Sep 1, 2010

Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur




Oleh Marsigit

Tukang Cukur:
Aku adalah tukang cukur. Aku hanya mencukur orang-orang yang tidak mencukur diri sendiri.

Pelanggan1:
Wahai tukang cukur, bersediakah engkau mencukur diriku?

Tukang cukur:
Wahai pelanggan1, apakah engkau tidak mencukur dirimu sendiri?

Pelanggan1:
Wahai tukang cukur, aku senyatanya tidaklah mencukur diriku sendiri.

Tukang Cukur:
Baiklah kalau begitu, marilah anda saya cukur.

Pelanggan2:
Wahai tukang cukur, bersediakah engkau mencukur diriku?

Tukang cukur:
Wahai pelanggan2, apakah engkau tidak mencukur dirimu sendiri?

Pelanggan2:
Wahai tukang cukur, aku senyatanya mencukur diriku sendiri.

Tukang Cukur:
Karena engkau mencukur dirimu sendiri, maka pergilah. Aku tidak bersedia mencukurmu.

Pelanggan2:
Baiklah aku bersedia pergi, tetapi aku mempunyai satu pertanyaan buatmu. Siapakah yang mencukur dirimu?

Tukang Cukur:
Aku mencukur sendiri. Maka aku akan mencukur sendiri.

Pelanggan2:
Stop. Janganlah engkau cukur dirimu itu. Karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
A..aa...a..k...ku. , tidak cukur sendiri.

Pelanggan2:
Kalau begitu segeralah engkau cukur dirimu, karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
B...b...ba...ik...lah. Aku akan cukur sendiri diriku.

Pelanggan2:
Stop. Janganlah engkau cukur dirimu itu. Karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
B...b...ba...ik...lah. A..aa...a..k...ku. , tidak cukur sendiri.

Pelanggan2:
Kalau begitu segeralah engkau cukur dirimu, karena engkau hanya mencukur orang-orang yang tidak cukur sendiri.

Tukang Cukur:
Wahai pelanggan2, mohon maafkan aku.. Kenapa aku engkau buat bingung? Maka bagaimanakah solusinya? Kemudian aku harus bertanya kepada siapakah?

Pelanggan2:
Engkau telah termakan oleh mitosmu sendiri. Agar engkau bisa keluar dari persoalan ini, maka silahkan bertanya kepada orang tua berambut putih.

6 comments:

  1. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas, alur ceritanya yatu awalnya seorang tukang cukur yang mempunyai aturan atau prinsip dalam mencukur, namun lama kelamaan dia termakan sendiri oleh mitosnya. Elegi ini menganalogikan kehidupan kita sehari-hari, dimana ketika mempunyai suatu prisnsip kadang kita akan sulit menerapkan, ada saja halangannya. Dan harapannya dalam kehidupan sehari-hari kita dapat terus berkembang dalam pengetahuan sehingga tidak termakan oleh mitosnya sendiri.

    ReplyDelete
  2. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Episode "Elegi Menggapai Rumah Paradoks" saya lanjutkan dengan menyaksikan "Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur". Saya mulai punya nyali untuk berkomentar. Saya mulai meyakinkan diri saya untuk berpendapat. Oke, ini paradoks, menurut saya ini bukan tentang hubungan kontradiktif, ini paradoks. Bahkan si empunya paradoks tidak layak menempati rumahnya sendiri, dia gagal menggapai logos (?) Dia termakan mitosnya sendiri (?)

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari ‘Elegi Menggapai Paradoks Tukang Cukur’ bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu kontradiksi. Hukum kontradiksi atau principium contradictionis (Bahasa Inggris: law of contradiction) adalah aturan yang menyatakan bahwa tidak mungkin sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu. Maksudnya: mustahil sesuatu itu adalah hal satu dan bertentangan pada waktu yang bersamaan (Wikipedia).
    Paradoks biasa digunakan untuk mematahkan argumentasi lawan dengan menempatkannya ke dalam situasi yang sulit dan serba salah.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tukang cukur pada elegi di atas telah terjebak dalam mitos-mitos karena jawaban tukang cukur diatas seperti lingkaran syaitan yang tidak akan ada ujungnnya. Tukang cukur diatas tidak berpikir kritis dengan menjawab jawaban lain dan hanya terus berputar sehingga ia terjebak dalam mitos- mitos. Maka demikian pula manusia yang tidak mau belajar dan berpikir kritis ketika ditanya maka jawabannya bisa jadi hanya berputar para ini adalah itu dan itu adalah ini. Maka agar tidak terjebak dalam mitos-mitos kita harus senantiasa belajar, berpikir kritis, dan bertanya ketika tidak mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan.

    ReplyDelete
  5. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dalam postingan elegi menggapai paradoks tukang cukur ini adalah dimana kondisi yang bertentangan dengan yang dialami. Dipotong salah, tidak dipotong juga salah. Hal ini menggambarkan bahwa kadang apa yang dilakukan tidak selamanya benar, walaupun menurut kita itu adalah benar. Tukang cukur memotong rambut setiap pelanggan yang datang, tetapi dia tidak dapat memotong rambutnya sendiri. Sehingga setiap orang itu tentu tidak akan mampu untuk hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain dalam berbagai hal. Karena manusia itu adalah makhuk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

    ReplyDelete
  6. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Dalam hidup ini, tiap orang pasti memiliki kepercayaan dan prinsip-prinsip yang menjadi acuannya dalam bertindak. Namun terkadang, ada saat dimana kepercayaan dan prinsip-prinsip itu dipertanyakan orang lain. Hal itu biasa terjadi, karena tiap orang memiliki pemikiran dan prinsip yang berbeda-beda. Namun ketika kita mulai mempertanyakan kepercayaan dan prinsip-prinsip yang telah kita pegang teguh selama ini, maka kita harus memikirkan kembali dengan bijaksana. Kita harus renungkan kembali dalam pikiran dan hati kita serta selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberikan petunjuk.

    ReplyDelete