Sep 20, 2010

Elegi Obrolan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek1:
Dimana bisa beli sate?
Subyek2:
Itu lihat Papan Nama nya, di atas pohon?
Subyek1:
Masa, makan sate harus di atas pohon?
Subyek2:
Berapa sebelas dibagi dua?
Subyek1:
Tergantung bagaimana cara membaginya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika membaginya membujur maka sebelar dibagi dua hasilnya satu. Jika membaginya dengan cara melintang maka hasilnya sebelas juga.
Subyek2:
Mana yang lebih besar, empat atau tujuh?
Subyek1:
Tergantung cara menulisnya.
Subyek2:
Maksudnya?
Subyek1:
Jika aku tulis empat dengan spidol besar dan tujuh dengan spidol kecil, maka empat lebih besar dari tujuh.
Subyek2:
Berapa empat ditambah lima.
Subyek1:
Tergantung keadaannya.
Subyek 2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika empat nya kurus dan lima nya kurus, maka empat ditambah lima sama dengan sembilan kurus.
Subyek2:
Apakah sikuku ini sudut lancip?
Subyek1:
Bukan, sikumu itu sudut tumpul.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Tidak ada barang lancip di dunia ini.
Subyek2:
Bukankah jarum itu lancip?
Subyek1:
Ujung jarum terdiri dari molekul yang terdiri dari atom, yang lintasannya melingkar.
Subyek2:
Bagaimana membuat lingkaran?
Subyek1:
Tergantung bahannya.
Subyek2:
Maksudmu?
Subyek1:
Jika bahannya terdiri dari epung maka siapkan cetakannya. Jika bahannya dari kayu maka siapkan gergaji.
Subyek2:
Berapakah dua ditambah empat.
Subyek1:
Dua ditambah empat sama dengan dua puluh empat.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Ambil dua, ambil empat kemudian tambahkan atau jajarkan.
Subyek2:
Berapakah lima kali nol?
Subyek1:
Lima kali nol sama dengan satu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika nol adalah ikhlasmu, insyaallah engkau ketemu Tuhan mu yang satu.
Subyek2:
Berapakah sepuluh dibagi tak berhingga?
Subyek1:
Sepuluh dibagi tak berhingga itu diampuni dosamu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni.
Subyek2:
Berapakah seratus pangkat nol itu?
Subyek1:
Mungkin engkau akan ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Apapun pangkatmu, jika engkau nol atau ikhlas, insyaallah engkau bisa ketemu Tuhan mu.
Subyek2:
Berapakah tujuh pangkat negatif setengah itu?
Subyek1:
Itu korupsi.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Tujuh pangkat negatif setengah adalah pangkat tak sebenarnya. Bukankah koruptor itu mempunyai pangkat tetapi tidak sebenarnya pangkat. Jadi korupsilah dia.
Subyek2:
Berapa lama engkau sampai ke tujuan?
Subyek1:
Aku tidak pernah bisa mencapai tujuan.
Subyek2:
Mengapa?
Subyek1:
Untuk mencapai tujuan aku harus menempuh separo jalan. Untuk mencapai separoh jalah aku harus menempuh separohnya lagi. ...dst. Aku tdak pernah selesai membagi dua. Jadi aku tak pernah sampai tujuan.
Subyek2:
Cepat manakah becak dengan pesawat?
Subyek1:
Cepat becak
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Aku naik becak telah sampai di Bandara. Padahal pesawat belum berangkat.
Subyek2:
Jika kaca aku lempar batu, kemudian pecah. Mengapa kaca pecah?
Subyek1:
Kaca pecah karena kena batu.
Subyek2:
Bukan.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Kaca pecah belum tentu kena batu.
Subyek1:
Kapan Plato lahir?
Subyek2:
Tadi pagi.
Subyek1:
Kenapa?
Subyek2:
Jika waktu aku padatkan.
Subyek1:
Dimana kutub utara.
Subyek2:
Di sini.
Subyek1:
Jika ruang aku mampatkan.
Subyek2:
Di mana dirimu?
Subyek1:
Di dalam dirimu.
Subyek2:
Kenapa?
Subyek1:
Jika engkau memikirkan aku.
Subyek2:
Dari mana engkau lahir?
Subyek1:
Dari rahim ibuku.
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Mengapa?
Subyek2:
Egkau lahir dari jiwa ibumu.
Subyek1:
Apakah itu suara musik?
Subyek2:
Bukan
Subyek1:
Suara apa?
Subyek2:
Itu harmoni alam
Subyek1:
Apa hubungan setiap hal di dunia ini?
Subyek2:
Pikiranmu.
Subyek1:
Kenapa engkau tersenyum melihat batu?
Subyek2:
Aku melihat patung di dalamnya.
Subyek1:
Kenapa engkau diam?
Subyek2:
Enggak. Aku ramai dalam hatiku.
Subyek1:
Kenapa engkau bingung?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati.
Subyek1:
Kenapa engkau malas?
Subyek2:
Enggak. Aku hati-hati?
Subyek1:
Kenapa engkau protes?
Subyek2:
Enggak. Aku bernyanyi.
Subyek1:
Kenapa engkau tergesa-gesa?
Subyek2:
Enggak. Aku efisien.
Subyek1:
Kenapa engkau pelit?
Subyek2:
Enggak. Aku selektif.
Subyek1:
Kenapa engkau marah?
Subyek2:
Enggak. Aku menasehati.
Subyek1:
Kenapa engkau menjawab?
Subyek2:
Kenapa engkau selalu bertanya?
Subyek1:
Enggak. Aku silaturahim.
Subyek2:
Kenapa engkau selalu mencibir?
Subyek1:
Enggak. Aku sedang membangun.
Subyek2:
Kenapa engkau tidak usul?
Subyek1:
Enggak. Aku memberi kesempatan.
Subyek2:
Kenapa engkau sombong?
Subyek1:
Enggak. Aku membela diri.

30 comments:

  1. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Filsafat adalah pikiran. Pikiran ada kaitannya dengan intuisi. Ketika mendapat pertanyaan seperti itu kita perlu menggunakan intuisi untuk menjawab dan memahaminya. Saya ambil pernyataan yang menanyakan mana yang lebih besar empat atau tujuh. Jawaban yang diberikan yaitu tergantung cara menulisnya. Ketika kita berpikir dan menggunakan perasaan kita benar bahwa ketika empat ditulis dengan spidol lebih besar daripada tujuh maka benar adanya bahwa empat yang ditulis lebih besar dari tujuh.

    ReplyDelete
  2. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya suka bagian yang mengatakan "jika sepuluh adalah dosamu dan tak terhingga adalah permohonan ampunanmu, maka jika Tuhan mengijinkan, dosamu akan diampuni"
    Manusia memang sebaiknya tak henti-henti mengharapkan ampunan dari Tuhan. Karena bagaimanapun kita bisa melupakan apa kesalahan yang dilakukan. Alih-alih tidak merasa bersalah alangkah baik jika kita meminta ampunan terus menerus kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Secara sederhana filsafat bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin untuk menemukan suatu kebenaran hakiki. Objek filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Untuk mencari makna dari yang ada dan yang mungkin ada itu relatif terhadap ruang dan waktunya. Filsafat itu dalam bentuk pikiran karena filsafat berasal dari dalam manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  4. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ketika mendapat pertanyaan seperti itu kita perlu menggunakan intuisi untuk menjawab dan memahaminya. Saya ambil pernyataan yang menanyakan mana yang lebih besar empat atau tujuh. Jawaban yang diberikan yaitu tergantung cara menulisnya. Ketika kita berpikir dan menggunakan perasaan kita benar bahwa ketika empat ditulis dengan spidol lebih besar daripada tujuh maka benar adanya bahwa empat yang ditulis lebih besar dari tujuh.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Obrolan filsafat di atas, membahas mengenai operasi dalam aritmatika aljabar dan lambang dalam matematika. Filsafat digunakan sebagai pondasai dalam pendidikan matematika. Ojek yang ada dalam matematika sama seperti halnya dalam filsafat meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Berfilsafat menggunakan hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis agar dapat diterapkan dengan benar dalam matematika sebagai pondasi utamanya.

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi obrolan filsafat menjelaskan bahwa sesuatu yang kita pikirkan belum tentu sama dengan yang orang lain pikirkan. Namun dengan adanya perbedaan itu akan membuat kita dapat berpikir secara luas, lebih kritis dan lebih mendalam. Karena ketika kita membicarakan filsafat, maka segala sesuatu yang ada dan mungkin ada akan terkait dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Obrolan filsafat, membacanya, bisakah saya sebut kalau saya sedang dalam ikhtiar dalam menggapai logos? Saya berpikir, berpikir ulang, refleksi (?). Saya melihat kembali pada postingan ini, ada yang membuat saya masuk pada keadaan saya membaca tentang "hakikat filsafat berkait dengan ruang dan waktu". Tidak ada yang benar-benar mutlak dan idealis. Ampuni saya jika salah, saya juga merasa dikembalikan pada keadaan di mana saya berada pada postingan tentang "kontradiktif", ampuni lagi kalau saya keliru, apakah benar jika saya melihat terdapat konsep "paradoks" (?).
    Lihat, baru sedikit yang saya tahu (itupun belum tentu benar). Saya akan belajar, saya akan berpikir, saya akan bertanya, saya akan berupaya mencapai logos, saya berfilsafat (?), filsafat adalah diri saya sendiri (?)

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari ‘Elegi Obrolan Filsafat’ sangat menarik sekali. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, banyak jawaban yang berbeda dengan jawaban yang saya pikirkan. Maka jadilah orang yang selalu berpikir kritis dan kreatif, jawaban berbeda karena setiap orang mempunyai sudat pandang yang berbeda dalam menghadapi suatu masalah.
    Q: Telur dan ayam duluan mana?
    A: ayam
    Q: bukan, yang benar telur. Adanya kan telur ayam bukan ayam telur.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  9. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Bagamaina kita memandang sesuatu bisa menimbulkan jawaban/pandangan yang berbeda-beda, dan semua jawaban/pandangan tersebut benar dilihat dari sudut pandang kita menjawabnya. Hal ini yang diterapkan dalam ilmu filsafat bahwa filsafat memberikan kebebasan dalam memberikan pandangan sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

    ReplyDelete
  10. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Dalam menjawab suatu pertanyaan, tiap orang bisa memberikan jawaban yang berbeda-beda karena tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda pula. Begitu pula dalam filsafat, ketika kita mempelajari suatu fenomena, kita akan memiliki pertanyaan dan pendapat yang berbeda dari orang lain. A bagiku belu tentu A bagimu, benar bagiku belum tentu benar bagimu, dan salah bagiku belum tentu salah bagimu. Maka dari itu, dalam berfilsafat, kita harus menyelaraskan hati dan pikiran serta terus berikhtiar kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seringkali kita melihat suatu hal hanya dari satu sisi dan kemudian mengambil kesimpulan darinya. Padahal banyak hal yang akan terlihat berbeda tergantung ruang dan waktu, tergantung dari sisi mana kita melihatnya, tergantung kapan kita melihatnya, terhantung dimana kita melihatnya. Karena itulah kita pun harus belajar untuk mnerima pendapat orang lain karena sudut pandangnya terkadang berbeda dengan kita. Karena itulah kita harus terus belajar agar memiliki wawasan yang lebih luas, agar mampu melihat suatu hal dari berbagai sisi.

    ReplyDelete
  12. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Hal yang selama ini memiliki jawaban yang pasti, belum tentu jawaban yang sebenarnya. Hal itu akan tergantung bagaimana menafsirkannya. Setiap orang memiliki persepsi berbeda dalam menghadapi suatu fenomena, hal tersebut juga pasti disebabkan seberapa besar pengetahuan dan pengalamannya. Orang yang kreatif akan memiliki perbedaan pandangan dengan orang yang biasa saja. Orang yang kreatif akan memandang suatu fenomena dengan tanggapan yang berbeda. Janganlah membatasi pemikiran dan pendapat orang lain, karena hal yang kita selama ini pikirkan belum tentu hal yang benar bisa saja yang dipikirkan orang lain merupakan hal yang benar atau bisa jadi sebagian dari kebenaran yang selama ini kita anggap tidak lazim.

    ReplyDelete
  13. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Obrolan Filsafat, Membaca elegi ini membuat saya tersenyum senyum sendiri. Jawaban-jawabannya sebagain diluar dugaan saya, namun jawaban tersebut tetap dapat diterima oleh akal. Sehingga dari elegi ini, saya belajar bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu sama seperti apa yang orang lain pikirkan. Oleh karena itu, kita harus memiliki pemiikiran yang luas dan terbuka agar dapat memahami dan menerima pemikiran yang dikemukakan orang lain. Terima Kasih

    ReplyDelete
  14. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pernyataan Bapak yang mengatakan bahwa jika seseorang belajar filsafat maka ia akan setingkat lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain, dibuktikan dalam postingan di atas. Elegi obrolan filsafat ini memperlihatkan bahwa seorang filsuf selalu mempunyai pemikiran dan pandangan yang berbeda terhadap sesuatu dan itu benar adanya menurut ruang dan waktu tertentu. Jawaban-jawaban dari para subyek di atas di luar prediksi saya, unik, dan berbeda dari biasanya. Semoga untuk kedepannya saya juga bisa mempunyai pemikiran seperti subyek-subyek di atas dan tentunya harus banyak membaca dan belajar.

    ReplyDelete
  15. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Belajar Filsafat artinya kita belajar secara luas, kita belajar berpikir luas, kita belajar menempatkan sesuatu berdasarkan ruang dan waktunya. Filsafat mempunyai makna yang sangat mendalam tidak hanya berdasarkan ilmu pengetahuan namun semua aspek. Seorang filsuf bisa saja melihat satu benda yang sama namun memiliki pendapat yang berbeda-beda namun mempunyai makna yang berguna dalam kehidupan. Kalimat-kalimat filsafat bagi saya sendiri merupakan kalimat yang butuh pemikiran yang lebih untuk dipahami, butuh belajar dan membaca yang lebih lagi untuk memahami dan mengerti filsafat.

    ReplyDelete
  16. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi obrolan filsafat menurut pendapat saya adalah cara berpikir dan atau cara pandang setiap subyek atau individu tidak selalu sama. setiap obyek atau kajian masalah, tidak selalu dilihat dari satu sisi saja, tetapi dapat dilihat dari berbagai sisi dan menghasilkan berbagai macam pendapat dari berbagai macam individu atau subyek. Apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini dapat didefinisikan secara bermacam – macam atau bervariasi bergantung pada situasi, kondisi, dan cara pandangnya. Bisa jadi jika saya mengatakan 5 + 2 = 7 dan orang lain mengatakan itu salah, tinggal bagaimana cara pandang yang diterapkan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    ReplyDelete
  17. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Berfilsafat berarti berfikir secara luas. Setiap orang dalam berfilsafat memiliki pandangan terhadap sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda, dan olah fikir yang berbeda. Dan ini sah-sah saja selagi sesuai dengan ruang dan waktu. Tidak ada kata salah terhadap suatu pandangan seseorang, karena memang setiap orang pasti punya pandangan yang berbeda terhadap sesuatu.

    ReplyDelete
  18. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dari tulisan elegi obrilan filsaat diatas menunjukkan beranekaragmnya setiap sudut pangdang. Walaupun kita melihat dari sudut padang yang sama belum tentu kita akan memiliki pendapat yang sama. Keberanekaragam pendapat itulah yang memperkaya diri kita sebagai insan manusia. Yang perlu kita sadari tidak sepantasnya kita untuk memaksakan pendapat.

    ReplyDelete
  19. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi obrolan filsafat ini, saya bertanya-tanya, apakah ada batasan penggunaan logika dalam memahami filsafat?. Karena yang saya tahu sebenar-benar berfilsafat adalah berpikir secara logis. Sesungguhnya apa yang dipikirkan tidak dapat semuanya dilakukan sepenuhnya, sama halnya dengan yang diucapkan tidak akan mampu mengucapkan semua hal yang dipikirkan. Setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat obyek atau subjek. Hal itu tergantung bagaimana individu membangun ilmu pengetahuannya.

    ReplyDelete
  20. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan ini saya mendapat pelajaran bahwa kita bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dengan yang umumnya dilihat oleh orang lain. dan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab dengan jawaban yang berbeda dari pengetahuan yang kita pelajari hingga saat ini jika menggunakan persfektif yang berbeda.

    ReplyDelete
  21. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Filsafat adalah olah pikir. Pertanyaan dan jawaban yang diutarakan pada elegi di atas oleh subyek 1 adalah pertanyaan dan jawaban yang diperoleh dengan olah pikir tingkat tinggi. Melalui filsafat, seseorang dapat melatih olah pikirnya, merefleksi dirinya menuju menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  22. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas terdapat beberapa permisalan yang menggambarkan realita kehidupan. Salah satu contoh yang menarik seperti contoh bilangan berpangkat, “tujuh pangkat negatif setengah adalah pangkat tak sebenarnya”. Ini dikaitkan dengan pejabat yang memiliki pangkat / jabatan, namun pangkat yang dimilikinya tersebut akan sia-sia atau tidak ada artinya jikalau dia bertindak layaknya seorang koruptor. Ia yang memiliki pangkat namun melakukan hal negatif (korupsi) maka merugilah ia. Contoh lain seperti batu dan kaca pecah. Hal ini mengajarkan kita bahwa memandang sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Oleh karena itu untuk menilai atau menjudge orang lain maka lihatlah tidak hanya dari pendapat satu orang saja melainkan juga melihat beberapa orang lain. Filsafat memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda berdasarkan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  23. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Subhanallah,
    Saya membayangkan bahwa dalam menggapai ilmu kita ditempatkan di padang yang sangat luas. Disana kita bisa memilih untuk menundukkan kepala dan hanya melihat hal yang dekat atau menatap luasnya padang itu. Bisa menatap segala sesuatu dari berbagai sudut, mengumpamakan bahwa dalam berpikir tentang suatu hal bisa dari berbagai sudut pandang. Namun penglihatan kita pastilah terbatas, itu berarti bahwa dalam berpikir kita harus sadar akan batas-batas pikiran kita. Pada elegi obrolan filsafat ini juga menghubungkan antara matematika dengan spiritual manusia. Ternyata dengan belajar matematika menggunakan filsafat dapat membuka hati kita untuk selalu ingat akan Kuasa Tuhan dan kekurangan diri.

    ReplyDelete
  24. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya tertawa membacanya. Akhirnya pikiran saya mulai terbuka. Ini adalah elegi favorit saya. Favorit saya sebelum saya menemukan favorit dalam ruang dan waktu yang lain.
    Dalam dialog sungguh digambarkan dua subyek dengan pemikiran yang berbeda. Dua-duanya dapar menjelaskan dengan baik pemikirannya. Seperti inilah filsafat. Ketika filsafat adalah dirimu sendiri, dirimu mempunyai pikiran sendiri, refleksi sendiri yang dibangun sendiri melalui pengalaman dan juga obrolan dengan yang lain. Sungguh penjabaran yang sederhana namun mengena dan mudah dipahami.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Obrolan filsafat adalah obrolan yang sangat objektif. Obrolan filsafat tidak mengacu pada pembenaran umum di masyarakat. Obrolan filsafat akan membawa manusia untuk selalu berfikir sehingga tidak menerima begitu saja statement-statement yang berkembang di masyarakat. Hal inilah yang terkadang menimbulkan perdebatan baik antar masyarakat atau antar para filsuf sendiri dalam memandang sesuatu. Itulah sebenarnya yang harus dilakukan untuk terus menggali dan menggali ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  26. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Menyimak obrolah filsafat, antara dua subyek 1 dan subyek 2 bahwa obrolah keduanya memberikan makna bahwa dalam berfilsafat antara subyek 1 dan subyek 2 memiliki bahasa yang berbeda-beda. Bukan “ filsafatku adalah filsafatmu, bukan pula filsafatmu adalah filsafatku”, Oleh karena itu dapat kami pahami bahwa dalam berfilsafat seseorang dibebaskan untuk berfikir. Berfikir tentang segala hal, namun yang perlu diperhatikan dalam berfikir harus memiliki landasan agar ada pengikat dan tidak terjerumus dalam kesesatan terima kasih.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Tertegun, merenung dan terdiam sejenak. Bahkan membacanya berkali-kali. Terlintas dalam pikiran saya, begitu kreatif sekali pikiran yang ada pada masing-masing subyek. Saya menyadari bahwa tidaklah mudah menilai seseorang dalam sudut pandang filsafat. Hal ini dikarenakan konteks dalam situasi pada setiap jawaban yang diberikan juga tidak dapat dinilai salah ataupun benar. Setiap orang memiliki alasan dalam tindakan yang dilakukan. Namun, apakah seperti ini pola pikiran yang terbentuk dalam sudut pandang filsafat? Apakah jawaban penyangkalan dapat mendatangkan suatu ilmu pengetahuan? Semoga saya menemukan penjelasan dan jawabannya pada postingan yang lain.

    ReplyDelete
  28. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pandangan tiap orang berbeda-beda karena cara berpikir tiap orang juga berbeda. Dari cara berpikir yang berbeda tersebut, menghasilkan pemahaman yang berbeda pula. Dalam berpikir kita juga harus menyesuaikan ruang dan waktunya. Tidak hanya berpikir, bersikap, berbicara pun, harus sesuai dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, di dunia ini aturan-aturan dibuat agar setiap orang memiliki pandangan yang sama bahwa mana saja suatu hal dianggap benar dan mana saja suatu hal dianggap salah sesuai kesepakatan bersama.

    ReplyDelete
  29. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Asslamualikum Wr. Wb. Berbicara filsafat memang selalu menyenangkan dan membingungkan seperti apa yang dibicarakan pada elegi ini. Namun saya yakin di setiap elegi-elegi bapak terselip nilai-nilai yang mesti kami gali. Dari elegi ini saya dapat memahami bahwa kemapanan masih bisa diperdebatkan meskipun mutahil untuk diruntuhkan. Dari elegi ini pula saya dapat memahami bahwa perbedaan cara pandang akan memengaruhi persepsi kita terhadap sesuatu. Pada titik inilah relativitas itu terjadi. Namun, dari berbagai macam cara pandang, saya yakin bahwa ada beberapa yang paling logis.

    ReplyDelete
  30. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    belajar filsafat adalah belajar secara intensif dan ekstensif. Apa saja yang terlihat dan dipertanyakan tidak hanya mempunyai satu analisis atau satu jawaban. Karena berfilsafat harus berpikir kritis agar kita tidak terjebak dalam mitos. Dari elegi ini saya benar-benar memikirkan bagaimana bisa yang sebnarnya hanya ada satu jawaban tetapi didalam filsafat dapat menghasilkan berbagai macam jawaban. Setealh merefleksikan lagi apa yang saya baca dari elegi-elegi sebelumnya dan apa yang saya dapat diperkuliahan, ya, memang seperti itulah filsafat, berpikir kritis dan mempunyai hati yang bersih itu adalah kunci untama untuk beerfilsafat.

    ReplyDelete