Sep 25, 2010

Elegi Pertengkaran Antara Biasa dan Tidak Biasa




Oleh Marsigit

Biasa:
Wahai Tidak Biasa...mengapa kelihatannya engkau bersikap sinis terhadapku? Bukankah engkau memahami bahwa kebiasaan itu sangat bermanfaat bagi hidupmu?

Tidak Biasa:
Wahai Biasa...ketahuilah bahwa engkau itu hanyalah separoh dari dunia ini?

Biasa:
Lho..kenapa aku hanya separoh dari dunia ini? Lha yang separohnya lagi siapa?

Tidak Biasa:
Yang separohnya lagi dari dunia ini adalah diriku...yaitu Tidak Biasa.

Biasa:
Ahh...ngacau kau itu. Kayak gitu saja dipermasalahkan. Bagiku di dunia ini yang ada hanyalah Biasa. Tidak Biasa itu tidak penting, tak berguna bahkan kalau perlu di tiadakan saja. Mbok jangan biasa mempermasalahkan hal-hal yang sepele kayak gitu? Aku Tidak Biasa dengan hal-hal seperti itu.

Tidak Biasa:
Apa katamu yang terakhir? Coba ulangi?

Biasa:
Mbok Jangan Biasa mempermasalahkan hal-hal sepele. Aku Tidak Biasa dengan hal-hal seperti itu.

Tidak Biasa:
Wahai Biasa..aku ingin bertanya...sekarang ini...ketika engkau bicara dengan diriku itu...dalam keadaan sehat atau tidak?

Biasa:
Lho...kok kamu bertanya seperti itu? Mbok Jangan Biasa bertanya kayak gitu! Aku Tidak Biasa menerima pertanyaan seperti itu.

Tidak Biasa:
Apa katamu yang terakhir? Coba ulangi?

Biasa:
Mbok Jangan Biasa mempermasalahkan hal-hal sepele. Tidak Biasa menerima pertanyaan seperti itu.

Tidak Biasa:
Wahai..Biasa...sekarang saya ingin tanya kepadamu. Apa bedanya Jangan Biasa dengan Tidak Biasa?

Biasa:
Lho ...kok kamu masih aneh ta? Mbok Jangan Biasa bertanya yang aneh-aneh ta.
Menurutku Jangan Biasa itu ya sama dengan Tidak Biasa.

Tidak Biasa:
Wahai..Biasa...apakah engkau Tidak Biasa menjawab pertanyaanku yang aneh-aneh?

Biasa:
Iya..aku Tidak Biasa menjawab pertanyaanmu yang aneh-aneh.

Tidak Biasa:
Apakah kamu sering Tidak Biasa?

Biasa:
Oh...saya selalu Tidak Biasa ...saya sering Tidak Biasa...bahkan seluruh hidupku itu hampir Tidak Biasa. Maka aku dapat katakan bahwa dunia itu adalah Tidak Biasa. Maka yang terpenting bagi diriku adalah Tidak Biasa. . Bagiku di dunia ini yang ada hanyalah Tidak Biasa. Biasa itu tidak penting, tak berguna bahkan kalau perlu di tiadakan saja.

Tidak Biasa:
Wahai ...Biasa...coba ulangi kalimatmu yang terakhir?

Biasa:
Maka aku dapat katakan bahwa dunia itu adalah Tidak Biasa. Maka yang terpenting bagi diriku adalah Tidak Biasa. . Bagiku di dunia ini yang ada hanyalah Tidak Biasa. Biasa itu tidak penting, tak berguna bahkan kalau perlu di tiadakan saja....

Tidak Biasa:
Wahhh...wah...bicara dengan orang mabuk memang repot. Gimana ya cara menyadarkannya. Wahai Biasa...coba ulangi lagi kalimatmu yang terakhir tetapi gantilah Tidak dengan Bukan ...dan Biasa diganti dengan Diriku.

Biasa:
Maka aku dapat katakan bahwa dunia itu adalah Bukan Diriku. Maka yang terpenting bagi diriku adalah Bukan Diriku. Bagiku di dunia ini yang ada hanyalah Bukan Diriku. Diriku itu tidak penting, tak berguna bahkan kalau perlu di tiadakan saja....Lhooo..gimana ini? Kok kesimpulannya menjadi Biasa...itu tidak penting. Kok kesimpulannya...Diriku menjadi tidak penting. Oh...pusing aku.

Tidak Biasa:
Rasain engkau ....hidup sekali di dunia mbok Biasa jangan ngawur, Biasa jangan tak peduli, Biasa jangan menang sendiri, Biasa jangan menyepelekan orang lain, dan Biasa jangan tidak siap menerima hal-hal yang aneh.

Biasa:
O..ooh...wahai Tidak Biasa...coba ulangi kalimatmu yang terakhir tadi!

Tidak Biasa:
Hidup sekali di dunia mbok Biasa jangan ngawur, Biasa jangan tak peduli, Biasa jangan menang sendiri, Biasa jangan menyepelekan orang lain, dan Biasa jangan tidak siap menerima hal-hal yang aneh.

Biasa:
Wahhh...wah...bicara dengan orang mabuk memang repot. Gimana ya cara menyadarkannya. Wahai Tidak Biasa...apakah kamu menyarankan agar kita selalu Biasa? Biasa Jangan itu Biasa atai Tidak Biasa?

Tidak Biasa:
Biasa Jangan adalah Biasa. Jadi bagiku di dunia ini yang ada hanyalah Biasa. Tidak Biasa itu tidak penting, tak berguna bahkan kalau perlu di tiadakan saja.

Biasa:
Wahai Tidak Biasa...apakah Tidak Biasa sama dengan Dirimu?

Tidak Biasa:
Ya Tidak Biasa itu sama dengan Diriku.

Biasa:
Ulangilah kalimatmu tetapi gantikah Tidak Biasa dengan Dirimu.

Tidak Biasa:
Jadi bagiku di dunia ini yang ada hanyalah Biasa. Diriku itu tidak penting, tak berguna bahkan kalau perlu di tiadakan saja. Lhooo..gimana ini? Kok kesimpulannya menjadi Diriku tidak penting. Kok Tidak Biasa...itu tidak penting. Kok kesimpulannya...Diriku menjadi tidak penting. Oh...pusing aku.

Biasa:
Wahai Tak Biasa...masalahnya aku Biasa Tak Biasa. Lho kok saya jadi pusing lagi?
Biasa Tak Biasa itu Biasa atau Tak Biasa ya?

Tak Biasa:
Wahai Biasa...masalahnya aku Tak Biasa Biasa. Lho kok saya jadi bingung lagi? Tak Biasa Biasa itu Tak Biasa atau Biasa ya?


Bagawat:
Hai Biasa dan tidak Biasa...hentikanlah pertikaianmu itu. Itulah teladannya jika engkau telah mengabaikan isi. Biasa dan Tidak Biasa itu keduanya adalah wadah. Maka kamu bisa mempermainkan sekehendak dirimu satu dengan yang lain sebagai wadah karena engkau mengabaikan atau tidak mempunyai isi.

Biasa dan Tidak Biasa:
Wahai sang Bagawat...berilah contoh kepada kami...seperti apakah bentukku jika aku sudah mempunyai isi? Dan apa saja yang bisa menjadi isi dari diriku itu?

Bagawat:
Isi dari Biasa itu adalah: melakukan kegiatan yang baik, beramal, berdoa, jujur, disiplin, konsisten, komitmen, beribadah, ...dst. Maka Biasakanlah melakukan hal-hal tersebut. Sedang isi dari Tidak Biasa adalah : berbohong, berdusta, korupsi, mengfitnah, sombong, berbuat dosa, maksiat, ...dst. Maka Tidak Biasalah melakukan hal-hal tersebut.

Biasa dan Tidak Biasa:
Oo..ooo...paham aku sekarang. Mengapa manusia dengan mudahnya memanipulasi wadah...karena dia mengabaikan isinya. Padahal semua yang ada dan yang mungkin ada itu bisa menjadi wadah. Guru, Peneliti, Dosen, Pengawas, Bankir, DPR, Mahasiswa, Siswa, Beasiswa, BUMN, Koperasi, LSM, Menteri, Pejabat, Ketua, ....bahkan Agama...itu semua adalah wadah-wadah. Semoga dengan kasus pertengaran antara Biasa dan Tidak Biasa...ini bisa menjadi pelajaran bagi semua perihal pentingnya isi, agar tidak semena-mena mempermainkan wadah. Amiin.

10 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Elegi ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini bisa menjadi wadah. Wadah merupakan wadah dari isi-isnya. Apabila wadah sudah mengabaikan dan melupakan isinya, maka wadah-wadah tersebut dapat dimanipulasi menjadi berbagai macam bentuk demi kenyamanannya sendiri serta menimbulkan kebingungan antara yang satu dengan yang lainnya, karena ternyata wadah tidak mencerminkan isinya maupun sebaliknya isi tidak mencerminkan wadahnya. Seperti halnya yang diungkapkan dalam elegi ini antara yang biasa dan tidak biasa. Biasa dan tidak biasa apabila hanya dipandang sebagai wadah saja, maka kebingunganpun dan ketidakjelasanpun melandanya, bahwa biasa dapat mengalami tidak biasa, yaitu biasa tidak biasa, dan tidak biasa dapat mengalami biasa, yaitu tidak biasa biasa. Hal tersebut berbeda apabila kita menyertakan isinya yaitu biasa dalam hal-hal kebaikan, dan tidak biasa dalam hal-hal keburukan.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Manusia cenderung akan gampang menyerah, ketika tujuan terlihat begitu jauh.
    Manusia akan terbiasa dengan ketidakbiasaan dan itu adalah hal yang penting.
    Biasa dengan ketidakbiasaan adalah kemampuan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks.
    Dan kemampuan adaptasi adalah seni tertinggi dari survival.

    ReplyDelete
  3. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Apapun wadahnya biasa atau tidak biasa yang penting isinya. Dikatakan sebenar-benar isi adalah yang sesuai dengan wadahnya. Maka sebaik-baik wadah adalah yang mencerminkan isinya.

    ReplyDelete
  4. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Hidup dengan segala kontradiksinya merupakan bagian dari dunia. Biasa hanyalah separoh dunia, sedangkan untuk melengkapinya diperlukan kontradiksinya agar menjadi satu dunia. Jadi kelengkapan dunia ditentukan oleh kontradiksinya.

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Setelah membaca elegi ini saya dapat mengetahui hakikat biasa dan tidak biasa. Biasa dan tidak biasa merupakan dua hal yang berlawanan. Tetapi kedua hal tersebut sebenarnya saling melengkapi karena terjadi secara bersamaan dalam kehidupan. Dengan adanya biasa dan tidak biasa, maka dunia ini menjadi lengkap.

    ReplyDelete
  6. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Tidak Biasa adalah berbohong, berdusta, korupsi, mengfitnah, sombong, berbuat dosa, maksiat. Tidak biasa merupakan hal yangseharusnya tidak biasa dilakukan manusia.
    Tidak biasa ini kenapa tidak dikatakan tidak saja tetapitidak biasa. Karena dapat diartikan bahwasannya manusia tidak biasa melakukan bukan berarti tidak pernah melakukan tetpi hanya tidak terbiasa melakukan tetapi pernah melakukan.
    Karena pada hakikatnya manusia hanya berusaha untuk tidak terbiasa dengan yang tidak biasa ini.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    menurut saya hal yang membedakan antara biasa dan tidak biasa yaitu berada pada sudut pandang kita melihat suatu perkara itu. dan bagaimana cara kita memandang nya juga tergantung pada lingkungan kita. bisa dikatakan bahwa semuanya tergantung ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  8. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Biasa dan tidak biasa merupakan wadah. Isi dari biasa adalah segala perbuatan baik, seperti beramal, berdoa, jujur, disiplin, konsisten, komitmen, beribadah, dst. Sedangkan isi dari tidak biasa adalah perbuatan buruk, seperti berbohong, berdusta, korupsi, memfitnah, sombong, berbuat dosa, maksiat, dst. Kita sebagai manusia hendaknya senantiasa membiasakan diri melakukan hal-hal baik, dan menjauhi perbuatan buruk.

    ReplyDelete
  9. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Pada elegi ini menarik untuk kita baca, dimana terjadi pertengkaran antara biasa dan tidak biasa. Dalam pertengkaran tersebut timbul kebermaknaan dimana begawat meluruskan pertengkaran itu yang memberikan makna bahwa sesungguhnya biasa dan tidak biasa itu merupakan wadah. Dimana isinya adalah pikiran kita, yaitu biasa merupakan wadah dari melakukan hal yang dalam konteks kebaikan dan tidak biasa merupakan wadah dari melakukan hal dalam konteks keburukan atau tidak baik. Dari penjelasan inilah semoga kita dapat mengambil himkah mana wadah yang seharusnya kita ambil di setiap menjalani hidup ini.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. dari elegi diatas saya merefleksikan bahwa biasakan melakukan hal-hal kebaikan, dan jangan biasakan hal-hal yang buruk. Kebiasaan yang baik akan melahirkan kebaikan dan kebiasaan buruk akan melahirkan keburukan. Maka dari itu biasakan hal baik dan hindari hal buruk. Semua profesi memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan tindakan kebaikan itu.

    ReplyDelete