Sep 25, 2010

Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan




Oleh Marsigit

Transenden:

Ooo.oo..begitu..jadi ternyata aku menemukan bahwa ada bermacam-macam dimensi Bagawat dalam rentang ruang dan waktunya. Sebetul-betul Bagawat adalah pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya. Setelah aku mengadakan Seminar Pertama Para Bagawat, sekarang sudah agak jelas mengapa persoalan-persoalan itu muncul. Aku juga bersyukur karena semakain banyak Bagawat menyadari keberadaan Bagawat yang lain. Melalui konferensi itu aku juga telah menemukan bahwa sebenar-benar Bagawat adalah pengada dan pemelihara logos.

 Bagawat Powernow itu ternyata adalah Bagawat Posmo dimana dia tidak mengontologikan sosok pribadi yang terisolasi. Dia betul-betul menyatu dan berkiprah ditengah samodra jejaring neolisme. Tiadalah Bagawat di bawah level Posmo seperti Bagawat Modern, Bagawat Tradisional dst mampu menandinginya. Sebenar-benar ilmu bagi Bagawat Posmo adalah manfaat-manfaatnya. Barang siapa tidak mendukung manfaatnya maka akan tergilaslah mereka itu. Itulah sebenar-benar penampakan Dajal yaitu sebuah Sistem Parsial yang hanya menguntungkan sebagian golongan saja. Sedangkan untuk kelompok yang lainnya, mereka cenderung memaksakan kehendaknya. Setinggi-tinggi Bagawat di Indonesia, termasuk Pemimpinnya, hanyalah sampai level Bagawat Tradisional dan sebagian Modern. Maka ibarat Burung Rajawali dengan Burung Perkutut perbandingannya. Solusinya adalah agar semakin banyak Bagawat-Bagawat kita yang menyadarinya dan memperteguh iman, taqwa dan doa meminta pertolongan Allah SWT. Tiadalah manusia itu mampu mengusir anak cucu syaitan, apalagi godfathernya syaitan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

Paralogos:
Wahai ...transenden...mengapa engkau lebih suka mengomentari keadaan para Bagawat Posmo dan perilakunya, padahal aku menyaksikan bahwa engkau itu sungguh hidup dan produk masyarakat paling banter sebagian Modern. Aku juga melihat bahwa dalam dirimu itu masih melekat sifat-sifatnya masyarakat Tribal dan masyarakat Tradisional. Bukankah sesungguh-sungguh yang terjadi adalah bahwa engkau itu sangat dekat dengan persoalan masyarakatmu? Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani.

Transenden:
Wahai Paralogos...kalau begitu apa yang engkau pikirkan itu persis sama dengan apa yang aku pikirkan. Lalu..apa masalahnya?

Paralogos:

Saya ingin bertanya perihal krisis yang dihadapi para Bagawat?

Transenden:
Memahami krisis itu tergantung persepsi masing-masing. Aku juga dapat memberikan pemahamanku sendiri. Menurutku krisis itu adalah kesempatan.

Paralogos:
Apakah kesempatan itu?

Transenden:
Para Bagawat sedang berada di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan itulah mereka mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatan untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa para Bagawat mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini mereka cari dan mereka perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku.

Paralogos:
Mohon diterangkan lebih lanjut perihal kesempatan?

Transenden:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Paralogos:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan krisis yang dialami para Bagawat?

Transenden:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai Bagawat harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridnya dan masyarakatnya. Murid-muridnya dan masyarakatnya yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Paralogos:
Lho..jadi ternyata ada kaitannya antara krisis, kesempatan dan hidup?

Transenden:

Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan. Demikian juga bagi para Bagawat.

Paralogos:
Wahai Transenden...bagaimana dengan sifat Bagawat yang mempunyai kuasa, paling tidak kuasa diberi amanah untuk mengemban ilmu?

Transenden:
Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Paralogos:
Apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan kekuasaan para Bagawat?.

Transenden:

Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa para bagawat itu kuasa terhadap murid danmasyarakatnya,. Di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, maka para Bagawat itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya. Sedangkan murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup para Bagawat. Padahal sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka para Bagawat seperti halnya orang-orang yang lainnya dapat sangat berbahaya bagi murid-muridm, pengikut dan masyarakatnya jika mereka sangat menikmati kegiatannya menutupi sifat mereka. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Paralogos:
Mohon apakah bisa diterangkan lebih detail lagi karena menurut saya sangat penting.

Transenden:
Bagawat yang baik adalah Bagawat yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaannya dan kegiatannya sebagai Bagawat menutup sifat-sifat mereka. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan. Ciri-ciri seorang Bagawat menutup sifat-sifat murid-murid, pengikut dan masyarakatnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika mereka katakan muridnya sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu Bagawat telah menutupi sifatnya. Jika dia katakan bahwa muridnya bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Jika mereka katakan bahwa muridnya tidak berkarakter maka itulah keadaan Bagawat yang sedang menutupi sifat-sifatnya. Jika secara sepihak Bagawat mengklaim bahwa untuk membangun karakter murid-muridnya harus melalui pemaksaan, maka itulah kegiatan mereka sedang menutup sifat-sifat murid-muridnya. Ketika mereka bicara sementara muridnya mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bekerja sementara muridnya melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bertanya sementara muridnya berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat berinisiatif sementara muridnya menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menilai prestasi siswanya maka itu adalah kejadian lain dari kegiatan mereka menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan. Waspadalah.....karena dengan begitu maka maksudmu membangun karakter bisa saja berakibat justru membunuhnya.

Bagawat:
Sebentar...bolehkah aku ikut bertanya wahai Transenden. Jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu murid, yaitu muridku menutupi sifat gurunnya aku sang Bagawat, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai. Ituykah usahamu menggapai kesempatan.

Bagawat:

Kenapa engkau sebut aku sebagai Bagawat menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraianmu mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai Bagawat memberi kesempatan.

Transenden:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Bagawat:
Oh ..Transenden, mohon maaf, bukankah Transenden telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam dirimu sendiri sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Transenden:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau mulai menyadarinya. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Bagawat:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Aku menjadi penasaran dibuatnya.

Transenden:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutupi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat hidup itu.

Bagawat:
Oh Transenden mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikuti penjelasanmu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Transenden:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Bagawat:

Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Transenden:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya. Engkau tidak dapat mengatakan 2 buku ditambah 3 pensil sama dengan 5 buku. Kenapa? itulah karena buku dan pensil adalah dua ruang yang berbeda.

Bagawat:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Transenden:

Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Bagawat:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Transenden:

Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Bagawat:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Transenden:

Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Untuk meningkatkan profesionalismemu maka belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Inilah sebenar-benar kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Itulah amanah yang telah aku berikan kepadamu wahai para Bagawat, yaitu membangun hidup dunia dan akhiratmu agar engkau dapat pula membangun hidup dunia dan akhirat para muridmu pula.

Amiin.

32 comments:


  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Sebagai guru harus memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk menyampaikan pendapat yang ada di pikiran mereka masing-masing. Agar dengan itu maka sang guru bisa memahami dan “meluruskan” pemahaman murid-muridnya. Sehingga murid pun mendapatkan sebenar-benarnya ilmu. Berilah kesempatan kepada murid untuk meningkatkan profesionalisme mereka dengan terus belajar dan berdoa.

    ReplyDelete
  2. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang pengajar / guru yang di hormati adalah guru yang terus belajar dan tidak akan puas. Ilmu yang didapat tersebut di salurkan untuk para didiknya sampai meraih keberhasilan yang diinginkan. Selalu rendah hati kepada sang pencipta ataupun dengan sesama.

    ReplyDelete
  3. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    "Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya."
    Hal ini menurut saya sangatlah benar. Sekuat apapun seseorang berusaha menutupi, tetap saja hatinya akan terlihat pada cerminan pribadinya. Bagaimana seseorang menjalani hidup itulah gambaran dari hati dan jiwanya.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Memiliki profesi sebagai guru juga merupakan suatu pilihan yang tentunya banyak kesempatan yang ada. Kesempatan yaitu apabila kita bisa hidup dan menghidupkan orang lain. Sebagai guru wajub untuk meberikan kesempatan kepada anak didiknya. Hal tersebut akan membuat peserta didik aktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan intuisi dan kemampuannya. Untuk itu diharapkan seorang guru dapat membimbing dan mefasilitasi siswanya dengan memberi kesempatan kepada siswa.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Agar dapat menggapai kesempatan maka senantiasa jagalah hati, pikiran dan perasan kita agar selalu diliputi dengan kebaikan. Karena kesempatan itu tak akan menghampiri kita 2 kali. Jadi jangan samoai kita melewatkan kesempatan yang ada.. Bila kita berpikir positif, optimis serta memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah, maka kesempatan yang dinantikan itu akan datang dan kita akan dapat meraih hal yang diimpikan.

    ReplyDelete
  6. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Menurut saya kesempatan merupakan waktu yang disediakan untuk seseorang. Kesempatan bisa didapatkan oleh semua termasuk untuk para bagawat. Para bagawat diberikan kesempatan untuk menjadi pengada dan pemerihara ilmu. Ketika diberi kesempatan maka manfaatkanlah dengan berusaha memeberikan yang terbaik dalam kesempatan itu. Saya setuju dengan kalimat Bapak Prof bahwa hakekat hidup ini juga merupakan kesempatan. Kesempatan kepada kita untuk beribadah kepada Allah SWT dan melakukan hal baik lainnya dengan niat karena Allah SWT untuk menggapi syurganya di akhirat kelak.

    ReplyDelete
  7. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan potensinya melalui penyelenggaraan pembelajaran yang berkualitas. Berilah kesempatan pada siswa untuk mengamati fenomena melalui bahan bacaan atau lingkungan, dari pengamatan tersebut apakah akan timbul pada diri siswa pertanyaan yang diajukan pada guru atau diajukan ke sesama temannya, apakah kemudian timbul keinginan dari siswa atau siswa berkesempatan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan pertanyaan yang tadi muncul, informasi mana yang berguna dan bermanfaat untuk menjawab pertanyaan dan apakah siswa berkesempatan untuk mengomunikasikan hasil pencariannya dalam bentuk tulisan dan lisan.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kesempatan adalah waktu, peluang, keluasaan. Setiap manusia diberi kesempatan untuk hidup, karena jika seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Sehingga karena kita hidup maka gapailah kesempatan itu, kesempatan untuk berbuat baik dan juga beramal sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat nanti. Selain hidup, kita diberikan 5 kesempatan lain sebelum terjadi 5 hal lain, yaitu kesempatan hidup sebelum mati, kesempatan sehat sebelum sakit, kesempatan muda sebelum tua, kesempatan kaya sebelum miskin, kesempatan waktu senggang sebelum sibuk.

    ReplyDelete
  9. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setiap orang mempunyai kesempatan untuk memilih, tidak memilih pun merupakan sebuah kesempatan. Sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan. Sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan.
    Sebagai seorang guru, kita tidak boleh menjudge peserta didik dan menutupi sifat mereka. Seperti jika kita katakan murid sebagai malas, padahal dia belum tentu malas. Proses pembelajaran hendaknya berpusat kepada peserta didik, sehingga mereka dituntut aktif dan pembelajaran lebih berarti dan bermakna dimana mereka menemukan sendiri konsep.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kehidupan yang ada saat ini tidak terlepas dari sebuah kesempatan yang datang dari sang pencipta Allah SWT. Setiap kehidupan pun kita ana selalu berlomba untuk dapat menghadapi persaingan hidup yang tidaklah mudah. Sebuah perjuangan tidak akan menghianati hasil. Setiap kehidupan pasti mempunyai kesempatan yang dapat dengan mudah dicapai, bahkan sulit dicapai. Kesempatan merupakan peluang. Kita dapat mengambilnya ataupun mengabaikannya. Akan tetapi, kesempatan itu juga erat kaitannya dengan waktu karena ia tidak akan datang dua kali, dan waktu akan terus berjalan maju. Terkadang, ketika kita mengabaikannya, maka akan muncul suatu penyesalan kemudian. Oleh karena itu dapat saya ambil pelajaran dari elegi ini bahwa setiap kesepatan yang ada pastilah membutuhkan suatu keputusan.

    ReplyDelete
  11. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Bagawat adalah pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya. Disampaikan pula dalam elegi ini berkaitan dengan kesempatan. Bahwa hidup adalah suatu kesempatan. Begawat disini siapa saja yang bisa menempatkan dirinya pada ruang dan waktu tertentu. Bagawat yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya. Dan bekal untuk hidup salah satu yang penting yaitu hati. Untuk meningkatkan profesionalismemu maka belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Inilah sebenar-benar kesempatan itu. Kesempatan adalah suatu keadaan untuk berikhtiar. Hidup adalah kesempatan, kesempatan yang diberikan Allah untuk makhluknya untuk mengemban amanah. Bagaimana ia berusaha berikhtiar dan berdo’a. Memberikan kesempatan termasuk yang mulia, yaitu termasuk memberikan kesempatan kepada siswa, bagi guru. Memberi kesempatan untuk anak bagi orang tua. Sering kali orang mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali, namun sejatinya kesempatan itu akan datang ketika kita mampu untuk menempatkan diri sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  12. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Dari postingan ini saya dapat menarik beberapa poin yang berguna untuk saya dalam menjalani hidup.
    1. "Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan". Dengan beberapa pengertian ini, benar adanya. Hidup ini penuh dengan banyak kesempatan yang sadar maupun tidak sadar. Manusia selalu diberi kesempatan untuk memilih, untuk belajar, untuk mengemukakan pendapat, untuk bergaul dengan orang banyak dan sebagainya. Kesempatan setiap orang berbeda sesuai dengan ruang dan waktunya.

    2. "Bagawat yang baik adalah Bagawat yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya". Mengidupkan disini menurut saya adalah memberi kesempatan kepada murid, pengikut dan masyarakat untuk menggapai kesempatan yang ada.

    3. "sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai".

    4. "Sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi". Dengan adanya kontradiksi melatih untuk bisa berpikir kritis. Dari berpikir kritas akan menimbulkan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan. Dari penjelasan menimbulkan sesuatu mitos atau pengetahuan tergantung bagaimana kita menyikapi dan membuktikannya.

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Untuk meningkatkan profesionalismemu maka belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Inilah sebenar-benar kesempatan itu".

    Mohon ijin, pendapat saya ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang tidak pernah ada finalnya. Tidak ada garis akhirnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengikuti alur keberadaan ilmu, terus berproses, tanpa henti. Jangan jumawa, benar kan? Kesombongan adalah melunturkan sebenar-benarnya ilmu. Ilmu dicapai melalui kesempatan. Kesempatan adalah hidup. Kita harus bijak, menggapai kesempatan dengan memberi kesempatan kepada yang lainnya.

    ReplyDelete
  14. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B

    Bagawat dapat membawa, mengembankan dan memelihara ilmu bagi dimenasinya, selain itu seorang bagawat dapat mengadakan atau memlihara logosnya. Setaip orang berhak mengemukakan pendapatnya, tetapi tidak boleh menjadi seorang komentator yang tidak tahu kebenaran yang sebenarnya dari apa yang dia komentari. Kesempatan dimiliki oleh semua orang, karena semua orang saling berkaitan baik dalam pemikiran atau kelakuan, dalam kesempatan tersebut akan muncul sifat menentukan atau ditentukan, orang. Seorang penguasa dapat menjadi begawat rakyatnya, dan seorang guru dapat menjadi bagawat bagi muridnya. Sehingga dalam pembelajaran apabila seorfang murid diberi kesempatan untuk bicara dan seorang guru menjadi pendengar yang baik bukan berarti guru tersebut kehilangan sifat bagawatnya justru guru tersebut memberi kesempatan pada muridnya untuk menggapai kesempatan.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kesempatan terindah bagi seorang guru adalah memberikan kesempatan bagi siswa- siswanya. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa- siswanya esok guru akan memiliki kesempatan indah menyaksikan siswa- siswanya memperoleh ilmunya sendiri, membangun pemikirannya sendiri. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa- siswanya lusa guru akan memiliki kesempatan menakjubkan memihat siswa- siswanya bermetamorfosa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Karena sebenar- benar memberikan kesempatan bagi siswa tidaklah menutup kesempatan bagi seorang guru. Karena sebenar- benar memberikan kesempatan bagi siswa adalah jalan bagi guru untuk menggapai kesempatan- kesempatan terbaik dengan melihat kesuksesan siswanya.

    ReplyDelete
  16. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sebenar-benarnya kesempatan dalam hidup kita adalah saat kita mau belajar dan terus belajar, mau membaca dan terus membaca, mau belatih dan terus berlatih, dan mau bertanya dan terus bertanya, serta mau berdoa dan terus berdoa. Dan sebenar-benarnya ilmu dan rahmat adalah jika kita menyadari kesalahan diri serta dengan segera mohon ampun. Setelah membaca postingan ini saya teringat filosofi ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Dari filosofi ini kita belajar bahwa semakin berilmu hendaknya kita semakin merendah diri, semakin menyadari kekurangan diri. Selain itu orang yang berilmu hendaknya menjadi bagawat menggapai kesempatan, berbagi ilmu pada sesama. Jika yang diberi ilmu juga menggapai kesempatan dengan membagikan lagi ilmu kepada yang lain maka itulah sebenar-benarnya hidup membawa manfaat untuk orang lain. Dan kita harus ingat bahwa salah satu amal yang tidak akan putus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat. Semoga kita semakin terpacu menjadi bagawat yang menggapai kesempatan. Amin

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Hidup adalah kesempatan. Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Kita harus menghargai setiap kesempatan yang diberikan, karena kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali. Meskipun begitu, kita tidak boleh menyerah dalam menggapai kesempatan karena ketika kita menyadarai kelemahan namun tetap bangkit untuk selalu menjadi lebih baik itu adalah sebaik-baiknya kesempatan.

    ReplyDelete
  18. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi sang begawat menggapai kesempatan, begawat disini berarti pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya. Seorang penguasa dapat menjadi begawat bagai rakyatnya, begitupula seorang guru dapat menjadi begawat bagi muridnya. Ketika dalam pembelajaran Seorang murid bertanya dan guru menjawab, itu bukan berarti murid menutupi sifat guru sebagai sang begawat namun itu berarti guru sedang memberi kesempatan bagi muridnya untuk menunjukkan potensinya. Oleh karena itu dari elegi ini saya belajar, bahwa sebagai manusia kita haruslah memberi dan diberi kesempatan jangan sampai kita menutup kesempatan orang lain untuk menggapai kebaikan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya. Dalam postingan ini dapat saya simpulkan bahwa dalam kehidupan marilah kita saling menghargai, sebelum kita ingin dihargai maka hargai dahulu orang lain. Ketika kita menghargai sesama manusia, maka orang juga akan menghargai kita. Selain itu, berbicara mengenai orang cerdas. Orang cerdas bisa mengendalikan dirinya. Mengendalikan dirinya dalam berbuat sesuatu, termasuk mengendalikan dirinya untuk mampu menghargai orang lain. Selain menghargai, untuk menasehati orang juga, maka kita harus menasehati diri kita sendiri dahulu. Jadi semua pasti ada timbal baliknya.
    Selain itu, pada postingan ini ada kata-kata "Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya." Maka kehidupan/kebiasaan sehari-hari akan mencerminkan hati seseorang. Apakah itu positif atau tidak, semua tergambarkan pada tingkah laku seseorang. Sebenar-benar hati kita yaitu rakhmat Nya. Maka hati kita merupakan ibadah kita, dan sebenar-benar hati adalah doa. Maka jagalah hati, jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi. Karena itulah sebenar-benar ilmu dan rakhmat.

    ReplyDelete
  20. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Ketika kita memperoleh kesempatan emas dalam hidup kita, manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Seperti kata kebanyakan orang, “Kesempatan tidak datang dua kali”. Bisa jadi itu kesempatan pertama dan terakhir untuk kita. Kepana kesempatan terakhir? Usia manusia tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT. Jika kita tidak bisa memanfaatkan kesempatan peluang yang ada belum tentu kita masih diberi umur untuk mengambil kesempatan selanjutnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila kita memperoleh kesempatan, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mengambil atau mengabaikan kesempatan itu hak kita, tapi jangan mengabaikan alasan mengapa memilih keputusan tersebut. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bijak dalam menyikapi kesempatan yang ada. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  21. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Hidup yang kita jalani sekarang ialah kesempatan yang datang dari Allah SWT. Kesempatan itu hanya datang satu kali. Begitu juga dengan hidup. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang nanti menyesal ketika di hari pembalasan, ingin kembali ke dunia, padahal kesempatan ke dunia sudah tak ada lagi masanya. Jadilah pengada yang sebaik-baiknya. Bercahaya tanpa harus memadamkan cahaya orang lain. Berusaha tanpa harus menutupi kesempatan orang lain. Karena sebaik-baik manusia ialah dia yang tulus ikhlas memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk orang lain agar menuju kepada kesuksesannya, sehingga ketika dia bersedih maka ada yang ikut bersedih, dan ketika ia bahagia maka ada yang ikut berbahagia.

    ReplyDelete
  22. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Kesempatan adalah keadaan terbaik yang sedang kita hadapi di mana kita memiliki peluang yang sangat besar untuk mendapatkan hasil yang terbaik pula nantinya. Kesempatan bisa berupa waktu, situ dan kondisi dari keadaan lingkungan sekitar yang melibatkan ataupun tidak melibatkan kita. Memilih ataupun tidak memilih merupakan kesempatan bagi setiap orang. Setiap detiknya kita memiliki kesempatan untuk mengubah atau menetapkan keadaan kita pada detik berikutnya. Maka sadarilah bahwa setiap waktu yang kita punya merupakan kesempatan terbaik untuk menentukan keadaan selanjutnya. Maka janganlah sia-siakan kesempatan yang ada, karena setiap detik yang telah berlalu tidak bisa diulang kembali dan tidak bisa memperbaiki kesalahan sebelumnya. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  23. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Kesempatan, sesuatu hal yang terkadang sangat ditunggu seseorang. Ataupun dipaksakan untuk diraih walau belum saatnya, dan terkadang terlewatkan tanpa bisa diambil lagi. Setiap orang ingin menggapai kesempatannya masing-masing, dan akan ada pencapaian dari setiap kesempatan itu.

    ReplyDelete
  24. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Saya setuju dengan pernyataan berikut "Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai. Itulah usahamu menggapai kesempatan." Disini saya menginterpretasikan analogi bagawat dalam artikel diatas adalah seorang yang memiliki power dalam ruang dan waktunya, bisa jadi pemimpin, guru, dll. Menggapai kesempatan disini dimaksudkan sebagai memberi kesempatan pada orang yang kita pimpin atau yang sedang kita ajar. Memberi kesempatan bukan berarti mengalah. Memberi kesempatan kepada orang lain sama juga dengan belajar. Kita bisa belajar dimana saja dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang kita beri kesempatan tersebut. Dimana kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk 'speak up' apa yang menjadi kebimbangan atau 'show up' apa yang menjadi kelebihan mereka. Memberikan kesempatan kepada orang lain dapat melatih diri kita untuk tidak egois dan lebih tenggang rasa.

    ReplyDelete
  25. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain"
    Saya menyadari sebagai seorang yang mengajar, saya sering ingin menutup sifat yang lain dengan sifat yang saya inginkan untuk ada di dalam diri yang saya ajar, sifat yang saya anggap ideal. Saya kurang menyadari bagaimana yang saya ajar memiliki sifat yang berbeda-beda. Tugas saya adalah memberi mereka kesempatan untuk berkembang sesuai dengan sifat mereka, bukan mengambil kesempatan mereka dan menimpa sifatnya dengan sifat yang ideal menurut saya. Karena yang ideal menurut saya belum tentu ideal menurut orang lain.

    ReplyDelete
  26. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    sebagai seorang pengajar, dan pelajar, saya melihat elegi ini dari sudut pandang yang demikian, da menyimpulkan bahwa kita harus terus belajar hingga akhir hayat. ilmu itu tidak berhenti sampai disitu saja saat kita telah lulus kuliah, tetapi ilmu terus berkembang dan kita terus mencari, agar ilmu yang kita peroleh tidak hanya sekedar menjadi mitos. dan sebagai seorang pengajar, kita juga harus terus menggali ilmu agar bisa menjadi seorang pengajar yang profesional dan terus berkembang.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof, ulasan yang sangat inspiratif. Saya sendiri masih terus mencari akan suatu kesempatan dalam setiap waktu yang ada. Sangat disayangkan ketika saya tidak mampu mempergunakan dengan sebaik mungkin kesempatan yang sudah saya dapatkan. Perlu ketelitian dan kepekaan diri dalam melihat kesempatan yang ada di depan mata. Setiap orang pasti memiliki kesempatan akan sesuatu. Terselip tanya dalam benak ini, sejauhmana hati berperan dalam melihat suatu kesempatan yang ada di dalam hidup? Kemudian, bagaimana mendeteksi kesempatan meski pada situasi yang tersembunyi sekalipun?

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel di atas. Persis seperti yang saya tangkap pada elegi seorang guru menggapai kesempatan. Seorang pemimpin haruslah mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya. Jangan sampai keberadaannya menutup dan menyembunyikan sifat mereka, karena berarti kita telah menutup kesempatan mereka. Bersikaplah adil dan bijak, gapailah kesempatan dengan tidak menutup kesempatan orang lain. Memberi kesempatan bukan berarti mengalah. Memberi kesempatan kepada orang lain sama juga dengan belajar. Kita bisa belajar dimana saja dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang kita beri kesempatan tersebut. Alangkah damainya hidup ini jika kita saling memberi kesempatan satu sama lain.Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  29. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Membaca elegi ini belajar tentang bermacam-macam begawat dengan segala pilihannya. Begawat menggapai kesempatan adalah begawat yang memilih untuk tidak menutupi sifat-sifat dari muridnya, begawat yang selalu memberikan kesempatan kepada muridnya untuk dapat hidup dengan mengembangkan ide dan pemikirannya masing-masing, begawat yang mengerti akan karakteristik masing-masing dan tidak menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang menginginkan siswa berada di bayang-bayangnya.

    ReplyDelete
  30. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Seorang begawat atau pemilik kekuasaan hendaknya tidak semena-mena dalam menggunakan apa yang telah diamanahkan tuhan kepadanya. Seorang pemilik kekuasaan hendaknya hidup dan menghidupkan orang di bawah kekuasaannya. Seorang pemilik kekuasaan harus mampu menempatkan perlakuan sesuai ruang dan waktu. Mereka hendaknya memahami ruang dan waktu harus berbicara dan mendengar, memberi dan diberi, menjadi subjek dan menjadi objek. Begitu pula halnya dengan seorang guru. Guru adalah pemilik kekuasaan di dalam kelas saat pembelajarannya. Semestinya guru dapat memposisikan diri dan muridnya untuk saling hidup dan menghidukan. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan dengan sesama manusia atau hablumminnas, sebaiknya kita selalu mampu menempatkan diri untuk menerjemahkan dan diterjemahkan sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  31. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Jujur, baru kali ini saya mendengar istilah seperti bagawat dan paralogos. Saya bangga kepada bapak karena memiliki wawasan yang luas sehingga dapat mentransfer nilai-nilai kebaikan (moral) dalam berbagai bentuk, salah-satunya melalui elegi. Dalam hal ini, bapak telah berhasil mebuka ruang dialog dengan memberikan kesempatan kepada kami untuk membaca ratusan tulisan-tulisan dan referensi-referensi yang berguna. Sangat jarang kita mendapatkan kesempatan yang bermanfaat seperti yang diberikanbapak kepada kami. Terima kasih.

    ReplyDelete
  32. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Terimakasih pak atas apa yang telah bapak tulis pada elegi ini. Saya menangkap dari elegi ini, bahwa seorang guru sepatutunya untuk selalu memberikan kesempatan kepada murid-muridnya, agar guru tidak menutupi sifat-fifat yang ada pada muridnya tersebut. Selayaknya guru adalah guru yang menempatkan dirinya sebagai fasilitator, bukan guru yang selalu menjelaskan hingga 2 jam pelajaran penuh dan murid hanya mendengar apa yang disampaikan guru. Ini lah langkah yang salah, dimana guru tidak dapat memberi kesempatan kepada muridnya untuk lebih aktif dan kreatif didalam berpikir. Dengan cara seperti itu murid tidak dapat bebas berpikir sehingga mereka menyimpan segala apa yang mereka punya yang sebenarnya dapat mereka utarakan. Inilah langkah guru yang dapat menutupi sifat-sifat pada muridnya.

    ReplyDelete