Sep 20, 2010

Elegi Obrolan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek1:
Dimana bisa beli sate?
Subyek2:
Itu lihat Papan Nama nya, di atas pohon?
Subyek1:
Masa, makan sate harus di atas pohon?
Subyek2:
Berapa sebelas dibagi dua?
Subyek1:
Tergantung bagaimana cara membaginya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika membaginya membujur maka sebelar dibagi dua hasilnya satu. Jika membaginya dengan cara melintang maka hasilnya sebelas juga.
Subyek2:
Mana yang lebih besar, empat atau tujuh?
Subyek1:
Tergantung cara menulisnya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika aku tulis empat dengan spidol besar dan tujuh dengan spidol kecil, maka empat lebih besar dari tujuh.
Subyek2:
Berapa empat ditambah lima.
Subyek1:
Tergantung keadaannya.
Subyek 2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika empat nya kurus dan lima nya kurus, maka empat ditambah lima sama dengan sembilan kurus.
Subyek2:
Apakah sikuku ini sudut lancip?
Subyek1:
Bukan, sikumu itu sudut tumpul.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Tidak ada barang lancip di dunia ini.
Subyek2:
Bukankah jarum itu lancip?
Subyek1:
Ujung jarum terdiri dari molekul yang terdiri dari atom, yang lintasannya melingkar.
Subyek2:
Bagaimana membuat lingkaran?
Subyek1:
Tergantung bahannya.
Subyek2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika bahannya terdiri dari epung maka siapkan cetakannya. Jika bahannya dari kayu maka siapkan gergaji.
Subyek2:
Berapakah dua ditambah empat.
Subyek1:
Dua ditambah empat sama dengan dua puluh empat.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Ambil dua, ambil empat kemudian tambahkan atau jajarkan.
Subyek2:
Berapakah lima kali nol?
Subyek1:
Lima kali nol sama dengan satu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika nol adalah ikhlasmu, insyaallah engkau ketemu Tuhan mu yang satu.
Subyek2:
Berapakah sepuluh dibagi tak berhingga?
Subyek1:
Sepuluh dibagi tak berhingga itu diampuni dosamu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni.
Subyek2:
Berapakah seratus pangkat nol itu?
Subyek1:
Mungkin engkau akan ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Apapun pangkatmu, jika engkau nol atau ikhlas, insyaallah engkau bisa ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Berapakah tujuh pangkat negatif setengah itu?
Subyek1:
Itu korupsi.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Tujuh pangkat negatif setengah adalah pangkat tak sebenarnya. Bukankah koruptor itu mempunyai pangkat tetapi tidak sebenarnya pangkat. Jadi korupsilah dia.
Subyek2:
Berapa lama engkau sampai ke tujuan?
Subyek1:
Aku tidak pernah bisa mencapai tujuan.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Untuk mencapai tujuan aku harus menempuh separo jalan. Untuk mencapai separoh jalah aku harus menempuh separohnya lagi. ...dst. Aku tdak pernah selesai membagi dua. Jadi aku tak pernah sampai tujuan.
Subyek2:
Cepat manakah becak dengan pesawat?
Subyek1:
Cepat becak
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Aku naik becak telah sampai di Bandara. Padahal pesawat belum berangkat.
Subyek2:
Jika kaca aku lempar batu, kemudian pecah. Mengapa kaca pecah?
Subyek1:
Kaca pecah karena kena batu.
Subyek2:
Bukan.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Kaca pecah belum tentu kena batu.
Subyek1:
Kapan Plato lahir?
Subyek2:
Tadi pagi.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Jika waktu aku padatkan.
Subyek1:
Dimana kutub utara.
Subyek2:
Di sini.
Subyek1:
Jika ruang aku mampatkan.
Subyek2:
Di mana dirimu?
Subyek1:
Di dalam dirimu.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Jika engkau memikirkan aku.
Subyek2:
Dari mana engkau lahir?
Subyek1:
Dari rahim ibuku.
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Mengapa?
Subyek2:
Egkau lahir dari jiwa ibumu.
Subyek1:
Apakah itu suara musik?
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Suara apa?
Subyek2:
Itu harmoni alam
Subyek1:
Apa hubungan setiap hal di dunia ini?
Subyek2:
Pikiranmu.
Subyek1:
Kenapa engkau tersenyum melihat batu?
Subyek2:
Aku melihat patung di dalamnya.
Subyek1:
Kenapa engkau diam?
Subyek2:
Enggak. Aku ramai dalam hatiku.
Subyek1:
Kenapa engkau bingung?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati.
Subyek1:
Kenapa engkau malas?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati?
Subyek1:
Kenapa engkau protes?
Subyek2:
Enggak. Aku bernyanyi.
Subyek1:
Kenapa engkau tergesa-gesa?
Subyek2:
Enggak. Aku efisien.
Subyek1:
Kenapa engkau pelit?
Subyek2:
Enggak. Aku selektif.
Subyek1:
Kenapa engkau marah?
Subyek2:
Enggak. Aku menasehati.
Subyek1:
Kenapa engkau menjawab?
Subyek2:
Kenapa engkau selalu bertanya?
Subyek1:
Enggak. Aku silaturahim.
Subyek2:
Kenapa engkau selalu mencibir?
Subyek1:
Enggak. Aku sedang membangun.
Subyek2:
Kenapa engkau tidak usul?
Subyek1:
Enggak. Aku memberi kesempatan.
Subyek2:
Kenapa engkau sombong?
Subyek1:
Enggak. Aku membela diri.

36 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Obyek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Elegi obrolan filsafat ini tentunya memunculkan sesuatu yang tadinya tidak ada dalam pikiran kita menjadi ada, sesuatu yang mungkin tidak terpikir oleh kita sebelumnya. Belajar filsafat adalah belajar olah pikir, belajar berpikir reflektif, belajar berpikir kritis dengan intensif dan ekstensif. Ingatlah bahwa, segala sesuatu di dunia itu terikat oleh ruang dan waktu. Maka tidak tepat jika kita memandang segala hal hanya dari satu sisi saja. Di filsafat ini, kita belajar mengkaji segala hal dengan memahami ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Berfikir merupakan subjek dari filsafat akan tetapi tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat adalah seseorang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal :
    1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada
    2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsip dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran

    ReplyDelete
  3. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Perbincangan filsafat tidak pernah akan ada habisnya karena tergantung ruang dan waktu. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai filsafat. Meski demikian tiadalah yang salah dari sudut pandang filsafat karena filsafat tidak lain tidak bukan ialah dirimu sendiri. maka sebenar-benar filsafat ialah logos jika engkau mampu memikirkannya.

    ReplyDelete
  4. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Kita dapat memandang sesuatu dengan beragam cara sesuai dengan sudut pandag. Elegi ini menggambarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini baik yang ada dan yang mungkin ada dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Dan bagaimana kita memandangnya relatif dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Kita harus meperbanyak sesuatu agar bisa memandang sesuatu dari beragai macam sudut pandang.

    ReplyDelete
  6. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Berfilsafat itu harus berpikir kritis, tidak melulu tentang hal-hal yang standar, baku, terikat dengan aturan tertentu. Berfilsafat itu bebas sesuai dengan pikiran kita masing-masing, dari mana kita akan memandang. Dengan belajar filsafat, kita dapat belajar mengolah pikir, serta dapat memandang sesuatu dengan suduh pandang yang berbeda sehingga pandangan kita terhadap suatu hal dapat lebih menyeluruh.

    ReplyDelete
  7. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016

    Elegi ini berisi percakapan antara dua subyek yang mungkin mempunyai pemikiran yang berbeda, saling menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Karena obyek pikir dari subyek bermacam-macam, maka ia bebas menjawab sesuai dengan versi benarnya masing-masing. Mungkin seperti itu lah filsafat. Filsafat dikatakan sebagai dasarnya pengetahuan, akar nya pengetahuan. belum dibedakan menurut jenis-jenis yang sudah kita kenal selama ini, misalkan pegetahuan matematika, pengetahuan agama, pengetahuan sosial, dan lain-lain. maka dari itu, ketika salah satu bertanya, berapakah tujuh pangkat negatif stengah?. Subyek lainnya menjawab korupsi. Awalnya saya berpikir, hlo kok bisa? Namun segera saya tersadar bahwa ini obrolan antar filsafat, sehingga mereka bebas menjawab sesuai dengan obyek pikir yang sedang mereka pikirkan. Intinya bahwa setiap sesuatu itu dapat dimaknai dan disikapi dengan berbagai cara sesuai dengan obyek pikir yang sedang difokuskan. Atau malah sesuai obyek pikir dengan fokus lain, guna mencari makna dan persepsi yang berbeda.

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada elegi ini mengambarkan sebuah dialog yang penuh dengan kajian filsafat. kita tahu bahwa berfilsafat itu termasuk memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada. Obrolan tentang filsafat itu tentunya memunculkan sesuatu yang tadinya tidak ada dalam pikiran kita menjadi ada. Misalnya 3 kelinci + 2 kucing = belum tentu jawabannya 5. Karena kita yang sekarang dengan kita satu detik adalah berbeda. Oleh karena itu untuk mengasilkan kepastian dalam filsafat maka tambahkanlah ruang dan waktu. Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama, kadang-kadang kita bertemu dengan seseorang dengan pandangan yang berbeda. Jadi, ketika kita melihat sesuatu, kita tidak bisa melihat itu hanya membentuk satu sisi tapi lihatlah di sisi yang berbeda.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh si subjek 1 dan dijawab oleh subjek 2. pertanyaan dan jawaban mengacu kepada bagaiamana kita memandang suatu permasalahan.
    bahwasanya segala sesuatu itu bisa saja memiliki makna yang berbeda, tergantung pada bagaimana kita memahaminya. tapi disini apapun jawaban yang dikatakan oleh subjek 2 belum tentu benar dan belum tentu juga salah. karena kebenaran itu bersifat relatif

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sebenar- sebarnya filsafat adalah filsafat itu sendiri. Sehingga yang bisa membuat hingga melaksanakan filsafat yang berfilsafat sendiri.
    Tidak ada yang lebih tahu darpada si filsuf itu sendiri.
    Yang lain hanya berusaha memahami dan menjangkau filsafat filsuf lain tetapi tidak akan
    pernah sampai.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Berfilsafat itu tergantung ruang dan waktu serta wadah dan isinya. Perhatikan konteks pembicaraan, perhatikan siapa yang di ajakberdiskusi, karena pembicaraan itu bersifat dua arah. Apa yang kita maksud belum tentu dipahami sama oleh orang lain, dan bisa jadi apa yang dibicarakan itu sama-sama benar sesuai konteksnya.

    ReplyDelete
  12. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Objek pikir yang ada dalam filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. saat melakukan olah pikir, kita melakukan metode hermeneutika yang berarti diterjemahkan dan menerjemahkan. Sudut pandang setiap orang berbeda-beda, maka arti yang didapat akan berbeda meskipun membahas hal yag sama. Hal ini juga meliputi pembelajaran matematika, karena pola pemikiran anak berbeda, metode yang digunakan juga berbeda-beda sesuai keperluan agar dapat dipahami oleh siswa.

    ReplyDelete
  13. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Berapakah 2 pangkat 3, belum tentu 8. Itulah dalam filsafat, semua yang kita pikirkan belum tentu sama yang dipikirkan oleh sesama kita manusia. Kenapa engkau diam? Nyatanya aku tidak diam, aku ramai dalam hatiku. Itulah yang dilihat oleh para manusia mengenai sesamanya, terkadang salah menilai dan salah mengerti dalam memahami sesamanya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Filsafat adalah ilmu dalam bentuk pikiran. Mengapa? Karena filsafat bersal dari manusia itu sendiri, tepat pikiran manusia itu sendiri. Dalam mempelajari filsafat tidak hanya pada permukaannya saja yang dipelajari namun dipelajari dan dikuasai hingga ke akar – akarnya.

    ReplyDelete
  15. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Bicara filsafat adalah bicara yang sangat mengasikkan dan juga menjengkelkan, karena filsafat itu mengkaji yang ada dan mungkin ada sehingga dalam filsafat tidak ada istilah benar atau salah. Sehingga tak satupun para filsuf yang mengklaim dirinya benar.

    ReplyDelete
  16. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Manusia yang paham akan tujuan penciptaanya ke dunia ini, akan selalu berusaha menjadikan apa yang dilihat, dirasakan, dan didengarkan dapat dijadikannya sebagai sarana untuk mengaflikasikan tujuan penciptaannya yaitu hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Demikian halnya dengan belajar matematika, kita harus terus berusaha bagaimana supaya bermanfaat untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

    ReplyDelete
  17. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang namanya benar ataupun salah. Berfikir filsafat=berfikkir reflektif yang artinya membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya tanpa batasan dan sudut pandang. Dalam elegi ini mengajarkan bahwa kita sebagai manusia hendaklah rajin menbaca. Dengan membaca pikiran kita akan semakin luas, yang artinya bahwa kita tidak boleh memandang suatu hal itu dari satu sisi saja tetapi dengan berbagi sudut pandang.

    ReplyDelete
  18. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berfilsafat itu berpikir kritis tentang hakekat suatu objek setinggi-tingginya. Setiap orang dapat berfilsafat sesuai dengan dimensinya. Namun makna dalam berfilsafat tersebut akan lebih bermakna jika berdiri dimensi yang lebih tinggi. Itulah mengapa dalam berfilsafat harus selalu berpikir keritis.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Filsafat itu meliputi segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Semua di dalam filsafat adalah benar dan tidak salah. Karena kesemuanya tergantung pada sudut pandang masing-masing. Satu objek dapat dipandang dari sudut pandang yang berbeda tergantung subjeknya. Sehingga, ketika kita berfilsafat, kita tidak boleh langsung menjudge seseorang bahwa pendapatnya salah. Pendapat itu selalu benar dan tidak salah hanya berbeda sudut pandang. Jadi, hal yang sangat bermanfaat di dalam berfilsafat adalah menghargai pendapat satu orang dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  20. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berpikir merupakan salah satu hal untuk dapat berfilsafat. Filsafat mempelajari banyak hal, termasuk adanya ruang dan waktu. Apa yang kita pikirkan mungkin akan berbeda dengan yang dipikirkan orang lain, dan sebaliknya. Setiap manusia mempunyai tjuan, dan untuk menggapai tujuan itu masing – masing punya cara sendiri untuk menggapainya. Dalam mencapai tujuan filsafat masing – masing juga punya cara sendiri dan tergantung dari ruang dan waktunya masing – masing. Pada dasarnya setiap orang punya pendapat masing – masing dan hendaknya sesama manusia saling menghargai dan menghormati atas pendapatnya masing – masing.

    ReplyDelete
  21. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Objek pikir didalam filsafat sangat banyak tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Setiap subjek memiliki dimensi yang berbeda-beda terganung pada tingkat ilmu pengetahuannya dengan adanya perbedaan tingkat dimensi maka akan menghasilkan objek pikir yang juga akan berbeda seperti yang terdapat pada elegi diatas. Semakin tinggi dimensi seseorang maka dapat dipastikan ilmu pengetahuannya luas.

    ReplyDelete
  22. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Cara berfikir di dalam filsafat itu sangat luas tanpa batas tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Di dalam filsafat, tidak ada yang namanya salah atau pun benar. Setiap sesuatu yang menjadi objek fikir filsafat dapat dipandang dari sudut pandang yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  23. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda – beda. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda – beda. Sehingga setiap orang memiliki jawaban berbeda – beda atas suatu pertanyaan. Itu hak setiap orang, jadi dari elegi di atas saya belajar bahwa kita harus menghargai pendapat orang lain. Karena setiap orang memiliki alasan tertentu ats suatu pendapat yang dimiliki.

    ReplyDelete
  24. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Setiap orang memiliki pandangn masing-masing terhadap suatu hal. manusia memang berbeda cara pandangnya terhadap sesuatu. cara pandang harus disesuaikan dengan logika kehidupan. tidak boleh melihat dari sebelah sisi saja tetapi coba lihat dari berbagai sisi yang ada, agar tidak menjadi salah paham.

    ReplyDelete
  25. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pada elegi obrolan filsafat, menggambarkan bahwa pola pikir orang itu berbeda - beda karena sebenar-benarnya filsafat itu adalah dirimu dan diriku. Untuk menyatukan pemikiran ini tidaklah mudah. Dalam menyatukan atau menyamakan pemikiran ini kadang kala muncul keegoisan individu. Bila tidak dihadapi dengan hati dan pikiran jernih susah untuk menyatukan pemikiran ini. Filsafat dalam hal ini mengajarkan kita untuk saling menghargai satu sama lain sekalipun itu ada dalam perbedaan.

    ReplyDelete
  26. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Filsafat adalah ilmu olah pikir. sebenar benarnya filsafat adalah ada dirimu dan diriku. Dalam belajar filsafat menurut saya hal yang paling penting adalah saling menghargai pola pikir. Karena tidak ada yang benar kecuali kebenaran berasal dar Allah SWT dan tidak ada yang salah kecuali kesalahan dalam mendekati larangaNya.

    ReplyDelete
  27. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat adalah ilmu yang memikirkan tentang sesuatu hal yang ada dan yang mungkin ada. Disini kita diberikan pikiran untuk mengetahui hal-hal yang mungkin ada tanpa menyampingkan kekuasaanNya.

    ReplyDelete
  28. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia diciptakan untuk dapat berpikir mengenai apapun yang ada di dunia ini. Kemampuan berpikir setiap manusia untuk berpikir adalah berbeda setiap individu. Namun dalam setiap pemikiran tersebut tidak ada yang benar ataupun salah. Tergantung bagaimana seseorang melihat dari sudut pandang yang mana dulu.

    ReplyDelete
  29. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari pertanyaan-pertanyaan yang disajikan dalam elegi di atas, banyak jawaban yang berbeda dengan jawaban yang saya pikirkan. Oleh karena itu, kita harus selalu berpikir kritis dan kreatif, karena setiap orang mempunyai sudat pandang yang berbeda dalam menghadapi suatu masalah.

    ReplyDelete
  30. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut dituliskan beberapa subjek yang saling bertanya pada satu subjek dan jawaban dari objek satu selalu berbeda dengan jawaban yang orang awam akan jawab. Hal ini menunjukan bahwa filsafat atau pola pikir dari setiap orang pastilah berbeda.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  31. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu dari pikiran karena filsafat adalah pemikiran dari manusia itu sendiri. Pemikiran dari diri kita belum tentu sama dengan apa yang difikirkan orang lain meskipun dalam satu masalah yang sama. Filsafat memikirkan yang ada dan mungkin ada serta memunculkan yang tadinya tidak ada. Maka berfilsafat sebaiknya berfikir dengan kritis serta lebih mendalami filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  32. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Filsafat adalah pikiran. Pikiran ada kaitannya dengan intuisi. Ketika mendapat pertanyaan seperti itu kita perlu menggunakan intuisi untuk menjawab dan memahaminya. Saya ambil pernyataan yang menanyakan mana yang lebih besar empat atau tujuh. Jawaban yang diberikan yaitu tergantung cara menulisnya. Ketika kita berpikir dan menggunakan perasaan kita benar bahwa ketika empat ditulis dengan spidol lebih besar daripada tujuh maka benar adanya bahwa empat yang ditulis lebih besar dari tujuh.

    ReplyDelete
  33. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya suka bagian yang mengatakan "jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni"
    Manusia memang sebaiknya tak henti-henti mengharapkan ampunan dari Tuhan. Karena bagaimanapun kita bisa melupakan apa kesalahan yang dilakukan. Alih-alih tidak merasa bersalah alangkah baik jika kita meminta ampunan terus menerus kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  34. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Secara sederhana filsafat bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin untuk menemukan suatu kebenaran hakiki. Objek filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Untuk mencari makna dari yang ada dan yang mungkin ada itu relatif terhadap ruang dan waktunya. Filsafat itu dalam bentuk pikiran karena filsafat berasal dari dalam manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  35. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ketika mendapat pertanyaan seperti itu kita perlu menggunakan intuisi untuk menjawab dan memahaminya. Saya ambil pernyataan yang menanyakan mana yang lebih besar empat atau tujuh. Jawaban yang diberikan yaitu tergantung cara menulisnya. Ketika kita berpikir dan menggunakan perasaan kita benar bahwa ketika empat ditulis dengan spidol lebih besar daripada tujuh maka benar adanya bahwa empat yang ditulis lebih besar dari tujuh.

    ReplyDelete
  36. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Obrolan filsafat di atas, membahas mengenai operasi dalam aritmatika aljabar dan lambang dalam matematika. Filsafat digunakan sebagai pondasai dalam pendidikan matematika. Ojek yang ada dalam matematika sama seperti halnya dalam filsafat meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Berfilsafat menggunakan hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis agar dapat diterapkan dengan benar dalam matematika sebagai pondasi utamanya.

    ReplyDelete