Sep 20, 2010

Elegi Hamba Menggapai Wadah dan Isi




Oleh: Marsigit

Wadah, bangga dengan statusnya
Aku adalah wadah. Wadah bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu isi apapun tidak memerlukan wadah. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai isi maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun wadahnya. Maka aku adalah wadah bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi isi dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan masuk kedalamku, yaitu mereka akan selaluterwadahkan oleh ku.

Isi, bangga dengan statusnya
Aku adalah isi. Isi bagi semuanya. Ini adalah statusku. Aku sekaligus namaku. Tiadalah suatu wadah apapun tidak memerlukan isi. Maka barang siapa mereka mengaku sebagai wadah maka pastilah mereka memerlukanku. Lebih dari itu barang siapa mengaku sebagai wadah maka akupun isinya. Maka aku adalah isi bagi semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu maka sudah pantaslah jika aku memang memperoleh kedudukann istimewa. Aku tidak perlu pusing-pusing mengurusi wadah dan juga wadah-wadah yang lain, karena semuanya itu akan memerlukanku, yaitu mereka akan mencari isi.

Siswa tertegun melihat wadah dan isi gurunya:
Aku melihat guru-guru di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk pelajaran kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para guru. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para guru itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa guru-gur itu ternyata bersifat manipulatif.

Mahasisa dan guru tertegun melihat wadah dan isi dosennya:
Aku melihat dosen-dosen di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kuliah kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para dosen. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para dosen itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa dosen-dosen itu ternyata bersifat manipulatif.

Dosen tertegun melihat wadah dan isi orang tua berambut putih:
Aku melihat para orang tua berambut putih di sana. Kelihatannya mereka adalah wadah-wadah yang besar. Tetapi aku heran mengapa wadah-wadah itu tidak serakus biasanya. Biasanya mereka selalu melahap apapun isi dan wadah. Kenapa untuk kali ini dia menginginkan aku sebagai isi. Padahal sebesar-besar tujuan hidupku adalah wadah pula. Tetapi aku pernah melihat dan mendengar bisik-bisik sesama para orang tua berambut putih. Aku agak terkejut karena, dalam bisik-bisiknya, para orang tua berambut putih itu ternyata sangat menginginkan wadahku pula. Tetapi di depanku mereka hanya menginginkan isiku. Maka aku berkesimpulan bahwa para orang tua berambut putih itu ternyata bersifat manipulatif.

Siswa bertanya kepada mahasiswa:
Wahai kakak-kaka mahasiswa. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih suka wadah atau isi?

Mahasiswa1:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai mahasiswa itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Mahasiswa2:
Wahai adikku siswa yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai mahasiswa jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai mahasiswa. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai mahasiswa jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Guru bertanya kepada dosen:
Wahai para dosenku. Bolehkah aku bertanya kepadamu. Sebetul-betul dirimu itu, mementingkan wadah atau isi?Bagaimana menurutmu apakah engkau lebih menyukai wadah atau isi?

Dosen1:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah statusku sebagai dosen itu adalah wadah. Itu adalah hak istimewaku. Itulah pula wadah yang mungkin perlu engkau gapai. Terus terang saja, aku lebih suka wadah. Mengapa? Karena selama ini aku hidup dan dihidupkan oleh wadahku. Maka wadah bagiku adalah segala-galanya. Bahkan aku dapat katakan bahwa sebenar-benar diriku adalah wadahku. Buat apalah isi bagiku. Bagiku isi hanyalah basa basi.

Dosen2:
Wahai guru yang ku banggakan, bukankah selama ini aku tidak pernah
membangga-banggakan wadahku. Apalah artinya kedudukanku sebagai dosen jika aku tidak mampu menunjukkan potensiku sebagai dosen. Maka aku adalah orang yang sangat khawatir dengan wadah. Sebaliknya, seumur-umur hidupku adalah isi itulah tujuanku. Aku bahka rela kulepas statusku sebagai dosen jikalau itu memang perlu demi aku menggapai isiku. Maka sebenar-benar aku, dapat aku katakan bahwa aku adalah isiku.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bimbang memikirkan wadah dan isi:
Dari percakapan yang kita dengar tentang wadah dan isi, aku menjadi bimbang. Apa sebetulnya wadah itu? Apa sebetulnya isi itu. Jika aku minum segelas air, maka gelas adalah wadahnya, dan air adalah isinya. Tetapi jika aku sebut air adalah wadah, maka aku belum tahu pasti apakah isinya, mungkin salah satu isinya adalah oksigen. Tetapi jika aku berpikir bahwa oksigen adalah wadah, maka aku semakin bingung apakah sebenarnya isinya. Jika siswa adalah wadah, maka isinya adalah kemampuannya dan kepribadiannya. Jika wadahku adalah mahasiswa maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika guru adalah wadahku maka isiku adalah kemampuan dan kepribadiannya. Jika dosen adalah wadahku maka kemampuan dan kepribadianku adalah isinya. Nah ini aku temukan ijasah dan sertifikat. Aku cari-cari dalam daftar tetapi aku tidak menemukan secara tegas bahwa ijasah dan sertifikat adalah isi, tetapi samar-samar tertulis mereka sebagai wadah.

Orang tua berambut putih datang menghampiri siswa, mahasiswa, guru dan mahasiswa

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen bersama-sama menegur orang tua berambut putih:
Wahai orang tua berambut putih. Kenapa engkau duduk di situ? Bukankan untuk duduk di situ engkau harus berbekal wadah dan isi. Maka tunjukkan manakah wadah dan isimu?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah, dan sebenar-benar diriku adalah tidak punya isi. Satu-satunya yang aku punya adalah kemampuanku untuk selalu hadir pada setiap pertannyaanmu.

Siswa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang siswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi siswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi siswa yang baik dan berprestasi, untuk mewujudkan cita-citamu itu maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang siswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai siswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang siswa.

Siswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang siswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang siswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai siswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para siswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika para siswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Guru bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang guru, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi guru, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi guru yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi guru yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang guru yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai guru yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang guru.

Guru bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang guru, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang guru maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai guru. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para guru yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang guru hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Mahasiwa bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang mahasiswa, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi mahasiswa, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi mahasiswa yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang mahasiswa yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang mahasiswa.

Mahasiswa bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang mahasiswa, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang mahasiswa maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai mahasiswa. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para mahasiswa yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang mahasiswa hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Dosen bertanya tentang isinya:
Wahai orang tua berambut putih, kalau begitu tunjukkanlah kepadaku, sebagai seorang dosen, apakah isiku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen, maka isimu adalah rasa syukurmu bahwa engkau telah menjadi dosen, kemudian rasa syukurmu akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi dosen yang baik dan berprestasi. Untuk mewujudkan cita-citamu itu menjadi dosen yang baik maka engkau perlu menyesuaikan sikap dan perbuatanmu. Sesuaikanlah sikap dan perbuatanmu itu sebagaimana engkau menginginkan sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Tidak hanya itu, engkaupun harus iklhas, tawadu’ dan istiqomah untuk selalu mencari dan menambah-tambah ilmumu agar engkau memperoleh keterampilan sebagaimana engkau dituntut sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi. Janganlah puas sampai disitu, karena sebagai seorang dosen yang baik dan berprestasi juga dituntut untuk mengembangkan dan mencari pengalaman. Itulah sebenar-benar isi dari seorang dosen.

Dosen bertanya tentang wadahnya:
Lalu sebagai seorang dosen, maka apakah wadahku itu?

Orang tua berambut putih:
Sebagai seorang dosen maka wadahmu adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabmu sebagai dosen. Tetapi harap ingatlah bahwa engkau akan selalu diminta pertanggungjawaban akan wadahmu itu. Maka ada atau tidaknya wadahmu itu tergantung bagaimana mengisi wadah itu. Wadahmu bisa sempit bisa juga luas, bisa kecil bisa juga besar, bisa penting bisa juga tidak penting, bisa ada bisa juga tidak ada. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadah tidaklah mempunyai batas dengan isi. Wadahmu akan selalu hadir ketika engkau wujudkan isimu. Maka sebenar-benar wadah tidak lain tidak bukan adalah isi. Maka tersesatlah wahai para dosen yang hanya mengejar wadah tetapi tidak mau mengisinya. Tetapi benar-benar merugilah jika seorang dosen hanya mengejar isi tetapi tidak mau mengenal wadahnya.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Lalu, bagaimanakah agar aku bisa selalu mewujudkan wadahku dan bisa mengisinya?

Orang tua berambut putih:
Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Karena sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa wadahmu tidak lain tidak bukan adalah amanah bagimu. Sedangkan isi adalah usaha dan ikhtiarmu. Tetapi jika engkau mampu mewujudkan bahwa isimu juga bermanfaat bagi orang lain, maka itulah sebenar-benar wadahmu yang meningkat kualitasnya. Barang siapa mampu meningkatkan kualitas wadahnya maka meningkat pula kualitas isinya, dan dengan demikian meningkat pula kualitas dan dimensi hidupnya. Namun tantangan terbesarmu adalah sejauh mana dirimu bekerjasama dengan orang lain, sejauh mana engkau masuk dan memuat jejaring, sejauh mana engkau mampu berkomunikasi, sejauh mana engkau duduk dan berperan pada jejaring yang lebih luas sehingga engkau dapat berperan dan berkontribusi untuk orang-orang banyak pada tataran aatau level yang lebih luas pula. Itulah setinggi-tinggi kualitas wadah dan isimu di dunia ini.

Siswa, mahasiswa, guru dan dosen secara bersama-sama bertanya:
Terimakasih orang tua berambut putih. Kemudian kalau boleh kami masih ingin bertanya. Maka, sebagai orang tua berambut putih apakah wadah dan isimu itu?

Orang tua berambut putih:
Bagi orang-orang yang baru mengenalku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah tidak punya wadah dan tidak punya isi. Tetapi karena engkau telah lama mengenal diriku, maka jawabanku adalah bahwa sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Diriku adalah ilmumu. Diriku adalah pertanyaanmu. Tempat tinggalku adalah pada batas pengetahuanmu. Maka keberadaanku tergantung dirimu. Maka sebenar-benar tempat tinggalku adalah pada batas antara wadah dan isimu. Tugas dan fungsiku adalah menjadi saksi atas keberadaanmu. Jadi wadahku tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri. Dan isiku tidak lain-tidak bukan adalah dirimu juga. Maka sebenar-benar diriku adalah semua wadah dan isi mu para siswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada mahasiswa. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada guru. Sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi mu pada dosen. Dan sebenar-benar diriku adalah wadah dan isi bagi semua. Itulah ilmu, sekaligus wadah dan isinya bagi semuanya.

Ini ada mahasiswa yang ingin menyampaikan pendapatnya, siapa nama dan apa prodinya? Silahkan

Mahasiswa:
Kenalkan Pak saya HERU SUKOCO, no 11709251019, mahasiswa PPs UNY P. Mat 2011 Kelas B
Menurut saya Pak, sebagai seorang muslim sebenarnya manusia itu pada kodratnya sudah membawa amanah yang diberikan Allah SWT sejak lahir, yaitu menjadi pemimpin (wadah) di dunia ini. Serendah-rendahnya wadah tersebut adalah diri kita sendiri, artinya kita harus mampu memimpin diri sendiri. Dengan cara bagaimana, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Jika kita mempunyai jabatan atau status atau pekerjaan itulah wadah kita di dunia ini. Isinya adalah bagaimana kita menjalankan jabatan atau status atau pekerjaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kualitas isi ditentukan seberapa besar usaha kita untuk terus dan terus meningkatkan dimensi kita, apalagi jika isi tersebut bermanfaat bagi banyak orang. Jika saya mahasiswa S2 (wadah), maka belajar filsafat adalah salah satu cara untuk mengisi wadah tersebut. Dengan belajar kita akan menemukan ‘orang tua berambut putih’, yaitu pengetahuan untuk meningkatkan dimensi kita. Semoga kita semua sadar akan wadah dan isi dari diri kita masing-masing sehingga kehidupan di negara kita ini dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Amin. Serendah-rendahnya kualitas wadah dan isi kita di dunia adalah jika kita mempunyai wadah dan isi yang setinggi-tingginya namun menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan tidak baik dan merugikan banyak orang. Ingat, wadah dan isi kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akherat oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih:
Alahamdulillah. Amin

25 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sebagai guru, wadahku adalah tanggung jawab, status, kedudukan sebagai guru. Isinya adalah segala usaha, ikhtiar untuk menjadi guru yang sejati. Guru yang sungguh menjadi orangtua, teman bagi anak didik, mendampingi mereka dalam membangun pengetahuannya. Senantiasa bersyukur atas tugasnya sebagai guru dan membangun diri menjadi guru yang terus belajar.
    Ini mudah dikatakan, namun tidak mudah dijalankan. Maka aku perlu selalu berusaha untuk terus belajar menjadi pendamping yang baik anak didik.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami wadah dan isi merupakan dua entitas atau hal yang saling melengkapi. Keduanya saling memutuhkan, wadah membutuhkan isi dan isi juga membutuhkan wadah, sehingga tidak perlu ada kesombongan diantara keduanya. Timbul pertanyaan pada diri kami, apa kah diri kami sendiri ini termasuk isi atau wadah? Ternyata jawaban yang kami sadari adalah semuanya tergantung ruang dan waktu yang mengikat diri kami saat mengajukan pertanyaan itu. Ketika dalam konteks memuat ide-ide dan pikiran, maka diri kami adalah sebagai wadahnya. Namun ketika terkait dalam system yang berhubungan dengan orang lain maka kami adalah isi, dimana didalam sistem tersebut setiap elemen yang diharapkan saling melengkapi dan memberi manfaat

    ReplyDelete
  3. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Setiap orang memiliki wadah dan isinya masing-masing. wadah da nisi tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Bukanlah wadah jika ia tak punya isi, karena setiap wadah pasti memiliki isi. Setiap isi pun harus memiliki wadah, karena bukan isi jika ia tidak memiliki wadah. Wadah dan isi ini memiliki keluasan dan kedalaman yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya. Serendah-rendahnya kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk diri kita sendiri. Dan serendah-rendah isi kita adalah ketika kita tidak bisa mengisi wadah kita. oleh karena itu kita perlu mengisi diri kita, wadah kita dengan kompetensi-kompetensi yang lebih. Dan dengan kompetensi inilah kita bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat, menghasilkan karya yang berguna bagi orang lain. Apabila kita telah berhasil meningkatkan kualitas diri kita. dan melakukan banyak kemanfaatan melalui kualitas diri kita tersebut, maka kita telah meningkatkan kualitas dari wadah dan isi diri kita.

    ReplyDelete
  4. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Saya sebagai seorang anak, saya juga seorang mahasiswi, dan saya pun seorang guru. Wadahku adalah status, kedudukan, tugas dan tangungjawabku sebagai seorang anak, mahasiswi dan guru. Sedangkan isiku adalah rasa syukur karena Allah menjadikanku seorang anak dari orang tuaku, Allah menjadikanku seorang mahasiswi pascasarjana, dan Allah menjadikanku guru yang memiliki kesempatan membagi ilmu. Dan kemudian rasa syukur tersebut akan menghasilkan rasa senang dan motivasi untuk menjadi anak yang berbakti, menjadi mahasiswi yang berprestasi, serta menjadi guru yang menginspirasi.

    ReplyDelete
  5. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Setiap manusia dianjurkan untuk selalu meningkatkan wadah dan isinya. Dengan meningkatkan wadah hakekatnya meningkatkan isinya, meski tidak semuanya seperti itu. Artinya ada tuntutan bahwa semakin meningkatnya wadah, maka harus pula ditingkatkan isinya. Kemudian ada saatnya isi dalam wadah itu di bagikan kepada orang lain sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak. Namun jangan sampai lupa, bahwa dalam rangka meningkatkan level wadah dan isi ini, harus kita niatkan karena Allah sehingga bernilai ibadah. Aamiin..

    ReplyDelete
  6. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Wadah dan isi adalah dua hal yang selalu berkaitan dan saling melengkapi di dunia ini. Seperti bumi yang merupakan wadah sedangkan isi nya adalah apa-apa yang ada didalam bumi ini sendiri. Guru sebagai wadah bagi murid nya, yang isi nya berupa ilmu yang akan dibagikan kepada siswanya dan rasa tanggung jawab dalam membimbing siswanya juga merupak isi dari guru. Setiap orang memiliki wadah dan isi yang diberikan Tuhan, maka karena itu sudah seharusnya kita selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Sombong adalah salah satu perbuatan yang mencerminkan rasa ketidaksyukuran, karena seperti ungakapan ini “diatas langit masih ada langit”.

    ReplyDelete
  7. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Setiap manusia memiliki wadah dan isinya masing-masing. Wadahnya adalah amanah-amanahnya, sedangkan isinya adalah ikhtiar dan doanya untuk menjalankan amanah tersebut. Kualitas wadahnya ditentukan oleh isinya. Serendah-rendah kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk dirimu sendiri. Maka tingkatkanlah wadahmu itu. Tetapi serendah-rendah lagi kualitas hidupmu adalah jika engkau tidak mampu mengisi wadahmu. Sebagai contoh mahasiswa. Statusnya sebagai mahasiswa itu adalah amanahnya. Ia berkewajiban untuk menunaikan amanahnya sebagai mahasiswa, maka untuk menunaikan amanahnya tersebut ia harus belajar, mengikuti ujian, mengerjakan tugas, dsb. Prestasi yang ia raih merupakan isi bagi wadahnya. Wadah itu akan semakin berkualitas jika isinya berkualitas (bermanfaat bagi orang lain). Sehingga apabila prestasi yang diraihnya itu dapat memberikan manfaat bagi orang lain, maka ia menjadi mahasiswa yang berkualitas.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Segala sesuatu yang berisi pasti memiliki wadah, dan segala sesuatu yang memiliki wadah pasti memiliki isi. Manusia adalah wadah, ilmu adalah isinya. Jika ilmu itu sebagai wadahnya, maka penerapan ilmu itu adalah isinya. JIka penerapan ilmu adalah wadahnya, maka Manfaat dari ilmu itu adalah isinya. Semua itu tergantung pada dimensi ruang dan waktu

    ReplyDelete
  9. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Untuk menggambarkan wadah dan isi bisa kita gunakan konteks danau beserta airnya. Salah satu hal yang kita manfaatkan dari danau adalah airnya. Air adalah isi, dan danau (yang berbentuk cekungan) adalah wadahnya. Idealnya wadah adalah isi. Idealnya isi adalah wadah. Apabila isinya sudah tidak ada, dalam hal ini dikatakan mengering, maka dapat dikatakan telah terjadi suatu disharmoni.

    ReplyDelete
  10. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Dari elegi diatas saya merefleksi bahwa wadah dan isi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, wadah itu manusia, isi itu pikirannya, hatinya. Satiap manusia pasti berpikir, dan pikiran pasti ada dalam diri manusia. Maka tak ada wadah tanpa isi dan tak ada isi tanpa wadah. Setiap wadah dan isi memiliki tanggung jawab masing-masing dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa wadah dan isi bukanlah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, melainkan keduanya sangat terkait erat. Bukanlah wadah jika tidak memiliki isi, dan setiap isi pun harus memiliki wadah, karena tidak bisa dianggap isi jika tidak memiliki wadah. Serendah-rendahnya kualitas wadah adalah jika isinya hanya untuk diri kita sendiri, dan serendah-rendah isi kita adalah ketika kita tidak bisa mengisi wadah kita. Maka, kita dapat menjadi wadah dan isi tergantung pada ruang dan waktu yang mengikat diri kita saat ini. Seperti halnya kita adalah isi bagi guru-guru kita. Guru yang berperan sebagai wadah haruslah mampu menempatkan dengan baik agar isi di dalamnya menjadi baik pula. Bagi guru wadah adalah tanggung jawab, status, kedudukan sebagai guru sedangkan isinya adalah segala usaha dalam membimbing anak didiknya. Manusia itu wadah maka isinya adalah ilmu. Maka sebaik-baik wadah, ialah yang mampu membuat Isinya menjadi bermakna dan bermanfaat tidak hanya untuk wadah nya namun juga untuk wadah yang lain. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini memberikan gambaran tentang konsep wadah dan isi. Manusia sebagai sebuah wujud adalah sebahgai wadah, sedangkan isi nya adalah pikiran-pikiran. Maka jika seseorang berhenti berpikir, maka sebenarnya dia wadah tak berisi, sehingga tidak berguna lagi. Antara wadah da nisi harus bersinergi mencapai tujuan yang dicapai

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Wadah sebagai tempat dapat menembus ruang dan waktu. Isi sebagai pengisi wadah tentu juga menembus ruang dan waktu. Wadah yang baik akan memebrikan fasilitas bagi isi untuk mengembangkan diri, sedangkan isi yang baik akan memberikan manfaat yang bnyak kepada wadah. Artinya terjadi mutualisme wdah da nisi yang baik

    ReplyDelete
  14. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Hidup ini seperti air. Sifat air adalah ia selalu membentuk dirinya sesuai dengan wadah dia masuki. Jika ia masuk ke dalam gelas, maka, air menjadi seperti gelas. Jika air dimasukkan ke dalam belanga, ia juga menjadi seperti belanga. Maksud dari pernyataan ini bukan berarti manusia tidak mempunyai prinsip, akan tetapi bersifat luweslah dalam menjalani kehidupan yang naik turun ini.
    Perubahan zaman dan generasi, meskipun di tengah kepungan globalisasi dan anomali, menyongsong hidup secara optimis jelas hanya dipahami oleh orang yang dalam jiwanya dipenuhi rasa iman kepada Allah. Semua makhluk hidup adalah ciptannNya, oleh karena itu sebaik-baiknya tempat kembali adalah Allah swt.

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 Pmat C 2017

    Tiada satupun orang tidak memerlukan isi sekaligus wadah, karena jika ada satu diantara mereka tidak memerlukan isi dan wadah jelas tanpa apapun. Keduanya memiliki hubungan erat dan saling membutuhkan. Buku adalah wadah. Di dalamnya terdapat pesan, namun kadang anda harus membuka dan menguak kiasan di dalamnya agar dapat menemukan maknanya. Ketika kita memahami perbedaan antara wadah dan isi, barulah kita bisa memanfaatkan buku itu, dan kita memanfaatkannya bukan sebagai tanda kewenangan atau otoritas kebenaran, namun hanya sebagai palang penunjuk arah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadah dan isi adalah sebuah pasangan yang tak dapat dipisahkan. Keduanya saling terkait, wadah membutuhkan isi dan isi juga membutuhkan wadah. Lalu pertanyaan kita, kita ini merupakan wadah atau isi? Jawabannya adalah tergantung ruang dan waktu karena disisi lain kita sebagai wadah tetapi di sisi lain kita juga sebagai isi. Jadi berusahalah supaya kita dapat menggapai wadah dan isi sesuai dengan ruang dan waktu kita masing-masing

      Delete
  16. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk meningkatkan kualitas wadah dan isi, maka janganlah memisahkan keduanya, karena wadah dan isi adalah satu. Syukuri apa yang telah dimiliki dan terus tingkatkan kualitas diri. Isilah wadah-wadah yang telah kita miliki dengan isi-isi atau ilmu-ilmu yang bermanfaat. Gunakan ilmu yang kita milki untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, karena serendah-rendahnya kualitas wadah dan isi adalah wadah dan isi yang tidak memberikan manfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  17. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih Prof, menurut saya wadah dan isi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain kedua mnya merupakan satau kesatuan. Wadah memebutuhkan isis begitu pula isi membuthkan wadah. Lalu pertanyaan kita, kita ini merupakan wadah atau isi? Jawabannya adalah tergantung ruang dan waktu karena disisi lain kita sebagai wadah tetapi di sisi lain kita juga sebagai isi. Jadi berusahalah supaya kita dapat menggapai wadah dan isi sesuai dengan ruang dan waktu kita masing-masing.

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Wadah dan isi adalah dua hal yang memiliki hubungan yang erat dalam rangka saling melengkapi satu sama lain. Wadah tanpa isi menjadi tidak berguna, begitupun isi tanpa wadah menjadi 'ambyar'. Contohnya gelas. gelas menjadi wadah air. Sebuah wadah nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Oleh karena itu, kualitas wadah harus selalu ditingkatkan. Namun, muncul pertanyaan, kita sebagai manusia termasuk dalam wadah atau isi ? Kita, manusia dapat menjadi wadah atau isi tergantung dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, kita harussenantiasa meningkatkan kualitas diri agar menjadi sebaik-baik wadah maupun isi pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Wadah da nisi merupakan komponen dasar dari segala yang ada dan mungkin ada. Maka semua objek yang ada dan mungkin ada itu pasti memiliki wadah dan isi. Wadah tidak ada bisa disebut wadah jika tidak memiliki isi, walaupun ketika isinya kosong maka sebenarnya kosong juga adalah isi dari wadah tersebut. Isi pun tidak akan bisa disebut isi jika berada di dalam sebuah wadah. Unsur yang paling kecil pun misalnya proton, neutron, dan electron pun memiliki wadah yaitu atom. Akan tetapi isi pun kemudian akan menjadi wadah karena wadah dan isi adalah komponen dasar dari segala yang ada dan mungkin ada. Maka proton, neutron, serta electron pun mungkin menjadi wadah bagi yang isi yang lebih lebih kecil lagi, hanya Allah yang mengetahuinya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebenarnya apa yang ada di dunia ini tersusun dari wadah dan isi. Dalam wadah terdapat isi dan dalam isi terdapat wadah yang memiliki isi dan begitu seterusnya. Dalam filsafat ini dikenal dengan infinit regres karena selalu ada sesuatu di dalam sesuatu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam artikel ini memberikah sebuah contoh saling melengkapi satu sama lain. Seperti yang komen sebelumnya, kehadiran sebuah objek maka harus diikuti dengan subjek. Kehadiran sebuah dosen maka diperlukan mahasiswa. Tetapi dalam sebuah memaknai seseorang berbeda antara objek dan subjek. Maka mendapatkan sebuah makna atau isi yang tepat sesuai dengan harapan diperlukan sebuah tidnakan yang jernih mendapatkan makna yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  22. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    wadah dan isi adalah kedua hal yang berkaitan. wadah bisa membentuk isi. namun apalah guna wadah jika tidak diisi ? jika wadah nya baik namun isinya tidak baik ya sama saja, merugikan bagi orang lain dan sesama. isikan wadah yang baik dengan isi yang baik pula sehingga berguna bagi sesama, tingkatkan terus isi supaya bisa menjadi lebih baik dikemudian hari.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  23. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Wadah dan isi adalah satu hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dimana wadah adalah kedudukan ( mahasiswa,siswa,dan dosen dll.) kita didunia sedangkan isi adalah bagaimana kita menjalankan kedudukan didunia untuk hal yang bermanfaat atau hanya untuk menyinyiakan kedudukan yang telah diperoleh.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  24. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dari tulisan elegi hamba menggapai wadah dan isi diatas menunjukkan bahwa setiap hal mempunyai peranannya masing-masing baik wadah terhadap isi, maupun isi terhadap wadah. terkadang kita hanya silau dengan salah satu hal tersebut. Dari tulisan diatas juga menyebutkan tugas kita sebagai manusia harus terus berusaha, dalam wadah yang baik untuk mencapai isi yang sesuai harapan.

    ReplyDelete