Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru Menggapai Terang




Oleh: Marsigit

Guru menggapai terang mulai kelelahan:

Aku mulai lelah dan kelihatannya mulai mengalami krisis. Karena selama ini waktuku kuhabiskan hanya untuk berdiskusi. Aku mulai merasakan adanya jarak antara hatiku dan pikiranku. Apakah terlalu banyak berpikir itu baik jadinya? Apakah terlalu banyak bertanya baik pula jadinya? Apakah terlalu banyak berkata juga baik jadinya? Apa terlalau banyak membaca baik jadinya? Yang jelas aku mulai merasakan kelelahan dalam diriku.

Apalagi setelah membaca Elegi-elegi nya Pak Marsigit. Sungguh itu semua melelahkan pikiranku. Mengapa musti aku punya kesempatan harus membaca elegi-elegi itu. Bukankah tidak membacanya sebetulnya mungkin tidak apa-apa? Tetapi apakah saya harus menyesali semua kejadian yang pernah aku alami. Bukankah segala apa yang telah terjadi pada diriku itulah takdir Nya. Dan itu aku harus berima kepada Nya. Tetapi aku merasakan bahwa segala macam kelelahanku berpikir, mengapa selalu saja berakhir pada keraguan. Dan keraguanku semuanya selalu berakhir pada pertanyaan. Jangankan sydah bertanya. Baru berniat bertanya saja maka bayangan si Orang Tua Berambut Putih itu datang kembali. Sungguh membosankan. Tetapi bukankah hakekat orang tua berambut putih itu adalah ilmuku? Kalau begitu maka pantaslah jika aku bosan terhadap ilmuku? Aku teringat titah orang tua itu, bahwa ilmuku adalah hidupku. Maka jika aku bosan terhadap ilmuku maka berarti aku bosan terhadap hidupku. Astaghfirullah Al Adzimu, Ya Allah ampunilah segala dosa dan khilafku. Tidaklah aku bermaksud bahwa kelelahan ku berakhir dengan kematianku. Nau dzubillah mindzalik. Tetapi mengapa ya Tuhan, kelelahan badan sembuh oleh tidurku tetapi aku sekarang sedang mengalami kelelahan pikir. Kemudian bagaimanakah solusinya?
Orang tua berambut putih datang:
Aku bersyukur bahwa engkau masih sudi memanggilku.
Guru menggapai terang:
Oh iya, apakah aku tadi telah bertanya? Ya ampun bahkan kalimatku yang terakhir ini pun tanda bahwa aku telah bertanya. Sesuai janjinya, orang tua itu akan selalu datang ketika aku bertanya. Salam guruku. Ketahuilah setelah membaca banyak elegi, bertanya, berpikir maka aku mulai kelelahan dam pikiranku. Bagaimana solusinya wahai guruku.
Orang tua berambut putih:
Salam juga. Satu-satunya solusi bagi kelelahan dalam pikiranmu adalah “hati” mu. Hatimu itulah pembuat sejuk piiranmu. Padahal engkau tahu bahwa hatimu itulah doa mu. Maka selalu sempatkanlah berdoa, mohon ampun dan mengingat Allah SWT dalam segala apapun keadaanmu, termasuk jikalau engkau sedang berpikir sekalipun.
Guru menggapai terang:
Aneh kedengarannya guru. Bukankah guru pernah mengatakan bahwa ketika aku tidak mampu lagi bertanya maka hilanglah dirimu itu. Artinya aku tidak bisa lagi berpikir. Jadi, bagaimana pula aku berdoa sambil berpikir.
Orang tua berambut putih:
Jangankan sambil berpikir. Sambil tidur saja sebenar-benar umat haruslah mampu mengingat Tuhan Nya.
Guru menggapai terang:
Aku tidak paham guru. Dan aku merasa tidak mampu untuk itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar metode. Agar engkau memperoleh terang maka kembangkan dan gunakan metode sesuai dengan peruntukannya. Kelelahan dalam pikiranmu pertanda belum terang dalam hatimu. Dan gelapnya hatimu dapat menyebabkan kacaunya pikiranmu. Kelelahan pikiranmu adalah tanda kacaunya pikiranmu.
Guru menggapai terang:
Terus bagaimana dengan berpikir sambil berdoa guru?
Orang tua berambut putih:
Berdoa dalam berpikir adalah tentu lain dengan berpikir dalam doa. Berdoa dalam berpikir adalah doa itu sebagai landasan pikiranmu. Jadi sejauh-jauh pikiranmu mengembara maka itu harus engkau kendalikan dengan doamu. Sedangkan berpikir dalam doa tidak lain tidak bukan adalah bahwa hatimu itulah sebenar-benar pikiranmu. Jadi berpikir dalam pikiran dan berpikir dalam hati sebenar-benarnya adalah dua hal yang berbeda. Maka itulah sebenar-benar metode.
Guru menggapai terang:
Bagaimanakah metodenya untuk berpikir dalam hati.
Orang tua berambut putih:
Berbagai macam cara dapat engkau gunakan. Itulah sebenar-benar tuntunan. Maka lihat dan bukalah kembali tuntunan yang selama ini kau yakini. Itulah sebenar-benar tuntunan para Nabi dan Rosul.
Guru menggapai terang:
Kemudian, bagaimanakah metode berpikir itu?
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar semua yang pernah dan sedang kita bicarakan.
Guru menggapai terang:
Apa maksud guru?
Orang tua berambut putih:
Semua elegi yang ditulis oleh Marsigit, itulah sebenar-benar metode berpikir. Maksudku, jika semua elegi kita jadikan satu pun, maka bisa aku beri judul metode berpikir. Itu pulalah yang telah membuatmu merasa lelah.
Guru menggapai terang:
Dengan sekian dialog, dengan sekian pertanyaan, dengan sekian contoh dan elegi, ternyata aku merasa banyak hal belum aku ketahui, wahai guruku. Apakah keadaanku yang demikian dapat dikatakan bahwa aku masih dalam kegelapan.
Orang tua berambut putih:
Baiklah cobalah ambil contoh manakah hal-hal yang engkau rasakan belum paham.
Guru menggapai terang:
Apakah yang dimaksud dengan bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Saya waspada dan tidak begitu yakin dengan pertanyaan mu. Mengapa orang dewasa seperti engkau masih bertanya arti bilangan. Bukankah semua murid-murid SD sudah bisa memahaminya apa itu bilangan.
Guru menggapai terang:
Maksud saya apakah hakekat bilangan, guru?
Orang tua berambut putih:
Oh itulah pertanyaanmu. Itu memang pertanyaan seorang dewasa. Itu bagus, karena sebagai seorang guru semestinya engkau sudah bisa berpikir dewasa. Sebelum aku menjelaskan apa hakekat bilangan, maka aku akan mengajukan pertanyaan terlebih dulu kepadamu. Menurutmu, bilangan ada di mana?
Guru menggapai terang:
Kenapa guru bertanya begitu mudahnya. Bukankah kita tahu bahwa bilangan ada di mana-mana. Di jalan-jalan, di pasar, di toko-toko, itu semua tempatnya bilangan, guru.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanku yang lebih spesifik. Bilangan itu ada di dalam pikiranmu atau di luar pikranmu?
Guru menggapai terang:
Bilangan ada di dalam pikiranku dan juga ada di luar pikiranku, guru.
Orang tua berambut putih:
Sebutlah bilangan “lima”. Bilangan lima yang ada di dalam pikiranmu apakah sama dengan bilangan lima yang ada di luar pikiranmu?
Guru menggapai terang:
Aku ragu-ragu guru.
Orang tua berambut putih:
Baik, lihatlah bilangan lima yang aku tulis di kertas ini. Lihatlah. Setelah itu, kertas ini saya ambil dan saya lempar ke tempat sampah. Masihkah engkau bisa memikirkan bailangan lima tadi?
Guru menggapai terang:
Masih guru. Aku masih ingat betul bilangan lima yang engkau tulis itu.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat bilangan. Bilangan yang engkau lihat, dialah bilangan yang ada di luar pikiranmu, sedangkan bilangan yang engkau ingat, itulah sebenar-benar bilangan yang ada dalam pikiranmu. Jadi apakah engkau sudah bisa membedakannya?
Guru menggapai terang:
Baik guru aku sudah bisa membedakannya.
Orang tua berambut putih:
Setelah engkau tahu bedanya, tahap berikutnya adalah mampukah kamu menyebut ciri-cirinya?
Guru menggapai terang:
oh..oh belum bisa guru
Orang tua berambut putih:
Bukankah engkau menyadari bahwa bilangan yang ada dalam pikiranmu itulah sebenar-benar bilangan yang abadi. Lima dalam pikiranmu itulah bersifat tetap. Dia tidak berwarna. Dia tidak berbau. Dia tidak mengalami cacat sedikitpun. Dia itu sempurna, paling tidak sempurna dalam pikiranmu. Sedangkan lima dalam kertas yang telah aku campakkan, dialah berwarna hitam. Dialah bersifat rusak. Dialah berpenampilan tidak baik. Dialah bersifat hilang dari pandanganmu.
Guru menggapai terang:
Oh guru aku mulai mendapat terang darimu. Dapatkan aku menggunakan cara yang sama untuk memikirkan selain bilangan, misalnya kubus, misalnya batu, misalnya uang, misalnya buku, misalnya ...dst benda-benda.
Orang tua berambut putih:
Pertanyaanmu sudah terjawab sebelum engkau selesai bertanya. Namun ketahuilah bahwa aku masih meragukan klaimmu akan perasaan terangmu dalam pikiranmu. Karena yang aku diskusikan denganmu hanyalah satu dari seribu sifat-sifat obyek pikiran.
Guru menggapai terang:
Mohon guru berikan apa pula sifat-sifat obyek yang lain?
Orang tua berambut putih:
Aku bisa bertanya kepadamu. Bilangan lima yang ada dalam pikiranmu itu ada berapa. Satu, dua, tiga atau banyak? Bilangan lima yang berada di luar pikiranmu itu ada berapa, satu, dua, tiga atau banyak? Jika engkau pikir bilangan lima berada dalam pikiranmu, maka bagaimanakah engkau bisa meyakinkan kepada orang lain bahwa dia sedang berada bear-benar di dalam pikiranmu. Tetapi jika engkau berpendapat bahwa bilangan lima berada di luar pikiranmu, maka bagaimana anda bisa percaya kepada sesuatu hal yang mempunyai sifat tidak sempurna?.
Guru menggapai terang:
Kenapa pikiranku menjadi gelap lagi guru?
Orang tua berambut putih:
Apakah engkau sedang bicara tentang sukar dan mudahnya berpikir? Apakah engkau sedang mendifinisikan bahwa sukar adalah gelap dan terang adalah mudah? Lalu bagaimana dengan terangnya hatimu dan gelapnya hatimu?
Guru menggapai terang:
Sekarang aku merasa terang setidaknya untuk melihat yang gelap. Walaupun aku merasakan bahwa terang sedikit yang aku dapatkan ternyata menyebabkan aku bisa melihat gelapku yang lebih banyak lagi dan berlipat-lipat jumlahnya. tetapi yang jelas aku sekarang sudah sembuh dari rasa lelahku. Karena selama aku mendengarkan titahmu aku selalu melantunkan doa-doaku.
Orang tua berambut putih:
Aku terharu mendengar penuturanmu. Mengapa aku terharu, karena selama aku memberikan titah-titahku kepadamu aku juga selalu melantunkan doa-doaku. Aku mendapat titipan dari Pak Marsigit, untuk sementara memberimu kesempatan merenung, memikirkan, serta mengimplementasikan. Di samping itu, tidak lah baik kiranya melebih-lebihkan sesuatu, karena Tuhan tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. Sampai di sini dulu Elegi Guru. Selamat berjuang semoga berhasil. Amin.

28 comments:

  1. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Perjalanan seorang guru kali ini menuju terang dalam jiwa dan raga. Mari kita simak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” Seperti HR. At Tirmidzi no. 3334. Elegi di atas analog dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Jika jiwa telah merasa gelap maka hatilah yang harus dibersihkan dengan doa dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’allah. Guru pun seperti itu, kecerdasan spiritual guru tentu menjadi hal yang harus dimiliki guru. Seperti pada elegi ini bahwa jika guru telah mulai lelah, capai, sukar bergerak, maka ingatlah semua dilakukan karena Allah untuk mendapatkan keridhoannya.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Saya teringat dengan nasihat lama yang pernah saya baca bahwa manusia sejatinya lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman, karena makanan dan minumanan hanya diperlukan sekali atau dua kali dalam sehari namun ilmu dibutuhkan manusia setiap saat. Atau dengan kata lain, tidak bisa manusia hidup tanpa ilmu. Ilmu didapat dengan belajar dan berpikir. Sudah menjadi seorang guru pun tetap harus belajar dan berpikir untuk mendapatkan ilmu, ilmu metode dan alat bantu peraga pembelajaran misalnya. Semakin banyak belajar dan berpikir untuk mendapatkan ilmu, semakin kita merasa bahwa sejatinya kita belum tahu apa-apa.

    ReplyDelete
  3. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sangat tertarik dengan pernyataan “sejauh-jauh pikiranmu mengembara maka itu harus engkau kendalikan dengan doamu”. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi spiritualitas menjadi pengendali sesorang ketika berfikir atau berfilsafat. Sehingga doa akan menghindarkan manusia dari pikiran-pikiran yang mengarah pada kesesatan. Disamping itu, dalam uraian ini dijelaskan bahwa guru menggapai terang setelah dijelaskan melalui konsep bilangan. Bilangan 5 yang ada dalam pikiran adalah sebenar-benarnya bilangan yang abadi. Lima dalam pikiran itu bersifat tetap, tidak berbau, dan tidak berwarna. Bilangan 5 menjadi sempurna, paling tidak sempurna dalam pikiranmu. Sedangkan lima dalam kertas (tulisan) telah dicampakkan menjadi 5 yang berwarna hitam, bersifat rusak, berpenampilan tidak baik dan dapat bersifat hilang dari pandangan. Begitulah konsep bilangan 5 di pikiran dan di kenyataan yang membuka pemikiran guru menjadi terang.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Setelah membaca elegi elegi yang sekian banyak ada kalanya kita akan merasa lelah pikir, bosan, jenuh. Gelap dan terang adalah kontradiksi.Terang yang dimaksud dalam elegi ini adalah terangnya hati, dan hati yang terang dapat terjadi ketika pikiran kitapun jernih. Dan kelelahan pikiran menyebabkan hati kita juga gelap dan tidak terang. Namun untuk mengatasi lelah pikir kita dapat mendinginkan pikiran kita dengan hati. Hati hakikatnya adalah doa doamu. Doa doa adalah cara kita mengingat Allah. jadi untuk mengatasi lelah pikir banyak banyaklah berdoa dan mengingat Allah.

    ReplyDelete
  5. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Terang adalah tujuan setiap manusia dalam hidup, untuk menggapai terang tidak mudah kita dapatkan karena memerlukan keselarasan antara hati dan pikiran untuk menggapai terang maka kita harus menghindari kegelapan dalam hati sementara kegelapan hati menandakan bahwa pikiran kacau. Akan tetapi saat kita merasa telah berada dalam terang, terang hanya ada disekitar atau ditempat yang kita inginkan tetapi jauh kedepan akan terlihat bahwa kegelapan akan tetap ada. Semoga Allah SWT akan selalu menuntun kita dalam melaksanakan tugas.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Menjadi seorang guru memang tidaklah mudah. Ketika menjadi seorang guru, kita pastilah akan dihadapkan dengan berbagai tugas, dituntut untuk terus berinovasi, melakukan penelitian, dan sebagainya. Maka ketika kita lelah kita harus ingat bahwa lelahnya fisik ialah karena kacaunya hati. Kacaunya hati karena kurangnya doa kita kepada Allah SWT. Karena itulah kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itulah setiap hal yang kita lakukan harus karena Nya, termasuk dalam belajar dan mencari ilmu agar kita selalu mengingat Nya, agar Allah menunjukkan kita mana jalan yang terang dan mana jalan yang gelap. Semoga kita senantiasa dibimbing menuju jalan yang terang. Amin.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Secara teori pembelajaran saintifik yang digembor-gemborkan kelebihannya, guru bukanlah orang yang menyampaikan materi, tetapi seharusnya guru bisa memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan aspirasinya serta membangun pengetahuannya sendiri. Tugas guru adalah memfasilitasi, mendampingi, serta mengontrol kegiatan siswa agar siswa selalu pada jalan yang benar. Tetapi itu hanyalah sebuah teori diatas kertas, faktanya tidak semua siswa mampu mengikuti pembelajaran yang dilakukang dengan diskusi kelompok dengan sifat konstruktivisme dan inquiry. Jadi Sesekali guru juga perlu mnyampaikan materi tanpa harus mengajak siswa untuk menarik kesimpulan dari sebuah konsep.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Setiap manusia pasti pernah mengalami kelelahan, baik kelelahan pikiran maupun kelelahan hati. Menjalani rutinitas yang menyita banyak tenaga dan pikiran tentu melelahkan. Bahkan terkadang rasanya kita hanya beraktivitas saja, mengerjakan sesuatu saja, tanpa sadar kehilangan makna. Andai saja kita selalu ingat bersyukur mungkin kelelahan itu tak ada. Lelah fisik bisa diobati dengan tidur yang cukup, tapi lelah pikiran dan hati? Kadang kita bingung bagaimana menghilangkannya. Padahal sebenarnya jika kita luangkan waktu sejenak untuk diri sendiri, untuk introspeksi diri, diiringi dengan lantunan doa-doa kepada-Nya, maka lelah pikir dan lelah hati itu akan hilang, minimal berkurang. Benar bahwa kelelahan dalam pikiranmu pertanda belum terang dalam hatimu. Dan gelapnya hatimu dapat menyebabkan kacaunya pikiranmu. Kelelahan pikiranmu adalah tanda kacaunya pikiranmu. Jadi semua lelah yang kita rasa tersebut sebenarnya karena hati kita yang masih gelap. Belum mampu membaca rahmat-Nya, belum mampu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, serta belum mampu ikhlas mengerjakan segala sesuatu karena-Nya.

    ReplyDelete
  9. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Guru adalah panutan bagi siswa-siswanya, sehingga guru bukan hanya cerdas atau pintar dalam ilmu dunia saja, akan tetapi harus diimbangi dengan ilmu akhirat. Ilmu yang hanya mementinga dunia saja, tak akan bisa merubah siswa atau diri sendiri menjadi baik dan sopan. Baik dunia dan akhirat, baik dari kecerdasan intelektual maupun spiritual haruslah diimbangi. Sama seperti doa dan usaha, doa adalah mengajarkan kita untuk tunduk dan syukur pada Ilahi, usaha adalah tanda kita percaya akan kekuasaan Ilahi yang mampu mengubah jalan hidup manusia dari gelap menjadi terang.

    ReplyDelete
  10. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Terkadang sebagai guru mengalami masa-masa sulit ketika ia mulai kehilangan arah. Guru harus mendengarkan kata hati dan pikirannya agar selalu pada jalur yang benar untuk memberi fasilitas kepada siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  11. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terang adalah tujuan setiap manusia dalam hidup. Terang akan datang setelah merasakan gelap. Namun ketika kita merasakan terang, serta-merta kita akan melihat gelap yang lebih banyak lagi. Hal ini dikarenakan terang membuat kita tahu betapa terbatas ilmu kita dan betapa banyak sesuatu yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  12. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terang yang dimaksud disini adalah terang hati. Manusia dalam kehidupannya tidak bisa menggunakan pikirannya saja, namun hati juga perlu. Banyak fenomena orang berilmu namun hatinya kosong, atau artis tenar namun hatinya kosong, pejabat hebat namun hatinya kosong, yang akhirnya kebanyakan dari mereka berujung dengan bunuh diri. Untuk menggapai terang hati maka bisa dengan berdoa dan selalu mengingat Allah. Krena dengan selalu mengingat Allah maka hati menjadi tenteram. Jika ada keselarasan antara hati dan pikiran maka diri seseorang akan selalu bersemangat dan tidak merasakan lelah yang berarti.

    ReplyDelete
  13. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Sejujurnya saya pernah merasakan rasa capek ketika membaca elegi-elegi yang ada pada blog ini. Karena membaca elegi ini tidak mudah, kadang harus dibaca berulang-ulang agar memahami apa yang menjadi isi dan maksud dari elegi ini. Pun kadang dalam membaca elegi ini menimbulkan tanya, tanya dan tanya yang kadang memaksa diri kita sendiri yang harus menjawabnya. Dan bahkan terkadang pertanyaan itu menggantung, tidak terjawab karena diri ini tidak kuasa untuk memikirkannya apalagi menjawabnya. setelah membaca elegi ini, saya menyadari bahwa selama ini saya tidak banyak memakai hati dalam membaca, memahami elegi ini.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Saya setuju dengan si rambut putih bahwa Allah SWT sangat tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Akan lebih baik jika menjalani hidup dengan kesederhanaan tetapi selalu dihiasi dengan doa-doa, tak terkecuali dengan guru. Guru adalah orang yang memiliki ilmu manfaat yang harus selalu ditransfer kepada anak-anak didiknya. Ada kalanya guru juga meraasakan lelah karena ia hanya manusia biasa, baik lelah hati, pikiran, maupun badan. Maka bermnajat kepada Allah lah jalan yang tepat agar lelah tersebut menjadi cahaya terang.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  16. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Terang adalah tujuan setiap manusia dalam hidup, untuk menggapai terang tidaklah mudah kita dapatkan karena memerlukan keselarasan antara hati dan pikiran untuk menggapai terang maka kita harus menghindari kegelapan dalam hati sementara kegelapan hati menandakan bahwa pikiran kacau. Jadi sebenar-benar terang itu adalah pikiran jernih dan hati yang ikhlas.
    Setelah membaca elegi elegi yang sekian banyak ada kalanya kita akan merasa lelah pikir, bosan, jenuh. Namun untuk mengatasi lelah pikir, kita dapat mendinginkan pikiran kita dengan hati. Hati hakikatnya adalah doa-doamu. Doa-doa adalah cara kita mengingat Allah. Jadi, untuk mengatasi lelah pikir banyak-banyaklah berdoa dan mengingat Allah.

    ReplyDelete
  17. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini didapatkan pelajaran bahwasanya setiap yang terang bukan berarti kemudahan, dan setiap yang gelap berarti kesulitan. Hal-hal yang ada dan yangmungkin ada sangatlah kompleks, sehingga belum tentu setiap objek memilliki identitas seperti yang dipersepsikan. Artinya kita harus melihat keberagaman iu sebagai sebuah potensi, bukan melihat keberagaman sebagai ajang klaim. Sehingga terang arti sbenarnya tercapai

    ReplyDelete

  18. Guru sebagai yang dianggap memiliki ilmu, tidak sepantasnya merasa superior dan mellebihkan diri dihadapan siswanya, bertindak otoriter. Allah Swt tidak akan menyukai orang yang berlebihan dala diri, walaupun itu nayta adanya. Orang lebih dihargai jika menceritakan secara wajar dan tidak di hiperbola secara dramatis

    ReplyDelete
  19. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Perjalanan dalam menuntut ilmu menurut saya, seperti perjalanan untuk mencari cahaya terang. Mendapatkan sedikit ilmu, akan membuka lebih banyak ketidaktahuan yang lainnya. sama halnya yang digambarkan dalam elegi tersebut. Makna yang lainnya adalah, guru bukan berarti sudah cukup mempunya ilmu yang sudah dimilikinya, tetapi terus menerus mencari dan mengembangkan ilmu sehingga selalu upgrade dengan zaman yang terus berkembang.

    ReplyDelete
  20. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas kita belajar bahwa seorang pengajar pun bisa meliliki kelelahan dalam hal mengajar. seorang pengajar harus nya dapat menyelesaikan masalah kejenuhan nya sendiri sehingga jika dalam proses belajar mengajar dia jenuh murid yang diajarkanya pun juga jenuh dengan materi yang diajarkannya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  21. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk menjadi guru yang terampil tentulah tidak mudah mudah. Butuh pembelajaran dan latihan terus menerus. Ada kalanya seorang guru sampai pada titik jenuh dalam hidupnya dalam mengejar. Oleh karena itu, agar seorang guru tidak jenuh, maka ada baiknya seorang guru mahir dan terampil dalam menggunakan berbagai macam metode pembelajaran. Sehingga antara guru dan siswa tidak mengalami kejenuhan dalam proses belajar mengajar.

    ReplyDelete
  22. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Menggapai terang adalah bagaimana kita dapat melihat suatu hikmah dari pembelajaran-pembelajaran yang terasa berat ketika menjalani hidup. Bagaimana sebagai guru tentu tidak terlepas dari masalah-masalah, baik masalah di kelas, masalah dengan rekan sejawat, bagaimana mengalami kesulitan saat mengajarkan suatu materi pada siswa tertentu yang menimbulkan kelelahan. Ketika kita ikhlas dan dapat mengambil hikmah dari masalah yang kita alami disitulah kita akan merasakan terang.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kesukaran dari masing-masing iindividu itu berbeda, selain itu juga mudah dari satu dengan yang lainnya juga berbeda. Hal ini akan memberikan arti bahwa memang sukar dan mudah itu tidak bisa di judge sebagai suatu yang gelap bagi sukar dan terang bagi mudah. Karena kesukaran akan dapat memberikan dampak yang baik jika dapat menyelesaikannya dengan baik juga. Namun kemudahan juga akan dapat memberikan dampak yang negatif karena pada dasarnya hal yang mudah tidak akan memberikan perkembangan yang baik pada pengetahuan yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Memang benar seperti yang dikatakan oleh elegi di atas, bahwa terkadang kita merasa lelah ketika melakukan sesuatu. Semua kelelahan tersebut sebenarnya berasal dari hati. Sudah seharusnya kita merasa ikhlas dalam melakukan sesuatu. Kita harus melatih ketulusan dalam melakukan sesuatu agar semua yang kita lakukan terasa ringan dan bermakna. Marilah berdoa dan mendekatkan diri dengan Allah swt, supaya Allah swt. memberikan cahaya untuk hati dan pikiran kita.

    ReplyDelete
  25. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Menjadi seorang guru dalam pendidikan formal dijadakan sebagai profesi pekerjaan atau sumber penghasilan, sehingga fokusnya pada bagaimana melengkapi berkas-berkas yang bersifat formalitas agar mendapat tunjangan atau gaji yang lebih banyak. kegiatan mendidik seringkali dinomor duakan, karena profesionalisme seorang guru hanya dilihat dari berkas-berkasnya.

    ReplyDelete
  26. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Seperti yang diuraikan pada elegi di atas bahwa dala menuntut ilmu kita kadang merasa lelah apalagi ketika kita mencapai titik jenuh atau jalan buntu. Semua hal itu adalah wajar. kita sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan termasuk keterbatasan waktu, tenaga maupun pikiran. namun setiap hal itu terjadi, ada doa yang tidak terbatas, kita dapat memohon kepada Pencipta kita agar diberikan kekuatan dan kekonsistenan dalam menuntut ilmu. sehingga ketika kita lelah, kita akan beristirahat sejenak kemudian lanjut lagi, dan bukannya berhenti.

    ReplyDelete
  27. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017
    Assalamualaikum, wr.wb.
    Semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia akan memiliki makna yang berbeda jika diawali dengan hati yang ikhlas dan berdoa, dengan yang tidak diawali dengan hati yang ikhlas dan doa. Ketika kita mengawalinya dengan hati ikhlas dan doa maka itu berarti kita sedang memohon restu dariNya untuk melakukan kegiatan yang kita inginkan. Jika Tuhan telah memberikan restuNya maka semua kegiatan/perkara yang kita lakukan pun akan menjadi berkah dan manfaatnya, kita tidak akan mengalami kebimbangan atau kekacauan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  28. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Terang dan gelap merupkan dua hal yang saling berkontradiksi. Akan tetapi adanya terang menunjukkan bahwa masih ada yang gelap. Seterang-terang apapun segala yang berada di dunia ini namun pasti masih memiliki sisi gelapnya. Begitu pula dengan manusia, yang merupakan makhluk yang tidak sempurna, maka seharusnya ketika manusia merasa terang maka seharusnya ia juga menyadari bahwa di dalam dirinya masih ada yang gelap. Sehingga akan membuatnya untuk terus menggunakan hati dan pikirannya untuk menelusuri & mengatasi sisi gelapnya tersebut.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete