Sep 20, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:

Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia.
Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:

Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:

Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:

Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:

Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:

Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:

Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:

Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:

Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:

Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi siapakah diriku ini?

Teman lama:

Dirimu tidak lain tidak bukan adalah keputusan itu sendiri.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu siapa dirimu?

Teman lama:
Bukankah sejak awal aku telah memutuskan untuk bertemu, berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi aku tidak lain tidak bukan adalah keputusan juga.
Maka sebenar-benar kita adalah terbukti sebagai keputusan-keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan.

77 comments:

  1. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan awal bisa didapatkan melalui dua cara yaitu dengan informasi dari orang lain dan dari kita melihat sendiri. Ketika keduanya digabungkan maka kita mendapatkan pengetahuan awal yang valid, karena tidak hanya berdasarkan informasi dari orang lain yang nantinya dapat menyebabkan prasangka buruk, tetapi kita juga membuktikan sendiri informasi yang diberikan oleh orang lain itu dengan panca indera kita.

    ReplyDelete
  2. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Membangun pengetahuan bagi siswa juga seperti yang dijelaskan dalam elegi di atas, guru akan memberikan penjelasan awal tentang materi yang akan dipelajari. Penjelasan yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan siswa, sehingga siswa dapat berlogika dengan hal tersebut. Kemudian siswa membuktikan sendiri dengan melakukan kegiatan mengamati (dalam metode saintifik), menanya dan seterusnya. Dari kegiatan tersebut siswa akan menggunakan panca inderanya sehingga dapat membangun pengetahuan yang seutuhnya.

    ReplyDelete
  3. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Memutuskan sesuatu hal memang tidak mudah, apalagi memutuskan hal yang berkaitan dengan hal yang sangat fatal. oleh karenanya memikirkannya dengan matang matang adalah solusi untuk membuat keputusan yang tepat. keputusan yang tepat dan keputusan yang bijaksana. tidak merugikan oranglain utamanya.

    ReplyDelete
  4. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Hidup adalah sebuah pilihan. Memilih diperlukan sebuah pemikiran yang matang untung mengambil keputusan. Keputusan adalah sebutan lain dari pilihan. Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada berbagai keadaan yang harus kita pilih, di situlah keputusan akan kita buat.Keputusan tidak bisa dengan a priori saja, terkadang untuk menilai orang lain seseorang tidak obyektif. Keputusan yang baik diambil secara a posteriori. Di mana kita lebih bisa menilai secara jelas. Karena keputusan yang baik adalah siap menerima keputusan yang terbaik maupun yang terburuk oleh sebab itulah sebaiknya sebelum memutuskan keputusan untuk dipikirkan terlebih dahulu.


    ReplyDelete
  5. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pengetahuan pada dasarnya ada dua pandangan yaitu a priori dan a posteriori. A priori adalah pengetahuan yang berasal dari orang lain dan kita belum pernah mengetahuinya, bersifat abstrak dan maya. Sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang dibangun dari proses penginderaan diri seseorang. Ketika pengambilan keputusan maka diperlukan a priori sekaligus a posteriori karena dalam pengambilan keputusan membutuhkan adanya pemikiran yang baik.

    ReplyDelete
  6. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas, kita jadi mengetahui bahwa setinggi-tingginya ilmu adalah bisa mengambil keputusan yang tepat. Kita jangan terburu-buru mengambil keputusan dimana kita tidak mengetahui betul ilmu tentang masalah yang dibahas. Jika kita mengambil keputusan yang kita tidak mempunyai ilmu padanya jawabannya bisa benar bisa salah. Namun lebih besar peluangnya untuk salah.

    ReplyDelete
  7. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya suka pada kalimat:
    "Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka."
    menurut saya memang benar prasangka bisa menutup kesempatan kita untuk mengetahui banyak hal.

    ReplyDelete
  8. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berbagai keputusan akan selalu diambil oleh manusia. Namun terkadang manusia tidak mau mengambil resiko dari suatu keputusan yang ia ambil. Segala sesuatu yang kita katakan dan lakukan adalah hasil dari keputusan dan apakah kita membuatnya dengan sadar atau tidak. Dalam mengambil sebuah keputusan hendaknya untuk mendekatinya dari berbagai perspektif sebanyak mungkin dan kemudian memilih tindakan yang tampaknya masuk akal dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  9. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    bagaimana mengambil keputusan sudah seharusnya difikirkan secara matang mengenai dampak dan pengaruhnya dikemudian hari. Dilarang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kita perlu meyakinkan hati, kenali dan mempertimbangkan secara baik-baik agar tidak salah dan menyesal di kemudian hari.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menggambarkan bagaimana seseorang dalam mengambil keputusan. Apa yang mempengaruhi kecenderungan kita dalam mengambil keputusan. Disebutkan di sana bahwa prasangka buruk menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kita sehingga kita kurang yakin pada keputusan yang diambil. Inilah yang sering terjadi pada manusia termasuk saya. Namun, saya pernah mendengar bahwa dalam mengambil keputusan kita harus yakin dan menjahui rasa ragu-ragu. Agama kita mengajarkan bahwa ketika kita ragu-ragu lebih baik tidak dilakukan. Kita juga diajarkan untuk selalu berpikiran yang baik, mengatakan yang baik dan meniatkan yang baik. Jauhkanlah prasangka buruk dari dalam diri kita karena itu akan merugikan kita sendiri.

    ReplyDelete
  11. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pengetahuan dibedakan menjadi dua yaitu pnegetahuan apriori dan pengetahuan a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan belum terkena indrawi manusia sedangkan a posteriori merupakan pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dan indrawi manusia. Keputusan merupakan langkah awal seseorang untuk bertindak melakukan segala sesuatu. Keputusan harus didasari oleh ilmu. Karena keputusan yang tepat dan matang berasal dari ilmu yang kuat juga, sehingga dalam mengambil keputusan diperlukan ilmu.

    ReplyDelete
  12. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya.
    Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku.
    Pengetahuan a priori sebaiknya dipelajari setelah adanya pengetahuan a posteori. Maksudnya bahwa jika ingin membelajarkan sesuatu yang abstrak maka seseorang harus terbiasa dengan deskripsi yang berdasarkan pada pengalaman. Matematika harus dimulai dengan pengetahuan a posteori kemudian baru diberikan pengetahuan yang bersifat a priori. Tetapi sering terjadi kegagalan dalam pengetahaun a posterori sehingga pondasi dasar matematika tidak kuat untuk pengetahuan yang bersifat a priori.

    ReplyDelete
  13. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Mengambil suatu keputusan merupakan salah satu hasil atau keluaran dari proses mental maupun kognitif. Pengambilan keputusan membawa seseorang dalam pemilihan suatu tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap pengambilan keputusan akan selalu menghasilkan satu pilihan akhir. Keputusan juga merupakan suatu hasil pemecahan masalah yang dihadapi seseorang memutuskan suatu hal dapat berarti menjawab suatu pertanyaan. Proses untuk mencapai atau mendapatkan jawaban dari suatu keputusan ini pastilah menggunakan ilmu. Sebab, ilmu dapat membantu seseorang dalam memberikan keputusan. Seperti apa yang Prof. tuliskan dalam elegi ini bahwa sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka seseorang dianggap berilmu jika ia sudah dapat mengambil keputusan. Salah satu cabang ilmu yang mengajarkan kita dalam mengambil keputusan adalah matematika. Oleh karena itu, sebagai makhluk-Nya sudah kewajiban kita untuk menuntut ilmu seperti dalam hadits telah disebutkan bahwa “Menuntuut ilmu itu wajib bag setiap muslim”.

    ReplyDelete
  14. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini mengenai pertemuan teman dengan teman lamanya, yang keadaannya mereka lupa ketika mereka bertemu bagaimana kejadiannya. Dari hal ini kita mendapat hikmah bahwa sejatinya manusia ini letaknya lupa. Dan mereka mulai menggunakan pengandaian – pengandaian. Dan sebenarnya inti dari elegi ini tersampaikan pula masalah a priori dan a posteriori teori Immanuel Kant. Seperti yang kita ketahui bersama melalui elegi ini dapat disampaikan filsafat dengan bahasa yang lebih akrap dengan kehidupan. A priori dan A postriori yaitu suatu ilmu dimana, a priori memiliki sifat berdasarkan apa yang ada dalam pikiran. A priori merupakan pengetahuan yang didapatkan dengan analitik, sering disebut juga analitik apriori. Kemudian dikatakan bahwa a priori adalah pengetahuan yang didapat sebelum terjadinya kejadian. Contohnya dokter yang mengetahui obat dari mentelepon pasien, bisa mengambil kesimpulan dari konsistensi. Sedangkan a postriori adalah pengetahuan yang didapatkan berdasarkan pengalaman. Dimana sifatnya adalah sintetik, sering pula disebut sintetik a postriori. Ini merupakan dua kubu yang berbeda, namun oleh Immanuel Kant di adopsi dan disimpulkan bahwa sebenar-benar ilmu atau pengetahuan adalah sintetik a priori.

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dari postingan di atas, saya berpendapat bahwa membangun kontruksi pengetahui harus dilakukan dari dua arah, yaitu a priori dan a posteori. "a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve)". Sebenar-benarnya pengetahuan adalah yang memiliki kebenaran berdasarkan pemahaman ruang dan waktu. Syarat tercapainya kebenaran tersebut adalah jika pengetahuan yang kita peroleh adalah sudah 100% (50% pengetahuan a priori dan 50% pengetahuan aposteriori). Kedua sisi pengetahuan tersebut tidak sekonyong-konyong kita putuskan sebagai pengetahuan. Kita harus melewati beberapa tahap filterisasi, yaitu prejudice. Tetapi kembali lagi, sebenar-benarnya ilmu adalah jika kita mampu mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  16. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah. Jika kita tidak mampu mengambil keputusan maka dikatakan kita tidak berilmu. Sebelum mengambil keputusan hendaknya kita berdoa, sehingga diberi petunjuk untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat untuk kita.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  17. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Menurut sepemahaman saya mengenai tulisan ini, tulisan ini menceritakan matematika yang sangat penting dalam pengambilan keputusan. Kita dikatakan berilmu apabila sudah bisa mengambil keputusan. Keputusan yang diambil juga tidak boleh asal dan terburu-buru, akan tetapi juga harus dengan pertimbangan yang matang. Apapun keputusan yang akan kita ambil harus memperhatikan akibat positif dan negatifnya. Jangan sampai kita mengambil keputusan yang kurang tepat dan menimbulkan penyesalan di akhir. Selain itu kita juga tidak boleh memberikan keputusan atau menilai sesuatu tanpa mempertimbangkan a priori dan a postriori. Semoga kita termsuk orang-orang bijak yang selalu memperhatikan a priori dan a postriori dalam mengambil keputusan. Aamiin.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  18. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang berilmu adalah orang yang mampu mengambil keputusan. Keputusan yang benar tidak lahir dengan mudah karena pemikiran manusia selalu dipengaruhi oleh prasangka. Barang siapa yang tidak berhasil membuang prasangka buruk maka ia akan melahirkan keputusan yang salah (tidak konsisten). Keputusan yang salah menggambarkan individu tersebut kurang berilmu. Semoga kita semakin terdorong untuk menuntut ilmu serta terhindar dari prasangka buruk sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat dalam kehidupan

    ReplyDelete
  19. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setinggi-tinggi pengetahuan adalah keputusan. Maka dalam mengambil keputusan harus didasari dengan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dibangun oleh priori dan a posteriori. Pengetahuan dibangun oleh logika dan pengalaman. Jadi janganlah merasa telah memiliki suatu pengetahuan jikalau hanya memperolehnya dari buku- buku tanpa pengalaman langsung. Karena dengan pengalaman lah pengetahuan yang dibangun oleh logika menjadi lengkap 100%. Karena itulah untuk mengambil keputusan tidak hanya dari buku-buku, dari teori, tetapi juga harus berdasarkan pengalaman. Janganlah mengambil keputusan yang didasari prasangka- prasangka karena itulah keputusan yang salah. Prasangka ialah musuh terbesar dalam hidup yang menjadikan kita sulit mengambil keputusan. Maka dalam mengambil keputusan haruslah dengan landasan ilmu dan kejernihan hati yang bersih dari prasangka

    ReplyDelete
  20. Nama :Wisniarti
    NIM : 17709251037
    kelas : PM B (Pascasarjana)


    Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan ini jika direfleksikan pada kegiatan belajar matematika ketika mempelajari suatu materi matematika, hendaknya kita mengenal materi itu dengan cara menemukan sendiri bagaimana memperoleh formula tertentu serta mempelajari atau menghubungkan apa yang telah diamati dengan teori-teori dari ilmuan-ilmuan lainnya. Misalnya ketika kita mempelajari luas selimut bola. Untuk lebih mengenal apa itu selimut bola, bagaimana penerapannya dalam menjawab soal-soal atau pada kehidupan nyata maka hendaknya kita dapat mempelajarinya dengan melakukan percobaan-percobaan yang nantinya akan membangun pengetahuan kita mengenai selimut bola. Kemudian barulah kita menghubungkan apa yang kita peroleh dari pengamatan dengan penjelasan-penjelasan yang terdapat pada buku-buku yang menjelaskan mengenai luas selimut bola.

    ReplyDelete
  21. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Pengambilan keputusan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mendapatkan suatu jawaban atau suatu pilihan. Dalam prosesnya, pengambilan keputusan akan dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya pengalaman, intuisi, fakta, logika dan sebagainya. Hal-hal ini memerlukan ilmu dan pengetahuan agar keputusan yang diambil tidak menyesatkan. Mengutip postingan bapak dari elegi seorang hamba mengambil keputusan, "setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan".

    ReplyDelete
  22. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Seseorag dapat mengenal orang lain dengan dua cara yaitu diperkenalkan atau bertemu secara langsung. Pengetahuan dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan lainnya yang akan menjadi logika. Keputusan seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Apabila seseorang hanya memiliki pengetahuan a priori maka baru sebesar 50% sedangkan apabila seseorang baru memiliki pengetahhuan a poseteriori hal itu juga baru 50%. Agar lengkap menjadi 100% kedua pengetahuan tersebut harus ditemukan Jadi agar seseorang dapat mengambil keputusan maka seorang itu harus memiliki ilmu.

    ReplyDelete
  23. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegiseorang hamba menggapai keputusan, dari elegi ini saya belajar bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, tidak menutup kemungkinan jika keputusan yang kita ambil saat ini akan membawa penyesalan di kemudian hari. Oleh karena itu dalam mengambil keputusan kita terlebih dahulu harus menghilangkan prasangka-prasangka agar tidak menutupi pengetahuan awal yang telah kamu miliki yang digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Selain itu, sertakanlah Allah dalam setiap pengambilan keputusan, karena Allahlah pembuat keputusan terbaik. Terima kasih.

    ReplyDelete
  24. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi seorang hamba mengambil keputusan ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini selalu ada keputusan. Hanya saja, ada keputusan yang benar dan ada keputusan yang salah. Jadi jangan salah mengambil keputusan, jangan salah berprasangka terhadap sesuatu. Sebesar-besar musuh di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Prasangka buruk akan membuat kita nantinya salah dalam mengambil keputusan. Karena jika kita telah berprasangka buruk terhadap sesuatu, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori. Maka setiap kesimpulanmu tentang sesuatu tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan fakta yang sebenarnya. Maka apapun hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah. Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan merasa berilmu jikalau kita tidak dapat mengambil suatu keputusan dengan baik. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jika kita tidak mampu mengambil keputusan. Jauhi prasangka buruk, maka Insya Allah kita akan mampu mengambil keputusan yang terbaik

    ReplyDelete
  25. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi mengambil keputusan ini menggambarkan sebuah proses tentang pilihan dalam mengambil keputusan. Dimana terkadang sebuah pilihan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang akan mengambil keputusan ini. pengetahuan yang digunakan terkadang hanya pengetahuan yang dibangung atas dasar kemampuan imajinasi dan intuisi. Terkadang karena sempitnya waktu untuk mengambil sebuah keputusan, seseorang hanya mengikuti isi hatinya, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

    ReplyDelete
  26. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Kehidupan kita penuh dengan pilihan-pilihan dimana kita harus siap dan mau untuk menentukan dan mengambil keputusan dari pilihan-pilhan tersebut. tidak mudah memang ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan keputusan yang sangat beragam, sebagai seorang manusia kita harus bijak dalam mengambil keputusan. Untuk menjadi bijak kita harus menambah pengetahuan dan ilmu. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Begitu seterusnya.

    ReplyDelete
  27. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi dia atas terdapat pernyataan “Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan”. Benar adanya bahwa setiap individu pasti pernah berada dalam posisi untuk mengambil suatu keputusan. Dan untuk menetapkan keputusan tersebut maka diperlukan ilmu. Ada dua sumber pengetahuan di dalam filsafat yaitu a priori dan a posteriori. Pengetahuan yang bersifat abstrak dan maya disebut dengan a priori, dimana jika diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsinya, sementara kita belum pernah melihat, itulah yang disebut sebagai a priori. Sedangkan aposteriori adalah pengetahuan yang besifat konkret atau nyata, dimana jika pertama-tama kita melihat sesuatu dengan pancaindera, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah pengetahuan yang bersifat a posteriori. Untuk menggapai suatau keputusan dengan mendayagunakan a priori dan a posteriori diharapkan dapat memusnahkan prejudice. Musuh terbesar dari mengambil suatu keputusan adalah prejudice atau prasangka. Karena dengan prasangka akan menjadikan keputusan yang kita ambil malah menjadi tidak benar. Oleh karena itu jika berada dalam posisi untuk memutuskan sesuatu, maka putuskanlah dnegan bijak, menggunakan a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  28. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan dalam elegi kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam ilmu matematika, pengetahuan a priori itu sangat diperlukan untuk mendukung teori-teori yang akakn dibentuk atau yang telah dibentuk sebelumnya. sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan a priori atau a posteriori keduanya sama-sama penting, tergantung dari situasi, kondisi dan konteks yang sedang di bahas.

    ReplyDelete
  29. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Berdasarkan elegi di atas bahwa sebenar-benar mahluk adalah keputusan dan kemampuan mengambil keputusan merupakan tanda bahwa seorang mahluk memiliki ilmu. Keputusan akan baik apabila diambil dari ilmu yang berasal dari perpaduan pengetahuan a priori dan a posteriori. A priori ialah memahami sesuatu walaupun belum mengalaminya sedangkan a posteriori ialah memahami sesuatu setelah mengalaminya. Sehingga, sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang telah dibekali akal pikiran marilah kita memadukan logika yang kita miliki (a priori) dan sintetik (a posteriori) dalam mengambil keputusan bagi kehidupan kita.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    “Keputusan” merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi di dengar. Di dalam hidup ini semua aktivitas yang dilakukan pasti tidak pernah lepas dari keputusan. Berdasarkan pemahaman yang saya baca bahwa pengetahuan itu sebenar-benarnya merupakan a priori dan a posteriori. Keduanya saling melengkapi. Puncak dari pengetahuan a priori dan a posteriori adalah keputusan. Keputusan yang menentukan pengetahuan seseorang. Dalam menggapai keputusan akan suatu hal tidaklah mudah karena keputusan harus dapat mewakili sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada tentang suatu hal. Sehingga dalam kehidupan kita harus belajar dan terus belajar agar dapat menggapai keputusan.

    ReplyDelete
  31. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Dari artikel di atas saya jadi memahami karakteristik pengetahuan priori dan posteriori. Saya meng-highlight pernyataan sang teman lama yaitu "Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan."
    Benar sekali bahwa hidup adalah memilih atau mengambil keputusan. Begitu banyak rangkaian pilihan yang berdiri di depan kita dan adalah kewajiban kita untuk memutuskan pilihan-pilihan tersebut. Maka pilihlah keputusan dengan ilmu. Bahkan dalam matematika saja, kita mempelajari logika matematika dengan menggunakan penalaran induktif maupun deduktif, satu diantara indikator lainnya yaitu mengambil keputusan dengan tepat

    ReplyDelete
  32. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Keputusan dapat dilakukan dengan baik setelah mengkaji baik a priori (dari berbagai sumber, informasi, literature dan lain-lain) dan a posteriori (dengan melihat atau mendengar langsung). Keduanya baik a priori maupun a posteriori, sama-sama 50% dan 50%, dalam mempengaruhi kita untuk memustuskan sesuatu. Namun terkadang terdapat gangguan besar yaitu prasangka, yang secara mengerikan meniadakan pertimbangan-pertimbangan lewat a priori maupun a posteriori. Jika prasangka buruk sudah tertanam, maka keputusan buruklah yang akan muncul.

    ReplyDelete
  33. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elegi seorang hamba menggapai keputusan mengajarkan kami bahwa keputusans eseorang akan suatu hal merupakan cerminan dari dirinya, cerminan dari segala tentang dirinya, pula cerminan dari ilmu yang dimilikinya. Bukan berarti orang yang berpendidikan tinggi selalu membuat keputusan yang benar dan orang yang pendidikannya biasa selalu mengambil keputusan yang salah. Namun, hal ini lebih menekankan pada seseorang yang memiliki pengetahuan dapat menjadi dasar dan pertimbangan pengambulan keputusan yang tepat. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  34. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sungguh indah sekali bisa bertemu dengan kawan lama, bisa saling bercerita-cerita kembali, dan tentunya memperpanjang umur juga karena terus menjalin silaturahmi. Tetapi ternyata disebalik sebelum mengenal satu sama lain (proses awal perkenalan) adalah sebuah filsafat. Dimana proses tersebut terdapat dua macam, jika mengenal berawal dari deskripsi orang perantara dan sebelumnya belum pernah mengenal, maka itulah pengetahuan a priori, dan jika mengenal langsung bertemu dengan orangnya dan sebelumnya belum pernah saling mengenal maka itulah sebenar-benar pengetahuan a posteriori. Kedua pengetahuan tersebut adalah sebenar-benar keputusan diriku, dan keputusan itulah setinggi-tinggi ilmu.

    ReplyDelete
  35. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih sekali Prof, bacaan ini sangat inspiratif. Setelah membaca ulasan ini saya menjadi memikirkan suatu keputusan yang memang benar-benar harus diambil. Namun, keputusan ini menurut saya belum begitu mudah untuk diputuskan mengingat waktu yang akan saya jalani untuk kehidupan tersebut berlaku seumur hidup. Saya menjadi teringat saat pertemuan minggu lalu, Bapak mengatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil keputusan. Tidak seperti biasanya diri saya sangat sulit mengambil keputusan, apalagi untuk urusan yang satu ini. Selama ini saya memutuskan suatu hal berdasarkan pada hal-hal yang memang saya suka. Bagi saya saat melakukan hal-hal yang memang saya sukai, saya tidak terbebani dalam menjalaninya. Saya ingin bertanya kepada Bapak, bagaimana membuat kesiapan diri menjadi optimal dalam pengambilan keputusan yang berorientasi pada jangka panjang? Terima kasih sebelumnya Pak.

    ReplyDelete
  36. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menggapai keputusan yang tepat memang relatif sulit sebab memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Dalam islam, kita dianjurkan berikhtiar dan bertawakkal (bersabar), sebab kita meyakini bahwa Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran akan membawa kita pada ketenangan hati. Dengan hati yang tenang dan fikiran yang jernih tentunya akan memudahkan kita dalam mengambil keputusan yang tepat.

    ReplyDelete
  37. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Setiap apa yang terjadi didalam hidup, itu adalah keputusan yang diambil. Tetapi keputusan yang diambil terkadang berbeda-beda, ada yang mengambil keputusan dengan tidak tepat, ada yang dapat mengambil keputusan secara tepat dan ada juga yang susah dalam mengambil keputusan. Maka orang-orang yang berilmu atau orang-oarang cerdas adalah orang-orang yang dapat mengambil keputusan dengn tepat dan didasarkan atas pertimbangan yang matang.

    ReplyDelete
  38. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Keputusan adalah yang membangun seorang manusia, manusia tidak lain dan tidak bukan adalah keputusan yang ia buat. Untuk memahami serang lain ada dua cara secara a priori dan secara apostriori. Bahwa secara apriori hanya mengenal setengah saja dan apostriori hanyalah setengah saja, maka sebenar-benarnya mengenal adalah secara apriori sekaligus apostriori. Ada penghalang dalam mengenal sesorang mahluk hitam kebencian, diantaranya iri, dengki, benci, jijik, memandang rendah, marah, rendah diri dan lain alin. Maka sebenar-benarnya mengenal melalui kebencian hanya akan ada kejelekan orang lain yang akan tampil. Semoga kita selau dilindung dari sifat- sifat membenc. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  39. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Menurut saya, pertanyaan adalah salah satu awal dari sebuah ilmu. Maka pada saat seseorang mengusahakan jawaban dari pertanyaan tersebut, itulah proses belajar. Saat seseorang masih ragu, itu juga sebuah proses belajar. Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang muncul, sebaiknya seseorang memperhatikan a priori dan a posteriori dari objek yang ditanyakan. Dengan demikian, keragu-raguannya hilang sedikit demi sedikit dan diperolehlah sebuah keputusan jawaban dari proses pencarian jawaban tersebut yang menuju kepada sebuah kesimpulan. Seperti yang sudah ditulis pada elegi diatas, “Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan.”

    ReplyDelete
  40. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2

    Teori-teori tentang berbagai ilmu merupakan keputusan dari ilmuwan-ilmuwan. Teori-teori yg ada merupakan a priori, sehingga contoh-contohnya adalah a posteriori.
    Apabila sejak awal kita berprasangka bahwa teori dan contoh tersebut salah, maka itulah yg disebut prejudicate. Sehingga kita salah dalam mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  41. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Membaca elegi ini saya teringat dengan anak-anak dan murid murid. Terkadang saya sebagai orangtua atau guru kurang sabar menunggu anak-anak berproses dengan keputusan-keputusannya. Bahkan terkadang bahkan tidak memberi kesempatan untuk membuat keputusan. Orang dewasa terkadang terlalu banyak merasa ingin membantu, langsung menentukan sehingga tidak ada kesempatan bagi anak untuk belajar membuat keputusan.
    Saya berterimakasih, telah diingat akan hal menggapai keputusan ini, sebab pentinglah kebiasaan mengambil keputusan ini, agar mereka mampu membangun pengetahuan mereka, yang akan sangat berguna bagi mereka di kehidupan yang selanjutnya.

    ReplyDelete
  42. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari ini sebenarnya kami senantiasa berhadapan dengan keadaan dan kondisi dimana kami dituntut untuk mengambil suatu keputusan. Kami juga menyadari bahwa setiap keputusan yang kami ambil selalu ada konsekuensi dan akibatnya serta kami harus bertanggung jawab dengan segala keputusan yang telaj kami ambil tersebut. Kami menyadari bahwa keputusan tersebut harus kami pertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat nanti.
    Sehingga kami pun menyadari bahwa dalam pengambilan keputusan tersebut, sebaiknya kami tidak hanya sekedar memilih saja namun harus disertai dengan pertimbangan dan pemikiran yang baik sehingga keputusan yang kami ambil merupakan keputusan yang baik dan bijaksana. Serta dalam pengambilan keputusan kami juga mampu menerapkan cara berpikir yang telah kami pelajari dalam belajar filsafat ini yaitu mampu menggunakan pengetahuan a priori dengan dan pengetahuan a posteriori dalam mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  43. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Pengetahuan bisa dibangun sebesar seratus persen hanya jika kita bisa menggabungkan antara pengetahuan a priori dan a posteriori. Pengetahuan a priori berasal dari persepsi-persepsi yang kita bangun sebelum melihatnya secara langsung dengan panca indera. Berkebalikan dengan a priori, a posteriori dibangun ketika kita terlebih dahulu melihatnya secara langsung dengan panca indera sebelum kita membangun persepsi kita sendiri.
    Pengetahuan semacam ini penting untuk dimiliki oleh para pendidik. Dimana jika kita ingin membangun pengetahuan pada peserta didik, kita harus membangunnya dari dua arah. Bukan hanya dari doktrin-doktrin atau teorema-teorema keilmuan saja, melainkan perlu didukung juga dengan pengalaman.

    ReplyDelete
  44. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Keputusan yang kita ambil dan pilih memiliki konsekuensi dan dampak, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Selain itu keputusan kita akan kita dipertanggungjawabkan kelak di hari perhitungan. Keputusan benar akan menuntun kepada manfaat, sementara keputusan yang salah membuat kita bertindak dzolim kepada diri sendiri dan orang lain. Pengambilan keputusan seharusnya berdasarkan ilmu dan pemikiran yang mendalam bukan berdasar atas prasangka. Untuk itu Islam melaksanakan tabayun ketika mendengar sebuah kabar agar keputusan yang diambil adalah keputusan yang bukan didasarkan prasangka melainkan juga fakta.

    ReplyDelete
  45. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk mengenal dan memahami seseorang kita bisa menggunakan dua sifat obyek pikir yaitu a priori dan aposteriori. Artinya kita bisa mengenal seseorang lewat perantara atau deskripsi orang lain, bisa juga mengenal secara tatap muka langsung. Dari keduanya kita bisa tahu karakteristik seseorang tersebut dalam rangka mencari teman yang baik maka harus selektif. Memilih teman yang baik merupakan sebuah keputusan yang harus diambil, namun tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang sebelum tahu informasi validnya.

    ReplyDelete
  46. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk mengenal dan memahami seseorang kita bisa menggunakan dua sifat obyek pikir yaitu a priori dan aposteriori. Artinya kita bisa mengenal seseorang lewat perantara atau deskripsi orang lain, bisa juga mengenal secara tatap muka langsung. Dari keduanya kita bisa tahu karakteristik seseorang tersebut dalam rangka mencari teman yang baik maka harus selektif. Memilih teman yang baik merupakan sebuah keputusan yang harus diambil, namun tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang sebelum tahu informasi validnya.

    ReplyDelete
  47. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk mengenal dan memahami seseorang kita bisa menggunakan dua sifat obyek pikir yaitu a priori dan aposteriori. Artinya kita bisa mengenal seseorang lewat perantara atau deskripsi orang lain, bisa juga mengenal secara tatap muka langsung. Dari keduanya kita bisa tahu karakteristik seseorang tersebut dalam rangka mencari teman yang baik maka harus selektif. Memilih teman yang baik merupakan sebuah keputusan yang harus diambil, namun tidak boleh berprasangka buruk terhadap seseorang sebelum tahu informasi validnya.

    ReplyDelete
  48. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia hidup selalu dihadapkan oleh masalah-masalah. Setiap hari kita diuji. Bagaimana kita menyelasaikan masalah atau menghadapi ujian itu adalah pilihan kita. Pilihan yang kita ambil itulah keputusan kita. Ada orang yang memutuskan untuk menyerah dengan cobaan yang ia alami, namun ada juga yang memutuskan untuk bangkit dan menjadikan masalah itu sebagai pelecut semangatnya. Dalam mengambil keputusan itu sebaiknya kita tidak asal atau terburu-buru, tetapi memikirkannya dengan matang. Melihat dari pengalaman-pengalaman orang lain bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah tersebut, mempertimbangkan baik dan buruknya, kemudian baru memutuskannya. Dalam mengambil keputusan tersebut pikiran kita harus jernih (tidak prejudice). Prejudice (prasangka buruk) dapat menyebabkan tertutupnya pengetahuan kita. Sehingga jika prejudice ini menguasai pikiran kita maka setiap kita mengambil keputusan, yang terjadi adalah hal yang salah. Wallahua’lam.

    ReplyDelete
  49. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan olah Allah yaitu berupa akal dan pikiran. Sehingga kemana pun manusia akan melangkah, maka manusia tersebut pasti akan selalu berpikir akan membuat sebuah keputusan, maka dari itu manusia akan selalu bersama keputusan. Keputusan itu akan selalu ada di setiap langkah kaki, karena dengan keputusan itu manusia memilih pilihan diantara pilihan yang banyak lainnya. Sebuah Keputusan menandakan bahwa manusia itu berpikir. Berpikir dengan memilih dengan pilihan yang ada dan yang mungkin ada. Seperti yang telah Bapak katakan di dalam kelas bahwa, “ Tiadalah diri orang yang berpikir atau orang hidup itu tidak mengambil keputusan, baik keputusan sadar maupun keputusan insting”. Jika tidak memutuskan maka manusia itu tidak tahu tujuan (tersesat). Adapun dalam memilih keputusan pasti diawali dengan sebuah kesadaran.

    ReplyDelete
  50. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran dengan berpikiran jernih, artinya tidak berburuk sangka. Sehingga kesadaran yang harus ada dan dipikikan disaat pengambilan keputusan adalah efek atau hasil dari keputusan yang dipilih itu. Menghasilkan nilai positif atau negatif, itu juga menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan sebuah keputusan.

    ReplyDelete
  51. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Elegi ini membawa kita untuk memahami bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Memang dalam setiap mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah. Kadang bisa berakibat baik bagi diri sendiri dan terkadang juga bisa berakibat buruk bagi orang lain. Ilmu yang kita miliki dapat membantuk kita untuk memilih keputusan yang terbaik

    ReplyDelete
  52. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Ilmu tentang menggambil keputusan dan dalam mengambil keputusan hendaknya harus mempertimbangkan banyak hal dan tidak berat sebelah. Sebisa mungkin harus adil. Seorang yang dapat menggambil keputusan dengan tepat dan adil serta telah mempertimbangkan banyak kemuangkinan maka dapat dikatakan seorang itu merupakan orang yang berilmu.dengan ilmu dan pengalaman maka keputusan yang tepat dapat diambil.

    ReplyDelete
  53. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Tulisan ini jika dikaitkan dengan mencari ilmu, maka ada dua cara dalam mencarinya, yaitu diberitahu orang lain yang lebih mengetahui dan mencari sendiri dengan suatu proses. Pengetahuan yang didapat dari orang lain adalah pengetahuan apriori, sedangkan yang didapat dari proses diri kita sendiri adalah aposteriori. Kita butuh keduanya untuk dapat memahami ilmu itu 100 persen. Dalam mencari ilmu ada penghambat-penghambat besar yang harus kita hilangkan yatu prasangka buruk, baik prasangka buruk terhadap ilmu, terhadap yang memberi ilmu, terhadap apapun dapat menjadi suatu penghambat kita dalam mencari ilmu. Dan sebenar-benar ilmu adalah keputusan, maka jangan berharap kita berilmu jika kita tidak dapat mengambil suatu keputusan.

    ReplyDelete
  54. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dalam menjalani hidup kita selalu dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan kita untuk membuat keputusan. Memutuskan bukan sekadar memilih, tetapi lebih dari itu. Dalam memutuskan sesuatu kita harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang matang dengan menggunakan pikiran dan logika kita. Dalam memutuskan sesuatu kita juga harus memiliki kemantapan hati. Agar apa yang kita putuskan dapat membawa kebaikan, dalam mengambil keputusan kita juga harus melibatkan doa dan memohon petunjuk dari Allah.

    ReplyDelete
  55. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Kehati hatian dalam mengambil keputusan adalah hal yang harus dilakukan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Segala keputusan yang dibuat dari individu maupun kelompok selalu mempunyai resika dalam pengambilanya. Jika dilakukan sendiri merupakan dari pertimbangan diri senidri, namun jika dilakukan dengan kelompok merupakan keputusan yang dimusyawarahkan untuk mencapai keputusan yang diniai paling sedikit mempunai resiko. Sikap reflektif dan visioner harus digabungkan dalam proses ini, terlebih doa dan usaha maksimal serta meminta petunjuk dari Allah adalah yang harus diutamakan. Karena Allah jalan kebaikan dan sebaik baik keputusan adalah keputusan yang diberikan oleh Allah, dengan cara yang benar dan proses yang benar untuk mendapatkan barokah dari Allah.

    ReplyDelete
  56. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Keputusan adalah hasil dari proses olah piker yang panjang, rumit, dan kompleks. Sebelum mengambil keputusan maka seorang hamba sedang melakukan olah piker dari objek yang ada dan yang mungkin ada. Mengkonstruksi antara hati, pikiran, dan tindakan sebagai cara mewujudkan keputusan. Maka ketika proses itu berjalan baik, keputusan yang diambil akan baik, sedangkan ketika proses itu tidak baik, maka keputusan yang diambil juga tidak baik.

    ReplyDelete
  57. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam pengambilan keputusan yang tepat, harus selalu melibatkan ilmu yang ada dan yang mungkin ada. Memiliki dimensi keluasan ilmu adalah keuntungan untuk mengambil keputusan yang tepat. Sejatinya kita selalu mengambil keputusan setiap harinya dalam menjalani hidup. Keputusan untuk makan ketika lapar, keputusan tidur ketika capek, maka tiap keputusan akan tepat bila disertai ilmunya

    ReplyDelete
  58. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Pengambilan keputusan merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita. Keputusan diambil bukan hanya berdasarkan pada pemikiran tanpa dasar akan tetapi berdasarkan ilmu pengetahuan juga. Sebagai orang yang berilmu, janganlah takut untuk mengambil keputusan.
    Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti dihadapkan untuk mengambil suatu keputusan. Pengambilan keputusan tersebut tidak hanya sekedar memilih saja namun harus disertai dengan pertimbangan dan pemikiran yang baik sehingga keputusan yang kita ambil nantinya adalah keputusan yang benar. Dalam pengambilan keputusan tidak hanya menggunakan pengetahuan a priori saja namun juga harus mengkombinasikan pengetahuan a priori dengan pengetahuan a posteriori

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilania Eka Andari
      17709251050
      S2 pmat c 207

      Sebagai orang yang berilmu, janganlah takut untuk mengambil keputusan. Ilmu yang luas dan dalam adalah bekal penting dalam membuat keputusan yang benar. Sehingga, kita sebagai manusia yang akan selalu dihadapkan untuk mengambil suatu keputusan harus selalu memperluas dan memperdalam wawasan atau ilmu.

      Delete
  59. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup merupakan rangkaian dari berbagai macam pilihan yang kita hadapi. Mulai dari pilihan yang dirasa sederhana sampai dengan pilihan yang dirasa menyulitkan dan berpengaruh besar untuk hidup kita selanjutnya. Disinilah peran kita untuk mengambil keputusan digunakan. Bukan hal yang mudah tentunya, mengingat selalu ada berbagai macam prasangka yang membayangi atas keputusan yang akan kita ambil. Untuk menghilangkan berbagai prasangka, kita tentunya harus memiliki hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis dan selalu berdoa meminta perlindungan atas setiap keputusan yang diambil sehingga pilihan yang kita pilih bisa menjadi pilihan yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  60. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih Prof, saya sangat setuju dnegan pernytaan teman lama yang mengatakan bahwa “Sebenar-benar ilmu adalah keputusan” begitu pula dengan matematika, kita dpaat menyelasaikan suatu permasalahan dalam matematika apabila kita tidak dapat menentukan dengan bijak cara apa yang akan kita tempuh untuk sampai pada sebuah solusi yang benar.

    ReplyDelete
  61. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia di dalam kehidupan selalu diperuntukan untuk mengambil keputusa, memilih satu dari sekian banyak pilihan lagi. Sehingga kehidupan manusia adalah mengambil keputusan. Bahkan dalam belajar pun diperlukan mengambil keputusan, jika manusia tidak melaukannya maka manusia bisa menjadi stress. Bahkan tidak memilih apapun juga sudah merupakan suatu keputusan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  62. Assalamualaikum, wr.wb.
    Tujuan dari berpikir adalah mengambil keputusan, maka ia adalah proses berpikir yang paling tinggi. Kita dapatmengambil keputusan jika kita sudah memiliki kesadaran, dan kesadaran ini muncul dari persepsi dan logika/nalar manusia.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  63. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keputusan dari seseorang itu dapat memperlihatkan kecerdasan yang dimilikinya. Hal tersebut karena seseorang yang cerdas maka akan mempertimbangkan akibat yang akan diterimanya jika melakukan sesuatu. Oleh karenanya orang cerdas akan hati-hati alam memutuskan sesuatu. Selain itu juga dengan tenang dan menghiraukan emosinya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  64. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Seperti yang saya contohkan sebelumnya mengenai sebuah pensil dan gelas berisi air. Tetakala kita hanya melihat dengan panca indra semata, maka kita akan mendapatkan semua ilusi bahwa pensil itu tidak lurus. Tetapi tatkala kita raba, angkat dan ukur, maka kita akan mendapatkan sebuah kepastian. Ketika kita memandangan sebuah objek tanpa ada sebuah kematangan maka kita hanya mengetahui 50% semata.

    ReplyDelete
  65. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dikatakan bahwa “padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori”. Pengetahuan a priori berasal dari persepsi-persepsi yang kita bangun sebelum melihatnya secara langsung dengan panca indera. Berkebalikan dengan a priori, a posteriori dibangun ketika kita terlebih dahulu melihatnya secara langsung dengan panca indera sebelum kita membangun persepsi kita sendiri.

    ReplyDelete
  66. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi seorang hamba menggapai keputusan ini diketahui bahwa dalam mempelajari sesuatu melalui dua tahap yaitu tahap mengenal secara diberitahu dan tahap mempelajari karna memahami sendiri. keduanya itu membantu memahami bagaimana untuk mengenal lebih jauh mengetaahui apa dan bagaimana mempelajari sesuatu.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  67. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pengambilan keputusan merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita. Keputusan diambil bukan hanya berdasarkan pada pemikiran tanpa dasar akan tetapi berdasarkan ilmu pengetahuan juga. Sebagai orang yang berilmu, janganlah takut untuk mengambil keputusan. Misalkan dalam Pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung, berikan sumbangan untuk memberikan keputusan akan dibawa kemana bangsa ini.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  68. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi seoarng hamba mengambil keputusan ini menggambarkan sebuah proses tentang pilihan dalam mengambil keputusan. Dimana terkadang sebuah pilihan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang akan mengambil keputusan ini. pengetahuan yang digunakan terkadang hanya pengetahuan yang dibangung atas dasar kemampuan imajinasi dan intuisi. Terkadang karena sempitnya waktu untuk mengambil sebuah keputusan, seseorang hanya mengikuti isi hatinya, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

    ReplyDelete
  69. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Hal mendasarkan yang membedakan orang yang satu dan yang lainnya adalah keputusannya. Keputusan menyangkut pilihan-pilihan yang kita ambil, tidak hanya berupa tindakan, langkah, namun juga apa yang kita pikirkan adalah hasil dari keputusan. Dalam mengambil keputusan haruslah dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir karena setiap langkah manusia selalu dalam godaan syeitan sehingga dengan mudah keputusan dipengaruhi pemikiran negatif. Bagaimana keputusan yang diambil seseorang menggambar bagaimana dirinya. Dan sebenar-benar diri kita adalah ilmu kita. dengan demikian, jalan terbaik agar dapat berada pada keputusan yang benar adalah dengan meningkatkan kualitas ilmu dan iman kepada-Nya.

    ReplyDelete
  70. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  71. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi ini sangat mengetuk hati saya, terimakasih Prof. Terkadang saat membimbing murid les, saya kurang memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengambil keputusan terlebih dahulu, seringkali saya merasa gemas kepada mereka karena terlalu lama memberikan keputusan dan saya terburu-buru untuk memberikan bantuan kepadanya, dan sekarang saya sadar jika dewasa kelak seorang anak sulit mengambil keputusan mungkin ada peran guru yang kurang tepat disitu, maka dari itu saya ingin merubah mindset saya untuk mengurangi hal-hal tersebut

    ReplyDelete
  72. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel berjudul Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan yang telah Bapak share kepada kami. Artikel ini sangatlah bermanfaat untuk dibaca. Yang saya peroleh selepas membaca artikel ini adalah hidup itu penuh dengan pilihan, pilihan kita adalah hidup kita. Walaupun tak jarang kita meminta pendapat orang tua, sahabat tentang baik buruknya pilihan yang kita ambil nanti, namun sejatinya pasti kita sendirilah yang tahu mana yang terbaik untuk kita, karena kitalah yang akan menjalani keputusan dari pilihn itu. Elegi ini membawa kita untuk memahami bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Memang dalam setiap mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah. Kadang bisa berakibat baik bagi diri sendiri dan terkadang juga bisa berakibat buruk bagi orang lain. Ilmu yang kita miliki dapat membantu kita untuk memilih keputusan yang terbaik. Sehingga pentinglah ilmu agar kita dapat memperoleh keputusan yang terbaik dari semua keputusan yang baik.

    ReplyDelete
  73. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Hidup sejatinya adalah mengambil keputusan. Bagaimana keberlanjutan hidup kita kelak, bergantung dengan keputusan yang kita ambil saat ini. Karenanya setiap keputusan sebaiknya berdaasrkan pemikiran yang matang. Setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Tuhan Pencipta Semesta Alam. Sebaik-baik keputusan adalah yang berdampak baik bagi hidup di dunia dan akherat. Serta dalam pengambilan keputusan menerapkan cara berpikir dalam belajar filsafat yaitu mampu menggunakan pengetahuan a priori dengan dan pengetahuan a posteriori.

    ReplyDelete
  74. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Priori dan Postereori adalah 2 hal yang kehadirannya diperlukan ketika mengambil keputusan. Dalam mengambil keputusan terdapat 50% Priori dan 50% Postereori. Priori, pernah mendengar deskripsi terkait hal-hal tersebut sebelumnya, posteriori, sudah bertemu secara langsung sehingga dapat meliha dari sudut pandang fisiknya. Jadi, ketika akan memutuskan sesuatu maka hendaknya mempertimbangkan priori dan posteriori-nya.

    ReplyDelete
  75. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dituntut untuk mengambil suatu keputusan. Setiap keputusan yang kita ambil pasti memiliki konsekuensi, entah baik maupun buruk. Keputusan yang kita ambil, haruslah didasari dengan pemikiran yang matang dan diikuti kesadaran dengan berpikir jernih tanpa adanya prasangka. Sehingga keputusan yang kita ambil akan berdampak baik bagi kita.

    ReplyDelete
  76. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Setinggi-tingginya ilmu adalah ilmu engambil keputusan. Dalam mengambil keputusan itu melibatkan dua hal yaitu a priori dan a postereori. A priori ada karena sebelumnya telah mendengar keterangan-keterangan, sedangkan a postereori ada setelah bertemu langsung dan melakukan penilaian fisik, atau sering dikenal sebaga mempersepsi. A priori maupun a postereori menyumbang masing-masing lima puluh persen dalam mengambil keputusan. Dalam matematika pun seperti itu perlu banyak keputusan yang diambil. Maka dari itu, sebagai guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil keputusan, yang mana tidak lain dan tidak bukan adalah guru memberi kesempatan siswa memunculkan a priori dan a postereori untuk mengambil keputusan.

    ReplyDelete