Sep 25, 2010

Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan




Oleh Marsigit

Transenden:

Ooo.oo..begitu..jadi ternyata aku menemukan bahwa ada bermacam-macam dimensi Bagawat dalam rentang ruang dan waktunya. Sebetul-betul Bagawat adalah pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya. Setelah aku mengadakan Seminar Pertama Para Bagawat, sekarang sudah agak jelas mengapa persoalan-persoalan itu muncul. Aku juga bersyukur karena semakain banyak Bagawat menyadari keberadaan Bagawat yang lain. Melalui konferensi itu aku juga telah menemukan bahwa sebenar-benar Bagawat adalah pengada dan pemelihara logos.

 Bagawat Powernow itu ternyata adalah Bagawat Posmo dimana dia tidak mengontologikan sosok pribadi yang terisolasi. Dia betul-betul menyatu dan berkiprah ditengah samodra jejaring neolisme. Tiadalah Bagawat di bawah level Posmo seperti Bagawat Modern, Bagawat Tradisional dst mampu menandinginya. Sebenar-benar ilmu bagi Bagawat Posmo adalah manfaat-manfaatnya. Barang siapa tidak mendukung manfaatnya maka akan tergilaslah mereka itu. Itulah sebenar-benar penampakan Dajal yaitu sebuah Sistem Parsial yang hanya menguntungkan sebagian golongan saja. Sedangkan untuk kelompok yang lainnya, mereka cenderung memaksakan kehendaknya. Setinggi-tinggi Bagawat di Indonesia, termasuk Pemimpinnya, hanyalah sampai level Bagawat Tradisional dan sebagian Modern. Maka ibarat Burung Rajawali dengan Burung Perkutut perbandingannya. Solusinya adalah agar semakin banyak Bagawat-Bagawat kita yang menyadarinya dan memperteguh iman, taqwa dan doa meminta pertolongan Allah SWT. Tiadalah manusia itu mampu mengusir anak cucu syaitan, apalagi godfathernya syaitan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

Paralogos:
Wahai ...transenden...mengapa engkau lebih suka mengomentari keadaan para Bagawat Posmo dan perilakunya, padahal aku menyaksikan bahwa engkau itu sungguh hidup dan produk masyarakat paling banter sebagian Modern. Aku juga melihat bahwa dalam dirimu itu masih melekat sifat-sifatnya masyarakat Tribal dan masyarakat Tradisional. Bukankah sesungguh-sungguh yang terjadi adalah bahwa engkau itu sangat dekat dengan persoalan masyarakatmu? Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani.

Transenden:
Wahai Paralogos...kalau begitu apa yang engkau pikirkan itu persis sama dengan apa yang aku pikirkan. Lalu..apa masalahnya?

Paralogos:

Saya ingin bertanya perihal krisis yang dihadapi para Bagawat?

Transenden:
Memahami krisis itu tergantung persepsi masing-masing. Aku juga dapat memberikan pemahamanku sendiri. Menurutku krisis itu adalah kesempatan.

Paralogos:
Apakah kesempatan itu?

Transenden:
Para Bagawat sedang berada di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan itulah mereka mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatan untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa para Bagawat mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini mereka cari dan mereka perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku.

Paralogos:
Mohon diterangkan lebih lanjut perihal kesempatan?

Transenden:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Paralogos:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan krisis yang dialami para Bagawat?

Transenden:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai Bagawat harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridnya dan masyarakatnya. Murid-muridnya dan masyarakatnya yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Paralogos:
Lho..jadi ternyata ada kaitannya antara krisis, kesempatan dan hidup?

Transenden:

Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan. Demikian juga bagi para Bagawat.

Paralogos:
Wahai Transenden...bagaimana dengan sifat Bagawat yang mempunyai kuasa, paling tidak kuasa diberi amanah untuk mengemban ilmu?

Transenden:
Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Paralogos:
Apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan kekuasaan para Bagawat?.

Transenden:

Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa para bagawat itu kuasa terhadap murid danmasyarakatnya,. Di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, maka para Bagawat itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya. Sedangkan murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup para Bagawat. Padahal sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka para Bagawat seperti halnya orang-orang yang lainnya dapat sangat berbahaya bagi murid-muridm, pengikut dan masyarakatnya jika mereka sangat menikmati kegiatannya menutupi sifat mereka. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Paralogos:
Mohon apakah bisa diterangkan lebih detail lagi karena menurut saya sangat penting.

Transenden:
Bagawat yang baik adalah Bagawat yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaannya dan kegiatannya sebagai Bagawat menutup sifat-sifat mereka. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan. Ciri-ciri seorang Bagawat menutup sifat-sifat murid-murid, pengikut dan masyarakatnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika mereka katakan muridnya sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu Bagawat telah menutupi sifatnya. Jika dia katakan bahwa muridnya bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Jika mereka katakan bahwa muridnya tidak berkarakter maka itulah keadaan Bagawat yang sedang menutupi sifat-sifatnya. Jika secara sepihak Bagawat mengklaim bahwa untuk membangun karakter murid-muridnya harus melalui pemaksaan, maka itulah kegiatan mereka sedang menutup sifat-sifat murid-muridnya. Ketika mereka bicara sementara muridnya mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bekerja sementara muridnya melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bertanya sementara muridnya berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat berinisiatif sementara muridnya menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menilai prestasi siswanya maka itu adalah kejadian lain dari kegiatan mereka menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan. Waspadalah.....karena dengan begitu maka maksudmu membangun karakter bisa saja berakibat justru membunuhnya.

Bagawat:
Sebentar...bolehkah aku ikut bertanya wahai Transenden. Jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu murid, yaitu muridku menutupi sifat gurunnya aku sang Bagawat, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai. Ituykah usahamu menggapai kesempatan.

Bagawat:

Kenapa engkau sebut aku sebagai Bagawat menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraianmu mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai Bagawat memberi kesempatan.

Transenden:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Bagawat:
Oh ..Transenden, mohon maaf, bukankah Transenden telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam dirimu sendiri sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Transenden:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau mulai menyadarinya. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Bagawat:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Aku menjadi penasaran dibuatnya.

Transenden:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutupi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat hidup itu.

Bagawat:
Oh Transenden mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikuti penjelasanmu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Transenden:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Bagawat:

Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Transenden:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya. Engkau tidak dapat mengatakan 2 buku ditambah 3 pensil sama dengan 5 buku. Kenapa? itulah karena buku dan pensil adalah dua ruang yang berbeda.

Bagawat:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Transenden:

Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Bagawat:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Transenden:

Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Bagawat:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Transenden:

Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Untuk meningkatkan profesionalismemu maka belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Inilah sebenar-benar kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Itulah amanah yang telah aku berikan kepadamu wahai para Bagawat, yaitu membangun hidup dunia dan akhiratmu agar engkau dapat pula membangun hidup dunia dan akhirat para muridmu pula.

Amiin.

44 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Hidup kita bukan untuk diri kita sendiri, karena kita hidup juga bergantung pada yang lain. maka dari itu, semestinya hidup kita dapat bermanfaat bagi orang lain. memberikan kesempatan orang lain untuk memiliki kesempatan, jangan sampai kita malah menutup kesempatan seseorang karena hidup adalah kesempatan dan kesempatan adalah hidup. Jika orang tidak memiliki kesempatan maka dia tidak hidup. Sebagai guru, kita jangan sampai menutup sifat-sifat siswa kita maupun kesempatan yang harusnya didapatkan oleh siswa. Siswa harus lebih aktif dalam pembelajaran daripada gurunya, bukan berarti siswa menutupi sifat-sifat guru sehingga guru menjadi tidak aktif. Karena otoritas dan dimensi guru yang lebih tinggi dari siswa maka siswa tidak akan mungkin menutupi sifat guru, sama halnya orang yang memberi haruslah lebih berkuasa dari orang yang diberi.

    ReplyDelete
  2. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dalam proses pembelajaran, guru semestinya memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengungkapkan jalan pikirannya. Baik itu kesempatan untuk bertanya, mengungkapkan pendapat, memecahkan masalah sendiri, dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan guna mengonstruksi pengetahuannya sendiri agar apa yang mereka pelajari dapat melekat kuat lebih lama di dalam otak mereka sebagai suatu pengalaman belajar. Dengan begitu, dapat membantu suasana kelas terlihat lebih hidup dan bermakna.

    ReplyDelete
  3. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sebenar-benar kesempatan adalah belajar dan terus belajar. Tiada kata lelah untuk belajar. Guru sebagai seorang pendidik dan pengajar senantiasa tetap jadi pembelajar yang haus akan ilmu, belajar bagaimana caranya agar diri sendiri mampu membangun hidup yang baik di dunia dan akhirat sehingga pula mampu membangun hidup yang baik di dunia dan akhirat untuk siswanya.

    ReplyDelete
  4. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Kesempatan sangat berarti bagi hidup kita. Setiap orang pasti punya hak untuk menggapai kesempatan, maka jangan sia-siakan kesempatan karena tidak datang untuk kedua kalinya. Demikian pula guru untuk menggapai kesempatan sangat terbuka lebar akantetapi itu semua tergantung niatnya yaitu adanya kemauan dan kemampuan. Keduanya tidak dapat terpisahkan. Oleh karena itu, hidupilah hidup untuk menghidupi hidup. Selain itu jangan menutup kesempatan yang diberikan orang lain, karena setiap insan punya hak yang sama.

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Elegi ini membawa kita untuk dapat memahami hakikat kesempatan. Kita dilahirkan di dunia ini merupakan kesempatan. Kesempatan untuk beribadah, kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan diakhirat kelak. Maka dari itu janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan, khususnya kesempatan untuk hidup di dunia. Semoga kita termasuk orang yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan dunia dan akhirat. Aamiin.

    ReplyDelete
  6. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Pada dasarnya dalam hidup ini merupakan hubungan dengan kata “saling”. Saling berbagi, saling menyayangi, saling mengasihi, saling memberi.
    Ketika ada kata saling maka terdapat dua manusia yang ada sebagai subjek dan objek yang saling bergantung satu sama lain. Ada yang membagi ada yang diberi bagian, ada yang menyayangi ada yang disayangi, ada yang mengasihi ada yang diberi kasih, dan ada yang memberi dan ada yang diberi.
    Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    ketika orang menyadari banyaknya kekurangan dan kelebihannya dalam kehidupan disitulah ia merasakan bahwa ia merupakan orang yang berilmu. sebagaimana yang saya ketahui bahwa orang yang berilmu itu ia akan mengalami 3 fase. fase awal dimana ia merasa mengetahui segala hal, fase tengah dimana ia giat mencari sesuatu, dan fase terakhir ia menyadari bahwa ilmu yang dia miliki belumlah apa-apa.

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dalam elegi ini membawa kita untuk memahami ulang tentang hidup itu adalah pilihan. Memilih atau tidak memilih pun itulah sebuah kesempatan. Karena sebenar benarnya orang pintar itu pasti dapat memilih. Oleh karena itu, kita harus terus berpikir dalam menentukan pilihan dan mengambil kesempatan tersebut. Sehingga dari sini dapat menandakan bahwa orang yang berani berpikir merupakan orang yang siap memilih dan siap mendapatkan kesempatan itu. Semoga kita dapat mengambil barakah tentang artikel ini dan dapat mengaplikasikannya di kehidupan kita.

    ReplyDelete
  9. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Guru merupakan pembimbing bagi siswa. Guru perlu jujur kepada siswa jangan menyembunyikan suatu apapun meskipun itu sifat atau watak. Guru bertugas sebagai fasilitator, jangan sampai ia menjadi otoriter dan memaksakan kehendaknya pada siswa. Guru harus memfasilitasi segala kebutuhan siswa dalam belajar, membantu siswa jika tidak bisa, membimbing agar dapat belajar dengan baik. Hubungan guru dan murid harus dijaga karena guru dan murid hakekatnya saling membutuhkan.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    “Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu”. Bagi orang timur, makro adalah hati, mikro adalah tindakan. Karena hati adalah bagian yang makro, dia menjadi komandan dalam melakukan segala sesuatu. Seperti yang tertulis “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpacar kehidupan”. Jika hatimu jahat, kehidupan yang terpancar juga jahat, jika hatimu baik, yang terpancar adalah kehidupan yang baik pula.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Setiap orang dapat meraih kesempatan yang diberikan kepadanya. maka belajarlah dan berdoa senantiasa. Namun, sebagai seorang guru, harus selalu ingat bahwa menggapai kesempatan adalah jika muridnya menggapai kesempatan pula. Maka, berusahalah menjadi guru yang dapat memotivasi muridmu untuk meraih kesempatannya pula dan tidak menghalangi mereka untuk maju.

    ReplyDelete
  12. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Setuju dengan apa yang dalam elegi ini, bahwa jika seorang guru memberikan kesempatan kepada muridnya itu bukan hal yang negatif, tidak jika mereka menutupi sifat kita sebagai guru. Tidak serta merta kita kehilangan kekuasaan kita terhadap mereka, namun dengan memberikan kesempatan, kesempatan untuk bertanya, menjawab, mengungkapkan pendapat, itulah yang sebaiknya seorang guru lakukan dalam mendidik anak-anaknya. Dengan kesempatan yang kita berikan, kita dapat berperan sebagai pendidik sesungguhnya.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sebenar – benarnya hidup adalah pilihan. Pilihannya adalah apakah kamu akan memilih atau tidak. Jika kamu memilih pilihan apa yang akan kamu pilih, apakah kamu akan menggunakan kesempatan baik ini atau tidak dan begitu seterusnya. Sesungguhnya di dalam pilihan terdapat kesempatan. Namun tergantung pilihanmu akan menggunakannya atau tidak. Jika kesempatan tersebut terlewatkan maka kamu dapat memperjuangkannya, namun dimulai dari awal dan tidak datang dengan tiba – tiba, karena telah menyia – nyiakan kesempatan yang datang terakhir kali.

    ReplyDelete
  14. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam elegi diatas memberikan pemahaman kepada saya bahwa kesempatan itu sangat bermanfaat, maka gunakanlah selagi ada kesempatan jangan disia-siakan karena kesempatan jarang diberikan dua kali. Begitu juga dalam menuntut ilmu, beramal, berbuat baik, selagi kita diberikan kesempatan maka pergunakan dengan sebaik-baiknya. Karena akan ada masanya kesempatan kita untuk berbuat sesuatu akan dicabut yakni dengan meninggalnya kita.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berbicara mengenai pendidikan, sebagai guru tidaklah bersifat otoriter atau memaksakan dengan satu metode atau satu media karena sebenra-benarnya hal tersebut adalah menutupi potensi dari siswa sebagai subjek pendidikan untuk memperluas cakrawala ilmunya. Sehingga perlulah guru yang memfasilitasi siswa sehingga siswa mampu mengisahkan potensi-potensi mereka dengan lengkap dan seluas-luasnya.

    ReplyDelete
  16. Hening Carrysa
    14301241012
    Pendidikan Matematika A 2014

    Tanggung jawab seorang guru sangatlah besar terhadap siswa-siswanya, dimana harus membangun karakter dan mencerdaskan . Proses pembelajaran sangat berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai. Tetapi pada kenyataanya masih saja guru memaksakan siswa dengan metode-metode yang digunakannya, tanpa memperhatikan keberanekaragaman jenis siswa. Sang begawat menggapai kesempatan adalah ketika guru mampu memberikan fasilitas yang dapat menghidupkan potensi-potensi pada diri siswa.

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hal yang menarik dari elegi tersebut bahwa sebenar – benar hidup adalah kesempatan. Oleh karena itu semoga kita mampu memanfaatkan kesempatan yang ada ini sehingga tidak ada penyesalan dikemudian hari karena telah menyia – nyiakan kesempatan tersebut. Dan selama masih ada kesempatan baiklah jika terus berbenah diri dan senantiasa mentaati perintah Tuhan agar hidup semakin baik dan tidak terjerumus kedalam tawaran – tawaran duniawi yang tidak baik.

    ReplyDelete
  18. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Saya lebih tertarik dengan bahasan memberi kesempatan, yang saya tangkap dari penjelasan transenden, manusia lebih sering menutupi sifat orang lain karena sibuk melayani sifatnya dan menjudge orang itu dengan pendapat pribadinya. Padahal jika dia mau bersabar dari nafsu sifatnya dan memberi kesempatan pada orang lain akan tampaklah sifat yang sebenarnya dari orang lain tersebut. Tetapi dengan bersabar dari nafsu sifat terkadang kita akan diserang oleh kontradiksi yang menyakiti hatinya. Tetapi jika dilihat secara keseluruhan dan dikembalikan kepada-Nya akan tampak jelaslah mana yang benar dan mana yang tidak layak dilakukan.

    ReplyDelete
  19. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Di dalam krisis itulah ada kesempatan. Di dalam kebingungan itu juga ada kesempatan. Maka dalam kesempatan ini kita diminta untuk memilih, karena dalam hidup ini memang penuh dengan pilihan. Dan Elegi ini hampir sama dengan judul elegi seorang Guru menggapai kesempatan. Yaitu hidup adalah kesempatan, kesempatan untuk memberi kebebasan pada orang lain dan kebebasan untuk diberi kesempatan orang lain.

    ReplyDelete
  20. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Hidup ini merupakan suatu pilihan, oleh karena itu diberi kesempatan untuk memilih apa yang terbaik dari pilihan tersebut. Kesempatan yang ada itu tidak dating dua kali. Jadi kita hrus menggunakan waktu dengan baik, kita harus terus berusaha untuk mencapai kesempatan dalam melangsungkan kehidupan di dunia ini.

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar – benar hidup adalah kesempatan, menurut saya juga bisa seperti itu. Karena di dalam dunia ini kita selalu dihadapkan dalam pilihan atau persimpangan. Ketika kita mengantuk kita ada pada pilihan tidur atau tetap bekerja, ketika kita lapar kita ada pada pilihan makan atau tetap lapar. Sehingga pada akhirnya bagaimana nanti kita yang menggapai kesempatan itu dengan memilih pilihan, atau diam doing nothing.

    ReplyDelete
  22. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Kesempatan. Banyak orang mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali. tetapi menurut saya kesempatan dapat datang berkali kali tetapi memang esempatan tertentu hanya datang satu kali. tetapi jika memang kesempatan itu telah hilang maka carilah kesempatan dan kemungkinan lain yang ada.

    ReplyDelete
  23. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Sesuai yang dijelaskan dalam Al Qur'an bahwa Sungguh merugi orang yang tidak memanfaatkan waktu yang Allah SWT berikan dengan baik. Ketika kita lihat semua orang yang hidup di dunia ini sibuk dengan urusan masing - masing, sibuk dengan karir masing - masing yang belum tentu membawa kebahagiaan yang abadi dunia akhirat, sehingga lupa dengan kehidupan yang abadi. Dan sungguh beruntung orang yang menyadari segala yang dilakukan harus menjadi bekal untuk kesuksesan dunia akhiratnya, kuantitas dan kualitasnya hidupnya selalu terpelihara dengan baik.

    ReplyDelete
  24. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Merasa sempurna tidak akan membuat kita semakin baik. Hal itu justru akan menutupi jalan memperoleh ilmu. Maka, memilih untuk menyadari kesalahan ialah kesempatan yang seharusnya dipilih. Dengan begitu kita akan senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik. Begitupun ketika menjadi guru. Guru bukan makhluk yang sempurna. Menyadari kesalahan dan kekurangan ialah kesempatan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar menjadi lebih baik pula.

    ReplyDelete
  25. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    dalam perjalanan menuntut ilmu tentu kita mengetahui bagaimana tingkatannya. Semakin kita mencari tahu suatu ilmu semakin kita menyadari bahwa apa yang kita pahami belumlah seberapa dibanding mereka yang telah banyak belajar. Maka dari itu belajar itu dikatakan proses yang dimulai dari ayunan sampai liang lahat.

    ReplyDelete
  26. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi sang begawat menggapai kesempatan ini mengingatkan kita bahwa hidup adah kesempatan dan kesempatan tidak akan datang dua kali, jikapun datang belum tentu sebaik kesempatan awal. Pada elegi ini kesempatan masuk dalam ranah pendidikan, dimana sosok seorang guru adalah pembuka kesempatan bagi siswanya untuk memberikan jalan yang luas untuk meraih cita-citanya. Guru membimbing siswa untuk mencapai cita-citanya dengan membukakan kesempatan dengan memberikan arahan untuk mencapai cita-citany.

    ReplyDelete
  27. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam pembelajaran matematika, maksud dari begawat menggapai kesempatan adalah bagaimana dia memberikan kesempatan kepada murid – muridnya untuk membangun pengetahuan dengan cara tidak menutupi sifat – sifat dari muridnya. Dengan cara membiarkan muridnya melakukan aktivitas yang dapat menggapai kesempatan untuk memeroleh ilmu.

    ReplyDelete
  28. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas saya belajar bahwa ketika kita mendapatkan ilmu kita jangan berbangga hati, karena dengan ilmu yang dimiliki dapat menyadarkanmu dengan kelemahan yang engkau miliki, sehingga engkau akan senantiasa mengingat Tuhan YME.

    ReplyDelete
  29. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan tulisan di atas, seorang guru memiliki tanggungjawab yang besar terhadap siswanya. Guru seharusnya mampu memfasilitasi siswa untuk bisa mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki siswa seluas-luasnya sehingga sang siswa dapat meraih cita-cita yang diharapkannya.

    ReplyDelete
  30. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Menurut saya, suatu kesempatan itu sangat lah berharga karena kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali atau lebih. Mungkin kita akan menemui kesempatan itu lagi, tapi kesempatan yang kita dapatkan itu tidak lah sama dengan kesempatan yang sebelumnya.

    ReplyDelete
  31. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebenar-benarnya ilmu adalah jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Itulah salah satu kalimat yang membuat pemikiran saya tentang ilmu berubah. Jika kita merasa mengetahui segala sesuatu dimuka bumi ini tanpa menyadari kelemahan dan tanpa berserah diri kepadaNya, maka ilmu itu hanya akan menjadi suatu hal yang sia-sia.

    ReplyDelete
  32. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika

    Sebenar-benarnya hidup adalah dengan memberi dan diberi kesempatan. Jika kita mendapatkan sebuah kesempatan, hendaknya mampu menggunakannya dengan sebaik mungkin. Jangan sampai melewatkan sebuah kesempatan, karena kesempatan tidak akan datang berkali-kali.

    ReplyDelete
  33. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas adalah bahwa sebagai seorang guru, kita tidak boleh menjudge peserta didik dan menutupi sifat asli mereka. Sebagai contoh, kita mengatakan murid sebagai pemalas, padahal dia belum tentu malas. Proses pembelajaran hendaknya berpusat kepada peserta didik, sehingga mereka dituntut aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran lebih berarti dan bermakna bagi siswa karena mereka menemukan konsep sendiri.


    ReplyDelete
  34. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kesempatan merupakan hak setiap orang dalam kehidupan. Saat seseorang mendapat kesempatan, alangkah baiknya ia menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Karena mungkin saja itulah kesempatan terakhir yang bisa ia dapatkan.

    ReplyDelete
  35. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam pembelajaran matematika di kelas pun siswa harus diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya secara mandiri. Ini diharapkan agar siswa tidak melulu menangkap ilmu yang diberikan oleh guru secara mentah, namun siswa juga dapat mengolah ilmu tersebut sehingga ilmu tersebut dapat benar-benar bermanfaat untuk siswa.

    ReplyDelete
  36. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Tarnsenden menjelaskan bahwa sebaik-baiknya begawat adalah guru yang mampu menghidupkan murid-muridnya. Jadi sebagai guru tidak hanya sebatas transfer of knowledge tapi juga menghidupkan pikiran siswa agar mampu hidup dengan usaha sendiri.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  37. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pada dasarnya hidup sebagai manusia itu adalah bermasyarakat serta bersosialisai. Setiap insan memiliki kelebihan serta kekuranganya masing-masing. Jangan sia-siakan kesempatan yang datang pada kita, serta belajarlah membuka diri menerima kritik dan saran dari orang lain serta memberikan kesempatan kepada orang lain. Semoga kita selalu diberi kesempatan yang baik dunia dan akhirat.

    ReplyDelete

  38. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Sebagai guru harus memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk menyampaikan pendapat yang ada di pikiran mereka masing-masing. Agar dengan itu maka sang guru bisa memahami dan “meluruskan” pemahaman murid-muridnya. Sehingga murid pun mendapatkan sebenar-benarnya ilmu. Berilah kesempatan kepada murid untuk meningkatkan profesionalisme mereka dengan terus belajar dan berdoa.

    ReplyDelete
  39. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang pengajar / guru yang di hormati adalah guru yang terus belajar dan tidak akan puas. Ilmu yang didapat tersebut di salurkan untuk para didiknya sampai meraih keberhasilan yang diinginkan. Selalu rendah hati kepada sang pencipta ataupun dengan sesama.

    ReplyDelete
  40. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    "Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya."
    Hal ini menurut saya sangatlah benar. Sekuat apapun seseorang berusaha menutupi, tetap saja hatinya akan terlihat pada cerminan pribadinya. Bagaimana seseorang menjalani hidup itulah gambaran dari hati dan jiwanya.

    ReplyDelete
  41. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Memiliki profesi sebagai guru juga merupakan suatu pilihan yang tentunya banyak kesempatan yang ada. Kesempatan yaitu apabila kita bisa hidup dan menghidupkan orang lain. Sebagai guru wajub untuk meberikan kesempatan kepada anak didiknya. Hal tersebut akan membuat peserta didik aktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan intuisi dan kemampuannya. Untuk itu diharapkan seorang guru dapat membimbing dan mefasilitasi siswanya dengan memberi kesempatan kepada siswa.

    ReplyDelete
  42. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Agar dapat menggapai kesempatan maka senantiasa jagalah hati, pikiran dan perasan kita agar selalu diliputi dengan kebaikan. Karena kesempatan itu tak akan menghampiri kita 2 kali. Jadi jangan samoai kita melewatkan kesempatan yang ada.. Bila kita berpikir positif, optimis serta memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, maka kesempatan yang dinantikan itu akan datang dan kita akan dapat meraih hal yang diimpikan.

    ReplyDelete
  43. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Menurut saya kesempatan merupakan waktu yang disediakan untuk seseorang. Kesempatan bisa didapatkan oleh semua termasuk untuk para bagawat. Para bagawat diberikan kesempatan untuk menjadi pengada dan pemerihara ilmu. Ketika diberi kesempatan maka manfaatkanlah dengan berusaha memeberikan yang terbaik dalam kesempatan itu. Saya setuju dengan kalimat Bapak Prof bahwa hakekat hidup ini juga merupakan kesempatan. Kesempatan kepada kita untuk beribadah kepada Allah SWT dan melakukan hal baik lainnya dengan niat karena Allah SWT untuk menggapi syurganya di akhirat kelak.

    ReplyDelete
  44. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan potensinya melalui penyelenggaraan pembelajaran yang berkualitas. Berilah kesempatan pada siswa untuk mengamati fenomena melalui bahan bacaan atau lingkungan, dari pengamatan tersebut apakah akan timbul pada diri siswa pertanyaan yang diajukan pada guru atau diajukan ke sesama temannya, apakah kemudian timbul keinginan dari siswa atau siswa berkesempatan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan pertanyaan yang tadi muncul, informasi mana yang berguna dan bermanfaat untuk menjawab pertanyaan dan apakah siswa berkesempatan untuk mengomunikasikan hasil pencariannya dalam bentuk tulisan dan lisan.

    ReplyDelete