Sep 20, 2010

Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi




Oleh: Marsigit

Wadah, bangga dengan statusnya
Aku adalah wadah. Wadah bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu isi apapun tidak memerlukan wadah. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai isi maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun wadahnya. Maka aku adalah wadah bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi isi dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan masuk kedalamku, yaitu mereka akan selaluterwadahkan oleh ku.

Isi, bangga dengan statusnya
Aku adalah isi. Isi bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu wadah apapun tidak memerlukan isi. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai wadah maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun isinya. Maka aku adalah isi bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi wadah dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan memerlukanku, yaitu mereka akan mencari isi.

Siswa tertegun melihat wadah dan isi gurunya:
Aku melihat guru-guru di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk pelajaran kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para guru. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para guru itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa guru-gur itu ternyata bersifat manipulatif.

Mahasisa dan guru tertegun melihat wadah dan isi dosennya:
Aku melihat dosen-dosen di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kuliah kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para dosen. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para dosen itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa dosen-dosen itu ternyata bersifat manipulatif.

Dosen tertegun melihat wadah dan isi orang tua berambut putih:
Aku melihat para orang tua berambut putih di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para orang tua berambut putih. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para orang tua berambut putih itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa para orang tua berambut putih itu ternyata bersifat manipulatif.

Siswa bertanya kepada mahasiswa:
Wahai kakak-kaka mahasiswa. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih suka wadah atau isi?

Mahasiswa1:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai mahasiswa itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Mahasiswa2:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai mahasiswa jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai mahasiswa. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai mahasiswa jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Guru bertanya kepada dosen:
Wahai para dosenku. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih menyukai wadah atau isi?

Dosen1:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai dosen itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Dosen2:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai dosen jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai dosen. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai dosen jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bimbang memikirkan wadah dan isi:
Dari percakapan yang kita dengar tentang wadah dan isi, aku menjadi bimbang. Apa sebetulnya wadah itu? Apa sebetulnya isi itu. Jika aku minum segelas air, maka gelas adalah wadahnya, dan air adalah isinya. Tetapi jika aku sebut air adalah wadah, maka aku belum tahu pasti apakah isinya, mungkin salah satu isinya adalah oksigen. Tetapi jika aku berpikir bahwa oksigen adalah wadah, maka aku semakin bingung apakah sebenarnya isinya. Jika siswa adalah wadah, maka isinya adalah kemampuannya dan kepribadiannya. Jika wadahku adalah mahasiswa maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika guru adalah wadahku maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika dosen adalah wadahku maka kemampuan dan kepribadianku adalah isinya. Nah ini aku temukan ijasah dan sertifikat. Aku cari-cari dalam daftar tetapi aku tidak menemukan secara tegas bahwa ijasah dan sertifikat adalah isi, tetapi samar-samar tertulis mereka sebagai wadah.

Orang tua berambut putih datang menghampiri siswa, mahasiswa, guru dan mahasiswa

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bersama-sama menegur orang tua berambut putih:
Wahai orang tua berambut putih. Kenapa engkau duduk di situ? Bukankan untuk duduk di situ engkau harus berbekal wadah dan isi. Maka tunjukkan manakah wadah dan isimu?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah, dan sebenar-benar diriku adalah tidak punya isi. Satu-satunya yang aku punya adalah kemampuanku untuk selalu hadir pada setiap pertannyaanmu.

Siswa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang siswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi siswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi siswa yang baik dan berprestasi, untuk mewujudkan cita-citamu itu maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai siswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang siswa.

Siswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang siswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai siswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para siswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika para siswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Guru bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang guru, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi guru, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi guru yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi guru yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai guru yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang guru.

Guru bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang guru, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai guru. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para guru yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang guru hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Mahasiwa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang mahasiswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi mahasiswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi mahasiswa yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang mahasiswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai mahasiswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para mahasiswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang mahasiswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Dosen bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang dosen, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi dosen, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi dosen yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi dosen yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang dosen.

Dosen bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang dosen, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai dosen. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para dosen yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang dosen hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Lalu, bagaimanakah agar aku bisa selalu mewujudkan wadahku dan bisa mengisinya?

Orang tua berambut putih:
Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Karena sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadahmu tidak lain tidak bukan adalah amanah bagimu. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Tetapi jika engkau mampu mewujudkan bahwa isimu juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu yang meningkat kualitasnya. Barang siapa mampu meningkatkan kualitas wadahnya maka meningkat pula kualitas isinya, dan dengan demikian meningkat pula kualitas dan dimensi hidupnya. Namun tantangan terbesarmu adalah sejauh mana dirimu bekerjasama dengan orang lain, sejauh mana engkau masuk dan memuat jejaring, sejauh mana engkau mampu berkomunikasi, sejauh mana engkau duduk dan berperan pada jejaring yang lebih luas sehingga engkau dapat berperan dan berkontribusi untuk orang-orang banyak pada tataran aatau level yang lebih luas pula. Itulah setinggi-tinggi kualitas wadah dan isimu di dunia ini.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Terimakasih orang tua berambut putih. Kemudian kalau boleh kami masih ingin bertanya. Maka, sebagai orang tua berambut putih apakah wadah dan isimu itu?

Orang tua berambut putih:
Bagi orang-orang yang baru mengenalku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah dan tidak punya isi. Tetapi karena engkau telah lama mengenal diriku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Diriku adalah ilmumu. Diriku adalah pertanyaanmu. Tempat tinggalku adalah pada batas pengetahuanmu. Maka keberadaanku tergantung dirimu. Maka sebenar-benar tempat tinggalku adalah pada batas antara wadah dan isimu. Tugas dan fungsiku adalah menjadi saksi atas keberadaanmu. Jadi wadahku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Dan isiku tidak lain-tidak bukan adalah dirimu juga. Maka sebenar-benar diriku adalah semua wadah dan isi mu para siswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada mahasiswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada guru. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada dosen. Dan sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi bagi semua. Itulah ilmu, sekaligus wadah dan isinya bagi semuanya.

Ini ada mahasiswa yang ingin menyampaikan pendapatnya, siapa nama dan apa prodinya? Silahkan

Mahasiswa:
Kenalkan Pak saya HERU SUKOCO, no 11709251019, mahasiswa PPs UNY P. Mat 2011 Kelas B
Menurut saya Pak, sebagai seorang muslim sebenarnya manusia itu pada kodratnya sudah membawa amanah yang diberikan Allah SWT sejak lahir, yaitu menjadi pemimpin (wadah) di dunia ini. Serendah-rendahnya wadah tersebut adalah diri kita sendiri, artinya kita harus mampu memimpin diri sendiri. Dengan cara bagaimana, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Jika kita mempunyai jabatan atau status atau pekerjaan itulah wadah kita di dunia ini. Isinya adalah bagaimana kita menjalankan jabatan atau status atau pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kualitas isi ditentukan seberapa besar usaha kita untuk terus dan terus meningkatkan dimensi kita, apalagi jika isi tersebut bermanfaat bagi banyak orang. Jika saya mahasiswa S2 (wadah), maka belajar filsafat adalah salah satu cara untuk mengisi wadah tersebut. Dengan belajar kita akan menemukan ‘orang tua berambut putih’, yaitu pengetahuan untuk meningkatkan dimensi kita. Semoga kita semua sadar akan wadah dan isi dari diri kita masing-masing sehingga kehidupan di negara kita ini dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Amin. Serendah-rendahnya kualitas wadah dan isi kita di dunia adalah jika kita mempunyai wadah dan isi yang setinggi-tingginya namun menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan tidak baik dan merugikan banyak orang. Ingat, wadah dan isi kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akherat oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih:
Alahamdulillah. Amin

9 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Tentunya setiap isi harus memiliki wadah dan setiap wadah harus memiliki isi, bahkan wadah yang kosong pun memiliki isi. Semuanya harus berjalan beriringan. Wadah dan isi pun harus seimbang, tidak bisa isi lebih banyak dari wadah dan tidak bisa pula wadah yang lebih besar daripada isinya, jika demikian, maka yang terjadi adalah ketimpangan. Maka sebagai manusia, kita harus berusaha untuk mengisi wadah dengan sebaik-baiknya, meningkatkan kualitas isi dengan usaha dan ikhtiar. Jadikanlah isimu bukan hanya untuk dirimu, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu meningkat kualitasnya. Selain itu, janganlah memanipulasi wadah dengan mengabaikan isinya. Ingatlah, wadah dan isi kita di dunia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    segala sesuatu itu wadah, dan segala sesuatu itu isi
    manusia adalah wadah,sikap manusia adalah isinya
    jika ilmu itu sebagai wadahnya, maka penerapan ilmu itu adalah isinya
    semua itu tergantung pada dimensi ruang dan waktu

    ReplyDelete
  3. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Wadah dan isi saling terikat. Sperti halnya minum maka gelas adalah wadahnya dan air adalah isinya. Tiadalah kita dapat meminumnya jikalau tanpa wadah, demikian pula sebaliknya tiadalah kita mampu meminumnya jikalau hanya wadah yang tak berisi.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Wadah dan isi adalah dua hal yang saling berkaitan. Wadah ini nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Oleh karena itu, kita haruslah dapat meningkatkan kualitas wadah kita. Cara untuk meningkatkan kualitas wadah adalah dengan meningkatkan kualitas isi. Isi dari wadah adalah bagaimana usaha atau ikhtiar kita dalam menjalankan status atau jabatan itu dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  5. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    yang saya ketahui wadah dan isi merupakan suatu hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dari elegi ini saya memperoleh beberapa pemahaman bahwa salah satunya sebagai seorang mahasiswa, yang menjadi 'isi' adalah rasa syukurmu telah menjadi mahasiswa, dari rasa syukur inilah yang akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi, untuk mewujudkan cita-cita dan wadahnya adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai mahasiswa. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas wadahnya tersebut. Maka ada atau tidaknya wadah itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dari elegi ini dapat kita pahami bahwa wadah bisa saja sebuah kewajiban dan isi merupakan objek yang harus mendapatkan kewajiban tersebut. segaimana halnya guru yang menjadi wadah dan siswa yang menjadi isi. begitu pula dengan pemimpin, apa yang dipimpin menjadikannya sebagai isi. tentu dalam menjalankan peran sebagai wadah bukan hanya terhadap si isi tapi juga terhadap wadah itu sendiri.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Elegi hamba menggapai wadah dan isi. Wadah yang ada sebagai tempat manusia untuk meningkatkan dimensi sedangkan isi merupakan apa yang mengisi wadah tersebut.
    Sehingga wadah yang baik adalah wadah yang dapat mendukung untuk menggapai isi yang tinggi.
    Sebaik-baiknya isi adalah isi yang mampu memberikan manfaat bagi wadah yang ada.
    Sehingg awadah harus memberikan fasilitas yang dapat memberikan isi yang baik, sedangkan isi yang baik adalah si yang bermanfaat bagi wadahnya.

    ReplyDelete
  8. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Bila berbica tentang wadah maka kita juga akan teingat tentang isi. Mengapa demikian, karena wadan isi merupakan pasangan yang tidak dapat kita pisahkan. Keduanya saling berkaitan satu sama lain, wadah dan ini saling membutuhkan. Bayangan dari isi adalah wadan dan bayangan dari wadah adalah isi, lalu apakah kita wadah atau isi maka jawabannya tergantung ruang dan waktu kita masing-masing karena kira adalah wadan dan kita juga isi.

    ReplyDelete
  9. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Menarik sekali elegi ini. Dalam tulisan ini, dijelaskan perbedaan wadah dan isi secara gamblang. Setelah membaca elegi diatas, saya menyimpulkan bahwa wadah adalah apa yang menjadi diri kita, misalkan guru, mahasiswa, siswa, dosen, gelas, air, dll atau katakan saja sebagai kedudukan. Kemudian isi adalah sesuatu yang ada didalam wadah, maksudnya sesuatu yang seharusnya ada dalam wadah (kedudukan) tersebut. misalnya sebagai seorang siswa (wadah) maka ia harus mempunyai isi yang pas dengan wadahnya yaitu bersyukur dan kemudian menjadi baik, termotivasi, dan akhirnya berprestasi. Wadah dan isi harus seimbang dan harus sepadan satu sama lain. sebaik-baiknya isi adalah yang dapat bermanfaat bagi orang lain. dan sebaik-baiknya wadah adalah yang sesuai dan pas dengan isi. namun belakangan ini saya menyadari bahwa banyak wadah-wadah yang tidak sesuai dengan isinya. Semoga kita semua tidak termasuk dalam kelompok tersebut. semoga kita dapat memanfaatkan, mengamalkan, memaksimalkan usaha, memberikan sesuatu sesuai dengan wadah dan isi kita masing-masing.

    ReplyDelete