Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bicara




Oleh Marsigit

Kata-kata:
Wahai bicara, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau duduk di situ mendahuluiku?

Bicara:
Wahai kata-kata. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku ucapkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkan engkau menuliskan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah menulis kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku tuliskan.

Kata-kata:
Wahai bicara, pernahkah engkau memikirkan kata-kata?

Bicara:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan kata-kata. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Kata-kata:
Wahai bicara, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan kata-kata. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan, belum aku tuliskan, dan belum aku pikirkan, engkau telah membuat kata-katamu. Wahai kata-kata, mohon maafkan diriku, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku tentang kata-kata. Aku merasa bersalah. Maka aku akan menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasibku ini.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, aku ingin protes kepadamu. Mengapa engkau berdua duduk di situ mendahuluiku?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan. Tiadalah ada engkau di situ, jika tanpa aku bicarakan dan katakan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkan engkau membuat karya-karya menggunakan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai tulisan, aku pernah membuat karya-karya menggunakan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa karya-karyaku.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, pernahkah engkau memikirkan tulisan?

Bicara dan kata-kata:
Wahai kata-kata, aku pernah memikirkan tulisan. Maka tiadalah dirimu, jika tanpa aku pikirkan.

Tulisan:
Wahai bicara dan kata-kata, dengan apakah aku membuat pertanyaan-pertanyaanku?

Bicara dan kata-kata:
Engkau membuat pertanyaan-pertanyaanmu dengan tulisan. Jadi ..ternyata belum aku ucapkan dan belum aku pikirkan, aku telah membuat tulisan. Wahai tulisan, mohon maafkan diriku berdua, ternyata aku telah melakukan kontradiksi pada analisiku berdua tentang tulisan. Aku merasa bersalah. Maka marilah kita bertiga menemui “bahasa” untuk mengadukan tentang nasib kita ini.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, aku bertiga merasa bingung. Maka siapakah diriku bertiga itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya dimensimu itu berbeda-beda. Tulisan, bicara dan kata-kata adalah bahasa

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kemudian, siapakah kata-kata itu?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya kata-kata itu adalah salah satu dari diriku. Kata-kata adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah kata-kata. Maka kata-kata itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu berkata. Keputusanmu itu berkata. Langkahmu itu berkata. Penampakkanmu itu berkata. Akvitasmu berkata. Pegaulanmu berkata. Keberadaanmu berkata. Penjelasanmu berkata. Pertanyaanmu berkata. Bahkan kata-katamu itu juga berkata. Semua peristiwa itu berkata. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu berkata.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah bicara?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bicara itu adalah salah satu dari diriku. Bicara adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bicara. Maka bicara itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bicara. Keputusanmu itu bicara. Langkahmu itu bicara. Penampakkanmu itu bicara. Akvitasmu bicara. Pegaulanmu bicara. Keberadaanmu bicara. Penjelasanmu bicara. Pertanyaanmu bicara. Bahkan bicaramu itu juga bicara. Semua peristiwa itu bicara. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu bicara.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah tulisan?

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya tulisan itu adalah salah satu dari diriku. Tulisan adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah tulisan. Maka tulisan itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu tulisan. Keputusanmu itu tulisan. Langkahmu itu tulisan. Penampakkanmu itu tulisan. Akvitasmu itu tulisan. Pegaulanmu itu tulisan. Keberadaanmu itu tulisan. Penjelasanmu itu tulisan. Pertanyaanmu itu tulisan Bahkan bicaramu itu tulisan. Semua peristiwa itu tulisan. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada itu tulisan.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, kalau begitu siapakah dirimu itu.

Bahasa:
Wahai tulisan, bicara dan kata-kata, sesungguhnya bahasa adalah semua sifat yang ada. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu. Pikiranmu itu bahasa. Keputusanmu itu bahasa. Langkahmu itu bahasa. Penampakkanmu itu bahasa. Akvitasmu itu bahasa. Pegaulanmu itu bahasa. Keberadaanmu itu bahasa. Penjelasanmu itu bahasa. Pertanyaanmu itu bahasa. Bahkan bicaramu itu juga itu bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Maka semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa.

Tulisan, bicara dan kata-kata:
Wahai bahasa, gantian saya yang ingin bertanya kepada engkau. Lalu, apakah hubungan antara bicara, kata-kata dan bahasa.

Bahasa:
Semua dari tulisan, bicara dan kata-kata adalah diriku. Bahkan lebih dari itu, semua yang dapat engkau pikirkan adalah bahasa. Semua subyek, obyek dan kalimat-kalimat adalah bahasa. Semua peristiwa adalah bahasa. Menterjemahkan adalah bahasa. Diterjemahkan adalah bahasa. Maka bahasa adalah hidup. Maka hidup adalah bahasa. Semua refleksi adalah bahasa. Maka filsafat itu adalah bahasa. Lebih dari itu, semua struktur adalah bahasa. Potensi adalah bahasa. Fakta adalah bahasa. Semua arti adalah bahasa. Kebutuhan adalah bahasa. Keinginan adalah bahasa. Maka bahasa adalah sekaligus makna dan referensinya. Tanpa kecuali maka semua elegi adalah bahasa.

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
Maka:
Itulah mengapa elegi-elegi ini aku persembahkan untuk kamu semua wahai mahasiswaku, yaitu seberapa jauh aku memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi dirimu semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hatimu semua. Amien.

36 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dengan elegi-elegi yang ada di blog ini, taulah saya bahwa pak Prof. Marsigit memberikan kesempatan kepada kami mahasiswanya agar untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi kami semua. Selain itu, agar kami menjadi MENGADA dan PENGADA (baca: elegi menggapai mengada dan pengada). Dengan begitu, maka semakin luaslah pemahaman kami dan semakin terbuka lah pikiran kami tentang filsafat.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    S1 Pendidikan Matematika

    Metode dan cara mengajar yang unik, yang memberikan kesempatan murid untuk mengolah pikir, mengolah bahasa, meewujudkan dalam sebuah tulisan. Ini contoh konkrit seorang guru dalam mengajar. Setiap saat setiap waktu murid dapat berlatih menulis, memikirkan, membicarakan dengan teman sejawat maupun saat sendirian. di dalam kamar maupun di gerbong kereta. Karena hakikat belajar adalah menggali dan mengembangkan potensi.

    ReplyDelete
  3. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Bicara adalah salah satu cara manusia untuk mengungkapkan sesuatu. Terkadang bicara bisa benar-benar mengungkapkan apa yang dimaksud seseorang, namun kita juga perlu ingat bahwa seseorang bisa tidak mengungkapkan semuanya dengan cara berbicara. Maka jangan mudah menafsirkan hanya dari bicara saja.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Beberapa hak yang dimiliki setiap orang ialah kesempatan berbicara, berkata-kata, berpikir dan menulis. Maka sebaiknya kita sebagai seorang pendidik hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada siswa menyampaikan pendapatnya yaitu melalui berkata, berbincang, menulis, dan berbahasa agar ilmu mereka dapat berkembang. Dengan demikian bahasa merupakan suatu sarana yang digunakan untuk berkomunikasi oleh satu orang kepada orang lain, sehingga apa yang ingin disampaikan orang tersebut dapat dimengerti oleh orang yang dituju.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Tanpa kata-kata dan bicara bagaimana kita tahu apa yang seseorang inginkan. Tanpa kata-kata bagaimana sesorang mengungkapkan isi hatinya. Tanpa kata-kata bagaimana seseorang bisa menyampaikan gagasannya kepada orang lain. Seseorang bisa menuliskan, membicarakan, dan membahasakan suatu obyek dengan kata-kata. Dari kata-kata inilah kita bisa menambah wawasan untuk menjadi manusia cerdas dalam berpikir.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kata dapat diucapkan atau dibicarakan dapat juga ditulis. Objek dalam filsafat melingkupi yang ada dan yang mungkin ada dalam ruang dan waktu di kehidupan kita. Dan sebenar-benarnya kita berfilsafat ialah seberapa jauh kita dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada berdasarkan pada pemikiran para filsuf terdahulu. Inilah yang harus dilakukan guru didalam kelas ialah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, membahasakan materi yang disampaikan dengan komunikasi matematis yang dipunyainya.

    ReplyDelete
  7. Memberikan kesempatan pada siswa untuk memperkatakan, memperbicarakan, menuliskan, membahasakan matematika itulah yang seharusnya terjadi dalam pembelajaran matematika. Bagaimana siswa dengan menggunakan perkataannya sendiri mengomunikasikan matematika, siswa harus membiasakan diri dengan kata-kata atau istilah dalam matematika. simbol dari angka dan konsep dari bilangan, baik bilangan asli, bulat dan rasional. Pemahaman tentang representasi angka negatif beserta maknanya, repreentasi bilangan rasional beserta maknanya. Konsep dasar tentang bilangan harus tertanam kuat dalam pikiran siswa beserta dengan pengalaman kongkritnya sebelum ke pengetahuan yang abstrak.

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili Kurniawati
    PPS Pendidikan Matematika C
    17709251059

    Elegi ini memberikan sebuah pembelajaran bahwa sebenar-benar mendidik adaah tentang seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebenar- benar proses pembelajaran haruslah dapat memfasilitasi semua potensi yang mungkin ada pada diri siswa. Maka sebenar- benar pendidik haruslah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan apa yang telah siswa miliki. Maka sebenar-benar pendidik bukanlah pemberi tetapi sebagai fasilitator, sebagai penghubung, sebagai jembatan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Itulah sebenar-benar berfilsafat, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada."

    Sekali lagi saya mempercayai bahwa filsafat adalah yang "ada" dan yang "mungkin ada". Eh jangan-jangan aku sudah menjadi mitos orangtua berambut putih. Eh tapi kan ini masih masuk pada upaya saya menggapai logos.

    Terlepas dari itu, saya setuju dengan statement pada postingan ini bahwa, "Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada". Betapa filsafat ada di mana-mana. Hakikat filsafat menjadi pondasi pembelajaran. Waah sungguh filsafat itu diriku sendiri, sungguh lingkunganku adalah filsafat.

    ReplyDelete
  10. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sangat tertarik dengan kalimat simpulan “Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada” Hal ini menunjukkan bahwa mendidik itu bukan menggurui, justru memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak didik untuk berkreasi, berkarya dan memperluas jangkauan berfikirnya. Dengan seperti itu, tidak dipungkiri, siswa memiliki pola pikir kreatif dan memiliki banyak solusi ketika menghadapi permasalahan-permasalahan. Dan justru kemampuan itulah yang dibutuhkan mereka untuk menghadapi kehidupan sebenarnya.

    ReplyDelete
  11. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terimakasih saya ucapkan pada Bapak yang sudah memberikan kesempatan kepada saya dan teman-teman mahasiswa agar dapat terus berkata, berbicara, menulis dan berbahasa. Ini dapat dikatakan sebagai suatu kebebasan dalam berpikir. Seseorang akan dapat menggapai pembicaraan saat memiliki kebebasan akan hal itu. Banyak yang dapat dipelajari dalam hidup ini sehingga kami dapat terus berkarya dengan kapasitas yang ada di dalam diri. Saat ini saya juga sedang membangun filsafat pada diri saya sendiri. Tentunya saya juga mendapatkan ide-ide yang ada melalui para fasilitator yang sangat rendah hati dan bersedia untuk terus berbagi akan ilmunya, termasuk Bapak Marsigit.

    ReplyDelete
  12. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebenarnya manusia tanpa disadari setiap waktu itu berfilsafat, karena filsafat itu adalah olah pikir. Orang bertanya itu termasuk filsafat, karena dia melakukan olah pikir juga. Karena olah pikir, maka akan ada konflik pemikiran yang terjadi antara pemikirannya dengan pemikiran yang dipelajari. Maka dalam belajar filsafat akan bahaya jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat, akan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran lain. Membuat komen merupakan langkah bijaksana untuk setiap orang yang ingin berfilsafat. Karena akan melakukan olah pikir atas apa yang dia pelajari.

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Berdasarkan “Elegi Menggapai Bicara” bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada adalah bahasa. Maka semua sifat yang dapat engkau pikirkan dan ucapkan adalah bahasa. Maka bahasa itu berada di mana-mana sampai batas akal pikiranmu.
    Sebagai seorang guru hendaknya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Dengan itu maka peserta didik akan dapat mengatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  14. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini saya manarik kesimpulan bahwa:
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan dan dikatakan.
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan dan dibicarakan.
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan dan dituliskan.
    Itulah sebenar-benar hidup, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperbahasakan dan dibahasakan.

    Dan sebenar-benar ilmumu, yaitu seberapa jauh engkau dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  15. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Seberapa jauh engkau dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Seberapa jauh engkau dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Seberapa jauh engkau dapat mempertuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Namun terkadang manusia lupa, manusia mengatakan, membicarakan dan menuliskan sesuatu tanpa memikirkannya terlebih dahulu. terlebih lagi saat ini dimana teknologi dan sosial media telah menjadi teman sehari-hari kita. Ketika kita salah bertindak maka celakalah kita. Seperti pepatah, mulutmu harimaumu jempolmu buayamu. Jadi berpikirlah sebelum bertindak dan pikirkan lagi setelah bertindak.

    ReplyDelete
  16. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Menggapai Bicara, Dari elegi ini saya mendapatkan pelajaran bahwa “sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada”. Sehingga guru dalam mendidik sebaiknya memberikan kebebasan berpikir pada siswanya, agar siswa dapat berkarya sesuai dengan kreatifitas dan imajinasinya serta dapat memperluas jangkauan berpikirnya. Namun kebebasan yang diberikan bukan bebas yang sebebas bebasnya, guru harus tetap berperan sebagai motivator dan fasilitator. Terimakasih.

    ReplyDelete
  17. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Mengeluarkan isi pikiran berupa kata-kata yang harus dibicarakan, walau hal tersebut terlihat mudah tetapi kadang hal yang dipikirkan tidak sesuai saat dibicarakan, dan ini termasuk kemampuan dalam berkomunikasi/bicara. Refleksinya dalam pembelajran matematika adalah sebagai seorang guru kit harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperkatakan, membicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan dar semua yang ada dan semua yang mungkin ada. Kebebasan dalam berpikir akan memudahkan siswa untuk bebicara hal yang dipikirkan, hal tersebut karena tidak ada tekanan dan batasan bagi siswa untuk berpikir dan berbicara.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi Menggapai Bicara ini mengajarkan bahwa pentingnya memberikan kesempatan untuk berbicara atau mengemukakan pendapat. Dengan mengemukakan pendapat maka akan tumbuh pengetahuan-pengetahuan baru dari pendapat-pendapat yang dikemukanakan tersebut. Dan, dari elegi ini juga mendapat nasehat yang pastinya akan sangat berguna dalam kehidupan kedepannya, yaitu :
    1. Itulah sebenar-benar mendidik, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan dan kemampuan
    kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan
    memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    2. Itulah sebenar-benar pembelajaran matematika, yaitu seberapa jauh engkau memberi kesempatan
    dan kemampuan kepada siswa-siswamu untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan
    memperbahasakan semua matematika yang ada dan yang mungkin ada.
    Artinya sesuatu yang ada dan mungkin ada itu baik untuk diperkatakan, dibicarakan, dipertuliskan, dan diperbahaskan baik dalam mendidik atau mempelajari semua ilmu pengetahuan, baik matematika atau yang lainnya.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dalam elegi ini saya dapat simpulkan bahwa dalam berbahasa baik lisan maupun tulisan, maka segala sesuatu harus kita fikirkan. Kita harus fikirkan kata, kalimat, yang akan kita gunakan. Oleh sebab itu, elego ini memberi kesempatan dan kemampuan kepada engkau semua untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka jadikanlah elegi-elegi ini sebagai teladan bagi diri kita semua. Semoga kecerdasan menyertai pikiran dan hati kita semua

    ReplyDelete
  20. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi menggapai bicara ini mengajarkan tentang filsafat, bagaimana kita mengenal tentang diri sendiri, bagaimana kita agar menjadi manusia lebih baik. Baik sebagai mahasiswa ataupun sebagai pendidik. Kita selayaknya mendahulukan pemikiran kita agar isa membahasakan dengan baik.

    ReplyDelete
  21. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    dari elegi ini saya mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana seorang pendidik, guru, maupun dosen terutama di bidang matematika harus memberikan kesempatan kepada peserta didik, ataupun mahasiswa untuk mengekspresikan pengetahuan mereka tentang matematika, yaitu dengan memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada, agar pengetahuan mereka tidak menjadi hanya sebuah mitos belaka.

    ReplyDelete
  22. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai bicara ini memberikan sebenar-benar makna dari filsafat. Filsafat adalah sebenar-benar memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika direfleksikan terkait mendidik dan pengajaran matematika adalah memberikan kesempatan siswa untuk melakukan semua itu. Sehingga pembelajaran matematika yang seharusnya adalah yang student centered karena siswa memiliki kesempatan yang luas untuk aktif mengeksplore semua yang berkaitan dengan matematika. Sehingga diharapkan siswa berkemampuan berpikir kritis, menalar, mengoneksikan matematis, dan mengkomunikasikan matematika yang diperoleh.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan elegi di atas menggambarkan bahwa objek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada akan dapat diketahui dan dimengerti oleh orang lain jika dibicarakan. Untuk menggapai bicara adalah dengan menggunakan bahasa, karena bahasa adalah rumahmu maka apa yang dibicarakan adalah menggambarkan dirimu. Dalam pembelajaran, hal demikian dapat dilihat dari bagaimana seorang guru mendidik siswanya. Dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menggali pengetahuan mereka merupakan peran penting bagi guru.

    ReplyDelete
  24. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih Prof, atas fasilitas dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk membaca, belajar, serta memberikan komen.
    Belajar filsafat adalah tentang bahasa. Bahasa erat kaitannya dengan berkata-kata, berbicara, menulis. Jadi dalam belajar dan pembelajaran juga erat kaitannya dengan memperkatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan yang ada dan yang mungkin ada. Semua itu hendaknya menjadi dasar untuk dapat belajar dan dalam kaitannya dengan pembelajaran. Kemampuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat memperkatakan, membicarakan, menuliskan, dan membahasakan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  25. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B


    Berfilsafat adalah bagaimana kita dapat memperkatakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Sebagai objek filasaf tersebut dapat dipelajari dari semua objek yang ada dan yang mungkin ada. Seberapa jauh kita dapat memperbicarakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Dan seberapa jauh kita dapat menuliskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
    Maka dengan berfilsafat, kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat, menuliskan, dan melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tidak hanya dalam pembelajaran, namun dalam lingkup yang lebih luas yaitu di masyarakat. Kita akan ditolong ketika kita menolong. Kita akan diperbolehkan berbicara ketika kita membolehkan yang lain untuk berbicara. Tidak memotong dan mengekang. Karena dibutuhkan keikhlasan satu sama lain. Dalam pembelajaran pun juga diperlukan adanya suatu pembicaraan atau pembahasan dari objek filsafat. Dimana siswa dapat menulikan,memperbicarakan, memperbahasakan, karena tanpa bicara kita tidak dapat mengetahui maksud dan tujuan. Jika berbicara diperlukan maka diam akan mematikan.

    ReplyDelete
  26. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dalam berbicara sebaiknya kita harus berhati-hati. Seperti kata pepatah “mulutmu harimaumu”. Berbicara seperti dihadapkan dengan harimau yang siap menerkam atau melindungi. Ketika kita sering salah dalam berbicara, berbicara bohong, kotor, fitnah, sombong, dan sebagainya maka akan membawa kita pada kehancuran. Akan tetapi jika kita berhati-hati dalam berbicara, menjaga lisan kita agar tidak berbicara bohong dan menyinggung perasaan orang lain maka harimau itu akan melindungi kita. Kita akan disenangi oleh banyak orang. Selain itu orang juga akan segan menghormati kita, berapapun usia kita. Perlu diingat, kita juga tidak boleh sombong ketika menggunakan bahasa atau bicara karena diatas langit masih ada langit. Ketika kita merasa sudah paling pintar, di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih pintar dari kita.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  27. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Implikasi dalam pembelajaran dari tulisan ini, sebagai guru matematika kita harus memberi kesempatan kepada anak didik kita untuk menyampaikan pendapatnya, menulis apa yang ia pikirkan, dan mengungkapkan ide matematikanya sesuai dengan bahasanya sendiri (komunikasi matematis). Guru bukan sebagai aktor utama, akan tetapi hanya sebagai fasilitator atau memberikan fasilitas terhadap pengetahuan yang kurang untuk disampaikan kepada anak didik. Namun demikian, guru juga harus bertanggung jawab penuh mengatur alur proses pembelajaran di kelas (strategi pembelajaran).
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  28. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Lagi-lagi masalah dimensi. Bicara, kata-kata dan tulisan adalah bahasa dalam dimensi yang berbeda. Semuanya mempunyai fungsinya masing-masing, namun mendukung hal yang sama. Sebagaimana kata-kata, tulisan dan bicara mendukung pembelajaran filsafat ini dari tiap dimensi yang berbeda.
    Terimakasih banyak Pak, telah menyediakan blog ini untuk kami mengembangkan dimensi filsafat kami.

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Memahami tulisan diatas bahwa segala sesuatu memiliki kaitan dan berhubungan. Kata-kata, bicara, tulisan merupakan komponen penyusun bahasa dimana bahasa adalah sebenar-benarnya filsafat. Kami setuju dengan tulisan diatas bahwa dengan memberikan kesempatan dan kemampuan untuk berbicara, membahasakan, menuliskan apapun yang ada dan mungkin ada merupakan sebenar-benarnya mendidik. Benar hal itu sebenar-benarnya mendidik karena dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara berarti memberikan kesempatan pula bagi mereka untuk berfikir memproses informasi dari pengalaman untuk di ungkapkan dengan cara yang tepat. Terima kasih

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setiap unsur apapun memiliki dimensinya masing-masing. Jika keseuma unsur tersebut berkumpul atau bersatu, maka akan terbentuk subyek baru dari gabungan unsur-unsur tersebut. Dengan menyatunya unsur-unsur, bukan berarti satu dari unsur yang lain memiliki peran yang paling unggul, melainkan semuanya sama-sama memiliki perannya masing-masing yang satu sama lain saling melengkapi. Begitupun bahasa, bahasa adalah gabungan dari unsur tulisan, kata-kata, dan ucapan (bicara). Semua yang ada dan yang mungkin ada merupakan bahasa. Sehingga bahasa merupakan komunikasi untuk terjemah dan menterjemahkan. Maka gapailah bahasa untuk memperbahasakan segala yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  31. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Bahasa merupakan alat komunikasi dimana disitu ada kata-kata yang dikeluarkan melalui pembicaraan dan tulisan. Sehingga kita harus dapat memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan dan memperbahasakan dengan segala apa yang ada dan munkin ada, karena itulah sebenr-benarnya berfilsafat. Sebagai seorang tenaga pengajar ini sangat lah penting untuk diterapkan karena kita harus memberi kesempatan dan kemampuan kepada siswa-siswa kita untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika kita sendiri tidak dapat menerapakan itu bagaimana untuk dapat memberi kesempatan kepada siswa.

    ReplyDelete
  32. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Orang normal dan orang gila bisa bicara semau-maunya yang ingin dibicarakan kecuali orang yang bisu (bicara verbal) atau orang yang kehilangan kesadaran seperti mengalami koma. Bicara (verbal) membutuhkan mulut. Mulut membuthkan lidah. Lidah membuthkan kata. Kata mebutuhkan bahasa. Bahasa membutuhkan konteks. Nah, gapailah bicara dengan itu. Bicara adalah kebebasan. Jangan pernah ingin dibungkam

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Menurut saya bicara adalah salah satu bentuk komunikasi kita kepada orang lain untuk menyampaikan suatu ide atau gagasan. Bicara adalah pengucapan,yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. kapan kita mulai bisa berbicara? tentunya ketika kecil kita sering diajari orangtua untuk berbicara mama, bapak, papa, makan dll. Kita boleh berbicara macam-macam (bukan banyak bicara) namun jangan sampai menyakiti orang lain, makannya ada suatu pelatihan 'public speaking' yang berguna untuk melatih skill bicara kita di depan umum.

    ReplyDelete
  34. Kemampuan public speaking saat ini sangat dibutuhkan bahkan bisa dikatakan wajib untuk membangun suatu karir yang sukses. Sebuah penelitian membuktikan bahwa sebagian besar perusahaan menjadikan kemampuan public speaking masuk sebagai kriteria dalam menilai calon pelamar kerja di perusahaan. Di masa sekarang, seorang yang cerdas dan mempunyai pengetahuan yang luas tanpa di imbangi dengan kempuan dalam public speaking bukanlah segalanya untuk mencapai sebuah kesuksesan, Karena Public speaking, kita dapat mengetahui ataupun mempengaruhi pola pikir seseorang dan kita dapat mengeluarkan ide-ide luar biasa yang kita ingin ungkapkan. sehingga ide-ide yang tersimpan di dalam kepala kita tidak menjadi sampah namun bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  35. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Saya pernah mendengar bahwa bahwa filsafat pada saat ini adalah filsafat bahasa, bahwa semua yang ada dan mungkin ada itu bahasa. Bahwa sebenar-benarnya dirimu adalah bahasa mu. Kata-kata, bicara dan tulisan adalah bahasa tetapi berbeda dimensi. Bahasa adalah fikiran, bahasa adalah informasi, berarti dunia saat ini adalah dunia informasi dan fikiran. Dunia yang sangan cepat, labil dan selalu berubah. Itulah tantangan bagi para pendidik, bahwa metode lama mungkin sudah tidak efektif dan sama lagi untuk dunia saat ini. Peserta didik harusnya dididik untun menghadapi perubahan. Dan membentingi diri dari dampak negatif perubahan tersebut. Semoga kita selau sadar dan dapat memberikan yang terbaik bagi anak didik. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  36. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Mengapai bicara dalam elegi dapat dimaknai dengan “komunikasi”, komunikasi merupakan hal yang sangat esensial bagi manusia. Misalnya, untuk mengomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran kita kepada orang lain. Dalam implementasinya pada pembelajaran matematika, komunikasi merupakan salah satu keterampilan dasar yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik, untuk itu salah satu caranya guru untuk melatih keterampilan tersebut adalah dengan memberi kesempatan peserta didik untuk mengomunikasikan gagasannya maupun pemikirannya baik itu seputar hal yang ada maupun yang mungkin ada. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang di dalamnya terjalin komunikasi dua arah antara guru dengan peserta didiknya.

    ReplyDelete