Sep 20, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:

Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia.
Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:

Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:

Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:

Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:

Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:

Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:

Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:

Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:

Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:

Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi siapakah diriku ini?

Teman lama:

Dirimu tidak lain tidak bukan adalah keputusan itu sendiri.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu siapa dirimu?

Teman lama:
Bukankah sejak awal aku telah memutuskan untuk bertemu, berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi aku tidak lain tidak bukan adalah keputusan juga.
Maka sebenar-benar kita adalah terbukti sebagai keputusan-keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan.

30 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini saya teringat dengan anak-anak dan murid murid. Terkadang saya sebagai orangtua atau guru kurang sabar menunggu anak-anak berproses dengan keputusan-keputusannya. Bahkan terkadang bahkan tidak memberi kesempatan untuk membuat keputusan. Orang dewasa terkadang terlalu banyak merasa ingin membantu, langsung menentukan sehingga tidak ada kesempatan bagi anak untuk belajar membuat keputusan.
    Saya berterimakasih, telah diingat akan hal menggapai keputusan ini, sebab pentinglah kebiasaan mengambil keputusan ini, agar mereka mampu membangun pengetahuan mereka, yang akan sangat berguna bagi mereka di kehidupan yang selanjutnya.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari ini sebenarnya kami senantiasa berhadapan dengan keadaan dan kondisi dimana kami dituntut untuk mengambil suatu keputusan. Kami juga menyadari bahwa setiap keputusan yang kami ambil selalu ada konsekuensi dan akibatnya serta kami harus bertanggung jawab dengan segala keputusan yang telaj kami ambil tersebut. Kami menyadari bahwa keputusan tersebut harus kami pertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat nanti.
    Sehingga kami pun menyadari bahwa dalam pengambilan keputusan tersebut, sebaiknya kami tidak hanya sekedar memilih saja namun harus disertai dengan pertimbangan dan pemikiran yang baik sehingga keputusan yang kami ambil merupakan keputusan yang baik dan bijaksana. Serta dalam pengambilan keputusan kami juga mampu menerapkan cara berpikir yang telah kami pelajari dalam belajar filsafat ini yaitu mampu menggunakan pengetahuan a priori dengan dan pengetahuan a posteriori dalam mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  3. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Pengetahuan bisa dibangun sebesar seratus persen hanya jika kita bisa menggabungkan antara pengetahuan a priori dan a posteriori. Pengetahuan a priori berasal dari persepsi-persepsi yang kita bangun sebelum melihatnya secara langsung dengan panca indera. Berkebalikan dengan a priori, a posteriori dibangun ketika kita terlebih dahulu melihatnya secara langsung dengan panca indera sebelum kita membangun persepsi kita sendiri.
    Pengetahuan semacam ini penting untuk dimiliki oleh para pendidik. Dimana jika kita ingin membangun pengetahuan pada peserta didik, kita harus membangunnya dari dua arah. Bukan hanya dari doktrin-doktrin atau teorema-teorema keilmuan saja, melainkan perlu didukung juga dengan pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Keputusan yang kita ambil dan pilih memiliki konsekuensi dan dampak, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Selain itu keputusan kita akan kita dipertanggungjawabkan kelak di hari perhitungan. Keputusan benar akan menuntun kepada manfaat, sementara keputusan yang salah membuat kita bertindak dzolim kepada diri sendiri dan orang lain. Pengambilan keputusan seharusnya berdasarkan ilmu dan pemikiran yang mendalam bukan berdasar atas prasangka. Untuk itu Islam melaksanakan tabayun ketika mendengar sebuah kabar agar keputusan yang diambil adalah keputusan yang bukan didasarkan prasangka melainkan juga fakta.

    ReplyDelete
  5. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk mengenal dan memahami seseorang kita bisa menggunakan dua sifat obyek pikir yaitu a priori dan aposteriori. Artinya kita bisa mengenal seseorang lewat perantara atau deskripsi orang lain, bisa juga mengenal secara tatap muka langsung. Dari keduanya kita bisa tahu karakteristik seseorang tersebut dalam rangka mencari teman yang baik maka harus selektif. Memilih teman yang baik merupakan sebuah keputusan yang harus diambil, namun tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang sebelum tahu informasi validnya.

    ReplyDelete
  6. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk mengenal dan memahami seseorang kita bisa menggunakan dua sifat obyek pikir yaitu a priori dan aposteriori. Artinya kita bisa mengenal seseorang lewat perantara atau deskripsi orang lain, bisa juga mengenal secara tatap muka langsung. Dari keduanya kita bisa tahu karakteristik seseorang tersebut dalam rangka mencari teman yang baik maka harus selektif. Memilih teman yang baik merupakan sebuah keputusan yang harus diambil, namun tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang sebelum tahu informasi validnya.

    ReplyDelete
  7. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk mengenal dan memahami seseorang kita bisa menggunakan dua sifat obyek pikir yaitu a priori dan aposteriori. Artinya kita bisa mengenal seseorang lewat perantara atau deskripsi orang lain, bisa juga mengenal secara tatap muka langsung. Dari keduanya kita bisa tahu karakteristik seseorang tersebut dalam rangka mencari teman yang baik maka harus selektif. Memilih teman yang baik merupakan sebuah keputusan yang harus diambil, namun tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang sebelum tahu informasi validnya.

    ReplyDelete
  8. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia hidup selalu dihadapkan oleh masalah-masalah. Setiap hari kita diuji. Bagaimana kita menyelasaikan masalah atau menghadapi ujian itu adalah pilihan kita. Pilihan yang kita ambil itulah keputusan kita. Ada orang yang memutuskan untuk menyerah dengan cobaan yang ia alami, namun ada juga yang memutuskan untuk bangkit dan menjadikan masalah itu sebagai pelecut semangatnya. Dalam mengambil keputusan itu sebaiknya kita tidak asal atau terburu-buru, tetapi memikirkannya dengan matang. Melihat dari pengalaman-pengalaman orang lain bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah tersebut, mempertimbangkan baik dan buruknya, kemudian baru memutuskannya. Dalam mengambil keputusan tersebut pikiran kita harus jernih (tidak prejudice). Prejudice (prasangka buruk) dapat menyebabkan tertutupnya pengetahuan kita. Sehingga jika prejudice ini menguasai pikiran kita maka setiap kita mengambil keputusan, yang terjadi adalah hal yang salah. Wallahua’lam.

    ReplyDelete
  9. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan olah Allah yaitu berupa akal dan pikiran. Sehingga kemana pun manusia akan melangkah, maka manusia tersebut pasti akan selalu berpikir akan membuat sebuah keputusan, maka dari itu manusia akan selalu bersama keputusan. Keputusan itu akan selalu ada di setiap langkah kaki, karena dengan keputusan itu manusia memilih pilihan diantara pilihan yang banyak lainnya. Sebuah Keputusan menandakan bahwa manusia itu berpikir. Berpikir dengan memilih dengan pilihan yang ada dan yang mungkin ada. Seperti yang telah Bapak katakan di dalam kelas bahwa, “ Tiadalah diri orang yang berpikir atau orang hidup itu tidak mengambil keputusan, baik keputusan sadar maupun keputusan insting”. Jika tidak memutuskan maka manusia itu tidak tahu tujuan (tersesat). Adapun dalam memilih keputusan pasti diawali dengan sebuah kesadaran.

    ReplyDelete
  10. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran dengan berpikiran jernih, artinya tidak berburuk sangka. Sehingga kesadaran yang harus ada dan dipikikan disaat pengambilan keputusan adalah efek atau hasil dari keputusan yang dipilih itu. Menghasilkan nilai positif atau negatif, itu juga menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan sebuah keputusan.

    ReplyDelete
  11. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Elegi ini membawa kita untuk memahami bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Memang dalam setiap mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah. Kadang bisa berakibat baik bagi diri sendiri dan terkadang juga bisa berakibat buruk bagi orang lain. Ilmu yang kita miliki dapat membantuk kita untuk memilih keputusan yang terbaik

    ReplyDelete
  12. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Ilmu tentang menggambil keputusan dan dalam mengambil keputusan hendaknya harus mempertimbangkan banyak hal dan tidak berat sebelah. Sebisa mungkin harus adil. Seorang yang dapat menggambil keputusan dengan tepat dan adil serta telah mempertimbangkan banyak kemuangkinan maka dapat dikatakan seorang itu merupakan orang yang berilmu.dengan ilmu dan pengalaman maka keputusan yang tepat dapat diambil.

    ReplyDelete
  13. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Tulisan ini jika dikaitkan dengan mencari ilmu, maka ada dua cara dalam mencarinya, yaitu diberitahu orang lain yang lebih mengetahui dan mencari sendiri dengan suatu proses. Pengetahuan yang didapat dari orang lain adalah pengetahuan apriori, sedangkan yang didapat dari proses diri kita sendiri adalah aposteriori. Kita butuh keduanya untuk dapat memahami ilmu itu 100 persen. Dalam mencari ilmu ada penghambat-penghambat besar yang harus kita hilangkan yatu prasangka buruk, baik prasangka buruk terhadap ilmu, terhadap yang memberi ilmu, terhadap apapun dapat menjadi suatu penghambat kita dalam mencari ilmu. Dan sebenar-benar ilmu adalah keputusan, maka jangan berharap kita berilmu jika kita tidak dapat mengambil suatu keputusan.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dalam menjalani hidup kita selalu dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan kita untuk membuat keputusan. Memutuskan bukan sekadar memilih, tetapi lebih dari itu. Dalam memutuskan sesuatu kita harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang matang dengan menggunakan pikiran dan logika kita. Dalam memutuskan sesuatu kita juga harus memiliki kemantapan hati. Agar apa yang kita putuskan dapat membawa kebaikan, dalam mengambil keputusan kita juga harus melibatkan doa dan memohon petunjuk dari Allah.

    ReplyDelete
  15. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Kehati hatian dalam mengambil keputusan adalah hal yang harus dilakukan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Segala keputusan yang dibuat dari individu maupun kelompok selalu mempunyai resika dalam pengambilanya. Jika dilakukan sendiri merupakan dari pertimbangan diri senidri, namun jika dilakukan dengan kelompok merupakan keputusan yang dimusyawarahkan untuk mencapai keputusan yang diniai paling sedikit mempunai resiko. Sikap reflektif dan visioner harus digabungkan dalam proses ini, terlebih doa dan usaha maksimal serta meminta petunjuk dari Allah adalah yang harus diutamakan. Karena Allah jalan kebaikan dan sebaik baik keputusan adalah keputusan yang diberikan oleh Allah, dengan cara yang benar dan proses yang benar untuk mendapatkan barokah dari Allah.

    ReplyDelete
  16. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Keputusan adalah hasil dari proses olah piker yang panjang, rumit, dan kompleks. Sebelum mengambil keputusan maka seorang hamba sedang melakukan olah piker dari objek yang ada dan yang mungkin ada. Mengkonstruksi antara hati, pikiran, dan tindakan sebagai cara mewujudkan keputusan. Maka ketika proses itu berjalan baik, keputusan yang diambil akan baik, sedangkan ketika proses itu tidak baik, maka keputusan yang diambil juga tidak baik.

    ReplyDelete
  17. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam pengambilan keputusan yang tepat, harus selalu melibatkan ilmu yang ada dan yang mungkin ada. Memiliki dimensi keluasan ilmu adalah keuntungan untuk mengambil keputusan yang tepat. Sejatinya kita selalu mengambil keputusan setiap harinya dalam menjalani hidup. Keputusan untuk makan ketika lapar, keputusan tidur ketika capek, maka tiap keputusan akan tepat bila disertai ilmunya

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Pengambilan keputusan merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita. Keputusan diambil bukan hanya berdasarkan pada pemikiran tanpa dasar akan tetapi berdasarkan ilmu pengetahuan juga. Sebagai orang yang berilmu, janganlah takut untuk mengambil keputusan.
    Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti dihadapkan untuk mengambil suatu keputusan. Pengambilan keputusan tersebut tidak hanya sekedar memilih saja namun harus disertai dengan pertimbangan dan pemikiran yang baik sehingga keputusan yang kita ambil nantinya adalah keputusan yang benar. Dalam pengambilan keputusan tidak hanya menggunakan pengetahuan a priori saja namun juga harus mengkombinasikan pengetahuan a priori dengan pengetahuan a posteriori

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilania Eka Andari
      17709251050
      S2 pmat c 207

      Sebagai orang yang berilmu, janganlah takut untuk mengambil keputusan. Ilmu yang luas dan dalam adalah bekal penting dalam membuat keputusan yang benar. Sehingga, kita sebagai manusia yang akan selalu dihadapkan untuk mengambil suatu keputusan harus selalu memperluas dan memperdalam wawasan atau ilmu.

      Delete
  19. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup merupakan rangkaian dari berbagai macam pilihan yang kita hadapi. Mulai dari pilihan yang dirasa sederhana sampai dengan pilihan yang dirasa menyulitkan dan berpengaruh besar untuk hidup kita selanjutnya. Disinilah peran kita untuk mengambil keputusan digunakan. Bukan hal yang mudah tentunya, mengingat selalu ada berbagai macam prasangka yang membayangi atas keputusan yang akan kita ambil. Untuk menghilangkan berbagai prasangka, kita tentunya harus memiliki hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis dan selalu berdoa meminta perlindungan atas setiap keputusan yang diambil sehingga pilihan yang kita pilih bisa menjadi pilihan yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  20. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih Prof, saya sangat setuju dnegan pernytaan teman lama yang mengatakan bahwa “Sebenar-benar ilmu adalah keputusan” begitu pula dengan matematika, kita dpaat menyelasaikan suatu permasalahan dalam matematika apabila kita tidak dapat menentukan dengan bijak cara apa yang akan kita tempuh untuk sampai pada sebuah solusi yang benar.

    ReplyDelete
  21. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia di dalam kehidupan selalu diperuntukan untuk mengambil keputusa, memilih satu dari sekian banyak pilihan lagi. Sehingga kehidupan manusia adalah mengambil keputusan. Bahkan dalam belajar pun diperlukan mengambil keputusan, jika manusia tidak melaukannya maka manusia bisa menjadi stress. Bahkan tidak memilih apapun juga sudah merupakan suatu keputusan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Assalamualaikum, wr.wb.
    Tujuan dari berpikir adalah mengambil keputusan, maka ia adalah proses berpikir yang paling tinggi. Kita dapatmengambil keputusan jika kita sudah memiliki kesadaran, dan kesadaran ini muncul dari persepsi dan logika/nalar manusia.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keputusan dari seseorang itu dapat memperlihatkan kecerdasan yang dimilikinya. Hal tersebut karena seseorang yang cerdas maka akan mempertimbangkan akibat yang akan diterimanya jika melakukan sesuatu. Oleh karenanya orang cerdas akan hati-hati alam memutuskan sesuatu. Selain itu juga dengan tenang dan menghiraukan emosinya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Seperti yang saya contohkan sebelumnya mengenai sebuah pensil dan gelas berisi air. Tetakala kita hanya melihat dengan panca indra semata, maka kita akan mendapatkan semua ilusi bahwa pensil itu tidak lurus. Tetapi tatkala kita raba, angkat dan ukur, maka kita akan mendapatkan sebuah kepastian. Ketika kita memandangan sebuah objek tanpa ada sebuah kematangan maka kita hanya mengetahui 50% semata.

    ReplyDelete
  25. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dikatakan bahwa “padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori”. Pengetahuan a priori berasal dari persepsi-persepsi yang kita bangun sebelum melihatnya secara langsung dengan panca indera. Berkebalikan dengan a priori, a posteriori dibangun ketika kita terlebih dahulu melihatnya secara langsung dengan panca indera sebelum kita membangun persepsi kita sendiri.

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi seorang hamba menggapai keputusan ini diketahui bahwa dalam mempelajari sesuatu melalui dua tahap yaitu tahap mengenal secara diberitahu dan tahap mempelajari karna memahami sendiri. keduanya itu membantu memahami bagaimana untuk mengenal lebih jauh mengetaahui apa dan bagaimana mempelajari sesuatu.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pengambilan keputusan merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita. Keputusan diambil bukan hanya berdasarkan pada pemikiran tanpa dasar akan tetapi berdasarkan ilmu pengetahuan juga. Sebagai orang yang berilmu, janganlah takut untuk mengambil keputusan. Misalkan dalam Pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung, berikan sumbangan untuk memberikan keputusan akan dibawa kemana bangsa ini.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi seoarng hamba mengambil keputusan ini menggambarkan sebuah proses tentang pilihan dalam mengambil keputusan. Dimana terkadang sebuah pilihan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang akan mengambil keputusan ini. pengetahuan yang digunakan terkadang hanya pengetahuan yang dibangung atas dasar kemampuan imajinasi dan intuisi. Terkadang karena sempitnya waktu untuk mengambil sebuah keputusan, seseorang hanya mengikuti isi hatinya, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

    ReplyDelete
  29. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Hal mendasarkan yang membedakan orang yang satu dan yang lainnya adalah keputusannya. Keputusan menyangkut pilihan-pilihan yang kita ambil, tidak hanya berupa tindakan, langkah, namun juga apa yang kita pikirkan adalah hasil dari keputusan. Dalam mengambil keputusan haruslah dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir karena setiap langkah manusia selalu dalam godaan syeitan sehingga dengan mudah keputusan dipengaruhi pemikiran negatif. Bagaimana keputusan yang diambil seseorang menggambar bagaimana dirinya. Dan sebenar-benar diri kita adalah ilmu kita. dengan demikian, jalan terbaik agar dapat berada pada keputusan yang benar adalah dengan meningkatkan kualitas ilmu dan iman kepada-Nya.

    ReplyDelete