Sep 25, 2010

Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan




Oleh Marsigit

Transenden:

Ooo.oo..begitu..jadi ternyata aku menemukan bahwa ada bermacam-macam dimensi Bagawat dalam rentang ruang dan waktunya. Sebetul-betul Bagawat adalah pembawa, pengembang dan pemelihara ilmu bagi dimensinya. Setelah aku mengadakan Seminar Pertama Para Bagawat, sekarang sudah agak jelas mengapa persoalan-persoalan itu muncul. Aku juga bersyukur karena semakain banyak Bagawat menyadari keberadaan Bagawat yang lain. Melalui konferensi itu aku juga telah menemukan bahwa sebenar-benar Bagawat adalah pengada dan pemelihara logos.

 Bagawat Powernow itu ternyata adalah Bagawat Posmo dimana dia tidak mengontologikan sosok pribadi yang terisolasi. Dia betul-betul menyatu dan berkiprah ditengah samodra jejaring neolisme. Tiadalah Bagawat di bawah level Posmo seperti Bagawat Modern, Bagawat Tradisional dst mampu menandinginya. Sebenar-benar ilmu bagi Bagawat Posmo adalah manfaat-manfaatnya. Barang siapa tidak mendukung manfaatnya maka akan tergilaslah mereka itu. Itulah sebenar-benar penampakan Dajal yaitu sebuah Sistem Parsial yang hanya menguntungkan sebagian golongan saja. Sedangkan untuk kelompok yang lainnya, mereka cenderung memaksakan kehendaknya. Setinggi-tinggi Bagawat di Indonesia, termasuk Pemimpinnya, hanyalah sampai level Bagawat Tradisional dan sebagian Modern. Maka ibarat Burung Rajawali dengan Burung Perkutut perbandingannya. Solusinya adalah agar semakin banyak Bagawat-Bagawat kita yang menyadarinya dan memperteguh iman, taqwa dan doa meminta pertolongan Allah SWT. Tiadalah manusia itu mampu mengusir anak cucu syaitan, apalagi godfathernya syaitan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

Paralogos:
Wahai ...transenden...mengapa engkau lebih suka mengomentari keadaan para Bagawat Posmo dan perilakunya, padahal aku menyaksikan bahwa engkau itu sungguh hidup dan produk masyarakat paling banter sebagian Modern. Aku juga melihat bahwa dalam dirimu itu masih melekat sifat-sifatnya masyarakat Tribal dan masyarakat Tradisional. Bukankah sesungguh-sungguh yang terjadi adalah bahwa engkau itu sangat dekat dengan persoalan masyarakatmu? Hemm...gerah rasanya mengikuti perkembangan keadaan yang ada. Ternyata yang namanya krisis itu telah melanda semua aspek kehidupan. Tidak ketinggalan aku sedang menyaksikan banyak para Bagawat dari berbagai ruang dan waktu juga mengalami krisis. Ada diantara mereka mengalami kebigungan, ada yang kesurupan, ada yang melakukan plagiat, ada yang menari-nari tak peduli lingkungan, ada yang euphoria menemukan kedudukan baru, ada yang sibuk bersembunyi dari segala kritik, ada yang terkejut dengan suasana baru kemudian stress, ada yang sibuk menggali parit untuk mengalirkan udara, ada yang sibuk mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, ada yang sibuk main paksa, ada yang sangat sibuk dan over loaded aktivitasnya, ada yang terbatuk karena terlalu lama menahan diri, ada juga meledak-ledak memprotes suasana yang dihadapinya. Ada Bagawat yang sedang terlena tetapi tidak merugikan orang lain, ada Bagawat yang sedang terlena dan dimanfaatkan orang lain, tetapi ada Bagawat yang terlena tetapi merugikan orang lain. Ternyata aku menemukan paling banyak para Bagawat sedang mengalami kebimbangan dan memilih lebih baik diam dari pada bicara atau bertindak. Jika keadaan ini diterus-teruskan, wah..keadaannya bisa semakin runyam. Bagawat ...itulah setinggi-tinggi pengemban ilmu atau logos. Jika para Bagawat mengalami krisis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib para Cantraka, para Rakata, dan para Cemani.

Transenden:
Wahai Paralogos...kalau begitu apa yang engkau pikirkan itu persis sama dengan apa yang aku pikirkan. Lalu..apa masalahnya?

Paralogos:

Saya ingin bertanya perihal krisis yang dihadapi para Bagawat?

Transenden:
Memahami krisis itu tergantung persepsi masing-masing. Aku juga dapat memberikan pemahamanku sendiri. Menurutku krisis itu adalah kesempatan.

Paralogos:
Apakah kesempatan itu?

Transenden:
Para Bagawat sedang berada di persimpangan jalan. Di persimpangan jalan itulah mereka mempunyai kesempatan, tetapi ketika datang kesempatan itu ternyata dia bersifat jamak. Ada kesempataku berbelok ke kiri, ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus jalan lurus. Anehnya, ada pula kesempatan untuk ragu-ragu bahkan diam doing nothing. Maka satu-satunya kepastian adalah bahwa para Bagawat mempunyai kesempatan memilih. Itulah harga yang selama ini mereka cari dan mereka perjuangkan. Tetapi ingin aku katakan bahwa tidak memilih pun merupakan kesempatanku.

Paralogos:
Mohon diterangkan lebih lanjut perihal kesempatan?

Transenden:
Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Maka sebenar-benar hidup adalah kesempatan. Jikalau seseorang sudah tidak mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebagai hidup. Maka jikalau kamu menginginkan tetap hidup maka gapailah kesempatan itu.

Paralogos:
Lalu apa relevansinya kesempatan itu dengan krisis yang dialami para Bagawat?

Transenden:
Hidupmu adalah karena hidupnya orang lain. Jika tiadalah orang lain hidup disekitarmu, maka siapakah yang akan mengatakan bahwa dirimu hidup. Oleh karena itu maka wajib hukumnya bahwa engkau sebagai Bagawat harus selalu menghidup-hidupkan murid-muridnya dan masyarakatnya. Murid-muridnya dan masyarakatnya yang hidup itulah yang akan menyanyikan bahwa dirimu juga hidup. Maka sebenar-benar hidup adalah hidup dan saling menghidupkan.

Paralogos:
Lho..jadi ternyata ada kaitannya antara krisis, kesempatan dan hidup?

Transenden:

Jika engkau telah benar-benar hidup dan telah benar-benar hidup dan menghidupkan, maka tiadalah sesuatu di dunia ini yang tidak kait berkait. Maka kesempatan itu sebenarnya adalah hidup dan hidup itu adalah kesempatan. Semua yang ada di dunia itu kait berkait, dan itu adalah karena pikiranmu yang hidup. Maka jikalau engkau ingin melihat dunia, maka tengoklah ke dalam pikiranmu, karena dunia itu persis seperti apa yang engkau pikirkan. Demikian juga bagi para Bagawat.

Paralogos:
Wahai Transenden...bagaimana dengan sifat Bagawat yang mempunyai kuasa, paling tidak kuasa diberi amanah untuk mengemban ilmu?

Transenden:
Kesempatan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan di mana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Jika suatu sifat menutup sifat yang lain, maka sifat yang menutup dikatakan “menentukan” dan sifat yang tertutup dikatakan “ditentukan”.

Paralogos:
Apa relevansinya sifat menentukan dan sifat ditentukan dengan kekuasaan para Bagawat?.

Transenden:

Menentukan dan ditentukan itu adalah hubungan kuasa yang satu dengan tidak kuasa yang lain. Bukankah sudah pernah aku katakan bahwa para bagawat itu kuasa terhadap murid danmasyarakatnya,. Di sadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, maka para Bagawat itu adalah kuasa untuk menutup sifat murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya. Sedangkan murid-muridnya, pengikutnya dan masyarakatnya tidak kuasa untuk menghindar dari sifat menutup para Bagawat. Padahal sebenar-benar orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang sangat menikmati kegiatannya menutipi sifat-sifat yang lainnya. Maka para Bagawat seperti halnya orang-orang yang lainnya dapat sangat berbahaya bagi murid-muridm, pengikut dan masyarakatnya jika mereka sangat menikmati kegiatannya menutupi sifat mereka. Maka sebenar-benarnya tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat yang lain.

Paralogos:
Mohon apakah bisa diterangkan lebih detail lagi karena menurut saya sangat penting.

Transenden:
Bagawat yang baik adalah Bagawat yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid-murid, pengikut dan masyarakatnya. Maka janganlah sekali-kali keberadaannya dan kegiatannya sebagai Bagawat menutup sifat-sifat mereka. Karena sifat yang tertutup itulah sebenar-benar tiada kesempatan. Ciri-ciri seorang Bagawat menutup sifat-sifat murid-murid, pengikut dan masyarakatnya adalah jika dia secara sepihak mendiskripsikan ciri-cirinya. Jika mereka katakan muridnya sebagai malas, padahal dia belum tentu malas, maka yang demikian itu Bagawat telah menutupi sifatnya. Jika dia katakan bahwa muridnya bodoh, padahal belum tentu dia bodoh, maka yang demikian itu telah menutupi sifatnya. Jika mereka katakan bahwa muridnya tidak berkarakter maka itulah keadaan Bagawat yang sedang menutupi sifat-sifatnya. Jika secara sepihak Bagawat mengklaim bahwa untuk membangun karakter murid-muridnya harus melalui pemaksaan, maka itulah kegiatan mereka sedang menutup sifat-sifat murid-muridnya. Ketika mereka bicara sementara muridnya mendengar, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bekerja sementara muridnya melihat, maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika mereka bertanya sementara muridnya berusaha menjawab maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat berinisiatif sementara muridnya menunggu, itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menyuruh sementara muridmu melaksanakannya maka itu adalah proses menutupi sifat-sifatnya. Ketika Bagawat menilai prestasi siswanya maka itu adalah kejadian lain dari kegiatan mereka menutupi sifat-sifatnya. Maka adalah sungguh berdosalah bagi orang-orang yang gemar menutupi sifat orang lain, karena yang demikian dampaknya begitu besar bagi murid-muridnya. Bahkan aku bisa katakan bahwa menutupi sifat itu tidak lain tidak bukan adalah pembunuhan secara perlahan-lahan. Waspadalah.....karena dengan begitu maka maksudmu membangun karakter bisa saja berakibat justru membunuhnya.

Bagawat:
Sebentar...bolehkah aku ikut bertanya wahai Transenden. Jikalau sebaliknya, maksudku justeru yang melakukan atau yang menutui sifat itu murid, yaitu muridku menutupi sifat gurunnya aku sang Bagawat, bukankah itu sama dosanya.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat kesempatan, hakekat sifat dan hakekat kuasa. Sifat-sifat dari orang berkuasa adalah lain pula sifatnya dengan sifat-sifat orang yang tidak atau kurang berkuasa. Jikalau muridmu bicara dan kamu mendengarkan, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu bertanya dan engkau menjawab, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu berinisiatif dan engkau menunggu, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Jikalau muridmu melakukan kegiatan sementara engkau menontonnya, maka itu bukanlah muridmu sedang menutupi sifatmu, tetapi itulah engkau sedang memberikan kesempatan kepadanya. Demikian seterusnya. Jadi sifat memberi kesempatan dan sifat menutup sifat, adalah berbeda-beda sifatnya sesuai domisilinya, apakah dalam orang yang berkuasa atau dalam orang yang dikuasai. Ituykah usahamu menggapai kesempatan.

Bagawat:

Kenapa engkau sebut aku sebagai Bagawat menggapai kesempatan. Padahal sesuai dengan uraianmu mestinya aku lebih tepat kalau kau sebut sebagai Bagawat memberi kesempatan.

Transenden:
Itulah ujianku terhadap dirimu. Kalau itu adalah engkau sendiri yang mengatakan maka baiklah untuk dirimu. Tetapi jikalau aku yang mengatakan maka tidak baiklah untuk dirimu. Mengapa? Karena dengan demikian aku telah menutupi sifatmu.

Bagawat:
Oh ..Transenden, mohon maaf, bukankah Transenden telah berbuat kontradiktif, ambivalensi atau bertentangan di dalam dirimu sendiri sendiri. Di dalam Agama itu disebut sebagai munafik. Bagaimana menurutmu?

Transenden:
Benar ucapanmu. Sampai di sini aku merasa terharu walau mungkin kamu tidak demikian. mengapa karena engkau mulai menyadarinya. Sampai di sinilah aku akan katakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan sebelumnya.

Bagawat:
Apa itu guru? Tolong jelaskan. Aku menjadi penasaran dibuatnya.

Transenden:
Benar ucapanmu. Ketika aku berbicara panjang lebar kepadamu, maka aku sedang dalam proses menutupi sifat-sifatmu. Padahal aku sedang berbicara memberi kesempatan. Jadi aku tidak bisa memberi kesempatan tanpa menutupi sifat-sifatmu. Maka aku tidak bisa terhindar dari pertentangan dalam diriku. Jikalau engkau sensitif dan peka maka dapat aku katakan “pertentangan” itulah sebenar-benar hakekat hidup itu.

Bagawat:
Oh Transenden mengapa demikian. Mengapa aku capai-capai mengikuti penjelasanmu ternyata engkau hanyalah sebuah kontradiksi. Oh Tuhan ampunilah aku, ya Tuhan. Guru macam apalah engkau ini. Kenapa engkau mengajariku banyak hal padahal engkau sendiri adalah kontradiksi. Aku sudah tidak bisa lagi menangis. Air mataku sudah kering. Lalu aku harus bagaimana?

Transenden:
Tenang dan sabarlah. Karena ciri-ciri orang cerdas adalah jika dia bisa mengendalikan secara proporsional perasaannya.

Bagawat:

Saya harus sabar bagaiman guru? Bukankah selama ini kau telah menipuku. Menipuku secara besar-besaran. Maka tiadalah ampun bagimu, wahai guruku.

Transenden:
Padahal apa yang akan aku katakan justeru lebih berat dari itu. Sudah saya katakan berkali-kali bahwa diriku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu. Telah terbukti bahwa diriku tidak bisa terhindar dari pertentangan, maka dapat aku katakan bahwa bahwa sebenar-benar ilmumu itu adalah pertentangan atau kontradiksi. Tiadalah suatu ilmu tanpa kontradiksi, karena jika tidak ada kontradiksi maka itu berarti berlaku hukum identitas. tetapi dengan hukum identitas kita tidak akan mendapat ilmu apa-apa. Karena A adalah A itulah hukum identitas. “Aku” adalah “Aku” itu juga hukum identitas. Ketahuilah bahwa kalimat “Saya adalah guru” itu sebenar-benar kontradiktif dalam filsafat. Mengapa? Itu adalah kontradiktif dan tetap kontradiktif sampai engkau dapat membuktikan bahwa “Saya” itu identik atau persis saama dengan “guru”. Padahal kita tahu bahwa “saya” tidaklah sama dengan “guru”. “saya” mempunyai sifat-sifat yang berlainan dengan “guru”. Demikian pula bahwa “2+3=5” adalah juga kontradiktif secara filsafati mengapa, karena sebenar-benar bahwa “2+3” belumlah sama dengan “5” sebelum engkau mampu membuktikannya. Engkau tidak dapat mengatakan 2 buku ditambah 3 pensil sama dengan 5 buku. Kenapa? itulah karena buku dan pensil adalah dua ruang yang berbeda.

Bagawat:
Wahai guru, aku belum bisa menerima penjelasanmu itu. Karena guruku yang lain mengatakan “Jagalah hatimu dan jangan sampai ada pertentangan di situ. Jika terdapat satu saja pertentangan di hatimu, maka itu pertanda syaitan duduk di situ”. Kalau begitu apakah engkau sedang mengajarkan ilmunya syaitan kepadaku guru?

Transenden:

Benar pertanyaanmu dan benar pula ucapan gurumu yang lain itu. Sedari awal yang aku bicarakan adalah tentang dirimu dan diriku. Berkali-kali aku katakan bahwa diriku adalah ilmumu. Ilmumu adalah pikiranmu. Jadi sebenar-benar aku adalah pikiranmu. Jadi konradiksiku adalah kontradiksi dalam pikiranmu. Barang siapa ingin memperoleh ilmu dalam pikirannya, maka bersiaplah dia menemukan kontradiksi-kontradiksi itu.

Bagawat:
Terus bagaimana dengan hatiku ini guru?

Transenden:

Hatimu adalah jiwamu. Hatimu adalah hidupmu. Hidupmu tidak lain tidak bukan adalah hatimu. Maka barang siapa baik hatinya maka baik pula hidupnya. Dan barang siapa buruk hatinya maka buruk pula hidupnya. Sebenar-benar hatimu itu adalah satu, yaitu rakhmat Nya. Maka hatimu tidak lain tidak bukan adalah ibadahmu. Sebenar-benar hatimu adalah doa-mu. Jadi tiadalah pertentangan dan keragua-raguan di sana. Barang siapa membiarkan adanya pertentangan dan keragu-raguan di hati maka syaitan lah yang akan menghuni hatinya. Maka dengan tegas aku katakan jagalah hatimu jangan sampai ada pertentangan ataupun kontradiksi.

Bagawat:
Hah.. itulah sebenar-benar ilmuku guru. Oh Tuhan ampunilah segala dosaku. Aku telah berbuat durhaka kepada guruku. Kenapa guruku yang begitu hebat telah aku sumpah serapah. Manusia macam apakah aku ini ya Tuhan. Kiranya engkau cabut nyawaku sebagai tebusannya, maka ikhlaslah aku. Wahai guruku, sudilah engkau memaafkan diriku, dan sudilah aku masih tetap bersamamu.

Transenden:

Itulah sebenar-benar ilmu. Itulah sebenar-benar rakhmat. Yaitu jikalau engkau menyadari kelemahanmu dan selalu mohon ampun ke hadlirat Nya. Untuk meningkatkan profesionalismemu maka belajar dan selalu belajarlah, membaca dan selalu membacalah, bertanya dan selalu bertanyalah, berdoa dan selalu berdoalah. Inilah sebenar-benar kesempatan itu. Maka raihlah kesempatan itu. Tetapi janganlah salah paham karena sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika dia dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Maka sebenar-benar Bagawat menggapai kesempatan adalah jika murid-muridnya sebenar-benar menggapai kesempatan pula. Maka sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan. Itulah amanah yang telah aku berikan kepadamu wahai para Bagawat, yaitu membangun hidup dunia dan akhiratmu agar engkau dapat pula membangun hidup dunia dan akhirat para muridmu pula.

Amiin.

27 comments:

  1. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Praktik dalam realita di dunia pendidikan sekarang, masih banyak terjadi penutupan sifat atau penimpaan sifat yang dilakukan guru kepada peserta didiknya. Guru mengatakan muridnya bodoh, tidak bisa, malas dan lain sebagainya. Maka ketika itu guru telah menutup sifat dari muridnya. Praktek penutupan sifat ini tidak hanya terjadi dalam dunia pendidikan atau sekolah, namun juga terjadi dalam ruang keluarga. Banyak orang tua yang memaksa anaknya agar menjadi dokter, padahal potensi anak bukanlah menjadi dokter, bisa penyanyi, atlet, penulis atau yang lainnya. Maka orang tua telah menutupi potensi sifat anak dengan memaksa si anak untuk tidak menjadi dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  2. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dua kesempatan yang sering dilupakan adalah kesempatan sehat dan waktu luang. Dua kesempatan ini jika dioptimalkan maka akan berdampak baik bagi kehidupan. Kesempatan ini bisa digunakan untuk berktivitas positif dalam mengembangkan potensi diri kita semisal belajar, minat bakat, dll. Guru harus senantiasa memberikan kesempatan pada siswanya untuk belajar lebih baik dan mengembangkan potensinya. Guru harus memahami bahwa potensi masing-masing muridnya berbeda-beda ada yang berpotensi di akademik maupun non akademik. Sehingga siswa yang tidak berpotensi akademik belum tentu bodoh, namun pasti punya potensi diluar itu yang jika dikembangkan barangkali malah akan menghidupinya kelak.

    ReplyDelete
  3. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Membaca elegi sang begawat menggapai kesempatan membuat saya bercermin diri, jangan-jangan selama ini saya telah bertindak dzalim kepada murid-murid saya dengan menutupi sifat-sifatnya. Tadi saya menilai murid saya malas karena datang terlambat, tadi saya menilai murid saya bodoh hanya karena tidak hafal materi. Padahal sejatinya saya yang bodoh karena tidak dapat membuat murid saya mengerti ucapan saya. Padahal saya yang malas memahami dan malas memberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Semoga Allah mengampuni saya.

    ReplyDelete
  4. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Kesempatan akan erat kaitan maknanya dengan waktu. Kesempatan juga berkaitan dengan ruang(tempat). Seperti layaknya seorang murid (siswa/mahasiswa) yang mempunyai kesempatan untuk menggapai ilmu dengan banyak waktu untuk belajar dan tempat yang telah diberikan. Layaknya manusia yang diberikan kesempatan hidup, maka mulailah dengan melakukan hal-hal yang baik dan berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Dengan manusia itu melakukan hal baik maka manusia sudah mengisi kesempatan yang telah diberikan dimana pun berada dan bagaimanapun keadaannya.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Kesempatan adalah kemerdekaan. Kesempatan adalah potensi sekaligus fakta. Kita selalu diberi kesempatan dalam hidup kita. Ada kesempatan berbelok ke kiri , ke kanan, serong kiri, serong kanan, berbalik tetapi juga bisa terus berjalan lurus. Satu-satunya kepastian adalah bahwa kita punya kesempatan untuk memilih, namun tidak memilihpun juga kesempatan kita. Hidup adalah kesempatan, jika ingin hidup maka gapailah kesempatan itu. Sebenar-benar tidak hidup adalah jika sifat-sifatnya tertutup oleh sifat orang lain. Seorang Bagawat agar bisa menggapai kesempatan maka ia harus menghidupkan murid-muridnya, memberi kesempatan muridnya untuk berpikir atau bertindak merdeka (tidak memaksa murid-muridnya). Sebenar-benar hidup adalah memberi dan diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Hidup merupakan kesempatan dan kehidupan juga penuh dengan kesempata, baik memberi kesempatan maupun diberi kesempatan. Kita perlu untuk menggunakan dan memanfaatkan kesempatan yang ada karena kesempatan merupakan salah satu hal yang tidak akan datang untuk kedua kalinya, termasuk kesempatan sehat sehingga masih bisa untuk belajar, beribadah, mencari nafkah, dan hal yang bermanfaat lainnya.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Elegi ini membawa kita untuk dapat memahami hakikat kesempatan. Kita dilahirkan di dunia ini merupakan kesempatan. Kesempatan untuk beribadah, kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan diakhirat kelak. Maka dari itu janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan, khususnya kesempatan untuk hidup di dunia. Semoga kita termasuk orang yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan dunia dan akhirat. Aamiin.

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Guru merupakan pembimbing bagi siswa. Guru perlu jujur kepada siswa jangan menyembunyikan suatu apapun meskipun itu sifat atau watak. Guru bertugas sebagai fasilitator, jangan sampai ia menjadi otoriter dan memaksakan kehendaknya pada siswa. Guru harus memfasilitasi segala kebutuhan siswa dalam belajar, membantu siswa jika tidak bisa, membimbing agar dapat belajar dengan baik. Hubungan guru dan murid harus dijaga karena guru dan murid hakekatnya saling membutuhkan.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kesempatan adalah waktu, peluang, keluasaan. Setiap manusia diberi kesempatan untu hidup, karena jika seseorang sudah mempunyai kesempatan maka tiadalah dia dapat dikatakan sebahai hidup. Sehingga karena kita hidup maka gapailah kesempatan itu, kesempatan untuk berbuat baik dan juga beramal sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat nanti. Selain hidup kita diberikan 5 kesempatan slain sebelum terjadi 5 hal. Memanfaatkan 5 hal sebelum datangnya 5 hal yaitu kesempatan hidup sebelum mati, kesempatan sehat sebelum sakit, kesempatan muda sebelum tua, kesempatan kaya sebelum miskin, kesempatan waktu sebelum sibuk.

    ReplyDelete
  10. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Memaknai elegi Begawat menggapai kesempatan dalam implikasinya terhadap pembelajaran, sebagai seorang guru yang merupakan fasilitator bagi siswa hendakmnya mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplor dan mengembangkan potensi dalam dirinya. Guru harus mampu memahami keberagaman potensi siswa, keragaman bakat dan minat, serta memahami segi kelebihan dan kekurangannya. Dari sini sudah sepantasnya guru tidak bersifat otoriter dengan memaksakan kehendaknya. Guru hendaknya mampu mengemas kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dan kreatif.

    ReplyDelete
  11. Seringkali ketika sudah memiliki ilmu, kedudukan, atapun pangkat akan menghilangkan kesempatan diri berbuat salah, dan selalu merasa benar. Sangat mudah sekali menyalahkan orang lain. Padahal manusia dibekali pikiran untuk memikirkan baik dirinya maupun diluar dirinya. Maka sebaiknya selalu intropeksi diri agar mendapat kan ilmu, kedudukan yang berkah disisi-Nya.

    ReplyDelete
  12. Hidup yang hanya sekali harus dimanfaatkan dengan baik, karena hidup artinya berharmoni dengan objek diluar diri kita. Saling menghargai, menghormati, memberi adalah rumus berharmoni dalam kehidupan, antara satu dengan lainnya saling bergantung. Maka sudah sepantasnya saling memberi kesempatan, baik sebagai pemberi atau diberi.

    ReplyDelete
  13. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Memilih atau tidak memilih itulah sebuah kesempatan. Oleh karena itu, berpikir lebih dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya dalam menentukan pilihan dan mengambil kesempatan sangat diperlukan. Mendidik adalah salah satunya pilihan dari berbagai pilihan. Di dalam mendidik pun terdapat beberapa pilihan kesempatan. Kesempatan untuk menjadi pendidik yang profesional atau tidak, kesempatan menjadi pendidik yang memberikan kesempatan kepada peserta didiknya atau tidak, kesempatan menggunakan berbagai strategi, metode, pendekatan, dan model dalam proses pembelajarannya atau tidak, kesempatan untuk hanya datang, mengajar dan pulang atau tidak, dan masih banyak lagi kesempatan-kesempatan dalam pilihan mendidik itu. Sebenar-benar kesempatan adalah apabila kita bisa hidup dan menghidupkan orang lain. Seorang pendidik bisa menghidupkan pengetahuan anak didiknya, bisa menghidupkan suasana kelas yang memotivasi anak didiknya, bisa selalu berdoa dan berusaha untuk kebaikan orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenar-benarnya kesempatan adalah ketika menyadari kelemahan namun tetap bangkit untuk selalu menjadi lebih baik. Namun baik disini bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Memberikan kesempatan untuk orang lain ikut maju itulah salah satu bentuk agar kita semakin lebih baik. Hidup yang sebenar benarnya hidup adalah ketika bisa interaksi dan saling memahami satu sama lain. Memberikan kesempatan dan disisi lain kita diberikan kesempatan adalah bentuk dari kita saling memahami dan saling membutuhkan

      Delete
  14. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    Hidup ini ialah kesempatan. Maka jika kita masih hidup kita harus senantiasa mnggapai kesempatan. Meskipun bisa jadi ada kesempatan kedua, tetapi itu belumlah pasti. Maka kesempatan yang pertama dengan sungguh-sungguh, sebaik mungkin, semaksimal mungkin yang akan mengurangi rasa penyesalan akibat kehilangan kesempatan itu sendiri. Kita harus menggunakan kesempatan yang ada sebelum datang kesempitan.

    ReplyDelete
  15. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hidup adalah kesempatan, kesempatan untuk memberi kebebasan pada orang lain dan kebebasan untuk diberi kesempatan orang lain. Bagi pendidik memberi kebebasab pada siswanya untuk membangun dunia pengetahuannyapu juga kesempatan, kesempatan untuk membuka jalan bagi siswa menemukan sendiri dunianya.

    ReplyDelete
  16. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kesempaan itu adalah keadaan. Kesempatan itu adalah sifat. Kesempatan adalah keadaan dimana suatu sifat tidak tertutup oleh sifat yang lain. Kita sebagai calon guru hendaknya tidak menambah sifat lain kepada siswa kita, misalkan mengatakan siswa kita malas, karena jika suati sifat menutupi sifat yang lain, maka sifat yang menutup dinamakan “menentukan” dan sifat yang tertutupi dikatakan “ditentukan”, sehingga siswa yang sebenarnya tidak malas akan menjadi malas karena penambahan sifat yang kita berikan kepadanya akan menutupi sifat sesungguhnya

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup ini dipenuhi dengan berbagai macam kesempatan. Kesempatan untuk menentukan setiap langkah dari perjalanan hidup manusia. Hidup terus berjalan karena manusia memiliki berbagai macam kesempatan. Kesempatan yang ada di dunia ini bukan hanya tentang kesempatan untuk diri sendiri karena kita tahu bahwa manusia hidup berdampingan, saling membutuhkan, dan saling memberikan manfaat. Oleh karena itu, kita juga harus tahu bagaimana menempatkan kesempatan yang ada supaya menjadi sumber kebaikan bagi diri sendiri dan kepentingan banyak orang tanpa menutufi sifat-sifat yang lainnya.

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dalam hidup kita perlu berpikir lebih dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya dalam menentukan pilihan dan mengambil kesempatan. Orang yang berani berpikir adalah orang yang siap memilih dan siap mendapatkan kesempatan.Hidup adalah pilihan, Memilih atau tidak memilih itulah sebuah kesempatan. Maka dari itu kita harus menggunakan kesempatan dalam memilih sebaik mungkin. Memilih memang sulit, namun akan lebih buruk jika kita melewatkan sebuah kesempatan dan hanya penyesalan yang akan di dapat.
    Menurut saya pribadi, kesempatan biasa datang kapan saja. Karena Tuhan akan selalu memberi kesempatan pada kita. Semua makhluk Tuhan di bumi ini memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Tidak ada kesempatan yang tertutup, kita sendiri yang menutupnya. Kita tidak mau mencoba, kita terlalu takut, sehingga kesempatan tidak dapat dibuka lagi. Kuncinya adalah pikiran kita sendiri. Jadi, buka kesempatan dengan selalu berpikir positif, mulai bekerja, dan tidak menyerah untuk mencoba. Kesempatan tidak datang dengan sendirinya. Penting pula untuk selalu memanjatkan doa kepada Tuhan agar selalu di beri kesempatan.

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seringkali kita belajar disekolah ketika mengerjakan soal-soal ujian lebih condong pada mengetahui hasil kesalahan atas apa yang dikerjakan. Jadi siswa lebih mudah mencari kesalahan dari suatu soal dahulu untuk mengetahui kebenaran dari mengerjagan soal tersebut. hal ini lebih uah karena pada dasarnya kesalahan itu spesial sehingga lebih sering diperhatikan daripada kebaikan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  20. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Kesempatan adalah ketika manusia dapat mengutarakan semua pikiran dan hatinya secara bebas tanpa ada yang menghalangi. Hidup manusia di dunia adalah kesempatan itu sendiri, yaitu kita berkesempatan merasakan kehidupan, memperoleh ilmu, dsb. namun kesempatan itu tidak akan diperolehnya jika ia masih tertutupi oleh orang lain.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  21. Konsep memberikan kesempatan di dalam pendidikan sangatlah penting. Karena jika anak tidak diberi kesempatan maka ia tidak akan membangun pengetahuannya. Guru tidak boleh menutupi kesempatan anak tersebut untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing terbebas dari ambisi prang dewasa.

    ReplyDelete
  22. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Membaca kesempatkan merupakan tindakan yang harus diperhatikan ketika membuat sebuah perubahan. Sebab sedikit saja kira melalaikan sebuah sempatkan maka kita akan membuat nasib itu berbeda. Di sisi lain sebuah kesempatan maka diiringin dengan penyempurnaan. Transedetal atau yang bisa dikatakan Allah dalam tradisi beragama, maka kita tidak bisa melepaskan semua kesempatan tanpa kesempurnaan kepada Allah. Mula-mula menggapai nasib yang diinginkan, maka ada usaha seperti artikel sebelumnya, kemudian membaca kesempatan kemudian di sempurnakan dengan doa.

    ReplyDelete
  23. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    dari elegi sang begawat menggapai kesempatan dapat diambil kesimpulan manusia harus menyadari kelemahannya. dan harus selalu mohon petunjuk kepada Tuhan. manusia juga harus terus belajar untuk terus mengasah kemampuannya untuk membangun dunia.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Setiap manusia diberikan banyak kesempatan setiap harinya. Kesempatan-kesempatan tersebut ada yang mungkin atau tidak mungkin datang untuk kedua kalinya. Tidak semua ortang memilih untuk mengambil kesempatan tersebut. Jangan sampai kita menyesal karena menyia nyiakan kesempatan yang datang.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Banyak yang berpendapat bahwa kesempatan hanya datang satu kali. Tetapi menurut saya itu salah. Kesempatan selalu berada di depan kita, hanya saja bisa atau tidak kita melihat kesempatan itu kemudian membuka pintunya? Banyak yang ragu dengan kesempatan. Padahal dalam agama sudah disebutkan bahwa keragu-raguan akan mendatangkan kegelapan. Kegelapan akan mendatangkan ketidakkonsistenan. Sejatinya ketidak konsistenan akan selalu ada. Tidak ada didunia ini yang konsisten. Jadi life is contradiction. Semoga selalu yakin dalam mengambil kesempatan..

    ReplyDelete
  26. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini saya memahami bahwa sebenar-benar begawat yang menggapai kesempatan adalah mereka yang senantiasa melakukan refleksi diri. Melalui refleksi, mereka menyadari akan kekurangan dirinya sehingga hal ini menjadi motivasi untuk terus belajar meningkatkan dimensi diri dan memperdalam pengetahuan. Di samping itu, mereka juga menyadari akan kenikmatan dalam memberi manfaat bagi sekitar. Ilmu pengetahuan yang ada akan bermakna jika dijadikan sarana dalam membantu orang lain menggapai kesempatan.

    ReplyDelete