Mar 8, 2011

Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat




Oleh: Marsigit

Transenden:
Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani. Wahai para Bagawat, mengingat semakin lama semakin banyak dan semakin dalam engkau para Bagawat mengalami krisis, maka saya bermaksud mengundang engkau semua dalam Konferensi Para Bagawat. Silahkan kenalkan dirimu, bicaralah dan sampaikan persoalan-persoalanmu.

Bagawat Archaic:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Archaic. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Archaic. Sebagai Bagawatnya kaum Archaic maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Tribal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tribal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tribal. Sebagai Bagawatnya kaum Tribal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Archaic. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku.

Bagawat Feudal:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Feudal. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Feudal. Sebagai Bagawatnya kaum Feudal maka aku mempunyai sifat tunggal, artinya tiadalah boleh ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka aku akan terapkan hukuman terberat kepadanya. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Feudal. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Tiadalah hidup dan mati kaumku itu tidak seijin denganku. Namun ada satu hal yang membedakan antara aku dengan Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal, yaitu bahwa akulah yang menguasai mereka semua itu. Dalam rangka menguasai mereka beserta semua pengikutnya maka aku telah mengembangkan dan menciptakan persekongkolan bangsa. Tetapi persekongkolan-persekongkolan itu semua harus tunduk kepadaku. Maka aku adalah nilai kebenaran dan kebijaksanaan dari persekongkolan-persekongkolanku beserta pengikut-pengikutku. Ketahuilah bahwa persekongkolan utamaku adalah semua prajurit yang siap untuk menggilas dan menerjang semua kaum Archaic dan kaum Tribal.

Bagawat Tradisional:
Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Tradisional. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum Tradisional. Sebagai Bagawatnya kaum Tradisional maka aku mempunyai sifat Tunggal Relatif, artinya aku berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai ada Bagawat selain diriku yang setara dengan diriku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya kaum Tunggal Relatifnya kaum Tradisional. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya kaumku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Tunggal relatifku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu.

Bagawat Modern:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Modern. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Modern. Sebagai Bagawatnya masyarakat Modern maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Modern. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Modern. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Modern selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Modern serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Modern. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Nilai-nilai kebajikanku adalah bagaimana sebesar-besar diriku mampu memberikan yang terbaik dari segenap jiwa ragaku dan pikiranku untuk masyarakatku walaupun kadang-kadang harus aku lakukan dengan berbagai macam cara, ee..maaf maksudku menghalalkan segala macam cara. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku, walaupun aku harus berusaha sendirian dan terkadang aku juga tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi. Tetapi itulah dilema yang terjadi bahwa aku selalu dituntut menghasilkan kebijaksanaanku yang terbaik oleh Penguasaku tetapi tidak disertai dengan fasilitas dan jejaring yang memadai.

Bagawat Powernow:

Wahai hadirin semua, kenalkan aku adalah Bagawat Powernow. Aku inilah pembawa amanah dan pemelihara ilmunya kaum masyarakat Powernow. Sebagai Bagawatnya masyarakat Powernow maka aku mempunyai sifat Jamak, artinya aku menyadari bahwa selain diriku masih terdapat banyak tak terhingga para Bagawat Powernow. Maka aku berusaha sekuat tenaga memperoleh kedudukanku melalui berbagai seleksi dan persaingan ketat antara Calon Bagawat Powernow. Tiadalah ada kuasa diriku baik pikiranku, hatiku apalagi fisikku untuk mencegah para Bagawat Powernow selain diriku untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dari diriku. Maka aku dan mereka hanya bisa saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Powernow serta berebut pengaruh kapada masyarakatku. Jika ada yang coba-coba menandingiku maka, walaupun aku tidak kuasa untuk memaksakan kehendakku, aku berusaha sekuat tenaga dan kalau perlu dengan berbagai manipulasiku agar para Bagawat-Bagawat selain diriku selalu berada pada level di bawahku. Maka kegiatan pokok selama hidupku adalah bagaimana aku mempertahankan kedudukanku sebagai seorang Bagawatnya masyarakat Powernow. Dikarenakan kedudukanku itulah aku memperoleh hak istimewa atau previlage antara lain: aku selalu utama, aku selalu pertama, aku selalu yang paling, aku selalu yang terbaik, aku selalu yang terdepan. Aku adalah ilmuku sekaligus ilmunya masyarakatku, aku adalah kebenarannya, aku adalah kebijakannya, aku adalah pedomannya, aku adalah panutannya, aku adalah hidupnya. Sayangnya aku tidak dapat menentukan hidup dan matinya kaumku. Jika Bagawat Archaic dan Bagawat Tribal hanya bersifat tunggal dan dapat mempertahanan kedudukannya dengan semua cara termasuk ilmu, pikiran, hati dan fisiknya, maka aku hanya dapat mempertahankan kedudukan Jamakku dengan hanya ilmuku saja. Jika Bagawat Feudal mempertahankan kekuasaannya dengan membentuk persekongkolan-persekongkolan, maka aku hanya bisa mempertahankan diriku dengan Citra Baikku walaupun tidak peduli bagaimana aku dapat memperoleh Citra Baikku itu. Jika Bagawat Tradisional berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Jika Bagawat Modern berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana dia dapat memperoleh Citra Baiknya itu, maka akupun demikian. Tetapi yang membedakan aku dengan mereka semua adalah bahwa aku telah membekali diriku dengan segenap teknologi canggih dan kemajuan masyarakatku. Aku gunakan komputer, internet, telphon, HP dst untuk mempertahankan kekuasaanku. Jika aku telah mendapat pengakuan oleh masyarakat dan bangsaku bahwa aku adalah Bagawat Powernow Utama maka datang dan mengalirlah hak istimewa itu kepadaku antara lain gaji yang tinggi. Tetapi gaji yang tinggi bukan satu-satunya yang membahagiakan diriku. Pengakuan masyarakat akan kebijaksanaanku itulah yang paling penting buat diriku. Jika Bagawat Modern berusaha meraih sendirian dan terkadang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi, maka aku berusaha mengembangkan dan menciptakan Jejaring Transinternasional. Tetapi itulah kebagahiaanku bahwa yang terjadi adalah Penguasaku selalu memberikan semua fasilitas dan kebutuhan yang aku perlukan agar aku menghasilkan kebijaksanaan yang terbaik. Maka sebetul-betul kebijaksanaan terbaikku adalah kebijakkan sistem networkingku. Itulah ultima pencapaian peradaban manusia yaitu sekaligus sebagai perangkap bagi semua Bagawat dan pengikutnya yang berada di bawah levelku. Itulah sebenar-benar kemenanganku yaitu kekuatan Jejaring Transinternasionalku. Maka sebenar-benar penguasaanku atas dunia ini adalah Sistem Jejaring Transinternasionalku. Siapa yang berani menandingiku maka dia akan berhadapan dengan semua prajurit unjung-ujung syaraf Jejaring Internasionalku yang terdiri dari Neokapital, Neopragmatis, Neomaterialis, dan semua neo yang terangkum dalam Dajalku Blackhole-Diraja.

58 comments:

  1. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas_D 2016

    Jika faktor agama sudah lepas dari seseorang itu, maka tunggulah kehacuran. Sehebat apapun manusia, sepintar apapun dia tapi kalau tidak dibarengi dengan agama yang kuat maka sombong, angkuh, egois akan tertanam dalam dirinya.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kesombongan adalah jurang kematian bagi mereka yang berilmu. Mengapa? Karena dengan kesombongan tiada arti ia memiliki ilmu. Pada hakikatnya ilmu yang kita miliki ini walaupun masih sedikit dapat berguna bagi orang lain, dapat bermanfaat untuk orang lain. Dengan ilmu yang dimiliki dapat dijadikan lahan ibadah mendekatkan diri kepada Sang Ilahi.

    ReplyDelete
  3. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki dimensinya sendiri. Tak lah hebat manusia yang memiliki dimensi tinggi untuk menyombongkan dirinya, karena pasti ada yang lebih tinggi dimensia darinya. Karena sombingnya itu dia menyikut manusia lain agar mereka berada di dimensi lebih bawahnya. Seyogyanya, dia haris berkompetisi dengan fair play untuk mencapai atau membuktikan keberadaan dimensinya atau menjadi pengada dan mengadakan dimensinya.

    ReplyDelete
  4. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Begawat dalam elegi tersebut identik dengan kepemimpinan dan kekuasaan. Dikarenakan kedudukan itu maka begawat memperoleh hak istimewa dan previlage yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Tetapi sebenar – benarnya ilmu adalah akau, maka hendaknya tidak boleh sombong, selalu ingat diri dan terus berdoa kepada Tuhan agar kedudukan yang dimiliki tidak membawa kehancuran bagi diri sendiri karena kebaikan atau keburukan kita orang lain yang menilai dan itu semua ditentukan dari tingkah laku kita dalam bermasyarakat dan bergaul dengan orang lain.

    ReplyDelete
  5. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Bagawat bisa diibaratkan sebagai sosok pemimpin suatu kelompok atau golongan tertentu di dalam masyarakat. Krisis yang melanda para bagawat dalam elegi ini cenderung ke arah krisis moral bahwa setiap bagawat menginginkan kekuasaan. Apapun akan dilakukan oleh setiap bagawat hanya untuk mendapatkan kekuasaan atau walaupun merugikan orang lain. Seperti yang dikisahkan dalam elegi ini, inilah yang terjadi di negara kita. Tentunya negara memiliki banyak bagawat yang tidak peduli dengan apa yang terjadi pada bawahannya karena yang paling penting bagi mereka adalah kekuasaan. Krisis moral yang melanda kita menunjukkan bahwa terjadi pula krisis iman dan takwa di negara ini. Keadaan yang sungguh memprihatinkan. Hendaklah kita selalu berdoa dan berserah diri kepada-Nya sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang buruk.

    ReplyDelete
  6. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Elegi di atas menggambarkan untuk segelintir pemimpin yang ada di dunia ini yang rela dan tega melakukan berbagai hal untuk kepentingan pribadinya bahkan membuat sengsara rakyatnya demi mencapai kepentingannya sendiri atau mempertahankan jabatannya. Seperti yang sekarang terjadi di Syriah, terlihat bahwa pemimpin negara yang tidak lagi disukai oleh rakyatnya karena melakukan pelanggaran-pelanggaran baik itu hukum, kemanusian bahkan agama rela menembaki rakyatnya sendiri untuk mempertahankan jabatannya. Maka dari sebenarnya jabatan pemimpin yang diamanahkan kepada kita hendaknya dipergunakan untuk menimbah amal yang sebanyak-banyaknya bukan malah menjerumuskan kita ke dalam lautan dosa.

    ReplyDelete
  7. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini, terjadi krisis moral yang sudah mulai merajalela di berbagai kehidupan. Elegi ini menyadarkan kita bahwa dalam dunia ini benar adanya segelintir orang atau para bagawat yang mulai tidak memperdulikan apa yang mereka lakukan, apakah mendatangkan manfaat atau petaka bagi orang lain. Seakan-akan, tidak dapat lagi membedakan mana yang hak dan yang batil. Dikisahkan dalam elegi ini apa yang terjadi di negara kita. Para bagawat di negeri telah banyak melakukan tindakan yang memalukan seperti halnya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Bagawat tak peduli dengan apa yang terjadi pada bawahannya karena yang terpenting bagi mereka adalah kekuasaan dan uang. Yang dapat dilakukan untuk membentengi diri kita hanyalah dengan beriman dan bertaqwa kepadaNya.

    ReplyDelete
  8. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada zaman power now ini kekuasaan adalah segalanya, elegi diatas menggambarkan bahwa untuk mempertahankan kekuasaan dilakukan dengan berbagai cara, tidak perduli cara itu baik atau buruk, ataupun merugikan orang lain. Bahkan amanah sebagai pemimpin pun terlupakan.

    ReplyDelete
  9. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Segala cara mereka halalkan demi mendapatkan kepuasan yang fana. Tidak peduli hal tersebut merugikan orang lain atau tidak yang penting “aku senang”. Inilah yang terjadi jika para begawat tersebut jika terlalu menuhankan ilmunya dan bersikap sombong terhadap sesama mereka. Niat yang tulus diawal berubah menjadi monster bringas yang siap memakan dan menghancurkan apa yang berada di sekitarnya. Jika ingin jadi begawat, maka perbaikilah niat dan bersikap tawahdu-lah. Jika harus bersaing, maka bersainglah secara sehat.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan tentang bagaimana begawat power noew berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kedudukan yang paling tinggi. Seorang pemimpin hendaknya tidak memiliki prinsip power now, karena begawat power now akan melakukan segala cara agar semua yang dibawahnya patuh, tunduk kepadanya. Segala teknologi yang berkembang saat ini adalah cara power now untuk menguasai dunia, menjadikan manusia tidak ingat dengan segala kewajiban, lupa akan keluarganya, hilang masa kecilnya, hanya kebahagiaan semu yang mereka dapatkan.

    ReplyDelete
  11. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Begitu banyaknya persoalan dari mulai krisis moral dan lingkungan, namun masih saja segelintir orang-orang yang tergila dengan kedudukan tertinggi. Jika kedudukan tertinggi yang dicapai tidak membuat orang-orang di sekitarnya sejahtera dan bermanfaat tentunya menjadi masalah tersendiri. Sebaik-baik orang yang berilmu setidaknya menebar manfaat bagi orang-orang sekitarnya. Mengemban suatu ilmu juga merupakan suatu amanah. Dengan berbagi pengetahuan yang diperoleh juga dapat menambah pengetahuan lainnya.

    ReplyDelete
  12. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B 2017

    Rumit. Rumit sekali. Inginku berpendapat tapi rumit. Inginku berkata "aku setuju dengan elegi ini", jangan-jangan aku malah menyetujui prinsip-prinsip bagawat di atas. Ah rumit

    Tapi, yang saya sedikit lihat setelah membaca beberapa kali pada blog ini adalah bahwa sebenar-benarnya ilmu, sebenar-benarnya hidup adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hidup adalah menghidupi orang lain pula, tidak menutup kesempatan orang lain juga. Bismillah

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan ‘Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat’ bahwa jaman selalu berubah dari waktu-waktu. Di jaman sekarang ini dunia dikuasai oleh Powernow. Dimana terdapat teknologi canggih dan kemajuan masyarakat. Mau tidak mau kita mengikuti dan menjadi objek dari kekuasaan Powernow.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  14. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dalam menjalani hidup, haruslah bijaksana, kita tidak boleh terlena hanya untuk kepentingan pribadi, terlena dengan hawa nafsu sehingga mengesampingkan hal yang lain, termasuk amanah yang diberikan pada kita. Dalam setiap pekerjaan pasti ada saja godaan yang muncul yang akan mengganggu iman kita. Seorang pemimpin yang terlena, kemudian tidak memberikan kesempatan yang sama, maka akan merugikan bagi orang lain yang merupakan akibat dari krisis amanah yang terjadi.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini mengungkapkan karakteristik para bagawat dalam struktur kehidupan kontemporer yang terdiri atas bagawat archaic, tribal, feodal, tradisional, modern, dan power now. Bagawat dalam elegi ini ialah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagawat dapat diartikan sebagai pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya atau bagi golongan tertentu di dalam masyarakat.

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi di atas mendeskripsikan perkembangan Bagawat dari awal hingga sekarang yakni dimulai dari Bagawat archaic, tribal, feodal, tradisional, modern, sampai Bagawat power now. Sekarang, kita berada pada masa power now dimana semua sisi kehidupan tidak lepas dari teknologi dan pengaruh dari budaya-budaya luar. Oleh karena itu, hendaknya kita yang berada pada masa power now ini memliki tameng yang kuat untuk memilih teknologi dan budaya asing yang sesuai dengan pribadi bangsa.

    ReplyDelete
  17. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Saya sangat setuju dengan pendapat bowernow bahwa mereka membekali diri mereka dengan pengetahuan kekinian, seperti gadget, hp, laptop, iphone, dll. namun mereka tetap berusaha untuk memperoleh kebaikan dan kesuksesan melalui pengetahuan mereka. Mereka tidak menutup diri terhadap globalisasi, namun juga tidak tenggelam dalam arus hedonisme dan konsumtif.

    ReplyDelete
  18. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Ujian bagi seorang pemimpin adalah kekuasaannya. Sebagai begawat yang memimpin para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani kekuasaan merupakan ujian bagi para begawat. Seiring dengan perkembangan zaman semakin lama begawat semakin menjadi, jika dulu ada begawat archaic, tribal, tradhisional, modern, kini ada begawat powernow yang mempertahankan dirinya dengan Citra Baiknya walaupun tidak peduli bagaimana ia memperolehnya dan bahkan tidak hanya menggunakan teknologi seperti begawat modern tetapi juga menggunakan jejaring internasional. Karena itulah kita harus memperkuat tameng kita yaitu iman dan taqwa untuk menghadapi para prajurit begawat powernow yaitu Neokapital, Neopragmatis, Neomaterialis, dan semua neo yang terangkum dalam Dajalku Blackhole-Diraja

    ReplyDelete
  19. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Perkembangan dan persaingan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tak jarang kita mendengar krisis yang terjadi akibat perebutan kekuasaan. Padahal dalam menghadapi itu semua kita harus bersifat objektif. Kita harus menyadari bahwa selain diri kita masih terdapat banyak tak terhingga para individu lain dengan berbagai kemampuan. Pikiran, hati, maupun fisik kita tidak kuasa mencegah individu lain untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, hal yang hanya bisa kita lakukan adalah terus belajar dan belajar. Kita harus meningkatkan kemampuan untuk bertahan dalam dunia yang kian kompetitif.

    ReplyDelete
  20. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak postingannya. Pada elegi ini menceritakan bahwa semakin berkembangnya zaman, semakin banyak persaingan antar bangsa. Kita harus meningkatkan kemampuan untuk bertahan dalam dunia yang makin kompetitif. Sebagai penerus bangsa, kita harus menyikapi persaingan ini dengan memperbaiki kualitas diri. Sekian terimakasih.

    ReplyDelete
  21. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Para bagawat yang digambarkan dalam elegi konferensi pertama para begawat memiliki sikap yang sangat sombong dan haus akan kekuasaan. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan kekuasaan atau apapun yang diinginkannya meskipun itu bertentangan dengan norma-norma dan peraturan serta merugikan orang lain. Krisis ini merujuk kepada krisis moral, krisis yang saat ini terjadi di negara kita. Banyaknya korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin mengindikasikan bahwa saat ini negara kita berada tidak hanya dalam krisis moral, melainkan krisis iman dan takwa. Hendaklah kita selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT agar dapat selalu dilindingi-Nya dan dapat melawan krisis-krisis ini.

    ReplyDelete
  22. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini menurut saya mencoba mengkaji fenomena para bagawat yang mengalami krisis ruang dan waktu. Bagawat disini adalah seorang yang mendapatkan amanah dalam suatu profesi atau pekerjaan, dimana dala pekerjaannya mereka sudah banyak yang melenceng dari amanah sesungguhnya malah cenderung melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaan atau profesinya dengan upaya-upaya yang tidak sesuai dengan etika profesi.

    ReplyDelete
  23. Selain itu dalam elegi ini juga diceritakan bahwa semakin banyak bagawat yang terlena atas kekuasaanya , lalu tidak memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang-orang disekitarnya untuk memperoleh kesempatan yang sama dengannya sehingga posisinya menimbulkan kerugian bagi orang lain. Maka dari itu, dalam forum ini dikumpulkan lah para bagawat agar kita bisa sama-sama menganalisis penyebab utama krisis amanah dan kepercayaan dalam profesi yang dipercayakan pada para bagawat.

    ReplyDelete
  24. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sebagai seorang pemimpin, sifat amanah merupakan sifat yang harus dimiliki. Pada zaman powernow sekarang ini, dengan banyaknya jejaring transinternasional artinya untuk menguasai dunia sudah mulai membutakan para transenden. Semua sifat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi demi nama besar sendiri tanpa mau mengalah satu sama lain akan memunculkan kesombongan.

    ReplyDelete
  25. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Era globalisasi memang telah mengubah masyarakat tradisional menjadi masyarakata modern. Hal tersebut menyebabkan pengaruh dari luar mudah sekali masuk ke suatu negara. Apabila tidak disaring dan langsung diterima saja maka hal tersebut akan mengikis budaya suatu negara bahkan dapat menghilangkan identitas suatu negara tersebut. Oleh karena itu sebagai guru kita sebaiknya memberikan pengertian kepada siswa-siswa kita (karena siswa kita adalah penerus bangsa ini) bahwa selalu sigap dalam menyaring informasi yang diperoleh. Tidak boleh langsung percaya namun dicek kebenarannya. Hal ini juga mengajarkan iswa untuk berpikir kritis.

    ReplyDelete
  26. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita belajar bahwa di dalam masing-masing diri kita terdapatlah tingkat-tingkat keadaan yaitu mulai dari archaic, tribal, feudal, tradisional, modern, dan powernow. Beliau Bapak Marsigit pernah menanyakan dimanakah 6 hal ini bisa kita temui? Kita menemuinya bukan di zaman purba atau apa, tetapi ya di diri kita masing-masing. Kita berpotensi menjadi archaic jika merasa yang pertama tak mau kalah, kita bisa jadi tradisional jika mempertahankan citra dengan cara apapun tanpa mempertimbangkan baik atau buruknya. Kita berpotensi untuk menjadi modern dan bahkan powernow jika bersifat berkuasa dengan cara apapun dengan menggunakan teknologinya. Masing-masing dari 6 hal tersebut memiliki ciri dan karakteristiknya tersendiri yang itu tidak jauh-jauh karena ada dalam diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  27. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "...paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak..."
    Ini yang saya rasakan di masa powernow. Powernow memfasilitasi tiap orang untuk mengungkapkan pendapatnya di media sosial. Media sosial menjadi tempat terbuka di mana tiap pendapat berkeliaran tanpa batas dan kadang menjelma menjadi hoax atas perilaku para oknum yang jahat. Hal ini membuat banyak orang malas berkomentar karena bingung atau bahkan sudah lelah mengungkapkan pendapatnya yang tak pernah didengar. Sikap seperti ini yang harus dihindari. Tetap mengungkapkan pendapat yang membangun dapat membantu negeri kita menjadi lebih baik. Kritis bukanlah buruk, tetapi upaya untuk membangun negeri. Namun tentu tiap kritikan harus didasari fakta yang kuat.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah terimakasih banyak Prof. Marsigit atas ulasan di atas. Dari konferensi pertama para bagawat di atas, kita semakin menyadari bahwa kualitas peradaban manusia saat ini dipertanyakan. Para penguasa, penagmbil kebijakan, wakil rakyat kini mereka merasa dirinya itu tunggal, tidak boleh dikalahkan siapapun, tidak mau digantikan siapapun, memaksakan kehendak, tidak menerima kritikan, saling berlomba merebut pengakuan dari Sang Penguasa masyarakat Powernow serta berebut pengaruh kapada masyarakat. Mereka tidak sadar bahwa semua sifat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi demi nama besar sendiri tanpa mau mengalah satu sama lain akan memunculkan kesombongan dan kehancuran hidup mereka. Astaghfirullahl'adzim, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  29. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Pada elegi konferensi pertama para begawat ini berdasarkan pemahaman saya menceritakan tentang ilmuwan dari berbagai tingkatan dan dari berbagai daerah ilmuwan kaum archaic, tribal, feudal, tradisional, modern, sampai power now. Perbedaan-perbedaannya adalah bahwa begawat pada kaum archaic dan tribal bersifat tunggal, begawat feudal dengan melakukan persekongkolan,begawat tradisional dan modern dengan manipulasi-manipulasinya untuk mempertahankan citra baik pada dirinya serta begawat powernow dengan jejaring internasionalnya. Berdasarkan bacaan begawat yang menguasai dunia ini adalah begawat power now dengan jejaring internasionalnya. Jadi untuk dapat menguasai dunia hal yang diperlukan adalah memperluas jejaring internasional.

    ReplyDelete
  30. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Terima kasih Prof. Berdasarkan elegi konferensi pertama para begawat bahwa mereka memperkenalkan dan menjelaskan sifat dirinya masing-masing sebagai begawat archaic, Tribal, Faudal, Tradisional, Modern , dan power now. Atar begawat satu dan lainnya tidak bisa di benturkan karena mereka jaya pada ranahnya masing-masing yang perlu di fokuskan bahwa sekarang kita berada di zaman post post modern yang berhubungan dengan begawat power now dimana sains semakin berkembang pesat dan perkembangan itu tidak bisa kita hindari oleh karenanya perlu bekal untuk kita agar tidak terbawa pengaruh teknologi yang negative. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Elegi konferensi pertama para begawat ini adalah berbagai macam pemimpin yang jaya pada jamannya. Kekuasaaan yang dimiliki seorang pemimpin sangat menggoda dari segi aspek apapun. Awalnya hanya ingin menjalankan visi dan misi yang telah dirancang, tetapi karena terlena oleh segala hal yang dihadapinya, maka dia akan diperbudak oleh kekuasaan yang dimilikinya sendiri. Kekuasaan-kekuasaan yang mendorongnya untuk berbuat yang tidak baik atau menghalalkan segala cara. Inilah yang para pemimpin anggap sebagai kesempatan yang tidak akan datang dua kali, kesempatan yang penuh dengan ketidak baikan. Maka, jadilah pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktunya, supaya masyarakat di jamannya merasa tenang dan damai, serta tidak merugikan siapapun.

    ReplyDelete
  32. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Para bagawat adalah yang terdepan dalam ilmu dan pengetahuan, para bagawat berbeda-beda dari masa-kemasa. Setiap zamannya para bagawat memiliki karakteristiknya masing-masing. Para bagawat ingin menjadi yang teratas, dan melakukan berbagai caa untuk itu, terganung dari zamannya, dari zaman archaic hingga powernow, dari zaman kekerasan fisik, hingga zaman manipulasi pikiran.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  33. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Mendengar kata 'kekuasaan atau power' dipikiran kita kadang adalah mampu (kuasa) melakukan apapun atas apa yang dimiliki. Namun, pengertian itu tidak bisa diberikan kepada pemimpin di negeri ini. Pada era sekarang, memilih pemimpin yang baik tidak hanya mampu menguasai apa yang dimiliki di negeri ini, tetapi juga mampu menguasai pikiran dan hati untuk dapat mengolah dengan bijak dan cermat terhadap sumber daya yang ada di negaranya. Karena Indonesia bukan berdiri atas pemerintahan monarki absolut, Indonesia berdiri dengan demokrasi, maka ada batas-batas kekuasaan untuk seorang pemimpin. Batas-batas tersebut adalah aturan atau undang-undang.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dunia terus berjalan, perkembangan peradaban manusia berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibat adanya perubahan-perubahan yang terjadi, permasalahan yang muncul dari waktu ke waktupun mengalami perubahan. Namun demikian, dunia pendidikan haruslah selalu menjadi ujung tombak dalam menyonsong perkembangan jaman yang semakin cepat ini dengan berbagai permasalahan yang dihadapi. Guru sebagai pendidik generasi muda yang akan ikut serta dalam memajukan jaman perlu dan harus mau menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Guru juga selayaknya terus meningkatkan kapasitas diri agar siswanya terus menjadi lebih baik lagi. Guru harus membulatkan tekat dan memperbaiki niat. Bukan semata-mata karena gaji atau pengakuan masyarakat, namun lebih karena keikhlasan dan ketulusan hati ingin mencerdaskan kejidupan bangsa dengan mengembangkan secara optimal potensi dari siswa siswainya. Namun dalam melakukannya, tentu guru harus selalu berpedoman pada aturan yang ada, bukan dengan menghalalkan segala cara sebagaimana yang disampaikan oleh para begawat di atas, baik aturan undang-undang maupun ataupun aturan Tuhan.

    ReplyDelete
  35. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Para begawat dari semua tingkatan peradaban kehidupan menampilkan diri masing-masing pada elegi ini. Tingkatan begawat ini yang paling rendah adalah begawat archaic dan yang paling tinggi adalah begawat powernow. Begawat dengan tingkatan lebih tinggi menguasai begawat dengan tingkatan di bawahnya. Sehingga penguasa tertinggi adalah begawat powernow. Namun, ada kesamaan di antara semua begawat ini yaitu keinginan untuk menguasai kaum di bawah kekuasaannya. Semakin tinggi tingkatan begawat semakin fleksibel cara yang digunakan dan semakin mengikuti era pada zaman saat ini. Semakin rendah tingkatan begawat maka semakin kaku cara menguasai kaum yang dikuasainya.

    ReplyDelete
  36. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Kekuasaan memang demikian menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikannya. Alih-alih dia menjadi pengendali kekuasaan, sering kali seorang penguasa menjadi budak kekuasaan. Kekuasaan yang sering mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan jahat dan kejam bukan dia lawan, malah dia turuti karena dianggap sebagai kesempatan. Tak heran kiranya jika kemudian tangannya menjadi tangan yang berlumuran darah dan air mata rakyatnya yang dizhalimi. Tangannya menjadi tangan diktator yang mengubur semua aspirasi. Nepotisme menjadi kaidah kekuasaannya, kolusi menjadi kamus pemerintahannya.. Penyimpangan menjadi menu sehari-harinya. Allah murka pada mereka, Allah marah pada mereka.

    ReplyDelete
  37. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang sebenarnya merupakan sebuah ujian. Seorang begawat memiliki kuasa terhadap para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani. Maka kekuasaan merupakan tersebut merupakan ujian bagi para begawat. Pada elegi ini diceritakan bahwa seiring dengan perkembangan zaman semakin lama begawat semakin menjadi, jika dulu ada begawat archaic, tribal, tradhisional, modern, kini ada begawat powernow yang mempertahankan dirinya dengan citra baiknya walaupun tidak peduli bagaimana ia memperolehnya dan bahkan tidak hanya menggunakan teknologi seperti begawat modern tetapi juga menggunakan jejaring internasional. Sebagaimana yang kita lihat sekarang banyak pemimpin-pemimpin yang semakin menjadi, berupaya mempertahankan citra baiknya.

    ReplyDelete
  38. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi ini menggambarkan berbagai karakteristik dari seorang penguasa atau pelaku kebijakan. Ada yang merasa paling berkuasa dan paling benar tanpa mau mendengar masukan dari yang lain. Semua yang diperintahkannya harus dituruti, semua pemikirannyalah yang paling sesuai, metodenyalah yang paling ampuh, standarnyalah yang harus digunakan, dsb. Ada juga yang berjuang mati-matian untuk mendapat pengakuan terbaik dari masyarakat, mendapat kekuatan lain dari pihak-pihak yang besar pengaruhnya di dunia, dsb. Namun, selain penguasa atau pelaku kebijakan yang bersifat demikian, tentu juga ada yang bersifat sebaliknya, yang terbuka dan sportif, serta ikhlas.

    ReplyDelete
  39. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Semua ingin menjadi yang paling kuasa, semua ingin menjadi yang terkaya, semua ingin menjadi yang terpandai, inilah cermin dari kehidupan saat ini. Para penguasa negeri misalnya, telah menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya, tidak memandang apakah cara tersebut merugikan orang lain atau tidak. Banyak yang memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Semoga Negeri kita ini dijauhkan dari penguasa-penguasa yang seperti itu. Aamiin

    ReplyDelete
  40. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dunia terus berkembang, dan semua orang dari segalan budaya dan negara memiliki filosofinya sendiri. para begawat dalam elegi diatas menurut sepemahaman saya mewaliki filosofi hidup yang dipegang para generasi saat ini. Ada yang memiliki kekeuasaan seperti powernow, ada yang masih tradisioanl dan sebagainya.

    ReplyDelete
  41. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Begawat dalam elegi ini dapat diibaratkan sebagai para penguasa. Elegi ini menjelaskan bagaimana terjadinya krisis pada penguasa-penguasa yang ada pada zaman ini, terutama krisis kepemimpinan dan moral. Diceritakan bahwa penguasa-penguasa ini bersifat sombong dan merasa dirinyalah yang paling agung. Penguasa tak lagi sadar pada kewajibannya menjaga hak-hak yang berada dalam kuasanya, namun mereka terlalu serakah pada kekuasaaan yang lebih tinggi diantara penguasa lain.

    ReplyDelete
  42. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Bagawat yang dimaksud disini adalah setinggi-tingginya pengemban ilmu atau logos. Banyak bagawat dari berbagai tipe yang mengalami krisis. Krisis moral misalnya, banyak orang berdasi yang diidentikkan dengan pejabat yang melakukan korupsi. Padahal yang korupsi adalah orang berilmu, namun moralnya tidak sejalan dengan ilmu yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  43. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Perubahan zaman senantiasa diiringi juga dengan perubahan penguasa. Dahulu dalam dunia pengemban ilmu, begawat archaic merupakan penguasanya. Namun setelah itu berganti oleh begawat tribal, feudal dan seterusnya sampai kini dikuasai oleh begawat powernow. Begitulah perputaran roda kehidupan yang disertai juga dengan perubahan komponen-komponen di dalamnya, termasuk didalamnya adalah penguasa. Setiap penguasa tersebut mencoba untuk mempertahankan kekuasannya. Berlomba-lomba menancapkan pengaruhnya dan mempengaruhi komponen-komponen yang lain. Beginilah dunia menunjukkan pada kita, bahwa setiap masa akan senantiasa terjadi perebutan kekuasaan.

    ReplyDelete
  44. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini menggambarkan berbagai karakteristik dari seorang pemimpin atau pelaku kebijakan. Membaca kata kekuasaan atau power, saya terbersit bahwa penguasa adalah orang yang mampu melakukan apapun atas apa yang dimiliki. Namun, kita juga tidak bisa serta merta memberikan definisi tersebut kepada semua negara yang ada di dunia. Pada zaman kontemporer saat ini, memilih pemimpin yang baik tidak hanya mampu menguasai apa yang dimiliki di negeri ini, tetapi juga mampu menguasai pikiran dan hati untuk dapat mengolah dengan bijak dan cermat terhadap sumber daya yang dimiliki oleh negaranya. Sehingga sumber daya yang dimiliki tetap terus terjaga, bukan malah hilang diambil oleh negara lain.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  45. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dari elegi ini saya menangkap sisi lain dari krisis kehidupan sekarang ini dimana Pemimpin yang tidak sadar akan ruang dan waktu akan memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkan keinginan dan kebahagiaannya. Pemimpin terkadang untuk mempertahankan kekuasaannya ia melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan apa pun cara yang ditempuh. Sangat sulit mendapatkan pemimpin yang benar-benar dapat memegang amanat dari rakyat, yang terlihat sekarang ini adalah banyaknya pemimpin yang lupa dengan rakyatnya ketika ia memimpin, lupa bahwa ilmunya haruslah dimanfaatkan dengan baik dijalan yang baik bukan untuk kepentingan diri sendiri.
    Para bagawat dalam elegi ini terlihat sangat sombong, mereka menyombongkan ilmunya. Inilah contoh orang-orang yang paling membahayakan bagi dunia karena kesombongannya. Jadi seharusnya dengan ilmu yang kita miliki, kita dapat saling melengkapi satu sama lain untuk membangun dunia

    ReplyDelete
  46. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Jika seseorang sudah memiliki kedudukan, pangkat, status social, maka akan timbul dalam hati yang namanya “jaim”, jaga image. Seseorang malah teralihkan perhatiannya bagaimana menjaga gelar yang didapat tersebut tidak hilang di mata masyarakat, daripada bertindah dan berlaku seperti sebagaimna mestinya.

    ReplyDelete

  47. Dalam elegi ini juga didapat pelajaran bahwa kbaikan dan kebijaksanaan sebenarnya didapat dari hubungan kita dengan lingkungan sekitar kita, tetangga kita, teman kita, dsb. Maka sebenar-benar tindakan adalah menjaga silaturahmi dengan orang orang terdekat.

    ReplyDelete
  48. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Para Begawat disini terdiri dari berbagai tingkatan. Tingkatan tertinggi dipegang oleh Powernow dan yang paling rendah adalah Archaic. Pada dasarnya begawat ini menginginkan kekuasaan atau menguasai yang ada dibawah kekuasaanya. Padahal kekuasaan ini adalah ujian. Jika begawat tidak mampu mempergunakan kekuasaannya sebaik mungkin dapat menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Jikalau kita menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang yang mampu mensejahterakan rakyat menempatkan diri sebagai pelayan rakyat. Mereka dipilih bukan untuk menguasai rakyat namun membantu rakyat untuk bersama-sama maju.

    ReplyDelete
  49. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas menggambarkan bahwa kekuasaan dapat mempengaruhi seseorang. orang dapat menggunakan segala cara untuk mendapat kekuasaan karena dengan kekuasaan mereka dapat memerintah sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  50. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Krisis melanda di berbagai aspek kehidupan. Bahkan krisis terjadi di kalangan pengemban ilmu. Bukan lagi tentang memanfaatkan ilmu yang dicari tetapi sudah bergeser menjadi pencarian kekuasaan, pengakuan dari masyarakat, citra yang baik, dan lainnya. Ketika krisis sudah melanda, disinilah dibutuhkan peran dari orang-orang yang memiliki pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas untuk membenahi segala kekacauan yang terjadi. Selain itu hendaknya kita mampu membentengi diri dari pengaruh buruk yang terjadi dengan iman dan ilmu.

    ReplyDelete
  51. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menjadi seorang pemimpin tidak seharusnya memiliki fikiran bagaimana cara agar pemimpin tersebut tetap dapat dijadikan pemimpin oleh masyarakat yang dipimpinnya. Karena pada dasarnya anggapan seseorang terhadap diri kita sebagai pemimpin itu bukan dari apa yang kita inginkan, namun berdasarkan pada sikap kita selama menjadi pemimpin. Jika sikap kita selama menjadi pemimpin itu baik, maka kan memungkinkan kita diperlukan lagi untuk menjadi pemimpin ketika masa kepemimpinan kita itu telah usai.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  52. Dalam elegi di atas, para Bagawat menggambarkan para petinggi negara, saling menyombongkan kekuasaannya. Mereka lupa bahwa kekuasaan di dunia ini hanya sementara saja, dan kekuasaan yang diperolehnya itu adalah dari pengorbanan rakyat. Setelah menjadi penguasa kadang manusia lupa diri sehingga mengganggap dirinya yang paling pintar, paling penting, paling benar. Padahal yang sempurna di dunia ini tidak ada, kesempurnaan hanya milik Allah swt.
    Terima kasih atas ilmu yang telah diberikan kepada kami.

    ReplyDelete
  53. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    kepemimpinan sering kali dimaknai sebagai kekuasaan padahal pada dasarnya kepemimpinan bukanlah sekedar soal kekuasaan, akan tetapi juga soal pengarahan dan pelayanan. seorang pemimpin semstinya bisa melayani masyarakat yang dipimpinnya bukan yang memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan kelompok-kelompok yang mendukungnya, apalagi untuk kepentingan pribadinya.

    ReplyDelete
  54. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Kekuasaan yang dipegang seseorang merupakan suatu amanat yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang memang dipercaya untuk mengemban suatu amanat. Nah, hal ini bisa membuat orang tersebut lalai dengan amanat yang telah diberikan. Seakan para oknum penguasa itu tugasnya tidak lain dan tidak bukan hanya sebagai pengubur aspirasi masyarakat. Dari awal pun banyak permainan yang sudah digunakan akan mereka lancar maju sebagai penguasa. Semakin ke belakang, pasti ketagihan pun semakin menjadi.

    ReplyDelete
  55. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Pemimpin adalah seseorang yang diberi amanah untuk melindungi kepentingan anggotanya. Pemimpin tidak seharusnya memposisikan dirinya sebagai yang didahulukan dan diutamakan. Justru pemimpinlah yang harusnya mendahulukan kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya.

    ReplyDelete
  56. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Alegi konferensi para begawat menceritakan mengenai perubahan zaman yang diiringi dengan perubahan kekuasaan. Dimulai dari begawat archaic sebagai pengemban ilmu di zamannya, kemudian berganti ke begawat tribal, feudal, tradisional, modern sampai kini dikuasai oleh begawat powernow. Masing-masing berkeinginan untuk mempertahankan kekuasaannya. Mempengaruh komponen-komponen lain agar sejalan dengannya demi memperoleh pengakuan dari masyarakat mengenai kebijakan yang dibuatnya. Sehingga datanglah hak istimewa berupa gaji yang tinggi. Hal ini dimaksudkan sebagai akibat dari kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat kepada pengemban ilmu di jamannya, terutama di jaman sekarang yang eranya adalah pengemban ilmu powernow dimana segala berbekal teknologi canggih dan masyarakat yang telah mengalami kemajuan.

    ReplyDelete
  57. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dalam elegi ini menceritakan mengenai kekuasaan seorang pemimpin. Sebagaimana kita tahu seharusnya seorang pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan rakyatnya atau anggotanya. Seorang pemimpin haruslah memiliki ilmu dan agama yang seimbang dan baik, karena ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lumpuh. Agama dan Ilmu merupakan satu kesatuan yang harus dimiliki seorang pemimpin agar dapat amanah dalam menggunakan kekuasaannya.

    ReplyDelete
  58. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi di atas menunjukkan bahwa selalu terjadi permasalah yang terjadi pada suatu kepemimpinan. Dan setiap waktu, pasti ada pemimpin-pemimpin yang ingin berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Hal yang membedakan hanyalah cara yang lebih canggih dan modern karena pengaruh zaman yang lebih maju. Keserakahan ini tentunya juga akan berdampak pada apa yang ia pimpin. Krisi akan terjadi dimana-mana dan merugikan banyak orang.

    Seorang pemimpin yang baik tidak boleh egois, tidak boleh mementingkan kepentingannya sendiri. Ia telah dipercaya oleh rakyat atau anggotanya, jadi dia juga bertanggung jawab atas kepentingan yang menyangkut rakyatnya. Jangan sampai amanah yang telah diberikan tersebut diingkari dengan melakukan tindakan tidak terpuji dan justru merugikan rakyat atau orang-orang yang telah memepercayainya.

    ReplyDelete