Mar 7, 2011

Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung




Oleh Marsigit

Pakar Pendidikan Bingung Utama:

Waha..haha..bingung aku. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam pendidikan di negeri ini. Bingungnya lagi aku tidak bisa menjawab mengapa diriku itu disebut pakar pendidikan.

Moderator:
Hai..Pakar Pendidikan Bingung Utama...saatnya anda dipersilahkan untuk bicara. Para peserta seminar nasional pendidikan sudah beberapa saat menunggumu berbicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Wuha..oh ..ternyata aku harus bicara ta? Lalu apa topiknya atau temanya? Maaf aku terlena sesaat karena aku tadi ternyata tergoda memikirkan persoalan yang lain. Maaf..maaf.

Moderator:
Bukannya bapak sudah diberi undangan? Baiklah, temanya tentang Perbandingan Metode Pengajaran di Sekolah dan di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB). Bagaimana menurut pendapat bapak?

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Maaf..sebetulnya aku tidak paham betul seluk-beluk apalagi hakekat Metode Pembelajaran (Oh maaf..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja). Tetapi karena saya diangap pakar dan diundang sebagai narasumber, maka saya harus tampil meyakinkan. Saya harus tampil meyakinkan walaupun ada keraguan di dalam diriku karena kekurang pahamanku ((Oh maaf..mengapa saya ucapkan lagi..yang tadi mestinya hanya saya ucapkan dalam hati saja).

Moderator:
Silahkan bapak nara sumber sekarang waktu dan tempat saya haturkan untuk bapak, untuk segera bicara.

Pakar Pendidikan Bingung Utama:
Lha..menurut saya gampang saja. Lihat saja gejalanya. Anak itu lebih suka nggarap soal, dari belajar. Anak lebih suka belajar di bimbel karena bimbel menyediakan trik-trik. Buat apa susah-susah belajar ala sekolah yang bertele-tele. Malah metode di sekolah itu merupakan pemborosan. Mengapa? Karena di sekolah para siswa mempelajari hal yang didak keluar dalam UN. Gitu saja. Jadi menurut saya, sekolah itu dibubarkan saja. Atau paling tidak sekolah harus merombak metode menjadi seperti metode di bimbel? Kalau nggak mau mengadaptasi metode bimbel ya bubarkan saja Departemen Pendidikan Nasional, dan ganti dengan Departemen Bimbingan Belajar Nasional. Begitu beres.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Waha..hihi..hihi...inilah yang aku mau. Aku tak terlalu pedulilah dengan benar dan salah. Yang penting aku mendapat berita besar. Bukannya berita besar itu biasanya benar. Toh yang bicara ini adalah Pakar Pendidikan Bingung Utama. Walaupun bingung kan pakar utama. Setidaknya juga mengobati kebingungan saya. Masabodoh dengan orang ideal yang sok ngerti hakekat pendidikan. Wahai para sobatku...aku punya berta besar buatmu. Yakinlah bahwa berita itu tentu benar, karena berasal dari Pakar Pendidikan Bingung Utama.

Guru Bingung Dewasa:
Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..setelah mendengarkan uraianmu, yang tadinya saya tidak bingung malah saya sekarang menjadi bingung. Mengapa engkau menyebarkan kebingungan-kebingungan pendidikan kepada diriku?


Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Engkau bingung karena belum mengambil sikap. Agar engkau tidak bingung maka engkau harus ikhlas mengakui kesalahanmu sebagai guru di sekolah yang selama ini mempraktekan metode pembelajaran tidak efektif, tidak efisien, boros, tak keluar di UN, ...dst. Maka segera bertobatlah dan mengakui kesalahanmu.

Tentor Bimbel Berbesar Hati:
Waha..bagus..bagus..begitulah mauku. Terimakasih aku ucapkan kepada panitia seminar. Lain lagi kalau mengundang pakar pendidikan ambil pakar yang bingung-bingung saja. Lebih baik aku membayar berapapun pakar pendidikkan bingung dari pada bekerjasama dengan Guru Muda Sadar. Wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya, jangan tanggung-tanggung, umumkan saja sekarang juga di masmedia tentang hasil-hasil seminar yang gemilang ini.

Pakar Pendidikan Bingung Madya:
Baiklah...wahai sobat-sobatku...aku membawa khabar gembira, yaitu hasil-hasil pemikiran Pakar Pendidikan Bingung Utama yang menyatakan BAHWA METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH TERTINGGAL DIBANDING DENGAN TRIK BELAJAR DI LBB. Bacalah pengumumanku itu karena sudah aku muat diberbagai mas media termasuk internet, milinglis, dsb. Wahai semua guru dan sekolah-sekolah renungkanlah dalam-dalam TEMUAN AGUNG ini.

Guru Sadar Pembina:
Protes...wahai Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya..jangan asal bicara kamu itu. Aku memang tak begitu paham tentang hakekat metode pembelajaran itu. Tetapi aku tidak terima jika sekolah-sekolah disalahkan dan dibandingkan hanya sekali hanya dengan sebuah lembaga bimbingan belajar. Naif itu.

Pakar Pendidikan Bingung Utama dan Pakar Pendidikan Bingung Madya:

Hai..Guru Sadar Pembina..jangan sok berani engkau. Ketahuilah apa implikasi dari temuanku itu? Implikasinya adalah jika semua Pejabat Pendidikan Pusat sudah percaya omonganku, maka sekolahmu akan saya bubarkan. Ketahuilah tidak hanya itu, departemenmu yaitu Departemen Pendidikan Nasional juga harus diubah menjadi Departemen Bimbingan Belajar Nasional.

Guru Sadar Pembina, Guru Sadar Madya, dan Guru Sadar Muda:

Ohohoh..UN...UN? Demikianlah akibat-akibat yang ditimbulkan oleh karena perilaku dirimu. Para Pakar Pendidikan telah engkau buwat bingung dan telah engkau butakan mata dan engkau tulikan telinganya. Mereka telah berbuat sesuai dengan kepentingan diri sendirinya masing-masing. Ya Tuhan berilah pahala dan terimalah di sisimu UJian Nasional jika dia itu benar dan bermanfaat secara hakiki. Tetapi kutuklah dia dan masukkanlah ke neraka jika dia memang telah berlaku dholim di negeri ini. Dengarkanlah doa-doa orang lemah ini ya Tuhan. Amiin.

Yogyakarta, 2 Januari 2010

37 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Di dunia pendidikan zaman sekarang, bimbel-bimbel dan guru privat sangat merajalela. Apakah karena anak ingin belajar lebih banyak? Cenderungnya tidak, kebanyakan anak mengikuti bimbel atau les privat karena mereka tidak paham pelajaran di sekolah atau mereka dibantu mengerjakan pr dan latihan untuk ulangan. Inilah yang salah karena diharapkan selain di sekolah anak belajar mandiri untuk mengeksplor karakternya lebih dalam dan luas lagi. Tapi apakah kita menyalahkan pengada bimbel atau privat? Tidak. Mereka hanya hadir sebagai solusi sementara atas masalah pendidikan di sekolah. Seharusnya guru sekolah lebih meningkatkan lagi kemampuannya dalam mengajarkan siswanya. Mengakomodasi siswa-siswa yang lemah dan memotivasi mereka. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat harus dilakukan guru. Diharapkan jika pendidikan di sekolah saja sudah bagus, maka akan lebih sedikit anak-anak yang tergantung pada bimbel ataupun les privat. Inilah indikator kesuksesan pendidikan sekolah.

    ReplyDelete
  2. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Munculnya bimbel merupakan akibat dari adanya masalah yang dirasa perlu diselesaikan, misalnya ketidakpahaman siswa terhadap materi di sekolah. Meningkatkan kenyamanan dan ketertarikan siswa untuk belajar di sekolah mungkin dapat menjadi salah satu solusi supaya siswa tidak tergantung kepada bimbel yang kebanyakan hanya menyajikan trik-trik cepat untuk memperoleh jawaban karena hal ini dapat mempengaruhi kemauan dan kemampuan belajar siswa di tingkat selanjutnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya bimbel juga membantu karena kita sadar bahwa tidak semua siswa mampu belajar sendiri sedangkan guru tidak bisa memantaunya 24 jam dan orang tua pun belum tentu mampu membantu anaknya belajar.

    ReplyDelete
  3. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Pembelajaran di sekolah memang berbeda dengan pembelajaran yang ada di bimbingan belajar. Sebagian besar motivasi anak mengikuti bimbingan belajar adalah untuk mendapatkan pemahaman dengan cara yang cepat dan ironisnya lagi sebagian merasa dimudahkan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, karena dalam bimbingan belajar sering sekali dibantu akan adanya penyelesaian dengan urutan sistematis. Begitu juga dalam menyikapi UN bimbingan belajar memberikan trik dan ringkasan terpadu untuk persiapan menghadapi UN. Sebenarnya di sekolah hal serupa juga dilakukan tapi mungkin penyampaian dan pendalaman materi yang menurut siswa kurang terfokus membuat bingung para pengajar. Semoga pemerintah kita melalui para pakarnya dapat menetapkan kebijakan yang tepat dan terbaik bagi semuanya. Sehingga adanya UN nasional ini tidak menjadi suatu kebingungan kembali.

    ReplyDelete
  4. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Inilah yang terjadi pada Pendidikan di negeri ini saat Ujian Nasional yang pada dasarnya merupakan alat ukur kemampuan siswa justru dijadikan sebagai indikator penentu kelulusan. Hal ini tentunya membuat semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan khawatir. Guru dan sekolah khawatir siswanya tidak lulus UN. Orangtua khawatir anaknya tidak lulus UN. Siswa pun khawatir dirinya tidak lulus UN. Sehingga fokus utama guru, orangtua dan siswa menjadi agar lulus UN. Berbagai cara pun dilakukan, salah satunya dengan mengikuti Bimbel, instansi yang terbebas dari peraturan pendidikan pemerintah sehingga dapat mengabaikan makna penting dari proses pembelajaran dan lebih fokus pada hasil akhir untuk lulus UN. Oleh karena itu, makna sebenarnya dari UN haruslah dikembalikan sebagai alat ukur bukan penentu.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  5. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP PPs UNY Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum, Wr.Wb.
    Fenomena yang terjadi dalam pendidikan Indonesia memang seperti apa yang dituliskan dalam elegi ini. UN seolah-olah menjadi tujuan utama siswa selama mengikuti pembelajaran di satuan pendidikan. Dengan kondisi ini, berjamurlah bimbingan belajar di setiap daerah seantero nusantara. Bimbel berlomba-lomba untuk menarik perhatian siswa dengan menawarkan berbagai trik-trik mengerjakan cepat soal UN maupun ujian masuk perguruan tinggi. Hal ini, seolah menggerus dan melibas habis proses pembelajaran yang telah diikuti siswa selama belajar di sekolah. Jika kita kembalikan pada hakekat belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat. Hakekat belajar dan pembelajaran tidak akan pernah secara utuh diperoleh hanya dengan mengerjakan soal-soal dalam waktu 1-2 jam saja (seperti yang terjadi di dalam bimbel).

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum Wr. Wb
    Ujian Nasianal (UN) merupakan hal yang masih menjadi polemic dalam dunia pendidikan. Dikarenakan ketika siswa sekolah tujuan terakhir mereka adalah untuk bisa lulus UN dengan nilai yang memuaskan. Hal inilah yang mengikis hakekat pendidikan, dimana seharusna siswa belajar untuk mendapatkan ilmu sehingga akan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi dengan UN pembelajaran berubah menjadi mengejar target lulus UN dengan nilai yang baik. Oleh karena itu perlulah diadakan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan UN agar nantinya tujuan UN yang sebenar-benarnya bisa dicapai.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  7. Dita Aldila Krisma
    1330241002
    Pendidikan Matematika

    Adanya LBB dan privat yang saat ini marak mungkin awalnya dijadikan solusi untuk membantu siswa dalam belajar, ketika disekolah belum paham maka di LBB atau privat akan dijelaskan kembali. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa LBB memberikan trik-trik cepat mengerjakan soal sehingga dapat menimbulkan rasa suka siswa terhadap LBB daripada di sekolah. Padahal di sekolah yang harusnya bisa lebih memahamkan dan memberikan pembelajaran hingga nantinya dia lulus. Di negara kita, alat ukur kemampuan siswa ketika lulus adalah ujian nasional tetapi terkadang ujian nasional ini dianggap sebagai indikator penentu sehingga mungkin para siswa berburu nilai di ujian nasional, bukan berburu ilmu secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Maraknya Lembaga Bimbingan Belajar(LBB) merupakan salah satu dampak dari penyelenggaraan UN sebagai tolak ukur pendidikan di negeri ini. Ujian Nasional yang hanya soal pilihan ganda merupakan suatu tuntutan yang dapat dipenuhi LBB yang memberikan trik cepat dalam menyelesaikan soal. Sedangkan materi yang diberikan di lembaga soal yang begitu banyak dan panjang lebar tidaklah relevan dengan UN yang hanya berupa pilihan ganda. Rumitnya materi yang diajarkan di sekolah sedangkan siswa hanya dituntut menyelesaikan soal pilihan ganda menjadikan mereka lebih menyukai trik cepat yang diajarkan di LBB. Sedangkan sebenarnya metode yang diajarkan di lembaga sekolah dan LBB sama pentingnya tergantung ruang dan waktu. Menurut saya alangkah lebih baik jika siswa memahami materi dasar, konsep dasarnya terlebih dahulu yang diajarkan di lembaga sekolah untuk kemudian tahu trik cepat menyelesaikan suatu soal dengan dasar- dasarnya.

    ReplyDelete
  9. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Kehidupan ini adalah proses belajar sepanjang hayat. Belajar bisa kapan saja dan di mana saja tergantung ruang dan waktu. Menurut saya, manusia selalu terbiasa dengan kebiasaan instan yang hanya mencari yang gampang dan menyampingkan yang sulit. Ketika kita mempelajari sesuatu yang sulit, kita akan berusaha semaksimal mungkin mengerahkan segala kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman untuk menggapai tujuan kita. Jika kita mau berusaha dan berdoa, Tuhan akan memudahkan jalan kita. Jika kita bisa menggapai tujuan dengan cara yang sulit yang lebih bermakna, mengapa kita mencari jalan yang mudah ?

    ReplyDelete
  10. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Bimbingan belajar dapat dijadikan sebagai pendidikan tambahan untuk mendapatkan kesempurnaan ilmu pengetahuan siswa. Bimbingan belajar juga membantu tugas sekolah untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Dengan adanya lembaga bimbingan belajar ini banyak siswa yang ingin berbondong-bondong kesana, karena ingin mendapatkan ilmu yang lebih, selain itu juga diberikan tips dan trik agar siswa dapat mengerjakan soal dengan mudah dan cepat. Sebenarnya tidak salah jika siswa mengikuti bimbingan belajar, dikhawatirkan siswa cepat lelah karena terlalu menumpuk materi di pikirannya. Alangkah baiknya jika siswa bisa mengatur waktunya dengan baik sehingga bisa mengikuti ujian nasional dan tentunya bisa menjawab soal dengan benar dan juga ilmu yang mereka dapatkan bisa bermanfaat.

    ReplyDelete
  11. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    UN diselenggarakan untuk mengukur kemampuan yang dimiliki siswa, namun justru dengan ujian nasional memiliki dampak yang amat besar bagi keadaan pendidikan di Indonesia, dimana UN dijadikan tolak ukur kesuksesan siswa yang memiliki dampak ketika ia hendak melanjutakan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akibatnya orientasi pembelajaran mengutamakan hasil akhir(UN) tanpa memperhatikan proses (pemahaman siswa terhadap materi). Dengan tuntutan nilai UN yang harus tinggi maka mendorong munculnya lembaga bimbingan belajar yang menjamin kesuksesan dalam UN dengan fasilitas trik-trik cepat dan kilat untuk menjawab soal-soal UN. Akhirnya terjadi pergeseran makna penyelenggaraan UN dimana kebanyakan siswa hanya berpikir bagaimana bisa menjawab soal-soal UN dengan benar tanpa harus tahu darimana dan bagaimana jawaban itu berasal.

    ReplyDelete
  12. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Siswa merasa lebih suka belajar trik-trik di LBB dibanding belajar di sekolah sangat lama dan terkadang sangat membosankan. Tetapi ingatlah bahwa LBB hanya mengajarkan trik-trik cepat tanpa mengajarkan bagaimana trik itu didapat, bagaimana rumus itu diperoleh, dan hanya digunakan untuk menghadapi UN saja, dan setelah UN biasanya terik itu akan hilang dengan begitu saja. Berbeda dengan pelajaran di sekolah yang sangat dengan sabar membimbing siswa untuk memahami kok bisa ini seperti ini, bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan masih banyak sisi positif lainnya.

    ReplyDelete
  13. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Tetapi ada hal yang harus diingat yaitu tidak semua Lembaga Bimbingan Belajar hanya memberikan trik-trik untuk menjawab soal-soal dengan cepat. Ada pula bimbingan belajar yang memang mengajarkan konsep seperti belajar di sekolah tetapi hanya suasananya saja yang berbeda yaitu lebih santai. Seharusnya lembaga bimbingan belajar itu seperti ini yaitu mengedepankan pemahaman konsep bukan hanya mengajarkan trik-trik dalam mengerjakan soal.

    ReplyDelete
  14. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pola belajar di sekolah dengan di bimbel memang berbeda. Di bimbel, siswa cenderung diberikan jalan pintas. Pola belajar di bimbel ini sangat cocok digunakan jika tujuan belajar hanya untuk menghadapi UN, namun cenderung tidak dapat membantu siswa dalam proses mengkontruksi pikirannya. Walaupun memang pada dasarnya tujuan UN adalah untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Hal inilah yang dibingungkan oleh para guru di sekolah, di satu sisi mereka bertugas untuk membantu siswanya dalam mengkontruksi pikiran, di sisi lain mereka juga bertugas dalam membimbing siswanya agar sukses UN yang menuntut ‘cara cepat’ di setiap penyelesaian butir soalnya.

    ReplyDelete
  15. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Ilustrasi yang disampaikan oleh Prof.Marsigit di atas menggambarkan kondisi riil pendidikan kita dewasa ini. Pendidikan kita secara umum terjebak pada pragmatisme sempit yang lebih mengarah pada ketidak pahaman mengenai arah dan tujuan pendidikan dari pada memilih berbagai jalan dan berbagai pendekatan yang dianggap menguntungkan bagi kemajuan pendidikan. Demikian pula dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dalam pendidikan, mulai dari atas (menteri) sampai pada tingkatan dan unit paling awah (guru dan sekolah), semua mengalami kebingunngan akibat tujuan pedidikan yang tidak jelas.

    ReplyDelete
  16. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Faktor dominan yang menyebabkan kebingunga akibat arah pendidikan yang tidak jelas adalah politik pendidikan. Meskipun dalam konstitusi kita jelas menggambarkan bahwa arah politik dan ideologi pendidikan kita adalah demokrasi dan humanisme, akan tetapi dalam prakteknya lebih mengarah pada pragmatisme sempit untuk tujuan jangka pendek.

    ReplyDelete
  17. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Pragmatisme jangka pendek ini dapat dlihat dari berbagai kebijakan pendidikan yang dibuat oleh para pembuat kebijakan. Sebut saja pelaksanaan UN sebagai salah satu syarat penentu kelulusan. Meskipun dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas jelas mengatakan bahwa ujian nasional ditiadakan, namun undang2 tersebut dikalahkan oleh aturan yang secara hierarki berada di bawahnya, yaitu PP No.19 tentang standar nasional pendidikan. Dari sini saja sudah jellas terlihat betapa kacaunya pengelolaan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  18. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Contoh saya saya sebutkan di atas merupakan fenomena yang secara makro terjadi di Indonesia. Berbicara tentang fenomena dalam skala mikro,kita bisa saksikan kebingungan serupa terjadi di unit-unit terkecil pengelolaan pendidikan, seut saja guru, kelas, dan sekolah. Ada kebingungan massal yang terjadi di kalangan guru akibat penerapan kebijakan kurikulum 2013. Kebingungan ini berkisar pada bagaimana implementasi kurikulum tersebut di dalam kelas. Akibat kebingungan ini, sebagian besar guru memilih untuk menggunakan cara-cara lama dalam bingkai aturan baru. Dalam istilah sosiologi, kondisi ini disebut sebagai kondisi "anomie", sebuah kondisi ketika aturan2 lama belum sepenuhnya hilang, sementara aturan2 baru belum sepenuhnya dikuasai, akibat dari kondisi anomie ini adalah jalan kebingungan massal, dampak yang paling parah adalah pendidikan yang tanpa arah yang kemudian tidak mampu mencapai hakikat pendidikan yang sebenarnya: memanusiakan manusia.

    ReplyDelete
  19. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Dari elegi di atas , yang saya pahami adalah mengenai problema UN, dimana elegi diatas menjabarkan bagiamana ketidakadilan/ketidak berdayaan guru menerima UN menjadi kepetusan dalam penentuan siswanya Lulus atau Tidaknya, Ketidakadilan yang dirasa guru disini sesuatu yang wajar karena dimana-mana yang paham terhadap siswa itu sendiri tiada lain adalah guru itu sendiri bukan dari pihak eksternal yang dengan semena-mena memberikan evaluasi berupa UN sebagai penentu kelulusan siswa. Dan karena itu UN banyak siswa yang menjadi korban sehingga siswa yang merasa terancam oleh UN pada akhirnya terjerumus mengikuti bimbel yang mengajarkan tips/trik singkat serta mudah ala magic menjawab soal UN , dimna dampak yang diakibatkan banyak siswa yang pada akhirnya berfikir hasil dari pada proses

    ReplyDelete
  20. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Elegi di atas menggambarkan bagaimana warna pendiidkan di Indonesia. Sekarang ini banyak siswa yang memiliki pembelajaran ekstra di luar sekolah, di bimbel-bimbel. Jadi apakah sekolah belum mampu untuk memfasilitasi siswa sepenuhnya dalam pembelajaran? Sehingga siswa haruslah mengikuti bimbel lagi di luar sekolah. Seakan-akan pembelajaran di sekolah belumlah efektif dan efisien. Tugas besar kita semua dalam memperbaiki fenomena ini. Terlepas dari itu semua, saya selalu berdoa semoga pendidikan di Indonesia semakin maju, aminn.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  21. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Saat ini, sekolah lebih terpusat untuk membuat siswanya lulus UNAS daripada membuat siswa paham dengan konsep dasar ilmu itu sendiri. Telah terjadi pergeseran nilai yang menyebabkan siswa lebih menyukai pembelajaran di bimbel daripada di sekolah karena bimbel menyediakan trik yang instan. Dan kalau sudah seperti ini, mau dibawa kemana pendidikan di indonesia? Sudah saatnya pendidikan di Indonesia dibenahi.

    ReplyDelete
  22. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Ya itulah, kondisi pendidikan saat ini. Bahwa yang diajarkan dan diujiankan ternyata hanyalah tekstualnya saja. Padahal beberapa guru veteran masih mantap dengan pengajaran kontekstualnya. Berbedalah setiap sekolah dengan sekolah lain tentang apa yang diajarkan. Maka patutkah setiap anak dipaksa untuk disamakan ujiannya padahal setiap anak dititiap kluster pasti berbeda apa yang mereka dan apa ayang diajarkan oleh guru. Namun itulah kondisi realitanya, ketika pendidikan telah dipolitisasi oleh orang-orang yang bukanlah ahli dalam bidang itu, demi nama besar dan materi.

    ReplyDelete
  23. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Siswa biasanya lebih memilih cara cepat untuk mencari materi penyelesaian masalah karena itu ia mengikuti bimbel yang mengajarkan trik instan demi nilai yang baik bukan karena cara teori tapi dengan waktu yang singkat. Namun siswa tidak menyadari bahwa tes seperti UN diadakan untuk mengukur kemampuan apa yang kita pelajari bukanlah hasil dari kemampuan trik untuk menemukan jawabannya, dan yang sangat penting bahwa konsep dasar bukan berarti dengan memakai trik cepat.

    ReplyDelete
  24. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Bukan hal yang salah sebenarnya ketika mengikuti bimbel. Banyak memberikan manfaat kepada siswa misal mengatasi kesulitan siswa pada materi yang telah lalu, membantu siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi dan mempelajari materi terlebih dahulu sebelum diajarkan guru. Banyak memang beberapa bimbingan belajar yang memberikan triks cepat dalam menyelesaikan suatu masalah, tetapi ada pula lembaga bimbingan belajar yang mengejarkan basic concept dari pembelajaran yang diajarkan. Tinggal bagaimana masing-masing memilih jika ingin mengikuti bimbingan belajar yang pas.

    ReplyDelete
  25. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Ujian Nasional (UN) menjadi sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan mengetahui mutu tingkat pendidikan. UN sedari dahulu memang menuai pro dan kontra. Banyak siswa yang berlomba-lomba mengejar nilai UN begitu pula guru ingin semua siswanya lulus. Banyak cara yang digunakan, ada yang mendrill siswa dengan soal soal agar siswa terlatih adapula yang mengajarkan dengan berbagai trik tanpa pemahaman konsep demi mengejar waktu yang terbatas. Itu hanya beberapa bagian akibat dari UN

    ReplyDelete
  26. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Sejatinya UN hanyalah UN untuk pengukur mutu pendidikan di negara ini. Bukan sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan peserta didik siswa sekolah dasar dan menengah. Jika hanya untuk mengukur mutu pun tak ada UN juga bisa, masih banyak indikator lain yang bisa digunakan seperti layaknya negara dengan pendidikan terbaik di dunia seperti Finlandia yang tidak menerapkan UN.

    ReplyDelete
  27. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    UN memberikan dampak yang luas bagi pendidikan. Kebanyakan masyarakatpun menjadi lebih mempercayai LBB dalam proses belajar dibandingkan dengan proses belajar di sekolah. Mereka beranggapan bahwa LBB lebih berhasil dalam membuat siswa memperoleh hasil yang tinggi pada UN. Proses belajar yang ditawarkan di LBB biasanya merupakan cara-cara yang instan sehingga tampak lebih mudah dan lebih efisien. Padahal cara-cara tersebut tidak mampu memberdayakan potensi siswa. Selain itu, cara-cara tersebut juga tidak mampu membangun pemahaman konsep pada siswa sehingga siswa akan kesulitan dalam belajar materi yang selanjutnya. Yang lebih parah lagi ialah jika para pakar pendidikan dan para pendidik lebih mempercayai cara-cara yang ditawarkan oleh LBB tersebut hingga mempengaruhi kebijakan pendidikan. Tentu hal ini akan sangat berbahaya bagi pendidikan kita.

    ReplyDelete
  28. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13101241010

    Bimbel vs Sekolah merupakan dua hal yang saling bertolak-belakang. Keduanya berbeda dalam hal metode mengajar. Disekolah guru menjelaskan materi yang dianggap oleh siswa dan bimbel merupakan penjelsan yang bertele-tele. Hal ini menurut saya tidaklah benar karena guru menyampaikan ilmunya bermula dari asal rumus itu didapatkan.

    ReplyDelete
  29. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Guru menjelaskan secara runtun sedangkan bimbel mengajarkan langsung rumus dan dan terik-trik cepat mengerjakan soal. Metode yang dianggap ampuh dan gampang untuk lulus UN ini meiliki kelemahan. Siswa hanya akan bisa mengerjakan dengan trik-trik jitu yang diajarkan bimbel. Hal ini akan berdampak buruk kepada siswa yaitu ketika siswa diberi soal dengan tipe lain siswa akan kebingungan mengerjakan.

    ReplyDelete
  30. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Tidak semua soal dapat dikerjakan denga trik-trik jitu, hal ini berarti bimbel telah merusak konsep siswa. Tidak semua bimbel memberikan cara instan kepada murid-muridnya karena mereka sadar arti dari pendidikan. Bimbel membuat trik-trik jitu agar mendapatkan siswa yang banyak sehingga mendapat keuntungan yang banyak.

    ReplyDelete
  31. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Disaat bimbel mengajarkan cara-cara instan sekolah mengajarkan muridnya dengan menjelsakan yang runtut. Hal ini bertujuan untuk membekali murid-muridnya menempuh pendidikan dijenjang yang lebih tinggi. Jadi saya kurang setuju apabila metode pengajaran guru disekolah dianggap bertele-tele. Hal ini dilakukan untuk membentuk konsep siswa tidak hanya sekedar menghafalkan cara instan yang hanya bisa diterapkan dibeberpa tipe/bentuk soal.

    ReplyDelete
  32. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Berbicara mengenai UN ada satu hal yang dilupakan yakni UN adalah bisnis saudara-saudaraku melibatkan berbagai perusahaan multi nasional dalam menyediakan akomodasi dalam UN seperti perusahaan kertas, pensil, penghapus, penggaris, papan ujian, dsb. Apalagi untuk menghidupkan kembali PT Pos Indonesia yang menjadi distributor soal UN ke daerah-daerah

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  33. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Jadi UN ini sebenarnya merupakan sebuah jejaring sistemik yang berorientasi bisnis pula. Jadi dalam hal ini sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain bertujuan menetapkan standar pendidikan, maka UN juga menjadi sebuah ladang bisnis bagi perusahaan-perusahaan besar di negeri ini.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  34. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Dewasa ini meskipun telah mengikuti pendidikan formal, seorang anak tetap akan mengikuti bimbingan belajar di luar guna mengejar ketertinggalan pelajaran mereka di sekolah. Tetapi hal yang sangat disayangkan terjadi adalah keadaan ini memiliki sebuah dampak pada mental anak dimana anak akan merasa tidak perlu serius mengikuti pelajaran di sekolah karena mereka bisa mengulas kebali pelajaran yang sudah mereka diterima bahkan dengan tips trik dan cara cepat dalam penyelesaian soal-soal yang diberikan. Kondisi ini memberikan kecenderungan bagi para siswa untuk kurang menghargai guru mereka.

    ReplyDelete
  35. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    UN harusnya dijadikan sebagai alat ukur pendidikan nasional bukan sebagai alat penentu kelulusan. Adanya un yang dijadikan penentu kelulusan menjadikan disorientasi tujuan pendidikan. Sekolah-sekolah hanya berfokus hanya dan bagaimana siswa mereka lulus UN maka munculnya les sehabis pulang sekolah dengan mata pelajaran tertentu, munculnya bimbingan belajar pasti lulus UN dan lain sebagainya. Dampaknya UN juga tidak hanya kepada penentu kebijakan pendidikan, tetapi kepada mentalitas, kualitas siswa, guru, dan kepala sekolah yang selalu dibayang-bayangi UN. Oleh karena itu, UN hanya dijadikan sebagai alat Ukur Nasional dan bukan sebagai alat penentu kelulusan dan untuk kelulusan siswa diserahkan kepada guru dan sekolah terkait karena merekalah yang pantas menentukan lulus tidaknya siswa.

    ReplyDelete
  36. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    kondisi pendidikan saat ini adalah membingungkan dan mengkhawatirkan. Dengan diadakannya siswa Ujian Nasional hanya berasumsi bahwa ia membuat di sekolah hanya untuk dapat melakukan soal-soal ujian. Jadi dengan Lembaga Bimbingan Belajar yang mengajarkan trik dan menggunakan rumus cepat membuat siswa enggan atau malas untuk memahami sifat pembelajaran yang diajarkan oleh guru di kelas. Dalam hal ini siswa tidak dapat disalahkan karena dia tidak memiliki pemahaman apapun. Pendidikan yang diberikan hanya berdasar pada kecepatan menyelesaikan permasalahan tanpa mendalami akar permasalahan yang dihadapi. Kita diajak untuk menyelesaikan masalah secara instan tanpa mengetahui benar akar permasalahan. Hal ini dapat menjadi bumerang bila kita tidak mengetahui secara mendalam apa yang dihadapi. Bisa saja kita keliru dalam menyelesaikan permasalahan akibat dengan penyelesaian instan.

    ReplyDelete
  37. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Pendidikan sekarang menurut saya seperti sebuah ilusi. UN atau tidak seperti tidak ada artinya. Diberi materi atau tidk seperti percuma. Siswa sekarang tidak mementingkan hakekat pendidikan itu sendiri. Siswa sekarang lebih memprioritaskan ke nilai angka dibanding kemampuan pemahaman pembelajaran. Karena memang disyaratkan seperti itu. Siswa jadi malas dengan materi yang terlalu banyak dan tuntutan pendidikan. Wajarlah sekarang banyak kejahatan.
    Wassalamu'alaikum wrn

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id