Sep 20, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:

Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia.
Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:

Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:

Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:

Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:

Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:

Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:

Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:

Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:

Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:

Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi siapakah diriku ini?

Teman lama:

Dirimu tidak lain tidak bukan adalah keputusan itu sendiri.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu siapa dirimu?

Teman lama:
Bukankah sejak awal aku telah memutuskan untuk bertemu, berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi aku tidak lain tidak bukan adalah keputusan juga.
Maka sebenar-benar kita adalah terbukti sebagai keputusan-keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan.

33 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas, kita jadi mengetahui bahwa setinggi-tingginya ilmu adalah bisa mengambil keputusan yang tepat. Kita jangan terburu-buru mengambil keputusan dimana kita tidak mengetahui betul ilmu tentang masalah yang dibahas. Jika kita mengambil keputusan yang kita tidak mempunyai ilmu padanya jawabannya bisa benar bisa salah. Namun lebih besar peluangnya untuk salah.

    ReplyDelete
  2. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya suka pada kalimat:
    "Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka."
    menurut saya memang benar prasangka bisa menutup kesempatan kita untuk mengetahui banyak hal.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berbagai keputusan akan selalu diambil oleh manusia. Namun terkadang manusia tidak mau mengambil resiko dari suatu keputusan yang ia ambil. Segala sesuatu yang kita katakan dan lakukan adalah hasil dari keputusan dan apakah kita membuatnya dengan sadar atau tidak. Dalam mengambil sebuah keputusan hendaknya untuk mendekatinya dari berbagai perspektif sebanyak mungkin dan kemudian memilih tindakan yang tampaknya masuk akal dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    bagaimana mengambil keputusan sudah seharusnya difikirkan secara matang mengenai dampak dan pengaruhnya dikemudian hari. Dilarang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kita perlu meyakinkan hati, kenali dan mempertimbangkan secara baik-baik agar tidak salah dan menyesal di kemudian hari.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menggambarkan bagaimana seseorang dalam mengambil keputusan. Apa yang mempengaruhi kecenderungan kita dalam mengambil keputusan. Disebutkan di sana bahwa prasangka buruk menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kita sehingga kita kurang yakin pada keputusan yang diambil. Inilah yang sering terjadi pada manusia termasuk saya. Namun, saya pernah mendengar bahwa dalam mengambil keputusan kita harus yakin dan menjahui rasa ragu-ragu. Agama kita mengajarkan bahwa ketika kita ragu-ragu lebih baik tidak dilakukan. Kita juga diajarkan untuk selalu berpikiran yang baik, mengatakan yang baik dan meniatkan yang baik. Jauhkanlah prasangka buruk dari dalam diri kita karena itu akan merugikan kita sendiri.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pengetahuan dibedakan menjadi dua yaitu pnegetahuan apriori dan pengetahuan a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan belum terkena indrawi manusia sedangkan a posteriori merupakan pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dan indrawi manusia. Keputusan merupakan langkah awal seseorang untuk bertindak melakukan segala sesuatu. Keputusan harus didasari oleh ilmu. Karena keputusan yang tepat dan matang berasal dari ilmu yang kuat juga, sehingga dalam mengambil keputusan diperlukan ilmu.

    ReplyDelete
  7. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya.
    Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku.
    Pengetahuan a priori sebaiknya dipelajari setelah adanya pengetahuan a posteori. Maksudnya bahwa jika ingin membelajarkan sesuatu yang abstrak maka seseorang harus terbiasa dengan deskripsi yang berdasarkan pada pengalaman. Matematika harus dimulai dengan pengetahuan a posteori kemudian baru diberikan pengetahuan yang bersifat a priori. Tetapi sering terjadi kegagalan dalam pengetahaun a posterori sehingga pondasi dasar matematika tidak kuat untuk pengetahuan yang bersifat a priori.

    ReplyDelete
  8. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Mengambil suatu keputusan merupakan salah satu hasil atau keluaran dari proses mental maupun kognitif. Pengambilan keputusan membawa seseorang dalam pemilihan suatu tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap pengambilan keputusan akan selalu menghasilkan satu pilihan akhir. Keputusan juga merupakan suatu hasil pemecahan masalah yang dihadapi seseorang memutuskan suatu hal dapat berarti menjawab suatu pertanyaan. Proses untuk mencapai atau mendapatkan jawaban dari suatu keputusan ini pastilah menggunakan ilmu. Sebab, ilmu dapat membantu seseorang dalam memberikan keputusan. Seperti apa yang Prof. tuliskan dalam elegi ini bahwa sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka seseorang dianggap berilmu jika ia sudah dapat mengambil keputusan. Salah satu cabang ilmu yang mengajarkan kita dalam mengambil keputusan adalah matematika. Oleh karena itu, sebagai makhluk-Nya sudah kewajiban kita untuk menuntut ilmu seperti dalam hadits telah disebutkan bahwa “Menuntuut ilmu itu wajib bag setiap muslim”.

    ReplyDelete
  9. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini mengenai pertemuan teman dengan teman lamanya, yang keadaannya mereka lupa ketika mereka bertemu bagaimana kejadiannya. Dari hal ini kita mendapat hikmah bahwa sejatinya manusia ini letaknya lupa. Dan mereka mulai menggunakan pengandaian – pengandaian. Dan sebenarnya inti dari elegi ini tersampaikan pula masalah a priori dan a posteriori teori Immanuel Kant. Seperti yang kita ketahui bersama melalui elegi ini dapat disampaikan filsafat dengan bahasa yang lebih akrap dengan kehidupan. A priori dan A postriori yaitu suatu ilmu dimana, a priori memiliki sifat berdasarkan apa yang ada dalam pikiran. A priori merupakan pengetahuan yang didapatkan dengan analitik, sering disebut juga analitik apriori. Kemudian dikatakan bahwa a priori adalah pengetahuan yang didapat sebelum terjadinya kejadian. Contohnya dokter yang mengetahui obat dari mentelepon pasien, bisa mengambil kesimpulan dari konsistensi. Sedangkan a postriori adalah pengetahuan yang didapatkan berdasarkan pengalaman. Dimana sifatnya adalah sintetik, sering pula disebut sintetik a postriori. Ini merupakan dua kubu yang berbeda, namun oleh Immanuel Kant di adopsi dan disimpulkan bahwa sebenar-benar ilmu atau pengetahuan adalah sintetik a priori.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dari postingan di atas, saya berpendapat bahwa membangun kontruksi pengetahui harus dilakukan dari dua arah, yaitu a priori dan a posteori. "a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve)". Sebenar-benarnya pengetahuan adalah yang memiliki kebenaran berdasarkan pemahaman ruang dan waktu. Syarat tercapainya kebenaran tersebut adalah jika pengetahuan yang kita peroleh adalah sudah 100% (50% pengetahuan a priori dan 50% pengetahuan aposteriori). Kedua sisi pengetahuan tersebut tidak sekonyong-konyong kita putuskan sebagai pengetahuan. Kita harus melewati beberapa tahap filterisasi, yaitu prejudice. Tetapi kembali lagi, sebenar-benarnya ilmu adalah jika kita mampu mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah. Jika kita tidak mampu mengambil keputusan maka dikatakan kita tidak berilmu. Sebelum mengambil keputusan hendaknya kita berdoa, sehingga diberi petunjuk untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat untuk kita.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  12. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Menurut sepemahaman saya mengenai tulisan ini, tulisan ini menceritakan matematika yang sangat penting dalam pengambilan keputusan. Kita dikatakan berilmu apabila sudah bisa mengambil keputusan. Keputusan yang diambil juga tidak boleh asal dan terburu-buru, akan tetapi juga harus dengan pertimbangan yang matang. Apapun keputusan yang akan kita ambil harus memperhatikan akibat positif dan negatifnya. Jangan sampai kita mengambil keputusan yang kurang tepat dan menimbulkan penyesalan di akhir. Selain itu kita juga tidak boleh memberikan keputusan atau menilai sesuatu tanpa mempertimbangkan a priori dan a postriori. Semoga kita termsuk orang-orang bijak yang selalu memperhatikan a priori dan a postriori dalam mengambil keputusan. Aamiin.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang berilmu adalah orang yang mampu mengambil keputusan. Keputusan yang benar tidak lahir dengan mudah karena pemikiran manusia selalu dipengaruhi oleh prasangka. Barang siapa yang tidak berhasil membuang prasangka buruk maka ia akan melahirkan keputusan yang salah (tidak konsisten). Keputusan yang salah menggambarkan individu tersebut kurang berilmu. Semoga kita semakin terdorong untuk menuntut ilmu serta terhindar dari prasangka buruk sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat dalam kehidupan

    ReplyDelete
  14. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setinggi-tinggi pengetahuan adalah keputusan. Maka dalam mengambil keputusan harus didasari dengan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dibangun oleh priori dan a posteriori. Pengetahuan dibangun oleh logika dan pengalaman. Jadi janganlah merasa telah memiliki suatu pengetahuan jikalau hanya memperolehnya dari buku- buku tanpa pengalaman langsung. Karena dengan pengalaman lah pengetahuan yang dibangun oleh logika menjadi lengkap 100%. Karena itulah untuk mengambil keputusan tidak hanya dari buku-buku, dari teori, tetapi juga harus berdasarkan pengalaman. Janganlah mengambil keputusan yang didasari prasangka- prasangka karena itulah keputusan yang salah. Prasangka ialah musuh terbesar dalam hidup yang menjadikan kita sulit mengambil keputusan. Maka dalam mengambil keputusan haruslah dengan landasan ilmu dan kejernihan hati yang bersih dari prasangka

    ReplyDelete
  15. Nama :Wisniarti
    NIM : 17709251037
    kelas : PM B (Pascasarjana)


    Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan ini jika direfleksikan pada kegiatan belajar matematika ketika mempelajari suatu materi matematika, hendaknya kita mengenal materi itu dengan cara menemukan sendiri bagaimana memperoleh formula tertentu serta mempelajari atau menghubungkan apa yang telah diamati dengan teori-teori dari ilmuan-ilmuan lainnya. Misalnya ketika kita mempelajari luas selimut bola. Untuk lebih mengenal apa itu selimut bola, bagaimana penerapannya dalam menjawab soal-soal atau pada kehidupan nyata maka hendaknya kita dapat mempelajarinya dengan melakukan percobaan-percobaan yang nantinya akan membangun pengetahuan kita mengenai selimut bola. Kemudian barulah kita menghubungkan apa yang kita peroleh dari pengamatan dengan penjelasan-penjelasan yang terdapat pada buku-buku yang menjelaskan mengenai luas selimut bola.

    ReplyDelete
  16. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Pengambilan keputusan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mendapatkan suatu jawaban atau suatu pilihan. Dalam prosesnya, pengambilan keputusan akan dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya pengalaman, intuisi, fakta, logika dan sebagainya. Hal-hal ini memerlukan ilmu dan pengetahuan agar keputusan yang diambil tidak menyesatkan. Mengutip postingan bapak dari elegi seorang hamba mengambil keputusan, "setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan".

    ReplyDelete
  17. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Seseorag dapat mengenal orang lain dengan dua cara yaitu diperkenalkan atau bertemu secara langsung. Pengetahuan dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan lainnya yang akan menjadi logika. Keputusan seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Apabila seseorang hanya memiliki pengetahuan a priori maka baru sebesar 50% sedangkan apabila seseorang baru memiliki pengetahhuan a poseteriori hal itu juga baru 50%. Agar lengkap menjadi 100% kedua pengetahuan tersebut harus ditemukan Jadi agar seseorang dapat mengambil keputusan maka seorang itu harus memiliki ilmu.

    ReplyDelete
  18. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegiseorang hamba menggapai keputusan, dari elegi ini saya belajar bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Mengambil keputusan bukanlah hal yang mudah, tidak menutup kemungkinan jika keputusan yang kita ambil saat ini akan membawa penyesalan di kemudian hari. Oleh karena itu dalam mengambil keputusan kita terlebih dahulu harus menghilangkan prasangka-prasangka agar tidak menutupi pengetahuan awal yang telah kamu miliki yang digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Selain itu, sertakanlah Allah dalam setiap pengambilan keputusan, karena Allahlah pembuat keputusan terbaik. Terima kasih.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Elegi seorang hamba mengambil keputusan ini mengajarkan kita bahwa dalam hidup ini selalu ada keputusan. Hanya saja, ada keputusan yang benar dan ada keputusan yang salah. Jadi jangan salah mengambil keputusan, jangan salah berprasangka terhadap sesuatu. Sebesar-besar musuh di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Prasangka buruk akan membuat kita nantinya salah dalam mengambil keputusan. Karena jika kita telah berprasangka buruk terhadap sesuatu, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori. Maka setiap kesimpulanmu tentang sesuatu tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan fakta yang sebenarnya. Maka apapun hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah. Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan merasa berilmu jikalau kita tidak dapat mengambil suatu keputusan dengan baik. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jika kita tidak mampu mengambil keputusan. Jauhi prasangka buruk, maka Insya Allah kita akan mampu mengambil keputusan yang terbaik

    ReplyDelete
  20. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi mengambil keputusan ini menggambarkan sebuah proses tentang pilihan dalam mengambil keputusan. Dimana terkadang sebuah pilihan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang akan mengambil keputusan ini. pengetahuan yang digunakan terkadang hanya pengetahuan yang dibangung atas dasar kemampuan imajinasi dan intuisi. Terkadang karena sempitnya waktu untuk mengambil sebuah keputusan, seseorang hanya mengikuti isi hatinya, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

    ReplyDelete
  21. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Kehidupan kita penuh dengan pilihan-pilihan dimana kita harus siap dan mau untuk menentukan dan mengambil keputusan dari pilihan-pilhan tersebut. tidak mudah memang ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan keputusan yang sangat beragam, sebagai seorang manusia kita harus bijak dalam mengambil keputusan. Untuk menjadi bijak kita harus menambah pengetahuan dan ilmu. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Begitu seterusnya.

    ReplyDelete
  22. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi dia atas terdapat pernyataan “Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan”. Benar adanya bahwa setiap individu pasti pernah berada dalam posisi untuk mengambil suatu keputusan. Dan untuk menetapkan keputusan tersebut maka diperlukan ilmu. Ada dua sumber pengetahuan di dalam filsafat yaitu a priori dan a posteriori. Pengetahuan yang bersifat abstrak dan maya disebut dengan a priori, dimana jika diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsinya, sementara kita belum pernah melihat, itulah yang disebut sebagai a priori. Sedangkan aposteriori adalah pengetahuan yang besifat konkret atau nyata, dimana jika pertama-tama kita melihat sesuatu dengan pancaindera, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah pengetahuan yang bersifat a posteriori. Untuk menggapai suatau keputusan dengan mendayagunakan a priori dan a posteriori diharapkan dapat memusnahkan prejudice. Musuh terbesar dari mengambil suatu keputusan adalah prejudice atau prasangka. Karena dengan prasangka akan menjadikan keputusan yang kita ambil malah menjadi tidak benar. Oleh karena itu jika berada dalam posisi untuk memutuskan sesuatu, maka putuskanlah dnegan bijak, menggunakan a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  23. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan dalam elegi kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam ilmu matematika, pengetahuan a priori itu sangat diperlukan untuk mendukung teori-teori yang akakn dibentuk atau yang telah dibentuk sebelumnya. sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan a priori atau a posteriori keduanya sama-sama penting, tergantung dari situasi, kondisi dan konteks yang sedang di bahas.

    ReplyDelete
  24. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Berdasarkan elegi di atas bahwa sebenar-benar mahluk adalah keputusan dan kemampuan mengambil keputusan merupakan tanda bahwa seorang mahluk memiliki ilmu. Keputusan akan baik apabila diambil dari ilmu yang berasal dari perpaduan pengetahuan a priori dan a posteriori. A priori ialah memahami sesuatu walaupun belum mengalaminya sedangkan a posteriori ialah memahami sesuatu setelah mengalaminya. Sehingga, sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang telah dibekali akal pikiran marilah kita memadukan logika yang kita miliki (a priori) dan sintetik (a posteriori) dalam mengambil keputusan bagi kehidupan kita.

    ReplyDelete
  25. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    “Keputusan” merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi di dengar. Di dalam hidup ini semua aktivitas yang dilakukan pasti tidak pernah lepas dari keputusan. Berdasarkan pemahaman yang saya baca bahwa pengetahuan itu sebenar-benarnya merupakan a priori dan a posteriori. Keduanya saling melengkapi. Puncak dari pengetahuan a priori dan a posteriori adalah keputusan. Keputusan yang menentukan pengetahuan seseorang. Dalam menggapai keputusan akan suatu hal tidaklah mudah karena keputusan harus dapat mewakili sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada tentang suatu hal. Sehingga dalam kehidupan kita harus belajar dan terus belajar agar dapat menggapai keputusan.

    ReplyDelete
  26. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Dari artikel di atas saya jadi memahami karakteristik pengetahuan priori dan posteriori. Saya meng-highlight pernyataan sang teman lama yaitu "Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan."
    Benar sekali bahwa hidup adalah memilih atau mengambil keputusan. Begitu banyak rangkaian pilihan yang berdiri di depan kita dan adalah kewajiban kita untuk memutuskan pilihan-pilihan tersebut. Maka pilihlah keputusan dengan ilmu. Bahkan dalam matematika saja, kita mempelajari logika matematika dengan menggunakan penalaran induktif maupun deduktif, satu diantara indikator lainnya yaitu mengambil keputusan dengan tepat

    ReplyDelete
  27. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Keputusan dapat dilakukan dengan baik setelah mengkaji baik a priori (dari berbagai sumber, informasi, literature dan lain-lain) dan a posteriori (dengan melihat atau mendengar langsung). Keduanya baik a priori maupun a posteriori, sama-sama 50% dan 50%, dalam mempengaruhi kita untuk memustuskan sesuatu. Namun terkadang terdapat gangguan besar yaitu prasangka, yang secara mengerikan meniadakan pertimbangan-pertimbangan lewat a priori maupun a posteriori. Jika prasangka buruk sudah tertanam, maka keputusan buruklah yang akan muncul.

    ReplyDelete
  28. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Elegi seorang hamba menggapai keputusan mengajarkan kami bahwa keputusans eseorang akan suatu hal merupakan cerminan dari dirinya, cerminan dari segala tentang dirinya, pula cerminan dari ilmu yang dimilikinya. Bukan berarti orang yang berpendidikan tinggi selalu membuat keputusan yang benar dan orang yang pendidikannya biasa selalu mengambil keputusan yang salah. Namun, hal ini lebih menekankan pada seseorang yang memiliki pengetahuan dapat menjadi dasar dan pertimbangan pengambulan keputusan yang tepat. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  29. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sungguh indah sekali bisa bertemu dengan kawan lama, bisa saling bercerita-cerita kembali, dan tentunya memperpanjang umur juga karena terus menjalin silaturahmi. Tetapi ternyata disebalik sebelum mengenal satu sama lain (proses awal perkenalan) adalah sebuah filsafat. Dimana proses tersebut terdapat dua macam, jika mengenal berawal dari deskripsi orang perantara dan sebelumnya belum pernah mengenal, maka itulah pengetahuan a priori, dan jika mengenal langsung bertemu dengan orangnya dan sebelumnya belum pernah saling mengenal maka itulah sebenar-benar pengetahuan a posteriori. Kedua pengetahuan tersebut adalah sebenar-benar keputusan diriku, dan keputusan itulah setinggi-tinggi ilmu.

    ReplyDelete
  30. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih sekali Prof, bacaan ini sangat inspiratif. Setelah membaca ulasan ini saya menjadi memikirkan suatu keputusan yang memang benar-benar harus diambil. Namun, keputusan ini menurut saya belum begitu mudah untuk diputuskan mengingat waktu yang akan saya jalani untuk kehidupan tersebut berlaku seumur hidup. Saya menjadi teringat saat pertemuan minggu lalu, Bapak mengatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil keputusan. Tidak seperti biasanya diri saya sangat sulit mengambil keputusan, apalagi untuk urusan yang satu ini. Selama ini saya memutuskan suatu hal berdasarkan pada hal-hal yang memang saya suka. Bagi saya saat melakukan hal-hal yang memang saya sukai, saya tidak terbebani dalam menjalaninya. Saya ingin bertanya kepada Bapak, bagaimana membuat kesiapan diri menjadi optimal dalam pengambilan keputusan yang berorientasi pada jangka panjang? Terima kasih sebelumnya Pak.

    ReplyDelete
  31. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Menggapai keputusan yang tepat memang relatif sulit sebab memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Dalam islam, kita dianjurkan berikhtiar dan bertawakkal (bersabar), sebab kita meyakini bahwa Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran akan membawa kita pada ketenangan hati. Dengan hati yang tenang dan fikiran yang jernih tentunya akan memudahkan kita dalam mengambil keputusan yang tepat.

    ReplyDelete
  32. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Setiap apa yang terjadi didalam hidup, itu adalah keputusan yang diambil. Tetapi keputusan yang diambil terkadang berbeda-beda, ada yang mengambil keputusan dengan tidak tepat, ada yang dapat mengambil keputusan secara tepat dan ada juga yang susah dalam mengambil keputusan. Maka orang-orang yang berilmu atau orang-oarang cerdas adalah orang-orang yang dapat mengambil keputusan dengn tepat dan didasarkan atas pertimbangan yang matang.

    ReplyDelete
  33. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Keputusan adalah yang membangun seorang manusia, manusia tidak lain dan tidak bukan adalah keputusan yang ia buat. Untuk memahami serang lain ada dua cara secara a priori dan secara apostriori. Bahwa secara apriori hanya mengenal setengah saja dan apostriori hanyalah setengah saja, maka sebenar-benarnya mengenal adalah secara apriori sekaligus apostriori. Ada penghalang dalam mengenal sesorang mahluk hitam kebencian, diantaranya iri, dengki, benci, jijik, memandang rendah, marah, rendah diri dan lain alin. Maka sebenar-benarnya mengenal melalui kebencian hanya akan ada kejelekan orang lain yang akan tampil. Semoga kita selau dilindung dari sifat- sifat membenc. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete