Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru Menggapai Terang




Oleh: Marsigit

Guru menggapai terang mulai kelelahan:

Aku mulai lelah dan kelihatannya mulai mengalami krisis. Karena selama ini waktuku kuhabiskan hanya untuk berdiskusi. Aku mulai merasakan adanya jarak antara hatiku dan pikiranku. Apakah terlalu banyak berpikir itu baik jadinya? Apakah terlalu banyak bertanya baik pula jadinya? Apakah terlalu banyak berkata juga baik jadinya? Apa terlalau banyak membaca baik jadinya? Yang jelas aku mulai merasakan kelelahan dalam diriku.

Apalagi setelah membaca Elegi-elegi nya Pak Marsigit. Sungguh itu semua melelahkan pikiranku. Mengapa musti aku punya kesempatan harus membaca elegi-elegi itu. Bukankah tidak membacanya sebetulnya mungkin tidak apa-apa? Tetapi apakah saya harus menyesali semua kejadian yang pernah aku alami. Bukankah segala apa yang telah terjadi pada diriku itulah takdir Nya. Dan itu aku harus berima kepada Nya. Tetapi aku merasakan bahwa segala macam kelelahanku berpikir, mengapa selalu saja berakhir pada keraguan. Dan keraguanku semuanya selalu berakhir pada pertanyaan. Jangankan sydah bertanya. Baru berniat bertanya saja maka bayangan si Orang Tua Berambut Putih itu datang kembali. Sungguh membosankan. Tetapi bukankah hakekat orang tua berambut putih itu adalah ilmuku? Kalau begitu maka pantaslah jika aku bosan terhadap ilmuku? Aku teringat titah orang tua itu, bahwa ilmuku adalah hidupku. Maka jika aku bosan terhadap ilmuku maka berarti aku bosan terhadap hidupku. Astaghfirullah Al Adzimu, Ya Allah ampunilah segala dosa dan khilafku. Tidaklah aku bermaksud bahwa kelelahan ku berakhir dengan kematianku. Nau dzubillah mindzalik. Tetapi mengapa ya Tuhan, kelelahan badan sembuh oleh tidurku tetapi aku sekarang sedang mengalami kelelahan pikir. Kemudian bagaimanakah solusinya?
Orang tua berambut putih datang:
Aku bersyukur bahwa engkau masih sudi memanggilku.
Guru menggapai terang:
Oh iya, apakah aku tadi telah bertanya? Ya ampun bahkan kalimatku yang terakhir ini pun tanda bahwa aku telah bertanya. Sesuai janjinya, orang tua itu akan selalu datang ketika aku bertanya. Salam guruku. Ketahuilah setelah membaca banyak elegi, bertanya, berpikir maka aku mulai kelelahan dam pikiranku. Bagaimana solusinya wahai guruku.
Orang tua berambut putih:
Salam juga. Satu-satunya solusi bagi kelelahan dalam pikiranmu adalah “hati” mu. Hatimu itulah pembuat sejuk piiranmu. Padahal engkau tahu bahwa hatimu itulah doa mu. Maka selalu sempatkanlah berdoa, mohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaanmu, termasuk jikalau engkau sedang berpikir sekalipun.
Guru menggapai terang:
Aneh kedengarannya guru. Bukankah guru pernah mengatakan bahwa ketika aku tidak mampu lagi bertanya maka hilanglah dirimu itu. Artinya aku tidak bisa lagi berpikir. Jadi, bagaimana pula aku berdoa sambil berpikir.
Orang tua berambut putih:
Jangankan sambil berpikir. Sambil tidur saja sebenar-benar umat haruslah mampu mengingat Tuhan Nya.
Guru menggapai terang:
Aku tidak paham guru. Dan aku merasa tidak mampu untuk itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar metode. Agar engkau memperoleh terang maka kembangkan dan gunakan metode sesuai dengan peruntukannya. Kelelahan dalam pikiranmu pertanda belum terang dalam hatimu. Dan gelapnya hatimu dapat menyebabkan kacaunya pikiranmu. Kelelahan pikiranmu adalah tanda kacaunya pikiranmu.
Guru menggapai terang:
Terus bagaimana dengan berpikir sambil berdoa guru?
Orang tua berambut putih:
Berdoa dalam berpikir adalah tentu lain dengan berpikir dalam doa. Berdoa dalam berpikir adalah doa itu sebagai landasan pikiranmu. Jadi sejauh-jauh pikiranmu mengembara maka itu harus engkau kendalikan dengan doamu. Sedangkan berpikir dalam doa tidak lain tidak bukan adalah bahwa hatimu itulah sebenar-benar pikiranmu. Jadi berpikir dalam pikiran dan berpikir dalam hati sebenar-benarnya adalah dua hal yang berbeda. Maka itulah sebenar-benar metode.
Guru menggapai terang:
Bagaimanakah metodenya untuk berpikir dalam hati.
Orang tua berambut putih:
Berbagai macam cara dapat engkau gunakan. Itulah sebenar-benar tuntunan. Maka lihat dan bukalah kembali tuntunan yang selama ini kau yakini. Itulah sebenar-benar tuntunan para Nabi dan Rosul.
Guru menggapai terang:
Kemudian, bagaimanakah metode berpikir itu?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar semua yang pernah dan sedang kita bicarakan.
Guru menggapai terang:
Apa maksud guru?
Orang tua berambut putih:
Semua elegi yang ditulis oleh Marsigit, itulah sebenar-benar metode berpikir. Maksudku, jika semua elegi kita jadikan satu pun, maka bisa aku beri judul metode berpikir. Itu pulalah yang telah membuatmu merasa lelah.
Guru menggapai terang:
Dengan sekian dialog, dengan sekian pertanyaan, dengan sekian contoh dan elegi, ternyata aku merasa banyak hal belum aku ketahui, wahai guruku. Apakah keadaanku yang demikian dapat dikatakan bahwa aku masih dalam kegelapan.
Orang tua berambut putih:
Baiklah cobalah ambil contoh manakah hal-hal yang engkau rasakan belum paham.
Guru menggapai terang:
Apakah yang dimaksud dengan bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Saya waspada dan tidak begitu yakin dengan pertanyaan mu. Mengapa orang dewasa seperti engkau masih bertanya arti bilangan. Bukankah semua murid-murid SD sudah bisa memahaminya apa itu bilangan.
Guru menggapai terang:
Maksud saya apakah hakekat bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Oh itulah pertanyaanmu. Itu memang pertanyaan seorang dewasa. Itu bagus, karena sebagai seorang guru semestinya engkau sudah bisa berpikir dewasa. Sebelum aku menjelaskan apa hakekat bilangan, maka aku akan mengajukan pertanyaan terlebih dulu kepadamu. Menurutmu, bilangan ada di mana?
Guru menggapai terang:
Kenapa guru bertanya begitu mudahnya. Bukankah kita tahu bahwa bilangan ada di mana-mana. Di jalan-jalan, di pasar, di toko-toko, itu semua tempatnya bilangan, guru.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanku yang lebih spesifik. Bilangan itu ada di dalam pikiranmu atau di luar pikranmu?
Guru menggapai terang:
Bilangan ada di dalam pikiranku dan juga ada di luar pikiranku, guru.
Orang tua berambut putih:
Sebutlah bilangan “lima”. Bilangan lima yang ada di dalam pikiranmu apakah sama dengan bilangan lima yang ada di luar pikiranmu?
Guru menggapai terang:
Aku ragu-ragu guru.
Orang tua berambut putih:
Baik, lihatlah bilangan lima yang aku tulis di kertas ini. Lihatlah. Setelah itu, kertas ini saya ambil dan saya lempar ke tempat sampah. Masihkah engkau bisa memikirkan bailangan lima tadi?
Guru menggapai terang:
Masih guru. Aku masih ingat betul bilangan lima yang engkau tulis itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat bilangan. Bilangan yang engkau lihat, dialah bilangan yang ada di luar pikiranmu, sedangkan bilangan yang engkau ingat, itulah sebenar-benar bilangan yang ada dalam pikiranmu. Jadi apakah engkau sudah bisa membedakannya?
Guru menggapai terang:
Baik guru aku sudah bisa membedakannya.
Orang tua berambut putih:
Setelah engkau tahu bedanya, tahap berikutnya adalah mampukah kamu menyebut ciri-cirinya?
Guru menggapai terang:
oh..oh belum bisa guru
Orang tua berambut putih:
Bukankah engkau menyadari bahwa bilangan yang ada dalam pikiranmu itulah sebenar-benar bilangan yang abadi. Lima dalam pikiranmu itulah bersifat tetap. Dia tidak berwarna. Dia tidak berbau. Dia tidak mengalami cacat sedikitpun. Dia itu sempurna, paling tidak sempurna dalam pikiranmu. Sedangkan lima dalam kertas yang telah aku campakkan, dialah berwarna hitam. Dialah bersifat rusak. Dialah berpenampilan tidak baik. Dialah bersifat hilang dari pandanganmu.
Guru menggapai terang:
Oh guru aku mulai mendapat terang darimu. Dapatkan aku menggunakan cara yang sama untuk memikirkan selain bilangan, misalnya kubus, misalnya batu, misalnya uang, misalnya buku, misalnya ...dst benda-benda.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanmu sudah terjawab sebelum engkau selesai bertanya. Namun ketahuilah bahwa aku masih meragukan klaimmu akan perasaan terangmu dalam pikiranmu. Karena yang aku diskusikan denganmu hanyalah satu dari seribu sifat-sifat obyek pikiran.
Guru menggapai terang:
Mohon guru berikan apa pula sifat-sifat obyek yang lain?
Orang tua berambut putih:
Aku bisa bertanya kepadamu. Bilangan lima yang ada dalam pikiranmu itu ada berapa. Satu, dua, tiga atau banyak? Bilangan lima yang berada di luar pikiranmu itu ada berapa, satu, dua, tiga atau banyak? Jika engkau pikir bilangan lima berada dalam pikiranmu, maka bagaimanakah engkau bisa meyakinkan kepada orang lain bahwa dia sedang berada bear-benar di dalam pikiranmu. Tetapi jika engkau berpendapat bahwa bilangan lima berada di luar pikiranmu, maka bagaimana anda bisa percaya kepada sesuatu hal yang mempunyai sifat tidak sempurna?.
Guru menggapai terang:
Kenapa pikiranku menjadi gelap lagi guru?
Orang tua berambut putih:
Apakah engkau sedang bicara tentang sukar dan mudahnya berpikir? Apakah engkau sedang mendifinisikan bahwa sukar adalah gelap dan terang adalah mudah? Lalu bagaimana dengan terangnya hatimu dan gelapnya hatimu?
Guru menggapai terang:
Sekarang aku merasa terang setidaknya untuk melihat yang gelap. Walaupun aku merasakan bahwa terang sedikit yang aku dapatkan ternyata menyebabkan aku bisa melihat gelapku yang lebih banyak lagi dan berlipat-lipat jumlahnya. tetapi yang jelas aku sekarang sudah sembuh dari rasa lelahku. Karena selama aku mendengarkan titahmu aku selalu melantunkan doa-doaku.
Orang tua berambut putih:
Aku terharu mendengar penuturanmu. Mengapa aku terharu, karena selama aku memberikan titah-titahku kepadamu aku juga selalu melantunkan doa-doaku. Aku mendapat titipan dari Pak Marsigit, untuk sementara memberimu kesempatan merenung, memikirkan, serta mengimplementasikan. Di samping itu, tidak lah baik kiranya melebih-lebihkan sesuatu, karena Tuhan tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. Sampai di sini dulu Elegi Guru. Selamat berjuang semoga berhasil. Amin.

24 comments:

  1. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Dalam elegi ini saya menyimpulkan bahwa seorang guru yang mencoba untuk memperbaiki dirinya di balik kelelahan dalam menjalankan tugasnya ia berusaha untuk terus mencari tahu, berpikir dan sekaligus berpikir atau mengevaluasi dirinua agar menjadi lebih baik dengan mengimplemntasikan metode-metode yang dapat membuat kegaiatan belajar mengajarnya menjadi menyenangkan disertai dengan lantunan doa-doa yang terus diucapkan. Sebenar-benarnya manusia berusaha jika ia tidak berdoa maka tidak akan berhasil.

    ReplyDelete
  2. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Dari elegi ini Saya mendapat pencerahan bahwa ketika kita merasa lelah dalam pikiran solusinya adalah hati yang tenang. Cara membuat hati tenang adalah dengan berdoa dengan penuh keikhlasan, tulus, dan kerendahan seorang hamba kepada Alloh SWT. Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap umat. Mencari ilmu memang lelah. Tetapi seperti kata imam Syafi’I “Bila kau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus menahan perihnya kebodohan”. Lelahnya mencari ilmu itu sebentar tetapi hasilnya insya Alloh akan membuat kita terang.

    ReplyDelete
  3. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Saya ingin menanggapi apakah yang terlalu itu baik? Menurut saya, segala sesuatu yang terlalu itu tidak baik. Alangkah lebih baik jika segala sesuatu kita alokasikan sesuai porsinya masing-masing. Seperti yang Prof Marsigit sampaikan diakhir elegi bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dan sejatinya Tuhan tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Artinya sebagai manusia janganlah kita terlalu, jangan berlebih-lebihan, lakukan dan menjadilah pribadi yang bisa menempatkan segala sesuatu sesuai situasi dan kondisi serta sesuai porsinya masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Doa memanglah penyejuk dalam segala kondisi. Penenang ketika pikiran sedang tak karuan. Obat dari segala keluh kesah pun rasa lelah. Hati yang senantiasa berdoa akan membawa kepada kehidupan yang tenang dan sejahtera. Bahkan dalam situasi sesulit apapun, jikalau hati ikhlas dan selalu mengingat Allah, maka tak akan terjadi kekacauan dalam menjalani kehidupan. Karena sejatinya segala yang ada di hati akan menjadi penunjuk dan penentu setiap pikiran dan tindakan. Bersihkan hati, lantunkan dan luruskan doa, jadikan ia sebagai pengendali segala tindakan yang mengarahkan kita agar senantiasa mendekat kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  5. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Gelap dan terang adalah kontradiksi. Terang yang dimaksud dalam elegi ini adalah terangnya hati, dan hati yang terang dapat terjadi ketika pikiran kitapun jernih. Dan kelelahan pikiran menyebabkan hati kita juga gelap dan tidak terang. Namun untuk mengatasi lelah pikir kta dapat mendinginkan pikiran kita dengan hati. Hati hakikatnya adalah doa doamu. Doa doa adalah cara kita mengingat Allah. jadi untuk mengatasi lelah pikir banyak banyaklah berdoa dan mengingat Allah. Demikian gelap dan terang merupakan bagian dari kehidupan, dan semua orang dapat terancam oleh kegelapan, yaitu gelapnya pikiran dan hati. Jadi sebenar-benar terang itu adalah pikiran jernih dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  6. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    Dalam elegi-elegi tulisan Pak Marsigit kebanyakan terdapat tokoh yang bernama Orang Tua Berambut Putih. Beliau muncul ketika seseorang mengajukan pertanyaan. Dalam elegi ini disebutkan bahwa Orang Tua Berambut Putih adalah imunya sendiri. Ini berarti bahwa setiap pertanyaan yang diajukan, kita pasti akan menemukan jawabanya dari dalam diri kita. Tentu saja untuk memunculkan jawaban tersebut perlu dilakukan penyimpanan informasi dalam pemikiran kita terlebih dahulu. Penyimpanan informasi dapat berlangsung jika dilakukan proses pembelajaran, entah pembelajaran berbentuk apapun.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  7. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan manusia seharusnya dilakukan dengan berdoa. Dengan berdoa, kegiatan akan mendapat ridha-Nya dan insya Allah akan dimudahkan oleh-Nya. Menggapai terang dapat dilakukan dilakukan dengan berbagai cara, dengan mempelajari hal tersebut dengan sendirinya atau dengan menanyakan dengan orang yang lebih ahli dalam bidangnya. Namun, ketika bertanya pun, manusia tetap mempelajarinya lagi atau mengolahnya sendiri dalam pikirannya. Ketika seseorang telah mencapai terang, sesungguhnya dia sedang memperoleh gelap yang lainnya. Ini menunjukkan manusia yang berpikir.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  8. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Guru yang berhasil menggapai terang adalah guru yang mampu dengan segenap tenaga mencurahkan kemampuannya untuk terus belajar memperbaharui dan menambah wawasan keilmuannya guna kepentingan anak-anak didiknya disertai dengan doa kepada Allah S.W.T.. Seperti nasihat yang disampaikan Pak Marsigit dalam perkuliahan bahwa pikirkan apa yang kau kerjakan, kerjakan apa yang kau pikirkan, doakan apa yang kau kerjakan, doakan apa yang kau pikirkan, dan separuh-separuh lainnya agar menjadi satu kebulatan hidup, maka berpikir dan bekerja harus disinergikan.

    ReplyDelete
  9. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 201

    Untuk mencapai titik terang maka perlu adanya kesinambungan antara pikiran dan hati sehingga terbentuk perilaku yang baik. Begitu pula guru yang ingin menggapai terang, maka ia harus menyeimbangkan antara pikiran dan hatinya dalam mengajar. Maka, pikirkan apa yang dikerjakan, kerjakan apa yang dipikirkan. Tak luput, doakan apa yang dipikirkan, doakan apa yang dikerjakan, dan doakan apa yang didoakan.

    ReplyDelete
  10. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Meskipun guru harus terus menerus mengembangkan ilmu pengetahuannya, guru juga harus menggunakan hatinya. Aktivitas berpikir bukan berarti dengan tanpa melibatkan hati. Berpikir hendaknya disertai dengan doa agar pikiran kita tidak terlalu mengembara jauh sampai melupakan spiritual. Keadaan pikiran yang kacau dan hati yang kacau merupakan keadaan gelap. Maka agar pikiran dan hatinya menjadi terang guru harus banyak-banyak berdoa selama berpikir. Namun, disamping itu guru juga harus menyempatkan diri untuk berhenti berpikir, merefleksi, dan merenung. Gunakan hati dengan mengistirahatkan pikiran untuk beribadah dengan khusyuk serta memohon ridho dan ampunan-Nya.

    ReplyDelete
  11. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006

    Manusia akan terus melakukan proses berpikir selama otak masih berfungsi. Kita seharusnya tidak mudah lelah untuk berpikir. Jika semua manusia lelah atau bahkan berhenti untuk berpikir, maka peradaban akan terhenti. Langkah yang bisa dilalui ketaka muncul perasaan lelah dalam berfikir adalah berdoa, berdoa, dan berdoa dalam keridhoan Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Membimbing, mengawasi, menasehati merupakan beberapa usaha yang dilakukan oleh seorang guru untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Hal tersebut dilakukan tidak lain agar para siswa didiknya menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Namun untuk dapat mewujudkan hal tersebut diperlukan usaha dengan diiringi dengan doa. Doa-doa yang selalu dilantunkan seorang guru akan memberikan suatu jalan ketika menghadapi suatu masalah. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru tentu harus selalu menjadi guru yang dapat mendidik para siswa menjadi pribadi yang baik dan disertai dengan doa kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk-Nya.

    ReplyDelete
  13. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Elegi seorang guru menggapai terang menjelaskan tentang rasa bosan yang datang menghampiri guru dalam segala aktivitasnya. Tetapi guru diingatkan bahwa jika bosan menjadi guru berarti bosan juga dengan ilmu yang dimilikinya. Maka ada solusi lain untuk mengatasi itu yaitu guru harus melakukan segala sesuatu dengan hati, tanpa beban agar rasa bosan yang datang bisa pergi dan ilmu yg dimiliki oleh seorang guru bisa bermanfaat.

    ReplyDelete
  14. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251013

    Elegi ini mencoba mengingatkan bahwa perlu adanya evaluasi atau perenungan bagi guru dalam pembelajarannya. Terkadang guru tidak menyadari bahwa ada beberapa kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran. Terkadang guru merasa bahwa pembelajaran yang diberikan sudah seuai dengan proses pembelajaran tanpa memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Menggapai terang bagi guru adalah ketika guru senantiasa merefleksi proses belajar mengajar yang dilaksanakan.

    ReplyDelete
  15. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Metode yang dapat digunakan agar dapat menjadi guru yang ideal adalah terdapat dua pilihan yaitu berpikir dalam pikiran dan berpikir dalam hati. Berpikir dalam pikiran merupakan suatu aktivitas berpikir yang hanya melibatkan pikiran saja, sedangkan berpikir dalam hati merupakan suatu aktivitas berpikir yang tidak hanya melibatkan pikiran melainkan menghadirkan rasa keyakinan dalam hati. Mengingat guru merupakan panutan bagi seluruh siswa maka sebaik-bak guru adalah memberikan contoh akhlak yang baik kepada siswanya.

    ReplyDelete
  16. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berpikir dalam hati dapat menjadi referensi tetap dalam mengawali perkembangan siswa dalam belajar. Sinkronisasi antara pikiran dan hati merupakan tindakan yang baik ketika ingin melakukan suatu aktivitas. Ketika kita yakin dengan apa yang akan kita kerjakan maka pikiran kita juga akan semakin mudah untuk difungsikan sebagaimana mestinya. Perbuatan yang baik adalah perbuatan yang membuat kita yakin dengan apa yang akan kita perbuat. Oleh karena itu, kenapa pentingnya menghadirkan keyakinan dalam hati ketika ingin melakukan suatu aktivitas yang mengakibatkan pikiran menjadi tenang.

    ReplyDelete
  17. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Untuk mendapatkan sesuatu yang besar diperlukan usaha yang sama besarnya pula. Begitu pula dengan menuntut ilmu, tidak ada yang mudah dalam setiap prosesnya. Lelah itu pasti dan yang pasti bisa kita lakukan dalam menghadapinya adalah menenangkan hati, senantiasalah berdoa kepada sang Pemberi Lelah, karena hanya Dia pulalah yang dapat mengangkat kelelahan tersebut dan menggantinya dengan ketenangan. Semua kelelahan dan perjuangan tersebut akan tergantikan dengan manisnya ilmu yang didapat, maka bertahanlah. Tenangkanlah dulu hatimu, ikhlaskan lelah mu agar menjadi Lillah.

    ReplyDelete
  18. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Agar tidak terbelenggu dalam gelap, guru harus terus mencari keterangan dalam hidupnya. Guru jangan mudah menyerah dan merasa cukup puas dengan ilmu yang dimilikinya. Guru harus senantiasa berinovasi untuk membangun suasana kelas dan keprofesionalitasnya menjadi lebih baik lagi. Dengan begitu guru akan selamat dari gelapnya dunia
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  19. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Lelah berpikir, siapa yang tidak merasakan itu selama membaca elegi-elegi ini? Mungkin sebagian mearas lelah. Memang ada rasa lelah namun kita perlu bercermin lagi pada diri kita, masihkah rasa lelah itu pantas ada dalam diri kita? Adanya elegi-elegi ini pasti ada maksud tertentu yaitu memberikan kita kesempatan untuk berpikir juga berefleksi. Perlu kita siapkan hati dan pikiran saat membaca blog ini lebih khususnya persiapkan hati dan pikiran dalam menuntut ilmu. Mungkin juga blog ini memberikan jalan kepada kita menuju sesuatu yang terang yaitu bertambahnya ilmu. Menggapai terang selayaknya harus kita raih agar dapat memahami apa yang ada dalam pikiran kita dan di luar pikiran kita.

    ReplyDelete
  20. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Dari elegi yang disampaikan ini kita memperoleh satu pelajaran bahwa saat kita sedang merasa lelah dalam pikiran solusinya adalah hati yang tenang. Dan hati yang tenang diperoleh dengan mendekatkan diri pada Allah SWT yang salah satu caranya adalah dengan berdoa. Hati yang tenang juga dapat diperoleh dengan mengerjakan sesuatu dengan tulus dan ikhlas. Walaupun menusia dengan keterbatasannya sulit untuk benar-benar ikhlas. Namun manusia selalu punya kesempatan untuk berikhtiar.

    ReplyDelete
  21. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Proses berfilsafat jika belum didasari dengan hati yang tulus dan ikhlas akan terasa berat dan melelahkan. Oleh karena itu, kunci dalam mempelajari filsafat adalah harus ikhlas. Sedangkan ikhlas itu letakknya di hati. Hati identik dengan doa. Maka filsafat sebagai proses berfikir tidak bisa lepas dari berdoa. Maka selalu berdoa memohon kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Menjadi seorang guru yang hebat juga demikian. Tidak mungkin seseorang dapat menjadi guru tanpa disadari niat yang tulus dan hati yang ikhlas terlebih dulu. Karena sejatinya guru adalah profesi yang sangat mulia. Ia memberikan penerangan kepada murid-muridnya sehingga melihat dan bersemangat mengarungi masa depan kelak.

    ReplyDelete
  23. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Masalah dapat muncul kapanpun dan dimanapun serta mungkin kita tidak akan menyadarinya. Masalah ini tentunya memerlukan solusi penyelesaian. Tidak dapat dipungkiri terkadang kita tidak mampu memikirkan dan menciptakan solusi tersebut. Artinya pikiran dan hati kita berada di ruang yang berbeda. Artinya diri kita mulai goyah dengan gangguan yang ada. Berdoa dan memohon kepada Tuhan adalah jalan yang harus diambil sehingga kita mampu mengatasi permasalahan ini dengan baik. Artinya kita berusaha menggapai terangnya kehidupan yang terdahulu pernah kita capai sebelumnya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  24. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Ibarat bulan dan bintang, bulan adalah gurunya dan bintang-bintang di sekitaran bulan ada murid-muridnya. Berarti terangnya bulan menjadi tujuan utama murid untuk muncul karena memang sudah waktunya untuk muncul bila bulan telah muncul. Guru yang hanya memantulkan cahaya dari matahari karena memang bulan tidak mengeleuarkan cahayanya sendiri. Guru mendapat terang atau mendapat ilmu dari maha guru yang telah mengajarnya dahulu untuk dilanjutkan kepada muridnya.

    ReplyDelete