Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bicara




Oleh Marsigit

Kata-kata:
Wahai bicara, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau duduk di situ mendahuluiku?

Bicara:
Wahai kata-kata. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku ucapkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkan engkau menuliskan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah menulis kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku tuliskan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkah engkau memikirkan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan kata-kata. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan, belum aku tuliskan, dan belum aku pikirkan, engkau telah membuat kata-katamu. Wahai kata-kata, mohon maafkan diriku, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku tentang kata-kata. Aku merasa bersalah. Maka aku akan menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasibku ini.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau berdua duduk di situ mendahuluiku?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku bicarakan dan katakan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkan engkau membuat karya-karya menggunakan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan, aku pernah membuat karya-karya menggunakan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa karya-karyaku.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkah engkau memikirkan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara dan kata-kata:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan tulisan. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan dan belum aku pikirkan, aku telah membuat tulisan. Wahai tulisan, mohon maafkan diriku berdua, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku berdua tentang tulisan. Aku merasa bersalah. Maka marilah kita bertiga menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasib kita ini.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, aku bertiga merasa bingung. Maka siapakah diriku bertiga itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya dimensimu itu berbeda-beda. Tulisan, bicara dan kata-kata adalah bahasa

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kemudian, siapakah kata-kata itu?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya kata-kata itu adalah salah satu dari diriku. Kata-kata adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah kata-kata. Maka kata-kata itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu berkata. Keputusanmu itu berkata. Langkahmu itu berkata. Penampakkanmu itu berkata. Akvitasmu berkata. Pegaulanmu berkata. Keberadaanmu berkata. Penjelasanmu berkata. Pertanyaanmu berkata. Bahkan kata-katamu itu juga berkata. Semua peristiwa itu berkata. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu berkata.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah bicara?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bicara itu adalah salah satu dari diriku. Bicara adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bicara. Maka bicara itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bicara. Keputusanmu itu bicara. Langkahmu itu bicara. Penampakkanmu itu bicara. Akvitasmu bicara. Pegaulanmu bicara. Keberadaanmu bicara. Penjelasanmu bicara. Pertanyaanmu bicara. Bahkan bicaramu itu juga bicara. Semua peristiwa itu bicara. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu bicara.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah tulisan?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya tulisan itu adalah salah satu dari diriku. Tulisan adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah tulisan. Maka tulisan itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu tulisan. Keputusanmu itu tulisan. Langkahmu itu tulisan. Penampakkanmu itu tulisan. Akvitasmu itu tulisan. Pegaulanmu itu tulisan. Keberadaanmu itu tulisan. Penjelasanmu itu tulisan. Pertanyaanmu itu tulisan Bahkan bicaramu itu tulisan. Semua peristiwa itu tulisan. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu tulisan.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah dirimu itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bahasa adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bahasa. Keputusanmu itu bahasa. Langkahmu itu bahasa. Penampakkanmu itu bahasa. Akvitasmu itu bahasa. Pegaulanmu itu bahasa. Keberadaanmu itu bahasa. Penjelasanmu itu bahasa. Pertanyaanmu itu bahasa. Bahkan bicaramu itu juga itu bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, gantian saya yang ingin bertanya kepada engkau. Lalu, apakah hubungan antara bicara, kata-kata dan bahasa.

Bahasa:
Semua dari tulisan, bicara dan kata-kata adalah diriku. Bahkan lebih dari itu, semua yang dapat engkau pikirkan adalah bahasa. Semua subyek, obyek dan kalimat-kalimat adalah bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Menterjemahkan adalah bahasa. Diterjemahkan adalah bahasa. Maka bahasa adalah hidup. Maka hidup adalah bahasa. Semua refleksi adalah bahasa. Maka filsafat itu adalah bahasa. Lebih dari itu, semua struktur adalah bahasa. Potensi adalah bahasa. Fakta adalah bahasa. Semua arti adalah bahasa. Kebutuhan adalah bahasa. Keinginan adalah bahasa. Maka bahasa adalah sekaligus makna dan referensinya. Tanpa kecuali maka semua elegi adalah bahasa.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah mengapa elegi-elegi ini aku persembahkan untuk kamu semua wahai mahasiswaku, yaitu seberapa jauh aku memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi dirimu semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hatimu semua. Amien.

41 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Filsafat itu adalah diri kita sendiri. Belajar filsafat adalah belajar olah pikir, belajar berpikir reflektif. Sejauh mana saya paham tentang filsafat adalah ketika saya mampu memperkatakan semua yang ada dan mungkin ada, ketika saya mampu membicarakan semua yang ada dan mungkin ada, ketika saya mampu mempertuliskan semua yang ada dan mungkin ada dan sejauh mana saya mampu memperbahasakan semua yang ada dan mungkin ada. Semua itu dapat saya lakukan jika saya telah memahami tentang ilmu fisafat. Dalam mempelajari filsafat, saya belajar bagaimana berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan / pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendakilah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau di luarnya.

    ReplyDelete
  3. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Filsafat adalah diri kita masing-masing karena kita tidak bisa menunjuk diri sendiri. Jadi kalau ada didalam pikiran maka identifikasi sifat-sifatnya, karakteristik-karakteristiknya yaitu apa yang bersifat tetap dan apa yang bersifat berubah. Dalam pikiran ada urusan langit dan ada urusan dunia.
    Dalam ruang dan waktu, kita tidak akan bisa mengerjar tulisan kita, sebaik-baiknya tulisan tidak akan bisa mengejar ucapan dan sepandai-pandainya ucapan tidak akan bisa mengejar apa yang kita pikirkan serta sepintar-pintarnya pikiran tidak akan bisa mengalahkan kata hati. Hati adalah puncak spiritual yang akan selalu bernilai dan berkata benar meski kita mencoba mengingkarinya.

    ReplyDelete
  4. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Filsafat adalah diri kita sendiri. obyek filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran dan hatimu. Untuk menggapai bicara diperlukan pengalaman maupun pengetahuan tentang apa yang dilihat dan dipikirkan. Engkau berbicara karena engkau itu berpikir. Maka sebenar-benar bicara ialah logos juga.

    ReplyDelete
  5. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Berbicara adalah salah satu usaha untuk mengungkapkan ide dan gagasan kita. Berbicara itu hendaknya kita menggunakan kata-kata yang baik, sopan, dan dengan kerendahan hati. Kita perlu menyesuaikan apa yang kita bicarakan dengan konteks pembicaraan. Dalam berbicara, kita juga harus berhati-hati jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman makna dengan lawan yang diajak berbicara.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dapat kita pahami bahwa sebanyak-banyak nya bapak menulis tentang elegi, tidak lain dan tidak bukan agar kita memahami apa yang dimaksudkan dalam filsafat. memberikan kita ruang dan waktu untuk mampu mengkomunikasikan kembali dalam bentuk komentar. maka itulah salah satu cara beliau untuk melihat bagaimana cara mahasiswa mengkomunikasikan kembali bentuk dari filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  7. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini semoga kita dapat menarik pelajaran dan dapat mengaplikasikannya pada pembelajaran matematika. Karena tentunya kita sebagai seorang calon pendidik kita memiliki tanggung jawab moral untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang lebih baik. Ide-ide kreatif yang mungkin dimiliki oleh siswa harus kita kembangkan seoptimal mungkin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara seperti yang dituliskan dalam elegi ini yaitu dengan memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. Semoga dari elegi ini dapat menumbuhkan kecerdasan yang menyertai pikiran dan hati kita semua. Aminn..

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menanggapi elegi bicara ini jika dikaitkan dengan matematika maka sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada.
    Sehingga dalam mennaggapi siswa dalam pembelajaran di kelas sebagai pengajar dna pendidik tidak boleh serta merta menyalahkan siswa yang memiliki perkataan, membicarakan, menuliskan, dan memperbahasakan matematika tidak sama dengan mendidik.
    Tetapi memberikan kesempatan siswa untuk bereksplorasi.

    ReplyDelete
  9. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Bicara adalah mengungkapkan kata-kata. Pada elegi ini dibahas mengenai bicara, kata-kata, bahasa, tulisan, dll yang saling menunjukkan peran dan hubungan antar mereka. Pada dasarnya, semuanya tersebut saling berhubungan dan tidak ada yang paling mendominasi. Semuanya sama. Pada akhir elegi ini terdapat nasehat yang sangat berarti yaitu, ‘sebenar-benar pembelajaran matematika adalah seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada’. Kalimat ini menyaratkan bahwa hakekat dari pembelajaran matematika adalah kebebasan siswa dalam mengungkapkan ide dan pikiran matematika mereka masing-masing. Bagaimana guru dapat membimbing dan memfasilitasi siswa pada kebebasan tersebut.

    ReplyDelete
  10. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Berbicara, kata-kata, bahasa dan tulisan itu meruapakan suatu rangkaian. Mereka tidak dapat dipisahkan. Untuk menulis dibutuhkan bahasa dan kata-kata, untuk berbicara juga dibutuhkan bahasa dan kata-kata. Untuk mampu berbahasa dan berkata-kata dibutuhkan pengetahuan dengan membaca. Untuk dapat dibaca pengetahuan harus dituliskan, untuk dapat dipercaya pengethauan harus didiskusikan dengan dibicarakan.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Sebenar-benarnya filsafat adalah seberapa jauh kita dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. sebenar-benarnya mendidik adalah memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa untuk dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada. jika siswa tidak dibiasakan melakukan hal itu, maka pembelajaran bermakna itu tidak ada, kemampuan komunikasinya pun bisa berkurang.

    ReplyDelete
  12. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Kita mengungkapkan apa yang kita pikirkan memlalui bahasa, bahkan bicara dalam hati juga menggunakan bahasa. Saya sering bertanya-tanya, sejak kapan bahasa muncul dan sejak kapan setiap kata memiliki makna. Yang jelas, bahasa memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan semua manusia, sehingga sebagai guru haruslah memberi kesempatan kepada siswanya untuk berbahasa, memperbahasakan semua yang ada.

    ReplyDelete
  13. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Bicara adalah hal pertama yang kita lakukan dalam hidup. Dimana bicara ini bisa kita lakukan apabila kita sudang memahami bahasa. Maka guru yang baik dan mulia adalah guru yang memahami ruang waktunya dimana dan dengan siapa sedang berbicara. Mampu memposisikan dirinya sebagai orangtua, sebagai sahabat yang selalu siap menampung inspirasi, dan mampu memberikan solusi yang baik. Mari kita tingkatkan kualitis diri supaya kita memiliki ilmu yang cukup untuk mengantarkan anak-anak kita menggapai cita-citanya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Filsafat adalah ilmu tentang pikiran. Bagaimana kita dapat berfilsafat apabila suara kita terkunci. Suara ini hanya dapat keluar melalui mulut yang berbicara baik itu berupa tulisan maupun lisan. Sebaik – baiknya pembicaraan adalah yang brmanfaat untuk orang lain dan tidak saling menyakiti. Karena sakit tak berdarah melalui pembicaraanmu akan lebih menyakitkan dibandingkan dengan sayatan pisau yang berdarah.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Dalam hidup kita selalu berbicara, entah berbicara secara langsung atau dalam hati. dalam berbicara maka libatkan hati dan pikiran. agar pembicaraan yang keluar dari mulut melalui suara tidak terkesan menyinggung seseorang. maka berbicaralah yang bermanfaat, yang mengandung banyak nasihat.

    ReplyDelete
  16. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Bicara hakekat adalah bicara filsafat dan bicara filsafat adalah bicara diri sendiri, bicara mengenai diri atau mengkaji diri inilah yang paling sulit. Banyak manusia yang bisa membicarakan dan memperbaiki orang lain dan sangat sulit untuk memperbaiki dirinya sendiri. Musuh kita yang paling berbahaya adalah diri kita sendiri. Sehingga kita dianjutkan untuk membicarakan diri terlebih dahulu sebelum membicarakan orang lain.

    ReplyDelete
  17. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam pembelajaran, pikiran siswa-siswa adalah unik. Maka stiap siswa memiliki pikiran yang berbeda-beda. Maka sebenar-benarnya guru adalah memfasilitasi siswa untuk berbica, barkata-kata, menuliskan, dan berbahasa tentang semua pikiran mereka tentang objek-objek matematika. Namun, sebenar-benarnya guru yang mempunyai dimensi yang lebih tinggi mampu menebak jalan pikiran mereka sehingga mampu memfasilitasi para siswa.

    ReplyDelete
  18. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Bahasa mencakup semua, untuk berkomunikasi dengan siapa saja, dengan teman, dengan guru, dengan diri sendiri, bahkan dengan Tuhan. Bahasa digunakan untuk mengutarakan apa yang dipikirkannya, bisa dengan batas, bisa tanpa batas dengan menghubungkan segala hal. Bahasa dapat juga dipahami dari isyarat, bisa isyarat alam, hewan, ekspresi muka, gerak gerik. Tetapi yang dikatakan orang tua berambut putih dengan memperkatakan membicarakan menuliskan dan membahasakan segala yang ada dan yang mungkin ada dapat dilakukan dengan dirinya sendiri, tanpa harus diketahui orang lain.

    ReplyDelete
  19. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hendaknya mampu menjaga bicara dan setiap perkataan kita agar tidak menyinggung perasaan orang lain dan tidak menyakiti hati orang lain. Hati dan pikiran mencakup segala filsafat dan itu adalah diri sendiri. Hati kadang bertentang dengan pikiran, begitu sebaliknya. Maka dalam menuliskan atau berbicara suatu hal harus memperhatikan konteksnya agar tidak keliru dan menimbulkan masalah. Filsafat dapat dipahami dengan hati dan pikiran, walaupun saya merasa sulit dalam memahaminya namun akan terus mencoba agar dapat sedikit demi sedikit memahaminya dari hati dan dengan pikiran.

    ReplyDelete
  20. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan elegi di atas, sebenar-benar berfilsafat yaitu seberapa kita dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu, demikian itu lah sebenar-benar mendidik dan pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi ini saya tahu bahwa sebenar –benarnya belajar adalah seberapa jauh saya memberikan kesempatan dan kemampuan kepada saya sendiri untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Dengan membaca elegi –elegi yang telah dituliskan, saya memberikan kesempatan untuk diri saya belajr lebih lagi, mengetahui ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  22. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Perkataan yang keluar dari mulut kita haruslah difikirkan terlebih dahulu. fikirkan apa akibatnya, apa efeknya bagi kita maupun orang lain. perkataan yang keluar dari mulut kita jika tajam adanya maka akan menyakiti hati orang lain. maka dari itu jagalah perkataan. berkata baik atau diam.

    ReplyDelete
  23. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, yang paling menarik bagi saya adalah “Sebenar-benar mendidik adalah seberapa jauh engkau kita sebagai calon kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.”

    ReplyDelete
  24. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seorang guru bukan pada tempat dan waktunya lagi untuk mendominasi di kelas mentransfer ilmu serta mendoktrin siswa dengan materi pelajaran. Sekarang sudah saatnya bagi guru untuk memfasilitasi siswa dalam belajar. Biarkanlah siswa yang aktif. Guru bisa menyediakan LKS untuk siswa sebagai sarana untuk memberi kesempatan pada siswa untuk menulis, berkata kata bembahasakan dan lain lain pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  25. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2



    Kata-kata dan bicara adalah dua hal yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi. Tiadalah kata-kata tanpa bicara dan tiadalah bicara tanpa kata-kata. Bicara, kata-kata, dan tulisan terhimpun dalam bahasa. Bahasa merupakan salah satu metode hidup, yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Setiap manusia harus belajar dengan menggunakan metode hidup, agar sesuatu yang tidak ada menjadi ada, sesuatu yang kecil menjadi besar, sesuatu yang gelap menjadi terang. Dalam berbicara, seseorang sebaiknya menyesuaikan konteks pembicaraan dengan apa yang akan dibicarakan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai maksud pembicara dengan lawan bicara. Jika suatu kata dibicarakan akan menimbulkan sebuah wacana, kemudian dari kata-kata yang dibicarakan dan dituliskan dengan bahasa yang baik maka akan tersampaikan dengan baik pula. Ini semua sangat dibutuhkan dalam mendidik karena merupakan sarana untuk menyampaikan suatu ide, pendapat ataupun gagasan.

    ReplyDelete
  26. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kalimat “sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.”, menunjukkan bahwa pembelajaran itu yang terpenting adalah memberikan kesempatan bagi siwa, yang belajar itu siswa sehingga guru sebagai fasilitator dan untuk memberikan kesempatan siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  27. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada kalimat menarik yang diucapkan oleh orang berambut putih, yaitu "Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada". Hal ini menandakan bahwa seseorang yang telah memiliki ilmu akan sia-sia jika tidak dapat mengomunikasikan dan membagikan ilmunya kepada orang lain.

    ReplyDelete
  28. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam mendidik yang benar ialah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada peserta didik agar mampu menuangkan ide-idenya dalam berbagai bentuk. Mulai dari memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan mungkin ada. Pendidik mempunyai peran sebagai penyedia perangkat pembelajaran.

    ReplyDelete
  29. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terdapat pelajaran yang dapat saya petik. Bahwasanya, menjadi guru, menjadi fasilitator, kita harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan apa yang ada dalam benak mereka. Memfasilitasi mereka untuk mengkomunikasikan gagasan, memfasilitasi mereka untuk merefleksikan diri, memfasilitasi mereka untuk menulis, dsb, itu semua proses dalam rangka belajar.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seorang pendidik (guru) hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bereksplorasi mengungkapkan segala pengetahuan yang ia miliki, yaitu melalui perkataan, bicara, tulisan, maupun bahasa. Begitu juga dengan elegi-elegi yang telah bapak fasilitasi kepada kami dapat menjadi wahana pemberian kesempatan kepada mahasiswa untuk mandiri dan mengeksplor segala pengetahuan yaitu dengan cara refleksi. Semoga dari elegi-elegi yang telah ditampilkan mampu menjadi referensi teladan yang pada akhirnya berguna sebagai bekal kita khususnya menjadi seorang guru.

    ReplyDelete
  31. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil elegi di atas adalah bahwa sebagai seorang guru hendaknya kita memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri, sehingga mereka akan dapat mengatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan semua yang mereka pahami.

    ReplyDelete
  32. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    pikiran, perkataan dan tulisan pastilah ada hubungannya. apa yang kita pikirkan dapat kita ungkapkan dengan kata kata walaupun tidak semua dan juga dapat kita tuliskan walaupun tidak dapat semua juga kita dapat tuliskan. oleh karenanya sebisa mungkin sinkronkan pikiran, perkataan dan perbuatan.

    ReplyDelete
  33. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Bahasa adalah salah satu hal yang kita gunakan dalam berkomunikasi. Namun selain menggunakan bicara kita dapat menggunakan hal lain, yaitu kata-kata, tulisan dan bicara. Ketiga hal tersebut adalah bagian dari bahasa, maka dalam berbahasa kita bisa menggunakan salah satu hal tersebut, yaitu bicara, kata-kata ataupun tulisan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  34. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan. Memikirkan yang ada dan mungkin ada, membahas dan membicarakan yang ada dan mungkin ada, serta menuliskan yang ada dan mungkin ada. Semuanya tentang sejauh mana saya dapat memahami tentang filsafat.

    ReplyDelete
  35. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dengan elegi-elegi yang ada di blog ini, taulah saya bahwa pak Prof. Marsigit memberikan kesempatan kepada kami mahasiswanya agar untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi kami semua. Selain itu, agar kami menjadi MENGADA dan PENGADA (baca: elegi menggapai mengada dan pengada). Dengan begitu, maka semakin luaslah pemahaman kami dan semakin terbuka lah pikiran kami tentang filsafat.

    ReplyDelete
  36. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    S1 Pendidikan Matematika

    Metode dan cara mengajar yang unik, yang memberikan kesempatan murid untuk mengolah pikir, mengolah bahasa, meewujudkan dalam sebuah tulisan. Ini contoh konkrit seorang guru dalam mengajar. Setiap saat setiap waktu murid dapat berlatih menulis, memikirkan, membicarakan dengan teman sejawat maupun saat sendirian. di dalam kamar maupun di gerbong kereta. Karena hakikat belajar adalah menggali dan mengembangkan potensi.

    ReplyDelete
  37. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Bicara adalah salah satu cara manusia untuk mengungkapkan sesuatu. Terkadang bicara bisa benar-benar mengungkapkan apa yang dimaksud seseorang, namun kita juga perlu ingat bahwa seseorang bisa tidak mengungkapkan semuanya dengan cara berbicara. Maka jangan mudah menafsirkan hanya dari bicara saja.

    ReplyDelete
  38. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Beberapa hak yang dimiliki setiap orang ialah kesempatan berbicara, berkata-kata, berpikir dan menulis. Maka sebaiknya kita sebagai seorang pendidik hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada siswa menyampaikan pendapatnya yaitu melalui berkata, berbincang, menulis, dan berbahasa agar ilmu mereka dapat berkembang. Dengan demikian bahasa merupakan suatu sarana yang digunakan untuk berkomunikasi oleh satu orang kepada orang lain, sehingga apa yang ingin disampaikan orang tersebut dapat dimengerti oleh orang yang dituju.

    ReplyDelete
  39. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Tanpa kata-kata dan bicara bagaimana kita tahu apa yang seseorang inginkan. Tanpa kata-kata bagaimana sesorang mengungkapkan isi hatinya. Tanpa kata-kata bagaimana seseorang bisa menyampaikan gagasannya kepada orang lain. Seseorang bisa menuliskan, membicarakan, dan membahasakan suatu obyek dengan kata-kata. Dari kata-kata inilah kita bisa menambah wawasan untuk menjadi manusia cerdas dalam berpikir.

    ReplyDelete
  40. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kata dapat diucapkan atau dibicarakan dapat juga ditulis. Objek dalam filsafat melingkupi yang ada dan yang mungkin ada dalam ruang dan waktu di kehidupan kita. Dan sebenar-benarnya kita berfilsafat ialah seberapa jauh kita dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada berdasarkan pada pemikiran para filsuf terdahulu. Inilah yang harus dilakukan guru didalam kelas ialah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, membahasakan materi yang disampaikan dengan komunikasi matematis yang dipunyainya.

    ReplyDelete
  41. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, menuliskan, membahasakan matematika itulah yang seharusnya terjadi dalam pembelajaran matematika. Bagaimana siswa dengan menggunakan perkataannya sendiri mengomunikasikan matematika, siswa harus membiasakan diri dengan kata-kata atau istilah dalam matematika. simbol dari angka dan konsep dari bilangan, baik bilangan asli, bulat dan rasional. Pemahaman tentang representasi angka negatif beserta maknanya, repreentasi bilangan rasional beserta maknanya. Konsep dasar tentang bilangan harus tertanam kuat dalam pikiran siswa beserta dengan pengalaman kongkritnya sebelum ke pengetahuan yang abstrak.

    ReplyDelete