Sep 20, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:

Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia.
Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:

Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:

Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:

Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:

Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:

Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:

Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:

Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:

Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:

Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi siapakah diriku ini?

Teman lama:

Dirimu tidak lain tidak bukan adalah keputusan itu sendiri.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu siapa dirimu?

Teman lama:
Bukankah sejak awal aku telah memutuskan untuk bertemu, berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi aku tidak lain tidak bukan adalah keputusan juga.
Maka sebenar-benar kita adalah terbukti sebagai keputusan-keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan.

44 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam memperoleh pengetahuan terdapat dua pandangan yang saling bertentangan yaitu pengetahuan apriori dan aposteriori. Kita memiliki pengetahuan apriori apabila kita mengetahui tertapi tidak mengalami atau melihat secara langsung. Pengetahuan tersebut bersifat abstrak dan hanya ada di dalam fikiran kita, pengetahuan apriori akan terus terbentuk dengan berbagai informasi yang masuk dan kita menghubungkan informasi tersebut dalam pikiran kita, sehingga terdapat hubungan yang konsisten antara informasi yang satu dengan yang lain. Sementara itu, kita memiliki pengetahuan aposteriori apabila kita sudah mengalaminya secara langsung melalui panca indera kita, sehingga kita dapat melakukan pengamatan terhadap berbagai hal secara langsung, dan kita dapat mempersepsi apa yang kita amati tersebut, persepsi yang kita bentuk haruslah sesuai dengan keadaan dari objek yang kita amati. Dari kedua pengetahuan tersebut baik apriori maupun aposteriori. Meskipun keduanya saling bertentangan dalam membentuk pengetahuannya, tetapi keduanya saling melengkapi. Pengetahuan kita tidak akan sempurna apabila hanya mengandalkan salah satu saja dari kedua pengetahuan tersebut. Maka dari itu, berhati-hatilah kita dalam mengambil keputusan jika hanya berdasarkan salah satu dari kedua pengetahuan tersebut, karena tidak menutup kemungkinan bahwa keputusan yang kita ambil dapat mengarah kepada kesimpulan yang tidak benar

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam menentukan keputusan hendaklah dilakukan dengan bijak yang artinya tidak berat sebelah. Karena yang berat sebelah merupakan separoh dunia. Oleh karena itu disetiap pengambilan keputusan hendaknya sandarkan pikiran dan hatimu pada Alloh dengan ikhlas semata-mata mencari ridho-Nya.

    ReplyDelete
  3. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Elegi ini membawa kita untuk memahami bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Memang dalam setiap mengambil sebuah keputusan tidaklah mudah. Kadang bisa berakibat baik bagi diri sendiri dan terkadang juga bisa berakibat buruk bagi orang lain. Ilmu yang kita miliki dapat membantuk kita untuk memilih keputusan yang terbaik.

    ReplyDelete
  4. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Begitu pula dengan Allah. Kita lupa dengan perjumpaan kita sebelum lahir ke dalam dunia. Kita senantiasa lalai dan melupakannya. Namun kita masih diberi kesempatan untuk mengingatnya. Jika kita diberi stimulus ingatan tentangNya, pastilah kita akan mengingat banyak dan menjadi dekat dengannya. Bahkan Allah merasa diingat dan mendekat kepada hambanya.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014
    Banyak banyaklah mengingat allah karena Allah akan memperdulikanmy. Dengan mengingat akan terbangun perasaan dan Chemistry yang kuat antara hamba dan Allah, sehingga muncul rasa cinta dan kasih sayang.

    ReplyDelete
  6. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pengetahuan itu dibangun oleh a priori dan a posteriori. A priori adalah pengetahuan yang bersifat abstrak dan maya, berupa keterangan-keterangan. Sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang berasal dari proses penginderaan kita. Untuk membangun pengetahuan secara utuh diperlukan a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  7. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Pada saat membaca elegi ini, saya tertarik dengan dengan kalimat si teman lama bahwa, “Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan.” Saya baru paham, ternyata seperti itu. Pantaslah jika orang-orang yang mempunyai jabatan atau sebagai orang yang berpengaruh, maka sangat sering bahwa orang tersebut adalah orang berilmu. Karena berilmu lah, dia dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat dan terbaik untuk suatu masalah, sehingga dia memperoleh jabatan yang tinggi dan berpengaruh. Sebaliknya, jika seseorang terlihat berilmu, namun dia jarang mengambil keputusan atau keputusannya tidak pas untuk suatu masalah tersebut, maka keberilmuannya perlu di cek kembali. Dalam hal ini, keputusan yang dimaksud bukan hanya seputar tentang pekerjaan atau jabatan, namun dapat dimaknai lebih luas lagi. ‘jabatan’ yang saya gunakan tadi hanya sebagai contoh. Sehingga orang yang berilmu pasti berani dan sering mengambil keputusan-keputusan yang tidak sederhana dalam ia menjalani kehidupan.

    ReplyDelete
  8. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    sebenar-benar pengetahuan yang paling tinggi adalah kita dapat membuat suatu keputusan. karena dalam memutuskan suatu keputusan tentu kita akan memikirkannya secara baik-baik menggunakan akal dan pikiran. hati juga memiliki andil dalam menentukan apakah yang akan kita putuskan sesuai dengan kemauan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  9. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada elegi ini, saya mendapatkan poin-poin pemahaman dari sini. yang pertama, hendaknya kita menggunakan pengetahuan dan fikiran yang jernih dalam mengambil suatu keputusan. Janganlah kita merasa cukup atas pengetahuan yang kita peroleh, karena sesungguhnya masih banyak pengetahuan yang lebih dari itu. Pemahaman yang lain yang saya dapatkan dari elegi ini mengingatkan kita agar tidak berburuk sangka kepada setiap orang yang mungkin baru saja dikenal. Terkadang tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan menilai seseorang sesuai dengan tampilan awalnya atau hanya dari sedikit keterangan/cerita dari orang di sekitar kita tanpa mengkaji lebih dalam bagaimana sebenarnya sifat orang yang sedang kita hadapi tersebut.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Seseorang yang berani menggambil keputusan artinya seseorang tersebut benar-benar memiliki ilmu yang digunakan sebagai bekal untuk mengambil keputusan.
    Ketika seseorang tidak mampu mengambil suatu keputusan maka dapat dimungkinkan seseorang tersebut memiliki ilmu yang masih dirasa kurang atau memang memiliki ilmu yang dia sendiri masih meragukannya.
    Karena yang ada di dunia ini adalah keputusan- keputusan yang harus kita ambil sebagai langkah untuk menjalani hidup ini.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Ilmu tentang menggambil keputusan dan dalam mengambil keputusan hendaknya harus mempertimbangkan banyak hal dan tidak berat sebelah. Sebisa mungkin harus adil. Seorang yang dapat menggambil keputusan dengan tepat dan adil serta telah mempertimbangkan banyak kemuangkinan maka dapat dikatakan seorang itu merupakan orang yang berilmu.dengan ilmu dan pengalaman maka keputusan yang tepat dapat diambil.

    ReplyDelete
  12. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Pengetahuan dicapai dengan adanya keputusan dari seseorang setelah mengumpulkan informasi-informasi yang dipperlukan untuk mengenal pengetahuan tentang sesuatu. Informasi yang diperoleh itu dapat berdasarkan pengamatan, yang disebut aposteriori dan gambaran dari informasi seseorang, yang disebut a priori. Matematika murni yang adalah a priori seharusnya bebas dari inkonsistensi, dan sebagai guru, yang bertugas menyampaikan matematika murni kepada anak-anak didik , hendaknya mencermati setiap keputusan yang dibuatnya mengenai pembelajaran di kelas sehingga tidak ada ketidaksesuaian antara informasi yang diterima peserta didik dengan pengamatan mereka.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Keputusan dalah bagian dari pilihan. Bila ia memilih pilihan untuk memilih maka ia harus siap untuk mengambil keputusan berikutnya. Keputusan tersebut harus berdasarkan pertimbangan yang tepat. Pertimbangan tersebt melibatkan pengetahuan, pengalaman, ruang dan waktu, kepentingan, bahkan intuisi pun ikut berperan dalam pengambilan keputusan. Semoga kita semua tidak salah dalam mengambil keputusan dalam perjalanan menuju kesuksesan nantinya. Amin.

    ReplyDelete
  14. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat berat, karena ketika sudah mengambil keputusan maka segala macam resiko yang muncul dari keputusan kita itu mesti kita pertanggungjawabkan. Sehingga sebelum mengambil keputusan berpikirlah dengan hati dan pikiran yang jernih dan mohon kepada Allah supaya dalam mengambil keputusan kita diberikan pertolongan sehingga selalu dalam lindungan dan penjagaanNya.


    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    dalam mengambil sebuah keputusan, maka libatkan hati yang tenang dan pikiran yang jernih. karna mengambil keputusan saat dalam amarah hanya mengedepankan keegoisan semata dan itu hanya enyesatkan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  16. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia berilmu setinggi-tingginya itu tidak salah hanya saja akan salah ketika seseorang itu memiliki ilmu yang tinggi tetapi tidak dapat mengambil keputusan. Karena sejatinya manusia hidup di dunia ini pasti akan di hadapkan dengan pengampilan keputusan. Dengan ilmu yang dimiliki diharapakan dapat mempertimbangan resiko yang akan dihadapi. Selain itu agar ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari kita. Maka janganlah mengaku-aku memiliki limu yang tinggi jika tidak dapat mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  17. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengambil keputusan merupakan hal yang sulit. Keputusan-keputusan yang dibuat ite berdasarkan a priori atau pengetahuan-pengetahuan dari keterangan-keterangan tentang objek dari orang lain dan a posteriori atau pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan dari indra-indra tentang objek. Dalam dua hal tersebut, mengambil keputusan juga tergantung dengan prejudice atau pandangan pertama kita tentang objek itu, yaitu baik untuk kita atau buruk untuk kita. Sehingga dalam mengambil keputusan tetaplah berpikiran jernih dan bersandar pada sang pemilik Illahi.

    ReplyDelete
  18. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Dari dialog pertemuan dua teman lama tersebut, mungkin dapat disimpulkan bahwa mengambil keputusan akan lebih tepat jika mengenal sesuatu yang akan dikenai keputuskan tersebut dengan pengetahuan priori dan posteriori. Pengetahuan mengenal tersebut hanya akan dapat dicapai jika terbebas atau dapat melepaskan diri dari prasangka buruk-yang bisa datang jika hanya memandang dari satu sudut pandang. Artinya ketika kita mengambil keputusan harus dengan bijak, memandang dari segala sisi, baik buruk, adil dan tidaknya. Keputusan yang baik tidak akan merugikan orang lain, artinya keputusan itu benar-benar adil. Orang yang bersalah harus mendapat hukuman yang setimpal, dan orang yang benar mendapat kebaikan yang setimpal pula. Mengambil keputusan memanglah tidak mudah. Namun kita dapat berusaha meminimalisir ketidak adilan dengan memandangnya dan menganalisisnya dari segala sisi sehingga tidak berat sebelah.

    ReplyDelete
  19. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Saya merasa mungkin setiap orang mempunyai apriori nya terhadap sendiri terhadap suatu hal, bisa jadi mengenai kenangan masa lampau, ilmu matematika, bahkan juga dengan ilmu yang lainnya. Dalam menggapai suatu pengetahuan dan keputusan, setiap orang mempunyai caranya masing – masing. Dan dengan mengambil keputusan maka dapat dikatakan mempunyai ilmu. Orang yang berani mengambil keputusan berarti mempunyai ilmu atas hal yang ia putuskan. Maka dikatakan bahwa setinggi – tinggi ilmu adalah mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  20. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan awal bisa didapatkan melalui dua cara yaitu dengan informasi dari orang lain dan dari kita melihat sendiri. Ketika keduanya digabungkan maka kita mendapatkan pengetahuan awal yang valid, karena tidak hanya berdasarkan informasi dari orang lain yang nantinya dapat menyebabkan prasangka buruk, tetapi kita juga membuktikan sendiri informasi yang diberikan oleh orang lain itu dengan panca indera kita.

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Membangun pengetahuan bagi siswa juga seperti yang dijelaskan dalam elegi di atas, guru akan memberikan penjelasan awal tentang materi yang akan dipelajari. Penjelasan yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan siswa, sehingga siswa dapat berlogika dengan hal tersebut. Kemudian siswa membuktikan sendiri dengan melakukan kegiatan mengamati (dalam metode saintifik), menanya dan seterusnya. Dari kegiatan tersebut siswa akan menggunakan panca inderanya sehingga dapat membangun pengetahuan yang seutuhnya.

    ReplyDelete
  22. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Memutuskan sesuatu hal memang tidak mudah, apalagi memutuskan hal yang berkaitan dengan hal yang sangat fatal. oleh karenanya memikirkannya dengan matang matang adalah solusi untuk membuat keputusan yang tepat. keputusan yang tepat dan keputusan yang bijaksana. tidak merugikan oranglain utamanya.

    ReplyDelete
  23. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Hidup adalah sebuah pilihan. Memilih diperlukan sebuah pemikiran yang matang untung mengambil keputusan. Keputusan adalah sebutan lain dari pilihan. Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada berbagai keadaan yang harus kita pilih, di situlah keputusan akan kita buat.Keputusan tidak bisa dengan a priori saja, terkadang untuk menilai orang lain seseorang tidak obyektif. Keputusan yang baik diambil secara a posteriori. Di mana kita lebih bisa menilai secara jelas. Karena keputusan yang baik adalah siap menerima keputusan yang terbaik maupun yang terburuk oleh sebab itulah sebaiknya sebelum memutuskan keputusan untuk dipikirkan terlebih dahulu.


    ReplyDelete
  24. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pengetahuan pada dasarnya ada dua pandangan yaitu a priori dan a posteriori. A priori adalah pengetahuan yang berasal dari orang lain dan kita belum pernah mengetahuinya, bersifat abstrak dan maya. Sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang dibangun dari proses penginderaan diri seseorang. Ketika pengambilan keputusan maka diperlukan a priori sekaligus a posteriori karena dalam pengambilan keputusan membutuhkan adanya pemikiran yang baik.

    ReplyDelete
  25. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Mengambil keputusan adalah salah satu hal yang dianggap sulit bagi setiap orang. Padahal yang namanya hidup itu selalu dilewati dengan mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  26. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Seperti yang telah disampaikan pada tilisan di atas, sebenar-benarnya diri kita adalah keputusan-keputusan yang kita ambil selama hidup kita. Dan seseorang tidak bisa disebut sebagai orang yang berilmu apabila dirinya tidak bisa mengambil suatu keputusan.

    ReplyDelete
  27. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas saya belajar bahwa jangan harap kita merasa berilmu jikalau kita tidak dapat mengambil suatu keputusan. Dengan ilmu yang kita punya, kita dapat berlogika, kita dapat memilih mana yang baik dan mana yang tidak bak sehingga kita dapat memilih keputusan yang terbaik untuk kita.

    ReplyDelete
  28. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar-benarnya ilmu adalah ketika kita mampu mengambil sebuah keputusan dengan tepat. Namun untuk melakukannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, dengan tidak memberatkan pihak kanan dan pihak kiri, pihak depan dan pihak belakang, serta pihak lawan maupun pihak kawan.

    ReplyDelete
  29. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Makhluk hitam besar yang menakutkan (prasangka buruk) ialah sebuah penghalang dalam mengambil keputusan. Prasangka buruk mampu menutup pikiran dan keberanian, sehingga yang menjadi pegangan ialah justru prasangka buruk tersebut.
    Matematika disebut ilmu tentang pengambilan keputusan. Saya sepakat dengan tulisan Bapak. Setiap menghadapi masalah matematika, setiap itu pula kita harus menentukan pilihan, keputusan. Setinggi-tinggi ilmu adalah keputusan. Maka, keputusan yang diambil ketika menyelesaikan masalah matematika ialah cerminan dari ilmu yang dimiliki.

    ReplyDelete
  30. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam menerima suatu pengetahuan baru khususnya suatu konsep dalam matematika, seorang siswa dapat melalui dua cara. Diberi tahu oleh guru atau menemukannya sendiri. Kedua cara tersebut dapat memberikan dampak yang berbeda dalam benak siswa. Ketika siswa dapat menemukannya sendiri, maka konsep itu akan lebih membekas dalam benaknya. Jika memang ada konsep yang harus diberitahukan, maka perlu membuat siswa mengetahui kegunaan secara riil dari konsep tersebut. PR kita ialah, bagaimana menciptakan situasi di kelas agar mendorong siswa dapat menemukan a priori dan a postriori.

    ReplyDelete
  31. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setiap manusia dalam hidupnya pasti akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Keputusan dari pilihan tersebut akan menentukan kehidupan kita kedepannya. Seorang yang berilmu harus mampu mengambil keputusan dalam hidupnya. Karena orang yang berilmu tentu memiliki pengetahuan yang luas dan mampu membuat pertimbangan dalam mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  32. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia yang dibekali ilmu setinggi-tingginya diharapakan dapat memberikan kemudahan dalam mengambil keputusan. dengan ilmunya, diharapakan manusia memikirkan tentang resiko pada pilihan yang disajikan sehingga nantinya akan memilih keputusan pada pilihan yang memiliki resiko paling kecil. jangan menyebut dirinya berilmu jika tidak dapat mengambil keputuan yang tepat.

    ReplyDelete
  33. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebaik-baiknya manusia dalam mengambil keputusan tetaplah Allah SWT yang akan menentukan takdir kita dan kita hanya mampu menjalaninya dan slalu berdoa agar diberikan kemudahan dalam menjalankan takdir atau keputusan tersebut.

    ReplyDelete
  34. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas adalah bahwa setinggi-tingginya ilmu adalah mengambil keputusan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah. Jika kita tidak mampu mengambil keputusan maka dikatakan kita tidak berilmu. Sebelum mengambil keputusan hendaknya kita berdoa, sehingga diberi petunjuk untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat untuk kita.

    ReplyDelete
  35. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam hidup, selalu ada saat dimana kita harus mengambil keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu dari ilmu yang dimiliki seseorang. Semakin banyak ilmu yang ia miliki, semakin tepat pula keputusan yang ia ambil.

    ReplyDelete
  36. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut berusaha dijelaskan tentang apa itu pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang didapat seseorang melalui sarana orang lain, artinya seseorang tidak memiliki pengalaman langsung dengan pengatahuan tersebut sedangkan pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang didapat seseorang melalui pengalaman langsung dari penggunaan panca indra.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  37. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Elegi diatas mengajarkan bahwasanya setinggi tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka sebaik baiknya keputusan adalah apa yang telah kita pelajari dan kita pahami. Serta elegi diatas mengajarkan bahwa untuk mengetahui sifat dan sikap seseorang adalah lebih baik dari orang itu sendiri bukan dari orang lain.

    ReplyDelete
  38. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas, kita jadi mengetahui bahwa setinggi-tingginya ilmu adalah bisa mengambil keputusan yang tepat. Kita jangan terburu-buru mengambil keputusan dimana kita tidak mengetahui betul ilmu tentang masalah yang dibahas. Jika kita mengambil keputusan yang kita tidak mempunyai ilmu padanya jawabannya bisa benar bisa salah. Namun lebih besar peluangnya untuk salah.

    ReplyDelete
  39. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya suka pada kalimat:
    "Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka."
    menurut saya memang benar prasangka bisa menutup kesempatan kita untuk mengetahui banyak hal.

    ReplyDelete
  40. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berbagai keputusan akan selalu diambil oleh manusia. Namun terkadang manusia tidak mau mengambil resiko dari suatu keputusan yang ia ambil. Segala sesuatu yang kita katakan dan lakukan adalah hasil dari keputusan dan apakah kita membuatnya dengan sadar atau tidak. Dalam mengambil sebuah keputusan hendaknya untuk mendekatinya dari berbagai perspektif sebanyak mungkin dan kemudian memilih tindakan yang tampaknya masuk akal dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  41. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    bagaimana mengambil keputusan sudah seharusnya difikirkan secara matang mengenai dampak dan pengaruhnya dikemudian hari. Dilarang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kita perlu meyakinkan hati, kenali dan mempertimbangkan secara baik-baik agar tidak salah dan menyesal di kemudian hari.

    ReplyDelete
  42. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menggambarkan bagaimana seseorang dalam mengambil keputusan. Apa yang mempengaruhi kecenderungan kita dalam mengambil keputusan. Disebutkan di sana bahwa prasangka buruk menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kita sehingga kita kurang yakin pada keputusan yang diambil. Inilah yang sering terjadi pada manusia termasuk saya. Namun, saya pernah mendengar bahwa dalam mengambil keputusan kita harus yakin dan menjahui rasa ragu-ragu. Agama kita mengajarkan bahwa ketika kita ragu-ragu lebih baik tidak dilakukan. Kita juga diajarkan untuk selalu berpikiran yang baik, mengatakan yang baik dan meniatkan yang baik. Jauhkanlah prasangka buruk dari dalam diri kita karena itu akan merugikan kita sendiri.

    ReplyDelete
  43. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pengetahuan dibedakan menjadi dua yaitu pnegetahuan apriori dan pengetahuan a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan belum terkena indrawi manusia sedangkan a posteriori merupakan pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dan indrawi manusia. Keputusan merupakan langkah awal seseorang untuk bertindak melakukan segala sesuatu. Keputusan harus didasari oleh ilmu. Karena keputusan yang tepat dan matang berasal dari ilmu yang kuat juga, sehingga dalam mengambil keputusan diperlukan ilmu.

    ReplyDelete
  44. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya.
    Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku.
    Pengetahuan a priori sebaiknya dipelajari setelah adanya pengetahuan a posteori. Maksudnya bahwa jika ingin membelajarkan sesuatu yang abstrak maka seseorang harus terbiasa dengan deskripsi yang berdasarkan pada pengalaman. Matematika harus dimulai dengan pengetahuan a posteori kemudian baru diberikan pengetahuan yang bersifat a priori. Tetapi sering terjadi kegagalan dalam pengetahaun a posterori sehingga pondasi dasar matematika tidak kuat untuk pengetahuan yang bersifat a priori.

    ReplyDelete