Mar 8, 2011

Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat




Oleh: Marsigit

Transenden:
Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani. Wahai para Bagawat, mengingat semakin lama semakin banyak dan semakin dalam engkau para Bagawat mengalami krisis, maka saya bermaksud mengundang engkau semua dalam Konferensi Para Bagawat. Silahkan kenalkan dirimu, bicaralah dan sampaikan persoalan-persoalanmu.

Bagawat Archaic:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Archaic. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Archaic. Sebagai Bagawatnya kaum Archaic maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Tribal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tribal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tribal. Sebagai Bagawatnya kaum Tribal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Feudal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Feudal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Feudal. Sebagai Bagawatnya kaum Feudal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Feudal. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku. Namun ada satu hal yang membedakan antara aku dengan Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal, yaitu bahwa akulah yang menguasai mereka semua itu. Dalam rangka menguasai mereka beserta semua pengikutnya maka aku telah mengembangkan dan menciptakan persekongkolan bangsa. Tetapi persekongkolan-persekongkolan itu semua harus tunduk kepadaku. Maka aku adalah nilai kebenaran dan kebijaksanaan dari persekongkolan-persekongkolanku beserta pengikut-pengikutku. Ketahuilah bahwa persekongkolan utamaku adalah semua prajurit yang siap untuk menggilas dan menerjang semua kaum Archaic dan kaum Tribal.

Bagawat Tradisional:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tradisional. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tradisional. Sebagai Bagawatnya kaum Tradisional maka aku mempunyai sifat Tunggal Relatif, artinya aku berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Tunggal Relatifnya kaum Tradisional. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Tunggal relatifku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu.

Bagawat Modern:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Modern. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Modern. Sebagai Bagawatnya masyarakat Modern maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Modern. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Modern. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Modern selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Modern serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Modern. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Nilai-nilai kebajikanku adalah bagaimana sebesar-besar diriku mampu memberikan yang terbaik dari segenap jiwa ragaku dan pikiranku untuk masyarakatku walaupun kadang-kadang harus aku lakukan dengan berbagai macam cara, ee..maaf maksudku menghalalkan segala macam cara. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku, walaupun aku harus berusaha sendirian dan terkadang aku juga tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi. Tetapi itulah dilema yang terjadi bahwa aku selalu dituntut menghasilkan kebijaksanaanku yang terbaik oleh Penguasaku tetapi tidak disertai dengan fasilitas dan jejaring yang memadai.

Bagawat Powernow:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Powernow. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Powernow. Sebagai Bagawatnya masyarakat Powernow maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Powernow. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Powernow. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Powernow selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Powernow serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Powernow. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Jika Bagawat Modern berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi canggih dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Powernow Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku. Jika Bagawat Modern berusaha meraih sendirian dan terkadang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi, maka aku berusaha mengembangkan dan menciptakan Jejaring Transinternasional. Tetapi itulah kebagahiaanku bahwa yang terjadi adalah Penguasaku selalu memberikan semua fasilitas dan kebutuhan yang aku perlukan agar aku menghasilkan kebijaksanaan yang terbaik. Maka sebetul-betul kebijaksanaan terbaikku adalah kebijakkan sistem networkingku. Itulah ultima pencapaian peradaban manusia yaitu sekaligus sebagai perangkap bagi semua Bagawat dan pengikutnya yang berada di bawah levelku. Itulah sebenar-benar kemenanganku yaitu kekuatan Jejaring Transinternasionalku. Maka sebenar-benar penguasaanku atas dunia ini adalah Sistem Jejaring Transinternasionalku. Siapa yang berani menandingiku maka dia akan berhadapan dengan semua prajurit unjung-ujung syaraf Jejaring Internasionalku yang terdiri dari Neokapital, Neopragmatis, Neomaterialis, dan semua neo yang terangkum dalam Dajalku Blackhole-Diraja.

24 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada zaman power now ini kekuasaan adalah segalanya, elegi diatas menggambarkan bahwa untuk mempertahankan kekuasaan dilakukan dengan berbagai cara, tidak perduli cara itu baik atau buruk, ataupun merugikan orang lain. Bahkan amanah sebagai pemimpin pun terlupakan.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Segala cara mereka halalkan demi mendapatkan kepuasan yang fana. Tidak peduli hal tersebut merugikan orang lain atau tidak yang penting “aku senang”. Inilah yang terjadi jika para begawat tersebut jika terlalu menuhankan ilmunya dan bersikap sombong terhadap sesama mereka. Niat yang tulus diawal berubah menjadi monster bringas yang siap memakan dan menghancurkan apa yang berada di sekitarnya. Jika ingin jadi begawat, maka perbaikilah niat dan bersikap tawahdu-lah. Jika harus bersaing, maka bersainglah secara sehat.

    ReplyDelete
  3. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan tentang bagaimana begawat power noew berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kedudukan yang paling tinggi. Seorang pemimpin hendaknya tidak memiliki prinsip power now, karena begawat power now akan melakukan segala cara agar semua yang dibawahnya patuh, tunduk kepadanya. Segala teknologi yang berkembang saat ini adalah cara power now untuk menguasai dunia, menjadikan manusia tidak ingat dengan segala kewajiban, lupa akan keluarganya, hilang masa kecilnya, hanya kebahagiaan semu yang mereka dapatkan.

    ReplyDelete
  4. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Begitu banyaknya persoalan dari mulai krisis moral dan lingkungan, namun masih saja segelintir orang-orang yang tergila dengan kedudukan tertinggi. Jika kedudukan tertinggi yang dicapai tidak membuat orang-orang di sekitarnya sejahtera dan bermanfaat tentunya menjadi masalah tersendiri. Sebaik-baik orang yang berilmu setidaknya menebar manfaat bagi orang-orang sekitarnya. Mengemban suatu ilmu juga merupakan suatu amanah. Dengan berbagi pengetahuan yang diperoleh juga dapat menambah pengetahuan lainnya.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B 2017

    Rumit. Rumit sekali. Inginku berpendapat tapi rumit. Inginku berkata "aku setuju dengan elegi ini", jangan-jangan aku malah menyetujui prinsip-prinsip bagawat di atas. Ah rumit

    Tapi, yang saya sedikit lihat setelah membaca beberapa kali pada blog ini adalah bahwa sebenar-benarnya ilmu, sebenar-benarnya hidup adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hidup adalah menghidupi orang lain pula, tidak menutup kesempatan orang lain juga. Bismillah

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan ‘Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat’ bahwa jaman selalu berubah dari waktu-waktu. Di jaman sekarang ini dunia dikuasai oleh Powernow. Dimana terdapat teknologi canggih dan kemajuan masyarakat. Mau tidak mau kita mengikuti dan menjadi objek dari kekuasaan Powernow.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  7. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dalam menjalani hidup, haruslah bijaksana, kita tidak boleh terlena hanya untuk kepentingan pribadi, terlena dengan hawa nafsu sehingga mengesampingkan hal yang lain, termasuk amanah yang diberikan pada kita. Dalam setiap pekerjaan pasti ada saja godaan yang muncul yang akan mengganggu iman kita. Seorang pemimpin yang terlena, kemudian tidak memberikan kesempatan yang sama, maka akan merugikan bagi orang lain yang merupakan akibat dari krisis amanah yang terjadi.

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini mengungkapkan karakteristik para bagawat dalam struktur kehidupan kontemporer yang terdiri atas bagawat archaic, tribal, feodal, tradisional, modern, dan power now. Bagawat dalam elegi ini ialah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagawat dapat diartikan sebagai pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya atau bagi golongan tertentu di dalam masyarakat.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi di atas mendeskripsikan perkembangan Bagawat dari awal hingga sekarang yakni dimulai dari Bagawat archaic, tribal, feodal, tradisional, modern, sampai Bagawat power now. Sekarang, kita berada pada masa power now dimana semua sisi kehidupan tidak lepas dari teknologi dan pengaruh dari budaya-budaya luar. Oleh karena itu, hendaknya kita yang berada pada masa power now ini memliki tameng yang kuat untuk memilih teknologi dan budaya asing yang sesuai dengan pribadi bangsa.

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Saya sangat setuju dengan pendapat bowernow bahwa mereka membekali diri mereka dengan pengetahuan kekinian, seperti gadget, hp, laptop, iphone, dll. namun mereka tetap berusaha untuk memperoleh kebaikan dan kesuksesan melalui pengetahuan mereka. Mereka tidak menutup diri terhadap globalisasi, namun juga tidak tenggelam dalam arus hedonisme dan konsumtif.

    ReplyDelete
  11. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Ujian bagi seorang pemimpin adalah kekuasaannya. Sebagai begawat yang memimpin para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani kekuasaan merupakan ujian bagi para begawat. Seiring dengan perkembangan zaman semakin lama begawat semakin menjadi, jika dulu ada begawat archaic, tribal, tradhisional, modern, kini ada begawat powernow yang mempertahankan dirinya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana ia memperolehnya dan bahkan tidak hanya menggunakan teknologi seperti begawat modern tetapi juga menggunakan jejaring internasional. Karena itulah kita harus memperkuat tameng kita yaitu iman dan taqwa untuk menghadapi para prajurit begawat powernow yaitu Neokapital, Neopragmatis, Neomaterialis, dan semua neo yang terangkum dalam Dajalku Blackhole-Diraja

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Perkembangan dan persaingan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tak jarang kita mendengar krisis yang terjadi akibat perebutan kekuasaan. Padahal dalam menghadapi itu semua kita harus bersifat objektif. Kita harus menyadari bahwa selain diri kita masih terdapat banyak tak terhingga para individu lain dengan berbagai kemampuan. Pikiran, hati, maupun fisik kita tidak kuasa mencegah individu lain untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, hal yang hanya bisa kita lakukan adalah terus belajar dan belajar. Kita harus meningkatkan kemampuan untuk bertahan dalam dunia yang kian kompetitif.

    ReplyDelete
  13. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak postingannya. Pada elegi ini menceritakan bahwa semakin berkembangnya zaman, semakin banyak persaingan antar bangsa. Kita harus meningkatkan kemampuan untuk bertahan dalam dunia yang makin kompetitif. Sebagai penerus bangsa, kita harus menyikapi persaingan ini dengan memperbaiki kualitas diri. Sekian terimakasih.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Para bagawat yang digambarkan dalam elegi konferensi pertama para begawat memiliki sikap yang sangat sombong dan haus akan kekuasaan. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan kekuasaan atau apapun yang diinginkannya meskipun itu bertentangan dengan norma-norma dan peraturan serta merugikan orang lain. Krisis ini merujuk kepada krisis moral, krisis yang saat ini terjadi di negara kita. Banyaknya korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin mengindikasikan bahwa saat ini negara kita berada tidak hanya dalam krisis moral, melainkan krisis iman dan takwa. Hendaklah kita selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT agar dapat selalu dilindingi-Nya dan dapat melawan krisis-krisis ini.

    ReplyDelete
  15. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menurut saya mencoba mengkaji fenomena para bagawat yang mengalami krisis ruang dan waktu. Bagawat disini adalah seorang yang mendapatkan amanah dalam suatu profesi atau pekerjaan, dimana dala pekerjaannya mereka sudah banyak yang melenceng dari amanah sesungguhnya malah cenderung melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaan atau profesinya dengan upaya-upaya yang tidak sesuai dengan etika profesi.

    ReplyDelete
  16. Selain itu dalam elegi ini juga diceritakan bahwa semakin banyak bagawat yang terlena atas kekuasaanya , lalu tidak memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang-orang disekitarnya untuk memperoleh kesempatan yang sama dengannya sehingga posisinya menimbulkan kerugian bagi orang lain. Maka dari itu, dalam forum ini dikumpulkan lah para bagawat agar kita bisa sama-sama menganalisis penyebab utama krisis amanah dan kepercayaan dalam profesi yang dipercayakan pada para bagawat.

    ReplyDelete
  17. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sebagai seorang pemimpin, sifat amanah merupakan sifat yang harus dimiliki. Pada zaman powernow sekarang ini, dengan banyaknya jejaring transinternasional artinya untuk menguasai dunia sudah mulai membutakan para transenden. Semua sifat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi demi nama besar sendiri tanpa mau mengalah satu sama lain akan memunculkan kesombongan.

    ReplyDelete
  18. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Era globalisasi memang telah mengubah masyarakat tradisional menjadi masyarakata modern. Hal tersebut menyebabkan pengaruh dari luar mudah sekali masuk ke suatu negara. Apabila tidak disaring dan langsung diterima saja maka hal tersebut akan mengikis budaya suatu negara bahkan dapat menghilangkan identitas suatu negara tersebut. Oleh karena itu sebagai guru kita sebaiknya memberikan pengertian kepada siswa-siswa kita (karena siswa kita adalah penerus bangsa ini) bahwa selalu sigap dalam menyaring informasi yang diperoleh. Tidak boleh langsung percaya namun dicek kebenarannya. Hal ini juga mengajarkan iswa untuk berpikir kritis.

    ReplyDelete
  19. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita belajar bahwa di dalam masing-masing diri kita terdapatlah tingkat-tingkat keadaan yaitu mulai dari archaic, tribal, feudal, tradisional, modern, dan powernow. Beliau Bapak Marsigit pernah menanyakan dimanakah 6 hal ini bisa kita temui? Kita menemuinya bukan di zaman purba atau apa, tetapi ya di diri kita masing-masing. Kita berpotensi menjadi archaic jika merasa yang pertama tak mau kalah, kita bisa jadi tradisional jika mempertahankan citra dengan cara apapun tanpa mempertimbangkan baik atau buruknya. Kita berpotensi untuk menjadi modern dan bahkan powernow jika bersifat berkuasa dengan cara apapun dengan menggunakan teknologinya. Masing-masing dari 6 hal tersebut memiliki ciri dan karakteristiknya tersendiri yang itu tidak jauh-jauh karena ada dalam diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  20. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "...paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak..."
    Ini yang saya rasakan di masa powernow. Powernow memfasilitasi tiap orang untuk mengungkapkan pendapatnya di media sosial. Media sosial menjadi tempat terbuka di mana tiap pendapat berkeliaran tanpa batas dan kadang menjelma menjadi hoax atas perilaku para oknum yang jahat. Hal ini membuat banyak orang malas berkomentar karena bingung atau bahkan sudah lelah mengungkapkan pendapatnya yang tak pernah didengar. Sikap seperti ini yang harus dihindari. Tetap mengungkapkan pendapat yang membangun dapat membantu negeri kita menjadi lebih baik. Kritis bukanlah buruk, tetapi upaya untuk membangun negeri. Namun tentu tiap kritikan harus didasari fakta yang kuat.

    ReplyDelete
  21. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah terimakasih banyak Prof. Marsigit atas ulasan di atas. Dari konferensi pertama para bagawat di atas, kita semakin menyadari bahwa kualitas peradaban manusia saat ini dipertanyakan. Para penguasa, penagmbil kebijakan, wakil rakyat kini mereka merasa dirinya itu tunggal, tidak boleh dikalahkan siapapun, tidak mau digantikan siapapun, memaksakan kehendak, tidak menerima kritikan, saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Powernow serta berebut pengaruh kapada masyarakat. Mereka tidak sadar bahwa semua sifat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi demi nama besar sendiri tanpa mau mengalah satu sama lain akan memunculkan kesombongan dan kehancuran hidup mereka. Astaghfirullahl'adzim, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  22. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Pada elegi konferensi pertama para begawat ini berdasarkan pemahaman saya menceritakan tentang ilmuwan dari berbagai tingkatan dan dari berbagai daerah ilmuwan kaum archaic, tribal, feudal, tradisional, modern, sampai power now. Perbedaan-perbedaannya adalah bahwa begawat pada kaum archaic dan tribal bersifat tunggal, begawat feudal dengan melakukan persekongkolan,begawat tradisional dan modern dengan manipulasi-manipulasinya untuk mempertahankan citra baik pada dirinya serta begawat powernow dengan jejaring internasionalnya. Berdasarkan bacaan begawat yang menguasai dunia ini adalah begawat power now dengan jejaring internasionalnya. Jadi untuk dapat menguasai dunia hal yang diperlukan adalah memperluas jejaring internasional.

    ReplyDelete
  23. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Terima kasih Prof. Berdasarkan elegi konferensi pertama para begawat bahwa mereka memperkenalkan dan menjelaskan sifat dirinya masing-masing sebagai begawat archaic, Tribal, Faudal, Tradisional, Modern , dan power now. Atar begawat satu dan lainnya tidak bisa di benturkan karena mereka jaya pada ranahnya masing-masing yang perlu di fokuskan bahwa sekarang kita berada di zaman post post modern yang berhubungan dengan begawat power now dimana sains semakin berkembang pesat dan perkembangan itu tidak bisa kita hindari oleh karenanya perlu bekal untuk kita agar tidak terbawa pengaruh teknologi yang negative. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  24. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Elegi konferensi pertama para begawat ini adalah berbagai macam pemimpin yang jaya pada jamannya. Kekuasaaan yang dimiliki seorang pemimpin sangat menggoda dari segi aspek apapun. Awalnya hanya ingin menjalankan visi dan misi yang telah dirancang, tetapi karena terlena oleh segala hal yang dihadapinya, maka dia akan diperbudak oleh kekuasaan yang dimilikinya sendiri. Kekuasaan-kekuasaan yang mendorongnya untuk berbuat yang tidak baik atau menghalalkan segala cara. Inilah yang para pemimpin anggap sebagai kesempatan yang tidak akan datang dua kali, kesempatan yang penuh dengan ketidak baikan. Maka, jadilah pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktunya, supaya masyarakat di jamannya merasa tenang dan damai, serta tidak merugikan siapapun.

    ReplyDelete