Mar 8, 2011

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat...saya ingin bertanya bagaimana engkau bisa mendefinisikan Ritual.

Bagawat:
Hemm...aku terbiasa berpikir merdeka....artinya definisiku itu selalu saya ambil dari karakter yang ada kemudian saya intensikan dan ekstensikan.

Cantraka:
Terserahlah...tetapi untuk kali ini aku ingin minta pendapatmu tentang apa itu Ritual.

Bagawat:
Ritual itu biasanya selalu berkaitan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ... dst.

Cantraka:
Kalau contohnya?

Bagawat:
Ya...segala jenis ibadah yang berkaitan dengan Agama menurut saya bisa disebut Ritual. Tetapi sebagian orang mengkonotasikan Ritual misalnya dengan Upacara Adat atau tradisional misalnya Sekaten, Nyadran, Selamatan Desa, Bedhol Desa, Sesaji, Ruwatan...

Cantraka:
Apakah esensi dari Ritual itu?

Bagawat:
Esensi dari Ritual adalah berdoa. Sekarang bolehkah aku ganti bertanya...mengapa engkau kelihatansemangat sekali bertanya tentang Ritual?

Cantraka:
Aku sedang memikirkan fenomena Ujian Nasional atau Unas.

Bagawat:
Lho...memangnya kenapa dengan Unas itu?

Cantraka:
Aku sedang dan telah melihat dan menyaksikan fenomena pelaksanaan Unas yang terjadi di masyarakat mempunyai ciri-ciri hampir sama dengan yang engkau katakan.

Bagawat:
Apakah ciri-ciri pelaksanaan Unas di masyarakat menurut pengamatanmu?

Cantraka:
Banyak kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam rangka menghadapi dan mempersiapkan diri mengikuti Unas dikaitkan dengan doa, pemujaan, kegiatan keagamaan, sakral, serius, kadang-kadang ada pengorbanan, hikmat, terkadang ada juga kesurupan, ada orang yang dianggap punya ilmu pintar atau orang tua, ada kekuatan magic atau ghaib, ada kejadian aneh, ada sesaji, ada tradisi, ada syarat-syarat sesaji, ada pantangan-pantangan, ada tata-cara tertentu, ada peralatan tertentu, ada kegiatan yang irrasional, ....dst.

Bagawat:
Contohnya?

Cantraka:
Ada seorang siswa, katakan saja Soplo, yang menurut gurunya prestasinya di kelas sangat rendah, sering bolos, tidak mau mengerjakan PR, datang terlambat...pokoknya sekolahnya tidak serius. Malah suatu ketika terlibat kejahatan mencuri motor...dan terpaksa mengikuti Unas di kantor polisi. Melihat anaknya demikian, maka orang tuanya sangat prihatin...pergilah dia ke dhukun minta tolong agar anaknya bisa lulus Unas. E.eee...ternyata lulus. Begitu dinyatakan lulus maka bergegaslah mereka mengadakan selamatan di tempat mbah dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Anehnya ada seorang siswi, katakan Lintri, yang dianggap pandai oleh gurunya, aktif, menjadi pengurus osis, selalu mengerjakan PR dan tugas, tidak pernah mbolos,nilai hariannya juga baik ...dst...Ternyata tidak lulus Unas. Apa komentar si orang tua Soplo..katanya karena si orang tua Lintri itu tidak mau ke dhukun.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Sekarang mulai ngetrend dimana-mana di sekolah mengadakan “malam renungan atau doa bersama” atau mujahadah beberapa hari sebelum Unas. Dalam malam renungan itu biasanya dibuat suasana sangat sakral, lampunya diredupkan, diberi motivasi-motivasi, ...dst...yang intinya sampai sangat menyentuh perasaandan nurani sehingga bisa khusuk berdoanya memohon agar minta diluluskan dalam Unas. Saking khusuknya terkadang beberapa siswa sampai menangis histeris, teriak-teriak bahkan kesurupan. Mereka seakan sudah sangat menyatu baik Kepala Sekolah, Guru, siswa bahkan karyawan semuanya larut dalam suasana emosional dan menangis bersama menghadapi Unas.

Bagawat:
Yang lain?

Cantraka:
Di suatu daerah tertentu aku juga menemukan sudah mulai banyak masyarakat ikut mendukung, katakanlah Ritual Unas...Seperti yang dilakaukan di sekolah...di masyarakat juga dilakukan kegiatan seperti itu.

Bagawat:
Masih ada?

Cantraka:
Masih ada. Kemarin saya menyaksikan sendiri...ada seorang siswa, katakanlah Satri, mengalami stress berat ketika baru saja mengikuti Unas hari pertama. Pada tengah hari pertama anak itu stress sehingga hanya terdiam saja...matanya melotot...keringatnya gemrobyos...dan sampai akhir ujian dia hanya terdiam saja di tempat duduk. Dia tidak dapat melanjutkan Unas. Menurut penuturan teman saya..Satri itu mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas yang diwajibkan oleh sekolah dan oleh kampungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa orang tua Satri telah kehilangan Satri karena dia sekarang telah menjadi gila.

Bagawat:
Masih ada yang lain?

Cantraka:
Saya mendengar berita ada anak pingsan ketika mengikuti Unas kemudian di bawa ke Puskesmas terdekat...setelah siuman..dia mengikuti Unas dari Puskesmas itu. Berdasar penuturan temannya..dia juga mengalami kecapaian mengikuti Ritual Unas ditambah beban pikiran agar lulus Unas yang dipesankan oleh Kepala Sekolah, Guru maupun Orang Tuanya.

Bagawat:
Ada lagi?

Cantraka:
Sementara cukup. Tetapi saya ingin bertanya apakah engkau setuju jika saya menilai Unas sekarang telah menjadi fenomena Ritual Unas?

Bagawat:
Hemmm...kita harus berpikiran jernih. Kita lihat dulu maksud dan tujuan Unas. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Cantraka:
Tetapi mengapa banyak segmen masyarakat atau anggota masyarakat, sekolah, guru atau siswa cenderung melakukan hal-hal yang irrasional dalam menghadapi Unas?

Bagawat:
Hemmm...mungkin karena mereka mengganggap Unas adalah peristiwa besar bahkan sangat besar bagi hidupnya. Ketahuilah bahwa Unas itu juga sekaligus adalah harga diri Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten dan Propinsi. Tidak cukup hanya harga diri tetapi juga mempunyai dampak atau akibat-akibat yang diciptakan atau dikaitkan dengan perolehan blockgrant, atau bantuan lainnya. Maka tentu...daerah-daerah saling berlomba agar dapat menjadi yang terbaik dan tidak yang terjelek.

Cantraka:
Begini Bagawat...sebetulnya engkau itu setuja nggak sih dengan Unas itu?

Bagawat:
Ada negara yang menyelengarakan Unas ada yang tidak. Di Eropah Barat dan Selandia Baru misalnya...maka guru berjuang sampai berdarah-darah menolak sebangsa Unas. Kata mereka...sebagai guru mereka harus melindungi siswa-siswanya. Membiarkan para siswanya dinilai oleh orang lain yang tidak mendidiknya dianggap sebagai perbuatan guru yang tidak bertanggung jawab. Menurut mereka...hanya gurunyalah orang yang paling boleh menilai siswa-siswanya, karena gurunya itulah yang mengerti prosesnya, psikologinya, persoalannya, pencapaiannya, hariannya, portofolionya, track recordnya,...dst.

Cantraka:
Bagaimana filosofinya Unas itu?

Bagawat:
Jika sekolah dan guru bisa melakukan kegiatan assessment atau penilaian hasil belajar dengan baik sebetulnya tidak perlu Unas. Secara psikologis maupun filsafat ...maka orang yang paling mengetahui prestasi siswanya adalah gurunya. Masalahnya apakah gurunya memahami standar nasional, kriteria kelulusan atau standar kompetensi lulusan.

Cantraka:
Kok nada-nadanya engkau itu selalu menyalahkan guru? Artinya apakah guru belum bisa dipercaya? Apakah dengan diadakannya Unas berarti guru tidak bertanggungjawab terhadap muridnya?

Bagawat:
Barangkali begitu.

Cantraka:
Apakah karena guru belum bisa dipercaya maka Unas harus dilaksanakan?

Bagawat:
Mungkin begitu.

Cantraka:
Lho kalau begitu mengenaskan sekali nasib guru kita itu...tidak dipercaya dan dianggap tidak bertanggungjawab lagi?

Bagawat:
Saya kan mengatakan barangkali begitu.

Cantraka:
Bagaimana dengan dampak yang terjadi misalnya...masyarakat cenderung irrasional, kecurangan, kebocoran soal, manipulasi jawaban, sms jawaban, ...dst

Bagawat:
Dampak itu relatif.

Cantraka:
Apa yang engkau maksud dampak adalah relatif?

Bagawat:
Ya..tergantung penilaian masing-masing? Kalau menurut saya dampak yang paling serius dan mengkhawatirkan justru dampak pedagogik. Mengapa? Ketahuilah bahwa Unas telah menyebabkan guru, siswa dan sekolah seakan hanya Unaslah orientasi pendidikannya. Mereka enggan mengembangkan metode pembelajaran berdasar teori belajar, teori constructivis, realistik, kontekstual dsb karena dianggap bertele-tele bahkan tidak menunjang Unas. Mereka lebih suka mengambangkan metode pbm ala Bimbingan Belajar yaitu mengajarkan trik-trik instant.

Cantraka:
Lho kan sudah banyak dilakukan penataran-penataran untuk para guru?

Bagawat:
Itulah yang terjadi...sehebat apapun penataran dilakukan dan sehebat apapun kurikulum penyedia tenaga kependidikan ...tetapi kalau sudah ke sekolah seakan mereka terseret kedalam pusaran besar Unas...orientasi Unas...sukseskan Unas tanpa kecuali. Buat apa bertele-tele dan muluk-muluk mengembangkan metode pembelajaran jika banyak yang tidak lulus Unas. Ah...guru...jangan sok muluk engkau itu...pegang satu hal saja...Lulus Semua pada Unes...tanpa reserve. Nasib yang sama juga dialami oleh para mahasiswa calon guru yang praktek di sekolah; semua teori dan pengalaman mengembangkan pbm di universitas seakan rontok tak tersisa satupun begitu mereka masuk ke sekolah. Unas oriented telah menyebabkan para mahasiswa juga hanya diberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal setara Unas. Saking bingungnya ada pakar pendidikan bahkan menilai bahwa metode disekolah itu jauh ketinggalan dengan metode bimbel. Inilah ambivalensi yang telah dihasilkan oleh Unas.

Cantraka:
Wahai Bagawat...terimakasih atas jawaban-jawabanmu.

Bagawat:
Aku sangat puas dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu.

32 comments:

  1. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    UN merupakan masalah yang sering diperbincangkan masyarakat sejak lama. Sebagian masyarakat mendukung adanya UN walaupun lebih banyak yang menolak UN dengan berbagai alasan, misalnya membebani siswa, kelulusan yang hanya ditentukan dalam 3 hari, dan sebagainya. Perlu kita ketahui bahwa semua keputusan yang diambil oleh pemerintah sudah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh begitupun juga dengan UN. UN dilaksanakan untuk mengevaluasi pendidikan dan meningkatkan mutu pendidikan. Pengartian yang salah dari beberapa pihak menimbulkan UN dijadikan sebagai ajang berkompitisi untuk menunjukkan sekolah mana yang lebih baik sehingga siswa dan guru dituntut untuk memenuhi keinginan sekolah masing-masing. Guru dan siswa pun mendapat beban yang lebih berat. Hal ini pula yang membuat pembelajaran di kelas hanya difokuskan untuk lulus UN. Kecemasan siswa mengenai UN ini juga menular kepada orang tua yang menyebabkan beberapa orang tua melakukan berbagai macam cara supaya anaknya lulus UN meskipun dengan cara yang tidak masuk akal.

    ReplyDelete
  2. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebagai seorang siswa, saya meyakini bahwa jika pembelajaran di kelas dilakukan dengan baik walaupun tidak memfokuskan pada lulus UN, siswa akan dengan sendirinya memahami pelajaran sehingga UN pun tidak menjadi hal yang berat. Proses pembelajaran di kelas akan lebih maksimal tanpa embel-embel siswa harus lulus UN dengan nilai sempurna. Menurut saya UN perlu dilaksanakan dengan pemahaman bahwa UN untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan untuk memberatkan siswa. UN sekarang juga tidak menjadi syarat utama kelulusan sehingga tidak ada alasan untuk menolak pelaksanaan UN.

    ReplyDelete
  3. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Adanya UN ternyata memiliki dampak negatif bagi berbagai kalangan, bagi siswa ataupun bagi guru. Misalnya, siswa yang membeli soal atau jawaban UN dan orang yang menyebarkan atau menjual soal UN kepada siswa adalah perbuatan yang tidak baik dan menimbulkan dosa. Tetapi peristiwa seperti itu seakan sudah menjadi kebiasaan dan tidak asing lagi dilakukan menjelang UN. Guru juga tidak bisa mengembangkan potensinya dalam hal mengajar dan hanya mengandalkan hal-hal yang terfokus pada UN dan kepada siswa yang harus lulus ujian. Dan banyak dampak negatif lain yang hanya menimbulkan dosa. Sebaiknya, siswa yang akan melaksanakan UN harus tetap berikhtiar, belajar dan berdoa kepada Tuhan agar diberi kelancaran dalam melaksanakan UN, jangan mengandalkan bocoran-bocoran soal yang belum pasti kebenarannya.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  4. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Ujian Nasional bertujuan untk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan menjadi media agar dapat berinteraksi di kancah internasional. Namun kenyataannya UN mengalami pergeseran makna dan tujuan dalam masyarakat. UN diartikan sebagai indikator kelulusan, kesuksesan, dan bahkan masa depan siswa. Sehingga tidak heran UN menjadi sebuah ritual. Banyak para pakar pendidikan yg menentang UN, namun tidak sedikit juga yang mendukung. Seharusnya nilai dan arti UN dikembalikan lagi ke fitrahnya, untuk kemudian disesuaikan dengan tujuan mulia dari adanya pendidikan.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  5. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Menjelang UNAS berbagai persiapan dilakukan, bahkan dalam kegiatan belajar mengajar hanya sesuai dengan indikator yang akan diajukan di unas dengan mengajarkan berbgai latihan sola yang sesuai. Hal ini bagus. Akan tetapi hal yang paling mendasar yang perlu dilakukan adalah memebrikan pemahaman yang mendalam dan baik kepada peseta didik agar memiliki bekal dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Jika kita hanya memberikan soal sesuai indikator, siswa akan pandai pada karakteristik soal seperti itu saja. Akan tetapi jika kita memberikan pemahamn yang mendalam dan baik serta benar, apapun soalnya, dibolak balik seperti apa peserta didik akan dapat memecahkannya.

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum Wr. Wb
    Tujuan unas yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Akan tetapi dapat dillihat pada saat menjelang pelaksanaan unas banyak sekolah mengadakan pelajaran tambahan, para siswa belajar mati-matian agar bisa lulus unas, melakukan segala cara untu bisa lulus unas serta unas ini menjadi beban berat bagi para siswa karena siswa dituntut untuk lulus dengan nilai yang baik, yang secara tidak langsung jika siswa lulus dengan nilai baik maka harga diri sekolah, dinas pendidikan, kabupaten dan propinsi akan baik pula. Sehingga dengan melihat fenomena yang seperti inni perlulah diadakan suatu perbaikan dalam system unas agar tujuan unas bisa tercapai dengan sebaik-baiknya.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Setiap mendengar kata ujian nasional merupakan sebuah momok yang sangat menakutkan bagi kalangan siswa, karena siswa akan terus belajar dan banyak latihan-latihan soal yang sudah disesuaikan standar pemerintah. Tujuan dari UN yaitu untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik selama sekolah. Tetapi manfaat dan tujuan Ujian Nasional kurang dapat dirasakan karena terjadi banyak kecurangan dan salah aplikasi oleh seorang siswa dan guru dalam menentukan tujuan UN ini sendiri sehingga pelaksanaan UN. Sekolah hanya lebih mementingkan kelulusan dibandingkan dengan aspek-aspek lainnya misalnya nilai yang diperoleh siswa. Dan apalagi sekarang sekolah yang akan menentukan kelulusan siswanya. Marilah kita melaksanakan UN sesuai tujuan dan manfaatnya berdasrkan Undang-Undang.

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Unas telah menyebabkan sebuah lingkaran yang kita sendiri bingung bagaimana memutusnya. Unas telah menyebabkan guru hanya berfokus pada unas sehingga lebih memilih menggunakan metode cepat agar siswa lulus. Hal ini telah terjadi selama bertahun- tahun dan telah membentuk karakter guru yang seperti itu. Disisi lain ketika unas benar- benar dihapuskan akankah guru yang telah bertahun- tahun terbiasa dengan metode pembelajaran seperti bimebel mau dan mampu menggunakan metode pembelajaran seperti RME, PBL, serta metode- metode pembelajaran lainnya, dan akankah guru mampu menilai siswa dengan tepat sesuai dengan standar nasional. Hal inilah yang harus disiapkan terlebih dahulu, jangan sampai ketika unas ditiadakan guru masih tetap melaksanakan pembelajaran seperti ketika ada unas dan menguji siswa dengan soal- soal standar unas.

    ReplyDelete
  9. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Esensi utama dari ritual adalah berdoa, tetapi ketika ritual yang memanfaatkan dukun demi untuk memenuhi keinginannya agar terwujud ini artinya telah musyrik atau telah menyekutukan Allah dengan dukun, sehingga hal-hal yang seperti ini sangat dilarang dalam ajaran islam. Untuk menggapai sesuatu hal seperti UN contohnya hal yang penting adalah berdoa kepada Allah SWT atau berserah diri serta meminta pertolongan kepada Allah SWT serta berusaha atau berikhtiar dengan sungguh-sungguh seperti belajar dengan rajin bukan malah meminta pertolongan kepada dukun agar lulus UN tan pa ada usaha.

    ReplyDelete
  10. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Unas atau yang sekarang lebih dikenal dengan UN, yang alhamdulillah sekarang lebih berpihak kepada siswa karena presentase yang menentukan siswa itu lulus atau tidak adalah sekolah lebih banyak dibandingkan dengan hasil ujian nasional yang diadakan serempak secara nasional. Artinya UN saat ini hanya untuk melihat kualitas siswa yang ada di Indonesia, saat ini yang menjadi tantangan bagi guru adalah mengajar dengan metode-metode yang sesuai dengan keadaan siswa agar siswa benar-benar memiliki pengetahuannya sendiri bukan pengetahuan yang hanya lewat saja untuk menghadapi UN itu.

    ReplyDelete
  11. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Problematika pendidikan di Indonesia memang cukup kompleks. Banyak sekali permasalahan yang terjadi didunia pendidikan. Jika kita lihat banyak sekali perguruan tinggi negri dan swasta yang menyediakan meluluskan guru. Namun, jika kita bandingkan kualitas guru di Indonesia dengan luar negri misalnya, akan jauh sekali. Saya sependapat bahwa masyarakat belum percaya kepada guru. Pemerintah sudah berusaha untuk mengadakan pelatihan untuk meningkatkan keahlian guru, namun belum berhasil. Kembali kepada diri pribadi guru masing-masing, untuk secara sadar dan tulus ikhlas mendidik anak bangsa.

    ReplyDelete
  12. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Hakekat diselenggarakannya UN adalah untuk mengukur kemampuan yang dimiliki siswa, namun justru dengan adanya UN telah berpengaruh besar pada keadaan pendidikan di Indonesia, dimana keberhasilan siswa ditentukan oleh seberapa tingginya nilai UN. Semakin dekat waktu penyelenggaraan UN akan memepengaruhi kondisi psikologis siswa yang akibatnya baik siswa maupun guru dipaksa untuk melakukan ritual-ritual sebelum UN seperti mencari trik-trik jitu dan cara-cara yang cepat untuk menjawab soal dengan benar atau mempersiapkan langkah-langkah yang strategis agar dapat lulus UN tanpa memandang benar atau salah cara tersebut. Akibatnya terjadi pergeseran makna pembelajaran di sekolah dimana kebanyakan siswa hanya berpikir bagaimana bisa menjawab soal-soal UN dengan benar tanpa harus tahu darimana dan bagaimana jawaban itu berasal

    ReplyDelete
  13. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika I 2013

    Fenomena Unas terjadi memang membuat beberapa, dan kebanyakan dari kita melakukan banyak hal untuk berusaha lulus. Unas seolah menjadi tujuan pembelajaran yang selama ini dilakukan. Hal ini tentu tidak sepantasnya terjadi, karena hakekatnya unas diadakan untuk menilai pemerataan pendidikan dinegeri kita, bukan semata-mata untuk syarat agar lulus sekolah.

    ReplyDelete
  14. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika I 2013

    Banyak pro dan kontra yang memperbincangkan Unas, dilihat dari segi positifnya semua siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan nilau yang bagus tanpa melihat track record nilai dari masing-masing siwa. NAmun sisi lain beranggapan bahwa penentu kelulusan kenapa hanya mnggunakan nilai Unas padahal sudah menempuh jalur sekolah selama bertahun-tahun.

    ReplyDelete
  15. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Selama ini orientasi para guru, kepala sekolah, maupun siswa terkesan semata-mata hanya agar lulus Ujian Nasional. Seakan selama belajar 3 tahun hanya ditentukan selama 3 sampai 6 hari saja. Menurut saya ini tidak adil. Semoga para pakar pendidikan memikirkan hal ini kembali terutama dengan mengkaji kurikulum yang diterapkan sekarang dan lebih memikirkan siswa baik itu dari sisi psikologis, proses belajar, maupun potensinya.

    ReplyDelete
  16. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Berbicara mengenai unas, banyak sekali kejadian yang dapat diliohat seperti saling menyontek saat unas berlangsung, kunci jawaban bocor sebelum unas dilaksanakan, dan lain sebagainya. Seharusnya unas dilaksanakan dengan baik, jujur dan tertib karena unas merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi proses pembelajaran selama satu jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP, dan SMA. Namun kenapa banyak sekali ditemukan kecurangan pada saat unas? Saya pikir itu disebabkan kurang siapnya niat dan moral siswa untuk menjalani unas. Guru atau pihak sekolah memberitahukan kepada siswa yang pintar untuk mengajari siswa yang kurang pintar untuk menjawab soal unas. Itu salah satu contoh riil yang mengenaskan. Guru bukan lagi menjadi contoh yang baik bagi siswa2nya.

    ReplyDelete
  17. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Di sisi lain UN juga perlu dipertahankan karena dengan UN, pemerintah dapat mengetahui kondisi dan tingkat pendidikan di Indoensia. Namun perlu dikaji lagi bagaimana pelaksanaannya. Akan lebih baik jika UN dijadikan bahan evaluasi bukan sebagai penentu kelulusan yang ujung2nya banyak ketidakberesan dan kecurangan didalamnya.

    ReplyDelete
  18. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Saya akan mencoba sedikit memberikan solusi. Mungkin di Indonesia perlu menerapkan UN seperti yang diterapkan di Amerika. Setiap daerah memiliki otonomi untuk mengatur UN sendiri. UN sebagai bahan evaluasi pendidikan bagi emerintah bukan menjadi penentu kelulusan. Kelulusan ditentukan oleh sekolah sendiri karena hanya guru lah yang paling tau kemampuan dan kondisi siswanya. Hasil UN akan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depannya. Dengan mengetahui hasil UN, pemerintah akan tau daerah mana yang pendidikannya masih rendah dan mana yang sudah maju sehingga akan memudahkan untuk memeratakan pendidikan di sebuah negara.

    ReplyDelete
  19. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Ujian Nasional apakah masih diperlukan, merupakan topik yang masih diperbincangkan. Dan sekaranag akhirnya menteri membuat keputusan besar yaitu akan menghapus pelaksaan ujian nasional tahun 2017. Mungkin memang terlihat beberapa kekurangan dari pelaksanaan UN itu sendiri seperti yang disebutkan di atas. Siswa, guru, dan sekolah hanyalah fokus untuk mengejar kelulusan UN dengan nilai terbaik. Bangaimanapun caranya, dengan cara-cara instan sekalipun. Sehinggaguru mengabaikan untuk mengembangkan metode pembelajarna yang mungkin di rasa akan membutuhkan perispan yang kompleks. Sekarang yang masih menjadi pertanyaan adalah apabila UN benar-benar dihapus, bagaimana sistem evaluasi yang akan dilakukan pemerintah. Semoga apapun keputusan pemerintah nantinya merupakan yang terbaik untuk memajukan pendidikan Indonesia.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  20. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Fenomena UNAS ramai diperbincangkan dimana-mana. Ada yang pro dan ada yang kontra dengan alasannya masing-masing. Menurut saya, perlu dikaji kembali apa tujuan UNAS, apa manfaat diselenggarakannya, dan apa dampaknya.

    ReplyDelete
  21. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Mengenai ritual menjelang UNAS, menurut saya cukup belajar semampunya, rajin beribadah, dan meminta doa orang tua. Tidak perlu sampai ke dukun atau dengan sesaji. Karena kita hanya boleh percaya pada Allah.

    ReplyDelete
  22. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    tujuan unas adalah untuk meninkatkan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia dengan penerapan proses pembelajaran yang baik, menggunakan metode-metode yang baik, sumber belajar yang baik dan semua hal-hal baik yang di anggap perlu untuk peningkatan tersebut. akan tetapi dengan melihat unas kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah tidaklah sesuai ekspektasi yang di harapkan dan banyak kegiatan melenceng di balik itu semua dengan timbulnya ritual-ritual demi lulusnya si anak. ketika semua itu terjadi maka tidak mungkin ada ketercapaian dari pembelajaran bermakna dari apa yang sekolah ajarkan.

    ReplyDelete
  23. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Ritual hakekatnya adalah doa. Doa yang dipanjatkan sesuai kadar keimanan seseorang. Seringkali ritual berbeda pelaksanaannya tiap-tiap individu, itulah kadar keimanan dengan kesanggupan manusia dalam memahami ritualnya. Sehingga ada juga yang mennganggap ritual adalah yang menentukan hasilnya. Itulah budaya atau kearifan lokal yang dimiliki budaya dunia timur-selatan. Namun tahukah kita bahwa ritual tanpa usaha itu sama dengan sia-sia. Dan usaha tanpa ritual pun itu tidaklah berkah. Dan lebih tinggi lagi dan kadang kita lupa, bahwa ritual dan usaha telah dikerjakan, namun masih tetap gagal. Apa yang dilupakan itu adalah tawakkal kepada Tuhan. Apatheia, yaitu setelah ritual dan usaha telah dlaksanakan, serahkanlah kepada Tuhan melalui takdirnya.

    ReplyDelete
  24. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Beginilah kenyataan yang sedang dihadapi pendidikan dibangsa kita. UN seolah seperti seorang dewa yang puja oleh guru dan siswa. Maka melihat dampak dari UN dimana kecendrungan meiliki dampak negatif yang lebih besar dari pada manfaatnya maka sudah seyogyanya mungkin UN untuk dihaspus sebagai final evaluation karena penyelenggraan UN cendrung mendidik siswa untuk tidak ikhlas dalam belajar karena hakikat siswa belajar sudah tidak lagi semata-mata untuk mencari ilmu melainkan supaya lulus UN, selanjutnya pelaksanaan UN juga sangat rentan menciptkan siswa untuk menganut budaya instan dalam belajar.

    ReplyDelete
  25. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    UN merupakan probematika tersendiri bagi para praktisi pendidikan maupun siswanya sendiri. Semboyan Belajar tiga tahun ditentukan tiga hari, dan jika tidak lulus ujian adalah kegagalan dari belajar tiga tahun itu menjadi sarapan pagi UN. Timbul pertanyaan jika Soal UN yang berbeda paket, namun apakah tingkat kesukarannya sama setiap paketnya atau berbeda. Apakah kualitas guru dalam menilai siswanya diragukan sehingga diadakan UN, apakah pembelajaran dikelas hanya untuk mengejar lulus UN bukan untuk membangun pengetahuan siswa. Hal ini menjadikan UN sebagai orientasi pendidikan siswanya dituntut dapat menyelesaikan soal-soal UN, tidak ada yang boleh gagal. Maka kegagalan akan membunuhmu baik pisik maupun psikis atau mental siswanya.

    ReplyDelete
  26. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Idealnya penataran dan kurikulum penyedia tenaga kependidikan yang disediakan dapat menjadikan kualitas pendidikan negeri ini bergerak kearah yang lebih baik dan menuju kemajuan. Sayangnya sebaik apapun jenis penataran dan kurikulumnya, tingkat keberhasilan para siswa di sekolah masih saja diukur dari tingkat kelulusan Unas siswa di sekolah. Seolah tidak ada pertimbangan lain selain Unas dan seolah Unas sudah dapat mengukur seluruh kemampuan siswa selama berada di sekolah.

    ReplyDelete
  27. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Ujian nasional tentunya mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Sistem pendidikan di Indonesia di tuntut untuk memiliki standar bagi lulusan mereka. Sehingga muncullah unas untuk memberikan standar yang sama bagi lulusan nantinya. Namun disisi lain pemerintah tidak memikirkan bahwa infrastruktur dan SDM pengajar antara Indonesia barat dan Indonesia Timur sangat jauh perbedaannya. Hal itu saya mendengarnya sendiri dari teman saya yang mengikuti SM3T, sebelum ada program SM3T, guru-guru mereka hanya masuk mengajar paling banyak 4 kali dalam sebulan, sungguh miris mendengarnya ketika mereka nantinya dituntut memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah di pulau jawa. Pembangunan pendidikan yang tidak merata, namun pemerintah ingin standar lulusan yang sama, hal tersebut tidak mudah untuk dipahami.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  28. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Berdasarkan elegi di atas, masih menyoal Ujian Nasional (UN). Tidak lama ini Menteri Pendidikan, Muhajir Efendi memutuskan menghapus UN 2017. Penghapusan ini ternyata telah mendapat lampu hijau dari Presiden Jokowi yang kemudian akan dituangkan dalam Instruksi Presiden (INPRES). Berita ini tentunya menjadi angin segar bagi pendidikan di Indonesia, betapa selama ini UN menjadi momok yang menakutkan yang kemudian menimbulkan dampak seperti dijelaskan pada elegi diatas. Betapa UN memaksa mengevaluasi kemampuan siswa dengan standar kelulusan yang sama padahal secara jelas pendidikan kita belum merata baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  29. Fauzul Muna Afani
    Pendidika Matematika A 2013
    13301241010

    Ujian Nasional atau yang biasa disebut oleh masyarakat dengan sebutan UN memang selalu penuh dengan kontroversi. Banyak pendapat mengenai UN, ada yang mendukung dan ada juga yang menolak diadakannya UN. Pemerataan pendidikan yang belum sama membuat sekolah-sekolah yang ada dipedalaman kelabakan membekali murid-muridnya untuk menghadapi UN dikarenakan fasilitas yang tidak memadai disekolah. UN merupakan peristiwa yang sangat penting bagi siswa, orang tua siswa dan sekolah. Pihak sekolah tidak hanya membekali murid-muridnya dengan materi yang keluar di ujian akan tetapi juga mendorong spiritual siswa dengan cara tahajud dan do’a bersama.

    ReplyDelete
  30. Fauzul Muna Aafani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Ritual-ritual UN ini dilakukan karena Tuhan ikut campur tangan atas keberhasilan ujian, tapi tak jarang bebrapa dari mereka melakukan hal yang diluar logika seperti datang ketempat dukun. Karena pentingnya UN tak sedikit dari siswa-siwi Indonesia mengalami tingkat stress yang timggi. Ada yang menjadi gila, ada yang bunuh diri dengan alasan malu apabila gagal. Kejadian-kejadian ini merupakan bukti sangat berpengaruhnya UN bagi psikologi siswa. Akan tetapi dengan hal ini tidak serta merta kita bisa menyalahkan UN karena pemerintah mengadakan UN dengan maksut dan tujuan yang baik. Permasalahan disini adalah mental dari siswa-siswi Indonesia yang kurang kuat sehingga mereka melakukan hal nekat karena takut gagal.

    ReplyDelete
  31. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Peran orang tua dan guru sangat berpengaruh disini untuk meyakinkan anak bahwa semua masalah biasa diatasi dengan cara berusaha belajar dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang tidak adil hasil belajar selama 3 tahun hanya ditentukan 4 hari. Karena belajar merupakan proses bukan hasil. Pendidik atau guru juga terkena dampak dari UN. Karena target mereka adalah UN maka guru-guru hanya akan mengejar materi tanpa mengembangkan potensi yang ada disiswa. Alangkah baiknya pemerintah dengan pendidik saling mengevaluasi sehingga akan tercapai suatu kebijakan yang baik dan menjadikan pendidikan di Indonesia semakin maju.

    ReplyDelete
  32. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Pada dasarnya, UN diselenggarakan untuk mengukur dan menentukan standar nasional mutu pendidikan. Namun, di sisi lain, adanya UN menimbulkan dampak yang besar bagi pendidikan. Salah satu masalah serius yang ditimbulkan oleh adanya UN adalah masyarakat, siswa, guru-guru, kepala sekolah, hingga para pemegang kekuasaan menitikberatkan pendidikan yang hanya berorientasi pada UN. Pendidikan hanya bertujuan untuk dapat lulus UN membuat pembelajaran yang dilakukan di kelas menjadi tidak mempehatikan proses perpikir siswa dan mengabaikan proses konstruksi pengetahuan. Pengetahuan yang hanya fokus pada UN tidak akan mampu memberikan pemahaman yang baik bagi siswa. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka pola pikir siswa pun tidak dapat berkembang. Terlebih lagi siswa menjadi tidak bisa mendapatkan bekal yang cukup bagi kehidupan yang penuh tantangan ini. Di samping itu, hasil dari UN biasanya tidak sesuai dengan kenyataan, karena trik-trik yang diberikan dan bahkan banyaknya kecurangan yang terjadi. Sejatinya, yang dapat benar-benar melakukan penilaian ialah gurunya sendiri karena guru yang benar-benar mengetahui proses belajar siswa.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id