Sep 28, 2010

Elegi Menggapai Pikiran Jernih




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sdr Dyah Wahyuningsih, saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran

Untuk saat ini saya akan menguraikan dulu jernihnya pikiran dalam kaitannya mempelajari filsafat.

Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.

Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin.

Tetapi ternyata jika hanya pikiran yang menjadi cermin, lalu bagaimana dengan obyek pikiran?

Maka aku telah menemukan bahwa semua yang aku pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada pada hakekatnya adalah cermin juga.

Maka dalam berfilsafat, atau dapat saya katakan dalam berpikir refleksif, saya harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hatiku, itu sebagai cermin.

Maka kata-katamu atau istilahmu “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”.

Artinya saya telah menemukan bahwa, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas.

Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”.

Di dalam Ilmu Jiwa “pure reason” itu setara atau dapat dikatakan sebagai “tidak prejudice”.

Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

Padahal aku mengetahui bahwa “semua pikiranku jika aku telah berhenti memikirkannya maka serta merta dia akan berubah menjadi mitos”.

Sedangkan “semua obyek pikiranku jika aku akan memulai memikirkannya maka dia serta merta akan menggapai logos”

Maka aku menemukan bahwa dalam berpikir, yang terjadi hanyalah pertempuran antara “mitos” dan “logos” saja.

Maka aku telah menemukan bahwa segala macam mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor.

Sedangkan alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”.

Pengertian “prejudice” di dalam filsafat tidaklah serta merta berarti jelek dalam ilmu bidang seperti psikologi, melainkan “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti engkau pikirkan itulah prejudice, itulah tidak pure-reason, itulah tidak menggapai logos, itulah mitos, itulah kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.

Dalam perjalanan filsafat dan para filsuf, untuk mencapai keadaan seperti itu tidaklah mudah.

Dalam rangka menggapai logos, maka Socrates mengembangkan metode dialektik kritis.

Dala rangkan menggapai pikiran jernih, maka Plato membuat tangga keluar dari Gua Plato

Dalam rangka menggapai bukan mitos, maka Aristoteles mengembangkan logika dan sillogisma.

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Descartes berusaha mencari “kepastian pikir” dengan cara “meragukan semua yang ada dan yang mungkin ada”.

Rene Descartes berhasil menemukan “pikiran jernih “ yaitu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”.

Maka Rene Descartes menemukan bahw “cogito-ergosum” adalah satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran, yaitu bahwa “dia ada dikarenakan dia sedang bertanya”.

Itulah hukum yang ditemukan seorang Rene Descartes, bahwa jika engkau tidak mampu mengajukan pertanyaan maka akan terancam hidupmu, yaitu akan termakan ketiadaan.

Itulah sekarang maka saya juga sedang membuktikan bahwa dirimu itu ternyata ada, karena engkau telah mengajukan pertanyaan kepada diriku.

Sedangkan penjelasanku atas pertanyaanmu itulah sebenar-benar ilmuku.

Dalam rangka menggapai pure-reason, maka Immanuel Kant mensintesiskan resionalisme dan empiricisme.

Maka pikiran jernih bagi Immanuel Kant adalah “sintetik a priori”, itulah hakekat berpikir, itulah hakekat logos menurut dia.

Dalam rangka menggapai pikiran bersih maka Moore membuat filsafat bahasa sebagai "common sense".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Auguste Comte sampai-sampai membuat Bendungan Compte (Bacalah Elegi Bendungan Compte".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Sir Bertrand Russell sampai-sampai terperangkap di rumah paradox (Bacalah Elegi Rumah Paradox)

Dalam rangka menggapai pikiran jernih maka Socrates, Galileo dan Bruno sampai mengorbankan jiwanya.

Dalam rangka menggapai tidak prejudice, maka Husserl mengembangkan Phenomenology. Husserl sampai-sampai membuat rumah yang dia sebut sebagai “epoche” sebagai penjaranya bagi para mitos.

Maka agar memperoleh kejernihan terhadap apa yang dipikirkan, maka segala macam pengetahuan awal tentang yang akan dipikirkan itu dia anggap sebagai mitos dan dimasukkan di dalam penjara “epoche”.

Maka Husserl menemukan bahwa si makhluk jernih atau jernihnya pikiran itu tidak lain adalah 2 (dua) serangkai “abstraksi” dan “idealisasi”. Itulah yang kemudian digunakan oleh para matematikawan untuk memikirkan “konsep-konsep matematika”.

Obyek matematika adalah benda-benda pikir yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”.

Abstraksi adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja. Misalnya bersihnya pikiran tentang “kubus” maka hanya dipikirkan tentang bentuk dan ukurannya saja. Segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada misalnya, harganya, bahannya, baunya, warnanya, ...semuanya dimasukkan di dalam “epoche”, artinya tidak diperhatikan.

Idealis adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Ketahuilah bahwa tiadalah sifat sempurna di dunia ini. Tiadalah barang yang lancip di dunia ini. Ujung jarung adalah atom yang lintasannya melingkar, maka tidaklah lancip unjung jarum itu. Maka di dalam matematika sifat yang ada “dianggap sempurna”, lancip ya lancip betul, lurus ya lurus betul, datar ya datar betul, dst. Itulah idealisasi.

Ternyata aku telah menemukan bahwa pertanyaanmu tentang “pikiran jernih” itu sebetulnya persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu yang merupakan perjuangan para filsuf sejak awal hingga akhir.

Itulah mengapa aku merasa perlu segera menjawabnya. Maka uraianku semua di atas tidak lain tidak bukan adalah filsafat ilmu atau filsafat itu sendiri. Jika engkau mampu berpikir jernih, maka semua Elegi-elegi yang aku tulis itu sebetulnya adalah epistemologi atau metode berpikir atau pikiran jernih.

Demikian mudah-mudahan engkau dan teman-temanmu jernih pula dalam membaca jawabanku.

Amiin.

28 comments:

  1. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Setelah membaca elegi ini saya menjadi memiliki sebuah perspektif baru bahwa dalam menggapai pikiran yang jernih tidak hanya berhenti pada pikiran yang jernih, namun juga menjernihkan apa yang kita pikirkan. Antara pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang jernih.

    ReplyDelete
  2. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Setelah membaca elegi ini saya menjadi memiliki sebuah perspektif baru bahwa dalam menggapai pikiran yang jernih tidak hanya berhenti pada pikiran yang jernih, namun juga menjernihkan apa yang kita pikirkan. Antara pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang jernih.

    ReplyDelete
  3. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Pikiran yang jernih dapat diibaratkan sebagai cermin yang bersih. Dalam filsafat untuk menggapai logos maka kita harus selalu mengacaukan pikiran. Apakah pikiran yang kacau dapat digunakan sebagai cermin?

    ReplyDelete
  4. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Memang sangat sulit dalam menggapai pikiran yang jernih dalam mempelajari ilmu filsafat, akan tetapi setiap pribadi yang selalu berpikir untuk menjadi baik akan selalu ada pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih dapat diraih dengan hati yang baik dan jernih pula. Pikiran yang jernih ibarat cermin yang bersih, sehingga jika ingin berpikiran jernih sudah pasti maka kita haruslaj sering refleksi diri. Dalam berefleksi diri sudah seharusnya memiliki pendangan atau pegangan yang baik pula.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Ketika manusia memiliki pikiran yang jernih, ia dapat menciptakan suatu hal yang besar yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Dalam pikiran yang jernih itu syaiton-syaiton seperti terbelenggu tidak dapat mempengaruhi diri manusia. Dengan pikiran yang jernih itu pula manusia mampu memetik pelajaran berharga dari kehidupan ini, sehingga manusia dapat menggali segala hal yang terlintas dalam pikirannya menjadi suatu hal yang tampak oleh indra dan sangat berharga nilainya.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Untuk memiliki pikiran yang jernih itu tidak mudah. DAlam elegi ini dijelaskan bahwa menurut Rene Descartes, pikiran jernih itu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”. Disini dapat diketahui bahwa kita berpikir atau bertanya itu sudah merupakan pikiran jernih karena orang yang tidak memiliki pikiran jernih tidak akan bisa berpikir dan bertanya dengan baik.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Pikiran dan hati adalah dua hal yang saling mempengaruhi. Hati sangatlah mempengaruhi pikiran. Ketika hati sedang kacau maka akan berakibat kacaunya pikiran. Sehingga jika kita ingin berpikir jernih maka hati kita terlebih dahulu dibersihkan. Dengan bersihnya hati, maka segala sesuatu yang kita kerjakan akan lebih bermakna.

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Dalam mempelajari suatu ilmu tentu diperlukan pikiran yang jernih. Diperlukan pula hati yang ikhlas untuk belajar. Untuk memperoleh pikiran yang jernih diperlukan hati yang ikhlas, dan hati tidak boleh dikuasai oleh nafsu. Jika belajar dengan nafsu maka yang didapat hanyalah ilmu sesaat. Dengan hati yang iklhas dan pikiran yang jernih ilmu yang bermanfaat akan diperoleh.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Mengaitkan elegi ini dengan apa yang Prof. Marsigit utarakan dalam berbagai kesempatan perkuliahan, untuk menggapai kemampuan berfikir yang baik seseorang harus terlebih dahulu iklhas hati dan ikhlas fikir. Keikhlasan akan membawa pemikiran yang jernih. Dengan berlandaskan keikhlasan ini lah seseorang akan mampu berfikir jernih dan positif dalam menghadapi segala sesuatu. Sedangkan keikhlasan hanya akan kita capai ketika kita memiliki niat yang tulus karena Allah.

    ReplyDelete
  10. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Jernih artinya bersih, tidak terkotori. Pikiran jernih artinya pikiran bersih dan berasal dari keikhlasan hati. Manusia harusnya memiliki pikiran yang bersih terhadap orang lain, Kita harus membebaskan pikiran kita dari kotoran sehingga kita bisa mendapatkan ketengan jiwa dan bisa melakukan refleksi sehingga kita mudah dalam belajar dan memahami sesuatu. Pikiran yang bersih menjadikan kita dapat menjalani hidup lebih tenang dan damai dan dapat berbuat dengan hati yang tenang serta dapat memasukkan ilmu lebih mudah karena kejernihan hati, jika hati sudah dikotori maka mempelajari dan melanjutkan hidup terasa semrawut.

    ReplyDelete
  11. Jernih berarti bening, itu hanya terjadi di alam pikiran saja. Di alam realism maka tidak ada yang jernih didunia ini melainkan telah sedikit atau banyak terkotori dengan eg dunia. Idealisme piker jernih adalah mustahil dalam tataran dunia. Maka segala sesuatu, subjek ataupun objek hanya mendekati jernih saja. Sampai kapanpun tidak akan menjadi jernih sempurna.

    ReplyDelete
  12. Kesempurnaan jernih hanyalah milik sang Pencipta. Seberapa keras pikiran melakukan olahh piker pasti akan tercamuri dengan persepsi yang telah terbentuk. Sehingga perlu diingat jangan sampai kita enjadi sombong, karena sebenar-benar kita hanyalah manusia yang berikhtiar menggapai pikiran yang jernih

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Berfilsafat berarti kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Dalam belajar filsafat diperlukan pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih maksudnya pikiran kita dan apa yang kita pikirkan adalah sesuatu yang jelas. Pikiran yang jernih adalah modal bagi kita dalam berfilsafat untuk dapat berpikir analitik dan sintetik. Untuk menggapai pikiran yang jernih tidaklah semudah yang kita bisa katakan karena prosesnya memerlukan waktu yang tidak sedikit dan menurut saya proses ini berlangsung sepanjang hidup kita selama kita mampu berpikir. Selain itu, ika dalam belajar filsafat pikiran kita jernih, maka kita akan mudah paham dengan apa yang kita pelajari. Begitu sebaliknya, apabila dalam berfilsafat pikiran kita tidak jernih, maka akan sulit bagi kita untuk memahami filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  14. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Menggapai pikiran jernih merupakan jalan dimana kita bisa mensintesiskan pemikiran para filsuf, sesuatu yang ada dan yang mungkin ada untuk menggapai pikiran jernih. Pikiran tergantung dari hati, jika hati bersih maka pikiran pun akan jernih. Begitu juga dengan filsafat. Apabila pikiran kita jernih maka kita akan mudah dalam memahaminya, namun apabila pikiran kita tidak jernih maka kita tidak dapat memahami filsafat tersebut dengan baik. Pikiran jernih lahir akibat adanya kesatuan persepsi dalam memandang perputaran kemungkinan satu pikiran

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Berfilsafat itu ibaratnya adalah bercermin. Artinya kita merefleksikan apa yang ada dalam pikiran kita, baik itu yang ada maupun yang mungkin ada. Untuk berfilsafat, dibutuhkan pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih itu ibaratnya adalah cermin yang bersih. Jika cermin yang digunakan itu bersih, secara otomatis gambar yang direfleksikan itu jelas, seperti halnya pikiran kita, jika pikiran kita jernih maka kita akan mampu memikirkan sesuatu dengan jelas. Untuk memiliki pikiran yang jernih terlebih dahulu kita berusaha untuk membersihkan hati kita.

    ReplyDelete
  16. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Seperti yang sering diucapkan oleh Prof Marsigit, kacaunya pikiran jangan sampai mengacaukan hati kita. Maka dari itu, hati dan pikiran itu harus dipisah. Menjernihkan hati dengan selalu beristigfar juga menjadi jalan agar kita dapat menerima segala hal yang baik menurut kepercayaan kita. Hati dan pikiran jernih seperti cermin yang bersih. Sering berefleksi diri, mengevaluasi diri untuk dapat berbenah di kemudian hari dan segera meminta ampun kepada Allah.

    ReplyDelete
  17. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pemikiran yang jernih dicapai dengan cara menggapai logos dan tidak menggapai mitos. Dengan berusaha menggapai logos maka sifat obyek pikir kita adalah sintetik apriori sehingga bisa menjadi ilmu. Pikiran yang jernih juga bisa dimulai dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir, karena keduanya bisa sebagai penjaga dalam proses menggapai logos.

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Pikiran jernih adalah ketika pikiran terbebas dari semua emosi negatif, pikiran negatif, dan persepsi yang bisa saja salah dari sesuatu. Segala hal yang mengotori pikiran akan sangat berdampak buruk atau membahayakan hasil pemikiran kita. Saat pikiran diselimuti oleh hal-hal negatif, kita tak akan bisa melihat permasalahan dengan jelas dan akan berdampak pada pembuatan solusi yang tidak tepat. Selain itu, dengan piikiran yang negatif, kita tidak akan bisa melihat ide-ide brilian yang ada di sekitar kita, seperti kita melihat sekeliling dengan kaca mata yang kotor.
    Dalam belajar filsafat, memang sangat dibutuhkan pikiran yang jernih. Pikiran jernih mampu merefleksikan dengan baik diri kita. Maka dari itu, kita harus selalu berikhtiar secara sungguh-sungguh untuk mendapat dan menjaga pikiran agar bersih dan jernih. Namun, tingkat yang lebih tinggi adalah memiliki hati yang juga jernih. Dengan hati yang jernih, tidak hanya mudah mempelajari atau memahami sesuatu, kita juga tidak akan lalai dalam bersyukur dan akan selalu merasa dekat dengan-Nya. Dengan hati yang jernih, kita juga akan dengan mudah menemukan hikmah yang terkandung dalam sesuatu.

    ReplyDelete
  19. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menurut saya, untuk dapat berpikir secara jernih maka saya membutuhkan suasana yang hening dan otak berada dalam kondisi alpha. Sehingga daya kreativitas dapat muncul. Karena menurut penelitian untuk dapat berpikir jernih dan kreatif maka otak harus berada dalam kondisi gelombang alpha sehingga apa yang kita pikirkan itu tidak bersifat grusah-grusu (tergesa-gesa).

    ReplyDelete
  20. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Selain itu, banyak ulama yang mengatakan bahwa rajanya anggota badan adalah hati. Antara pikiran dan hati mempunyai hubungan yang sangat erat. Ketika hati kita merasa tenang maka dampaknya pikiran kita pun akan jernih, namun sebaliknya ketika hati sedang risau, tidak tenang, maka akan sulit untuk menggapai kejernihan pikiran, akan sulit untuk memahami sesuatu. Jadi, akal dan kemampuan memahami pusatnya adalah di hati. Sangat sulit untuk menggapai hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Banyak orang yang melakukan berbagai cara untuk menggapainya. Sebagai muslim, yang mampu menjadi penolong untuk semua kegundahan tentunya hanyalah Allah. Kunci ketenangan hati dan kejernihan pikiran adalah kedekatan kita kepada Allah.

    ReplyDelete
  21. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pikiran yang jernih akan memberikan dampak pada hasil keputusan yang diberikan itu baik. Hal inilah yang mengakibatkan pada dampak positif dari pikiran itu jernih. Apabila pikiran seseorang itu buruk, maka akan memberikan dampak yang negatif terhadap hasil keputusan yang diberikan serta terhadap diri subyek itu sendiri.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  22. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pikiran jernih seperti yang diungkapkan Rene Descartes adalah kepastian pikir. Hal ini dapat diperoleh ketika kita berpikir atau bertanya. Jika kita berhenti berpikir/bertanya maka itu berrati pikiran kita menjadi tidak pasti karena kita sudah terjebak ke dalam mitos.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  23. Assalamualaikum, wr.wb.
    Jernih artinya keadaan ketika tidak terkontaminasi oleh hal lain. Konsep pikiran jernih ini diperlukan dalam pbm, misalnya ketika akan menjawab pertanyaan 7x6 maka segala pikiran-pikiran yang tidak penting harus disingkirkan terlebih dahulu supaya yang keluar dari mulut hanylah 42.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  24. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Filsafat mengajarkan untuk perpikir mendalam hingga akar-akarnya. Di lain sisi, konsep berpikir ini mengajarkan kepada kita untuk berlajar jujur apa yang ada dibalik sebuah objek atau subjek yang kita bicarakan. Tatkala mengetahui secara mendalam, maka kita bisa menentukan apa itu baik atau buruk. Maka, filsafat mengajarkan kepada kita untuk berpikir jernih. Berpikir untuk menyelaraskan antara hati dan pikiran. Tatkala kedua ini tidak bisa berjalan, maka pikiran kita belum jernih dalam menentukan sebuah objek atau subjek.

    ReplyDelete
  25. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pemikiran yang jernih adalah keadaan berpikir saat pikiran kita bersih dari emosi negatif, pikiran negatif, dan dari persepsi yang salah mengenai masalah. Hal-hal yang mengotori pikiran kita bisa membahayakan hasil pemikiran kita. Bila pikiran kita tertutup oleh hal negatif, kita tidak dapat melihat masalah dengan jelas yang dapat membuat kita mengambil solusi yang salah. Selain itu, dengan pemikiran negatif, kita tidak dapat melihat begitu banyak gagasan yang ada di sekitar kita, bahkan kita pun bisa menerima nasehat yang bisa menjadi nasihat emas dalam hidup kita. Seperti saat kita memakai kacamata kotor, kita tidak bisa melihat dengan jelas. Pemikiran yang jernih seperti segelas air yang jernih. Dengan pikiran jernih kita bisa melihat sesuatu dengan jelas.

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    elegi menggapai pikiran jernih mengajarkan kita bahwa dari akal yang baik menghasilkan pikiran yang baik pula. bila pikiran kita memikirkan hal buruk akal kita pun bisa terpengaruh menjadi buruk. akal dan pikiran terkait satu sama lain dan dapat mempengaruhi tingkah laku.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    akal dan pikiran terkait satu sama lain dan dapat mempengaruhi tingkah laku. dalam menghadapi masalah manusia seharusnya bisa berpikir jernih agar masalah yang dihadapinya bisa terselesaikan dengan cepat dan akurat.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Belajar filsafat berarti belajar olah pikir. Dari sini saya semakin memahami betapa penting fungsi berpikir. Seyogyanya, tiadalah waktu bagi manusia untuk berhenti berfikir selain dijemput oleh kematian. Karena manusia dianjurkan untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Jika manusia enggan berpikir maka manusia akan mudah termakan mitos. Sedangkan kedudukan manusia adalah untuk mengajar logos, memperoleh kebenaran. Salah satu jalan dalam mengejar logos adalah dengan bertanya. Malu bertanya sesat dijalan, adalah pepatah agar kita menjaga pikiran yang jernih melalui rajin bertanya.

    ReplyDelete