Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bijak

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah tanggapan dari Bapak Wahyudi tentang "bijak":

Assalamu 'alaikum wr. wb. saya setuju dengan Bapak bahwa dimensi yang berbeda sering mengakibatkan kesalahfahamn. yang harus dilakukan adalah. pihak yang sadar bahwa dimensinya rendah memfollow up kesadarannya dengan belajar...belajar dan belajar...membaca....membaca dan terus membaca. tapi bagi pihak yang berdimensi lebih tinggi seyogyanya bersikap bijak. seperti sikap yang ditampakkan oleh yang berilmu+bijak dalam elegi menggapai dimensi. salah satu sikap bijak orang yang berdimensi tinggi adala KHAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual) mereka(Al Hadist. Wallahu 'alam. terimakasih pak.



Sementara jawaban/tanggapan saya (Marsigit) adalah:

Ass..Pak Wahyudi.."bijak" itulah yang menjadi ultimate dari semua para filsuf untuk menggapainya. Tetapi ketahuilah bahwa Socrates itu dianggap orang yang paling tidak bijak oleh masyarakatnya pada jamannya. Plato dianggap sangat tidak bijak oleh Aristoteles. Descartes dianggap tidak bijak oleh David Hume. Dst...Maka tesis itu sebenar-benarnya adalah tidak bijak bagi anti-tesisnya, demikian pula sebaliknya.

Pandangan tentang "bijak" dari kaca mata Filsafat Barat dan Filsafat Timur itu berbeda. Apalagi jika disorot dari kaca mata berbagai Teologi Agama.

Filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka di sini bijak itu adalah epistemologi. Thus, bijak itu adalah filsafat itu sendiri.

Di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Strata itu berelasi dengan "kuasa". Maka "bijak" di Timur itu kenthal dengan nuansa atau merupakan aspek dari unsur kekuasaan. Kuasa di Timur, itu berelasi dengan Kerajaan-kerajaan. Maka itulah faktanya bahwa sejarah Timur itu diturunkan oleh Kerajaan-kerajaan.

Dalam Filsafat, "kuasa" itu berelasi dengan hubungan subyek-obyek. Maka "bijak" dan "kuasa" itu berelasi dengan "determinism". Dimana, di dalam konteks Timur, ketika ada usaha-usaha berpikir filsafat ala Barat, seperti yang kita lakukan, yaitu membongkar konteks "bijak" dan "kuasa" dalam determinisme, maka para obyek kuasa mempunyai euphoria untuk membongkar karakter subyek kuasa.

Jangan dilupakan bahwa "kuasa" di sini dalam arti luas seluas-luasnya, dalam sedalam-dalamnya. Mahasiswa senior itu kuasa terhadap mahasiswa yunior. Guru itu kuasa terhadap muridnya. Baju baru itu kuasa terhadap baju tidak baru..dst. Dosen juga kuasa terhadap mahasiswanya. Itulah pentingnya pemahaman Ruang dan Waktu. Maka sebenar-benar bijak, baik di Barat maupun di Timur adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu. Di sini maka semua subyek dan semua obyek dan semua predikat akan terkena aturannya. Jadi bijak itu tidak hanya untuk dosen saja, tetapi juga untuk mahasiswa. Tidak hanya untuk guru saja tetapi juga untuk siswa, dst...Dosen atau guru itu perlu paham ruang dan waktunya. Demikian pula mahasiswa atau murid. "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu.

Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur. Jika diteruskan maka tidak cukup sampai di sini, karena baik filsafat Barat maupun Timur itu juga meliputi Etik dan Estetika. Maka "bijak" itu juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika. Nah, etik dan estetika nya subyek dan obyek itu berbeda. Jadi Etik dan estetikanya Dosen dan Mahasiswa itu juga bisa berbeda.

Tetapi jangan salah paham, karena etikanya seseorang itu ternyata juga anti-tesisnya dari etika nya orang lain. Thus dengan demikian perbedaan adat istiadat juga akan membawa etik dan estetika yang berbeda. Ketika filsafat berusaha membongkar aspek monolothik dari suatu keutuhan primordial, maka konsep etik dan estetika itu menjadi tercerai berai. Maka disinilah kita perlu mengembangkan pemahaman ruang dan waktu. Jadi paham ruang dan waktu itu ternyata juga etik dan estetika.

Pusat-pusat monolithik dan primordialisme pengembangan etik dan estetika itu meliputi Filsafat, Agama atau pusat-pusat Kekuasaan/Negara/Kerajaan. Di daerah atau masyarakan di mana jauh dari pusat-pusat pengembangan seperti itu (adhoh Ratu) maka Etik dan Estetika dikembangkan dalam ranah komunikasi horizontal dan merefer kepada unsur-unsur kontekstual lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Maka ingatlah kembali uraian saya tentang strata dan tingkatan masyarakat yang dibuat menurut kriteria "Power Now" atau "Pragmatis/Utilitarian/Kapitalis/Hedonism". dari tataran yang paling rendah menuju tataran tinggi: Archaic-Tribal-Feudal-Traditional-Modern-Post Modern-Post Post Modern/Contemporary. Maka setiap level strata itu akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Tetapi menurut saya hal demikian mempunyai sifat dinamis dan tidaklah statis.

Maka marilah kita renungkan. Never Ending To Learn.

Amiiin

69 comments:

  1. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terimakasih kepada Bapak Marsigit yang telah memberikan uraian mengenai bijak, bijak dilihat dari berbagai sudut pandang. Sehingga membuat saya belajar mengenai arti bijak sesungguhnya.

    ReplyDelete
  2. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Bijak memiliki arti tergantung dimensinya. Orang bijak pasti telah merasakan dan memiliki pengalaman . sehingga menjadi orang bijak memang tidak mudah. jangan menjadi sok bijak adalah patut untuk di ingat. terimakasih Bapak melalui artikel di atas saya dapat mengetahui lebih tentang apa itu bijak.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Bijak dapat juga diartikan sebagai dapat menempatkan diri sesuai ruang dan waktunya. Bijak berhubungan dengan prinsip. Antara orang barat dan orang timur tentunya mempunyai definisi bijak dan prinsip masing-masing. Tentang prinsip, orang barat lebih cenderung kepada bagaimana mencari, sedangkan prinsip orang timur adalah bagaimana memberi. Bijak juga dapat menjadi suatu cerminan sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu yang ia lihat berdasarkan apa yang ada di pikirannya secara tepat dalam situasi dan kondisi seperti apapun dan bersifat objektif serta mampu mengambil makna/pelajaran penting dari apa yang dilakukannya. dengan kata lain orang bijak adalah orang yang mampu mengambil keputusan dengan tepat baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa memihak secara adil dan objektif

    ReplyDelete
  4. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian bijak itu tergantung letak dan dimensi seseorang. Maka seyogyanyalah menjadi bijak pada tempat di mana kita berada. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Karena bijak itu sendiri adalah sikap yang positif meskipun dalam pelaksanaannya berbeda antara barat dan timur.

    ReplyDelete
  5. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Dari perkuliahan saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan mengenai bijaksana. Bijaksana orang barat adalah ketika dia bisa menemukan. Menemukan sesuatu bagi orang barat itu sudah bisa dikatakan memberikan kebijaksanaan dalam dirinya, karena itulah pola pikir mereka selalu ke depan. Sedangkan orang Timur dikatakan bijaksana ketika dia bisa memberi.
    Dan di dalam tulisan diatas dijelaskan lebih lagi mengenai bijak itu sendiri.

    ReplyDelete
  6. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Menjadi bijak yaitu dengan melihat semua masalah menggunakan hati dan bukan dengan pikiran saja. Orang bijak akan bertindak sesuai dengan kebenaran. Hal yang ia ucapkan, pikirkan semata-mata untuk kebaikan. Suatu pengetahuan harus disempurnakan dengan kebesaran hati agar selalu bisa mengambil keputusan dengan benar dan menentukan sikap dengan bijak.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Bijak adalah suatu perilaku yang harus dilakukan. Terkadang kita seolah-olah hidup di persimpangan. Berfilsafat mengajarkan manusia untuk bersikap bijaksana sesuai ruang dan waktunya. Tidak mudah untuk menjadi orang yang bijak. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia menuju suatu kedewasaan, semoga kita dapat menggapai bijak.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Bijak merupakan sifat yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia. Manusia bijak adalah manusia yang mampu melakukan segala sesuatu dengan tepat dan sesuai dengan kondisinya. Namun, bijak diartikan berbeda oleh filsafat Barat dan filsafat Timur. Menurut filsafat Barat, bijak kegiatan yang dilakukan. Filsafat Timur mengartikan bijak adalah sebutan untuk orang yang sudah mampu memeberi atau bijak itu terikat dengan strata sosial.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Bijak berkorelasi dengan etik dan estetika. Bijak menurut para filsuf ialah kegiatan ketika mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintesis inilah yang dimaksudkan bijak dalam epistemologi atau pengetahuan. Sikap bijak dibutuhkan oleh semua orang dalam mengambil keputusan, tidak terkecuali oleh guru, guru harus bijak dalam mengajar tidak boleh membeda-bedakan perlakuan terhadap yang pintar dan yang kurang pintar. Guru harus bijak dalam mendidik yang kurang pintar untuk dapat meningkatkan prestasinya.

    ReplyDelete
  10. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A

    Dari elegi yang Bapak uraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa bijak merupakan korelasi antara etik dan estetika. Dengan bijak dapat menjadikan seseorang bermartabat. Karena dapat mengkondisikan sesuatu sesuai dengan ruang dan waktu. Karena dengan bijak pula kita bisa menghargai orang lain dan mencoba memahami sikap tertentu dari apa yang orang tersebut lakukan. Dengan memiliki kemauan belajar dan mengambil nilai-nilai positif menghadapi persoalan-persoalan dalam hidup membuat kita lebih bijak dan memaknai hidup ini.

    ReplyDelete
  11. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebenarnya yang bisa mengatakan bijak itu adalah oranglain. orang lain itu sifat, manusianya juga sifat. Maka bijak itu relatif tergantung ruang dan waktu. Bijak menurut bangsa barat adalah menuntut ilmu walaupun sudah di masa tua, orang tua yang masih ingin belajar dikatakan bijak. Sedangkan bangsa timur menganggap bijak itu ketika dapat memberi kepada orang lain, yang paling banyak memberi dikatakan bijak, walaupun merupakan hasil korupsi. Memang karena manusia itu sifat, jadi pandangan mengenai bijak pun juga bermacam-macam. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

    ReplyDelete
  12. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sekali lagi, terimakasih. Sekali lagi, lewat postingan ini saya semakin menyadari betapa pentingnya pemahaman ruang dan waktu. Pada postingan ini mengupas hakikat "bijak". Benar saja, semuanya tidak terlepas dari pemahaman ruang dan waktu. Dijelaskan bahwa hakikat bijak di Timur berbeda dengan hakikat bijak di barat. Jadi saya sangat setuju dengan statement bapak bahwa "Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur". Jika diputar porosnya, berjalan melihat pada tataran yang lebih tinggi, terlihat pula bahwa "bijak" atau segala hal yang ada dan yang mungkin ada benar-benar tergantung pada pemahaman ruang dan waktu. "HAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM"

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Yeah! Never Ending To Learn, everywhere and anytime  belajarlah sampai akhir hayat dan jangan sia-siakan waktu luangmu~
    Berdasarkan “Elegi Menggapai Bijak” pelajaran yang dapat saya ambil bahwa berpikiran bijak itu dinamis. Setiap level strata akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Menurut diri kita, kita sudah bersikap bijak, tapi belum tentu orang lain menganggapnya seperti itu.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  14. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Bijak menurut saya adalah dapat menempatkan diri dengan benar sesuai dengan ruang dan waktu. Bagaimana ia menempatkan diri dalam ruang dan waktu tertentu dapat memberikan gambaran tentang sikap, etik, estetika dan pikirannya. Semoga dengan belajar dan terus belajar membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijak. Amin.

    ReplyDelete
  15. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seseorang dapat dikatakan bijak apabila ia mampu menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempanya, sesuai dengan ruang dan waktu. Ketika seorang anak kecil bertanya mengapa sesuatu jatuh dari atas ke bawah maka kurang bijak jika kita menjawab sebagaimana seorang professor menjawab pertanyaan mahasiswanya. Ketika kita menasehati seorang anak maka tidaklah bijak apabila kita menasehatinya sebagaimana kita menasehatinya sebagaimana kita menasehati orang dewasa. Maka bijak itu harus melihat keadaan, harus melihat situasi dan kondisi, harus melihat subjek dan objek. Maka bijak itu harus fleksibel menyesuaikan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  16. Nama : Wisniarti
    NIM : 17709251037
    Kelas : PM B (Pascasarjana)

    Bijak merupakan kemampuan untuk menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu. Bijak dapat dilihat dari bagaimana sikap, etika, estetika, dan pikiran seseorang mengenai apapun. Bersikap bijak dibutuhkan dalam kegiatan sosial bermasyarakat. Namun mesti diingat juga bahwa bijak memiliki tesis dan antitesis dari setiap orang, maka belajar adalah hal yang sangat diperlukan dalam memupuk bijak agar mampu menempatkan bijak itu dalam ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  17. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Setiap level strata itu akan memberikan definisi etika, estetika, kebenaran dan kebijakan yang berbeda-beda. Hal ini memang benar adanya karena bijak bagi seseorang belum tentu bijak bagi yang lain. Seperti wacana kebijakan full day school yang dicanangkan baru-baru ini. Kebijakan ini dirasa kurang pas diterapkan di seluruh daerah di Indonesia karena keadaan masyarakat di seluruh penjuru NKRI berbeda-beda. Tidak semua anak berasal dari ekonomi menengah ke atas. Tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan mudah, bayangkan anak yang jarak rumahnya ke sekolah 2 jam, mereka harus berangkat ke sekolah selepas subuh dan sampai di rumah lagi menjelang maghrib. Ini hanya sebagian kecil contoh dari kebijakan yang daya rasa apabila diterapkan tidak akan bijak bagi semua pihak. Oleh karena itu, dalam hidup kita memang bijak yang dilakukan harus sesuai dimensi dan levelnya.

    ReplyDelete
  18. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi Menggapai Bijak. Untuk menggapai bijak memiliki definisi dan cara yang berbeda. Bangsa barat menganggap kita akan bisa menggapai bijak ketika bisa memiliki pengetahuan-pengetahuan dan ilmu, sedangkan bangsa timur menganggap menggapai bijak artinya bisa menempatkan diri sesuai pada tempatnya.

    ReplyDelete
  19. Oleh karena itu marilah senantiasa kita meningkatkan pikiran kita dengan pengetahuan, ilmu dan pengalaman. Kita juga tidak boleh meninggalkan dimensi dengan tetap sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  20. Tanggapan untuk Elegi Menggapai Bijak
    Oleh Marsigit, 20 September 2010

    Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Tema yang berat untuk ditanggapi. Tapi apa tah yang tidak berat jika dipandang dari sisi filsafat? Dan sekaligus apa tah yang terlalu berat untuk dipandang dalam filsafat? Setiap orang yang berpikir, mencari, mencoba memahami dan menyelami kedalaman kehidupan, bagi saya dia adalah orang yang hendak menggapai bijak. Hidup yang terus mencari, mempertanyakan lagi apa yang dipikirkan, dirasakan, dilihat, dilakukan, merasa paham namun bertanya lagi apakah benar apa yang aku pahami. Sebuah perjalanan yang tak kan pernah usai selama usia. Yang ada ialah menyelam semakin dalam, menemukan hal hal yang semakin kompleks, melihat semakin luas…

    Tentang perbedaan pandangan filsafat barat dan timur, ini menarik. Jika filsafat barat itu menyatakan bahwa bijak itu kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan sesuatu yang baru, itu sama juga artinya dengan filsafat jawa… (yang ada di timur) seperti ilmu padi… makin berisi makin merunduk. Dalam kisah pewayangan, mereka yang bijak adalah mereka yang berisi, yang merunduk. Yang juga punya kuasa. Seringkali ditemukan, kata-kata para ‘penguasa’ dianggap kebenaran, kebijakan, padahal belum tentu demikian.

    Bagiku, bijak itu sederhana saja, bijak itu hasil dari kedalaman pencarian jiwa terhadap hakikat kehidupan. Saat ini masih dangkal saja pencapaianku pada ‘bijak’. Yang semoga menyeretku untuk semakin dalam merefleksikan hidup menggapai bijak.

    ReplyDelete
  21. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Kelas B(S2)

    Seseorang dapat memiliki pemahaman yang berbeda tentang bijak, contohnya saja apabila di barat bijak sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru. Sedangkan di timur bijak jika mampu memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Pemahaman tentang bijak di timur dan di barat tentang pemahaman atau kesadaran ruang dan waktu. Apabila seseorang telah menyadari ruang dan waktunya dirinya dan orang lain, maka dalam mencapai bijak yang berbeda pada setiap orang tidak akan menjadi sesuatu yang bermasalah, bahkan hal tersbut akan menjadi toleransi untuk mencapai bijak secara bersama-sama dan saling mendukung satu sama lain.

    ReplyDelete
  22. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Berdasarkan tulisan dengan judul “Elegi Menggaai Bijak”, dapat dikatakan bahwa bijak memiliki keterkaitan yang sangat penting dengan etik dan estetika dalam dimensi ruang dan waktu. Bijak dapat membuat seseorang terangkat harkat dan martabatnya menjadi lebih baik. Selain itu, apabila kita dapat menerapkan bijak pada ruang dan waktu yang tepat maka orang lain tidak akan segan menghargai kita karena kita juga menghargai mereka. Orang akan dihargai apabila ia menghargai orang lain. Dengan demikian, semoga kita termasuk orang yang bijak pada dimensi ruang dan waktu. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  23. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Segala sesuatu itu ternyata memang benar bergantung dengan ruang dan waktunya. Seperti pembahasan dalam elegi di atas yaitu bijak. Bijak itu relatif tergantung dengan ruang dan waktunya. Di barat seseorang dikatakan bijak jika ia mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan hal yang baru, membuat anti-tesis, atau melakukan sintetis. Sedangkan di timur, seseorang dikatakan bijak jika dia mampu memberi ilmu atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Tetapi menurut saya, bijak ialah ketika seseorang mampu memposisikan dirinya sesuai dengan ruang dan waktunya dan mampu mengambil keputusan dengan tepat baik secara langsung maupun tidak langsung secara adil dan objektif. Oleh karena itu, sebaiknya pun kita mempunyai sifat bijak ini dan mampu mengaplikasikannya di kehidupan.

    ReplyDelete
  24. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Bijak itu relatif, tergantung ruang dan waktu. Bijak menurut A belum tentu bijak menurut B. Tergantung cara pandang setiap orang. Menurut saya, bijak adalah ketika seseorang mampu dalam mengambil keputusan sesuai ruang dan waktu. Contoh pada elegi menggapai bijak di atas, menurut filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka bijak itu adalah epistemologi. Sedangkan di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Karena cara berfikir/olah fikir setiap orang berbeda. Jadi, mari kita belajar untuk menggapai bijak sebaik mungkin, dengan memahami ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  25. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi menggapai bijak memberitahukan kepada saya sebagai pembaca bahwa bijak adalah memahami ruang dan waktu. Saya menyoroti statement Pak Marsigit tentang salah satu hadits "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu. Saya menjadi lebih menyadari tentang betapa bermaknanya kandungan hadits ini dan patutnya kita sebagai umat Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam merefleksikan sabda Rasullullah dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika filsafat saja yang notabene adalah ilmu olah pikir yang tinggi dan berada di bawah tingkat spiritualisme telah mengungkapkannya, lalu adakah alasan lagi bagi kita untuk menolak sabda-sabdanya?

    ReplyDelete
  26. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Dari tulisan pada elegi kali ini saya mendapatkan kesimpulan bahwa Bijak itu relatif, tergantung ruang dan waktu, tergantung persepsi dari tiap-tiap kelompok dan individu. bijak menurut kita belum tentu bijak menurut anti tesis nya. dan bijak juga bisa berhubungan dengan kuasa. bijak yang selama ini saya pahami adalah, pandai menyikapi keadaan dan situasi dalam hidup dengan baik, dan bijak biasanya di refleksikan dengan tulisan maupun tutur kata.

    ReplyDelete
  27. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak,
    Ternyata satu kata “bijak” tersebut memiliki banyak makna. Satu kata “bijak” dapat dipandang dari berbagai macam sudut pandang menggunakan kacamata yang berbeda-beda pula. Sehingga dalam memaknai bijak harus disesuaikan dengan ruang dan waktunya, bijak dalam konteks apa yang dibicarakan. Semua ini menyadarkan saya bahwa pentingnya belajar filsafat. Belajar bagaimana menempatkan sesuatu sesuai dengan ruang dan waktunya sehingga tidak dianggap menyimpang dan bisa menyesuaikan dengan segala hal yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  28. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Bijak itu relatif. Bijak menurutmu belum tentu bijak menurutku, begitupun sebaliknya. Bijak itu hasil refleksi pribadi. Melakukan refleksi diri adalah upaya untuk sedikit demi sedikit menggapai bijak. Proses ini tak akan pernah berhenti, karena jika semua hal terkait ruang dan waktu,maka bijak di masa sekarang akan berbeda dengan bijak di masa yang akan datang. Maka proses menggapai bijak tak kan pernah berhenti sebab saat aku mencoba menggapai bijak di saat ini, bijak pun telah berubah dan membuatku kembali berproses menggapai bijak di saat yang lain.

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    “Bijak” sebuat kata sederhana namun memberikan efek luar biasa bagi lingkungannya. Sebelumnya kami memahami bahwa bijak merupakan sikap yang diambil seseorang dan disesuaikan dengan keadaan tidak memihak, lebih dari itu dari tulisan diatas kami belajar, sikap bijak seseorang harus disesuaikan level kehidupan serta ruang dan waktunya, hal itu menjadi penting agar makna dari sikap bijak dapat dirasakan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Bijak memiliki pengertian yang berbeda-beda dari setiap orang, mungkin bisa dikatakan bijak itu relatif, karena bijak menurut ku belum tentu bijak menurut dia. Karena itu, takaran bijak berbeda-beda, tergantung siapa yang memandang dan siapa yang dikenai. Orang dikenai atau dikatakan bijak biasanya orang tersebut memiliki kualitas hidup yang lebih baik dari orang yang memandangnya dan juga memiliki intelektual yang lebih. Bijak bisa saja berkaitan dengan etik dan estetika. Dan setiap obyek dan subyek memiliki etik dan estetika yang berbeda. Maka sebaik-baik bijak adalah bijak terhadap dimensi ruang dan waktu. Karena jika paham terhadap dimensi ruang dan waktu, itulah sebenar-benar etik dan estetika.

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ilmu yang sudah diberikan. Saya baru tahu bahwa seseorang dikatakan bijak jika paham akan ruang dan waktunya. Saat ini yang dapat saya lakukan adalah selalu berupaya untuk memahami kedua hal tersebut. Ini merupakan hal yang cukup sulit namun bukan berarti saya tidak mampu melakukannya. Terus berusaha menempatkan diri pada situasi dan kondisi serta menanamkan kemauan untuk terus tumbuh dan bergerak adalah cara-cara yang sudah saya lakukan sejauh ini. Semoga saya dapat meningkatkan sikap bijak pada tingkatan yang lainnya.

    ReplyDelete
  32. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit dari ulasan diatas saya menjadi tahu bahwa bijak dan kebijakan haruslah ditempatkan pada ruang dan waktu yang sesuai. Seperti yang saya alami beberapa pekan setelah mendapatkan perkuliahan filsafat dan harus membuat komen sebagai bukti saya belajar, saya harus bijak akan takdir dan keputusan yang bapak buat namun saya salut akan kebijakan yang bapak karena pasti dengan tujuan dan manfaat bagi para mahasiswa. Bijak itu relatif, bagoi saya bijak namun mungkin orang lain yang melihatnya itu bukanlah bijak. Bagi saya kebijakan itu sudah sesuai namun mungkin bagi orang lain belum sesuai dan tepat. Jadi semuanya bersifat relatif dan tergantung setiap perspektif masing-masing orang. Semoga kita mampu selalu berjalan dalam hidup dengan sikap yang bijak, dan mampu membuat kebijakan yang tepat sesuai konteks, ruang dan waktunya. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  33. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya bijak itu termasuk faktor yang mempengaruhi prosfesionalitas seseorang. Orang yang bijak pasti telah mempunyai banyak pengalaman dalam menghadapi permasalahan. Ia tahu kapan dan dimana harus berbuat atau melakukan sesuatu. Ia sangat mengerti dalam menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktunya. Jadi faktor utama penentu bijaknya sesorang itu adalah “pengalaman”. Namun pengalaman saja tidak cukup, perlu diimbangi dengan ilmu pengetahuan, seperti sering membaca buku, memahami ilmu agama, mengikuti seminar-seminar, dan lain-lain. Semakin berjalannya waktu, manusia juga akan semakin bijak. Semakin bertambah usia, manusia semakin mampu mengontrol ego atau emosinya. kemampuan memutuskan suatu persoalanpun menjadi semakin baik, seiring pula dengan meningkatnya daya berpikir kritis dan daya inovatifnya.

    ReplyDelete
  34. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P. Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Filsafat adalah ilmu yang memiliki makna etimologi “mencintai kebijaksanaan”. Sehingga tujuan utama dalam belajar filsafat adalah untuk menjadi insan yang bijaksana (kritis dan analitis). Belajar filsafat berarti belajar mencintai kehidupan. Menjadi bijak adalah suatu keniscayaan hidup. Sebab kebijaksanaan lah yang menciptakan keteraturan yang harmoni.

    ReplyDelete
  35. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Apa pun yang hendak dikerjakan haruslah sesuai dengan ruang dan waktu. "Berprilaku bijak juga harus sesuai ruang dan waktu". Ini lah yang saya dapat dari elegi menggapai bijak. Dimana disetiap tempat atau daerah mereka mempunyai arti tersendiri mengenai berprilaku bijak itu seperti apa. Maka dari itu kita harus berprilaku bijak sesuai dengan ruang dan waktu, ketika kita bijak disuatu tempat, belum tentu ditempat lain dikatakn bijak, karena berbeda tempat berbeda pula memaknai arti bijak tersebut.

    ReplyDelete
  36. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Benar sekali bapak bahwa kriteria bijak atau tidaknya seseorang itu tergantung masyarakat sekitarnya. Definisi bijak setiap orang tergantung dimana posisi kita. Menurut saya, sebaiknya kita tidak membatasi pergaulan hanya dengan masyarakat di tempat kita tinggal saja. Memang benar bahwa jika kita ingin menjadi seperti kaum A, maka kita sebaiknya bergaul dengan kaum A, jika kita ingin menjadi seperti kaum B, maka kita sebaiknya bergaul dengan kaum B, dsb. Akan tetapi, pengetahuan di dunia ini sangatlah luas, dan saya merupakan salah satu orang yang tidak suka dengan keengganan untuk mengetahui budaya lain di luar budaya yang ada di sekitar saya. Beberapa orang yang telah (secara langsung) berinteraksi dengan orang dengan definisi ‘bijak’ yang berbeda akan memiliki definisi ‘bijak’ yang termodifikasi dari definisi ‘bijak’ dimana dia berasal. Mungkin terkadang orang tersebut menjadi kurang bijak oleh masyarakat dimana dia berasal jika menerapkan konsep definisi bijak yang termodifikasi tersebut. Disinilah pentingnya pembawaan diri. Kita harus cerdas menyesuaikan diri dengan masyarakat di sekitar kita. Tetap memperkaya pengetahuan, tetapi juga bijak dalam menampilkan diri kita kepada orang lain.

    ReplyDelete
  37. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Bijak itu tergantung dengan ruang dan waktunya. Dan akan berbeda-beda. Misalnya saja bijaknya filsafat timur dan barat akan berbeda. Kemudian di Indonesia orang tua bijak itu ketika ia mampu sebanyak-banyaknya memberi kepada orang banyak, namun bijakknya di luar yaitu orang tua yang masih mau mencari ilmu hingga tua. Sehingga, bijak adalah filsafat itu sendiri. Kuasa pula berhubungan dengan bijak. Dan berhubungan dengan determinis. "bijak" itu juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika.

    ReplyDelete
  38. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2

    Bijak atau tidak bijak tergantung di dimensi mana kita berada. Bijak ini ada kaitannya dengan etik dan estetik. Bijak di suatu tempat berbeda dengan bijak di tempat lain. Sehingga bijaklah dalam mengartikan bijak.

    ReplyDelete
  39. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami bijak merupakan sikap seseorang yang paham dan sadar akan ruang dan waktu dalam mengambil dan memutuskan suatu tindakan, dengan bijak seseorang mampu mensikapi segala permasalahan kehidupan dengan baik, dengan bijak seseorang juga akan mampu membangun pemikiran-pemikiran dan ide-ide yang positif serta senantiasa berperasangka baik terhadap diri sendiri dan orang lain dan dari segala hal yang adau atau segala kejadian yang terjadi. Semoga kami termasuk dalam orang-orang yang bisa senantiasa bersikap bijak. Amin.

    ReplyDelete
  40. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Bagi orang timur, bijak memang erat dengan kuasa atau penguasa. Buktinya kita lebih sering mendengar pemimpin yang bijak, penguasa yang bijak, pemerintah yang bijak, namun jarang sekali kita mendengar anggota yang bijak. Setiap yang bijak pasti memiliki dimensi sebagai pemilik kuasa, atau dilekatkan pada penguasa terhadap yang dikuasainya. bijak dapat dimaknai ketika seseorang atau suatu pihak berhasil mengambil sikap atau tindakan yang benar. Tindakan atau sikap benar-salah ini seringkali bersifat relative, tergantung pada ruang dan waktunya. Maka memaknai istilah ‘bijak’ dengan makna sesuai ruang dan waktunya adalah hal yang menurut saya tepat.

    ReplyDelete
  41. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Sejujurnya selama ini saya pun mengartikan dan mengaitkan bijak sebagai sifat harus yang dimiliki pemimpin. Kebijakan pemerintah, Pemimpin bijak, guru bijaksana adalah salah satu contoh penggunaan kata bijak yang dikaitkan dengan kekuasaan pemimpin. Sangat jarang saya mendengar istilah rakyat bijak atau anggota bijak. Dalam budaya barat, ternyata penggunaan bijak merujuk pada orang yang menuntut ilmu, mencari ilmu. Maka dari itu benarlah bahwa bijak seharusnya didefinisikan sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  42. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kata bijaksana berarti pandai menggunakan akal budinya dalam berbagai situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi disini berarti dalam bertindak harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Orang yang bijak menurut pandangan orang pertama belum tentu bijak menurut pandangan orang kedua. Karena sebenar-benar bijak adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  43. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Setiap orang memaknai bijak sesuai dengan tahap berpikir mereka. Sebagaimana diketahui, bahwa tingkat berpikir antara seseorang dengan yang lain berbeda. Maka sebenar-benar bijak adalah seseorang yang santun terhadap ruang dan waktu sehingga dapat memahami segala sesuatu dalam konteks yang benar/ sesuai.

    ReplyDelete
  44. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Bijaksana, adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Sehingga orang yang bijaksana adalah orang yang pandai meletakkan sebuah permasalahan dan sebuah hal sesuai pada tempatnya. Maka dari bijaksana haruslah sesuai dengan ruang dan waktu. Menjadi orang yang pasti atau selalu bijaksana adalah mustahil (tak mungkin), karena hanya Allah yang Maha Bijaksana atau pemilik dari kebijaksanaan, kecuali beberapa orang yang terpilih untuk bijaksana misalnya para Nabi dan Rasulullah. Kita manusia hanya berusaha untuk menjadi bijaksana. Maka seperti kata Bapak di dalam kelas bahwa, “Sebenar-benarnya bijaksana menurut filsafat, yaitu orang-orang yang berilmu. Sementara sebenar-benarnya bijaksana dalam spiritual, adalah berdoa.

    ReplyDelete
  45. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Elegi ini membawa kita untuk memhamai hakikat bijak. Bijak masih menjadi pandangan luas sehingga antara filsafat Barat dan filsafat Timur memiliki pandangan yang berbeda. Bijak itu adalah relatif tergantung ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  46. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Dari elegi ini saya merefleksikan bahwa bijak itu reltif tergantung pada ruang dan waktunya. Bijak dalam budaya timur berbeda dengan bijak budaya barat. Bijak pada tahun ini bisa jadi menjadi berbeda dengan bijak pada 10 tahun lalu.

    ReplyDelete
  47. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Bijaksana adalah bila menempatkan segala sesuatunya sesuai ruang dan waktunya, untuk menjadi seorang yang bijaksana maka seseorang itu perlu untuk berpengetahuan terlebih dahulu namun memiliki pengetahuan saja tidak cukup tetapi seorang yang bijaksana juga harus benar mengerti dengan baik tentang konsep etik. Misalnya seseorang memiliki pengetahuan kemudian juga memahami dengan baik tentang hedonisme serta bagaimana nilainya etiknya dalam kehidupan, namun malah menjadi seseorang yang menganut paham ini maka itulah yang dikatakan tidak bijaksana menggunakan pengetahuannya sebab ia tau bahwa secara spiritual dan nilai etik secara filsafat hedonisme merupakan paham yang tidak dianjurkan tapi malah tidak menjauhkan hal itu dalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  48. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Maka yang saya tangkap dalam tulisan ini bahwa tidak ada definisi mutlak dari bijak. Arti dari bijak sendiri relatif, terikat dengan berbagai faktor. Filsafat barat dan filsafat timur pun memandang bijak dengan berbeda. Untuk menggapai bijak itu sendiri harus disesuaikan dimensi ruang, waktu, subjek dan objeknya.

    ReplyDelete
  49. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Bijak itu relatif berdasarkan budayanya. Bijak menurut budaya barat dan bijak menurut budaya timur itu berbeda. Bijak menurut budaya barat dilihat dari melakukan kegiatan yang berkaitan dengan ilmu dan menghasilkan sesuatu. Sedangkan menurut budaya timur, kebijakan dilihat dari seberapa banyak pemberian sehingga status sosial menjadi salah satu aspeknya.

    ReplyDelete
  50. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bijak adalah tafsiran setiap individu, memiliki dimensi yang ekstensif dan intensif. Intensif berarti bijak berdasarkan dalam individu masing-masing. Ekstensif berarti bijak dalam arti yang luas, menjadi pemahaman social masyarakat dari tingkatan berilmu sampai nol ilmu.

    ReplyDelete
  51. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dimensi bijak yang merentang ini memberikan pemahaman yang berbeda bagi setiap individu. Dimensi merentang memberikan kesempatan kepada waktu juga untuk memberikan pengertian yang berbeda-beda dari bijak. Bhkan dalam diri manusia, bijak akan mengalami perubahan makna seiring dengan tumbuh nya dan pengalamannya

    ReplyDelete
  52. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Bijaksana itu relatif karena dapat memiliki arti yang berbeda dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda. Bijaksana menurut saya belum tentu bijak menurut orang lain, dan sebaliknya bijaksana oleh orang lain belum tentu bijaksana menurut pendapat saya. Kebijaksanaan tidak tercipta dengan sendirinya. Tetapi, bijaksana membutuhkan proses yang lama untuk mencapainya.
    Untuk dapat menggapai ilmu itu perlu sikap bijak. Dan yang paling penting dalam belajar filsafat adalah bijak dalam ruang dan waktu. Jadi, sebenar-benar bijak adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  53. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Bijak itu keadaan dimana hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis bisa saling bersinergi untuk mampu menempatkan diri dalam berbagai macam situasi, ruang dan waktunya secara tepat. Setiap manusia, setiap negara, setiap wilayah memiliki pandangan dan kebiasaan yang berbeda. Dan bijak adalah ketika adanya sikap saling menghargai antar sesama, tidak saling mencela dan tidak saling menyombongkan diri.

    ReplyDelete
  54. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berdasarkan elegi diatas saya memaknai kata bijak sebagai pemahaman akan kesadaran ruang dan waktu dimana bijak merupakan korelasi antara etik dan estetika. dengan bijak pula kita bisa menghargai orang lain dan mencoba untuk melihat sisi lain dari yang orang lakukan, dengan kata lain bijak berarti kemauan belajar untuk menemukan nilai positif dari setiap masalah yang kita temui untuk kemudian kita jadikan pelajaran dalam menjalani hidup ini.

    ReplyDelete
  55. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Bijak di kacamata filsafat barat berarti kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Sedangkan di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi.
    Bijaksana menurut saya belum tentu bijak menurut orang lain, dan sebaliknya bijaksana oleh orang lain belum tentu bijaksana menurut pendapat saya.

    ReplyDelete
  56. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Elegi ini mnejelaskan kepada kita bahwa bijak itu kontradiktif tergantung dari objek dan subjek. Para filsuf yang ahli berolah pikir yang seharusnya sudah dianggap menjadi orang bijak pun ternyata dianggap tidak bijak oleh masyarakatnya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  57. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Orang bijaksana dapat diartikan sebagai orang yang menggunakan ilmu, hati serta pikirannya sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika orang tersebut belum memahami ruang dan waktunya maka yang terjadi malah bukanlah bijaksana melainkan determinist.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  58. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Keluasan akan makna bijak membuat seseorang itu sulit menentukan makna yang benar untuk kata bijak tersbeit. Karena memang bijak itu sesuai dengan subjek masing-masing individu. Oleh karenanya bijak merupakan perbuatan yang memang tidak bisa tergambarkan secar real dalam kehidupan sehari0hari yang hanya satu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  59. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Bijak, sama halnya sebuah kebenaran. Di katakan bijak, maka harus memenuhi unsur ruang, waktu, dan cara komunikasikannya. Dalam artikel ini mencontohkan, salah satu filsafat barat dianggap menentang sebuah kebiakan suatu masyarakat. Sebab mereka tidak melihat ruang dan waktu. mungkin, pada waktu itu ruang dan waktu tidak mendung.

    ReplyDelete
  60. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Bijak sama seperti halnya ketika kita melihat bahwa masa itu lebih mengedepankan sebuah harapan dan mistis. Tetapi sekarangan, orang-orang mengedepankan sebuah logikan ilmu pengetahuan. Maka, filsafat yang dianggap sebuah candu dalam kehidupan pada masa lampau maka kini filsafat dianggap jalan hidup sebagaian orang. Tidak tahu yang akan datang.

    ReplyDelete
  61. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    menurut saya setelah membaca elegi menggapai bijak diatas. bijaknya seseorang berbeda tergantung ruang dan waktunya.. baik itu bijaknya guru dengan murid, bijaknya dosen dengan mahasiswa, semua itu tergantung ruanng dan waktu yang ada dan yang sedang berlaku.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  62. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dari Elegi diatas bahwa bijaksana itu relatif karena dapat memiliki arti yang berbeda dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda. Bijaksana menurut saya belum tentu bijak menurut orang lain, dan sebaliknya bijaksana oleh orang lain belum tentu bijaksana menurut pendapat saya. Kebijaksanaan tidak tercipta dengan sendirinya. Tapi bijaksana membutuhkan proses yang lama untuk mencapainya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  63. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Bijak menurut pandangan orang awam biasanya adalah orang yang baik, mampu menjadi panutan, mampu menjadi penengah dan mampu memberikan nasihat-nasihat yang bijaksana. Sedangkan menurut pandangan filsafat. Bijak merupakan sebuah kegiatan mencari pengetahuan, Menemukan hal baru yang bermanfaat, membuat anti tesis dan melakukan sintesis. Oleh karena itu, orang yang sedang menuntut ilmu merupakan orang yang berikhtiar untuk menuju manusia yang bijak. Maka marilah berlomba-lomba dalam menjadi orang yang bijak, yaitu salah satunya dengan selalu belajar dan belajar. Terimakasih

    ReplyDelete
  64. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Menurut saya, bijak adalah mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Seseorang yang bijak memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Di samping itu, dengan kemampuan terjemah dan menterjemahkan yang baik, ia dapat mengambil keputusan yang tidak merugikan orang lain. Belajar filsafat dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir akan menumbuhkan sikap bijak, karena pola pikir semakin berkembang. Mereka tidak melihat sebelah mata kepada golongan awam namun mampu menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa yang tepat. Mereka mengusahakan menyampaikan sesuatu yang sulit dengan cara yang mudah. Selain itu, mereka juga terus melakukan refleksi diri sehingga semakin menggali ilmu semakin terasa kurangnya.

    ReplyDelete
  65. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Menaggapi mengenai seseorang dikatakan “bijak” di timur, seseorang dikatakan “bijak” jika dia mampu meberi. Memberi ilmu, atau memberikan apapun yang diperlukan oleh oranglain sehingga terikat dengan strata sosial.Indonesia meupakan bagian daerah timur, jadi memang benar adanya jika seseorang dikatakan bijak ketika serupa dengan yang telah Prof tuliskan. Sehingga tidak heran jika di daerah timur, Indonesia khususnya sejarah diturunkan oleh kerajaan-kerajaan. Tetapi perlu juga diingat bahwa setiap level setiap daerah memberikan definisi kebijakan dengan berbeda-beda sehingga kebijakan memiliki sifat dinamis dan tidaklah statis.

    ReplyDelete
  66. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terima kasih Bapak atas Elegi Menggapai Bijak yang telah Bapak share kepada kami. Elegi Menggapai Bijak ini sangatlah bermanfaat untuk dibaca dan pastinya dapat menambah wawasan kami. Menurut saya bijak seseorang itu dapat dilihat dari cara dia dalam mengambil suatu keputusan. Apabila dia berada di dalam kelompok dan menjabat sebagai ketua kelompok maka keputusan yang diambil itu dapat dipertanggung jawabkan, tidak berat sebelah, dan keputusan itu dapat diterima oleh semua anggota kelompok, serta tidak ada rasa iri atau rasa kurang puas dengan hasil keputusan. Sama halnya ketika seseorang itu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, maka keputusan yang diambil haruslah berdasarkan pemikiran yang matang, dan tidak berat sebelah, tidak juga merugikan orang lain, dan siap untuk menerima akibat dari keputusan yang diambilnya. Bijak berasal dari hasil musyawarah bersama.

    ReplyDelete
  67. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Bijak berhubungan erat dengan ruang dan waktu. Seseorang dikatakan bijak jika ia dapat menyesuaikan dengan ruang dan waktu. Bijak menurut orang-orang timur, jika mereka mampu memberi. Misal, memberikan ilmu untuk orang-orang yang membutuhkan. Selain itu, bijak juga dipengaruhi setrata atau level. Walaupun yang demikian ini bersifat dinamis dan tidak statis.

    ReplyDelete
  68. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Dalam Al-Qur’an kebijaksanaan disebual “al-khikmah”, orang yang bersikap bijaksana disebut hakim. Sebenarnya setiap manusia semuanya harus menjadi hakim. Artinya semuanya harus bersikap bijaksana, yaitu hakim yang bisa memutuskan perkara dan persoalan dengan bijaksana, dimana saja, kapan saja juga dalam kedudukan apasaja, ketika menjadi pemimpin, tokoh masyarakat, menjadi kakak, adik ataupum setidaknya bijaksana dalam persoalan kita pribadi. Karrena pada akhirnya perbuatan yang tidak didasari dengan sikap bijaksana akan berujung pada kegagalan, kesusahan bahkan kerusakan.

    ReplyDelete