Sep 22, 2010

Elegi Konferensi Patung Filsafat

Oleh Marsigit

Logos:
Supaya bangsaku lebih dapat mengenal dirinya sendiri, maka aku akan menyelenggarakan konferensi patung filsafat. Aku persilahkan para patung filsafat untuk mengenalkan diri, memamerkan diri, mempromosikan diri. Tetapi jika para patung filsafat itu ingin kampanye mencari pendukung masing-masing, ya silahkan saja. Tetapi bagaimanapun aku akan tetap mengawasi dan mewaspadaimu semua. Saya akan menjadi moderator sekaligus pembahas. Wahai patung-patung filsafat, maka silahkanlah sekarang ini adalah waktumu untuk presentasi.



Patung Contoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung contoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi contoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya sebagai contoh yang baik bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi contoh yang baik.

Logos:
Wahai Patung Contoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan contoh?

Patung Contoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi contoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan contoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan contoh. Sekali contoh tetap contoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi contoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Contoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Tokoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung tokoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi tokoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali aku hanya sebagai tokoh bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi tokoh bagi yang lain.

Logos:
Wahai Patung Tokoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan tokoh?

Patung Tokoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi tokoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan tokoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan tokoh. Sekali tokoh tetap tokoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi tokoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Tokoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Ide:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung ide. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi ide bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan ideku dapat digunakan bagi orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah ideku telah digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Ide, bagaimana kejadiannya jika idemu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Ide:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan ideku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai ideku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar ideku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga ideku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Ide. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Slogan:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung slogan. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan slogannya menjadi menjadi slogan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan sloganku dapat digunakan sebagai slogan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah sloganku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Slogan, bagaimana kejadiannya jika sloganmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Slogan:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan sloganku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai sloganku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar sloganku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga sloganku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Slogan. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Nasehat:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung nasehat. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan nasehatnya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan nasehatku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah nasehatku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Nasehat, bagaimana kejadiannya jika nasehatmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Nasehat:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan nasehatku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai nasehatku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar nasehatku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga nasehatku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Nasehat. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Bijaksana:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung bijaksana. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan kebijaksanaanya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan kebijaksanaanku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah kebijaksanaanku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Bijaksana, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau dianggap tidak bijak oleh orang lain?

Patung Bijaksana:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan diriku dianggap bijak oleh orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai dianggap tidak bijak oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku dianggap bijak oleh orang lain. Sekali bijak tetap bijak. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap bijak oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Bijaksana. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah bijaksana. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Disiplin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung disiplin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana mendisiplinkan orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya mendisiplinkan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu mendisiplinkan orang lain.

Logos:
Wahai Patung Disiplin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak disiplin?

Patung Disiplin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah mendisiplinkan orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak disiplin oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap disiplin oleh orang lain. Sekali disiplin tetap disiplin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap disiplin oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Disiplin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah disiplin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pembimbing:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pembimbing. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana membimbing orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya membimbing orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu membimbing orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pembimbing, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu membimbing?

Patung Pembimbing:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah membimbing orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu membimbing orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu membimbing orang lain. Sekali membimbing tetap membimbing. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap mampu membimbing orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pembimbing. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu membimbing. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pemimpin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pemimpin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana memimpin orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya memimpin orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu memimpin orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pemimpin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu memimpin?

Patung Pemimpin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah memimpin orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu memimpinorang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu memimpin orang lain. Sekali memimpin tetap memimpin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dapat memimpin orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pemimpin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu memimpin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, terutama yang belum memberikan presentasi: patung informasi, patung dermawan, patung kebaikkan, patung keamanan, patung koordinator, patung administrator, patung ketua, patung sekretaris, patung peraturan, patung sahabat, patung editor, patung fasilitator, patung guru, patung dosen, patung mahasiswa, patung jabatan, patung profesi, patung dedikasi, patung senior, patung pakar, patung pengalaman, patung orang tua, patung piagam, patung sertifikat, patung suami, patung lurah, patung ganteng, patung polisi, patung moral, patung etika, patung semua yang ada dan yang mungkin ada. Serta logos. Maafkan aku, karena terbatasnya waktu maka konferensi terpaksa kita hentikan. Perkenankan aku akan memberi sambutan akhir.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sedangkan sebenar-benar si pembuat patung tidak lebihnya seperti bangsa quraish pada jaman jahiliah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat mengahancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu.

21 comments:

  1. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Manusia semestinya senantiasa berada dalam keadaan sadar sepenuhkan akan apa yang dilakukan, sebab dalam berbagai situasi manusia terancam pula menjadi pembuat patung-patung filsafat. Ketika sudah merasa ingin menjadi contoh, ide, memaksakan diri untuk menjadi tokoh bagi orang lain, dll, manusia telah menjadi pembuat patung filsafat.
    Logos pun akan menjadi mitos jika tidak lagi berpikir kritis.
    Sebagai guru, saya merasa senantiasa perlu menjadi kritis bagi diri saya sendiri, agar selalu dapat memberi kesempatan para siswa untuk membangun sendiri logosnya, dan bukan memaksakan ide atau contoh, atau nasehat saya untuk menjadi yang paling baik dan harus dicontoh.

    ReplyDelete
  2. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Patung, siapapun pembuatnya atau apapun kedudukannya, ia tetaplah patung. Ia adalah benda mati, ia adalah tidak bergerak. Maka siapapun yang menjadi patung maka ia adalah mitos. Jika kita ingin menjadi logos, dan tidak ingin menjadi mitos, maka kita harus senantiasa berrgerak, senantiasa berfikir kritis, berfikir murni, berfikir jernih. Berfikirlah maka kita akan menjadi logos, lawan dari mitos

    ReplyDelete
  3. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Nilai diri yang sebenarnya bukanlah hasil penilaian orang lain. Sebenar-benar nilai diri yang mengetahui hanyalah Allah SWT. Dianggap mampu memimpin, belum tentu bisa memimpin. Dianggap mampu menjadi contoh, belum tentu mampu menjadi contoh. Ketika kita terlalu mendewakan penilaian orang lain maka kita akan terjebak oleh mitos karena kita akan sibuk menutupi kekurangan diri dan bukan mengupgrade kualitas diri.

    ReplyDelete
  4. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Manusia tidak luput dari salah dan dosa. Hendaknya sebagai manusia jangan mengumbar kesombongannya dengan yang dia dapat atau ketahui. Karena ilmu Allah itu seluas langit dan bumi, sehingga manusia tidak patut menyombongkan ilmunya. Segala harta, kemewahan, dan kedudukan itu hanyalah bersifat sementara karena yang kekal hanya di akhirat. Sehebat-hebat manusia dimata manusia lain adalah karena aibnya ditutupi oleh Allah, andaikata semua aib manusia terlihat maka tidak ada manusia yang mengidolakan orang lain, karena sibuk dengan aibnya sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  5. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Patung merupakan sebuah wujud dari objek yang tidak bergerak, hanya diam dan tetaplah merupakan benda mati. Patung yang dibuat itu pastinya sesuai dengan keinginan dari pembuat patung itu, sehingga patung yang dibuat itu tidak pantas untuk disembah. Seperti yang kita tahu, bahwa patung tidak akan mungkin tercipta dengan sendirinya. Boleh saja patung itu di buat, akan tetapi tidak sampai untuk disembah atau dipercayai sebagai benda hidup. Manusia punya akal untuk berpikir, sehingga manusia semestinya berpikir lebih kritis akan patung-patung itu, bagaimana mungkin sebuah patung dapat memberikan contoh, ide, mengabulkan doa, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Saya memahami patung-patung filsafat di sini adalah sebuah sarana yang diciptakan oleh si pembuat patung untuk merusak orang lain. Patung ini bisa berupa apa saja, beberapa contohnya sudah disebutkan di atas. Sebagai contoh patung idola. Patung idola ini misalnya adalah para artis. Banyak generasi muda yang mencontoh gaya para artis. Meskipun gaya tersebut sebenarnya tidak sesuai dengannya, tetapi tetap diturunya demi prestise, gengsi, agar tidak dibilang kuno, dsb. Selain itu patung filsafat juga bisa berupa patung pemimpin. Pemimpin yang sewenang-wenang memimpin rakyat/ bawahannya, pemimpin yang korupsi, dsb tidak lain tidak bukan adalah sebuah patung. Ia telah menyalahi perannya sebagai pemimpin, memaksakan kehendaknya.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Orang yang merasa mampu dan sempurna maka dia akan berhenti berpikir, diam tanpa melakukan apa-apa layaknya sebuah patung.
    manusia sudah dianugerahi akal dan pikiran tentunya digunakan untuk selalu berpikir dan berpikir.
    Manusia yang mampu berpikir akan mampu meningkatkan dimensinya ke tingkat yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Kebijaksanaan, nasihat, pemimpin, ide disiplin, bimbingan itu diperlukan dalam mempelajari filsafat. Untuk belajar filsafat harus ikhlas dan rendah hati. Jangan sombong agar tidak terjerumus. Jangan malu untuk bertanya agar tidak tersesat.

    ReplyDelete
  9. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Berbagai subjek dan objek filsafat sejatinya adalah patung-patung sebagai wadahnya. Patung sebagai sesuatu yang dzahir dan mudah diindra serta dipelajari memberikan gambaran tentang wujud asli dalam patung tersebut. Bahkan penokohan adalah patung yang dibuat untuk memberikan wadah bagi suatu, seperti ilmu, kasih saying, rasa hormat. Ada juga patung mahasiswa, patung dosen, patung presiden, dsb

    ReplyDelete
  10. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Elegi konferensi patung filsafat di atas sangat menarik. Dimana dalam elegi tersebut memberikan pengetahuan mengenai ilmu. Dalam elegi tersebut disebutkan bahwa sebenar-benar ilmu/logos adalah berpikir kritis dan ilmu/logos itu adalah lawan dari mitos. Kita diharapkan dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya dengan menggunakan ilmu yang kita miliki. Terus menggali ilmu dan berpikir kritis sehingga kita dapat melawan mitos-mitos yang ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Patung filsafat adalah sebuah kondisi dimana seseorang memaksakan kehendak untuk berpikir, berniat, atau berencana menjadikan semua yang ada dan yang mungkin ada pada dirinya. Siapa pun dalam dunia ini sangat mungkin terjerumus menjadi sebuah patung filsafat, dalam bentuk yang sangat banyak macamnya. Dari elegi ini dapat diambil sebuah pelajaran bahwa dalam hidup ini kita harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjelma menjadi sebuah patung, yang selalu berusaha memaksakan kehendak sesuai dengan kemauannya

      Delete
  11. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Para tokoh, para pembimbing, para pemimpin, para bijaksana, mereka hanyalah manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Memang sangat baik ketika kita bisa menjadi tokoh, menjadi pemimpin yang selalu diikuti, menjadi para bijaksana dan pemberi nasehat yang selalu didengar oleh orang lain, dan menjadi para-para lainnya yang berperan dan bermanfaat. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita melakukan berbagai macam cara (menutupi kelemahan dan keburukan) untuk tetap menjadi sorotan dan panutan orang lain. Apabila hal tersebut terjadi, kita tidak akan lebih dari hanya sekedar patung. Patung contoh, patung tokoh, patung pemimpin, dan patung-patung yang lainnya.

    ReplyDelete
  12. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sesungguhnya apa yang hendak kita lakukan itu harus mempunyai dasar, dalam artian kita harus tau dasar aturannya. Seperti hal nya dalam beribadah, dalam beribadah itupun kita harus tahu dasarnya sehingga kita tidak ikut-ikutan menyembah hanya karena itu merupakan tradisi orang tua. Kita harus mendalami agama yang kita anut secara lebih mendalam sehingga kita tidak hanya beribadah sebagai mitos saja, atau beribadah karena ikut-ikutan

    ReplyDelete
  13. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Patung yang ada di dunia ini merupakan patung yang berasal dari apa yang ada di dunia ii. Jadi sebenar-benarnya patung adalah apa yang ada di dunia ini. Patung-patung yang ada di dunia ini merupakan wakil dari perbuatan yang dilakukan serta sifat yang dipancarkan dari masing-masing patung.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  14. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Patung adalah benda yang tidak bergerak, berkata, bahkan tidak bepikir /tidak tau apa pun. Sehingga patung itu sebatas contoh saja namun tidak boleh dijadikan panutan, penuntun, pedoman untuk diitiru dalam menjalani hidup.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, masih memiliki banyak kelemahan. Maka seharusnya manusia tidak akan bisa menjadi contoh bagi yang lainnya, sehingga jangalah kita bersikap sombong dengan menganggap dirinya sudah mampu memberikan contoh kepada orang lain.

      Delete
  15. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Saya melihat diri pantung dua sisi. Satu sisi sebagai sosok yang positif tetapi sisi lain sebagai sosok negatif. Sosok positifnya, seseorang harus siap menjadi tontonan lingkungan tanpa harus melihat apa yang ada dalam dirimu. Orang akan menjadikan patung tersebut bagai sosok yang menjadi dia seseorang yang harus menjaga penampilan dan menjadi diri sendiri. menjadi diri sendiri tidak semua orang bisa menjalankan. Kemudian negatif, ia egois. Ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, tanpa harus menghilangkan dirinya. Egois ini membuat dirinya tidak akan peka dengan lingkungan sekitarnya.

    ReplyDelete
  16. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi konferensi patung filsafat diatas menurut saya yaitu, sejatinya patung hanyalah suatu bentuk gambaran manusia yang ada yang menunjukkan keunggulannya namun menutupi kelemahannya

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  17. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi diatas, bahwa dalam kehidupan manusia, manusia itu sendiri memiliki tingkatan kehidupan dalam berpikir yang menginginkan untuk menjadikan dirinya sebagai contoh, teladan, pembuat ide, namun kesemuanya itu tidak dapat terpenuhi dalam diri manusia karena, sebenar-benarnya logos adalah berpikir kritis. dan sebenar-benarnya logos adalah lawan dari mitos. Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  18. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi konferensi patung filsafat menggambarkan sebuah konferensi yang didalamnya terdapat banyak pemikiran ataupun pendapat yang membenarkan pendapat dirinya sendiri. Dan keyakinan tersebut terkadang dijadikan dasar untuk memaksakan kehendak. Padahal cerita diatas juga menunjukkan bagaimana kita sebagai seorang manusia agar hendaknya berpikir kritis terhadap situasi apapun, bukan memaksakan pendapat. Berpikir kritis untuk mematahkan mitos yang ada

    ReplyDelete
  19. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Di kehidupan ini banyak sekali fenomena oranga yang menjelma menajdi suatu contoh dan tokoh. Ternyata mereka menutupi banyak kekurangannya agar tetap dijadikan sebagai contoh. Itulah indikasi orang yang kurang rasa keikhlasan dan kejujurannya. Sehingga kita harus berpikir kritis dan logis dalam menyikapinya. Agar kita tidak termakan oleh tipu daya para pemimpin yang selalu melakukan pencitraan di depan publik, sehingga membuat dia menjelma menjadi contoh atupun tokoh. Ingatlah bahwa sebaik-baik logos adalah berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada mitos yang diciptakan oleh para pembuat mitos. Terimakasih

    ReplyDelete