Mar 7, 2011

Elegi Memahami Jejaring Sistemik




Oleh Marsigit

Transenden Spiritual:
Mohon ampun Tuhanku...aku melihat muridku Transenden Dunia Selatan datang menghampiriku. Wahai Transenden Dunia Selatan, tiadalah engkau seperti biasanya? Kenapa engkau datang kepadaku tidak bersama-sama Transenden Logikamu? Sedang Transenden Hatimu kelihatan kacau balau? Engkau dari mana saja? Engkau kelihatan sangat capai bahkan sepertinya sedang sakit? Bukankah engkau itu mempunyai tanggungjawab yang sangat berat, sangat besar, sangat mulia, dan menguasai seperempat dunia? Engkau itu isi sekaligus wadahnya Dunia Selatan. Engkau itu hampir awal dan hampir akhirnya Dunia Selatan. Engkau itu adalah Transenden dari setiap wargamu. Kemanapun wargamu palingkan wajahnya maka mereka hampir selalu melihat dirimu. Engkau tidak hanya cair tetapi udara bagi setiap wargamu. Engkau itu dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya. Hanyalah diriku yang mampu mengenal setiap sisi-sisimu. Maka...katakanlah apa yang telah terjadi!

Transenden Dunia Selatan:
Mohon ampun Transenden Spiritual...itulah yang terjadi. Yaitu jika aku terpaksa atau tidak terpaksa menghadapmu maka dengan serta merta aku tinggalkan Transenden Logikaku. Sungguh tiadalah ada kemampuan Transenden Logikaku untuk menggapai tempatmu yang mulia ini. Hanyalah Transenden Hatiku yang mampu menghantarkan diriku hingga kehadapanmu. Terimalah salam hormat saya keharibaanmu beserta permohonan maaf saya jika kedatanganku tidak santun terhadap ruang dan waktumu. Namun itulah sebenar-benar kontradiksi yang menimpa diriku yaitu bahwa tiadalah aku mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu tanpa bantuan Transenden Logikaku. Padahal selama aku masih menggunakan logikaku maka tiadalah aku sebenar-benar mampu menghampiri dirimu. Maka aku telah menemukan bahwa selama aku masih mampu menjawab pertanyanmu dengan kata-kataku, itu pertanda bahwa aku masih berjarak terhadap dirimu. Itulah kesimpulanku bahwa hatiku mengatakan bahwa dirimu itu sebenarnya telah mengetahui apa yang terjadi pada diriku walaupun aku tidak mengatakannya sekalipun.

Transenden Spiritual:
O..ooo..aku panjatkan puji syukur ke hadhirat Allah SWT bahwasanya engkau masih mampu memegang adab-adabmu ketika menghadap diriku. Engkau harus tinggalkan logikamu ketika menghadapku. Hanya hati dan amal perbuatanmu saja yang menemanimu. Jika kemudian telah memenuhi syarat dan rukunnya, maka kemudian berlakulah hukumnya bahwa kemampuanku itu mengalirlah kedalam jiwa ragamu. Seperti halnya diriku maka sebetulnya engkau itu mampu memahami semua aspek kehidupan dalam duniamu yaitu Dunia Selatan. Jika engkau intensif dan ekstensifkan maka lebih dari itu. Itulah sebetulnya dirimu bertugas untuk mengawal dunia seluruhnya. Jika kemampuanmu telah optimal maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa engkau itu harus meliputi seluruhh dunia: Dunia Barat, Dunia Utara, Dunia Timur, Dunia Barat Utara Timur, dan Dunia Selatan.

Transenden Dunia Selatan:
Mohon ampun guruku... tiadalah keraguan sedikitpun di dalam hatiku perihal titah-titahmu itu. Hanya saja, godaan logikaku begitu besarnya sehingga terkadang mampu mengalahkan hatiku. Namun bukan pula semata-mata kesalahan logikaku. Karena logikaku juga mendapat godaan yang luar biasa dari hukum-hukum alam beserta fakta-faktanya. Ohh...guru...apakah masih ada ampunan bagi diriku yang dianggap telah melakukan bunuh diri. Aku telah diangap melakukan bunuh diri oleh para Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara.

Transenden Spiritual:
O..ooo..rupanya engkau telah bertempur habis-habisan menggunakan logikamu, menggunakan sumber dayamu, dan memanfaatkan semua wargamu untuk melawan para Transenden selain dirimu? Hemmm...walaupun aku mulai menggunakan logikaku, aku tetap pertahankan spiritualku. Maka aku juga amanatkan dirimu, walaupun engkau mulai menggunakan logikamu kembali maka tetapkan spiritualmu sebagai komandanmu. Mudah-mudahan dialog logika kita akan tetapterjaga oleh spiritual kita.

Transenden Logika Dunia Selatan:
Perkenankanlah aku mewakili Transenden Dunia Selatan ingin mengajukan pertanyaan kepada dirimu. Cukup panggil aku sebagai Logika Dunia. Mengapa Dunia Selatan tidak berdaya menghadapi Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara. Bahkan Dunia Selatan telah menyatakan menyerah tanpa syarat kepada mereka semua?

Transenden Logika Spiritual:
Perkenankan juga aku mewakili Transenden Spiritual untuk menjawab pertanyan-pertanyanmu itu. Cukup panggil saja aku sebagai Logika Spiritual. Perihal pertanyaanmu itu maka jawabannya adalah perihal rakhmat, hidayah, ikhtiar dan takdir.

Logika Dunia:
Apa yang engkau maksud dengan rakhmat, hidayah, ikhtiar dan takdir. Serta apa hubungannya dengan kemenangan Dunia barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat dan Utara?

Logika Spiritual:
Allah tidaklah menghendaki berIangsungnya segala sesuatu kecuali dengan sebab-sebabnya. Maka hukum sebab-akibat itu berlaku adanya bagi manusia dan dunianya. Ketahuilah bahwa berbagai dunia Dunia Barat, Dunia Utara, Dunia Timur dan Dunia Selatan itu mempunyai ruang yang berbeda. Jikalaupun mereka dalam waktu yang sama, maka tentulah mereka pada ruang yang berbeda. Dunia Timur dan Dunia Selatan itu berada di Ruang Tengah, sedang Dunia barat dan Dunia Utara itu berada di Ruang Utara dan Ruang Selatan. Letak geografis inilah sebagai sebab dari segala akibat dinamika hidup didunianya masing-masing. Tuhan telah berkenan memberikan rakhmat dan hidayah bagi umat pada dunianya masing-masing. Alam dengan empat musim dan sumber daya yang terbatas, telah mendorong manusia di Dunia Barat dan Dunia Utara untuk hidup dinamis dengan mengandalkan ikhtiarnya untuk menggapai takdirnya. Alam dengan dua musim dengan sumber alamnya yang melimpah telah menyebabkan hidup enak dan manja bagi manusia yang berada di Dunia Timur dan Dunia Selatan.

Logika Dunia:
Apa hubungannya dengan kemenangan dunia?

Logika Spiritual:
Kemenangan dunia adalah kemenangan sumber daya manusia. Sumber daya manusia akan berkembang subur ketika manusia mengalami kesulitan-kesulitan dan berusaha untuk mencari solusinya dengan segenap akal, pikiran dan tenaganya. Keadaan demikian akan menghasilkan apa yang disebut sebagai etos kerja dan kinerja.

Logika Dunia:
Sebentar...kurang apa etos kerja dan kinerja para Pakar dan para Bagawat dari Dunia Selatan? Bukankah mereka cukup hebat dan pantas dibanggakan?

Logika Spiritual:
Yang kurang adalah Jejaring Sistemik nya.

Logika Dunia:
Apa itu Jejaring Sistemik?

Logika Spiritual:
Serendah-rendah etos kerja dan kinerja Bagawat, Cantraka, Rakata dan Cemani, jika mereka hanya bekerja dan mencari ilmu untuk dirinya sendiri. Padahal demikianlah yang dilakukan oleh semua Bagawat, Cantraka, Rakata dan Cemani dari Dunia Selatan.

Logika Dunia:
Lho...adakah tingkatan yang lebih tinggi?

Logika Spiritual:
Tingkatan yang lebih tinggi adalah jika etos kerja dan kinerja memperoleh pengetahuan juga digunakan dan bermanfaat bagi orang lain.

Logika Dunia:
Lhoo...apakah etos kerja dan kinerja Bagawat, Cantraka, Rakata dan Cemani dari Dunia Selatan tidak demikian? Bukankah mereka juga memberikan pengetahuan bagi sesamanya?

Logika Spiritual:
Mulanya memang demikian. Tetapi kemudian tergoda untuk memperkaya dan memperpandai diri sendiri.

Logika Dunia:
Apa ada tingkatan yang lebih tinggi?

Logika Spiritual:
Setinggi-tinggi derajat orang mencari ilmu adalah jika dia mencari dan mengamalkan ilmu dalam Jejaring Sistemik.

Logika Dunia:
Apa itu Jejaring Sistemik?

Logika Spiritual:
Itulah yang tidak dan belum dipunyai Dunia Selatan. Jejaring Sistemik adalah saling terkait. Jejaring Sistemik adalah saling terhubung. Jejaring Sistemik adalah saling tergantung. Jejaring Sistemik adalah sistem. Jejaring Sistemik bersifat universal. Jejaring Sistemik menjangkau semua aspek. Jejaring Sistemik adalah dunia. Jejaring Sistemik adalah hidup. Jejaring Sistemik itu berstrata atau berlapis. Jejaring Sistemik adalah organisasi. Jejaring Sistemik adalah pembagian tugas. Jejaring Sistemik adalah manajemen. Jejaring Sistemik adalah konstruksi atau bangunan. Jejaring Sistemik itu berpondasi. Jejaring Sistemik adalah Jejaring Sistemik itu bertujuan. Jejaring Sistemik adalah input, proses dan output. Jejaring Sistemik adalah ontologis dan epistemologis. Jejaring Sistemik ada di mana-mana. Jejaring Sistemik adalah isi dan wadah. Jejaring Sistemik adalah kendaraan. Jejaring Sistemik adalah multifacet. Jejaring Sistemik adalah aksiologi. Jejaring Sistemik adalah hermenitika. Jejaring Sistemik adalah phenomenologi. Jejaring Sistemik adalah transenden. Jejaring Sistemik adalah powernow.

Logika Dunia:
O..ooo..lha kalau begitu...kurang apa Dunia Selatan itu. Bukankah Dunia Selatan telah mempunyai Jejaring Sistemik itu semua.

Logika Spiritual:
Jejaring Sistemik di Dunia Selatan itu bersifat: kurang lengkap, kurang berisi, kurang dalam, kurang luas, kurang tebal, kurang berat, kurang lama, kurang panjang, kurang sering, kurang padat, kurang teruji, kurang pengalaman, kurang sistemik, kurang konsisten, kurang fleksibel, kurang innovatif, kurang kesadaran, kurang komprehensif, kurang universal, kurang intensif, kurang ekstensif, kurang dukungan politis, kurang sabar, kurang logis, kurang ilmiah, kurang up to dated, kurang spesifik, kurang sophisticated, kurang profesional, kurang terukur, kurang variatif, kurang homogen, kurang ontologis, kurang epistemologis, dan kurang aksiologis. Karena banyak kurangnya maka katakan saja Dunia Selatan itu belum mempunyai Jejaring Sistemik.

Logika Dunia:
Apa bedanya bekerja dengan atau tanpa Jejaring Sistemik. Bisakah diberikan contohnya.

Logika Spiritual:
Berbeda sekali proses dan hasilnya. Ambil contoh pendidikan. Sistem Pendidikan di Dunia Selatan itu tidak bersifat Jejaring Sistemik. Kenapa? Karena ternyata kebijakan pendidikan yang ada bersifat parsial dan berorientasi jangka pendek. Bahkan kebijakan pendidikan yang satu bertentangan dengan kebijakan yang lain. Kebijakan pendidikan yang diambil belum berdasarkan refleksi hasil survey atau penelitian secara ilmiah. Malah keputusan kebijhakan pendidikanyang paling penting seperti UN itu diputuskan secara voting atau melalui pengadilan. Maka sistem pendidikan di Dunia Selatan itu adalah sistem pendidikan kompromistis irasional. Dengan sistem pendidikan yang demikian maka jangan harap bisa bertanding dengan Sistem Pendidikan dari Dunia Barat dan Dunia Utara yang ber Jejaring Sistemik secara konsisten dan solid.

Logika Dunia:
Apa ada contoh yang lain?

Logika Spiritual:
Contoh yang lain adalah kasus Ilmuwan Plagiat. Kenapa sampai terjadi ada seorang Ilmuwan dari Dunia Selatan melakukan plagiat? Itu disebabkan karena para Ilmuwan di Dunia Selatan tidak bekerja dalam Jejaring Sistemik?

Logika Dunia:
Lho..memangnya kenapa?

Logika Spiritual:
Wahai Logika Dunia... Ilmuwan itu menempati kedudukan istimewa? Karena tidak ¬mudah untuk memperoleh kedudukan dan status sebagai seorang Ilmuwan itu. Ilmuwan itu adalah perjuangan panjang. Ilmuwan itu adalah akumulasi pengalaman dan hidup. Ilmuwan adalah amanah pengemban ilmu tinggi. Ilmuwan adalah tanggung jawab dan previlage. Ilmuwan adalah nilai moral. Ilmuwan adalah hak prerogatif. Ilmuwan adalah ikhtiar prima dan ultima. Ilmuwan adalah ketentuan dan takdir. Ilmuwan adalah penentu nasib. Ilmuwan adalah merah hijaunya masyarakat dan bangsanya. Ilmuwan adalah etik dan estetika. Ilmuwan adalah konsistensi dan komitmen. Ilmuwan adalah panutan dan pembimbing. Ilmuwan itu formal yang normatif. Ilmuwan itu normatif yang formal. Ilmuwan itu doa dan harapan. Ilmuwan itu mandiri dan sistemik. Ilmuwan itu hidup dan menghidupkan. Ilmuwan itu metafisik. Ilmuwan itu filsafat. Ilmuwan itu mengatasi Ilmu Bidang. Ilmuwan itu Orang Tua Berambut Putih. Ilmuwan itu logos. Ilmuwan itu phenomenologi. Ilmuwan itu hermenitika. Ilmuwan itu tidak hanya kualitas primer, tetapi kualitas sekunder, tertier, kuarter, dst. Ilmuwan itu tidak hanya dimensi satu, tetapi dimensi dua, dimensi tiga dan dimensi empat. Ilmuwan itu tidak hanya pengalaman tetapi para logos. Ilmuwan tidak hanya bertanya tetapi memutuskan. Ilmuwan tidak hanya sintetik tetapi analitik. Ilmuwan tidak hanya a posteriori tetapi juga a priori. Ilmuwan tidak hanya intrinsik, tetapi juga ekstrinsik dan sistemik. Ilmuwan tidak hanya dulu, sekarang dan yang akan datang, tetapi Ilmuwan itu adalah dulu yang sekarang, sekarang yang akan datang, dan yang akan datang sekarang. Ilmuwan tidak hanya local genious tetapi means of global. Ilmuwan tidak hanya diam tetapi action. Ilmuwan tidak hanya action tetapi diam. Ilmuwan tidak hanya mencari tetapi memberi. Ilmuwan tidak hanya praktek tetapi berterori. Ilmuwan tidak hanya berteori tetapi praktek. Ilmuwan tidak hanya internal tetapi eksternal. Ilmuwan tidak hanya potensi tetapi faktual. Ilmuwan tidak hanya wacana tetapi fungsi kontrol. Ilmuwan tidak hanya yang ada tetapi yang mungkin ada. Ilmuwan tidak hanya yang terbatas tetapi yang tak terbatas.

Logika Dunia:
Hemm...lalu apa hubungannya kerja Ilmuwan itu dengan Jejaring Sistemik?

Logika Spiritual:
Dengan sifat dan karakteristik Ilmuwan yang saya sebutkan itu, jelas bahwa untuk dapat melakukan kegiatan, kinerja dan produksinya...mereka sangat memerlukan Jejaring Sistemik. Lebih dari itu, akan lebih baik jika dia mempunyai dan mampu membangun jejaring Sistemik. Padahal tidaklah demikian Ilmuwan pada Dunia Selatan. Sebagian besar Ilmuwan di Dunia selatan tidak bekerja dalam Jejaring Sistemik. Sebagian besar dari mereka bekerja di dalam kediriannya masing-masing. Itulah bedanya dengan Ilmuwan di Dunia Barat dan Dunia Utara. Sebagian Ilmuwan di Dunia barat dan Dunia Utara bekerja di dalam Jejaring Sistemik. Bahkan di Dunia Barat dan Dunia Utara, aku dapat mendifinisikan Ilmuwan itu sebagai Jejaring Sistemik itu sendiri.

Logika Dunia:
Lho..apa pedulinya?

Logika Spiritual:
Kinerja seorang Ilmuwan Terisolasi Sendiri dengan Ilmuwan Jejaring Sistemik itu sangat nyata bedanya. Ilmuwan Plagiat adalah Ilmuwan Terisolasi Sendiri yang ingin menampilkan kinerjanya seakan-akan seperti seorang Ilmuwan Jejaring Sistemik. Ketika godaan untuk menulis karya ilmiah bertaraf internasional itu muncul, maka seorang Ilmuwan Terisolasi Sendiri itu membutuhkan Data Bertaraf Internasional. Padahal data bertaraf internasional itu hanya terdapat di dalam Jejaring Sistemik Internasional. Ketika godaan semakin memuncak karena berkaitan dengan aktualisasi diri, maka terjadilah perbuatan tak terpuji dengan cara mencoba berspekulasi mengambil tanpa ijin Data Jejaring Sistemik dari Ilmuwan Dunia Barat atau Dunia Utara. Dan...datanglah AIB itu.

Logika Dunia:
Lho..apa bedanya dengan karya ilmiah Ilmuwan Jejaring Sistemik dari Dunia barat dan Dunia Utara?

Logika Spiritual:
Sangat berbeda. Sebuah karya ilmiah bertaraf internasional apapun, betapapun, bagaimanapun, dimanapun, kapanpun, tentang apapun...itu merupakan CERMIN atau bayangan dari diri sang Ilmuwan Jejaring Sistemik. Artinya aku dapat mendefinisikan bahwa Ilmuwan jejaring Sistemik itu tidak lain tidak bukan adalah si Karya Ilmiah Bertaraf Internasional itu sendiri.

Logika Dunia:
O..ooo aku mengerti sekarang pokok persoalannya. Tetapi mengapa Ilmuwan-ilmuwan pada Dunia Selatan tidak mau mengembangkan, tidak mampu atau tidak mau menjadi Ilmuwan Jejaring Sistemik?

Logika Spiritual:
Bukannya tidak mau, tetapi sesuai dengan sifat-sifat Jejaring Sistemik yang saya sebutkan tadi, maka dalam banyak hal Jejaring Sistemik itu berada di luar diri kemampuan dan kewenangan para Ilmuwan Dunia Selatan. Itulah yang pernah saya katakan sebagai tanggung jawab pemimpin Bangsa, tanggung jawab Menteri Bangsa, tanggung jawab pemimpin lembaga yang telah mengabaikan dan menyia-nyiakan kesempatan dalam perjalanan ruang dan waktu. Itulah kesadaran atau political will yang tidak pernah muncul dikarenakan belum sampainya dimensi dari para pemimpin negara Dunia Selatan. Dan itulah sumber dari segala krisis yang ada. Itulah yang pernah aku sebutkan bahwa untuk mengatasi persoalan ini perlu pemimpin yang mampu melihat Bangsa ini 200 tahun ke depan.

Logika Dunia:
O..ooo.oh...ampunilah para Ilmuwanku. Hiduplah Ilmuwanku. Aku merasa iba kepada Ilmuwanku. Lho kok aneh ...siapakah diriku itu? Ternyata aku juga masih terkena anomali. Begitulah dirimu dan juga diri yang lainnya di Dunia Selatan. Sekarang aku telah mengerti mengapa negeriku mengalami krisis multi dimensi? Sekarang aku mengerti mengapa Transenden negeriku TELAH MENYATAKAN MENYERAH TANPA SYARAT kepada Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara? Sekarang aku juga mengerti mengapa terjadi sampai ada Ilmuwan Plagiat? Sekarang aku mengerti mengapa gencar dilakukan program recharging? Sekarang aku juga mengerti mengapa para guru memalsukan PAK? Sekarang aku juga mengerti mengapa UN dipertahankan mati-matian. Oh..ternyata para Dajal dari Dunia barat dan Dunia Utara telah merajalela menguasai negeriku. Cukup..cukup.... Dengan dua contoh saja cukup bagiku untuk memahami mengapa bangsaku terkena anomali, yaitu keadaan kacau balaunya aturan, prinsip dan hukum-hukum unsur-unsur bangsaku. Ini memang keadaan yang dikehendaki oleh para Dajal itu. Oh Tuhan ampunilah daku, ampunilah segala dosa Pemimpinku, semoga engkau tetapi berikan bimbinganmu sehingga Bangsaku itu terbebas dari segala macam goda dan rencana sang Dajal Jejaring Sistemik Transinternasional. Amiin.

Transenden Spiritual:
Wahai Transenden Dunia Selatan...saatnya kita tanggalkan logika kita. Marilah kita gunakan hati kita untuk memanjatkan doa. Akun yang melantunkan doa, sementara engkau mengamininya:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amiiin..amiiin..amiiin.

3 comments:

  1. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jaringan sistemik adalah suatu system yaitu kumpulan komponen yang saling berinteraksi untuk tujuan tertentu. Kondisi pendidikan saat ini adalah karena pengaruh power now, akhirnya pendidikan hanya dijadikan sebagai lahan untuk mencari keuntungan pribadi dan golongan. Terjadinya krisis multi dimensi, ilmuwan plagiat, pemalsu PAK oleh guru, dan bagaimana UN dipertahankan mati-matian itu semata mata karena pengaruh dunia barat dan utara yang berusaha menguasai negeri Indonesia.

    ReplyDelete
  2. Nur dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam mencari ilmu juga harus diiringin dengan mengamalkan ilmu yang kita miliki. Karena setinggi-tinggi derajat orang mencari ilmu adalah jika dia mencari dan mengamalkan ilmu dalam jejaring sistemik. Maka jika kita hanya mencari ilmu untuk diri sendiri itulah serendah- rendahnya derajat orang mencari ilmu. Oleh karena itu setelah mencari ilmu kita harus mengamalkannya, agar ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat dan justru menjadi ladang pahala bagi kita. Meskipun mengamalkan ilmu dalam jaringan sistemik tidaklah mudah karena harus terhubung, terkait dengan berbagai hal, berbagai objek. Seorang guru dalam mengamalkan ilmunya harus terhubung dengan siswa, dengan sekolah, dengan guru- guru lainnya, dengan orang tua murid, dalam sistem pendidikan formal. Meskipun begitu seorang yang berilmu harus senantiasa berusaha untuk mengamalkan ilmunya dalam jejaring sistemik.

    ReplyDelete
  3. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Jejaring sitemik merupakan keterkaitan antara hal satu dengan yang lainnya. Jejaring sitemik jika diimplementasikan dalam kehidupan akan memberikan manfaat bagi umat manusia. Hal ini sejalan dengan tulisan bapak dalam elegi menggapai jejaring sistemik, dimana kita dapat membangun relasi atau hubungan secara lebih luas. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak. Proses ini juga bisa dianalogikan ketika kita mempelajari suatu ilmu. Jika ilmu yang kita inginkan tidak bisa kita peroleh dari satu orang, makan kita bisa mendapatkan ilmu itu dari orang yang berbeda. Setelah ilmu kita peroleh, maka tidak salah jika kita membagikan ilmu tersebut kepada orang lain pula. Karena sejatinya ilmu hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete