Mar 8, 2011

Elegi Kuda Lumping Bangsaku




Oleh Marsigit

Penonton:

Wah asyiknya menonton pertunjukkan Kuda Lumping. Gerakannya yang lincah dan dinamis disertai musik tinthilan, kempul dan kendhang. Lihat tu..wow..wow..sudah mulai kesurupan. Wahai pengamat, asyik bukan? Inilah yang aku tunggu-tunggu, saatnya para pemain kesurupan.
Itu..tu dia mengejar penonton.

Pengamat:
Wahai penonton, diantara sekian banyak adegan pertunjukkan Kuda Lumping itu, manakah yang anda paling tertarik?

Penonton:
Lho..pertanyaanmu kok aneh ta? Ya jelas ketika para pemain kesurupan.

Pengamat:
Mengapa?

Penonton:
Aneh lagi pertanyaanmu itu. Lho kalau kesurupan itu kan jadinya ramai sekali, heboh dan menggemparkan. Lha ..kalau anda apanya yang menarik dari pertunjukkan ini?

Pengamat:
Kalau saya..yang menarik dari pertunjukan Kuda Lumping ini adalah penontonnya.

Penonton:

Lho kok aneh... Engkau itu bukan penonton apa? Kalau begitu engkau itu tertarik padaku?

Pengamat:
Enggak.. aku juga tidak tertarik dengan penonton seperti engkau.

Penonton:
Lho kenapa?

Pengamat:
Aku lebih tertarik dengan penonton seperti diriku.

Penonton:
Ah..bodhoh amat. Sudah..sudah..jangan ganggu saya saya mau konsentrasi melihat pemain kesurupan. Tetapi mengapa ya para pemain itu bisa kesurupan? Wahai pengamat, kelihatannya engkau senang berkomentar yang tidak-tidak? Aku ada pertanyaan nih. Mengapa para pemain Kuda Lumping itu bisa kesurupan?

Pengamat:
Nah..baru..Sekarang aku tertarik dengan engkau. Sebetulnya aku tertarik dengan penonton yang bertanya tentang tontonan dari pada penonton yang hanya menikmatinya.

Penonton:

Wah..sekarang aku jadi tertarik dengan komentarmu. Aku jadi kurang tertarik dengan pertunjukkan itu. Bolehkah aku bertanya lagi? Kenapa engkau menjadikan dirimu menjadi pengamat dan bukan menjadi penonton yang kafah seperti diriku?

Pengamat:
Ketika aku melihat pertunjukan Kuda Lumping, maka serta merta datanglah kesedihanku.

Penonton:
Lho kok aneh..bukankah pertunjukkan itu dimaksudkan untuk menghibur penonton? Tetapi bolehkah engkau jelaskan mengapa engkau sedih jika menonton pertunjukkan Kuda Lumping?

Pengamat:
Aku melihat kehidupan bangsaku, persoalan bangsaku, pikiran bangsaku, perasaan bangsaku, semakin lama kok semakin mirip dengan pertunjukkan Kuda Lumping.

Penonton:
Lho yang mirip apanya?

Pengamat:
Yang mirip kesurupannya.

Penonton:
Wahai pengamat..jangan asal bicara engkau. Masaaakk..bangsa kita dianggap kesurupan? Apa maksudmu?

Pengamat:

Wahai sahabatku..bukankah engkau melihat kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak hal/kejadian/peristiwa atau fenomena kehidupan dalam masyarakat, yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak gejala masyarakat mengalami kesurupan.

Penonton:
Ah..omong kosong? Bukti konkritnya?

Pengamat:
Bukankah engkau sering mendengar banyak siswa dari beberapa sekolah di daerah-daerah bahkan mengalami kesurupan? Jika para siswa mengalami kesurupan maka Kepala Sekolah, guru, ortu dan masyarakat juga bertanya-tanya mengapa mereka kesurupan? Mereka tidak bisa atau sulit menjelaskannya. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak siswa sekolah mengalami kesurupan. Atau jika saya ekstensikan, maka semakin banyak sekolah mengalami kesurupan.

Penonton:
Itukan hanya kasus?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka banyak peristiwa-peristiwa hukum di negeri ini semakin sulit dijelaskan dengan teori hukum? Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa hukum kita itu juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Uraianmu kok semakin menarik? Terus..terus..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak peristiwa-peristiwa dan kebijakan pendidikan yang sulit dijelaskan dengan teori kependidikan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa pendidikan di negeri ini juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:

Ada yang lainnya?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak masyarakat kita yang mencari obat penyembuhan yang sulit dijelaskan dengan teori pengobatan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa dunia pengobatan kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Ohh ..begitu ta?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Pernahkan engkau membaca beberapa berita tentang penjualan “pil pintar”. Pil pintar dijual dengan biaya jutaan, 10 juta, 15 juta, 25 juta agar siswa tidak usah belajar tetapi mampu mengerjakan UN. Maka hal yang demikianpun sulit dijelaskan dengan teori pendidikan maupun psikologi belajar. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa teori pendidikan dan psikologi pendidikan juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Wah..menarik juga.

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau sering menjumpai banyak orang-orang dengan gaya kaya mendadak, berpenampilan ala barat dan melupakan dan malu dengan budaya dan tradisi sendiri. Bukankah yang bisa membaca huruf jawa bisa dihitung dengan jari saja. Bukankah banyak orang semakin tidak mengenal tetangganya sendiri? Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori kehidupan masyarakat. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa kehidupan bermasyarakat kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Apa masih ada yang lain?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau mengalami sendiri gejala konsumerisme merajalela dimana-mana. Pemerintah dan masyarakatnya seakan kompak berpacu dan berlomba membudayakan konsumerisme. Bukankah konsumerisme itu hanya mementingkan produk saja daripada proses. Buwat apa susa-susah membikin mobil jika bisa import?. Buwat apa susah-susah bikin komputer jika bisa import? Buwat apa susah-susah bikin HP jika bisa import?. Maka kencenderungannya adalah semakin hari semakain kita dibanjiri barang import tanpa kita mau mengetahui proses pembuatannya apalagi berusaha memproduksi kemudian mengekspornya. Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori pengembangan SDM. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa kehidupan konsumerisme bangsa kita adalah kehidupan bangsa yang sedang kesurupan pula.

Penonton:
Wah..wah..heubuat kau. Lagi..lagi..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau melihat sendiri bagaimana eksploitasi pengiriman tenaga kerja TKI/TKW secara besar-besaran ke luar negeri. Peduli amat dengan gengsi dan harga diri bangsa. Dari pada sulit-sulit mendidik mereka, dengan iaya mahal pula, maka kirim saja mereka keluar negeri. Disamping merupakan solusi instant bagi mereka, juga bisa menambah devisa negara. Maka hal ini juga sulit dijelaskan dengan teori pengambangan SDM dan pembangunan karakter bangsa dan jiwa nasionalisme. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa pembangunan karakter bangsa juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Lho..pertunjukkan Kuda Lumpingnya sudah bubar. Penonton yang lain juga sudah bubar. Tinggal kita berdua. Sekalian tanya bagaimana solusinya. Dan siapakah sebenarnya dirimu?

Pengamat:

Pertunjukkan Kuda Lumping yang sesungguhnya justru sedang menggejala. Itulah perikehidupan bangsa kita sekarang yang dapat saya gambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Ketika bangsa dan masyarakat tidak atau belum siap bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sementara aspek kehidupan dan budaya mereka sudah menggejala di mana-mana, maka bangsa dan masyarakat kita dilanda kebingungan. Maka bangsa dan masyarakat kita persis seperti pemain Kuda Lumping. Dalam suasana kebingungan dan kepanikan serta setangah sadar maka bangsa dan masyarakat kita tidak mempunyai pola dan hanya mengikuti gejala-gejala simtomatik narasi besar kehidupan dunia. Bangsa dan masyarakat kita hanya mampu bergerak sesuai dengan musiknya neokapitalis.Maka terapi-terapi instant, terapi irrasional, solusi aneh, pil ajaib, pil UN, kebijakan sesaat, program populis 100 hari, akan menjadi barang dagangan yang sangat laku dipasaran. Maka ditengah bangsa yang sedang kesurupan itu muncullah calo-calo dan juragan bangsa dan masyarakat yang sekedar ingin megambil keuntungan sebesar-besarnya.

Penonton:
Iya ..ya...wah cocok sekali analisismu dengan keadaan sekarang ini. Giiiiiimana menurutmu GAYUS itu?


Pengamat:
Gayus adalah pertunjukkan Kuda Lumping Bangsa Indonesia yang terbesar abad ini. Mafia Pajak adalah lirik-lirik lagu, nyanyian dan musiknya. Mafia Hukum adalah mantra-mantranya. Pemimpin Bangsa adalah si Tuan penanggap Kuda Lumping. Lembaga Peradilan adalah dukun-dukunnya. Aparat Penegak Hukum adalah penunggang-penunggangnya. Koruptor adalah mulut-mulut yang berbuih dan mata yang melotot. Pajak dan Uang Rakyat adalah sesaji-sesajinya.  

Penonton:
Trus..siapakah dirimu itu?

Pengamat:
Aku adalah penonton Kuda Lumping yang berusaha berpikir kritis. Karena aku telah melihat bahwa engkau juga telah ikut berpikir kritis, maka aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, yaitu seorang penonton pertunjukkan Kuda Lumping yang berpikir kritis.

Pengamat dan Penonton:
Ohh...Kuda Lumping Bangsaku.

30 comments:

  1. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pendapat saya dari elegi ini bahwa bangsa ini sedang dilanda oleh krisis, baik dari segi moral, adab, dan kejujuran. Segala problema serta masalah yang ada terkadang sangat sulit di deskripsikan secara rinci. Contohnya pemain kuda lumping yang kesurupan akan tetapi kita tidak mengetahui secara rinci bagaimana dia bisa kesurupan. Maka hendaklah senantiasa kita memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai problema yang ada dalam diri sendiri,dalam lingkungan dan dalam menjadi bangsa Indonesia.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Salah satu yang membuat kita menjadi seperti kuda lumping adalah semakin jauhnya kita terhadap agama kita. Pemahaman yang menyimpang ditambah lagi dengan sifat manusia yang selalu ingin serba instan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Masyarakat sudah banyak percaya dengan mitos-mitos yang ada di hadapan mereka. Shalat dikuburan menjadi ritual yang agung namun shalat lima waktu di masjid begitu sepinya. Ustadz yang manyampaikan yang Haq, tidak diperdulikan. Namun “ustadz” yang menampakkan kesaktiannya, pandai berorasi, bisa menggandakan uang, terlebih bisa nyanyi dan main musik banyak pengikutnya. Padahal apa yang dikatakan dan dipahaminya tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Astaghfirullah.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kuda lumping merupakan kesenian tradisional di pulau Jawa, kuda lumping yang kesurupan diibaratkan dengan keadaan negara kita saat ini, dimana banyak hal atau kejadian dalam kehidupan bemasyarakat kita yang sulit dimengerti sama halnya ketika ada pemain kuda lumping yang kesurupan ketika mereka memakan pecahan kacapun kita sulit untuk mnegerti mengapa tidak ada darah sedikitpun keluar dari mulutnya. Kuda lumping menggambarkan carut marut di negara kita. Hanya dengan kerjasama dan hati yang ikhlas disertai pemikiran kritis kita akan mengurangi pertunjukkan kuda lumping yang sedang dipertontonkan di negri ini.

    ReplyDelete
  4. Nama :Mariana Ramelan
    NIM :17709251056
    Kelas :S2 PMC 2017

    Subhanallah..
    Elegi yang cukup menggelitik kita semuanya. Memang benar bangsa kita dapat diibaratkan sedang seperti pertunjukan kuda lumping. Para petinggi bangsa seakan kesurupan seperti pemain dalam kuda lumping. Hukum tak lagi ditegakkan dengan benar, dengan uang hukum menjadi lemah. Semua warga bangsa kita telah kesurupan dan tergila-gila dengan yang namanya uang. Banyak pejabat-pejabat dan warga bangsa kita yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan banyak uang.

    ReplyDelete
  5. Selain kesurupan karena uang, banyak juga yang kesurupan karena kekuasaan atau jabatan. Banyak yang menginginkan jabatan yang tinggi dan dengan segala cara akan ia tempuh demi mendapatkan jabatan yang ia impikan tersebut. Bagaimana penguasa dan pemegang kebijakan di Indonesia ini sedang kesurupan dengan tahta, kekuasaan sehingga mereka sedikit melupakan nasib rakyatnya. Rakyat yang tertindas dengan berbagai macam tuntutan hidup juga seakan-akan kesurupan untuk melakukan sesuatu berorientasikan materi.

    ReplyDelete
  6. Kompleks memang permasalahan yang terjadi di Indonesia ini. Tinggal kita memilih, mau ikut kesurupan, menjadi penonton, atau menjadi solusi dari permasalahan tersebut.

    Marilah kita memulai dari diri kita sendiri agar kita tidak termasuk dalam orang yang lemah dan diperdaya oleh kekuasaan, uang, dll. Semoga bangsa kita segera bangkit dari problema yang berkepanjangan ini. Amin..

    ReplyDelete
  7. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi kuda lumping bangsaku menceritakan bagaimana keadaan bangsa Indonesia saat ini. Banyak hal-hal yang terjadi di Negara Indonesia yang diakibatkan oleh kurangnya pendidikan yang menyebabkan mereka tidak mampu berpikir kritis, dan ilmu pendidikan yang kurang itu mempengaruhi juga hati nurani mereka karena dengan pengetahuan mereka akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

    ReplyDelete
  8. indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B

    Masya Allahh...
    elegi yang sangat kontras antara kuda lumping dan permasalahan bangsa ini.
    Ikut sedih mengapa kebanyakan bangsa kita terlalu apatis mengenai hal-hal yang berusurusan dengan negara. sekarang banyak pemuda yang bungkam akan ketidaksenonohan yang dilakukan pemerintah dalam negara ini. dan jarang sekali pemuda/i di Indonesia berfikir kritis. benar memang import juga dibutuhkan dalam suatu negara untuk menjaga kerjasama antar negara. Namun, permasalahannya sekarang apakah semua harus di import? apakah kita harus menginport ikan asin sedang kita adalah negara maritim. Apakah kita harus menginport beras, garam, cabai, wortel di negara kita yang katanya tanah surga?. semoga kedepannya kita sebagai generasi indonesia bersama pemerintah lebih bijak dalam mengambil keputusan dan lebih dapat memajukan negara kita tercinta ini. MERDEKA!

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17710251032
    PEP S2 B

    "Wahai sahabatku..bukankah engkau melihat kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak hal/kejadian/peristiwa atau fenomena kehidupan dalam masyarakat, yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak gejala masyarakat mengalami kesurupan"

    Awalnya kupikir ini hanya fenomena cultural lag. Awalnya kupikir wajar, penyesuain dengan globalisasi mungkin. Tapi astaga, makin turun, makin ke bawah ku baca, makin terkaget-kaget aku dibuatnya. Makin bertambah kalimat yang ku lewati, makin banyak anggukan kepalaku, makin banyak lontaran "benar juga" di benakku pada setiap akhir kalimat.

    Oh aku, oh temanku, oh kerabatku, oh bangsaku, ternyata kita sedang tak sepenuhnya sadar, bahkan hampir tidak sadar sama sekali. Mental kita benar-benar dirasuki, yaampun! kita kesurupan!

    Miris ya, miris sih, miris sama mereka, miris sama kita, miris dengan diriku sendiri. Betapa banyak kejadian, banyak fenomena, banyak faham mengalir pada bangsa ini tanpa kita tahu arti sesunggunya. Anehnya, bukan mencari tahu, tapi malah kita nyemplung, nyebur dan meneruskannya, menambah ketidakjelasannya

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kepribadian bangsa Indonesia seharusnya bisa berlandaskan pada pancasila. Akan tetapi, masih banyak hal – hal negatif yang masih terjadi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Hal tersebut seperti yang sudah di ulas dalam elegi kuda lumping bangsaku di atas. Dari elegi tersebut, dianalogikan bahwa kehidupan para pejabat tinggi bagaikan pertunjukkan kuda lumping yang pemainnya sedang kesurupan. Samapai saat ini pun (tahun 2017) pertunjukan tersebut masih belum berakhir. Moral yang buruk dari suatu bangsa dapa mengakibatkan buruknya bangsa tersebut. Namun dewasa ini, kebanyakan orang cenderung mengabaikan perilaku yang mencerminkan sikap bermoral. Kerena moral dapat dilihat dari perilaku masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah perlu adanya suatu perbaikan moral bagi bangsa ini.

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Seperti elegi di atas bahwa perikehidupan Indonesia sekarang dapat digambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Sebagai warga Negara yang baik kita tidak hanya menikmati kebijakan pemerintah yang hanya menjalankan peraturan-peraturannya, tetapi berusaha berpikir kritis dalam menghadapi segala sesuatu di era ini.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  12. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Kuda lumping yang sedang kesurupan itu digambarkan sebagai sosok yang ganas, yag tidak tau sopan santun, dan berbuat semaunya. Saya setuju jika kondisi bangsa yang semakin semrawut dan tdak kondusif ini diibaratkan kuda lumping yang sedang kesurupan karena pada kenyataannya banyak orang yang tidak lagi menjunjung tinggi nilai moral/akhla sebagai bekal hidup.
    Yang ada saat ini adalah generasi yang foya-foya, hedonisme, tidak tau aturan dan norma masyarakat. Hal itu akan semakin memperburuk kondisi bangsa Indonesia. Yaitu semakin tidak aman dan tentram. Solusinya yaitu pendidikan karakter sejak dini. Anak perlu untuk diajarkan karakter sejak dini baik di lingkungan keluarga, sekoah, dan masyarakat sehingga tertanam akhlak yang baik sejak dini.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Perkembangan zaman adalah sesuatu yang tidak bisa terelakkan. Siap tidak siap perubahan akan menjalar ke seluruh sendi kehidupan. Banyak fenomena kehidupan yang berubah secara drastis akibat derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat. Oleh karena itu kita harus mampu menjadi masyarakat yang cerdas, masyarakat yang kritis. Jangan biarkan kita menjadi korban dari globalisasi yang telah mendunia. Jangan biarkan kita dilanda dengan kebingungan dan berakhir dengan kesurupan layaknya pada pemainan kuda lumping. Kita harus mampu mem-filter secara perubahan dan perkembangan yang ada serta kita harus bahu membahu mempertahankan budaya dan identitas bangsa agar tidak terbawa arus globalisasi.

    ReplyDelete
  14. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Kebanyakan kita tidak memperhatikan kejadian yang diluar akal pikiran kita, atau hal yang diluar kemampuan kita, dan kita tidak mau untuk mengembangkan pemikiran kita untuk memepelajari itu. Seperti fenomena kuda lumping, kita hanya menyaksikan pertunjukannya saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa demikian. Hal ini terjadi karena ketidakpekaan untuk berpikir kritis pada hal-hal disekitar kita yang bukan menjadi urusan kita/tidak berhubungan dengan kita, dan kita tidak mau / berusaha untuk mempelajarinya, sehingga pemikiran kita menjadi sempit dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Kuda lumping bangsaku dianalogikan sebagai gejala sosial atau kondisi yang sedang terjadi pada bangsa ini. Ketidakadilan yang terjadi, penyelewengan kekuasaan, penyalahgunaan wewenang, perubahan pola kehidupan masyarakat hingga merambah ke dunia pendidikan dan karakter masyarakat tidak dapat dijelaskan dengan teori. Persoalan-persoalan tersebut sulit dipahami seperti sulitnya memahami mengapa pemain kuda lumping kesurupan. Berdasarkan elegi ini, persoalan-persoalan tersebut muncul akibat bangsa kita yang belum siap dalam menghadapi arus globalisasi sehingga banyak pihak-pihak lain yang memanfaatkan situasi ini untuk meraup keuntungan. Hanya sebagian dari masyarakat kita yang mampu berfikir kritis dalam menghadapi persoalan tersebut, kebanyakan masyarakat yang lain hanya menikmati kehidupannya tanpa menyadari fenomena yang sedang terjadi, seperti halnya para penonton yang menyaksikan pertunjukkan kuda lumping. Sebagian lagi justru seperti pemain kuda lumping yang kesurupan, tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Tulisan ini menyadarkan saya bahwa ternyata keadaan negara kita sekarang sungguh banyak yang aneh sehingga susah dijelaskan layaknya susah menjelaskan mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Saya akan mencoba menambahkan suatu keanehan dan kejanggalan di negara kita ini. Indonesia yang terkenal dengan julukan negara maritim atau salah satu negara yang sangat luas wilayah lautannya, baru-baru ini mengalami kelangkaan garam sehingga mengharuskan impor garam dari negara luar. Sungguh merupakan suatu keanehan yang sulit dijelaskan, bagaimana bisa sebagai salah satu negara yang lautannya terluas mengalami kelangkaan garam. Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai generasi penerus bangsa ini ikut turut ambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam mensejahterakan bangsa Indonesia. Ingatlah slogan ini "jangan tanya apa yang sudah bangsa ini berikan kepada kita, tapi tanyalah apa yang sudah kita berikan bagi bangsa ini".

    ReplyDelete
  17. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Negara kita memang sedang mengalami kesurupan masal seperti para pemain kuda lumping dalam elegi di atas. Banyak hal, kejadian, perseteruan, perdebatan, keputusan, fenomena yang semuanya tidak dapat dijelaskan secara teori. Negara kita adalah negara kaya, sumberdaya alam melimpah, tanahnya subur dan sangat baik untuk pertanian, lautnya luas dan banyak hasil tangkapan ikannya. Tetapi kenapa justru banyak orang Indonesia menjadi TKI/ TKW untuk kerja ke luar negeri. Ini adalah suatu keanehan atau dalam elegi di atas dikatakan sebagai kesurupan.

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Perikehidupan bangsa dapat direresentasikan dalam kuda lumping, di mana ketika masyarakat belum siap bergaul dengan bangsa lain, maka bangsa dan masyarkat akan mudah dilanda kebingungan yang akan menyebabkan masyarakat tidak memiliki pola dan hanya mengikuti gejala simtomati narasi besar kehidupan dunia. Sehingga tidak heran soal aneh, pil UN, kebijakan sesat menjadi barang yang mudah ditemukan dalam masyarakat. Refleksinya adalah jadilah masyarakat yang mau berpikir kritis, ketika sesuatu yang baru saja datang ke bangsa kita, sebaiknya ditelaah terlebih dahulu apakah hal tesebut sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia, agar Indonesia tidka kehilangan jati dirinya.

    ReplyDelete
  20. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Kuda Lumping Bangsaku, elegi ini menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan atas sampai bawah yang bagaikan pemain kuda lumping yang kesurupan. Dewasa ini moral bangsa yang seharusnya berlandaskan pancasila mulai bergeser, sehingga perilaku-perilaku penyimpangan moral terjadi dimana-mana. Contohnya saja elegi ini di tulis pada tahun 2011 dan digambarkan bahwa pejabat Indonesia banyak yang melakukan korupsi. Namun sayangnya hukum yang harusnya dapat memberikan efek jera bagi para koruptor, dapat “dibeli” dengan uang sehingga hukum menjadi tumpul bagi para penguasa. Setelah 6 tahun berlalu, di tahun 2017 inipun hukum masih saja tumpul bagi para penguasa dan koruptor masih bertebaran. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menanamkan moral sejak dini pada anak bangsa, agar kedepanya banga ini tidak lagi menjadi pemain kuda lumping yang kesurupan. Akan tetapi menjadi, penikmat yang kritis dan seletif. Terimakasih.

    ReplyDelete
  21. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Apa yang digambarkan dalam elegi kuda lumping bangsaku memang sesuai dengan kenyataan bangsa kita, bahkan 6 tahun setelah elegi ini ditulis, keadaannya tak kunjung membaik. Krisis mental dan moral yang ada bukan hanya berasal dari serangan eksternal, melainkan internal juga. Fenomena-fenomena sosial ini menjadikan negara kita semakin tertinggal. Korupsi hampir selalu menjadi headline di media-media atau portal-portal berita di Indonesia. Masyarakat lebih peduli pada gadget daripada bersosialisasi dan perilaku konsumtif semakin meningkat. Untuk mengatasi hal-hal ini tidak bisa dalam sekejap dan memerlukan waktu dan proses yang lama. Setidaknya kita harus mulai dari sekarang, dan kita mulai dari hal-hal yang kecil. Sebagai calon pendidik, kita harus menanamkan sikap amanah, jujur dan bertanggung jawab. Kita harus mengajarkan akan pentingnya kehidupan bersosialisasi dan selalu mengingatkan nilai-nilai spiritual agar dalam setiap tindakannya berpondasi pada ajaran agama.

    ReplyDelete
  22. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Pada elegi ini saya merasa diajak untuk melihat pertunjukkan kuda lumping bangsaku. Luar biasa pengaruh yang menggeser paradigma bangsa ini menjadi paradigma serba instan. Segala sesuatu diinginkan untuk memperoleh hasil memuaskan dengan cara instan tanpa bekerja keras melaksanakan setiap prosesnya. Bahkan sudah menjalar sampai akar-akar bangsa ini. Sungguh saya merasa sedih menyaksikan pertunjukkan kuda lumping bangsaku. Apalah daya diri ini yang menjadi penonton saja terkadang belum mampu.

    ReplyDelete
  23. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya.
    Pada Elegi kali ini Elegi Kuda Lumping Bangsaku, mengibaratkan pada zama sekarang ini, bangsa kita seperti kuda lumping. Dimana para pengamat bangsa ini tidak paham atas apa yang terjadi di kehidupan ini. Contoh yang paling hits waktu itu, masalah Gayus, yang melakukan korupsi namun keadilan hukum tidak berbicara banyak. Ini yang membuat masyarakat heran sama seperti herannya masyarakat dengan kenapa kuda lumping bisa kesurupan. Ini yang menyebabkan bangsa kita seperti kuda lumping. Banyak tidak kejelasannya yang ada di bangsa ini. Terimakasih

    ReplyDelete
  24. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi kuda lumping bangsaku menggambarkan bagaimana kondisi bangsa sekarang ini. Arus globalisasi yang masuk dan mempengaruhi bangsa diilustrasikan sebagai kuda lumping yang sedang kesurupan. Sedikit ataupun banyaknya budaya bangsa lain yang mulai masuk sekarang ini mulai menggeser norma-norma yang berlaku di dalam negeri. Nilai-nilai budaya yang mulai luntur sebaiknya mulai ditegakkan kembali untuk menegaskan jati diri bangsa. Dengan menfilter budaya asing yang masuk ke dalam negeri, dengan cara mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk, maka mulailah dari diri sendiri.

    ReplyDelete
  25. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya belum pernah menonton kuda lumping secara langsung, tetapi saya pernah melihatnya di televisi. Saya juga cukup "nggumun" dan tak henti-hentinya mengatakan "kok bisa sih?"
    Menjadi refleksi bagi saya ketika sang pengamat tertarik dengan si penonton kuda lumping. Bangsa kita diibaratkan seperti pertunjukkan kuda lumping, kesurupan. Banyak hal-hal aneh yang terjadi pada bangsa ini. Lha, yang aneh lagi adalah masyarakat sebagai penonton. Banyak orang yang hanya duduk anteng menonton makin bobroknya bangsa ini seperti layaknya menonton pertunjukan kuda lumping.
    Yang dibutuhkan bangsa ini adalah tindakan nyata dari setiap kita yang menyadari kebobrokan bangsa ini. Mulai dari diri sendiri, bergerak untuk secara tak langsung menyadarkan orang lain untuk ikut bergerak. Mari kita bergerak, tak hanya jadi penonton yang melihat bangsa ini "kesurupan"

    ReplyDelete
  26. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Secara garis besar maka akan ada analogi yang sama antara kesurupan pada pemain kuda lumping yaitu sama dengan negri kita, bangsa kita yang sedang mengalami kesurupan atau perubahan yang luar biasa, ini karena derasnya aliran perkembangan zaman, dari semua bidang dalam kehidupan ini malah juga terkena oleh fenomena kerasukan ini. Mulai dari bidang pendidikan yang mana siswa mengalami keanehan yang tak memahami pelajaran yang kadang kala kita tak mengerti alasannya atau pura – pura tidak tau atau menutup mata. Sebenarnya kita sendiri yang harusnya sadar bahwa kita harus jadi orang pengamat yang minimal tahu akan kondisi sehingga tidak ikut terjerumus. Terlebih lagi jika kita mampu membantu menyadarkan orang yang kerasukan tadi, menyadarkan lingkungan kita akan fenomena yang terjadi sat ini.
    Tapi dari fenomena kuda lumping ini sejatinya ada yang harus ditinggalkan seperti yang telah disebutkan, berkenaan sikap sikap aneh yang terjadi, yang berkaitan dengan hidup kita. Namun disisi lain terdapat sisi positif yaitu nilai nasionalisme nilai budaya yang dimiliki yang harus juga dilestarikan, daripada budaya K-POP, dance dll. Menurut saya lebih baik melestarikan dan tetap mengunggulkan pula nilai nilai karakter bangsa dan agama. Agar budaya ini tak tergerus dengan budaya dance saat ini yang marak yang sungguh malah memuat ironis.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ulasan yang membuat saya penasaran untuk membacanya. Saya menjadi terdorong untuk tidak hanya sekedar menjadi penonton yang pasif. Meski saya sendiri juga tidak mampu mengubah keadaan kuda lumping menjadi membaik. Saat saya hanya terlena dengan fenomena yang ada tentu tidaklah ada manfaatnya. Apa jadinya saya di tengah-tengah kebingungan yang ada. Saya diberi akal pikiran oleh Tuhan, inilah yang dapat saya manfaatkan untuk hal-hal baik dalam diri saya dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Keinginan untuk dapat bertahan hidup sejatinya menjadi dorongan terbesar bagi saya untuk terus mengasah pemikiran yang kritis. Sekali lagi terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. marsigit atas pembahasan yang menarik di atas. Saya kagum dengan pemikiran si pengamat. Alangkah kritisnya dia hingga mampu mengibaratkan kesurupannya kuda lumping tersebut bak sebuah masyarakat di suatu bangsa. Namun benar sekali yang ia katakan, kondisi negeri kita saat ini sedang mengalami kebingungan, resah, ketiadaan arah, tidak memiliki pola dan hanya mengikuti gejala dan pengaruh dari dunia barat yang lebih berkuasa. Konsep dan gaya hidupun sudah berkiblat pada mereka hingga orang-orang kita menjadi konsumerisme dan pragmatisme. Semakin hari semakin kita dibanjiri barang import tanpa kita mau mengetahui dan belajar bagaimana proses pembuatannya apalagi berusaha memproduksi kemudian mengekspornya. Sungguh saya sedih dengan "generasi jaman now". Ketika "power now" benar-benar menunjukkan cara dan kekuasannya, kita seperti lemah dan dikuasai, bak kuda lumping yang kalang kabut dan panik, namun dirinya mampu dirasuki syaitan dan dikuasai olehnya. YaAllah tolong negeriku dan tolonglah anak-anak bangsa kami. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elgi ini adalah elegi yang menarik karena alurnya tidak bisa kami tebak Prof. Banyak nasehat dan petuah yang dapat kami peroleh dari memahami elegi ini. Jika diibaratkan pertunjukan kuda lumping dan penonton yang awalnya hanya menikmati permainan kuda lumping bahwa banyak fenomena dan kejadi di negeri ini yang hanya menjadi tontonan masyarakat, masyarakat banyak diam dan hanya menggerutu dengan adanya hal tersebut hal ini bisa dilihat dari jarangnya berita demo-demo yang disiarkan di TV padahal demo merupakan salah satu bentuk pengungkapan aspirasi masyarat dimana melalui demo dapat diperoleh indikasi bahwa masyarakat bersifat kritis akan keadaan yang terjadi di negeri ini terutama mahasiswa. Berfikir kritis ini perlu dibekali melalui pendidikan dan pembelajaran karakter oleh karenanya masyarakat perlu berfikir luas untuk menemukan hal yang unik yang dapat menjadi bahan diskusi. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi kuda lumping bangsaku ini, saya menangkap informasi bahwa elegi tersebut mengibaratkan bangsa Indonesia sedang mengalami kesurupan seperti yang terjadi pada pemain kuda lumping. Hakekatnya bahwa bangsa Indonesia telah dirasuki oleh arus global yang mendeterminasi cara hidup rakyat Indoneisa. Sayangnya, masyarakat tidak sadar bahwa bangsa ini sedang dijajah secara perlahan, oh iya kan sedang kesurupan jadi tidak sadar ya. Tetapi, seharusnya bangsa ini jangan mendekati hal-hal yang membuat dirinya akan menyebabkan kesurupan. Ketidak fokusan dan mudahnya kita dihasut oleh para kapitalis adalah celah bagi mereka menjajah akal pikiran, bahkan bisa juga sampai ke hati dan agama. Sudah saatnya bangsa Indonesia ini sadar dari kesurupan arus global ini agar tidak diendalikan oleh mereka para kapitalis.

    ReplyDelete