Mar 8, 2011

Elegi Kuda Lumping Bangsaku




Oleh Marsigit

Penonton:

Wah asyiknya menonton pertunjukkan Kuda Lumping. Gerakannya yang lincah dan dinamis disertai musik tinthilan, kempul dan kendhang. Lihat tu..wow..wow..sudah mulai kesurupan. Wahai pengamat, asyik bukan? Inilah yang aku tunggu-tunggu, saatnya para pemain kesurupan.
Itu..tu dia mengejar penonton.

Pengamat:
Wahai penonton, diantara sekian banyak adegan pertunjukkan Kuda Lumping itu, manakah yang anda paling tertarik?

Penonton:
Lho..pertanyaanmu kok aneh ta? Ya jelas ketika para pemain kesurupan.

Pengamat:
Mengapa?

Penonton:
Aneh lagi pertanyaanmu itu. Lho kalau kesurupan itu kan jadinya ramai sekali, heboh dan menggemparkan. Lha ..kalau anda apanya yang menarik dari pertunjukkan ini?

Pengamat:
Kalau saya..yang menarik dari pertunjukan Kuda Lumping ini adalah penontonnya.

Penonton:

Lho kok aneh... Engkau itu bukan penonton apa? Kalau begitu engkau itu tertarik padaku?

Pengamat:
Enggak.. aku juga tidak tertarik dengan penonton seperti engkau.

Penonton:
Lho kenapa?

Pengamat:
Aku lebih tertarik dengan penonton seperti diriku.

Penonton:
Ah..bodhoh amat. Sudah..sudah..jangan ganggu saya saya mau konsentrasi melihat pemain kesurupan. Tetapi mengapa ya para pemain itu bisa kesurupan? Wahai pengamat, kelihatannya engkau senang berkomentar yang tidak-tidak? Aku ada pertanyaan nih. Mengapa para pemain Kuda Lumping itu bisa kesurupan?

Pengamat:
Nah..baru..Sekarang aku tertarik dengan engkau. Sebetulnya aku tertarik dengan penonton yang bertanya tentang tontonan dari pada penonton yang hanya menikmatinya.

Penonton:

Wah..sekarang aku jadi tertarik dengan komentarmu. Aku jadi kurang tertarik dengan pertunjukkan itu. Bolehkah aku bertanya lagi? Kenapa engkau menjadikan dirimu menjadi pengamat dan bukan menjadi penonton yang kafah seperti diriku?

Pengamat:
Ketika aku melihat pertunjukan Kuda Lumping, maka serta merta datanglah kesedihanku.

Penonton:
Lho kok aneh..bukankah pertunjukkan itu dimaksudkan untuk menghibur penonton? Tetapi bolehkah engkau jelaskan mengapa engkau sedih jika menonton pertunjukkan Kuda Lumping?

Pengamat:
Aku melihat kehidupan bangsaku, persoalan bangsaku, pikiran bangsaku, perasaan bangsaku, semakin lama kok semakin mirip dengan pertunjukkan Kuda Lumping.

Penonton:
Lho yang mirip apanya?

Pengamat:
Yang mirip kesurupannya.

Penonton:
Wahai pengamat..jangan asal bicara engkau. Masaaakk..bangsa kita dianggap kesurupan? Apa maksudmu?

Pengamat:

Wahai sahabatku..bukankah engkau melihat kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak hal/kejadian/peristiwa atau fenomena kehidupan dalam masyarakat, yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak gejala masyarakat mengalami kesurupan.

Penonton:
Ah..omong kosong? Bukti konkritnya?

Pengamat:
Bukankah engkau sering mendengar banyak siswa dari beberapa sekolah di daerah-daerah bahkan mengalami kesurupan? Jika para siswa mengalami kesurupan maka Kepala Sekolah, guru, ortu dan masyarakat juga bertanya-tanya mengapa mereka kesurupan? Mereka tidak bisa atau sulit menjelaskannya. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak siswa sekolah mengalami kesurupan. Atau jika saya ekstensikan, maka semakin banyak sekolah mengalami kesurupan.

Penonton:
Itukan hanya kasus?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka banyak peristiwa-peristiwa hukum di negeri ini semakin sulit dijelaskan dengan teori hukum? Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa hukum kita itu juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Uraianmu kok semakin menarik? Terus..terus..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak peristiwa-peristiwa dan kebijakan pendidikan yang sulit dijelaskan dengan teori kependidikan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa pendidikan di negeri ini juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:

Ada yang lainnya?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak masyarakat kita yang mencari obat penyembuhan yang sulit dijelaskan dengan teori pengobatan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa dunia pengobatan kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Ohh ..begitu ta?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Pernahkan engkau membaca beberapa berita tentang penjualan “pil pintar”. Pil pintar dijual dengan biaya jutaan, 10 juta, 15 juta, 25 juta agar siswa tidak usah belajar tetapi mampu mengerjakan UN. Maka hal yang demikianpun sulit dijelaskan dengan teori pendidikan maupun psikologi belajar. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa teori pendidikan dan psikologi pendidikan juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Wah..menarik juga.

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau sering menjumpai banyak orang-orang dengan gaya kaya mendadak, berpenampilan ala barat dan melupakan dan malu dengan budaya dan tradisi sendiri. Bukankah yang bisa membaca huruf jawa bisa dihitung dengan jari saja. Bukankah banyak orang semakin tidak mengenal tetangganya sendiri? Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori kehidupan masyarakat. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa kehidupan bermasyarakat kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Apa masih ada yang lain?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau mengalami sendiri gejala konsumerisme merajalela dimana-mana. Pemerintah dan masyarakatnya seakan kompak berpacu dan berlomba membudayakan konsumerisme. Bukankah konsumerisme itu hanya mementingkan produk saja daripada proses. Buwat apa susa-susah membikin mobil jika bisa import?. Buwat apa susah-susah bikin komputer jika bisa import? Buwat apa susah-susah bikin HP jika bisa import?. Maka kencenderungannya adalah semakin hari semakain kita dibanjiri barang import tanpa kita mau mengetahui proses pembuatannya apalagi berusaha memproduksi kemudian mengekspornya. Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori pengembangan SDM. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa kehidupan konsumerisme bangsa kita adalah kehidupan bangsa yang sedang kesurupan pula.

Penonton:
Wah..wah..heubuat kau. Lagi..lagi..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau melihat sendiri bagaimana eksploitasi pengiriman tenaga kerja TKI/TKW secara besar-besaran ke luar negeri. Peduli amat dengan gengsi dan harga diri bangsa. Dari pada sulit-sulit mendidik mereka, dengan iaya mahal pula, maka kirim saja mereka keluar negeri. Disamping merupakan solusi instant bagi mereka, juga bisa menambah devisa negara. Maka hal ini juga sulit dijelaskan dengan teori pengambangan SDM dan pembangunan karakter bangsa dan jiwa nasionalisme. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa pembangunan karakter bangsa juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Lho..pertunjukkan Kuda Lumpingnya sudah bubar. Penonton yang lain juga sudah bubar. Tinggal kita berdua. Sekalian tanya bagaimana solusinya. Dan siapakah sebenarnya dirimu?

Pengamat:

Pertunjukkan Kuda Lumping yang sesungguhnya justru sedang menggejala. Itulah perikehidupan bangsa kita sekarang yang dapat saya gambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Ketika bangsa dan masyarakat tidak atau belum siap bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sementara aspek kehidupan dan budaya mereka sudah menggejala di mana-mana, maka bangsa dan masyarakat kita dilanda kebingungan. Maka bangsa dan masyarakat kita persis seperti pemain Kuda Lumping. Dalam suasana kebingungan dan kepanikan serta setangah sadar maka bangsa dan masyarakat kita tidak mempunyai pola dan hanya mengikuti gejala-gejala simtomatik narasi besar kehidupan dunia. Bangsa dan masyarakat kita hanya mampu bergerak sesuai dengan musiknya neokapitalis.Maka terapi-terapi instant, terapi irrasional, solusi aneh, pil ajaib, pil UN, kebijakan sesaat, program populis 100 hari, akan menjadi barang dagangan yang sangat laku dipasaran. Maka ditengah bangsa yang sedang kesurupan itu muncullah calo-calo dan juragan bangsa dan masyarakat yang sekedar ingin megambil keuntungan sebesar-besarnya.

Penonton:
Iya ..ya...wah cocok sekali analisismu dengan keadaan sekarang ini. Giiiiiimana menurutmu GAYUS itu?


Pengamat:
Gayus adalah pertunjukkan Kuda Lumping Bangsa Indonesia yang terbesar abad ini. Mafia Pajak adalah lirik-lirik lagu, nyanyian dan musiknya. Mafia Hukum adalah mantra-mantranya. Pemimpin Bangsa adalah si Tuan penanggap Kuda Lumping. Lembaga Peradilan adalah dukun-dukunnya. Aparat Penegak Hukum adalah penunggang-penunggangnya. Koruptor adalah mulut-mulut yang berbuih dan mata yang melotot. Pajak dan Uang Rakyat adalah sesaji-sesajinya.  

Penonton:
Trus..siapakah dirimu itu?

Pengamat:
Aku adalah penonton Kuda Lumping yang berusaha berpikir kritis. Karena aku telah melihat bahwa engkau juga telah ikut berpikir kritis, maka aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, yaitu seorang penonton pertunjukkan Kuda Lumping yang berpikir kritis.

Pengamat dan Penonton:
Ohh...Kuda Lumping Bangsaku.

25 comments:

  1. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Pemeran kuda lumping kesurupan dianalogikan dengan kebingungan rakyat kita. Ya, memang benar seperti ini adanya bangsa kita saat ini. Selayaknya orang yang sedang bingung, gelisah, dan tidak tahu arah, maka bangsa kita memerlukan sesuatu sebagai penunjuk arah ke jalan yang benar. Oleh sebab itu, bangsa yang kuat seharusnya kembali kepada ajaran kitab keyakinannya masing-masing sebagai pengontrol perilaku di dunia. Selain itu, benar-benar menjunjung pondasi dasar bangsa yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menjalankan peran sesuai dasar bangsa ini dengan sebenar-benarnya. Hal ini dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Jika ini sudah terwujud maka Indonesia akan kuat dan tidak atau sulit terpengaruh oleh pengaruh buruk dunia luar.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi kuda lumping bangsaku, kebingungan bangsa diibaratkan seperti pemain kuda lumping yang kesurupan. Memang benar seperti inilah keadaan bangsa Indonesia sekarang ini. Pembangunan karakter, dunia pendidikan, hukum, dan aspek-aspek lainnya mengalami fenomena kesurupan. Kesurupan berarti kemasukan setan sehingga menimbulkan kondisi tidak sadar. Untuk itu kita harus menyadarkan diri kembali kepada realitas pembangunan kehidupan bangsa.

    ReplyDelete
  3. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Lagi...sebuah analogi... kuda lumping sebagai analogi untuk bangsa Indonesia sekitar tahun 2011-an. Saya lebih tertarik untuk berkomentar mengenai mengapa pendidikan bisa 'kesurupan'...
    Ini tugas filsafat... mencari akar dari 'kesurupan'nya pendidikan di Indonesia. Manusia Indonesia ini masih perlu banyak belajar filsafat, sejak anak-anak, tentu dengan tingkatan yang sesuai. Agar terbiasa berefleksi, bertanya, tidak asal manut saja... supaya tidak kesurupan terus. Yuk para guru... biasakan anak bertanya, yang bertanya biarkan saja, jangan diputus, diajari saja bagaimana bertanya yang baik... juga didampingi sampai menemukan jawaban... bertanya karena kekaguman pada sekitarnya... sampai kepada refleksi, mengapa alam semesta ini teratur sedemikian, mengapa kita hidup saat ini seperti ini, bagaiman sejarahnya, dst.. dst...

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi ini menjelaskan bahwa maasyarakat Indonesia saat inipun banyak yang mengalami kesurupan, sebagai contoh budaya konsumerisme besar-besaran, budaya yang serba instan, ingin pandai tapi tidak mau belajar dan justru lari ke membeli pil pintar, banyak orang lari dari Tuhan dan dating ke dukun, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang diselewengkan atau tidak sesuai dengan aturan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  5. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menarik sekali prof uraiannya. Banyak fenomena kesurupan yang menyebabkan seseorang kesadarannya hilang. Berkaitan dengan sifat masyarakat indonesia yang bersifat konsumerisme ini merupakan fenomena yang miris, kita menjadi tergantung terhadap negara lain. Bahkan kemarin sempat heboh himbauaan MUI untuk memboikot produk ekonomi suatu negara, namun banyak pro dan kontra. Yang kontra beralasan karena kita tidak bisa lepas dari produk negara tersebut karena kita setiap hari memakainya dan semua orang juga memakainya. Bagi yang pro, ini merupakan langkah yang tepat untuk memajukan peoduk dalam negeri. Jadi masih ada kebimbangan di beberapa masyarakat. Point penting disini adalah negara harus mandiri di segala bidang sehingga menjadi bangsa yang kuat.

    ReplyDelete
  6. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Pertunjukkan Kuda Lumping yang digambarkan seperti peri kehidupan bangsa kita sekarang dalam elegi di atas cukup menarik bagi saya. Di mana belum siapnya negara kita dalam menghadapi arus globalisasi dan modernisasi dengan mengandalkan cara-cara yang instant dan belum teruji bagaimana dampak positifnya apakah mampu mengatasi permasalahan negara ini. Jadi dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam setiap masalah apapun kita perlu mempelajarinya secara seksama tidak langsung menggunakan cara instant yang justru dapat menghancurkannya.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita dimana kita tidak dapat menjelaskannya secar teori merupakan bukti bahwa bangsa ini sama halnya dengan pertunjukan kuda lumping. Banyaknya siswa yang rela melakukan banyak cara agar lulus UN dan diterima di sekolah favorit, bahkan dengan cara-cara yang salah. Bagaimana hukum kita tajam kebawah dan tumpul ke atas. Itulah sedikit pertunjukan kuda lumping yang terjadi di bangsa kita. Maka bagaimana bisa kita hanya menjadi saksi bisu pertunjukan kuda lumping yang sedang berlangsung di bangsa ini.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Begitu banyak bangsa ini mengalami pergeseran dari yang baik menjadi buruk, bahkan sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat beranggapan bahwa apa yang ia lakukan adalah yang paling benar. Kita tidak merasa bahwa sebenarnya kita telah kesurupan (tidak sesuai lagi dengan apa yang pikiran dan apa yang hati kita inginkan), seolah kita tidak mampu lagi mengontrol diri kita untuk tidak melakukan suatu tindakan yang dapat merugikan diri kita dan juga orang lain.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Bangsa kita dapat diibaratkan seperti pertunjukan kuda lumping. Para petinggi bangsa seakan kesurupan seperti pemain dalam kuda lumping. Hukum tak lagi ditegakkan dengan benar, hukum dapat dilemahkan dengan uang. Semua warga bangsa kita telah kesurupan dan tergila-gila dengan yang namanya uang. Banyak pejabat-pejabat dan warga bangsa kita yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Selain kesurupan karena uang, banyak juga yang kesurupan karena kekuasaan atau jabatan. Banyak yang menginginkan jabatan yang tinggi dan dengan segala cara akan ia tempuh demi mendapatkan jabatan yang ia impikan. Inilah cermin bangsa kita saat ini.

    ReplyDelete
  10. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dari elegi ini saya menangkap perbedaan penonton dengan pengamat. Penonton hanya bisa melihat apa yang kasat mata, apa yang tersurat. Sedangkan pengamat mempunyai ilmu yang lebih, dia bisa melihat apa yang tidak kasat mata, dan menganalisa yang tersurat. Pengamat ini sedang mengamati miripnya fenomena kuda lumping dengan fenomena yang ada di masyarakat

    ReplyDelete
  11. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. semakin lama zaman semakin modern, arus globalisasi mengalir kuat ke negara ini, sedangkan bangsa indonesia masih belum cukup kuat untuk menerima globalisasi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat menjadi kaget dan galau tentang jati dirinya. Semua modernisasi diterima mentah-mentah tanpa memperhatikan jatidiri bangsa. semoga Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dalam menerima perubahan jaman.

    ReplyDelete
  12. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi di atas menurut saya amatlah menarik, bagaimana sikap berpikir kritis dapat membuat kita mengambil hikmah dari setiap kejadian/fenomena yang kita lihat, bahkan dari sekedar menonton pertunjukan kuda lumping. Persamaan antara kesurupan dalam kuda lumping dengan keadaan bangsa ini adalah bagaimana terjadinya perubahan yang sangat cepat. Bangsa ini, seperti yang kita saksikan, mengalami perubahan dinamika masyarakat yang sangat cepat dalam beberapa waktu, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Kesurupan membuat pemain itu tak dapat sepenuhnya mengontrol dirinya sendiri, begitupun bangsa kita yang tak dapat sepenuhnya mengontrol kehidupannya. Ada pengaruh-pengaruh lain dari luar yang mulai merasuk ke dalam segala penjuru bangsa ini.

    ReplyDelete
  13. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Kesurupan bisa dimaknai sebagai perbuatan yang diluar nalar dan diluar kebiasaan yang semestinya. Sehingga bisa diterima pendapat yang mengatakan jika bangsa kita sedang mengalami kesurupan. Dimana di banyak bidang terjadi banyak hal-hal diluar nalar dan diluar kebiasaan yang ideal. Misalnya saja banyak pejabat, entah eksekutif, legislative maupun yudikatif yang terlibat dalam praktik korupsi maupun suap. Padahal pastinya mereka sudah mendapatkan gaji yangbesar, namun tetap tergiur untuk korupsi. Di bangsa kita ini, tontonan telah berubah menjadi tuntunan, sedangkan tuntunan hanyalah menjadi tontonan saja. lihat saja, partai terkorup berdasarkan data ICW teriak-teriak paling bersih, paling anti korupsi, dan masyarakat menerima begitu saja kampanye-kampanye demikian karena sudah kehilangan daya kritisnya.

    ReplyDelete
  14. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Kuda lumping adalah sebuah seni tradisional yang sampai sekarang masih diminati oleh para penonton, di mana dalam permainan kuda lumping, ada pemain yang nantinya akan kesurupan. Elegi ini menjelaskan bahwa maasyarakat Indonesia saat inipun banyak yang mengalami kesurupan, sebagai contoh budaya konsumerisme besar-besaran, budaya yang serba instan, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang diselewengkan atau tidak sesuai dengan aturan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya. Hal ini sungguh sangat disayangkan, maka seharusnya perlu adanya kesadaran akan ruang dan waktu. Sehingga bangsa dan negara ini tidak dianggap sebagai pemangsa ruang dan waktu. Dan harapanya bangsa ini dapat dikatakan sopan terhadap ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Kuda lumping itu bisa jadi tontonan yang menarik, tetapi bisa juga menjadi tontonan yang sedikit ekstrim. Jika ditarik benang merah dengan kehidupan bangsa ini, pemain kuda lumping itu saya asumsikan sebagai orang yang berbuat jahat seperti para koruptor yang memakan apa saja yang ada didepannya seperti orang yang kesurupan tidak peduli apakah yang dia makan halal atau haram, haknya atau hak orang lain dan anehnya dia tetap saja menikmatinya tidak peduli orang lain yang menderita karenanya yang mampu ia dengar hanyalah bisikan setan (nafsu) yang seperti suara musik. Penonton mewakili siapa saja yang bisa turut menikmati hasil dari korupsi, banyak orang yang tahu kalau itu korupsi tapi pura-pura tidak tahu dan menikmati pertunjukan, sedikit mau berpikir kritis dan menyadari bahwa yang dilihat sebuah kesalahan

    ReplyDelete
  16. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam elegi ini, dapat diambil pelajaran bahwa permainan kuda lumping membutuhkan banyak sekali komponen-komponen yang saling terkait dan saling mendukung satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk permainan kuda lumping yang indah dan menarik ditonton. Jika dianalogikan dalam kehidupan bangsa, maka kuda lumping sebagai sebuah pertunjukkan oleh bangsa yang menarik dan menyita perhatian, spserti kasus mafia pajak.

    ReplyDelete
  17. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Pemimpin bangsa sebagai pemegang kendali adalah yang menentukan, melaksanakan, mengatur, dan mengadakan pertunjukkan kuda lumping. Artinya dibutuhkan seseorang yang mengadakan pertunjukkan agar pertunjukan ada. Analoginya dibutuhkan system yang eksis untuk menjalankan pertunjukkan pemerintahan

    ReplyDelete
  18. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Elegi yang menggambarkan kebingungan yang akhir akhir itu pada tahun postingan ini dibuat yaitu tahun 2011 terjadi banyak peristiwa yang hangat di kalangan masyarakat. Kejadian kesurupan yang terjadi di beberapa aspek pemerintah Indonesia kala itu. mulai dari aspek negara, pendidikan, dan lain sebagainya. Sebagai calon pendidik, kesurupan yang terjadi pada aspek pendidikan merupakan tugas kita selanjutnya. Membuat paradigma siswa yang salah kaprah ke arah stigma yang benar. Dari pembelajaran tradisional menjadi modern demi terhindarnya kesurupan dalam pendidikan. Masih perlu usaha-usaha yang lain untuk menanggulangi itu semua.

    ReplyDelete
  19. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas menggambarkan keadaan bangsa ini sekarang. bangsa ini menginginkan semua serba instan. orang berlomba-lomba untuk menggapai keinginannya dengan jalan isntan meskipun jalan yang ditempuhnya tidak benar. kita harusnya belajar bagaimana menggapai sesuatu menggunakan jalan yang benar.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  20. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dalam seni tarian kuda lumping, saat dimana penarinya mengalami kesurupan sering menjadi daya tarik tersendiri, dan terkadang sesi dimana pemain kesurupan lebih lama dari penari tersebut menari secara sadar. hal ini menjadi penggambaran terhadap kondisi bangsa Indonesia. yang saat ini manusianya mudah "kesurupan". Dalam menjalankan tugasnya, mereka hanya sesaat saja amanah terhadap tugasnya, namun setelah "ritual" khusus mereka menerima godaan untuk "kesurupan" yang menjadikan masyarakat kita melakukan tindak yang merupakan penyelewengan, contoh sederhananya adalah mencontek, mencuri hingga korupsi dan pembunuhan, inilah gambaran bangsa Indonesia yang kesurupan.

    ReplyDelete
  21. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kejadian dan fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori-teori yang ada sedang melanda negeri ini. Banyak orang-orang yang memanfaatkan keadaan negeri ini demi keuntungannya masing-masing. Orang-orang lebih senang mengikuti cara instan untuk menggapai apa yang menjadi keinginannya dari pada berusaha dengan kemampuannya sendiri. Banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya meskipun cara yang dilakukannya adalah cara yang tidak jujur. Sebagai warga yang menjadi bagian dari negara ini, hendaknya kita bisa berfikir secara kritis dalam menghadapi berbagai fenomena tersebut dan membentengi keimanan kita dengan hati yang ikhlas supaya tidak terjerumus kepada fenomena-fenomena yang sedang terjadi.

    ReplyDelete
  22. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keterkaitan antara apa yang dibahas dengan dunia nyata adalah bahwa dalam memperagakan kuda lumping ini dibutuhkan keserasian atau keharmonisasian antara satu penari dengan penari yang lainnya. Selain itu juga antara para penari dengan para pemusiknya. Dari sini kita lihat bahwa masing-masing memiliki perbedaan. Namun keserasian mereka akan memberikan dampak yang baik yaitu penyajian yang indah karena perbedaan itu yang menjadikan keindahan yang disajikan dalam pagelaran kuda lumping.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  23. Setelah membaca elegi diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa kehidupan bangsa ini seperti pertunjukan kuda lumping, seperti yang dikatakan pengamat. Kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak fenomena kehidupan dalam masyarakat yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Dalam bidang hukum, banyak kasus yang sulit dijelaskan seperti sulitnya memahami pemain kuda lumping yang kesurupan. Begitu pula dalam teori pendidikan dan psikologi serta teori pengembangan Sumber Daya Manusia dan karakter. Semoga ke depan negeri ini lebih baik dalam segala bidang.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    jika dalam lagu Nike Ardila dunia ini digambarkan sebgai panggung sandiwara untuk menggambarkan betapa hiruk pikuknya dunia ini, dalam elegi diatas kondisi dunia yang lebih diarah pada bangsa indonesia digambarkan lebih ekstream yaitu sebagai permainan kuda lumping, dimana petibggi negara dalah pemainnya, hukum adalah kuda lumpingnya dan rakyat biasa adalah penonntonnya. seperti pada permainan kuda lumping pemain akan kesurupan, begitu pula dengan petinggi negara yang tidak siap mengahadapi gelobalisasi sehingga melahirkan hukum-hukum secara instan yang manfaatnya tidak maksimal untuk kesejahteraan rakyat.

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Kuda lumping yang mulai bergerak cepat dan tak terkendali (kesurupan) dapat diibaratkan sebagai keadaan serta kejadian di negara kita di mana kejahatan dan korupsi semakin merajalela dan tidak ketinggalan para mafia hukum yang semakin gencar membuat keadaan bangsa semakin hancur.

    ReplyDelete