Mar 7, 2011

Elegi Menangkap Pedagang Bangsa




Elegi Menangkap Pedagang Bangsa
Oleh Marsigit


Pedagang Plecit:
Wahai tuan, aku punya barang made in bangsaku Apakah tuan dari luar negeri? Silahkan beli barangku ini. Yang penting aku laku jualanku. Jika anda kurang tertarik dengan label made in bangsaku silahkan anda ganti dengan label made in Japan, China atau sembaranglah. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting jualanku laku.

Pedagang Hasil Bumi:
Wahai tuan, aku punya banyak hasil bumi dari Negeriku. Apakah tuan dari luar negeri? Silahkan beli barangku ini. Yang penting aku laku jualanku. Jika anda kurang bergengsi beli dari Indonesia silahkan anda beli barangku ini dari calo di Singapore. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting jualanku laku.

Pedagang Hasil Laut:
Wahai tuan, aku punya banyak tangkapan ikan laut. Apakah tuan dari luar negeri? Silahkan beli ikanku ini. Ikanku ini baik-baik tuan. Jika anda kurang bergengsi beli dari negaraku silahkan anda beli ikanku ini yang aku titipkan pada kapal-kapal nelayan dari Jepang. Jika engkau merasa belum mendapatkan untung yang banyak, maka anda bisa mengambil tenaga kerja dari negaraku. Jika engkau khawatir karena harus membayar murah tenaga bangsaku, katakan saja mereka sedang mengikuti pelatihan bagi programmu, sehingga layak dibayar seperempatnya. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting kan aku untung.

Pedagang Mobil dan Barang-barang Elektronik:
Wahai tuan, aku punya banyak konsumen mobil di negeriku. Apakah tuan dari Jepang? Silahkan anda berjualan mobil dan barang-barang elektronik di sini. Anda tak perlu membangun pabrik mobil di sisni. Yang penting aku dapat proyek pengadaan mobil dan barang-barang elektronik di sini. Dan bagi anda yang penting kan mobil dan barang-barang elektronik anda laku keras di sini. Lagi pula kelihatannya petinggi-petinggi bangsaku itu juga gemar mobil-mobil mewah. Tak perlu alih teknologi tethek bengek. Anda untung tetapi yang penting aku juga untung. Jika pabrik anda beresiko di sini ya boleh pindah saja ke Malaysia atau Thailand. Mengenai tenaga kerja, gampang saja. Nanti akan aku kirim tenaga kerja yang banyak. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting kan aku untung.

Pedagang Aset:
Wahai tuan, aku punya banyak aset di sini. Apakah tuan dari luar negeri? Mumpung aku jadi pejabat penentu kebijakan, dari pada susah-susah merawat aset, lebih baik aku jual saja kapadamu. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting kan aku untung.

Pedagang Tenaga Kerja:
Wahai tuan, aku punya banyak tenaga kerja. Apakah anda dari luar negeri? Anda mau tenaga kerja berapa? Jangan terlalu pusing memikir hak-hak tenaga kerja atau hak azasi manusia. Buat saja tenaga kerja itu tidak mengerti akan haknya, beres. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting kan aku untung.

Pedagang Jasa Pendidikan:
Wahai tuan, aku punya banyak proyek di sini. Apakah anda dari luar negeri? Prinsip apa yang tuan kehendaki dan bisa dijadikan proyek di sini? Bangsaku mempunyai banyak sekali kelemahan. Kelemahan bangsaku itu tergantung apa maumu. Maka tunjukkan kegiatan mana yang bisa diproyekkan di sini, maka akan aku perjuangkan mati-matian, tak peduli bagaimana jadinya bangsaku itu. Mumpung bangsaku belum banyak mengerti, bergegaslah bekerjasama dengan diriku. Mumpung aku menduduki jabatan penting, maka ide atau usul-usulmu akan aku perjuangkan menjadi legal formal di dalam bangsaku. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting kan aku untung.

Pedagang Jasa Moral:

Wahai tuan, aku punya banyak sekali nasabah yang akan pergi jiarah ke tempat anda? Apakah anda dari luar negeri? Berikan aku rekomendasi agar aku bisa mengurus proyek besar ini, maka akan aku perjuangkan mati-matian kepentinganmu itu. Selama ini kan aku sudah menghabiskan banyak waktuku untuk berdoa, maka tiba saatnyalah aku harus memperoleh keuntungan yang banyak. Mana tahan, orang di suruh berdoa terus. Melihat gemerlapannya harta benda, aku ingin juga memilikinya. Anda bisa melihat kinerjaku, dan akan aku buktikan bahwa aku adalah partner yang paling cocok bagimu. Yang penting kan aku untung.

Pedagang Hiburan:
Wahai tuan, aku tertarik dengan hiburanmu. Apakah tuan dari luar negeri? Tetapi maaf, aku tertarik bukan karena hiburanmu yang lucu, indah atau mendidik. Menurut penelitianku, aku harus tertarik dengan hiburanmu dikarenakan hiburanmu itu laku keras di negaraku. Masih menurut penelitianku, bangsaku sekarang tergila-gila dengan hiburanmu dikarenakan bangsaku sekarang sudah mempunyai sifat-sifat mirip dengan dirimu. Masih menurut penelitianku, bangsaku itu sekarang mempunyai sifat-sifat yang mirip dengan dirimu dikarenakan engkau adalah produsen sedangkan bangsaku adalah konsumen. Masih menurut penelitianku, bangsaku yang konsumen sangat dekat dengan dirimu yang produsen dikarenakan faktor perkembangan teknologi dan ICT serta keberhasilanmu mempromosikan hidup instant. Maka berapapun harga hiburanmu itu, maka akan aku bayar, karena aku tentu akan menghasilkan berapapun yang aku suka dari bangsaku menikmati hiburanmu itu. Yang penting aku untung.

Pedagang Standard:
Wahai tuan, aku tertarik dengan standard mu. Apakah engkau dari luar negeri? Jika demikian, berdasarkan pengamatanku, maka bagi bangsaku, engkaulah manusia paling tampan dan cerdas di dunia. Tidaklah harus dirimu, maka asal engkau katakan bahwa dirimu itu berasal dari luar negeri, maka serta merta rakyat bangsaku menganggap dirimu manusia paling tampan dan paling cerdas. Aku melihat potensi keuntungan besar jika engkau mau bekerjasama dengan diriku. Lihatlah dimana-mana sedang digalakkan sekolah standar internasional. Sekolah-sekolah dipelosokpun berlomba-lomba membeli ISO berapapun harganya. Tunjuk saja aku sebagai agen dan distributor standard-standardmu, maka tentulah aku dapat menjual sangat mahal bagi bangsaku. Tidak hanya itu, engkau dan aku bahkan bisa membuat gurita transinternasional untuk menghisap potensi bangsaku melalui slogan standarmu. Mumpung bagsaku sedang mabuk dan gandrung standard, maka bergegaslah bekerjasama dengan diriku. Jika engkau tidak mau bekerjasama dengan diriku dikarenakan engkau melihat diriku yang kurang berpotensi, maka silahkan aku engkau jadikan apapun aku bersedia. Engkau langsung hisap dari kantormu di negerimu, aku menjadi tukang pencatat juga bersedia. Yang penting aku memperoleh untung.

Pedagang Ide:
Wahai bangsaku, aku tahu maumu. Seleramu adalah segala ide dari luar negeri. Sebaik apapun kalau itu masih dari dalam negeri maka tetap sajalah kurang baik. Sejelek apapun kalau itu dari luar negeri maka cukup bergengsi. Maka ketahuilah bahwa aku itu adalah lulusan luar negeri. Maka aku itu cukup bergengsi bukan? Inilah ideku A, B, C, D..., Z. Ayo komentari, kok diam saja. Ya tentu komentari baik. Komentar baik saja dululah, nanti kalau sudah terbiasa kan lama-lama menjadi baik semuanya. Maka sebesar-besar keuntunganku adalah menjual ideku itu. Mengenai dampak dari ide-ideku itu? Tak pedulilah, yang penting kan aku memperoleh untung.

25 comments:

  1. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Dari percakapan di atas saya mencoba menyimpulkan. Para pedagang yang berlomba-lomba dalam menyalurkan idenya agar orang lain tertarik tidak peduli bagaimanapun caranya atau bahkan harus menjelekkan ide orang lain. Jangan pernah melakukan hal buruk agar dipandang baik oleh orang lain dan jangan mencoba untuk menjadi orang lain agar dilihat sempurna. Yang perlu kita lakukan hanya mencoba mengenali diri kita

    ReplyDelete
  2. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Dari elegi ini diilustrasikan bagaimana keadaan bangsa Indonesia saat ini seiring dengan perkembangan zaman. Terjadi berbagai krisis baik itu krisis keuangan sampai dengan krisis cinta tanah air. Hilangnya rasa bangga dan cinta pada tanah air inilah juga karena keadaan Indonesia merasa terpuruk dengan Negara-negara maju lain di dunia ini. Seakan-akan apapun dari luar negeri adalah hal yang lebih bagus dari Indonesia. Padahal itu semua juga belum tentu. Oleh karena itu filter dalam mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih ini sangat diperlukan.

    ReplyDelete
  3. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    Saya merasakan kesedihan yang sangat mendalam ketika membaca elegi ini. Dalam benak saya, separah ini kah kondisi Indonesia. Orang-orang berkuasa, orang-orang pandai, orang-orang cerdas rela menjual bangsa Indonesia demi keuntungan pribadi. Apakah mereka tidak sadar bahwa yang telah dilakukannya lama kelamaan akan menghancurkan bangsanya sendiri, bangsa Indonesia. Pedagang-pedagang tersebut hanya mencari keuntungan pribada dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Pedagang tersebut seperti tidak memiliki rasa kemanusiaan, belas kasih kepada bangsa sendiri.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  4. Seftika Anggraini
    18709251016
    S2 PM A 2018

    Untuk menghentikan praktik perdagangan bangsa, sebagai bangsa Indonesia harus mulai sadar tentang produk dalam negeri. Kita sebagai konsumen harus mulai sadar bahwa produk yang dihasilkan bangsa kita sendiri tidak kalah dengan produk yang berasal dari luar negeri. Kita harus mulai menghilangkan "gengsi" bahwa produk luar negeri itu selalu lebih baik dari produk dalam negeri. Hal ini perlu dilakukan agar bangsa Indonesia tidak mengalami kemunduran namun selalu mengalami kemajuan.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  5. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumber daya alam, tetapi belum mampu mengolah sumber daya tersebut secara maksimal. Kebanyakan yang sering terjadi menjual hasil bumi keluar negeri dan hasil tersebut oleh negara lain diolah dan dijual lagi di Indonesia dengan harga yang lebih mahal karena telah dikenai dengan berbagai alat produksi dan kemasan yang menarik. Proses membuat barang produksi membutuhkan SDM yang kreatif. Inilah yang belum dimiliki bangsa Indonesia. Negara dengan SDA tinggi namun SDM yang rendah maka akan sulit menjadi bangsa yang maju. Kemajuan bangsa dipengaruhi oleh pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang memiliki komitmen dan integritas membangun yang sesuai nilai-nilai pancasila.

    ReplyDelete
  6. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Tanpa kita sadari, bangsa ini sebenarnya belum benar-benar merdeka. Justru semakin ke sini, bangsa kita semakin terancam bahaya. Lihatlah gambaran keadaan bangsa kita dalam elegi ini. Sungguh memprihatinkan. Dan barang kali, tanpa kita sadari, kita sendiri termasuk di dalamnya. Terlalu menjunjung gengsi, hingga rela menjual harga diri. Terlalu mengagung-agungkan produk luar negeri, hingga mengabaikan bangsa sendiri. Sungguh, meskipun penjajah telah pergi, nyatanya penjajahan di negeri ini masih lestari.

    ReplyDelete
  7. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Dalam elegi ini menceritakan bagaimana banyak orang saat ini yang berkhianat pada bangsanya sendiri, mereka menjual hasil bumi dan apapun yang dihasilkan dari bangsanya tetapi menjual kepada orang luar dan justru mengganti nama atau mengganti asal pembuat barang tersebut. Dan di sini jelas terlihat bahwa orang yang demikian tidak bangga dengan bangsanya sendiri dan justru menghilangkan produk dari negaranya sendiri.

    ReplyDelete
  8. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Di era global sekarang persaingan antara bangsa-bangsa semakin tidak dapat dihindari, entah itu persaingan dagang maupun persaingan penawaran jasa dan tenaga kerja. Lantas apakah upaya kita untuk dapat terus berkembang? Meskipun belum mengalami perkembangan pesat namun bangsa kita sedang berproses terus membenahi diri untuk mampu bersaing di kancah global dengan mutu kualitas yang terbaik. Tentunya untuk mencapai kualitas yang diinginkan perlu adanya usaha, keterkaitan, kerjasama dari seluruh pihak.

    ReplyDelete
  9. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Dari elegi diatas saya dapat menarik dua kesimpulan, yaitu: Indonesia menjadi negara yang konsumtif dan cenderung menggunakan/tertarik dengan produk luar negeri daripada produk dalam negeri dan Indonesia memiliki sangat banyak SDA tetapi tidak mampu mengelola SDA tersebut dengan benar karena kurangnya SDM sehingga hal yang terjadi adalah SDA yang ada di Indonesia banyak dikelola oleh SDM luar negeri. Hal ini membuat bagian hasil yang didapat tidaklah seimbang. Indonesia hanya mendapat sedikit saja. Dan yang lebih parah adalah Indonesia banyak sekali mengimpor barang-barang dari luar negeri yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas SDM di Indonesia seyogyanya menjadi sorotan dan benar-benar menciptakan solusi agar Indonesia mampu mengelola seluruh SDA yang sudah ada agar Indonesia tidak lagi menjadi sasaran empuk bagi SDM luar negeri.

    ReplyDelete
  10. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006

    Kita semua harus menaggulangi hal ini secara serius karena ekonomi kita terpuruk karena prilaku kapitalis dari segelintir orang, harus ada sistem link and match yang kuat dan serius antara pemerintah dan masyarakat terkait hasil produk anak bangsa. pemangku kebijakan juga harus mulai gencar menjalankan kebijakan-kebijakan terkait peningkatan kualitas dan mutu barang produksi kepada masyarakat mulai dari proses pengolahan, kemasan samapi pemasaran agar para produsen barang dan jasa kita tertanam jiwa keprcayaan yang tinggi terkait hasil kreatifitas dan inovasinya. Namun keberhasilan dari langkah/upaya ini juga perlu mendapat apresiaisi dari para konsumen tanah air dengan mau membeli dan menggunakan produk-produk dalam negeri.

    ReplyDelete
  11. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Indonesia merupakan suatu bangsa dengan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang cukup besar. Besarnya sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada di negeri ini belum dimanfaatkan dengan baik dan maksimal. Produk-produk dalam negeri cenderung masih kalah saing dengan produk dari luar. Padahal sebetulnya produk-produk dalam negeri sangat dicari oleh orang-orang luar karena keunikan dan kualitasnya yang baik. Jadi sudah seharusnya dilakuakan penguatan terhadap cinta terhadap NKRI dengan menggunakan produk dalam negeri sebagai prioritas utama. Kemudian untuk produsen penghasil produk-produk dalam negeri juga harus terus meningkatkan kualitas dari produknya agar tidak kalah saing dengan produk luar.

    ReplyDelete
  12. Yuntaman Nahari
    18709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Saat ini Indonesia sedang mengalami krisis moral dan karakter. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Tetapi beberapa orang menganggap bahwa produk Indonesia selalu kalah dengan produk dari luar sehingga mereka malu untuk memakai produk negara sendiri. Ada prestige tersendiri bagi mereka yang menggunakan produk dari luar. Padahal jika bukan bangsa sendiri yang mencintai dan mengembangkan produk dalam negeri, lantas siapa? Oleh karena itu, sebagai pendidik dan calon pendidik hendaknya kita senantiasa menanamkan karakter dan jati diri bangsa Indonesia kepada siswa sedini mungkin.

    ReplyDelete
  13. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251013

    Elegi ini menggambarkan tentang apa yang sedang dan sepertinya akan terus dihadapi oleh bangsa Indonesia, yaitu menghadapi apa yang ditawarkan oleh bangsa lain dan kemudian perlahan-lahan mulai melupakan jati diri bangsa. Lebih bangga menggunakan produk dari luar ketika produk bangsa lebih murah dan tidak popular, mencari label dari negara lain agar mendapat tempat di hati dunia tetapi bila ditinjau dari kualitas tentu barang yang diproduksi oleh bangsa sendiri tidak kalah bagusnya. Ketika hal ini tidak dihadapi dengan baik oleh bangsa Indonesia, tentu akan menjadi masalah yang jauh lebih besar kedepannya.

    ReplyDelete
  14. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Indonesia adalah bangsa yang kaya akan sumber daya alam, tetapi belum mampu mengolah sumber daya tersebut secara maksimal. Kebanyakan yang sering terjadi menjual hasil bumi keluar negeri dan hasil tersebut oleh negara lain diolah dan dijual lagi di Indonesia dengan harga yang lebih mahal karena telah dikenai dengan berbagai alat produksi dan kemasan yang menarik. Proses membuat barang produksi membutuhkan SDM yang kreatif. Inilah yang belum dimiliki bangsa Indonesia. Negara dengan SDA tinggi namun SDM yang rendah maka akan sulit menjadi bangsa yang maju. Kemajuan bangsa dipengaruhi oleh pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang memiliki komitmen dan integritas membangun yang sesuai nilai-nilai pancasila.

    ReplyDelete
  15. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018 (PM B 2018)

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Pedagang bangsa layaknya seseorang yang tidak berbakti kepada ibunya. Pedagang bangsa tidak merasa dimana dia tinggal, dimana dia menghiru udara, dimana dia bisa minum, dimana dia bisa makan, dimana dia bisa tidur di tanah Indonesia. Bahkan apa yang berbau luar negeri dianggapnya adalah sesuatu yang luar biasa. Padahal jika kualitasnya diadu dengan produk yang ada di Indonesia, kualitasnya masih sama dan bisa saja justru lebih baik yang ada dari tanahnya. Oleh kerana itu jangan sampai engkau melupakan darimana engkau berasal
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  16. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Elegi tersebut merupakan gambaran dari kehidupan masyarakat saat ini, masyarakat yang sudah mulai begitu tamak. Ukuran sukses bukan lagi ketenangan dan kebahagiaan namun telah beralih menjadi sukses berarti banyak uang tak peduli bagaimanapun cara memperolehnya. Seperti tak ada rasa memiliki sedikitpun terhadap bangsa seenaknya membunuh jati diri bangsa, bagaimana akan mencintai bangsanya jika rasa memiliki saja tak ada. Sebuah ironi dari semakin berkembangnya zaman, semakin tua bumi bukannya semakin bijak justru sebaliknya.

    ReplyDelete
  17. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Di zaman sekarang ini merupakan zaman yang perdagangannya sangat mengedepankan keuntungan tanpa memperhatikan asal keuntungan tersebut dari mana. Padahal kita hidup di dunia bukan bertujuan untuk mengejar perihal duniawi seperti keuntungan semata melainkan kita beribadah dengan mencari keuntungan yang benar agar mendapat keberkahan dari Allah Ta'ala. Sekecil apapun keuntungan tersebut namun diperoleh dari hasil yang benar maka jauh lebih baik dan berkah daripada memperoleh banyak keuntungan namun dari yang tidak benar.

    ReplyDelete
  18. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
    Berbagai macam pedagang berbondong mengambil hati para investor agar bermitra kerja dengannya karena mereka pikir dengan bermitra dengan orang luar negeri akan mendapatkan keuntungan yang lebih. Jangan biarkan negeri kita dikuasai oleh investor luar negeri karena sama saja halnya kita dijajah oleh mereka. Sudah saatnya bangga dengan investasi dalam negeri agar produk dalam negeri tak hanya menjadi cerita untuk generasi berikutnya. Cintailah produk dalam negeri. Hargailah karya sendiri. Jangan hanya karena untuk mendapatkan keuntungan semata, engkau korbankan masa depan generasi berikutnya. Renungkanlah. Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  19. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Membaca elegi di atas seperti menyadarkan kita akan keadaan bangsa Indonesia saat ini. Mereka yang mengaku cinta akan tanah air ternyata malah menjual tanah airnya hanya demi kepentingan sendiri. Melalui elegi ini dijelaskan seorang pedangang yang rela melakukan apapun asalkan mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Persis seperti keadaan bangsa kita yang sedang krisis di berbagai bidang. Budaya asing masuk tanpa tersaring hingga kita seperti kehilangan budaya bangsa sendiri. Hasil bumi kita tidak dihargai di bangsa sendiri. Smeoga kedepannya hal ini akan lebih membaik.

    ReplyDelete
  20. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Ironi di negeri ini. Banyak sekali proyek-proyek yang ditawarkan ke orang asing. Menawarkan dengan lihainya, menunjukkan keunggulanya, dan memperebutkan keuntungan terbesar, namun yang ditawarkan menyangkut harga diri bangsa. Elegi ini mengingatkan kita untuk kembali menghargai bangsa kita sendiri. Jangan sampai akar moral bangsa dari ikut diperdagangkan. Cintai tanah air kita <3

    ReplyDelete
  21. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Ada orang-orang yang beranggapan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar negeri pasti lebih baik daripada dalam negeri. Padahal anggapan ini tidak selalu benar dan tidak selalu salah. Jika dilihat dari beberapa aspek seperti teknologi, perekonomian dan keamanan bisa jadi benar. Namun jika dilihat dari aspek budaya, seni tentusaja anggapan tersebut keliru dan perlu diluruskan.

    ReplyDelete
  22. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Agar tidak terjerumus pada pemikiran seperti ini maka perlu dilakukan penanaman pemahaman akan kehebatan Indonesia di banding luar negeri. Lebih khusus melakukan kajian perbandingan antar negara pada berbagai lini kehidupan.

    ReplyDelete
  23. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat malam Prof.
    Dalam elegi diatas disampaikan bahwa para pedagang memberikan tawaran yang menarik kepada para bangsa. Secara umum, tawaran yang diberikan berasal dari luar negeri. Muncul pertanyaan, mengapa harus dari luar negeri? Mengapa luar negeri menjadi standar kualitas tawaran yang diberikan? Jawabannya sederhana. Bangsa kita terlalu mengagung-agungkan apa yang diperoleh dari luar negeri. Artinya kurangnya kepercayaan atas produk yang dimiliki oleh dalam negeri. Kepercayaan ini haruslah dibangun sejak dini. Kepercayaan muncul karena adanya rasa syukur atas apa yang dimiliki. Ketika kita terus menggunakan apa yang dimiliki dari produk luar negeri, sampai kapan negera kita akan mempunyai kepercayaan diri dan produk yang berkualitas? Jawabannya adalah sampai masyarakat kita sungguh memanfaatkan apa yang negara kita miliki dan memperkenalkannya di kanca Internasional. Terima kasih.

    ReplyDelete
  24. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Elegi ini mengungkapkan kejadian yang telah lama terjadi di negeri kita ini. Pedagang bangsa ialah orang-orang yang menjual aset, sumber daya alam maupun sumber daya manusia demi keuntungan pribadinya. Pedagang bangsa juga dapat diartika sebagai masyarakat yang beranggapan bahwa barang-barang yang berasal dari luar negeri seolah memiliki nilai lebih dibanding produk-produk dalam negeri. Kebanyakan masyarakat lebih bangga menggunakan barang dari luar negeri meski kualitasnya tidak lebih baik dari produksi negeri sendiri, terlebih lagi mungkin saja produk tersebut justru sebenarnya hasil produksi Indonesia yang kemudian diberi merk oleh pihak asing dan dijual kembali ke Indonesia. terimakasih

    ReplyDelete
  25. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Pedagang bangsa yang dimaksud mungkin bisa jadi orang-orang rakyak sendiri yang menjual apapun milik bangsa ke dunia, atau orang luar yang sudah mengetahui seluk beluk bangsa menjualnya ke dunia sebagai informasi rahasia. Banyak tipe dari para pedagang-pedagang bangsa ini karena memang sudah marak terjadi, dengan identitas bangsa yang dimilikinya bila terpaksa atau memang berniatan jahatt maka informasi budaya, informasi keamanan, informasi ekonomi, akan bocor sampai pada para penerima informasi dari luar negeri. Sungguh miris dan harusnya lebih menyadari diri se ndiri untuk mencintai bangsa dan negaranya.

    ReplyDelete