Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru Menggapai Terang




Oleh: Marsigit

Guru menggapai terang mulai kelelahan:

Aku mulai lelah dan kelihatannya mulai mengalami krisis. Karena selama ini waktuku kuhabiskan hanya untuk berdiskusi. Aku mulai merasakan adanya jarak antara hatiku dan pikiranku. Apakah terlalu banyak berpikir itu baik jadinya? Apakah terlalu banyak bertanya baik pula jadinya? Apakah terlalu banyak berkata juga baik jadinya? Apa terlalau banyak membaca baik jadinya? Yang jelas aku mulai merasakan kelelahan dalam diriku.

Apalagi setelah membaca Elegi-elegi nya Pak Marsigit. Sungguh itu semua melelahkan pikiranku. Mengapa musti aku punya kesempatan harus membaca elegi-elegi itu. Bukankah tidak membacanya sebetulnya mungkin tidak apa-apa? Tetapi apakah saya harus menyesali semua kejadian yang pernah aku alami. Bukankah segala apa yang telah terjadi pada diriku itulah takdir Nya. Dan itu aku harus berima kepada Nya. Tetapi aku merasakan bahwa segala macam kelelahanku berpikir, mengapa selalu saja berakhir pada keraguan. Dan keraguanku semuanya selalu berakhir pada pertanyaan. Jangankan sydah bertanya. Baru berniat bertanya saja maka bayangan si Orang Tua Berambut Putih itu datang kembali. Sungguh membosankan. Tetapi bukankah hakekat orang tua berambut putih itu adalah ilmuku? Kalau begitu maka pantaslah jika aku bosan terhadap ilmuku? Aku teringat titah orang tua itu, bahwa ilmuku adalah hidupku. Maka jika aku bosan terhadap ilmuku maka berarti aku bosan terhadap hidupku. Astaghfirullah Al Adzimu, Ya Allah ampunilah segala dosa dan khilafku. Tidaklah aku bermaksud bahwa kelelahan ku berakhir dengan kematianku. Nau dzubillah mindzalik. Tetapi mengapa ya Tuhan, kelelahan badan sembuh oleh tidurku tetapi aku sekarang sedang mengalami kelelahan pikir. Kemudian bagaimanakah solusinya?
Orang tua berambut putih datang:
Aku bersyukur bahwa engkau masih sudi memanggilku.
Guru menggapai terang:
Oh iya, apakah aku tadi telah bertanya? Ya ampun bahkan kalimatku yang terakhir ini pun tanda bahwa aku telah bertanya. Sesuai janjinya, orang tua itu akan selalu datang ketika aku bertanya. Salam guruku. Ketahuilah setelah membaca banyak elegi, bertanya, berpikir maka aku mulai kelelahan dam pikiranku. Bagaimana solusinya wahai guruku.
Orang tua berambut putih:
Salam juga. Satu-satunya solusi bagi kelelahan dalam pikiranmu adalah “hati” mu. Hatimu itulah pembuat sejuk piiranmu. Padahal engkau tahu bahwa hatimu itulah doa mu. Maka selalu sempatkanlah berdoa, mohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaanmu, termasuk jikalau engkau sedang berpikir sekalipun.
Guru menggapai terang:
Aneh kedengarannya guru. Bukankah guru pernah mengatakan bahwa ketika aku tidak mampu lagi bertanya maka hilanglah dirimu itu. Artinya aku tidak bisa lagi berpikir. Jadi, bagaimana pula aku berdoa sambil berpikir.
Orang tua berambut putih:
Jangankan sambil berpikir. Sambil tidur saja sebenar-benar umat haruslah mampu mengingat Tuhan Nya.
Guru menggapai terang:
Aku tidak paham guru. Dan aku merasa tidak mampu untuk itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar metode. Agar engkau memperoleh terang maka kembangkan dan gunakan metode sesuai dengan peruntukannya. Kelelahan dalam pikiranmu pertanda belum terang dalam hatimu. Dan gelapnya hatimu dapat menyebabkan kacaunya pikiranmu. Kelelahan pikiranmu adalah tanda kacaunya pikiranmu.
Guru menggapai terang:
Terus bagaimana dengan berpikir sambil berdoa guru?
Orang tua berambut putih:
Berdoa dalam berpikir adalah tentu lain dengan berpikir dalam doa. Berdoa dalam berpikir adalah doa itu sebagai landasan pikiranmu. Jadi sejauh-jauh pikiranmu mengembara maka itu harus engkau kendalikan dengan doamu. Sedangkan berpikir dalam doa tidak lain tidak bukan adalah bahwa hatimu itulah sebenar-benar pikiranmu. Jadi berpikir dalam pikiran dan berpikir dalam hati sebenar-benarnya adalah dua hal yang berbeda. Maka itulah sebenar-benar metode.
Guru menggapai terang:
Bagaimanakah metodenya untuk berpikir dalam hati.
Orang tua berambut putih:
Berbagai macam cara dapat engkau gunakan. Itulah sebenar-benar tuntunan. Maka lihat dan bukalah kembali tuntunan yang selama ini kau yakini. Itulah sebenar-benar tuntunan para Nabi dan Rosul.
Guru menggapai terang:
Kemudian, bagaimanakah metode berpikir itu?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar semua yang pernah dan sedang kita bicarakan.
Guru menggapai terang:
Apa maksud guru?
Orang tua berambut putih:
Semua elegi yang ditulis oleh Marsigit, itulah sebenar-benar metode berpikir. Maksudku, jika semua elegi kita jadikan satu pun, maka bisa aku beri judul metode berpikir. Itu pulalah yang telah membuatmu merasa lelah.
Guru menggapai terang:
Dengan sekian dialog, dengan sekian pertanyaan, dengan sekian contoh dan elegi, ternyata aku merasa banyak hal belum aku ketahui, wahai guruku. Apakah keadaanku yang demikian dapat dikatakan bahwa aku masih dalam kegelapan.
Orang tua berambut putih:
Baiklah cobalah ambil contoh manakah hal-hal yang engkau rasakan belum paham.
Guru menggapai terang:
Apakah yang dimaksud dengan bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Saya waspada dan tidak begitu yakin dengan pertanyaan mu. Mengapa orang dewasa seperti engkau masih bertanya arti bilangan. Bukankah semua murid-murid SD sudah bisa memahaminya apa itu bilangan.
Guru menggapai terang:
Maksud saya apakah hakekat bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Oh itulah pertanyaanmu. Itu memang pertanyaan seorang dewasa. Itu bagus, karena sebagai seorang guru semestinya engkau sudah bisa berpikir dewasa. Sebelum aku menjelaskan apa hakekat bilangan, maka aku akan mengajukan pertanyaan terlebih dulu kepadamu. Menurutmu, bilangan ada di mana?
Guru menggapai terang:
Kenapa guru bertanya begitu mudahnya. Bukankah kita tahu bahwa bilangan ada di mana-mana. Di jalan-jalan, di pasar, di toko-toko, itu semua tempatnya bilangan, guru.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanku yang lebih spesifik. Bilangan itu ada di dalam pikiranmu atau di luar pikranmu?
Guru menggapai terang:
Bilangan ada di dalam pikiranku dan juga ada di luar pikiranku, guru.
Orang tua berambut putih:
Sebutlah bilangan “lima”. Bilangan lima yang ada di dalam pikiranmu apakah sama dengan bilangan lima yang ada di luar pikiranmu?
Guru menggapai terang:
Aku ragu-ragu guru.
Orang tua berambut putih:
Baik, lihatlah bilangan lima yang aku tulis di kertas ini. Lihatlah. Setelah itu, kertas ini saya ambil dan saya lempar ke tempat sampah. Masihkah engkau bisa memikirkan bailangan lima tadi?
Guru menggapai terang:
Masih guru. Aku masih ingat betul bilangan lima yang engkau tulis itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat bilangan. Bilangan yang engkau lihat, dialah bilangan yang ada di luar pikiranmu, sedangkan bilangan yang engkau ingat, itulah sebenar-benar bilangan yang ada dalam pikiranmu. Jadi apakah engkau sudah bisa membedakannya?
Guru menggapai terang:
Baik guru aku sudah bisa membedakannya.
Orang tua berambut putih:
Setelah engkau tahu bedanya, tahap berikutnya adalah mampukah kamu menyebut ciri-cirinya?
Guru menggapai terang:
oh..oh belum bisa guru
Orang tua berambut putih:
Bukankah engkau menyadari bahwa bilangan yang ada dalam pikiranmu itulah sebenar-benar bilangan yang abadi. Lima dalam pikiranmu itulah bersifat tetap. Dia tidak berwarna. Dia tidak berbau. Dia tidak mengalami cacat sedikitpun. Dia itu sempurna, paling tidak sempurna dalam pikiranmu. Sedangkan lima dalam kertas yang telah aku campakkan, dialah berwarna hitam. Dialah bersifat rusak. Dialah berpenampilan tidak baik. Dialah bersifat hilang dari pandanganmu.
Guru menggapai terang:
Oh guru aku mulai mendapat terang darimu. Dapatkan aku menggunakan cara yang sama untuk memikirkan selain bilangan, misalnya kubus, misalnya batu, misalnya uang, misalnya buku, misalnya ...dst benda-benda.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanmu sudah terjawab sebelum engkau selesai bertanya. Namun ketahuilah bahwa aku masih meragukan klaimmu akan perasaan terangmu dalam pikiranmu. Karena yang aku diskusikan denganmu hanyalah satu dari seribu sifat-sifat obyek pikiran.
Guru menggapai terang:
Mohon guru berikan apa pula sifat-sifat obyek yang lain?
Orang tua berambut putih:
Aku bisa bertanya kepadamu. Bilangan lima yang ada dalam pikiranmu itu ada berapa. Satu, dua, tiga atau banyak? Bilangan lima yang berada di luar pikiranmu itu ada berapa, satu, dua, tiga atau banyak? Jika engkau pikir bilangan lima berada dalam pikiranmu, maka bagaimanakah engkau bisa meyakinkan kepada orang lain bahwa dia sedang berada bear-benar di dalam pikiranmu. Tetapi jika engkau berpendapat bahwa bilangan lima berada di luar pikiranmu, maka bagaimana anda bisa percaya kepada sesuatu hal yang mempunyai sifat tidak sempurna?.
Guru menggapai terang:
Kenapa pikiranku menjadi gelap lagi guru?
Orang tua berambut putih:
Apakah engkau sedang bicara tentang sukar dan mudahnya berpikir? Apakah engkau sedang mendifinisikan bahwa sukar adalah gelap dan terang adalah mudah? Lalu bagaimana dengan terangnya hatimu dan gelapnya hatimu?
Guru menggapai terang:
Sekarang aku merasa terang setidaknya untuk melihat yang gelap. Walaupun aku merasakan bahwa terang sedikit yang aku dapatkan ternyata menyebabkan aku bisa melihat gelapku yang lebih banyak lagi dan berlipat-lipat jumlahnya. tetapi yang jelas aku sekarang sudah sembuh dari rasa lelahku. Karena selama aku mendengarkan titahmu aku selalu melantunkan doa-doaku.
Orang tua berambut putih:
Aku terharu mendengar penuturanmu. Mengapa aku terharu, karena selama aku memberikan titah-titahku kepadamu aku juga selalu melantunkan doa-doaku. Aku mendapat titipan dari Pak Marsigit, untuk sementara memberimu kesempatan merenung, memikirkan, serta mengimplementasikan. Di samping itu, tidak lah baik kiranya melebih-lebihkan sesuatu, karena Tuhan tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. Sampai di sini dulu Elegi Guru. Selamat berjuang semoga berhasil. Amin.

36 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Keadaan terang berarti keadaan di mana hati dan pikiran harus jernih. Untuk menggapai terang memang tidak mudah karena memerlukan keselarasan antara hati dan pikiran. Maka kita harus menghindari kegelapan dalam hati sementara kegelapan hati menandakan bahwa pikiran kacau. Tuhan Sang Pencipta adalah terang yang sesungguhnya, maka jika kita ingin mencapai terang selalu mintalah petunjuk kepada-Nya.

    ReplyDelete
  2. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Kelelahan berpikir yang dialami oleh guru menjadikannya tidak mau untuk berpikir lagi dan meragukan apa manfaat dari yang telah dipikirkannya. Padahal berpikir itu akan terjadi setiap saat, ketika aku mengatakan lelah berpikir sebenarnya aku juga berpikir mengenai kelelahan berpikir. Tetapi mungkin lelah berpikir disini hanya dikhususkan pada berpikir hal-hal tertentu. Solusi agar kita tidak mengalami lelah berpikir adalah hati kita, hati kita juga seharusnya melandasi pemikiran-pemikiran kita. Apabila hati kita telah bersinkron dengan pemikiran kita, maka insyallah kita tidak akan mengalami yang namanya lelah berpikir. Karena sesungguhnya hatilah yang dapat mendorong agar kita terus berpikir untuk memahami hakikat segala sesuatu karena sesungguhnya segala sesuatu itu ada bermilyar-milyar macam dan sifatnya. Sehingga kegiatan berpikir kita akan terus berlangsung dan semoga dengan hati yang menjadi penuntun kita dalam berpikir kita dapat menggapai terangnya hati dan pikiran kita.

    ReplyDelete
  3. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam elegi ini kita tidak boleh menganggap bahwa sukar adalah gelap dan terang adalah mudah. Hal ini perlu kita sadari bersama bahwa manusia yang ada di dunia ini sangatlah beragam .
    Kita harus dapat bertoleransi terhadap perbedaan yang ada.
    Sehingga sukar dan mudah dapat dikatakan orang begitu juga sebaliknyadapat dikatakan gelap.

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada elegi ini digambarkan seorang guru yang kelelahan brpikir sehingga tidak ingin berpikir lagi, juga menggambaarkan gelap adalah kesukaran dan terang adalah kemudahan. Pada intinya disetiap kesulitan akan selalu ada kemdahan apabila kita ikhlas untuk menjalankannya. dan pada elegi ini kita di ingatkan kembali pada sepenggal kalimay yang diutarakan oleh orang tua si rambut putih "tidak lah baik kiranya melebih-lebihkan sesuatu, karena Tuhan tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan" sebaiknya jika kita mengalami kesulitan jangan menganggapnya suatu masalah yang ber=sar dan berlebihan.

    ReplyDelete
  5. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat seperti itulah kata pepatah. Setiap orang harus terus belajar, belajar sepanjang hayat. Begitu pula dengan guru, guru harus haus akan ilmu dan senantiasa belajar tanpa lelah. Melepas lelah akan pikiran dan hati agar mampu menggapai terang dan meninggalkan kegelapan.

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Hidup tidak dapat dipisahkan dari terang dan gelap. Kata terang dalam elegi ini merefleksikan terangnya hati yang menyebabkan jernihnya pikiran. Sedangkan kelelahan pikiran menyebabkan hati gelap dan kalutnya pikiran. Namun demikian gelap dan terang merupakan bagian dari kehidupan, akan tetapi sebenar-benar terang adalah pikiran yang jernih dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  7. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Banyak orang mengartikan guru sejati adalah seseorang yang memberikan ilmu atau ajaran yang dapat membuat siswa dapat memahami diri sendiri agar dapat bermanfaat untuk mencapai tujuan hidup. Memiliki pikiran jernih dan bersih serta hati yang tetap tenang merupakan salah satu cara untuk memperoleh karakter guru sejati yang baik. Dengan memiliki pikiran dan hati yang tenang dan bersih akan membuat guru mudah mengetahui langkah-langkah pembelajaran yang diberikan kepada siswa.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    “Tidak lah baik kiranya melebih-lebihkan sesuatu.” Elegi ini sangatlah mudah dipahami maknanya.
    Berlebih-lebihan atau berlebih dalam hal apapun tidaklah terpuji. Tuhan menyukai segala hal yang sewajarnya.sewajarnya orang makan .
    Sewajarnya orang berbicara sehingga tidak ada yang di lebih lebihkan.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Dalam pembelajaran ada saat seorang guru merasa lelah. Lelah berdiskusi, lelah mencari metoda yang tepat dalam pembelajaran, lelah memperlengkapi diri. Namun, menjadi seorang yang mencari ilmu memerlukan bukan hanya logika tetapi juga spiritualitas. Apalagi sebagai seorang guru yang bertanggung jawab mendidik seorang siswa ke arah yang lebih baik. Jika spiritualitasnya lemah, hati nuraninya mulai terkikis dan mati, semua yang dilakukan hanya akan menjadi beban. Tetapi, jika dia senantiasa berdoa dan melakukan sesuatu dengan ikhlas, niscaya dia akan bersemangat kembali karena Tuhan memelihara hatinya dan memberi kekuatan baru baginya.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Terkadang sebagai guru mengalami masa-masa sulit ketika ia mulai kehilangan arah. Guru harus mendengarkan kata hati dan pikirannya agar selalu pada jalur yang benar untuk memberi fasilitas kepada siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  11. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Terang adalah tujuan setiap manusia dalam hidup. Terang akan datang setelah merasakan gelap. Namun ketika kita merasakan terang, serta-merta kita akan melihat gelap yang lebih banyak lagi. Hal ini dikarenakan terang membuat kita tahu betapa terbatas ilmu kita dan betapa banyak sesuatu yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  12. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika Kelas_D 2016

    Hidup di dunia ini selalu berpasangan, ada siang, ada malam, ada bahagia, ada sengsara, pasti semuanya selalu berpasangan. Ketika kita lelah dalam berpikir, maka yakinlah di balik kelelahan itu pasti ada kebahagian yang menanti kita. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya “ dibalik kesusahan itu ada kemudahan” dan jangan sampai berputus asa dalam dunia ini. Jika kita lelah berpikir, maka istirahatlah, berwuduk dan laksakan shalat sunat niscaya kelelahan kita dalam berpikir akan terobati, karena kelelahan dalam berpikir adanya diotak kita, maka dengan berwuduk kepala kita yang panas akan didinginkan dengan air wuduk, kemudian shalat, ketahuilah bahwa ketika kita sujud maka darah akan mengalir keotak yang membuat otak kita kembali segar. Sesungguhnya kalau kita mengikuti Islan dengan kaffah maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Seorang guru jika berada di depan kelas adalah pendidik yang fokus untuk membuat siswanya belajar dengan cara mengkonstruk ilmunya sendiri dengan harapan akan mengubah perilaku dan pemikiran siswa menjadi lebih baik. Mau apa pun masalah guru siswa tidak harus tahu itu. Siswa hanya perlu mengetahui guru membawa penerangan bagi mereka. Dengan catatan guru tersebut harus memiliki sifat, pikiran dan hati yang jernih. Semoga kita semua dapat menjadi guru yang dapat menerangi siswa – siswa di masa depan.

    ReplyDelete
  14. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dalam berpikir, belajar, tentunya semua orang pernah merasakan berada di titik jenuhnya, di titik paling rendahnya. Sehingga perlu bagi kita untuk mensinkronkan hati dan pikiran. Niatkan di dalam hati bahwa belajar ini adalah salah satu wujud ibadah kepada Allah. Karena dengan begitu, rasa lelah yang dirasakan akan dihitung sebagai ibadah. Selain itu pikiran perlu dijernihkan dan difokuskan, agar dapat dengan mudah memperoleh ilmu pengetahuan baru, dan juga dapat melihat hal baru lagi melalui sudut pandang yang baru pula.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sekiranya sebagai manusia mempunyai leleh, begitu pula seorang guru. Namun, tak patalah sebagai manusia untuk lelah dalam berpikir karan akan hanya mitoslah dia. Memang ada saanya kita tidak berpikir yaitu pada saat bertemu sang Illahi. Ada pula kata-kata yang menarik, jika gelap itu sukar, maka terang itu mudah. Itu makna yang sangat dangkal bagi saya. Karena memang tidaklah baik melebihkan sesuatu baik yang sukar maupun yng mudah karena akan membatasimu akan pengetahuan yang akan didapati. Lebih baik Ikhlas dan selalu ikhtiar dan awakal dama menjalani segala aktifitas.

    ReplyDelete
  16. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    “Kelelahan dalam pikiranmu pertanda belum terang dalam hatimu. Dan gelapnya hatimu dapat menyebabkan kacaunya pikiranmu. Kelelahan pikiranmu adalah tanda kacaunya pikiranmu”. Kelelahan dalam pikiran ini merupakan masalah yang sering kita alami. Oleh Karena itu, solusi bagi kelelahan dalam pikiranmu adalah hatimu. Hatimu adalah doamu yang mampu membuat sejuk pikiranmu. Maka selalu sempatkanlah berdoa, memohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaanmu.

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hati merupakan salah satu petunjuk untuk dapat menggapai terang. Selain dengan hati juga dengan pikiran. Maka akan baik jika hati selaras dengan pikiran. Hati menuntun untuk melakukan hal yang akan dilakukan. Maka mohon rahmat dari Tuhan diperlukan untuk menjaga agar hati senantiasa jernih, pikiran bersih, dan akhirnya tingkah laku menjadi baik. Semoga ke depannya dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan senantiasa memohon rahmat dari Tuhan dalam menjalani hidup dan dalam mengambil keputusan – keputusan dalam hidup.

    ReplyDelete
  18. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Terang adalah tujuan setiap manusia dalam hidup, untuk menggapai terang tidak mudah kita dapatkan karena memerlukan keselarasan antara hati dan pikiran, memrlukan perjuangan untuk menggapai terang maka kita harus menghindari kegelapan dalam hati sementara kegelapan hati menandakan bahwa pikiran kacau. Belajar, berpikir, bertanya, berdoa adalah suatu pelajaran yang akan membuat kita berpikir maju dan berkembang dengan pikiran jernih dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  19. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Guru bagaikan penerang bagi siswa-siswanya. Jika siswa berada dalam ekgelapan akan tidak tahunya ilmu maka tugas guru disini adalah memberikan penerangan kepada siswa agar siswa tidak merasa gelap akan ilmu yang sedang mereka pelajari.

    ReplyDelete
  20. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    ikhlas merupakan salah satu cara agar kita dapat menjalani kehidupan yang ada. Dalam hidup pastinya ada masa kita mengalami kegelapan, maksudnya kita sudah benar-benar tidak dapat memikirkan sesuatu, sehingga untuk melakukan apa pun terasa berat dan susah. Selanjutnya untuk menunjang profesi guna guna menghasilkan hasil yang baik maka guru juga harus profesional. Untuk menjadi guru yang profesional maka tentulah tidak mudah semudah membalikkan telapak tangan, butuh pembelajaran dan latihan terus menerus, pengalaman yang memadai serta ilmu yang mendalam. Namun, seiring waktu ada kalanya seorang guru sampai pada titik jenuh dalam hidupnya dalam mengajar, hal ini terjadi terkadang karena materi ajar, metode pembelajaran, suasana di kelas dan sebagainya maka dari itu diperlukan kreatifitas dalam setiap pertemuan agar tidak merasa bosan karena jika kita menggunakan metode yang monoton saja di tiap kelas serta di setiap bahan ajar maka yakin dan percaya hal ini akan sangat membosankan.

    ReplyDelete
  21. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi elegi yang sekian banyak ada kalanya kita akan merasa lelah pikir, bosan, jenuh. Namun untuk mengatasi lelah pikir kita dapat mendinginkan pikiran kita dengan hati. Hati hakikatnya adalah doa doamu. Doa doa adalah cara kita mengingat Allah. jadi untuk mengatasi lelah pikir banyak banyaklah berdoa dan mengingat Allah. Salah satunya dengan cara berdzikir kepada Allah.

    ReplyDelete
  22. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika pikiran merasa bingung, maka hati adalah solusinya. Ya begitulah kehidupan, apa saja yang terjadi di dunia ini ketika kita merasakan kesulitan, kebingungan, maka salah satu solusinya adalah berpikir dengan hati, berdoa kepada Tuhan YME, meminta petunjuk-Nya serta tak lupa memohon ampun kepada Tuhan YME

    ReplyDelete
  23. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang saya dapatkan dari elegi di atas adalah jangan melebih – lebihkan sesuatu. Karena semua itu tidak disukai oleh Tuhan YME. Sebagai seorang manusia selau senantiasa mengingat Tuhan YME.

    ReplyDelete
  24. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sering terlontar dari Prof Marsigit bahwa sebenar-benar ilmumu adalah pertanyaannmu. Menggapai terang seperti pada elegi ini, diartikan pada hati dan pikiran yang jernih. Hati dan pikiran harus digunakan secara seimbang, karena keduanya tidak dapat terpisahkan. Terang adalah tujuan setiap manusia dalam hidup dan untuk menggapainya maka kita harus menghindari kegelapan dalam hati sementara kegelapan hati menandakan bahwa pikiran kacau. Akan tetapi saat berada dalam terang ditempat yang kita inginkan, tetapi jauh kedepan akan terlihat bahwa kegelapan akan tetap ada.
    Percayalah, Tuhan sebaik-baik tempat kembali.

    ReplyDelete
  25. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi tersebut, saya mendapatkan pelajaran bahwa hati dan pikiran harus selalu dijaga. Oleh karena iu, kita harus menyempatkan berdoa, memohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan kita. Seorang guru harus melakukan inovasi dan pengembangan-pengembangan untuk memperdalam ilmunya.

    ReplyDelete
  26. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi ini menggambarkan kondisi seorang guru yang kelelahan berpikir sehingga dia tidak ingin berpikir lagi. Kondisi ini merupakan kondisi kritis seorang guru. Pasalnya seorang guru harus selalu memikirkan kondisi siswanya. Jika seorang guru sudah enggan memikirkan siswanya, akan jadi apa siswa tersebut.

    ReplyDelete
  27. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi ini juga menceritakan tentang gelap sebagai kesukaran dan terang sebagai kemudahan. Jika seseorang sedang mengalami kondisi yang gelap, maka dengan usaha yang sungguh-sungguh dan dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta, maka inshaallah akan ditunjukkan jalan yang terang olehNya.

    ReplyDelete
  28. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Didalam kehidupan pasti ada gelap dan terangnya, gelap disini diartikan sebagai pikiran yang sedang buntu tidak memiliki arah sedangkan terang disini diartikan sebagai pikiran yang sedang jernih. Seorang guru sebagai fasilitator seharusnya menjadi penerang bagi siswa disini berarti guru juga harus dalam keadaan terang agar bisa menerangi. Selain itu berdoa kepada Allah agar selalu dalam pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  29. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru dalam mencapai hakikat matematika untuk siswa perlu berpikir selayaknya siswa. Seperti dicontohkan di postingan di atas, hakikat bilangan yang dipahami guru belum tentu dipahami siswa. Bilangan bisa ada di dalam pikiran kita, bersifat tetap, sempurna. Sedangkan bilangan di luar pikiran kita adalah benda konkrit yang berjumlah 5, memiliki sifat yang berbeda dan tidak sempurna

    ReplyDelete
  30. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang guru menggapai terang, makna tersebut adalah ketika guru mampu menghidupkan suasana kelas dan mampu menfasilitasi potensi-potensi siswanya. Bukan justru menjadikan kelas sebagai hal yang menakutkan bagi siswanya.

    ReplyDelete
  31. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Itulah yang dinamakan futur. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh dan penuh semangat. Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Bahkan terkadang berhenti sama sekali dari menuntut ilmu. Beberapa cara untuk menghilangkan penyakit tersebut seperti ikhlas, mengerti pentingnya ilmu, sabar, berdoa dan memohon pertolongan Allah.

    ReplyDelete
  32. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sukar bukan berarti gelap, mudah juga bukan berarti terang. Dalam mendidik pun begitu. Susahnya mendidik ialah tantangan, jika bisa melewatinya dengan niat yang tulus. Maka hasilnya ialah guru dapat menciptakan lentera yang terang bagi dunia.

    ReplyDelete
  33. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Dalam elegi ini seorang guru yang lelah pikir menggambarkan bahwa sukar adalah gelap dan kemudahan adalah terang, serta bagaimana seorang guru itu menghadapi kesukaran,kejenuhan,kelelahan dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai guru harus mampu mengubah situasi seperti ini menjadi situasi yang lebih baik. Karena mendidik memiliki tantangan, serta jangan lupa akan sandaran kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam mendidik anak muridnya.

    ReplyDelete
  34. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang guru menggapai terang dapat diartikan sebagai guru adalah sosok yang berperan membawa lentera untuk siswa siswa nya. Guru lah yang membawa harapan akan cerah atau tidaknya masa depan mereka. Guru diharapkan tidak hanya menekankan pada satu disiplin ilmu untuk di share kepada muridnya, melainkan bisa dikembangkan akan bekal-bekal yang nantinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  35. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Lentera disini bukanlah sebuah lampu yang terbelenggu di dalam seonggok kaca disekelilingnya. Lentera disini merupakan sumber cahaya tak terbatas, tak bersyarat, serta tak terbatas oleh waktu. Keihklasan untuk senantiasa menemani siswa-siswinya melawan kegelapan.

    ReplyDelete
  36. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Ketika guru mengalami kelelahan maka hanya hati yang dapat menyembuhkannya. Hati yang mampu berkomunikasi dengan Allah SWT untuk meminta ampunan dan mengingat Allah SWT dalam keadaan seperti apapun. Setelah saya banyak membaca elegi yang bapak buat, saya merasa lebih terang karena kita dapat belajar banyak al melalui elegi-elegi mulai dari diri kita, kehidupan kita, pendapat para filsuf dan yang apling penting elegi mengajarkan kita bagaimana mendekatkan hati dan dirikita kepada Allah SWT. Terimakasih bapak atas semuanya.

    ReplyDelete