Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bicara




Oleh Marsigit

Kata-kata:
Wahai bicara, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau duduk di situ mendahuluiku?

Bicara:
Wahai kata-kata. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku ucapkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkan engkau menuliskan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah menulis kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku tuliskan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkah engkau memikirkan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan kata-kata. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan, belum aku tuliskan, dan belum aku pikirkan, engkau telah membuat kata-katamu. Wahai kata-kata, mohon maafkan diriku, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku tentang kata-kata. Aku merasa bersalah. Maka aku akan menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasibku ini.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau berdua duduk di situ mendahuluiku?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku bicarakan dan katakan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkan engkau membuat karya-karya menggunakan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan, aku pernah membuat karya-karya menggunakan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa karya-karyaku.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkah engkau memikirkan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara dan kata-kata:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan tulisan. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan dan belum aku pikirkan, aku telah membuat tulisan. Wahai tulisan, mohon maafkan diriku berdua, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku berdua tentang tulisan. Aku merasa bersalah. Maka marilah kita bertiga menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasib kita ini.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, aku bertiga merasa bingung. Maka siapakah diriku bertiga itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya dimensimu itu berbeda-beda. Tulisan, bicara dan kata-kata adalah bahasa

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kemudian, siapakah kata-kata itu?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya kata-kata itu adalah salah satu dari diriku. Kata-kata adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah kata-kata. Maka kata-kata itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu berkata. Keputusanmu itu berkata. Langkahmu itu berkata. Penampakkanmu itu berkata. Akvitasmu berkata. Pegaulanmu berkata. Keberadaanmu berkata. Penjelasanmu berkata. Pertanyaanmu berkata. Bahkan kata-katamu itu juga berkata. Semua peristiwa itu berkata. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu berkata.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah bicara?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bicara itu adalah salah satu dari diriku. Bicara adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bicara. Maka bicara itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bicara. Keputusanmu itu bicara. Langkahmu itu bicara. Penampakkanmu itu bicara. Akvitasmu bicara. Pegaulanmu bicara. Keberadaanmu bicara. Penjelasanmu bicara. Pertanyaanmu bicara. Bahkan bicaramu itu juga bicara. Semua peristiwa itu bicara. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu bicara.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah tulisan?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya tulisan itu adalah salah satu dari diriku. Tulisan adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah tulisan. Maka tulisan itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu tulisan. Keputusanmu itu tulisan. Langkahmu itu tulisan. Penampakkanmu itu tulisan. Akvitasmu itu tulisan. Pegaulanmu itu tulisan. Keberadaanmu itu tulisan. Penjelasanmu itu tulisan. Pertanyaanmu itu tulisan Bahkan bicaramu itu tulisan. Semua peristiwa itu tulisan. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu tulisan.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah dirimu itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bahasa adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bahasa. Keputusanmu itu bahasa. Langkahmu itu bahasa. Penampakkanmu itu bahasa. Akvitasmu itu bahasa. Pegaulanmu itu bahasa. Keberadaanmu itu bahasa. Penjelasanmu itu bahasa. Pertanyaanmu itu bahasa. Bahkan bicaramu itu juga itu bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, gantian saya yang ingin bertanya kepada engkau. Lalu, apakah hubungan antara bicara, kata-kata dan bahasa.

Bahasa:
Semua dari tulisan, bicara dan kata-kata adalah diriku. Bahkan lebih dari itu, semua yang dapat engkau pikirkan adalah bahasa. Semua subyek, obyek dan kalimat-kalimat adalah bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Menterjemahkan adalah bahasa. Diterjemahkan adalah bahasa. Maka bahasa adalah hidup. Maka hidup adalah bahasa. Semua refleksi adalah bahasa. Maka filsafat itu adalah bahasa. Lebih dari itu, semua struktur adalah bahasa. Potensi adalah bahasa. Fakta adalah bahasa. Semua arti adalah bahasa. Kebutuhan adalah bahasa. Keinginan adalah bahasa. Maka bahasa adalah sekaligus makna dan referensinya. Tanpa kecuali maka semua elegi adalah bahasa.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah mengapa elegi-elegi ini aku persembahkan untuk kamu semua wahai mahasiswaku, yaitu seberapa jauh aku memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi dirimu semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hatimu semua. Amien.

16 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Filsafat itu adalah diri kita sendiri. Belajar filsafat adalah belajar olah pikir, belajar berpikir reflektif. Sejauh mana saya paham tentang filsafat adalah ketika saya mampu memperkatakan semua yang ada dan mungkin ada, ketika saya mampu membicarakan semua yang ada dan mungkin ada, ketika saya mampu mempertuliskan semua yang ada dan mungkin ada dan sejauh mana saya mampu memperbahasakan semua yang ada dan mungkin ada. Semua itu dapat saya lakukan jika saya telah memahami tentang ilmu fisafat. Dalam mempelajari filsafat, saya belajar bagaimana berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan / pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendakilah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau di luarnya.

    ReplyDelete
  3. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Filsafat adalah diri kita masing-masing karena kita tidak bisa menunjuk diri sendiri. Jadi kalau ada didalam pikiran maka identifikasi sifat-sifatnya, karakteristik-karakteristiknya yaitu apa yang bersifat tetap dan apa yang bersifat berubah. Dalam pikiran ada urusan langit dan ada urusan dunia.
    Dalam ruang dan waktu, kita tidak akan bisa mengerjar tulisan kita, sebaik-baiknya tulisan tidak akan bisa mengejar ucapan dan sepandai-pandainya ucapan tidak akan bisa mengejar apa yang kita pikirkan serta sepintar-pintarnya pikiran tidak akan bisa mengalahkan kata hati. Hati adalah puncak spiritual yang akan selalu bernilai dan berkata benar meski kita mencoba mengingkarinya.

    ReplyDelete
  4. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Filsafat adalah diri kita sendiri. obyek filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran dan hatimu. Untuk menggapai bicara diperlukan pengalaman maupun pengetahuan tentang apa yang dilihat dan dipikirkan. Engkau berbicara karena engkau itu berpikir. Maka sebenar-benar bicara ialah logos juga.

    ReplyDelete
  5. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Berbicara adalah salah satu usaha untuk mengungkapkan ide dan gagasan kita. Berbicara itu hendaknya kita menggunakan kata-kata yang baik, sopan, dan dengan kerendahan hati. Kita perlu menyesuaikan apa yang kita bicarakan dengan konteks pembicaraan. Dalam berbicara, kita juga harus berhati-hati jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman makna dengan lawan yang diajak berbicara.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dapat kita pahami bahwa sebanyak-banyak nya bapak menulis tentang elegi, tidak lain dan tidak bukan agar kita memahami apa yang dimaksudkan dalam filsafat. memberikan kita ruang dan waktu untuk mampu mengkomunikasikan kembali dalam bentuk komentar. maka itulah salah satu cara beliau untuk melihat bagaimana cara mahasiswa mengkomunikasikan kembali bentuk dari filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  7. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini semoga kita dapat menarik pelajaran dan dapat mengaplikasikannya pada pembelajaran matematika. Karena tentunya kita sebagai seorang calon pendidik kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang lebih baik. Ide-ide kreatif yang mungkin dimiliki oleh siswa harus kita kembangkan seoptimal mungkin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara seperti yang dituliskan dalam elegi ini yaitu dengan memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Semoga dari elegi ini dapat menumbuhkan kecerdasan yang menyertai pikiran dan hati kita semua. Aminn..

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menanggapi elegi bicara ini jika dikaitkan dengan matematika maka sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada.
    Sehingga dalam mennaggapi siswa dalam pembelajaran di kelas sebagai pengajar dna pendidik tidak boleh serta merta menyalahkan siswa yang memiliki perkataan, membicarakan, menuliskan, dan memperbahasakan matematika tidak sama dengan mendidik.
    Tetapi memberikan kesempatan siswa untuk bereksplorasi.

    ReplyDelete
  9. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Bicara adalah mengungkapkan kata-kata. Pada elegi ini dibahas mengenai bicara, kata-kata, bahasa, tulisan, dll yang saling menunjukkan peran dan hubungan antar mereka. Pada dasarnya, semuanya tersebut saling berhubungan dan tidak ada yang paling mendominasi. Semuanya sama. Pada akhir elegi ini terdapat nasehat yang sangat berarti yaitu, ‘sebenar-benar pembelajaran matematika adalah seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada’. Kalimat ini menyaratkan bahwa hakekat dari pembelajaran matematika adalah kebebasan siswa dalam mengungkapkan ide dan pikiran matematika mereka masing-masing. Bagaimana guru dapat membimbing dan memfasilitasi siswa pada kebebasan tersebut.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Berbicara, kata-kata, bahasa dan tulisan itu meruapakan suatu rangkaian. Mereka tidak dapat dipisahkan. Untuk menulis dibutuhkan bahasa dan kata-kata, untuk berbicara juga dibutuhkan bahasa dan kata-kata. Untuk mampu berbahasa dan berkata-kata dibutuhkan pengetahuan dengan membaca. Untuk dapat dibaca pengetahuan harus dituliskan, untuk dapat dipercaya pengethauan harus didiskusikan dengan dibicarakan.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Sebenar-benarnya filsafat adalah seberapa jauh kita dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. sebenar-benarnya mendidik adalah memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa untuk dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. jika siswa tidak dibiasakan melakukan hal itu, maka pembelajaran bermakna itu tidak ada, kemampuan komunikasinya pun bisa berkurang.

    ReplyDelete
  12. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Kita mengungkapkan apa yang kita pikirkan memlalui bahasa, bahkan bicara dalam hati juga menggunakan bahasa. Saya sering bertanya-tanya, sejak kapan bahasa muncul dan sejak kapan setiap kata memiliki makna. Yang jelas, bahasa memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan semua manusia, sehingga sebagai guru haruslah memberi kesempatan kepada siswanya untuk berbahasa, memperbahasakan semua yang ada.

    ReplyDelete
  13. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Bicara adalah hal pertama yang kita lakukan dalam hidup. Dimana bicara ini bisa kita lakukan apabila kita sudang memahami bahasa. Maka guru yang baik dan mulia adalah guru yang memahami ruang waktunya dimana dan dengan siapa sedang berbicara. Mampu memposisikan dirinya sebagai orangtua, sebagai sahabat yang selalu siap menampung inspirasi, dan mampu memberikan solusi yang baik. Mari kita tingkatkan kualitis diri supaya kita memiliki ilmu yang cukup untuk mengantarkan anak-anak kita menggapai cita-citanya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Filsafat adalah ilmu tentang pikiran. Bagaimana kita dapat berfilsafat apabila suara kita terkunci. Suara ini hanya dapat keluar melalui mulut yang berbicara baik itu berupa tulisan maupun lisan. Sebaik – baiknya pembicaraan adalah yang brmanfaat untuk orang lain dan tidak saling menyakiti. Karena sakit tak berdarah melalui pembicaraanmu akan lebih menyakitkan dibandingkan dengan sayatan pisau yang berdarah.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Dalam hidup kita selalu berbicara, entah berbicara secara langsung atau dalam hati. dalam berbicara maka libatkan hati dan pikiran. agar pembicaraan yang keluar dari mulut melalui suara tidak terkesan menyinggung seseorang. maka berbicaralah yang bermanfaat, yang mengandung banyak nasihat.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Bicara hakekat adalah bicara filsafat dan bicara filsafat adalah bicara diri sendiri, bicara mengenai diri atau mengkaji diri inilah yang paling sulit. Banyak manusia yang bisa membicarakan dan memperbaiki orang lain dan sangat sulit untuk memperbaiki dirinya sendiri. Musuh kita yang paling berbahaya adalah diri kita sendiri. Sehingga kita dianjutkan untuk membicarakan diri terlebih dahulu sebelum membicarakan orang lain.

    ReplyDelete