkan sistem networking.
    Sistem networking dimaksudkan adalah sistem hubungasn ysng dilskuksn dengsn lingkungan yang ada.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Dunia terus berkembang, dan semua orang dari segalan budaya dan negara memiliki filosofinya sendiri. para begawat dalam elegi diatas menurut sepemahaman saya mewaliki filosofi hidup yang dipegang para generasi saat ini. Ada yang memiliki kekeuasaan seperti powernow, ada yang masih tradisioanl dan sebagainya.

    ReplyDelete
  12. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Banyak pemimpin yang pada awal proses kepemimpinannya rendah hati berubah menjadi tinggi hati. Hal ini seringkali terjadi karena kuasa yang dilekatkan pada diri para pemimpin tersebut tatkala mereka diberi kepercayaan untuk memimpin orang lain (mempengaruhi, mengajar, memotivasi, memberdayakan, dan sebagainya). Pemimpin menjadi pemimpin karena Allah yang mengijinkan, karena Allah yang memberi panggilan, karena Allah yang memberi kemampuan. Dengan kata lain, karena anugerah. Jadi tidak ada alasan untuk menjadi tinggi hati. Saat pemimpin sadar bahwa ia adalah bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan yang adalah segalanya, di sana ia memiliki kerendahan hati. Kerendahan hati hanya dapat dimiliki apabila seorang pemimpin tahu jelas siapa Allah dan siapa dirinya di hadapan-Nya.

    ReplyDelete
  13. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Sebenarnya tujuan hidup di dunia ini sama yaitu ingin memperoleh ridha Allah. Namun apabila tujuan itu tidak dibarengi dengan keimanan dan keikhlasan hati maka tujuan itu akan disalahfungsikan, misalnya sesorang yang mempunyai jabatan tinggi ingin mencari ridha Allah dengan kekuasaan yang ia miliki namun kenyataannya kekuasaan itu digunakan untuk hal-hal yang malah menjauhkannya dari jalan menuju ridha Allah. Semoga kita semua bisa menjadi hamba-hamba yang selalu taat dan tetap ingat tujuan hidup kita di dunia ini.

    ReplyDelete
  14. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas_D 2016

    Jika faktor agama sudah lepas dari seseorang itu, maka tunggulah kehacuran. Sehebat apapun manusia, sepintar apapun dia tapi kalau tidak dibarengi dengan agama yang kuat maka sombong, angkuh, egois akan tertanam dalam dirinya.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kesombongan adalah jurang kematian bagi mereka yang berilmu. Mengapa? Karena dengan kesombongan tiada arti ia memiliki ilmu. Pada hakikatnya ilmu yang kita miliki ini walaupun masih sedikit dapat berguna bagi orang lain, dapat bermanfaat untuk orang lain. Dengan ilmu yang dimiliki dapat dijadikan lahan ibadah mendekatkan diri kepada Sang Ilahi.

    ReplyDelete
  16. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki dimensinya sendiri. Tak lah hebat manusia yang memiliki dimensi tinggi untuk menyombongkan dirinya, karena pasti ada yang lebih tinggi dimensia darinya. Karena sombingnya itu dia menyikut manusia lain agar mereka berada di dimensi lebih bawahnya. Seyogyanya, dia haris berkompetisi dengan fair play untuk mencapai atau membuktikan keberadaan dimensinya atau menjadi pengada dan mengadakan dimensinya.

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Begawat dalam elegi tersebut identik dengan kepemimpinan dan kekuasaan. Dikarenakan kedudukan itu maka begawat memperoleh hak istimewa dan previlage yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Tetapi sebenar – benarnya ilmu adalah akau, maka hendaknya tidak boleh sombong, selalu ingat diri dan terus berdoa kepada Tuhan agar kedudukan yang dimiliki tidak membawa kehancuran bagi diri sendiri karena kebaikan atau keburukan kita orang lain yang menilai dan itu semua ditentukan dari tingkah laku kita dalam bermasyarakat dan bergaul dengan orang lain.

    ReplyDelete
  18. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Bagawat bisa diibaratkan sebagai sosok pemimpin suatu kelompok atau golongan tertentu di dalam masyarakat. Krisis yang melanda para bagawat dalam elegi ini cenderung ke arah krisis moral bahwa setiap bagawat menginginkan kekuasaan. Apapun akan dilakukan oleh setiap bagawat hanya untuk mendapatkan kekuasaan atau walaupun merugikan orang lain. Seperti yang dikisahkan dalam elegi ini, inilah yang terjadi di negara kita. Tentunya negara memiliki banyak bagawat yang tidak peduli dengan apa yang terjadi pada bawahannya karena yang paling penting bagi mereka adalah kekuasaan. Krisis moral yang melanda kita menunjukkan bahwa terjadi pula krisis iman dan takwa di negara ini. Keadaan yang sungguh memprihatinkan. Hendaklah kita selalu berdoa dan berserah diri kepada-Nya sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang buruk.

    ReplyDelete
  19. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Elegi di atas menggambarkan untuk segelintir pemimpin yang ada di dunia ini yang rela dan tega melakukan berbagai hal untuk kepentingan pribadinya bahkan membuat sengsara rakyatnya demi mencapai kepentingannya sendiri atau mempertahankan jabatannya. Seperti yang sekarang terjadi di Syriah, terlihat bahwa pemimpin negara yang tidak lagi disukai oleh rakyatnya karena melakukan pelanggaran-pelanggaran baik itu hukum, kemanusian bahkan agama rela menembaki rakyatnya sendiri untuk mempertahankan jabatannya. Maka dari sebenarnya jabatan pemimpin yang diamanahkan kepada kita hendaknya dipergunakan untuk menimbah amal yang sebanyak-banyaknya bukan malah menjerumuskan kita ke dalam lautan dosa.

    ReplyDelete
  20. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini, terjadi krisis moral yang sudah mulai merajalela di berbagai kehidupan. Elegi ini menyadarkan kita bahwa dalam dunia ini benar adanya segelintir orang atau para bagawat yang mulai tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan, apakah mendatangkan manfaat atau petaka bagi orang lain. Seakan-akan, tidak dapat lagi membedakan mana yang hak dan yang batil. Dikisahkan dalam elegi ini apa yang terjadi di negara kita. Para bagawat di negeri telah banyak melakukan tindakan yang memalukan seperti halnya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Bagawat tak peduli dengan apa yang terjadi pada bawahannya karena yang terpenting bagi mereka adalah kekuasaan dan uang. Yang dapat dilakukan untuk membentengi diri kita hanyalah dengan beriman dan bertaqwa kepadaNya.

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada saat ini masih banyak manusia yang terlena dengan perkembangan zaman yang ada. Mereka semua terlena dengan kesibukan mereka sendiri untuk menggapai kebahagian yang mereka dambakan, sampai – sampai mereka lupa dengan apa yang ada disekeliling mereka, bahkan kadang ada yang merasa tidak sadar bahwa mereka sedang merugi karena dimanfaatkan oleh orang lain. Oleh karena itu pada zaman sekarang memiliki ilmu yang kuat sebagai pegangan, serta senantiasa mengingat Tuhan YME

    ReplyDelete
  22. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saat ini krisis moral sudah terjadi dimana-mana tak terkecuali di Indonesia krisis moral mulai menggerogoti generasi penerus bangsa. Begitu pula para pemimpin bangsa ini yang sudah tidak mempunyai rasa malu terhadap sesama. Banyak para pemimpin yang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan golongannya sehingga pihak lain yang harus dirugikan. Seharusnya pemerintah memberikan tauladan yang baik kepada masyarakat unum terutama gerutama generasi penerus bangsa agar memiliki generasi yang memiliki karakter baik.

    ReplyDelete
  23. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Segala cara mereka halalkan demi mendapatkan kepuasan yang fana. Tidak peduli hal tersebut merugikan orang lain atau tidak yang penting “aku senang”. Inilah yang terjadi jika para begawat tersebut jika terlalu menuhankan ilmunya dan bersikap sombong terhadap sesama mereka. Niat yang tulus diawal berubah menjadi monster bringas yang siap memakan dan menghancurkan apa yang berada di sekitarnya. Jika ingin jadi begawat, maka perbaikilah niat dan bersikap tawahdu-lah. Jika harus bersaing, maka bersainglah secara sehat.

    ReplyDelete
  24. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal yang dapat saya tangkap dari elegi di atas adalah bahwa zaman selalu berubah seiring berjalannya waktu. Dewasa ini, dunia dikuasai oleh Powernow, di mana terdapat teknologi canggih dan kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, mau tidak mau kita mengikuti dan menjadi objek dari kekuasaan Powernow.

    ReplyDelete
  25. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada zaman power now ini kekuasaan adalah segalanya, elegi diatas menggambarkan bahwa untuk mempertahankan kekuasaan dilakukan dengan berbagai cara, tidak perduli cara itu baik atau buruk, ataupun merugikan orang lain. Bahkan amanah sebagai pemimpin pun terlupakan.

    ReplyDelete
  26. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Segala cara mereka halalkan demi mendapatkan kepuasan yang fana. Tidak peduli hal tersebut merugikan orang lain atau tidak yang penting “aku senang”. Inilah yang terjadi jika para begawat tersebut jika terlalu menuhankan ilmunya dan bersikap sombong terhadap sesama mereka. Niat yang tulus diawal berubah menjadi monster bringas yang siap memakan dan menghancurkan apa yang berada di sekitarnya. Jika ingin jadi begawat, maka perbaikilah niat dan bersikap tawahdu-lah. Jika harus bersaing, maka bersainglah secara sehat.

    ReplyDelete