Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Karakter




Oleh Marsigit
(Di gali dari butir-butir pemikiran Krathwhol)

Kesadaran:
Ada ilmu baru dihadapanku. Aku akan menyadari ilmu ini jika ilmu ini memang bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Tetapi untuk itu aku perlu pengakuan dan dukungan orang-orang disekiratku.
Wahai ikhlas, sebetulnya aku menginginkan bertanya kepada banyak orang, tetapi mereka berada jauh dari diriku. Lagi pula mereka saling berderet-deret secara teratur ada yang paling dekat, dekat, agak dekat, agak jauh, jauh, paling jauh dan sangat jauh. Sedangkan engkau tahu bahwa orang yang paling dekat adalah dirimu. Sedangkan engkau tahu bahwa dirimu itu sebetulnya adalah ikhlasku. Maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku, karena aku tahu bahwa pertanyaanku itu adalah awal dari ilmuku.

Ikhlas:
Wahai kesadaran, engkau akan bertanya apakah kepada diriku?

Kesadaran:
Begini. Ini ada ilmu yang baru saja dikenalkan oleh dosenku. Apakah engkau bisa menerima ilmu tersebut?

Ikhlas:
Sepanjang ilmu itu adalah demi kebaikan, maka aku selalu ikhlas.

Kesadaran:
Apa yang engkau maksud sebagai kebaikan?

Ikhlas:
Kebaikan adalah membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Kesadaran:
Sepanjang yang saya ketahui, ilmu itu membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Ikhlas:
Baik kalau begitu. Setelah aku pikir-pikir, ternyata keikhlasanku itu mempunyai prasarat.

Kesadaran:
Apakah prasaratmu itu?

Ikhlas:
Aku ikhlas menerima ilmu itu jika ilmu itu memang dalam jangkauan kesadaranmu dan menjadi perhatianku.

Kesadaran:
Sejauh yang aku sadari, ilmu itu terjangkau oleh kesadaranku. Tetapi aku tidak tahu apakah ilmu itu menjadi perhatianku atau tidak.

Kesadaran dan keikhlasan secara bersama bertanya:
Wahai perhatian, apakah engkau merasa bahwa ilmu yang dikenalkan oleh dosenku itu benar-benar menjadi perhatianmu?

Perhatian:
Sesungguhnya pertanyaanmu berdua itu sungguh aneh bagi diriku. Bukankan antara kesadaran, keikhlasan dan perhatian itu sebenarnya satu kesatuan. Mengapa engkau bertanya seperti itu?

Kesadaran dan keikhlasan:
Tetapi engkau tahu bahwa kita berduapun tidak berarti apa-apa tanpa perhatian.

Perhatian:
Baiklah. Suatu ilmu atau pengetahuan baru akan menjadi perhatianku jika bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.

Kesadaran dan keikhlasan:
Kalau begitu tiadalah berbeda syarat-syaratmu itu dengan syarat-syarat kita berdua.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Kalau begitu kita bertiga berketetapan hati bahwa ilmu baru ini memang bermanfaat di dunia maupun akhirat. Marilah kita deklarasikan perihal penerimaan kita untuk memulai mempelajari ilmu itu.

Respon:
Wahai kesadaran, keikhlasan dan perhatian, mengapa engkau bertiga telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan anda bertiga untuk memulai mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Wahai respon, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh postitif juga boleh negatif, tetapi juga boleh netral.

Respon:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Begini. Kita bertiga berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tetapi kami bertiga menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh sikapmu itu. Jika sikapmu positif maka engkau adalah orang ke empat yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Respon:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari dua hal. Pertama aku adalah kesudianku. Kedua aku adalah kemauanku. Jika aku sudi tetapi aku tidak mau, apalah artinya sikapku itu. Sebaliknya jika aku mau tetapi aku tidak sudi, maka apalah juga artinya sikapku itu. Agar aku sudi maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Agar aku mau aku juga harus yakin bahwa ilmu itu juga bermanfaat bagi dunia maupun akhirat.


Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah kalau begitu syarat-syaratmu ternyata sama dengan syarat-syarat kami bertiga. Kalau begitu engkau bisa cepat bergabung dengan kami.

Respon:
Nanti dulu. Ketahuilah bahwa aku masih mempunyai satu unsur lagi. Unsurku yang ketiga adalah kepuasanku. Jadi aku harus yakin bahwa ilmu itu juga memberikan kepuasan terhadap diriku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Lalu apakah kepuasanmu itu?

Respon:
Pertama aku harus mengetahui dulu, apakah engkau bertiga mempunyai payung yang dapat melindungiku dan dua unsurku yang lain?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu itu.

Respon:
Aku enggan selalu berkata dengan masing-masing dirimu. Aku lebih suka berkata denganmu sekaligus. Jikalau aku menyebut dirimu dengan satu nama saja, maka kira-kira engkau akan menggunakan nama apa?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah, sesuai dengan sifat-sifat yang kami miliki maka nama yang paling cocok dengan diri kami bertiga adalah penerimaan. Apakah dengan jawabanku ini engkau akan segera bergabung dengan diriku?

Respon:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai satu syarat lagi. Syaratku yang satu lagi adalah bahwa agar aku mempunyai respon yang positif terhadap ilmu itu maka aku harus merasa puas terhadapnya. Aar aku merasa puas terhadapnya maka aku harus bisa berkomunikasi dengan nya. Padahal komunikasi yang aku minta adalah bahwa aku harus aktif memahaminya. Aku dengan ilmu itu harus bisa saling menterjemahkan dan diterjemahkan. Apakah engkau mampu menerima syarat-syaratku itu?

Penerimaan:
Dari sifat-sifat dan komunikasiku menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa ilmu itu mempunyai sifat-sifat seperti apa yang engkau syaratkan. Jadi silahkan engkau bersikap seperti yang telah engkau tetapkan melalui syarat-syaratmu itu.

Respon:
Baiklah kalau begitu aku bersedia bergabung dengan dirimu wahai penerimaan.

Nilai:
Wahai penerimaan dan respon, mengapa engkau berdua telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan dan respon positif anda berdua terhadap ilmu barumu itu,
tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Wahai nilai, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh menilai baik, juga boleh menilai negatif, tetapi juga boleh netral.

Nilai:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Begini. Kita berdua berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tidak hanya itu, kami juga sepakat untuk menerima dan merespon positif ilmu itu dengan syarat-syarat tambahan yang telah kami tentukan. Syarat-syarat tambahan itu antara lain bahwa kami dapat saling menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Tetapi kami berdua menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh penilaian itu terhadap ilmu itu. Jika penilaianmu positif maka engkau adalah orang ke tujuh yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Nilai:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari tiga hal. Pertama aku adalah kehendakku. Kedua aku adalah referensiku. Ketiga aku adalah komitmenku. Agar aku berkehendak menilai ilmu itu, maka aku harus mempunyai referensi. Tetapi begitu aku memutuskan untuk menilai baik ilmu itu maka seketika aku berubah menjadi komitmenku. Ketiga hal tersebut itu tidak dapat aku pisahkan. Agar aku mempunyai kehendak untuk menilai maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Aku juga harus bisa menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Artinya aku juga bersifat aktif dan tidak hanya pasif saja. Untuk itu maka aku juga memerlukan catatan-catatanmu.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Ternyata syarat-syaratmu itu sesuai juga dengan syarat-syaratku. Dan kami berdua juga bersedia memenuhi segala syarat-syarat tambahanmu. Apakah engkau bersedia bergabung dengan diriku?

Nilai:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai syarat tambahan. Syarat tambahanku adalah apakah engkau dan aku kira-kira mempunyai payung untuk berlindung bersama?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Aku tidak mengerti apa maksudmu.

Nilai:
Maksudku adalah, jika aku telah menetapkan untuk menilai positif ilmu itu, apakah aku dan engkau bisa bergabung dengan satu nama saja.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Kami sebenarnya sangat toleran terhadap dirimu. Akan memberi nama apakah engkau bagi diri kita bertiga?

Nilai:
Jika engkau berdua tidak keberatan maka kita berdua melebur saja jadi satu dan kita beri nama sebagai minat.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Nama yang bagus. Kami setuju. Jadi?

Minat:
Jadi diriku sekarang adalah penerimaan, respon dan nilai. Tetapi tiga dalam diriku itu jika dijabarkan akan terdiri dari sembilan aspek yaitu kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen.

Pengertian:
Wahai minat. Mengapa engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal minatmu untuk mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Minat:
Wahai pengertian, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh memahami ilmu itu sesuai dengan pengertianmu.

Pengertian:
Wahai minat. Sebetulnya syaratku mudah saja. Syaratku adalah asalkan engkau memang berkehendak untuk menilainya, engkau juga mempunyai referensi untuk menilainya dan engkau juga mempunyai komitmen untuk menilainya. Maka aku dengan serta merta akan membangun pengertianku terhadap ilmumu itu.

Nilai:
Ketahuilah pengertian. Sebetulnya syarat-syaratmu itu telah terkandung di dalam diriku.

Pengertian:
Baik kalau begitu. Aku telah mengerti akan ilmumu itu. Itulah sebenar-benar ilmumu dan ilmuku.
Tetapi ketahuilah bahwa pengertianku terhadap ilmumu itu ternyata tidak tunggal. Maka aku perlu mengelola pemngertian-pengertian itu. Aku perlu menggabung-ganbungkannya. Aku perlu merangkumkannya. Katakanlah bahwa aku terdiri dari konsep-konsep dan organisasi dari konsep-konsep tentang ilmu itu. Tetapi ketahuilah agar pengertianku itu bersifat komprehensif maka aku masih mempunyai permintaan terhadap dirimu.

Nilai:
Wahai pengertian, apakah permintaan tambahanmu itu?

Pengertian:
Aku mau menindaklanjuti pengertianku asal aku dan engkau menjadi satu saja yaitu sebagai sikap.

Nilai:
Nama yang bagus. Aku setuju. lalu?

Sikap:
Inilah sebenar-benar diriku yang telah menentukan sikap positif terhadap ilmuku yang baru ini. Maka sebenar-benar diriku adalah terdiri dari nilai dan pengertian.

Karakter:
Wahai sikap. Engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan sikap positifmu terhadap ilmu barumu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Sikap:
Wahai karakter, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang karaktermu. Tetapi jika engkau telah
menampakkan karaktermu itu, maka karaktermu itu harus sesuai dengan diriku. Maka tinggal pilihlah engkau itu.

Karakter:
Sebetulnya jarak antara diriku dengan dirimu sangatlah dekat. Maka aku telah melakukan kesimpulan umum. Dan dari kesimpulan umum tentang pengertianmu maka aku mulai mempunyai ciri khas keilmuan barumu itu. Lebih dari itu aku bahkan kelihatan menonjol dalam dirimu. Ilmumu itu juga semakin tampak dalam karakterku. Tidak terasa aku telah mulai berubah dikarenakan ilmu baruku ini. Perubahan diriku itulah yang kemudian aku sebut sebagai karakterisasi. Aku bersyukur telah mampu mempelajari ilmu baru sehingga telah memberikan aku karakter sesuai dengan ciri keilmuan baruku itu. Bahkan aku mulai merasakan bahwa karakterku itu mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatiku. Ternyata dengan karakterku yang baru ini aku tetap terjaga oleh hatiku. Amien.

43 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Sikap, ucapan, perbuatan, pikiran seseorang ternyata mencerminkan karakter yang dimilikinya. Karakter setiap orang tentunya tidaklah sama, karena karakter merupakan kekhasan yang dimiliki setiap individu maupun kelompok yang ada dalam diri mereka. Karakter yang tampak pada diri seseorang sejatinya merupakan gambaran dirinya secara umum dari aspek-aspek yang dimunculkannya. Bagaimana ia bersikap, merespon, berpikir, bertindak, berpendapat dan sebagainya.

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Setiap insan memiliki karakter yang berbeda dengan yang lainnya. Karakter adalah watak seseorang meliputi baik dan buruk. Jadi watak tidak terlepas dari etika dan estetika. Jadi, untuk menggapai watak diperlukan kesadaran serta keikhlasan agar diberikan yang terbaik.

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Karakter seseorang tentu akan berbeda dengan karakter orang lainnya. Karakter setiap individu akan mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, dan bahkan hati. Karakter dapat dibangun, memang tidak mudah. Butuh kebiasaan dan proses yang cukup lama. Semoga kita semua dapat senantiasa memperbaiki diri dan mempunyai karakter yang baik.

    ReplyDelete
  4. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    elegi menggapai karakter disini memiliki pemahaman bahwa setiap karakter itu unik. khas. tidak akan sama jumlah kapasitasnya dengan orang lain. kesadaran dan perhatian terhadap karakter kita perlu ditingkatkan. apakah sudah sesuai dengan masyarakat disekitar kita atau tidak. maka dengan ikhlas memperbaiki diri dari hari ke hari kita dapat menjadi lebih baik ke depannya.

    ReplyDelete
  5. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini saya memperoleh pemahaman bahwa setiap orang memiliki perbedaan karakter. Karakter setiap orang dipengaruhi oleh ilmu yang mereka miliki. Untuk memperoleh suatu ilmu itu bukanlah hal yang mudah. Butuh kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen,sikap terhadap ilmu itu. Sehingga, dalam menuntut ilmu niat dan usaha kita haruslah baik, bahwasannya ilmu itu nantinya akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Niat ikhlas dan tekun dalam mencari ilmu adalah modal yang terpenting untuk membangun karakter kita lewat ilmu.

    ReplyDelete
  6. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sikap dan karakter seringkali menjdi satu kesatuan yang tak terpisahkan.Tak jarang kita temui untuk mengetahui karakter seseorang kita ambil dari sikapnya.
    Karakter yang ada dalam diri seseorang akan dia tampilkan dalam bentuk sikap yang ada. Seringkali ada yang bersikap baik dan bersikap tidak baik.
    Karakter yang ada dalam diri manusia dipengaruhi oleh akl, pikiran, dan hati.

    ReplyDelete
  7. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Setelah membaca elegi ini saya menyimpulkan bahwa karakter dibangun oleh kesadaran, respon, ikhlas, nilai, penerimaan, pengertian, sikap. karakter dapat dikatakan juga sebagai watak.karakter dapat berubah saat kesadaran, respon, penerimaan, nilai, pengertian dan sikap menerima hal baru, yang kemudian secara bersama-sama mereka sepakati. hal baru tersebut adalah ilmu atau pengetahuan baru. jadi, karaktek atau watak seseorang sedikit demi sedikit dapat berubah karena ilmu-ilmu baru yang diperoleh. pada akhirnya perubahan watak tersebut dapat mengantarkan ke perubahan dimensi seseorang yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  8. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter itu terlihat dari ucapan, perbuatan, dan pemikiran. Karakter dipengaruhi oleh lingkungan. Karakter dapat dibanguan, tetapai untuk membangun karakter tentu tidak mudah.

    ReplyDelete
  9. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Dampak globalisasi yang terjadi saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter bangsa. Padahal, pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang apabila dididik dengan cara yang bijaksana akan menghasilkan produk anak bangsa yang berkarakter dan berjiwa besar. Untuk membentuk karakter anak yang baik, di sekolah telah diajarkan pendidikan kepribadian yang tujuannya untuk mewujudkan perilaku yang mengedepankan keimanan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan Kepribadian juga dapat diartikan sebagai Pendidikan Karakter yang akan membentuk karakter baik pada diri anak. Landasan untuk membentuk karakter baik tersebut tentu datang dari keyakinan yang dimiliki anak didik itu sendiri. Pendidikan Agama yang diajarkan oleh orang tua dan guru di sekolah merupakan pedoman anak untuk membentuk karakter pribadinya. Sedangkan yang menjadi masalah saat ini adalah pemerintah Indonesia sedang kesulitan untuk menerapkan sistem pendidikan karakter guna mendidik anak dan para generasi penerus bangsa menjadi manusia yang berkarakter dan bermartabat.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Karakter adalah ciri khas dari seseorang yang terbentuk dari ilmu yang dimilikinya. Setiap orang tentu memiliki karakter yang berbeda – beda, sesuai dengan ilmu dan pengalaman yang diperolehnya. Karakter setiap individu mampu mempengaruhinya dalam bertindak dan berpikir. Sehingga karakter memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kesuksesan setiap individu.

    ReplyDelete
  11. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Suatu ilmu itu akan kita pelajari jika kita sudah sadar akan pentingnya ilmu tersebut, menaruh perhatian dengan ikhlas terhadap ilmu tersebut, yakin bahwa ilmu tersebut dapat memberikan kepuasan, yakin bahwa kita mampu menerimanya, adanya referensi. Ilmu yang baik adalah ilmu yang mampu memberikan mafaat baik di dunia maupun akhirat. Ilmu yang kita pelajarai hendaknya dapat membimbing kita untuk memiliki nilai, sikap, dan karakter yang baik.

    ReplyDelete
  12. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi menggapai karakter ad;alah bahwa Setiap manusia diciptakan oleh yang Maha Pencipta dengan karakter yang berbeda-beda. Setiap karakter manusia itu juga aakan mengalami perkembangan yang berbeda-beda sesuai dengan pengetahuan setiap individu. Perkembangan tersebut akan mempengaruhi perilaku, perkataan, serta pola piker setia[ manusia. Sehingga untuk karakter setiap manusia itu sendiri, sesungguhnya dialah yang menentukan sendiri. Kenalilah diri sendiri. Dan perbaikilah diri sebelum memperbaiki orang lain.

    ReplyDelete
  13. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Ssetiap individu memanglah memiliki karakter yang berbeda dan karakter tersebut merefleksikan pemiliknya. Karakter bisa dibentuk dari kebiasaan dan pembiasaan, misalrnya orang mencari ilmu itu sebagai dasar untuk melangkah agar tidak terjebak dalam ruang dan waktu yang salah, yang disebabkan oleh hal-hal diluar langkah menuju tujuan. Dengan demikian katakter baik yang mencerminkan individu itu baik akan tertanam seiring dengan kebiasaan dan pembiasaan yang disertai dengan keikhlasan hati.

    ReplyDelete
  14. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Karakter setiap individu berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh ilmu dan pengalaman yang diperolehnya. Untuk memperoleh ilmu dan pengalaman tersebut diperlukan kesadaran, keikhlasan dan perhatian, serta respon positif terhadap ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Menurut Karthwohl ada 5 tingkatan mencari ilmu , yaitu penerimaan, merespon, menilai, pengorganisasian nilai, dan karakter. Setelah kelima tingkatan proses belajar tersebut, baru akan terbentuk karakter dari ilmu tersebut. Karakter tersebut akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam kesehariannya. Oleh karena itu diperlukan pembentukan karakter yang baik dari ilmu yang telah diperoleh.

    ReplyDelete
  16. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    karakter dan sifat biasanya dipasang-pasangkan dalam perbincangannya. setiap individu memiliki karakternya masing-masing. dan tentulah karakter itu memiliki banyak perbedaan antara individu satu dengan yang lain. perbedaan karakter itu tidak terlepas dari ilmu dan pengetahuan. maka dnegan mendapatkan atau mencari ilmu yang sungguh-sungguh maka karakter kita akan di tuntun e arah yang baik

    ReplyDelete
  17. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Karakter seseorang itu menggambarkan kedalaman dan kebermaknaan ilmu yang dipelajarinya. Orang yang sebenar-benar berilmu diibaratkan seperti ilmu padi yang makin berisi makin merunduk, karena orang yang berilmu itu semakin menyadari akan kelemahannya.

    ReplyDelete
  18. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Perbedaan sikap dalam merespon obyek bukan hanya disebabkan pada nilai yang berbeda namun pada perbedaan sisi pandang dan kedalaman ilmu yang dimiliki, dalam merespon ilmu yang baru tanpa ada perhatian diatas kesadaran nihil, dan ilmu tanpa dibimbing nilai sejatinya bukanlah ilmu. Bukan sikap penuntut ilmu sejati tatkala tidak menyadari kadar dan siap berkembang dan mengoptimalkan potensi.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Karakter dibentuk oleh ilmu yang dipelajari dengan sikap positif. Sikap positif terdiri dari minat dan pengertian. Sedang minat dibentuk oleh penerimaan, respon dan nilai yang selaras. Penerimaan terhadap ilmu didapat dengan kesadaran, keikhlasan dan perhatian terhadap ilmu. Jadi ilmu yang baik akan diproses oleh kesadaran, keikhlasan, perhatian, penerimaan, lalu akan direspon dan dinilai menjadi minat, dari minat dan mengerti ilmu akan menjadi sikap dan memunculkan karakter yang baik. Dengan demikian, karakter seseorang mencerminkan ilmu yang dia peroleh. Jika karakternya buruk, berarti dia kurang memaknai ilmu yang dia peroleh dengan baik.

    ReplyDelete
  20. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Jika ingin memperdalam ataupun menambah ilmu maka harus diperbanyak dengan belajar. Belajar dapat dilakukan dengan banyak cara misalnya dengan membaca. Proses tersebut diawali dengan adanya pertanyaan. Pertanyaan memunculkan rasa ingin tahu, dan jawabannya dapat ditemukan melalui belajar. Maka dikatakan bahwa pertanyaan merupakan awal dari ilmu. Ilmu akan membawa banyak manfaat dalam kehidupan, termasuk juga dalam membangun karakter. Maka sebenarnya tidak hanya warisan harta yang bisa diberikan kepada anak cucu, tetapi lebih berarti dari itu yaitu ilmu. Warisan ilmu tidak akan habis dan tidak akan hilang, namun harta akan mudah hilang dan habis.

    ReplyDelete
  21. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Karakter yang dimiliki setiap orang di dunia ini berbeda-beda satu dengan yang lain dan sangat beragam banyaknya. Perbedaan itu dapat dipengaruhi oleh adanya kesadaran, keikhlasan, ilmu pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya yang dimiliki seseorang.

    ReplyDelete
  22. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Karakter seseorang bisa saja berubah setiap saat. Perubahan itu salah satunya dikarenakan ada ilmu baru yang masuk ke dalam dirinya. Dengan ilmu baru itu karakter bisa mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatiku, jika ilmu itu diterima oleh karakter. Seperti proses yang sudah dijelaskan dalam elegi di atas. Jadi ilmu baru itu bisa mengubha karakter jika diterima dalam dirinya.

    ReplyDelete
  23. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Tidak boleh dalam kita memilah milah ilmu. ilmu mana yang mau kita pelajari kita tidak boleh membeda bedakannya. kita harus menerima semua ilmu yang ada karena kita tidak tahu ilmu itu akan berguna bagi kita kapan, bisa suatu hari nanti bisa suatu hari kemudian. tidak ada yag tahu, oleh karenanya hargai semua ilmu. karena sejatinya semua ilmu bermanfaat.

    ReplyDelete
  24. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Karakter diperoleh melalui pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi dalam diri seseorang. Pengalaman akan membangun ilmu pengetahuan sehingga pengalaman dan pengetahuan setiap orang di dunia ini akan berbeda. Begitu juga dengan karakter setiap orang di dunia ini akan berbeda-beda bergantung apa yang telah dialami olehnya akan membentuk karakternya. Karakter seseorang dapat berubah dengan cara mempelajari ilmu baru. Karakter dapat mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran bahkan hati.

    ReplyDelete
  25. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2


    Karakter merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membangun suatu negara. Cerminan suatu negara dapat dilihat dari karakter bangsanya atau masyarakatnya. Oleh karena itu dalam pendidikan formal khususnya untuk sekolah-sekolah dasar pada kelas rendah pendidikan atau pembelajaran karakrer menjadi hal yang sangat penting karena dari karakter ini bakat-bakat mereka dapat muncul bila digalih atau diasah dengan baik, misalnya saja yang terjadi antara guru dan siswa. guru harus memahami karakter siswanya yang berada dalam kelas agar dalam PBM tidak terjadi kendala yang begitu berat. karena karakter siswa itu berbeda - beda. karakter anak harus dibentuk sejak mereka kecil dan diarahkan ke arah yang baik. agar memiliki dasar-dasar yang kuat kelak di hari kedepannya.

    ReplyDelete
  26. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam pembelajaran matematika juga seperti dijelaskan dalam elegi di atas, ilmu baru tentang matematika bisa diterima oleh siswa jika sudah melalui tahap – tahap. Kesadaran yaitu siswa sadar jika ada ilmu baru yang akan dipelajari. Ikhlas, siswa ikhlas menerima ilmu baru itu, dan seterusnya sampai sikap, yaitu sikap siswa dalam menerima ilmu baru itu. Ketika semua proses itu terlewati, maka ilmu baru itu dapat mengubah karakter siswa. Misalkan ilmu tentan pemecahan masalah dapat mengubah karakter siswa dalam menyikapi masalah yang ada di sekitarnya, peduli, kritis dan peka.

    ReplyDelete
  27. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Karakter merupakan ciri khusus yang dimiliki seseorang yang dapat dibentuk dengan ilmu yang dimilikinya. Karakter masing-masing individu tentu berbeda-beda. Karakter seseorang bisa dilihat dari perilaku, tindakan, ucapan, dan sikap dari dalam hatinya. Karakter dapat dibentuk dengan ilmu yang kita peroleh. Jika kita mengaplikasikan hal-hal baik dari ilmu yang kita peroleh, inshaalllah karakter kita akan terbentuk menjadi karakter yang baik pula.

    ReplyDelete
  28. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ilmu yang ada dalam diri seseorang akan memengaruhi karakter orang tersebut. Ciri khas ilmu pun akan nampak dalam ciri khas karakter seseorang. Ketika telah terbentuk karakter, maka segala tingkah laku dan ucapan seseorang akan dipengaruhi pula oleh karakter tersebut.
    Maka, dalam membetuk karakter yang baik, perlu membaca, membaca, dan membaca, lalu menyarig hal-hal positif dari ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  29. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Perbedaan individu dapat terlihat dari karakter masing masing individu. Kita sebagai manusia tidak mampu untuk memahami semua karakter yang ada pada setiap orang. Kita hanya mampu bagaimana cara kita menyikapi, menghargai, menghormati karakter-karakter yang ada. ketika karakter telah menyimpang, kita dapat menasehatinya agar kembali pada jalan yang benar.

    ReplyDelete
  30. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Karakter dalam pembelajaran matematika ternyata didapatkan saat seseorang memiliki beberapa sifat prasyarat. Untuk menggapai matematika berkarakter, diperlukan sikap positif dalam mempelajari matematika. Dalam sikap positif itulah dibutuhkan kesadaran, keikhlasan, perhatian, respon, nilai, sehingga berkumpullah menjadi satu dan menghasilkan karakter/perubahan, yang akan mempengaruhi kata, gerak, ucapan, pikiran, kegiatan, dan hati

    ReplyDelete
  31. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil elegi di atas adalah bahwa kita harus ikhlas dalam menerima ilmu. Menuntut ilmu berada di dalam jangkauan kesadaran kita dan menjadi perhatian kita. Sehingga kesadaran, keikhlasan dan perhatian itu dapat menjadi satu kesatuan. Aspek di dalam karakter adalah kesadaran, penerimaan, perhatian, respon, kepuasan, penilaian dan komitmen.

    ReplyDelete
  32. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Karakter merupakan suatu hal yang unik. Unik disini berarti setiap orang akan memiliki karakter yang berbeda-beda. Tidak akan sama satu orang dengan yang lainnya. Karakter dibentuk oleh banyak faktor, antara lain lingkungan, ilmu yang dimiliki, pengalaman. Dan sudah kewajiban kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya agar memiliki karakter yang baik dalam diri kita

    ReplyDelete
  33. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Ternyata semua manusia memiliki karakter yang berbeda. karakter setiap manusia dapat terlihat tetapi tidak seluruhnya. karakter manusia dapat di mengerti tapi tidak seluruhnya. karakter memang unik dan manarik. setiap orang memiliki karakter yang beragam dan bermacam macam.carilah ilmu setinggi mungkin agar karakter menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  34. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Ilmu yang kita pelajari pastinya akan bermanfaat di dunia maupun di akhirta. ilmu yang kita pelajari dan diberikan oleh guru maupun dosen sebaiknya dengan ikhlas kita terima. karena ilmu pasti bermanfaat juga bagi orang disekitar kita terutama yang mmbutuhkan.

    ReplyDelete
  35. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Ilmu yang baik adalah ilmu yang dapat bermanfaat bagi orang lain, bagi dunia juga bagi akhirat. Maka dalam mencari ilmu atau dalam belajar hendaknya kita dapat memilih ilmu yang baik dan yang kurang baik. Sedangkan dalam memberi ilmu hendaknya kita dapat menebarkan ilmu yang baik dan menahan ilmu yang tidak baik agar tidak diterima orang lain.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  36. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Manusia dilahirkan di dunia dengan karakter yang sangat beragam, meliputi pola pikir, sifat, sikap dll. Untuk membentuk karakter yang kuat manusia harus memiliki bekal berupa ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan ilmu matematika, untuk memiliki bekal ilmu matematika kita harus belajar dengan ikhlas serta menerima hal-hal positif di dalamnya.

    ReplyDelete
  37. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam hidup, kita telah mempelajari banyak hal, kita telah dikenalkan oleh berbagai macam ilmu. Saat menghadapi ilmu yang baru, akan ada respon hebat dalam diri, yakni akan menerima ilmu jika kita meyakii bahwa ilmu tersebut membawa manfaat bagi duni dan akhirat. Pada diri juga akan menilai baik atau buruknya suatu ilmu. Hingga disadari atau tidak ilmu itulah yang mempengaruhi karakter kita masing-masing

    ReplyDelete
  38. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Ilmu itu semuanya bermanfaat. Tetapi kita harus lebih memprioritaskan ilmu agama, dengan begitu ilmu-ilmu yang lain otomatis akan terfilter oleh ilmu agama. Jika ilmu itu baik maka kita bisa menerapkannya di kehidupan kita dan mengajarkannya. Jika ilmu itu buruk (contoh: ilmu mencopet) maka dengan kita mengetahui keburukan tersebut, kita akan lebih berhati-hati lagi kedepannya. Mengetahui kesalahan itu penting, bukan untuk melakukannya namun agar kita terhindar darinya. Semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin baiklah kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan yang dilakukan. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

    ReplyDelete
  39. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Belajar suatu ilmu tidak ada salahnya, kita harus membuka pikiran dalam belajar. Hal yan baik dalam belajar adalah jadikan hati sebagai komandan dengan cara menguatkan spiritual dan jangan lupa juga untuk membaca. Akan sangat baik bila kita menguatkan spiritual contohnya adalah melalui doa, juga akan lebih bijak jika kita mempunyai bekal dengan banyak membaca.

    ReplyDelete
  40. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Karakter merupakan sifat yang melekat pada diri seseorang yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi karakter seseorang yaitu lingkungan yang ada disekitarnya. Terkadang seseorang dapat berkarakter sesuai ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Diharapkan semakin tinggi ilmu yang dimilikinya semakin baik pula karakternya. Sebaiknya dalam mencari ilmu itu didasari oleh keihlasan, kesadaran dan ketekunan. Maka kita akan dengan benar-benar, fokus dan serius dalam belajar maka diharapkan dapat bermanfaat didunia maupun diakhirat.

    ReplyDelete
  41. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia mempunyai karakter yang berbeda-beda dan melalui ilmu lah dalam diri manusia terbentuk karakter yang mempengaruhi sikap, kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, dan hati. Oleh karena itu, dalam menerima ilmu tidak asal dan serampangan. Kita perlu memillah-milah ilmu yang baik bagi kita.

    ReplyDelete
  42. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Karakter merupakan ciri khas yang melekat pada setiap yang ada dan mungkin ada. Karakter dimiliki oleh semua dan berbeda-beda di antara mereka. Bagi manusia karakter sangat dipengaruhi oleh apa yang ia ketahui dan pahami. Pengetahuan yang dimiliki dapat menentukan karakter seseorang karena ilmu itu sendiri juga memiliki sifat dan karakteristik. Karakter manusia ditunjukkan ketika ia besikap sehingga orang lain bisa mengetahui karakter seseorang. Selain itu, ada aspek lain yang menjadi karakter seperti kesadaran, penerimaan, perhatian, dsb.

    ReplyDelete
  43. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Karakter akan membentuk pribadi manusia, yang termasuk dalam karakter antara lain ikhlas, kesadaran, perhatian, respon, dan nilai. Karakter yang dimiliki setiap orang tidak akan pernah sama. Hal ini yang memacu kita sebagai guru untuk dapat mengembangkan karakter pada diri siswa agar tidak hanya ilmu yang diperoleh siswa ketika mengikuti pembelajaran dikelas tetapi siswa mempunyai karakter yang sesuai dengan kepribadian bangsa kita.

    ReplyDelete