Mar 8, 2011

Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat




Oleh: Marsigit

Transenden:
Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani. Wahai para Bagawat, mengingat semakin lama semakin banyak dan semakin dalam engkau para Bagawat mengalami krisis, maka saya bermaksud mengundang engkau semua dalam Konferensi Para Bagawat. Silahkan kenalkan dirimu, bicaralah dan sampaikan persoalan-persoalanmu.

Bagawat Archaic:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Archaic. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Archaic. Sebagai Bagawatnya kaum Archaic maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Tribal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tribal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tribal. Sebagai Bagawatnya kaum Tribal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Feudal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Feudal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Feudal. Sebagai Bagawatnya kaum Feudal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Feudal. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku. Namun ada satu hal yang membedakan antara aku dengan Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal, yaitu bahwa akulah yang menguasai mereka semua itu. Dalam rangka menguasai mereka beserta semua pengikutnya maka aku telah mengembangkan dan menciptakan persekongkolan bangsa. Tetapi persekongkolan-persekongkolan itu semua harus tunduk kepadaku. Maka aku adalah nilai kebenaran dan kebijaksanaan dari persekongkolan-persekongkolanku beserta pengikut-pengikutku. Ketahuilah bahwa persekongkolan utamaku adalah semua prajurit yang siap untuk menggilas dan menerjang semua kaum Archaic dan kaum Tribal.

Bagawat Tradisional:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tradisional. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tradisional. Sebagai Bagawatnya kaum Tradisional maka aku mempunyai sifat Tunggal Relatif, artinya aku berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Tunggal Relatifnya kaum Tradisional. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Tunggal relatifku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu.

Bagawat Modern:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Modern. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Modern. Sebagai Bagawatnya masyarakat Modern maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Modern. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Modern. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Modern selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Modern serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Modern. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Nilai-nilai kebajikanku adalah bagaimana sebesar-besar diriku mampu memberikan yang terbaik dari segenap jiwa ragaku dan pikiranku untuk masyarakatku walaupun kadang-kadang harus aku lakukan dengan berbagai macam cara, ee..maaf maksudku menghalalkan segala macam cara. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku, walaupun aku harus berusaha sendirian dan terkadang aku juga tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi. Tetapi itulah dilema yang terjadi bahwa aku selalu dituntut menghasilkan kebijaksanaanku yang terbaik oleh Penguasaku tetapi tidak disertai dengan fasilitas dan jejaring yang memadai.

Bagawat Powernow:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Powernow. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Powernow. Sebagai Bagawatnya masyarakat Powernow maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Powernow. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Powernow. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Powernow selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Powernow serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Powernow. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Jika Bagawat Modern berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi canggih dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Powernow Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku. Jika Bagawat Modern berusaha meraih sendirian dan terkadang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi, maka aku berusaha mengembangkan dan menciptakan Jejaring Transinternasional. Tetapi itulah kebagahiaanku bahwa yang terjadi adalah Penguasaku selalu memberikan semua fasilitas dan kebutuhan yang aku perlukan agar aku menghasilkan kebijaksanaan yang terbaik. Maka sebetul-betul kebijaksanaan terbaikku adalah kebijakkan sistem networkingku. Itulah ultima pencapaian peradaban manusia yaitu sekaligus sebagai perangkap bagi semua Bagawat dan pengikutnya yang berada di bawah levelku. Itulah sebenar-benar kemenanganku yaitu kekuatan Jejaring Transinternasionalku. Maka sebenar-benar penguasaanku atas dunia ini adalah Sistem Jejaring Transinternasionalku. Siapa yang berani menandingiku maka dia akan berhadapan dengan semua prajurit unjung-ujung syaraf Jejaring Internasionalku yang terdiri dari Neokapital, Neopragmatis, Neomaterialis, dan semua neo yang terangkum dalam Dajalku Blackhole-Diraja.

23 comments:

  1. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Mendengar kata 'kekuasaan atau power' dipikiran kita kadang adalah mampu (kuasa) melakukan apapun atas apa yang dimiliki. Namun, pengertian itu tidak bisa diberikan kepada pemimpin di negeri ini. Pada era sekarang, memilih pemimpin yang baik tidak hanya mampu menguasai apa yang dimiliki di negeri ini, tetapi juga mampu menguasai pikiran dan hati untuk dapat mengolah dengan bijak dan cermat terhadap sumber daya yang ada di negaranya. Karena Indonesia bukan berdiri atas pemerintahan monarki absolut, Indonesia berdiri dengan demokrasi, maka ada batas-batas kekuasaan untuk seorang pemimpin. Batas-batas tersebut adalah aturan atau undang-undang.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dunia terus berjalan, perkembangan peradaban manusia berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibat adanya perubahan-perubahan yang terjadi, permasalahan yang muncul dari waktu ke waktupun mengalami perubahan. Namun demikian, dunia pendidikan haruslah selalu menjadi ujung tombak dalam menyonsong perkembangan jaman yang semakin cepat ini dengan berbagai permasalahan yang dihadapi. Guru sebagai pendidik generasi muda yang akan ikut serta dalam memajukan jaman perlu dan harus mau menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Guru juga selayaknya terus meningkatkan kapasitas diri agar siswanya terus menjadi lebih baik lagi. Guru harus membulatkan tekat dan memperbaiki niat. Bukan semata-mata karena gaji atau pengakuan masyarakat, namun lebih karena keikhlasan dan ketulusan hati ingin mencerdaskan kejidupan bangsa dengan mengembangkan secara optimal potensi dari siswa siswainya. Namun dalam melakukannya, tentu guru harus selalu berpedoman pada aturan yang ada, bukan dengan menghalalkan segala cara sebagaimana yang disampaikan oleh para begawat di atas, baik aturan undang-undang maupun ataupun aturan Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Para begawat dari semua tingkatan peradaban kehidupan menampilkan diri masing-masing pada elegi ini. Tingkatan begawat ini yang paling rendah adalah begawat archaic dan yang paling tinggi adalah begawat powernow. Begawat dengan tingkatan lebih tinggi menguasai begawat dengan tingkatan di bawahnya. Sehingga penguasa tertinggi adalah begawat powernow. Namun, ada kesamaan di antara semua begawat ini yaitu keinginan untuk menguasai kaum di bawah kekuasaannya. Semakin tinggi tingkatan begawat semakin fleksibel cara yang digunakan dan semakin mengikuti era pada zaman saat ini. Semakin rendah tingkatan begawat maka semakin kaku cara menguasai kaum yang dikuasainya.

    ReplyDelete
  4. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Kekuasaan memang demikian menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikannya. Alih-alih dia menjadi pengendali kekuasaan, sering kali seorang penguasa menjadi budak kekuasaan. Kekuasaan yang sering mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan jahat dan kejam bukan dia lawan, malah dia turuti karena dianggap sebagai kesempatan. Tak heran kiranya jika kemudian tangannya menjadi tangan yang berlumuran darah dan air mata rakyatnya yang dizhalimi. Tangannya menjadi tangan diktator yang mengubur semua aspirasi. Nepotisme menjadi kaidah kekuasaannya, kolusi menjadi kamus pemerintahannya.. Penyimpangan menjadi menu sehari-harinya. Allah murka pada mereka, Allah marah pada mereka.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang sebenarnya merupakan sebuah ujian. Seorang begawat memiliki kuasa terhadap para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani. Maka kekuasaan merupakan tersebut merupakan ujian bagi para begawat. Pada elegi ini diceritakan bahwa seiring dengan perkembangan zaman semakin lama begawat semakin menjadi, jika dulu ada begawat archaic, tribal, tradhisional, modern, kini ada begawat powernow yang mempertahankan dirinya dengan citra baiknya walaupun tidak peduli bagaimana ia memperolehnya dan bahkan tidak hanya menggunakan teknologi seperti begawat modern tetapi juga menggunakan jejaring internasional. Sebagaimana yang kita lihat sekarang banyak pemimpin-pemimpin yang semakin menjadi, berupaya mempertahankan citra baiknya.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi ini menggambarkan berbagai karakteristik dari seorang penguasa atau pelaku kebijakan. Ada yang merasa paling berkuasa dan paling benar tanpa mau mendengar masukan dari yang lain. Semua yang diperintahkannya harus dituruti, semua pemikirannyalah yang paling sesuai, metodenyalah yang paling ampuh, standarnyalah yang harus digunakan, dsb. Ada juga yang berjuang mati-matian untuk mendapat pengakuan terbaik dari masyarakat, mendapat kekuatan lain dari pihak-pihak yang besar pengaruhnya di dunia, dsb. Namun, selain penguasa atau pelaku kebijakan yang bersifat demikian, tentu juga ada yang bersifat sebaliknya, yang terbuka dan sportif, serta ikhlas.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Semua ingin menjadi yang paling kuasa, semua ingin menjadi yang terkaya, semua ingin menjadi yang terpandai, inilah cermin dari kehidupan saat ini. Para penguasa negeri misalnya, telah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, tidak memandang apakah cara tersebut merugikan orang lain atau tidak. Banyak yang memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Semoga Negeri kita ini dijauhkan dari penguasa-penguasa yang seperti itu. Aamiin

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dunia terus berkembang, dan semua orang dari segalan budaya dan negara memiliki filosofinya sendiri. para begawat dalam elegi diatas menurut sepemahaman saya mewaliki filosofi hidup yang dipegang para generasi saat ini. Ada yang memiliki kekeuasaan seperti powernow, ada yang masih tradisioanl dan sebagainya.

    ReplyDelete
  9. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Begawat dalam elegi ini dapat diibaratkan sebagai para penguasa. Elegi ini menjelaskan bagaimana terjadinya krisis pada penguasa-penguasa yang ada pada zaman ini, terutama krisis kepemimpinan dan moral. Diceritakan bahwa penguasa-penguasa ini bersifat sombong dan merasa dirinyalah yang paling agung. Penguasa tak lagi sadar pada kewajibannya menjaga hak-hak yang berada dalam kuasanya, namun mereka terlalu serakah pada kekuasaaan yang lebih tinggi diantara penguasa lain.

    ReplyDelete
  10. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Bagawat yang dimaksud disini adalah setinggi-tingginya pengemban ilmu atau logos. Banyak bagawat dari berbagai tipe yang mengalami krisis. Krisis moral misalnya, banyak orang berdasi yang diidentikkan dengan pejabat yang melakukan korupsi. Padahal yang korupsi adalah orang berilmu, namun moralnya tidak sejalan dengan ilmu yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  11. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Perubahan zaman senantiasa diiringi juga dengan perubahan penguasa. Dahulu dalam dunia pengemban ilmu, begawat archaic merupakan penguasanya. Namun setelah itu berganti oleh begawat tribal, feudal dan seterusnya sampai kini dikuasai oleh begawat powernow. Begitulah perputaran roda kehidupan yang disertai juga dengan perubahan komponen-komponen di dalamnya, termasuk didalamnya adalah penguasa. Setiap penguasa tersebut mencoba untuk mempertahankan kekuasannya. Berlomba-lomba menancapkan pengaruhnya dan mempengaruhi komponen-komponen yang lain. Beginilah dunia menunjukkan pada kita, bahwa setiap masa akan senantiasa terjadi perebutan kekuasaan.

    ReplyDelete
  12. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini menggambarkan berbagai karakteristik dari seorang pemimpin atau pelaku kebijakan. Membaca kata kekuasaan atau power, saya terbersit bahwa penguasa adalah orang yang mampu melakukan apapun atas apa yang dimiliki. Namun, kita juga tidak bisa serta merta memberikan definisi tersebut kepada semua negara yang ada di dunia. Pada zaman kontemporer saat ini, memilih pemimpin yang baik tidak hanya mampu menguasai apa yang dimiliki di negeri ini, tetapi juga mampu menguasai pikiran dan hati untuk dapat mengolah dengan bijak dan cermat terhadap sumber daya yang dimiliki oleh negaranya. Sehingga sumber daya yang dimiliki tetap terus terjaga, bukan malah hilang diambil oleh negara lain.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  13. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dari elegi ini saya menangkap sisi lain dari krisis kehidupan sekarang ini dimana Pemimpin yang tidak sadar akan ruang dan waktu akan memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkan keinginan dan kebahagiaannya. Pemimpin terkadang untuk mempertahankan kekuasaannya ia melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan apa pun cara yang ditempuh. Sangat sulit mendapatkan pemimpin yang benar-benar dapat memegang amanat dari rakyat, yang terlihat sekarang ini adalah banyaknya pemimpin yang lupa dengan rakyatnya ketika ia memimpin, lupa bahwa ilmunya haruslah dimanfaatkan dengan baik dijalan yang baik bukan untuk kepentingan diri sendiri.
    Para bagawat dalam elegi ini terlihat sangat sombong, mereka menyombongkan ilmunya. Inilah contoh orang-orang yang paling membahayakan bagi dunia karena kesombongannya. Jadi seharusnya dengan ilmu yang kita miliki, kita dapat saling melengkapi satu sama lain untuk membangun dunia

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jika seseorang sudah memiliki kedudukan, pangkat, status social, maka akan timbul dalam hati yang namanya “jaim”, jaga image. Seseorang malah teralihkan perhatiannya bagaimana menjaga gelar yang didapat tersebut tidak hilang di mata masyarakat, daripada bertindah dan berlaku seperti sebagaimna mestinya.

    ReplyDelete

  15. Dalam elegi ini juga didapat pelajaran bahwa kbaikan dan kebijaksanaan sebenarnya didapat dari hubungan kita dengan lingkungan sekitar kita, tetangga kita, teman kita, dsb. Maka sebenar-benar tindakan adalah menjaga silaturahmi dengan orang orang terdekat.

    ReplyDelete
  16. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Para Begawat disini terdiri dari berbagai tingkatan. Tingkatan tertinggi dipegang oleh Powernow dan yang paling rendah adalah Archaic. Pada dasarnya begawat ini menginginkan kekuasaan atau menguasai yang ada dibawah kekuasaanya. Padahal kekuasaan ini adalah ujian. Jika begawat tidak mampu mempergunakan kekuasaannya sebaik mungkin dapat menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Jikalau kita menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang yang mampu mensejahterakan rakyat menempatkan diri sebagai pelayan rakyat. Mereka dipilih bukan untuk menguasai rakyat namun membantu rakyat untuk bersama-sama maju.

    ReplyDelete
  17. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas menggambarkan bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi seseorang. orang dapat menggunakan segala cara untuk mendapat kekuasaan karena dengan kekuasaan mereka dapat memerintah sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  18. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Krisis melanda di berbagai aspek kehidupan. Bahkan krisis terjadi di kalangan pengemban ilmu. Bukan lagi tentang memanfaatkan ilmu yang dicari tetapi sudah bergeser menjadi pencarian kekuasaan, pengakuan dari masyarakat, citra yang baik, dan lainnya. Ketika krisis sudah melanda, disinilah dibutuhkan peran dari orang-orang yang memiliki pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas untuk membenahi segala kekacauan yang terjadi. Selain itu hendaknya kita mampu membentengi diri dari pengaruh buruk yang terjadi dengan iman dan ilmu.

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menjadi seorang pemimpin tidak seharusnya memiliki fikiran bagaimana cara agar pemimpin tersebut tetap dapat dijadikan pemimpin oleh masyarakat yang dipimpinnya. Karena pada dasarnya anggapan seseorang terhadap diri kita sebagai pemimpin itu bukan dari apa yang kita inginkan, namun berdasarkan pada sikap kita selama menjadi pemimpin. Jika sikap kita selama menjadi pemimpin itu baik, maka kan memungkinkan kita diperlukan lagi untuk menjadi pemimpin ketika masa kepemimpinan kita itu telah usai.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  20. Dalam elegi di atas, para Bagawat menggambarkan para petinggi negara, saling menyombongkan kekuasaannya. Mereka lupa bahwa kekuasaan di dunia ini hanya sementara saja, dan kekuasaan yang diperolehnya itu adalah dari pengorbanan rakyat. Setelah menjadi penguasa kadang manusia lupa diri sehingga mengganggap dirinya yang paling pintar, paling penting, paling benar. Padahal yang sempurna di dunia ini tidak ada, kesempurnaan hanya milik Allah swt.
    Terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada kami.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    kepemimpinan sering kali dimaknai sebagai kekuasaan padahal pada dasarnya kepemimpinan bukanlah sekedar soal kekuasaan, akan tetapi juga soal pengarahan dan pelayanan. seorang pemimpin semstinya bisa melayani masyarakat yang dipimpinnya bukan yang memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan kelompok-kelompok yang mendukungnya, apalagi untuk kepentingan pribadinya.

    ReplyDelete
  22. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Kekuasaan yang dipegang seseorang merupakan suatu amanat yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang memang dipercaya untuk mengemban suatu amanat. Nah, hal ini bisa membuat orang tersebut lalai dengan amanat yang telah diberikan. Seakan para oknum penguasa itu tugasnya tidak lain dan tidak bukan hanya sebagai pengubur aspirasi masyarakat. Dari awal pun banyak permainan yang sudah digunakan akan mereka lancar maju sebagai penguasa. Semakin ke belakang, pasti ketagihan pun semakin menjadi.

    ReplyDelete
  23. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Pemimpin adalah seseorang yang diberi amanah untuk melindungi kepentingan anggotanya. Pemimpin tidak seharusnya memposisikan dirinya sebagai yang didahulukan dan diutamakan. Justru pemimpinlah yang harusnya mendahulukan kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya.

    ReplyDelete