Mar 7, 2011

Elegi Menggapai Pergaulan Dunia




Oleh Marsigit

Pengada Maya:

Wahai Panglima Mengada, silahkan..silahkan. Aku sama sekali tidak bermaksud mengusikmu. Aku hanya berusaha memenuhi kodratku, bahwa tetap bicara itu emang salah satu kodratku, demikian juga tentunya berlaku pada dirimu. Tetapi bahwa berdiam diri itu juga sifatku dan juga sifatmu. Aku memaklumi semua yang telah terjadi. Aku juga berusaha memahami keadaanmu. Maka terserah pula kepada dirimu. Tetapi jika engkau membutuhkan diriku, paling tidak untuk sekedar menjatuhkan atau menimpakan sedikit atau satu saja sifatku, maka sebagai Sang Pengada Maya, aku akan selalu iklhas untuk itu.

Panglima Mengada Formal:
Heer...her...her...

Pengada Maya:
O.ooo..ternyata engkau Panglima Mengada sedang tidur. Wah terlihat sangat pulas tidurmu. Semoga dengan istirahatmu itu nantinya engkau akan memperoleh tenagamu kembali dan mampu melanjutkan perjuanganmu. Amin.

Mengada Mandireng:
Wahai Pengada Maya. Aku lihat engkau komat-kamit sendirian. Sedang bicara apa dan berbicara dengan siapa engkau?

Pengada Maya:
Oh Mengada Mandireng, rupanya engkau sudah mempunyai waktu untuk bicara denganku. Alhamdulillah bahwa keadaanku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu?

Mengada Mandireng:
Keadaanku baik-baik saja. Satu hal yang agak kurang baik.

Pengada Maya:
Apa yang kurang baik, bolehkah aku mengetahuinya?

Mengada Mandireng:
Ah..bukankah engkau itu mempunyai kemampuan mengetahui hal-hal di sebalik hal-hal, hal-hal sebelum hal-hal, dan hal-hal sesudah hal-hal?

Pengada Maya:
Segala sesuatu, walaupun sekecil apapun selalu mengikuti hukum-hukumnya. Manusia memang diwajibkan selalu berikhtiar. Maka nilai diri manusia itu bukanlah semata-mata berada di mana, tetapi juga bagaimana mengadanya dan apa saja pengada-pengadanya. Padahal engkau tahu bahwa yang demikian itu tidaklah bersifat tetap berada pada suatu ruang dan waktu tertentu. Suatu kodrat yang sekaligus rakhmat bagimu bahwa ruang dan waktu itu selalu mengikuti dan menuntun dirimu, walaupun kesadaranmu tidak berhenti di ruang dan waktu. Maka tentulah bahwa dikarenakan sifat kesadaranku yang tidak terikat oleh ruang dan waktu itulah maka aku harus bertanya kepada dirimu.

Mengada Mandireng:
Baiklah Pengada Maya. Begini saja. Bolehkah aku mengajukan pertanyaanmu. Aku perlu bertanya kepada dirimu untuk menguji keadaanku. Menurutmu, apakah yang salah dari keadaanku sekarang ini?

Pengada Maya:
Oo..bagus..bagus.. Walaupun kelihatannya engkau sekedar membalik saja pertanyaanku itu, tetapi hal demikian telah memenuhi syaratku dan syaratmu untuk melakukan sintesis. Ketahuilah bahwa jika dirimu itu adalah tesis maka bukan dirimu bisa engkau pikirkan sebagai anti-tesis. Jika diriku itu tesis, maka bukan diriku juga dapat aku pikirkan sebagai anti-tesis. Jadi engkau atau diriku bisa saling menjadi tesis atau anti-tesis satu dengan yang lainnya. Adalah keadaan yang baik yang sedang menimpa dirimu karena dirimu sedang berkenan melakukan komunikasi dengan saya, dan dengan demikian itu berarti engkau sedang menginginkan berusaha melihat dirimu sendiri. Sebagai seorang Mengada Mandireng tentu engkau telah memahami itu semua. Tetapi ternyata engkau telah iklhas menunjukkan bahwa setinggi-tinggi derajat dan dimensimu engkau masih saja dihadapkan dengan berbagai masalah hidup. Aku juga sedang menyaksikan bahwa permasalahnmu itu bukanlah sekedar masalah pribadimu. Engkau sang Mengada Mandireng mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat mulia. Segala perasaan dan pikiranmu sekecil apapun dapat menentukan nasib dari berjuta-juta manusia. Itulah memang bahwa dirimu telah terpilih untuk mengemban tugas dan amanah yang maha berat itu. Di samping sebagai anugerah maka hal yang demikian juga sebagai ujian bagi dirimu. Maka selalu bertanya kepada diriku itu adalah salah satu sifatmu yang selalu mengikutimu.

Mengada Mandireng:
Aku terkadang lupa dengan keadaan diriku sendiri. Maka kehadiranmu itu ternyata telah mengingatkan sifat-sifatku dan tugas-tugasku. Terimakasih wahai Pengada Maya, bahwa engkau masih berkenan menghampiri diriku. Setidaknya kehadiranmu itu telah membantuku melakukan kegiatan menterjemahkan dan diterjemahkan.

Pengada Maya:
Bagus..bagus..aku menyadari dan sangat memaklumi keadaanmu. Namun begini. Perihal pertanyaanmu tentang apa yang salah pada dirimu, aku akan memulainya dengan mengetengahkan sifat-sifat berpikir koherensi. Ketahuilah bahwa seperti halnya diriku, maka dirimu dan diriku mempunyai sifat merentang pada struktur dimensi yang lengkap. Adapun struktur dimensi itu tersusun oleh banyak aspek-aspeknya meliputi merentang antara phenomena dan noumena, merentang antara material, formal, normatif dan spiritual, merentang antara pengalaman dan pemahaman, merentang antara sensai dan logika, merentang antara ruang dan waktu, merentang antara intuisi dan pengertian, merentang antara sintetik dan analitik, merentang antara a posteriori dan a priori, merentang antara prinsip dan aksioma, merentang antara kesadaran dan keputusan, merentang antara kejamakan dan ketunggalan, merentang antara subyek dan obyek, merentang antara subyek dan predikat, merentang antara kontingensi dan transendensi, merentang antara kosong dan isi, merentang antara parsial dan holistik, merentang antara spesifik dan universal, merentang antara subyektif dan obyektif, merentang antara dunia dan akhirat, merentang antara negasi dan afirmasi, merentang dalam derajat persepsi, merentang dalam representasi, merentang dalam kuantitas, merentang dalam kualitas, merentang dalam kategori, merentang dalam relasi, merentang dalam pilihan, merentang dalam prinsip, merentang dalam imaginasi, merentang dalam makna, merentang dalam keputusan, merentang dalam kognisi, merentang dalam etik dan estetika, merentang dalam kebenaran, merentang dalam koherensi, merentang dalam korespondensi, merentang dalam metafisik, merentang dalam transendensi, tetapi anehnya aku dan engkau juga merentang dalam kesalahan, merentang dalam ambivalensi, merentang dalam paradoks, merentang dalam anekdot, merentang dalam antinomi, merentang dalam paralogicisma, dan anehnya lagi aku dan engkau itu ternyata juga merentang dalam pertentangan.

Mengada Mandireng:
Indah dan nikmat mendengar uraianmu. Seakan aku tidak mau engkau berhenti menguraikannya.

Pengada Maya:

Masih ada lagi..ternyata aku dan engkau juga merentang antara Mandireng dan Maya. Juga merentang antara Pengada Maya dan Mengada Mandireng. Itulah aku ingin menyadarkan kembali pemahamanmu bahwa terdapat jarak antara dirimu dan diriku. Dikarenakan antara diriku dan dirimu terdapat jarak maka itu membuktikan bahwa diriku itu bukanlah dirimu dan dirimu bukanlah diriku. Dalam filsafat itulah rentangan kontradiktif antara dirimu dan diriku. Bahwa dirimu bukan diriku itu adalah hukum kontradiktif adanya dalam filsafat. Dan diriku yang bukan juga dirimu itulah hukum kontradiktif juga. Maka sebenar-benar hidupmu dan hidupku adalah dikarenakan kita mempunyai sifat kontradiktif.

Mengada Mandireng:
Wah..yang ini aku masih agak bingung?

Pengada Maya:
Bukankah engkau semula telah mengajukan pertanyaan tentang apa yang salah pada dirimu? Engkau bisa bertanya itu karena diriku itu bukan dirimu. Mengingat sifat-sifatmu, kedudukanmu dan juga tugas-tugas serta dimensimu, maka jawaban dari pertanyaanmu itu ada dalam rentangan yang telah aku jelaskan di atas.

Mengada Mandireng:
Belehkah aku mengetahui esensi dari persoalan yang sedang aku hadapi?

Pengada Maya:
Esensi yang sedang engkau hadapi salah satunya terletak di antara rentangan parsial dan holistik. Adalah wajar jika engkau mempunyai persoalan demikian, karena aku masih bisa menunjuk dirimu. Artinya selama aku masih bisa menunjuk dirimu maka engkau terkena sifat-sifatnya dirimu yang individu, dirimu yang parsial dan dirimu yang sebagian. Dengan demikian maka holostik itu berada di luar dirimu. Karena holistik atau komprehensif berada di luar dirimu, maka sebagaimana lazimnya sifat manusia, engkau mempunyai keterbatasan untuk memahami semua holistik. Padahal engkat mengetahui bahwa holistik itu tidak berada di mana-mana. Semua yang ada dan yang mungkin ada, mereka itu mempunyai sifat-sifatnya yang holistik baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Itulah salah satu dari sekian pokok persoalan yang sedang engkau hadapi.

Mengada Mandireng:

Aku kok agak kurang jelas?

Pengada Maya:
Wahai Mengada Mandireng, aku memahami betul visi, misi dan tujuan dari program-programmu itu. Semuanya baik tanpa kecuali. Tetapi persoalanyang lebih mendasar adalah bahwa ternyata persoalan dirimu, institusimu, lembagamu, departemenmu bahkan negaramu itu ternyata merentang antara ruang dan waktu. Setelah saya teliti ternyata juga bahwa persoalan mendasar tersebut juga merentang dalam ruang dan merentang dalam waktu.

Mengada Mandireng:
Wahaha..ternyata hanya seperti itu pokok persoalannya. Bukankah itu hanya masalah sepele saja. Itu kan hanya masalah ruang dan waktu?

Pengada Maya:
Begitu engkau selesai bicara, maka aku menemukan bahwa persoalanmu sekarang ternyata telah bertambah.

Mengada Mandireng:

Lho bertambah bagaimana? Bukankah aku sejak tadi ingin berkonsultasi denganmu itu untuk mengurangi permasalahan diriku?

Pengada Maya:
Persoalanmu bertambah dikarenakan engkau juga ternyata telah menganggap remeh masalah ruang dan waktu. Jadi aku telah menemukan bahwa dirimu, anggotamu, lembagamu, institusimu, rakyatmu, bangsamu ternyata sedang di landa keadaan tidak atau kurang menyadari ruang dan waktu.

Mengada Mandireng:
Apa ruginya?

Pengada Maya:

Ruginya fatal. Baik dunia maupun akhiratnya fatal.

Mengada Mandireng:

Lho engkau malah menyumpah. Bukannya memberi solusi malah menyumpah. Apanya yang fatal kalau hanya tidak sadar ruang dan waktu?

Pengada Maya:
Wahai Mandireng. Ini adalah tanggung jawabmu. Bukankah engkau mengetahui bahwa Sang Normatif Agung telah melarang aktivitasmu menyelenggarakan Ujian Nasional Pendidikan? Camkan itu?

Mengada Mandireng:

Oh..ampunilah Pengada Maya. Teruskan uraianmu itu?

Pengada Maya:
Ketahuilah Mengada Mandireng, sejak jaman dulu kala nenek moyangmu itu telah sangat peduli terhadap kesadaran akan ruang dan waktu. Berbagai cara ditempuh untuk menggapai kesadaran ruang dan waktu. Jikalau engkau belah bumi ini menjadi dua, maka engkau dapat menemukan bahwa yang separoh adalah sadar ruang dan waktu dan yang separoh lagi adalah tidak sadar ruang dan waktu. Contohnya, ruwatan adalah acara ritual tradisional jawa untuk menyembuhkan orang-orang agar menyadari ruang dan waktu. Jika engkau belum juga menyadari ruang dan waktu maka ditengarai engkau masih dalam kekuasaan ruang dan waktu jahat yaitu anak cucu dan pengikut Bathara Kala, demikianlah ceritanya dalam perwayangan.

Mengada Mandireng:
Apa relevansinya kesadaran ruang dan waktu dengan Ujian Nasional?

Pengada Maya:
Ruangnya Ujian Nasional adalah seluruh tumpah darah Indonesia. Tumpah darah yang satu itulah Indonesia. Satu dalam banyak dan banyak dalam satu. Jika engkau tidak menyadari itu maka engkau belum menyadari ruangnya Ujian Nasional. Banyak dalam ruang mempunyai arti Aceh, Bangka, Serang, Jateng, Sultra, Maluku, Irjabar, ...dst tak boleh terlewatkan satupun. Tetapi yang baru aku sebut adalah hanya sebagian dari ruangnya. Sedangkan ruang yang lainnya adalah Deli, Padang, Jambi, Jakarta, Yogyakarta, Kediri, Bali, Lombok, Kendari, Ambon, Manokwari...dst, tak boleh terlewatkan satupun. Tetapi yang baru aku sebut adalah hanya sebagian dari ruangnya. Sedangkan ruang yang lain adalah SMP 17 N Jakarta, SMP N5 Yogyakarta, SMP Muhammadiyah, SMP Kanisius, ...dst tak boleh terlewatkan satupun. Tetapi yang baru aku sebut adalah hanya sebagian dari ruangnya. Sedangkan ruang yang lainnya adalah Tono, Tini, Tanu, Tantri, Tintri, Tentrem, Taruna...dst tak boleh terlewatkan satupun di Indonesia sebagai siswa SD, SMP atau SMA.

Mengada Mandireng:
Tidak usah engkau uraikan au telah menyadarinya itu.

Pengada Maya:
Lalu apa masalahmu, sehingga engkau bertanya kepadaku perihal persoalanmu?

Mengada Mandireng:
Kenapa sampai bisa Normatif Agung melarangku menyelenggarakan Ujian Nasional Pendidikan? Itu saja pokok persoalannya.

Pengada Maya:
Sebetulnya engkau telah mengetahui jawabanmu sendiri. Silahkan baca Elegi Pemberontakan Para Normatif.

Mengada Mandireng:
Aku ingin mengajukan PK.

Pengada Maya:
Sah..sah saja. Tetapi terlepas dari engkau akan mengajukan PK atu tidak, bukankah engkau dapat mengambil ruang dan waktunya untuk melihat kembali apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang seharusnya terjadi?

Mengada Mandireng:

Begini Pengada Maya. Bukankah engkau mengetahui bahwa salah satu tujuan UN adalah agar Bangsa Indonesia itu mampu bergaul dengan masyarakat internasional. Ketahuilah bahwa pergaulan dunia itu sangat ketat, sangat kompetitif dan menggunakan teknologi tinggi. Barang siapa tidak menguasai teknologi maka mereka akan tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Kita tidak ingin hanya sebagai obyak dari bangsa lain. Kita harus juga menjadi subyek. Maka satu-satunya cara adalah kita harus memenuhi syarat-syarat pergaulan dunia. Ketahuilah bahwa salah satu syarat itu adalah adanya standar internasional. Maka jika kita belum bisa mencapai standar internasional, maka kita tidak akan bisa bergaul dengan mereka. Bahkan sekarang saya telah mendorong agar sekolah-sekolah dan juga perguruan tinggi berlomba-lomba mampu meraih standar internasional dan rangking dunia. Aku telah menyediakan dana cukup banyak untuk itu. Maka sungguh ironis apa yang telah dilakukan oleh Normatif Agung. Aku tidak habis mengerti mengapa Normatif Agung sampai bisa bertindak yang begitu bodhohnya. Bukahkan dia menyadari akibat-akibatnya. Ini program yang sudah dirancang berpuluh-puluh tahun. Semuanya mempunyai landasan hukumnya. Bahkan aspek implementasi peningkatan standar pendidikan juga sudah berdasar undang-undang dan sudah menjadi permendiknas. Maka larangan yang dibuat oleh Normatif Agung itu sungguh tidak dapat diterima. Maka saya tetap akan mengajukan PK.

Pengada Maya:
Wahai Mengada Mandireng. Apakah yang engkau pikirkan atau yang engkau maksud dengan Sekolah Internasional, SBI, RSBI, WCU ..dsb?

Mengada Mandireng:
Segala macam SBI, RSBI dan WCU adalah kegiatan internasionalisasi tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Panglima Mengada Formal:
Wahai Pengada Maya dan Mengada Mandireng, bolehkah aku ikut berdiskusi denganmu?

Pengada Maya dan Mengada Mandireng:
Oh..rupanya engkau sudah terbangun dari tidurmu. Silahkan

Panglima Mengada Formal:
Sebetulnya aku tadi hanya setengah tidur saja. Aku mendengar semua pembicaraanmu. Tetapi aku tidak tahan untuk tidak bangun begitu Pengada Maya bertanya perihal SBI dan WCU. Menurutku WCU adalah ranking dunia. Sebuah universitas disebut sebagai bertaraf internasional jika telah memperoleh rangking dunia. Jika belum maka nonsense lah dia. Menurutku tiadalah WCU itu jikalau tidak ada rangking dunia. Ketahuilah bahwa di Indonesia ini hanya baru 4 (empat) universitas yang memperoleh rangking dunia, yaitu Agemo, Utibe, Apabe dan Uinge. Maka jika engkau semua ingin bicara tentang WCU maka bicaralah dengan mereka. Mereka itulah referensinya WCU di Indonesia. Jikalau engkau tidak mengacu kepada mereka maka sia-sialah usahamu itu. Maka aku mengajukan permohonan kepada Mengada Mandireng agar dalam mengembangkan seluruh sistem pendidikan yang ada dan WCU harus mengacu kepada ke 4 universitas tersebut.

Pengada Maya:
Wahai Panglima Mengada, aku akan menguji tesis-tesismu itu. Bagaimana dengan universitas yang kecil yang bahkan rangking 10.000 dunia saja tidak tercatat. Bagaimana dengan berbagai karakter universitas yang berbeda. Bagaimana dengan local genious yang ada. Bagaimana dengan potensi yang ada. Bagaimana dengan potensi lokal apakah bisa dipromosikan menjadi bertaraf internasional. Apakah internasional standar itu untuk keseluruhan aspek universitas atau untuk sebagian saja.

Panglima Mengada Formal:
Mereka semuanya harus mengadakan benchmarking kepada ke empat universitas yang telah memperoleh ranking dunia.

Mengada Mandireng:
Aku telah menggariskan bahwa kegiatan internasionalisasi itu harus tidak boleh meninggalkan budaya lokal.

Perwira Mengada Normatif:
Maaf tuan-tuan perkenankanlah aku bicara. Aku terlahir dari genus lokal. Aku tidak terlalu peduli dengan gelar dan julukanku. Jika engkau memanggilku sebagai Perwira Mengada Normatif, maka aku hanya mengamini saja. Tetapi banyak orang yang menyebut tugas dan fungsiku cukup bisa mewakili normatif lokal. Sebetulnya aku sangat risau dengan klaim sepihak tentang WCU. Jika WCU didefinisikan sebagai rangking dunia maka habislah sudah riwayat dan komunitas saya. Potensi dan lokal genius kami tidaklah mungkin dibandingkan dengan empat perguruan tinggi yang lain. Diberi tambahan waktu 50 tahun atau bahkan 100 tahun saja, belum tentu lokal genius bisa mencapai rangking dunia. Malah pikiranku berkata bahwa jika cara berpikirnya seperti yang telah diuraikan oleh Panglima Mengada maka sampai akhir jamanpun lokal geniousku tidak akan memperoleh rangking dunia. Tetapi dikarenakan kecenderungan atau arus deras yang telah engkau ciptakan dalam kebijakan-kebijakanmu maka tiadalah diantara lokal geniousmu itu tidak terpengaruh untuk ikut memimpikan mendapatkan rangking dunia. Semua diantara sekolah dan lembaga lokal genious ikut berlomba-loma untuk memperoleh rangking dunia. Ada yang secara mandiri, ada yang berkelompok ada juga yang dikoordinasikan oleh lembaga-lembaga di bawah kuasamu. Tetapi ketahuilah bahwa di sana-sini telah mulai banyak berjatuhan korban. Beberapa diantara mereka, karena sangat bernafsunya, make mereka tidak segan-segan menghabiskan dana dan dayanya. Maka yang terjadi adalah keadaan kotraproduktif di mana ibarat wadah dan isinya, ketika wadah mulai bergoyang maka isinya mulai jumpalitan. Padahal aku melihat semakain hari hal demikian semakin banyak terjadi. Lebih dari itu aku mulai melihat adanya aliran dana dan daya yang luar biasa menuju pusat gurita rangking internasional yang berpusat di London, Tokyo , Singapura dll. Maka dengan ini perkenankanlah aku memohon kepada Mengada Mandireng, atas kuasamu semoga engkau berlaku bijak dan mampu melihat ini semuanya.

Mengada Mandireng:
Lalu bagaimana sikapmu dan apa programmu.

Perwira Mengada Normatif:
Aku berusaha mengingat-ingat titahmu, bahwa setiap kegiatan internasionalisasi itu janganlah sampai kehilangan jati dirinya. Jika hal demikian dilanggar maka taruhannya adalah “leher”. Aku sangat setuju. Tetapi persetujuanku itu bukan setuju buta. Sebelum engkau menyampaikan hal yang demikian, aku sudah juga mempunyai sikap. Maka seperti juga pesan leluhurku bahwa aku dan anak buahku perlu bersikap realistis. Artinya, aku tidak menutup buta tentang apa yang menjadi kecenderungan umum. Tetapi aku masih harus tetap berpegang pada hati nurani kami. Artinya, akupun berusaha memikirkan dan mengembangkan program WCU tetapi dengan tetap mengedepankan nilai-nilai dan budaya serta potensi loka. Artinya, sebetulnya aku kurang sreg dengan istilah “internasionalisasi”. Bagi diriku istilah itu seakan segalanya tanpa ada yang tersisa menjadi internasional. Maka kami mengembangkan konsep dan program jangka panjang bahwa untuk meraih rangking internasional itu kita harus memulainya sebagai suatu rintisan. Maka kami lebih sreg dengan istilah menuju internasional standar. Contoh dari apa yang digagas oleh anggota kami adalah bahwa program kami itu bersifat “on the move toward wolrd class university”.

Mengada Mandireng:
Aku setuju sekali dengan apa yang engkau pikirkan dan kembangkan. Bahkan aku ingin menggarisbawahi bahwa dirimu semua hendaknya selalu meningkatkan diri agar dirimu dapat menuju taraf internasional tanpa kehilangan jati dirimu. Taraf atau standar internasional hendaknya diartikan jangan semata-mata rangking tetapi sebagai suatu usaha agar mampu berkomunikasi pada taraf internasional. Taraf internasional Tarian tradisional Jawa itu bukan terletak bagaimana mengubah gerakan tangan seperti standar internasional, tetapi kerangka atau wadahnya sehingga Tarian Tradisional Jawa itu mampu dinikmati oleh segenap bangsa di dunia. Itulah potensimu. Maka untuk menuju kelas internasional atau WCU, kembangkanlah skema atau kerangka sehingga komunitas internasional mampu juga menghargai budaya lokal, sebaliknya juga engkau mampu mengambil yang positif dari kehidupan global. Bahasa Inggris tentu penting, tetapi Bahasa Jawa adalah nilai lokal yang harus dilestarikan. Maka anda dapat menggunakan Bahasa Inggrismu untuk bergaul dengan pakar internasional dalam rangka melestarikan dan mempromosikan Bahasa Jawa. Sehingga aku memikirkan bahwa sebenar-benar kelas internasional itu adalah sikap dan kerangka berpikirmu. Jika engkau mulai mengembangkan sikap profesionalisme dan mengimplementasikannya dalam aktivitasmu sehari-hari sebagaimana juga dilakukan oleh komunitas internasional maka rangking internasional akan datang dengan sendirinya.

Pengada Maya:
Wahai Mengada Mandireng, Panglima Mengada Formal, dan Perwira Mengada Normatif betapapun berat tugas dantanggung jawabmu, jika engkau masih mampu berkomunikasi maka Tuhan YME tidak akan tertidur mencatat segala amal perbuatanmu. Itulah fakta dan pikiran-pikiranmu. Ketahuilah bahwa sebagian dari hal tersebut semua adalah ketetapan-ketetapan Tuhan sedangkan sebagaian yang lain adalah ikhtiarmu. Tiadalah Tuhan mengubah segala nasibmu jika engkau sendiri tidak berusaha mengubahnya. Maka aku menyaksikan sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tuhan sedang mengujimu. Setiap orang akan diuji sesuai dengan dimensinya masing-masing. Amiin.

5 comments:

  1. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai pergaulan dunia ini menceritakan kepada kita bahwa pergaulan dunia itu sangat ketat, sangat kompetitifdan menggunakan teknologi tinggi. Kita tidak ingin hanya sebagai objek dari bangsa lain namun kita harus menjadi subjek. Maka satu-satunya cara adalah kita harus memenuhi syarat-syarat pergaulan dunia dan salah satunya adalah adanya standard internasional. Meskipun kita bisa memenuhi standard internasional, hendaknya kita tetap memiliki jati diri. Atau dengan kata lain kemampuan berstandar internasional namun tidak meninggalkan budaya nasional, karena budaya nasional adalah jati diri bangsa.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Gina sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menuru saya, postingan "Elegi Menggapai Pergaulan Dunia" ini memberikan motivasi kepada kita agar mempunyai kualitas diri yang baik sehingga dapat bersaing di kancah internasional. Tetapi, menjadi internasional disini bukan berarti semuanya diubah mengikuti budaya internasional sehingga meninggalkan kebudayaan asli lokal Indonesia. Menjadi internasionnal yang sesungguhnya ialah menjaga kualitas diri dengan kebudayaan lokal untuk dibawa ke kancah internasional. Betul kata Bapak, bahwa jika kita menjaga sikap profesionalisme dan menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas internasional maka rangking internasional itu akan datang dengan sendirinya tanpa harus menghilangkan jati diri bangsa Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang manusia yang hidup di dunia tentunya kita tidak dapat terleas begitu saja dari pergaulan dunia. Maka tugas manusia dalam menggapai pergaulan dunia adalah terus meningkatkan diri agar diri dapat menuju taraf internasional tanpa kehilangan jati diri. Bergaul dengan dunia internasional layaknya pisau bermata dua. Kita bisa mengambil manfaat atau justru terjerumus dalam ketidakbermanfaatan. Oleh karena itu kita harus terus berusaha membentengi diri kita, memfilter apa yang ada dalam dunia internasional. Bergaul dengan dunia internasional bukan berarti terus mengikuti dan meniru budaya internasional tetapi mampu memperkenalkan jati diri bangsa ini di dunia internasional agar apa yang kita miliki bisa menjadi bagian dari dunia internasional serta mengambil sisi positif tentang apa yang ada di dunia internasional. Jangan sampai kita ikut terpengaruh ke dalam hal-hal negative yang ada di dunia internasional.

    ReplyDelete
  5. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat seiring efek globalisasi yang sampai pada kita. Efek dari globalisasi ini menjadikan kita untuk terus berpikiran maju. Akan tetapi kualitas dari dalam diri tentu tidak boleh kita lupakan. Hal itulah yang nantinya akan membawa diri kita ke dunia yang lebih luas lagi dan lebih tinggi tingkatannya. Dari elegi ini, dapat saya ambil pelajaran bahwa dunia tidak hanya melulu ada disekitar kita, namun jika kita tengok ke luar, masih ada lagi dunia di atas kita. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan yang tinggi (internasional) akan lebih bermakna ketia ia tidak melupakan apa yang membesarkan namanya, terlebih lagi tidak melupakan Allah SWT sebagai tuhannya.

    ReplyDelete