Mar 8, 2011

Elegi Kuda Lumping Bangsaku




Oleh Marsigit

Penonton:

Wah asyiknya menonton pertunjukkan Kuda Lumping. Gerakannya yang lincah dan dinamis disertai musik tinthilan, kempul dan kendhang. Lihat tu..wow..wow..sudah mulai kesurupan. Wahai pengamat, asyik bukan? Inilah yang aku tunggu-tunggu, saatnya para pemain kesurupan.
Itu..tu dia mengejar penonton.

Pengamat:
Wahai penonton, diantara sekian banyak adegan pertunjukkan Kuda Lumping itu, manakah yang anda paling tertarik?

Penonton:
Lho..pertanyaanmu kok aneh ta? Ya jelas ketika para pemain kesurupan.

Pengamat:
Mengapa?

Penonton:
Aneh lagi pertanyaanmu itu. Lho kalau kesurupan itu kan jadinya ramai sekali, heboh dan menggemparkan. Lha ..kalau anda apanya yang menarik dari pertunjukkan ini?

Pengamat:
Kalau saya..yang menarik dari pertunjukan Kuda Lumping ini adalah penontonnya.

Penonton:

Lho kok aneh... Engkau itu bukan penonton apa? Kalau begitu engkau itu tertarik padaku?

Pengamat:
Enggak.. aku juga tidak tertarik dengan penonton seperti engkau.

Penonton:
Lho kenapa?

Pengamat:
Aku lebih tertarik dengan penonton seperti diriku.

Penonton:
Ah..bodhoh amat. Sudah..sudah..jangan ganggu saya saya mau konsentrasi melihat pemain kesurupan. Tetapi mengapa ya para pemain itu bisa kesurupan? Wahai pengamat, kelihatannya engkau senang berkomentar yang tidak-tidak? Aku ada pertanyaan nih. Mengapa para pemain Kuda Lumping itu bisa kesurupan?

Pengamat:
Nah..baru..Sekarang aku tertarik dengan engkau. Sebetulnya aku tertarik dengan penonton yang bertanya tentang tontonan dari pada penonton yang hanya menikmatinya.

Penonton:

Wah..sekarang aku jadi tertarik dengan komentarmu. Aku jadi kurang tertarik dengan pertunjukkan itu. Bolehkah aku bertanya lagi? Kenapa engkau menjadikan dirimu menjadi pengamat dan bukan menjadi penonton yang kafah seperti diriku?

Pengamat:
Ketika aku melihat pertunjukan Kuda Lumping, maka serta merta datanglah kesedihanku.

Penonton:
Lho kok aneh..bukankah pertunjukkan itu dimaksudkan untuk menghibur penonton? Tetapi bolehkah engkau jelaskan mengapa engkau sedih jika menonton pertunjukkan Kuda Lumping?

Pengamat:
Aku melihat kehidupan bangsaku, persoalan bangsaku, pikiran bangsaku, perasaan bangsaku, semakin lama kok semakin mirip dengan pertunjukkan Kuda Lumping.

Penonton:
Lho yang mirip apanya?

Pengamat:
Yang mirip kesurupannya.

Penonton:
Wahai pengamat..jangan asal bicara engkau. Masaaakk..bangsa kita dianggap kesurupan? Apa maksudmu?

Pengamat:

Wahai sahabatku..bukankah engkau melihat kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak hal/kejadian/peristiwa atau fenomena kehidupan dalam masyarakat, yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak gejala masyarakat mengalami kesurupan.

Penonton:
Ah..omong kosong? Bukti konkritnya?

Pengamat:
Bukankah engkau sering mendengar banyak siswa dari beberapa sekolah di daerah-daerah bahkan mengalami kesurupan? Jika para siswa mengalami kesurupan maka Kepala Sekolah, guru, ortu dan masyarakat juga bertanya-tanya mengapa mereka kesurupan? Mereka tidak bisa atau sulit menjelaskannya. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak siswa sekolah mengalami kesurupan. Atau jika saya ekstensikan, maka semakin banyak sekolah mengalami kesurupan.

Penonton:
Itukan hanya kasus?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka banyak peristiwa-peristiwa hukum di negeri ini semakin sulit dijelaskan dengan teori hukum? Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa hukum kita itu juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Uraianmu kok semakin menarik? Terus..terus..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak peristiwa-peristiwa dan kebijakan pendidikan yang sulit dijelaskan dengan teori kependidikan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa pendidikan di negeri ini juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:

Ada yang lainnya?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Maka semakin banyak masyarakat kita yang mencari obat penyembuhan yang sulit dijelaskan dengan teori pengobatan. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa dunia pengobatan kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Ohh ..begitu ta?

Pengamat:

Bukankah engkau sering membaca koran? Pernahkan engkau membaca beberapa berita tentang penjualan “pil pintar”. Pil pintar dijual dengan biaya jutaan, 10 juta, 15 juta, 25 juta agar siswa tidak usah belajar tetapi mampu mengerjakan UN. Maka hal yang demikianpun sulit dijelaskan dengan teori pendidikan maupun psikologi belajar. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa teori pendidikan dan psikologi pendidikan juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Wah..menarik juga.

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau sering menjumpai banyak orang-orang dengan gaya kaya mendadak, berpenampilan ala barat dan melupakan dan malu dengan budaya dan tradisi sendiri. Bukankah yang bisa membaca huruf jawa bisa dihitung dengan jari saja. Bukankah banyak orang semakin tidak mengenal tetangganya sendiri? Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori kehidupan masyarakat. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa kehidupan bermasyarakat kita juga mengalami kesurupan.

Penonton:
Apa masih ada yang lain?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau mengalami sendiri gejala konsumerisme merajalela dimana-mana. Pemerintah dan masyarakatnya seakan kompak berpacu dan berlomba membudayakan konsumerisme. Bukankah konsumerisme itu hanya mementingkan produk saja daripada proses. Buwat apa susa-susah membikin mobil jika bisa import?. Buwat apa susah-susah bikin komputer jika bisa import? Buwat apa susah-susah bikin HP jika bisa import?. Maka kencenderungannya adalah semakin hari semakain kita dibanjiri barang import tanpa kita mau mengetahui proses pembuatannya apalagi berusaha memproduksi kemudian mengekspornya. Maka hal yang demikian sulit dijelaskan dengan teori pengembangan SDM. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa kehidupan konsumerisme bangsa kita adalah kehidupan bangsa yang sedang kesurupan pula.

Penonton:
Wah..wah..heubuat kau. Lagi..lagi..?

Pengamat:
Bukankah engkau sering membaca koran? Bukankah engkau melihat sendiri bagaimana eksploitasi pengiriman tenaga kerja TKI/TKW secara besar-besaran ke luar negeri. Peduli amat dengan gengsi dan harga diri bangsa. Dari pada sulit-sulit mendidik mereka, dengan iaya mahal pula, maka kirim saja mereka keluar negeri. Disamping merupakan solusi instant bagi mereka, juga bisa menambah devisa negara. Maka hal ini juga sulit dijelaskan dengan teori pengambangan SDM dan pembangunan karakter bangsa dan jiwa nasionalisme. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan bahwa pembangunan karakter bangsa juga sedang mengalami kesurupan.

Penonton:
Lho..pertunjukkan Kuda Lumpingnya sudah bubar. Penonton yang lain juga sudah bubar. Tinggal kita berdua. Sekalian tanya bagaimana solusinya. Dan siapakah sebenarnya dirimu?

Pengamat:

Pertunjukkan Kuda Lumping yang sesungguhnya justru sedang menggejala. Itulah perikehidupan bangsa kita sekarang yang dapat saya gambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Ketika bangsa dan masyarakat tidak atau belum siap bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sementara aspek kehidupan dan budaya mereka sudah menggejala di mana-mana, maka bangsa dan masyarakat kita dilanda kebingungan. Maka bangsa dan masyarakat kita persis seperti pemain Kuda Lumping. Dalam suasana kebingungan dan kepanikan serta setangah sadar maka bangsa dan masyarakat kita tidak mempunyai pola dan hanya mengikuti gejala-gejala simtomatik narasi besar kehidupan dunia. Bangsa dan masyarakat kita hanya mampu bergerak sesuai dengan musiknya neokapitalis.Maka terapi-terapi instant, terapi irrasional, solusi aneh, pil ajaib, pil UN, kebijakan sesaat, program populis 100 hari, akan menjadi barang dagangan yang sangat laku dipasaran. Maka ditengah bangsa yang sedang kesurupan itu muncullah calo-calo dan juragan bangsa dan masyarakat yang sekedar ingin megambil keuntungan sebesar-besarnya.

Penonton:
Iya ..ya...wah cocok sekali analisismu dengan keadaan sekarang ini. Giiiiiimana menurutmu GAYUS itu?


Pengamat:
Gayus adalah pertunjukkan Kuda Lumping Bangsa Indonesia yang terbesar abad ini. Mafia Pajak adalah lirik-lirik lagu, nyanyian dan musiknya. Mafia Hukum adalah mantra-mantranya. Pemimpin Bangsa adalah si Tuan penanggap Kuda Lumping. Lembaga Peradilan adalah dukun-dukunnya. Aparat Penegak Hukum adalah penunggang-penunggangnya. Koruptor adalah mulut-mulut yang berbuih dan mata yang melotot. Pajak dan Uang Rakyat adalah sesaji-sesajinya.  

Penonton:
Trus..siapakah dirimu itu?

Pengamat:
Aku adalah penonton Kuda Lumping yang berusaha berpikir kritis. Karena aku telah melihat bahwa engkau juga telah ikut berpikir kritis, maka aku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, yaitu seorang penonton pertunjukkan Kuda Lumping yang berpikir kritis.

Pengamat dan Penonton:
Ohh...Kuda Lumping Bangsaku.

72 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini mengajarkan kepada kita untuk belajar berpikir kritis. Sebagai seseorang yang menempuh jenjang pendidikan, sudah seharusnya kita jangan hanya jadi penonton tanpa berpikir mengapa dana pa implikasinya dalam kehidupan. Kebiasaan menerima saja tanpa berpikir dan tanpa merefleksikan semua membuat kita buta terhadap perubahan yang terjadi dan gampang diperdaya.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Bangsa ini sedang mengalami krisis yang meliputu berbagai aspek kehidupan berbangsa dan berbegara. Aspek-aspek tersebut cenderung dimanfaatkan untuk kepentingan perorangan dan golongan tertentu saja. Inilah gambaran bangsa yang sedang mengaami kesurupan seperti kuda lumping kerasukan. Sebagai warga negara ini, pilihan seperti apa yang akan kita buat dan jalani. Apakah kita juga akan menjadi salah satu yang terlibat dalam kesurupan ataukah mau menghindarinya tergantung pada tindakan kita masing-masing.

    ReplyDelete
  3. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, kuda lumping dalam elegi ini merupakan perumpamaan dalam sebuah negara yang sedang dilanda banyak pemasalahan. Masalah dalam negara yang dihadapi berbeda – beda. Saat ini yang terjadi di Indonesia ada masalah korupsi. Sulit mengatasi korupsi karena seakan – akan korupsi sudah mewabah dan banyak yang melakukannya. Untuk mengatasi hal ini diperlukan niat dan usaha dari diri masing – masing agar dapat membentengi diri dan tidak ikut – ikutan terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak baik yang akan merugikan diri sendiri, orang lain, dan negara.

    ReplyDelete
  4. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya tertarik dengan kalimat "Bukankah engkau sering membaca koran? Pernahkan engkau membaca beberapa berita tentang penjualan “pil pintar”. Pil pintar dijual dengan biaya jutaan, 10 juta, 15 juta, 25 juta agar siswa tidak usah belajar tetapi mampu mengerjakan UN". memangnya dengan minum pil seharga jutaan tersebut langsung dapat mengerjakan UN dengan lacar, belum tentu pastinya tergantung dari usaha belajar siswa tersebut.

    ReplyDelete
  5. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar tidak hanya didapat dari sekolah, tetapi juga bisa melalui kebudayaan. Banyak kebudayaan Jawa dapat dijadikan sebgai media pembeljaran. Kebudayaan lebih mudah dibayangkan karena ada di sekitar kita. Salah satunya dalam pertunjukan kuda lumping ini. Dalam proses pertunjukan ini bisa diibaratkan sebagai kondisi negeri ini yang budaya nya mulai luntur dan banyak hal yang sulit dijelaskan dalam teorinya.

    ReplyDelete
  6. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kondisi negeri ini mulai memprihatikan, konsumerisme yang mulai menjamur di kalangan masyarakat. Di mana masyarakat lebih menyukai hasil daripada proses. Sehingga mereka hanya beorientasi pada akhirnya bukan pada proses menuju hasil tersbut. Banyak langkah yang dilakukan oleh masyarakat demi mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara cepat dan praktis. Padahal itu bukanlah hal yang pantas digunakan.

    ReplyDelete
  7. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Fenomena konsumerisme atau cara praktis juga mulai terjadi dalam bidang pendidikan. Di indonesi searang masih banyak siswa yang beroientasi pad UAN. Sehingga proses pembelajaran sehar – hari kadang diabaikan dengan ujian selama 3 atau 4 atau 6 hari saja. Banyak yang lebih memilih untuk ikut les atau bimbingan belaja hanya demi mendapatkan rumus cepat sedangkan proses memeroleh konsep dan rumus itu tidak diperhatikan oleh siswa. Tentu dengan hal tersebut sanagt memprihatikan karena sebenarnya belajar itu bukan berorientasi seperti itu, belajar adalah proses menuju yang lebih baik.

    ReplyDelete
  8. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi dia atas bahwa Ibarat kuda lumping yang kesurupan, banyak penonton yang hanya sekedar menikmati hiruk-pikuk hiburan ini, namun tak dapat menjelaskan bagaimana kuda lumping itu bisa menjadi kesurupan. Saat ini banyak masyarakat yang terbawa arus modernisasi tanpa memiliki pengetahuan akan segala apa yang sedang diikutinya. Hanya sebatas terbawa arus. Gaya hidup yang kebarat-baratan merupakan kebanggaan. Padahal, dia tidak sedikit pun mengerti akan ideologi bangsa yang sesungguhnya harus dijadikan pegangan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  9. Selasa, 6 Juni 2017
    EKA RETNO SARI (14301241013)
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Begitu banyak fenomena yang terjadi di sekitar kita yang ternyata terjadi layaknya kuda lumping yang kesurupan, tak mudah dijelaskan tapi cukup mengusik kehidupan. Beberapa hal terkadang diabaikan atau dijadikan hal yang biasa dan menyalahkan perubahan jaman. Beberapa yang merupakan salah malah dianggap remeh atau dijadikan bahan guyonan. Semoga segalanya kembali pada keadaan yang semestinya.

    ReplyDelete
  10. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pendapat saya dari elegi ini bahwa bangsa ini sedang dilanda oleh krisis, baik dari segi moral, adab, dan kejujuran. Segala problema serta masalah yang ada terkadang sangat sulit di deskripsikan secara rinci. Contohnya pemain kuda lumping yang kesurupan akan tetapi kita tidak mengetahui secara rinci bagaimana dia bisa kesurupan. Maka hendaklah senantiasa kita memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai problema yang ada dalam diri sendiri,dalam lingkungan dan dalam menjadi bangsa Indonesia.

    ReplyDelete
  11. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Salah satu yang membuat kita menjadi seperti kuda lumping adalah semakin jauhnya kita terhadap agama kita. Pemahaman yang menyimpang ditambah lagi dengan sifat manusia yang selalu ingin serba instan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Masyarakat sudah banyak percaya dengan mitos-mitos yang ada di hadapan mereka. Shalat dikuburan menjadi ritual yang agung namun shalat lima waktu di masjid begitu sepinya. Ustadz yang manyampaikan yang Haq, tidak diperdulikan. Namun “ustadz” yang menampakkan kesaktiannya, pandai berorasi, bisa menggandakan uang, terlebih bisa nyanyi dan main musik banyak pengikutnya. Padahal apa yang dikatakan dan dipahaminya tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Astaghfirullah.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kuda lumping merupakan kesenian tradisional di pulau Jawa, kuda lumping yang kesurupan diibaratkan dengan keadaan negara kita saat ini, dimana banyak hal atau kejadian dalam kehidupan bemasyarakat kita yang sulit dimengerti sama halnya ketika ada pemain kuda lumping yang kesurupan ketika mereka memakan pecahan kacapun kita sulit untuk mnegerti mengapa tidak ada darah sedikitpun keluar dari mulutnya. Kuda lumping menggambarkan carut marut di negara kita. Hanya dengan kerjasama dan hati yang ikhlas disertai pemikiran kritis kita akan mengurangi pertunjukkan kuda lumping yang sedang dipertontonkan di negri ini.

    ReplyDelete
  13. Nama :Mariana Ramelan
    NIM :17709251056
    Kelas :S2 PMC 2017

    Subhanallah..
    Elegi yang cukup menggelitik kita semuanya. Memang benar bangsa kita dapat diibaratkan sedang seperti pertunjukan kuda lumping. Para petinggi bangsa seakan kesurupan seperti pemain dalam kuda lumping. Hukum tak lagi ditegakkan dengan benar, dengan uang hukum menjadi lemah. Semua warga bangsa kita telah kesurupan dan tergila-gila dengan yang namanya uang. Banyak pejabat-pejabat dan warga bangsa kita yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan banyak uang.

    ReplyDelete
  14. Selain kesurupan karena uang, banyak juga yang kesurupan karena kekuasaan atau jabatan. Banyak yang menginginkan jabatan yang tinggi dan dengan segala cara akan ia tempuh demi mendapatkan jabatan yang ia impikan tersebut. Bagaimana penguasa dan pemegang kebijakan di Indonesia ini sedang kesurupan dengan tahta, kekuasaan sehingga mereka sedikit melupakan nasib rakyatnya. Rakyat yang tertindas dengan berbagai macam tuntutan hidup juga seakan-akan kesurupan untuk melakukan sesuatu berorientasikan materi.

    ReplyDelete
  15. Kompleks memang permasalahan yang terjadi di Indonesia ini. Tinggal kita memilih, mau ikut kesurupan, menjadi penonton, atau menjadi solusi dari permasalahan tersebut.

    Marilah kita memulai dari diri kita sendiri agar kita tidak termasuk dalam orang yang lemah dan diperdaya oleh kekuasaan, uang, dll. Semoga bangsa kita segera bangkit dari problema yang berkepanjangan ini. Amin..

    ReplyDelete
  16. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi kuda lumping bangsaku menceritakan bagaimana keadaan bangsa Indonesia saat ini. Banyak hal-hal yang terjadi di Negara Indonesia yang diakibatkan oleh kurangnya pendidikan yang menyebabkan mereka tidak mampu berpikir kritis, dan ilmu pendidikan yang kurang itu mempengaruhi juga hati nurani mereka karena dengan pengetahuan mereka akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

    ReplyDelete
  17. indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B

    Masya Allahh...
    elegi yang sangat kontras antara kuda lumping dan permasalahan bangsa ini.
    Ikut sedih mengapa kebanyakan bangsa kita terlalu apatis mengenai hal-hal yang berusurusan dengan negara. sekarang banyak pemuda yang bungkam akan ketidaksenonohan yang dilakukan pemerintah dalam negara ini. dan jarang sekali pemuda/i di Indonesia berfikir kritis. benar memang import juga dibutuhkan dalam suatu negara untuk menjaga kerjasama antar negara. Namun, permasalahannya sekarang apakah semua harus di import? apakah kita harus menginport ikan asin sedang kita adalah negara maritim. Apakah kita harus menginport beras, garam, cabai, wortel di negara kita yang katanya tanah surga?. semoga kedepannya kita sebagai generasi indonesia bersama pemerintah lebih bijak dalam mengambil keputusan dan lebih dapat memajukan negara kita tercinta ini. MERDEKA!

    ReplyDelete
  18. Tri Wulaningrum
    17710251032
    PEP S2 B

    "Wahai sahabatku..bukankah engkau melihat kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat. Karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak hal/kejadian/peristiwa atau fenomena kehidupan dalam masyarakat, yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Maka dapat aku katakan juga bahwa semakin banyak gejala masyarakat mengalami kesurupan"

    Awalnya kupikir ini hanya fenomena cultural lag. Awalnya kupikir wajar, penyesuain dengan globalisasi mungkin. Tapi astaga, makin turun, makin ke bawah ku baca, makin terkaget-kaget aku dibuatnya. Makin bertambah kalimat yang ku lewati, makin banyak anggukan kepalaku, makin banyak lontaran "benar juga" di benakku pada setiap akhir kalimat.

    Oh aku, oh temanku, oh kerabatku, oh bangsaku, ternyata kita sedang tak sepenuhnya sadar, bahkan hampir tidak sadar sama sekali. Mental kita benar-benar dirasuki, yaampun! kita kesurupan!

    Miris ya, miris sih, miris sama mereka, miris sama kita, miris dengan diriku sendiri. Betapa banyak kejadian, banyak fenomena, banyak faham mengalir pada bangsa ini tanpa kita tahu arti sesunggunya. Anehnya, bukan mencari tahu, tapi malah kita nyemplung, nyebur dan meneruskannya, menambah ketidakjelasannya

    ReplyDelete
  19. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kepribadian bangsa Indonesia seharusnya bisa berlandaskan pada pancasila. Akan tetapi, masih banyak hal – hal negatif yang masih terjadi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Hal tersebut seperti yang sudah di ulas dalam elegi kuda lumping bangsaku di atas. Dari elegi tersebut, dianalogikan bahwa kehidupan para pejabat tinggi bagaikan pertunjukkan kuda lumping yang pemainnya sedang kesurupan. Samapai saat ini pun (tahun 2017) pertunjukan tersebut masih belum berakhir. Moral yang buruk dari suatu bangsa dapa mengakibatkan buruknya bangsa tersebut. Namun dewasa ini, kebanyakan orang cenderung mengabaikan perilaku yang mencerminkan sikap bermoral. Kerena moral dapat dilihat dari perilaku masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah perlu adanya suatu perbaikan moral bagi bangsa ini.

    ReplyDelete
  20. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Seperti elegi di atas bahwa perikehidupan Indonesia sekarang dapat digambarkan seperti pertunjukkan Kuda Lumping. Sebagai warga Negara yang baik kita tidak hanya menikmati kebijakan pemerintah yang hanya menjalankan peraturan-peraturannya, tetapi berusaha berpikir kritis dalam menghadapi segala sesuatu di era ini.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  21. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    PPs. PM A 2017

    Kuda lumping yang sedang kesurupan itu digambarkan sebagai sosok yang ganas, yag tidak tau sopan santun, dan berbuat semaunya. Saya setuju jika kondisi bangsa yang semakin semrawut dan tdak kondusif ini diibaratkan kuda lumping yang sedang kesurupan karena pada kenyataannya banyak orang yang tidak lagi menjunjung tinggi nilai moral/akhla sebagai bekal hidup.
    Yang ada saat ini adalah generasi yang foya-foya, hedonisme, tidak tau aturan dan norma masyarakat. Hal itu akan semakin memperburuk kondisi bangsa Indonesia. Yaitu semakin tidak aman dan tentram. Solusinya yaitu pendidikan karakter sejak dini. Anak perlu untuk diajarkan karakter sejak dini baik di lingkungan keluarga, sekoah, dan masyarakat sehingga tertanam akhlak yang baik sejak dini.

    ReplyDelete
  22. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Perkembangan zaman adalah sesuatu yang tidak bisa terelakkan. Siap tidak siap perubahan akan menjalar ke seluruh sendi kehidupan. Banyak fenomena kehidupan yang berubah secara drastis akibat derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat. Oleh karena itu kita harus mampu menjadi masyarakat yang cerdas, masyarakat yang kritis. Jangan biarkan kita menjadi korban dari globalisasi yang telah mendunia. Jangan biarkan kita dilanda dengan kebingungan dan berakhir dengan kesurupan layaknya pada pemainan kuda lumping. Kita harus mampu mem-filter secara perubahan dan perkembangan yang ada serta kita harus bahu membahu mempertahankan budaya dan identitas bangsa agar tidak terbawa arus globalisasi.

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Kebanyakan kita tidak memperhatikan kejadian yang diluar akal pikiran kita, atau hal yang diluar kemampuan kita, dan kita tidak mau untuk mengembangkan pemikiran kita untuk memepelajari itu. Seperti fenomena kuda lumping, kita hanya menyaksikan pertunjukannya saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa demikian. Hal ini terjadi karena ketidakpekaan untuk berpikir kritis pada hal-hal disekitar kita yang bukan menjadi urusan kita/tidak berhubungan dengan kita, dan kita tidak mau / berusaha untuk mempelajarinya, sehingga pemikiran kita menjadi sempit dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  24. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Kuda lumping bangsaku dianalogikan sebagai gejala sosial atau kondisi yang sedang terjadi pada bangsa ini. Ketidakadilan yang terjadi, penyelewengan kekuasaan, penyalahgunaan wewenang, perubahan pola kehidupan masyarakat hingga merambah ke dunia pendidikan dan karakter masyarakat tidak dapat dijelaskan dengan teori. Persoalan-persoalan tersebut sulit dipahami seperti sulitnya memahami mengapa pemain kuda lumping kesurupan. Berdasarkan elegi ini, persoalan-persoalan tersebut muncul akibat bangsa kita yang belum siap dalam menghadapi arus globalisasi sehingga banyak pihak-pihak lain yang memanfaatkan situasi ini untuk meraup keuntungan. Hanya sebagian dari masyarakat kita yang mampu berfikir kritis dalam menghadapi persoalan tersebut, kebanyakan masyarakat yang lain hanya menikmati kehidupannya tanpa menyadari fenomena yang sedang terjadi, seperti halnya para penonton yang menyaksikan pertunjukkan kuda lumping. Sebagian lagi justru seperti pemain kuda lumping yang kesurupan, tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

    ReplyDelete
  25. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Tulisan ini menyadarkan saya bahwa ternyata keadaan negara kita sekarang sungguh banyak yang aneh sehingga susah dijelaskan layaknya susah menjelaskan mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Saya akan mencoba menambahkan suatu keanehan dan kejanggalan di negara kita ini. Indonesia yang terkenal dengan julukan negara maritim atau salah satu negara yang sangat luas wilayah lautannya, baru-baru ini mengalami kelangkaan garam sehingga mengharuskan impor garam dari negara luar. Sungguh merupakan suatu keanehan yang sulit dijelaskan, bagaimana bisa sebagai salah satu negara yang lautannya terluas mengalami kelangkaan garam. Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai generasi penerus bangsa ini ikut turut ambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam mensejahterakan bangsa Indonesia. Ingatlah slogan ini "jangan tanya apa yang sudah bangsa ini berikan kepada kita, tapi tanyalah apa yang sudah kita berikan bagi bangsa ini".

    ReplyDelete
  26. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Negara kita memang sedang mengalami kesurupan masal seperti para pemain kuda lumping dalam elegi di atas. Banyak hal, kejadian, perseteruan, perdebatan, keputusan, fenomena yang semuanya tidak dapat dijelaskan secara teori. Negara kita adalah negara kaya, sumberdaya alam melimpah, tanahnya subur dan sangat baik untuk pertanian, lautnya luas dan banyak hasil tangkapan ikannya. Tetapi kenapa justru banyak orang Indonesia menjadi TKI/ TKW untuk kerja ke luar negeri. Ini adalah suatu keanehan atau dalam elegi di atas dikatakan sebagai kesurupan.

    ReplyDelete
  27. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Perikehidupan bangsa dapat direresentasikan dalam kuda lumping, di mana ketika masyarakat belum siap bergaul dengan bangsa lain, maka bangsa dan masyarkat akan mudah dilanda kebingungan yang akan menyebabkan masyarakat tidak memiliki pola dan hanya mengikuti gejala simtomati narasi besar kehidupan dunia. Sehingga tidak heran soal aneh, pil UN, kebijakan sesat menjadi barang yang mudah ditemukan dalam masyarakat. Refleksinya adalah jadilah masyarakat yang mau berpikir kritis, ketika sesuatu yang baru saja datang ke bangsa kita, sebaiknya ditelaah terlebih dahulu apakah hal tesebut sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia, agar Indonesia tidka kehilangan jati dirinya.

    ReplyDelete
  28. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Kuda Lumping Bangsaku, elegi ini menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan atas sampai bawah yang bagaikan pemain kuda lumping yang kesurupan. Dewasa ini moral bangsa yang seharusnya berlandaskan pancasila mulai bergeser, sehingga perilaku-perilaku penyimpangan moral terjadi dimana-mana. Contohnya saja elegi ini di tulis pada tahun 2011 dan digambarkan bahwa pejabat Indonesia banyak yang melakukan korupsi. Namun sayangnya hukum yang harusnya dapat memberikan efek jera bagi para koruptor, dapat “dibeli” dengan uang sehingga hukum menjadi tumpul bagi para penguasa. Setelah 6 tahun berlalu, di tahun 2017 inipun hukum masih saja tumpul bagi para penguasa dan koruptor masih bertebaran. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menanamkan moral sejak dini pada anak bangsa, agar kedepanya banga ini tidak lagi menjadi pemain kuda lumping yang kesurupan. Akan tetapi menjadi, penikmat yang kritis dan seletif. Terimakasih.

    ReplyDelete
  29. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Apa yang digambarkan dalam elegi kuda lumping bangsaku memang sesuai dengan kenyataan bangsa kita, bahkan 6 tahun setelah elegi ini ditulis, keadaannya tak kunjung membaik. Krisis mental dan moral yang ada bukan hanya berasal dari serangan eksternal, melainkan internal juga. Fenomena-fenomena sosial ini menjadikan negara kita semakin tertinggal. Korupsi hampir selalu menjadi headline di media-media atau portal-portal berita di Indonesia. Masyarakat lebih peduli pada gadget daripada bersosialisasi dan perilaku konsumtif semakin meningkat. Untuk mengatasi hal-hal ini tidak bisa dalam sekejap dan memerlukan waktu dan proses yang lama. Setidaknya kita harus mulai dari sekarang, dan kita mulai dari hal-hal yang kecil. Sebagai calon pendidik, kita harus menanamkan sikap amanah, jujur dan bertanggung jawab. Kita harus mengajarkan akan pentingnya kehidupan bersosialisasi dan selalu mengingatkan nilai-nilai spiritual agar dalam setiap tindakannya berpondasi pada ajaran agama.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Pada elegi ini saya merasa diajak untuk melihat pertunjukkan kuda lumping bangsaku. Luar biasa pengaruh yang menggeser paradigma bangsa ini menjadi paradigma serba instan. Segala sesuatu diinginkan untuk memperoleh hasil memuaskan dengan cara instan tanpa bekerja keras melaksanakan setiap prosesnya. Bahkan sudah menjalar sampai akar-akar bangsa ini. Sungguh saya merasa sedih menyaksikan pertunjukkan kuda lumping bangsaku. Apalah daya diri ini yang menjadi penonton saja terkadang belum mampu.

    ReplyDelete
  31. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya.
    Pada Elegi kali ini Elegi Kuda Lumping Bangsaku, mengibaratkan pada zama sekarang ini, bangsa kita seperti kuda lumping. Dimana para pengamat bangsa ini tidak paham atas apa yang terjadi di kehidupan ini. Contoh yang paling hits waktu itu, masalah Gayus, yang melakukan korupsi namun keadilan hukum tidak berbicara banyak. Ini yang membuat masyarakat heran sama seperti herannya masyarakat dengan kenapa kuda lumping bisa kesurupan. Ini yang menyebabkan bangsa kita seperti kuda lumping. Banyak tidak kejelasannya yang ada di bangsa ini. Terimakasih

    ReplyDelete
  32. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi kuda lumping bangsaku menggambarkan bagaimana kondisi bangsa sekarang ini. Arus globalisasi yang masuk dan mempengaruhi bangsa diilustrasikan sebagai kuda lumping yang sedang kesurupan. Sedikit ataupun banyaknya budaya bangsa lain yang mulai masuk sekarang ini mulai menggeser norma-norma yang berlaku di dalam negeri. Nilai-nilai budaya yang mulai luntur sebaiknya mulai ditegakkan kembali untuk menegaskan jati diri bangsa. Dengan menfilter budaya asing yang masuk ke dalam negeri, dengan cara mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk, maka mulailah dari diri sendiri.

    ReplyDelete
  33. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya belum pernah menonton kuda lumping secara langsung, tetapi saya pernah melihatnya di televisi. Saya juga cukup "nggumun" dan tak henti-hentinya mengatakan "kok bisa sih?"
    Menjadi refleksi bagi saya ketika sang pengamat tertarik dengan si penonton kuda lumping. Bangsa kita diibaratkan seperti pertunjukkan kuda lumping, kesurupan. Banyak hal-hal aneh yang terjadi pada bangsa ini. Lha, yang aneh lagi adalah masyarakat sebagai penonton. Banyak orang yang hanya duduk anteng menonton makin bobroknya bangsa ini seperti layaknya menonton pertunjukan kuda lumping.
    Yang dibutuhkan bangsa ini adalah tindakan nyata dari setiap kita yang menyadari kebobrokan bangsa ini. Mulai dari diri sendiri, bergerak untuk secara tak langsung menyadarkan orang lain untuk ikut bergerak. Mari kita bergerak, tak hanya jadi penonton yang melihat bangsa ini "kesurupan"

    ReplyDelete
  34. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Secara garis besar maka akan ada analogi yang sama antara kesurupan pada pemain kuda lumping yaitu sama dengan negri kita, bangsa kita yang sedang mengalami kesurupan atau perubahan yang luar biasa, ini karena derasnya aliran perkembangan zaman, dari semua bidang dalam kehidupan ini malah juga terkena oleh fenomena kerasukan ini. Mulai dari bidang pendidikan yang mana siswa mengalami keanehan yang tak memahami pelajaran yang kadang kala kita tak mengerti alasannya atau pura – pura tidak tau atau menutup mata. Sebenarnya kita sendiri yang harusnya sadar bahwa kita harus jadi orang pengamat yang minimal tahu akan kondisi sehingga tidak ikut terjerumus. Terlebih lagi jika kita mampu membantu menyadarkan orang yang kerasukan tadi, menyadarkan lingkungan kita akan fenomena yang terjadi sat ini.
    Tapi dari fenomena kuda lumping ini sejatinya ada yang harus ditinggalkan seperti yang telah disebutkan, berkenaan sikap sikap aneh yang terjadi, yang berkaitan dengan hidup kita. Namun disisi lain terdapat sisi positif yaitu nilai nasionalisme nilai budaya yang dimiliki yang harus juga dilestarikan, daripada budaya K-POP, dance dll. Menurut saya lebih baik melestarikan dan tetap mengunggulkan pula nilai nilai karakter bangsa dan agama. Agar budaya ini tak tergerus dengan budaya dance saat ini yang marak yang sungguh malah memuat ironis.

    ReplyDelete
  35. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ulasan yang membuat saya penasaran untuk membacanya. Saya menjadi terdorong untuk tidak hanya sekedar menjadi penonton yang pasif. Meski saya sendiri juga tidak mampu mengubah keadaan kuda lumping menjadi membaik. Saat saya hanya terlena dengan fenomena yang ada tentu tidaklah ada manfaatnya. Apa jadinya saya di tengah-tengah kebingungan yang ada. Saya diberi akal pikiran oleh Tuhan, inilah yang dapat saya manfaatkan untuk hal-hal baik dalam diri saya dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Keinginan untuk dapat bertahan hidup sejatinya menjadi dorongan terbesar bagi saya untuk terus mengasah pemikiran yang kritis. Sekali lagi terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  36. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. marsigit atas pembahasan yang menarik di atas. Saya kagum dengan pemikiran si pengamat. Alangkah kritisnya dia hingga mampu mengibaratkan kesurupannya kuda lumping tersebut bak sebuah masyarakat di suatu bangsa. Namun benar sekali yang ia katakan, kondisi negeri kita saat ini sedang mengalami kebingungan, resah, ketiadaan arah, tidak memiliki pola dan hanya mengikuti gejala dan pengaruh dari dunia barat yang lebih berkuasa. Konsep dan gaya hidupun sudah berkiblat pada mereka hingga orang-orang kita menjadi konsumerisme dan pragmatisme. Semakin hari semakin kita dibanjiri barang import tanpa kita mau mengetahui dan belajar bagaimana proses pembuatannya apalagi berusaha memproduksi kemudian mengekspornya. Sungguh saya sedih dengan "generasi jaman now". Ketika "power now" benar-benar menunjukkan cara dan kekuasannya, kita seperti lemah dan dikuasai, bak kuda lumping yang kalang kabut dan panik, namun dirinya mampu dirasuki syaitan dan dikuasai olehnya. YaAllah tolong negeriku dan tolonglah anak-anak bangsa kami. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  37. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elgi ini adalah elegi yang menarik karena alurnya tidak bisa kami tebak Prof. Banyak nasehat dan petuah yang dapat kami peroleh dari memahami elegi ini. Jika diibaratkan pertunjukan kuda lumping dan penonton yang awalnya hanya menikmati permainan kuda lumping bahwa banyak fenomena dan kejadi di negeri ini yang hanya menjadi tontonan masyarakat, masyarakat banyak diam dan hanya menggerutu dengan adanya hal tersebut hal ini bisa dilihat dari jarangnya berita demo-demo yang disiarkan di TV padahal demo merupakan salah satu bentuk pengungkapan aspirasi masyarat dimana melalui demo dapat diperoleh indikasi bahwa masyarakat bersifat kritis akan keadaan yang terjadi di negeri ini terutama mahasiswa. Berfikir kritis ini perlu dibekali melalui pendidikan dan pembelajaran karakter oleh karenanya masyarakat perlu berfikir luas untuk menemukan hal yang unik yang dapat menjadi bahan diskusi. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  38. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi kuda lumping bangsaku ini, saya menangkap informasi bahwa elegi tersebut mengibaratkan bangsa Indonesia sedang mengalami kesurupan seperti yang terjadi pada pemain kuda lumping. Hakekatnya bahwa bangsa Indonesia telah dirasuki oleh arus global yang mendeterminasi cara hidup rakyat Indoneisa. Sayangnya, masyarakat tidak sadar bahwa bangsa ini sedang dijajah secara perlahan, oh iya kan sedang kesurupan jadi tidak sadar ya. Tetapi, seharusnya bangsa ini jangan mendekati hal-hal yang membuat dirinya akan menyebabkan kesurupan. Ketidak fokusan dan mudahnya kita dihasut oleh para kapitalis adalah celah bagi mereka menjajah akal pikiran, bahkan bisa juga sampai ke hati dan agama. Sudah saatnya bangsa Indonesia ini sadar dari kesurupan arus global ini agar tidak diendalikan oleh mereka para kapitalis.

    ReplyDelete
  39. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Aku mencintai bangsaku, aku melihat kudalumping bangsaku, aku disadarkan oleh elegi bagaimana kuda lumping bangsaku, hingga aku sadar bahwa aku bagian dari pemain kudalumpng bangsaku, bukan pemain yang besar dan terkenal. Sedikit andilku dalam pertunjukan kudalumping bangsaku, aku sekaligus sebagai penonton, sesalku bahwa aku tidak bisa berbuat apapununtuk bangsaku. Akau hanya bisa memperbaiki diri sendiri, berharap nantinya bangsaku tersadar danpulih kembali. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  40. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Kuda lumping merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia, yang sering menjadi tontonan. Sesuatu yang khas dari tontonan ini adalah ada saat ketika para pemainnya mengalami kesurupan. Kemudian jika hal ini dianalogikan dengan bangsa kita di zaman kontemporer sekarang ini. Kesurupan berarti keadaan seseorang yang mengalami ketidaksadaran dalam melakukan sesuatu karena dipengaruhi oleh makhluk ghaib sehingga hal-hal yang dilakukannya seringkali membahayakan. Begitu juga dengan bangsa ini yang para aktornya mengalami kesurupan dalam bertindak maupun mengambil suatu keputusan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  41. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Kuda lumping merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia, yang sering menjadi tontonan. Sesuatu yang khas dari tontonan ini adalah ada saat ketika para pemainnya mengalami kesurupan. Kemudian jika hal ini dianalogikan dengan bangsa kita di zaman kontemporer sekarang ini. Kesurupan berarti keadaan seseorang yang mengalami ketidaksadaran dalam melakukan sesuatu karena dipengaruhi oleh makhluk ghaib sehingga hal-hal yang dilakukannya seringkali membahayakan. Begitu juga dengan bangsa ini yang para aktornya mengalami kesurupan dalam bertindak maupun mengambil suatu keputusan.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  42. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Para aktor yang mengalami kesurupan dan bertindak semaunya sendiri adalah ia yang membahayakan orang lain, misalnya korupsi. Para petinggi negara yang melakukan tindak korupsi artinya ia membahayakan rakyatnya. Mengapa berbahaya? Korupsi sendiri artinya mengambil sesuatu yang bukan haknya. Sebagian para koruptor mengambil hak milik rakyatnya. Bayangkan saja jika ia mengambil hak untuk makan rakyatnya. Dengan ia melakukan korupsi maka rakyatnya menjadi tidak bisa makan dan itu sangat berbahaya karena akan berdampak pada kematian. Semoga para kuda lumping bangsa ini segera tersadar dengan apa yang menjadi hak dan kewajibannya.

    ReplyDelete
  43. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kuda lumping adalah kebudayaan bangsa Indonesia yang cukup menarik untuk ditonton. Dari sudut pandang penonton memanglah demikian, akan tetapi disini ada pula nilai ketidakharmonisan atau sesuatu hal yang sebenarnya “sakit” apabila dilihat dari sudut pandang pemainnya. Jiwa dari pemain kuda lumping dimasuki oleh jiwa lainnya (dalam hal ini sering disebut dengan kesurupan) sehingga dia tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dan dari elegi ini kami menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan kami akan senantiasa berinteraksi dengan orang lain sehingga kami perlu untuk peka terhadap lingkungan dan orang lain dan hidup untuk saing tolong menolong.

    ReplyDelete
  44. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Pemeran kuda lumping kesurupan dianalogikan dengan kebingungan rakyat kita. Ya, memang benar seperti ini adanya bangsa kita saat ini. Selayaknya orang yang sedang bingung, gelisah, dan tidak tahu arah, maka bangsa kita memerlukan sesuatu sebagai penunjuk arah ke jalan yang benar. Oleh sebab itu, bangsa yang kuat seharusnya kembali kepada ajaran kitab keyakinannya masing-masing sebagai pengontrol perilaku di dunia. Selain itu, benar-benar menjunjung pondasi dasar bangsa yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menjalankan peran sesuai dasar bangsa ini dengan sebenar-benarnya. Hal ini dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Jika ini sudah terwujud maka Indonesia akan kuat dan tidak atau sulit terpengaruh oleh pengaruh buruk dunia luar.

    ReplyDelete
  45. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi kuda lumping bangsaku, kebingungan bangsa diibaratkan seperti pemain kuda lumping yang kesurupan. Memang benar seperti inilah keadaan bangsa Indonesia sekarang ini. Pembangunan karakter, dunia pendidikan, hukum, dan aspek-aspek lainnya mengalami fenomena kesurupan. Kesurupan berarti kemasukan setan sehingga menimbulkan kondisi tidak sadar. Untuk itu kita harus menyadarkan diri kembali kepada realitas pembangunan kehidupan bangsa.

    ReplyDelete
  46. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Lagi...sebuah analogi... kuda lumping sebagai analogi untuk bangsa Indonesia sekitar tahun 2011-an. Saya lebih tertarik untuk berkomentar mengenai mengapa pendidikan bisa 'kesurupan'...
    Ini tugas filsafat... mencari akar dari 'kesurupan'nya pendidikan di Indonesia. Manusia Indonesia ini masih perlu banyak belajar filsafat, sejak anak-anak, tentu dengan tingkatan yang sesuai. Agar terbiasa berefleksi, bertanya, tidak asal manut saja... supaya tidak kesurupan terus. Yuk para guru... biasakan anak bertanya, yang bertanya biarkan saja, jangan diputus, diajari saja bagaimana bertanya yang baik... juga didampingi sampai menemukan jawaban... bertanya karena kekaguman pada sekitarnya... sampai kepada refleksi, mengapa alam semesta ini teratur sedemikian, mengapa kita hidup saat ini seperti ini, bagaiman sejarahnya, dst.. dst...

    ReplyDelete
  47. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi ini menjelaskan bahwa maasyarakat Indonesia saat inipun banyak yang mengalami kesurupan, sebagai contoh budaya konsumerisme besar-besaran, budaya yang serba instan, ingin pandai tapi tidak mau belajar dan justru lari ke membeli pil pintar, banyak orang lari dari Tuhan dan dating ke dukun, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang diselewengkan atau tidak sesuai dengan aturan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  48. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menarik sekali prof uraiannya. Banyak fenomena kesurupan yang menyebabkan seseorang kesadarannya hilang. Berkaitan dengan sifat masyarakat indonesia yang bersifat konsumerisme ini merupakan fenomena yang miris, kita menjadi tergantung terhadap negara lain. Bahkan kemarin sempat heboh himbauaan MUI untuk memboikot produk ekonomi suatu negara, namun banyak pro dan kontra. Yang kontra beralasan karena kita tidak bisa lepas dari produk negara tersebut karena kita setiap hari memakainya dan semua orang juga memakainya. Bagi yang pro, ini merupakan langkah yang tepat untuk memajukan peoduk dalam negeri. Jadi masih ada kebimbangan di beberapa masyarakat. Point penting disini adalah negara harus mandiri di segala bidang sehingga menjadi bangsa yang kuat.

    ReplyDelete
  49. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Pertunjukkan Kuda Lumping yang digambarkan seperti peri kehidupan bangsa kita sekarang dalam elegi di atas cukup menarik bagi saya. Di mana belum siapnya negara kita dalam menghadapi arus globalisasi dan modernisasi dengan mengandalkan cara-cara yang instant dan belum teruji bagaimana dampak positifnya apakah mampu mengatasi permasalahan negara ini. Jadi dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam setiap masalah apapun kita perlu mempelajarinya secara seksama tidak langsung menggunakan cara instant yang justru dapat menghancurkannya.

    ReplyDelete
  50. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita dimana kita tidak dapat menjelaskannya secar teori merupakan bukti bahwa bangsa ini sama halnya dengan pertunjukan kuda lumping. Banyaknya siswa yang rela melakukan banyak cara agar lulus UN dan diterima di sekolah favorit, bahkan dengan cara-cara yang salah. Bagaimana hukum kita tajam kebawah dan tumpul ke atas. Itulah sedikit pertunjukan kuda lumping yang terjadi di bangsa kita. Maka bagaimana bisa kita hanya menjadi saksi bisu pertunjukan kuda lumping yang sedang berlangsung di bangsa ini.

    ReplyDelete
  51. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Begitu banyak bangsa ini mengalami pergeseran dari yang baik menjadi buruk, bahkan sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat beranggapan bahwa apa yang ia lakukan adalah yang paling benar. Kita tidak merasa bahwa sebenarnya kita telah kesurupan (tidak sesuai lagi dengan apa yang pikiran dan apa yang hati kita inginkan), seolah kita tidak mampu lagi mengontrol diri kita untuk tidak melakukan suatu tindakan yang dapat merugikan diri kita dan juga orang lain.

    ReplyDelete
  52. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Bangsa kita dapat diibaratkan seperti pertunjukan kuda lumping. Para petinggi bangsa seakan kesurupan seperti pemain dalam kuda lumping. Hukum tak lagi ditegakkan dengan benar, hukum dapat dilemahkan dengan uang. Semua warga bangsa kita telah kesurupan dan tergila-gila dengan yang namanya uang. Banyak pejabat-pejabat dan warga bangsa kita yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Selain kesurupan karena uang, banyak juga yang kesurupan karena kekuasaan atau jabatan. Banyak yang menginginkan jabatan yang tinggi dan dengan segala cara akan ia tempuh demi mendapatkan jabatan yang ia impikan. Inilah cermin bangsa kita saat ini.

    ReplyDelete
  53. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dari elegi ini saya menangkap perbedaan penonton dengan pengamat. Penonton hanya bisa melihat apa yang kasat mata, apa yang tersurat. Sedangkan pengamat mempunyai ilmu yang lebih, dia bisa melihat apa yang tidak kasat mata, dan menganalisa yang tersurat. Pengamat ini sedang mengamati miripnya fenomena kuda lumping dengan fenomena yang ada di masyarakat

    ReplyDelete
  54. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. semakin lama zaman semakin modern, arus globalisasi mengalir kuat ke negara ini, sedangkan bangsa indonesia masih belum cukup kuat untuk menerima globalisasi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat menjadi kaget dan galau tentang jati dirinya. Semua modernisasi diterima mentah-mentah tanpa memperhatikan jatidiri bangsa. semoga Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dalam menerima perubahan jaman.

    ReplyDelete
  55. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi di atas menurut saya amatlah menarik, bagaimana sikap berpikir kritis dapat membuat kita mengambil hikmah dari setiap kejadian/fenomena yang kita lihat, bahkan dari sekedar menonton pertunjukan kuda lumping. Persamaan antara kesurupan dalam kuda lumping dengan keadaan bangsa ini adalah bagaimana terjadinya perubahan yang sangat cepat. Bangsa ini, seperti yang kita saksikan, mengalami perubahan dinamika masyarakat yang sangat cepat dalam beberapa waktu, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Kesurupan membuat pemain itu tak dapat sepenuhnya mengontrol dirinya sendiri, begitupun bangsa kita yang tak dapat sepenuhnya mengontrol kehidupannya. Ada pengaruh-pengaruh lain dari luar yang mulai merasuk ke dalam segala penjuru bangsa ini.

    ReplyDelete
  56. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Kesurupan bisa dimaknai sebagai perbuatan yang diluar nalar dan diluar kebiasaan yang semestinya. Sehingga bisa diterima pendapat yang mengatakan jika bangsa kita sedang mengalami kesurupan. Dimana di banyak bidang terjadi banyak hal-hal diluar nalar dan diluar kebiasaan yang ideal. Misalnya saja banyak pejabat, entah eksekutif, legislative maupun yudikatif yang terlibat dalam praktik korupsi maupun suap. Padahal pastinya mereka sudah mendapatkan gaji yangbesar, namun tetap tergiur untuk korupsi. Di bangsa kita ini, tontonan telah berubah menjadi tuntunan, sedangkan tuntunan hanyalah menjadi tontonan saja. lihat saja, partai terkorup berdasarkan data ICW teriak-teriak paling bersih, paling anti korupsi, dan masyarakat menerima begitu saja kampanye-kampanye demikian karena sudah kehilangan daya kritisnya.

    ReplyDelete
  57. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Kuda lumping adalah sebuah seni tradisional yang sampai sekarang masih diminati oleh para penonton, di mana dalam permainan kuda lumping, ada pemain yang nantinya akan kesurupan. Elegi ini menjelaskan bahwa maasyarakat Indonesia saat inipun banyak yang mengalami kesurupan, sebagai contoh budaya konsumerisme besar-besaran, budaya yang serba instan, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang diselewengkan atau tidak sesuai dengan aturan, hukum yang dapat diperjual belikan, dan lain sebagainya. Hal ini sungguh sangat disayangkan, maka seharusnya perlu adanya kesadaran akan ruang dan waktu. Sehingga bangsa dan negara ini tidak dianggap sebagai pemangsa ruang dan waktu. Dan harapanya bangsa ini dapat dikatakan sopan terhadap ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  58. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Kuda lumping itu bisa jadi tontonan yang menarik, tetapi bisa juga menjadi tontonan yang sedikit ekstrim. Jika ditarik benang merah dengan kehidupan bangsa ini, pemain kuda lumping itu saya asumsikan sebagai orang yang berbuat jahat seperti para koruptor yang memakan apa saja yang ada didepannya seperti orang yang kesurupan tidak peduli apakah yang dia makan halal atau haram, haknya atau hak orang lain dan anehnya dia tetap saja menikmatinya tidak peduli orang lain yang menderita karenanya yang mampu ia dengar hanyalah bisikan setan (nafsu) yang seperti suara musik. Penonton mewakili siapa saja yang bisa turut menikmati hasil dari korupsi, banyak orang yang tahu kalau itu korupsi tapi pura-pura tidak tahu dan menikmati pertunjukan, sedikit mau berpikir kritis dan menyadari bahwa yang dilihat sebuah kesalahan

    ReplyDelete
  59. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam elegi ini, dapat diambil pelajaran bahwa permainan kuda lumping membutuhkan banyak sekali komponen-komponen yang saling terkait dan saling mendukung satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk permainan kuda lumping yang indah dan menarik ditonton. Jika dianalogikan dalam kehidupan bangsa, maka kuda lumping sebagai sebuah pertunjukkan oleh bangsa yang menarik dan menyita perhatian, spserti kasus mafia pajak.

    ReplyDelete
  60. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Pemimpin bangsa sebagai pemegang kendali adalah yang menentukan, melaksanakan, mengatur, dan mengadakan pertunjukkan kuda lumping. Artinya dibutuhkan seseorang yang mengadakan pertunjukkan agar pertunjukan ada. Analoginya dibutuhkan system yang eksis untuk menjalankan pertunjukkan pemerintahan

    ReplyDelete
  61. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Elegi yang menggambarkan kebingungan yang akhir akhir itu pada tahun postingan ini dibuat yaitu tahun 2011 terjadi banyak peristiwa yang hangat di kalangan masyarakat. Kejadian kesurupan yang terjadi di beberapa aspek pemerintah Indonesia kala itu. mulai dari aspek negara, pendidikan, dan lain sebagainya. Sebagai calon pendidik, kesurupan yang terjadi pada aspek pendidikan merupakan tugas kita selanjutnya. Membuat paradigma siswa yang salah kaprah ke arah stigma yang benar. Dari pembelajaran tradisional menjadi modern demi terhindarnya kesurupan dalam pendidikan. Masih perlu usaha-usaha yang lain untuk menanggulangi itu semua.

    ReplyDelete
  62. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi diatas menggambarkan keadaan bangsa ini sekarang. bangsa ini menginginkan semua serba instan. orang berlomba-lomba untuk menggapai keinginannya dengan jalan isntan meskipun jalan yang ditempuhnya tidak benar. kita harusnya belajar bagaimana menggapai sesuatu menggunakan jalan yang benar.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  63. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dalam seni tarian kuda lumping, saat dimana penarinya mengalami kesurupan sering menjadi daya tarik tersendiri, dan terkadang sesi dimana pemain kesurupan lebih lama dari penari tersebut menari secara sadar. hal ini menjadi penggambaran terhadap kondisi bangsa Indonesia. yang saat ini manusianya mudah "kesurupan". Dalam menjalankan tugasnya, mereka hanya sesaat saja amanah terhadap tugasnya, namun setelah "ritual" khusus mereka menerima godaan untuk "kesurupan" yang menjadikan masyarakat kita melakukan tindak yang merupakan penyelewengan, contoh sederhananya adalah mencontek, mencuri hingga korupsi dan pembunuhan, inilah gambaran bangsa Indonesia yang kesurupan.

    ReplyDelete
  64. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kejadian dan fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan teori-teori yang ada sedang melanda negeri ini. Banyak orang-orang yang memanfaatkan keadaan negeri ini demi keuntungannya masing-masing. Orang-orang lebih senang mengikuti cara instan untuk menggapai apa yang menjadi keinginannya dari pada berusaha dengan kemampuannya sendiri. Banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya meskipun cara yang dilakukannya adalah cara yang tidak jujur. Sebagai warga yang menjadi bagian dari negara ini, hendaknya kita bisa berfikir secara kritis dalam menghadapi berbagai fenomena tersebut dan membentengi keimanan kita dengan hati yang ikhlas supaya tidak terjerumus kepada fenomena-fenomena yang sedang terjadi.

    ReplyDelete
  65. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keterkaitan antara apa yang dibahas dengan dunia nyata adalah bahwa dalam memperagakan kuda lumping ini dibutuhkan keserasian atau keharmonisasian antara satu penari dengan penari yang lainnya. Selain itu juga antara para penari dengan para pemusiknya. Dari sini kita lihat bahwa masing-masing memiliki perbedaan. Namun keserasian mereka akan memberikan dampak yang baik yaitu penyajian yang indah karena perbedaan itu yang menjadikan keindahan yang disajikan dalam pagelaran kuda lumping.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  66. Setelah membaca elegi diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa kehidupan bangsa ini seperti pertunjukan kuda lumping, seperti yang dikatakan pengamat. Kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat cepat karena derasnya laju perubahan dan tingginya dinamika perubahan masyarakat, maka banyak fenomena kehidupan dalam masyarakat yang sulit dimengerti. Persis seperti sulitnya memahami mengapa pemain Kuda Lumping kesurupan. Dalam bidang hukum, banyak kasus yang sulit dijelaskan seperti sulitnya memahami pemain kuda lumping yang kesurupan. Begitu pula dalam teori pendidikan dan psikologi serta teori pengembangan Sumber Daya Manusia dan karakter. Semoga ke depan negeri ini lebih baik dalam segala bidang.

    ReplyDelete
  67. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    jika dalam lagu Nike Ardila dunia ini digambarkan sebgai panggung sandiwara untuk menggambarkan betapa hiruk pikuknya dunia ini, dalam elegi diatas kondisi dunia yang lebih diarah pada bangsa indonesia digambarkan lebih ekstream yaitu sebagai permainan kuda lumping, dimana petibggi negara dalah pemainnya, hukum adalah kuda lumpingnya dan rakyat biasa adalah penonntonnya. seperti pada permainan kuda lumping pemain akan kesurupan, begitu pula dengan petinggi negara yang tidak siap mengahadapi gelobalisasi sehingga melahirkan hukum-hukum secara instan yang manfaatnya tidak maksimal untuk kesejahteraan rakyat.

    ReplyDelete
  68. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya Prof. Kuda lumping yang mulai bergerak cepat dan tak terkendali (kesurupan) dapat diibaratkan sebagai keadaan serta kejadian di negara kita di mana kejahatan dan korupsi semakin merajalela dan tidak ketinggalan para mafia hukum yang semakin gencar membuat keadaan bangsa semakin hancur.

    ReplyDelete
  69. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Kuda lumping merupakan kesenian tradisional yang identik dengan kesurupan bisa penarinya, bisa juga orang lain yang kosong pikirannya menjadi ikut kesuupan. Hal tersebut tidak mudah untuk dijelaskannya dengan teori. Dalam elegi ini, kesenian kuda lumping diibaratkan sebagai kehidupan bangsa, persoalan bangsa, pikiran bangsa, dan perasaan bangsa Indonesia. Pada era 2011-an, peri kehidupan bangsa Indonesia sedang diguncang, dimana aspek kehidupan dan budaya semakin menjadi, akan tetapi bangsa dan masyarakat kita belum siap untuk menerima dan bergaul dengan bangsa-bangsa lain sehingga mereka dirundung kebingungan. Seperti halnya ketika pertunjukkan kuda lumping sudah mencapai klimaknya yaitu banyak yang mengalami kesurupan. Hal ini menjadi penggambaran masyarakat Indonesia yang dalam menjalankan tugasnya hanya sesaat saja pada amanah, namun setelah mereka menerima godaan, mereka menjadi melakukan tindakan penyelewengan, misalnya mencontek, mengambil barang yang bukan miliknya, sampe hal yang paling besar dan berdampak buruk pada kondisi Bangsa yaitu korupsi dan penggelapan uang rakyat. Itulah sebenar-benarnya gambaran bangsa Indonesia yang sedang mengalami kesurupan.

    ReplyDelete
  70. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Kuda Lumping Bangsaku yang telah Bapak share kepada kami. Kuda lumping merupakan salah satu kesenian tradisional yang masih ada hingga sat ini. Salah satu adegan yang ditunggu-tunggu dalam pagelaran kuda lumping adalah ketika salah satu pemainnya kesurupan. Setelah kesurupan maka pemain itu dapat melakukan hal-hal diluar kewajaran, seperti memakan beling, membuka kulit kelapa dengan menggunakan mulut dan lainnya. Pemeran kuda lumping kesurupan dianalogikan dengan kebingungan rakyat kita. Ya, memang benar seperti ini adanya bangsa kita saat ini. Selayaknya orang yang sedang bingung, gelisah, dan tidak tahu arah, maka bangsa kita memerlukan sesuatu sebagai penunjuk arah ke jalan yang benar. Oleh sebab itu, bangsa yang kuat seharusnya kembali kepada ajaran kitab keyakinannya masing-masing sebagai pengontrol perilaku di dunia. Selain itu, benar-benar menjunjung pondasi dasar bangsa yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menjalankan peran sesuai dasar bangsa ini dengan sebenar-benarnya. Hal ini dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Jika ini sudah terwujud maka Indonesia akan kuat dan tidak atau sulit terpengaruh oleh pengaruh buruk dunia luar.

    ReplyDelete
  71. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Miris rasanya menyadari kehidupan bangsa ini yang semakin mirip dengan pertunjukan kuda lumping. Jika pada pertunjukan kuda lumping yang kesurupan adalah pemainnya, maka dalam bangsa ini yang “kesurupan” adalah hampir semua aspek kehidupannya. Hal ini tercermin dalam elegi di atas yang telah dipaparkan oleh Prof. Marsigit. Bukankah kuda lumping bangsa ini lebih mengerikan?

    ReplyDelete