Sep 20, 2010

Elegi Obrolan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek1:
Dimana bisa beli sate?
Subyek2:
Itu lihat Papan Nama nya, di atas pohon?
Subyek1:
Masa, makan sate harus di atas pohon?
Subyek2:
Berapa sebelas dibagi dua?
Subyek1:
Tergantung bagaimana cara membaginya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika membaginya membujur maka sebelar dibagi dua hasilnya satu. Jika membaginya dengan cara melintang maka hasilnya sebelas juga.
Subyek2:
Mana yang lebih besar, empat atau tujuh?
Subyek1:
Tergantung cara menulisnya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika aku tulis empat dengan spidol besar dan tujuh dengan spidol kecil, maka empat lebih besar dari tujuh.
Subyek2:
Berapa empat ditambah lima.
Subyek1:
Tergantung keadaannya.
Subyek 2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika empat nya kurus dan lima nya kurus, maka empat ditambah lima sama dengan sembilan kurus.
Subyek2:
Apakah sikuku ini sudut lancip?
Subyek1:
Bukan, sikumu itu sudut tumpul.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Tidak ada barang lancip di dunia ini.
Subyek2:
Bukankah jarum itu lancip?
Subyek1:
Ujung jarum terdiri dari molekul yang terdiri dari atom, yang lintasannya melingkar.
Subyek2:
Bagaimana membuat lingkaran?
Subyek1:
Tergantung bahannya.
Subyek2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika bahannya terdiri dari epung maka siapkan cetakannya. Jika bahannya dari kayu maka siapkan gergaji.
Subyek2:
Berapakah dua ditambah empat.
Subyek1:
Dua ditambah empat sama dengan dua puluh empat.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Ambil dua, ambil empat kemudian tambahkan atau jajarkan.
Subyek2:
Berapakah lima kali nol?
Subyek1:
Lima kali nol sama dengan satu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika nol adalah ikhlasmu, insyaallah engkau ketemu Tuhan mu yang satu.
Subyek2:
Berapakah sepuluh dibagi tak berhingga?
Subyek1:
Sepuluh dibagi tak berhingga itu diampuni dosamu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni.
Subyek2:
Berapakah seratus pangkat nol itu?
Subyek1:
Mungkin engkau akan ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Apapun pangkatmu, jika engkau nol atau ikhlas, insyaallah engkau bisa ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Berapakah tujuh pangkat negatif setengah itu?
Subyek1:
Itu korupsi.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Tujuh pangkat negatif setengah adalah pangkat tak sebenarnya. Bukankah koruptor itu mempunyai pangkat tetapi tidak sebenarnya pangkat. Jadi korupsilah dia.
Subyek2:
Berapa lama engkau sampai ke tujuan?
Subyek1:
Aku tidak pernah bisa mencapai tujuan.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Untuk mencapai tujuan aku harus menempuh separo jalan. Untuk mencapai separoh jalah aku harus menempuh separohnya lagi. ...dst. Aku tdak pernah selesai membagi dua. Jadi aku tak pernah sampai tujuan.
Subyek2:
Cepat manakah becak dengan pesawat?
Subyek1:
Cepat becak
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Aku naik becak telah sampai di Bandara. Padahal pesawat belum berangkat.
Subyek2:
Jika kaca aku lempar batu, kemudian pecah. Mengapa kaca pecah?
Subyek1:
Kaca pecah karena kena batu.
Subyek2:
Bukan.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Kaca pecah belum tentu kena batu.
Subyek1:
Kapan Plato lahir?
Subyek2:
Tadi pagi.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Jika waktu aku padatkan.
Subyek1:
Dimana kutub utara.
Subyek2:
Di sini.
Subyek1:
Jika ruang aku mampatkan.
Subyek2:
Di mana dirimu?
Subyek1:
Di dalam dirimu.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Jika engkau memikirkan aku.
Subyek2:
Dari mana engkau lahir?
Subyek1:
Dari rahim ibuku.
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Mengapa?
Subyek2:
Egkau lahir dari jiwa ibumu.
Subyek1:
Apakah itu suara musik?
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Suara apa?
Subyek2:
Itu harmoni alam
Subyek1:
Apa hubungan setiap hal di dunia ini?
Subyek2:
Pikiranmu.
Subyek1:
Kenapa engkau tersenyum melihat batu?
Subyek2:
Aku melihat patung di dalamnya.
Subyek1:
Kenapa engkau diam?
Subyek2:
Enggak. Aku ramai dalam hatiku.
Subyek1:
Kenapa engkau bingung?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati.
Subyek1:
Kenapa engkau malas?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati?
Subyek1:
Kenapa engkau protes?
Subyek2:
Enggak. Aku bernyanyi.
Subyek1:
Kenapa engkau tergesa-gesa?
Subyek2:
Enggak. Aku efisien.
Subyek1:
Kenapa engkau pelit?
Subyek2:
Enggak. Aku selektif.
Subyek1:
Kenapa engkau marah?
Subyek2:
Enggak. Aku menasehati.
Subyek1:
Kenapa engkau menjawab?
Subyek2:
Kenapa engkau selalu bertanya?
Subyek1:
Enggak. Aku silaturahim.
Subyek2:
Kenapa engkau selalu mencibir?
Subyek1:
Enggak. Aku sedang membangun.
Subyek2:
Kenapa engkau tidak usul?
Subyek1:
Enggak. Aku memberi kesempatan.
Subyek2:
Kenapa engkau sombong?
Subyek1:
Enggak. Aku membela diri.

69 comments:

  1. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Objek pikir didalam filsafat sangat banyak tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Setiap subjek memiliki dimensi yang berbeda-beda terganung pada tingkat ilmu pengetahuannya dengan adanya perbedaan tingkat dimensi maka akan menghasilkan objek pikir yang juga akan berbeda seperti yang terdapat pada elegi diatas. Semakin tinggi dimensi seseorang maka dapat dipastikan ilmu pengetahuannya luas.

    ReplyDelete
  2. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Cara berfikir di dalam filsafat itu sangat luas tanpa batas tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Di dalam filsafat, tidak ada yang namanya salah atau pun benar. Setiap sesuatu yang menjadi objek fikir filsafat dapat dipandang dari sudut pandang yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  3. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda – beda. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda – beda. Sehingga setiap orang memiliki jawaban berbeda – beda atas suatu pertanyaan. Itu hak setiap orang, jadi dari elegi di atas saya belajar bahwa kita harus menghargai pendapat orang lain. Karena setiap orang memiliki alasan tertentu ats suatu pendapat yang dimiliki.

    ReplyDelete
  4. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Setiap orang memiliki pandangn masing-masing terhadap suatu hal. manusia memang berbeda cara pandangnya terhadap sesuatu. cara pandang harus disesuaikan dengan logika kehidupan. tidak boleh melihat dari sebelah sisi saja tetapi coba lihat dari berbagai sisi yang ada, agar tidak menjadi salah paham.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Filsafat adalah pikiran. Pikiran ada kaitannya dengan intuisi. Ketika mendapat pertanyaan seperti itu kita perlu menggunakan intuisi untuk menjawab dan memahaminya. Saya ambil pernyataan yang menanyakan mana yang lebih besar empat atau tujuh. Jawaban yang diberikan yaitu tergantung cara menulisnya. Ketika kita berpikir dan menggunakan perasaan kita benar bahwa ketika empat ditulis dengan spidol lebih besar daripada tujuh maka benar adanya bahwa empat yang ditulis lebih besar dari tujuh.

    ReplyDelete
  6. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya suka bagian yang mengatakan "jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni"
    Manusia memang sebaiknya tak henti-henti mengharapkan ampunan dari Tuhan. Karena bagaimanapun kita bisa melupakan apa kesalahan yang dilakukan. Alih-alih tidak merasa bersalah alangkah baik jika kita meminta ampunan terus menerus kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Secara sederhana filsafat bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin untuk menemukan suatu kebenaran hakiki. Objek filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Untuk mencari makna dari yang ada dan yang mungkin ada itu relatif terhadap ruang dan waktunya. Filsafat itu dalam bentuk pikiran karena filsafat berasal dari dalam manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ketika mendapat pertanyaan seperti itu kita perlu menggunakan intuisi untuk menjawab dan memahaminya. Saya ambil pernyataan yang menanyakan mana yang lebih besar empat atau tujuh. Jawaban yang diberikan yaitu tergantung cara menulisnya. Ketika kita berpikir dan menggunakan perasaan kita benar bahwa ketika empat ditulis dengan spidol lebih besar daripada tujuh maka benar adanya bahwa empat yang ditulis lebih besar dari tujuh.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Obrolan filsafat di atas, membahas mengenai operasi dalam aritmatika aljabar dan lambang dalam matematika. Filsafat digunakan sebagai pondasai dalam pendidikan matematika. Ojek yang ada dalam matematika sama seperti halnya dalam filsafat meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Berfilsafat menggunakan hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis agar dapat diterapkan dengan benar dalam matematika sebagai pondasi utamanya.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi obrolan filsafat menjelaskan bahwa sesuatu yang kita pikirkan belum tentu sama dengan yang orang lain pikirkan. Namun dengan adanya perbedaan itu akan membuat kita dapat berpikir secara luas, lebih kritis dan lebih mendalam. Karena ketika kita membicarakan filsafat, maka segala sesuatu yang ada dan mungkin ada akan terkait dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Obrolan filsafat, membacanya, bisakah saya sebut kalau saya sedang dalam ikhtiar dalam menggapai logos? Saya berpikir, berpikir ulang, refleksi (?). Saya melihat kembali pada postingan ini, ada yang membuat saya masuk pada keadaan saya membaca tentang "hakikat filsafat berkait dengan ruang dan waktu". Tidak ada yang benar-benar mutlak dan idealis. Ampuni saya jika salah, saya juga merasa dikembalikan pada keadaan di mana saya berada pada postingan tentang "kontradiktif", ampuni lagi kalau saya keliru, apakah benar jika saya melihat terdapat konsep "paradoks" (?).
    Lihat, baru sedikit yang saya tahu (itupun belum tentu benar). Saya akan belajar, saya akan berpikir, saya akan bertanya, saya akan berupaya mencapai logos, saya berfilsafat (?), filsafat adalah diri saya sendiri (?)

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari ‘Elegi Obrolan Filsafat’ sangat menarik sekali. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, banyak jawaban yang berbeda dengan jawaban yang saya pikirkan. Maka jadilah orang yang selalu berpikir kritis dan kreatif, jawaban berbeda karena setiap orang mempunyai sudat pandang yang berbeda dalam menghadapi suatu masalah.
    Q: Telur dan ayam duluan mana?
    A: ayam
    Q: bukan, yang benar telur. Adanya kan telur ayam bukan ayam telur.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Bagamaina kita memandang sesuatu bisa menimbulkan jawaban/pandangan yang berbeda-beda, dan semua jawaban/pandangan tersebut benar dilihat dari sudut pandang kita menjawabnya. Hal ini yang diterapkan dalam ilmu filsafat bahwa filsafat memberikan kebebasan dalam memberikan pandangan sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Dalam menjawab suatu pertanyaan, tiap orang bisa memberikan jawaban yang berbeda-beda karena tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda pula. Begitu pula dalam filsafat, ketika kita mempelajari suatu fenomena, kita akan memiliki pertanyaan dan pendapat yang berbeda dari orang lain. A bagiku belu tentu A bagimu, benar bagiku belum tentu benar bagimu, dan salah bagiku belum tentu salah bagimu. Maka dari itu, dalam berfilsafat, kita harus menyelaraskan hati dan pikiran serta terus berikhtiar kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seringkali kita melihat suatu hal hanya dari satu sisi dan kemudian mengambil kesimpulan darinya. Padahal banyak hal yang akan terlihat berbeda tergantung ruang dan waktu, tergantung dari sisi mana kita melihatnya, tergantung kapan kita melihatnya, terhantung dimana kita melihatnya. Karena itulah kita pun harus belajar untuk mnerima pendapat orang lain karena sudut pandangnya terkadang berbeda dengan kita. Karena itulah kita harus terus belajar agar memiliki wawasan yang lebih luas, agar mampu melihat suatu hal dari berbagai sisi.

    ReplyDelete
  16. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Hal yang selama ini memiliki jawaban yang pasti, belum tentu jawaban yang sebenarnya. Hal itu akan tergantung bagaimana menafsirkannya. Setiap orang memiliki persepsi berbeda dalam menghadapi suatu fenomena, hal tersebut juga pasti disebabkan seberapa besar pengetahuan dan pengalamannya. Orang yang kreatif akan memiliki perbedaan pandangan dengan orang yang biasa saja. Orang yang kreatif akan memandang suatu fenomena dengan tanggapan yang berbeda. Janganlah membatasi pemikiran dan pendapat orang lain, karena hal yang kita selama ini pikirkan belum tentu hal yang benar bisa saja yang dipikirkan orang lain merupakan hal yang benar atau bisa jadi sebagian dari kebenaran yang selama ini kita anggap tidak lazim.

    ReplyDelete
  17. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Obrolan Filsafat, Membaca elegi ini membuat saya tersenyum senyum sendiri. Jawaban-jawabannya sebagain diluar dugaan saya, namun jawaban tersebut tetap dapat diterima oleh akal. Sehingga dari elegi ini, saya belajar bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu sama seperti apa yang orang lain pikirkan. Oleh karena itu, kita harus memiliki pemiikiran yang luas dan terbuka agar dapat memahami dan menerima pemikiran yang dikemukakan orang lain. Terima Kasih

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pernyataan Bapak yang mengatakan bahwa jika seseorang belajar filsafat maka ia akan setingkat lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain, dibuktikan dalam postingan di atas. Elegi obrolan filsafat ini memperlihatkan bahwa seorang filsuf selalu mempunyai pemikiran dan pandangan yang berbeda terhadap sesuatu dan itu benar adanya menurut ruang dan waktu tertentu. Jawaban-jawaban dari para subyek di atas di luar prediksi saya, unik, dan berbeda dari biasanya. Semoga untuk kedepannya saya juga bisa mempunyai pemikiran seperti subyek-subyek di atas dan tentunya harus banyak membaca dan belajar.

    ReplyDelete
  19. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Belajar Filsafat artinya kita belajar secara luas, kita belajar berpikir luas, kita belajar menempatkan sesuatu berdasarkan ruang dan waktunya. Filsafat mempunyai makna yang sangat mendalam tidak hanya berdasarkan ilmu pengetahuan namun semua aspek. Seorang filsuf bisa saja melihat satu benda yang sama namun memiliki pendapat yang berbeda-beda namun mempunyai makna yang berguna dalam kehidupan. Kalimat-kalimat filsafat bagi saya sendiri merupakan kalimat yang butuh pemikiran yang lebih untuk dipahami, butuh belajar dan membaca yang lebih lagi untuk memahami dan mengerti filsafat.

    ReplyDelete
  20. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi obrolan filsafat menurut pendapat saya adalah cara berpikir dan atau cara pandang setiap subyek atau individu tidak selalu sama. setiap obyek atau kajian masalah, tidak selalu dilihat dari satu sisi saja, tetapi dapat dilihat dari berbagai sisi dan menghasilkan berbagai macam pendapat dari berbagai macam individu atau subyek. Apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini dapat didefinisikan secara bermacam – macam atau bervariasi bergantung pada situasi, kondisi, dan cara pandangnya. Bisa jadi jika saya mengatakan 5 + 2 = 7 dan orang lain mengatakan itu salah, tinggal bagaimana cara pandang yang diterapkan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    ReplyDelete
  21. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Berfilsafat berarti berfikir secara luas. Setiap orang dalam berfilsafat memiliki pandangan terhadap sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda, dan olah fikir yang berbeda. Dan ini sah-sah saja selagi sesuai dengan ruang dan waktu. Tidak ada kata salah terhadap suatu pandangan seseorang, karena memang setiap orang pasti punya pandangan yang berbeda terhadap sesuatu.

    ReplyDelete
  22. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dari tulisan elegi obrilan filsaat diatas menunjukkan beranekaragmnya setiap sudut pangdang. Walaupun kita melihat dari sudut padang yang sama belum tentu kita akan memiliki pendapat yang sama. Keberanekaragam pendapat itulah yang memperkaya diri kita sebagai insan manusia. Yang perlu kita sadari tidak sepantasnya kita untuk memaksakan pendapat.

    ReplyDelete
  23. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi obrolan filsafat ini, saya bertanya-tanya, apakah ada batasan penggunaan logika dalam memahami filsafat?. Karena yang saya tahu sebenar-benar berfilsafat adalah berpikir secara logis. Sesungguhnya apa yang dipikirkan tidak dapat semuanya dilakukan sepenuhnya, sama halnya dengan yang diucapkan tidak akan mampu mengucapkan semua hal yang dipikirkan. Setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat obyek atau subjek. Hal itu tergantung bagaimana individu membangun ilmu pengetahuannya.

    ReplyDelete
  24. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan ini saya mendapat pelajaran bahwa kita bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dengan yang umumnya dilihat oleh orang lain. dan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab dengan jawaban yang berbeda dari pengetahuan yang kita pelajari hingga saat ini jika menggunakan persfektif yang berbeda.

    ReplyDelete
  25. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Filsafat adalah olah pikir. Pertanyaan dan jawaban yang diutarakan pada elegi di atas oleh subyek 1 adalah pertanyaan dan jawaban yang diperoleh dengan olah pikir tingkat tinggi. Melalui filsafat, seseorang dapat melatih olah pikirnya, merefleksi dirinya menuju menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  26. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas terdapat beberapa permisalan yang menggambarkan realita kehidupan. Salah satu contoh yang menarik seperti contoh bilangan berpangkat, “tujuh pangkat negatif setengah adalah pangkat tak sebenarnya”. Ini dikaitkan dengan pejabat yang memiliki pangkat / jabatan, namun pangkat yang dimilikinya tersebut akan sia-sia atau tidak ada artinya jikalau dia bertindak layaknya seorang koruptor. Ia yang memiliki pangkat namun melakukan hal negatif (korupsi) maka merugilah ia. Contoh lain seperti batu dan kaca pecah. Hal ini mengajarkan kita bahwa memandang sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Oleh karena itu untuk menilai atau menjudge orang lain maka lihatlah tidak hanya dari pendapat satu orang saja melainkan juga melihat beberapa orang lain. Filsafat memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda berdasarkan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  27. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Subhanallah,
    Saya membayangkan bahwa dalam menggapai ilmu kita ditempatkan di padang yang sangat luas. Disana kita bisa memilih untuk menundukkan kepala dan hanya melihat hal yang dekat atau menatap luasnya padang itu. Bisa menatap segala sesuatu dari berbagai sudut, mengumpamakan bahwa dalam berpikir tentang suatu hal bisa dari berbagai sudut pandang. Namun penglihatan kita pastilah terbatas, itu berarti bahwa dalam berpikir kita harus sadar akan batas-batas pikiran kita. Pada elegi obrolan filsafat ini juga menghubungkan antara matematika dengan spiritual manusia. Ternyata dengan belajar matematika menggunakan filsafat dapat membuka hati kita untuk selalu ingat akan Kuasa Tuhan dan kekurangan diri.

    ReplyDelete
  28. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya tertawa membacanya. Akhirnya pikiran saya mulai terbuka. Ini adalah elegi favorit saya. Favorit saya sebelum saya menemukan favorit dalam ruang dan waktu yang lain.
    Dalam dialog sungguh digambarkan dua subyek dengan pemikiran yang berbeda. Dua-duanya dapar menjelaskan dengan baik pemikirannya. Seperti inilah filsafat. Ketika filsafat adalah dirimu sendiri, dirimu mempunyai pikiran sendiri, refleksi sendiri yang dibangun sendiri melalui pengalaman dan juga obrolan dengan yang lain. Sungguh penjabaran yang sederhana namun mengena dan mudah dipahami.

    ReplyDelete
  29. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Obrolan filsafat adalah obrolan yang sangat objektif. Obrolan filsafat tidak mengacu pada pembenaran umum di masyarakat. Obrolan filsafat akan membawa manusia untuk selalu berfikir sehingga tidak menerima begitu saja statement-statement yang berkembang di masyarakat. Hal inilah yang terkadang menimbulkan perdebatan baik antar masyarakat atau antar para filsuf sendiri dalam memandang sesuatu. Itulah sebenarnya yang harus dilakukan untuk terus menggali dan menggali ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  30. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Menyimak obrolah filsafat, antara dua subyek 1 dan subyek 2 bahwa obrolah keduanya memberikan makna bahwa dalam berfilsafat antara subyek 1 dan subyek 2 memiliki bahasa yang berbeda-beda. Bukan “ filsafatku adalah filsafatmu, bukan pula filsafatmu adalah filsafatku”, Oleh karena itu dapat kami pahami bahwa dalam berfilsafat seseorang dibebaskan untuk berfikir. Berfikir tentang segala hal, namun yang perlu diperhatikan dalam berfikir harus memiliki landasan agar ada pengikat dan tidak terjerumus dalam kesesatan terima kasih.

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Tertegun, merenung dan terdiam sejenak. Bahkan membacanya berkali-kali. Terlintas dalam pikiran saya, begitu kreatif sekali pikiran yang ada pada masing-masing subyek. Saya menyadari bahwa tidaklah mudah menilai seseorang dalam sudut pandang filsafat. Hal ini dikarenakan konteks dalam situasi pada setiap jawaban yang diberikan juga tidak dapat dinilai salah ataupun benar. Setiap orang memiliki alasan dalam tindakan yang dilakukan. Namun, apakah seperti ini pola pikiran yang terbentuk dalam sudut pandang filsafat? Apakah jawaban penyangkalan dapat mendatangkan suatu ilmu pengetahuan? Semoga saya menemukan penjelasan dan jawabannya pada postingan yang lain.

    ReplyDelete
  32. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pandangan tiap orang berbeda-beda karena cara berpikir tiap orang juga berbeda. Dari cara berpikir yang berbeda tersebut, menghasilkan pemahaman yang berbeda pula. Dalam berpikir kita juga harus menyesuaikan ruang dan waktunya. Tidak hanya berpikir, bersikap, berbicara pun, harus sesuai dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, di dunia ini aturan-aturan dibuat agar setiap orang memiliki pandangan yang sama bahwa mana saja suatu hal dianggap benar dan mana saja suatu hal dianggap salah sesuai kesepakatan bersama.

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Asslamualikum Wr. Wb. Berbicara filsafat memang selalu menyenangkan dan membingungkan seperti apa yang dibicarakan pada elegi ini. Namun saya yakin di setiap elegi-elegi bapak terselip nilai-nilai yang mesti kami gali. Dari elegi ini saya dapat memahami bahwa kemapanan masih bisa diperdebatkan meskipun mutahil untuk diruntuhkan. Dari elegi ini pula saya dapat memahami bahwa perbedaan cara pandang akan memengaruhi persepsi kita terhadap sesuatu. Pada titik inilah relativitas itu terjadi. Namun, dari berbagai macam cara pandang, saya yakin bahwa ada beberapa yang paling logis.

    ReplyDelete
  34. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    belajar filsafat adalah belajar secara intensif dan ekstensif. Apa saja yang terlihat dan dipertanyakan tidak hanya mempunyai satu analisis atau satu jawaban. Karena berfilsafat harus berpikir kritis agar kita tidak terjebak dalam mitos. Dari elegi ini saya benar-benar memikirkan bagaimana bisa yang sebnarnya hanya ada satu jawaban tetapi didalam filsafat dapat menghasilkan berbagai macam jawaban. Setealh merefleksikan lagi apa yang saya baca dari elegi-elegi sebelumnya dan apa yang saya dapat diperkuliahan, ya, memang seperti itulah filsafat, berpikir kritis dan mempunyai hati yang bersih itu adalah kunci untama untuk beerfilsafat.

    ReplyDelete
  35. Elegi obrolan filsafat

    Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Filsafat adalah fikiran, maka sebenar-benarnya filsafat adalah yang engkau fikirkan. Yang engkau fikirkan dapat segala hal yang ada dan mungkin ada yang bertentangan atau tidak. Filsafat bisa berubah karena pikiran berubah. Filsafat tidak salah, yang salah adalah fikiran. Filsafat adalah bahasa jadi sebenar-benarnya filsafat yaitu membahasakan pikiranmu.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  36. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Elegi diatas menunjukkan bahwa dalam filsafat, segala sesuatu itu tergantung dari mana sudut pandang orang yang berfilsafat. Suatu hal yang sama dapat dijelaskan secara berbeda oleh orang yang berbeda. Setiap orang memiliki alasan dan pikirannya tersendiri. Oleh karena itu sebagai manusia yang memahami bahwa cara berpikir orang lain berbeda-beda, hendaknya kita tidak terlalu judgmental terhadap orang lain. Menurut saya, inilah salah satu manfaat belajar tentang filsafat, untuk memahami sesuatu yang ada pada diri sendiri dan mengenal sesuatu diluar diri kita.

    ReplyDelete
  37. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari obrolan filsafat ini saya mengetahui bahwa cara pandang itu berbeda. Bahwa segala sesuatu itu tergantung ruang dan waktunya. Dalam berfilsafat maka penting untuk melakukan olah pikir. Olah pikir yang berkaitan dengan yang ada dan yang mungkin ada. Olah pikir ini disesuaikan dengan ruang dan waktu, serta siapa yang memikirkannya. Beda ruang dan waktu, maka berbeda filsafatnya. Beda orang yang memikirkan, maka filsafat yang dihasilkan pun akan berbeda.
    Dalam hal ini saya juga memandang bagaimana kita seharusnya berpikir kritis akan segala hal, tapi tidak semua hal bisa dikritisi misalnya yaitu tentang spiritual. Sedangkan berpikir dan memikirkan itu sajatinya manusia karena memanfaatkan apa yang telah diberikan dari Allah Ta’ala. Dimana, tak setiap makhluk diberi anugrah untuk berpikir ini.

    ReplyDelete
  38. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2

    Filsafat merupakan olah pikir. Objek filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga dalam berfilsafat apapun itu bisa kita pikirkan. Pikiran manusia pun bertingkat-tingkat, sehingga apa yang dipikirkan seseorang kadang tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Begitu pula sebaliknya.

    ReplyDelete
  39. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Obrolan filsafat ini sungguh menghibur sekaligus membuka pikiran. Obrolan ini mengajarkanku untuk berpikir kritis, dan tidak dengan mudah membuat prejudice terhadap suatu peristiwa. Perlu melihat apa sebenarnya di balik suatu kejadian atau obyek.

    ReplyDelete
  40. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Inti dari filsafat adalah berpikir secara mendalam dan luas sehingga filsafat tidak lain dan tidak bukan adalah pikiran itu sendiri. Sepemahaman kami manusia memiliki cara pikir yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Hal ini mengakibatkan cara pandang dan paradigma yang dimiliki dan digunakan oleh setiap orang juga akan berbeda-beda. Cara berpikir dalam filsafat merupakan cara aberpikir yang mendalam, luas dan logis. Selain itu berpikir dalam filsafat juga bersifat ekstensif dan intensif, dan yang paling utama utama adalah menyesuaikan dengan ruang dan waktu yang ada pada saat itu.

    ReplyDelete
  41. Elegi obrolan filsafat
    Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Elegi ini mengajarkan bahwa setiap pertanyaan memiliki jawaban yang berbeda-beda. 3+1 belum tentu 4, misalkan 3 telur ditambah 1 tempe tentu tidak bernilai 4 tempe atau 4 telur. HP belum tentu lebih kecil dari sepeda motor jika sama-sama dilihat dari puncak gunung, karena semuanya terlihat menjadi 1 titik saja. bahkan HP bisa lebih besar dari truk, jika kita melihat truk dari atas gunung dan HP sedang ada di tangan kita. Semua jawaban dari sebuah pertanyaan tergantung dari sudut pandang kita dan dari bagaimana kita memikirkannya. Itulah filsafat

    ReplyDelete
  42. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Elegi ini membuat saya berpikir dan tersenyum, ternyata manusia begitu unik dengan banyak pikirannya dan ternyata pikiran saya begitu sempitnya. Saya selalu menjawab 7 bila ditanya 2 + 5, padahal belum tentu. Saya pun selalu berpikir bahwa 10 lebih besar dari 5, padahal "lebih besar" adalah masalah persepsi dan sudut pandang juga.

    ReplyDelete
  43. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menurut Immanuel kant, sebenar-benar dunia itu persis dengan apa yang engkau pikirkan. Pikiran manusia berbeda-beda, maka sebanyak itu pula dunia menurut pandangan manusia. Karena awal proses berpikir itu ada di dalam pikiran kita masing-masing. Berarti dalam memandang sebuah fenomena maka manusia akan mempunyai banyak penafsiran sesuai dengan sudut pandang mereka masing-masing atau bisa dikatakan sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  44. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Soal filsafat adalah soal yang tidak membuatuhkan jawaban pada umumnya, atau jawaban yang biasa saja. Membaca elegi obrolan filsafat ini saya teringat saat pertama kali mengikuti kuis cara berfikir filsafat pada awal perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika. Dalam kondisi itu, setiap anak menjawab dengan jawaban sebenarnya, adapula yang menjawab dengan jawaban puitis ala punjangga namun hasil dari jawaban tersebut adalah nihil. Kita semua mendapat nilai rendah.
    Dari keadaan ini, Bapak menjelaskan bahwa dalam hiduo kita tidak boleh sombong, banyak hal yang tidak kita ketahui dan kita tidak tahu. Maka membaca dan bertanya adalah cara memgembangkan ilmu dalam belajar filsafat. Terimakasih, Pak. Semoga kita semua dapat menjadi pembelajar filsafat yang tidak tersesat. Aamiin

    ReplyDelete
  45. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Kita dapat memandang sesuatu dengan beragam cara sesuai dengan sudut pandag. Elegi ini menggambarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini baik yang ada dan yang mungkin ada dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Dan bagaimana kita memandangnya relatif dengan ruang dan waktu

    ReplyDelete
  46. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Berfilsafat itu tergantung ruang dan waktu serta wadah dan isinya. Perhatikan konteks pembicaraan, perhatikan siapa yang di ajakberdiskusi, karena pembicaraan itu bersifat dua arah. Apa yang kita maksud belum tentu dipahami sama oleh orang lain, dan bisa jadi apa yang dibicarakan itu sama-sama benar sesuai konteksnya.

    ReplyDelete
  47. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Cara berpikir secara filsafat tidak seperti cara berpikir secara empiris. Berpikir dalam konteks filsafat tidak hanya melihat pada apa yang nampak saja, tetapi juga sisi lainnya atau yang ada dibalik yang nampak. Misalnya, secara empiris, kita lahir dari rahim ibu kita. Namun, secara filsafat, kita lahir dari jiwa ibu kita. Kita juga lahir dari tesis-tesis yang bertemu dengan antitesis-antitesis. Filsafat mengungkap yang ada dan yang mungkin ada atau yang masih berupa potensi.

    ReplyDelete
  48. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  49. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Elegi obrolan filsafat ini mengajarkan kita bagaimana berpikir terbuka, tidak hanya terpaku pada satu cara pandang namun juga mampu mempertimbangkan cara lain dalam setiap menyelesaikan sesuatu. Selain itu, kita juga perlu melihat suatu kondisi dan situasi dari berbagai arah, tidak boleh membuat statement atau prejudge atas suatu hal, tanpa melihatnya dari sisi yang lain. Semua yang ada dan yang mungkin ada itu bersifat relatif. Karena segala yang ketetapan hanya Allahswt. Sehinnya secara filsafat, semua yang terlihat dan nampak terjadi di dunia ini dapat diselesaikan dengan berbagai cara pandang dan pikiran karena adanya berbagai potensi yang dimiliki, dan kesemuanya itu mengajarkan kita untuk mau bersikap terbuka atas segala nya. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  50. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Filsafat itu dalam bentuk pikiran karena filsafat berasal dari dalam manusia itu sendiri. Filsafat dipelajari dengan hati yang ikhlas. Filsafat itu mempunyai banyak manfaat, salah satunya pikiran kita menjadi terbuka dan kritis. Maka dalam elegi diatas, obrolan filsafat adalah obrolan yang mendatangkan pemikiran atau ide gagasan yang baru yang memberikan pencerahan terhadap pola pikir kita ke arah yang lebih baik dan lebih bijak dalam menghadapi permasalahan hidup. filfata itu dinamis, dimana banyak cara untuk menyelesaikan masalah, begitupun dengan jalan yang diambil pun banyak. filsafat berbeda dengan matematika, jika matematika 2+2=4 maka dalam filsafat 2+2 belum tentu 4. Dengan filsafat, kita bisa mengasah otak kita untuk berpikir dengan pandangan berbeda. Dalam filsafat kita dapat menemukan jawaban benar yang sangat banyak atas satu pertanyaan. sehingga menggunakan ilmu yang kita punya dengan bijak dan baik adalah kunci menjadi manusia yang dapat memanfaatkan dan bermanfaat untuk yang lain.

    ReplyDelete
  51. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini beberapa hal yang saya dapat, yaitu bahwasanya kebenaran dari hasil berfilsafat oleh orang yang berfilsafat hanya diketahui oleh orang yang berfilsafat itu sendiri. Artinya setiap orang memiliki filsafatnya masing-masing, yang mana setiap orang berusaha untuk menyamakan pahamnya dia berfilsafat dengan filsafatnya orang lain. Padahal bukan benar-benar sepaham

    ReplyDelete
  52. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sebenar-benar filsafat adalah pikiran para filsuf. Filsuf berarti orang yang berfilsafat. Sehari-hari setiap orang berfilsafat menurut ruang dan waktunya. Artinya setiap orang memiliki kebenaran filsafat sendiri menurut ruang dan waktunya masing-masing. Tidak akan pernah sepaham, walaupun sebenarnya sama hasil filsafatnya.

    ReplyDelete
  53. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Filsafat dekat dengan kehidupan kita. Filsafat adalah memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada. Banyak orang yang beranggapan bahwa tidak ada gunanya belajar filsafat, padahal filsafat itu penting. Dengan adanya filsafat, maka seseorang itu akan mampu untuk berpikir kritis. Salah satu cara untuk meningkatkan pikiran agar menjadi kritis adalah dengan banyak bertanya.
    Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama, kadang-kadang kita bertemu dengan seseorang dengan pandangan yang berbeda. Jadi, ketika kita melihat sesuatu, kita tidak bisa melihat itu hanya membentuk satu sisi tapi lihatlah di sisi yang berbeda. Setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda-beda karena mereka melihatnya dari sisi yang berbeda–beda pula.

    ReplyDelete
  54. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Manusia yang belum paham filsafat mengira bahwa belajar filsafat itu tidak penting, salah-salah malah bisa jadi sesat. Manusia ini sejatinya belum bisa memahami filsasat sebagai suatu keutuhan ilmu yang mendasar. Filsafat mengajak manusia untuk berpikir dari dimensi ruang dan waktu yang fleksibel. Segala sesuatu bisa bernilai dan dipandang berbeda sesuai dengan dimana dan kapan hal tersebut berada dan dilakukan. Selain itu, belajar ilmu filsafat kita juga dapat melatih kita untuk memahami makna dan fungsi kehidupan akan tetapi diiringi dengan bekal akal pikiran serta spiritual yang baik. Bagaimana dan mengapa sesorang itu hidup. Apakah tujuan mereka hidup. Hal ini secara tidak langsung terangkum dalam ilmu filsafat dalam hermeunitika kehidupan. Bahwa sebenar-benar hidup itu adalah berkomunikasi, dengan Tuhan, dengan alam, dengan diri, dengan manusia, dengan cuaca, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  55. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai ilmu olah fikir, filsafat memandang suatu hal dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Tidak ada jawaban mutlak atas sebuah pertanyaan. Setiap pertanyaan akan memiliki jawaban yang berbeda tergantung dari ruang dan waktu. Filsafat memberikan kesempatan supaya kita bisa berfikir dalam cakupan yang sangat luas.

    ReplyDelete
  56. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya sangat setuju dengan pernyataan dari subjek 1 yang mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan harus menempuh separoh jalan dan untuk menempuh sepaorh jalan kita harus menempuh separuhnya lagi. Hal ini bisa menjadi sindiran keras terhadap gaya hidup manusia jaman sekarang dimana dalam mencapai sesuatu lebih menyukai cara instan. Kebermaknaan proses seringkali dikesampingkan sehingga hasil yang dituai hanya memberikan kepuasan jangka pendek.

    ReplyDelete
  57. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Obrolan filsafat yang ditayangkan ini sangat menarik dan menghibur sekali. Filsafat adalah olah pikir, maka jawaban dari semua pertanyaan akan bergantung pada bagaimana olah pikir kita, apa yang akan direduksikan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  58. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pemahaman akan filsafat itu sendiri adalah pemahaman mutlak dari setiap individu masing-masing. Karena pada dasarnya jika filsafat itu diartikan secara global, maka tidak akan terjadi pemikiran kritis antar individu yang memiliki karakteristik dalam memahami filsafat yang unik dan berbeda-beda. Intinya sebenar-benanrya filsafat adalah filsafat itu sendiri yang dipahami dari masing-masing individu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  59. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini berdimensi. Dimensi setiap objek pikir berbeda-beda tergantung dari mana dan bagaimana kita melihat dan menempatkannya. Saling menghormati dan menghargai merupakan kunci sehingga kita bisa hidup berdampingan dan selaras di dunia ini.

    ReplyDelete
  60. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Filsafat, pada hemat saya, bukan sekedar merupakan mata kuliah. Filsafat adalah suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia (apa tujuan hidup, apakah Tuhan ada, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana hidup yang baik), dan mencoba menjawabnya secara rasional, kritis, dan sistematis.

    ReplyDelete
  61. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Untuk catatan, filsafat sudah ada lebih dari 2000 tahun, dan belum bisa (tidak akan pernah bisa) memberikan jawaban yang pasti dan mutlak, karena filsafat tidak memberikan jawaban mutlak, melainkan menawarkan alternatif cara berpikir. Ketika belajar filsafat, kita akan berjumpa dengan pemikiran para filsuf besar sepanjang sejarah manusia. Sebut saja nama-nama pemikir besar itu, seperti Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, Thomas Aquinas, dan Jacques Derrida. Pemikiran mereka telah membentuk dunia, sebagaimana kita pahami sekarang ini.

    ReplyDelete
  62. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Setelah membaca elegi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia memiliki cara pandang yang berbeda satu sama lain. pikiran dan akal manusia itu unik sehingga berbeda-beda, cara pandang mausia satu dengan yang lain berbeda. dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia memerlukan pandangan oranglain sehingga dapat melengkapi satu sama lain hingga mendapat suatu pandangan yang lebih baik.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  63. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama, kadang-kadang kita bertemu dengan seseorang dengan pandangan yang berbeda. Jadi, ketika kita melihat sesuatu, kita tidak bisa melihat itu hanya membentuk satu sisi tapi lihatlah di sisi yang berbeda. Setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda - beda karena mereka melihatnya dari sisi yang berbeda – beda pula.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  64. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi diatas menampilkan bahwa pada dasarnya seseorang bisa saja berfilsafat, tergantung ruang dan waktunya. kemudian berfilsafat juga tergantung dari seseorang memandang akan sebuah hal dan cara menyampaikan kepada orang lain juga dijadikan tolak ukur seseorang dalam berfilsafat. Sehingga filsafat itu akan berbeda hasilnya akan satu orang dengan orang lainnya. Jujur saya sampaikan, bahwa filsafat ilmu itu adalah ilmu yang sulit dan butuh pemikiran dalam memahaminya. Maka sudah pasti bahwa dalam berfilsafat haruslah berpikir secara luas dan mendalam.

    ReplyDelete
  65. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dari tulisan elegi obrolan filsaat diatas menunjukkan beranekaragamnya setiap sudut pandang. Walaupun kita melihat dari sudut padang yang sama belum tentu kita akan memiliki pendapat yang sama. Keberanekaragam pendapat itulah yang memperkaya diri kita sebagai insan manusia. Yang perlu kita sadari tidak sepantasnya kita untuk memaksakan pendapat. Toleransi sangat penting disini, yang bisa membuat kita bersatu diantara banyak perbedaan.

    ReplyDelete
  66. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof Marsigit, ketika saya membaca tulisan ini saya berfikir benar juga atau malah mungkin selama ini saya memandang hanya dari satu sisi sehingga benar hanya jika sama dengan apa yang saya pikirkan. Dari tulisan ini saya belajar bahwa kita tidak boleh memandang sesuatu itu dari satu prespektif, karena segala suatu hal pasti memiliki banyak sudut pandang. Contonya saja mana yang lebih besar emapat atau tujuh, ini memiliki bebrapa kemungkinan jawaban benar tergantung dalam sudut pandangnya, jika dilihat dari cara menulisnya empat dapat lebih besar dari tujuh jika ditulis dengan sepidol besar dan tujuh dengan spidol kecil. Maka dari sini jangan menjudge oranglain, karena yang tidak baik menurut kita belum tentu tidak baik pula bagi oranglain.

    ReplyDelete
  67. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pikiran manusia memang sangat luas. Pemikiran orang pertama bisa berbeda dengan pemikiran orang kedua, orang ketiga, orang keempat, dst. Nampak dari elegi di atas, subyek1 dan subyek2 memiliki filsafatnya masing-masing, sehingga penjelasan dari masing-masing subyek mengenai filsafatnya terhadap suatu hal harus dijelaskan agar subyek lain itu mengerti.
    Ini menandakan bahwa sebagai manusia, pemikiran yang terbuka sangat dibutuhkan. Pemikiran terbuka memampukan kita untuk lebih mengerti sesama, yang memfasilitasi kita untuk lebih mengenal dunia. Jika kita keras kepala untuk berpegang teguh pada filsafat yang kita miliki sendiri, akankah kita mengenal dunia?

    ReplyDelete
  68. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terima kasih Bapak atas Elegi Obrolan Filsafat yang telah Bapak share kepada kami. Elegi ini membuka wawasan saya bahwa orang matematikapun jawabannya ada yang tidak pasti. Dalam elegi ini saya belajar bahwa filsafat itu banyak opini-opini dari setiap sudut pandang. Sama halnya dengan elegi Bapak sebelumnya. Setiap manusia mempunyai pendapatnya masing-masing. Misalnya yang ada pada elegi ini subjek1 bertanya sebelas dibagi dua berapa, dan subjek2 menjawab tergantung. Jadi filsafat itu adalah suatu olah pikiran kita, yang jawabannya juga sesuai dengan olah pikir kita masing-masing.

    ReplyDelete
  69. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Dari elegi tersebut saya menyadari bahwa pikiran saya sempit sekali. Saya jarang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jika saya ditanya lebih besar mana empat atau tujuh, sudah tentu saya akan menjawab tujuh tanpa memikirkan maksud “besar” yang ditanyakan.

    ReplyDelete