Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Karakter




Oleh Marsigit
(Di gali dari butir-butir pemikiran Krathwhol)

Kesadaran:
Ada ilmu baru dihadapanku. Aku akan menyadari ilmu ini jika ilmu ini memang bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Tetapi untuk itu aku perlu pengakuan dan dukungan orang-orang disekiratku.
Wahai ikhlas, sebetulnya aku menginginkan bertanya kepada banyak orang, tetapi mereka berada jauh dari diriku. Lagi pula mereka saling berderet-deret secara teratur ada yang paling dekat, dekat, agak dekat, agak jauh, jauh, paling jauh dan sangat jauh. Sedangkan engkau tahu bahwa orang yang paling dekat adalah dirimu. Sedangkan engkau tahu bahwa dirimu itu sebetulnya adalah ikhlasku. Maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku, karena aku tahu bahwa pertanyaanku itu adalah awal dari ilmuku.

Ikhlas:
Wahai kesadaran, engkau akan bertanya apakah kepada diriku?

Kesadaran:
Begini. Ini ada ilmu yang baru saja dikenalkan oleh dosenku. Apakah engkau bisa menerima ilmu tersebut?

Ikhlas:
Sepanjang ilmu itu adalah demi kebaikan, maka aku selalu ikhlas.

Kesadaran:
Apa yang engkau maksud sebagai kebaikan?

Ikhlas:
Kebaikan adalah membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Kesadaran:
Sepanjang yang saya ketahui, ilmu itu membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Ikhlas:
Baik kalau begitu. Setelah aku pikir-pikir, ternyata keikhlasanku itu mempunyai prasarat.

Kesadaran:
Apakah prasaratmu itu?

Ikhlas:
Aku ikhlas menerima ilmu itu jika ilmu itu memang dalam jangkauan kesadaranmu dan menjadi perhatianku.

Kesadaran:
Sejauh yang aku sadari, ilmu itu terjangkau oleh kesadaranku. Tetapi aku tidak tahu apakah ilmu itu menjadi perhatianku atau tidak.

Kesadaran dan keikhlasan secara bersama bertanya:
Wahai perhatian, apakah engkau merasa bahwa ilmu yang dikenalkan oleh dosenku itu benar-benar menjadi perhatianmu?

Perhatian:
Sesungguhnya pertanyaanmu berdua itu sungguh aneh bagi diriku. Bukankan antara kesadaran, keikhlasan dan perhatian itu sebenarnya satu kesatuan. Mengapa engkau bertanya seperti itu?

Kesadaran dan keikhlasan:
Tetapi engkau tahu bahwa kita berduapun tidak berarti apa-apa tanpa perhatian.

Perhatian:
Baiklah. Suatu ilmu atau pengetahuan baru akan menjadi perhatianku jika bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.

Kesadaran dan keikhlasan:
Kalau begitu tiadalah berbeda syarat-syaratmu itu dengan syarat-syarat kita berdua.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Kalau begitu kita bertiga berketetapan hati bahwa ilmu baru ini memang bermanfaat di dunia maupun akhirat. Marilah kita deklarasikan perihal penerimaan kita untuk memulai mempelajari ilmu itu.

Respon:
Wahai kesadaran, keikhlasan dan perhatian, mengapa engkau bertiga telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan anda bertiga untuk memulai mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Wahai respon, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh postitif juga boleh negatif, tetapi juga boleh netral.

Respon:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Begini. Kita bertiga berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tetapi kami bertiga menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh sikapmu itu. Jika sikapmu positif maka engkau adalah orang ke empat yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Respon:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari dua hal. Pertama aku adalah kesudianku. Kedua aku adalah kemauanku. Jika aku sudi tetapi aku tidak mau, apalah artinya sikapku itu. Sebaliknya jika aku mau tetapi aku tidak sudi, maka apalah juga artinya sikapku itu. Agar aku sudi maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Agar aku mau aku juga harus yakin bahwa ilmu itu juga bermanfaat bagi dunia maupun akhirat.


Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah kalau begitu syarat-syaratmu ternyata sama dengan syarat-syarat kami bertiga. Kalau begitu engkau bisa cepat bergabung dengan kami.

Respon:
Nanti dulu. Ketahuilah bahwa aku masih mempunyai satu unsur lagi. Unsurku yang ketiga adalah kepuasanku. Jadi aku harus yakin bahwa ilmu itu juga memberikan kepuasan terhadap diriku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Lalu apakah kepuasanmu itu?

Respon:
Pertama aku harus mengetahui dulu, apakah engkau bertiga mempunyai payung yang dapat melindungiku dan dua unsurku yang lain?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu itu.

Respon:
Aku enggan selalu berkata dengan masing-masing dirimu. Aku lebih suka berkata denganmu sekaligus. Jikalau aku menyebut dirimu dengan satu nama saja, maka kira-kira engkau akan menggunakan nama apa?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah, sesuai dengan sifat-sifat yang kami miliki maka nama yang paling cocok dengan diri kami bertiga adalah penerimaan. Apakah dengan jawabanku ini engkau akan segera bergabung dengan diriku?

Respon:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai satu syarat lagi. Syaratku yang satu lagi adalah bahwa agar aku mempunyai respon yang positif terhadap ilmu itu maka aku harus merasa puas terhadapnya. Aar aku merasa puas terhadapnya maka aku harus bisa berkomunikasi dengan nya. Padahal komunikasi yang aku minta adalah bahwa aku harus aktif memahaminya. Aku dengan ilmu itu harus bisa saling menterjemahkan dan diterjemahkan. Apakah engkau mampu menerima syarat-syaratku itu?

Penerimaan:
Dari sifat-sifat dan komunikasiku menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa ilmu itu mempunyai sifat-sifat seperti apa yang engkau syaratkan. Jadi silahkan engkau bersikap seperti yang telah engkau tetapkan melalui syarat-syaratmu itu.

Respon:
Baiklah kalau begitu aku bersedia bergabung dengan dirimu wahai penerimaan.

Nilai:
Wahai penerimaan dan respon, mengapa engkau berdua telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan dan respon positif anda berdua terhadap ilmu barumu itu,
tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Wahai nilai, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh menilai baik, juga boleh menilai negatif, tetapi juga boleh netral.

Nilai:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Begini. Kita berdua berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tidak hanya itu, kami juga sepakat untuk menerima dan merespon positif ilmu itu dengan syarat-syarat tambahan yang telah kami tentukan. Syarat-syarat tambahan itu antara lain bahwa kami dapat saling menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Tetapi kami berdua menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh penilaian itu terhadap ilmu itu. Jika penilaianmu positif maka engkau adalah orang ke tujuh yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Nilai:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari tiga hal. Pertama aku adalah kehendakku. Kedua aku adalah referensiku. Ketiga aku adalah komitmenku. Agar aku berkehendak menilai ilmu itu, maka aku harus mempunyai referensi. Tetapi begitu aku memutuskan untuk menilai baik ilmu itu maka seketika aku berubah menjadi komitmenku. Ketiga hal tersebut itu tidak dapat aku pisahkan. Agar aku mempunyai kehendak untuk menilai maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Aku juga harus bisa menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Artinya aku juga bersifat aktif dan tidak hanya pasif saja. Untuk itu maka aku juga memerlukan catatan-catatanmu.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Ternyata syarat-syaratmu itu sesuai juga dengan syarat-syaratku. Dan kami berdua juga bersedia memenuhi segala syarat-syarat tambahanmu. Apakah engkau bersedia bergabung dengan diriku?

Nilai:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai syarat tambahan. Syarat tambahanku adalah apakah engkau dan aku kira-kira mempunyai payung untuk berlindung bersama?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Aku tidak mengerti apa maksudmu.

Nilai:
Maksudku adalah, jika aku telah menetapkan untuk menilai positif ilmu itu, apakah aku dan engkau bisa bergabung dengan satu nama saja.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Kami sebenarnya sangat toleran terhadap dirimu. Akan memberi nama apakah engkau bagi diri kita bertiga?

Nilai:
Jika engkau berdua tidak keberatan maka kita berdua melebur saja jadi satu dan kita beri nama sebagai minat.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Nama yang bagus. Kami setuju. Jadi?

Minat:
Jadi diriku sekarang adalah penerimaan, respon dan nilai. Tetapi tiga dalam diriku itu jika dijabarkan akan terdiri dari sembilan aspek yaitu kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen.

Pengertian:
Wahai minat. Mengapa engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal minatmu untuk mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Minat:
Wahai pengertian, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh memahami ilmu itu sesuai dengan pengertianmu.

Pengertian:
Wahai minat. Sebetulnya syaratku mudah saja. Syaratku adalah asalkan engkau memang berkehendak untuk menilainya, engkau juga mempunyai referensi untuk menilainya dan engkau juga mempunyai komitmen untuk menilainya. Maka aku dengan serta merta akan membangun pengertianku terhadap ilmumu itu.

Nilai:
Ketahuilah pengertian. Sebetulnya syarat-syaratmu itu telah terkandung di dalam diriku.

Pengertian:
Baik kalau begitu. Aku telah mengerti akan ilmumu itu. Itulah sebenar-benar ilmumu dan ilmuku.
Tetapi ketahuilah bahwa pengertianku terhadap ilmumu itu ternyata tidak tunggal. Maka aku perlu mengelola pemngertian-pengertian itu. Aku perlu menggabung-ganbungkannya. Aku perlu merangkumkannya. Katakanlah bahwa aku terdiri dari konsep-konsep dan organisasi dari konsep-konsep tentang ilmu itu. Tetapi ketahuilah agar pengertianku itu bersifat komprehensif maka aku masih mempunyai permintaan terhadap dirimu.

Nilai:
Wahai pengertian, apakah permintaan tambahanmu itu?

Pengertian:
Aku mau menindaklanjuti pengertianku asal aku dan engkau menjadi satu saja yaitu sebagai sikap.

Nilai:
Nama yang bagus. Aku setuju. lalu?

Sikap:
Inilah sebenar-benar diriku yang telah menentukan sikap positif terhadap ilmuku yang baru ini. Maka sebenar-benar diriku adalah terdiri dari nilai dan pengertian.

Karakter:
Wahai sikap. Engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan sikap positifmu terhadap ilmu barumu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Sikap:
Wahai karakter, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang karaktermu. Tetapi jika engkau telah
menampakkan karaktermu itu, maka karaktermu itu harus sesuai dengan diriku. Maka tinggal pilihlah engkau itu.

Karakter:
Sebetulnya jarak antara diriku dengan dirimu sangatlah dekat. Maka aku telah melakukan kesimpulan umum. Dan dari kesimpulan umum tentang pengertianmu maka aku mulai mempunyai ciri khas keilmuan barumu itu. Lebih dari itu aku bahkan kelihatan menonjol dalam dirimu. Ilmumu itu juga semakin tampak dalam karakterku. Tidak terasa aku telah mulai berubah dikarenakan ilmu baruku ini. Perubahan diriku itulah yang kemudian aku sebut sebagai karakterisasi. Aku bersyukur telah mampu mempelajari ilmu baru sehingga telah memberikan aku karakter sesuai dengan ciri keilmuan baruku itu. Bahkan aku mulai merasakan bahwa karakterku itu mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatiku. Ternyata dengan karakterku yang baru ini aku tetap terjaga oleh hatiku. Amien.

35 comments:

  1. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam hidup, kita telah mempelajari banyak hal, kita telah dikenalkan oleh berbagai macam ilmu. Saat menghadapi ilmu yang baru, akan ada respon hebat dalam diri, yakni akan menerima ilmu jika kita meyakii bahwa ilmu tersebut membawa manfaat bagi duni dan akhirat. Pada diri juga akan menilai baik atau buruknya suatu ilmu. Hingga disadari atau tidak ilmu itulah yang mempengaruhi karakter kita masing-masing

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Ilmu itu semuanya bermanfaat. Tetapi kita harus lebih memprioritaskan ilmu agama, dengan begitu ilmu-ilmu yang lain otomatis akan terfilter oleh ilmu agama. Jika ilmu itu baik maka kita bisa menerapkannya di kehidupan kita dan mengajarkannya. Jika ilmu itu buruk (contoh: ilmu mencopet) maka dengan kita mengetahui keburukan tersebut, kita akan lebih berhati-hati lagi kedepannya. Mengetahui kesalahan itu penting, bukan untuk melakukannya namun agar kita terhindar darinya. Semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin baiklah kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan yang dilakukan. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

    ReplyDelete
  3. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Belajar suatu ilmu tidak ada salahnya, kita harus membuka pikiran dalam belajar. Hal yan baik dalam belajar adalah jadikan hati sebagai komandan dengan cara menguatkan spiritual dan jangan lupa juga untuk membaca. Akan sangat baik bila kita menguatkan spiritual contohnya adalah melalui doa, juga akan lebih bijak jika kita mempunyai bekal dengan banyak membaca.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Karakter merupakan sifat yang melekat pada diri seseorang yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi karakter seseorang yaitu lingkungan yang ada disekitarnya. Terkadang seseorang dapat berkarakter sesuai ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Diharapkan semakin tinggi ilmu yang dimilikinya semakin baik pula karakternya. Sebaiknya dalam mencari ilmu itu didasari oleh keihlasan, kesadaran dan ketekunan. Maka kita akan dengan benar-benar, fokus dan serius dalam belajar maka diharapkan dapat bermanfaat didunia maupun diakhirat.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia mempunyai karakter yang berbeda-beda dan melalui ilmu lah dalam diri manusia terbentuk karakter yang mempengaruhi sikap, kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, dan hati. Oleh karena itu, dalam menerima ilmu tidak asal dan serampangan. Kita perlu memillah-milah ilmu yang baik bagi kita.

    ReplyDelete
  6. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Karakter merupakan ciri khas yang melekat pada setiap yang ada dan mungkin ada. Karakter dimiliki oleh semua dan berbeda-beda di antara mereka. Bagi manusia karakter sangat dipengaruhi oleh apa yang ia ketahui dan pahami. Pengetahuan yang dimiliki dapat menentukan karakter seseorang karena ilmu itu sendiri juga memiliki sifat dan karakteristik. Karakter manusia ditunjukkan ketika ia besikap sehingga orang lain bisa mengetahui karakter seseorang. Selain itu, ada aspek lain yang menjadi karakter seperti kesadaran, penerimaan, perhatian, dsb.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Karakter akan membentuk pribadi manusia, yang termasuk dalam karakter antara lain ikhlas, kesadaran, perhatian, respon, dan nilai. Karakter yang dimiliki setiap orang tidak akan pernah sama. Hal ini yang memacu kita sebagai guru untuk dapat mengembangkan karakter pada diri siswa agar tidak hanya ilmu yang diperoleh siswa ketika mengikuti pembelajaran dikelas tetapi siswa mempunyai karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa kita.

    ReplyDelete
  8. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    Pendidikan Matematika A pps

    Filsafat merupakan cara kita dalam berpikir yang bersifat menyeluruh. Di dunia ini banyak tata cara bagaimana melakukan suatu hal. Seperti saat mempelajari filsafat ini, terdapat tata cara dalam mempelajari filsafat yaitu dengan menanamkan keikhlasan dan niat dalam mempelajarinya, serta dengan informasi dan teori tentang filsafat yang kuat. Kemudain dengan filsafat pola pikir pada diri akan menjadi berkembang dan luas, sehingga untuk mempelajari filsafat secara lebih dalam kita perlu mengimbangi dengan spiritual. Jadi sejauh-jauh kita befilsafat, jangan sampai meninggalkan spiritual.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menyamakan istilah karakter dengan watak, sifat, ataupun kepribadian. Padahal arti kata karakter dengan watak atau pun sifat tidaklah sama. Karakter yang dimiliki oleh seseorang pada dasarnya terbentuk melalui proses pembelajaran yang cukup panjang. Karakter manusia bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Lebih dari itu,karakter merupakan bentukan ataupun tempaan lingkungan dan juga orang-orang yang ada di sekitar lingkungan tersebut.

    ReplyDelete
  10. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Sebenar benar ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Dan untuk mencari ilmu itu perlu lah yang pertama adalah kesadaran akan pentingnya ilmu itu. yang kemudian yaitu perlunya ikhlas menuntut ilmu. Hakikat ilmu yang baik. Kebaikan adalah membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat. Syarat selanjutnya yaitu perhatian pada ilmu. Merespon dan menerima ilmu dengan baik. Dengan cara dan adab yang baik. Maka sikap yang baik yang harus disiapkan ketika menuntut ilmu itulah yang bisa dikatakan sebgai karakter. Sehingga sangat pentinglah pembelajaran dengan mendidik karakter ini. Secara umum pendidikan karakter dalam pendidikan matematika memiliki makna yaitu bagaimana mengintergrasikan pembelajaran matematika yang mengajarkan pula karakter-karakter bangsa. Sedangkan karakter apa saja yang ditumbuhkan yaitu karakter yang ada pada pancasila. Dimana karakter yang mengembangkan ketaqwaan sesuai dengan sila pertama, dll. Kemudian ada pula karakter untuk mengkomunikasikan. Jadi pembelajaran matematika bukan hanya tentang mempelajari konsep matematika saja namun juga karakter positif. Ini merupakan tugas guru untuk selanjutnya merencanakannya melalui RPP dan LKS yang dibuatnya.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Penerimaan, minat, sikap, karakter. Bermula dari satu ketetapan yang sama, sebenar-benarnya ilmu adalah yang membawa manfaat di dunia dan akhirat. Menurut saya, sungguh tidak ada yang disebut pendidikan karakter, yang ada dan tepat adalah pendidikan berkarakter. Bukankan pada postingan ini sudah disebutkan bahwa, "Perubahan diriku itulah yang kemudian aku sebut sebagai karakterisasi. Aku bersyukur telah mampu mempelajari ilmu baru sehingga telah memberikan aku karakter sesuai dengan ciri keilmuan baruku itu. Bahkan aku mulai merasakan bahwa karakterku itu mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatiku. Ternyata dengan karakterku yang baru ini aku tetap terjaga oleh hatiku". Jika saya diijinkan mengomentari kutipan yang ada pada kolom komentar saya, saya menyebutkan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menjadikan peserta didiknya berkarakter baik. Sehingga setelah mengikuti pembelajaran secara formal, tidak hanya aspek kognitif saja yang meningkat pada diri peserta didik. Melainkan sikap dan skill juga. Tidak berhenti pada transfer of knowledge, tetapi masuk pada transfer of value and skill.

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    “Elegi Menggapai Karakter” mengajarkan kita bahwa dalam menerima ilmu itu harus ikhlas. Menuntut ilmu berada di dalam jangkauan kesadaran kita dan menjadi perhatian kita. Sehingga kesadaran, keikhlasan dan perhatian itu dapat menjadi satu kesatuan.
    Aspek di dalam karakter yaitu kesadaran, penerimaan, perhatian, respon, kepuasan, penilaian dan komitmen.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Semua ilmu pada hakikatnya adalah bermanfaat namun bagaimana kemanfaatan ilmu tersebut sesuai dengan respon penggunanya. Terkadang ada seseorang yang menerima ilmu tapi memberi respon negatif yaitu dengan menerapkan ilmu tersebut kepada sesuatu yang membawa mudharat dan sebaliknya ada orang yang bila mendapatkan ilmu dapat menerapkan untuk memberi manfaat baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Orang yang memanfaatkan ilmunya dalam kebaikan akan tergambar dengan karakternya yang semakin baik. Bagaimana karakter seseorang dapat tergambar dari kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatinya.

    ReplyDelete
  14. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Ilmu apabila kita telah benar-benar memahaminya maka akan membentuk karakter kita. Sebagaimana ilmu biologi dapat membentuk karakter mencintai lingkungan. Matematika dapat membentuk karakter teliti dan logis. Maka jika suatu ilmu telah memberikan suatu karakter pada diri kita itulah yang disebut karakterisasi. Maka apabila kita telah mempelajari suatu ilmu tetapi tidak dapat membentuk karakter positif dalam diri kita maka perlu dipertanyakan apakah kita telah benar-benar memahami ilmu tersebut. Dan agar suatu ilmu dapat membentuk karakter kita, kita harus mempelajari ilmu tersebut dengan hati dan pikiran yang bersih.

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Terima kasih pak atas postingannya. Yang dapat saya ambil dari Elegi Menggapai Karakter ini adalah dalam menggapai ilmu, pertama-tama kita memerlukan kesadaran, keikhlasan, dan perhatian. Kita harus sadar bahwa ilmu itu akan bermanfaat di dunia dan akhirat. Kita harus ikhlas dalam hati dan pikiran. kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh, barulah kita dapat menerima ilmu tersebut. Penerimaan ilmu ini nantinya akan berlanjut pada respon, nilai dan sikap kita. Hal-hal ini nantinya akan terbentuk pada karakter kita. Karena dalam membentuk suatu karakter bukanlah sesuatu yang instan, melainkan memerlukan proses.

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi menggapai karakter, dari elegi ini saya belajar bahwa karakter itu dapat dibentuk dan tidak semata-mata bawaan dari lahir. Karakter akan menjadi semakin kuat seiring dengan ilmu baru yang terus kita pelajari, bahkan semakin kita berilmu maka karakter itu akan mempengaruhi dalam setiap kegiatan keseharian kita. Oleh karena itu, marilah berlomba-lomba membangun karakter positif dalam diri kita. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  17. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Kesadaran, keikhlasan, dan perhatian merupakan satu kesatuan. Suatu pengetahuan akan mendapat perhatian apabila bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Refleksi dari elegi ini adalah bahwa dengan ilmu baru yang diperoleh dapat mengubah karakter dari seseorang baik dalam kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, bahkan hatinya masing-masing. Oleh karena itu sebelum kita mencari ilmu atau mendapatkan ilmu hendaknya berdoa terlebih dahulu agar ilmu yang akan kita peroleh tersebut bermanfaat bagi kita dan akan mengarahkan kita menjadi orang yang lebih baik.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Dengan membaca elegi menggapai karakter menjadikan pengingat kepada saya bahwa dalam mempelajari ilmu yang baru itu harus didasari dengan keikhlasan sehingga ilmu itu dapat berdampak positif baik bagi sikap, ucapan, cara berpikir dan bahkan bagi hati kita.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Sesungguhnya apapun yang dilakukan haruslah yang bermanfaat untuk di dunia dan akherat. Untuk mencapai karakter yang baik, maka saya harus mempunyai kesadaran, keihlasan, perhatian untuk peduli memperjuangkan yang bermanfaat untuk dunia dan akherat. Setelah mempunyai kesadaran, keikhlasan, dan perhatian maka akan ada respon yang positif dalam hidup saya. Respon yang positif maka akan bernilai baik juga, sehingga nantinya akan ada minat yang muncul dalam diri saya. Minat jika diaplikasikan dengan baik maka, akan tercipta sikap yang baik, jika sikap kita sudah baik, maka akan ada yang namanya karakter dalam diri saya. Semua itu bersinambungan dalam kehidupan. Ketika karakter kita telah terbentuk maka kuatkan hati untuk selalu menjaga karakter.

    ReplyDelete
  20. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B Angkt 2017

    elegi diatas menyadarkan saya, ketika kita mendapatkan suatu ilmu baru maka yang kita lakukan haruslah SADAR akan kepentingan ilmu itu sendiri, lalu secara IKHLAS mempelajari ilmu tersebut. Kemudian setelah sadar dan ikhlas disitu lah awal mula ketertarikan kita pada ilmu tersebut sehingga menarik PERHATIAN kita untuk memperlajarinya. ketika perhatian kita sudah tersita maka timbulla RESPON positif untuk lebih mendalami ilmu tersebut. setelah merasa PUAS maka kita pun mendapatka NILAI positif dari mempelajari ilmu itu. maka dari semua rangkaian tersebut terciptalah kata MINAT dan membuat kita berani berSIKAP. nah dari sikap itu timbullah karakter yang sebenarnya dari dalam diri kita.
    maka benar la sikap dan karakter suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari ilmu. karena sejatinya mereka tercipta dari pemahaman kita akan ilmu tersebut. maka sebenar-benarnya ilmu adalah ilmu yang membawa kita kedalam kebaikan baik di dalam dunia maupun akhirat nanti.

    ReplyDelete
  21. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Karakter seseorang terbentuk atas dasar kesadaran, keikhlasan dan perhatian. Dengan karakter itu kita sebagai manusia mempunyai kemampuan masing-masing yang mungkin sama ataupun berlainan. Karakter itulah yang membentuk kita sebagi insan manusia. Dengan karakter yang berbeda kita sebaiknya tidak memaksakan diri agar sama, karena keberagam karakterlah yang membuat peradaban lebih beragam.

    ReplyDelete
  22. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi menggapai karakter di atas mengajarkan kita bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat diperlukan untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Maka sebenar-benar ilmu adalah ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini menandakan bahwa kita tidak hanya dituntut mencari ilmu dunia melainkan akhirat juga. Dan sebenar-benar pondasi dalam mencari ilmu adalah dengan adanya keikhlasan. Ikhlas menghantarkan kita kepada kesadaran, perhatian, respon, nilai, minat, sikap, dan pada akhirnya berujung kepada karakter. Karakter yang terbentuk merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilalui oleh seseorang terhadap dirinya baik pengaruh internal maupun eksternal. Karakter setiap orang pastinya berbeda-beda. Karakter seseorang akan berbeda jika dibandingkan setelah ia memperoleh ilmu dengan sebelum ia memperoleh ilmu. karena sebenar-benar karakter adalah ilmu yang dimiliki.

    ReplyDelete
  23. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari tulisan di atas saya mendapatkan pengetahuan baru yang selama ini sebenarnya sudah saya rasakan, tapi tidak terlalu saya perhatikan, yaitu bahwa dengan mempelajari ilmu baru, itu akan membentuk karakter kita masing-masing. saya juga merasakan hal tersebut karena sejak masuk kuliah S2 saya merasa pola pikir dan karakter saya sedikit demi sedikit berubah sesuai dengan ilmu yang ssedang saya pelajari di sini.

    ReplyDelete
  24. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini menginformasikan bahwa penerimaan ilmu oleh seorang manusia melalui beberapa tahap, yang nantinya akan membentuk karakteristik yang melekat pada diri seseorang tersebut. Ilmu baru yang ada dihadapan manusia akan diterima dulu oleh kesadarannya. Kesadaran ini akan dilihat dari keikhlasan dalam menerima dan perhatian yang tertuju pada ilmu baru tersebut. Jika ketiga komponen ini telah terlalui maka dikatakan bahwa manusia tersebut melakukan penerimaan akan ilmu baru tersebut. Penerimaan ini dilakukan melalui respon dan nilai yang terkandung pada ilmu tersebut. Respon dan nilai yang terkandung dapat positif atau pun negatif. Jika responnya positif dan nilai yang terkandung pula positif maka seseorang akan minat terhadap ilmu baru ini. Minat yang ada dan pengertian yang dimiliki seseorang akan melahirkan sikap seseorang melalui ilmu baru yang diterimaya. Sikap ini sangat dekat dengan karakter, sehingga karakter seorang tergantung ilmu baru yang diterimanya. Apabila dalam diri seseorang menerima ilmu yang bermanfaat baik bagi dunia maupun akhirat, maka karakternya baik karena seimbang pada dua hal itu.
    Seorang guru pun bertugas untuk memberikan sumbangsi bagi pengembangan karakter siswa. Sudah sepatutnya guru menjadi teladan yang baik bagi siswa untuk berkarakter baik. Guru pun sebaiknya menjadi pemberi informasi pengetahuan yang menyeimbangkan kebaikan baik bagi dunia maupun akhirat kepada siswa, sehingga tercipta pendidikan karekter yang menjadi tujuan bersama.

    ReplyDelete
  25. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Ada 5 tingkatan mencari ilmu menurut Karthwohl yaitu penerimaan, merespon, menilai, pengorganisasian nilai dan karakter. Setelah kelima tingkatan proses belajar tersebut, baru akan terbentuk karakter dari ilmu tersebut. Karakter yang terbentuk dari ilmu yang dimiliki akan mempengaruhi tingkah laku dan pemikiran seseorang. Oleh karena itu pembentukan karakter harus dilakukan dengan baik karena hal tersebut mempengaruhi seeorang dalam berpikir dan bertindak. Setiap orang pasti memiliki karakter yang berbeda-beda dan kita harus mampu menyikapinya.

    ReplyDelete
  26. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Karakter adalah sesuatu yang kompleks. Yang terjadi lewat kesadaran, keikhlasan dsn perhatian yang direspon sehingga menjadi sikap yang kemudian baru menjadi karakter. Karena itulah sulit membangun atau mengubah karakter seseorang, karena karakter tak dibangun dalam proses singkat.

    ReplyDelete
  27. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Artikel ini sangat bermakna bagi saya. Menurut pandangan saya setelah membaca artikel ini yaitu sebelum berilmu, kita harus mempersiapkan diri kita secara internal agar ilmu yang kita kejar tidak sia-sia atau bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Bahkan, bagi seorang muslim ada tiga amalan yang akan dibawa atau yang tidak putus ketika ia sudah meninggal, satu diantaranya yaitu ilmu yang bermanfaat. Bermanfaat disini adalah ilmu tidak hanya untuk diri kita sendiri tapi juga bermanfaat untuk orang banyak. Bagaimana agar ilmu yang kita kejar bermanfaat bahkan ketika kita sudah tiada? Jawabannya telah saya temukan pada artikel diatas :)
    Terima kasih sebelumnya, Pak :)

    ReplyDelete
  28. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan di atas saya begitu terkesima. Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Saya belajar dari ulasan di atas bahwa mengusahakan mempelajari suatu ilmu yang memiliki kebermanfaatan di dunia dan akhirat. Semoga setiap ilmu yang saya pelajari mampu menautkan pada hati saya pula. Saya membayangkan betapa hidupnya jiwa dan raga saya saat mampu mengkombinasikan keduanya.

    ReplyDelete
  29. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Manusia memiliki karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya, tergantung bagaimana ilmu dalam dirinya. Sikap yang ada dalam diri kita, menunjukkan bagaiamana karakter kita. Manusia yang berkarakter memiliki gambaran bagaimana cara berpikir dan bertindaknya. Karakter akan muncul setelah mempelajari berbagai ilmu-ilmu yang bermanfat dunia maupun akhirat. Dalam mempelajari ilmu-ilmu tersebut harus berlandaskan kesadaran, keikhlasan, dapat menerima, dapat merespon, kepuasan, menilai, perhatian, sikap, dan minat, maka akan terciptalah karakterisasi yang positif. Pembentukan karakter akan mempengaruhi bagaimana kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, bahkan hatinya juga.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dalam elegi menggapai karakter ini, berdasarkan pemahaman saya bahwa dalam menggapai karakter perlu upaya dan kerja keras yang dilakukan. Hal pertama adalah mulai kesadaran akan adanya ilmu, kemudian ditindaklanjuti dengan keikhlasan dalam mempelajari ilmu karena berguna untuk dunia dan akhirat. Karena merasa ikhlas maka muncul usaha untuk saling terjemah menerjemahkan sehingga muncullah respon, penerimaan, dan nilai. Respon, penerimaan,dan nilai melebur menjadi satu yaitu minat. Tidak cukup itu saja sikap dalam menerima ilmu juga merupakan hal yang penting untuk menggapai karakter. Karakter diperoleh ketika ilmu telah diterima. Karakter merupakan ciri khas seseorang setelah memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  31. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat bermanfaat pula bagi dunia dan diakhirat. Dengan keihlasan menggapai ilmu tersebut maka ilmu baru yang didapatkan akan ada manfaatnya bagi kehidupan dunia dan akhirat. Ilmu yang yang mempunyai nilai positif akan membentuk karakter positif pula pada diri seseorang.

    ReplyDelete
  32. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam karakter yang banyaknya sangat tak terhingga. Kita sebagai manusia, sebaiknya bisa memahami setiap karakter yang dimiliki oleh orang lain karena sejatinya karakter yang dimilikinya adalah kehendak Tuhan. Namun demikian, bukan berarti karakter-karakter itu melekat pada diri manusia selamanya. Setiap orang pasti memiliki karakter atau sifat yang baik dan ada yang buruk. Kita dapat mengubah karakter buruk kita menjadi karakter baik dan karakter yang sudah baik dapat terus diperbaiki agar lebih baik kemudian diistiqomahkan agar tetap melekat pada diri kita. Karena sebaik-baik manusia adalah yang senantiasa mau memperbaiki diri agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sebagai insan yang disayangi Allah SWT.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  33. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Karakter manusia sejatinya sangat beragam, ada yang memiliki tingkat kesadaran tinggi, ada yang senantiasa ikhlas dalam melakukan segala hal, penuh perhatian, respect (senantiasa memberi respon yang baik dan tepat), selalu bersyukur dan menerima apa yang telah dimiliki, ada perhatian atau peduli dengan sesama, dan masih banyak lagi yang lainya. Akan tetapi, ada juga manusia yang memiliki karakter berkebalikan dengan karakter yang telah disebutkan. Karakter buruk tersebut akan berdampak kurang baik juga terhadap pemiliknya. Agar kita dalam hidup dapat berjalan secara harmonis, maka sebaiknya kita mampu memahami karakter-karakter tersebut baik karakter dalam diri sendiri maupun karakter yang dimiliki oleh orang lain (toleransi).
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  34. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Untuk menggapai karakter yang baik harus dimulai dengan belajar dengan tekun dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Namun semua itu harus dilandasi dengan niat yang humanis. Menggapai karakter yang baik adalah bagian dari proses menjadi manusia seutuhnya.

    ReplyDelete
  35. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dalam elegi menggapi karakter ini menjelaskan bagaimana proses dalam menggapai karakter yang baik. Karakter dibangun dari berbagai ilmu. Dalam memperoleh ilmu dibutuhkan roses yang sangat panjang. Dimulai dengan kesadaran, tanpa adanya kesadaran maka tidak akan ilmu itu meresap, bagaikan angin lalu. Dari kesadaran itu butuh keikhlasan, tanpa ada keikhlasan, hanya akan menjadi beban saja dan bukan menjadi ilmu. Selin itu juga dibutuhkan perhatian, apabila kita memperhatikan, ilmu hanya akan hilang begitu saja.

    Pada dasarnya ilmu sampai sudah masuk dalam fikiran, namun butuh tindak lanjut yaitu respon, agar tidak hilang dan bermanfaat. Setelah itu butuh penilaian apakah seperti apakah nilai itu. Kemudian sikap, disikap inilah ilmu tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila sikap ini menjadi kebiasaan, maka itulah yang sebenarnya adalah karakter manusia. semoga kita selalu menjaga tindakan kita dan karakter kita. Amiii.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete