Sep 1, 2010

Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur




Oleh Marsigit

Tukang Cukur:
Aku adalah tukang cukur. Aku hanya mencukur orang-orang yang tidak mencukur diri sendiri.

Pelanggan1:
Wahai tukang cukur, bersediakah engkau mencukur diriku?

Tukang cukur:
Wahai pelanggan1, apakah engkau tidak mencukur dirimu sendiri?

Pelanggan1:
Wahai tukang cukur, aku senyatanya tidaklah mencukur diriku sendiri.

Tukang Cukur:
Baiklah kalau begitu, marilah anda saya cukur.

Pelanggan2:
Wahai tukang cukur, bersediakah engkau mencukur diriku?

Tukang cukur:
Wahai pelanggan2, apakah engkau tidak mencukur dirimu sendiri?

Pelanggan2:
Wahai tukang cukur, aku senyatanya mencukur diriku sendiri.

Tukang Cukur:
Karena engkau mencukur dirimu sendiri, maka pergilah. Aku tidak bersedia mencukurmu.

Pelanggan2:
Baiklah aku bersedia pergi, tetapi aku mempunyai satu pertanyaan buatmu. Siapakah yang mencukur dirimu?

Tukang Cukur:
Aku mencukur sendiri. Maka aku akan mencukur sendiri.

Pelanggan2:
Stop. Janganlah engkau cukur dirimu itu. Karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
A..aa...a..k...ku. , tidak cukur sendiri.

Pelanggan2:
Kalau begitu segeralah engkau cukur dirimu, karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
B...b...ba...ik...lah. Aku akan cukur sendiri diriku.

Pelanggan2:
Stop. Janganlah engkau cukur dirimu itu. Karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
B...b...ba...ik...lah. A..aa...a..k...ku. , tidak cukur sendiri.

Pelanggan2:
Kalau begitu segeralah engkau cukur dirimu, karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
Wahai pelanggan2, mohon maafkan aku.. Kenapa aku engkau buat bingung? Maka bagaimanakah solusinya? Kemudian aku harus bertanya kepada siapakah?

Pelanggan2:
Engkau telah termakan oleh mitosmu sendiri. Agar engkau bisa keluar dari persoalan ini, maka silahkan bertanya kepada orang tua berambut putih.

41 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Yang dapat saya tangkap dari elegi di atas, manusia itu makhluk sosial. Meskipun dia bisa melakukan sesuatu hal (contoh: cukur rambut) pada orang lain, namun dia tidak bisa melakukan pada dirinya sendiri, jika dipaksakan juga hasilnya tidak bagus. Contoh lainnya seperti petinju yang profesional pun butuh pelatih. Kita tahu, jika bertarung antara pelatih dan petinju, maka petinju itu yang akan menang. Namun petinju tetap membutuhkan pelatih untuk melihat blind spot si petintu tersebut.

    ReplyDelete
  2. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Kita terbatas dalam memikirkan suatu objek pikir. Termasuk tentang elegi Tukang cukur kali ini. Dimana terdapat pernyataan yang mengatakan bahwa tukang cukur hanya akan mencukur orang-orang yang tidak mencukur diri sendiri. Tukang cukur mencukur sendiri maka ia akan mencukur dirinya sendiri tapi karena tukang cukur hanya mencukur orang yang tidak mencukur diri sendiri maka ia tidak boleh mencukur dirinya. Sehingga tukang cukur bingung siapa yang akan mencukur dirinya. Bingung ini disebabkan karena mitosnya sendiri. Tukang cukur telah dianggap tidak konsisten terhadap pernyataannya sendiri. Dalam hal ini juga berlaku hukum Godel tentang kelengkapan dan kekonsistensian. Bahwa segala sesuatunya belum lengkap dan konsisten.

    ReplyDelete
  3. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    S1 Pendidikan Matematika

    Memandang dengan standar ganda namun bertentangan. Pada dataran praktik seorang sering mengumpulkan tidak dan bukan tidak. namun ia tetap tenang-tenang saja. Bukan karena ia tenang sebenarnya namun ia hanya menyimpan kekacauan dan pertentangan dalam dirinya. Tidak mau memikirkan yang sebenarnya dan mencari solusi. Bukan tak ingin mendapatkan solusi namun ia tak mau mendapat kontradiksi.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia berdasarkan kodratnya ialah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hubungannya dengan manusia lain, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan interaksi dengan orang lain.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Adanya hubungan antar manusia akan menumbuhkan social yang tinggi. Hal ini sangat penting bagi manusia. Jadilah manusia yang bersosial tinggi.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    mempersulit suatu kondisi dengan pola pikir yang rumit hanya akan menambah beban dalam menyelesaiakan suatu masalah. Ada baiknya jika kita berpikir sederhana dalam menyikapi suatu masalah tentu akan sangat membantu kita menyelesaiakannya, sehingga efisien waktu dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  7. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Tukang cukur hanya akan mencukur orang-orang yang tidak mencukur diri sendiri. Tukang cukur mencukur sendiri maka ia akan mencukur dirinya sendiri tapi karena tukang cukur hanya mencukur orang yang tidak mencukur diri sendiri maka ia tidak boleh mencukur dirinya. Sehingga tukang cukur bingung siapa yang akan mencukur dirinya. Bingung ini disebabkan karena mitosnya sendiri. Tukang cukur telah dianggap tidak konsisten terhadap pernyataannya sendiri.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi menggapai tukang cukur menurut saya berisikan kontradiksi dalam kehidupan nyata. Sejatinya semua manusia mempunyai kemampuan sendiri-sendiri dan mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang ia miliki agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Manusia penuh dengan kontradiksi jika hatinya tidak jernih dan pikirannya tidak berpikir kritis. Sedangkan yang absolut hanyalah Allah SWT yang mempunyai alam semesta besera isinya ini.

    ReplyDelete
  9. Tukang cukur yang mencukur orang yang tidak mencukur dirinya sendiri. Tukang cukur tidak mencukur dirinya sendiri sehingga ia harus dicukur oleh dirinya sebagai tukang cukur. Itulah paradoks. Jika tukang cukur itu mempertahankan kuasanya sebagai tukang cukur maka ia akan mengalami paradoks tetapi jika ia menyerahkan kuasanya sebagai tukang cukur kemudian menempatkan dirinya sebagai orang yang tidak dapat mencukur dirinya maka ia akan dicukur oleh tukang cukur yang lain. Paradoks ini untuk menunjukkan bahwa diperlukan kerjasama antar manusia atau individu. Manusia sendiri tidak dapat melakukan segalanya untuk dirinya sendiri tetapi memerlukan bantuan dari manusia yang lain. Manusia yang melakukan kerjasama atau berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia lain akan terlepas dari paradoks.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Tukang cukur ibarat sikap kita, sebagai manusia harus saling tolong menolong yaitu menolong atau membantu ketika ada orang yang mengalami kesulitan, tetapi kita juga tidak boleh sombong dengan tidak mau menerima bantuan orang lain dan merasa bahwa diri sendiri bisa melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk social yang saling membutuhkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas eleginya. Dari elegi ini saya mengambil pelajaran bahwa jika ingin membuat sebuah aturan atau kebijakan, alangkah baiknya jika aturan atau kebijakan tersebut ditinjau secara cermat terlebih dahulu, dianalisis apakah efektif atau tidak, dan dipertimbangkan kebermanfaatannya bagi orang-orang di sekitar. Aturan atau kebijakan yang dibuat jangan sampai menjadi bumerang bagi orang lain bahkan bagi diri sendiri. Hal lain yang bisa saya petik ialah kita tidak perlu malu untuk mengakui kesalahan kita, akuilah dan kemudian perbaiki, maka itu akan lebih baik untuk dirimu dan orang lain.

    ReplyDelete
  12. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas, alur ceritanya yatu awalnya seorang tukang cukur yang mempunyai aturan atau prinsip dalam mencukur, namun lama kelamaan dia termakan sendiri oleh mitosnya. Elegi ini menganalogikan kehidupan kita sehari-hari, dimana ketika mempunyai suatu prisnsip kadang kita akan sulit menerapkan, ada saja halangannya. Dan harapannya dalam kehidupan sehari-hari kita dapat terus berkembang dalam pengetahuan sehingga tidak termakan oleh mitosnya sendiri.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Episode "Elegi Menggapai Rumah Paradoks" saya lanjutkan dengan menyaksikan "Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur". Saya mulai punya nyali untuk berkomentar. Saya mulai meyakinkan diri saya untuk berpendapat. Oke, ini paradoks, menurut saya ini bukan tentang hubungan kontradiktif, ini paradoks. Bahkan si empunya paradoks tidak layak menempati rumahnya sendiri, dia gagal menggapai logos (?) Dia termakan mitosnya sendiri (?)

    ReplyDelete
  14. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari ‘Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur’ bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu kontradiksi. Hukum kontradiksi atau principium contradictionis (Bahasa Inggris: law of contradiction) adalah aturan yang menyatakan bahwa tidak mungkin sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu. Maksudnya: mustahil sesuatu itu adalah hal satu dan bertentangan pada waktu yang bersamaan (Wikipedia).
    Paradoks biasa digunakan untuk mematahkan argumentasi lawan dengan menempatkannya ke dalam situasi yang sulit dan serba salah.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tukang cukur pada elegi di atas telah terjebak dalam mitos-mitos karena jawaban tukang cukur diatas seperti lingkaran syaitan yang tidak akan ada ujungnnya. Tukang cukur diatas tidak berpikir kritis dengan menjawab jawaban lain dan hanya terus berputar sehingga ia terjebak dalam mitos- mitos. Maka demikian pula manusia yang tidak mau belajar dan berpikir kritis ketika ditanya maka jawabannya bisa jadi hanya berputar para ini adalah itu dan itu adalah ini. Maka agar tidak terjebak dalam mitos-mitos kita harus senantiasa belajar, berpikir kritis, dan bertanya ketika tidak mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan.

    ReplyDelete
  16. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dalam postingan elegi menggapai paradoks tukang cukur ini adalah dimana kondisi yang bertentangan dengan yang dialami. Dipotong salah, tidak dipotong juga salah. Hal ini menggambarkan bahwa kadang apa yang dilakukan tidak selamanya benar, walaupun menurut kita itu adalah benar. Tukang cukur memotong rambut setiap pelanggan yang datang, tetapi dia tidak dapat memotong rambutnya sendiri. Sehingga setiap orang itu tentu tidak akan mampu untuk hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain dalam berbagai hal. Karena manusia itu adalah makhuk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Dalam hidup ini, tiap orang pasti memiliki kepercayaan dan prinsip-prinsip yang menjadi acuannya dalam bertindak. Namun terkadang, ada saat dimana kepercayaan dan prinsip-prinsip itu dipertanyakan orang lain. Hal itu biasa terjadi, karena tiap orang memiliki pemikiran dan prinsip yang berbeda-beda. Namun ketika kita mulai mempertanyakan kepercayaan dan prinsip-prinsip yang telah kita pegang teguh selama ini, maka kita harus memikirkan kembali dengan bijaksana. Kita harus renungkan kembali dalam pikiran dan hati kita serta selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberikan petunjuk.

    ReplyDelete
  18. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Refleksi dari blog ini adalah manusia sering terjebak pada mitosnnya sendiri, maksudnya kadang terdapat manusia yang telah mengemukakan pendapat dan pemikirannya tetapi dia sendiri yang melanggar pemikiran dan pendapatnya tersebut. Ketidakkonsistenan ini bisa disebabkann oleh ketidakyakinan seseorang terhadap mitosnya sendiri. Apabila mitosnya dipikirkan secara mendalam dan sudah difikirkan dampak positif dan negatif dari mitosnya makan hal, mitos yang dia pikirkan tidak akan mudah tergoncangkan walau seribu mitos lain menyerangnya. Hal ini juga dapat terjadi pada pembelajaran, di mana isi dari seorang guru harus selalu ditingkatkan dan diperbaharui sehingga apabila guru tersebut ditanya oleh mitos-mitos siswanya dia dapat menyampaikan kebenarannya.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pada postingan ini, menceritakan bahwa tukang cukur yang membuat sebuah aturan tidak dipikirkan dulu sebelumnya, sehingga ia termakan oleh mitosnya sendiri dengan melanggar aturan yang ia buat. Ini pelajaran untuk saya, bahwa sebaiknya dalam bersikap, bertindak, membuat aturan haruslah dipikirkan dulu dampak baik buruknya, dan ketika saya sudah memiliki aturan maka cerminkan aturan itu kepada say, jika saya mampu untuk tidak melanggar aturan itu, maka aturan itu boleh untuk diterapkan. Jadi, jangan asal mengambil keputusan untuk bertindak, semua ada tahap dan pertimbangan dahulu, jangan sampai kita termakan oleh mitos kita sendiri.

    ReplyDelete
  20. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur ini mengajarkan dan mengingatkan kepada pembaca bahwa aturan atau kebijakan itu harus dibuat sesuai dengan kebutuhan, kepentingan secara umum dan jelas. Keputusan atau kebijakan itu diharapkan dapat bermanfaat bagi semua kalangan, jangan sampai malah menyusahkan si pembuat kebijakan maupun si penerap kebijakan tersebut.

    ReplyDelete
  21. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi menggapai paradoks tukang cukur menunjukkan bahwa sebagai manusia kita memiliki keterbatasan masing-masing. Untuk menggapai keterbatasan tersebut terkadang kita memerlukan opini orang lain untuk memeutuskan. Namun yang memutuskan opini tersebut kita lakukan adalah diri kita sndiri, karena pada dasarnya kita sebagai manusia saling membutuhkan.

    ReplyDelete
  22. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Kehidupan di dunia menuntut manusia untuk memiliki prinsip hidup. Manusia harus komitmen dan memahami seutuhnya prinsip hidup yang dia miliki. Hal ini agar pemilik prinsip hidup tidak mengalami paradoks seperti yang dialami tukang cukur pada elegi ini. Prinsip hidup yang dimiliki janganlah mengandung makna ambiguitas yang nantinya akan merugikan diri pemilik prinsip itu sendiri bahkan orang lain.

    ReplyDelete
  23. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Paradoks memiliki arti pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Dari percakapan Tukang Cukur dan Pelanggan menggambarkan bahwa seseorang tidak dapat menilai dirinya sendiri, penilaian juga diperlukan dari orang lain. Karena setiap orang memiliki penilaian yang berbeda dari apa yang mereka lihat, hal ini sama saja dengan saat kita menilai diri kita benar tetapi orang lain menilai diri kita salah. Jika kita tidak dapat menerima penilaian yang berlawanan ini dengan bijak, yang ada malah termakan mitos sendiri.
    Saya menantika pertanyaan Tukang Cukur dan jawaban Orang Tua Berambut Putih.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari cerita ini tentu ada banyak sekali pelajaran yang tersirat. Ijinkan saya untuk mengutarakan salah satu pelajaran yang dapat saya pahami dari sudut pandang saya. Kebingungan yang dialami oleh si tukang cukur adalah akibat dari apa yang ia lakukan, yakni membuat aturan atau prinsip yang nampaknya benar, lugas, dan mantap. Namun pada kenyataannya bersifat membingungkan. Hal ini bisa jadi, karena si tukang cukur tak lebih dulu memikirkannya secara matang, apa dampak kedepannya. Pelajarannya, kita harus memikirkan secara matang setiap apa yang akan kita lakukan, setiap apa yang akan kita putuskan. Dengan demikian, harapannya apa yang kita lakukan termasuk prinsip dan aturan yang kita buat, nantinya dapat memberikan kebaikan dan terhindar dari sesuatu yang berdampak negatif. Untuk dapat melakukannya dengan baik, tentu kita harus memiliki pengalaman dan ilmu pengetahuan yang baik pula.

    ReplyDelete
  25. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Haha…
    Kisah ini sangat lucu bagi saya. Membacanya seperti berkaca pada diri sendiri. Terkadang kita membuat ukuran bagi orang lain, namun sebenarnya bertentangan dengan diri kita sendiri. Kadang kita merasa sudah berkata benar, kita kenakan pada orang lain, tetapi lupa memandang diri kita sendiri. Pikiran dan hati haruslah satu, kata dan tindakan haruslah satu. Pikiran boleh kacau, dan harus kacau karena dengan demikian kita ini hidup, namun hati janganlah kacau.

    ReplyDelete
  26. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  27. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan ini saya menyimpulkan bahwa seseorang yang terlalu sibuk melihat orang lain, kdang kala menjadi lupa akan dirinya sendiri, sehingga sesuatu yang ia kerjakan yang seharusnya juga untuk dirinya sendiri menjadi mitos.

    ReplyDelete
  28. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Pengertian tukang cukur berdasarkan elegi paradoks tukar cukur yang mengartikan bahwa ia adalah orang yag mencukur orang yang tidak mencukur dirinya sendiri. Sedangkan ternyata ia (si tukang cukur) adalah orang yang juga tidak mencukur dirinya sendiri, maka si tukang cukur tidak seharusnya mencukur dirinya. Oleh karena itu adanya pertentangan dengan pengertian pertama sebelumnya. Hal ini menggambarkan bahwa setiap yang ada di dunia ini memiliki kontradiksi, bukan hanya sifat, keadaan bahkan diri kita sendiri pun juga kontradiksi. Hal ini tergantung dari konteksnya. Prinsip hidup seseorang dengan orang lain juga dapat terjadi kontradiksi antar keduanya.

    ReplyDelete
  29. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini membuat saya menyadari bahwa untuk mengevaluasi perilaku diri sendiri dibutuhkan pandangan dari orang lain atau orang yang sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak dibanding diri sendiri. Saat ini saya ingin mencoba untuk menghilangkan sikap keakuan pada diri sendiri. Terkadang saya merasa tahu sesuatu namun sejatinya malah saya orang yang tidak tahu akan sesuatu tersebut. Melalui tulisan ini saya diberi pencerahan, yaitu kebesaran hati mengakui suatu hal yang tidak saya tahu itu sangat penting.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Dari postingan Bapak, menurut saya tukang cukur merasa kebingungan karena pernyataannya sendiri. Tukang cukur membatasi sesuatu sampai dia sendiri bingung untuk bertindak. Dalam hidup ini manusia penuh dengan kontradiksi. Banyak hal yang dilakukan manusia yang saling kontradiksi dengan yang lainnya dan terkadang tidak menyadarinya.

    ReplyDelete
  31. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Setelah sekian lama akhirnya saya menemukan elegi tukang cukur ini. Paradoks ini menjadi refleksi ketika kita terkadang melayangkan penilaian kita kepada suatu hal di orang lain padahal diri kita juga melakukan hal yang sama. Terkadang menilai orang lain lebih mudah dibanding menilai diri sendiri. Karena itulah refleksi diri menjadi penting, salah satunya melalui belajar filsafat.

    ReplyDelete
  32. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi paradox tukang cukur ini hendaknya menjadi bahan bagi pemerintah khususnya Kementrerian Pendidikan Indonesia dalam membuat kebijakan. Jangan sampai kebijakan yang dibuat tersebut bermakna ganda atau multitafsir. Misalnya saja ketika muncul kebijakan lima hari sekolah, banyak hal-hal yang membuat sekolah menafsirkan kebijakan itu secara berbeda-beda. Kebijakan-kebijakan yang lain juga perlu dikaji seperti penerapan full day school, peraturan dalam UNBK, dan lain-lain, agar tercipta pemerataan atau keseragaman standar pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  33. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Cerita diatas sungguh asyik dan membuat berfikir lebih ketika membacanya. Menurut kami dari cerita diatas bahwa tukang cukur termakan dengan omongannya sendiri, dia memiliki syarat untuk hanya mau menyukur orang yang tidak menyukur didinya sendiri, jika di pikir-pikir syarat tersebut kurang logis dan belum tentu dipahami oleh orang lain sehingga disebut mitos. Hal ini dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam mengambil keputusan baiknya mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengannya jangan asal ambil keputusan, sehingga keputusan tersebut dapat bermanfaat untuk orang lain. Terima kasih

    ReplyDelete
  34. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Cerita di atas memberikan suatu pelajaran bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri dan kita membutuhkan orang lain untuk melakukannya. Dimana orang tersebut ahli dalam bidangnya. Misalnya seorang dokter belum tentu bisa mendiagnosa penyakitnya sendiri, ia butuh seorang dokter spesialis di bidangnya untuk mendiagnosa penyakitnya. Bahkan seorang guru matematika belum tentu bisa mengajarkan matematika kepada anaknya, ia perlu guru privat matematika untuk membantu anaknya belajar.

    ReplyDelete
  35. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  36. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel di atas. Percakapan di atas memberi hikmah bahwa setiap manusia jelas bersifat sosial, artinya dia tidak mampu tanpa orang lain. Seseorang tidak dapat menilai dirinya sendiri, penilaian dirinya juga diperlukan dari orang lain. Jangan sombong diri, kita merasa mampu menilai diri kita benar/salah padahal orang lain memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Seperti tukang cukur di atas, ia termakan dengan omongannya sendiri, dia memiliki syarat untuk hanya mau menyukur orang yang tidak menyukur didinya sendiri, padahal dia sendiri juga menyukur dirinya sendiri, berarti dia sombong karena ia terlalu menjunjung tinggi sifat ke'aku'an dalam dirinya., sehingga jelas ia sedang oleh mitos yang ia buat. Dia membuat aturan untuk orang lain namun tidak berlaku bagi dirinya sendiri. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  37. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi menggapai paradoks tukang cukur ini sangat menarik. dari elegi ini yang bisa tangkap bahwasannya setiap manusia tidak mampu hidup sendiri, ia membutuhkan orang lain. contoh dalam elegi ini adalah seorang tukang cukur yang ia hanya bisa mencukur orang lain tapi tidak untuk dirinya sendiri, dan konsumen juga tidak bisa mencukur tukang cukur tersebut. hal ini juga sama halnya kita sebagai siswa/mahasiswa yang membutuhkan guru untuk memberikan ilmu kepada kita, mungkin saja dengan membaca informasi di internet kita mendapat informasi tapi hal ini kurang meyakinkan bahkan jika itu berasal dari sumber yang tidak valid, informasi ini akan menjadi pembodohan. Mungkin kita bisa mendidik orang lain, tp kita sebagai pendidik pasti memiliki guru.

    ReplyDelete
  38. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Elegi diatas cukup sulit apabila dipahami secara bahasa. Menurut apa yang saya olah dari elegi diatas, manusia terlalu fokus melihat kelemahan orang lain dan melupakan bahwa dirinya sendiri juga memiliki kelemahan yang sama. Hal ini dapat dilihat pada kasus beberapa orang yang gemar mencari kejelekan orang lain, memberikan kritik yang sangat pedas tanpa melihat bahwa dirinya sendiri memiliki kejelekan yang sama atau mungkin lebih banyak jeleknya dari orang yang dijelek-dijelekkan. Mereka menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain sehingga tidak memerlukan orang lain untuk "menunjukkan" kejelekan dirinya yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  39. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb. Dalam kehidupan nyata, seorang menjadi tukang cukur relative tidak lebih hanya demi alasan ekonomi (meskipun ada juga yang melakukan itu karena passion atau hoby). Elegi di atas yang menceritakan paradoks dalam percakapan antara tukang cukur dan pelanggan tidak akan terjadi dalam dunia nyata. Yang saya tahu, sebagai suatu profesi, hanya tukang cukur yang dapat memerintah dan memegang-megang kepala presiden sesuka hatinya. Namun, yang bisa saya petik dari elegi ini adalah terkadang standar yang kita tetapkan kepada orang lain justru menyerang diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  40. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assallmu'alaikum Wr. Wb

    Elegi kali ini sangat sering kita jumpai dikehidupan sehari-hari. Dimana kita sering menuntut orang lain untuk sesuai dengan apa yang tidak kita inginkan, akantetapi tanpa disadari kita juga melakukan hal yang sebnarnya tidak sesuai dengan apa yang tidak kita inginkan. setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka dari itu kita harus hati-hati dengan apa yang kita ucapkan, siapa tau yang kita utarakan adalah kelemahan bagi diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  41. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Elegi ini mungkin bisa dikatakan elegi yang membahas mengenai senjata makan tuan. Seseorang membuat kebijakan tetapi ia tidak paham betul mengenai kebijakan yang ia buat, sehingga ia juga tidak tahu apaka ia melanggar kebijakan tersebut atau tidak. Ia yang membuat kebijakan tetapi ia sendiri yang dipusingkan dengan kebijakan atau aturan tersebut. Dengan demikian, akan lebih baik apabila dalam membuat kebijakan sebaiknya kita harus benar-benar paham mengenai kebijakan yang akan kita buat. Termasuk persiapan demi terlaksananya kebijakan tersebut hingga dan dari adanya kebijakan tersebut hingga bagaimana cara mengatasi apabila ada pihak yang melanggar kebijakan tersebut.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete