Sep 28, 2010

Elegi Menggapai Pikiran Jernih




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sdr Dyah Wahyuningsih, saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran

Untuk saat ini saya akan menguraikan dulu jernihnya pikiran dalam kaitannya mempelajari filsafat.

Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.

Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin.

Tetapi ternyata jika hanya pikiran yang menjadi cermin, lalu bagaimana dengan obyek pikiran?

Maka aku telah menemukan bahwa semua yang aku pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada pada hakekatnya adalah cermin juga.

Maka dalam berfilsafat, atau dapat saya katakan dalam berpikir refleksif, saya harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hatiku, itu sebagai cermin.

Maka kata-katamu atau istilahmu “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”.

Artinya saya telah menemukan bahwa, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas.

Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”.

Di dalam Ilmu Jiwa “pure reason” itu setara atau dapat dikatakan sebagai “tidak prejudice”.

Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

Padahal aku mengetahui bahwa “semua pikiranku jika aku telah berhenti memikirkannya maka serta merta dia akan berubah menjadi mitos”.

Sedangkan “semua obyek pikiranku jika aku akan memulai memikirkannya maka dia serta merta akan menggapai logos”

Maka aku menemukan bahwa dalam berpikir, yang terjadi hanyalah pertempuran antara “mitos” dan “logos” saja.

Maka aku telah menemukan bahwa segala macam mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor.

Sedangkan alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”.

Pengertian “prejudice” di dalam filsafat tidaklah serta merta berarti jelek dalam ilmu bidang seperti psikologi, melainkan “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti engkau pikirkan itulah prejudice, itulah tidak pure-reason, itulah tidak menggapai logos, itulah mitos, itulah kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.

Dalam perjalanan filsafat dan para filsuf, untuk mencapai keadaan seperti itu tidaklah mudah.

Dalam rangka menggapai logos, maka Socrates mengembangkan metode dialektik kritis.

Dala rangkan menggapai pikiran jernih, maka Plato membuat tangga keluar dari Gua Plato

Dalam rangka menggapai bukan mitos, maka Aristoteles mengembangkan logika dan sillogisma.

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Descartes berusaha mencari “kepastian pikir” dengan cara “meragukan semua yang ada dan yang mungkin ada”.

Rene Descartes berhasil menemukan “pikiran jernih “ yaitu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”.

Maka Rene Descartes menemukan bahw “cogito-ergosum” adalah satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran, yaitu bahwa “dia ada dikarenakan dia sedang bertanya”.

Itulah hukum yang ditemukan seorang Rene Descartes, bahwa jika engkau tidak mampu mengajukan pertanyaan maka akan terancam hidupmu, yaitu akan termakan ketiadaan.

Itulah sekarang maka saya juga sedang membuktikan bahwa dirimu itu ternyata ada, karena engkau telah mengajukan pertanyaan kepada diriku.

Sedangkan penjelasanku atas pertanyaanmu itulah sebenar-benar ilmuku.

Dalam rangka menggapai pure-reason, maka Immanuel Kant mensintesiskan resionalisme dan empiricisme.

Maka pikiran jernih bagi Immanuel Kant adalah “sintetik a priori”, itulah hakekat berpikir, itulah hakekat logos menurut dia.

Dalam rangka menggapai pikiran bersih maka Moore membuat filsafat bahasa sebagai "common sense".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Auguste Comte sampai-sampai membuat Bendungan Compte (Bacalah Elegi Bendungan Compte".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Sir Bertrand Russell sampai-sampai terperangkap di rumah paradox (Bacalah Elegi Rumah Paradox)

Dalam rangka menggapai pikiran jernih maka Socrates, Galileo dan Bruno sampai mengorbankan jiwanya.

Dalam rangka menggapai tidak prejudice, maka Husserl mengembangkan Phenomenology. Husserl sampai-sampai membuat rumah yang dia sebut sebagai “epoche” sebagai penjaranya bagi para mitos.

Maka agar memperoleh kejernihan terhadap apa yang dipikirkan, maka segala macam pengetahuan awal tentang yang akan dipikirkan itu dia anggap sebagai mitos dan dimasukkan di dalam penjara “epoche”.

Maka Husserl menemukan bahwa si makhluk jernih atau jernihnya pikiran itu tidak lain adalah 2 (dua) serangkai “abstraksi” dan “idealisasi”. Itulah yang kemudian digunakan oleh para matematikawan untuk memikirkan “konsep-konsep matematika”.

Obyek matematika adalah benda-benda pikir yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”.

Abstraksi adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja. Misalnya bersihnya pikiran tentang “kubus” maka hanya dipikirkan tentang bentuk dan ukurannya saja. Segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada misalnya, harganya, bahannya, baunya, warnanya, ...semuanya dimasukkan di dalam “epoche”, artinya tidak diperhatikan.

Idealis adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Ketahuilah bahwa tiadalah sifat sempurna di dunia ini. Tiadalah barang yang lancip di dunia ini. Ujung jarung adalah atom yang lintasannya melingkar, maka tidaklah lancip unjung jarum itu. Maka di dalam matematika sifat yang ada “dianggap sempurna”, lancip ya lancip betul, lurus ya lurus betul, datar ya datar betul, dst. Itulah idealisasi.

Ternyata aku telah menemukan bahwa pertanyaanmu tentang “pikiran jernih” itu sebetulnya persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu yang merupakan perjuangan para filsuf sejak awal hingga akhir.

Itulah mengapa aku merasa perlu segera menjawabnya. Maka uraianku semua di atas tidak lain tidak bukan adalah filsafat ilmu atau filsafat itu sendiri. Jika engkau mampu berpikir jernih, maka semua Elegi-elegi yang aku tulis itu sebetulnya adalah epistemologi atau metode berpikir atau pikiran jernih.

Demikian mudah-mudahan engkau dan teman-temanmu jernih pula dalam membaca jawabanku.

Amiin.

40 comments:

  1. Elli susilawati
    16709251073
    pamt D pps 16

    Berhati-hati dengan hati. Hati yang jernih, bukan semata-mata hasil usaha dari manusia itu sendiri namun ada Dzat Maha membolak-balikkan hati. Maka mintalah kepada Sang Pencipta hati itu sendiri agar diberikan hati yang bersih. Insya Allah, jika hati sudah bersih maka pikiran pun akan mengikuti.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pikiran yang jernih itu ibaratnya adalah cermin yang bersih. Saat kita berfikir, pikiran yang bersih dari emosi atau pikiran negatif dan terbebas persepsi yang salah terhadap sesuatu saat itu lah pikiran dikatakan jernih. Dengan berfikir jernih maka dalam belajar dapat secara luas dan sedalam-dalamnya. Agar dapat mencapai pikiran yang jernih sebaiknya kita membersihkan hati terlebih dahulu. Dengan hati yang bersih maka fikiranpun jernih.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berfilsafat merupakan kegiatan berpikir meliputi tentang segala yang ada dan yang mungkin ada berdasarkan dimensinya. Dengan fikiran yang jernih maka akan membantu mmepermudah dalam berfilsafat. Akan mempermudah pula dalam mengkomunikasikan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dimensi tertentu. Hanya dengan pikiran jernihlah maka kita dapat memaknai tulisan-tulisan elegi yang penuh dengan bahasa analog.

    ReplyDelete
  4. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Pikiran jernih merupakan suatu keadaan dimana ketika kita memikirkan sesuatu tetapi tetap terpikirkan semua yang ada dan mungkin ada. Hal ini dilakukan supayatidak merugikan yang ada dan mungkin ada. Jernih itu bersih. Yang membuat sesuatu hal tidak bersih adalah noda-noda. Maka pikiran yang jernih adalah pikiran yang bersih dari noda-nona yang tidak baik. Noda-noda yang dimaksud adalah prasangka buruk. Saya setuju bahwa dalam berfilsafat harus dengan pikiran jernih. Maka saya salut dengan orang yang mampu berfilsafat dengan mudah dan baik.

    ReplyDelete
  5. Pikiran jernih merupakan pikiran yang jauh dari prasangka. Pikiran jernih ketika menghadapi masalah maka pikiran tersebut dapat memperjelas masalah tersebut. Pikiran yang dapat menjelaskan masalah dengan sangat baik, tidak ada bagian dari masalah yang ditutup-tutupi atau tidak dapat dijelaskan. Seperti pikiran jernih dari Descartes yaitu Cogito ergo sum. Bahwa yang ada adalah pikiran. Orang yang menggunakan akal pikirannyalah yang disebut ada.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili Kurniawati
    PPS Pendidikan Matematika C
    17709251059

    Berfilsafat merupakan kegiatan refleksi diri. Dan pikiran ibarat sebuah cermin yang digunakan untuk merefleksikan atau mencerminkan diri kita. Maka sebaik- baik bercermin adalah menggunakan kaca yang jernih sehingga menghasilkan bayangan yang jernih. Apabila kaca yang kita gunakan bercermin tidaklah jernih kita tidak akan dapat melihat dengan jelas diri kita sendiri. Kita dapat tertipu oleh debu dan kotoran yang menempel pada kaca. Maka ibarat bercermin, kaca yang kita gunakan untuk refleksi diri jugalah harus jernih. Karena itulah pikiran yang kita gunakan untuk merefleksikan diri jugalah harus bersih dan jernih. Karena itulah sebenar-benar pikiran yang kita gunakan untuk belajar filsafat haruslah pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  7. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berfilsafat merupakan kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita, mencakup semua yang kita pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada. Gar kita dapat berfikir refleksif yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, kita harus menggunakan pikiran dan yang kita pikirkan sebagai sebuah cermin yang bersih, bebas dari segala macam kotoran yang mengakibatkan pikiran kita tidak jernih. Cara yang bisa dilakukan untuk mencapai keadaan yang demikian adalah melalui bertanya dan berpikir. Disamping akan membuktikan kebenaran kita, bertanya dan berpikir juga akan menjadi permulaan pengembangan pengetahuan kita untuk mencapai kejernihan.

    ReplyDelete
  8. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dari elegi ini, kita bisa memperoleh pelajaran bahwa dimanapun kita berada harus selalu berpikir refleksif melalui bertanya dan berpikir tentang semua yang ada dan yang mungkin ada. Agar kita bisa berpikir refleksif yang sedalam-dalamnya, kita harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada, termasuk pikiran yang kita pikirkan sebagai sebuah cermin yang bersih, bebas dari segala macam kotoran yang mengakibatkan pikiran tidak jernih. Jka pikiran kita sedang tidak jernih maka refleksinya buram dan jika pikiran sedang buram yang terjadi efek negatif, negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Bahkan yang membahayakan ketika refleksi sedang tidak jernih maka akan menimbulkan hal-hal yang tidak inginkan.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendapatkan nasehat dari orang lain untuk selalu berpikiran jernih. Pikiran yang jernih akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Pikiran yang jernih akan mengantarkan kita untuk bersikap yang benar, tidak gegabah, tenang, sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tulisan di atas, selain memberikan informasi mengenai cara menggapai pikiran yang jernih dan apa saja manfaatnya, juga memberikan informasi mengenai hubungan antara berfilsafat dengan pikiran jernih. Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri dengan menggunakan pikiran kita, sehingga pikiran kita ini diibaratkan dengan cermin. Oleh karena itu, kita butuh cermin yang bersih atau pemikiran yang jernih agar dapat berfilsafat dengan baik. Jadi sekarang, mulailah untuk selalu berpikiran jernih, karena dengan itu, mudah-mudahan langkah kita dalam menuntut dan memahami ilmu juga dimudahkan.

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Akal dan hati adalah dua hal yang berbeda. Akal memilki bagian tersendiri, begitu juga dengan perasaan yang dekat dengan hati maupun keyakinan. Masing-masing memilki alat ukur sendiri untuk mengukur sesuatu. Akan tetapi akal dan hati memliki keterkaitan. Keberhasilan seseorang bisa dikaitkan dengan penggunaan pikiran dan hati setiap individu yang digunakan secara seimbang.
    Ketika bersikap maupun dalam mengambil keputusan hendaknya meminta pertimbangan dari akal maupun hati. Mempertimbangan akal dalam pengambilan keputusan setidaknya tidak akan melanggar kebenaran akal, minimal akal kita sendiri. Jika menggunakan hati maka keputusan tersebut tidak akan bertentangan dengan hati seseorang, minimal hati kita sendiri. Mempelajari filsafat tentu tidak jauh dari hati dan pikiran. Seperti jawaban Prof. di atas, dalam mempelajari sesuatu memang diperlukan pikiran dan hati yang jernih sesuai dengan kemampuan individu masing-masing dalam memperjuangkan kejernihan pikiran dan hatinya.

    ReplyDelete
  11. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Menurut "Elegi Menggapai Pikiran Jernih" ternyata “pikiran jernih” itu merupakan persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu.
    Jika kita bisa memahami dan mengerti tentang penjelasan di atas berarti kita sudah berhasil memahami elegi tersebut dan mempunyai pikiran yang jernih dalam mencerna maksud elegi ini.
    Selain itu, hal yang dapat saya peroleh dari elegi di atas bahwa membuat pertanyaan berarti kita membuat diri kita ADA dalam proses pembelajaran. Namun dari apa yang saya alami bahwa membuat pertanyaan bukan merupakan hal yang mudah.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  12. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A

    Kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. sudah sepatutnya untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan. Akal dan pikiran adalah pemberian-Nya. Oleh karena itu menggunakan akal kita untuk memikirkan hal-hal yang baik (dan menimbulkan pikiran yang jernih) adalah salah satu cara mensyukuri nikmat tersebut. Karena sungguh kemerdekaan dalam berpikir adalah kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih. Apabila kita berbicara dan bertindak dengan pikiran yang jernih maka akan mencapai kebahagiaan.

    ReplyDelete
  13. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini kita memahami bahwa ada yang namanya kegiatan hati dan pikiran. Dan untuk mempelajari filsafat kita perlu menggunakan pikiran dan hati. Ketika belajar filsafat dengan merefleksikan pikiran. Pikiran yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada.ketika hati dan pikiran jernih maka akan mudah untuk menerima ilmu. Dan setiap orang mempunyai cara sendiri sendiri untuk menggapai pikiran jernih. Dalam artian membuat teori, seperti yang dicontohkan pada elegi.

    ReplyDelete
  14. Tri wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "....saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran". Kalimat tersebut membawa saya pada suasana kuliah pertama bersama Bapak Marsigit. Bapak mengutarakan bahwa pikiran boleh kacau, tetapi hati jangan. Dan pada postingan ini pun untuk menjawab pertanyaan tentang hakikat pikiran jernih kembali menitikberatkan betapa hati dan pikiran harus berada sisi yang berbeda.
    Yang kedua, memahami hidup harus melihat apa yang "ada" dan yang "mungkin ada". Sering kali saya sebagai manusia berpikir hanya berhenti pada bagian yang "ada". 5+7=12, mutlak (ini pemikiran saya sebelum membaca blog powermathematics.blogspot.co.id). Untuk saat ini, saya kadang menjadi sok tahu dengan mengkaitkan segala sesuatunya dengan "ruang da waktu". Saya menjadi orang yang sok sibuk ketika melihat deretan angka yang dijumlahkan, dikurangkan, dikalikan, atau diapakan lainnya. Awalnya 5+7=12 mutlak bagi saya, saat ini saya mulai berpikir kalau soal tersebut dipikirkan dengan konsep ruang dan waktu bisa saja berubah menjadi seperti ini, 5 kadal ditambah 7 beruang. Tentu saya sudah tidak memperoleh jawaban 12 secara bulat, bukan?
    Saya masih belajar

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Terimkasih atas jawabannya pak.
    Dari penjelasan bapak saya mengetahui bahwa hati yang bersih lahir dari pikiran dan obyek yang dipikirkan jelas sehingga kita terhindar dari mitos. Berfilsafat itu sendiri adalah bentuk refleksi diri terhadap pikiran dan pikiran yang dibutuhkan dalam berfilsafat adalah pikiran yang jernih. Apabila pikiran tidak jernih, maka akan sulit bagi kita untuk memahami filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  16. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk menggapai kejernihan hati dan pikiran, maka dalam berfikir filsafat hendaknya berfikir refleksif, yang berarti bercermin dengan cermin yang sejernih-jernihnya. Rede Descartes menemukan kejernihan pikiran dapat digapai saat memiliki kepastian pikir yaitu pikiran yang tidak dapat dibantah lagi berupa fakta bahwa dirinya ada saat sedang BERTANYA atau BERPIKIR. Saat berfikir dan bertanya itulah kejernihan pikiran sedang dibangun. Jika kita tidak mampu mengajukan pertanyaan, maka kita terancam dalam ketiadaan.

    ReplyDelete
  17. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Penjelasan berpikir jernih yang sangat detail dan kompleks. Saya sangat mudah untuk memahaminya. Manusia mampu berpikir secara jernih saat ia dapat membedakan antara kegiatan hati dan pikiran. Menurut saya pribadi kedua hal ini harus berjalan seimbang. Bukti seseorang mampu berpikir jernih saat menggunakan akalnya untuk tetap berpikir dan mengajukan suatu pertanyaan. Pikiran-pikiran kita dapat mempengaruhi sejauhmana tindakan yang dilakukan. Kegiatan hati dan pikiran juga dapat mengindikasikan sebuah eksistensi dari manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  18. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menggapai pikiran jernih memang sering dikaitkan dengan kuatnya logika berpikir dan tidak terpengaruh faktor-faktor perasaan yang subjektif. Pikiran jernih itu sendiri sebenarnya tergantung pada diri masing-masing, karena pikiran kita selalu dipengaruhi emosi dan perasaan. Tak jarang keduanya malah mendominasi shingga pikiran jernih sangat sulit diraih. Maka kembali lagi kepada diri kita sendiri, sanggupkah kita menyeimbangkan hati dan pikiran sehingga emosi, perasaan, dan logika dapat berjalan seimbang dan saling mendukung.

    ReplyDelete
  19. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B

    Apa yang kita pikirkan dan lakukan adalah cerminan diri kita sendiri, mulai dari berpikir reflektif, yang menggunakan semua yang ada dan mungkin ada termasuk pikiran dan hatinya. Sehingga pemikiran itu dapat menjadi logos atau mitos, apabila semua pikiran telah berhentu memikirkannya hal tersebut akan menjadi mitos, sedangkan apabila objek pikiran memulai memikirkannya hal tersebut akan menggapai logos. Dalam menggapai pikiran jernih, seseorang sebaiknya bertanya dan berpikir, karena menurut Rene Descartes jika seseorang tidak bertanya maka akan termakan ketiadaan. Sedangkan dalam ilmu matematika jernihnya pikiran terdiri dari dua serangkaian yaitu abstraksi dan idealisasi yang digunakan untuk memikirkan konsep-konsep.

    ReplyDelete
  20. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Filsafat adalah ilmu berpikir, maka agar dapat menggapai filsafat kita harus memiliki pikiran dan hati yang jernih. Untuk menggapai pikiran dan hati yang jernih bukanlah perkara mudah yang langsung bisa di dapat dengan instan, namun semuanya butuh proses. Proses yang sedang saya jalani adalah dengan membaca elegi-elgi dalam blog ini. Awalnya memang karena syarat perkuliahan, namun ternyata banyak menfaat yang saya peroleh.

    ReplyDelete
  21. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Ketika kita berfilsafat, kita merefleksikan apa yang ada dalam pikiran kita. Ibaratnya bercermin, cermin yang digunakan itu bersih, secara otomatis gambar yang nampak akan jelas, seperti halnya pikiran kita, jika pikiran kita jernih maka kita akan mampu memikirkan sesuatu dengan jelas. Saat pikiran jernih, kita akan lebih fokus dan lebih bijak dalam menentukan pilihan dan tindakan. Oleh karena itu, semakin dekatkanlah diri kita kepada Allah SWT agar hati dan pikiran kita selalu terjaga.

    ReplyDelete
  22. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Menggapai pikiran yang jernih, untuk menggapai pikiran yang jernih hendaknya dalam berfikir filsafat kita berpikir secara refleksif. Artinya baik pikiran maupun obyek pikir haruslah sebagai cermin yang bersih atau sesuatu yang jelas. Salah satu cara untuk menggapai pikiran jernih, kita dapat berusaha untuk mencari kepastian pikir. Kepastian pikir itu ada, jika kita bertanya. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  23. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas tulisan di atas. Sungguh tidak mudah untuk memahami setiap artikel yang bapak tulis. Ilmu bapak amatlah luas, kritis, detail, dan saya benar-benar belajar dari setiap kalimat-kalimat bapak. Bukan hal sepele ternyata untuk menggapai pikiran yang jernih. Bapak mengibaratkannya sebagai cermin yang bersih. Sedangkan saya membayangkan dan mengibaratkannya sebagai air yang bening. Apabila air yang bening berada dalam suatu bejana terbuka lalu terdapat sedikit kotoran atau pewarna lain yang menetes di dalamnya, tidaklah dapat menjadikan air itu murni lagi. Untuk menjaga air itu tetap bening, amatlah sulit kecuali kalau bejana nya tertutup. Sama hal nya dengan pikiran, mitos lah yang menyebabkan pikiran menjadi kotor atau tidak jernih lagi. Hal-hal yang tidak perlu dipikirkan menjadi racun bagi kita sendiri. Kecuali kita mampu membentengi diri (bukan menutup diri) dari hal-hal yang kurang membawa kemanfaatan yang hakiki dan agar kita mampu untuk terus menggapai logos meskipun pengaruh dari luar sangatlah kompleks. Benar sekali yang bapak katakan. Tulisan-tulisan bapak menjadi salah satu metode berpikir jernih. Karena yang bapak jelaskan, selalu dengan kacamata objektif dan menjadikan diri saya untuk berusaha selalu berpositif thinking.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum, Wr.Wb
    Terimakasih pak atas postingan jawabannya.
    Pada postingan kali ini, menggambarkan tentang pikiran jernih. Untuk menggapai pikiran jernih menurut para filsafat dan para filsuf tidaklah mudah. Banyak cara dan langkah agar tercipta pikiran jernih dan hati yang jernih. Karena sesungguhnya apa yang kita pikirkan juga dipengaruhi dengan hati kita. Hindari mitos, karena mitos akan membuat pikiran kita menjadi kotor. Dalam belajar filsafat harus jernih pikirannya dalam memahaminya. Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita. Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin, dan cermin itu haruslah bersih. Selain pikiran yang bersih objek pikiran juga harus bersih.

    ReplyDelete
  26. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Pertanyaan merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses memperoleh ilmu pengetahuan. Karena dengan bertanya, seseorang akan bertambah informasinya mengenai suatu hal. Dengan kata lain, apabila kita masih ingin bertanya, berarti kita masih membutuhkan ilmu atau informasi. Kebutuhan kita akan suatu ilmu pengetahuan atau inormasi merupakan tanda bahwa kita masih termasuk salah satu bagian dari suatu himpunan, dengan kata lain kita masih ada.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  27. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Terima kasih Pak, atas tulisan yang penuh makna ini. Jujur saja, saya juga merasa sulit ketika belajar filsafat ilmu di kelas. Ya, mungkin karena pikiran saya belum jernih. Karena terlalu banyak prejudice berbentuk prasangka dalam pikiran saya. Dan saya sadari prasangka tersebut merupakan bentuk kerdilnya pengetahuan saya, terlalu sedikitnya informasi-informasi yang baru saya cari sehingga menimbulkan prasangka atau prejudice.

    ReplyDelete
  28. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pikiran adalah bentuk dari apa yang kita lihat dan kita rasakan, baik yang ada maupuan yang mungkin ada. Pikiran merupakan kontrol dari segala perbuatan. Jika pikiran dan hati tidak bisa saling berkontribusi, maka kacaulah perbuatan kita. Dimisalkan kita tidak berpikir jernih atau pikiran kita negatif atau kotor, tetapi jika hati memberikan isyarat kepada pikiran jika hal yang negatif itu harus dihindari, maka kita tidak akan melakukan hal yang negatif. Cara untuk membersihkan pikiran yang tidak jernih atau kotor yaitu dengan menggapai logos atau menggapai bukan mitos, dan tidak meninggalkan doa. Karena sebaik-baik perbuatan adalah diawali dengan berdoa dan diiringi dengan dzikir.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna dengan dibekali akal pikiran. Dengannya manusia dapat berpikir, bernalar, dan membuat keputusan. Hal ini tentu memiliki peran dan manfaat yang sangat besar dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Sayangnya, tidak sedikit manusia yang akal dan pikirannya ini tak diimbangi dengan nafsu yang terjaga. Alhasil banyak oknum yang dengan akal dan pikirannya justru melakukan tindakan-tindakan kotor yang menyimpang dari aturan dan jalan kebenaran. Padahal untuk menjadi sebenar-benar manusia yang baik, seseorang harus mampu menggunakan pikiran yang jernih dan baik agar senantiasa berada di jalan yang benar dan dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya. Pikiran yang jernih hanya akan tercapai ketika seseorang mampu secara baik dan ikhlas mengendalikan pikiran tersebut dan diimbangi dengan nafsu yang terkontrol dan diarahkan kepada kebaikan.

    ReplyDelete
  30. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B 2017

    Jernih artinya bersih, tidak terkotori. Pikiran jernih artinya pikiran bersih dan berasal dari keikhlasan hati. Kita harus membebaskan pikiran kita dari kotoran sehingga kita bisa mendapatkan ketengan jiwa dan bisa melakukan refleksi sehingga kita mudah dalam belajar dan memahami sesuatu, keikhlasan merupakan kunci masuknya ilmu dalam diri kita ini,sehingga dalam membelajari fisafat seperti yang diperlajari sebalumnya adalah ikhlas hati, ikhlas pikiran untuk membaca. karena dengan ikhlas hati dan pikiran ilmu maka akan lebih mudah mempelajari suatu ilmu.


    ReplyDelete
  31. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Setiap manusia diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dengen segala apa yang telah dikaruniakan kepada kita, tugas manusia berikhtiar dengan sebaik-baiknya. Pikiran jernih memang kita perlukan dalam upaya kita berikhtiar sebaik mungkin, dalam filsafat kita mempelajari apa yang ada di depan kita, sehingga segala sesuatu yang tidak kita perlukan kita simpan ke dalam "epoche". Agar kita lebih terfokus tentang apa yang diperlukan dalam berikhtiar.

    ReplyDelete
  32. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Ketika filsafat adalah refleksi diri, yang dibutuhkan di dalam diri adalah cermin yang jernih. Bagaimana mau berefleksi jika cerminnya tak jernih? Menjaga cermin itu tetap jernih adalah berbeda untuk setiap orang. Tiap orang memiliki tantangannya masing-masinh yang membuatnya berjuang dengan caranya sendiri dalam menjaga kejernihan dirinya. Keikhlasan adalah salah satu alat penjaganya, satu dari beragam hal yang dapat menjaga jernihnya hati dan pikiran ketika disesuaikan dengan kehidupan masing-masing.

    ReplyDelete
  33. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Terimakasih Pak… Ternyata jawaban untuk pertanyaan “menggapai pikiran jernih” itu sangat panjang dan melampaui berbagai jaman. Jadi bertanya, berfilsafat itu adalah upaya untuk menggapai pikiran jernih ya… Saya sendiri merasakan juga, setelah belajar filsafat, meski masih selalu nol dalam tes jawab singkat, saya menjadi lebih terbuka dalam memandang berbagai hal… jadi selalu ingat akan apa yang ada dan yang mungkin ada. Tak mudah membuat ‘prejudice’. Saat ini saya pun dalam usaha untuk menggapai pikiran jernih itu…

    ReplyDelete
  34. Shelly Lubis
    1770925040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    sejatinya, dalam segala hal kita harus berusaha menjernihkan hati dan pikiran, apapun ilmu yang sedang kita pelajari, tidak hanya dalam ilmu filsafat. sebagai contoh, saat kita sedang mempelajari ilmu statistik, di saat hati dan pikiran kita tidak jernih, maka ilmu yang kita pelajari itu hanya akan sekedar menjadi mitos, bisajadi hanya akan bermanfaat bagi diri kita sendiri, bukan bagi orang lain. sebenar-benar ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa kita bagikan ke orang lain dan juga memberikan manfaat bagi mereka.

    ReplyDelete
  35. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Terima kasih Prof. dengan membaca tulisan diatas awalnya membuat pikiran kami kacau, belum bisa mengikuti alur dan step2 tulisan diatas. Namun, berulang kamli coba kami pahami sedikir demi sedikit, sehingga dari tulisan diatas kami memahami bahwa pikiran merupakan produk akal dan anugerah dari Allah SWT. Menjernihkan pikiran memang sulit, apalagi seperti dijelaskan bapak bahwa pikiran adalah urusan dunia, perlu waktu setiap hari untuk muhasabah diri, sehingga jika manusia dapat muhasabah, dia dapat mengevaluasi hal-hal apa saja yang membuat pikiran dan hatinya tidak jernih sehingga dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk, karena sesungguhnya apa yang dilakukan manusia saling berkaitan antara hati, pikiran dan perbuatan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  36. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Didalam berfilsafat haruslah mempunyai pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih mewakili dari hati yang jernih. Didalam belajr filsafat pikiran yang jernih dan hati yang jernih haruslah sejalan. Karena jika pikiran tidak jernih berarti ada kekacauan didalm hati. Pikiran yang jernih berarti kita sedang dalam berpikir yang baik. sebaik-baiknya berpikir adalah adanya suatu pertanyaan. Pertanyaan itu ada karena hidupnya pemikiran kita. Pikiran yang mati adalah jika tidak dalam berpikir.

    ReplyDelete
  37. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Di dalam hidup ini berpikir jernih selalu diidam-idamkan oleh setiap manusia. Ternyata setelah membaca, berpikir jernih adalah terus menerus berpikir. Berusaha menggapai logos. Berusaha untuk membersihkan mitos. Sehingga dalam menggapai pikiran jernih maka harus terus menerus berusaha berpikir. Dalam berpikir juga selalu dilandasi dengan hati dan spiritual agar yang dipikirkan tidak melampaui batas-batas pikiran manusia.

    ReplyDelete
  38. Atik Rodiawati
    17709251025
    PPS Pendidikan Matematika B 2017

    Melalui bacaan ini saya mendapatkan hal terpenting yaitu berfilsafat adalah kegiatan reflektif terhadap pikiran. Memahami sesuatu melalui pikiran dan lalu merefleksikannya terhadap pikiran merupakan hal yang dilakukan oleh pemikir yang baik. Hal inilah yang dilakukan oleh para filsuf sejak dahulu. Tentu dengan tujuan untuk memperoleh refleksi yang jernih dan bersih. Elegi ini juga mengingatkan saya bahwa kepada elegi yang mengatakan bahwa para filsuf juga sejak dahulu mencapai bijaksana. Kedua elegi ini benar-benar nenyadarkan saya akan pentingnya untuk berfilsafat dalam mencapai suatu kebaikan sesuai kemampuan manusia bukan sesuai kesempuraan pada tujuan. Hal ini karena manusia hidup sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan. Kesempunaan sejati hanya milik Yang Kuasa.

    ReplyDelete
  39. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Ada beberapa faktor kenapa kebanyakan orang tidak dapat berfikir jernih: pertama, adalah faktor ketidaktahuan (intelektual). Dalam perdebatan biasanya orang-orang yang hanya mengandalkan emosi sangat gampang tersulut emosinya sehingga lepas dari kendali akal sehatnya. Kedua, adalah faktor spiritual. Sepintar-pintarnya kita, namun jika kita jauh dari Allah SWT. Maka kita akan jauh dari akal sehat. Ketiga, adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi lebih sering menjadi faktor di mana manusia kehilangan akal sehatnya.

    ReplyDelete
  40. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Pikiran ibarat pedang bermata dua, apabila manusia dapat menggukanannya maka dapat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Namun pikiran dapat menjadi penghancur manusia apabila manusia tidak dapat menguasainya. Manusia saling memakan, manusia saling menyalahkan, manusia saling berperang itu semua karena manusia memiliki pikiran yang yang tidak dikuasainya. Dalam menguasai pikiran manusia memiliki hati, hati dapat menjadi pengerem setiap tindakan dan pikiran manusia yang melewati batas. Tetapi hati tanpa pikiran hanya akan membutakan manusia, menjadikan manusia tersebut hanya diperalat manusia yang lain. Semoga kita selalu diberikan hati dan pikiran yang jernih, Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete