Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Rumah Paradoks




Oleh Marsigit
(Diolah dari Paradoks Russell)

Rumah paradoks:
Aku adalah rumah paradoks. Penghuniku hanyalah orang-orang yang tidak sama dengan dirinya sendiri.

Alfa:
Wahai rumah paradoks, namaku adalah Alfa. Aku ingin bertanya. Apakah aku penghuni rumahmu atau bukan?

Rumah paradoks:
Engkau bisa menghuni rumahku bisa juga tidak menghuni rumahku.

Alfa:
Kapan aku menghuni rumahmu?

Rumah paradoks:
Jika engkau tidak sama dengan dirimu sendiri. Yaitu engkau tidak sama dengan Alfa.

Alfa:
Baik, aku sekarang akan menghuni rumahmu.

Rumah paradoks:
Apa yang engkau maksud dengan “aku”

Alfa:
Yang aku maksud dengan “aku” adalah diriku yaitu Alfa. Jadi aku adalah Alfa.

Rumah paradoks:
Karena engkau sama dengan Alfa maka engkau harus keluar, dan tidak boleh menghuni rumahku.

Alfa:
Bukankah aku telah menghuni rumahmu. Maka aku tidak sama dengan Alfa.

Rumah paradoks:
Baiklah karena engkau tidak sama dengan Alfa maka engkau boleh menghuni rumahku.

Alfa:
Bagaimana engkau ini, wahai rumah paradoks. Aku itu penghuni rumahmu atau bukan?

Rumah paradoks:
Sebenarnya engkau itu sekaligus penghuni rumahku dan bukan penghuni rumahku.

2 comments:

  1. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Paradoks itu adalah berlawanan dengan asas. Paradoks kadangkala menghasilkan kebingungan, namun paradox sebenarnya hadir sebagai bentuk dialektika untuk mengolah pemikiran kritis manusia. Banyak paradox yang muncul pada zaman Yunani Kuno sebagai bentuk olah pikir dari para pemikir dan para filsuf dan semata-mata untuk melatih berpikir kritis terhadap suatu pemikiran.

    ReplyDelete
  2. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Elegi di atas menjelaskan tentang pemikiran manusia yang bertentangan dengan prinsip yaitu paradoks. Untuk menggapai paradoks ini diperlukan pola pikir yang kritis dan terbuka, tidak terpaku pada satu sudut pandang saja. Pola pikir yang harus kita miliki adalah pola pikir yang memandang bahwa ruang dan waktu itu ada dan perlu untuk dipertimbangka dalam memahami hidup.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.