Sep 22, 2010

Elegi Konferensi Patung Filsafat

Oleh Marsigit

Logos:
Supaya bangsaku lebih dapat mengenal dirinya sendiri, maka aku akan menyelenggarakan konferensi patung filsafat. Aku persilahkan para patung filsafat untuk mengenalkan diri, memamerkan diri, mempromosikan diri. Tetapi jika para patung filsafat itu ingin kampanye mencari pendukung masing-masing, ya silahkan saja. Tetapi bagaimanapun aku akan tetap mengawasi dan mewaspadaimu semua. Saya akan menjadi moderator sekaligus pembahas. Wahai patung-patung filsafat, maka silahkanlah sekarang ini adalah waktumu untuk presentasi.



Patung Contoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung contoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi contoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya sebagai contoh yang baik bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi contoh yang baik.

Logos:
Wahai Patung Contoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan contoh?

Patung Contoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi contoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan contoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan contoh. Sekali contoh tetap contoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi contoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Contoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Tokoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung tokoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi tokoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali aku hanya sebagai tokoh bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi tokoh bagi yang lain.

Logos:
Wahai Patung Tokoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan tokoh?

Patung Tokoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi tokoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan tokoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan tokoh. Sekali tokoh tetap tokoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi tokoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Tokoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Ide:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung ide. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi ide bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan ideku dapat digunakan bagi orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah ideku telah digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Ide, bagaimana kejadiannya jika idemu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Ide:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan ideku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai ideku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar ideku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga ideku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Ide. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Slogan:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung slogan. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan slogannya menjadi menjadi slogan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan sloganku dapat digunakan sebagai slogan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah sloganku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Slogan, bagaimana kejadiannya jika sloganmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Slogan:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan sloganku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai sloganku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar sloganku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga sloganku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Slogan. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Nasehat:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung nasehat. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan nasehatnya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan nasehatku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah nasehatku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Nasehat, bagaimana kejadiannya jika nasehatmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Nasehat:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan nasehatku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai nasehatku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar nasehatku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga nasehatku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Nasehat. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Bijaksana:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung bijaksana. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan kebijaksanaanya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan kebijaksanaanku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah kebijaksanaanku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Bijaksana, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau dianggap tidak bijak oleh orang lain?

Patung Bijaksana:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan diriku dianggap bijak oleh orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai dianggap tidak bijak oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku dianggap bijak oleh orang lain. Sekali bijak tetap bijak. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap bijak oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Bijaksana. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah bijaksana. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Disiplin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung disiplin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana mendisiplinkan orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya mendisiplinkan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu mendisiplinkan orang lain.

Logos:
Wahai Patung Disiplin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak disiplin?

Patung Disiplin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah mendisiplinkan orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak disiplin oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap disiplin oleh orang lain. Sekali disiplin tetap disiplin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap disiplin oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Disiplin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah disiplin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pembimbing:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pembimbing. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana membimbing orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya membimbing orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu membimbing orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pembimbing, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu membimbing?

Patung Pembimbing:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah membimbing orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu membimbing orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu membimbing orang lain. Sekali membimbing tetap membimbing. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap mampu membimbing orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pembimbing. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu membimbing. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pemimpin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pemimpin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana memimpin orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya memimpin orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu memimpin orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pemimpin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu memimpin?

Patung Pemimpin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah memimpin orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu memimpinorang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu memimpin orang lain. Sekali memimpin tetap memimpin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dapat memimpin orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pemimpin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu memimpin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, terutama yang belum memberikan presentasi: patung informasi, patung dermawan, patung kebaikkan, patung keamanan, patung koordinator, patung administrator, patung ketua, patung sekretaris, patung peraturan, patung sahabat, patung editor, patung fasilitator, patung guru, patung dosen, patung mahasiswa, patung jabatan, patung profesi, patung dedikasi, patung senior, patung pakar, patung pengalaman, patung orang tua, patung piagam, patung sertifikat, patung suami, patung lurah, patung ganteng, patung polisi, patung moral, patung etika, patung semua yang ada dan yang mungkin ada. Serta logos. Maafkan aku, karena terbatasnya waktu maka konferensi terpaksa kita hentikan. Perkenankan aku akan memberi sambutan akhir.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sedangkan sebenar-benar si pembuat patung tidak lebihnya seperti bangsa quraish pada jaman jahiliah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat mengahancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu.

34 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Sebenar-benarnya, sebijaksananya, sedisiplinanya suatu paham, hanya akan menjadi patung yang tidak akan mengalami kemajuan apabila tidak dibarengi dengan pemikiran yang maju dan terbuka terhadap berbagai hal. Oleh karena itu, agar sesuatu tidak vacuum dan tidak cepat terdoktrinisasi oleh berbagai macam klaim-klaim yang melekat pada sesuatu hal. Maka kita harus dapat berpikir kritis, jangan dengan mudah menerima apa yang diberikan tetapi kita juga harus dapat menganalisis terlebih dahulu hal tersebut, agar kedepannya kita tidak terjebak dalam pemikiran yang sempit dan tertutup.

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Pemikiran tidak dihasilkan dari sesuatu yang diam maka tiadalah kemajuan. Pemikiran yang bergerak juga diperlukan dengan menerima nasihat sebagai kemajuan dalam suatu perubahan hingga tercapainya logos. Lakukanlah apa yang seharusnya layak dan pantas dilakukan. Hidupilah hidup agar tidak terjadi kehampaan. Manusia adalah makhluk yang hidup yang dibekali daya cipta, daya rasa, dan daya karsa sehingga seyogyanya mampu memanfaatkan apa yang dianugerahkan dengan tepat sesuai dengan fitrohnya.

    ReplyDelete
  3. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Orang yang merasa mampu dan sempurna maka dia akan berhenti berpikir, diam tanpa melakukan apa-apa layaknya sebuah patung.
    manusia sudah dianugerahi akal dan pikiran tentunya digunakan untuk selalu berpikir dan berpikir.
    Manusia yang mampu berpikir akan mampu meningkatkan dimensinya ke tingkat yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. orang yang sombong adalah yang tak mau lagi untuk berpikir. sebenar-benarnya logos adalah pikiranmu.

    ReplyDelete
  5. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    disini saya setuju dengan pendapat si orang tua berambut putih bahwa pada masa jahiliyah patung itu banyak yang disembah. sebagaimana yang kita ketahui bahwa patung merupakan buatan dari manusia itu sendiri. maka peranan logos sangat penting disni karena logor itu merupakan refleksi dari berpikir kritis. dan penamaaan patung-patung yang disebutkan diatas menyesuaikan dengan fungsinya yang mana manusia juga yang menetapkannya.

    ReplyDelete
  6. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Sekarang di zaman modern ini, patung yang disembah oleh orang-orang bukan lagi patung yang terbuat dari batu. Melainkan patung yang berupa tindakan, sifat, jabatan, maupun status yang dapat menjadikan mereka diagung-agungkan oleh sebagian yang lain. Kita diharapkan dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dengan menggunakan ilmu yang kita miliki. Karena hanya pemikiran yang kritislah yang dapat menghancurkan ini semua.

    ReplyDelete
  7. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini, saya mendapatakan pemahaman bahwa manusia hendaknya memiliki kepribadian yang berkarakter. Sehingga tidak hanya berpura-pura menjadi sesuatu yang hebat dengan segala cara yang halal maupun tidak. Karena dalam ilmu yang sebenar-benarnya adalah ilmu yang setulus-tulusnya. Oleh karena itu berpikir kritis adalah kuncinya. Dan yang pasti berserah pada Tuhan adalah akhirnya.

    ReplyDelete
  8. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Kebijaksanaan, nasihat, pemimpin, ide disiplin, bimbingan itu diperlukan dalam mempelajari filsafat. Untuk belajar filsafat harus ikhlas dan rendah hati. Jangan sombong agar tidak terjerumus. Jangan malu untuk bertanya agar tidak tersesat.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Dalam elegi ini disebutkan bahwa sebenra-benarnya logos adalah berpikir kritis. Menggapai logos bukan berarti hanya menerima tanpa mempertanyakan makna dari apa yang diberikan. Mengerti makna dari apa yang dipelajari merupakan hasil dari berpikir kritis. Namun, hal itu tidak boleh berhenti dipikirkan dan digali lebih dalam dan luas lagi karena jika berhenti dipikirkan akan berubah menjadi mitos.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Elegi ini juga menceritakan tentang patung filsafat dan pembuatnya yang disebutkan adalah tidak lebihnya seperti bangsa quraish pada jaman jahiliah yang membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Sebagai seorang yang berilmu kita tentunya harus berwaspada dalam membagikan ilmu yang kita peroleh. Jangan sampai kita membagikan sesuatu yang salah pada orang lain sehingga bukannya memberi manfaat dalam hidupnya tetapi malah menghancurkan hidup orang tersebut.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Bahasa analog yang Prof berikan berupa patung filsafat mencuri perhatian. Patung filsafat bukanlah patung sesungguhnya. Namun berupa gambaran pada zaman masa kini. Gambaran dimana manusia lebih memilih hal duniawi dibandingkan akhirat. Padahal semua akan hilang jika telah memasuki dunia setelah kematian.

    ReplyDelete
  12. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi diatas yang dapat saya ambil hikmah adalah, bahwa patung zaman dahulu pada hakikatnya sama saja dengan patung yang ada pada zaman sekarang ini. Kalau dahulu patung adalah sebenar-benar patung yang mereka sembah, namun sekarang patung itu bisa berbentuk harta, tahta, dan wanita yang selalu dipuja-puja, yang selalu mati-matian untuk mendapatkan dan mempertahankannya, padahal kalau kalau kita kaji lebih dalam semuanya itu hanayalah sandiwara dunia yang tidak akan kekal.



    ReplyDelete
  13. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    patung filsafat dari elegi ini adalah gambaran dari zaman sekarang. mungkin banyak sekali penyimpangan yang sudah terjadi meskipun berbeda dengan zaman yang terdahulu. maka melalui elegi ni, kita disadarkan sebagai penerus generasi bangsa untuk mencegah agar tidak berkelanjutan. dengan kita menghindari seiap penyimpangan maka satu langkah itu sangat bermanfaat untuk kemajuan bangsa kita kedepannya

    ReplyDelete
  14. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hakekatnya patung-patung disini adalah objek-objeng yang diadakan oleh subjek dengan cara yang satu membuatnya. Jadi bukan mengukirnya menjadi subuah patung namun, memfasilitasi dengan berbagai variasi agar menjadi sebenera-benarnya manusia. Tidak kaku seperti patung, namun punya akal pikiran yang dinamis dan kritis untuk terus menggapai ilmu yang lebih tinggi guna menggapai langit.

    ReplyDelete
  15. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Banyak para pemimpin dan penguasa di negri ini yang tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengn baik. Begitu juga dengan ide, nasihat dan disiplin yang tidak dilakukan dengan sebenar-benarnya. Sehingga hakekat dari semuanya tadi berubah menjadi hal yang buruk. Ketika pemimpin tidak memimpin dengan rasa adil, bijaksana dan amanah maka nasib rakyatnya akan sengsara. Begitu juga jika disiplin yang tidak dilaksanakan dengan baik, maka bisa dipastikan kedepannya akan rusak segala rencana yang telah dibuat.

    ReplyDelete
  16. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, patung melambangkan orang yang hanya berdiam diri dan tidak membuat apapun untuk kemajuan hidupnya. Setiap usaha membutuhkan ide, tetapi jika hidup seperti patung maka usaha tidak ada dan ide sulit muncul karena tidak ada usaha. Oleh karena itu sebaiknya kita harus berpikir kritis dan menghindari sikap diam sehingga kita bisa mengembangkan ide dan membagi ilmu kepada orang lain sehingga hidup terus berkembang dan maju dan dapat menebar kebaikan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  17. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Dari pernyataan patung-patung dan penjelasan orang tua berambut putih mungkin dapat disimpulkan bahwa walaupun patung mempunyai tujuan diciptakannya baik, tetapi jika sudah bertentangan dengan keadaan haruslah dihancurkan, dan disesuaikan dengan yang sedang dibutuhkan. Begitu juga dengan sifat, haruslah tepat menggunakan sebuah sifat disesuaikan dengan keadaan. Intinya adalah jadi seseorang itu harus fleksible, artinya adalah kita harus selalu dapat menyesuai ruang dan waktu ketika kita berada. Kita tidak boleh memaksakan hal yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu, karena ketika itu terjadi maka hanya akan terjadi kehancuran.

    ReplyDelete
  18. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas, pelajaran yang bisa saya dapatkan adalah bahwa semua niat baik harusnya dilakukan dengan cara yang baik pula. Bukan dengan cara yang tidak baik hanya untuk mendapatkan hasil yang baik atau mencapai tujuannya. Karena semua itu nanti akan dipertanggungjwakan kepada Tuhan YME

    ReplyDelete
  19. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Patung adalah benda mati yang diciptakan manusia sesuai tujuannya. manusia menciptakan sesuatu pasti terdapat tujuannya. banyak tujuan baik dan tujuan yang kurang baik. patung juga dapat dibuat hiasan. tetapi pada zaman dahulu masih banyak patung yang disembah sembah.

    ReplyDelete
  20. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Patung dibuat dengan berbagai tujuan, ada yang dibuat hanya sebagai hasil karya seni, ada yang dibuat sebagai gambaran atau sketsa dari tokoh, namun pada elegi di atas patung yang ada digunakan untuk mengelabui manusia agar manusia tersebut mengikutinya. Maka demikian manusia di sini yang di maksud adalah manusia yang tidak dapat berpikir kritis, berpikiran jernih, berhati bersih sehingga mereka mudah untuk dikelabui. Patung juga di sini dapat menjadi simbol dari suatu pemimpin. Oleh karena itu, Pada akhir elegi, ada pernyataan bahwa pemikiran kritis yang mampu menghancurkan semua patung filsafat. Janganlah kita menjadi salah satu patung filsafat yang menunjukkan kemampuannya hanya untuk membuat orang lain mengakui kemampuan kita tetapi kita harus menjadi orang-orang yang tulus dalam membantu orang lain dan terus berinovasi. Inovasi tidak untuk pamer, tetapi untuk menjadi berguna bagi orang lain.

    ReplyDelete
  21. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    patung tentu saja tidak akan ada tanpa ada aksi dari manusia, karena patung merupakan suatu hasil dari kreativitas manusia. Bagaimana mungkin kita akan menyembah yang mana sesuatu itu kita yang membuatnya. Makanya untuk memakanai ini gunakan akal dan pikiran kita. Yang maka akal itu merupakan logos. Berpikiri kritis akan menuntun kita kepada pemahaman yang sesuai dengan logika dan pemikiran kita.

    ReplyDelete
  22. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan tulisan di atas, logos adalah berfikir kritis selain itu logos juga bisa disebut dengan suatu ilmu. Dalam pernyataan di atas yang menyebutkan patung dan pembuat patung, menurut saya dapat dikaitkan dengan para ahli filsafat yang diibaratkan sebagai pembuat patung dan faham filsafatnya yang diibaratkan patung yang diciptakannya. Kedua hal tersebut dapat dihancurkan atau disanggah dengan logos atau bisa dibilang suatu ilmu lain yang lebih kuat.

    ReplyDelete
  23. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Logos atau berpikir kritis seperti yang disebutkan dalam elegi di atas sangat diperlukan oleh manusia. Dalam elegi di atas diibartkan bahwa patung filsafat sebagai cara yang salah untuk mencapai tujuan kita. Sehigga dengan berpikir kritis kita harus pandai memilih mana cara yag benar dan mana cara yang salah. Untuk mencapai tujuan yang baik maka cara yang dilakukan juga harus baik.

    ReplyDelete
  24. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan MAtematika I 2014

    Patung filsafat merupakan perumpamaan yang mengibaratkan tentang perilaku manusia zaman sekarang yang senantiasa memikirkan kepentingan duniawi dibanding dengan kepentingan akhirat. Manusia zaman sekarang sudah terlena dengan kemudahan-kemudahan yang telah diciptakan oleh ahli teknologi. Hal tersebut membuat manusia menjadi seseorang yang pemalas dan sangat bergantung pada teknolgi yang sudah ada maupun yang akan ada.

    ReplyDelete
  25. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki sisi kelebihan dan sisi kekurangan. Dan manusia dianugerahi akal pikiran. Akan tetapi, pada umumnya tanpa disadari akal pikiran belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Sehingga, muncul berbagai mitos yang mewarnai akal pikiran tersebut. Dalam elegi di atas mitos diibaratkan menjadi patung, seperti patung informasi, patung dermawan, patung kebaikkan, patung keamanan, patung koordinator, patung administrator, patung ketua, patung sekretaris, patung peraturan, patung sahabat, patung editor, patung fasilitator, patung guru, patung dosen, patung mahasiswa, patung jabatan, patung profesi, patung dedikasi, patung senior, patung pakar, patung pengalaman, patung orang tua, patung piagam, patung sertifikat, patung suami, patung lurah, patung ganteng, patung polisi, patung moral, patung etika. Berbagai contoh patung tersebut diartikan bahwa perannya tidak sesuai dengan apa yang menjadi tugasnya. Mereka masih dikelilingi oleh berbagai mitos. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berpikir kritis dan tak mudah termakan mitos.

    ReplyDelete
  26. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi konferensi patung diatas cukup menarik untuk dibaca. Bahwa hakekatnya, patung-patung tersebut dibuat manusia dengan tujuannya masing-masing. Pada kesimpulan dituliskan bahwa logos lah yang dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu. Logos disini berarti berpikir kritis. Yang dapat dimaknai sebagai lawannya mitos.

    ReplyDelete
  27. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut dijelaskan tentang patung-patung filsafat atau patung-patung yang dianggap dengan kepercayaan tertentu, padahal si patung dan si pembuat patung tidak lebihnya dari seorang biasa yang membuat suatu pendapat dan memaksa orang lain meyakini pendapatnya. Seperti itulah gambaran dari si pembuat patung dan patung buatannya.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  28. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Maka manusia yang merasa cukup atau mungkin sombong, mereka akan berhenti berfikir yang ada dan yang mungkin ada. Dan sebenar-benar logos adalah pola pikir diri sendiri. Kutipan orang tua berambut putih : "Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat mengahancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu."

    ReplyDelete
  29. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Kita harus kritis dalam memilih seseorang untuk menjadi teladan dalam hidup kita. Karena jika salah pilih kita akan menjadi seperti kaum Qurais yang menyembah patung yang di buat oleh para mitos. berpikir kritis itu perlu agar kita bukan mengikuti patung

    ReplyDelete
  30. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dalam elegi ini sang patung contoh berusaha tetap menampilkan sisi terbaik dari dirinya. Karena bagaimanapun patung contoh dijadikan teladan bagi yang lain. Hal ini menurut saya bisa berhubungan dengan seseorang yang disukai banyak orang sehingga secara otomatis menjadi contoh, maka dari itu bagaimanapun dia mencoba menampilkan sisi baik dari dalam dirinya. Karena itulah kita harus berhati-hati dalam memilih panutan yang memang baik bukan hanya dari sisi yang ditampilkan saja.

    ReplyDelete
  31. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berdasarkan elegi di ini bahwa mitos diibaratkan menjadi patung. Pada dasarnya patung-patung filsafat adalah representasi dari mitos-mitos yang tidak perlu dipertanyakan kebenarannya. Sebenar-benar ilmu atau logos adalah berpikir kritis. Dengan berpikir kritis kita diharapkan dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dan melawan mitos-mitos yang ada.

    ReplyDelete
  32. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Patung filsafat akan mengancam siapa saja yang berhenti berpikir. Dengan berfikir kritis maka patung-patung tersebut akan hancur. Sebaiknya kita sellau berfikir kritis agar dapat menggapai logos dan terhindar dari mitos. Karena sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sebenar-benar ilmu/logos adalah berpikir kritis dan logos adalah lawan dari mitos.

    ReplyDelete
  33. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Patung merupakan suatu benda hasil buatan manusia yang bisa dibuat dari batu, tanah liat atau yang lainnya. Patung dibuat setelah ada ide dari pikiran manusia bahwa manusia dapat membuat benda patung.

    ReplyDelete
  34. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Patung dibuat pada zaman bangsa quraish pada jaman jahiliyah atau zaman kegelapan. Dimana keadailan tidak dapat diperjuangkan, pembuatnya ingin semua orang menyembah patung yang ia buat. Patung-patung tersebut akan hancur beserta pemiliknya jika calon penyembahnya memiliki hati yang ikhlas dan pemikiran yang kritis akan segala sesuatu hal yang akan diambilnya. Dengan demikian jangan pernah mau atau diperalat oleh hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, dengan pemikiran yang kritis dan hati yang ikhlas akan menjauhkan dirikita dari segala godaan syeitan yang ada dengan memperbanyak dzikir dan berdo’a kepada Allah SWT yang mengatur semesta alam ini.

    ReplyDelete