Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bicara




Oleh Marsigit

Kata-kata:
Wahai bicara, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau duduk di situ mendahuluiku?

Bicara:
Wahai kata-kata. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku ucapkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkan engkau menuliskan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah menulis kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku tuliskan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkah engkau memikirkan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan kata-kata. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan, belum aku tuliskan, dan belum aku pikirkan, engkau telah membuat kata-katamu. Wahai kata-kata, mohon maafkan diriku, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku tentang kata-kata. Aku merasa bersalah. Maka aku akan menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasibku ini.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau berdua duduk di situ mendahuluiku?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku bicarakan dan katakan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkan engkau membuat karya-karya menggunakan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan, aku pernah membuat karya-karya menggunakan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa karya-karyaku.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkah engkau memikirkan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara dan kata-kata:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan tulisan. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan dan belum aku pikirkan, aku telah membuat tulisan. Wahai tulisan, mohon maafkan diriku berdua, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku berdua tentang tulisan. Aku merasa bersalah. Maka marilah kita bertiga menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasib kita ini.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, aku bertiga merasa bingung. Maka siapakah diriku bertiga itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya dimensimu itu berbeda-beda. Tulisan, bicara dan kata-kata adalah bahasa

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kemudian, siapakah kata-kata itu?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya kata-kata itu adalah salah satu dari diriku. Kata-kata adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah kata-kata. Maka kata-kata itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu berkata. Keputusanmu itu berkata. Langkahmu itu berkata. Penampakkanmu itu berkata. Akvitasmu berkata. Pegaulanmu berkata. Keberadaanmu berkata. Penjelasanmu berkata. Pertanyaanmu berkata. Bahkan kata-katamu itu juga berkata. Semua peristiwa itu berkata. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu berkata.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah bicara?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bicara itu adalah salah satu dari diriku. Bicara adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bicara. Maka bicara itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bicara. Keputusanmu itu bicara. Langkahmu itu bicara. Penampakkanmu itu bicara. Akvitasmu bicara. Pegaulanmu bicara. Keberadaanmu bicara. Penjelasanmu bicara. Pertanyaanmu bicara. Bahkan bicaramu itu juga bicara. Semua peristiwa itu bicara. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu bicara.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah tulisan?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya tulisan itu adalah salah satu dari diriku. Tulisan adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah tulisan. Maka tulisan itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu tulisan. Keputusanmu itu tulisan. Langkahmu itu tulisan. Penampakkanmu itu tulisan. Akvitasmu itu tulisan. Pegaulanmu itu tulisan. Keberadaanmu itu tulisan. Penjelasanmu itu tulisan. Pertanyaanmu itu tulisan Bahkan bicaramu itu tulisan. Semua peristiwa itu tulisan. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu tulisan.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah dirimu itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bahasa adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bahasa. Keputusanmu itu bahasa. Langkahmu itu bahasa. Penampakkanmu itu bahasa. Akvitasmu itu bahasa. Pegaulanmu itu bahasa. Keberadaanmu itu bahasa. Penjelasanmu itu bahasa. Pertanyaanmu itu bahasa. Bahkan bicaramu itu juga itu bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, gantian saya yang ingin bertanya kepada engkau. Lalu, apakah hubungan antara bicara, kata-kata dan bahasa.

Bahasa:
Semua dari tulisan, bicara dan kata-kata adalah diriku. Bahkan lebih dari itu, semua yang dapat engkau pikirkan adalah bahasa. Semua subyek, obyek dan kalimat-kalimat adalah bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Menterjemahkan adalah bahasa. Diterjemahkan adalah bahasa. Maka bahasa adalah hidup. Maka hidup adalah bahasa. Semua refleksi adalah bahasa. Maka filsafat itu adalah bahasa. Lebih dari itu, semua struktur adalah bahasa. Potensi adalah bahasa. Fakta adalah bahasa. Semua arti adalah bahasa. Kebutuhan adalah bahasa. Keinginan adalah bahasa. Maka bahasa adalah sekaligus makna dan referensinya. Tanpa kecuali maka semua elegi adalah bahasa.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah mengapa elegi-elegi ini aku persembahkan untuk kamu semua wahai mahasiswaku, yaitu seberapa jauh aku memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi dirimu semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hatimu semua. Amien.

23 comments:

  1. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa “bericara” merupakan bentuk dari komunikasi manusia dengan sesamanya. Sebagai makhluk sosial manusia tidak akan bisa lepas dari komunikasi. Apa yang dibicarakan atau dituliskan oleh seseorang metupakan bagian dari bentuk simbol. Sebagai contoh dalam matematika maka bicara matematika adalah memperbincangkan, memperkatakan, mempertuliskan, memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada dalam matematika. Dalam pembelajaran matematika, seorang guru juga tidak bisa lepas dari komunikasi baik dengan berbicara atau media lainnya, karena sejatinya pembelajaran matematika adalah kegiatan sosial untuk menggapai pemahaman terhadap konsep matematika, dan fungsi dari berbicara itu sendiri merupakan sarana komunikasi secara lisan dari guru kepada siswa dan sarana komunikasi secara lisan pula antara siswa satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  2. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Tiadalah tulisanku mampu mengejar bicaraku. Karena selesai aku menulis kata-kata, bicaraku sudah pergi meninggalkanku. Tiadalah bicaraku mengalahkan pikiranku. Karena selesai aku bicara, pikiranku sudah pergi meninggalkanku.

    ReplyDelete
  3. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Mengeluarkan kata-kata melalui mulut dan isyarat, saya menyebutnya bicara. Mengeluarkan kata-kata melalui goresan simbol-simbol, saya menyebutnya tulisan. Tapi tiadalah bicara dan tulisan dimengerti tanpa belajar bahasa. Maka ketika saya tidak mengerti belajar filsafat itu dikarenakan saya tidak memahami bahasa analaog, yaitu bahasa filsafat.

    ReplyDelete
  4. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terima kasih Prof. Elegi diatas menjelaskan tentang perlunya siswa belajar aktif. Pembelajaran menjadi student centered. Siswa belajar berpikir dan mengutarakan pikirannya dalam bentuk pendapat baik lisan maupun secara tertulis. Dari sini siswa akan terasah pola pikirnya, perkataanya, sehingga menjadi pribadi yang kritis dan mampu mengutarakan pendapat dalam rangka memberi solusi atas suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  5. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Dalam berbicara, perlu diperhatikan beberapa kata dan kalimat serta manfaat dari kalimat yang akan terucap tersebut. Sehingga tidak menimbulkan efek yang tidak baik bagi diri sendiri dan merugikan orang lain. Filsafat mengajarkan bagaimana cara untuk berkata atau berbicara, karena sebenar-benarnya berfilsafat adalah sebarapa jauh pikiran dan perkataan yang ada dan mungkin ada. Kecerdasan dan kebaikan juga akan terpancar dari cara berbicara dan mengungkapkan sebuah hal atau perspektif. Maka dari itu berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, memang terkadang lebih mudah daripada berpikir, akan tetapi dampak dari akibat berbicara itu juga perlu dipikirkan. Sehingga ada ungkapan “mulutmu harimaumu”.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Segala yang ada dan yang mungkin ada pasti dapat diungkap melalui perpaduan antara kata, bicara, tulis, dan bahasa. Dengan perpaduan itu pula dapat diciptakan suatu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, ilmu yang dapat dipelajari dan dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan langkah manusia.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Setiap orang pasti membutuhkan bantuan orang lain, tidak lah bisa manusia hidup sendiri. maka janganlah manusia menyombongkan diri. guru juga tidak boleh sombong. guru yang sombong adalah guru yang merasa dirinya paling hebat sehingga ia hanya memberi, tidak memberi kesempatan bagi siswanya, sebaik-baik guru adalah guru yang bisa membuat siswa membangun ilmunya sendiri

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Berbicara, kata-kata, bahasa dan tulisan itu meruapakan suatu rangkaian. Mereka tidak dapat dipisahkan. Untuk menulis dibutuhkan bahasa dan kata-kata, untuk berbicara juga dibutuhkan bahasa dan kata-kata. Untuk mampu berbahasa dan berkata-kata dibutuhkan pengetahuan dengan membaca. Untuk dapat dibaca pengetahuan harus dituliskan, untuk dapat dipercaya pengethauan harus didiskusikan dengan dibicarakan.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Kita mengungkapkan apa yang kita pikirkan memlalui bahasa, bahkan bicara dalam hati juga menggunakan bahasa. Saya sering bertanya-tanya, sejak kapan bahasa muncul dan sejak kapan setiap kata memiliki makna. Yang jelas, bahasa memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan semua manusia, sehingga sebagai guru haruslah memberi kesempatan kepada siswanya untuk berbahasa, memperbahasakan semua yang ada.

    ReplyDelete
  10. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Bicara adalah kemampuan yang melibatkan aspek-aspek bahasa, yang diramu oleh kemampuan pikiran. Berbicara tidak selalu dengan lisan, namun bicara juga bisa melalui tulisan yang juga melibatkan bahasa. Dalam berfilsafat pun memerlukan bahasa untuk memahaminya. Oleh karena itu, bahasa sangatlah penting digunakan sebagai dasar berfilsafat dan untuk memudahkan filsafat itu diterima oleh orang awam.

    ReplyDelete
  11. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Berfilsafat adalah bagaimana kita dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Seberapa jauh kita dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Dan seberapa jauh kita dapat menuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka dengan berfilsafat, kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat, menuliskan, dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tidak hanya dalam pembelajaran, namun dalam lingkup yang lebih luas yaitu di masyarakat. Kita akan ditolong ketika kita menolong. Kita akan diperbolehkan berbicara ketika kita membolehkan yang lain untuk berbicara. Tidak memotong dan mengekang. Karena dibutuhkan keikhlasan satu sama lain.
    Berbicara dalah dasar kita menyampaikan suatu kata-kata melalui bahasa kepada orang lain yang kita ajak bicara, bicara atau berfilsafah dengan baik dengan melibatkan bahasa yang baik dan santun untuk dapat dipahami oleh oranglain, karena komunikasi lewat bicara adalah hal yang menting untuk menyampaikan maksud dan tujuan.

    ReplyDelete
  12. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi tersebut, ditarik dalam ranah pembelajaran di kelas, maka sesungguhnya guru wajib memberikan kesempatan berbicara dan melakukan berbagai aktivtas belajar. Guru memfasilitasi diskusi dan pertanyaan dari siswa. Guru memberikan petunjuk aktivitas belajar, biarkan siswa menggapai hak bicaranya, bicara dengan aktivtas belajarnya. Sehingga guru benar-benar menghargai dan memanusiakan siswa seutuhnya

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kaitannya dengan matematika, sesungguhnya matematika adalah alat komunikasi. Komunikasi antara pikiran dan persoalan sehinnga didapatkan penyelesaian akhir yang tepat. Sebagai alat komunikasi, matematika berhak digunakan oleh siapapun, termask siswa. Guru tidak boleh otoriter terhadap siswa dengan menyalahkan apa yang dibicarakan, ditulis, dan dimaknai oleh siswa. Guru harus tetap membfasilitasi eksplorasi siswa dalam berkomunikasi menggunakan matematika

    ReplyDelete
  14. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Bicara adalah mengungkapkan kata-kata. Semuanya saling berhubungan dan menguatkan. Yang sangat menarik bagi saya setelah membaca elegi ini adalah kalimat “Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.”

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas, Dalam berbicara, kita harus menggunakan kata-kata yang baik, sopan, dan dengan kerendahan hati. Kita perlu menyesuaikan apa yang kita bicarakan dengan konteks pembicaraan dan lawan yang diajak berbicara. Kita juga harus berhati–hati dalam berbicara agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Tugas guru dalam proses pembelajaran adalah hanya memfasilitasi siswa dalam belajar. Siswa bukan hanya sebagai objek, melainkan sebagai subjek dalam pembelajaran. Siswalah yang nantinya akan dapat menemukan pengetahuannya sendiri dengan bantuan guru. Guru hendaknya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi siswa untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Dengan menemukan pengetahuannya sendiri, maka siswa akan dapat mengatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada

    ReplyDelete
  16. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Semua ilmu mempunyai bahasanya masing-masing. Begitupun dengan matematika, mempunyai bahasa tersendiri. Belajar matematika adalah tentang bagaimana cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan, memperkatakan dan membicarakan semua ilmu matematika dari yang ada dan yang mungkin ada. Mendidik adalah tentang memberikan kesempatan. Dengan demikian, siswa akan lebih mampu mengembangkan apa yang dipikirkannya dan membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  17. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Terima kasih banyak Prof atas elegi elegi yang telah disajikan untuk kami para mahasiswa. Secara tidak lansung kegiatan membaca artikel ini menjadi merubah stigma saya mengenai filsafat secara pribadi. Dengan membaca elegi-elegi dari blog ini pengetahuan saya menjadi bertambah mengenai banyak istilah filsafat yang sama sekali tidak saya ketahui sebelumnya. Semoga ilmu yang kami peroleh dapat pula bermanfaat bagi orang lain. Amin

    ReplyDelete
  18. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dalam filsafat, orang yang mampu mendidik adalah orang yang mampu memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengembangkan pengetahuannya sesuai potensinya. Ketika guru hanya bertanya dan menjelaskan kepada siswanya maka hal itu guru sedang berbuat tidak adil kepada siswanya karena dia tidak memberikan kesempatan bagi siswanya untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Maka dalam pbm matematika yang utama adalah memberikan kesempatan bagi siswanya untuk berbicara bukan mendengarkan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk memberikan pendapat dari apandangan mereka, memberikan pendapat atas apa yang kita sampaikan secara seluas-luasnya akan memberikan dampak yang baik kepada peserta didik karena hal tersebut akan menjadi tanda bagi peserta didik bahwa mereka juga bisa berpendapat dan meluruskan apa yang kurang tepat jika dalam kegiatan pembelajaran berjalan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebagaimana yang kita tahu, kita sebagai pendidik hanyalah fasilitator bukan sebagai seseorang yang selalu memberikan apa yang mereka butuhkan. Karena apa yang menurut pendidik itu merupakan kebutuhan dari peserta didik, belum tentu bagi mereka. Oleh karenanya usahakan pendidik membiarkan peserta didik untuk berkembang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan selagi tidak melenceng dari kegiatan pembelajaran yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  20. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam dunia hermenutika, simbol memiliki makna yang cukup luas tatkala dibicarakan. Seseorang akan memaknai sebuah kata-kata, satu sama lain akan berbeda. Seperti halnya ketika kita naik kerta, sewaktu kita membaca peraturan tentang merokok, “ketahuan merokok, akan diturukan diterminal berikutnya”. Peraturan ini bisa diantrikan, bahwa seseorang bisa merokok tatkala mendekati terminal tujuan penumpang. atau ini adalah peraturan yang untuk tidak merokok. Kata seperti ini miliki pengartikan yang berbeda, maka dalam hermenutika diperlukan pendukung lainnya untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Manusia dibekali Tuhan dengan kemampuan berbicara. bicara merupakan kegiatan yang dilakukan manusia untuk belajar, memahami dan mengekspresikan apa yang mereka tahu dan apa yang mereka dapat. oranglain dapat mengerti apa yang kita rasakan dengan kita berbicara.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Guru yang baik dan mulia adalah guru yang memahami ruang waktunya dimana dan dengan siapa sedang berbicara. Mampu memposisikan dirinya sebagai orangtua, sebagai sahabat yang selalu siap menampung inspirasi, dan mampu memberikan solusi yang baik. Mari kita tingkatkan kualitis diri supaya kita memiliki ilmu yang cukup untuk mengantarkan anak – anak kita menggapai cita – citanya.Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  23. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai bicara ini mengajarkan tentang bagaimana kita mengenal tentang diri sendiri, bagaimana kita agar menjadi manusia lebih baik. Baik sebagai mahasiswa ataupun sebagai pendidik. Kita selayaknya mendahulukan pemikiran kita agar bisa membahasakan dengan baik.Terkadang beberapa orang dalam berpendapat bisa mengeluarkan ide yang sama walau terkadang bahasa yang digunakan berbeda.

    ReplyDelete