Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bijak

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah tanggapan dari Bapak Wahyudi tentang "bijak":

Assalamu 'alaikum wr. wb. saya setuju dengan Bapak bahwa dimensi yang berbeda sering mengakibatkan kesalahfahamn. yang harus dilakukan adalah. pihak yang sadar bahwa dimensinya rendah memfollow up kesadarannya dengan belajar...belajar dan belajar...membaca....membaca dan terus membaca. tapi bagi pihak yang berdimensi lebih tinggi seyogyanya bersikap bijak. seperti sikap yang ditampakkan oleh yang berilmu+bijak dalam elegi menggapai dimensi. salah satu sikap bijak orang yang berdimensi tinggi adala KHAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual) mereka(Al Hadist. Wallahu 'alam. terimakasih pak.



Sementara jawaban/tanggapan saya (Marsigit) adalah:

Ass..Pak Wahyudi.."bijak" itulah yang menjadi ultimate dari semua para filsuf untuk menggapainya. Tetapi ketahuilah bahwa Socrates itu dianggap orang yang paling tidak bijak oleh masyarakatnya pada jamannya. Plato dianggap sangat tidak bijak oleh Aristoteles. Descartes dianggap tidak bijak oleh David Hume. Dst...Maka tesis itu sebenar-benarnya adalah tidak bijak bagi anti-tesisnya, demikian pula sebaliknya.

Pandangan tentang "bijak" dari kaca mata Filsafat Barat dan Filsafat Timur itu berbeda. Apalagi jika disorot dari kaca mata berbagai Teologi Agama.

Filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka di sini bijak itu adalah epistemologi. Thus, bijak itu adalah filsafat itu sendiri.

Di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Strata itu berelasi dengan "kuasa". Maka "bijak" di Timur itu kenthal dengan nuansa atau merupakan aspek dari unsur kekuasaan. Kuasa di Timur, itu berelasi dengan Kerajaan-kerajaan. Maka itulah faktanya bahwa sejarah Timur itu diturunkan oleh Kerajaan-kerajaan.

Dalam Filsafat, "kuasa" itu berelasi dengan hubungan subyek-obyek. Maka "bijak" dan "kuasa" itu berelasi dengan "determinism". Dimana, di dalam konteks Timur, ketika ada usaha-usaha berpikir filsafat ala Barat, seperti yang kita lakukan, yaitu membongkar konteks "bijak" dan "kuasa" dalam determinisme, maka para obyek kuasa mempunyai euphoria untuk membongkar karakter subyek kuasa.

Jangan dilupakan bahwa "kuasa" di sini dalam arti luas seluas-luasnya, dalam sedalam-dalamnya. Mahasiswa senior itu kuasa terhadap mahasiswa yunior. Guru itu kuasa terhadap muridnya. Baju baru itu kuasa terhadap baju tidak baru..dst. Dosen juga kuasa terhadap mahasiswanya. Itulah pentingnya pemahaman Ruang dan Waktu. Maka sebenar-benar bijak, baik di Barat maupun di Timur adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu. Di sini maka semua subyek dan semua obyek dan semua predikat akan terkena aturannya. Jadi bijak itu tidak hanya untuk dosen saja, tetapi juga untuk mahasiswa. Tidak hanya untuk guru saja tetapi juga untuk siswa, dst...Dosen atau guru itu perlu paham ruang dan waktunya. Demikian pula mahasiswa atau murid. "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu.

Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur. Jika diteruskan maka tidak cukup sampai di sini, karena baik filsafat Barat maupun Timur itu juga meliputi Etik dan Estetika. Maka "bijak" itu juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika. Nah, etik dan estetika nya subyek dan obyek itu berbeda. Jadi Etik dan estetikanya Dosen dan Mahasiswa itu juga bisa berbeda.

Tetapi jangan salah paham, karena etikanya seseorang itu ternyata juga anti-tesisnya dari etika nya orang lain. Thus dengan demikian perbedaan adat istiadat juga akan membawa etik dan estetika yang berbeda. Ketika filsafat berusaha membongkar aspek monolothik dari suatu keutuhan primordial, maka konsep etik dan estetika itu menjadi tercerai berai. Maka disinilah kita perlu mengembangkan pemahaman ruang dan waktu. Jadi paham ruang dan waktu itu ternyata juga etik dan estetika.

Pusat-pusat monolithik dan primordialisme pengembangan etik dan estetika itu meliputi Filsafat, Agama atau pusat-pusat Kekuasaan/Negara/Kerajaan. Di daerah atau masyarakan di mana jauh dari pusat-pusat pengembangan seperti itu (adhoh Ratu) maka Etik dan Estetika dikembangkan dalam ranah komunikasi horizontal dan merefer kepada unsur-unsur kontekstual lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Maka ingatlah kembali uraian saya tentang strata dan tingkatan masyarakat yang dibuat menurut kriteria "Power Now" atau "Pragmatis/Utilitarian/Kapitalis/Hedonism". dari tataran yang paling rendah menuju tataran tinggi: Archaic-Tribal-Feudal-Traditional-Modern-Post Modern-Post Post Modern/Contemporary. Maka setiap level strata itu akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Tetapi menurut saya hal demikian mempunyai sifat dinamis dan tidaklah statis.

Maka marilah kita renungkan. Never Ending To Learn.

Amiiin

32 comments:

  1. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian bijak itu tergantung letak dan dimensi seseorang. Maka seyogyanyalah menjadi bijak pada tempat di mana kita berada. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Karena bijak itu sendiri adalah sikap yang positif meskipun dalam pelaksanaannya berbeda antara barat dan timur.

    ReplyDelete
  2. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dari perkuliahan saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengenai bijaksana. Bijaksana orang barat adalah ketika dia bisa menemukan. Menemukan sesuatu bagi orang barat itu sudah bisa dikatakan memberikan kebijaksanaan dalam dirinya, karena itulah pola pikir mereka selalu ke depan. Sedangkan orang Timur dikatakan bijaksana ketika dia bisa memberi.
    Dan di dalam tulisan diatas dijelaskan lebih lagi mengenai bijak itu sendiri.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Menjadi bijak yaitu dengan melihat semua masalah menggunakan hati dan bukan dengan pikiran saja. Orang bijak akan bertindak sesuai dengan kebenaran. Hal yang ia ucapkan, pikirkan semata-mata untuk kebaikan. Suatu pengetahuan harus disempurnakan dengan kebesaran hati agar selalu bisa mengambil keputusan dengan benar dan menentukan sikap dengan bijak.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bijak adalah suatu perilaku yang harus dilakukan. Terkadang kita seolah-olah hidup di persimpangan. Berfilsafat mengajarkan manusia untuk bersikap bijaksana sesuai ruang dan waktunya. Tidak mudah untuk menjadi orang yang bijak. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia menuju suatu kedewasaan, semoga kita dapat menggapai bijak.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Bijak merupakan sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia. Manusia bijak adalah manusia yang mampu melakukan segala sesuatu dengan tepat dan sesuai dengan kondisinya. Namun, bijak diartikan berbeda oleh filsafat Barat dan filsafat Timur. Menurut filsafat Barat, bijak kegiatan yang dilakukan. Filsafat Timur mengartikan bijak adalah sebutan untuk orang yang sudah mampu memeberi atau bijak itu terikat dengan strata sosial.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Bijak berkorelasi dengan etik dan estetika. Bijak menurut para filsuf ialah kegiatan ketika mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintesis inilah yang dimaksudkan bijak dalam epistemologi atau pengetahuan. Sikap bijak dibutuhkan oleh semua orang dalam mengambil keputusan, tidak terkecuali oleh guru, guru harus bijak dalam mengajar tidak boleh membeda-bedakan perlakuan terhadap yang pintar dan yang kurang pintar. Guru harus bijak dalam mendidik yang kurang pintar untuk dapat meningkatkan prestasinya.

    ReplyDelete
  7. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A

    Dari elegi yang Bapak uraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa bijak merupakan korelasi antara etik dan estetika. Dengan bijak dapat menjadikan seseorang bermartabat. Karena dapat mengkondisikan sesuatu sesuai dengan ruang dan waktu. Karena dengan bijak pula kita bisa menghargai orang lain dan mencoba memahami sikap tertentu dari apa yang orang tersebut lakukan. Dengan memiliki kemauan belajar dan mengambil nilai-nilai positif menghadapi persoalan-persoalan dalam hidup membuat kita lebih bijak dan memaknai hidup ini.

    ReplyDelete
  8. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebenarnya yang bisa mengatakan bijak itu adalah oranglain. orang lain itu sifat, manusianya juga sifat. Maka bijak itu relatif tergantung ruang dan waktu. Bijak menurut bangsa barat adalah menuntut ilmu walaupun sudah di masa tua, orang tua yang masih ingin belajar dikatakan bijak. Sedangkan bangsa timur menganggap bijak itu ketika dapat memberi kepada orang lain, yang paling banyak memberi dikatakan bijak, walaupun merupakan hasil korupsi. Memang karena manusia itu sifat, jadi pandangan mengenai bijak pun juga bermacam-macam. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sekali lagi, terimakasih. Sekali lagi, lewat postingan ini saya semakin menyadari betapa pentingnya pemahaman ruang dan waktu. Pada postingan ini mengupas hakikat "bijak". Benar saja, semuanya tidak terlepas dari pemahaman ruang dan waktu. Dijelaskan bahwa hakikat bijak di Timur berbeda dengan hakikat bijak di barat. Jadi saya sangat setuju dengan statement bapak bahwa "Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur". Jika diputar porosnya, berjalan melihat pada tataran yang lebih tinggi, terlihat pula bahwa "bijak" atau segala hal yang ada dan yang mungkin ada benar-benar tergantung pada pemahaman ruang dan waktu. "HAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM"

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Yeah! Never Ending To Learn, everywhere and anytime  belajarlah sampai akhir hayat dan jangan sia-siakan waktu luangmu~
    Berdasarkan “Elegi Menggapai Bijak” pelajaran yang dapat saya ambil bahwa berpikiran bijak itu dinamis. Setiap level strata akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Menurut diri kita, kita sudah bersikap bijak, tapi belum tentu orang lain menganggapnya seperti itu.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Bijak menurut saya adalah dapat menempatkan diri dengan benar sesuai dengan ruang dan waktu. Bagaimana ia menempatkan diri dalam ruang dan waktu tertentu dapat memberikan gambaran tentang sikap, etik, estetika dan pikirannya. Semoga dengan belajar dan terus belajar membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijak. Amin.

    ReplyDelete
  12. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seseorang dapat dikatakan bijak apabila ia mampu menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempanya, sesuai dengan ruang dan waktu. Ketika seorang anak kecil bertanya mengapa sesuatu jatuh dari atas ke bawah maka kurang bijak jika kita menjawab sebagaimana seorang professor menjawab pertanyaan mahasiswanya. Ketika kita menasehati seorang anak maka tidaklah bijak apabila kita menasehatinya sebagaimana kita menasehatinya sebagaimana kita menasehati orang dewasa. Maka bijak itu harus melihat keadaan, harus melihat situasi dan kondisi, harus melihat subjek dan objek. Maka bijak itu harus fleksibel menyesuaikan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  13. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Bijak merupakan kemampuan untuk menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu. Bijak dapat dilihat dari bagaimana sikap, etika, estetika, dan pikiran seseorang mengenai apapun. Bersikap bijak dibutuhkan dalam kegiatan sosial bermasyarakat. Namun mesti diingat juga bahwa bijak memiliki tesis dan antitesis dari setiap orang, maka belajar adalah hal yang sangat diperlukan dalam memupuk bijak agar mampu menempatkan bijak itu dalam ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Setiap level strata itu akan memberikan definisi etika, estetika, kebenaran dan kebijakan yang berbeda-beda. Hal ini memang benar adanya karena bijak bagi seseorang belum tentu bijak bagi yang lain. Seperti wacana kebijakan full day school yang dicanangkan baru-baru ini. Kebijakan ini dirasa kurang pas diterapkan di seluruh daerah di Indonesia karena keadaan masyarakat di seluruh penjuru NKRI berbeda-beda. Tidak semua anak berasal dari ekonomi menengah ke atas. Tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan mudah, bayangkan anak yang jarak rumahnya ke sekolah 2 jam, mereka harus berangkat ke sekolah selepas subuh dan sampai di rumah lagi menjelang maghrib. Ini hanya sebagian kecil contoh dari kebijakan yang daya rasa apabila diterapkan tidak akan bijak bagi semua pihak. Oleh karena itu, dalam hidup kita memang bijak yang dilakukan harus sesuai dimensi dan levelnya.

    ReplyDelete
  15. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi Menggapai Bijak. Untuk menggapai bijak memiliki definisi dan cara yang berbeda. Bangsa barat menganggap kita akan bisa menggapai bijak ketika bisa memiliki pengetahuan-pengetahuan dan ilmu, sedangkan bangsa timur menganggap menggapai bijak artinya bisa menempatkan diri sesuai pada tempatnya.

    ReplyDelete
  16. Oleh karena itu marilah senantiasa kita meningkatkan pikiran kita dengan pengetahuan, ilmu dan pengalaman. Kita juga tidak boleh meninggalkan dimensi dengan tetap sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  17. Tanggapan untuk Elegi Menggapai Bijak
    Oleh Marsigit, 20 September 2010

    Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Tema yang berat untuk ditanggapi. Tapi apa tah yang tidak berat jika dipandang dari sisi filsafat? Dan sekaligus apa tah yang terlalu berat untuk dipandang dalam filsafat? Setiap orang yang berpikir, mencari, mencoba memahami dan menyelami kedalaman kehidupan, bagi saya dia adalah orang yang hendak menggapai bijak. Hidup yang terus mencari, mempertanyakan lagi apa yang dipikirkan, dirasakan, dilihat, dilakukan, merasa paham namun bertanya lagi apakah benar apa yang aku pahami. Sebuah perjalanan yang tak kan pernah usai selama usia. Yang ada ialah menyelam semakin dalam, menemukan hal hal yang semakin kompleks, melihat semakin luas…

    Tentang perbedaan pandangan filsafat barat dan timur, ini menarik. Jika filsafat barat itu menyatakan bahwa bijak itu kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan sesuatu yang baru, itu sama juga artinya dengan filsafat jawa… (yang ada di timur) seperti ilmu padi… makin berisi makin merunduk. Dalam kisah pewayangan, mereka yang bijak adalah mereka yang berisi, yang merunduk. Yang juga punya kuasa. Seringkali ditemukan, kata-kata para ‘penguasa’ dianggap kebenaran, kebijakan, padahal belum tentu demikian.

    Bagiku, bijak itu sederhana saja, bijak itu hasil dari kedalaman pencarian jiwa terhadap hakikat kehidupan. Saat ini masih dangkal saja pencapaianku pada ‘bijak’. Yang semoga menyeretku untuk semakin dalam merefleksikan hidup menggapai bijak.

    ReplyDelete
  18. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Seseorang dapat memiliki pemahaman yang berbeda tentang bijak, contohnya saja apabila di barat bijak sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru. Sedangkan di timur bijak jika mampu memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Pemahaman tentang bijak di timur dan di barat tentang pemahaman atau kesadaran ruang dan waktu. Apabila seseorang telah menyadari ruang dan waktunya dirinya dan orang lain, maka dalam mencapai bijak yang berbeda pada setiap orang tidak akan menjadi sesuatu yang bermasalah, bahkan hal tersbut akan menjadi toleransi untuk mencapai bijak secara bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain.

    ReplyDelete
  19. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Berdasarkan tulisan dengan judul “Elegi Menggaai Bijak”, dapat dikatakan bahwa bijak memiliki keterkaitan yang sangat penting dengan etik dan estetika dalam dimensi ruang dan waktu. Bijak dapat membuat seseorang terangkat harkat dan martabatnya menjadi lebih baik. Selain itu, apabila kita dapat menerapkan bijak pada ruang dan waktu yang tepat maka orang lain tidak akan segan menghargai kita karena kita juga menghargai mereka. Orang akan dihargai apabila ia menghargai orang lain. Dengan demikian, semoga kita termasuk orang yang bijak pada dimensi ruang dan waktu. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  20. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Segala sesuatu itu ternyata memang benar bergantung dengan ruang dan waktunya. Seperti pembahasan dalam elegi di atas yaitu bijak. Bijak itu relatif tergantung dengan ruang dan waktunya. Di barat seseorang dikatakan bijak jika ia mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan hal yang baru, membuat anti-tesis, atau melakukan sintetis. Sedangkan di timur, seseorang dikatakan bijak jika dia mampu memberi ilmu atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Tetapi menurut saya, bijak ialah ketika seseorang mampu memposisikan dirinya sesuai dengan ruang dan waktunya dan mampu mengambil keputusan dengan tepat baik secara langsung maupun tidak langsung secara adil dan objektif. Oleh karena itu, sebaiknya pun kita mempunyai sifat bijak ini dan mampu mengaplikasikannya di kehidupan.

    ReplyDelete
  21. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Bijak itu relatif, tergantung ruang dan waktu. Bijak menurut A belum tentu bijak menurut B. Tergantung cara pandang setiap orang. Menurut saya, bijak adalah ketika seseorang mampu dalam mengambil keputusan sesuai ruang dan waktu. Contoh pada elegi menggapai bijak di atas, menurut filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka bijak itu adalah epistemologi. Sedangkan di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Karena cara berfikir/olah fikir setiap orang berbeda. Jadi, mari kita belajar untuk menggapai bijak sebaik mungkin, dengan memahami ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  22. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai bijak memberitahukan kepada saya sebagai pembaca bahwa bijak adalah memahami ruang dan waktu. Saya menyoroti statement Pak Marsigit tentang salah satu hadits "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu. Saya menjadi lebih menyadari tentang betapa bermaknanya kandungan hadits ini dan patutnya kita sebagai umat Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam merefleksikan sabda Rasullullah dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika filsafat saja yang notabene adalah ilmu olah pikir yang tinggi dan berada di bawah tingkat spiritualisme telah mengungkapkannya, lalu adakah alasan lagi bagi kita untuk menolak sabda-sabdanya?

    ReplyDelete
  23. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Dari tulisan pada elegi kali ini saya mendapatkan kesimpulan bahwa Bijak itu relatif, tergantung ruang dan waktu, tergantung persepsi dari tiap-tiap kelompok dan individu. bijak menurut kita belum tentu bijak menurut anti tesis nya. dan bijak juga bisa berhubungan dengan kuasa. bijak yang selama ini saya pahami adalah, pandai menyikapi keadaan dan situasi dalam hidup dengan baik, dan bijak biasanya di refleksikan dengan tulisan maupun tutur kata.

    ReplyDelete
  24. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Ternyata satu kata “bijak” tersebut memiliki banyak makna. Satu kata “bijak” dapat dipandang dari berbagai macam sudut pandang menggunakan kacamata yang berbeda-beda pula. Sehingga dalam memaknai bijak harus disesuaikan dengan ruang dan waktunya, bijak dalam konteks apa yang dibicarakan. Semua ini menyadarkan saya bahwa pentingnya belajar filsafat. Belajar bagaimana menempatkan sesuatu sesuai dengan ruang dan waktunya sehingga tidak dianggap menyimpang dan bisa menyesuaikan dengan segala hal yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  25. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Bijak itu relatif. Bijak menurutmu belum tentu bijak menurutku, begitupun sebaliknya. Bijak itu hasil refleksi pribadi. Melakukan refleksi diri adalah upaya untuk sedikit demi sedikit menggapai bijak. Proses ini tak akan pernah berhenti, karena jika semua hal terkait ruang dan waktu,maka bijak di masa sekarang akan berbeda dengan bijak di masa yang akan datang. Maka proses menggapai bijak tak kan pernah berhenti sebab saat aku mencoba menggapai bijak di saat ini, bijak pun telah berubah dan membuatku kembali berproses menggapai bijak di saat yang lain.

    ReplyDelete
  26. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    “Bijak” sebuat kata sederhana namun memberikan efek luar biasa bagi lingkungannya. Sebelumnya kami memahami bahwa bijak merupakan sikap yang diambil seseorang dan disesuaikan dengan keadaan tidak memihak, lebih dari itu dari tulisan diatas kami belajar, sikap bijak seseorang harus disesuaikan level kehidupan serta ruang dan waktunya, hal itu menjadi penting agar makna dari sikap bijak dapat dirasakan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  27. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Bijak memiliki pengertian yang berbeda-beda dari setiap orang, mungkin bisa dikatakan bijak itu relatif, karena bijak menurut ku belum tentu bijak menurut dia. Karena itu, takaran bijak berbeda-beda, tergantung siapa yang memandang dan siapa yang dikenai. Orang dikenai atau dikatakan bijak biasanya orang tersebut memiliki kualitas hidup yang lebih baik dari orang yang memandangnya dan juga memiliki intelektual yang lebih. Bijak bisa saja berkaitan dengan etik dan estetika. Dan setiap obyek dan subyek memiliki etik dan estetika yang berbeda. Maka sebaik-baik bijak adalah bijak terhadap dimensi ruang dan waktu. Karena jika paham terhadap dimensi ruang dan waktu, itulah sebenar-benar etik dan estetika.

    ReplyDelete
  28. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ilmu yang sudah diberikan. Saya baru tahu bahwa seseorang dikatakan bijak jika paham akan ruang dan waktunya. Saat ini yang dapat saya lakukan adalah selalu berupaya untuk memahami kedua hal tersebut. Ini merupakan hal yang cukup sulit namun bukan berarti saya tidak mampu melakukannya. Terus berusaha menempatkan diri pada situasi dan kondisi serta menanamkan kemauan untuk terus tumbuh dan bergerak adalah cara-cara yang sudah saya lakukan sejauh ini. Semoga saya dapat meningkatkan sikap bijak pada tingkatan yang lainnya.

    ReplyDelete
  29. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit dari ulasan diatas saya menjadi tahu bahwa bijak dan kebijakan haruslah ditempatkan pada ruang dan waktu yang sesuai. Seperti yang saya alami beberapa pekan setelah mendapatkan perkuliahan filsafat dan harus membuat komen sebagai bukti saya belajar, saya harus bijak akan takdir dan keputusan yang bapak buat namun saya salut akan kebijakan yang bapak karena pasti dengan tujuan dan manfaat bagi para mahasiswa. Bijak itu relatif, bagoi saya bijak namun mungkin orang lain yang melihatnya itu bukanlah bijak. Bagi saya kebijakan itu sudah sesuai namun mungkin bagi orang lain belum sesuai dan tepat. Jadi semuanya bersifat relatif dan tergantung setiap perspektif masing-masing orang. Semoga kita mampu selalu berjalan dalam hidup dengan sikap yang bijak, dan mampu membuat kebijakan yang tepat sesuai konteks, ruang dan waktunya. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  30. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya bijak itu termasuk faktor yang mempengaruhi prosfesionalitas seseorang. Orang yang bijak pasti telah mempunyai banyak pengalaman dalam menghadapi permasalahan. Ia tahu kapan dan dimana harus berbuat atau melakukan sesuatu. Ia sangat mengerti dalam menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktunya. Jadi faktor utama penentu bijaknya sesorang itu adalah “pengalaman”. Namun pengalaman saja tidak cukup, perlu diimbangi dengan ilmu pengetahuan, seperti sering membaca buku, memahami ilmu agama, mengikuti seminar-seminar, dan lain-lain. Semakin berjalannya waktu, manusia juga akan semakin bijak. Semakin bertambah usia, manusia semakin mampu mengontrol ego atau emosinya. kemampuan memutuskan suatu persoalanpun menjadi semakin baik, seiring pula dengan meningkatnya daya berpikir kritis dan daya inovatifnya.

    ReplyDelete
  31. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Filsafat adalah ilmu yang memiliki makna etimologi “mencintai kebijaksanaan”. Sehingga tujuan utama dalam belajar filsafat adalah untuk menjadi insan yang bijaksana (kritis dan analitis). Belajar filsafat berarti belajar mencintai kehidupan. Menjadi bijak adalah suatu keniscayaan hidup. Sebab kebijaksanaan lah yang menciptakan keteraturan yang harmoni.

    ReplyDelete
  32. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Apa pun yang hendak dikerjakan haruslah sesuai dengan ruang dan waktu. "Berprilaku bijak juga harus sesuai ruang dan waktu". Ini lah yang saya dapat dari elegi menggapai bijak. Dimana disetiap tempat atau daerah mereka mempunyai arti tersendiri mengenai berprilaku bijak itu seperti apa. Maka dari itu kita harus berprilaku bijak sesuai dengan ruang dan waktu, ketika kita bijak disuatu tempat, belum tentu ditempat lain dikatakn bijak, karena berbeda tempat berbeda pula memaknai arti bijak tersebut.

    ReplyDelete