Sep 22, 2010

Elegi Konferensi Patung Filsafat

Oleh Marsigit

Logos:
Supaya bangsaku lebih dapat mengenal dirinya sendiri, maka aku akan menyelenggarakan konferensi patung filsafat. Aku persilahkan para patung filsafat untuk mengenalkan diri, memamerkan diri, mempromosikan diri. Tetapi jika para patung filsafat itu ingin kampanye mencari pendukung masing-masing, ya silahkan saja. Tetapi bagaimanapun aku akan tetap mengawasi dan mewaspadaimu semua. Saya akan menjadi moderator sekaligus pembahas. Wahai patung-patung filsafat, maka silahkanlah sekarang ini adalah waktumu untuk presentasi.



Patung Contoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung contoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi contoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya sebagai contoh yang baik bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi contoh yang baik.

Logos:
Wahai Patung Contoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan contoh?

Patung Contoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi contoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan contoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan contoh. Sekali contoh tetap contoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi contoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Contoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Tokoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung tokoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi tokoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali aku hanya sebagai tokoh bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi tokoh bagi yang lain.

Logos:
Wahai Patung Tokoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan tokoh?

Patung Tokoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi tokoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan tokoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan tokoh. Sekali tokoh tetap tokoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi tokoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Tokoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Ide:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung ide. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi ide bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan ideku dapat digunakan bagi orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah ideku telah digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Ide, bagaimana kejadiannya jika idemu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Ide:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan ideku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai ideku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar ideku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga ideku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Ide. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Slogan:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung slogan. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan slogannya menjadi menjadi slogan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan sloganku dapat digunakan sebagai slogan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah sloganku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Slogan, bagaimana kejadiannya jika sloganmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Slogan:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan sloganku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai sloganku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar sloganku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga sloganku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Slogan. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Nasehat:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung nasehat. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan nasehatnya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan nasehatku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah nasehatku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Nasehat, bagaimana kejadiannya jika nasehatmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Nasehat:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan nasehatku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai nasehatku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar nasehatku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga nasehatku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Nasehat. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Bijaksana:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung bijaksana. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan kebijaksanaanya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan kebijaksanaanku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah kebijaksanaanku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Bijaksana, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau dianggap tidak bijak oleh orang lain?

Patung Bijaksana:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan diriku dianggap bijak oleh orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai dianggap tidak bijak oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku dianggap bijak oleh orang lain. Sekali bijak tetap bijak. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap bijak oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Bijaksana. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah bijaksana. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Disiplin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung disiplin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana mendisiplinkan orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya mendisiplinkan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu mendisiplinkan orang lain.

Logos:
Wahai Patung Disiplin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak disiplin?

Patung Disiplin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah mendisiplinkan orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak disiplin oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap disiplin oleh orang lain. Sekali disiplin tetap disiplin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap disiplin oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Disiplin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah disiplin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pembimbing:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pembimbing. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana membimbing orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya membimbing orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu membimbing orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pembimbing, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu membimbing?

Patung Pembimbing:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah membimbing orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu membimbing orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu membimbing orang lain. Sekali membimbing tetap membimbing. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap mampu membimbing orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pembimbing. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu membimbing. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pemimpin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pemimpin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana memimpin orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya memimpin orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu memimpin orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pemimpin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu memimpin?

Patung Pemimpin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah memimpin orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu memimpinorang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu memimpin orang lain. Sekali memimpin tetap memimpin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dapat memimpin orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pemimpin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu memimpin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, terutama yang belum memberikan presentasi: patung informasi, patung dermawan, patung kebaikkan, patung keamanan, patung koordinator, patung administrator, patung ketua, patung sekretaris, patung peraturan, patung sahabat, patung editor, patung fasilitator, patung guru, patung dosen, patung mahasiswa, patung jabatan, patung profesi, patung dedikasi, patung senior, patung pakar, patung pengalaman, patung orang tua, patung piagam, patung sertifikat, patung suami, patung lurah, patung ganteng, patung polisi, patung moral, patung etika, patung semua yang ada dan yang mungkin ada. Serta logos. Maafkan aku, karena terbatasnya waktu maka konferensi terpaksa kita hentikan. Perkenankan aku akan memberi sambutan akhir.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sedangkan sebenar-benar si pembuat patung tidak lebihnya seperti bangsa quraish pada jaman jahiliah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat mengahancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu.

8 comments:

  1. Nama :Mariana Ramelan
    NIM :17709251056
    Kelas :S2 PMC 2017

    Sekali lagi kita tidak bisa terus berdiam diri menjadi sebuah patung yang tidak memberikan kontribusi maksimal, atau mungkin lebih dikenal dengan hanya formalitas saja. Kita tau bahwasannya patung itu benda mati yang menjadi history, menjadi tontonan banyak orang tak mampu bergerak apalagi berpikir. Apakah kita mau disamakan dengan patung??

    ReplyDelete
  2. Banyak fakta yang terjadi bagaimana yang ada kita hanya formalitas, hanya slogan, dan tidak ada realisasi yang jelas. Oleh karena itu, Kita harus berpikir kritis meneladani Rasullah yang menghancurkan patung dan pembuatnya. kita harus senatiasa bergerak, berkembang, dan belajar dari pengalaman, sehingga kita tidak termakan dan dikalahkan oleh mitos.

    ReplyDelete
  3. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan elegi konferensi patung filsafat, terdapat macam-macam patung diantaranya patung contoh dan tokoh. Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa patung-patung tersebut berusaha melakukan segala cara untuk menutupi kekurangan dan kelemahannya agar mereka senantiasa tetap diagung-agungkan sebagai patung. Sedangkan benar-benar si pembuat patung itu tidak lebihnya seperti bangsa qurais seperti pada jaman jahiliyah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka perlu pikiran yang kritis agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari “Elegi Konferensi Patung Filsafat” bahwa kita harus dapat berpikir kritis dan logis. Dalam dunia pendidikan, seorang guru itu berwibawa namun dalam praktiknya dia tidak melaksanakan tugas selayaknya seorang guru dan menutupi semua kelemahan dan keburukannya. Maka kita tidak boleh menjadi guru yang seperti itu. Janganlah menjadi patung seperti elegi di atas, yang hanya membuat orang lain untuk mengakui keberadaan kita namun yang sebenarnya dia tidak mampu untuk mempertanggungjawabannya .
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  6. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi patung filsafat yang sedang berdebat ini, terdapat kesimpulan yang bagus sekali yaitu bahwa sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Logos juga erat kaitannya dengan pikiran manusia. Maka logos adalah lawan dari mitos. Patung yang ada dalam elegi ini menggambarkan keagungan. Ketika seseorang menjabat suatu dan ia hanya mengagungkan jabatan itu tanpa mengunggulkan kinerja atau isinya maka itulah patung, hanya digunakan untuk menutupi kekurangannya. Karena sejatinya patung itu juga memiliki filsafat dia diciptakan tidak bisa apa apa, tidak memberi manfaat dan mudhorot bagi orang lain. Maka harapannya kita bukan hanya menjadi patung, tapi pembuatnya yang senantiasa aktif dan kritis.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 P

    "Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos"

    Maka seudah jelas bahwa senjata pemberantas adalah logos. Dan hanyalah dengan berpikir kritislah kita mampu menggapai logos. Mohon ijin, saya akan berkomentar mengenai "Patung Filsafat". Menurut saya sebenar-benarnya "patung filsafat" adalah tetap patung, bukanlah "filsafat" yang sesungguhnya. "Patung filsafat" adalah hal-hal disharmoni yang berupaya disembunyikan seakan-akan mereka sedang menggapai harmoni.

    Refleksi pada kehidupan kita sehari-hari adalah hidup itu terjemah dan menterjemahkan. Tidak ada hal yang benar-benar mutlak dan ideal. Alangkah lebih baik jika segalanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  8. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pasca)


    Setiap orang memiliki orang yang dapat dijadikan contoh, orang tersebut memiliki tingkatan lebih tinggi dari kita sehingga kita akan mengaguminya dan menjadikan dia sebagai panutan. Sebagaiman hal tersebut sebagai orang yang dicontoh orang lain, maka orang tersebut harus menjaga kelakuannya, menutupi semua kelemahan dan keburukan agar orang yang mencontoh kita tidak salah arah, karena hal tersebut dapat memberikan kita menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab kepada orang yang menjadi salah karena kita. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat dijadikan contoh asalkan dia memiliki keinginan untuk berpikir, berencana dan berniat untuk dijadikan contoh.

    ReplyDelete