Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru Menggapai Terang




Oleh: Marsigit

Guru menggapai terang mulai kelelahan:

Aku mulai lelah dan kelihatannya mulai mengalami krisis. Karena selama ini waktuku kuhabiskan hanya untuk berdiskusi. Aku mulai merasakan adanya jarak antara hatiku dan pikiranku. Apakah terlalu banyak berpikir itu baik jadinya? Apakah terlalu banyak bertanya baik pula jadinya? Apakah terlalu banyak berkata juga baik jadinya? Apa terlalau banyak membaca baik jadinya? Yang jelas aku mulai merasakan kelelahan dalam diriku.

Apalagi setelah membaca Elegi-elegi nya Pak Marsigit. Sungguh itu semua melelahkan pikiranku. Mengapa musti aku punya kesempatan harus membaca elegi-elegi itu. Bukankah tidak membacanya sebetulnya mungkin tidak apa-apa? Tetapi apakah saya harus menyesali semua kejadian yang pernah aku alami. Bukankah segala apa yang telah terjadi pada diriku itulah takdir Nya. Dan itu aku harus berima kepada Nya. Tetapi aku merasakan bahwa segala macam kelelahanku berpikir, mengapa selalu saja berakhir pada keraguan. Dan keraguanku semuanya selalu berakhir pada pertanyaan. Jangankan sydah bertanya. Baru berniat bertanya saja maka bayangan si Orang Tua Berambut Putih itu datang kembali. Sungguh membosankan. Tetapi bukankah hakekat orang tua berambut putih itu adalah ilmuku? Kalau begitu maka pantaslah jika aku bosan terhadap ilmuku? Aku teringat titah orang tua itu, bahwa ilmuku adalah hidupku. Maka jika aku bosan terhadap ilmuku maka berarti aku bosan terhadap hidupku. Astaghfirullah Al Adzimu, Ya Allah ampunilah segala dosa dan khilafku. Tidaklah aku bermaksud bahwa kelelahan ku berakhir dengan kematianku. Nau dzubillah mindzalik. Tetapi mengapa ya Tuhan, kelelahan badan sembuh oleh tidurku tetapi aku sekarang sedang mengalami kelelahan pikir. Kemudian bagaimanakah solusinya?
Orang tua berambut putih datang:
Aku bersyukur bahwa engkau masih sudi memanggilku.
Guru menggapai terang:
Oh iya, apakah aku tadi telah bertanya? Ya ampun bahkan kalimatku yang terakhir ini pun tanda bahwa aku telah bertanya. Sesuai janjinya, orang tua itu akan selalu datang ketika aku bertanya. Salam guruku. Ketahuilah setelah membaca banyak elegi, bertanya, berpikir maka aku mulai kelelahan dam pikiranku. Bagaimana solusinya wahai guruku.
Orang tua berambut putih:
Salam juga. Satu-satunya solusi bagi kelelahan dalam pikiranmu adalah “hati” mu. Hatimu itulah pembuat sejuk piiranmu. Padahal engkau tahu bahwa hatimu itulah doa mu. Maka selalu sempatkanlah berdoa, mohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaanmu, termasuk jikalau engkau sedang berpikir sekalipun.
Guru menggapai terang:
Aneh kedengarannya guru. Bukankah guru pernah mengatakan bahwa ketika aku tidak mampu lagi bertanya maka hilanglah dirimu itu. Artinya aku tidak bisa lagi berpikir. Jadi, bagaimana pula aku berdoa sambil berpikir.
Orang tua berambut putih:
Jangankan sambil berpikir. Sambil tidur saja sebenar-benar umat haruslah mampu mengingat Tuhan Nya.
Guru menggapai terang:
Aku tidak paham guru. Dan aku merasa tidak mampu untuk itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar metode. Agar engkau memperoleh terang maka kembangkan dan gunakan metode sesuai dengan peruntukannya. Kelelahan dalam pikiranmu pertanda belum terang dalam hatimu. Dan gelapnya hatimu dapat menyebabkan kacaunya pikiranmu. Kelelahan pikiranmu adalah tanda kacaunya pikiranmu.
Guru menggapai terang:
Terus bagaimana dengan berpikir sambil berdoa guru?
Orang tua berambut putih:
Berdoa dalam berpikir adalah tentu lain dengan berpikir dalam doa. Berdoa dalam berpikir adalah doa itu sebagai landasan pikiranmu. Jadi sejauh-jauh pikiranmu mengembara maka itu harus engkau kendalikan dengan doamu. Sedangkan berpikir dalam doa tidak lain tidak bukan adalah bahwa hatimu itulah sebenar-benar pikiranmu. Jadi berpikir dalam pikiran dan berpikir dalam hati sebenar-benarnya adalah dua hal yang berbeda. Maka itulah sebenar-benar metode.
Guru menggapai terang:
Bagaimanakah metodenya untuk berpikir dalam hati.
Orang tua berambut putih:
Berbagai macam cara dapat engkau gunakan. Itulah sebenar-benar tuntunan. Maka lihat dan bukalah kembali tuntunan yang selama ini kau yakini. Itulah sebenar-benar tuntunan para Nabi dan Rosul.
Guru menggapai terang:
Kemudian, bagaimanakah metode berpikir itu?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar semua yang pernah dan sedang kita bicarakan.
Guru menggapai terang:
Apa maksud guru?
Orang tua berambut putih:
Semua elegi yang ditulis oleh Marsigit, itulah sebenar-benar metode berpikir. Maksudku, jika semua elegi kita jadikan satu pun, maka bisa aku beri judul metode berpikir. Itu pulalah yang telah membuatmu merasa lelah.
Guru menggapai terang:
Dengan sekian dialog, dengan sekian pertanyaan, dengan sekian contoh dan elegi, ternyata aku merasa banyak hal belum aku ketahui, wahai guruku. Apakah keadaanku yang demikian dapat dikatakan bahwa aku masih dalam kegelapan.
Orang tua berambut putih:
Baiklah cobalah ambil contoh manakah hal-hal yang engkau rasakan belum paham.
Guru menggapai terang:
Apakah yang dimaksud dengan bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Saya waspada dan tidak begitu yakin dengan pertanyaan mu. Mengapa orang dewasa seperti engkau masih bertanya arti bilangan. Bukankah semua murid-murid SD sudah bisa memahaminya apa itu bilangan.
Guru menggapai terang:
Maksud saya apakah hakekat bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Oh itulah pertanyaanmu. Itu memang pertanyaan seorang dewasa. Itu bagus, karena sebagai seorang guru semestinya engkau sudah bisa berpikir dewasa. Sebelum aku menjelaskan apa hakekat bilangan, maka aku akan mengajukan pertanyaan terlebih dulu kepadamu. Menurutmu, bilangan ada di mana?
Guru menggapai terang:
Kenapa guru bertanya begitu mudahnya. Bukankah kita tahu bahwa bilangan ada di mana-mana. Di jalan-jalan, di pasar, di toko-toko, itu semua tempatnya bilangan, guru.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanku yang lebih spesifik. Bilangan itu ada di dalam pikiranmu atau di luar pikranmu?
Guru menggapai terang:
Bilangan ada di dalam pikiranku dan juga ada di luar pikiranku, guru.
Orang tua berambut putih:
Sebutlah bilangan “lima”. Bilangan lima yang ada di dalam pikiranmu apakah sama dengan bilangan lima yang ada di luar pikiranmu?
Guru menggapai terang:
Aku ragu-ragu guru.
Orang tua berambut putih:
Baik, lihatlah bilangan lima yang aku tulis di kertas ini. Lihatlah. Setelah itu, kertas ini saya ambil dan saya lempar ke tempat sampah. Masihkah engkau bisa memikirkan bailangan lima tadi?
Guru menggapai terang:
Masih guru. Aku masih ingat betul bilangan lima yang engkau tulis itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat bilangan. Bilangan yang engkau lihat, dialah bilangan yang ada di luar pikiranmu, sedangkan bilangan yang engkau ingat, itulah sebenar-benar bilangan yang ada dalam pikiranmu. Jadi apakah engkau sudah bisa membedakannya?
Guru menggapai terang:
Baik guru aku sudah bisa membedakannya.
Orang tua berambut putih:
Setelah engkau tahu bedanya, tahap berikutnya adalah mampukah kamu menyebut ciri-cirinya?
Guru menggapai terang:
oh..oh belum bisa guru
Orang tua berambut putih:
Bukankah engkau menyadari bahwa bilangan yang ada dalam pikiranmu itulah sebenar-benar bilangan yang abadi. Lima dalam pikiranmu itulah bersifat tetap. Dia tidak berwarna. Dia tidak berbau. Dia tidak mengalami cacat sedikitpun. Dia itu sempurna, paling tidak sempurna dalam pikiranmu. Sedangkan lima dalam kertas yang telah aku campakkan, dialah berwarna hitam. Dialah bersifat rusak. Dialah berpenampilan tidak baik. Dialah bersifat hilang dari pandanganmu.
Guru menggapai terang:
Oh guru aku mulai mendapat terang darimu. Dapatkan aku menggunakan cara yang sama untuk memikirkan selain bilangan, misalnya kubus, misalnya batu, misalnya uang, misalnya buku, misalnya ...dst benda-benda.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanmu sudah terjawab sebelum engkau selesai bertanya. Namun ketahuilah bahwa aku masih meragukan klaimmu akan perasaan terangmu dalam pikiranmu. Karena yang aku diskusikan denganmu hanyalah satu dari seribu sifat-sifat obyek pikiran.
Guru menggapai terang:
Mohon guru berikan apa pula sifat-sifat obyek yang lain?
Orang tua berambut putih:
Aku bisa bertanya kepadamu. Bilangan lima yang ada dalam pikiranmu itu ada berapa. Satu, dua, tiga atau banyak? Bilangan lima yang berada di luar pikiranmu itu ada berapa, satu, dua, tiga atau banyak? Jika engkau pikir bilangan lima berada dalam pikiranmu, maka bagaimanakah engkau bisa meyakinkan kepada orang lain bahwa dia sedang berada bear-benar di dalam pikiranmu. Tetapi jika engkau berpendapat bahwa bilangan lima berada di luar pikiranmu, maka bagaimana anda bisa percaya kepada sesuatu hal yang mempunyai sifat tidak sempurna?.
Guru menggapai terang:
Kenapa pikiranku menjadi gelap lagi guru?
Orang tua berambut putih:
Apakah engkau sedang bicara tentang sukar dan mudahnya berpikir? Apakah engkau sedang mendifinisikan bahwa sukar adalah gelap dan terang adalah mudah? Lalu bagaimana dengan terangnya hatimu dan gelapnya hatimu?
Guru menggapai terang:
Sekarang aku merasa terang setidaknya untuk melihat yang gelap. Walaupun aku merasakan bahwa terang sedikit yang aku dapatkan ternyata menyebabkan aku bisa melihat gelapku yang lebih banyak lagi dan berlipat-lipat jumlahnya. tetapi yang jelas aku sekarang sudah sembuh dari rasa lelahku. Karena selama aku mendengarkan titahmu aku selalu melantunkan doa-doaku.
Orang tua berambut putih:
Aku terharu mendengar penuturanmu. Mengapa aku terharu, karena selama aku memberikan titah-titahku kepadamu aku juga selalu melantunkan doa-doaku. Aku mendapat titipan dari Pak Marsigit, untuk sementara memberimu kesempatan merenung, memikirkan, serta mengimplementasikan. Di samping itu, tidak lah baik kiranya melebih-lebihkan sesuatu, karena Tuhan tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. Sampai di sini dulu Elegi Guru. Selamat berjuang semoga berhasil. Amin.

30 comments:

  1. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang guru menggapai terang dapat diartikan sebagai guru adalah sosok yang berperan membawa lentera untuk siswa siswa nya. Guru lah yang membawa harapan akan cerah atau tidaknya masa depan mereka. Guru diharapkan tidak hanya menekankan pada satu disiplin ilmu untuk di share kepada muridnya, melainkan bisa dikembangkan akan bekal-bekal yang nantinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  2. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Lentera disini bukanlah sebuah lampu yang terbelenggu di dalam seonggok kaca disekelilingnya. Lentera disini merupakan sumber cahaya tak terbatas, tak bersyarat, serta tak terbatas oleh waktu. Keihklasan untuk senantiasa menemani siswa-siswinya melawan kegelapan.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Ketika guru mengalami kelelahan maka hanya hati yang dapat menyembuhkannya. Hati yang mampu berkomunikasi dengan Allah SWT untuk meminta ampunan dan mengingat Allah SWT dalam keadaan seperti apapun. Setelah saya banyak membaca elegi yang bapak buat, saya merasa lebih terang karena kita dapat belajar banyak al melalui elegi-elegi mulai dari diri kita, kehidupan kita, pendapat para filsuf dan yang apling penting elegi mengajarkan kita bagaimana mendekatkan hati dan dirikita kepada Allah SWT. Terimakasih bapak atas semuanya.

    ReplyDelete
  4. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B

    "Sekarang aku merasa terang setidaknya untuk melihat yang gelap. Walaupun aku merasakan bahwa terang sedikit yang aku dapatkan ternyata menyebabkan aku bisa melihat gelapku yang lebih banyak lagi dan berlipat-lipat jumlahnya". Jika saya diperkenankan untuk ikut berpikir dan berpendapat, apakah salah jika saya mengartikan kutipan tersebut bahwa mencari ilmu tidak akan ada habisnya. Tidak ada ilmu yang sifatnya final, begitu bukan? Ketika kita merasa terjelaskan oleh satu pokok bahasan, maka keadaan "jelas/paham" dalam diri kita membawa kita untuk memahami bahwa terdapat banyak topik bahasan yang belum kita ketahui. Terlalu tinggi hati rupanya, terlalu sombong diri ini, dengan seenaknya menyimpulkan dan mengartikan. Rupanya masih banyak sisi gelap yang harus ku ubah. Bismillah, dengan doa.

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kelelahan dan kejenuhan akibat aktifitas yang rutin dan monoton adalah hal yang wajar. Rutinitas yang padat serta banyak sekali kegiatan yang berkaitan dengan kerja dan belajar telah menjadikan manusia merasa jenuh dengan kehidupannya. Memang itu salah satu sifat manusia yang sering kali mengeluh, ketika merea menganggur mereka mengeluh, sibuk mengeluh, hingga sampai pada tahap kejenuhan. Jenuh dalam hidup memiliki arti bahwa seseorang tidak nyaman dan selalu merasa gelisah dengan kualitas hidup yang mereka miliki. Untuk mengatasi hal tersebut maka hal yang perlu dilakukan adalah berdoa kepada Allah SWT dan senantiasa introspeksi diri dengan segala kesalahan yang pernah diperbuat. Kemudian cobalah untuk membuka diri, memperbanyak teman dan datanglah ke tempat-tempat yang tenang namun menyenangkan

    ReplyDelete
  6. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Subhanallah, sungguh sangat luar biasa sesuatu yang diawali dengan doa. Setiap saat akan lekat dalam pikiran individu. Saya juga sependapat bahwa hati mampu melihat segala sesuatu. Contohnya, saat seseorang memejamkan mata ia tidak dapat melihat apa yang ada di depannya namun ia dapat melihat dengan hati serta dapat membayangkan apa saja, tidak terlepas hanya pada tempat di mana ia sedang berada. Jika individu tidak tahan dengan lelahnya belajar maka ia akan terperangkap dalam belenggu kebodohan. Satu hal penting yang dapat menjadi pegangan diri saya setelah membaca ulasan ini, yaitu "setiap yang kita sampaikan kepada orang lain maka sedarinya diri kita sendiri yang terlebih dahulu melakukan hal tersebut". Terimakasih saya ucapkan kepada Bapak Marsigit yang selalu memberikan ulasan terkait value yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  7. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi seorang guru menggapai terang ini saya mendapatkan jawaban yang tak pernah saya ketahui sama sekali jawabannya. Yaitu jawaban atas pertanyaan “kenapa saya lelah dalam berfikir?”. Ternyata jawabanya adalah sebenar-benar metode menggapai terang ialah berdoa dalam berfikir. Hal yang tak pernah ditinggalkan setelah selesai melaksanakan kewajiban sholat 5 waktu yaitu berdoa, tetapi ketika berfikir terkadang tidak dilandasi dengan doa yang pada akhirnya menyebabkan kegelapan hati dan kacaunya fikiran.
    Astagfirullah, maafkan hamba atas kebosanan dan ketidak bersyukuran hamba atas ilmu yang Engkau berikan kepada hamba selama ini. Semoga Engkau mengampuni dosa-dosa hamba dan menerangkan hati & fikiran hamba, amin ya rabbal alamin.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca ‘Elegi Seorang Guru Menggapai Terang’ bahwa hati dan pikiran harus selalu dijaga. Maka sempatkanlah berdoa, mohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaanmu.
    Seorang guru harus melakukan inovasi dan pengembangan-pengembangan untuk memperdalam ilmunya.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Ada senang dan susahnya menjadi seorang guru. Senang karena dapat berbagi ilmu, dapat bersedekah ilmu, berkenalan dengan orang-orang baru, dan lain sebagainya. Tetapi disisi lain, ada tugas dan tanggung jawab yang besar menjadi seorang guru. Selain guru itu harus mampu menguasai materi, guru harus mengonsep pembelajaran, guru harus memahami karakter siswa yang berbeda-beda agar proses pembelajaran dapat menjadi maksimal. Dan selain itu guru harus melakukan evaluasi serta harus menyiapkan RPP untuk pembelajaran esok hari. Oleh karena itu, akan muncul kelelahan, kebosanan. Tetapi dengan melihat siswa-siswa dapat belajar dengan ceria, bersemangat, senang, akan membuka pintu ruangan yang gelap itu menjadi terang.

    ReplyDelete
  10. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Ilmu adalah hati seseorang apabila seseorang berhenti untuk mencari imu, maka orang tersebt dapat dikatakan mati. Oleh karena itu tidak ada kata berhenti untuk mencari ilmu, yang ada adalah kita baru menggapai sedikit ilmu dari sekian triliuanan ilmu di dunia ini. Dalam mencari ilmu seseorang dapat memperolehnya dari mana saja, ada dari buku, guru, teman, bahkan lingkungan. Semangat pendidikan sepanjang hayat mengajarkan kita bahwa dalam mencari ilmu tidak hanya berhentisaat kita telah menyelesaikan pendidikan. Tetapi kewajiban kita dalam mencari ilmu harusnya membuat kita semangat untuk menggapai terang agar tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  11. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Meskipun guru harus terus menerus mengembangkan ilmu pengetahuannya, guru juga harus menggunakan hatinya. Aktivitas berpikir bukan berarti dengan tanpa melibatkan hati. Berpikir hendaknya disertai dengan doa agar pikiran kita tidak terlalu mengembara jauh sampai melupakan spiritual. Keadaan pikiran yang kacau dan hati yang kacau merupakan keadaan gelap. Maka agar pikiran dan hatinya menjadi terang guru harus banyak-banyak berdoa selama berpikir. Namun, disamping itu guru juga harus menyempatkan diri untuk berhenti berpikir, merefleksi, dan merenung. Gunakan hati dengan mengistirahatkan pikiran untuk beribadah dengan khusyuk serta memohon ridho dan ampunan-Nya.

    ReplyDelete
  12. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    "Habis Gelap Terbitlah Terang" adalah salah satu karya fenomenal dari pejuang perempuan Indonesia yakni R.A Kartini. Buku tersebut tentu menggambarkan bagaimana harapan seorang Kartini dan perempuan-perempuan Indonesia khususnya agar keluar dari kegelapan (kebodohan) menuju kepada cahaya (ilmu dan kecerdasan). Karena kegelapan sungguh akan membawa seorang manusia kepada ketidaktahuan akan apapun. Kegelapan akan menjauhkan manusia dari Tuhan-Nya dan manusia lainnya. Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai hamba-Nya terus berjalan menuju kepada cahaya. Berupa apakah cahaya itu? berupa ilmu. Ya, gapailah ilmu dimanapun berada. Ilmulah yang akan mengantarkanmu kepada cahaya atau terang. Tetapi dalam menggapai ilmu jangan lupa untuk selalu berdoa kepadaNya-Nya agar ilmu tersebut benar-benar membawamu kepada cahaya.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Satu kalimat yang paling menarik di sini adalah ‘ilmuku adalah hidupku. Maka jika aku bosan terhadap ilmuku maka berarti aku bosan terhadap hidupku’ Ini adalah pengingat kita untuk tidak mudah bosan dan lelah dalam menuntut ilmu. Ketika berada dalam keadaan bosan artinya hati kita sedang diselimuti oleh kegelapan. Maka hendaklah jikala bosan datang, bersihkan hati dengan bersyukur dan selalu mengingat Tuhan SWT dalam keadaan apapun. Dengan selalu melantunkan doa kepada-Nya kita mampu menggapai terang.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Manusia adalah makhluk yang dianugrahi akal pikiran oleh Allah. Manusia perlu bersyukur dan menggunakan akal pikiran dengan sebaik-baiknya yaitu untuk menuntut ilmu dan berpikir. Dengan berpikir, kita akan memperoleh banyak pengetahuan baik melalui sumber belajar maupun pengalaman langsung.
    Namun perlu diingat, tidak semua hal itu harus mendahulukan pikiran. Kita memiliki penyeimbang yaitu hati. Hati sebagai penyeimbang pikiran ketika pikiran mulai menuju hal yang tidak baik. Jika manusia memiliki hati dan pikiran yang baik dan jernih maka manusia akan memiliki nilai spiritual yang baik.

    ReplyDelete
  15. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Sebagai seorang guru pasti pernah mengalami lelah dan bosan dalam mengajar, lelah dan bosan untuk berinovasi, lelah dan bosan untuk menjadi kreatif, lelah dan bosan untuk memperkaya ilmu, lelah dan bosan untuk meningkatkan kemampuan, lelah dan bosan dengan ilmunya. Tetapi jika seseorang lelah dan bosan dengan ilmunya, maka ia lelah dan bosan pada dirinya sendiri. Karena ilmunya adalah dirinya sendiri. Sesungguhnya kelelahan tersebut berada di dalam pikiran kita. Kelelahan dan kebosanan di dalam pikiran tersebut memiliki solusi yaitu “hati”. Hati kita itulahpembuat sejuk pikiran kita. padahal hati adalah doa. Maka selalu sempatlah kita berdoa, memohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaan kita, termasuk jika kita sedang berpikir.
    Agar kita memperoleh terang maka kita harus selalu mengingat-ingat tuhan kapanpun itu. Dengan menggunakan dan mengembangkan metode sesuai dengan peruntukannya. Kelelahan dalam pikiran kita pertanda belum terang dalam hati kita. dan gelapnya hati kita dapat menyebabkan kacaunya pikiran kita. kelelahan pikiran kita adalah tanda kacaunya pikiran kita. oleh karena itu marilah kita berdoa dalam berpikir. Berdoa dalam berpikir adalah doa itu sebagai landasan pikiran kita. jadi sejauh-jauh pikiran kita mengembara maka itu harus kita kendalikan dnegan doa kita.

    ReplyDelete
  16. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang manusia pastilah pikiran kita adakalanya lelah dengan berbagai tugas, pekerjaan, dan hal-hal lainnya. Maka kita harus menyadari bahwa lelahnya piliran itu karena kacaunya hati. Kacaunya hati karena kurangnya doa kita kepada Allah SWT. Karena itulah dalam setiap detik kita harus selalu mengingatnya. Karena itulah setiap hal yang kita lakukan harus karena Nya, termasuk dalam belajar dan mencari ilmu agar kita selalu mengingat Nya, agar Allah menunjukkan kita mana jalan yang terang dan mana jalan yang gelap.

    ReplyDelete
  17. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sesungguhnya gelap dan terang itu relatif. Semua tergantung bagaimana hati dan pikiran kita dalam memaknainya. Sebagai seorang guru, pastilah kita akan banyak menemui persimpangan-persimpangan jalan untuk menuju suatu kegelapan maupun suatu yang terang. Itulah dimana kita dituntut untuk lebih memaknai untuk lebih berpikir kembali dan merefleksikan apa yang telah kita pelajari. Jangan melupakan faktor doa sebagai senjata kita untuk mengadu kepada Allah SWT, mendapatkan cahaya dari Allah karena sebenar-benar Rahmat dan Hidayat hanya atas izin Allah.

    ReplyDelete
  18. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Seorang Guru Menggapai Terang. Setelah membaca elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwasanya kelelahan fisik dapat diobati dengan tidur, sedangkan kelelahan pikir dapat diobati hanya dengan doa berserah diri kepada Allah swt. Sebagai manusia, wajar jika mengalami kejenuhan dan kelelahan dalam hidup. Begitupula seorang guru, wajar jika merasa jenuh dengan aktifitas belajar dan mengajar. Namun jangan sampai kejenuhan terus membelengu dan membuat kita lalai akan tugas yang kita emban. Terimakasih.

    ReplyDelete
  19. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Dalam kehidupan, ada kalanya seseorang merasa kelelahan, baik kelelahan fisik maupun emosional. Ketika kita kelelahan secara fisik, kita dapat menyembuhkannya dengan beristirahat. Namun, ketika kita mengalami kelelahan emosional, istirahat saja tidak cukup, kita perlu menjernihkan pikiran dengan berdoa dan refleksi diri agar hati dan pikiran menjadi bersih dan terang. Saat kita melakukan suatu kegiatan, hendaknya selalu kita iringi dengan doa dalam berpikir, karena doa itu merupakan landasan pikiran kita. Doa merupakan kekuatan fisik dan spiritual kita.

    ReplyDelete
  20. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi seorang guru menggapai terang ini, menjelaskan bahwa hakekatnya kita harus berfikir dalam hati. Bukan berfikir dalam fikir. Ketika kita sebagai seorang guru nanti khususnya ketika kita telah mulai lelah, maka ingatlah dalam doa. Sebenarnya apapun yang kita lakukan haruslah didasarkan atas doa kepada-Nya. Satu-satunya solusi bagi kelelahan dalam pikiran adalah “hati”. Hati itulah pembuat sejuk piiran kita. Padahal kita tahu bahwa hati kita itulah doa mu. Maka selalu sempatkanlah berdoa, mohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaan kita, termasuk jikalau kita sedang berpikir sekalipun. Terimakasih pak postingannya.
    Semoga kita semua dapat mengatasi segala kelelalahan kita nantinya.

    ReplyDelete
  21. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Elegi menggapai terang artinya menggapai hati yang terang. Namun mencapai hal tersebut pasti adanya hambatan, salah satunya adalah kelelahan dalam pikiran. Jika kelelahan dalam pikiran maka berakibat bahwa beleum terangnya hati. Untuk menggapi terang yaitu dengan berdoa. Berdoa kepada Allah SWT semata-mata mengharapkan ridha dari-Nya, serta menjadikan Al-Quran dan sunah Rasulullah sebagai tuntunan dalam hidup. Dalam rangka menggapai terang, maka sudah sepatutnya guru bisa menjelaskan setiap objek pikir yang ada di dalam maupun luar pikiran siswa. Misalnya mata pelajaran matematika, karena matematika yang bersifat abstrak cenderung akan sulit dipahami oleh siswa jika tidak berbentuk kongkret.

    ReplyDelete
  22. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ternyata penyembuh lelah pikir adalah hati. Dalam menggapai terang guru hendaknya menggunakan pikiran dan hati. Ilmu harus selalu dicari dan digapai selain itu juga hendaknya diiringi dengan doa. Berdoa di dalam pikiran dan berpikir di dalam doa. Dalam menggapai ilmu hendaknya dilandasi dengan hati, serta berpikir menggunakan hati, keduanya adalah hal yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan ini. Agar dapat menggapai terang.

    ReplyDelete
  23. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya belajar dan mengambil hikmah berkaitan dengan seseorang yang menggapai terang. Artinya atau analoginya seseorang yang senantiasa mencari kebenaran terus menerus. Mencarinya yaitu dengan bertanya, diskusi, membaca, merefleksi dan dengan doa. Beliau Bapak Marsigit selalu mengingatkan akan pentingnya keselarasan pikiran dan hati. Ikhlasnya pikiran dan hati. Kebingungan boleh dalam pikiran tetapi jangan sekali-kali terjadi di hati. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang sennatiasa menggapai terang tersebut. Karena terang atau cahaya atau nur adalah hal yang penting dalam kehidupan yang kita butuhkan. Layaknya nur cahaya Al-quran yang kita butuhkan. Sehingga sunatullah jika kita ingin menggapai terang.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas ulasan diatas yang membuat kita tersadar akan kekacauan dan kelelahan pikiran kita merupakan sisi gelap yang harus kita lawan. Seolah kita sudah menguasai banyak ilmu dan wawasan, mengetahui banyak informasi dan pengetahuan, mengapa adakalanya titik lelah itu datang dan menguasai nafsu manusia. Padahal ketika aku tidak mampu lagi bertanya maka hilanglah diriku dan aku tidak bisa lagi berpikir. maka ketika itulah egoku menjadi menguasaiku, mitos pun juga ikut-ikutan, kebosanan dan kelelahan pikiranku pertanda belum terang dalam hatiku. Dan gelapnya hatiku dapat menyebabkan datangnya gejala kekacauan bahkan rusaknya pikiranku, astaghfirullahal'adzim. Maka sebenar-benar obat dari penyakit hati dan kacaunya pikiran hanya doa dan memasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Karena hanya Dialah Dzat yang mampu memberi kita pencerahan dan jalan penerang agar kita tetap teguh hati dan pikiran dalam menuntut ilmu dan melakukan segala aktivitas. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  26. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Suatu kelelahan pikiran yang dapat teratasi dengan do'a, yang artinya sesuatu yang bersifat dipikir harus tetap dikembalikan ke hati. Karena apa yang ada dihati adalah apa yang menjadi keprcayaan kita terhadap Allah. Kacau pikiran dapat terobati dengan hati, karena apa yang ada dihati adalah do'a-do'a yang selalu dipanjatkam kepada ALlah agar segala sesuatu yang kacau dalam pikir selalu diberi pertolongan oleh Allah.

    ReplyDelete
  27. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Lelah.. iya itu juga yang saya rasakan. Tapi tak sampai mau bunuh diri sih pak, haha. Elegi-elegi ini seakan menghantui membuat saya terbayang-bayang saat meninggalkan kewajiban saya untuk membacanya.
    Tetapi saya bersyukur, bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk melakukan refleksi diri.
    Siapa bilang tak boleh lelah? Lelah itu tanda berusaha. Yang tak boleh hanya menyerah. Doalah yang menguatkan diri untuk tetap berusaha di kala lelah.

    ReplyDelete
  28. menjadi guru bukanlah akhir dari proses belajar, justru guru harus terus belajar, mencati inovasi baru d era pendidikan global ini. Guru menggapai terang berusaha belajar , belajar dan belajar melalui diskusi dengan orang tua berambut putih. Belajar tidak pandnag usia, belajat merupakan proses mencari pengetahuan baru. Guru menggapai terang merupakan salah satu ikhtiar bagi guru untuk meningkatkan kualitas diri.Semoga guru-guru kita selalu di beri kesehatan dan barakah agar dapat senantiasa membimbing kita.amien Terima Kasih

    ReplyDelete
  29. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk menggapai terang, guru tidak hanya mengandalkan area pikiran saja. Guru juga tetap mengandalkan dimensi spiritualitas yaitu doa. Doa itulah yang menghindarkan guru dari rasa lelah, lesu, bosan, dan lainnya. Menjadi guru memang seharusnya merasakan kelelahan. Tetapi banyak juga guru menganggap kelelahan sebagai suatu kenikmatan. “Lelah” dalam proses transfer of knowledge adalah ladang pahala bagi para guru. Untuk itu, semangatlah para guru! Jangan sampai lelahmu menghentikan langkahmu untuk mendidik calon-calon tunas bangsa.

    ReplyDelete