Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Bijak

Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan sebuah tanggapan dari Bapak Wahyudi tentang "bijak":

Assalamu 'alaikum wr. wb. saya setuju dengan Bapak bahwa dimensi yang berbeda sering mengakibatkan kesalahfahamn. yang harus dilakukan adalah. pihak yang sadar bahwa dimensinya rendah memfollow up kesadarannya dengan belajar...belajar dan belajar...membaca....membaca dan terus membaca. tapi bagi pihak yang berdimensi lebih tinggi seyogyanya bersikap bijak. seperti sikap yang ditampakkan oleh yang berilmu+bijak dalam elegi menggapai dimensi. salah satu sikap bijak orang yang berdimensi tinggi adala KHAATBUUNNASA 'ALA UQUULIHIM "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual) mereka(Al Hadist. Wallahu 'alam. terimakasih pak.



Sementara jawaban/tanggapan saya (Marsigit) adalah:

Ass..Pak Wahyudi.."bijak" itulah yang menjadi ultimate dari semua para filsuf untuk menggapainya. Tetapi ketahuilah bahwa Socrates itu dianggap orang yang paling tidak bijak oleh masyarakatnya pada jamannya. Plato dianggap sangat tidak bijak oleh Aristoteles. Descartes dianggap tidak bijak oleh David Hume. Dst...Maka tesis itu sebenar-benarnya adalah tidak bijak bagi anti-tesisnya, demikian pula sebaliknya.

Pandangan tentang "bijak" dari kaca mata Filsafat Barat dan Filsafat Timur itu berbeda. Apalagi jika disorot dari kaca mata berbagai Teologi Agama.

Filsafat Barat memandang "bijak" sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti-tesis, dan melakukan sintetis. Maka di sini bijak itu adalah epistemologi. Thus, bijak itu adalah filsafat itu sendiri.

Di Timur, seseorang dikatakan "bijak" jika dia mampu memberi. Memberi ilmu, atau memberi apapun yang diperlukan oleh orang lain. Jadi bijak di Timur itu terikat dengan strata sosial. Kegiatan yang sama, tetapi dilakukan oleh orang yang berbeda dalam strata, maka akan memberikan aspek "bijak" yang berbeda. Strata itu berelasi dengan "kuasa". Maka "bijak" di Timur itu kenthal dengan nuansa atau merupakan aspek dari unsur kekuasaan. Kuasa di Timur, itu berelasi dengan Kerajaan-kerajaan. Maka itulah faktanya bahwa sejarah Timur itu diturunkan oleh Kerajaan-kerajaan.

Dalam Filsafat, "kuasa" itu berelasi dengan hubungan subyek-obyek. Maka "bijak" dan "kuasa" itu berelasi dengan "determinism". Dimana, di dalam konteks Timur, ketika ada usaha-usaha berpikir filsafat ala Barat, seperti yang kita lakukan, yaitu membongkar konteks "bijak" dan "kuasa" dalam determinisme, maka para obyek kuasa mempunyai euphoria untuk membongkar karakter subyek kuasa.

Jangan dilupakan bahwa "kuasa" di sini dalam arti luas seluas-luasnya, dalam sedalam-dalamnya. Mahasiswa senior itu kuasa terhadap mahasiswa yunior. Guru itu kuasa terhadap muridnya. Baju baru itu kuasa terhadap baju tidak baru..dst. Dosen juga kuasa terhadap mahasiswanya. Itulah pentingnya pemahaman Ruang dan Waktu. Maka sebenar-benar bijak, baik di Barat maupun di Timur adalah pemahaman atau kesadaran akan ruang dan waktu. Di sini maka semua subyek dan semua obyek dan semua predikat akan terkena aturannya. Jadi bijak itu tidak hanya untuk dosen saja, tetapi juga untuk mahasiswa. Tidak hanya untuk guru saja tetapi juga untuk siswa, dst...Dosen atau guru itu perlu paham ruang dan waktunya. Demikian pula mahasiswa atau murid. "Serulah manusia sesuai dengan kapsitas akal (intelektual)" itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu.

Jadi saya melihat bahwa pemikiran anda tentang bijak, segabai suatu fenomena sintesis pertarungan filsafat/budaya Barat dan filsafat/budaya Timur. Jika diteruskan maka tidak cukup sampai di sini, karena baik filsafat Barat maupun Timur itu juga meliputi Etik dan Estetika. Maka "bijak" itu juga berkorelasi dengan Etik dan Estetika. Nah, etik dan estetika nya subyek dan obyek itu berbeda. Jadi Etik dan estetikanya Dosen dan Mahasiswa itu juga bisa berbeda.

Tetapi jangan salah paham, karena etikanya seseorang itu ternyata juga anti-tesisnya dari etika nya orang lain. Thus dengan demikian perbedaan adat istiadat juga akan membawa etik dan estetika yang berbeda. Ketika filsafat berusaha membongkar aspek monolothik dari suatu keutuhan primordial, maka konsep etik dan estetika itu menjadi tercerai berai. Maka disinilah kita perlu mengembangkan pemahaman ruang dan waktu. Jadi paham ruang dan waktu itu ternyata juga etik dan estetika.

Pusat-pusat monolithik dan primordialisme pengembangan etik dan estetika itu meliputi Filsafat, Agama atau pusat-pusat Kekuasaan/Negara/Kerajaan. Di daerah atau masyarakan di mana jauh dari pusat-pusat pengembangan seperti itu (adhoh Ratu) maka Etik dan Estetika dikembangkan dalam ranah komunikasi horizontal dan merefer kepada unsur-unsur kontekstual lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

Maka ingatlah kembali uraian saya tentang strata dan tingkatan masyarakat yang dibuat menurut kriteria "Power Now" atau "Pragmatis/Utilitarian/Kapitalis/Hedonism". dari tataran yang paling rendah menuju tataran tinggi: Archaic-Tribal-Feudal-Traditional-Modern-Post Modern-Post Post Modern/Contemporary. Maka setiap level strata itu akan memberikan definisi etik, estetika, kebenaran dan KEBIJAKAN yang berbeda-beda. Level atau strata itu dapat kita proyeksikan ke dalam diri kita. Artinya sikap, etik, estetika dan pikiran kita tentang "bijak" itu juga dapat menunjukkan posisi kita di level mana. Tetapi menurut saya hal demikian mempunyai sifat dinamis dan tidaklah statis.

Maka marilah kita renungkan. Never Ending To Learn.

Amiiin

8 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam memahami arti bijak, ternyata bijak dapat dipahami berbeda oleh berbagai pihak. Karena pihak yang satu dengan pihak yang lain memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa itu bijak, maka bijaknya seseorang belum tentu sama dengan bijaknya orang yang lain. Secara umum, hal ini juga berlaku manakala kita melihat bijak bagi orang barat dan bijak bagi orang timur. Bijaknya orang barat apabila kita terus mencari dan menemukan pengetahuan yang baru. Sementara itu bijaknya orang timur, apabila seseorang yang mampu memberi dan berbagi dengan yang lain. Berbagi apapun sesuai dengan kemampuan dan kuasanya. Maka bijaknya orang timur akan melihat strata sosial yang dimiliki seseorang. Seseorang dapat dikatakan bijak apabila orang kaya dapat berbagi dengan orang miskin, orang berilmu dapat berbagi dengan orang yang kurang berilmu, dan lain-lain.

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Bijak itu relatif terhadap ruang dan waktu. Bijak itu beda menurut sudut pandang tokoh. Bijak itu juga merupakan level tingkatan berpikir seseorang dalam menyikapi hidup. Sebenar-benar bijak ialah bagian dari etika dan estetika dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  3. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Elegi ini membawa kita untuk memhamai hakikat bijak. Bijak masih menjadi pandangan luas sehingga antara filsafat Barat dan filsafat Timur memiliki pandangan yang berbeda. Bijak itu adalah relatif tergantung ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Bijak merupakan sifat yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang. Arti bijak itu relatif, tergantung bagaimana sudut pandangnya. Bijak bisa diartikan sebagai korelasi antara Etik dan Estetika. Menurut filsafat Barat, bijak dipandang sebagai kegiatan mencari pengetahuan, menuntut ilmu, menemukan yang baru, membuat anti tesis, dan melakukan sintesis. Kemudian menurut filsafat Timur, dikatakan bijak jika mampu memberi.

    ReplyDelete
  5. Fatmawati
    16709251071
    S2 PM.D 2016
    Saya tertarik dengan kalimat “serulah manusia sesuai dengan kapasitas akal (intelektual)” itu adalah bentuk kesadaran ruang dan waktu. Saya setuju dengan hal ini, bahwa bijak dapat diartikan sebagai kesadaran ruang dan waktu. Seseorang yang bijak berarti dia dapat bersikap sesuai dengan lingkungannya, sesuai lawan bicara atau lawan perannya, sesuai keadaan kondisi dan situasi, sesuai dengan porsi yang telah ditentukan. Pada elegi diatas juga disebutkan bahwa ‘bijak itu berkorelasi dengan etik dan estetika. Kesesuaian-kesesuaian yang telah saya sebutkan sebelumnya tentunya juga sesuai dengan etik dan estetika kelompok orang tersebut. karena sifat dan kelompok / strata dari sekumpulan orang berbeda-beda, maka kebijakan yang dibuat akan berbeda-beda pula, sesuai dengan kesadaran ruang dan waktu masing-masing.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    bijak suatu tingkatan dalam daftar sifat yang menurut saya mempunyai kedudukan yang tinggi. karena bagi saya seseorang dikatakan bijak tentu sudah banyak memiliki pengalaman hidup. sebagaimana yang kita ketahui bahwa tingkatan biak sering dimiliki oleh orang-orang yang mampu belajar dari pengalamannya.

    ReplyDelete
  7. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Bijak yang diartikan oleh setiap individu bernbedda- beda ini. Dalam setiap individu juga akan mengalami perubahan (dinamis)
    Hal ini disebabkan berkembangnya individu itu sendiri. Sehingga pola pikirnya pun berubah dalam memahami sesuatu.
    Sama halnya dengan bijak yang dimaksudkan akan mengalami perubahan makna seiring berkembang dan majunya seorang individu.

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari elegi ini saya mendapatkan pengetahuan yaitu "paham ruang dan waktu ternyata juga merupakaan etik dan estetika". Selain itu pada etik dan estetika juga berkaitan dengan bijak. Jadi dapat kita simpulkan bahwa bijak dapat diartikan paham akan ruang dan waktu. Oleh karena itu elegi ini dapat mengajarkan kita dimana harus memahami sikap, etik, dan estetika kita tentang bijak karena hal tersebut dapat menunjukkan posisi kita di level yang mana.

    ReplyDelete