Sep 28, 2010

Elegi Menggapai Pikiran Jernih




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sdr Dyah Wahyuningsih, saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran

Untuk saat ini saya akan menguraikan dulu jernihnya pikiran dalam kaitannya mempelajari filsafat.

Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.

Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin.

Tetapi ternyata jika hanya pikiran yang menjadi cermin, lalu bagaimana dengan obyek pikiran?

Maka aku telah menemukan bahwa semua yang aku pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada pada hakekatnya adalah cermin juga.

Maka dalam berfilsafat, atau dapat saya katakan dalam berpikir refleksif, saya harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hatiku, itu sebagai cermin.

Maka kata-katamu atau istilahmu “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”.

Artinya saya telah menemukan bahwa, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas.

Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”.

Di dalam Ilmu Jiwa “pure reason” itu setara atau dapat dikatakan sebagai “tidak prejudice”.

Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

Padahal aku mengetahui bahwa “semua pikiranku jika aku telah berhenti memikirkannya maka serta merta dia akan berubah menjadi mitos”.

Sedangkan “semua obyek pikiranku jika aku akan memulai memikirkannya maka dia serta merta akan menggapai logos”

Maka aku menemukan bahwa dalam berpikir, yang terjadi hanyalah pertempuran antara “mitos” dan “logos” saja.

Maka aku telah menemukan bahwa segala macam mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor.

Sedangkan alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”.

Pengertian “prejudice” di dalam filsafat tidaklah serta merta berarti jelek dalam ilmu bidang seperti psikologi, melainkan “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti engkau pikirkan itulah prejudice, itulah tidak pure-reason, itulah tidak menggapai logos, itulah mitos, itulah kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.

Dalam perjalanan filsafat dan para filsuf, untuk mencapai keadaan seperti itu tidaklah mudah.

Dalam rangka menggapai logos, maka Socrates mengembangkan metode dialektik kritis.

Dala rangkan menggapai pikiran jernih, maka Plato membuat tangga keluar dari Gua Plato

Dalam rangka menggapai bukan mitos, maka Aristoteles mengembangkan logika dan sillogisma.

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Descartes berusaha mencari “kepastian pikir” dengan cara “meragukan semua yang ada dan yang mungkin ada”.

Rene Descartes berhasil menemukan “pikiran jernih “ yaitu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”.

Maka Rene Descartes menemukan bahw “cogito-ergosum” adalah satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran, yaitu bahwa “dia ada dikarenakan dia sedang bertanya”.

Itulah hukum yang ditemukan seorang Rene Descartes, bahwa jika engkau tidak mampu mengajukan pertanyaan maka akan terancam hidupmu, yaitu akan termakan ketiadaan.

Itulah sekarang maka saya juga sedang membuktikan bahwa dirimu itu ternyata ada, karena engkau telah mengajukan pertanyaan kepada diriku.

Sedangkan penjelasanku atas pertanyaanmu itulah sebenar-benar ilmuku.

Dalam rangka menggapai pure-reason, maka Immanuel Kant mensintesiskan resionalisme dan empiricisme.

Maka pikiran jernih bagi Immanuel Kant adalah “sintetik a priori”, itulah hakekat berpikir, itulah hakekat logos menurut dia.

Dalam rangka menggapai pikiran bersih maka Moore membuat filsafat bahasa sebagai "common sense".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Auguste Comte sampai-sampai membuat Bendungan Compte (Bacalah Elegi Bendungan Compte".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Sir Bertrand Russell sampai-sampai terperangkap di rumah paradox (Bacalah Elegi Rumah Paradox)

Dalam rangka menggapai pikiran jernih maka Socrates, Galileo dan Bruno sampai mengorbankan jiwanya.

Dalam rangka menggapai tidak prejudice, maka Husserl mengembangkan Phenomenology. Husserl sampai-sampai membuat rumah yang dia sebut sebagai “epoche” sebagai penjaranya bagi para mitos.

Maka agar memperoleh kejernihan terhadap apa yang dipikirkan, maka segala macam pengetahuan awal tentang yang akan dipikirkan itu dia anggap sebagai mitos dan dimasukkan di dalam penjara “epoche”.

Maka Husserl menemukan bahwa si makhluk jernih atau jernihnya pikiran itu tidak lain adalah 2 (dua) serangkai “abstraksi” dan “idealisasi”. Itulah yang kemudian digunakan oleh para matematikawan untuk memikirkan “konsep-konsep matematika”.

Obyek matematika adalah benda-benda pikir yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”.

Abstraksi adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja. Misalnya bersihnya pikiran tentang “kubus” maka hanya dipikirkan tentang bentuk dan ukurannya saja. Segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada misalnya, harganya, bahannya, baunya, warnanya, ...semuanya dimasukkan di dalam “epoche”, artinya tidak diperhatikan.

Idealis adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Ketahuilah bahwa tiadalah sifat sempurna di dunia ini. Tiadalah barang yang lancip di dunia ini. Ujung jarung adalah atom yang lintasannya melingkar, maka tidaklah lancip unjung jarum itu. Maka di dalam matematika sifat yang ada “dianggap sempurna”, lancip ya lancip betul, lurus ya lurus betul, datar ya datar betul, dst. Itulah idealisasi.

Ternyata aku telah menemukan bahwa pertanyaanmu tentang “pikiran jernih” itu sebetulnya persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu yang merupakan perjuangan para filsuf sejak awal hingga akhir.

Itulah mengapa aku merasa perlu segera menjawabnya. Maka uraianku semua di atas tidak lain tidak bukan adalah filsafat ilmu atau filsafat itu sendiri. Jika engkau mampu berpikir jernih, maka semua Elegi-elegi yang aku tulis itu sebetulnya adalah epistemologi atau metode berpikir atau pikiran jernih.

Demikian mudah-mudahan engkau dan teman-temanmu jernih pula dalam membaca jawabanku.

Amiin.

11 comments:

  1. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Akal dan hati adalah dua hal yang berbeda. Akal memilki bagian tersendiri, begitu juga dengan perasaan yang dekat dengan hati maupun keyakinan. Masing-masing memilki alat ukur sendiri untuk mengukur sesuatu. Akan tetapi akal dan hati memliki keterkaitan. Keberhasilan seseorang bisa dikaitkan dengan penggunaan pikiran dan hati setiap individu yang digunakan secara seimbang.
    Ketika bersikap maupun dalam mengambil keputusan hendaknya meminta pertimbangan dari akal maupun hati. Mempertimbangan akal dalam pengambilan keputusan setidaknya tidak akan melanggar kebenaran akal, minimal akal kita sendiri. Jika menggunakan hati maka keputusan tersebut tidak akan bertentangan dengan hati seseorang, minimal hati kita sendiri. Mempelajari filsafat tentu tidak jauh dari hati dan pikiran. Seperti jawaban Prof. di atas, dalam mempelajari sesuatu memang diperlukan pikiran dan hati yang jernih sesuai dengan kemampuan individu masing-masing dalam memperjuangkan kejernihan pikiran dan hatinya.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Menurut "Elegi Menggapai Pikiran Jernih" ternyata “pikiran jernih” itu merupakan persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu.
    Jika kita bisa memahami dan mengerti tentang penjelasan di atas berarti kita sudah berhasil memahami elegi tersebut dan mempunyai pikiran yang jernih dalam mencerna maksud elegi ini.
    Selain itu, hal yang dapat saya peroleh dari elegi di atas bahwa membuat pertanyaan berarti kita membuat diri kita ADA dalam proses pembelajaran. Namun dari apa yang saya alami bahwa membuat pertanyaan bukan merupakan hal yang mudah.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  3. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A

    Kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. sudah sepatutnya untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan. Akal dan pikiran adalah pemberian-Nya. Oleh karena itu menggunakan akal kita untuk memikirkan hal-hal yang baik (dan menimbulkan pikiran yang jernih) adalah salah satu cara mensyukuri nikmat tersebut. Karena sungguh kemerdekaan dalam berpikir adalah kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih. Apabila kita berbicara dan bertindak dengan pikiran yang jernih maka akan mencapai kebahagiaan.

    ReplyDelete
  4. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini kita memahami bahwa ada yang namanya kegiatan hati dan pikiran. Dan untuk mempelajari filsafat kita perlu menggunakan pikiran dan hati. Ketika belajar filsafat dengan merefleksikan pikiran. Pikiran yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada.ketika hati dan pikiran jernih maka akan mudah untuk menerima ilmu. Dan setiap orang mempunyai cara sendiri sendiri untuk menggapai pikiran jernih. Dalam artian membuat teori, seperti yang dicontohkan pada elegi.

    ReplyDelete
  5. Tri wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "....saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran". Kalimat tersebut membawa saya pada suasana kuliah pertama bersama Bapak Marsigit. Bapak mengutarakan bahwa pikiran boleh kacau, tetapi hati jangan. Dan pada postingan ini pun untuk menjawab pertanyaan tentang hakikat pikiran jernih kembali menitikberatkan betapa hati dan pikiran harus berada sisi yang berbeda.
    Yang kedua, memahami hidup harus melihat apa yang "ada" dan yang "mungkin ada". Sering kali saya sebagai manusia berpikir hanya berhenti pada bagian yang "ada". 5+7=12, mutlak (ini pemikiran saya sebelum membaca blog powermathematics.blogspot.co.id). Untuk saat ini, saya kadang menjadi sok tahu dengan mengkaitkan segala sesuatunya dengan "ruang da waktu". Saya menjadi orang yang sok sibuk ketika melihat deretan angka yang dijumlahkan, dikurangkan, dikalikan, atau diapakan lainnya. Awalnya 5+7=12 mutlak bagi saya, saat ini saya mulai berpikir kalau soal tersebut dipikirkan dengan konsep ruang dan waktu bisa saja berubah menjadi seperti ini, 5 kadal ditambah 7 beruang. Tentu saya sudah tidak memperoleh jawaban 12 secara bulat, bukan?
    Saya masih belajar

    ReplyDelete
  6. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Terimkasih atas jawabannya pak.
    Dari penjelasan bapak saya mengetahui bahwa hati yang bersih lahir dari pikiran dan obyek yang dipikirkan jelas sehingga kita terhindar dari mitos. Berfilsafat itu sendiri adalah bentuk refleksi diri terhadap pikiran dan pikiran yang dibutuhkan dalam berfilsafat adalah pikiran yang jernih. Apabila pikiran tidak jernih, maka akan sulit bagi kita untuk memahami filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  7. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Untuk menggapai kejernihan hati dan pikiran, maka dalam berfikir filsafat hendaknya berfikir refleksif, yang berarti bercermin dengan cermin yang sejernih-jernihnya. Rede Descartes menemukan kejernihan pikiran dapat digapai saat memiliki kepastian pikir yaitu pikiran yang tidak dapat dibantah lagi berupa fakta bahwa dirinya ada saat sedang BERTANYA atau BERPIKIR. Saat berfikir dan bertanya itulah kejernihan pikiran sedang dibangun. Jika kita tidak mampu mengajukan pertanyaan, maka kita terancam dalam ketiadaan.

    ReplyDelete
  8. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Penjelasan berpikir jernih yang sangat detail dan kompleks. Saya sangat mudah untuk memahaminya. Manusia mampu berpikir secara jernih saat ia dapat membedakan antara kegiatan hati dan pikiran. Menurut saya pribadi kedua hal ini harus berjalan seimbang. Bukti seseorang mampu berpikir jernih saat menggunakan akalnya untuk tetap berpikir dan mengajukan suatu pertanyaan. Pikiran-pikiran kita dapat mempengaruhi sejauhmana tindakan yang dilakukan. Kegiatan hati dan pikiran juga dapat mengindikasikan sebuah eksistensi dari manusia itu sendiri.

    ReplyDelete
  9. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menggapai pikiran jernih memang sering dikaitkan dengan kuatnya logika berpikir dan tidak terpengaruh faktor-faktor perasaan yang subjektif. Pikiran jernih itu sendiri sebenarnya tergantung pada diri masing-masing, karena pikiran kita selalu dipengaruhi emosi dan perasaan. Tak jarang keduanya malah mendominasi shingga pikiran jernih sangat sulit diraih. Maka kembali lagi kepada diri kita sendiri, sanggupkah kita menyeimbangkan hati dan pikiran sehingga emosi, perasaan, dan logika dapat berjalan seimbang dan saling mendukung.

    ReplyDelete
  10. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B

    Apa yang kita pikirkan dan lakukan adalah cerminan diri kita sendiri, mulai dari berpikir reflektif, yang menggunakan semua yang ada dan mungkin ada termasuk pikiran dan hatinya. Sehingga pemikiran itu dapat menjadi logos atau mitos, apabila semua pikiran telah berhentu memikirkannya hal tersebut akan menjadi mitos, sedangkan apabila objek pikiran memulai memikirkannya hal tersebut akan menggapai logos. Dalam menggapai pikiran jernih, seseorang sebaiknya bertanya dan berpikir, karena menurut Rene Descartes jika seseorang tidak bertanya maka akan termakan ketiadaan. Sedangkan dalam ilmu matematika jernihnya pikiran terdiri dari dua serangkaian yaitu abstraksi dan idealisasi yang digunakan untuk memikirkan konsep-konsep.

    ReplyDelete
  11. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Filsafat adalah ilmu berpikir, maka agar dapat menggapai filsafat kita harus memiliki pikiran dan hati yang jernih. Untuk menggapai pikiran dan hati yang jernih bukanlah perkara mudah yang langsung bisa di dapat dengan instan, namun semuanya butuh proses. Proses yang sedang saya jalani adalah dengan membaca elegi-elgi dalam blog ini. Awalnya memang karena syarat perkuliahan, namun ternyata banyak menfaat yang saya peroleh.

    ReplyDelete