Sep 22, 2010

Elegi Merasionalkan Takdir

Oleh Marsigit



Titik 1:
Jika aku direntang ke arah tertentu maka aku bisa menjadi garis. Itulah masa depanku. Yaitu bahwa sebuah garis itu ternyata bisa menjadi masa depanku.

Titik 2:
Jika aku direntang ke semua arah pada bidang datar maka aku bisa menjadi lingkaran. Itulah masa depanku. Yaitu ternyata bahwa lingkaran bisa menjadi masa depanku. Tetapi bidang datar juga bisa menjadi masa depanku yang lain.

Titik 3:
Jika aku direntang ke semua arah pada dimensi tiga maka aku bisa menjadi bola. Maka bola bisa menjadi masa depanku. Tetapi segenap ruang dimenasi tiga juga bisa menjadi masa depanku;atau dengan kata lain Alam Semesta bisa menjadi masa depanku.

Garis 1:
Jika aku direntang menuju suatu titik, maka aku bisa menjadi titik. Maka titik juga bisa menjadi masa depanku.

Garis 2:
Jika aku diputar atau digeser pada bidang datar maka aku bisa menjadi bidang datar. Maka bidang datar bisa menjadi masa depanku.

Garis 3:
Jika aku diputar atau digeser pada dimensi tiga maka aku bisa menjadi ruang dimensi tiga. Maka Ruang dimensi tiga bisa menjadi masa depanku; atau dengan kata lain Alam Semesta bisa menjadi masa depanku.

Lingkaran1:
Jika aku direntang menuju suatu titik maka aku bisa menjadi sebuah titik. Maka sebuah titik bisa menjadi masa depanku.

Lingkaran 2:
Jika aku direntang tak terhingga menjauh dari titik pusatku maka aku bisa menjadi bidang datar. Maka Bidang Datar juga bisa menjadi masa depanku.

Lingkaran 3:
Jika aku dirotasikan menurut diametermu maka sku bisa menjadi bola. Maka bola bisa menjadi masa depanku.

Lingkaran 4:
Jika aku ditransformasikan pada dimensi tiga maka aku bisa menjadi ruang semesta. Maka ruang semesta bisa menjadi masa depanku.

Bola 1:
Jika aku ditransformasikan ke bidang datar tertentu maka aku menjadi bidang datar. Maka bidang datar bisa menjadi masa depanku.

Bola 2:
Jika aku ditransformasikan ke garis tertentu maka aku bisa menjadi garis. Maka garis bisa menjadi masa depanku.

Bola 3:
Jika aku ditrnsformasikan ke titik tertentu maka aku menjadi titik. Maka titik bisa menjadi masa depanku.

Kubus 1:
Bidang ternyata bisa menjadi masa depanku.

Kubus 2:
Garis ternyata bisa menjadi masa depanku.

Kubus 3:
Titik ternyata bisa menjadi masa depanku.

Semua Benda 1:
Jika aku ditransformasikan menuju suatu titik maka aku bisa menjadi suatu titik. Maka sebuah titik bisa menjadi masa depanku.

Semua Benda 2:
Jika aku ditransformasikan di ruang dimensi tiga maka aku bisa menjadi ruang semesta. Maka ruang semesta bisa menjadi masa depanku.

Alam Semesta:
Jika aku ditrasformasikan ke titik tertentu maka aku bisa menjadi titik. Maka sebuah titik bisa menjadi masa depanku.

Manusia 1:
Jika aku beserta anak turunku sampai tak berhingga banyaknya selama bermilyar-milyar tahun berlatih terbang, mungkin anak turunku suatu ketika bisa terbang seperti burung. Maka bisa terbang seperti burung mungkin bisa menjadi masa depanku.

Manusia 2:
Jika aku beserta anak turunku sampai tak berhingga banyaknya selama bermilyar-milyar tahun mengurangi konsumsi makanan, mengurangi konsumsi udara, mengurangi asupan gizi...dst maka suatu ketika anak turunku mungkin akan menjadi kecil sebesar kelereng. Menjadi kecil sebesar kelereng mungkin bisa menjadi masa depanku.

Manusia 3:
Jika aku beserta anak turunku sampai tak berhingga banyaknya selama bermilyar-milyar tahun membiasakan diri memakan daging saja, maka suatu ketika anak turunku mungkin menjadi makhluk kanibal. Maka makhluk kanibal mungkin bisa menjadi masa depanku.

Manusia 4:
Jika aku beserta anak turunku sampai tak berhingga banyaknya selama bermilyar-milyar tahun membiasakan diri berjalan merangkak, maka suatu ketika anak turunku mungkin menjadi melata. Maka melata mungkin bisa menjadi masa depanku.

Manusia 5:
Jika aku beserta anak turunku sampai tak berhingga banyaknya selama bermilyar-milyar tahun membiasakan diri melakukan latihan body building, maka suatu ketika anak turunku mungkin bisa menjadi sebesar raksasa. Maka manusia sebesar raksasa mungkin bisa menjadi masa depanku.

Manusia 6:
Jika aku biasakan berbuat amal baik, maka syurga bisa menjadi masa depanku. Kalau begitu jika manusia terbiasa berbuat dosa maka neraka bisa menjadi masa depannya.

Cantraka:
Wahai sang Bagawat apakah makna dari semua yang mereka katakan itu?

Bagawat:
Mereka berusaha merasionalkan takdir. Wallohua’lam bisawab.

5 comments:

  1. Endah Kusrini
    13301241075
    Pend. Matematika I 2013

    Berbicara tentang takdir, adalah kuasa Allah. Sebagai manusia kita hanya dapat menduga-duga, hanya dapat berencana. Sedangkan penetu tetap berada di tangan Allah. Namun demikian, manusia tetap harus selalu berikhtiar dan berdoa untuk dapat menggapai apa yang diinginkan. Karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mau berusaha.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Takdir telah menjadi bagian dari dalam diri manusia. Takdir itu bersifat metafisik dan transenden. Takdir telah ada sejak titik awal manusia. Biasanya takdir terlahir dari keputusan yang diambil dari pilihan-pilihan yang ada. Takdir juga berasal dari usaha dan kerja keras manusia. Takdir merupakan ciptan dari Tuhan agar menjadi patron kesyukuran dalam kehidupan manusia. Karena manusia yangbaik adalah manusia yang pandai dan senantiasa bersyukur dalam kondisi apapun.

    ReplyDelete
  4. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Takdir menjadi salah satu rahasia Tuhan. Manusia tidak bisa meramalkan takdir bahkan merubah takdir kecuali ketika kita mau berusaha dan berdoa bersungguh-sungguh. Manusia hanya bisa merasionalkan takdir sesuai dengan akal pikiran kita. Yang perlu kita lakukan adalah memiliki sikap bersyukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan.

    ReplyDelete
  5. Merasionalkan takdir adalah salah satu refleksi diri untuk menggapai kebaikam yang diharapkan. Jika dengan pendekatan matematika sebuah titik, garus, bidang, bentuk, dan dimensi dengan tujuan adalah masa depan dengan kebaikan. Apa yang di cita cita kan adalah sesuai yang diperbuat, sehingga yang didapat pun sesuai.

    Sebenarnya takdir tiada yang tahu, namun takdir dapat kita buat sesuai rencana kita, hidup kita mau seperti apa adalah proses berfikir untuk bertindak dan menentukan pikihan hiduo. Jika fenomena orang meninggal dikatakan adalah sesuai kebiasaan ketika hidup, begitulah analogi merasionalkan takdir yang mana takdir memang tidak ada yang tahu, namun setidaknya kita memposisikan diri agar apa yang kita lakukan diridhoi sehingga takdir dan nasib mengikuti dengan beseeta penuh keberkahan dari Nya ubtuk diri kita

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.