Sep 20, 2010

Elegi Obrolan Filsafat ke Dua




Oleh Marsigit
(Khusus untuk olah pikir filsafat dan tidak diperuntukkan untuk referensi pembelajaran matematika langsung di sekolah)

Q: Apakah yang disebut sama itu?
A: Sulit dijelaskan
Q: Apakah 2 + 3 sama dengan 5
A: Belum tentu
Q: Mengapa 2 + 3 belum tentu 5?
A: Mungkin 2+3 sama dengan 5.
Q: Mengapa masih mungkin?
A: Harus engkau buktikan dulu bahwa 2+3 memang sama dengan 5.
Q: Aku tunjukkan 2 jariku, kemudian 3 jariku, maka aku dapat menyebutkan bahwa 2 jariku ditambah 3 jariku sama dengan 5 jariku.
A: Kapan?
Q: Lha tadi.
A: Belum tentu nanti juga demikian.
Q: Lha bagaimana engkau membuktikannya?
A: Bagiku 2 + 3 itu berbeda dengan 5
Q: Baik apakah 5 sama dengan 5?
A: Ternyata tidak.
Q: Mengapa 5 tidak sama dengan 5?
A: Aku menemukan dua macam 5, yaitu 5 pertama dan 5 kedua.
Q: Apa bedanya 5 pertama dan 5 kedua?
A: 5 pertama aku ucapkan lebih dulu, sedangkan 5 kedua aku ucapkan kemudian.
Q: Apa bedanya 5 diucapkan dahulu dan 5 diucapkan kemudian?
A: Jelas berbeda, jika aku bisa mengucapkan 5 lebih dulu, dan aku bisa mengucapkan 5 kemudian, itu pertanda bahwa aku telah menemukan dua macam 5.
Q: Apakah 2+3 sama dengan 3+2
A: Apalagi yang ini. Jelas 2 + 3 tidak sama dengan 3 + 2.
Q: Mengapa?
A: Aku menyebut 2 lebih dulu pada 2+3, sedangkan aku menyebut 3 lebih dulu pada 3+2.
Q: Kalau begitu dirimu itu siapa?
A: Aku tidak tahu.
Q: Namamu siapa?
A: Aku ragu-ragu.
Q: Biasanya orang menyebut dirimu siapa?
A: Pernah aku dipanggil sebagai Antah-Brantah.
Q: Apakah Antah-Brantah itu dirimu?
A: Belum tentu.
Q: Kenapa belum tentu?
A: Karena mungkin ada orang lain yang mempunyai nama Antah-Brantah.
Q: Apakah dirimu itu Antah-Brantah?
A: Aku ragu-ragu.
Q: Kenapa engkau ragu-ragu?
A: Aku tidak dapat menunjuk diriku.
Q: Lha, aku ini bicara dengan siapa?
A: Mungkin dengan Antah-Brantah
Q: Dirimu itu dimana?
A: Saya tidak dapat menunjuknya.
Q: Kenapa engkau tidak dapat menunjuk dirimu?
A: Kelihatannya diriku itu bergerak.
Q: Apa maksudmu bahwa dirimu bergerak.
A: Diriku yang tadi ternyata berlainan dengan diriku yang sekarang.
Q: Dirimu yang sekarang itu di mana?
A: Aku tidak dapat menunjuk diriku yang sekarang karena kelihatannya aku bergerak.
Q: Engkau itu bergerak ke mana?
A: Belum selesai aku menunjuk diriku yang sekarang ternyata diriku telah berubah menjadi diriku yang tadi.
Q: Lalu siapa namamu? Bukankah namamu itu Antah-Brantah?
A: Aku merasa namaku kurang cermat.
Q: Kenapa engkau menganggap namamu kurang cermat?
A: Aku yang dulu, sekarang dan yang akan datang disamaratakan sebagai Antah-Brantah?
Q: Apakah engkau akan mengganti namamu?
A: Tidak. Aku hanya akan menambah saja namaku dengan keterangan tambahan, sehingga namaku menjadi Antah-Brantah Relatif.
Q: Apakah engkau sudah puas dengan namamu itu?
A: Belum. Namaku itu juga belum spesifik. Maka jika boleh aku akan lengkapi namaku sehingga namaku menjadi Antah-Brantah Relatif Terhadap Ruang dan Waktu.
Q: Apakah engkau sudah puas dengan namamu itu?
A: Belum. Ternyata aku tidak pernah bisa memiliki namaku itu.
Q: Kenapa?
A: Karena ternyata namaku tidak pernah bisa menunjuk siapa sebenarnya diriku.
Q: Kalau begitu apakah fungsi nama itu?
A: Tiadalah sebenarnya manusia itu sama dengan namanya.
Q: Apa maksudmu?
A: Manusia itu hanya berusaha menggapai namanya masing-masing. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi nama adalah nama absolut. Itulah nama Tuhan Allah SWT.

29 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Yang dapat saya tangkap, tidak ada di dunia ini yang tidak beda. Semua telah menempati ruang dan waktunya masing-masing. Anak kembar yang lahir saja itu tidak sama. Waktu saat keluar dari rahim ibunya tidak sama, dan penempatan bayai tersebut juga tidak sama. Misalakan si A di kiri maka si B di kanan atau secara horizontal tetap berbeda si A di bawah dan si B di atas. Semua telah menempati ruang dan waktunya masinr-masing. Bahkan saya yang tadi juga tidak sama dengan saya yang sekarang.

    ReplyDelete
  2. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Menurut saya mempelajari filsafat bukan masalah benar atau salah, sebagai contoh bagaimana kita menggunakan panca indera kita. Kita menggunakan panca indera kita untuk merasakan obyek-obyek yang ada namun tidak semua obyek harus kita rasakan.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Filsafat memiliki luas yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Dalam mencari makna dari suatu objek tersebut relatif terhadap ruang dan waktu. Sehingga, segala sesuatu di dunia ini berbeda-beda dan tidak ada yang sama yang relatif ruang dan waktunya. Selama kita masih berada dalam duni ini, pada dasarnya aku tidak sama dengan aku. Yang dapat menjadi aku sama dengan aku hanyalah Allah SWT sang maha pencipta alam semesta dan seisinya.

    ReplyDelete
  4. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Inilah filsafat perlu pemikiran yang disertai hati yang ikhlas untuk memahaminya. Luar biasa orang-orang yang mampu berfilsafat dengan baik maka nilai plus buat mereka. Dari elegi obrolan filsafat kedua ini saya menangkap bahwa tidak ada yang sama seperti contoh yang diberikan yaitu 5 tidak sama dengan 5. Karena ada 5 pertama dan 5 kedua maka 5 itu adalah 5 yang berbeda. Selain itu, ketika ditanya nama siapa, kita juga tidak tahu karena nama bisa relatif terhadap ruang dan waktu. Tetapi kita harus selalu ingat sebenar-benarnya nama dan setinggi-tingginya nama adalah nama Allah SWT. Kita patut bersyukur dan selalu menyebut nama Allah SWT. Pak Prof selalu mengingatkan kita akan hal itu juga bukan. Terima kasih, Pak.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    2+3 belum tentu hasilnya 5 tergantung pada ruang dan waktunya penjumlahan itu digunakan. 2 apel ditambah 3 jeruk hasilnya bukan 5 tetapi tetap 2 apel dan 3 jeruk. Tetapi untuk sifatnya selalu tetap 2 ditambah 3 sama dengan 3 ditambah 2 serta 2 bilangan bulat jika ditambah dengan 3 bilangan bulat menghasilkan bilangan bulat juga yang artinya penjumlahan mempunyai sifat komutatif dan bersifat tertutup.

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam Elegi obrolan filsafat ke dua ini menjelaskan bahwa secara matematis 2+3 memang nilainya sama dengan 5. Namun dalam filsafat ternyata 2+3 belum tentu sama dengan 5, karena semua itu bersifat relatif. Manusia tidak akan mampu menunjuk dirinya sendiri, karena dirinya yang sekarang dengan yang tadi tidak sama. Hal ini diakibatkan karena segala sesuatunya bersifat dinamis dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sama, oh ini lanjutan, lah wong yang kedua. Tentu beda. Yang sebelumnya kan "Elegi Obrolan Filsafat".

    Menemukan hal yang sama, bahwa filsafat itu bergantung ruang dan waktu, tidak idealis. Ya Tuhan, saya menyebut kata "sama". Seharusnya kan "beda" (?). Filsafat memang membawa pada ha-hal yang kontradiktif. Bahkan diriku bukan diriku.

    Sedikit tertawa kecil membaca prolog postingan ini, "Khusus untuk olah pikir filsafat dan tidak diperuntukkan untuk referensi pembelajaran matematika langsung di sekolah". Apa jadinya jika matematika anak SD diganti seperti ini (2+3 tidak selamanya sama dengan 5). Eh tapi kan berfilsafat harus bijak, akan salah jika hakikat filsafat yang seperti ini disampaikan kepada anak SD. Apalagi saya yang menyampaikan. Sayapun masih belajar

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari “Elegi Obrolan Filsafat ke Dua” bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini relatif terhadap ruang dan waktu. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi suatu hal atau yang absolut hanya milik Allah SWT. Diriku bukan diriku, diriku terikat oleh ruang dan waktu dimana diriku yang sekarang berbeda dengan diriku yang kemarin berbeda pula dengan diriku yang akan datang.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  9. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Jawaban dalam filsafat bersifat bebas sesuai ruang dan waktu. Begitu pula halnya saat kita mendefenisikan suatu nama. ‘Lima’ yang kita ucapkan adalah nama yang mewakili hitungan layaknya ‘Elsa’ yang merupakan nama diriku. Nama Elsa tidak hanya dipakai oleh diriku, banyak di luar sana yang juga bernama Elsa. Maka namaku yang tidak pernah bisa mendefenisikan dan menunjuk siapa sebenarnya diriku namun kita hanya berusaha menggapai nama masing-masing.

    ReplyDelete
  10. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bersifat relatif. Apa yang terjadi di masa lalu, saat ini dan di masa depan bisa jadi sama, bisa jadi tidak. Apa yang terjadi di masa lalu dapat kita jadikan pelajaran untuk saat ini dan di masa depan. Di masa depan, segala sesuatu mungkin saja terjadi. Sebagai manusia kita hanya bisa menerka-nerka, oleh karena itu kita tidak boleh berhenti belajar dan teruslah berikhtiar kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Banyak hal yang kita anggap sama di dunia ini tetapi nyatanya kesamaan itu hanyalah ada dalam pikiran kita. Seperti 5 sama dengan 5. Menurut pikiran kita 5 sama dengan 5 adalah benar. Tetapi setelah kita tuliskan atau ucapkan 5 menjadi tidak sama dengan lima. Karena ada 5 yang kita tuliskan terlebih dahulu dan ada 5 yang kita tuliskan setelahnya. Karena ada 5 yang kita ucapkan lebih dahulu dan ada 5 yang kita ucapkan setelahnya. Maka 5 sama dengan 5 hanyalah benar dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  12. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Elegi ini menggambarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang absolut, kaku, atau mutlak hanya memiliki 1 jawaban. Contohnya saja dalam pembelajaran matematika selama ini kita mengenal bahwa matematika merupakan ilmu yang objektif di mana jawabnnya pastilah satu tidak mungkin ada jawaban lain. Ternyata hal tersebut belum sepenuhnya benar, tergantung cara pandang kita dalam memahaminya. Belum tentu 1+1 sama dengan dua, karena 1 yang disebutkan di awal bisa saja berbeda dengan 1 yang disebutkan selanjutnya. Ternyata selama ini kita telah terjebak pada mitos-mitos yang membuat diri ini tidak menyadari logos yang ternyata tidak ada yang absolut.

    ReplyDelete
  13. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi obrolan filsafat ke dua, dari elegi
    ini saya belajar bahwa dalam filsafat semua yang ada di dunia ini relatif, tergantung dari sudut pandang ruang dan waktu. Contohnya 2 + 3 = 5 hal itu pasti dalam matematika, namun jika kita melihat dari sudut pandang filsafat belum tentu 2 + 3 =5 . Bisa jadi 2 + 3 tidak sama dengan 5. Terima Kasih

    ReplyDelete
  14. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Sesuatu yang ada di pikiran kita merupakan relatif terhadap apa yang dipikirkan oleh orang lain. Yang sama belum tentu sama, dan yang tidak sama belum tentu tidak sama. Begitupun dengan yang disampaikan pada elegi ini, kesamaan itu tidak selamanya sama.

    ReplyDelete
  15. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Didalam dunia ini tidak ada yang pasti. Sesuatu jika dilihat dari maknanya setiap orang pasti memiliki sudut pandang yang berbeda. Sama seperti elegi-elegi sebelumnya bahwa, makna dari sesuatu tergantung dengan olah fikir seseorang. Bukan berarti pendapat seseorang itu salah, tapi juga bukan berarti pendapat seseorang itu pasti benar, segala sesuatu hal itu belum pasti, tergantung sudut pandang memaknai.

    ReplyDelete
  16. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dalam belajar filsafat, kita mempelajari berbagai hal dengan sudut pandangnya masing-masing. Sebagai manusia kita juga mempunyai pemikiran sendiri. Namun terkadang pemikiran itu tidak bisa kita campur adukkan dalam semua pembelajaran. Jadi kita harus pandai memilah dan memilih apa yang akan kita berikan dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  17. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Obrolan filsafat ini tidak diperuntukkan untuk referensi dalam belajar matematika di sekolah, karena obrolan ini adalah olah pikir dalam belajar berfilsafat, yang tujuannya untuk membangun ilmu pengetahuan filsafat dan menggapai logos. Setiap individu memiliki cara berpikir dan cara pandang tang berbeda, tidak heran jika setiap individu memiliki jawaban dan penjelasan yang berbeda disetiap pertanyaan yang ada dan yang mungkin ada.
    Sama dengan(=)?. Sebelumnya saya telah membaca elegi pemberontakan para beda. Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak beda?. Tetapi bagaimana dengan sama dengan(=)?. Saya jadi bingung memikirkannya.

    ReplyDelete
  18. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika

    Assalamu'alaikum wr.wb

    pada tulisan elegi obrolan filsafat yang ke dua ini, saya juga mendapat kesimpulan yang hampir sama dengan yang sebelumnya yaitu bahwa sudut pandang dan cara berpikir kita itu tidak selalu sama dengan orang lain. hal-hal yang biasanya sudah disepakati secara luas seperti hasil dari 2+3, ternyata dalam ilmu filsafat itu hasilnya tidak selalu sama dengan yang selama ini kita ketahui, tergantung cara kita berfikir dan memandang persoalan yang ditujukan atau pertanyaan yagn di ajukan kepada kita.

    ReplyDelete
  19. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dalam filsafat segala sesuatu memiliki banyak arti, seperti yang dicontohkan dari elegi di atas. 2+3 belum tentu sama dengan 5 dan 5 belum tentu sama dengan 5, karena ia menemukan dua macam 5, yaitu 5 pertama dan 5 kedua. Karena filsafat menjelaskan dari segi ruang dan waktu. Misalkan “Pattimura” belum tentu sama dengan “Pattimura”. Karenabisa jadi Pattimura yang pertama adalah nama seorang pahlawan sedangkan Pattimura kedua adalah nama sebuah jalan. Dan bisa jadi terdapat pattimura-patimura yang lainnya. Maka untuk mendefinisikan sesuatu diperlukan adanya penjelasan yang dapat dimengerti oleh orang lain, karena sebenar-benar filsafat adalah penjelasan dari apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  20. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini diawali dengan peringatan bahwa ini hanya untuk olah pikir filsafat dan bukan untuk diterapkan di sekolah. Saya menghubungkan ini dengan intuisi anak kecil yang bapak sampaikan. Anak usia sekolah tentu belum mampu untuk berpikir tingkat tinggi sekelas filsafat. Ini menjadi pijakan dalam pengajaran matematika bahwa guru hendaknya menyajikan matematika dengan memasuki dunia anak/siswa dahulu untuk bisa memberikan kekokohan konsep yang akan mereka bangun.
    Percakapan antara Q dan A di atas menunjukkan bahwa di dunia ini akan selalu terdapat kontradiksi, yaitu B tidak sama dengan B. Ini adalah hukum alam yang Allah tetapkan. Hal ini tentu karena terkait dengan ruang dan waktu yang Allah ciptakan dan tetapkan bahwa waktu akan terus berjalan sampai waktu yang telah ditetapkan olehNya.

    ReplyDelete
  21. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Tulisan dalam elegi ini menunjukkan kepada kita bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang sama, bahkan kembar identik pun pasti ada perbedaannya. Betapa Maha Besarnya Kuasa Allah yang mampu mendesain alam semesta yang begitu besar ini dengan tanpa ada yang sama. Sesuatu yang kita anggap sama dan identik sekalipun pasti bisa disebutkan perbedaan diantara keduanya. Kita sebagai manusia ketika diminta untuk mewarnai 1000 gambar dengan tidak ada warna yang sama pasti sudah mengalami kesulitan. Masih ragukah kita dengan KuasaNYa?
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  22. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Tidaklah ada yang dapat sama dengan diriku. Bahkan aku pun tak bisa sama dengan diriku, karena aku yang sekarang sudah berbeda dengan aku yang tadi. Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada tidaklah sama, semuanya plural. Bahkan diriku pun plural. Sehingga semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bersifat relatif. Yang tetap hanyalah Kuasa Tuhan. Yang tetap dari seorang manusia adalah bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan.

    ReplyDelete
  23. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Satu yang saya tangkap, semua mengenai ruang dan waktu. Aku yang baru mulai membaca elegi ini tadi berbeda dengan aku yang sekarang sedang mengetik komen ini. Nama kita memang berbeda tergantung ruang dan waktu, namun yang perlu dipahami adalah nama Tuhan tak berbeda dan absolut.

    ReplyDelete
  24. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Artikel ini mengingatkan saya pada suatu seminar yang pernah saya hadiri, narasumber mengatakan bahwa setiap angka belum tentu bilangan. Ada angka yang hanya dijadikan sebagai label (nominal) dan angka yang dijadikan sebagai peringkat (ordinal). Kedua kondisi angka tersebut tidak bisa di operasikan dalam matematika atau di aritmatika kan. Jadi, saya sependapat dengan artikel di atas bahwa segala sesuatu itu relatif terhadap ruang dan waktunya, bahkan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dalam filsafat, yang biasa dikatakan benar bisa menjadi salah dan yang dikatakan salah bisa menjadi benar. Hal ini karena objek filsafat sangat luas yaitu segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Kalau dalam matematika 5+6 tentu sama dengan 6+5, karena memenuhi sifat komutatif. Namun tidak dalam filsafat. 5+6 mendahulukan 5, sementara 6+5 mendahulukan 6, sehingga dua hal tersebut adalah dua hal yang jelas berbeda. 6 dengan 6 saja dalam filsafat dikatakan berbeda, 6 yang tadi tentu berbeda dengan 6 yang sekarang atau 6 yang akan datang. Inilah yang disebut Filsafat yang relatif terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  26. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Filsafat. Belajar filsafat sering kali membuat pikiran kami benar-benar membingungkan, namun, kami selalu mengingat pesan Prof. bahwa kebingungan awal pengetahuan. Dengan memahami tulisan diatas bahwa “2+3 belum tentu sama dengan lima” , mengisyaratkan bahwa segala sesuatu itu tentang kesepakatan kesepakatan. Bisa saja 2 + 3 = 3 karena sebelumnya didefinisikan bersama 2=1 dan 3=2. Begitu pula tentang kebaikan dan keburukan. Kesepakatan bisa bersifat universal pulang bersifat hanya lingkup kelompok tertentu sehingga “benar menurut mu belum tentu benar menurutku”. Terima Kasih

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof. Elegi ini mengingatkan saya bahwa pikiran saya boleh luas-seluasnya saat mempelajari sesuatu. Namun, masih mengingat Tuhan dalam proses belajar tersebut. Saya sangat bersyukur belajar filsafat mengembalikan saya pada Kuasa Tuhan. Filsafat yang menekankan pada pola pikir diri sendiri dan melatih seseorang untuk dapat merefleksikan atas ilmu yang sudah dipelajari. Saya baru menyadari betapa menyenangkan belajar filsafat. Sejauh ini manfaat saya mempelajari filsafat ilmu yang sudah saya rasakan, yakni saya memiliki gambaran tentang kapasitas dalam diri, kekuasaan Tuhan, spiritual, keterbatasan diri, memikirkan manfaat ilmu yang diperoleh untuk orang lain dan mengatur pikiran dan tindakan yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Semoga ke depannya masih banyak lagi manfaat yang dapat diinternalisasikan dalam diri ini.

    ReplyDelete
  28. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Asslamualikum Wr. Wb. Berbicara filsafat memang selalu menyenangkan dan membingungkan seperti apa yang dibicarakan pada elegi ini. Saya bingung, kok ya bisa filsafat membikin pembahasan 2+3 sedimikian njelimetnya. Namun saya yakin di setiap elegi-elegi bapak terselip nilai-nilai yang mesti kami gali. Dari elegi ini saya dapat memahami bahwa kemapanan masih bisa diperdebatkan meskipun mutahil untuk diruntuhkan.

    ReplyDelete
  29. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Ketika Berfilsafat kita dapat berpikir apa saja. Kita dapat menganalisis apa saja terhadap apa yang kita lihat dan apa yang kita pikirkan. Seperti halnya didalam elegi ini. Saya sangat menyimak percakapan antara Q dan A dimana pada akhirnya didalam percapakan tersebut A menjawab pertanyaan dari Q yang berbunyi "Manusia itu hanya berusaha menggapai namanya masing-masing. Sebenar-benar dan setinggi-tinggi nama adalah nama absolut. Itulah nama Tuhan Allah SWT". Dari sini saya menyimpulkan bahwa setiap apapun yang kita pikirkan ketika berfilsafat, landasan utama adalah selalu mengingat Allah SWT., agar yang kita pikirkan tidak melampaui batas dan masih dalam ketentuan Allah SWT.

    ReplyDelete