Sep 20, 2010

Elegi Obrolan Filsafat ke Dua




Oleh Marsigit
(Khusus untuk olah pikir filsafat dan tidak diperuntukkan untuk referensi pembelajaran matematika langsung di sekolah)

Q: Apakah yang disebut sama itu?
A: Sulit dijelaskan
Q: Apakah 2 + 3 sama dengan 5
A: Belum tentu
Q: Mengapa 2 + 3 belum tentu 5?
A: Mungkin 2+3 sama dengan 5.
Q: Mengapa masih mungkin?
A: Harus engkau buktikan dulu bahwa 2+3 memang sama dengan 5.
Q: Aku tunjukkan 2 jariku, kemudian 3 jariku, maka aku dapat menyebutkan bahwa 2 jariku ditambah 3 jariku sama dengan 5 jariku.
A: Kapan?
Q: Lha tadi.
A: Belum tentu nanti juga demikian.
Q: Lha bagaimana engkau membuktikannya?
A: Bagiku 2 + 3 itu berbeda dengan 5
Q: Baik apakah 5 sama dengan 5?
A: Ternyata tidak.
Q: Mengapa 5 tidak sama dengan 5?
A: Aku menemukan dua macam 5, yaitu 5 pertama dan 5 kedua.
Q: Apa bedanya 5 pertama dan 5 kedua?
A: 5 pertama aku ucapkan lebih dulu, sedangkan 5 kedua aku ucapkan kemudian.
Q: Apa bedanya 5 diucapkan dahulu dan 5 diucapkan kemudian?
A: Jelas berbeda, jika aku bisa mengucapkan 5 lebih dulu, dan aku bisa mengucapkan 5 kemudian, itu pertanda bahwa aku telah menemukan dua macam 5.
Q: Apakah 2+3 sama dengan 3+2
A: Apalagi yang ini. Jelas 2 + 3 tidak sama dengan 3 + 2.
Q: Mengapa?
A: Aku menyebut 2 lebih dulu pada 2+3, sedangkan aku menyebut 3 lebih dulu pada 3+2.
Q: Kalau begitu dirimu itu siapa?
A: Aku tidak tahu.
Q: Namamu siapa?
A: Aku ragu-ragu.
Q: Biasanya orang menyebut dirimu siapa?
A: Pernah aku dipanggil sebagai Antah-Brantah.
Q: Apakah Antah-Brantah itu dirimu?
A: Belum tentu.
Q: Kenapa belum tentu?
A: Karena mungkin ada orang lain yang mempunyai nama Antah-Brantah.
Q: Apakah dirimu itu Antah-Brantah?
A: Aku ragu-ragu.
Q: Kenapa engkau ragu-ragu?
A: Aku tidak dapat menunjuk diriku.
Q: Lha, aku ini bicara dengan siapa?
A: Mungkin dengan Antah-Brantah
Q: Dirimu itu dimana?
A: Saya tidak dapat menunjuknya.
Q: Kenapa engkau tidak dapat menunjuk dirimu?
A: Kelihatannya diriku itu bergerak.
Q: Apa maksudmu bahwa dirimu bergerak.
A: Diriku yang tadi ternyata berlainan dengan diriku yang sekarang.
Q: Dirimu yang sekarang itu di mana?
A: Aku tidak dapat menunjuk diriku yang sekarang karena kelihatannya aku bergerak.
Q: Engkau itu bergerak ke mana?
A: Belum selesai aku menunjuk diriku yang sekarang ternyata diriku telah berubah menjadi diriku yang tadi.
Q: Lalu siapa namamu? Bukankah namamu itu Antah-Brantah?
A: Aku merasa namaku kurang cermat.
Q: Kenapa engkau menganggap namamu kurang cermat?
A: Aku yang dulu, sekarang dan yang akan datang disamaratakan sebagai Antah-Brantah?
Q: Apakah engkau akan mengganti namamu?
A: Tidak. Aku hanya akan menambah saja namaku dengan keterangan tambahan, sehingga namaku menjadi Antah-Brantah Relatif.
Q: Apakah engkau sudah puas dengan namamu itu?
A: Belum. Namaku itu juga belum spesifik. Maka jika boleh aku akan lengkapi namaku sehingga namaku menjadi Antah-Brantah Relatif Terhadap Ruang dan Waktu.
Q: Apakah engkau sudah puas dengan namamu itu?
A: Belum. Ternyata aku tidak pernah bisa memiliki namaku itu.
Q: Kenapa?
A: Karena ternyata namaku tidak pernah bisa menunjuk siapa sebenarnya diriku.
Q: Kalau begitu apakah fungsi nama itu?
A: Tiadalah sebenarnya manusia itu sama dengan namanya.
Q: Apa maksudmu?
A: Manusia itu hanya berusaha menggapai namanya masing-masing. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi nama adalah nama absolut. Itulah nama Tuhan Allah SWT.

67 comments:

  1. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berfikir secara filsafat memang tidak akan ada habisnya, karena memang berfilsafat itu tidak memiliki batasan dan sudut pandang yang berbeda-beda. Di matematika sekolah, kita tahu bahwa 2+3=5 dan 5 adalah 5 merupakan pernyataan yang benar. Namun di filsafat, pernyataan tersebut belum tentu benar.

    ReplyDelete
  2. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas saya belajar bahwa suatu obyek pikir bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, sehingga itu semua relatif, tergantung bagaimana dilihatnya, sekarang atau nanti, kemrin atau sekarang dan lain – lain. Karena yang absolut itu milik Tuhan YME

    ReplyDelete
  3. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Banyak hal yang memang perlu dibuktikan. Banyak hal yang tidak mudah dipercaya dan memang memerlukan bukti. Tidak mudah percaya adalah memang suatu keharusan, dan percayalah hanya kepada Tuhan YME. Karena jika kita mempercayai selain Tuhan YME maka yang kita dapatkan hanyalah kecewa.

    ReplyDelete
  4. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dengan sudut pandang matematika 2+3=5 adalah benar. Namun dilihat dari sisi filsafat hal itu belum tentu benar. Karena bergantung pada dimensi ruang dan waktu seperti dalam elegi ini “5 yang sekarang berbeda 5 yang diucapkan tadi” ini telah menunjukan adanya dimensi waktu. Bicara mengenai filsafat tidak akan ada habisnya karena filsafat dapat dipandang dari berbagai macam sudut pandang yang menghasilkan kebenaran yang berbeda.

    ReplyDelete
  5. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Yang dapat saya tangkap, tidak ada di dunia ini yang tidak beda. Semua telah menempati ruang dan waktunya masing-masing. Anak kembar yang lahir saja itu tidak sama. Waktu saat keluar dari rahim ibunya tidak sama, dan penempatan bayai tersebut juga tidak sama. Misalakan si A di kiri maka si B di kanan atau secara horizontal tetap berbeda si A di bawah dan si B di atas. Semua telah menempati ruang dan waktunya masinr-masing. Bahkan saya yang tadi juga tidak sama dengan saya yang sekarang.

    ReplyDelete
  6. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Menurut saya mempelajari filsafat bukan masalah benar atau salah, sebagai contoh bagaimana kita menggunakan panca indera kita. Kita menggunakan panca indera kita untuk merasakan obyek-obyek yang ada namun tidak semua obyek harus kita rasakan.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Filsafat memiliki luas yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Dalam mencari makna dari suatu objek tersebut relatif terhadap ruang dan waktu. Sehingga, segala sesuatu di dunia ini berbeda-beda dan tidak ada yang sama yang relatif ruang dan waktunya. Selama kita masih berada dalam duni ini, pada dasarnya aku tidak sama dengan aku. Yang dapat menjadi aku sama dengan aku hanyalah Allah SWT sang maha pencipta alam semesta dan seisinya.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Inilah filsafat perlu pemikiran yang disertai hati yang ikhlas untuk memahaminya. Luar biasa orang-orang yang mampu berfilsafat dengan baik maka nilai plus buat mereka. Dari elegi obrolan filsafat kedua ini saya menangkap bahwa tidak ada yang sama seperti contoh yang diberikan yaitu 5 tidak sama dengan 5. Karena ada 5 pertama dan 5 kedua maka 5 itu adalah 5 yang berbeda. Selain itu, ketika ditanya nama siapa, kita juga tidak tahu karena nama bisa relatif terhadap ruang dan waktu. Tetapi kita harus selalu ingat sebenar-benarnya nama dan setinggi-tingginya nama adalah nama Allah SWT. Kita patut bersyukur dan selalu menyebut nama Allah SWT. Pak Prof selalu mengingatkan kita akan hal itu juga bukan. Terima kasih, Pak.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    2+3 belum tentu hasilnya 5 tergantung pada ruang dan waktunya penjumlahan itu digunakan. 2 apel ditambah 3 jeruk hasilnya bukan 5 tetapi tetap 2 apel dan 3 jeruk. Tetapi untuk sifatnya selalu tetap 2 ditambah 3 sama dengan 3 ditambah 2 serta 2 bilangan bulat jika ditambah dengan 3 bilangan bulat menghasilkan bilangan bulat juga yang artinya penjumlahan mempunyai sifat komutatif dan bersifat tertutup.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam Elegi obrolan filsafat ke dua ini menjelaskan bahwa secara matematis 2+3 memang nilainya sama dengan 5. Namun dalam filsafat ternyata 2+3 belum tentu sama dengan 5, karena semua itu bersifat relatif. Manusia tidak akan mampu menunjuk dirinya sendiri, karena dirinya yang sekarang dengan yang tadi tidak sama. Hal ini diakibatkan karena segala sesuatunya bersifat dinamis dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sama, oh ini lanjutan, lah wong yang kedua. Tentu beda. Yang sebelumnya kan "Elegi Obrolan Filsafat".

    Menemukan hal yang sama, bahwa filsafat itu bergantung ruang dan waktu, tidak idealis. Ya Tuhan, saya menyebut kata "sama". Seharusnya kan "beda" (?). Filsafat memang membawa pada ha-hal yang kontradiktif. Bahkan diriku bukan diriku.

    Sedikit tertawa kecil membaca prolog postingan ini, "Khusus untuk olah pikir filsafat dan tidak diperuntukkan untuk referensi pembelajaran matematika langsung di sekolah". Apa jadinya jika matematika anak SD diganti seperti ini (2+3 tidak selamanya sama dengan 5). Eh tapi kan berfilsafat harus bijak, akan salah jika hakikat filsafat yang seperti ini disampaikan kepada anak SD. Apalagi saya yang menyampaikan. Sayapun masih belajar

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari “Elegi Obrolan Filsafat ke Dua” bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini relatif terhadap ruang dan waktu. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi suatu hal atau yang absolut hanya milik Allah SWT. Diriku bukan diriku, diriku terikat oleh ruang dan waktu dimana diriku yang sekarang berbeda dengan diriku yang kemarin berbeda pula dengan diriku yang akan datang.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Jawaban dalam filsafat bersifat bebas sesuai ruang dan waktu. Begitu pula halnya saat kita mendefenisikan suatu nama. ‘Lima’ yang kita ucapkan adalah nama yang mewakili hitungan layaknya ‘Elsa’ yang merupakan nama diriku. Nama Elsa tidak hanya dipakai oleh diriku, banyak di luar sana yang juga bernama Elsa. Maka namaku yang tidak pernah bisa mendefenisikan dan menunjuk siapa sebenarnya diriku namun kita hanya berusaha menggapai nama masing-masing.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bersifat relatif. Apa yang terjadi di masa lalu, saat ini dan di masa depan bisa jadi sama, bisa jadi tidak. Apa yang terjadi di masa lalu dapat kita jadikan pelajaran untuk saat ini dan di masa depan. Di masa depan, segala sesuatu mungkin saja terjadi. Sebagai manusia kita hanya bisa menerka-nerka, oleh karena itu kita tidak boleh berhenti belajar dan teruslah berikhtiar kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Banyak hal yang kita anggap sama di dunia ini tetapi nyatanya kesamaan itu hanyalah ada dalam pikiran kita. Seperti 5 sama dengan 5. Menurut pikiran kita 5 sama dengan 5 adalah benar. Tetapi setelah kita tuliskan atau ucapkan 5 menjadi tidak sama dengan lima. Karena ada 5 yang kita tuliskan terlebih dahulu dan ada 5 yang kita tuliskan setelahnya. Karena ada 5 yang kita ucapkan lebih dahulu dan ada 5 yang kita ucapkan setelahnya. Maka 5 sama dengan 5 hanyalah benar dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  16. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Elegi ini menggambarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang absolut, kaku, atau mutlak hanya memiliki 1 jawaban. Contohnya saja dalam pembelajaran matematika selama ini kita mengenal bahwa matematika merupakan ilmu yang objektif di mana jawabnnya pastilah satu tidak mungkin ada jawaban lain. Ternyata hal tersebut belum sepenuhnya benar, tergantung cara pandang kita dalam memahaminya. Belum tentu 1+1 sama dengan dua, karena 1 yang disebutkan di awal bisa saja berbeda dengan 1 yang disebutkan selanjutnya. Ternyata selama ini kita telah terjebak pada mitos-mitos yang membuat diri ini tidak menyadari logos yang ternyata tidak ada yang absolut.

    ReplyDelete
  17. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi obrolan filsafat ke dua, dari elegi
    ini saya belajar bahwa dalam filsafat semua yang ada di dunia ini relatif, tergantung dari sudut pandang ruang dan waktu. Contohnya 2 + 3 = 5 hal itu pasti dalam matematika, namun jika kita melihat dari sudut pandang filsafat belum tentu 2 + 3 =5 . Bisa jadi 2 + 3 tidak sama dengan 5. Terima Kasih

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Sesuatu yang ada di pikiran kita merupakan relatif terhadap apa yang dipikirkan oleh orang lain. Yang sama belum tentu sama, dan yang tidak sama belum tentu tidak sama. Begitupun dengan yang disampaikan pada elegi ini, kesamaan itu tidak selamanya sama.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Didalam dunia ini tidak ada yang pasti. Sesuatu jika dilihat dari maknanya setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang berbeda. Sama seperti elegi-elegi sebelumnya bahwa, makna dari sesuatu tergantung dengan olah fikir seseorang. Bukan berarti pendapat seseorang itu salah, tapi juga bukan berarti pendapat seseorang itu pasti benar, segala sesuatu hal itu belum pasti, tergantung sudut pandang memaknai.

    ReplyDelete
  20. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dalam belajar filsafat, kita mempelajari berbagai hal dengan sudut pandangnya masing-masing. Sebagai manusia kita juga mempunyai pemikiran sendiri. Namun terkadang pemikiran itu tidak bisa kita campur adukkan dalam semua pembelajaran. Jadi kita harus pandai memilah dan memilih apa yang akan kita berikan dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  21. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Obrolan filsafat ini tidak diperuntukkan untuk referensi dalam belajar matematika di sekolah, karena obrolan ini adalah olah pikir dalam belajar berfilsafat, yang tujuannya untuk membangun ilmu pengetahuan filsafat dan menggapai logos. Setiap individu memiliki cara berpikir dan cara pandang tang berbeda, tidak heran jika setiap individu memiliki jawaban dan penjelasan yang berbeda disetiap pertanyaan yang ada dan yang mungkin ada.
    Sama dengan(=)?. Sebelumnya saya telah membaca elegi pemberontakan para beda. Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak beda?. Tetapi bagaimana dengan sama dengan(=)?. Saya jadi bingung memikirkannya.

    ReplyDelete
  22. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika

    Assalamu'alaikum wr.wb

    pada tulisan elegi obrolan filsafat yang ke dua ini, saya juga mendapat kesimpulan yang hampir sama dengan yang sebelumnya yaitu bahwa sudut pandang dan cara berpikir kita itu tidak selalu sama dengan orang lain. hal-hal yang biasanya sudah disepakati secara luas seperti hasil dari 2+3, ternyata dalam ilmu filsafat itu hasilnya tidak selalu sama dengan yang selama ini kita ketahui, tergantung cara kita berfikir dan memandang persoalan yang ditujukan atau pertanyaan yagn di ajukan kepada kita.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dalam filsafat segala sesuatu memiliki banyak arti, seperti yang dicontohkan dari elegi di atas. 2+3 belum tentu sama dengan 5 dan 5 belum tentu sama dengan 5, karena ia menemukan dua macam 5, yaitu 5 pertama dan 5 kedua. Karena filsafat menjelaskan dari segi ruang dan waktu. Misalkan “Pattimura” belum tentu sama dengan “Pattimura”. Karenabisa jadi Pattimura yang pertama adalah nama seorang pahlawan sedangkan Pattimura kedua adalah nama sebuah jalan. Dan bisa jadi terdapat pattimura-patimura yang lainnya. Maka untuk mendefinisikan sesuatu diperlukan adanya penjelasan yang dapat dimengerti oleh orang lain, karena sebenar-benar filsafat adalah penjelasan dari apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  24. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini diawali dengan peringatan bahwa ini hanya untuk olah pikir filsafat dan bukan untuk diterapkan di sekolah. Saya menghubungkan ini dengan intuisi anak kecil yang bapak sampaikan. Anak usia sekolah tentu belum mampu untuk berpikir tingkat tinggi sekelas filsafat. Ini menjadi pijakan dalam pengajaran matematika bahwa guru hendaknya menyajikan matematika dengan memasuki dunia anak/siswa dahulu untuk bisa memberikan kekokohan konsep yang akan mereka bangun.
    Percakapan antara Q dan A di atas menunjukkan bahwa di dunia ini akan selalu terdapat kontradiksi, yaitu B tidak sama dengan B. Ini adalah hukum alam yang Allah tetapkan. Hal ini tentu karena terkait dengan ruang dan waktu yang Allah ciptakan dan tetapkan bahwa waktu akan terus berjalan sampai waktu yang telah ditetapkan olehNya.

    ReplyDelete
  25. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Tulisan dalam elegi ini menunjukkan kepada kita bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sama, bahkan kembar identik pun pasti ada perbedaannya. Betapa Maha Besarnya Kuasa Allah yang mampu mendesain alam semesta yang begitu besar ini dengan tanpa ada yang sama. Sesuatu yang kita anggap sama dan identik sekalipun pasti bisa disebutkan perbedaan diantara keduanya. Kita sebagai manusia ketika diminta untuk mewarnai 1000 gambar dengan tidak ada warna yang sama pasti sudah mengalami kesulitan. Masih ragukah kita dengan KuasaNYa?
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Tidaklah ada yang dapat sama dengan diriku. Bahkan aku pun tak bisa sama dengan diriku, karena aku yang sekarang sudah berbeda dengan aku yang tadi. Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada tidaklah sama, semuanya plural. Bahkan diriku pun plural. Sehingga semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bersifat relatif. Yang tetap hanyalah Kuasa Tuhan. Yang tetap dari seorang manusia adalah bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan.

    ReplyDelete
  27. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Satu yang saya tangkap, semua mengenai ruang dan waktu. Aku yang baru mulai membaca elegi ini tadi berbeda dengan aku yang sekarang sedang mengetik komen ini. Nama kita memang berbeda tergantung ruang dan waktu, namun yang perlu dipahami adalah nama Tuhan tak berbeda dan absolut.

    ReplyDelete
  28. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Artikel ini mengingatkan saya pada suatu seminar yang pernah saya hadiri, narasumber mengatakan bahwa setiap angka belum tentu bilangan. Ada angka yang hanya dijadikan sebagai label (nominal) dan angka yang dijadikan sebagai peringkat (ordinal). Kedua kondisi angka tersebut tidak bisa di operasikan dalam matematika atau di aritmatika kan. Jadi, saya sependapat dengan artikel di atas bahwa segala sesuatu itu relatif terhadap ruang dan waktunya, bahkan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  29. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam filsafat, yang biasa dikatakan benar bisa menjadi salah dan yang dikatakan salah bisa menjadi benar. Hal ini karena objek filsafat sangat luas yaitu segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Kalau dalam matematika 5+6 tentu sama dengan 6+5, karena memenuhi sifat komutatif. Namun tidak dalam filsafat. 5+6 mendahulukan 5, sementara 6+5 mendahulukan 6, sehingga dua hal tersebut adalah dua hal yang jelas berbeda. 6 dengan 6 saja dalam filsafat dikatakan berbeda, 6 yang tadi tentu berbeda dengan 6 yang sekarang atau 6 yang akan datang. Inilah yang disebut Filsafat yang relatif terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  30. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Filsafat. Belajar filsafat sering kali membuat pikiran kami benar-benar membingungkan, namun, kami selalu mengingat pesan Prof. bahwa kebingungan awal pengetahuan. Dengan memahami tulisan diatas bahwa “2+3 belum tentu sama dengan lima” , mengisyaratkan bahwa segala sesuatu itu tentang kesepakatan kesepakatan. Bisa saja 2 + 3 = 3 karena sebelumnya didefinisikan bersama 2=1 dan 3=2. Begitu pula tentang kebaikan dan keburukan. Kesepakatan bisa bersifat universal pulang bersifat hanya lingkup kelompok tertentu sehingga “benar menurut mu belum tentu benar menurutku”. Terima Kasih

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof. Elegi ini mengingatkan saya bahwa pikiran saya boleh luas-seluasnya saat mempelajari sesuatu. Namun, masih mengingat Tuhan dalam proses belajar tersebut. Saya sangat bersyukur belajar filsafat mengembalikan saya pada Kuasa Tuhan. Filsafat yang menekankan pada pola pikir diri sendiri dan melatih seseorang untuk dapat merefleksikan atas ilmu yang sudah dipelajari. Saya baru menyadari betapa menyenangkan belajar filsafat. Sejauh ini manfaat saya mempelajari filsafat ilmu yang sudah saya rasakan, yakni saya memiliki gambaran tentang kapasitas dalam diri, kekuasaan Tuhan, spiritual, keterbatasan diri, memikirkan manfaat ilmu yang diperoleh untuk orang lain dan mengatur pikiran dan tindakan yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Semoga ke depannya masih banyak lagi manfaat yang dapat diinternalisasikan dalam diri ini.

    ReplyDelete
  32. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Asslamualikum Wr. Wb. Berbicara filsafat memang selalu menyenangkan dan membingungkan seperti apa yang dibicarakan pada elegi ini. Saya bingung, kok ya bisa filsafat membikin pembahasan 2+3 sedimikian njelimetnya. Namun saya yakin di setiap elegi-elegi bapak terselip nilai-nilai yang mesti kami gali. Dari elegi ini saya dapat memahami bahwa kemapanan masih bisa diperdebatkan meskipun mutahil untuk diruntuhkan.

    ReplyDelete
  33. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Ketika Berfilsafat kita dapat berpikir apa saja. Kita dapat menganalisis apa saja terhadap apa yang kita lihat dan apa yang kita pikirkan. Seperti halnya didalam elegi ini. Saya sangat menyimak percakapan antara Q dan A dimana pada akhirnya didalam percapakan tersebut A menjawab pertanyaan dari Q yang berbunyi "Manusia itu hanya berusaha menggapai namanya masing-masing. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi nama adalah nama absolut. Itulah nama Tuhan Allah SWT". Dari sini saya menyimpulkan bahwa setiap apapun yang kita pikirkan ketika berfilsafat, landasan utama adalah selalu mengingat Allah SWT., agar yang kita pikirkan tidak melampaui batas dan masih dalam ketentuan Allah SWT.

    ReplyDelete
  34. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Ketika kita berpikir artinya kita sedang berfilsafat. meskipun kita bingung karna terkadang berada diluar pikiran kita hal ini merupakan proses belajar. yang terlihat sama namun sebenarnya tak ada yang sama didunia ini, bahkan anak kembar sekalipun pasti memiliki perbedaan. kita hanya sebagian kecil dari kebesaran Allah, mari kita senantiasa berdoa dan berusaha kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Manusia dan pikiran-pikirannya akan terus berubah terhadap waktu. Nama yang ada ini hanyalah sebuah label yang diberikan manusia sehingga sebaiknya kita tidak terlalu terpacu pada pelabelan ini. Sebuah hal tidak mungkin sama pada ruang dan waktu yang berbeda, walaupun mungkin penamaannya sama. Sama halnya dengan pikiran manusia, pikiran manusia tidak mungkin sama pada ruang dan waktu yang berbeda. Sebagai manusia hendaknya kita dapat memanfaatkan hal ini untuk mengoptimalkan kemampuan olah pikir yang diberikan Tuhan kepada kita.

    ReplyDelete
  36. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Elegi yang sangat menarik sekali dan indah, terima kasih pada Bapak. Dari elegi berkaitan tentang 2+3 dan 5 ini kita melihat bahwa sebenarnya dalam matematika itu meliputi yang ada dan mungkin ada.sehingga, 2+3 belum tentu 5 karena terikat oleh ruang dan waktu. 2+3 yang sama dengan 5 yang tetap itu yang dalam pikiran. Semua yang ada didunia itu kontradiksi. Termasuk manusia. Sehingga Manusia itu hanya berusaha menggapai namanya masing-masing. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi nama adalah nama absolut. Itulah nama Tuhan Allah SWT.

    ReplyDelete
  37. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2

    Dalam belajar filsafat, beberapa kali kita menemukan hal-hal yang menarik, namun tidak jarang juga membingungkan. Bingung bisa jadi karena beda tingkat pemikiran. Semakin banyak belajar dan membaca elegi akan membiasakan kita untuk berpikir sehingga mampu memaknai yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  38. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Manusia itu berbeda beda, maka bisa dikatakan manusia itu merdeka dalam pikirannya. Manusia memiliki pemikiran sendiri-sendiri, sehingga manusia bebas memikirkan semua yang ada sesuai dengan pikirannya. Maka kadang persepsi kita dengan orang lain pada suatu hal itu bisa berbeda. Apa yang kita ucapkan kadang juga akan ditangkap secara berbeda oleh orang lain. Oleh karena itu agar orang lain dapat mengerti dan dapat menangkap penjelasan dari kita dengan sesuai yang kita harapkan maka perlu adanya penjelasan kembali apakah sudah paham atau belum.

    ReplyDelete
  39. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    FIlsafat memang sungguh terbuka, obyeknya adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Semua ada dalam ruang dan waktunya. Aku sendiri tak pernah mampu menunjuk diriku, sebab aku terikat pada ruang dan waktu. aku yang sekarang sedang membuat komentar dalam blog, sudah berbeda dengan aku yang tadi sedang makan kacang rebus. Bahkan namaku pun tak dapat menjelaskan diriku benar-benar. Ada sedemikian banyak predikat yang harus disandangkan dan itupun tidak mungkin karena terlalu banyak, predikat dalam namaku itu relatif dan sesuai ruang waktunya. Maka nama absolut hanyalah milik Tuhan sendiri.

    ReplyDelete
  40. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dalam elegi obrolan filsafat kedua ini, pelajaran yang kami pahami adalah bahwa segala sesuatu itu sebenarnya relatif tergantung pada ruang dan waktunya. Dalam kehidupan ini kami menyadari bahwa selalu ada kemungkinan bahwa kami akan menemui orang yang berbeda dimensi dengan kami sehingga terkadang terjadi perselisihan atau terjadi kesalahpahaman. Semoga dengan belajar berfilsafat ini, kami dapat menempatkan diri kamisesuai dengan ruang dan waktu dan dapat memahami dan menghargai pemahaman-pemahaman orang-orang disekitar kami. Amin

    ReplyDelete
  41. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    6+1 tidak selalu bernilai 7. Jika 6 pena ditambah 1 buku tentu tidak menghasilkan 7 buku, juga tidak menghasilkan 7 pena. 6+1 = 7 hanya berlaku untuk alam identitas, atau di langit saja. dan tidak berlaku di bumi. Karena di bumi semuanya terikat pada ruang dan waktu. Aku yang menulis tulisan ini sudah berbeda dengan aku selesai menulis ini. Jadi sebenar-benar diri kita tidak akan mampu menggapai diri kita sendiri

    ReplyDelete
  42. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam elegi kali ini pun saya menemukan sifat absolut atau sifat kekal Tuhan yang lain. Selain sifat, hukum, ketetapan Tuhan yang kekal, nama Tuhan pun kekal, absolut. Maka siapalah manusia yang sombong dengan dirinya yang sifatnya hanya sementara, fana. Bahkan belum selesai ia menunjuk dan bercerita tentang dirinya sendiri, ia telah berubah nama menjadi diri yang lain karena nama manusia terikat dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  43. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas secara implisit menjelaskan tentang prinsip kontradiksi. Semisal sesuatu yang sekarang berbeda dengan sesuatu setelah sekarang atau sesuatu sebelum sekarang. Hal itu terjadinya diluar pikiran atau terjadi di dunia. Kontradiksi bisa diartikan sebagai keadaan tidak dapat mencapai identitas. Karena prinsip identitas itu absolut dan hanya dimiliki Allah SWT.

    ReplyDelete
  44. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Belajar filsafat adalah belajar bagaimana berfikir secara filsafat. Berfikir filsafat berarti kita harus memperhatikan dimensi ruang dan waktu. Elegi di atas membantu kita untuk berfikir secara filsafat, yaitu memikirkan sesuatu dengan terikat atau tidak terikat oleh ruang dan waktu. Terima kasih, Pak telah memberikan contoh terkait dengan cara berfikir filsafat.

    ReplyDelete
  45. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Segala sesuatu di dunia ini menembus ruang dan waktu. segala sesuatu di dunia ini terikat ruang dan waktu. Ketika kita belajar filsafat kita akan tahu bahwa semua tidak akan ada yang sama. Alu yang sekarang berbeda dengan aku sedetik setelah aku menulis komentar ini. Aku yang menulis komentar di Solo berbeda dengan aku yang menulis komentar di jogja. semua pasti berbeda hanya Allah lah yang satu, dan tetap sama.

    ReplyDelete
  46. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Sama itu relatif, nama pun juga relatif. Belum tentu dua hal memiliki nama sama itu sama. Karena mereka sebenarnya dua hal yang berbeda. Sama dan berbeda itu bergantung bagaimana memandangnya. Nama juga bergantung pada obyeknya dan kepada yang memberi nama.

    ReplyDelete
  47. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hukum identitas, yaitu A=B tidak akan benar-benar terjadi di dunia ini karena dunia ini terikat ruang dan waktu. A=B hanya bisa terjadi di akhirat atau di pengandaian. Di dunia ini, selalu terjadi kontradiksi, yaitu A tidak mungkin sama dengan B, karena adanya ruang dan waktu, semua yang ada dan yang mungkin ada terikat ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  48. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Filsafat selalu menggunakan banyak sudut pandang dalam memandang suatu hal, bukan hanya dari satu sisi saja. Sudut pandang yang satu dengan yang lain terhadap sesuatu bisa jadi berbeda, dan bahkan sangat berbeda. Seperti contoh pada elegi ini, 2 + 3 belum tentu 5 karena bisa dilihat dari waktu menyebutkannya. Berfilsafat merupakan berpikir secara mendalam dan kritis.

    ReplyDelete
  49. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Inti dari elegi ini sebenarnya adalah terdapat pada dialog "Diriku yang tadi ternyata berlainan dengan diriku yang sekarang". Maka jelas sudah bahwa setiap aku yang pada detik ini, sudah berbeda dengan aku pada 2 detik atau 3 detik kemudian. Itu artinya, kita tidak mampu memiliki sifat kekonsistennan yang hakiki. Saya sendiri juga tidak pernah mampu menunjuk diriku, sebab saya terikat pada ruang dan waktu. Saya yang sekarang sedang membuat komentar dalam blog, sudah berbeda dengan aku yang tadi sedang menjawab chat Whats app dari teman. Disinilah kita menemukan juga sifat absolut dan ketetapan Allah yang sebenar-benarnya. Maka apakah yang dapat kita sombongkan dari diri sendiri, sedangkan kita saja tidak 1 namun ada banyak. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  50. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Segala sesuatu itu terikat dengan ruang dan waktu. Elegi diatas menunjukkan kita harus kritis karena kita tidak mengatahui kebernaran, bahwa setiap manusia mempunyai sudut pandang masing masing. Apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan yang lain pikirkan. Semua itu relatif. Dan sebenar benarnya yang absolut dan kekal hanyalah Allah SWT. Bagi yang mempunyai sifat yang congak sombong, bahwa disadari hidup ini bersifat fana atau hanya sementara tidak ada yang kekal. Sehingga sebagai manusia harus taat dan melaksanakan perintah Allah yang kekal adanya tidak akan berubah dengan berkembangnya jaman dan waktu.

    ReplyDelete
  51. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Nama adalah doa, sebagaiman setiap bayi yang lahir diberi nama. Nama bukan sekedar identitas diri, tetapi sebuah doa yang diharapkan mampu digapai oleh penyandang nama. Ikhtiar untuk menggapai tujuan sebuah nama adalah lebih penting dari pada keindahan nama. Artinya nama mencerminkan seberapa kuat usaha yang dilakukan untuk mencapai makna nama yang dikandung

    ReplyDelete
  52. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sering kita dengar a”apalah arti sebuah nama”. Maka kita jawab bahwa nama adalah cita-cita yang harus tercapai melalui ikhtiar dan doa. Sebenar-benar nama, setinggi tinggi nama adalah nama Allah Swt, nama-nama tersbut bersifat absolut dan menggambarkan kekuasaannya dari yang ada dan yang mungkin ada

    ReplyDelete
  53. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Hal-hal di dunia ini bersifat relatif. Segala sesuatu itu bisa dianggap sama atau berbeda bergantung pada orang yang memandangnya. Seperti halnya 2 + 3 belum tentu sama dengan 5, tetapi bisa juga sama dengan 5. Mengapa demikian? Hal itu tergantung dengan konteks dan tergantung dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, untuk belajar filsafat diperlukan pemikiran yang kritis.
    Jadi tidak ada yang sama di dunia ini, sama itu relatif terhadap ruang dan waktu. Selanjutnya obrolan berikutnya adalah tentang nama, maka tidak ada seorangpun yang sama dengan namanya sendiri. Manusia hanya berusaha menggapai namanya masing-masing, dan nama seseorang itu juga hanyalah sebuah kesepakatan saja.

    ReplyDelete
  54. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi obrolan filsafat kedua ini menjelaskan tentang bagaimana suatu hal yang kita pikirkan itu tidak selalu sama dengan yang orang lain pikirkan. Apa yang kita maksud terkadang dilihat orang lain sebagai hal yang berbeda, atau dengan kata lain persepsi kita terhadap suatu hal tidak sama dengan hal lain karena segala sesuatu di dunia ini relatif terhadap ruang dan waktu. Begitu juga tentang bagaimana kita memandang kehidupan, pandangan kita terhadap kehidupan dan pandangan orang lain tentunya akan berbeda karena pandangan kita relatif terhadap ruang dan waktu

    ReplyDelete
  55. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kita tidak bisa memandang sesuatu sebagai hal yang sama ketika sesuatu tersebut sudah dalam ruang dan waktu yang berbeda. Setiap waktu semua hal melakukan pergerakan, berkembang, dan menghasilkan perbedaan. Sebagai manusia, kitapun harus bijak menyikapinya, dituntut untuk memandang sesuatu nya secara luas dan berkembang pula mengikuti perkembangan yang selalu terjadi.

    ReplyDelete
  56. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Selanjutnya mengenai nama; nama adalah doa, nama adalah harapan, tujuan, keinginan. Nama tidak bisa mencerminkan si empunya nama. Namun kita bisa berusaha untuk menggapai harapan yang tertulis di dalam nama yang kita miliki.

    ReplyDelete
  57. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih prof, pesan yang dapat saya ambil dari elegi diatas adalah benar ataupun salah itu tergantung pad aruang dan waktunya. Dalam kehidupan sehari-hari benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain begitu pula sebaliknya. Dalam bermatematika benar dan salah pun tergantung dari semesta pembicaraan nya. Hal ini menegajarkan kita untuk tidak mudah menjudge dan menyalah sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran kita

    ReplyDelete
  58. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  59. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Belajar Filsafat maka itu berarti kita sedang belajar mencari metafisik, atau sedang mencari makna di sebaliknya. Sehingga dengan belajar filsafat kita akan mampu saling terjemah dan menerjemahkan kehidupan dengan lebih baik, tidak hanya berdasarkan yang tampak dipermukaan saja, namun mencari makna yang tersembunyi di belakangnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  60. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Nama dari setiap manusia merupakan identitas yang akan menggambarkan siapa diri mereka. Jika seseorang tidak memiliki nama, maka orang lain akan bingung untuk memanggil. Karena pada dasarnya segala hal yang ada di dunia ini sudah ditakdirkan memiliki nama. Namun, pada dasarnya nama yang dicantumkan merupakan hasil dari ikhtiar manusia itu sendiri. Pada dasarnya nama itu untuk mempermudah kita semua menyebut apa yang ada di dunia ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  61. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Mutlak, dalam sebuah filsafat tidak bisa dipastikan. Sebuah objek atau subjek harus ditelaah hingga akar permasalahan. Kenapa objek ini ada, unsurnya dan sebagainya. dengan adanya pemikiran semacam ini, seseorang akan mendapatkan pertanyaan yang sesungguhnya. Sebab objek akan berbeda makna tatkala ada ruang, waktu dan kesempatan yang mendukung. Seperti contoh pada elegi ini, 2 + 3 belum tentu 5 karena bisa dilihat dari waktu menyebutkannya. Berfilsafat merupakan berpikir secara mendalam dan kritis

    ReplyDelete
  62. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. hal-hal dalam filsafat relatif berdasarkan ruang dan waktu. filsafat mengajak kita untuk berfikir secara luas. Semua itu tergantung ruang dan waktu.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  63. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Misalnya 3 buku + 2 Pensil = belum tentu 5. Karena kita yang sekarang dengan kita satu detik adalah berbeda. Oleh karena itu untuk mengasilkan kepastian dalam filsafat maka tambahkanlah ruang dan waktu. Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama, kadang-kadang kita bertemu dengan seseorang dengan pandangan yang berbeda. Jadi, ketika kita melihat sesuatu, kita tidak bisa melihat itu hanya membentuk satu sisi tapi lihatlah di sisi yang berbeda. Setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda - beda karena mereka melihatnya dari sisi yang berbeda – beda pula.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  64. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Objek kajian filsafat memang sangat luas. Contohnya saja 1+2 belum tentu sama dengan 3, karena jika 1 apel ditambah 2 jeruk hasilnya bukan 3 jeruk maupun 3 apel. 1+2=3 itu relatif, bisa menjadi benar ataupun salah bergantung pada sudut pandang kita. Jika kita samakan dengan kehidupan didunia ini, sama itu relatif karena sama yang absolut hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  65. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Lagi-lagi ilmu saya bertambah dengan membaca elegi pada blog ini.
    Banyaknya sudut pandang manusia menghasilkan keluasan berpikir yang melahirkan filsafat. Aku satu detik yang lalu bukanlah aku yang sekarang. Bahkan satu detik saja sudah memberikan perbedaan. Benar jika segala sesuatu relatif terhadap ruang dan waktu, termasuk di dalamnya adalah kehidupan. Dalam kehidupan ini, manusia selalu berubah, untuk apa? Mungkin untuk mengejar nama impiannya masing-masing. Tetapi sesuatu yang pasti dan yang harus selalu diingat adalah bahwa pemilik nama tertinggi atau nama absolut tidak akan berganti dari masa ke masa, yaitu Tuhan Allah. Mengapa? Manusia yang sekarang menganggap sudah memiliki nama, nantinya juga akan tiada sehingga nama itupun ikut tiada, tetapi nama Tuhan.. dahulu ada, sekarang ada, dan selamanya pun akan tetap ada.

    ReplyDelete
  66. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terima kasih Bapak atas Elegi Obrolan Filsafat Kedua yang telah Bapak share kepada kami. Elegi ini sangatlah bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kami. Elegi ini membahas tentang siapakah aku pada satu detik yang lalu dan satu detik yang akan datang. Sungguh waktu cepat sekali berlalu. Jiwa dan tubuh inipun sudah berbeda dari satu detik yang lalu. Tidak hanya diri ini yang berubah, disetiap detiknya kejadian-kejadian dalam hidup pasti akan pasang surut menyesuaikan keinginannya. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. hal-hal dalam filsafat relatif berdasarkan ruang dan waktu. filsafat mengajak kita untuk berfikir secara luas. Semua itu tergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  67. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Dari elegi obrolan filsafat ke dua tersebut diketahui bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini relati terhadap ruang dan waktu. Selalu ada kemungkinan terjadi perbedaan dan perubahan, karena hal yang absolut hanya milik Allah SWT

    ReplyDelete