Sep 20, 2010

Elegi Pemberontakan Para Logos




Mengingat pentingnya Elegi ini maka sengaja saya postingkan kembali:

Oleh Marsigit

Hati:
Aku sedang menyaksikan para logos mulai beraktivitas. Beberapa diantara mereka beraktivitas sesuai batas-batasnya, tetapi aku melihat sebagian diantara mereka mulai melampaui batas-batasnya. Aku ingin mengetahui apa sebetulnya yang terjadi pada logos-logos itu. Wahai para logos, apakah yang terjadi pada dirimu sehingga engkau kelihatan gelisah serta ada diantara engkau malah beraktivitas melampaui batas-batasmu.

Logos1:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dirimu. Maka engkaulah, yaitu engkau hati, sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua relung hatiku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti hatiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos2:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah irrasional. Maka irrasional adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku merasa tertantang untuk mengetahui semua yang irrasional, walaupun aku tahu bahwa irrasional itu tidak rasional. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang irrasional. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos3:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah ghaib. Maka ghaib adalah sebenar-benar merupakan tantanganku. Ketika aku menginginkan bertemu dengan ghaib maka dia itu tidak mau memunculkan diri. Padahal aku ingin mengetahui semuanya tentang yang ghaib itu.Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti yang ghaib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos4:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah mimpi. Maka engkaulah mimpi itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Aku ingin mengetahui semua mimpi. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti mimpiku. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos5:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah awal. Maka awal sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti awal. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos6:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah akhir. Maka akhir itulah sebenar-benar merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang akhir. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos7:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya jauh tak hingga. Maka jauh tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang jauh tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos8:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya dekat tak hingga. Maka dekat tak hingga merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti dekat tak hingga. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos9:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah diriku . Maka diriku merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang diriku sendiri. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos10:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah noumena . Maka noumena merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang noumena. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.
Logos11:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah dibalik penampakan. Maka dibalik penampakan merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang dibalik penampakan. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos 12:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah nasib. Maka nasib merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang nasib. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Logos13:
Wahai hati, ketahuilah bahwa aku telah banyak berjuang. Perjuanganku itu tidak main-main. Aku telah berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos. Setelah aku berhasil mengalahkan banyak mitos-mitos, maka aku merasa energiku semakin kuat. Aku bahkan merasakan bahwa energiku itu melimpah. Tetapi aku masih mempunyai tantangan. Sedangkan tantanganku sebenarnya adalah arwah. Maka arwah merupakan tantanganku. Kenapa selama ini engkau membuat mitos bahwa aku itu tidak bisa mengerti tentang arwah. Itulah mengapa aku memberontak terhadapmu.

Hati:
Cukup...cukup. Wahai para logos. Rupa-rupanya engkau semua telah lancang terhadapku. Engkau telah menyalah gunakan kepercayaanku terhadapmu. Bahkan sebagian darimu telah melakukan hal-hal di luar batas-batasmu. Maka sebenar-benar dirimu semua aku kutuk. Terkutuklah engkau semua. Engkau semua sebenar-benarnya bukanlah logos. Engkau semua adalah mitos-mitos. Ketahuilah bahwa hatiku selalu waspada mengamati gerak-gerikmu. Engkau semua telah menjelma menjadi mitos, dikarenakan kesombonganmu akan gelarmu selama ini sebagai logos. Aku benar-benar menyesal telah memanjakanmu semua. Maka sekali lagi, tidak adalah logos-logos itu di hadapanku. Yang ada di hadapanku semua itu adalah mitos.mitos. Dengarkanlah wahai semua mitos-mitos, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah semua dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera.

Para mitos (jelmaan logos):
Wahaha..haha. Ketahuilah engkau yang mengaku sebagai hatiku. Kuman disebarang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidaklah tampak. Aku juga tidak lagi mempercayaimu. Ketahuilah bahwa engkau juga telah membuktikan di hadapanku, bahwa engkau itu sebenarnya bukanlah hatiku yang sebenarnya. Dengan kemarahanmu itu, maka telah masuklah ke dalam dirimu seekor syaitan. Maka tiadalah dirimu itu, kecuali sebuah hati yang telah berubah menjadi seekor syaitan. Maka dengarkanlah wahai syaitan. “Dengarkanlah wahai syaitan, lihatlah diriku. Aku sekarang ini sedang marah besar terhadapmu semua. Dan sekaranglah saatnya aku harus mengambil sikap tegas terhadapmu. Maka enyahlah engkau dari hadapanku. Aku tidak sudi bergaul dan berkomunikasi denganmu. Enyahlah...enyahlah segera”.
Wahaha..haha. Kenapa engkau kelihatan pucat pasi, padahal kalimatku yang terakhir itu hanya pura-pura. Aku sebetulnya hanya menirukan gayamu saja. Maka munafiklah engkau syaitan. Wahai syaitan, ketahuilah bahwa tidaklah pada tempatnya bahwa syaitan itu bermusuhan dengan mitos-mitos. Menurutku, antara syaitan dengan mitos itu pastilah harus bekerja sama. Maka renungkanlah. Renungkanlah kembali sebelum engkau menyesal dikemudian hari.

Syaitan (jelmaan hati):
Wah ..maafkan wahai para mitos. Aku tidak menyangka kalau telah bertemu dengan sahabat sejatiku. Engkau para mitos itu adalah sahabat sejatiku. Maka tiadalah aku akan bertindak semena-mena terhadap dirimu itu. Sekali lagi maafkanlah.

Akar rumput:
Aku sedang menyaksikan kejadian luar biasa. Ada orang tengah sombongnya berjalan di muka bumi. Setelah aku amati, ternyata dia adalah para mitos dan sahabatnya, syaitan. Ya Tuhan, ampunilah diriku. Ampunilah dosa-dosa orang yang telah berbuat dhalim di muka dunia ini. Tiadalah daya upayaku, kecuali hanyalah diri Mu yang mampu menghancurkan syaitan-syaitan itu.

Syaitan dan mitos:
Oauit...kenapa kakiku ini. Aneh pula kakiku ini. Tidak ada sebab, kenapa kakiku kemasukkan duri. Ak lihat jalannya lurus dan bersih. Oauit...terasa sakit sekali. Wahai mitos, kenapa kaki kita kemasukkan duri dan dari mana duri itu?

Mitos:
Maafkanlah syaitan, aku sekarang bukan menjadi logos lagi. Aku telah engkau kutuk menjadi mitos. Maka aku tidak lagi bisa berpikir kritis. Maka maafkanlah aku. Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku merasa malu sekali mengapa hanya persoalan sepele seperti ini aku tidak bisa memikirkan. Kenapa aku tidak tahu asal usul duri ini. Padahal sebelum engkau kutuk aku telah sesumbar dan menantang dan memberontak terhadap hati bahwa aku ingin menantang semuanya yang ada dan yang mungkin ada sampai batas pikiranku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku betul-betul menyesal telah berbuat dholim di muka bumi ini. Maka wahai hatiku maafkanlah diriku.

Hati (setelah syaitan menghilang):
Iba rasa hatiku wahai saudaraku. Wahai engkau logos-logosku. Aku telah menyaksikan engkau telah kembali menghampiriku. Ingin menitikkan air mata rasanya diriku itu melihat engkau semua telah menyadari kesalahan-kesalahanmu. Demikian pula aku. Mohon maafkanlah diriku, karena aku juga telah terbawa emosi sehingga aku sempat dihampiri syaitan. Aku juga menyesal telah mengutukmu. Maka sebetul-betulnya hatiku adalah doaku, sedangkan hatiku itu adalah teman bagi logos-logosku yang mengetahui batas-batasnya. Marilah kita kembali menetapkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan YME, dengan senantiasa selalu berdoa dan mohon ampun atas segala dosa-dosa kita. Semoga Tuhan mengabulkan semua doa-doa kami. Amien.

Orang tua berambut putih:
Aku telah menyaksikan semua kejadianmu itu. Aku ingin katakan bahwa aku tidak bisa berkata. Kalimat kontradiksiku itu merupakan lambang bagi kehadiranku, yaitu bahwa aku hadir walaupun tidak engkau panggil. Maka renungkanlah.

24 comments:

  1. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi yang berbentuk Dialog antara hati dan para logos ini, kami menyadari bahwa apabila kami keterlaluan sehingga melampaui batas maka dikhawatirkan akan muncul kesombongan dalam diri kami. Kesombongan tersebut akan membuat kami tidak lagi berpikir dengan menggunakan akal sehat, tidak akan menggunakan kemampuan berpikir kritis, dan logis. Bahkan dengan tumbuhnya kesombongan di dalam diri, hati kami pun bisa tertutup dengan masukan-masukan yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya kami yakini kebenarannya, walaupun sebenarnya kebenaran yang kami terima dan yakini tersebut mungkin saja salah. Kami menyadari bahwa seseungguhnya kesombongan itu hanya akan menyebabkan kami berpikir irrasional dalam mempertahankan keyakinan kami tersebut. Kami hanya akan mencari pembenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Sampai pada akhirnya kami jatuh dan terporosok karena kesombongan kami sendiri. Semoga kami dapat terhindar dari sifat-sifat sombong. Amin.

    ReplyDelete
  2. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Melalui elegi pemberontakan para logos, saya tersadar kembali bahwa seringkali Allah menyelamatkan kita melalui rasa sakit atau musibah-musibah kecil. Syaitan dan mitos yang tertusuk duri menyadarkan diri mereka kembali menjadi Hati dan Logos. Sesungguhnya rasa sakit meskipun karena tertusuk duri, akan menghapus dosa dan kesalahan

    ReplyDelete
  3. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dari elegi diatas dapat diambil beberapa pelajaran hidup. Bahwa setinggi-tingginya ilmu seseorang pasti ada yang lebih tinggi ilmunya. Sehebat-hebatnya seseorang pasti ada yang lebih hebat. Selihai-lihainya seseorang pasti ada yang lebih lihai. Jadi tidak ada ruang disini untuk menyombongkan ketinggia ilmunya, kehebatannya, kelihaiaannya. Karena diatas itu semua ada yang maha segala-galanya yaitu Allah. Sehingga manusia tidak boleh menyombongkan dirinya karena merupakan perbuatan syetan dan akan menjerumuskannya kedalam kegelapan.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Adanya sebuah ilmu tidaklah semata-mata hadir tanpa adanya pemikiran. Yang mana pemikiran itu bisa muncul dari hati, mitos, dan syaitan. Harus menjadi perhatian bahwa pemikiran yang kita munculkan hendaknya tidak melebihi batas. Kembali harus kita sadari meski ilmu yang kita cari tidak ada batasnya, namun ketika hal tersebut sudah bertententangan dengan hati kita, hentikanlah dan kembalikan semuanya hanya kepada Yang Maha Mengetahui. Sampai akhirnya kita harus berwaspada dalam berfikir, janganlah sampai syaitan menghampiri kita dalam menuntut ilmu, karena ilmu itu bisa hadir kapanpun dan dimanapun otomatis kita juga harus berwaspada terhadap syaitan yang terus menggoda. Berdoalah dan mohonlah ampun atas segala kesalahan –kesalahan kita dalam hidup dan mengembalikan semuanya kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Batas antara mitos dan logos itu tipis sekali. Logos bisa berubah menjadi mitos ketika telah ada angkuh di dalamnya, angkuh untuk memikirkan segala hal. Padahal pkiran kita memiliki batas. Ada pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak bisa kita jawab, yang hanya Allah yang Maha tahu yang dapat menjawabnya. Hati juga bisa menjadi syaitan saat ada amarah di dalamnya. Jadi hati haruslah dijaga kesuciannya, dijaga dari amarah agar mampu memberikan yang terbaik, logos dijaga dari keangkuhan agar bisa memberikan ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Hati di dalam diaog di atas mencerminkan hati atau perasaan manusia, sedangkan logos mencerminkan logika atau pemikiran manusia. Logika atau pemikiran manusia ini tidak ada batasnya, namun sebanyak-banyak ilmu yang ada di pikiran kita sesungguhnya itu masih sangat kecil dan sedikit apabila dibandingkan dengan ilmunya sang maha pencipta, yaitu Allah SWT. Kesombongan akan memiliki ilmu yang tinggi menyebabkan manusia melampaui batas dan berperilau yang merugikan diri sendiri.

    Salah satunya sombong karena telah merasa pandai dalam ilmu tertentu sehingga merendahkan orang lain serta enggan belaar lebih karena merasa telah cukup ilmu yang ia miliki. Hal tersebut dapat menyebabkan perilau yang tida disukai oleh orang lain dan dapat menghancurkan diri sendiri karena menghambat perkembangan kehidupan kita khususnya perkembangan kemampuan berpikir atau pikiran kita. semoga kita selalu dihindarkan dari perilau terlalu mengagung-agungkan logika atau pikiran. Sehingga muncul sifat sombong dalam hati kita.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Cara menggapai logos adalah dengan senantiasa berpikir kritis tentang pengetahuan yang kita miliki. Akan tetapi, manusia perlu menyadari bahwa berpikirpun memiliki batasannya. Maka ketika manusia berada pada batas akalnya, pada saat itulah hati menjadi bagian penting dalam memimpin pikiran agar selalu dalam batas-batasnya. Oleh karena itu, tidak cukup pikiran yang kritis, tetapi hati juga harus ikhlas dalam menerima yang ada dan yang mungkin ada. Dengan berbekal iman dan taqwa, hati senantiasa ikhlas dan pikiran senantiasa kritis dan refleksif, sehingga manusia pun terhindar dari setan dan para mitos.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Logika akan hilang jika seseorang sudah emosi. Oleh karena itu, pada setiap persoalan hendaklah diselesaikan dengan logika. Logika adalah ilmu. Namun, terlalu mengagungkan logika atau ilmu juga tidak bagus, karena dapat menumbuhkan kesombongan. Kesombongan akan membawa kita terjebak dalam mitos, merasa memiliki ilmu yang tinggi dan merasa sudah cukup. Oleh sebab itu, ilmu saja tidak cukup, ilmu juga harus dilandasi dengan iman dan taqwa, sehingga kita mampu mengendalikan ilmu kita dan menggunakannya untuk kebaikan.

    ReplyDelete
  10. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih Prof. Marsigit atas elegi di atas. Dari postingan di atas, saya menyadari bahwa jika kita bersikap keterlaluan hingga melampaui batas maka dikhawatirkan akan muncul kesombongan, keangkuhan, tinggi hati muncul dalam diri kita. Kesombongan tersebut akan membuat kita menjadi tidak mampu berpikir dengan akal sehat, tidak mampu berpikir kritis, dan logis. Bahkan hati kita bisa tertutup dengan segala masukan dan kebenaran yang ada di depan mata. Sehingga, alangkah baiknya kita berhati-hati dalam menggunakan akakl dan pikiran kita, apakah kita betul-betul telah mampu menggapai logos dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih atau belum. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  11. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia adalah makhluk Allah yang dikaruniai hati dan akal. Dengan hati, kita belajar merasakan apa yang orang lain rasakan. Dengan akal kita belajar untuk mempelajari kemampuan akademis dan kemampuan lainnya. Kalau kita dikaruniai akal yang pintar, maka kita akan mudah dalam menyerap ilmu, namun jangan menjadikan kita sombong sehingga tidak bisa melihat kebenaran. Dalam belajar atau bekerja kita butuh hati dan akal dalam bekerja agar seimbang dan agar dapat melaksanakan dengan baik dalam hati maupun pikiran. Dengan ilmu kita dapau menggapaian apa yang menjadi kiinginan kita, dilandasi dengan hati yang bersih maka jalan yang akan kita pilih untuk menggapai tujuan akan lebih berkah. Hati dan akal harus diseimbangkan dan harus pula selalu dilandasi dengan iman yang kuat sehingga logos bisa terus bekerja dengan baik.

    ReplyDelete
  12. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017
    Memahami elegi pemberontakan para logos ini mengingatkan kita supaya menjaga diri kita agar tidak dihinggapi sifat sombong. Dari elegi ini kita melihat bahwa para logos yang dihinggapi dengan kesombongan akhirnya berubah menjadi mitos. Seteah menjadi mitos, ilmu-ilmu yang dahuu dikuasainya pun menjadi hilang. Elegi ini sangat cocok disampaikan kepada para mahasiswa, para penuntut ilmu, jangan sampai statusnya sebagai penuntut ilmu membuat ia sudah merasa tahu, membuat ia merasa telah menguasai semua ilmu dan berlaku sombong atas ilmu yang ia miliki.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi memberikan pengertian bahwa logos pun memberontak, karena merasa kering. Sebenar-benar manusia jika hatinya ikhlas berdoa. Ketika berdoa maka sebenar-benar hati adalah merasakan meminta, karena tiada yang mampu memberikan ilmu apapun kecuali Allah Swt. Maka seorang manusia benar-benar telah memiliki ilmu jika tidak berlaku sombong.

    ReplyDelete
  14. Selalu ada kontradiksi dalam hati kita, terutama ketika kita sedang menghadapi banyak masalah. Dalam situasi ini, terlalu sulit untuk berpikir jernih seperti logos, yaitu dengan hati, terutama jika hati kita sudah dipengaruhi oleh mitos dan setan. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang memiliki iman, kita tidak lupa untuk berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT agar hati kita selalu terjaga, terutama di saat menghadapi masalah.

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya dapat menyimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kedudukan dan ilmu yang tinggi pun juga dapat dipengaruhi oleh syetan. Syetan akan dengan mudah mempengaruhi kita ketika kita sedang merasa lemah. Amarah yang muncul itu dikarenakan ada syetan di dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus selalu menyadari kesalahan kita dan banyak-banyak berdoa agar terhindar dari pengaruh syetan yang dapat merusak akhlak kita.

    ReplyDelete
  16. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebaiknya dalam menuntut ilmu yang paling utama adalah adanya rasa ikhlas, ikhtiar dan berdoa. Untuk masalah yang pada ujung-ujungnya kita tidak mengerti apa-apa bukanlah menjadi persoalan karena ketika kita mempunyai wawasan yang luas, kita akan sadar bahwa antara satu hal dengan hal yang lainnya itu dapat saling berkontradiksi namun mempunyai nilai kebenaran yang sama. Sehingga pada akhirnya muncullah ungkapan bahwa pada akhirnya aku tidak mengerti apa-apa. Dalam hal ini yang penting adalah para logos sudah berikhtiar secara maksimal untuk dapat meningkatkan keilmuannya. Mengenai hasil akhirnya maka kita serahkan kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  17. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Mitos adalah musuh bagi orang yang berilmu. Akan tetapi ketika orang berilmu itu sudah terkena oleh emosi atau dengan kata lain kesombongan, maka ia pun akan menjadi mitos. Ia tidak akan mampu menggunakan ilmu, hati serta daya berpikir kritisnya. Semua yang ia miliki menjadi tidak ada gunanya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan elegi ini saya berpendapat bahwa kesombongan muncul dalam diri kita, ketika kita merasa cukup ilmu. Kesombongan mematikan hati dan juga membuat kita mudah puas akan ketercapaian pengetahuan kita. Perlunya kesinambungan antara pikiran dan hati dalam belajar agar tidak mudah merasa puas. Perlunya mengkontrol hati dan pikiran agar terus belajar dan terus merasa kurang ilmu harus ditanamkan dalam diri masing-masing.

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Do’a merupakan gambaran dari apa yang ada di dalam hati seseorang. Oleh karenanya, ketika berdoa diusahakan untuk melakukannya secara ikhlas lahir dan bathin karena jika kita berdoa dengan ketidak ikhlasan pada hati kita, lantas apa yang akan kita peroleh, pasti tidak akan diterima. Oleh karenanya jangan pernah mengatakan doa kita terkabul, karena sering kali doa yang kita curahkan dibalas dengan sesuatu yang lebih inah dari doa kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  20. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam diri manusia, hati dan pikiran sangat berhubungan.. Adakalanya hati mengendalikan pikiran.. namun adakalanya pula pikiranlah yang mengendalikan hati atau perasaan. Ketika kita melihat sepotong makanan di depan kita maka kita akan bernafsu untuk memakannya. pada saat itulah pikiran bekerja mengendalikan hati kita.. begitu pula ketika kita berandai-andai tentang cita-cita yang membuat kita termotivasi untuk meraihnya..
    Namun pada saat kita merasa tertekan, marah, atau jatuh cinta, maka kita sering melakukan hal-hal yang diluar batas kewajaran dan akal sehat.. pada saat itulah hati mengendalikan pikiran kita.

    ReplyDelete
  21. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Setiap tindakan yang kita lakukan di dunia ini kadang berawal dari pikiran, kadang berawal dari hati. Namun, masalah utama yang sering kita hadapi di kehidupan ini adalah pada saat hati dan pikiran kita tidak sejalan. Seperti yang saya alami dalam beberapa bulan ini. Hati dan perasaan mendorong saya untuk bergerak ke arah kanan.. Namun di lain sisi, akal sehat dan pikiran saya secara lantang berteriak kepadaku untuk bergerak ke arah kiri, sebab bergerak ke arah kanan tidaklah mungkin. Pertentangan ini menyiksasaya di perbatasan jalan tanpa bisa bergerak sedikitpun.. Terpaku ditengah kebimbangan dan pertarungan antara perasaan dan akal sehat. Hingga pada suatu malam saya mendapatkan secercah inspirasi dan nasihat.. Setelah saya pikir sejenak, saya baru menyadari bahwa inspirasi tersebut adalah jawaban dari kebimbanganku selama ini.

    ReplyDelete
  22. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari elegi pemebrontakan para logos ini menggambarkan keserakahan yang ada pada diri logos yang sejatinya bertentangan dengan diri logos itu sendiri. yang pada akhirnya menyemakan diri logos seperti mitos, namun pada akhirnya penjelmaan logos menjadi mitos kembali lagi menjadi logos

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  23. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb. Meskipun kisah pemberontakan ini hanya metafora dari dialektika ilmu pengetahuan dalam kehidupan nyata, tetapi saya sangat suka dengan istilah pemberontakan, apalagi yang berkaitan dengan pengungkapan kebenaran yang tersembunyi di balik kebohongan. Pemberontakan para logos adalah simbolisasi sains sebagai antiteas terhadap mitos yang telah dipercayai selama berabad-abad sebagai sumber kebenaran. Pemberontakan para logos adalah simbol revolusi ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  24. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Elegi pemberontakan para Logos, logos yang ditugaskan untuk mematahkan mitos. Manusia termasuk salah satu mahluk hidup yang sempurna, tapi tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti mempunyai kekurangan. Ilmu pengetahuan, jabatan hanyalah alat untuk membuat manusia merasa lebih dari yang lainnya. sebagai manusia sebaiknya kita tetap sadar diri dan rendah hati agar tidak mudah diperdaya oleh syaitan.

    ReplyDelete