Sep 20, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:

Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia.
Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:

Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:

Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:

Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:

Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:

Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:

Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:

Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:

Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:

Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi siapakah diriku ini?

Teman lama:

Dirimu tidak lain tidak bukan adalah keputusan itu sendiri.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu siapa dirimu?

Teman lama:
Bukankah sejak awal aku telah memutuskan untuk bertemu, berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi aku tidak lain tidak bukan adalah keputusan juga.
Maka sebenar-benar kita adalah terbukti sebagai keputusan-keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan.

10 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam memperoleh pengetahuan terdapat dua pandangan yang saling bertentangan yaitu pengetahuan apriori dan aposteriori. Kita memiliki pengetahuan apriori apabila kita mengetahui tertapi tidak mengalami atau melihat secara langsung. Pengetahuan tersebut bersifat abstrak dan hanya ada di dalam fikiran kita, pengetahuan apriori akan terus terbentuk dengan berbagai informasi yang masuk dan kita menghubungkan informasi tersebut dalam pikiran kita, sehingga terdapat hubungan yang konsisten antara informasi yang satu dengan yang lain. Sementara itu, kita memiliki pengetahuan aposteriori apabila kita sudah mengalaminya secara langsung melalui panca indera kita, sehingga kita dapat melakukan pengamatan terhadap berbagai hal secara langsung, dan kita dapat mempersepsi apa yang kita amati tersebut, persepsi yang kita bentuk haruslah sesuai dengan keadaan dari objek yang kita amati. Dari kedua pengetahuan tersebut baik apriori maupun aposteriori. Meskipun keduanya saling bertentangan dalam membentuk pengetahuannya, tetapi keduanya saling melengkapi. Pengetahuan kita tidak akan sempurna apabila hanya mengandalkan salah satu saja dari kedua pengetahuan tersebut. Maka dari itu, berhati-hatilah kita dalam mengambil keputusan jika hanya berdasarkan salah satu dari kedua pengetahuan tersebut, karena tidak menutup kemungkinan bahwa keputusan yang kita ambil dapat mengarah kepada kesimpulan yang tidak benar

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam menentukan keputusan hendaklah dilakukan dengan bijak yang artinya tidak berat sebelah. Karena yang berat sebelah merupakan separoh dunia. Oleh karena itu disetiap pengambilan keputusan hendaknya sandarkan pikiran dan hatimu pada Alloh dengan ikhlas semata-mata mencari ridho-Nya.

    ReplyDelete
  3. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Elegi ini membawa kita untuk memahami bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Memang dalam setiap mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah. Kadang bisa berakibat baik bagi diri sendiri dan terkadang juga bisa berakibat buruk bagi orang lain. Ilmu yang kita miliki dapat membantuk kita untuk memilih keputusan yang terbaik.

    ReplyDelete
  4. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Begitu pula dengan Allah. Kita lupa dengan perjumpaan kita sebelum lahir ke dalam dunia. Kita senantiasa lalai dan melupakannya. Namun kita masih diberi kesempatan untuk mengingatnya. Jika kita diberi stimulus ingatan tentangNya, pastilah kita akan mengingat banyak dan menjadi dekat dengannya. Bahkan Allah merasa diingat dan mendekat kepada hambanya.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014
    Banyak banyaklah mengingat allah karena Allah akan memperdulikanmy. Dengan mengingat akan terbangun perasaan dan Chemistry yang kuat antara hamba dan Allah, sehingga muncul rasa cinta dan kasih sayang.

    ReplyDelete
  6. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pengetahuan itu dibangun oleh a priori dan a posteriori. A priori adalah pengetahuan yang bersifat abstrak dan maya, berupa keterangan-keterangan. Sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang berasal dari proses penginderaan kita. Untuk membangun pengetahuan secara utuh diperlukan a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  7. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Pada saat membaca elegi ini, saya tertarik dengan dengan kalimat si teman lama bahwa, “Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan.” Saya baru paham, ternyata seperti itu. Pantaslah jika orang-orang yang mempunyai jabatan atau sebagai orang yang berpengaruh, maka sangat sering bahwa orang tersebut adalah orang berilmu. Karena berilmu lah, dia dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat dan terbaik untuk suatu masalah, sehingga dia memperoleh jabatan yang tinggi dan berpengaruh. Sebaliknya, jika seseorang terlihat berilmu, namun dia jarang mengambil keputusan atau keputusannya tidak pas untuk suatu masalah tersebut, maka keberilmuannya perlu di cek kembali. Dalam hal ini, keputusan yang dimaksud bukan hanya seputar tentang pekerjaan atau jabatan, namun dapat dimaknai lebih luas lagi. ‘jabatan’ yang saya gunakan tadi hanya sebagai contoh. Sehingga orang yang berilmu pasti berani dan sering mengambil keputusan-keputusan yang tidak sederhana dalam ia menjalani kehidupan.

    ReplyDelete
  8. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    sebenar-benar pengetahuan yang paling tinggi adalah kita dapat membuat suatu keputusan. karena dalam memutuskan suatu keputusan tentu kita akan memikirkannya secara baik-baik menggunakan akal dan pikiran. hati juga memiliki andil dalam menentukan apakah yang akan kita putuskan sesuai dengan kemauan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  9. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada elegi ini, saya mendapatkan poin-poin pemahaman dari sini. yang pertama, hendaknya kita menggunakan pengetahuan dan fikiran yang jernih dalam mengambil suatu keputusan. Janganlah kita merasa cukup atas pengetahuan yang kita peroleh, karena sesungguhnya masih banyak pengetahuan yang lebih dari itu. Pemahaman yang lain yang saya dapatkan dari elegi ini mengingatkan kita agar tidak berburuk sangka kepada setiap orang yang mungkin baru saja dikenal. Terkadang tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan menilai seseorang sesuai dengan tampilan awalnya atau hanya dari sedikit keterangan/cerita dari orang di sekitar kita tanpa mengkaji lebih dalam bagaimana sebenarnya sifat orang yang sedang kita hadapi tersebut.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Seseorang yang berani menggambil keputusan artinya seseorang tersebut benar-benar memiliki ilmu yang digunakan sebagai bekal untuk mengambil keputusan.
    Ketika seseorang tidak mampu mengambil suatu keputusan maka dapat dimungkinkan seseorang tersebut memiliki ilmu yang masih dirasa kurang atau memang memiliki ilmu yang dia sendiri masih meragukannya.
    Karena yang ada di dunia ini adalah keputusan- keputusan yang harus kita ambil sebagai langkah untuk menjalani hidup ini.

    ReplyDelete