Sep 20, 2010

Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi




Oleh: Marsigit

Wadah, bangga dengan statusnya
Aku adalah wadah. Wadah bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu isi apapun tidak memerlukan wadah. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai isi maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun wadahnya. Maka aku adalah wadah bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi isi dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan masuk kedalamku, yaitu mereka akan selaluterwadahkan oleh ku.

Isi, bangga dengan statusnya
Aku adalah isi. Isi bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu wadah apapun tidak memerlukan isi. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai wadah maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun isinya. Maka aku adalah isi bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi wadah dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan memerlukanku, yaitu mereka akan mencari isi.

Siswa tertegun melihat wadah dan isi gurunya:
Aku melihat guru-guru di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk pelajaran kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para guru. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para guru itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa guru-gur itu ternyata bersifat manipulatif.

Mahasisa dan guru tertegun melihat wadah dan isi dosennya:
Aku melihat dosen-dosen di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kuliah kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para dosen. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para dosen itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa dosen-dosen itu ternyata bersifat manipulatif.

Dosen tertegun melihat wadah dan isi orang tua berambut putih:
Aku melihat para orang tua berambut putih di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para orang tua berambut putih. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para orang tua berambut putih itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa para orang tua berambut putih itu ternyata bersifat manipulatif.

Siswa bertanya kepada mahasiswa:
Wahai kakak-kaka mahasiswa. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih suka wadah atau isi?

Mahasiswa1:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai mahasiswa itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Mahasiswa2:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai mahasiswa jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai mahasiswa. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai mahasiswa jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Guru bertanya kepada dosen:
Wahai para dosenku. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih menyukai wadah atau isi?

Dosen1:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai dosen itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Dosen2:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai dosen jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai dosen. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai dosen jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bimbang memikirkan wadah dan isi:
Dari percakapan yang kita dengar tentang wadah dan isi, aku menjadi bimbang. Apa sebetulnya wadah itu? Apa sebetulnya isi itu. Jika aku minum segelas air, maka gelas adalah wadahnya, dan air adalah isinya. Tetapi jika aku sebut air adalah wadah, maka aku belum tahu pasti apakah isinya, mungkin salah satu isinya adalah oksigen. Tetapi jika aku berpikir bahwa oksigen adalah wadah, maka aku semakin bingung apakah sebenarnya isinya. Jika siswa adalah wadah, maka isinya adalah kemampuannya dan kepribadiannya. Jika wadahku adalah mahasiswa maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika guru adalah wadahku maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika dosen adalah wadahku maka kemampuan dan kepribadianku adalah isinya. Nah ini aku temukan ijasah dan sertifikat. Aku cari-cari dalam daftar tetapi aku tidak menemukan secara tegas bahwa ijasah dan sertifikat adalah isi, tetapi samar-samar tertulis mereka sebagai wadah.

Orang tua berambut putih datang menghampiri siswa, mahasiswa, guru dan mahasiswa

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bersama-sama menegur orang tua berambut putih:
Wahai orang tua berambut putih. Kenapa engkau duduk di situ? Bukankan untuk duduk di situ engkau harus berbekal wadah dan isi. Maka tunjukkan manakah wadah dan isimu?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah, dan sebenar-benar diriku adalah tidak punya isi. Satu-satunya yang aku punya adalah kemampuanku untuk selalu hadir pada setiap pertannyaanmu.

Siswa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang siswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi siswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi siswa yang baik dan berprestasi, untuk mewujudkan cita-citamu itu maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai siswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang siswa.

Siswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang siswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai siswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para siswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika para siswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Guru bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang guru, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi guru, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi guru yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi guru yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai guru yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang guru.

Guru bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang guru, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai guru. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para guru yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang guru hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Mahasiwa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang mahasiswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi mahasiswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi mahasiswa yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang mahasiswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai mahasiswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para mahasiswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang mahasiswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Dosen bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang dosen, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi dosen, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi dosen yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi dosen yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang dosen.

Dosen bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang dosen, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai dosen. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para dosen yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang dosen hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Lalu, bagaimanakah agar aku bisa selalu mewujudkan wadahku dan bisa mengisinya?

Orang tua berambut putih:
Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Karena sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadahmu tidak lain tidak bukan adalah amanah bagimu. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Tetapi jika engkau mampu mewujudkan bahwa isimu juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu yang meningkat kualitasnya. Barang siapa mampu meningkatkan kualitas wadahnya maka meningkat pula kualitas isinya, dan dengan demikian meningkat pula kualitas dan dimensi hidupnya. Namun tantangan terbesarmu adalah sejauh mana dirimu bekerjasama dengan orang lain, sejauh mana engkau masuk dan memuat jejaring, sejauh mana engkau mampu berkomunikasi, sejauh mana engkau duduk dan berperan pada jejaring yang lebih luas sehingga engkau dapat berperan dan berkontribusi untuk orang-orang banyak pada tataran aatau level yang lebih luas pula. Itulah setinggi-tinggi kualitas wadah dan isimu di dunia ini.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Terimakasih orang tua berambut putih. Kemudian kalau boleh kami masih ingin bertanya. Maka, sebagai orang tua berambut putih apakah wadah dan isimu itu?

Orang tua berambut putih:
Bagi orang-orang yang baru mengenalku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah dan tidak punya isi. Tetapi karena engkau telah lama mengenal diriku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Diriku adalah ilmumu. Diriku adalah pertanyaanmu. Tempat tinggalku adalah pada batas pengetahuanmu. Maka keberadaanku tergantung dirimu. Maka sebenar-benar tempat tinggalku adalah pada batas antara wadah dan isimu. Tugas dan fungsiku adalah menjadi saksi atas keberadaanmu. Jadi wadahku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Dan isiku tidak lain-tidak bukan adalah dirimu juga. Maka sebenar-benar diriku adalah semua wadah dan isi mu para siswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada mahasiswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada guru. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada dosen. Dan sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi bagi semua. Itulah ilmu, sekaligus wadah dan isinya bagi semuanya.

Ini ada mahasiswa yang ingin menyampaikan pendapatnya, siapa nama dan apa prodinya? Silahkan

Mahasiswa:
Kenalkan Pak saya HERU SUKOCO, no 11709251019, mahasiswa PPs UNY P. Mat 2011 Kelas B
Menurut saya Pak, sebagai seorang muslim sebenarnya manusia itu pada kodratnya sudah membawa amanah yang diberikan Allah SWT sejak lahir, yaitu menjadi pemimpin (wadah) di dunia ini. Serendah-rendahnya wadah tersebut adalah diri kita sendiri, artinya kita harus mampu memimpin diri sendiri. Dengan cara bagaimana, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Jika kita mempunyai jabatan atau status atau pekerjaan itulah wadah kita di dunia ini. Isinya adalah bagaimana kita menjalankan jabatan atau status atau pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kualitas isi ditentukan seberapa besar usaha kita untuk terus dan terus meningkatkan dimensi kita, apalagi jika isi tersebut bermanfaat bagi banyak orang. Jika saya mahasiswa S2 (wadah), maka belajar filsafat adalah salah satu cara untuk mengisi wadah tersebut. Dengan belajar kita akan menemukan ‘orang tua berambut putih’, yaitu pengetahuan untuk meningkatkan dimensi kita. Semoga kita semua sadar akan wadah dan isi dari diri kita masing-masing sehingga kehidupan di negara kita ini dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Amin. Serendah-rendahnya kualitas wadah dan isi kita di dunia adalah jika kita mempunyai wadah dan isi yang setinggi-tingginya namun menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan tidak baik dan merugikan banyak orang. Ingat, wadah dan isi kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akherat oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih:
Alahamdulillah. Amin

37 comments:

  1. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setiap diri kita miliki wadah-nya masing-masing. Kita memiliki status, kedudukan, tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Itulah yang menjadi wadah kita. Akan tetapi itu semua tidak akan berarti tanpa adanya isi, yakni rasa syukur atas mencapaian kita sampai saat ini, rasa syukur akan wadah yang kita miliki, sehingga kita akan lebih termotivasi untuk semakin lebih baik dan terus berprestasi.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Yang dapat saya simpulkan adalah kita harus menyadari betul wadah kita dan apa saja isi kita. Mengenali wadah agar kita lebih bertanggung jawab. Isilah dari wadah tersebut prestasi yang membanggakan dan selalu tingkatkan dimensi pada diri kita. Sebaik-baiknya wadah dan isi adalah dia yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri namun juga umat manusia. Jalankan amanah yang diberikan Allah Subhanahuwata’ala agar menjadi sebaik-baiknya wadah dan isi. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Wadah dan isi
    Semua orang akan merasa bangga terhadap dirinya. Perasaan ini akan dirasakan oleh setiap orang seperti yang dilakukan wadah dan isi seperti yang ada pada elegi Bapak. Kemudian dari elegi ini juga disebutkan bahwa setiap orang juga memiliki wadah dan isi masing-masing. Wadah dan isi itu berbeda-beda sesuai dengan usaha seseorang untuk memperolehnya. Saya memahami bahwa isi adalah apa yang seseorang miliki dan kuasai sedangkan wadah adalah status, kedudukan dan tanggung jawab.

    ReplyDelete
  4. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Bahasan mengenai wadah dan isi pernah dibahas dalam perkuliahan. Wadah dan isi, hubungannya dalam obyek filsafat adalah obyek filsafat ada dua, yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek filsafat material bisa disebut juga obyek filsafat secara ontologis adalah semua obyek yang dipikirkan, meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan objek filsafat formal adalah metodenya atau wadahnya, jadi bisa dimisalkan objek material adalah sebagai isinya.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Antara wadah dan isi keduanya sebaiknya harus saling berjalan beriringan, selaras dan seimbang. Maka diharapkan bahwa keduanya dapat menghasilkan hal yang baik. Tidak dapat dikatakan isi apabila tidak ada wadah, begitu pula tidak akan menjadi wadah jika tidak mempunyai isi. Sehingga keduanya akan saling berkaitan. Antara wadah yang diisi dengan isi yang tidak baik maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik pula. Sehingga dibutuhkan adanya perjuangan dalam mencapai keduanya untuk saling berjalan beriringan guna menghasilkan suatu hal yang baik.

    ReplyDelete
  6. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Semua orang akan merasa bangga terhadap dirinya. Perasaan ini akan dirasakan oleh setiap orang seperti yang dilakukan wadah dan isi seperti yang ada pada elegi Bapak. Kemudian dari elegi ini juga disebutkan bahwa setiap orang juga memiliki wadah dan isi masing-masing. Wadah dan isi itu berbeda-beda sesuai dengan usaha seseorang untuk memperolehnya. Saya memahami bahwa isi adalah apa yang seseorang miliki dan kuasai sedangkan wadah adalah status, kedudukan dan tanggung jawab.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi di atas menggambarkan wadah dan isi dengan objek adalah manusia yang mempunyai kedudukan sebagai siswa, mahasiswa, guru, dan dosen. Wadah dan isi saling berhubungan atau terikat satu dengan yang lainnya. Wadah dalam elegi ini adalah diri kita seperti siswa, mahasiswa, guru, dosen dan lain sebagainya. Yang berlaku sebagai isinya ialah yang berada dalam wadah. Sebagai contoh jika wadah adalah gelas maka isinya adalah teh. Dan jika diterapkan dalam pembelajaran jika wadah adalah guru maka isinya adalah ilmu, memberi motivasi, mampu berinovasi dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Wadah dan isi adalah dua buah hal yang saling membutuhkan satu sama lain. Apabila wadah adalah sebuah amanah maka isinya adalah ikhtiar dan usaha agar dapat melaksanakan amanah tersebut. Sebagai seorang mahasiswa, wadah adalah kedudukan, tugas dan tanggung jawab, maka isilah wadah dengan potensi dan ilmu yang kita miliki serta pergunakanlah ilmu tersebut untuk meningkatkan wadah kita sehingga wadah dan isinya dapat berguna bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Setiap orang di muka bumi ini pasti mempunyai kedudukan atau statusnya masing-masing. Mulai dari lingkungan keluarga, ada yang berstatus sebagai anak, kakak, adik, ibu, atau kepala keluarga. Di lingkungan masyarakat dan negara, ada yang sebagai masyarakat biasa, ketua RT, ketua RW, Kades, Lurah, Camat, atau bahkan Presiden. Di lingkungan pekerjaanpun seseorang pasti mempunyai kedudukan. Setiap kedudukan atau status tersebut mempunyai amanah dan tanggung jawabnya masing-masing. Seperti seorang anak yang harus hormat dan patuh kepada orang tua, ketua RT yang harus mengayomi anggotanya, atau seperti seorang Presiden yang bertanggng jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Berdasarkan tulisan di atas, kedudukan atau status tersebut diibaratkan sebagai wadah dan amanah-amanah diibaratkan sebagai isi. Wadah (kedudukan atau status) dan isi (amanah serta tanggung jawab) sama pentingnya. Oleh karena itu, di dalam kehidupan ini kita harus menjadi sebaik-baik wadah (yang mempunyai kedudukan/status) dan sebaik-baik isi (yang menjaga amanah).

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para siswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika para siswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya"

    Seimbang. Sebagai siapapun di dunia ini kita berkehendak atas "wadah" dan "isi" pada diri kita. Akan tetapi telah disebutkan pada postingan ini bahwa "Serendah-rendahnya kualitas wadah dan isi kita di dunia adalah jika kita mempunyai wadah dan isi yang setinggi-tingginya namun menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan tidak baik dan merugikan banyak orang". Tugas pertama kita adalah memposisikan diri bagaimana "wadah" akan berada. Setelah itu menggiring "isi" menjadi isi yang baik bagi wadah kita. Kita adalah makhluk sosial di bumi (wadah), maka hidup bersosial dengan membantu sesama adalah cara untuk mengisi wadah tersebut.

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari “Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi”, menurut saya wadah dan isi sama-sama penting. Wadah di dunia ini seperti jabatan atau status, sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiar sehingga kita dapat menjalankan jabatan dan status dengan benar. Jika isi dapat bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadah yang kualitasnya meningkat. Untuk meningkatkan wadah tersebut, jangan menjadi seseorang yang cepat puas dengan apa yang sudah diraih, kita dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  12. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Wadah itu bisa sama dengan isi, tetapi isi belum tentu sama dengan wadah. Wadah adalah formalnya, sedangkan isi adalah substansinya. Isi tanpa wadah juga tidak ada artinya, ibarat air teh dan gelas. Ingin meminum air teh tetapi tidak ada gelasnya, semua tercecer dilantai, bagaimana bisa diminum. Sama halnya ada gelasnya, tetapi tidak ada isinya. Sehingga dalam segala hal itu ada tempat dan kedudukannya masing-masing, tinggal bagaimana kita memposisikan diri menjadi seorang yang baik apa buruk.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Wadah dan isi adalah dua hal yang saling melengkapi untuk dapat menjalankan peran masing-masing. Wadah dan isi bak guru dan murid. Guru memerlukan murid, begitu sebaliknya, murid memerlukan guru. Ilmu pengetahuan seorang guru tidak akan berarti apabila tidak disampaikan ke murid dan wawasan serta pemikiran murid tidak akan berkembang tanpa seorang guru. Dan sebenar-benarnya wadah dan isi di kehidupan adalah tergantung bagaimana kita mengisi peran masing-masing dalam wadah berupa status, kedudukan, ataupun amanah yang kita emban. Wadah yang bagus tidak akan terlihat menarik apabila diisi dengan hal yang tidak menarik begitu pula sebaliknya, isi yang bagus tidak menarik jika tidak diisi pada wadah yang tak sesuai.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Wadah akan jauh lebih bermakna dengan isi dan isi akan jauh lebih bermakna dengan wadahnya. Seperti benda cair yang isinya selalu mengikuti bentuk wadahnya, kita sebagai manusia diharapkan dalam menjalankan suatu amanah dapat menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya dan tidak menyimpang dari apa yang telah diamanahkan. Wadah dan isi kita merupakan gambaran diri kita nantinya. Dalam proses pengisian wadah, kita harus terus berusaha meningkatkan bukan hanya kuantitas, melainkan juga kualitasnya agar isi tersebut menjadi isi yang benar-benar bermanfaat bagi diri kita maupun orang lain. Mengutip dari Albert Einstein, "Try not to become a man of succes, but rather try to become a man of value".

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tiadalah disebut wadah jikalau tanpa isi dan tiadalah isi jikalau tanpa wadah. Maka sebenar- benar wadah dan isi adalah hal yang saling melengkapi. Wadah adalah kedudukan, kedudukan yang kita miliki. Maka isi dari wadah kita adalah peranan- peranan yang dapat kita lakukan dengan keududukan kita. Isi dari wadah kita bisalah isi yang baik dan wadah yang buruk. Kita dapat mengisi kedudukan kita dengan memberikan manfaat bagi orang- orang di sekitar kita tetapi kita juga dapat menggunakan kedudukan kita dengan menebar keburukan dan kesengsaraan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi, dari elegi tersebut saya mendapat pelajaran bahwa wadah dalam dunia ini adalah jabatan atau status yang kita miliki. Isi adalah bagaimana kita menjalankan amanah yang dibebankan pada jabatan atau status yang kita miliki. Kualitas isi kita ditentukan dengan seberapa besar ikhtiar kita untuk meningkatkan dimensi kita dan lebih baik lagi jika kita dapat bermanfaat bagi banyak orang. Sebagai contoh wadah dan isi, saya seorang mahasiswa (wadah), maka membaca adalah upaya untuk mengisi wadah tersebut. Dengan membaca maka saya dapat mendapatkan pengetahuan yang meningkatkan dimensi hidup saya. Terlebih ketika saya mampu mengimplementasikan pengetahuan yang saya dapat untuk membantu sesama, maka itulah sebenar-benarnya wadah yang meningkat kualitasnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah pengetahuan yang kita miliki untuk kebaikan, karena sesungguhnya apa yang kita perbuat di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Terima kasih.

    ReplyDelete
  17. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)


    Wadah dan isi merupakan satu kesatuan, karena sebenar-benar wadah tidak lain dan tidak bukan adalah isinya. Apabila isi tidak berwadah maka isi tersebut tidak ada yang menampungnya sedangkan apabila tidak ada wadah tidak berisi maka wadah tersebut akan menjadi sia-sia karena keberfungsiannya menjadi tidak bermanfaat. Dalam pembelajaran sebagai seorang guru dan siswa, isinya berupa rasa syukur, ikhlas, tawadu, dan istiqomah yang akan berimplikasi pada rasa senang dan motivasi untuk menjadi siswa dan guru yang berprestasi dan tidak pernah puas untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. .Sedangkan wadah seorang siswa dan guru adalah status, kedudukan, dan tanggung jawab yang tidak memiliki batasan. Sehingga baik wadah dan isi harus saling beriringan keduanya (wadah dan isi) harus dikejar.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B (Pascasarjana)

    Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi ini menguraikan mengenai kedudukan dan tanggung jawab seseorang, bisa juga dimaknai tentang tingkat pendidikan dan ilmu pengetahuan yang ada pada pelakunya dengan mengkonotasikan dengan wadah dan isi. Dengan membaca elegi-elegi ini selalu mendapatkan nasehat yang menyentuh dan dapat dijadikan pengingat,

    "Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Karena sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadahmu tidak lain tidak bukan adalah amanah bagimu. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Tetapi jika engkau mampu mewujudkan bahwa isimu juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu yang meningkat kualitasnya. Barang siapa mampu meningkatkan kualitas wadahnya maka meningkat pula kualitas isinya, dan dengan demikian meningkat pula kualitas dan dimensi hidupnya. Namun tantangan terbesarmu adalah sejauh mana dirimu bekerjasama dengan orang lain, sejauh mana engkau masuk dan memuat jejaring, sejauh mana engkau mampu berkomunikasi, sejauh mana engkau duduk dan berperan pada jejaring yang lebih luas sehingga engkau dapat berperan dan berkontribusi untuk orang-orang banyak pada tataran aatau level yang lebih luas pula. Itulah setinggi-tinggi kualitas wadah dan isimu di dunia ini. "

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Wadah dan isi merupakan dua hal yang saling berhubungan, dengan kedudukannya masing-masing. Isi tanpa wadah, maka isi akan menjadi sia-sia karena tidak di terapkan. Namun wadah tanpa isi juga akan sia sia, karena percuma punya jabatan, punya pangkat, tapi isinya nol, maka itu juga akan membuat kualitas diri menjadi nol. Wadah dan isi akan selalu berdampingan dalam hidup. Dengan kita membekali isi sebaik mungkin, maka dengan usaha yang maksimal juga maka wadah kita akan menjadi lebih baik untuk menampung isi yang baik pula.

    ReplyDelete
  20. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dari tulisan elegi hamba menggapai wadah dan isi diatas menunjukkan bahwa setiap hal mempunyai peranannya masing-masing baik wadah terhadap isi, maupun isi terhadap wadah. terkadang kita hanya silau dengan salah satu hal tersebut. Dari tulisan diatas juga menyebutkan tugas kita sebagai manusia harus terus berusaha, dalam wadah yang baik untuk mencapai isi yang sesuai harapan.

    ReplyDelete
  21. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Allah Subhanallahu Wataala menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini telah memberikan wadahnya masing-masing. Pada elegi dikatakan bahwa sebenar-benar wadah adalah amanah. Manusia diamanahkan menjadi khalifah di muka bumi, hewan atau binatang ternak diamanahkan untuk mampu ditundukkan dan dimanfaatkan oleh manusia, sawah dan perkebunan pun Allah amanahkan untuk menjadi ladang bercocok tanam bagi manusia. Dalam hal ini, manusia sebagai mahluk berakal tentu memiliki kewajiban untuk mengisi wadah ini dengan sebaiknya agar menjadi bekal di akherat kelak. Pada Elegi dikatakan bahwa sebenar-benar isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Manusia yang telah diamanahkan menjadi khalifah berkewajiban memimpin sesuai dengan fungsinya masing-masing. Sebagai diri sendiri mampu memimpin diri sendiri untuk beriman dan bertaqwa. Sebagai seorang kepala keluarga mampu memimpin anggota keluarga agar di dunia mencari bekal dengan tujuan terhindar dari siksa api neraka. Sebagai seorang ibu mampu menjaga harta suami dan anak-anak. Sebagai seorang pemimpin masyarakat mampu mengarahkan, membantu, dan mengayomi mayarakat di lingkungannya. Dan seterusnya sampai kepada kepala negara mampu mengatur negara dan pemerintahan yang dipimpinnya. Kunci dari kemampuan memimpin ini ialah adil, termasuk di dalamnya adil dalam menyeimbangkan wadah dan isinya, karena semua amanah yang telah dititip akan dimintai pertanggungjawabannya di akherat kelak.

    ReplyDelete
  22. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr,wb

    dalam tulisan ini saya menyimpulkan bahwa sebenar-benar wadah adalah status kita yang kita miliki saat ini. jika saya seorang mahasiswa, maka itu adalah wadah saya, ilmu yang saya pelajari di perkuliahan itu adalah isi. jika saat ini saya sebagai seorang guru, maka itu adalah wadah, sekaligus isi. maka wadah dapat berarti amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap orang, dan mencari isi dari wadah merupakan kewajiban kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Setiap yang ada dan yang mungkin ada di dunia memiliki wadah dan isinya masing-masing. Sepeti halnya ilmu pengetahuan dapat dijadikan sebagai isi oleh orang yang menempatkan dirinya sebagai pencari (wadah) ilmu pengetahuan. Berdasarkan elegi ini diungkapkan bahwa yang sebagai wadah adalah status, kedudukan, tugas, dan tanggungjawab. Maka sebenar-benar berkualitas wadahmu maka berisi sesuatu yang berkualitas pula.

    ReplyDelete
  24. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Wadah dan isi, mana yang lebih penting? Wadah yang baik tak menjamin isi yang baik. Isi yang baik tak membuat wadah terlihat baik pula. Keduanya penting dan berkembang beriringan.
    Dari elegi ini,yang saya pahami, wadah adalah posisi kita di dunia, sebagai mahasiswa, guru, dosen. Isi adalah rasa syukur kita terhadap wadah yang kita miliki dalam bentuk pengembangan diri. Seiring berkembangnya wadah, kita pun harus meningkatkan kualitas isi kita.. sebagai mahasiswa s2, maka rasa syukur itu harus ditunjukkan lewat kehidupan belajar yang baik dalam upaya meningkatkan isi dari wadah yang baik.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Secara garis besar, baik menjadi siswa, guru, mahasiswa, atau dosen, harus memiliki rasa syukur yang menciptakan rasa senang sehingga memotivasi untuk lebih berprestasi. Itulah yang menjadi isi dari wadah status, kedudukan, dan tanggung jawab masing-masing. Antara wadah dan isi harus seimbang. Jangan sampai wadahnya terlalu indah, namun isinya hanya sedikit atau wadahnya kecil, namun isinya terlalu banyak. Ketika statusnya masih siswa (wadah), hendaknya menjadi siswa yang rajin, mengerjakan Pekerjaan Rumah, belajar setiap hari, dan berprestasi (isi). Ketika menjadi guru (wadah), hendaknya mampu mengembangkan perangkat pembelajaran, menerapkan metode-metode pembelajaran yang inovatif (isi).

    ReplyDelete
  26. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Setelah membaca tulisan diatas, kami menyadari bahwa keragaman manusia berbanding lurus dengan keadaan wadah dan isinya masing masing. Wadah yang kami pahami sebagai status seseorang dalam kehidupan dan isi merupakan potensi dari diri seseorang tersebut. Adanya wadah da nisi di harapkan saling melengkapi sehingga dapat memaksimalkan adanya status dan potensi, agar status tidak hanya status dan isinya blong moblong dan potensi sebagai isi tidak hanya terpendam, namun juga dapat terpublikasikan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  27. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Dua kalimat yang saya petik dari artikel di atas yaitu "Maka tersesatlah yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya."
    Kita sebagai manusia harus paham akan wadah dan isi dalam kehidupan yang kita jalani. Misalnya, di rumah wadah kita adalah menjadi seorang anak atau orangtua maka kewajiban atau tanggung jawab kita di rumah merupakan isi. Di lingkungan sekolah kita sebagai murid, mahasiswa, guru, dosen maka isi nya harus membawa kebermanfaatan di lingkungan sekolah. Perlu diperhatikan bahwa isi harus sesuai dengan wadahnya agar berjalan sesuai dengan ruang dan waktunya. Ibarat makan nasi harus menggunakan wadah yaitu piring, bukan gelas.

    ReplyDelete
  28. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  29. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk bacaan di atas. Saya merasakan semangat yang begitu mendalam pada isi percakapannya. Saya belajar dari ulasan di atas bahwa sadar akan tanggungjawab yang diemban pada wadah yang sedang ditempati adalah hal yang sangat utama. Ini yang akan mengarahkan seseorang pada isi yang ingin dicapai. Semoga Allah memberikan kepada saya kesadaran yang lebih terhadap wadah dan isi yang sedang saya jalani saat ini. Aamiin. Merasa terus-menerus diingatkan bahwa selalu mawas diri terhadap tindakan di luar tuntutan yang semestinya dilakukan. Berusaha menghindari kecerobohan dalam bertindak adalah hal yang sangat penting.

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Wadah dan isi bukanlah hal yang main-main dan sembarang. Semua wadah dan isinya makhluk ciptaan Tuhan yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini pasti kelak akan ditanyakan dan harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Maka dari bagian mana wadah dan isi tidak dikatakan nikmat Tuhan? Untuk itu sudah selaykanya kita harus bersyukur atas wadah yang sudah Tuhan berikan kepada kita, begitupun isi, Tuhan sudah meridhoi kita untuk diberikan kesempatan mendapatkan isi. Karena wadah dan isi adalah satu kesatuan, maka gapailah keduanya, karena akan menjadi hamba yang rugi jika hanya menggapai salah satunya saja.

    ReplyDelete
  31. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dalam kehidupan ini tidak lepas dari wadah dan isi. Semua wadah pasti bisa diisi. Apabila wadah merupakan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT maka ikhtiar yang menjadi isinya. Berdasarkan bacaan pada elegi hamba menggapai wadah dan isi menyadarkan manusia untuk berusaha menggapai wadah dan mengisinya. Tingkatan wadah dari yang paling rendah adalah ketika isinya hanya berguna bagi dirinya sendiri dan tingkatan wadah yang paling tinggi adalah ketika isinya dapat berguna bagi banyak orang. Hal tersebut menurut saya memberikan pelajaran bahwa ketika berusaha menuntut ilmu tetapi hanya berguna untuk dirinya sendiri maka kualitasnya masih rendah, sehingga untuk menggapai kualitas yang lebih tinggi hendaknya berusaha menggapai ilmu dan memperluas jaringan agar ilmunya dapat berguna bagi banyak orang bahkan bagi dunia.

    ReplyDelete
  32. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Wadah dan Isi merupakan dua komponen yang selalu menjadi pengamatan filsafat, keduanya saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam filsafat wadah dapat diartikan sebagai sebuah fasilitas, seperti misalnya pakaian, yaitu untuk menutupi atau membungkus body. Sedangkan isi adalah ibarat ilmu pengetahuan yang hendak dituntut oleh setiap orang.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Wadah dan Isi merupakan dua komponen yang selalu menjadi pengamatan filsafat, keduanya saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam filsafat wadah dapat diartikan sebagai sebuah fasilitas, seperti misalnya pakaian, yaitu untuk menutupi atau membungkus body. Sedangkan isi adalah ibarat ilmu pengetahuan yang hendak dituntut oleh setiap orang.

    Wadah tanpa isi adalah kosong dan isi tanpa wadah juga tidak mempunyai makna. Sebagai contoh ilustrasi jika kita menuangkan air ke dalam gelas, jika kita tidak mengetahui ukuran kerangka gelas makan air yang kita tuang bisa kurang dari gelas itu atau justru melebihi takaran gelas itu sehingga tumpah. Begitu juga belajar filsafat, ada berbagai macam filsafat yang belum tentu semuanya dapat dipelajari oleh tingkat pemikiran setiap manusia, akan tetapi prioritas mana yang lebih sesuai dengan pembelajaranya.

    ReplyDelete
  34. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Tulisan ini menjawab pertanyaan saya yang masih belum dapat memaknai wadah dan isi yang dimaksud sesungguhnya. Secara garis besar, wadah adalah jabatan atau siapa, sedangkan isi adalah kemampuan, apa dan bagaimana. Saya sebagai mahasiswa menjadi lebih memahami bagaimana memaknai wadah saya dengan mengisinya dengan isi yang terbaik dari sikap maupun pengetahuan. Wadah akan meningkat kualitasnya jika bisa mengisinya dengan isi yang terbaik dan isi juga akan diperhitungkan jika wadahnya juga bagus. Namun daripada itu, sebaik-baik wadah maupun isi adalah yang bermanfaat dalam lingkup luas.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  35. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Asslamualaikum Wr. Wb. Saya meyakini bahwa kita adalah wadah dan wadah adalah kita. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah isi yang harus kita gali. yang juga saya yakini bahwa, bumi yang kita pijak adalah wadah bagi kehidupan. Oleh karena itu, kita adalah wadah sekaligus isi. Alam menghadirkan tanda-tanda yang harus kita pecahkan. Perkembangan ilmu pengetahuan adalah upaya menemukan kebenaran-kebenaran di balik tanda-tanda itu. Sebagai subjek kehidupan di bumi ini, manusia menggapai wadah dan isi dari proses pendidikan yang sejati. Menggapai wadah dan isi adalah memahami hakikat diri sebagai manusia.

    ReplyDelete
  36. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Asalamu'alaikum Wr. Wb.

    Wadah dan isi, keduanya ada pada diri kita masing-masing. Kita sebagai Mahasiswa, sebagai anak, sebagai kakak, sebagi adik, sebagai orang yang bekerja dibidang apapun, dll. Itulah wadah-wadah yang kita miliki, dan harus kita isi dengan ilmu-ilmu yang sesuai dengan wadahnya masing-masing. Wadah yang diisi haruslah ilmu-ilmu yang membawa manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sehingga wadah yang dimiliki adalah wadah yang dapat dipertanggung jawabkan.

    ReplyDelete
  37. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Wadah dan isi haruslah sesuai, bahwa wadah adalah status kita dan isi adalah kualitas kita. Kita tidak boleh mementingkan salah satunya saja, bahwa keduanya haarus serasi, karena itulah sebenar-benarnya hidup. Wadah tanpa isi hanyalah kosong, menunjukkan sesorang tidak amanah dalam menjalankan statusnya. Sedangkan isi tanpa wadah menjadi tidak berharga, menunjukkan orang yang memiliki kemampuan lebih tetapi tidak memiliki status yang mengakibatkannya tidak terpakai. Untuk itu kita selalu belajar dalam menggapai wadah maupun isi, karena tidak ada sesuatu yang akan kita dapatkan begitu saja.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete