Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bijak

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah tanggapan dari Bapak Wahyudi tentang "bijak":

Assalamu 'alaikum wr. wb. saya setuju dengan Bapak bahwa dimensi yang berbeda sering mengakibatkan kesalahfahamn. yang harus dilakukan adalah. pihak yang sadar bahwa dimensinya rendah memfollow up kesadarannya dengan belajar...belajar dan belajar...membaca....membaca dan terus membaca. tapi bagi pihak yang berdimensi lebih tinggi seyogyanya bersikap bijak. seperti sikap yang ditampakkan oleh yang berilmu+bijak dalam elegi menggapai dimensi. salah satu sikap bijak orang yang berdimensi tinggi adala KHAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual) mereka(Al Hadist. Wallahu 'alam. terimakasih pak.



Sementara jawaban/tanggapan saya (Marsigit) adalah:

Ass..Pak Wahyudi.."bijak" itulah yang menjadi ultimate dari semua para filsuf untuk menggapainya. Tetapi ketahuilah bahwa Socrates itu dianggap orang yang paling tidak bijak oleh masyarakatnya pada jamannya. Plato dianggap sangat tidak bijak oleh Aristoteles. Descartes dianggap tidak bijak oleh David Hume. Dst...Maka tesis itu sebenar-benarnya adalah tidak bijak bagi anti-tesisnya, demikian pula sebaliknya.

Pandangan tentang "bijak" dari kaca mata Filsafat Barat dan Filsafat Timur itu berbeda. Apalagi jika disorot dari kaca mata berbagai Teologi Agama.

Filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka di sini bijak itu adalah epistemologi. Thus, bijak itu adalah filsafat itu sendiri.

Di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Strata itu berelasi dengan "kuasa". Maka "bijak" di Timur itu kenthal dengan nuansa atau merupakan aspek dari unsur kekuasaan. Kuasa di Timur, itu berelasi dengan Kerajaan-kerajaan. Maka itulah faktanya bahwa sejarah Timur itu diturunkan oleh Kerajaan-kerajaan.

Dalam Filsafat, "kuasa" itu berelasi dengan hubungan subyek-obyek. Maka "bijak" dan "kuasa" itu berelasi dengan "determinism". Dimana, di dalam konteks Timur, ketika ada usaha-usaha berpikir filsafat ala Barat, seperti yang kita lakukan, yaitu membongkar konteks "bijak" dan "kuasa" dalam determinisme, maka para obyek kuasa mempunyai euphoria untuk membongkar karakter subyek kuasa.

Jangan dilupakan bahwa "kuasa" di sini dalam arti luas seluas-luasnya, dalam sedalam-dalamnya. Mahasiswa senior itu kuasa terhadap mahasiswa yunior. Guru itu kuasa terhadap muridnya. Baju baru itu kuasa terhadap baju tidak baru..dst. Dosen juga kuasa terhadap mahasiswanya. Itulah pentingnya pemahaman Ruang dan Waktu. Maka sebenar-benar bijak, baik di Barat maupun di Timur adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu. Di sini maka semua subyek dan semua obyek dan semua predikat akan terkena aturannya. Jadi bijak itu tidak hanya untuk dosen saja, tetapi juga untuk mahasiswa. Tidak hanya untuk guru saja tetapi juga untuk siswa, dst...Dosen atau guru itu perlu paham ruang dan waktunya. Demikian pula mahasiswa atau murid. "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu.

Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur. Jika diteruskan maka tidak cukup sampai di sini, karena baik filsafat Barat maupun Timur itu juga meliputi Etik dan Estetika. Maka "bijak" itu juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika. Nah, etik dan estetika nya subyek dan obyek itu berbeda. Jadi Etik dan estetikanya Dosen dan Mahasiswa itu juga bisa berbeda.

Tetapi jangan salah paham, karena etikanya seseorang itu ternyata juga anti-tesisnya dari etika nya orang lain. Thus dengan demikian perbedaan adat istiadat juga akan membawa etik dan estetika yang berbeda. Ketika filsafat berusaha membongkar aspek monolothik dari suatu keutuhan primordial, maka konsep etik dan estetika itu menjadi tercerai berai. Maka disinilah kita perlu mengembangkan pemahaman ruang dan waktu. Jadi paham ruang dan waktu itu ternyata juga etik dan estetika.

Pusat-pusat monolithik dan primordialisme pengembangan etik dan estetika itu meliputi Filsafat, Agama atau pusat-pusat Kekuasaan/Negara/Kerajaan. Di daerah atau masyarakan di mana jauh dari pusat-pusat pengembangan seperti itu (adhoh Ratu) maka Etik dan Estetika dikembangkan dalam ranah komunikasi horizontal dan merefer kepada unsur-unsur kontekstual lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Maka ingatlah kembali uraian saya tentang strata dan tingkatan masyarakat yang dibuat menurut kriteria "Power Now" atau "Pragmatis/Utilitarian/Kapitalis/Hedonism". dari tataran yang paling rendah menuju tataran tinggi: Archaic-Tribal-Feudal-Traditional-Modern-Post Modern-Post Post Modern/Contemporary. Maka setiap level strata itu akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Tetapi menurut saya hal demikian mempunyai sifat dinamis dan tidaklah statis.

Maka marilah kita renungkan. Never Ending To Learn.

Amiiin

40 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam memahami arti bijak, ternyata bijak dapat dipahami berbeda oleh berbagai pihak. Karena pihak yang satu dengan pihak yang lain memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa itu bijak, maka bijaknya seseorang belum tentu sama dengan bijaknya orang yang lain. Secara umum, hal ini juga berlaku manakala kita melihat bijak bagi orang barat dan bijak bagi orang timur. Bijaknya orang barat apabila kita terus mencari dan menemukan pengetahuan yang baru. Sementara itu bijaknya orang timur, apabila seseorang yang mampu memberi dan berbagi dengan yang lain. Berbagi apapun sesuai dengan kemampuan dan kuasanya. Maka bijaknya orang timur akan melihat strata sosial yang dimiliki seseorang. Seseorang dapat dikatakan bijak apabila orang kaya dapat berbagi dengan orang miskin, orang berilmu dapat berbagi dengan orang yang kurang berilmu, dan lain-lain.

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Bijak itu relatif terhadap ruang dan waktu. Bijak itu beda menurut sudut pandang tokoh. Bijak itu juga merupakan level tingkatan berpikir seseorang dalam menyikapi hidup. Sebenar-benar bijak ialah bagian dari etika dan estetika dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  3. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Elegi ini membawa kita untuk memhamai hakikat bijak. Bijak masih menjadi pandangan luas sehingga antara filsafat Barat dan filsafat Timur memiliki pandangan yang berbeda. Bijak itu adalah relatif tergantung ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Bijak merupakan sifat yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang. Arti bijak itu relatif, tergantung bagaimana sudut pandangnya. Bijak bisa diartikan sebagai korelasi antara Etik dan Estetika. Menurut filsafat Barat, bijak dipandang sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti tesis, dan melakukan sintesis. Kemudian menurut filsafat Timur, dikatakan bijak jika mampu memberi.

    ReplyDelete
  5. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Saya tertarik dengan kalimat “serulah manusia sesuai dengan kapasitas akal (intelektual)” itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu. Saya setuju dengan hal ini, bahwa bijak dapat diartikan sebagai kesadaran ruang dan waktu. Seseorang yang bijak berarti dia dapat bersikap sesuai dengan lingkungannya, sesuai lawan bicara atau lawan perannya, sesuai keadaan kondisi dan situasi, sesuai dengan porsi yang telah ditentukan. Pada elegi diatas juga disebutkan bahwa ‘bijak itu berkorelasi dengan etik dan estetika. Kesesuaian-kesesuaian yang telah saya sebutkan sebelumnya tentunya juga sesuai dengan etik dan estetika kelompok orang tersebut. karena sifat dan kelompok / strata dari sekumpulan orang berbeda-beda, maka kebijakan yang dibuat akan berbeda-beda pula, sesuai dengan kesadaran ruang dan waktu masing-masing.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    bijak suatu tingkatan dalam daftar sifat yang menurut saya mempunyai kedudukan yang tinggi. karena bagi saya seseorang dikatakan bijak tentu sudah banyak memiliki pengalaman hidup. sebagaimana yang kita ketahui bahwa tingkatan biak sering dimiliki oleh orang-orang yang mampu belajar dari pengalamannya.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Bijak yang diartikan oleh setiap individu bernbedda- beda ini. Dalam setiap individu juga akan mengalami perubahan (dinamis)
    Hal ini disebabkan berkembangnya individu itu sendiri. Sehingga pola pikirnya pun berubah dalam memahami sesuatu.
    Sama halnya dengan bijak yang dimaksudkan akan mengalami perubahan makna seiring berkembang dan majunya seorang individu.

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini saya mendapatkan pengetahuan yaitu "paham ruang dan waktu ternyata juga merupakaan etik dan estetika". Selain itu pada etik dan estetika juga berkaitan dengan bijak. Jadi dapat kita simpulkan bahwa bijak dapat diartikan paham akan ruang dan waktu. Oleh karena itu elegi ini dapat mengajarkan kita dimana harus memahami sikap, etik, dan estetika kita tentang bijak karena hal tersebut dapat menunjukkan posisi kita di level yang mana.

    ReplyDelete
  9. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Dari elegi ini saya merefleksikan bahwa bijak itu reltif tergantung pada ruang dan waktunya. Bijak dalam budaya timur berbeda dengan bijak budaya barat. Bijak pada tahun ini bisa jadi menjadi berbeda dengan bijak pada 10 tahun lalu.

    ReplyDelete
  10. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016 (S2)
    Tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian). Oleh karena itu, dengan berfilsafat, seseorang akan lebih menjadi manusia, karena terus melakukan perenungan akan menganalisa hakikat jasmani dan hakikat rohani manusia dalam kehidupan di dunia agar bertindak bijaksana. Dengan berfilsafat seseorang dapat memaknai makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun sosial. Kebiasaan menganalisis segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan objektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraih kualitas, keunggulan dan kebahagiaan hidup.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Pandangan tentang bijak berbeda sesuai dengan ruang dan waktunya. Di Barat, bijak berarti kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Sedangkan di Timur, bijak berarti mampu memberi. Namun, memberi itu juga tergantung kuasa yang dipunyai oleh seseorang. Untuk orang yang berilmu, bijak berarti dia bisa membagikan ilmunya sehingga bermanfaat bagi orang lain. Untuk orang yang memiliki uang, bijak berarti dia mampu memberi sedikit dari uangnya untuk membantu orang lain. Maka, seperti yang tertulis dalam elegi, aspek bijak berbeda untuk setiap strata yang ada.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Orang bijak adalah orang yang bisa MENERIMA, MENJALANI dan MEMULIAKAN hidup, namun sekarang yang menjadi pertanyaannya bagaimana membangun diri menjadi orang yang bijaksana..??. Paham akan ruang dan waktu ternyata adalah senjata yang sangat penting. Bahkan makna dari kata bijak itu sendiri sesuai dengan ruang dan waktu dimana dia berasa. Maka untuk menjadi bijak, jadilah sebaik-baiknya manusia yang mendekatkan diri kepada Allah, serta terus mengasah keterampilan memahami ruang dan waktu, berpikir kritis secara intensif dan ekstensif untuk selalu berusaha menggapai logos.

    ReplyDelete
  13. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Elegi ini memperlihatkan bahwa bijak pada filsafat barat berbeda dengan bijak pada filsafat timur. Dimana bijak menurut filsafat barat berarti kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka di sini bijak itu adalah epistemologi. Sementara menurut filsafat timur, bijak berarti memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Selain itu, bijak juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika. Etik dan estetika subyek dan obyek itu berbeda, sehingga perlu dikembangkan pemahaman ruang dan waktu. karena paham ruang dan waktu juga merupakan etik dan estetika.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Orang yang bijak memiliki pengetahuan dan pengalaman. Sehingga ia dapat merasakan dan mengetahui dampak dari suatu perbuatan sehingga akan sadar bagaimana harus meletakkan etika dan estetika sesuai dengan ruang waktu. Tidaklah mudah menggapai bijak. Oleh karena itu teruslah membaca untuk memperluas pengetahuan serta lakukan banyak pengalaman jika masih memiliki kesempatan untuk melakukannya.

    ReplyDelete
  15. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya bijak adalah pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan memperhatikan situasi dan kondisi. Bijak itu tergantung situasi dan kondisi, benar disuatu tempat belum tentu benar ditempat lain, hal yang bisa dikerjakan disutau tempat belum tentu bisa dikerjakan ditempat lain. Sehingga di dalam hidup ini berlaku bijaklah, jangan cuma mengandalkan kepintaran.

    ReplyDelete
  16. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    bijak adalah salah satu sifat yang memperhatikan situasi dan etika salah satunya. maka harapannya adalah, setiap orang memiliki sifat ini. agar terjadi perdamaian di setiap kehidupan tanpa adanya kesombongan dan keegoisan.

    ReplyDelete
  17. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Arti kata bijak itu tergantung dari dimensinya. Mungkin kesalahan dari dimensi yang lebih tinggi akan diartikan sebagai kebijakan untuk dimensi yang lebih rendah. Bijak juga dapat diartikan sebagia etika dan estetika. Jadi bijak itu dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Dapat seseorang menggap bijak itu kesalahan atau hal-hal yang beretika dan berestetika tinggi.

    ReplyDelete
  18. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah.....
    Yang saya tangkap dari uraian diatas, mungkin dapat disimpulkan bahwa bijak itu relative, bijak dapat berkembang, bijak adalah paham ruang dan waktu dan disesuaikan dengan keadaan sekitarnya. Seseorang yang bijak adalah dia yang dapat mengambil keputusan sesuai dengan keadaan di sekitarnya dan ruang dan waktunya. Keputusan yang bijak merupakan keputusan yang terbaik. Namun, tidak semua orang mampu memutuskan hal demikian. Karena memang manusia merupakan makhluk yang sempurna di dalam ketikdaksempurnaan. Kebijaksanaan tidak akan langsung tertanam dalam diri manusia. Tetapi membutuhkan sebuah pengalaman yang berharga, maksudnya adalah orang yang mampu memahami arti sebuah pengalaman, dia lah yang akan mampu memetik manfaatnya. Bijak juga tidak hanya memandang dari satu sisi, tetapi dia dapat memandang dari segala sisi.

    ReplyDelete
  19. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Bijak menurut ruang dan waktunya merupakan suatu hal yang relatif. Bijak menurut orang yang satu dengan yang lainnya tentu akan berbeda – beda. Bijak menggambarkan suatu hal berdasarkan kriteria tertentu, dan kriteria bijak menurut orang yang satu dengan yang lainnya berbeda. Maka bijak juga dapat dikaitkan dengan ilmu yang dimiliki seseorang. Seberapa sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan itulah ukuran kebijakan seseorang menurut orang tertentu. Menurut orang lain tentunya akan berbeda pula.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terimakasih kepada Bapak Marsigit yang telah memberikan uraian mengenai bijak, bijak dilihat dari berbagai sudut pandang. Sehingga membuat saya belajar mengenai arti bijak sesungguhnya.

    ReplyDelete
  22. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Bijak memiliki arti tergantung dimensinya. Orang bijak pasti telah merasakan dan memiliki pengalaman . sehingga menjadi orang bijak memang tidak mudah. jangan menjadi sok bijak adalah patut untuk di ingat. terimakasih Bapak melalui artikel di atas saya dapat mengetahui lebih tentang apa itu bijak.

    ReplyDelete
  23. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Bijak dapat juga diartikan sebagai dapat menempatkan diri sesuai ruang dan waktunya. Bijak berhubungan dengan prinsip. Antara orang barat dan orang timur tentunya mempunyai definisi bijak dan prinsip masing-masing. Tentang prinsip, orang barat lebih cenderung kepada bagaimana mencari, sedangkan prinsip orang timur adalah bagaimana memberi. Bijak juga dapat menjadi suatu cerminan sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu yang ia lihat berdasarkan apa yang ada di pikirannya secara tepat dalam situasi dan kondisi seperti apapun dan bersifat objektif serta mampu mengambil makna/pelajaran penting dari apa yang dilakukannya. dengan kata lain orang bijak adalah orang yang mampu mengambil keputusan dengan tepat baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa memihak secara adil dan objektif

    ReplyDelete
  24. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Saya setuju dengan pernyataan bahwa bijak itu sesuatu yang dinamis bukan lah statis. Dalam kehidupan ini, setiap manusia dituntut untuk bijak baik dalam perbuatannya, keputusannya, pemikirannya, dan sebagainya. Kebijakan itu sendiri dapat diraih tergantung dari apa yang dihadapi.

    ReplyDelete
  25. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Selain tergantung dari apa yang dihadapi atau situasi dan kondisi seseorang, kebijakan juga dapat diraih dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Karena kita tahu bahwa sudut pandang masing-masing individu itu berbeda-beda.

    ReplyDelete
  26. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bijak merupakan salah satu perilaku terpui yang dianjurkan. Hakikat bijak sebenarnya sangatlah luas, tergantung sudut pandang dan kondisi (waktu) seseorang. Bijak menurut pemimpin seorang pemimpin negara akan memiliki arti dengan pemimpin suatu kepala rumah tangga.

    ReplyDelete
  27. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bijak memiliki makna yang berbeda tergantung dimensi, ruang, dan waktunya. Perilaku dan keputusan tentang 'bijak' bisa berbeda antar satu orang dengan yang lainnya. Oleh karena itu, 'bijak' juga menunjukkan posisi seseorang.

    ReplyDelete
  28. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Makna bijak untuk setiap orang berbeda-beda. Tetapi selayaknya bijak untuk contoh yang nyata adalah ketika pemimpin mampu mengayomi bawahannya dan memberikan ruang berpendapat yang sama.

    ReplyDelete
  29. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia selayaknya hidup pasti mengingikan kehidupan yang baik dan benar dengan cara menggapai kebaikan-kebaikan yang ada. salah satunya adalah menggapai bijak ini. Dengan kita dapat bersikap bijak kepada semua orang, orang lain pasti akan menyukai kita dan kita nantinya akan memperoleh teman yang banyak.

    ReplyDelete
  30. Rindang Wijayanto
    14301241028
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bijak menurut pandangan seseorang belum tentu bijak menurut pandangan orang lain. Oleh karena itu kita harus pandai memilih mana yang menurut kita arti bijak yang benar agar kita bisa menjadi orang yang bijak menurut pandangan kita.

    ReplyDelete
  31. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi dinatas adalah bahwa berpikiran bijak itu dinamis. Setiap level strata akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Menurut diri kita, kita sudah bersikap bijak, tapi belum tentu orang lain menganggapnya seperti itu.

    ReplyDelete
  32. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memaknai bijak memang akan berbeda-beda untuk setiap orang. Hal tersebut bergantung dimensi-dimensi yang dimiliki masing-masing orang. Orang yang bijak tentunya sudah memiliki ilmu dan pengalaman yang sangat banyak sehingga orang tersebut mampu disebut bijak oleh orang lain.

    ReplyDelete
  33. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Saya setuju dengan pendapat dari Prof. Marsigit bahwa pada dasarnya manusia tidak pernah berhenti untuk belajar. Setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki seseorang pastilah ada yang lebih tinggi. Pengetahuan yang mutlak dan absolut yaitu milik Tuhan, oleh sebab itu kita sebagai makhluknya hendaknya terus berusaha untuk belajar.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  34. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 pend Matematika A 2014

    Terima kasih kepada Bapak Marsigit, telah berbagi tentang pemahaman hakekat bijak. Bijak pun memiliki banyak sudut pandang berbeda. Bahkan bijak barat dan bijak timur pun berbeda. Saya belajar memahami arti bijak yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  35. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian bijak itu tergantung letak dan dimensi seseorang. Maka seyogyanyalah menjadi bijak pada tempat di mana kita berada. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Karena bijak itu sendiri adalah sikap yang positif meskipun dalam pelaksanaannya berbeda antara barat dan timur.

    ReplyDelete
  36. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dari perkuliahan saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengenai bijaksana. Bijaksana orang barat adalah ketika dia bisa menemukan. Menemukan sesuatu bagi orang barat itu sudah bisa dikatakan memberikan kebijaksanaan dalam dirinya, karena itulah pola pikir mereka selalu ke depan. Sedangkan orang Timur dikatakan bijaksana ketika dia bisa memberi.
    Dan di dalam tulisan diatas dijelaskan lebih lagi mengenai bijak itu sendiri.

    ReplyDelete
  37. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Menjadi bijak yaitu dengan melihat semua masalah menggunakan hati dan bukan dengan pikiran saja. Orang bijak akan bertindak sesuai dengan kebenaran. Hal yang ia ucapkan, pikirkan semata-mata untuk kebaikan. Suatu pengetahuan harus disempurnakan dengan kebesaran hati agar selalu bisa mengambil keputusan dengan benar dan menentukan sikap dengan bijak.

    ReplyDelete
  38. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bijak adalah suatu perilaku yang harus dilakukan. Terkadang kita seolah-olah hidup di persimpangan. Berfilsafat mengajarkan manusia untuk bersikap bijaksana sesuai ruang dan waktunya. Tidak mudah untuk menjadi orang yang bijak. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia menuju suatu kedewasaan, semoga kita dapat menggapai bijak.

    ReplyDelete
  39. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Bijak merupakan sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia. Manusia bijak adalah manusia yang mampu melakukan segala sesuatu dengan tepat dan sesuai dengan kondisinya. Namun, bijak diartikan berbeda oleh filsafat Barat dan filsafat Timur. Menurut filsafat Barat, bijak kegiatan yang dilakukan. Filsafat Timur mengartikan bijak adalah sebutan untuk orang yang sudah mampu memeberi atau bijak itu terikat dengan strata sosial.

    ReplyDelete
  40. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Bijak berkorelasi dengan etik dan estetika. Bijak menurut para filsuf ialah kegiatan ketika mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintesis inilah yang dimaksudkan bijak dalam epistemologi atau pengetahuan. Sikap bijak dibutuhkan oleh semua orang dalam mengambil keputusan, tidak terkecuali oleh guru, guru harus bijak dalam mengajar tidak boleh membeda-bedakan perlakuan terhadap yang pintar dan yang kurang pintar. Guru harus bijak dalam mendidik yang kurang pintar untuk dapat meningkatkan prestasinya.

    ReplyDelete