Sep 22, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Harmoni




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai harmoni meninggalkan gunung menuju ke kota

Hamba menggapai harmoni:
Kini saatnya aku menuruni gunungku. Aku mendapat amanah agar aku segera menuju ke kota. Bayanganku begitu indahnya kota itu. Lain dan sangat kontras dengan keadaanku di gunung ini. Konon berbagai macam kebutuhan ada di kota. Mulai dari sembako, pakaian, dan alat-alat modern ada di kota. Bahkan aku dengar jika aku sudah sampai di kota maka aku bisa bekerja apa saja, membuat pekerjaan apa saja. Lebih dari itu, tetapi yang ini agak mengkhawatirkanku, katanya di kota nanti aku bisa berpikir apa saja dan berbuat apa saja? Begitukah? Tetapi baiklah, karena apapun yang akan terjadi aku harus tetap menuju ke kota.

Hamba menggapai harmoni bertemu dengan satpam kota

Satpam kota:
Wahai seseorang asing, darimanakah engkau dan mau kemanakah engkau itu?

Hamba menggapai harmoni:
Aku orang gunung. Aku ingin ke kota. Bolehkah aku bertanya? Di manakah kota itu dan dimana pula jalan menuju ke sana? Aku ingin ke sana karena aku ingin menjadi orang kota.

Satpam kota:
Wahai orang gunung. Tidak sembarang orang bisa masuk kota. Aalagi engkau ini orang gunung. Maka engkau harus memenuhi persyaratan. Ini persyaratannya ada 10 butir. Jika engkau bisa memenuhi persyaratanku ini maka engkau aku ijinkan masuk kota.

Hamba menggapai harmoni:
Baiklah. Kebetulan aku telah mempersiapkan semua persyaratan itu. Maka terimalah persyaratan ini.

Satpam kota:
Baik. Kalau begitu silahkan lewat.

Hamba menggapai harmoni:
Terimakasih. Tetapi sebelum aku masuk kota, aku ingin bertanya dulu kepadamu. Benarkah di kota itu, terdapat apapun yang aku inginkan.

Satpam kota:
Ha..ha..ha. Pertanyaanmu sungguh lucu. Ya jelaslah. Di kota sebesar ini apa sih yang tidak ada. Semua yang engkau inginkan ada di sini. Aku juga bisa menginginkan segalanya di sini. Tetapi aku tidak bisa. Karena aku hanyalah seorang satpam. Maka aku hanya dapat melihat orang-orang silih berganti ke sana ke mari ke situ ke sini, untuk memuaskan hidupnya di sini. Sedangkan aku hanya terpaksa puas melihatnya saja. Maka kalau aku boleh tahu. Sebetulnya engkau ke kota ingin cari apa?

Hamba menggapai harmoni:
Aku tidak ingin mencari yang macam-macam. Aku hanya ingin mencari harmoni.

Satpam kota:
Ha..lucu juga kedengarannya. Apa itu harmoni? Apakah itu nama gedung bioskop? atau nama seseorang?

Hamba menggapai harmoni:
Harmoni itu jiwa, pikiran, hati, ibadah, badan, perasaan, baju, rumah, tidur, jalan, kebun, sungai, teman, alat, perkataan, program, buku, makan pagi, restoran, sekolah, universitas, pegawai, guru, dosen, ...

Satpam kota:
Sudah..sudah.. Ah sial benar aku ini. Pagi-pagi sudah jumpa orang gila. Ditanya ke tota ingin cari apa, jawabannya ngelantur tak karuan. Sudah sana masuk kota. Aku tidak mau lagi bicara dengan engkau.

Hamba menggapai harmoni:
Terimakasih satpam kota. Ketahuilalah. Bahwa masih banyak kata yang belum sempat aku ucapkan. Salah satunya adalah tentang satpam kota. Ketahuilah bahwa harmoni juga ada pada dirimu. Dirimu itulah harmoni. Maka sebenar-benar dirimu itu adalah harmoni.

Hamba menggapai harmoni diterima sebagai mahasiswa dan mengikuti perkulihan

Dosen:
Saudara mahasiwa yang berbahagia. Prinsip hidup kontemporer adalah menjaga keseimbangan, yaitu keseimbangan semua unsur-unsurnya. Tiadalah satu unsur berlebih-lebihan, dan tiada pula unsur-unsur berkekurangan. Di samping itu keseimbangan juga meliputi hubungan antar unsur-unsurnya. Padahal kita tahu bahwa tiadalah unsur-unsur di dunia ini tidak saling berhubungan. Maka keseimbangan unsur-unsur beserta hubungannya itulah yang disebut harmoni.

Mahasiswa 1:
Bagaimanakah caranya agar kita memperoleh harmoni.

Dosen:
Diperlukan pemahaman yang mendasar bagi seseorang untuk memperolah harmoni. Harmoni itu sendiri harus mempunyai landasan yang kuat dan kokoh. Satu-satunya landasan yang dapat di andalkan adalah iman dan taqwa kepada Tuhan YME. Modal utama memperoleh harmoni adalah niat hidup untuk beribadah. Segala aktivitas untuk beribadah. Segala ilmu untuk beribadah. Segala keterampilan untuk beribadah. Dan segala pengalaman untuk beribadah.

Mahasiswa 2:
Ilmu yang bagaimanakah yang bermanfaat untuk memperoleh harmoni.

Dosen:
Untuk memperoleh harmoni maka pikiran anda harus terbebas dari segalam macam residu yang mengkotori pikiranmu itu. Pikiran murni yang belum terkontaminasi itulah dapat diibaratkan sebagai orang gunung. Jadi untuk memperoleh ilmu harmoni, hendaklah saudara-saudara mahasiswa menjadi orang gunung, kemudian turun ke kota.

Mahasiswa 3:
Apakah sebetulnya yang disebut sebagai pikiran murni?

Dosen:
Pikiran murni adalah berpikir kritis. Jikalau seseorang pikirannya masih bersih maka dia akan mampu berpikir kritis.

Mahasiswa 4:
Apakah yang disebut pikiran bersih?

Dosen:
Pikiran bersih adalah pikiran yang merdeka, yaitu pikirannya orang-orang yang masih merdeka untuk mengutarakan pikirannya. Dengan berpikir merdeka itulah dia akan berpikir kritis.

Mahasiswa 5:
Apakah yang disebut berpikir kritis?

Dosen:
Berpikir kritis adalah mengetahui kekurangan dan kelebihan diri orang yang berpikir. Jadi berpikir kritis tidak lain tidak bukan adalah batas pikiran.

Mahasiswa 6:
Aakah yang disebut batas pikiran?

Dosen:
Batas pikiran adalah jika engkau tahu kapan engkau berpikir dan kapan engkau tidak berpikir?

Mahasiswa 7:
Kapan aku tidak berpikir?

Dosen:
Engkau tidak berpikir jikalau engkau sedang tidur atau sedang berdoa.

Mahasiswa 8:
Mengapa aku berdoa dikatakan tidak berpikir?

Dosen:
Jika ketika engkau berdoa, engkau masih pikir-pikir, itu pertanda doa mu belum khusuk.

Mahasiswa 9:
Kapan doaku dikatakan khusuk?

Dosen:
Tiadalah manusia mengetahuinya, kecuali semata-mata hanya karunia Nya lah bahwa doa mu diterima atau tidak.

Hamba menggapai harmoni:
Menurut engkau wahai dosenku, apakah wajahku ini seperti orang gunung atau seperti orang kota?

Dosen:
Orang gunung itulah pikiran murnimu. Orang gunung itulah pikiran kritismu. Maka orang gunung itulah ilmumu.

Hamba menggapai harmoni:
Apakah saya kira-kira dapat menggapai harmoni?

Dosen:
Harmoni tidaklah diam di suatu tempat. Harmoni itu bergerak pada porosnya dan berjalan pada lintasannya. Maka untuk menggapai harmoni itu, tidak ada cara lain engkau juga harus berputar pada porosmu dan bergerak pada lintasanmu. Demikian juga berlaku bagi yang lainnya.

Mahasiswa 10:
Apa yang dimaksud dengan berputar pada porosnya dan bergerak pada lintasannya.

Dosen:
Itulah sebenar-benar kodrat. Manusia ditakdirkan untuk berusaha dan berikhtiar dalam hidupnya. Maka hati, jiwa dan hidupmu harus berputar pada poros iman dan taqwa mu agar engkau selalu mendapat rakhmat dan hidayah Nya. Itulah habluminallah. Sedangkan hati, jiwa dan hidupmu harus berikhtiar menghampiri sesama yang lain dalam pergaulanmua untuk memperkokoh tali ibadah mu dan ibadah mereka. Itulah habluminanash. Maka barang siapa tinggi putaran pada porosnya maka semakin stabil pulalah hidupnya. Dan barang siapa kuat gerakan pada lintasannya maka semakin mendapat banyak pula perolehannya di dunia. Itulah sifat black-hole. Putaran sangat tinggi sehingga seakan diam. Benda yang tidak tampak padahal kemampuannya luar biasa. Itulah sunatullah. Tuhan telah memberikan contoh-contohnya semata demi kebaikan manusia.

Hamba menggapai harmoni:
Aku merasa lega, karena aku merasa telah memperoleh titik terang bagaimana aku bisa menggapai harmoni. Terimakasih dosen. Bolehkah aku mengutarakan refleksiku tentang harmoni?

Dosen:
Boleh. Silahkan.

Hamba menggapai harmoni:
Nikmat terasa hidup ini. Aku melihat dan merasakan harmoni. Aku melihat harmoni di sekitarku. Mereka bekerja sesuai tugas masing-masing dan mereka saling menjaga harmoni. Mereka berkata-kata harmoni. Tugas-tugasnya adalah harmoni. Kantornya adalah harmoni. Perintahnya adalah harmoni. Gedungnya adalah harmoni. Jurusannya adalah harmoni. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah aku telah menemukan universitas harmoni. Tempat parkirnya harmoni. Komunikasinya harmoni. Taman dan jalannya harmoni. Jika yang kulihat adalah harmoni maka pikiranku adalah harmoni. Maka pikiranku dan kiran mereka adalah harmoni. Bahasanya dan bahasaku adalah harmoni. Kasih sayangnya adalah harmoni. Pimpinanya adalah harmoni. Petugasnya adalah harmoni. Dosennya adalah harmoni. Dosennya adalah harmoni. Ilmunya adalah harmoni. Maka aku temukan bahwa hidupku adalah harmoni dan hidup mereka adalah harmoni. Maka aku temukan bahwa dunia adalah harmoni. Maka aku berpikir dan apakah aku boleh berpikir bahwa surga itu adalah harmoni. Jika demikian maka aku berpikir dan apakah aku boleh berpikir bahwa berarti neraka itu adalah disharmoni. Maka surga itulah ada di dalam diri orang-orang harmoni dan neraka itulah ada dalam diri orang-orang disharmoni.


Hamba menggapai harmoni:
Dosen, aku ingin bertanya benarkah klaimku tadi. Memang bisakah saya memproduksi kata disharmoni. Lalu bagaimana contohnya disharmoni itu?

Dosen:
Pertanyaan yang baik. Benar pula apa yang engkau pikirkan. Disharmoni adalah lawan harmoni. Disharomi adalah berlebihan. Disharmoni adalah tidak cocok hubungan. Disharmoni adalah tidak sesuai suasana. Disharmoni adalah tidak sesuai peruntukan. Disharmoni adalah tidak sesuai tugasnya. Disharmoni adalah tidak sesuai fungsinya. Disharmoni adalah mendominasi. Disharmoni adalah tidak adil. Disharmoni adalah tidak jujur. Disharmoni adalah tidak selaras.

Hamba menggapai harmoni:
Maaf aku agak bingung. Bisakah engkau memberikan contoh yang konkrit?

Dosen:
Jika dikelas ini engkau selalu dan ingin selalu menonjol tanpa menghiraukan teman-temanmu, itulah disharmoni. Jika engkau menyampaikan pendapat jauh dari kenyataan itulah disharmoni. Jika engkau berkata aneh, itulah disharmoni. Jikalau sekonyong-konyong engkau bicara dalam Bahasa Inggris padahal konteksnya Bahasa Indonesia, itulah disharmoni. Jikalau engkau menasehati secara berlebihan itulah disharmoni. Jikalau engkau bersifat pamer, itulah disharmoni. Jikalau engkau diam, padahal mestinya engkau harus bicara, itulah disharmoni. Jikalau dalam daftar hanya namamu yang muncul itulah disharmoni. Jikalau engkau menuntut bukan hakmu itulah disharmoni. Jikalau engkau bicara vulgar itulah disharmoni. Jika engkau hanya andalkan pikiranmu saja, itulah disharmoni. Jikalau engkau menasehati tidak tepat waktu itulah disharmoni. Jikalau engkau merasa selalu bisa, itulah disharmoni. Jikalau engkau merasa mempunyai peran yang besar, itulah disharmoni. Jikalau engkau memaksakan kehendakmu, itulah disharmoni. Jikalau engkau mengambil jalan pintas, itulah disharmoni. Jikalah engkau terlalu sibuk, itulah disharmoni. Jikalau engkau terlalu banyak pekerjaan, itulah disharmoni. Jikalau engkau tidak menjawab pertanyaan, itulah disharmoni. Jikalau engkau tidak menjawab sms itulah disharmoni. Jikalau engkau bertengkar, itulah disharmoni. Maka sebenar-benar harmoni adalah surga bagimu. Dan sebenar-benar disharmoni adalah neraka bagimu.

Hamba menggapai harmoni:
Kalau begitu siapakah aku ini. Apakah aku ini orang gunung atau aku ini orang kota?

Dosen:
Sebenar-benar dirimu adalah diriku juga. Dirimu, diriku dan diri anda semua para mahasiswaku, sebenar-benar engkau semua adalah hamba menggapai harmoni.

Ada seorang mahasiswa mengejar dosen masih bertanya:
Ini masih berkaitan dengan yang saya tanyakan di kelas. Apakah ketika manusia dekat dengan rasa pesimis, malas, malu, takut dan hal-hal lain yang menghambat kemajuan dirinya, bisa dikatakan bahwa manusia dalam kondisi disharmonis?

Dosen:
Salah satu penyebab disharmoni adalah keadaan sakit. Jangankan untuk urusan dunia; untuk urusan akhirat saja bisa terganggu gara-gara badan jatuh sakit. Keadaan sakit bisa menimpa pada bagian manapun dari diri kita. Pikiran kita bisa sakit. Hati kita bisa sakit. Tindakan kita bisa sakit. Bahasa kita bisa sakt. Pergaulan kita bisa sakit. Hidup kita bisa sakit. Doa-doa kita bisa tidak sehat. Ketahuilah bahwa itu semua bisa merupakan penyebab disharmoni. Jika kita liat lebih jauh maka rasa pesimis itu juga sakit. Malas itu juga penyakit. Takut tak beralasan itu juga sakit.
Bahkan bahasa plesetan adalah bahasanya orang-orang yang sakit. Masyarakat yang gemar plesetan bisa ditengarai ada yang kurang sehat.Bahasanya orang-orang tertindas adalah bahasa orang-orang sakit. Maka kenalilah sebab-sebab disharmoni. Itulah sebenar-benar menterjemahkan hidup. Agar bisa berupaya menggapai harmoni.

11 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam kehidupan ini, memang perlu sekali adanya harmoni. Dengan menciptakan suatu kehidupan yang harmoni, maka tidak akan ada terjadi benturan-benturan yang dapat menimbulkan kehancuran dan perpecahan. Manusia harus dapat berharmonisasi baik dengan sesama manusia, dengan lingkungannya, maupun dengan hubungannya dengna yang Maha Kuasa. Apa yang ada dan yang mungkin ada merupakan harmoni juga dalam kehidupan, oleh karena nya menjaga keharmonian, berarti saling menyadari batasan-batasan yang ada dan yang mungkin ada, sehingga keseimbangan dapat terjaga dan kehidupan dapat terus berjalan sebagaimana mestinya.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina. Sama dengan elegy ini, saya menangkap bahwa dalam mencari ilmu kita kadang perlu untuk keluar dari daerah asal kita. Mencari pengalaman – pengalaman, dan juga keluar dari zona nyaman. Namun perlu juga di ingat bahwa mungkin ada hal – hal baru yang akan kita temui, dan mungkin tidak sesuai dnegan norma social, moral dan agama yang kita anut. Oleh karena itu perkuatlah benteng keimanan agar kita bisa selalu menjaga kesucian diri.

    ReplyDelete
  3. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Saat ini, prinsip keseimbangan untuk menggapai kehidupan yang harmonis sudah agak terlupakan di Indonesia. Tidak ada lagi sifat mengasihi dan toleransi. Beberapa kelompok merasa paling benar sendiri dengan caranya yang melawan hukum. Tidak ada suatu alasan pembenar atau pemaaf dari tindakan brutal ini. Di sebagian pejabat negara yang notabene adalah bertugas untuk seluruh warga negara terlepas dari warna politiknya, kelihatan mengambang sikapnya. Tidak ada penegakan hukum yang lugas dan tegas untuk mengantisipasi perbuatan sekelompok orang yang meneror kelompok lain. Perbuatan pejabat negara yang termasuk proses pembiaran ini saja sudah melanggar hukum dan rasa keadilian masyarakat itu sendiri. Sikap merasakan penderitaan orang lain, sikap membantu penderitaan orang lain, sikap mengegakkan hukum tanpa pandang bulu, ini yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat Indonesia. Manusia memang tidak sempurna, tetapi sesuai dengan tugas pokok kita masing -masing diluar kepentingan politis, maka hendaknya kita melaksanakan wewenang kita yang telah dipercayakan rakyat kita dengan sebaik dan sebenar mungkin.

    ReplyDelete
  4. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dimana pun kita berada harus pandai-pandai bawa diri. Landasan kuat untuk menggapai harmoni ialah iman dan taqwa. Dengan demikian, insya Alloh dapat menggapai harmoni yang mendapat ridho-Nya.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Biarkan penghuni gunung tetap di gunung untuk mendapatkan kesucian. Dulu saja para sufi memilih untuk beruzlah di gunung untuk mendapatkan kesucian hati, dan harmoni hubungan dengan pencipta. Barulah ketika sudah memperoleh ksucian hati melalui proses di gunung, para sufi turun ke kota untuk berbenah benah, tanpa adanya sedikitpun racun kota yang masuk ke hati para sufi itu.

    ReplyDelete
  6. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Orang orang gunung yang belum benar benar suci,janganlah dulu turun kekota, karena itu hanya akan merusakmu. begitu juga orang kota jangan terburu buru naik ke gunung untuk mencari kesucian sebelum cukup kedewasaan ilmu mu.

    ReplyDelete
  7. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    harmonii dapat dikatakan sesuatu yang adil. yang saya maksud disini sesuai pada tempatnya, sesai dengan kebutuhannya. adanya sifat yang tidak berlebih-lebihan perperan dalamnya. maka harmoni selalu akan mendatangkan ketentraman, nyaman dan bahagia. harmoni memang susah untuk menciptakannya, tapi bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin asal kita mau untuk membangun keharmonisan tersebut.

    ReplyDelete
  8. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Harmoni adalah keseimbangan. Dalam menjalani hidup, dibutuhkan keseimbangan antara yang satu dengan yang lainnya agar hidup kita seimbang dengan lingkungan kita dan seimbang pula antara urusan dunia dan akhirat. Landasan harmoni adalah iman dan taqwa terhadap Allah SWT. Segala perbuatan kita hendaknya kita niatkan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Menurut pemahaman saya, kata harmoni merupakan keseimbangan unsur-unsur beserta hubungannya. Saya memberi contoh pada objek spritual misalkan ada seseorang yang telah mencapai harmoni dalam kehidupannya. orang tersebut sangat paham akan arti harmoni, orang tersebut taat dalam beribadah, selalu melakukan segala hal sesuai porsinya, dan tidak pernah berlebih-lebihan serta tidak pernah memaksakan kehendaknya. Oleh karena itu kita seharusnya dapat membuka harmoni kita salah satunya yatu dalam memerdekakan dalam berfikir atau berfikirlah secara mandiri yaitu pikirannya orang-orang yang masih merdeka untuk mengutarakan pikirannya. Dengan berpikir merdeka itulah kita akan berpikir kritis dan dapat membuka harmoni dalam kehidupan kita.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia tidak menggapai harmoni ketika akal, pikiran, hati, perilakunya tidak sehat. Jikalau manusia tidak sehat maka dia tidak dapat melakukan hal positif karena semua yang dia miliki berjalan tidak secara sehat.
    Akal tidak dapat berpikir secara jernih, hati tidak dapat merasakan hal yang baik dan positif. Hingga perilaku ynag ditampilkannya pun menjadi tidak baik.
    Manusia yang tidak dapat menggapai harmoni maka dalam hidupnya akan selalu tidak bersyukur dan ikhlas. Maka manusia sudah seharusnya kembali diri kepadaNya untuk mencapai harmoni dari disharmoni.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. harmoni ialah keseimbangan unsur-unsur dunia dengan landasan iman dan takwa, dengan niatan bahwa segala yang dilakukan meruapakan ibadah. Untuk mencapai harmoni diperlukan pikiran yang jernih yng kritis yang masih belum terkontaminasi pikiran-pikiran buruk yang masih bebas mengutarakan pendapat. Tidak perlu susah-susah untuk mencapai harmoni, di lingkungan sekitar terdapat banyak hal yang harmoni, yang seimbang, yang indah dan menentramkan.

    ReplyDelete