Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru Menggapai Batas




Oleh: Marsigit

Mulialah hati, pikiran dan tindakan pedagogik guru, karena tiadalah seorang guru bermaksud memberikan keburukan bagi siswanya. Totalitasnya dia mengidamkan kebaikan dan keberhasilan bahkan keberhasilan tertinggi jika memang mungkin bagi siswanya. Maka hati, pikiran dan jiwanya menyatu menjadi motivasi yang kuat bahkan mungkin SANGAT KUAT untuk mewujudkan tindakan pedagogik : MEMBIMBING, MENGAWASI, MEMBEKALI, MENASEHATI, MEWAJIBKAN dan kalau perlu MENGHUKUM siswanya DEMI KEPENTINGAN SISWA.

Ketika rakhmat Nya menghampiri guru sedemikian hingga guru dengan sengaja atau tak sengaja menembus BATAS jiwanya sehingga memperoleh kesempatan MELIHAT DIRINYA dari tempat nun jauh secara mandiri maupun berbantuan orang atau guru atau nara sumber, maka adalah suatu tempat dimana BATAS ITU akan digapainya. Dalam batas itulah guru menemukan FATAMORGANA.
Atas fatamorgana itu maka terdengarlah nyanyian AKAR dan RUMPUT yang sayup-sayup sampai kira-kira bait-baitnya begini:

-Jangan jangan motivasimu yang sangat KUAT telah MELEMAHKAN INISIATIF nya, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEMBIMBING telah menjadikannya TERGANTUNG DAN TAK BERDAYA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENGAWASI telah menjadikannya mereka merasa menjadi makhluk yang memang selalu perlu diawasi dan dengan demikian identik dengan KEBURUKAN, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEMBEKALI telah menjadikanmu SOMBONG DAN TAKABUR serta menjadikannya RENDAH DIRI DAN TAK BERDAYA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENASEHATI adalah AMBISI DAN EGOMU yang menyebabkan mereka hidup TIDAK BERGAIRAH, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEWAJIBKAN adalah pertanda HILANGNYA NURANIMU sekaligus HILANGNYA NURANI MEREKA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENGHUKUM adalah SEMPITNYA HIDUPMU dan juga SEMPITNYA HIDUP MEREKA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu DEMI KEPENTINGAN SISWA adalah keadaan HAMPA TAK BERMAKNA atau bahkan MENYESATKAN, apakah itu batas yang kau cari?

Orang tua berambut putih datang dan berkata:

"ITULAH SEBENAR-BENAR BATAS YANG KAU CARI, DAN BATASMU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN ADALAH BATAS MEREKA. ANTARA DIRIMU DAN MEREKA ITULAH SEBENAR-BENAR ILMUMU TENTANG DIRIMU DAN TENTANG DIRI MEREKA.
JIKA KAMU BELUM MENGETAHUI BATASMU JANGAN HARAP RAHMAT ITU DATANG MENGHAMPIRIMU KEMBALI, TETAPI JIKA TOH KAMU TELAH MENGETAHUI BATASMU MAKA ADALAH KODRAT NYA BAHWA KAMU MASIH HARUS BERJUANG MENGGAPAI RAHMATNYA.
NAMUN MAAF SAYA TELAH SALAH UCAP, KARENA SEBENAR-BENARNYA YANG ADA, ADALAH TIADALAH ORANG PERNAH DAN DAPAT MENGGAPAI BATASNYA. UNTUK ITU MARILAH KITA TAWADU' DENGAN KODRAT DAN IRADATNYA. TETAPI JANGAN SALAH PAHAM BAHWA IKHTIARMU MENGGAPAI BATASMU ADALAH JUGA KODRATNYA.AMIN YA ROBBIL ALAMIN"

Orang Tua berambut putih Beranjak Pergi Tetapi Guru Berusaha Menggapainya:

Guru menggapai batas:
Aduhai orang tua berambut putih yang telah bertitah dihadapanku..
Siapakah sebenarnya dirimu itu? Tunjukkanlah padaku wajah yang sebenar-benar wajahmu.
Aku sangat terharu mendengarkan titahmu. Masih bolehkah aku memohon titah-titahmu yang lain?
Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Ciri-ciri orang cerdas adalah jika secara proporsional mampu mengendalikan perasaanya. Dan aku melihat kamu bisa. Maka aku melihat bahwa kamu ternyata cerdas pula. Jika kamu merasa terharu maka sebetulnya aku merasa lebih terharu lagi. Jangankan mendengar teriakan dan tangismu, mendengar satu pertanyaanmu saja aku merasa tergetar dan terharu. Mengapa? Karena itu pertanda bahwa kamu sedang memulai ilmumu. Bukankah bertanya adalah juga karunia Tuhan? Maka ketika kamu mendengar pertanyaan murid-muridmu itu pertanda bahwa kamu sedang menjemput rakhmat Nya. Padahal aku mengerti bahwa kamu mempunyai tugas yang sangat mulia. Apa itu? Yaitu membuat para siswa-siswa mu kelak mampu bertanya pula. Bukankah jika siswamu mampu bertanya itu juga pertanda bahwa mereka telah merasa menemukan batasnya dan menggapai nuraninya kembali yang telah hilang terenggut. Jadi sebetulnya, sebenar-benar hidup adalah jikalau kamu masih mampu bertanya.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu. Bolehkan aku selalu mengikutimu?
Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat, tetapi saya mengkhawatirkan pertanyaanmu, karena pertanyaanmu terlalu mekanistis dan kekanak-kanakan. Perasaan harumu telah betul, artinya kamu sedang dalam proses melakukan komunikasi transenden? Apakah kamu tahu apa itu komunikasi transenden? Komunikasi transenden adalah komunikasi setelah pikiranmu. Apakah kamu tahu komunikasi setelah pikiranmu? Tidak lain tidak bukan adalah perasaanmu. Apakah perasaanmu itu? Itu bukan nafsumu, itu bukan egomu, itu bukan sifat negatifmu. Tetapi itu adalah naluri dan intuisimu. Maka ikutilah naluri dan intuisimu. Tetapi bukan sembarang naluri dan bukan pula sembarang intuisi. Naluri dan intuisimu sebagai seorang yang telah merasa menemukan batasmu sebagai hasil pengalamanmu, yang didukung oleh pengetahuanmu serta oleh doa-doamu.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu aku semakin mantap akan ikut denganmu.
Orang tua berambut putih:
Semakin mantap kamu ingin mengikutiku maka semakin mantap pula aku menolaknya. Karena jika kamu selalu mengikutiku maka kamu akan selalu tertutup oleh bayang-bayangku. Dan dengan demikian tiadalah sebetulnya hakekat dirimu itu. Jika kamu terlalu mengagung-agungkan bayanganku maka kamu akan menghadapi bahaya besar yaitu terperosok ke dalam ruang gelap di mana ilmu mu telah berubah menjadi mitosmu. Mitosmu adalah mitos tentang diriku. Ketahuilah bahwa musuhmu paling besar bagimu di dunia ini adalah mitos-mitosmu. Maka sungguhlah merugi bagi seorang guru yang mengajarnya hanya berdasarkan mitos-mitos. Bukankah sekedar hapal rumus tetapi tidak tahu maknanya itu juga merupakan mitos. Sekedar kagum tetapi tidak mampu berpikir kritis itu juga mitosmu. Maka kenalilah baik-baik musuhmu itu. Sedangkan bahaya paling besar di muka bumi ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menutupi jati diri orang lain dengan bayangannya. Apakah kamu juga menginginkan agar murid-muridmu selalu mengejar dan berlindung di bawah bayang-bayangmu. Bukankah hal yang demikian sebetulnya menghilangkan jati diri mereka dan dengan demikian kamu telah berbuat dholim kepadanya. Ingatlah bahwa tiadalah orang selalu dapat bersama dengan semua sifat-sifat dan miliknya. Hanya sifat dan milik tertentu saja yang Tuhan perkenankan untuk selalu mendampingimu kelak sampai ke akhir jaman. Kata orang bijak itulah amal dan perbuatanmu. Jadi keunikanmu itu adalah hargamu. Hanya dirimu sendirilah yang mempertanggungjawabkan perbuatanmua.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu siapakah sebenarnya kau dan dimanakah kau itu?
Orang tua berambut putih:
Aku sendiri sulit mendefinisikan diriku sendiri. Kadang-kadang aku adalah bacaanmu, kadang-kadang aku adalah referensimu, kadang-kadang aku adalah gurumu, kadang-kadang aku adalah pertanyaamu, kadang-kadang aku adalah pikiranmu, kadang kadang aku adalah pikiran gurumu dan kadang-kadang aku adalah gurumu. Tetapi aku bisa menjelma menjadi paradigma, menjadi teori, menjadi filsafat da menjadi cita-citamu. Maka untuk memahamiku tidaklah cukupkamu hanya menggunakan satu metode saja. Terlibatlah secara sinergis tali temali dengan ku dan juga dengan murid-muridmu. Berlandaskan keteguhan hati dan iman dan taqwa kepada Alloh ya Robbi.
Guru menggapai batas:
Aku bingung. Siapakah kau dan dimanakah kamu berada?
Orang tua berambut putih:
Kadang-kadang aku adalah kau juga. Kadang-kadang aku menyerupai dosenmu. Tetapi jika kamu ingin melihat wajahku yang sebenarnya maka tengoklah pada akal dan pikiranmu. Tempat tinggalku adalah di batas pikiranmu. Usahamu menggapai batas pikiranmu itulah sebenarnya aku. Padahal kita tahu bahwa batas pikiranmu itulah sebenar-banarnya ilmumu. Jadi aku tidak lain tidak bukan sebenarnya adalah ilmumu. Aku dan kau adalah sama juga yaitu menterjemahkan dan diterjemahkah. Itulah sebenar-benar hidup di dunia. Maka agar kau sukses dalam mendidik siswa-siswamu, sinergis tali-temalikanlah dirimu dengan mereka untuk bersama sama saling menterjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu. Bagaikan bola dunia yang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari. Gerakanmu dan gerakan mereka yang kokoh, kuat dan stabil seakan tenang sunyi dan hening, padahal sangat ramai di dalamnya. Itulah sifat black-hole yang mempunyai energi yang sangat besar dan mampu menarik segalanya yang ada disampingnya, yang ada dalam penglihatannya, yang ada dalam pergaulannya, yang ada dalam doa-doanya. Di situlah kamu sudah dapat dikatakan berada dalam kedudukan sistemik melakukan hijrah inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan jika didukung oleh semua orang yang sadar dengannya maka dia ibarat black-hole tersebut. Maka jadikanlah bahwa dirimu tidak lain tidak bukan adalah inovasi itu sendiri. Katakan bahwa aku adalah inovasi. Maka sebenar-benar diriku, Orang Tua Berambut Putih, tidak lain tidak bukan adalah inovasi. Ketahuilah bahwa bumi tidak hanya berputar pada porosnya, tetapi bergerak mengelilingi matahari. Itulah kodrat Nya. Jadi untuk mengetahuiku kamu harus berikhtiar. Apakah ikhtiar itu? Tidak lain tidak bukan adalah hijrah. Maka sebetul betulnya hidup adalah hijrah, disadari maupun tidak engkau sadari. Bukankah para Nabi telah mengajarkanmu apa itu dan bagaimana hijrah. Hijrahlah dalam doa, karena kita dapat juga katakan bahwa sebenar-benar hidupmu adalah doamu. Itulah sebetulbetulnya tujuan bagi semua manusia di dunia yaitu kebahagiaanmu didunia dan akhirat, jikalau dia telah mentransformir dirinya menjadi doa kepada Mu Ya Alloh Ya Robbi. Amien.
Guru menggapai batas:
Aku ingin menangis.
Orang tua berambut putih:
Boleh. Karena tangisanmu adalah tulisanmu, referensimu, bukumu dan juga ilmumu. Namun janganlah kamu terbuai dengan tangisanmu, karena tangisanmu hanyalah sebagian dari hidupmu. Lebih banyak lagi hal-hal yang perlu kamu pikirkan. Sebagai orang cerdas maka kamu ku tantang dapatkah menangis sambil memikirkan hal-hal yang lain? Bukankah kita maklum bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah ikhlas dan mengingat Tuhan. Maka setinggi-tinggi amal perbuatanmu adalah selalu ikhlas dan dalam keadaan mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun, dalam keadaan bercakap, dalam keadaan duduk, bahkan dalam keadaan menangis atau tidur sekalipun.
Guru menggapai batas:
Saya telah memperoleh terang yang luar biasa guruku. Dan sekarang saya iklhas berpisah dengan mu. Dan saya akah kembali pulang bertemu dengan keluarga untuk berjuang meningkatkan pendidikan matematika lebih bernurani.
Orang tua berambut putih:
Jika kau sebut aku sebagai gurumu maka itu adalah diriku yang lain. Sekali lagi aku khawatir tentang klaimmu bahwa kau telah memperoleh terang yang luar biasa. Jangan-jangan itu kesombonganmu. Karena klaim sekecil apapun tidak luput dari kesalahan. Mengapa? Itulah sifat terbatas manusia, dan sifat tak terbatas hanyalah milik Tuhan. Padahal kesombongan adalah dosa pertama dan dosa paling besar. Tetapi tidak. Saya melihat bahwa kamu tadi adalah spontan dan murni. Spontan, murni, orisinalitas dan tak berprasangka buruk adalah modal utama memperoleh ilmu. Tetapi maaf karena kalimatku yang terakhir itu juga adalah klaim ku. Jadi aku juga terancam kesombongan. Maka ighstifar adalah satu-satunya solusi. Alhamdullilah. Mudah-mudahan kita semuanya ikhlas. Jika terpaksa aku mengucapkan good bye, maka itu juga diriku yang lain. Jika aku teruskan ucapanku aku khawatir dituduh tidak sadar ruang dan waktu. Tiadalah ada sebenar-benarnya perpisahan itu bagi orang-orang beriman. Beterbaranlah dimuka bumi ini dan menjadilah pahlawan pendidikan. Tetapi ingatlah bahwa pahlawan bukannya seorang jendral yang memenangkan perang dimedan laga. Tetapi seorang hamba yang berilmu. Namun janganlah pernah mengklaim diri sebagai pahlawan, biarkan akar rumput yang menyanyikannya. Maka aku juga kurang begitu nyaman jika ada guru menyanyikan dirinya sebagai pahlawan. Selamat berjuang. Maafkan segala kekhilafanku. Semoga berhasil. Amien

Guru Menggapai Batas Ternyata Masih Mengejarnya:

Tunggu dulu guru, masih ada satu lagi pertanyaanku. Temanku mengatakan bahwa untuk menjadi guru yang baik, tentunya membutuhkan proses dan bimbingan. Dia mengatakan bahwa sesuai ungkapan " Man ta'allama bila syaikhin, fa syaikhuhu syaitoon " Orang yang belajar tanpa pembimbing maka pembimbingnya adalah setan. Maka jika guru meninggalkan ku aku khawatir muncul sifat - sifat setan yang mengajak pada perilaku yang tidak diridloi oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih Bersedia Menghantar Sampai Batas:

Jangan salah paham, sudah saya katakan bahwa yang mengucapkan good-bye adalah diriku yang lain. Sedangkan diriku yang lain lagi senyata-nyatanya selalu bersamamu kamanapun kamu pergi. Panggilah aku dengan pertanyaanmu, karena aku tidak lain tidak bukan adalah pertanyaanmu. Dan pertanyaanmu adalah pengetahuanmu. Tetapi hendaklah kamu belajar agar mengerti batas-batas sampai di mana aku bisa bersamamu. Aku selalu bersamamu sampai kamu tidak bisa lagi “bertanya”. Karena sesungguh-sungguhnya segala macam pertanyaanmu itu tidak bisa berada diluar pikiranmu. Padahal aku mengerti bahwa pikiranmu bersifat terbatas, dan batasnya tidak lain tidak bukan adalah diriku. Sekali lagi aku ingatkan bahwa disinilah kamu mulai masuk alam transenden, dimana segenap jiwa ragamu termasuk pikiranmu beserta diriku menjelma kedalam hatimu. Maka disini, sebenar-benar ilmumu adalah hatimu. Sebenar-benar hidupmu adalah juga hatimu. Dan juga tidak ada lagi diriku. Yang ada adalah ikhlas, iman dan taqwa mu. Maka untuk bertemu Tuhan mu tidaklah cukup hanya dengan pikiranmu dan tidaklah cukup juga mengandalkan diriku, tetapi hatimu yang ikhlas itulah yang akan menuntunmu. Ketika kamu semakin dekat dengan Tuhan mu, maka tidaklah kamu memerlukan "pertanyaan". Keikhlasan yang dibimbing Tuhan mu itulah yang akan mampu mengusir setan dan Jin bertanduk tujuh. Itulah setinggi-tinggi tujuan hidup, yaitu dihampiri rakhmat Nya. Jikalau Tuhan telah berkenan menghampirimu, maka kemanapun kamu memandang, adalah rakhmat dan karunia Nya yang ada di situ. Itulah sebenar-benar makna pendidikan kualitas kedua, ketiga, dst. Baiklah kalau begitu marilah kau kuhantarkan sampai tempat di mana kamu tidak bisa lagi “bertanya”. Amien ya robbal alamin.

25 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Yang dapat saya ambil dari elegi di atas, kita harus menemukan batas-batas diri kita berdasarkan pengalaman dan berdoa kepada Allah agar kita dapat mengikuti naluri dan intuisi kita. Jika naluri dan intuisi yang tidak berdasarkan pengalaman dan doa yang khusyuk maka kemungkinan besar naluri dan intuisi kita malah menjadikan diri kita semakin jatuh kedalam jurang mitos-mitos.

    ReplyDelete
  2. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sesungguh-sungguhnya batas seorang guru adalah ketulusan dan keikhlasan. Ketulusan untuk senantiasa menemani perkembangan peserta didiknya, keikhlasan dalam melawan segala aral yang menghadap untuk menggapai tujuan mulianya.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Guru merupakan tugas yang mulia, tidak hanya dokter yang mampu menyelamatkan nyawa seseorang, guru juga mampu menyelamatkan masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik. Banyak guru yang mampu menginspirasi murid-muridnya untuk mengharumkan negara ini melalui beberapa bidang seperti bidang akadmeik dan olahraga. Guru yang berkualitas mempunyai batasan-batasan dalam mengajarnya. Batasan bukan berarti mengekang inovasi yang dibuatnya melainkan batasan inilah yang akan membawa guru lebih disiplin dalam mendidik putra putrinya untuk mampu bersaing dengan negara lain.Ilmu diperoleh guru berdasrkan keteguhan hati dan iman serta taqwa kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Guru adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan membantu untuk menransfer pengetahuan itu. Hanya saja bentuk formal dari guru adalah guru yang berada di kelas. Profesi guru itu tidaklah mudah, karena selain harus mempunyai ilmu pengetahuan, guru harus bisa menransfernya pada siswa. Biasanya permasalahan yang sering muncul adalah proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Karena memang karakter guru dengan siswa itu berbeda, siswa dengan siswa pun berbeda, maka akan muncul banyak pandangan. Tetapi di sisi lain, guru merupakan tugas mulia, karena dia mendapatkan ilmu pengetahuan, kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Ketika orang lain itu juga menyampaikan ke orang lain dan seterusnya, maka guru turut berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dan dari sisi pahala, itu adalah pahala yang tidak pernah putus, karena akan selalu digunakan dan disampaikan ke orang lain.

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi seorang guru menggapai batas menjelaskan tentang bagaimana seorang guru itu sendiri. Menjadi guru tidaklah mudah. Profesi guru sangat banyak diminati karena jam kerjanya yang tidak memberatkan dan honornya yang menggiurkan apabila sudah professional. Akan tetapi menjadi guru sangatlah berat, karena guru memiliki tanggung jawab yang begitu besar, yaitu mencerdaskan siswa-siswanya, membimbing dan membangun karakter siswa sehingga menjadi siswa yang bertaqwa dan berguna bagi Bangsa dan Agama.

    ReplyDelete
  6. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Tugas seorang guru bukan hanya menjadi seorang pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, fasilitator, sekaligus motivator siswa. Sehingga, guru tidak hanya memberikan atau mentransfer ilmu saja melainkan juga memberikan dukungan, penguatan, nasehat dll. Setiap guru memiliki karakteristiknya masing-masing sehingga sangat beragam dan berbeda pembelajaran yang digunakan oleh masing-masing guru karena disesuaikan juga dengan kompetensi, keadaan kelas, dan keadaan siswa yang dihadapi. Tetapi kita juga haruslah ingat bahwa guru hanyalah manusia yang tentunya tak luput dari salah dan keterbatasan, maka seorang guru pun pasti ada keterbatasan dalam mengelola kelas ketika pembelajaran berlangsung, sehingga ada potensi bahwa guru tersebut akan melakukan sebuah kesalahan, namun guru yang bijak pasti akan terus belajar dari kesalahan atau kekurangannya untuk lebih baik lagi, sehingga wawasan dan pandangan guru akan semakin luas dan terbuka mengenai pendidikan.

    ReplyDelete
  7. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Guru dalam bahasa jawa sering kita mendengar bahwa, “guru : di gugu lan ditiru” yang dalam bahas Indonesia artinya adalah dipercaya dan di contoh. Guru merupakan seseorang yang mengajarkan suatu ilmu. Selain siswa, faktor penting dalam proses belajar mengajar adalah guru. Guru sangat berperan penting dalam menciptakan kelas yang komunikatif. Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia. Meskipun tidak ada sesuatu yang sempurna, dan pasti memilki keterbatasan seperti yang dilas dalam Elegi di atas, akan tetapi seorang guru akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan bekal pengetahuan bagi anak didiknya agar mampu melangkah ke depan dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Kali ini guru. Oh bukan, maksut saya, guru lagi. Guru, betapa mulianya keberadaan mereka. Guru, betapa kuatnya pengakuan alam atas kehidupannya. Guru, betapa hebatnya caramu bertahan hidup dan memberikan hidup. Wahai guru, pak, bu.

    Dari elegi ini, pikiran saya teraduk-aduk, makin berkecamuk. Ini tentang guru. Secara formal profesi, saya bukan guru. Tapi tunggu, elegi ini bukan hanya tentang guru, tapi kehidupan. Begitu ku menerjemahkannya.

    Aku tertunduk, malu, betapa aku belum fasih memahami betapa hidup adalah terjemah dan menterjemahkan. Inginku menangis, betapa ketidakpahamanku betapa hidup itu bertalian erat dengan konsep ruang dan waktu. Aku menangis, betapa ku sadar, ternyata.... ternyata ketika ku berusaha menggapai kesempatan, aku pernah menutup kesempatan seorang atau bahkan ber-orang lainnya. Mohon ampun Ya Tuhan.

    "Aku dan kau adalah sama juga yaitu menterjemahkan dan diterjemahkah. Itulah sebenar-benar hidup di dunia. Maka agar kau sukses dalam mendidik siswa-siswamu, sinergis tali-temalikanlah dirimu dengan mereka untuk bersama sama saling menterjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu"

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca elegi tersebut, bahwa tiadalah seorang guru bermaksud memberikan keburukan bagi siswanya. Namun seorang guru harus tahu dengan batas-batasnya, bagaimana caranya agar peserta didik menjadi pusat pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi berarti karena mereka mendapat pengalaman belajar.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  10. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Guru harus berusaha menggapai batas pikirannya dengan terus menerus belajar hingga tidak dapat lagi mempertanyakan ilmunya. Guru perlu memahami batas membimbing siswa, batas menjadi fasilitator siswa, batas memotivasi siswa, dan lain sebagainya. Siswa tetap harus mendapatkan kesempatan yang luas dalam membangun pengetahuannya. Namun, sesungguhnya tiadalah manusia yang mampu menggapai batas, yang ada ialah bahwa kodrat manusia adalah berusaha untuk menggapai batas.

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    S2 P.Mat A 2017

    Guru adalah dewa bagi anak muridnya. Benarlah kalimat di atas yang mengatakan bahwa agar sukses dalam mendidik siswa, tali-temalikanlah dirimu dengan mereka untuk bersama sama saling menterjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu. Tetapi yang harus diperhatikan oleh seorang guru ialah guru harus mengetahui batas-batas dalam memotivasi, membimbing, mengawasi, membekali, menasehati, menghukum, dan mewajibkan siswa-siswanya. Jangan sampai sikap-sikap pedagogik guru yang melampaui batas malah akan menjadi bumerang bagi siswa, yakni siswa akan bersikap kontradiktif dari yang diharapkan. Misalkan niat awal ingin memotivasi malah menjadikan siswa lemah inisiatifnya, niat hati ingin membimbing telah menjadikannya tergantung dan tak berdaya, dan sifat-sifat kontradiktif yang lain. Karena sesungguhnya, sebenar-benarnya kita sedang berada dalam perbatasan.

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Segala sesuatu tentu ada batasnya. Begitu pula segala usaha yang dilakukan seorang pendidik selalu dengan niat untuk meningkatkan kemampuan dan karakteristik murid-muridnya. Namun bagaimana respon murid terhadap usaha tersebut adalah di luar batas pendidik. Hal yang bisa diupayakan pendidik adalah terus meningkatkan pengetahuan dan berserah diri kepada sang mahakuasa. Dengan terus belajar dan mendekatkan diri kepada Tuhan, pendidik mendapatkan rahmat dan petunjuk dalam mengerti batas-batas kemampuannya dan kemampuan murid-muridnya.

    ReplyDelete
  13. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Seorang guru diharuskan untuk mewujudkan tindakan pedagogik yaitu membimbing, mengawasi, membekali, menasehati mewajibkan, dan menghukum siswa untuk kepentingan siswanya. Oleh karena itu sebagai seorang guru janganlah menjadi guru yang mengajarnya hanya berdasarkan mitos yaitu guru yang mengajarkan untuk menghafalkan rumus saja tetapi tidak tahu makna dan cara memperoleh rumus tersebut, karena hal tersebut dapat menghilangkan jati diri siswa. Selain itu apabila pengetahuan hanya satu arah berdasarkan pengetahuan guru saja maka pengetahuan tersebut akan terbatas dan akan menjadi transenden yaitu segala jiwa, raga dan pikiran orang lain menjelma pada hati seseorang. Sehingga dibutuhkan keikhlasan untuk mengusir segala bentuk gangguan yang nantinya akan menghasilka pendidikan berkualitas.

    ReplyDelete
  14. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebagai seorang guru harus mengerti batas-batas yang bisa kita lewati dan lalui dalam membelajarkan materi kepada siswa. Jangan sampai hakikat kita sebagai guru melanggar batas siswa dengan hakikatnya. Ketika itu terjadi maka yang ada siswa akan ketergantungan dan akan selalu berada di dalam bayang-bayang guru, itu merupakan suatu hal dimana guru akan menutupi hakikat siswa. Guru harus mendesain pembelajaran dimana siswa bisa berkreasi dengan naluri dan hakikatnya masing-masing sehingga bisa memiliki semangat untuk belajar.

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Terima kasih pak untuk tulisannya dalam elegi seorang guru menggapai batas. Elegi ini sangat bermanfaat bagi para calon pendidik seperti saya. Sebagai guru, memang sulit untuk menjadi guru yang baik bagi semua siswa-siswinya, akan tetapi hal itu bukanlah menjadi alasan seorang guru untuk terus berusaha menjadi guru yang baik. Setiap siswa-siswi memiliki karakteristik dan pendapat yang berbeda-beda, dan sebagai guru, kita harus dapat menghargai segala perbedaan itu dan berusaha untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Seorang guru hendaknya merefleksi diri, banyak belajar dari orang lain, dan sekitarnya agar mendapat banyak petunjuk dalam bertindak dan mengambil keputusan. Jangan pernah sekali-kali bersikap sombong dan merasa paling benar, karena kebenaran yang absolut hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  16. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari postingan ini yang saya dapatkan yaitu bahwa setiap manusia itu punya batasnya, selain itu seorang guru juga harus mengetahui batasnya. Jika kita tidak mengetahui batas kita maka jangan harap bahwa Rahmat itu akan menghampiri kita. Maka, ketahuilah batasmu.

    ReplyDelete
  17. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Sungguh, aku sendiri juga belum tahu sejauh mana batas dalam diri ini. Ulasan di penghujung kalimat membuat diri ini semakin bertanya-tanya, tempat apakah yang membuat seseorang tidak dapat lagi bertanya. Berharap tulisan ini memiliki kelanjutannya.

    ReplyDelete
  18. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Inilah yang mengungkapkan guru sebagai sebuah profesi dan guru yang menjadi passion sejati. Jadi guru itu gampang,jadi guru itu sulit, semua hanya tergantung persepsi masing-masing. Hanya ikhlas yang membuat seorang guru dapat menggapai batas itu.

    ReplyDelete
  19. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Guru sebagai pendidik tidak salah jika suatu saat mencapai batasnya. Namun yang harus dicermati bersama bahwa bagaimana menyikapi jika mencapai batas yang dimaksud. Karena seorang guru yang sudah mencapai batasnya cenderung akan mengalami penurunan performanya. Untuk itu batas yang dimaksud adalah pribadi sendirilah yang membuatnya. Oleh karena itu buatlah batas yang tidak terbatas, dan kembalikan lagi ke niat awal bahwa akan selalu istiqamah dalam mengajar dan mendidika siswa-siswa sehingga batas tersebut akan tersamar dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  20. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Keinginan seorang guru untuk mencerdaskan, memotivasi, membekali, mensehati semata-mata hanya untuk kebaikan siswanya. Namun ternyata segala kegiatan yang diniatkan untuk kebaikan siswa belum tentu berdampak baik untuk siswa dan bahayanya justru malah berdampak buruk. Setelah membaca elegi seorang guru menggapai batas, semua itu terjadi karena ternyata ada batasnya. Agar niat guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya itu berdampak baik pula maka guru harus menggapai batas karena sebenar-benar ilmu adalah berada di batas. Untuk menggapai batas dengan selalu berikhtiar dan berdoa memohon kemudahan kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Guru setelah menjadi guru sejatinya masih perlu untuk berguru. Untuk menggapaibatas yang dimaksud dalam elegi ini, memerlukan banyak usaha. Tak laintidak bukan adalah melalui tulisan, referensi, buku, dan juga ilmu guru tersebut. Jangan sampai ilmu yang diperoleh berakhir menjadi mitos. Usaha yang tidak membuahkan hasil. Namun usaha untuk mencapai batas pikiran itulah yang merupakan ilmu yang dimiliki. Sehingga kita harus berusaha untuk mencapai perbatasan tersebut.

    ReplyDelete
  22. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Guru adalah seorang yang dengan ikhlas mendidik, membimbing, mengarahkan dan memotifasi siswanya. Tidak hanya itu tugas guru yang lain berkaitan dengan sifat dan sikapnyapun adalah banyak sekali. Seperti yang kita tahu aspek yang harus dimiliki oleh guru yaitu profesionalitas, pedagogis, dan sikap yang secara bersinergi dalam diri seorang guru. Dan ketika berbicara tentang guru maka kata mulia patut disandangkan, namun dengan maksud guru yang benar-benar berdedikasi apa-apanya untuk siswanya. Karena ketika tidak maka kita akan bertemu dengan batas-batas yang membelenggu. Sehingga yang utama yaitu bagaimana untuk ikhlas dan ikhtiar. Dan dalam menggapai batas kebaikan yaitu dengan ikhtiar dan juga doa.

    ReplyDelete
  23. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih banyak prof. Marsigit atas ulasan di atas. Seperti sindiran tajam bagi kami para guru bahwa batas kita akan menjadi bayang-bayang batasan bagi siswa kita. Sungguh benar bahwa jangan sampai kita membeali mereka ilmu namun kita sombong dan tinggi hati serta menjadikan siswa kita lemah dan kita menganggapnya tidak bisa apapun. Jangan sampai kita bermaksud menasehati dan menggurui namun itu hanyalah sebenar-benar ambisi yang menyebabkan mereka hidup tidak bergairah, tidak bebas bergerak, bertindak, berpikir, berbicara, dan lain sebagainya. Sungguh apa yang menjadi batas kita bukanlah batas untuk siswa kita. Menggapai batas bagi kita bukanlah batas untuk siswa kita. Namun kita hanya diminta untuk fasilitator yang tidak otoriter terhadap murid kita, menjadikan mereka menggapai batas mereka masing-masing, dibalik niatan kita menjadikan mereka manusia yang lebih berkualitas dengan memberikan yang terbaik untuk kepentingan dan masa depan mereka, baik di dunia maupun akhirat. Maka iringilah setiap ikhtiar kita dengan berdoa dan memohon ampun kepada Allah swt, wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  24. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Menjadi guru bukanlah sebuah perkara yang mudah. menjadi guru tidak hanya sekedar mentransfer ilmu saja dan terkadanag guru yang hanya menggunakan metode ceramah atau istilahnya hanya mentransfer ilmu, mereka tidak meninjau lagi apakah ilmu yang ditransfer diserap kedalam pikiran siswa atau tidak. Guru yang baik adalah guru yang menempatkan dirinya sebagai fasilitator, karena dengan guru sebgai fasilitator, siswa dapat lebih aktif berpikir dan ilmu yang didapat lebih cepat diterima oleh siswa karena siswa itu sendiri yang lebih aktif menggunakan pikirannya. Memang bukan perkara yang mudah untuk menempatkan diri sebagai fasilitator, karena guru juga butuh persiapan yang matang. Butuh proses dan pemahaman yang baik mengenai bagaimana sebenar-benarnya menjadi seorang guru yang tidak membatasi pikiran mereka hanya karena pola pengajaran guru yang salah.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Terkadang ketika menjadi guru, kita berusaha membimbing sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya agar siswa memahami apa yang kita sampaikan. Kitapun selalu berusaha membantu siswa jika mereka mempunyai banyak masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Tetapi terkadang kita tidak menyangka, terdapat suatu titik, yang mana usaha kita membimbing para siswa justru membuat siswa tergantung dan tidak berdaya. Itulah titik yang selanjutnya disebut titik batas. Kita harus menyadari sebatas apa kita membimbing siswa agar siswa tidak sampai terlalu bergantung dengan kita. Adakalanya kita melepaskan siswa dalam artian membiarkan siswa mencari jawaban sendiri, inquiry, atau diskusi mandiri, untuk melatih kemandirian mereka.

    ReplyDelete