Sep 20, 2010

Elegi Obrolan Filsafat ke Dua




Oleh Marsigit
(Khusus untuk olah pikir filsafat dan tidak diperuntukkan untuk referensi pembelajaran matematika langsung di sekolah)

Q: Apakah yang disebut sama itu?
A: Sulit dijelaskan
Q: Apakah 2 + 3 sama dengan 5
A: Belum tentu
Q: Mengapa 2 + 3 belum tentu 5?
A: Mungkin 2+3 sama dengan 5.
Q: Mengapa masih mungkin?
A: Harus engkau buktikan dulu bahwa 2+3 memang sama dengan 5.
Q: Aku tunjukkan 2 jariku, kemudian 3 jariku, maka aku dapat menyebutkan bahwa 2 jariku ditambah 3 jariku sama dengan 5 jariku.
A: Kapan?
Q: Lha tadi.
A: Belum tentu nanti juga demikian.
Q: Lha bagaimana engkau membuktikannya?
A: Bagiku 2 + 3 itu berbeda dengan 5
Q: Baik apakah 5 sama dengan 5?
A: Ternyata tidak.
Q: Mengapa 5 tidak sama dengan 5?
A: Aku menemukan dua macam 5, yaitu 5 pertama dan 5 kedua.
Q: Apa bedanya 5 pertama dan 5 kedua?
A: 5 pertama aku ucapkan lebih dulu, sedangkan 5 kedua aku ucapkan kemudian.
Q: Apa bedanya 5 diucapkan dahulu dan 5 diucapkan kemudian?
A: Jelas berbeda, jika aku bisa mengucapkan 5 lebih dulu, dan aku bisa mengucapkan 5 kemudian, itu pertanda bahwa aku telah menemukan dua macam 5.
Q: Apakah 2+3 sama dengan 3+2
A: Apalagi yang ini. Jelas 2 + 3 tidak sama dengan 3 + 2.
Q: Mengapa?
A: Aku menyebut 2 lebih dulu pada 2+3, sedangkan aku menyebut 3 lebih dulu pada 3+2.
Q: Kalau begitu dirimu itu siapa?
A: Aku tidak tahu.
Q: Namamu siapa?
A: Aku ragu-ragu.
Q: Biasanya orang menyebut dirimu siapa?
A: Pernah aku dipanggil sebagai Antah-Brantah.
Q: Apakah Antah-Brantah itu dirimu?
A: Belum tentu.
Q: Kenapa belum tentu?
A: Karena mungkin ada orang lain yang mempunyai nama Antah-Brantah.
Q: Apakah dirimu itu Antah-Brantah?
A: Aku ragu-ragu.
Q: Kenapa engkau ragu-ragu?
A: Aku tidak dapat menunjuk diriku.
Q: Lha, aku ini bicara dengan siapa?
A: Mungkin dengan Antah-Brantah
Q: Dirimu itu dimana?
A: Saya tidak dapat menunjuknya.
Q: Kenapa engkau tidak dapat menunjuk dirimu?
A: Kelihatannya diriku itu bergerak.
Q: Apa maksudmu bahwa dirimu bergerak.
A: Diriku yang tadi ternyata berlainan dengan diriku yang sekarang.
Q: Dirimu yang sekarang itu di mana?
A: Aku tidak dapat menunjuk diriku yang sekarang karena kelihatannya aku bergerak.
Q: Engkau itu bergerak ke mana?
A: Belum selesai aku menunjuk diriku yang sekarang ternyata diriku telah berubah menjadi diriku yang tadi.
Q: Lalu siapa namamu? Bukankah namamu itu Antah-Brantah?
A: Aku merasa namaku kurang cermat.
Q: Kenapa engkau menganggap namamu kurang cermat?
A: Aku yang dulu, sekarang dan yang akan datang disamaratakan sebagai Antah-Brantah?
Q: Apakah engkau akan mengganti namamu?
A: Tidak. Aku hanya akan menambah saja namaku dengan keterangan tambahan, sehingga namaku menjadi Antah-Brantah Relatif.
Q: Apakah engkau sudah puas dengan namamu itu?
A: Belum. Namaku itu juga belum spesifik. Maka jika boleh aku akan lengkapi namaku sehingga namaku menjadi Antah-Brantah Relatif Terhadap Ruang dan Waktu.
Q: Apakah engkau sudah puas dengan namamu itu?
A: Belum. Ternyata aku tidak pernah bisa memiliki namaku itu.
Q: Kenapa?
A: Karena ternyata namaku tidak pernah bisa menunjuk siapa sebenarnya diriku.
Q: Kalau begitu apakah fungsi nama itu?
A: Tiadalah sebenarnya manusia itu sama dengan namanya.
Q: Apa maksudmu?
A: Manusia itu hanya berusaha menggapai namanya masing-masing. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi nama adalah nama absolut. Itulah nama Tuhan Allah SWT.

25 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    FIlsafat memang sungguh terbuka, obyeknya adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Semua ada dalam ruang dan waktunya. Aku sendiri tak pernah mampu menunjuk diriku, sebab aku terikat pada ruang dan waktu. aku yang sekarang sedang membuat komentar dalam blog, sudah berbeda dengan aku yang tadi sedang makan kacang rebus. Bahkan namaku pun tak dapat menjelaskan diriku benar-benar. Ada sedemikian banyak predikat yang harus disandangkan dan itupun tidak mungkin karena terlalu banyak, predikat dalam namaku itu relatif dan sesuai ruang waktunya. Maka nama absolut hanyalah milik Tuhan sendiri.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dalam elegi obrolan filsafat kedua ini, pelajaran yang kami pahami adalah bahwa segala sesuatu itu sebenarnya relatif tergantung pada ruang dan waktunya. Dalam kehidupan ini kami menyadari bahwa selalu ada kemungkinan bahwa kami akan menemui orang yang berbeda dimensi dengan kami sehingga terkadang terjadi perselisihan atau terjadi kesalahpahaman. Semoga dengan belajar berfilsafat ini, kami dapat menempatkan diri kamisesuai dengan ruang dan waktu dan dapat memahami dan menghargai pemahaman-pemahaman orang-orang disekitar kami. Amin

    ReplyDelete
  3. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    6+1 tidak selalu bernilai 7. Jika 6 pena ditambah 1 buku tentu tidak menghasilkan 7 buku, juga tidak menghasilkan 7 pena. 6+1 = 7 hanya berlaku untuk alam identitas, atau di langit saja. dan tidak berlaku di bumi. Karena di bumi semuanya terikat pada ruang dan waktu. Aku yang menulis tulisan ini sudah berbeda dengan aku selesai menulis ini. Jadi sebenar-benar diri kita tidak akan mampu menggapai diri kita sendiri

    ReplyDelete
  4. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi kali ini pun saya menemukan sifat absolut atau sifat kekal Tuhan yang lain. Selain sifat, hukum, ketetapan Tuhan yang kekal, nama Tuhan pun kekal, absolut. Maka siapalah manusia yang sombong dengan dirinya yang sifatnya hanya sementara, fana. Bahkan belum selesai ia menunjuk dan bercerita tentang dirinya sendiri, ia telah berubah nama menjadi diri yang lain karena nama manusia terikat dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  5. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas secara implisit menjelaskan tentang prinsip kontradiksi. Semisal sesuatu yang sekarang berbeda dengan sesuatu setelah sekarang atau sesuatu sebelum sekarang. Hal itu terjadinya diluar pikiran atau terjadi di dunia. Kontradiksi bisa diartikan sebagai keadaan tidak dapat mencapai identitas. Karena prinsip identitas itu absolut dan hanya dimiliki Allah SWT.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Belajar filsafat adalah belajar bagaimana berfikir secara filsafat. Berfikir filsafat berarti kita harus memperhatikan dimensi ruang dan waktu. Elegi di atas membantu kita untuk berfikir secara filsafat, yaitu memikirkan sesuatu dengan terikat atau tidak terikat oleh ruang dan waktu. Terima kasih, Pak telah memberikan contoh terkait dengan cara berfikir filsafat.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Segala sesuatu di dunia ini menembus ruang dan waktu. segala sesuatu di dunia ini terikat ruang dan waktu. Ketika kita belajar filsafat kita akan tahu bahwa semua tidak akan ada yang sama. Alu yang sekarang berbeda dengan aku sedetik setelah aku menulis komentar ini. Aku yang menulis komentar di Solo berbeda dengan aku yang menulis komentar di jogja. semua pasti berbeda hanya Allah lah yang satu, dan tetap sama.

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Sama itu relatif, nama pun juga relatif. Belum tentu dua hal memiliki nama sama itu sama. Karena mereka sebenarnya dua hal yang berbeda. Sama dan berbeda itu bergantung bagaimana memandangnya. Nama juga bergantung pada obyeknya dan kepada yang memberi nama.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hukum identitas, yaitu A=B tidak akan benar-benar terjadi di dunia ini karena dunia ini terikat ruang dan waktu. A=B hanya bisa terjadi di akhirat atau di pengandaian. Di dunia ini, selalu terjadi kontradiksi, yaitu A tidak mungkin sama dengan B, karena adanya ruang dan waktu, semua yang ada dan yang mungkin ada terikat ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  10. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Filsafat selalu menggunakan banyak sudut pandang dalam memandang suatu hal, bukan hanya dari satu sisi saja. Sudut pandang yang satu dengan yang lain terhadap sesuatu bisa jadi berbeda, dan bahkan sangat berbeda. Seperti contoh pada elegi ini, 2 + 3 belum tentu 5 karena bisa dilihat dari waktu menyebutkannya. Berfilsafat merupakan berpikir secara mendalam dan kritis.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Inti dari elegi ini sebenarnya adalah terdapat pada dialog "Diriku yang tadi ternyata berlainan dengan diriku yang sekarang". Maka jelas sudah bahwa setiap aku yang pada detik ini, sudah berbeda dengan aku pada 2 detik atau 3 detik kemudian. Itu artinya, kita tidak mampu memiliki sifat kekonsistennan yang hakiki. Saya sendiri juga tidak pernah mampu menunjuk diriku, sebab saya terikat pada ruang dan waktu. Saya yang sekarang sedang membuat komentar dalam blog, sudah berbeda dengan aku yang tadi sedang menjawab chat Whats app dari teman. Disinilah kita menemukan juga sifat absolut dan ketetapan Allah yang sebenar-benarnya. Maka apakah yang dapat kita sombongkan dari diri sendiri, sedangkan kita saja tidak 1 namun ada banyak. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  12. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Segala sesuatu itu terikat dengan ruang dan waktu. Elegi diatas menunjukkan kita harus kritis karena kita tidak mengatahui kebernaran, bahwa setiap manusia mempunyai sudut pandang masing masing. Apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan yang lain pikirkan. Semua itu relatif. Dan sebenar benarnya yang absolut dan kekal hanyalah Allah SWT. Bagi yang mempunyai sifat yang congak sombong, bahwa disadari hidup ini bersifat fana atau hanya sementara tidak ada yang kekal. Sehingga sebagai manusia harus taat dan melaksanakan perintah Allah yang kekal adanya tidak akan berubah dengan berkembangnya jaman dan waktu.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Nama adalah doa, sebagaiman setiap bayi yang lahir diberi nama. Nama bukan sekedar identitas diri, tetapi sebuah doa yang diharapkan mampu digapai oleh penyandang nama. Ikhtiar untuk menggapai tujuan sebuah nama adalah lebih penting dari pada keindahan nama. Artinya nama mencerminkan seberapa kuat usaha yang dilakukan untuk mencapai makna nama yang dikandung

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sering kita dengar a”apalah arti sebuah nama”. Maka kita jawab bahwa nama adalah cita-cita yang harus tercapai melalui ikhtiar dan doa. Sebenar-benar nama, setinggi tinggi nama adalah nama Allah Swt, nama-nama tersbut bersifat absolut dan menggambarkan kekuasaannya dari yang ada dan yang mungkin ada

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Hal-hal di dunia ini bersifat relatif. Segala sesuatu itu bisa dianggap sama atau berbeda bergantung pada orang yang memandangnya. Seperti halnya 2 + 3 belum tentu sama dengan 5, tetapi bisa juga sama dengan 5. Mengapa demikian? Hal itu tergantung dengan konteks dan tergantung dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, untuk belajar filsafat diperlukan pemikiran yang kritis.
    Jadi tidak ada yang sama di dunia ini, sama itu relatif terhadap ruang dan waktu. Selanjutnya obrolan berikutnya adalah tentang nama, maka tidak ada seorangpun yang sama dengan namanya sendiri. Manusia hanya berusaha menggapai namanya masing-masing, dan nama seseorang itu juga hanyalah sebuah kesepakatan saja.

    ReplyDelete
  16. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi obrolan filsafat kedua ini menjelaskan tentang bagaimana suatu hal yang kita pikirkan itu tidak selalu sama dengan yang orang lain pikirkan. Apa yang kita maksud terkadang dilihat orang lain sebagai hal yang berbeda, atau dengan kata lain persepsi kita terhadap suatu hal tidak sama dengan hal lain karena segala sesuatu di dunia ini relatif terhadap ruang dan waktu. Begitu juga tentang bagaimana kita memandang kehidupan, pandangan kita terhadap kehidupan dan pandangan orang lain tentunya akan berbeda karena pandangan kita relatif terhadap ruang dan waktu

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kita tidak bisa memandang sesuatu sebagai hal yang sama ketika sesuatu tersebut sudah dalam ruang dan waktu yang berbeda. Setiap waktu semua hal melakukan pergerakan, berkembang, dan menghasilkan perbedaan. Sebagai manusia, kitapun harus bijak menyikapinya, dituntut untuk memandang sesuatu nya secara luas dan berkembang pula mengikuti perkembangan yang selalu terjadi.

    ReplyDelete
  18. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Selanjutnya mengenai nama; nama adalah doa, nama adalah harapan, tujuan, keinginan. Nama tidak bisa mencerminkan si empunya nama. Namun kita bisa berusaha untuk menggapai harapan yang tertulis di dalam nama yang kita miliki.

    ReplyDelete
  19. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih prof, pesan yang dapat saya ambil dari elegi diatas adalah benar ataupun salah itu tergantung pad aruang dan waktunya. Dalam kehidupan sehari-hari benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain begitu pula sebaliknya. Dalam bermatematika benar dan salah pun tergantung dari semesta pembicaraan nya. Hal ini menegajarkan kita untuk tidak mudah menjudge dan menyalah sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran kita

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Belajar Filsafat maka itu berarti kita sedang belajar mencari metafisik, atau sedang mencari makna di sebaliknya. Sehingga dengan belajar filsafat kita akan mampu saling terjemah dan menerjemahkan kehidupan dengan lebih baik, tidak hanya berdasarkan yang tampak dipermukaan saja, namun mencari makna yang tersembunyi di belakangnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Nama dari setiap manusia merupakan identitas yang akan menggambarkan siapa diri mereka. Jika seseorang tidak memiliki nama, maka orang lain akan bingung untuk memanggil. Karena pada dasarnya segala hal yang ada di dunia ini sudah ditakdirkan memiliki nama. Namun, pada dasarnya nama yang dicantumkan merupakan hasil dari ikhtiar manusia itu sendiri. Pada dasarnya nama itu untuk mempermudah kita semua menyebut apa yang ada di dunia ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  23. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Mutlak, dalam sebuah filsafat tidak bisa dipastikan. Sebuah objek atau subjek harus ditelaah hingga akar permasalahan. Kenapa objek ini ada, unsurnya dan sebagainya. dengan adanya pemikiran semacam ini, seseorang akan mendapatkan pertanyaan yang sesungguhnya. Sebab objek akan berbeda makna tatkala ada ruang, waktu dan kesempatan yang mendukung. Seperti contoh pada elegi ini, 2 + 3 belum tentu 5 karena bisa dilihat dari waktu menyebutkannya. Berfilsafat merupakan berpikir secara mendalam dan kritis

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. hal-hal dalam filsafat relatif berdasarkan ruang dan waktu. filsafat mengajak kita untuk berfikir secara luas. Semua itu tergantung ruang dan waktu.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Misalnya 3 buku + 2 Pensil = belum tentu 5. Karena kita yang sekarang dengan kita satu detik adalah berbeda. Oleh karena itu untuk mengasilkan kepastian dalam filsafat maka tambahkanlah ruang dan waktu. Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama, kadang-kadang kita bertemu dengan seseorang dengan pandangan yang berbeda. Jadi, ketika kita melihat sesuatu, kita tidak bisa melihat itu hanya membentuk satu sisi tapi lihatlah di sisi yang berbeda. Setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda - beda karena mereka melihatnya dari sisi yang berbeda – beda pula.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete