Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bicara




Oleh Marsigit

Kata-kata:
Wahai bicara, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau duduk di situ mendahuluiku?

Bicara:
Wahai kata-kata. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku ucapkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkan engkau menuliskan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah menulis kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku tuliskan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkah engkau memikirkan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan kata-kata. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan, belum aku tuliskan, dan belum aku pikirkan, engkau telah membuat kata-katamu. Wahai kata-kata, mohon maafkan diriku, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku tentang kata-kata. Aku merasa bersalah. Maka aku akan menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasibku ini.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau berdua duduk di situ mendahuluiku?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku bicarakan dan katakan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkan engkau membuat karya-karya menggunakan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan, aku pernah membuat karya-karya menggunakan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa karya-karyaku.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkah engkau memikirkan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara dan kata-kata:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan tulisan. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan dan belum aku pikirkan, aku telah membuat tulisan. Wahai tulisan, mohon maafkan diriku berdua, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku berdua tentang tulisan. Aku merasa bersalah. Maka marilah kita bertiga menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasib kita ini.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, aku bertiga merasa bingung. Maka siapakah diriku bertiga itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya dimensimu itu berbeda-beda. Tulisan, bicara dan kata-kata adalah bahasa

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kemudian, siapakah kata-kata itu?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya kata-kata itu adalah salah satu dari diriku. Kata-kata adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah kata-kata. Maka kata-kata itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu berkata. Keputusanmu itu berkata. Langkahmu itu berkata. Penampakkanmu itu berkata. Akvitasmu berkata. Pegaulanmu berkata. Keberadaanmu berkata. Penjelasanmu berkata. Pertanyaanmu berkata. Bahkan kata-katamu itu juga berkata. Semua peristiwa itu berkata. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu berkata.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah bicara?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bicara itu adalah salah satu dari diriku. Bicara adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bicara. Maka bicara itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bicara. Keputusanmu itu bicara. Langkahmu itu bicara. Penampakkanmu itu bicara. Akvitasmu bicara. Pegaulanmu bicara. Keberadaanmu bicara. Penjelasanmu bicara. Pertanyaanmu bicara. Bahkan bicaramu itu juga bicara. Semua peristiwa itu bicara. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu bicara.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah tulisan?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya tulisan itu adalah salah satu dari diriku. Tulisan adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah tulisan. Maka tulisan itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu tulisan. Keputusanmu itu tulisan. Langkahmu itu tulisan. Penampakkanmu itu tulisan. Akvitasmu itu tulisan. Pegaulanmu itu tulisan. Keberadaanmu itu tulisan. Penjelasanmu itu tulisan. Pertanyaanmu itu tulisan Bahkan bicaramu itu tulisan. Semua peristiwa itu tulisan. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu tulisan.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah dirimu itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bahasa adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bahasa. Keputusanmu itu bahasa. Langkahmu itu bahasa. Penampakkanmu itu bahasa. Akvitasmu itu bahasa. Pegaulanmu itu bahasa. Keberadaanmu itu bahasa. Penjelasanmu itu bahasa. Pertanyaanmu itu bahasa. Bahkan bicaramu itu juga itu bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, gantian saya yang ingin bertanya kepada engkau. Lalu, apakah hubungan antara bicara, kata-kata dan bahasa.

Bahasa:
Semua dari tulisan, bicara dan kata-kata adalah diriku. Bahkan lebih dari itu, semua yang dapat engkau pikirkan adalah bahasa. Semua subyek, obyek dan kalimat-kalimat adalah bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Menterjemahkan adalah bahasa. Diterjemahkan adalah bahasa. Maka bahasa adalah hidup. Maka hidup adalah bahasa. Semua refleksi adalah bahasa. Maka filsafat itu adalah bahasa. Lebih dari itu, semua struktur adalah bahasa. Potensi adalah bahasa. Fakta adalah bahasa. Semua arti adalah bahasa. Kebutuhan adalah bahasa. Keinginan adalah bahasa. Maka bahasa adalah sekaligus makna dan referensinya. Tanpa kecuali maka semua elegi adalah bahasa.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah mengapa elegi-elegi ini aku persembahkan untuk kamu semua wahai mahasiswaku, yaitu seberapa jauh aku memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi dirimu semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hatimu semua. Amien.

79 comments:

  1. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Filsafat adalah ilmu tentang pikiran. Bagaimana kita dapat berfilsafat apabila suara kita terkunci. Suara ini hanya dapat keluar melalui mulut yang berbicara baik itu berupa tulisan maupun lisan. Sebaik – baiknya pembicaraan adalah yang brmanfaat untuk orang lain dan tidak saling menyakiti. Karena sakit tak berdarah melalui pembicaraanmu akan lebih menyakitkan dibandingkan dengan sayatan pisau yang berdarah.

    ReplyDelete
  2. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Dalam hidup kita selalu berbicara, entah berbicara secara langsung atau dalam hati. dalam berbicara maka libatkan hati dan pikiran. agar pembicaraan yang keluar dari mulut melalui suara tidak terkesan menyinggung seseorang. maka berbicaralah yang bermanfaat, yang mengandung banyak nasihat.

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Bicara hakekat adalah bicara filsafat dan bicara filsafat adalah bicara diri sendiri, bicara mengenai diri atau mengkaji diri inilah yang paling sulit. Banyak manusia yang bisa membicarakan dan memperbaiki orang lain dan sangat sulit untuk memperbaiki dirinya sendiri. Musuh kita yang paling berbahaya adalah diri kita sendiri. Sehingga kita dianjutkan untuk membicarakan diri terlebih dahulu sebelum membicarakan orang lain.

    ReplyDelete
  4. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam pembelajaran, pikiran siswa-siswa adalah unik. Maka stiap siswa memiliki pikiran yang berbeda-beda. Maka sebenar-benarnya guru adalah memfasilitasi siswa untuk berbica, barkata-kata, menuliskan, dan berbahasa tentang semua pikiran mereka tentang objek-objek matematika. Namun, sebenar-benarnya guru yang mempunyai dimensi yang lebih tinggi mampu menebak jalan pikiran mereka sehingga mampu memfasilitasi para siswa.

    ReplyDelete
  5. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Bahasa mencakup semua, untuk berkomunikasi dengan siapa saja, dengan teman, dengan guru, dengan diri sendiri, bahkan dengan Tuhan. Bahasa digunakan untuk mengutarakan apa yang dipikirkannya, bisa dengan batas, bisa tanpa batas dengan menghubungkan segala hal. Bahasa dapat juga dipahami dari isyarat, bisa isyarat alam, hewan, ekspresi muka, gerak gerik. Tetapi yang dikatakan orang tua berambut putih dengan memperkatakan membicarakan menuliskan dan membahasakan segala yang ada dan yang mungkin ada dapat dilakukan dengan dirinya sendiri, tanpa harus diketahui orang lain.

    ReplyDelete
  6. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hendaknya mampu menjaga bicara dan setiap perkataan kita agar tidak menyinggung perasaan orang lain dan tidak menyakiti hati orang lain. Hati dan pikiran mencakup segala filsafat dan itu adalah diri sendiri. Hati kadang bertentang dengan pikiran, begitu sebaliknya. Maka dalam menuliskan atau berbicara suatu hal harus memperhatikan konteksnya agar tidak keliru dan menimbulkan masalah. Filsafat dapat dipahami dengan hati dan pikiran, walaupun saya merasa sulit dalam memahaminya namun akan terus mencoba agar dapat sedikit demi sedikit memahaminya dari hati dan dengan pikiran.

    ReplyDelete
  7. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan elegi di atas, sebenar-benar berfilsafat yaitu seberapa kita dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu, demikian itu lah sebenar-benar mendidik dan pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  8. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi ini saya tahu bahwa sebenar –benarnya belajar adalah seberapa jauh saya memberikan kesempatan dan kemampuan kepada saya sendiri untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Dengan membaca elegi –elegi yang telah dituliskan, saya memberikan kesempatan untuk diri saya belajr lebih lagi, mengetahui ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  9. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Perkataan yang keluar dari mulut kita haruslah difikirkan terlebih dahulu. fikirkan apa akibatnya, apa efeknya bagi kita maupun orang lain. perkataan yang keluar dari mulut kita jika tajam adanya maka akan menyakiti hati orang lain. maka dari itu jagalah perkataan. berkata baik atau diam.

    ReplyDelete
  10. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, yang paling menarik bagi saya adalah “Sebenar-benar mendidik adalah seberapa jauh engkau kita sebagai calon kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.”

    ReplyDelete
  11. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seorang guru bukan pada tempat dan waktunya lagi untuk mendominasi di kelas mentransfer ilmu serta mendoktrin siswa dengan materi pelajaran. Sekarang sudah saatnya bagi guru untuk memfasilitasi siswa dalam belajar. Biarkanlah siswa yang aktif. Guru bisa menyediakan LKS untuk siswa sebagai sarana untuk memberi kesempatan pada siswa untuk menulis, berkata kata bembahasakan dan lain lain pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  12. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dengan elegi-elegi yang ada di blog ini, taulah saya bahwa pak Prof. Marsigit memberikan kesempatan kepada kami mahasiswanya agar untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi kami semua. Selain itu, agar kami menjadi MENGADA dan PENGADA (baca: elegi menggapai mengada dan pengada). Dengan begitu, maka semakin luaslah pemahaman kami dan semakin terbuka lah pikiran kami tentang filsafat.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    S1 Pendidikan Matematika

    Metode dan cara mengajar yang unik, yang memberikan kesempatan murid untuk mengolah pikir, mengolah bahasa, meewujudkan dalam sebuah tulisan. Ini contoh konkrit seorang guru dalam mengajar. Setiap saat setiap waktu murid dapat berlatih menulis, memikirkan, membicarakan dengan teman sejawat maupun saat sendirian. di dalam kamar maupun di gerbong kereta. Karena hakikat belajar adalah menggali dan mengembangkan potensi.

    ReplyDelete
  14. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Bicara adalah salah satu cara manusia untuk mengungkapkan sesuatu. Terkadang bicara bisa benar-benar mengungkapkan apa yang dimaksud seseorang, namun kita juga perlu ingat bahwa seseorang bisa tidak mengungkapkan semuanya dengan cara berbicara. Maka jangan mudah menafsirkan hanya dari bicara saja.

    ReplyDelete
  15. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Beberapa hak yang dimiliki setiap orang ialah kesempatan berbicara, berkata-kata, berpikir dan menulis. Maka sebaiknya kita sebagai seorang pendidik hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada siswa menyampaikan pendapatnya yaitu melalui berkata, berbincang, menulis, dan berbahasa agar ilmu mereka dapat berkembang. Dengan demikian bahasa merupakan suatu sarana yang digunakan untuk berkomunikasi oleh satu orang kepada orang lain, sehingga apa yang ingin disampaikan orang tersebut dapat dimengerti oleh orang yang dituju.

    ReplyDelete
  16. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Tanpa kata-kata dan bicara bagaimana kita tahu apa yang seseorang inginkan. Tanpa kata-kata bagaimana sesorang mengungkapkan isi hatinya. Tanpa kata-kata bagaimana seseorang bisa menyampaikan gagasannya kepada orang lain. Seseorang bisa menuliskan, membicarakan, dan membahasakan suatu obyek dengan kata-kata. Dari kata-kata inilah kita bisa menambah wawasan untuk menjadi manusia cerdas dalam berpikir.

    ReplyDelete
  17. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kata dapat diucapkan atau dibicarakan dapat juga ditulis. Objek dalam filsafat melingkupi yang ada dan yang mungkin ada dalam ruang dan waktu di kehidupan kita. Dan sebenar-benarnya kita berfilsafat ialah seberapa jauh kita dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada berdasarkan pada pemikiran para filsuf terdahulu. Inilah yang harus dilakukan guru didalam kelas ialah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, membahasakan materi yang disampaikan dengan komunikasi matematis yang dipunyainya.

    ReplyDelete
  18. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, menuliskan, membahasakan matematika itulah yang seharusnya terjadi dalam pembelajaran matematika. Bagaimana siswa dengan menggunakan perkataannya sendiri mengomunikasikan matematika, siswa harus membiasakan diri dengan kata-kata atau istilah dalam matematika. simbol dari angka dan konsep dari bilangan, baik bilangan asli, bulat dan rasional. Pemahaman tentang representasi angka negatif beserta maknanya, repreentasi bilangan rasional beserta maknanya. Konsep dasar tentang bilangan harus tertanam kuat dalam pikiran siswa beserta dengan pengalaman kongkritnya sebelum ke pengetahuan yang abstrak.

    ReplyDelete
  19. Nur Dwi Laili Kurniawati
    PPS Pendidikan Matematika C
    17709251059

    Elegi ini memberikan sebuah pembelajaran bahwa sebenar-benar mendidik adaah tentang seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebenar- benar proses pembelajaran haruslah dapat memfasilitasi semua potensi yang mungkin ada pada diri siswa. Maka sebenar- benar pendidik haruslah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan apa yang telah siswa miliki. Maka sebenar-benar pendidik bukanlah pemberi tetapi sebagai fasilitator, sebagai penghubung, sebagai jembatan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  20. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada."

    Sekali lagi saya mempercayai bahwa filsafat adalah yang "ada" dan yang "mungkin ada". Eh jangan-jangan aku sudah menjadi mitos orangtua berambut putih. Eh tapi kan ini masih masuk pada upaya saya menggapai logos.

    Terlepas dari itu, saya setuju dengan statement pada postingan ini bahwa, "Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada". Betapa filsafat ada di mana-mana. Hakikat filsafat menjadi pondasi pembelajaran. Waah sungguh filsafat itu diriku sendiri, sungguh lingkunganku adalah filsafat.

    ReplyDelete
  21. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sangat tertarik dengan kalimat simpulan “Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada” Hal ini menunjukkan bahwa mendidik itu bukan menggurui, justru memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak didik untuk berkreasi, berkarya dan memperluas jangkauan berfikirnya. Dengan seperti itu, tidak dipungkiri, siswa memiliki pola pikir kreatif dan memiliki banyak solusi ketika menghadapi permasalahan-permasalahan. Dan justru kemampuan itulah yang dibutuhkan mereka untuk menghadapi kehidupan sebenarnya.

    ReplyDelete
  22. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terimakasih saya ucapkan pada Bapak yang sudah memberikan kesempatan kepada saya dan teman-teman mahasiswa agar dapat terus berkata, berbicara, menulis dan berbahasa. Ini dapat dikatakan sebagai suatu kebebasan dalam berpikir. Seseorang akan dapat menggapai pembicaraan saat memiliki kebebasan akan hal itu. Banyak yang dapat dipelajari dalam hidup ini sehingga kami dapat terus berkarya dengan kapasitas yang ada di dalam diri. Saat ini saya juga sedang membangun filsafat pada diri saya sendiri. Tentunya saya juga mendapatkan ide-ide yang ada melalui para fasilitator yang sangat rendah hati dan bersedia untuk terus berbagi akan ilmunya, termasuk Bapak Marsigit.

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebenarnya manusia tanpa disadari setiap waktu itu berfilsafat, karena filsafat itu adalah olah pikir. Orang bertanya itu termasuk filsafat, karena dia melakukan olah pikir juga. Karena olah pikir, maka akan ada konflik pemikiran yang terjadi antara pemikirannya dengan pemikiran yang dipelajari. Maka dalam belajar filsafat akan bahaya jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat, akan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran lain. Membuat komen merupakan langkah bijaksana untuk setiap orang yang ingin berfilsafat. Karena akan melakukan olah pikir atas apa yang dia pelajari.

    ReplyDelete
  24. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Menggapai Bicara” bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu.
    Sebagai seorang guru hendaknya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Dengan itu maka peserta didik akan dapat mengatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini saya manarik kesimpulan bahwa:
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan dan dikatakan.
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan dan dibicarakan.
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan dan dituliskan.
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan dan dibahasakan.

    Dan sebenar-benar ilmumu, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  26. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Namun terkadang manusia lupa, manusia mengatakan, membicarakan dan menuliskan sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dahulu. terlebih lagi saat ini dimana teknologi dan sosial media telah menjadi teman sehari-hari kita. Ketika kita salah bertindak maka celakalah kita. Seperti pepatah, mulutmu harimaumu jempolmu buayamu. Jadi berpikirlah sebelum bertindak dan pikirkan lagi setelah bertindak.

    ReplyDelete
  27. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Menggapai Bicara, Dari elegi ini saya mendapatkan pelajaran bahwa “sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada”. Sehingga guru dalam mendidik sebaiknya memberikan kebebasan berpikir pada siswanya, agar siswa dapat berkarya sesuai dengan kreatifitas dan imajinasinya serta dapat memperluas jangkauan berpikirnya. Namun kebebasan yang diberikan bukan bebas yang sebebas bebasnya, guru harus tetap berperan sebagai motivator dan fasilitator. Terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Mengeluarkan isi pikiran berupa kata-kata yang harus dibicarakan, walau hal tersebut terlihat mudah tetapi kadang hal yang dipikirkan tidak sesuai saat dibicarakan, dan ini termasuk kemampuan dalam berkomunikasi/bicara. Refleksinya dalam pembelajran matematika adalah sebagai seorang guru kit harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperkatakan, membicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan dar semua yang ada dan semua yang mungkin ada. Kebebasan dalam berpikir akan memudahkan siswa untuk bebicara hal yang dipikirkan, hal tersebut karena tidak ada tekanan dan batasan bagi siswa untuk berpikir dan berbicara.

    ReplyDelete
  29. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi Menggapai Bicara ini mengajarkan bahwa pentingnya memberikan kesempatan untuk berbicara atau mengemukakan pendapat. Dengan mengemukakan pendapat maka akan tumbuh pengetahuan-pengetahuan baru dari pendapat-pendapat yang dikemukanakan tersebut. Dan, dari elegi ini juga mendapat nasehat yang pastinya akan sangat berguna dalam kehidupan kedepannya, yaitu :
    1. Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan
    kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan
    memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    2. Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan
    dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan
    memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
    Artinya sesuatu yang ada dan mungkin ada itu baik untuk diperkatakan, dibicarakan, dipertuliskan, dan diperbahaskan baik dalam mendidik atau mempelajari semua ilmu pengetahuan, baik matematika atau yang lainnya.

    ReplyDelete
  30. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dalam elegi ini saya dapat simpulkan bahwa dalam berbahasa baik lisan maupun tulisan, maka segala sesuatu harus kita fikirkan. Kita harus fikirkan kata, kalimat, yang akan kita gunakan. Oleh sebab itu, elego ini memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi diri kita semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hati kita semua

    ReplyDelete
  31. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai bicara ini mengajarkan tentang filsafat, bagaimana kita mengenal tentang diri sendiri, bagaimana kita agar menjadi manusia lebih baik. Baik sebagai mahasiswa ataupun sebagai pendidik. Kita selayaknya mendahulukan pemikiran kita agar isa membahasakan dengan baik.

    ReplyDelete
  32. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari elegi ini saya mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana seorang pendidik, guru, maupun dosen terutama di bidang matematika harus memberikan kesempatan kepada peserta didik, ataupun mahasiswa untuk mengekspresikan pengetahuan mereka tentang matematika, yaitu dengan memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada, agar pengetahuan mereka tidak menjadi hanya sebuah mitos belaka.

    ReplyDelete
  33. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai bicara ini memberikan sebenar-benar makna dari filsafat. Filsafat adalah sebenar-benar memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika direfleksikan terkait mendidik dan pengajaran matematika adalah memberikan kesempatan siswa untuk melakukan semua itu. Sehingga pembelajaran matematika yang seharusnya adalah yang student centered karena siswa memiliki kesempatan yang luas untuk aktif mengeksplore semua yang berkaitan dengan matematika. Sehingga diharapkan siswa berkemampuan berpikir kritis, menalar, mengoneksikan matematis, dan mengkomunikasikan matematika yang diperoleh.

    ReplyDelete
  34. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas menggambarkan bahwa objek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada akan dapat diketahui dan dimengerti oleh orang lain jika dibicarakan. Untuk menggapai bicara adalah dengan menggunakan bahasa, karena bahasa adalah rumahmu maka apa yang dibicarakan adalah menggambarkan dirimu. Dalam pembelajaran, hal demikian dapat dilihat dari bagaimana seorang guru mendidik siswanya. Dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menggali pengetahuan mereka merupakan peran penting bagi guru.

    ReplyDelete
  35. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih Prof, atas fasilitas dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk membaca, belajar, serta memberikan komen.
    Belajar filsafat adalah tentang bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan berkata-kata, berbicara, menulis. Jadi dalam belajar dan pembelajaran juga erat kaitannya dengan memperkatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan yang ada dan yang mungkin ada. Semua itu hendaknya menjadi dasar untuk dapat belajar dan dalam kaitannya dengan pembelajaran. Kemampuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  36. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B


    Berfilsafat adalah bagaimana kita dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai objek filasaf tersebut dapat dipelajari dari semua objek yang ada dan yang mungkin ada. Seberapa jauh kita dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Dan seberapa jauh kita dapat menuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Maka dengan berfilsafat, kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat, menuliskan, dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tidak hanya dalam pembelajaran, namun dalam lingkup yang lebih luas yaitu di masyarakat. Kita akan ditolong ketika kita menolong. Kita akan diperbolehkan berbicara ketika kita membolehkan yang lain untuk berbicara. Tidak memotong dan mengekang. Karena dibutuhkan keikhlasan satu sama lain. Dalam pembelajaran pun juga diperlukan adanya suatu pembicaraan atau pembahasan dari objek filsafat. Dimana siswa dapat menulikan,memperbicarakan, memperbahasakan, karena tanpa bicara kita tidak dapat mengetahui maksud dan tujuan. Jika berbicara diperlukan maka diam akan mematikan.

    ReplyDelete
  37. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dalam berbicara sebaiknya kita harus berhati-hati. Seperti kata pepatah “mulutmu harimaumu”. Berbicara seperti dihadapkan dengan harimau yang siap menerkam atau melindungi. Ketika kita sering salah dalam berbicara, berbicara bohong, kotor, fitnah, sombong, dan sebagainya maka akan membawa kita pada kehancuran. Akan tetapi jika kita berhati-hati dalam berbicara, menjaga lisan kita agar tidak berbicara bohong dan menyinggung perasaan orang lain maka harimau itu akan melindungi kita. Kita akan disenangi oleh banyak orang. Selain itu orang juga akan segan menghormati kita, berapapun usia kita. Perlu diingat, kita juga tidak boleh sombong ketika menggunakan bahasa atau bicara karena diatas langit masih ada langit. Ketika kita merasa sudah paling pintar, di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih pintar dari kita.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  38. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Implikasi dalam pembelajaran dari tulisan ini, sebagai guru matematika kita harus memberi kesempatan kepada anak didik kita untuk menyampaikan pendapatnya, menulis apa yang ia pikirkan, dan mengungkapkan ide matematikanya sesuai dengan bahasanya sendiri (komunikasi matematis). Guru bukan sebagai aktor utama, akan tetapi hanya sebagai fasilitator atau memberikan fasilitas terhadap pengetahuan yang kurang untuk disampaikan kepada anak didik. Namun demikian, guru juga harus bertanggung jawab penuh mengatur alur proses pembelajaran di kelas (strategi pembelajaran).
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  39. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Lagi-lagi masalah dimensi. Bicara, kata-kata dan tulisan adalah bahasa dalam dimensi yang berbeda. Semuanya mempunyai fungsinya masing-masing, namun mendukung hal yang sama. Sebagaimana kata-kata, tulisan dan bicara mendukung pembelajaran filsafat ini dari tiap dimensi yang berbeda.
    Terimakasih banyak Pak, telah menyediakan blog ini untuk kami mengembangkan dimensi filsafat kami.

    ReplyDelete
  40. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Memahami tulisan diatas bahwa segala sesuatu memiliki kaitan dan berhubungan. Kata-kata, bicara, tulisan merupakan komponen penyusun bahasa dimana bahasa adalah sebenar-benarnya filsafat. Kami setuju dengan tulisan diatas bahwa dengan memberikan kesempatan dan kemampuan untuk berbicara, membahasakan, menuliskan apapun yang ada dan mungkin ada merupakan sebenar-benarnya mendidik. Benar hal itu sebenar-benarnya mendidik karena dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara berarti memberikan kesempatan pula bagi mereka untuk berfikir memproses informasi dari pengalaman untuk di ungkapkan dengan cara yang tepat. Terima kasih

    ReplyDelete
  41. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setiap unsur apapun memiliki dimensinya masing-masing. Jika keseuma unsur tersebut berkumpul atau bersatu, maka akan terbentuk subyek baru dari gabungan unsur-unsur tersebut. Dengan menyatunya unsur-unsur, bukan berarti satu dari unsur yang lain memiliki peran yang paling unggul, melainkan semuanya sama-sama memiliki perannya masing-masing yang satu sama lain saling melengkapi. Begitupun bahasa, bahasa adalah gabungan dari unsur tulisan, kata-kata, dan ucapan (bicara). Semua yang ada dan yang mungkin ada merupakan bahasa. Sehingga bahasa merupakan komunikasi untuk terjemah dan menterjemahkan. Maka gapailah bahasa untuk memperbahasakan segala yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  42. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Bahasa merupakan alat komunikasi dimana disitu ada kata-kata yang dikeluarkan melalui pembicaraan dan tulisan. Sehingga kita harus dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan dan memperbahasakan dengan segala apa yang ada dan munkin ada, karena itulah sebenr-benarnya berfilsafat. Sebagai seorang tenaga pengajar ini sangat lah penting untuk diterapkan karena kita harus memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswa kita untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika kita sendiri tidak dapat menerapakan itu bagaimana untuk dapat memberi kesempatan kepada siswa.

    ReplyDelete
  43. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Orang normal dan orang gila bisa bicara semau-maunya yang ingin dibicarakan kecuali orang yang bisu (bicara verbal) atau orang yang kehilangan kesadaran seperti mengalami koma. Bicara (verbal) membutuhkan mulut. Mulut membuthkan lidah. Lidah membuthkan kata. Kata mebutuhkan bahasa. Bahasa membutuhkan konteks. Nah, gapailah bicara dengan itu. Bicara adalah kebebasan. Jangan pernah ingin dibungkam

    ReplyDelete
  44. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Menurut saya bicara adalah salah satu bentuk komunikasi kita kepada orang lain untuk menyampaikan suatu ide atau gagasan. Bicara adalah pengucapan,yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. kapan kita mulai bisa berbicara? tentunya ketika kecil kita sering diajari orangtua untuk berbicara mama, bapak, papa, makan dll. Kita boleh berbicara macam-macam (bukan banyak bicara) namun jangan sampai menyakiti orang lain, makannya ada suatu pelatihan 'public speaking' yang berguna untuk melatih skill bicara kita di depan umum.

    ReplyDelete
  45. Kemampuan public speaking saat ini sangat dibutuhkan bahkan bisa dikatakan wajib untuk membangun suatu karir yang sukses. Sebuah penelitian membuktikan bahwa sebagian besar perusahaan menjadikan kemampuan public speaking masuk sebagai kriteria dalam menilai calon pelamar kerja di perusahaan. Di masa sekarang, seorang yang cerdas dan mempunyai pengetahuan yang luas tanpa di imbangi dengan kempuan dalam public speaking bukanlah segalanya untuk mencapai sebuah kesuksesan, Karena Public speaking, kita dapat mengetahui ataupun mempengaruhi pola pikir seseorang dan kita dapat mengeluarkan ide-ide luar biasa yang kita ingin ungkapkan. sehingga ide-ide yang tersimpan di dalam kepala kita tidak menjadi sampah namun bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  46. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Saya pernah mendengar bahwa bahwa filsafat pada saat ini adalah filsafat bahasa, bahwa semua yang ada dan mungkin ada itu bahasa. Bahwa sebenar-benarnya dirimu adalah bahasa mu. Kata-kata, bicara dan tulisan adalah bahasa tetapi berbeda dimensi. Bahasa adalah fikiran, bahasa adalah informasi, berarti dunia saat ini adalah dunia informasi dan fikiran. Dunia yang sangan cepat, labil dan selalu berubah. Itulah tantangan bagi para pendidik, bahwa metode lama mungkin sudah tidak efektif dan sama lagi untuk dunia saat ini. Peserta didik harusnya dididik untun menghadapi perubahan. Dan membentingi diri dari dampak negatif perubahan tersebut. Semoga kita selau sadar dan dapat memberikan yang terbaik bagi anak didik. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  47. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Mengapai bicara dalam elegi dapat dimaknai dengan “komunikasi”, komunikasi merupakan hal yang sangat esensial bagi manusia. Misalnya, untuk mengomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran kita kepada orang lain. Dalam implementasinya pada pembelajaran matematika, komunikasi merupakan salah satu keterampilan dasar yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik, untuk itu salah satu caranya guru untuk melatih keterampilan tersebut adalah dengan memberi kesempatan peserta didik untuk mengomunikasikan gagasannya maupun pemikirannya baik itu seputar hal yang ada maupun yang mungkin ada. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang di dalamnya terjalin komunikasi dua arah antara guru dengan peserta didiknya.

    ReplyDelete
  48. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Sebenar-benarnya berfilsafat adalah bahasa. Bagaimana seseorang mendalami bahasa dan sejauh mana dia menyelusurinya sehingga kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa mungkin berbeda dengan kemampuan orang lain. Dari elegi diatas, saya menjadi tahu bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang membuat siswa/ mahasiswa mendalami sendiri bahasanya, memberikan kesempatan mereka untuk berbicara, berkata-kata dan menuliskan apa yang dipikirkan. Bagi beberapa orang penggunaan bahasa mungkin menjadi hal yang sulit sehingga harus diasah dan dibiasakan. Sesuatu yang dipikirkan belum tentu dapat diubah menjadi kata-kata, dibicarakan, maupun dituliskan. Terima kasih bapak telah membuat kami disini untuk belajar ber-'bahasa' dan menuliskan dengan kata-kata dari apa yang kami dapatkan pada elegi-elegi yang bapak buat.

    ReplyDelete
  49. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas, saya memahami beberapa hal diantaranya yaitu yang ada pada pikiran yaitu kata-kata atau ide ia akan tersampaikan dan diterima maksunya jika ia di bicarakan atau dituliskan. Dan penggunaan bahasa juga merupakan media nya. Sehingga tulisan, bicara, kata- kata dan bahasa ini semua merupakan media.
    Kemudian dikaitkan dengan pendidikan maka berbicara bagi siswa adalah penting. Memberi esempatan pada siswa untuk bicara itu penting. Sebagai guru tentunya kita mampu memfasiliktasi siswa agar mudah dalam memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Karena disitulah hakikat belajar bagi siswa.

    ReplyDelete
  50. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2

    Oleh karena itu sebagai mahasiswa yang mempelajari filsafat ilmu, kita yang sudah diberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk mempelajari filsafat dari elegi-elegi yang ada di dalam blog ini, maka kita manfaatkan kesempatan tersebut untuk membahasakan filsafat sesuai bahasa zaman now. Agar kita mampu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  51. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa “bericara” merupakan bentuk dari komunikasi manusia dengan sesamanya. Sebagai makhluk sosial manusia tidak akan bisa lepas dari komunikasi. Apa yang dibicarakan atau dituliskan oleh seseorang metupakan bagian dari bentuk simbol. Sebagai contoh dalam matematika maka bicara matematika adalah memperbincangkan, memperkatakan, mempertuliskan, memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada dalam matematika. Dalam pembelajaran matematika, seorang guru juga tidak bisa lepas dari komunikasi baik dengan berbicara atau media lainnya, karena sejatinya pembelajaran matematika adalah kegiatan sosial untuk menggapai pemahaman terhadap konsep matematika, dan fungsi dari berbicara itu sendiri merupakan sarana komunikasi secara lisan dari guru kepada siswa dan sarana komunikasi secara lisan pula antara siswa satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  52. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Tiadalah tulisanku mampu mengejar bicaraku. Karena selesai aku menulis kata-kata, bicaraku sudah pergi meninggalkanku. Tiadalah bicaraku mengalahkan pikiranku. Karena selesai aku bicara, pikiranku sudah pergi meninggalkanku.

    ReplyDelete
  53. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Mengeluarkan kata-kata melalui mulut dan isyarat, saya menyebutnya bicara. Mengeluarkan kata-kata melalui goresan simbol-simbol, saya menyebutnya tulisan. Tapi tiadalah bicara dan tulisan dimengerti tanpa belajar bahasa. Maka ketika saya tidak mengerti belajar filsafat itu dikarenakan saya tidak memahami bahasa analaog, yaitu bahasa filsafat.

    ReplyDelete
  54. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Terima kasih Prof. Elegi diatas menjelaskan tentang perlunya siswa belajar aktif. Pembelajaran menjadi student centered. Siswa belajar berpikir dan mengutarakan pikirannya dalam bentuk pendapat baik lisan maupun secara tertulis. Dari sini siswa akan terasah pola pikirnya, perkataanya, sehingga menjadi pribadi yang kritis dan mampu mengutarakan pendapat dalam rangka memberi solusi atas suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  55. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Dalam berbicara, perlu diperhatikan beberapa kata dan kalimat serta manfaat dari kalimat yang akan terucap tersebut. Sehingga tidak menimbulkan efek yang tidak baik bagi diri sendiri dan merugikan orang lain. Filsafat mengajarkan bagaimana cara untuk berkata atau berbicara, karena sebenar-benarnya berfilsafat adalah sebarapa jauh pikiran dan perkataan yang ada dan mungkin ada. Kecerdasan dan kebaikan juga akan terpancar dari cara berbicara dan mengungkapkan sebuah hal atau perspektif. Maka dari itu berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara, memang terkadang lebih mudah daripada berpikir, akan tetapi dampak dari akibat berbicara itu juga perlu dipikirkan. Sehingga ada ungkapan “mulutmu harimaumu”.

    ReplyDelete
  56. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Segala yang ada dan yang mungkin ada pasti dapat diungkap melalui perpaduan antara kata, bicara, tulis, dan bahasa. Dengan perpaduan itu pula dapat diciptakan suatu ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, ilmu yang dapat dipelajari dan dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan langkah manusia.

    ReplyDelete
  57. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Setiap orang pasti membutuhkan bantuan orang lain, tidak lah bisa manusia hidup sendiri. maka janganlah manusia menyombongkan diri. guru juga tidak boleh sombong. guru yang sombong adalah guru yang merasa dirinya paling hebat sehingga ia hanya memberi, tidak memberi kesempatan bagi siswanya, sebaik-baik guru adalah guru yang bisa membuat siswa membangun ilmunya sendiri

    ReplyDelete
  58. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Berbicara, kata-kata, bahasa dan tulisan itu meruapakan suatu rangkaian. Mereka tidak dapat dipisahkan. Untuk menulis dibutuhkan bahasa dan kata-kata, untuk berbicara juga dibutuhkan bahasa dan kata-kata. Untuk mampu berbahasa dan berkata-kata dibutuhkan pengetahuan dengan membaca. Untuk dapat dibaca pengetahuan harus dituliskan, untuk dapat dipercaya pengethauan harus didiskusikan dengan dibicarakan.

    ReplyDelete
  59. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Kita mengungkapkan apa yang kita pikirkan memlalui bahasa, bahkan bicara dalam hati juga menggunakan bahasa. Saya sering bertanya-tanya, sejak kapan bahasa muncul dan sejak kapan setiap kata memiliki makna. Yang jelas, bahasa memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan semua manusia, sehingga sebagai guru haruslah memberi kesempatan kepada siswanya untuk berbahasa, memperbahasakan semua yang ada.

    ReplyDelete
  60. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Bicara adalah kemampuan yang melibatkan aspek-aspek bahasa, yang diramu oleh kemampuan pikiran. Berbicara tidak selalu dengan lisan, namun bicara juga bisa melalui tulisan yang juga melibatkan bahasa. Dalam berfilsafat pun memerlukan bahasa untuk memahaminya. Oleh karena itu, bahasa sangatlah penting digunakan sebagai dasar berfilsafat dan untuk memudahkan filsafat itu diterima oleh orang awam.

    ReplyDelete
  61. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Berfilsafat adalah bagaimana kita dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Seberapa jauh kita dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Dan seberapa jauh kita dapat menuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka dengan berfilsafat, kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat, menuliskan, dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tidak hanya dalam pembelajaran, namun dalam lingkup yang lebih luas yaitu di masyarakat. Kita akan ditolong ketika kita menolong. Kita akan diperbolehkan berbicara ketika kita membolehkan yang lain untuk berbicara. Tidak memotong dan mengekang. Karena dibutuhkan keikhlasan satu sama lain.
    Berbicara dalah dasar kita menyampaikan suatu kata-kata melalui bahasa kepada orang lain yang kita ajak bicara, bicara atau berfilsafah dengan baik dengan melibatkan bahasa yang baik dan santun untuk dapat dipahami oleh oranglain, karena komunikasi lewat bicara adalah hal yang menting untuk menyampaikan maksud dan tujuan.

    ReplyDelete
  62. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi tersebut, ditarik dalam ranah pembelajaran di kelas, maka sesungguhnya guru wajib memberikan kesempatan berbicara dan melakukan berbagai aktivtas belajar. Guru memfasilitasi diskusi dan pertanyaan dari siswa. Guru memberikan petunjuk aktivitas belajar, biarkan siswa menggapai hak bicaranya, bicara dengan aktivtas belajarnya. Sehingga guru benar-benar menghargai dan memanusiakan siswa seutuhnya

    ReplyDelete
  63. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kaitannya dengan matematika, sesungguhnya matematika adalah alat komunikasi. Komunikasi antara pikiran dan persoalan sehinnga didapatkan penyelesaian akhir yang tepat. Sebagai alat komunikasi, matematika berhak digunakan oleh siapapun, termask siswa. Guru tidak boleh otoriter terhadap siswa dengan menyalahkan apa yang dibicarakan, ditulis, dan dimaknai oleh siswa. Guru harus tetap membfasilitasi eksplorasi siswa dalam berkomunikasi menggunakan matematika

    ReplyDelete
  64. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Bicara adalah mengungkapkan kata-kata. Semuanya saling berhubungan dan menguatkan. Yang sangat menarik bagi saya setelah membaca elegi ini adalah kalimat “Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.”

    ReplyDelete
  65. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas, Dalam berbicara, kita harus menggunakan kata-kata yang baik, sopan, dan dengan kerendahan hati. Kita perlu menyesuaikan apa yang kita bicarakan dengan konteks pembicaraan dan lawan yang diajak berbicara. Kita juga harus berhati–hati dalam berbicara agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Tugas guru dalam proses pembelajaran adalah hanya memfasilitasi siswa dalam belajar. Siswa bukan hanya sebagai objek, melainkan sebagai subjek dalam pembelajaran. Siswalah yang nantinya akan dapat menemukan pengetahuannya sendiri dengan bantuan guru. Guru hendaknya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi siswa untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Dengan menemukan pengetahuannya sendiri, maka siswa akan dapat mengatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada

    ReplyDelete
  66. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Semua ilmu mempunyai bahasanya masing-masing. Begitupun dengan matematika, mempunyai bahasa tersendiri. Belajar matematika adalah tentang bagaimana cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan, memperkatakan dan membicarakan semua ilmu matematika dari yang ada dan yang mungkin ada. Mendidik adalah tentang memberikan kesempatan. Dengan demikian, siswa akan lebih mampu mengembangkan apa yang dipikirkannya dan membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  67. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Terima kasih banyak Prof atas elegi elegi yang telah disajikan untuk kami para mahasiswa. Secara tidak lansung kegiatan membaca artikel ini menjadi merubah stigma saya mengenai filsafat secara pribadi. Dengan membaca elegi-elegi dari blog ini pengetahuan saya menjadi bertambah mengenai banyak istilah filsafat yang sama sekali tidak saya ketahui sebelumnya. Semoga ilmu yang kami peroleh dapat pula bermanfaat bagi orang lain. Amin

    ReplyDelete
  68. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dalam filsafat, orang yang mampu mendidik adalah orang yang mampu memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengembangkan pengetahuannya sesuai potensinya. Ketika guru hanya bertanya dan menjelaskan kepada siswanya maka hal itu guru sedang berbuat tidak adil kepada siswanya karena dia tidak memberikan kesempatan bagi siswanya untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya. Maka dalam pbm matematika yang utama adalah memberikan kesempatan bagi siswanya untuk berbicara bukan mendengarkan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  69. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk memberikan pendapat dari apandangan mereka, memberikan pendapat atas apa yang kita sampaikan secara seluas-luasnya akan memberikan dampak yang baik kepada peserta didik karena hal tersebut akan menjadi tanda bagi peserta didik bahwa mereka juga bisa berpendapat dan meluruskan apa yang kurang tepat jika dalam kegiatan pembelajaran berjalan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebagaimana yang kita tahu, kita sebagai pendidik hanyalah fasilitator bukan sebagai seseorang yang selalu memberikan apa yang mereka butuhkan. Karena apa yang menurut pendidik itu merupakan kebutuhan dari peserta didik, belum tentu bagi mereka. Oleh karenanya usahakan pendidik membiarkan peserta didik untuk berkembang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan selagi tidak melenceng dari kegiatan pembelajaran yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  70. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam dunia hermenutika, simbol memiliki makna yang cukup luas tatkala dibicarakan. Seseorang akan memaknai sebuah kata-kata, satu sama lain akan berbeda. Seperti halnya ketika kita naik kerta, sewaktu kita membaca peraturan tentang merokok, “ketahuan merokok, akan diturukan diterminal berikutnya”. Peraturan ini bisa diantrikan, bahwa seseorang bisa merokok tatkala mendekati terminal tujuan penumpang. atau ini adalah peraturan yang untuk tidak merokok. Kata seperti ini miliki pengartikan yang berbeda, maka dalam hermenutika diperlukan pendukung lainnya untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  71. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Manusia dibekali Tuhan dengan kemampuan berbicara. bicara merupakan kegiatan yang dilakukan manusia untuk belajar, memahami dan mengekspresikan apa yang mereka tahu dan apa yang mereka dapat. oranglain dapat mengerti apa yang kita rasakan dengan kita berbicara.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  72. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Guru yang baik dan mulia adalah guru yang memahami ruang waktunya dimana dan dengan siapa sedang berbicara. Mampu memposisikan dirinya sebagai orangtua, sebagai sahabat yang selalu siap menampung inspirasi, dan mampu memberikan solusi yang baik. Mari kita tingkatkan kualitis diri supaya kita memiliki ilmu yang cukup untuk mengantarkan anak – anak kita menggapai cita – citanya.Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  73. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai bicara ini mengajarkan tentang bagaimana kita mengenal tentang diri sendiri, bagaimana kita agar menjadi manusia lebih baik. Baik sebagai mahasiswa ataupun sebagai pendidik. Kita selayaknya mendahulukan pemikiran kita agar bisa membahasakan dengan baik.Terkadang beberapa orang dalam berpendapat bisa mengeluarkan ide yang sama walau terkadang bahasa yang digunakan berbeda.

    ReplyDelete
  74. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof, meskipun tulisan ini sudah sekitar 7tahun yang lalu, tetapi tulisan ini mengacu pada proses pembelajaran di Indonesia saat ini yaitu student centered . memang benar adanya jika sebenar-benarnya pembelajaran ialah seberapa jauh kita memberikan kesempatan kepada siswa-siswamu untuk mempertanyakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang mungkin ada. Saat itu bukan lagi guru yang menuangkan ilmu kepada siswanya, guru hanya sebagai fasilitator bagi siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Maka dari itu, kita sebagai calon guru juga serasa tidak lengkap jika hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dibangku kuliah saja, karena seyogyanya banyak sekali ilmu pengetahuan yang tidak dapat kita temukan di bangku perkuliahan yang salah satunya dapat kita temukan melalui proses membaca.

    ReplyDelete
  75. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matemtika I 2015

    Amin untuk doa Prof pada akhir elegi.
    Mendidik pun ternyata membutuhkan berfilsafat. Mungkin karena sampai saat ini saya belum pernah belajar mengenai filsafat, sehingga banyak hal baru yang saya temukan setelah saya membaca elegi-elegi pada blog ini. Dari elegi ini pun saya memperoleh pembelajaran sebagai mahasiswa pendidikan matematika, yang secara ideal nantinya akan menjadi guru matematika, yaitu betapa pentingnya memberikan kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswa saya kelak untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan mungkin ada. Hal ini berarti tidak ada kata salah dalam belajar. Salah untuk saat ini, tetapi tidak ada yang tahu ke depannya.
    Elegi ini menginspirasi saya jika kelak saya menjadi guru, untuk tidak membatasi pendapat dan pemikiran para siswa. Dengan begitu, siswa dapat benar-benar membangun ilmunya. Jika siswa mengalami kesalahan untuk masa tersebut, tugas saya bukan untuk menghentikannya dalam memikirkan tentang suatu yang salah itu. Biarkanlah siswa melakukan kesalahan (yang diyakini salah pada masa tersebut), kemudian sebagai guru, tugas saya adalah untuk memfasilitasi siswa tersebut untuk mencari dimana kesalahannya sehingga siswa dapat menemui hal yang benar. Siapa tahu dengan proses tersebut, kesalahan memang tidak ditemukan atau dapat dikata siswa tersebut menemukan suatu hal yang baru, yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Bukankah tidak ada salahnya jika tidak hanya murid yang belajar dari gurunya, tetapi guru juga belajar dari muridnya?

    ReplyDelete
  76. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  77. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dari elegi ini, memberikan nasehat bahwa sebaik-baiknya guru adalah guru yang memberikan kesempatan keada siswanya untuk menyampaikan pendapat. Menyampaikan pendapat disini berkenaan dengan memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan. Kebebasan yang diberikan guru kepada siswa ini menggambarkan adanya metode belajar yang berpusat pada siswa. Kebebasan yang diberikan berkenaan dengan memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan dapat berupa memberikan kesimpulan dari materi pelajaran dengan bahasa siswa tersebut, sehingga siswa tidak hanya menghafal rumus. Selain itu, kebebasan dapat diiplementasikan dalam menjawab soal-soal matematika yang diberikan guru, jawaban siswa tidak harus sama persis dengan jawaban guru, selama argument siswa masih di jalan yang benar, walaupun bahasa yang digunakan berbeda, masih dapat dianggap jawaban yang benar.

    ReplyDelete
  78. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Kata-kata, bicara, dan tulisan merupakan aspek dari bahasa. Segala aspek dalam hidup manusia membutuhkan bahasa. Seorang guru matematika pun membutuhkan bahasa untuk menyampaikan matematikanya. Baik bahasa dalam bentuk kata-kata yang dibicarakan, maupun kata-kata yang dituliskan. Karenanya untuk dapat membagi ilmunya dengan baik pada siswa, guru harus bisa berbahasa dengan baik.

    ReplyDelete
  79. Aji Pangestu
    15301241009
    S1-Pendidikan Matematika I 2015
    Dari elegi ini saya belajar bahwa sebenar-benar mendidik dan membelajarkan matematika adalah seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete