Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Karakter




Oleh Marsigit
(Di gali dari butir-butir pemikiran Krathwhol)

Kesadaran:
Ada ilmu baru dihadapanku. Aku akan menyadari ilmu ini jika ilmu ini memang bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Tetapi untuk itu aku perlu pengakuan dan dukungan orang-orang disekiratku.
Wahai ikhlas, sebetulnya aku menginginkan bertanya kepada banyak orang, tetapi mereka berada jauh dari diriku. Lagi pula mereka saling berderet-deret secara teratur ada yang paling dekat, dekat, agak dekat, agak jauh, jauh, paling jauh dan sangat jauh. Sedangkan engkau tahu bahwa orang yang paling dekat adalah dirimu. Sedangkan engkau tahu bahwa dirimu itu sebetulnya adalah ikhlasku. Maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku, karena aku tahu bahwa pertanyaanku itu adalah awal dari ilmuku.

Ikhlas:
Wahai kesadaran, engkau akan bertanya apakah kepada diriku?

Kesadaran:
Begini. Ini ada ilmu yang baru saja dikenalkan oleh dosenku. Apakah engkau bisa menerima ilmu tersebut?

Ikhlas:
Sepanjang ilmu itu adalah demi kebaikan, maka aku selalu ikhlas.

Kesadaran:
Apa yang engkau maksud sebagai kebaikan?

Ikhlas:
Kebaikan adalah membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Kesadaran:
Sepanjang yang saya ketahui, ilmu itu membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Ikhlas:
Baik kalau begitu. Setelah aku pikir-pikir, ternyata keikhlasanku itu mempunyai prasarat.

Kesadaran:
Apakah prasaratmu itu?

Ikhlas:
Aku ikhlas menerima ilmu itu jika ilmu itu memang dalam jangkauan kesadaranmu dan menjadi perhatianku.

Kesadaran:
Sejauh yang aku sadari, ilmu itu terjangkau oleh kesadaranku. Tetapi aku tidak tahu apakah ilmu itu menjadi perhatianku atau tidak.

Kesadaran dan keikhlasan secara bersama bertanya:
Wahai perhatian, apakah engkau merasa bahwa ilmu yang dikenalkan oleh dosenku itu benar-benar menjadi perhatianmu?

Perhatian:
Sesungguhnya pertanyaanmu berdua itu sungguh aneh bagi diriku. Bukankan antara kesadaran, keikhlasan dan perhatian itu sebenarnya satu kesatuan. Mengapa engkau bertanya seperti itu?

Kesadaran dan keikhlasan:
Tetapi engkau tahu bahwa kita berduapun tidak berarti apa-apa tanpa perhatian.

Perhatian:
Baiklah. Suatu ilmu atau pengetahuan baru akan menjadi perhatianku jika bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.

Kesadaran dan keikhlasan:
Kalau begitu tiadalah berbeda syarat-syaratmu itu dengan syarat-syarat kita berdua.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Kalau begitu kita bertiga berketetapan hati bahwa ilmu baru ini memang bermanfaat di dunia maupun akhirat. Marilah kita deklarasikan perihal penerimaan kita untuk memulai mempelajari ilmu itu.

Respon:
Wahai kesadaran, keikhlasan dan perhatian, mengapa engkau bertiga telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan anda bertiga untuk memulai mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Wahai respon, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh postitif juga boleh negatif, tetapi juga boleh netral.

Respon:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Begini. Kita bertiga berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tetapi kami bertiga menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh sikapmu itu. Jika sikapmu positif maka engkau adalah orang ke empat yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Respon:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari dua hal. Pertama aku adalah kesudianku. Kedua aku adalah kemauanku. Jika aku sudi tetapi aku tidak mau, apalah artinya sikapku itu. Sebaliknya jika aku mau tetapi aku tidak sudi, maka apalah juga artinya sikapku itu. Agar aku sudi maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Agar aku mau aku juga harus yakin bahwa ilmu itu juga bermanfaat bagi dunia maupun akhirat.


Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah kalau begitu syarat-syaratmu ternyata sama dengan syarat-syarat kami bertiga. Kalau begitu engkau bisa cepat bergabung dengan kami.

Respon:
Nanti dulu. Ketahuilah bahwa aku masih mempunyai satu unsur lagi. Unsurku yang ketiga adalah kepuasanku. Jadi aku harus yakin bahwa ilmu itu juga memberikan kepuasan terhadap diriku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Lalu apakah kepuasanmu itu?

Respon:
Pertama aku harus mengetahui dulu, apakah engkau bertiga mempunyai payung yang dapat melindungiku dan dua unsurku yang lain?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu itu.

Respon:
Aku enggan selalu berkata dengan masing-masing dirimu. Aku lebih suka berkata denganmu sekaligus. Jikalau aku menyebut dirimu dengan satu nama saja, maka kira-kira engkau akan menggunakan nama apa?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah, sesuai dengan sifat-sifat yang kami miliki maka nama yang paling cocok dengan diri kami bertiga adalah penerimaan. Apakah dengan jawabanku ini engkau akan segera bergabung dengan diriku?

Respon:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai satu syarat lagi. Syaratku yang satu lagi adalah bahwa agar aku mempunyai respon yang positif terhadap ilmu itu maka aku harus merasa puas terhadapnya. Aar aku merasa puas terhadapnya maka aku harus bisa berkomunikasi dengan nya. Padahal komunikasi yang aku minta adalah bahwa aku harus aktif memahaminya. Aku dengan ilmu itu harus bisa saling menterjemahkan dan diterjemahkan. Apakah engkau mampu menerima syarat-syaratku itu?

Penerimaan:
Dari sifat-sifat dan komunikasiku menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa ilmu itu mempunyai sifat-sifat seperti apa yang engkau syaratkan. Jadi silahkan engkau bersikap seperti yang telah engkau tetapkan melalui syarat-syaratmu itu.

Respon:
Baiklah kalau begitu aku bersedia bergabung dengan dirimu wahai penerimaan.

Nilai:
Wahai penerimaan dan respon, mengapa engkau berdua telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan dan respon positif anda berdua terhadap ilmu barumu itu,
tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Wahai nilai, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh menilai baik, juga boleh menilai negatif, tetapi juga boleh netral.

Nilai:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Begini. Kita berdua berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tidak hanya itu, kami juga sepakat untuk menerima dan merespon positif ilmu itu dengan syarat-syarat tambahan yang telah kami tentukan. Syarat-syarat tambahan itu antara lain bahwa kami dapat saling menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Tetapi kami berdua menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh penilaian itu terhadap ilmu itu. Jika penilaianmu positif maka engkau adalah orang ke tujuh yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Nilai:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari tiga hal. Pertama aku adalah kehendakku. Kedua aku adalah referensiku. Ketiga aku adalah komitmenku. Agar aku berkehendak menilai ilmu itu, maka aku harus mempunyai referensi. Tetapi begitu aku memutuskan untuk menilai baik ilmu itu maka seketika aku berubah menjadi komitmenku. Ketiga hal tersebut itu tidak dapat aku pisahkan. Agar aku mempunyai kehendak untuk menilai maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Aku juga harus bisa menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Artinya aku juga bersifat aktif dan tidak hanya pasif saja. Untuk itu maka aku juga memerlukan catatan-catatanmu.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Ternyata syarat-syaratmu itu sesuai juga dengan syarat-syaratku. Dan kami berdua juga bersedia memenuhi segala syarat-syarat tambahanmu. Apakah engkau bersedia bergabung dengan diriku?

Nilai:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai syarat tambahan. Syarat tambahanku adalah apakah engkau dan aku kira-kira mempunyai payung untuk berlindung bersama?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Aku tidak mengerti apa maksudmu.

Nilai:
Maksudku adalah, jika aku telah menetapkan untuk menilai positif ilmu itu, apakah aku dan engkau bisa bergabung dengan satu nama saja.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Kami sebenarnya sangat toleran terhadap dirimu. Akan memberi nama apakah engkau bagi diri kita bertiga?

Nilai:
Jika engkau berdua tidak keberatan maka kita berdua melebur saja jadi satu dan kita beri nama sebagai minat.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Nama yang bagus. Kami setuju. Jadi?

Minat:
Jadi diriku sekarang adalah penerimaan, respon dan nilai. Tetapi tiga dalam diriku itu jika dijabarkan akan terdiri dari sembilan aspek yaitu kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen.

Pengertian:
Wahai minat. Mengapa engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal minatmu untuk mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Minat:
Wahai pengertian, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh memahami ilmu itu sesuai dengan pengertianmu.

Pengertian:
Wahai minat. Sebetulnya syaratku mudah saja. Syaratku adalah asalkan engkau memang berkehendak untuk menilainya, engkau juga mempunyai referensi untuk menilainya dan engkau juga mempunyai komitmen untuk menilainya. Maka aku dengan serta merta akan membangun pengertianku terhadap ilmumu itu.

Nilai:
Ketahuilah pengertian. Sebetulnya syarat-syaratmu itu telah terkandung di dalam diriku.

Pengertian:
Baik kalau begitu. Aku telah mengerti akan ilmumu itu. Itulah sebenar-benar ilmumu dan ilmuku.
Tetapi ketahuilah bahwa pengertianku terhadap ilmumu itu ternyata tidak tunggal. Maka aku perlu mengelola pemngertian-pengertian itu. Aku perlu menggabung-ganbungkannya. Aku perlu merangkumkannya. Katakanlah bahwa aku terdiri dari konsep-konsep dan organisasi dari konsep-konsep tentang ilmu itu. Tetapi ketahuilah agar pengertianku itu bersifat komprehensif maka aku masih mempunyai permintaan terhadap dirimu.

Nilai:
Wahai pengertian, apakah permintaan tambahanmu itu?

Pengertian:
Aku mau menindaklanjuti pengertianku asal aku dan engkau menjadi satu saja yaitu sebagai sikap.

Nilai:
Nama yang bagus. Aku setuju. lalu?

Sikap:
Inilah sebenar-benar diriku yang telah menentukan sikap positif terhadap ilmuku yang baru ini. Maka sebenar-benar diriku adalah terdiri dari nilai dan pengertian.

Karakter:
Wahai sikap. Engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan sikap positifmu terhadap ilmu barumu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Sikap:
Wahai karakter, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang karaktermu. Tetapi jika engkau telah
menampakkan karaktermu itu, maka karaktermu itu harus sesuai dengan diriku. Maka tinggal pilihlah engkau itu.

Karakter:
Sebetulnya jarak antara diriku dengan dirimu sangatlah dekat. Maka aku telah melakukan kesimpulan umum. Dan dari kesimpulan umum tentang pengertianmu maka aku mulai mempunyai ciri khas keilmuan barumu itu. Lebih dari itu aku bahkan kelihatan menonjol dalam dirimu. Ilmumu itu juga semakin tampak dalam karakterku. Tidak terasa aku telah mulai berubah dikarenakan ilmu baruku ini. Perubahan diriku itulah yang kemudian aku sebut sebagai karakterisasi. Aku bersyukur telah mampu mempelajari ilmu baru sehingga telah memberikan aku karakter sesuai dengan ciri keilmuan baruku itu. Bahkan aku mulai merasakan bahwa karakterku itu mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatiku. Ternyata dengan karakterku yang baru ini aku tetap terjaga oleh hatiku. Amien.

26 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Bukan hal yang mudah mengapai karakter ini. Namun jika kita telah menggapainya, maka hati akan terjaga. Karakter akan mempengaruhi segala kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, dan hati. Maka sebagai guru, amat pentinglah memiliki karakter, agar anak-anak didik pun memiliki teladan dalam hal karakter. Karakter itu terbentuk dari kebiasaan kebiasaan. Biasakan berpikir, bersikap, berucap, berkegiatan yang baik, agar terbentuk karakter yang baik dalam diri.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa manusia yang ada di dunia ini memiliki karakter masing-masing. Allah SWT menciptakan manusia dengan sifat dan karakter yang unik untuk masing-masing manusia sesungguhnya berbeda-beda. Kami juga memahami bahawa banyak faktor yang mempengaruhi karakter seseorang, misalnya : ilmu pengetahuan, ilmu agama, tingkat spiritual, ketiga hal ini sangat menpengaruhi seseorang arif dalam bertindak, serta dapat memposisikan kodratnya sebagai makhluk social. Dalam membangun bangsa diperlukan karakter kuat agar bangsa kokoh. Semoga pendidikan kita mampu membangun ilmu pengetahuan dan karakter yang kuat bagi generasi-generasi penerus bangsa ini. Amin.

    ReplyDelete
  3. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Melalui elegi ini kita mengetahui bahwa karakter dibangun oleh ilmu yang didukung oleh banyak komponen, yaitu kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen, sikap.

    ReplyDelete
  4. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Sikap akan membentuk karakter. Sikap dan karakter kita adalah berdasarkan ilmu yang kita miliki. Ilmu yang baik akan membawa pengetahuan yang positif sehingga sikap kita terhadap sesuatu pun menjadi baik dan positif. Sikap positif yang terus-menerus dilakukan lama kelamaan akan menjadi karakter positif. Melalui elegi kali ini saya belajar bahwa ilmu didapatkan melalui sinergi banyak hal seperti hati yang ikhlas, kesadaran, perhatian, respon.

    ReplyDelete
  5. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    ilmu itu bersifat netral, jika digunakan dengan baik maka akan memberi manfaat positif yang baik. Namun jika ilmu disalahgunakan maka juga akan memberi manfaat, namun negatif dengan kata lain adalah sebuah keburukan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Dalam mengaplikasikan ilmu dibutuhkan sikap dan karakter yang baik sehingga ilmu dapat digunakan sehingga menghasilkan kebermanfaatan yang baik.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Karakter adalah sifat dasar yang dimiliki seseorang. Namun, karakter juga dapat dibentuk melalui sikap dan pembiasaan. Sikap positif yang diulang-ulang akan membentuk karakterpositif yang melekat pada diri orang tersebut. Sebaliknya, sikap negatif yang diulang-ulang juga dapat membentuk karakter negatif pada diri orang tersebut. Menurut saya, ilmu yang kita miliki adalah dasar pembentuk karakter. Ilmu kita adalah penentu sikap kita dan sikap kita penentu karakter kita. Semoga ilmu yang kita miliki senantiasa bisa mengubah sikap kita dari yang buruk menjadi baik sehingga kita pun memilikin karakter yang baik, aamiin.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Karekter adalah ciri khusus yang membedakan benda satu dengan benda lainnya. Ilmu mempunyai karakter sendiri-sendiri, berbeda-beda. Ilmu sains berbeda dengan ilmu sosial. Ilmu yang kita miliki tidak akan berguna tanpa kita amalkan. Sudah seharusnya kita gunakan hati kita untuk mengendarai tubuh kita sehingga ilmu kita bermanfaat. Manfaat dari ilmu akan muncul jika didasari dengan spiritual dalam menjalankannya

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter itu terlihat dari ucapan, perbuatan, dan pemikiran. Karakter dipengaruhi oleh lingkungan. Karakter dapat dibanguan, tetapai untuk membangun karakter tentu tidak mudah.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Suatu ilmu itu akan kita pelajari jika kita sudah sadar akan pentingnya ilmu tersebut, menaruh perhatian dengan ikhlas terhadap ilmu tersebut, yakin bahwa ilmu tersebut dapat memberikan kepuasan, yakin bahwa kita mampu menerimanya, adanya referensi. Ilmu yang baik adalah ilmu yang mampu memberikan mafaat baik di dunia maupun akhirat. Ilmu yang kita pelajarai hendaknya dapat membimbing kita untuk memiliki nilai, sikap, dan karakter yang baik

    ReplyDelete
  10. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Dari elegi ini, kita belajar bahwa dalam memperoleh, mendapatkan, menuntut atau menjempit ilmu itu kita harus ikhlas. Ikhlas disini mengandung banyak hal, seperti sikap sadar akan ilmu yang kita dapatkan. Sadar dengan tujuan kita memperoleh ilmu tersebut dan sadar akan tanggung jawab kita setelah mendapatkannya. Selain itu kita musti coba untuk perhatian dan peduli dengan ilmu yang kita serap. Jangan hanya diterima mentah-mentah tanpa kita tahu asal-usul dan sebab akibat dari kita memperolehnya. Sehingga kita harus merespon pula dan memberi tanggapan terhadap ilmu yang kita punya. Ketika kita merespon, itu berarti kita telah menerima plus minus dari ilmu tersebut, dan kemudian kita wajib memberikan penilaian sehingga terlihat apakah kita berminat dan konsisten terhadapnya atau tidak. Dari situlah akan tergambar sikap dan karakteristik kita setelah memperoleh ilmu tersebut. Dengan begitu, ilmu yang kita menjadi berkah dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga orang lain.

    ReplyDelete
  11. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Karakter adalah segala sesuatu yang ada dalam diri kita. bahkan sampai hari inipun karakter akan mempengaruhi saya bertindak, bergerak, bertutur kata, berperilaku sampai pada pikiranku. suatu karater yang baik akan menyebakan sekitar kita ikut baik dengan adanya kita, begitupun dalam mencari ilmu pengetahuan pun akan berpengaruh dengan karakter yang kita miliki, seperti keiklasan, perasaan, sopan santun respon merupakan hal -hal yang dapat mempengaruhi karakter kita.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Karakter adalah dimensi dalam diri manusia yang meluas sampai keluar. Setiap manusia memiliki karakter yang digapai dengan ikhtiarnya. Sejatinya hanya ada dua karakter manusia, yaitu baik dan tidak baik. Dengan berbagai turunannya akan menunjuk wujud karakter si manusia. Tinngal ikhtiar yang dilakukan lebih dominan yang baik atau tidak baik. Ikhtiar akan menentukan dominan karakter seseorang.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam sebuah pencapaian karakter, maka seseorang sangat tergantung dengan sikap dalam menghadapi segala sesuatu. SIkap dan karakter adalah hal yang tidak terpisahkan. Karena karakter sering ditampilkan lewat sikap. Sikap yang baik mewujudkan karakter yang baik. Karakter yang baik mewujudkan pikiran dan hati yang baik.

    ReplyDelete
  14. ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Pada bacaan di atas terdapat sembilan aspek di dalam karakter, yaitu kesadaran, penerimaan, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen. Ilmu memberikan manfaat untuk masa depan dan akhirat. Jadi, ilmu bersifat pragmatis dan memiliki sifat yang berkarakteristik.
    Karakter merupakan sesuatu yang khas yang ada pada diri manusia. Setiap manusia pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda. Karakter dapat dibangun, seperti hal yang sering kita dengar adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak dapat dengan mudah ditumbuhkembangkan dalam waktu yang singkat. Butuh kebiasaan dan proses yang cukup lama

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Suatu ilmu dikatakan bermanfaat atau tidak tergantung dari orang yang menggunakan ilmu tersebut. Apakah menggunakannya untuk kebaikan atau keburukan. Untuk bisa mempergunakan ilmu supaya bisa menjadi ilmu yang bermanfaat dunia akhirat, haruslah memiliki karakter yang kuat. Karakter yang dibangun atas dasar perhatian, kesadaran, keikhlasan, respon, minat, nilai, dan pengertian. Karena karakter akan mempengaruhi setiap kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, dan hati.

    ReplyDelete
  16. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Seperti yang diungkapkan oleh sikap, sesungguhnya karakter merdeka dari hal nilai, sikap, perngertian, minat, ikhlas dan lain-lain. Hal ini juga mewakili ungkapan karakter seseorang tidak mewakili hatinya. Kita tidak bisa menilai ketulusan sesrang berdasarkam karakter yang terlihat karena sejatinya setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Namun, Ilmu dapat merubah karakter sesorang menjadi lebih baik. Maka dari itu manusia dituntut untuk terus menuntut ilmu agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.

    ReplyDelete
  17. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seorang manusia dengan manusia yang lain. Karena itulah karena sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Semua hati dan pikiran manusia akan tampak ddi dalam karakternya. Orang-orang yang memiliki hati ikhlas, dan berilmu pun dapat terlihat dari karakternya, yaitu tidak sombong.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seseorang akan menjadi panutan orang lai jika memiliki karakter yang baik. Begitu juga dengan pendidik. Jadi seorang pendidik memang seharusnya memiliki karakter yang baik agar dapat ditiru oleh peserta didiknya. Oleh karenanya, pengembangan karakter peserta didik harus dimulai dari pengembangan karakter dari pendidik.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam mewujudkan segala hal yang ada dalam dirinya ini, seseorang harus mencari ilmu hingga dasar. Tanpa adanya sebuah pencarian tersebut, maka seseorang akan mudah tertipu satu sama lain dalam mewujudkan sebuah tindakan. Ilmu yang memberikan pengaruh yang luar bisa maka harus dilakukan; pertama aku adalah kesudianku. Kedua aku adalah kemauanku. Tanpa adanya dua hal tersebut, maka tindakan mencari ilmu hingga dasar tidak dimiliki secara baik.

    ReplyDelete
  20. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Yang perlu diingat dalam pencarian ilmu adalah pengertianku terhadap ilmumu itu ternyata tidak tunggal. Maka aku perlu mengelola pemngertian-pengertian itu. Aku perlu menggabung-ganbungkannya. Aku perlu merangkumkannya. Katakanlah bahwa aku terdiri dari konsep-konsep dan organisasi dari konsep-konsep tentang ilmu itu. menurut saya, ilmu yang kita miliki adalah dasar pembentuk karakter. Ilmu kita adalah penentu sikap kita dan sikap kita penentu karakter kita.

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas, dapat saya simpulkan bahwa dalam mempelajari ilmu diperlukan suatu keikhlasan, niat, minat, respon serta kesadaran. kesadaran akan pentingnya bahwa ilmu itu merupakan sesuatu yang penting begitupun mempelajari filsafat diperlukan keikhlasan, kesadaran serta kesudian mempelajarinya.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Karakter dapat pula dikatakan ciri khas yang menjadi tanda akan sesuatu hal. Setiap makhluk hidup khususnya manusia mempunyai karakter yang menjadi ciri khas akan seseorang itu. Setiap karakteristik yang ada, harus juga diimbangi dengan nilai akhirat dan nilai ilmu. Setiap manusia yang ingin menggapai karater yang baik, maka haruslah berusaha menggapai dengan cara dan niat yang baik pula, tetapi sebaliknya jika ingin mempunyai karakter yang tidak baik, maka menggapai nya dengan cara dan niat yang tak baik pula.

    ReplyDelete
  23. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Karakter manusia dibangun berdasarkan pengalaman. Pengalaman yang matang membentuk karakter yang lebih baik. Namun pengalaman ini juga ditentukan oleh banyaknya ilmu pengetahuan yang dipelajari. Percuma banyak pengalaman, namun tidak dapat belajar dibalik pengalaman tersebut dengan mencocokkan pengalaman dengan ilmu pengetahuan yang ada. Pengalaman dan ilmu pengetahuan dilengkapi dengan kecerdasan emosional dan spiritual seseorang akan saling berkolaborasi menghasilkan karakter yang baik.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pembangunan karakter adalah salah satu hal yang perlu dicanangkan dalam pendidikan. Hal ini mengingat bahwa generasi muda bangsa haruslah seseorang yang memiliki karakter yang baik. Karakter seseorang berhubungan dengan ilmunya. Seyogyanya semakin tinggi ilmu seseorang semakin baik karakternya karena pola pikirnya semakin berkembang. Namun hal ini bukanlah jaminan bila tidak disupport dengan hati yang ikhlas. Maka agar peningkatan ilmu berbanding lurus dengan karakter hendaklah kita menjalani sesuatu dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  26. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Dalam menggapai karakter, seseorang tentu akan memiliki pandangan yang berbeda. Karena karakter merupakan cara berpikir dan bertingah laku yang menjadi ciri khas seseorang. Ciri khas inilah yang menjadi karakter seseorang hingga ia dipandang berbeda dengan orang lain. Dalam perkembanganan karakter, seseorang akan memiliki karakter yang berbeda dari aslinya tergantung bagaimana ia bergaul, ia berpikir dan ia belajar dari pengalaman. Perubahan karakter ini sering terjadi seiring perubahan ruang dan waktu.

    ReplyDelete