Sep 22, 2010

Elegi Konferensi Patung Filsafat

Oleh Marsigit

Logos:
Supaya bangsaku lebih dapat mengenal dirinya sendiri, maka aku akan menyelenggarakan konferensi patung filsafat. Aku persilahkan para patung filsafat untuk mengenalkan diri, memamerkan diri, mempromosikan diri. Tetapi jika para patung filsafat itu ingin kampanye mencari pendukung masing-masing, ya silahkan saja. Tetapi bagaimanapun aku akan tetap mengawasi dan mewaspadaimu semua. Saya akan menjadi moderator sekaligus pembahas. Wahai patung-patung filsafat, maka silahkanlah sekarang ini adalah waktumu untuk presentasi.



Patung Contoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung contoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi contoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya sebagai contoh yang baik bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi contoh yang baik.

Logos:
Wahai Patung Contoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan contoh?

Patung Contoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi contoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan contoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan contoh. Sekali contoh tetap contoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi contoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Contoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Tokoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung tokoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi tokoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali aku hanya sebagai tokoh bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi tokoh bagi yang lain.

Logos:
Wahai Patung Tokoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan tokoh?

Patung Tokoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi tokoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan tokoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan tokoh. Sekali tokoh tetap tokoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi tokoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Tokoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Ide:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung ide. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi ide bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan ideku dapat digunakan bagi orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah ideku telah digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Ide, bagaimana kejadiannya jika idemu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Ide:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan ideku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai ideku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar ideku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga ideku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Ide. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Slogan:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung slogan. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan slogannya menjadi menjadi slogan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan sloganku dapat digunakan sebagai slogan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah sloganku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Slogan, bagaimana kejadiannya jika sloganmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Slogan:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan sloganku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai sloganku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar sloganku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga sloganku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Slogan. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Nasehat:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung nasehat. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan nasehatnya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan nasehatku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah nasehatku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Nasehat, bagaimana kejadiannya jika nasehatmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Nasehat:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan nasehatku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai nasehatku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar nasehatku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga nasehatku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Nasehat. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Bijaksana:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung bijaksana. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan kebijaksanaanya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan kebijaksanaanku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah kebijaksanaanku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Bijaksana, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau dianggap tidak bijak oleh orang lain?

Patung Bijaksana:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan diriku dianggap bijak oleh orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai dianggap tidak bijak oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku dianggap bijak oleh orang lain. Sekali bijak tetap bijak. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap bijak oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Bijaksana. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah bijaksana. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Disiplin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung disiplin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana mendisiplinkan orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya mendisiplinkan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu mendisiplinkan orang lain.

Logos:
Wahai Patung Disiplin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak disiplin?

Patung Disiplin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah mendisiplinkan orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak disiplin oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap disiplin oleh orang lain. Sekali disiplin tetap disiplin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap disiplin oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Disiplin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah disiplin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pembimbing:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pembimbing. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana membimbing orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya membimbing orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu membimbing orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pembimbing, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu membimbing?

Patung Pembimbing:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah membimbing orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu membimbing orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu membimbing orang lain. Sekali membimbing tetap membimbing. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap mampu membimbing orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pembimbing. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu membimbing. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pemimpin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pemimpin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana memimpin orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya memimpin orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu memimpin orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pemimpin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu memimpin?

Patung Pemimpin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah memimpin orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu memimpinorang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu memimpin orang lain. Sekali memimpin tetap memimpin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dapat memimpin orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pemimpin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu memimpin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, terutama yang belum memberikan presentasi: patung informasi, patung dermawan, patung kebaikkan, patung keamanan, patung koordinator, patung administrator, patung ketua, patung sekretaris, patung peraturan, patung sahabat, patung editor, patung fasilitator, patung guru, patung dosen, patung mahasiswa, patung jabatan, patung profesi, patung dedikasi, patung senior, patung pakar, patung pengalaman, patung orang tua, patung piagam, patung sertifikat, patung suami, patung lurah, patung ganteng, patung polisi, patung moral, patung etika, patung semua yang ada dan yang mungkin ada. Serta logos. Maafkan aku, karena terbatasnya waktu maka konferensi terpaksa kita hentikan. Perkenankan aku akan memberi sambutan akhir.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sedangkan sebenar-benar si pembuat patung tidak lebihnya seperti bangsa quraish pada jaman jahiliah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat mengahancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu.

38 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Kita harus kritis dalam memilih seseorang untuk menjadi teladan dalam hidup kita. Karena jika salah pilih kita akan menjadi seperti kaum Qurais yang menyembah patung yang di buat oleh para mitos. berpikir kritis itu perlu agar kita bukan mengikuti patung

    ReplyDelete
  2. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dalam elegi ini sang patung contoh berusaha tetap menampilkan sisi terbaik dari dirinya. Karena bagaimanapun patung contoh dijadikan teladan bagi yang lain. Hal ini menurut saya bisa berhubungan dengan seseorang yang disukai banyak orang sehingga secara otomatis menjadi contoh, maka dari itu bagaimanapun dia mencoba menampilkan sisi baik dari dalam dirinya. Karena itulah kita harus berhati-hati dalam memilih panutan yang memang baik bukan hanya dari sisi yang ditampilkan saja.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berdasarkan elegi di ini bahwa mitos diibaratkan menjadi patung. Pada dasarnya patung-patung filsafat adalah representasi dari mitos-mitos yang tidak perlu dipertanyakan kebenarannya. Sebenar-benar ilmu atau logos adalah berpikir kritis. Dengan berpikir kritis kita diharapkan dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dan melawan mitos-mitos yang ada.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Patung filsafat akan mengancam siapa saja yang berhenti berpikir. Dengan berfikir kritis maka patung-patung tersebut akan hancur. Sebaiknya kita sellau berfikir kritis agar dapat menggapai logos dan terhindar dari mitos. Karena sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sebenar-benar ilmu/logos adalah berpikir kritis dan logos adalah lawan dari mitos.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Patung merupakan suatu benda hasil buatan manusia yang bisa dibuat dari batu, tanah liat atau yang lainnya. Patung dibuat setelah ada ide dari pikiran manusia bahwa manusia dapat membuat benda patung.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Patung dibuat pada zaman bangsa quraish pada jaman jahiliyah atau zaman kegelapan. Dimana keadailan tidak dapat diperjuangkan, pembuatnya ingin semua orang menyembah patung yang ia buat. Patung-patung tersebut akan hancur beserta pemiliknya jika calon penyembahnya memiliki hati yang ikhlas dan pemikiran yang kritis akan segala sesuatu hal yang akan diambilnya. Dengan demikian jangan pernah mau atau diperalat oleh hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, dengan pemikiran yang kritis dan hati yang ikhlas akan menjauhkan dirikita dari segala godaan syeitan yang ada dengan memperbanyak dzikir dan berdo’a kepada Allah SWT yang mengatur semesta alam ini.

    ReplyDelete
  7. Nama :Mariana Ramelan
    NIM :17709251056
    Kelas :S2 PMC 2017

    Sekali lagi kita tidak bisa terus berdiam diri menjadi sebuah patung yang tidak memberikan kontribusi maksimal, atau mungkin lebih dikenal dengan hanya formalitas saja. Kita tau bahwasannya patung itu benda mati yang menjadi history, menjadi tontonan banyak orang tak mampu bergerak apalagi berpikir. Apakah kita mau disamakan dengan patung??

    ReplyDelete
  8. Banyak fakta yang terjadi bagaimana yang ada kita hanya formalitas, hanya slogan, dan tidak ada realisasi yang jelas. Oleh karena itu, Kita harus berpikir kritis meneladani Rasullah yang menghancurkan patung dan pembuatnya. kita harus senatiasa bergerak, berkembang, dan belajar dari pengalaman, sehingga kita tidak termakan dan dikalahkan oleh mitos.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan elegi konferensi patung filsafat, terdapat macam-macam patung diantaranya patung contoh dan tokoh. Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa patung-patung tersebut berusaha melakukan segala cara untuk menutupi kekurangan dan kelemahannya agar mereka senantiasa tetap diagung-agungkan sebagai patung. Sedangkan benar-benar si pembuat patung itu tidak lebihnya seperti bangsa qurais seperti pada jaman jahiliyah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka perlu pikiran yang kritis agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari “Elegi Konferensi Patung Filsafat” bahwa kita harus dapat berpikir kritis dan logis. Dalam dunia pendidikan, seorang guru itu berwibawa namun dalam praktiknya dia tidak melaksanakan tugas selayaknya seorang guru dan menutupi semua kelemahan dan keburukannya. Maka kita tidak boleh menjadi guru yang seperti itu. Janganlah menjadi patung seperti elegi di atas, yang hanya membuat orang lain untuk mengakui keberadaan kita namun yang sebenarnya dia tidak mampu untuk mempertanggungjawabannya .
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi patung filsafat yang sedang berdebat ini, terdapat kesimpulan yang bagus sekali yaitu bahwa sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Logos juga erat kaitannya dengan pikiran manusia. Maka logos adalah lawan dari mitos. Patung yang ada dalam elegi ini menggambarkan keagungan. Ketika seseorang menjabat suatu dan ia hanya mengagungkan jabatan itu tanpa mengunggulkan kinerja atau isinya maka itulah patung, hanya digunakan untuk menutupi kekurangannya. Karena sejatinya patung itu juga memiliki filsafat dia diciptakan tidak bisa apa apa, tidak memberi manfaat dan mudhorot bagi orang lain. Maka harapannya kita bukan hanya menjadi patung, tapi pembuatnya yang senantiasa aktif dan kritis.

    ReplyDelete
  12. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 P

    "Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos"

    Maka seudah jelas bahwa senjata pemberantas adalah logos. Dan hanyalah dengan berpikir kritislah kita mampu menggapai logos. Mohon ijin, saya akan berkomentar mengenai "Patung Filsafat". Menurut saya sebenar-benarnya "patung filsafat" adalah tetap patung, bukanlah "filsafat" yang sesungguhnya. "Patung filsafat" adalah hal-hal disharmoni yang berupaya disembunyikan seakan-akan mereka sedang menggapai harmoni.

    Refleksi pada kehidupan kita sehari-hari adalah hidup itu terjemah dan menterjemahkan. Tidak ada hal yang benar-benar mutlak dan ideal. Alangkah lebih baik jika segalanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  13. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pasca)


    Setiap orang memiliki orang yang dapat dijadikan contoh, orang tersebut memiliki tingkatan lebih tinggi dari kita sehingga kita akan mengaguminya dan menjadikan dia sebagai panutan. Sebagaiman hal tersebut sebagai orang yang dicontoh orang lain, maka orang tersebut harus menjaga kelakuannya, menutupi semua kelemahan dan keburukan agar orang yang mencontoh kita tidak salah arah, karena hal tersebut dapat memberikan kita menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab kepada orang yang menjadi salah karena kita. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk dapat dijadikan contoh asalkan dia memiliki keinginan untuk berpikir, berencana dan berniat untuk dijadikan contoh.

    ReplyDelete
  14. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Adanya "patung-patung" di dalam kehidupan kita hanya akan membatasi berkembangnya ide dan pikiran kita. Kita akan terpaku dengan hal yang dibungkus sedemikian rupa oleh para pemahat'patung' tersebut sehingga kita tidak berusaha mencari kebenaran-kebenaran lainnya. Sebagai panutan hendaknya ia membukakan jalan dan pikiran orang sekitarnya untuk berkembang bahkan melebihi yang ia punya.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebenar- benar ujian bagi orang- orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaannya, termasuk menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kelemahan dan keburukannya agar tetapi berkuasa, agar tetap menguasai para objek. Para subjek ini telah menggunakan mitos mitos untuk menutupi kelemahannya di depan para objek. Cara mengalahkan mitos adalah dengan logos, dengan daya pikir kritis. Maka para objek haruslah berpikir kritis untuk mengalahkan mitos dan subjek yang membuatnya.

    ReplyDelete
  16. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini menggambarkan patung filsafat sebagai orang-orang yang menganggap dirinya benar dengan membangun pencitraan yang baik atas dirinya. Dimana ia menghalalkan berbagai cara agar dipercaya dan dipandang baik. Dan elegi ini mengandung pesan agar kita lebih kritis dalam memandang dan mempercayai orang/sesuatu. Dengan bersikap kritis kita dapat melemahkan dan menghancurkan orang-orang yang berjaya di atas pencitraan semata.

    ReplyDelete
  17. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)


    Beberapa elegi sebelumnya yang telah saya baca mengatakan bahwa sesuatu yang berasal dari manusia bersifat relatif, artinya mungkin ada atau mingkin tidak ada, mungkin benar, mungkin benar, mungkin bukan benar atau bukan salah. Jadi, Tidak ada salahnya untuk terus belajar, agar dapat menempatkan kemungkinan-kemungkinan tersebut tepat pada ruang dan waktunya. Dengan belajar juga kemampuan berpikir kritis kita semakin diasah, itulah bekal untuk menempatkan kemungkinan yang ada atau tidak ada, kemungkinan yang salah atau benar, kemungkinan yang bukan benar atau bukan salah tepat ruang dan waktu. Sehingga, dapat meminimalisir dari mitos-mitos yang ada atau mungkin ada tersebut.

    ReplyDelete
  18. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Ada begitu banyak patung yang disebutkan dalam Elegi konferensi patung filsafat . Patung-patung tersebut akan selalu menutupi kelemahan dan kekurangannya agar tetap selalu diagung-agungkan. Seseorang mungkin memiliki idola atau sesorang yang dikaguminya, akan tetapi dalam mengagumi tidak boleh berlebih-lebihan agar tidak menimbulkan syirik. Kita harus kritis dan menjadikan yang baik sebagai pelajaran. Sebagai manusia kita tidak boleh berhenti belajar dan segala sesuatu yang dilakukan harus berlandaskan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  19. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi konferensi patung filsafat, berdasarkan elegi tersebut semua bentuk patung berusaha melakukan berbagai cara untuk dapat menutupi kekurangan dan kelemahannya, sehingga akan selalu diagung-agungkan. Oleh sebab itu, agar tidak terjebak dalam kelicikan patung-patung filsafat itu kita haruslah menjadi orang dengan pemikiran yang kritis. Mungkin dapat diilustrasikan seperti ini, ketika sebuah pemilu berlangsung para calon2 pemimpin berlomba-lomba untuk memperlihatkan kebihan yang mereka punya. Mereka selalu memutar otak bagaimanapun caranya harus dapat menyembunyikan kekurangan yang mereka miliki agar mereka dipercaya masyarakat untuk menjadi pemimpin. Nah, kita sebagai pemilih haruslah menjadi pemilih yang kristis, kita harus memahami track record kehidupan calon pemimpin tersebut agar diakhirnya tidak menyesal karena terjebak oleh patung filsafat calon pemimpin. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  20. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Telah kita ketahui apabila kita mendengar kata “patung”, yang terlintas di dalam pikiran kita pasti sebuah benda mati yang tidak bergerak dan menyerupai sesuatu tertentu. Misalnya jika patung hewan akan menyerupai hewan, patung tokoh manusia akan menyerupai manusia, patung tumbuhan juga akan menyerupai tumbuhan. Namun demikian sebaik-baik sebuah patung, dia tidak akan bisa memberikan kontribusi maksimal. Ia hanya sebuah bentuk benda mati yang dibuat dengan sebaik mungkin oleh pembuatnya. Sebuah bentuk formal yang menjadi tontonan banyak orang. Jangan sampai kita semua sebagai manusia yang memiliki otak untuk berpikir dan berkontriusi tidak kita gunakan dan seolah-olah kita hanya seperti sebuah patung.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  21. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Hikmah yang dapat kita ambil dari konferensi patung filsafat ini yaitu kegigihannya dalam berusaha untuk mencapai tujuan awal yang telah ditetapkan. Misalnya saja patung contoh, ketika ia sudah mulai tidak bisa dijadikan sebagai contoh maka ia akan berusaha keras dengan segala cara agar ia bisa menjadi contoh kembali. Kita sebagai manusia, khususnya mahasiswa, tujuan kita kuliah pasti untuk mencari ilmu. Pemahaman kita mengenai ilmu dibuktikan dengan tes. Jika hasil tes kita bagus maka pemahaman kita terhadap suatu ilmu juga bagus, akan tetapi apabila hasil tes kita kurang baik, berarti pemahaman kita terhadap suatu ilmu juga kurang baik. Jadi yang harus kita lakukan ketika hasil tes kita terhadap pemahaman ilmu kurang baik, maka seharusnya kita juga berusaha sebaik mungkin agar bagaimana caranya agar hasil tes tersebut dapat bagus lagi.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  22. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    "Sebenar-benar logos adalah berpikir kritis", inilah pesan yang ingin disampaikan pada elegi ini. Kita harus mampu berpikir kritis dalam menghadapi semua yang ada dan mungkin ada dalam ruang dan waktu yang tidak terbatas. Jangan sampai dalam menerima hal yang ada dan mungkin ada tersebut, kita langsung menerimanya mentah-mentah dan dijadikan sebagai landasan untuk memilih dan mengada. Seperti banyak yang terjadi sekarang ini, orang-orang tertipu ingin cepat menjadi kaya dengan menggandakan uang, bahkan orang-orang tersebut adalah orang-orang yang berilmu. Telaah terlebih dahulu apakah itu hal yang benar atau hal yang salah, hal yang cocok atau tidak cocok, hal yang terpuji atau menghinakan. Harapannya, di era yang sudah penuh dengan ilmu pengetahuan ini, kita tidak kembali seperti orang-orang di zaman jahiliyah yangmana hal yang tidak baik (perilaku syeitan) dijadikan kebiasaan dan pegangan dalam menjalani hidup.

    ReplyDelete
  23. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari elegi ini, dapat kita ketahui bahwa musuh terbesar kita adalah mitos. Sebenar-benarnya kehidupan yaitu harus melawan dari mitos. Selain itu, jangan kita memaksakan kehendak kita. Ketika kita tidak mampu melakukan suatu hal, jangan dipaksa untuk tetap melaksanakannya karena itu akan hanya menjadi sebuah mitos. Misalnya dari tulisan di atas, ada seseorang yang ingin memimpin dan merasa dirinya akan dan harus dipimpin, padahal faktanya dirinya tidak bisa memimpin. Inilah yang namanya mitos.

    ReplyDelete
  24. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Janganlah kita menjadi salah satu patung filsafat yang menunjukkan kemampuannya hanya untuk membuat orang lain mengakui kemampuan kita tetapi kita harus menjadi orang-orang yang tulus dalam membantu orang lain dan terus berinovasi. Pernyataan diatas maksudnya menyebutkan bahwa patung filsafat adalah orang yang tidak mau berinovasi, selalu tetap dengan pendiriannya, dan diakui oleh orang lain. Inovasi itu berguna untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, mempunyai tujuan untuk menjadi berguna bagi oranglain, bukan untuk pamer.

    ReplyDelete
  25. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi konerensi patung filsafat menggambarkan sebuah konferensi yang didalamnya terdapatbanyak pemikiran ataupun pendapat yang membenarkan adanya dirinya sendiri. Dan keyakinan tersebut terkadang dijadikan dasar untuk memaksakan kehendak. Padahal cerita diatas juga menunjukkan bagaimana kita sebagai seorang manusia agar hendaknya berpikir kritis terhadap situasi apapun, bukan memaksakan pendapat. Berpikir kritis untuk mematahkan mitos yang ada.

    ReplyDelete
  26. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi di atas mengajak kita untuk berpikir kritis. Dari elegi menggapai harmoni sebelumnya pikiran bersih adalah pikiran yang merdeka, yaitu pikirannya orang-orang yang masih merdeka untuk mengutarakan pikirannya. Dengan berpikir merdeka itulah dia akan berpikir kritis, yaitu mengetahui kekurangan dan kelebihan diri orang yang berpikir. Keberadaan “patung-patung” di dalam kehidupan kita membuat pikiran kita dikotak-kotak dan menjadikan wawasan kita terbatas seperti katak di dalam tempurung. Sehingga berpikir kritis tersebut tidak akan terwujud. Untuk itu menjaga akal dan pikiran kita agar selalu bersih dengan berlandasakan keimanan dan ketakwaan kepada Allah merupakan cara terbaik yang harus kita lakukan agar dapat menghancurkan “patung-patung” filsafat dan juga si pembuatnya.

    ReplyDelete
  27. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Pada tulisan kali ini saya mendapatkan pemahaman bahwa segala hal yang tampak di depan, mungkin akan berbeda dengan apa yang ada dibalik topeng, mungkin itulah patung-patung yang dimaksud didalam tulisan ini. maka mereka hanya kan menjadi mitos, dan akan menjadi musuh besar dari logos. dar sinilah kita dituntut untuk berpikir kritis. dengan berpikir kritis kita akan dapat menghindari patung-patung yang hanya menjadi mitos tersebut.

    ReplyDelete
  28. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Menurut saya, artikel diatas sangat membangun mental menjadi pribadi yang tidak egosentris, yaitu menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan) dan berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri). Dimana pada era sekarang kita terlalu menuhankan apa yang kita miliki dan pada akhirnya lupa akan semua yang ada pada kita semata-mata adalah anugerah Yang Maha Kuasa. Saya setuju dengan tulisan diatas dimana kita terkadang menjadikan diri kita sebagai patung. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin..

    ReplyDelete
  29. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Segala sesuatu di bumi diciptakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Bagaimana jika kita tak mengerti maksud dan tujuannya? Itulah gunanya refleksi.

    ReplyDelete
  30. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Patung-patung filsafat, patung syarat akan batu keras dan tak tak bisa bergerak. Patung-patun filsafat mengibaratkan seseorang yang berhenti berfikir dan bertindak ketika telah menggapai pencapaian, ia merasa cukup atas apa yang diraih padahal hal tersebut merupakan pemikiran yang kurang tepat dan membuat mati pikiran karena tidak digunakan untuk berfikir. Patung tokoh, merupakan contoh dari seseorang yang telah di tokohkan namun, tidak lagi bertindak layaknya tokoh ataupun berhenti tidak bertindak layaknya seseorang yang di tokoh. Mereflesi kan dari hal-hal tersebut bahwa hal yang paling sulit dari pencapaian adalah mempertahankannya, dan membertahankan merupakan bagian dari berfikir dan bertindak. Terima Kasih

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang telah diberikan. Ulasan yang dapat dijadikan bahan refleksi diri. Saya belajar bahwa berpikir kritis terhadap sesuatu yang mendatangkan suatu ilmu sangat dianjurkan. Namun, saya menyadari bahwa tidaklah mudah untuk mengkritisi sesuatu. Apalagi hal-hal yang terkait dengan keyakinan-keyakinan yang dipercaya oleh setiap individu. Sebelumnya saya berpandangan bahwa keyakinan spiritual yang sudah diyakini dalam hati seseorang itu sudah menjadi hak bagi orang tersebut. Satu hal yang ingin saya tanyakan kepada Bapak, bagaimana sikap yang ditampilkan saat ingin mengkritisi sesuatu, terlebih lagi yang berkaitan dengan keyakinan spiritual?

    ReplyDelete
  32. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Pada elegi konferensi patung filsafat yang saya pahami adalah ketika seseorang bertindak, berniat, maupun berencana untuk menguasai orang lain menjadi sama dengan dirinya maka sebenar-benar orang tersbut terancam menjadi patung filsafat. Hal yang dapat saya pelajari adalah ketika menjadi seorang guru apabila memiliki tujuan agar siswa-siswanya mengikuti guru, belajar hanya bersumber dari guru, mengerjakan soal harus persis dengan cara guru, meminta siswa untuk menuruti setiap apa yang dikatakan guru tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan ide-idenya maka guru tersebut terancam menjadi patung filsafat. Patung filsafat adalah mitos, maka agar terhindar dari patung filsafat hendaknya selalu belajar, membaca, dan berusaha berpikir kritis dan juga refleksi diri agar terhindar dari perbuatan yang dapat menghancurkan diri sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  33. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ketika manusia mampu berpikir kritis, maka saat itulah manusia mampu menggapai logos. Dan mitos adalah hasil dari ketidak mampuan untuk berpikir kritis atau bisa juga hasil dari menggapai logos tetapi tidak dilandasi oleh spiritual, sehingga sangat berbahaya sekali seperti yang dilakukan oleh si pembuat patung, karena tidak adanya landasan agama maka tersesatlah orang tersebut. Maka, teruslah gapai logos, jika seseorang yang mampu menggapai logos dan hatinya selalu mengingat Tuhannya, maka akan terhindar dari mitos. Mitos mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada, sehingga mitos bisa dalam bentuk apapun untuk mempengaruhi akal dan hati manusia.

    ReplyDelete
  34. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Memberikan keteladanan itu wajib bagi para penguasa, guru, atau orangtua kepada bawahan, anak didik, atau anak mereka. Keteladanan sebenarnya merupakan satu hal yang baik, dapat ditiru, dan bersifat natural (terjadi tanpa kepura-puraan). Jangan sampai orang tua mengajarkan anak untuk disiplin, tetapi orang tua itu sendiri sering terlambat masuk kerja. Jangan sampai guru mengajarkan pada siswanya untuk tidak mencontek, tetapi dia sendiri melakukan plagiasi. Jangan sampai penguasa menyuruh rakyatnya untuk membayar pajak, tetapi penguasa itu sendiri sering melakukan korupsi. Begitulah patung-patung keteladanan, ia hanya memberikan petuah-petuah untuk orang lain, tetapi jiwanya mati layaknya patung. Banyak hal-hal atau perilaku yang sebenarnya tidak baik yang ditutup-tutupi, namun ia berusaha menampakkan sesuatu yang selalu baik untuk menjadi teladan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  35. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Patung identic dengan hal-hal yang berbau syirik. Pada masa jahiliyah, para kafir menjadikan patung sebagai togut (sebagai objek sembahan). Karena pada hakikatnya patung adalah benda mati maka seperti itulah adanya. Patung tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan atau menentukan nasib. Dalam konteks seni, patung hanya mengandung aspek estetis sebagai manifesatsi proses kreatif dari para seniman patung. Wallahu a’lam bishawab

    ReplyDelete
  36. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alikum Wr. Wb

    Saya dapat mengambil pelajaran dari elegi ini bahwa kita harus menjadi individu yang dapat berpikir kritis, karena dengan dapat berpikir kritis kita dapat terhindar dari mitos-mitos yang ada. seperti halnya dengan patung filsafat. Dimana patung filsafat akan tetap mejadi dirinya padahal apa yang ada pada dirinya tidaklah demikian, maka yang ada pada patung-patung tersebut adalah mitos-mitos yang mereka miliki. Dengan menjadi individu yang mampu berpikir kritis, kita dapat terhindar dari mitos-mitos yang ada pada patung-patung tersebut.

    ReplyDelete
  37. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Patung filsafat merupakan sebuah perumpamaan. Patung diibaratkan lambang kebodohan manusia merujuk pada zaman jahiliyah yang menjadikan patung sebagai sesembahan. Dijelaskan bahwa patung tersebut adalah patung filsafat, yaitu patung yang ada di dalam pikiran manusia. Manusia membuat patung di dalam pemikirannya yang akhirnya selalu disembah dan selalu dianggap kebenarannya tidak peduli apapun. Di jelaskan bahwa inilah sebenar-benarnya lawan dari logos yaitu mitos. Apabila logos adalah berpikir kritis, maka mitos adalah mendewakan patung-patung filsafat tersebut.

    Di jelaskan dalam elegi di atas banyak contoh patung filsafat. Patung contoh, bahwa seorang yang terobsesi menjadi contoh, manusia ingin menjadi contoh dari manusia lain dengan melakukan segala cara. Patung tokoh, bahwa manusia terobsesi dengan statusnya yaitu menjadi tokoh, sehingga mendewakannya. Apapun dilakukan supaya menjadi contoh. Dan masih banyak lagi, ini merupakan cerminan bahwa manusia telah termakan mitos, kehilangan arah, gila dunia, lupa diri. Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah dan selalu terhindar dari mitos. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete