Mar 8, 2011

Elegi Kuda Lumping Bangsaku




Oleh Marsigit

Penonton:

Wah asyiknya menonton pertunjukkan Kuda Lumping. Gerakannya yang lincah dan dinamis disertai musik tinthilan, kempul dan kendhang. Lihat tu..wow..wow..sudah mulai kesurupan. Wahai pengamat, asyik bukan? Inilah yang aku tunggu-tunggu, saatnya para pemain kesurupan.
Itu..tu dia mengejar penonton.

Pengamat:
Wahai penonton, diantara sekian banyak adegan pertunjukkan Kuda Lumping itu, manakah yang anda paling tertarik?

Penonton:
Lho..pertanyaanmu kok aneh ta? Ya jelas ketika para pemain kesurupan.

Pengamat:
Mengapa?

Penonton:
Aneh lagi pertanyaanmu itu. Lho kalau kesurupan itu kan jadinya ramai sekali, heboh dan menggemparkan. Lha ..kalau anda apanya yang menarik dari pertunjukkan ini?

Pengamat:
Kalau saya..yang menarik dari pertunjukan Kuda Lumping ini adalah penontonnya.

Penonton:

Lho kok aneh... Engkau itu bukan penonton apa? Kalau begitu engkau itu tertarik padaku?

Pengamat:
Enggak.. aku juga tidak tertarik dengan penonton seperti engkau.

Penonton:
Lho kenapa?

Pengamat:
Aku lebih tertarik dengan penonton seperti diriku.

Penonton:
Ah..bodhoh amat. Sudah..sudah..jangan ganggu saya saya mau konsentrasi melihat pemain kesurupan. Tetapi mengapa ya para pemain itu bisa kesurupan? Wahai pengamat, kelihatannya engkau senang berkomentar yang tidak-tidak? Aku ada pertanyaan nih. Mengapa para pemain Kuda Lumping itu bisa kesurupan?

Pengamat:
Nah..baru..Sekarang aku tertarik dengan engkau. Sebetulnya aku tertarik dengan penonton yang bertanya tentang tontonan dari pada penonton yang hanya menikmatinya.

Penonton:

Wah..sekarang aku jadi tertarik dengan komentarmu. Aku jadi kurang tertarik dengan pertunjukkan itu. Bolehkah aku bertanya lagi? Kenapa engkau menjadikan dirimu menjadi pengamat dan bukan menjadi penonton yang kafah seperti diriku?

Pengamat:
Ketika aku melihat pertunjukan Kuda Lumping, maka serta merta datanglah kesedihanku.

Penonton:
Lho kok aneh..bukankah pertunjukkan itu dimaksudkan untuk menghibur penonton? Tetapi bolehkah engkau jelaskan mengapa engkau sedih jika menonton pertunjukkan Kuda Lumping?

Pengamat:
Aku melihat kehidupan bangsaku, persoalan bangsaku, pikiran bangsaku, perasaan bangsaku, semakin lama kok semakin mirip dengan pertunjukkan Kuda Lumping.

Penonton:
Lho yang mirip apanya?

Pengamat:
Yang mirip kesurupannya.

Penonton:
Wahai pengamat..jangan asal bicara engkau. Masaaakk..bangsa kita dianggap kesurupan? Apa maksudmu?

Pengamat:

Wahai sahabatku..bukankah engkau melihat kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak hal/kejadian/peristiwa atau fenomena kehidupan dalam masyarakat, yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak gejala masyarakat mengalami kesurupan.

Penonton:
Ah..omong kosong? Bukti konkritnya?

Pengamat:
Bukankah engkau sering mendengar banyak siswa dari beberapa sekolah di daerah-daerah bahkan mengalami kesurupan? Jika para siswa mengalami kesurupan maka Kepala Sekolah, guru, ortu dan masyarakat juga bertanya-tanya mengapa mereka kesurupan? Mereka tidak bisa atau sulit menjelaskannya. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak siswa sekolah mengalami kesurupan. Atau jika saya ekstensikan, maka semakin banyak sekolah mengalami kesurupan.

Penonton:
Itukan hanya kasus?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka banyak peristiwa-peristiwa hukum di negeri ini semakin sulit dijelaskan dengan teori hukum? Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa hukum kita itu juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Uraianmu kok semakin menarik? Terus..terus..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak peristiwa-peristiwa dan kebijakan pendidikan yang sulit dijelaskan dengan teori kependidikan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa pendidikan di negeri ini juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:

Ada yang lainnya?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak masyarakat kita yang mencari obat penyembuhan yang sulit dijelaskan dengan teori pengobatan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa dunia pengobatan kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Ohh ..begitu ta?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Pernahkan engkau membaca beberapa berita tentang penjualan “pil pintar”. Pil pintar dijual dengan biaya jutaan, 10 juta, 15 juta, 25 juta agar siswa tidak usah belajar tetapi mampu mengerjakan UN. Maka hal yang demikianpun sulit dijelaskan dengan teori pendidikan maupun psikologi belajar. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa teori pendidikan dan psikologi pendidikan juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Wah..menarik juga.

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau sering menjumpai banyak orang-orang dengan gaya kaya mendadak, berpenampilan ala barat dan melupakan dan malu dengan budaya dan tradisi sendiri. Bukankah yang bisa membaca huruf jawa bisa dihitung dengan jari saja. Bukankah banyak orang semakin tidak mengenal tetangganya sendiri? Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori kehidupan masyarakat. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa kehidupan bermasyarakat kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Apa masih ada yang lain?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau mengalami sendiri gejala konsumerisme merajalela dimana-mana. Pemerintah dan masyarakatnya seakan kompak berpacu dan berlomba membudayakan konsumerisme. Bukankah konsumerisme itu hanya mementingkan produk saja daripada proses. Buwat apa susa-susah membikin mobil jika bisa import?. Buwat apa susah-susah bikin komputer jika bisa import? Buwat apa susah-susah bikin HP jika bisa import?. Maka kencenderungannya adalah semakin hari semakain kita dibanjiri barang import tanpa kita mau mengetahui proses pembuatannya apalagi berusaha memproduksi kemudian mengekspornya. Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori pengembangan SDM. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa kehidupan konsumerisme bangsa kita adalah kehidupan bangsa yang sedang kesurupan pula.

Penonton:
Wah..wah..heubuat kau. Lagi..lagi..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau melihat sendiri bagaimana eksploitasi pengiriman tenaga kerja TKI/TKW secara besar-besaran ke luar negeri. Peduli amat dengan gengsi dan harga diri bangsa. Dari pada sulit-sulit mendidik mereka, dengan iaya mahal pula, maka kirim saja mereka keluar negeri. Disamping merupakan solusi instant bagi mereka, juga bisa menambah devisa negara. Maka hal ini juga sulit dijelaskan dengan teori pengambangan SDM dan pembangunan karakter bangsa dan jiwa nasionalisme. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa pembangunan karakter bangsa juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Lho..pertunjukkan Kuda Lumpingnya sudah bubar. Penonton yang lain juga sudah bubar. Tinggal kita berdua. Sekalian tanya bagaimana solusinya. Dan siapakah sebenarnya dirimu?

Pengamat:

Pertunjukkan Kuda Lumping yang sesungguhnya justru sedang menggejala. Itulah perikehidupan bangsa kita sekarang yang dapat saya gambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Ketika bangsa dan masyarakat tidak atau belum siap bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sementara aspek kehidupan dan budaya mereka sudah menggejala di mana-mana, maka bangsa dan masyarakat kita dilanda kebingungan. Maka bangsa dan masyarakat kita persis seperti pemain Kuda Lumping. Dalam suasana kebingungan dan kepanikan serta setangah sadar maka bangsa dan masyarakat kita tidak mempunyai pola dan hanya mengikuti gejala-gejala simtomatik narasi besar kehidupan dunia. Bangsa dan masyarakat kita hanya mampu bergerak sesuai dengan musiknya neokapitalis.Maka terapi-terapi instant, terapi irrasional, solusi aneh, pil ajaib, pil UN, kebijakan sesaat, program populis 100 hari, akan menjadi barang dagangan yang sangat laku dipasaran. Maka ditengah bangsa yang sedang kesurupan itu muncullah calo-calo dan juragan bangsa dan masyarakat yang sekedar ingin megambil keuntungan sebesar-besarnya.

Penonton:
Iya ..ya...wah cocok sekali analisismu dengan keadaan sekarang ini. Giiiiiimana menurutmu GAYUS itu?


Pengamat:
Gayus adalah pertunjukkan Kuda Lumping Bangsa Indonesia yang terbesar abad ini. Mafia Pajak adalah lirik-lirik lagu, nyanyian dan musiknya. Mafia Hukum adalah mantra-mantranya. Pemimpin Bangsa adalah si Tuan penanggap Kuda Lumping. Lembaga Peradilan adalah dukun-dukunnya. Aparat Penegak Hukum adalah penunggang-penunggangnya. Koruptor adalah mulut-mulut yang berbuih dan mata yang melotot. Pajak dan Uang Rakyat adalah sesaji-sesajinya.  

Penonton:
Trus..siapakah dirimu itu?

Pengamat:
Aku adalah penonton Kuda Lumping yang berusaha berpikir kritis. Karena aku telah melihat bahwa engkau juga telah ikut berpikir kritis, maka aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, yaitu seorang penonton pertunjukkan Kuda Lumping yang berpikir kritis.

Pengamat dan Penonton:
Ohh...Kuda Lumping Bangsaku.

31 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Indonesia sekarang mengalami berbagai krisis, seperti krisis moral, krisis keuangan, krisis kepercayaan, dll. Inilah kondisi bangsa ini yang sedang mengalami kesurupan diselebungi oleh syaitan layaknya seekor kuda lumping yang sedang kerasukan. Sebagai contoh budaya konsumerisme besar-besaran, budaya yang serba instan, banyak orang lari dari Tuhan dan datang ke dukun, banyak kebijakan pemerintah yang diselewengkan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya. Maka hendaknya kita selalu memohon perlindungan kepada Tuhan agar terhindar dari godaan-godaan duniawi serta agar bangsa ini menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dari elegy ini saya menangkap perbedaan penonton dengan pengamat
    Penonton hanya bisa melihat apa yang kasat mata, apa yang tersurat. Sedangkan pengamat mempunyai ilmu yang lebih, dia bisa melihat apa yang tidak kasat mata, dan menganalisa yang tersurat. Pengamat ini sedang mengamati miripnya fenomena kuda lumping dengan fenomena yang ada di masyarakat

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Di era globalisasi dimana segala hal dapat masuk dengan mudah antara satu negara dengan negara lain di dunia menjadikan dunia seolah tanpa batas. Tetapi hal ini juga menimbulkan dampak bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia yang masyarakatnya cenderung belum siap untuk dapat bergaul dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Akibatnya bangsa kita dapat mudah terpengaruh oleh budaya-budaya lain yang sesungguhnya tidak sesuai dengan budaya-budaya asli Indonesia yang memiliki nilai-nilai budi yang luhur. Moral bangsa sedikit-demi sedikit terkikis oleh pergaulan dunia yang tidak seimbang. Tentunya hal ini menimbulkan berbagai fenomena-fenomena yang terjadi seakan-akan sudah berada tidak lagi mencerminkan jati diri bangsa kita. Bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia tidak memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia? Dalam elegi ini diibaratkan sama halnya dengan mengapa pemain kuda lumping kesurupan? Kita sudah terlena oleh kepraktisan dan kemudahan yang disediakan oleh bangsa lain. Karena terlena maka kita akan semakin malas untuk berinovasi, berpikir kritis terhadap segala hal. Hal tersebut dapat menghambat kemajuan bangsa dan akan bahkan dapat menimbulkan kemunduran serta kehancuran bangsa

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi kuda lumping bangsaku, pada saat kuda lumping sedang kesurupan bak keadaan bangsa saat ini yang kesurupan atas pengaruh-pengaruh oleh banyak pihak sehingga negeri ini seperti bukan dirinya sendidi. Hal ini karena banyak warganya yang tidak punya dasar kuat dalam menghadapi pengaruh-pengaruh dari negara luar, warga yang tidak tahu akan keunikan negaranya sendiri.

    ReplyDelete
  5. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam elegi ini menceritakan permainan kuda lumbing. Seperti yang kitra tahu bahwa dalam permainan kuda lumping terdiri dari beberapa komponen yang memang ssaling berkaitan satu sama lain untuk menghasilkan penampilan yang menarik.
    Jika dianalogan dengan kehidupan yang ada maka mafia Pajak adalah lirik-lirik lagu.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Elegi ini menjelaskan bahwa maasyarakat Indonesia saat inipun banyak yang mengalami kesurupan, sebagai contoh budaya konsumerisme besar-besaran, budaya yang serba instan, ingin pandai tapi tidak mau belajar dan justru lari ke membeli pil pintar, banyak orang lari dari Tuhan dan dating ke dukun, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang diselewengkan atau tidak sesuai dengan aturan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya. Hal ini sungguh sangat disayangkan, maka seharusnya perlu adanya kesadaran akan ruang dan waktu. semoga Indonesia kembali ke budaya nya yang santun dan ramah.

    ReplyDelete
  7. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Fenomena dan persoalan yang terjadi pada bangsa ini atau masyarakat sekarang diilustrasikan dalam pertunjukkan kuda lumping. Fenomena tersebut diantara membeli kunci jawaban soal ujian nasional, bersifat konsumtif dan bangga membeli produk impor, kasus mafia pajak, kasus korupsi yang merajarela.

    ReplyDelete
  8. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Pengamat memang bukan pelaku, penonton memang bukan pemain. Kewajiban kita sebagai warga negara adalah membantunya memecahkan problema yang sedang melanda bangsa. Ikut menjadi pelaku pembangunan itu lebih baik daripada hanya bertindak sebagai pengamat. Ikut menjadi pemain dalam lapang yang luas lebih baik daripada hanya menjadi penonton di tribun yang pasif atau jika aktif, malah kebablasan. Atau berusaha dahulu secara maksimal. Artinya, hendaklah introspeksi diri. Jangan menuntut kepada orang lain secara berlebih.

    ReplyDelete
  9. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam elegi ini Pemimpin Bangsa adalah si Tuan penanggap Kuda Lumping. Sebagai tuan yang berlaku sebagai penanggap maka akan bertindak layaknya penanggap yang mengatur segala jalannya kuda lumping.
    Kuda lumping yang sangat beragam komponen di dalamnya, dari musik, pemain, hingga peralatan yang ada menyebabkan membutuhkan penanggap ahgar berjalan lancar.

    ReplyDelete
  10. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hal yang saya peroleh dari elegi ini adalah di dunia ini, semua permasalahan yang ada belum tentu dapat dijelaskan secara detail, rinci, dan jelas. Seperti halnya kuda lumping yang kesurupan , orang lain tahu dia kesurupan tetapi tidak dapat menjelaskan secara jelas dan rinci kenapa orang tersebut kesurupan. kita sebagai manusia tidak boleh sombong dengan ilmu yang dimilikinya, karena setinggi-tinggi ilmu yang dimiliki belum tentu dapat menyelesaikan suatu masalah dan ilmu itu adalah milik ALLAH SWT. Sebagai manusia bersikaplah tawadu' dan tawakal ketika menghadapi suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. semakin lama zaman semakin modern, arus globalisasi mengalir kuat ke negara ini, sedangkan bangsa indonesia masih belum cukup kuat untuk menerima globalisasi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat menjadi kaget dan galau tentang jati dirinya. Semua modernisasi diterima mentah-mentah tanpa memperhatikan jatidiri bangsa. semoga Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dalam menerima perubahan jaman.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Kuda lumping bangsaku, bisa saya artikan sebagai perkembangan dunia yang semakin canggih namun semakin semrawut bahkan ada bangsa yang seperti bukan dirinya lagi. Hal itu terjadi karena kurangnya iman dan takwa serta pengetahuan yang baik tentang tantangan globalisasi yang sedang melandanya. Semakin jauh dari Tuhan, semakin dekat dengan kehidupan radikal. Semua serba baru namun pengetahuan masih purba. Kehidupan bangsa yang diceritakn oleh elegi di atas sangat marak terjadi di bangsa kita sendiri, misalnya banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang diselewengkan atau tidak sesuai dengan aturan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya. Hal ini sungguh sangat disayangkan, maka seharusnya perlu adanya kesadaran akan ruang dan waktu. Sehingga bangsa dan Negara ini tidak dianggap sebagai pemangsa ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  13. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam elegi ini mengisahkan bagaimana keadaan real Indonesia. Kita banyak yang kesurupan karena budaya kita yang konsumerisme. Kita menjadi sasaran empuk negara lain, sehingga dengan budaya kita yang konsumerisme kita terlena dan secara tidak sadar kita sudah dikuasai oleh negara lain. Untuk itu sebelum negera yang kita cintai ini dijajah secara keseluruhan oleh negara lain, maka mari kita ubah budaya konsumerisme menjadi produsenisme. Mencintai produk lokal, bangga dengan buatan dalam negeri.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dari elegi tersebut saya melihat terdapat permasalahan yang belum terpecahkan. Dari mana asal usulnya, bagaimana cara mengatasinya, bagaimana langkah yang harus diambil untuk mengatasinya dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena ilmu yang kurang untuk menjadi fondasi menghadapi masalah – masalah yang berdatangan tersebut.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi yang sangat menarik, sedikit mengggelitik kondisi Indonesia sekarang. Saya melihat dari kacamata pendidikan dahulu, bahwa siswa-siswa sekarang ditutuntut untuk memiliki kompetensi yang seabrek dari kompetensi wajib dan juga peminatan atau kompetensi yang biasa.Mereka dituntut untuk mencapai hasil baik, akibatnyanya mereka kesurupan dan krisis intusinya. Bagaimana tidak mengharapkan hasil tinggi namun pembangunan fasilitas yang kurang menyeluruh terjadi terjadi ketimpangan dari daerah kota dan daerah pinggiran. Sedangkan pemerintah hanya menonton saja, jika gagal mereka ganti kebijakan. Tidak memikirkan bagaimana proses yang kontinyu bagaimana.

    ReplyDelete
  16. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini mengajarkan kepada kita untuk belajar berpikir kritis. Sebagai seseorang yang menempuh jenjang pendidikan, sudah seharusnya kita jangan hanya jadi penonton tanpa berpikir mengapa dana pa implikasinya dalam kehidupan. Kebiasaan menerima saja tanpa berpikir dan tanpa merefleksikan semua membuat kita buta terhadap perubahan yang terjadi dan gampang diperdaya.

    ReplyDelete
  17. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Bangsa ini sedang mengalami krisis yang meliputu berbagai aspek kehidupan berbangsa dan berbegara. Aspek-aspek tersebut cenderung dimanfaatkan untuk kepentingan perorangan dan golongan tertentu saja. Inilah gambaran bangsa yang sedang mengaami kesurupan seperti kuda lumping kerasukan. Sebagai warga negara ini, pilihan seperti apa yang akan kita buat dan jalani. Apakah kita juga akan menjadi salah satu yang terlibat dalam kesurupan ataukah mau menghindarinya tergantung pada tindakan kita masing-masing.

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, kuda lumping dalam elegi ini merupakan perumpamaan dalam sebuah negara yang sedang dilanda banyak pemasalahan. Masalah dalam negara yang dihadapi berbeda – beda. Saat ini yang terjadi di Indonesia ada masalah korupsi. Sulit mengatasi korupsi karena seakan – akan korupsi sudah mewabah dan banyak yang melakukannya. Untuk mengatasi hal ini diperlukan niat dan usaha dari diri masing – masing agar dapat membentengi diri dan tidak ikut – ikutan terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak baik yang akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan negara.

    ReplyDelete
  19. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya tertarik dengan kalimat "Bukankah engkau sering membaca koran? Pernahkan engkau membaca beberapa berita tentang penjualan “pil pintar”. Pil pintar dijual dengan biaya jutaan, 10 juta, 15 juta, 25 juta agar siswa tidak usah belajar tetapi mampu mengerjakan UN". memangnya dengan minum pil seharga jutaan tersebut langsung dapat mengerjakan UN dengan lacar, belum tentu pastinya tergantung dari usaha belajar siswa tersebut.

    ReplyDelete
  20. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar tidak hanya didapat dari sekolah, tetapi juga bisa melalui kebudayaan. Banyak kebudayaan Jawa dapat dijadikan sebgai media pembeljaran. Kebudayaan lebih mudah dibayangkan karena ada di sekitar kita. Salah satunya dalam pertunjukan kuda lumping ini. Dalam proses pertunjukan ini bisa diibaratkan sebagai kondisi negeri ini yang budaya nya mulai luntur dan banyak hal yang sulit dijelaskan dalam teorinya.

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kondisi negeri ini mulai memprihatikan, konsumerisme yang mulai menjamur di kalangan masyarakat. Di mana masyarakat lebih menyukai hasil daripada proses. Sehingga mereka hanya beorientasi pada akhirnya bukan pada proses menuju hasil tersbut. Banyak langkah yang dilakukan oleh masyarakat demi mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara cepat dan praktis. Padahal itu bukanlah hal yang pantas digunakan.

    ReplyDelete
  22. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Fenomena konsumerisme atau cara praktis juga mulai terjadi dalam bidang pendidikan. Di indonesi searang masih banyak siswa yang beroientasi pad UAN. Sehingga proses pembelajaran sehar – hari kadang diabaikan dengan ujian selama 3 atau 4 atau 6 hari saja. Banyak yang lebih memilih untuk ikut les atau bimbingan belaja hanya demi mendapatkan rumus cepat sedangkan proses memeroleh konsep dan rumus itu tidak diperhatikan oleh siswa. Tentu dengan hal tersebut sanagt memprihatikan karena sebenarnya belajar itu bukan berorientasi seperti itu, belajar adalah proses menuju yang lebih baik.

    ReplyDelete
  23. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi dia atas bahwa Ibarat kuda lumping yang kesurupan, banyak penonton yang hanya sekedar menikmati hiruk-pikuk hiburan ini, namun tak dapat menjelaskan bagaimana kuda lumping itu bisa menjadi kesurupan. Saat ini banyak masyarakat yang terbawa arus modernisasi tanpa memiliki pengetahuan akan segala apa yang sedang diikutinya. Hanya sebatas terbawa arus. Gaya hidup yang kebarat-baratan merupakan kebanggaan. Padahal, dia tidak sedikit pun mengerti akan ideologi bangsa yang sesungguhnya harus dijadikan pegangan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  24. Selasa, 6 Juni 2017
    EKA RETNO SARI (14301241013)
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Begitu banyak fenomena yang terjadi di sekitar kita yang ternyata terjadi layaknya kuda lumping yang kesurupan, tak mudah dijelaskan tapi cukup mengusik kehidupan. Beberapa hal terkadang diabaikan atau dijadikan hal yang biasa dan menyalahkan perubahan jaman. Beberapa yang merupakan salah malah dianggap remeh atau dijadikan bahan guyonan. Semoga segalanya kembali pada keadaan yang semestinya.

    ReplyDelete
  25. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Melalui sebuah kebuyaan bisa diibaratkan dengan kesenian kuda lumping. Saat ini yang sedang terjadi dimasyarakat adalah ketika masyarakat belum siap bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sementara aspek kehidupan dan budaya mereka sudah menggejala di mana-mana, maka masyarakat kita dilanda kebingungan. Maka bangsa dan masyarakat kita persis seperti pemain Kuda Lumping. Dari sini maka dapat saya simpulkan bahwa kita harus berpegang teguh dengan dasar negara kia agar tidaklah seperti kuda lumping yang kebingungan.

    ReplyDelete
  26. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kesurupan tak dapat dijelaskan mengapa dan bagaimana. Namun, kesurupan dapat dilihat. Dunia pendidikan nampaknya juga tengah dilanda kesurupan tersebut. Semakin banyak kebijakan yang dihasilkan, namun pada praktiknya objek didik nampak semakin kesulitan mengikuti dinamikanya. Maka dari itu, tak sedikit pula objek didik yang memilih jalan pintas agar dapat lulus dari kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan.
    Namun, itu baru segelintir dari bidag pendidikan. Mungkin, di luar bidang ini masih banyak yang lainnya.

    ReplyDelete
  27. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti elegi di atas bahwa perikehidupan Indonesia sekarang dapat digambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Sebagai warga negara yang baik kita tidak hanya menikmati kebijakan pemerintah yang hanya menjalankan peraturan-peraturannya, tetapi berusaha berpikir kritis dalam menghadapi segala sesuatu di era ini.

    ReplyDelete
  28. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya tertarik dengan kalimat ini "Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau sering menjumpai banyak orang-orang dengan gaya kaya mendadak, berpenampilan ala barat dan melupakan dan malu dengan budaya dan tradisi sendiri." sekarang banyak anak muda yang malu mengakui tradisi dan budayanya, tapi bangga akan budaya asing dan mengakuinya tanpa rasa bersalah.

    ReplyDelete
  29. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pendapat saya dari elegi ini bahwa bangsa ini sedang dilanda oleh krisis, baik dari segi moral, adab, dan kejujuran. Segala problema serta masalah yang ada terkadang sangat sulit di deskripsikan secara rinci. Contohnya pemain kuda lumping yang kesurupan akan tetapi kita tidak mengetahui secara rinci bagaimana dia bisa kesurupan. Maka hendaklah senantiasa kita memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai problema yang ada dalam diri sendiri,dalam lingkungan dan dalam menjadi bangsa Indonesia.

    ReplyDelete
  30. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Salah satu yang membuat kita menjadi seperti kuda lumping adalah semakin jauhnya kita terhadap agama kita. Pemahaman yang menyimpang ditambah lagi dengan sifat manusia yang selalu ingin serba instan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Masyarakat sudah banyak percaya dengan mitos-mitos yang ada di hadapan mereka. Shalat dikuburan menjadi ritual yang agung namun shalat lima waktu di masjid begitu sepinya. Ustadz yang manyampaikan yang Haq, tidak diperdulikan. Namun “ustadz” yang menampakkan kesaktiannya, pandai berorasi, bisa menggandakan uang, terlebih bisa nyanyi dan main musik banyak pengikutnya. Padahal apa yang dikatakan dan dipahaminya tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Astaghfirullah.

    ReplyDelete
  31. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kuda lumping merupakan kesenian tradisional di pulau Jawa, kuda lumping yang kesurupan diibaratkan dengan keadaan negara kita saat ini, dimana banyak hal atau kejadian dalam kehidupan bemasyarakat kita yang sulit dimengerti sama halnya ketika ada pemain kuda lumping yang kesurupan ketika mereka memakan pecahan kacapun kita sulit untuk mnegerti mengapa tidak ada darah sedikitpun keluar dari mulutnya. Kuda lumping menggambarkan carut marut di negara kita. Hanya dengan kerjasama dan hati yang ikhlas disertai pemikiran kritis kita akan mengurangi pertunjukkan kuda lumping yang sedang dipertontonkan di negri ini.

    ReplyDelete