Mar 8, 2011

Elegi Sang Bagawat Menggoda Sarang Lebah




Oleh Marsigit

Raja Lebah:
Wk..wk..wk...hai semua prajurit lebah...sudahkah engkau melaksanakan tugasmu menjaga sarang lebah dan mencari makanan untuk telur-telurku?. Laporkanlah segala persoalan yang ada.

Prajurit Lebah:
Ampun paduka yang mulia sang Raja Lebah...tiadalah suatu kekurangan apapun yang ada pada sarang kita itu. Hanya sedikit persoalan kecil yang ingin saya laporkan.

Raja Lebah:
Apa masalahnya?

Prajurit Lebah:
Untuk segala jenis musuh...besar, kecil, tua, muda, sedikit, banyak, ...aku tidak merasa takut...sampai matipun aku pertaruhkan jiwaku untuk kebesaran sarang kita ini. Tetapi kali ini kami menghadapi fenomena yang agak aneh?

Raja Lebah:
Lho...fenomena apa?

Prajurit Lebah:
Kami menangkap ada getaran atau frekuensi yang tidak diketahui asalnya...tetapi sebetulnya cukup mengganggu bagi telur-telurmu. Jika dibiarkan maka telur-telurmu terancam bisa tidak menetas atau kalau menetas maka akan mengalami perubahan genetika. Jika telur-telur kita yang menetas nanti mengalami perubahan gen maka bisa membahayakan kerajaan kita...karena keturunan kita itu akan mempunyai sifat dan tabiat yang berbeda. Pelan tetapi pasti maka keturunan kita itu justru akan menjadi musuh kita sendiri.

Raja Lebah:
Wheh...lha.. dhalah.....aku perintahkan kepada engkau semua untuk mencari dimana dan siapa sumbernya. Tangkap dan bawalah ke sini. Jika perlu kita jadikan dia sebagai makanan telur-telurku.

Prajurit Lebah:
Sudah dicari kemana-mana tetapi tidak ditemukan.

Raja Lebah:
Kalau begitu ...strategi saya adalah ...pertebal dan perkuat benteng pertahanan kita. Semua tembok pelidung dibuat rangkap. Setiap lobang dipasang senjata penangkal.

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai Bagawat...sedang melakukan kegiatan apakah dirimu itu? Sejak tadi kelihatannya engkau mempunyai kegiatan yang bertujuan. Tetapi engkau itu kelihatan seperti meniup-niup udara? Untuk apakah? Bolehkah saya mengetahui?

Bagawat:
O...oo...Cantraka...engkau harus mengetahuainya. Kenapa? Jika aku capai maka engkau akan bisa menggantikanku. Demikian juga agar semua Cantraka murid-muridku mempunyai ketrampilan meniup udara seperti diriku ini...sehingga pada saatnya nanti bisa menggantika diriku.

Cantraka:
Tetapi tolong jelaskan wahai Bagawat....bagaimana cara meniup, apa yang engkau tiup, dan apa meksud tiupanmu itu?

Bagawat:
Oo..ooo tentu akan saya jelaskan. Dengarkanlah baik-baik. Sederhana saja teorinya. Saya sebetulnya sedang melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud melakukan experimen kecil tetapi dengan tujuan besar?

Bagawat:
Lihatlah di sana itu...! Di sana ada sebuah Kerajaan Lebah lengkap dengan Raja, Punggawa dan Prajuritnya. Disamping kebaikan-kebaikannya ...tetapi saya melihat terdapat keburukan-keburukan. Keburukan dari sifat Kerajaan Lebah itu antara lain: bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst.

Cantraka:
Lho...apa pedulinya?

Bagawat:
Kalau tidak ada kritik dari luar...maka mereka akan cenderung lebih bersifat hegemoni dan monopoli sampai sifat kanibalisme terhadap kerajaan-kerajaan lebah yang lain. Hal demikian tentu akan mengganggu keseimbangan ekosistem, psikosistem, culturalsistem, sociosistem, dan geostrategicsistem.

Cantraka:
Lantas...apa yang akan engkau lakukan?

Bagawat:
Itulah aku sedang meniup udara ini. Maksudku adalah dengan tiupan udaraku ini akan tercipta gelombang frekuensi lemah hingga sampai pada penghuni lebah itu. Selanjutnya akan tercipta suasana beranya. Nah suasana bertanya itulah yang saya harapkan akan membuka diri mereka terhadap dunia lainnya. Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Prajurit Lebah1:
Apa pedulinya tiaupan angin sepoi-sepoi kaya gini. Bagiku cuek saja...gak usah dipikirin.

Prajurit Lebah2:
Kalau cuma sekali sih gak apa-apa. Karena kejadiannya berkali-kali saya jadi merasa terganggu.

Prajurit Lebah3:
Lagi pula tiupan ini itu kan tak sebanding dengan tiupan angin kencang seperti biasanya? Tetapi karena polanya sama dan dengan durasi yang tetap pula...maka telah mempengaruhi intuisiku. Ketahuilah bahwa sebuah intuisi itu dapat dipengaruhi oleh fenomena berfrekuensi tetap dan kontinu.

Raja Lebah:
Benar apa kata Prajurit Lebah3...sebetulnya akan aku abaikan saja fenomena ini...tetapi ibarat suarat tetesan air di atas batu...suara khas dan frekuensi rutin talah menyebabkan ....intuisiku menjadi tertarik keluar. Hemmm....bagaimana cara mengatasinya?

Bagawat:
Sherrr...sherrrr....sherrr.....

Cantraka:
Wahai sang Bagawat...lapor. Ada seekor anak lebah setengah dewasa terjatuh di sampingmu itu. Ini dia aku tangkap...silahkan terimalah...dia masih hidup walaupun badannya kelihatannya lemas sekali.

Bagawat:
Ooo...ooo syukurlah...ini mungkin jalan yang diberikan bagi keberhasilan programku ini. Wahai si Anak Lebah...istirahatlah dulu, tenangkanlah pikiranmu, pelankan nafasmu, ....minumlah air putih ini...

Anak Lebah:
Lho ...engkau siapa? Ada orang ...kok tidak seperti biasanya. Biasanya orang-orang itu selalu mengejarku dan berusaha membunuhku. Tetapi engkau itu lain. Engkau malah menolongku. Terimakasih wahai orang tua atas pertolonganmu. Siapakah namamu dan dia...?

Bagawat:
Kenalkanlah...namaku Bagawat sedangkan dia itu si Cantraka. Wahai si Anak Lebah...terserahlah apa yang engkau pikirkan, apa yang akan engkau lakukan, apa yang engkau kerjakan, apa yang engkau rencanakan. Aku dengan Cantraka ini tak sengaja bisa menolongmu. Jika engkau ingin pulang dan minta saya antar...maka akan saya antar. Namun jika engkau ingin beristirahat di sini ya bolehlah. Aku akan mencarikan madu kesukaanmu dan tempat yang aman bagimu.

Anak Lebah:
Wahai sang Bagawat...pertemuanku dengan kamu kali ini telah merubah persepsiku. Persepsiku terdahulu adalah bahwa semua unsur-unsur di luar diriku itu bersifat konfrontatif dengan duniaku. Itu sebabnya maka kami bersifat protektif.

Bagawat:
Apakah ada maksud dibalik pernyataanmu itu yang ingin engkau sampaikan kepadaku?

Anak Lebah:
Sungguh darimu aku telah belajar nilai-nilai kehidupan. Aku telah menangkap nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif...dst.

Bagawat:
Kongkritnya seperti apa?

Anak Lebah:
Setelah badanku sehat...aku akan pulang dan akan berjuang untuk menyampaikan temuanku. Aku bahkan ingin melakukan sosialisasi perihal temuanku. Lebih dari itu aku juga ingin menyampaikan proposal kepada Rajaku. Proposal itu ada intinya adalah bagaimana mengembangkan Kerajaan Lebah yang tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, .....dst.

28 comments:

  1. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sesuatu yang kecil jika dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi sesuatu yang besar. Misalkan kita ingin melakukan perubahan pada bangsa dan negara kita menuju negara yang lebih baik, lakukanlah mulai dari hal yang kecil. Dengan belajar dan meraih ilmu, itulah salah satu hal kecil yang kita bisa lakukan agar kelak bisa menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan negara.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  2. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Dari elegi diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa individu atau kelompok yang bersifat tertutup, angkuh, anti pembaharuan, anti perubahan, dominan, arogan, dan tidak menghargai ide orang lain akan cenderung lebih betsifat hegemoni dan monopoli sampai kanibalisme terhadap individu atau kelompok lain, yang mana akan mengganggu keseimbangan sistem ekologi, psikologi, budaya, sosiologi, dan geostrategicologi. Karena itu mereka membutuhkan kritik dari luar untuk berkembang. Karena sebenar-benarnya manusia tidak dapat hidup sendiri.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  3. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian, dan juga kompetensi sosial merupakan empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Khusunya dalam kompetensi sosial, guru harus dapat menerima kritik dan saran yang diajukan baik oleh siswa maupun rekan sejawat agar lebih baik lagi. Juga guru sebisa mungkin memberikan teladan baik bagi peserta didik dengan tidak tertutp terhadap dunia luar, dan bisa bergaul dengan siapa saja.

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum Wr. Wb
    Elegi ini menggambarkan bahwa sebagai manusia ketika telah mempunyai segala sesuatu yang diinginkan misalnya ilmu, kekuasaan, kedudukan, dll hendaknya manusia tidak lupa untuk memperhatikan dan mendengarkan kritik serta saran. Karena dengan kritik dan saran inilah akan membuat kita semakin baik kedepannya, tidak menjadi pribadi yang tertutup, tidak menjadikan kita sombong, bisa menghargai ide dari orang lain, dll. Serta dengan kritik dan saran akan membuat kita mengetahui kekurangan-kekurangan kita.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  5. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Jadi manusia berusaha untuk menghindari hal-hal yang dapat membuat sombong, angkuh, arogan dan sebagainya. Itu akan membuat kita bisa dihindari oleh orang lain. Marilah kita bersifat terbuka kepada siapa saja dan saling tolong menolong. Setiap manusia pasti saling membutuhkan(sosial) untuk melaksanakan aktivitasnya. Dan juga harus serta merta menghargai dan menghormati orang lain. Jadi jika ada kritik dan saran yang baik untuk memperbaikin sikap kita maka perlu diterima dan menjadi kita bisa bangkit lagi serta memperbaikinya.

    ReplyDelete
  6. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ketika seseorang atau suatu keluarga atau suatu forum atau suatu perkumpulan tertutup, protektif terhadap dunia luar, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap hanya diri mereka, arogan, eksploitasi akan berdampak buruk terhadap seseorang atau suatu keluarga atau suatu forum atau suatu perkumpulan tersebut. Tetapi ketika salah satu diantara mereka bergaul atau bersosialisasi dengan dunia luar, maka wawasannya akan bertambah, perspektif yang selama ini dibatasi atau tertutup akan berubah dengan seketika dan seharusnya berubah menjadi lebih baik lagi, dan yang paling penting adalah ketika kita mengetahui hal yang baik sebaiknya kita menyampaikan kepada teman-teman kita atau orang lain agar kebaikan itu menjadi keberkahan.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Setiap makhluk diciptakan untuk saling bersosialisasi sehingga tercipta keseimbangan. Jika suatu kelompok bersikap tertutup, angkuh, anti pembaharuan, arogan, eksploitasi akan berdampak buruk tidak hanya pada kelompok tersebut tetapi juga pada kelompok lain. Oleh karena itulah sifat suatu kelompok tersebut harus diubah agar tidak merusak keseimbangan yang ada. Meskipun proses merubahnya akan terasa sangat sulit tetapi jika dilakukan pelan- pelan secara terus menerus tentu akan membuahkan hasil sebagaimana upaya yang dilakukan begawat. Karena sesungguhnya kelompok tersebut bersikap tertutup bisa jadi karena kurangnya sosialisasi dengan masyarakat luar dan belum melihat kebaikan- kebaikan yang ada diluar sana.

    ReplyDelete
  8. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Manusia itu hidup untuk belajar. Belajar itu adalah proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Manusia yang belajar pasti menggunakan akal pikirnya untuk bertindak. Proses belajar memang tidak mudah, namun jika terus dilatih dan pantang menyerah insyaallah akan mendapat hidayah dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial kita wajib bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama, termasuk mau menerima saran, kritik, dan masukan dari orang lain meskipun kritk itu menyakitkan. Hal tersebut semata semata tidak lain tidak bukan adalah untuk membangun diri kita kedepannya agar lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  10. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Elegi di atas menggambarkan kerajaan lebah yang bersifat tertutup, angkuh, anti pembaharuan,dominan, arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai ide yang lain, dan protektif.Mereka terkurung dalam sifat dan sikap tersebut sehingga mereka tidak dapat menyadari akan kekurangannya karena menganggap mereka sebagai yang paling benar dengan tidak membuka mata untuk melihat dunia luar (ligkungan).Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan maka elegi ini dapat menggambarkan pembelajaran saat ini, dimana banyak guru masih tertutup dengan dunia luar dengan tidak mau menerima inovasi dari luar karena menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah yang paing benar dan juga sudah terlalu terbiasa dengan pembelajaran rutin yang mereka laksanakan. Memang bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan dan menerima sesuatu hal yang baru secara terbuka, tapi sebaiknya itu harus dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Percakapan di atas mencerminkan kondisi manusia saat ini, bersifat tertutup, bersifat angkuh, anti pembaharuan, menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, anti perubahan, mematenkan eksploitasi, bersifat dominan, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, komunikasi searah, tidak menghargai tamu, tidak menghargai ide yang lain, mencuri kebaikan orang lain, bersifat penjilat, menekan bawahan, bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, menutup telinga dari bisikan baik, bersifat eksklusif, protektif...dst.
    Belum lagi, sikap hedonisme dan konsumtif.

    ReplyDelete
  12. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Saya akan mmbahas beberapa poin. Yang pertama kondisi manusia yang angkuh. Sudah banyak bukti di sekitar kita. Semakin berkembangnya IPTEK, manusia melupakan adat kesopanannya. Tidak ada lagi bertegur sapa, silaturrahmi antar tetangga, menghargai tamu. Seolah-olah angkuh dan memiliki dunia sendiri dengan gadget yang mereka miliki.

    ReplyDelete
  13. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Kedua yaitu menekan bawahan. Tidak dapat dipungkiri banyak kaum miskin yang semakin tertindas karena memiliki bos/majikan yang semena-mena. Mana sikap tenggang rasa dan kasih sayang Indonesia dulu? Sudah mulai lunturkah? Hidup ini tidak sendiri, setiap orang berhak untuk bahagia dan merdeka. Bukan penindasan, mangambil hak orang lain, dan ingin berkuasa sendiri.

    ReplyDelete
  14. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Elegi sang bagawat menggoda sarang lebah ini menggambarakan fenomena dikehidupan sehati-hari. Kerajan lebah beserta penghuninya dapat berarti pendidikan di Indonesia yaitu guru atau pendidik. Seorang guru harus bersifat terbuka terhadap hal-hal yang baru karena perkembangan zaman yang semakin maju. Metode pengajaran yang diberikan juga sebaiknya harus dirubah yang semula komunikasi dikelas hanya berjalan satu arah yaitu guru hanya menjelaskan tanpa meminta pendapat dari murid menjadi komunikasi dua arah siswa dan guru saling tanya jawab.

    ReplyDelete
  15. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Guru harus membuat budaya bertanya didalam kelas agar siswanya termotivasi untuk mempunyai sifat ingin tahu. Pertanyaan dapat dimulai dengan pertanyaan yang sederhana terlebih dahulu untuk membiasakan siswa. Sifat tertutup lebah juga dapat diwakilkan oleh sifat guru yang tidak mau mengikuti perkembangan kurikulum, tidak mau mngembangkan dirinya dalam metode mengajar.

    ReplyDelete
  16. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Berdasarkan elegi di atas, menurut saya sarang lebah yag dimaksud adalah pemerintah kita. Memang tidak semua pemerintah atau wakil rakyat kita bersifat tertutup angkuh, anti pembaruan, dan sebagainya. Ada sebagian yang pro rakyat. Namun banyak juga wakil rakyat yang hanya enaknya saja duduk di pemerintahan, melakukan korupsi mengambil uang rakyat. Untuk mewujudkan pemerintahan yang benar-benar bersih tidaklah mudah. Mungkin saat ini sebagai seorang pendidik tugas kita adalah menyiapkan penerus bangsa yang nantinya dapat mewujudkan pemerintahan yang bersih.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  17. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Melalui elegi ini kita belajar bahwa sifat yang tertutup dan angkuh tidak akan dapat membuat kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama hidup, kita sebaiknya lebih terbuka dan bersedia belajar dari berbagai sumber agar pengetahuan kita berkembang. Penting juga bagi kita untuk dapat bergaul dengan dunia di luar lingkungan kita, baik dalam kanca nasional maupun internasional agar semakin banyak ilmu yang kita peroleh. Dengan demikian, kita juga dapat memperbaiki ilmu yang mungkin selama ini kita anggap benar tetapi sesungguhnya tidak tepat. Tentu dalam melakukan itu semua kita tetap harus melandaskan diri kita pada spiritualitas dan ati diri kita sehingga kita harus pandai pandai memilahnya. Selain itu, dari elegi ini kita juga belajar bahwa ilmu yang kita miliki perlu disebarluaskan agar diketahui banyak orang dan dapat dikembangkan secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  18. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Sikap tertutup terkadang tidak bisa dihindari. Namun Semua itu hanya berdasar pada dekatnya jarak pandang seseorag dalam mengenal dunia ini. Setiap manusia punya pandangan serta pendirin. Sehingga ketika seseorang tidak mau terbuka dengan hal-hal yang jauh dari pandangnya, maka ia akan bersikap hati-hati. Namun ikhtiar singkat seperti itu hanya menghasilkan setitik buih dari ribuan buih yang tersebar. Ya bahkan hewan pun melakukan migrasi mungkin bukan hanya sekedar mencari makanan, namun untuk membuka pandangan mereka terhadap dunia yang baru.

    ReplyDelete
  19. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Sarang lebah diibaratkan suatu negara. Sejatinya suatu negara dapat maju jika memiki rakyat yang kritis, peka keadaan, siap menerima kritikan dan masukan dari luar. Sebagai pendorong untuk lebih maju lagi dengan melakukan berbagai perbaikan.

    ReplyDelete
  20. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Apa yang ada dalam diri kita itu adalah tesis sedangkan diluar diri kita itu adalah anti tesisnya, maka harus bagi setiap orang itu membuka jalan keluar dari pengetahuannya yang bersifat subyektif agar kedepannya mengasilkan sintesis dari anti tesis yang diterimanya sehingga pengetahuan yang didapat sebenar-benar tesis buah dari pengetahuan yang subyektif dan obyektif juga. Karena manusia itu sebenar-benarnya kan bersifat kontradiksi.

    ReplyDelete
  21. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Dari elegi sang begawat menggoda sarang lebah tersebut dapat saya ambil hikmah bagaimana kita bisa belajar dari karakter anak lebah. Setelah diberi pengertian ia bertekad merubah persepsinya yang tidak memberikan manfaat di luar golongannya. Saat kita tumbuh dalam suatu golongan atau perkumpulan orang yang hanya memikirkan golongannya sendiri, lalu Tuhan memberikan kita hidayahNya, maka kita pun hendaknya mampu berjuang dan berusaha merubah persepsi yang telah dianut di dalam golongan kita yang hanya memikirkan kesejahteraan golongan. Berusaha lah untuk terbuka, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya kita sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, jangan mencuri kebaikan orang lain, jangan bersifat penjilat, jangan menekan bawahan, jangan bekerjasama dengan Neopragma Dunia Selatan, jangan menutup telinga dari bisikan baik, jangan bersifat eksklusif, dan jangan protektif, mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Tentu hal di atas tidak mudah untuk dilakukan. Namun awal dari yang baik adalah niat yang baik. Maka mari kita luruskan niat kita terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  22. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Sebagai seorang pemimpin atau pejabat baik dalam masyarakat maupun negara adalah dengan melayani dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin haruslah orang yang dapat menerima kritik dan saran dari bawahannya siapapun itu diterima dengan legowo. Pemimpin yang baik dapat berkerjasama dengan orang lain, menghargai ide orang lain, mendengar suara rakyat dan memberantas tindak perbuatan yang melanggar hukum. Pemimpin yang baik juga diharuskan dapat memberikan kesempatan, menghargai dan mendukung masyarakatnya untuk mengembangkan baik diri, kelompok maupun negara itu sendiri sehingga inovasi-inovasi yang dikembangkan dapat bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  23. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Dalam hidup alangkah indahnya hidup ini jika kita mampu hidup bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya adalah dengan cara berupaya berbagi pada sesama. Menuntut ilmu dan meneliti kemudian membagikan apa yang diteliti pada orang-orang disekeliling kita. Saling mengingatkan dalam kebaikan terutama untuk para pemimpin negeri agar tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  24. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Elegi sang bagawat menggoda sarang lebah menggambarkan bentuk kekuasaan pemerintah yang ada, yaitu pemerintahan yang bersifat tertutup, bersifat angkuh, bersifat arogan, mengandalkan kekuasaan, dan komunikasi searah. Model pemerintah seperti ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Di bidang pendidikan pun, Guru tidak seharusnya bersifat tertutup dan diktator terhadap siswa kita. Guru yang baik adalah guru yang mampu menjadi fasilitator untuk siswanya. Memberikan pembelajaran yang meningkatkan berkembangnya kekreatifan siswa dalam mengembangkan konsep matematika dengan mengaitkannya pada pengalaman mereka.

    ReplyDelete
  25. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Pada elegi ini dijelaskan bahwa sarang lebah bersikap tidak semestinya, saya ibaratkan sarang lebah sebagai pemimpin-pemimpin negara ini yang terkadang bersikap tertutup, angkuh, sombong, arogan dan hanya berkomunikasi satu arah saja tanpa mendengarkan pendapat orang lain. Orang tersebut tergolong kepada orang yang berbahaya di dunia, karena tidak peduli dengan orang lain dan tidak memahami hidup bergotong-royong.

    ReplyDelete
  26. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Untuk mencapai dimensi yang lebih tinggi maka yang pertama yang kita lakukan adalah terbuka dengan segala kritikan, satu kritikan lebih memacu kita untuk menjadi lebih baik dari pada seribu pujian yang kita terima, dengan menambah teman atau meningkatkan pergaulan akan membuat kita menjadi lebih maju. Dari elegi di atas menggambarkan bahwa anak lebah, setelah diberi kesadaran ia bertekad merubah persepsinya yang tidak memberikan manfaat di luar golongannya. Saat kita tumbuh dalam suatu golongan atau perkumpulan orang yang hanya memikirkan golongannya sendiri, lalu Tuhan dengan cara-Nya yang indah memberikan kita hidayah-Nya, maka kita pun hendaknya mampu berjuang dan berusaha merubah persepsi yang telah dianut di dalam golongan kita yang hanya memikirkan kesejahteraan golongan. Dalam hal ini kita dapat mengasumsikan lebah itu sebagai siswa, jika kita sebagai guru mampu memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan dengan baik, maka satu murid yang kita ajarkan kemudian mengajarkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada yang lain dan seterusnya maka akan tercipta suatu kehidupan yang aman, kondusif yang berlandaskan kecerdasan spiritual.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  27. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Lebah itu bagaikan orang yang sombong. Maksud saya, selalu saja dia mendengung dan tidak mendengarkan pendapat orang lain. Padahal tiada ilmu pengetahuan didapat jika tidak bertanya dan tidak mendengarkan jawaban. Pertanyaan kita akan kita jawab sendiri adalah sebuah kontradiksi. Mengapa kita bertanya jika kita sudah tahu jawabannya? Bukannya kita menutup diri dengan dunia luar. Kita hanya memfilternya. Itu diperbolehkan karena kita mempunyai tunas-tunas muda yang harus kita jaga hingga tumbuh tinggi dan siap menjadi pondasi kokoh suatu bangsa.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  28. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    dalam elegi ini pada saat anak lebah membuat persepsi baru bahwa dia telah belajar nilai-nilai kehidupan yang humanis, alami, spiritual, demokratis, berbudaya, konstruktif, dll. Persepsi itu muncul setelah sang begawat memberikan "transfer filsafat" dengan mengenalkan sesuatu yang "baru" bagi si anak lebah. Yang akhirnya membangun filsafat pada diri si anak lebah itu dan akan menularkan pada lebah-lebah yang lain. Dan hal itu juga menjadi modal dasar untuk mengubah sistem sarang lebah agar menjadi sesuatu yang tidak bersifat tertutup, tidak bersifat angkuh, tidak anti pembaharuan, tidak menganggap seolah-olah hanya mereka sendiri yang ada, tidak anti perubahan, tidak mematenkan eksploitasi, tidak bersifat dominan, tidak bersifat arogan, tidak mengandalkan kekuasaan, tidak hanya komunikasi searah, tetapi menghargai tamu, tetapi menghargai ide yang lain, tidak mencuri kebaikan orang lain, tidak bersifat penjilat, tidak menekan bawahan, tidak menutup telinga dari bisikan baik, tidak bersifat eksklusif, dan tidak protektif. Serta senantiasa mendengar suara rakyat, memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id