Sep 28, 2010

Elegi Menggapai Pikiran Jernih




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan Sdr Dyah Wahyuningsih:

Ass.wrwb,

Bapak yang terhormat,dalam mempelajari filsafat kita memerlukan hati dan pikiran yang jernih.
Agar kita dapat memahami apa yang kita pelajari tersebut,lalu bagaimanakah agar hati dan pikiran kita tetap jernih?
Karena jika hati dan pikiran kita tidak jernih rasanya akan sulit memahami segala sesuatu.


Wass.wrwb

Jawaban saya (Marsigit):

Sdr Dyah Wahyuningsih, saya selalu membedakan antara kegiatan hati dan pikiran

Untuk saat ini saya akan menguraikan dulu jernihnya pikiran dalam kaitannya mempelajari filsafat.

Berfilsafat adalah kegiatan refleksi diri terhadap pikiran kita.

Dalam melakukan kegiatan refleksi diri dengan pikiran, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin.

Tetapi ternyata jika hanya pikiran yang menjadi cermin, lalu bagaimana dengan obyek pikiran?

Maka aku telah menemukan bahwa semua yang aku pikirkan, yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada pada hakekatnya adalah cermin juga.

Maka dalam berfilsafat, atau dapat saya katakan dalam berpikir refleksif, saya harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada , termasuk pikiran dan hatiku, itu sebagai cermin.

Maka kata-katamu atau istilahmu “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”.

Artinya saya telah menemukan bahwa, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas.

Jernihnya pikiran atau bersihnya cermin atau jelasnya pikiran, itulah yang di dalam filsafat disebut sebagai “pure reason” atau “pikiran murni” atau “budi murni”.

Di dalam Ilmu Jiwa “pure reason” itu setara atau dapat dikatakan sebagai “tidak prejudice”.

Di dalam Elegi-elegi, itulah yang disebut sebagai “menggapai logos” atau “menggapai bukan mitos”.

Padahal aku mengetahui bahwa “semua pikiranku jika aku telah berhenti memikirkannya maka serta merta dia akan berubah menjadi mitos”.

Sedangkan “semua obyek pikiranku jika aku akan memulai memikirkannya maka dia serta merta akan menggapai logos”

Maka aku menemukan bahwa dalam berpikir, yang terjadi hanyalah pertempuran antara “mitos” dan “logos” saja.

Maka aku telah menemukan bahwa segala macam mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor.

Sedangkan alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”.

Pengertian “prejudice” di dalam filsafat tidaklah serta merta berarti jelek dalam ilmu bidang seperti psikologi, melainkan “segala yang ada dan yang mungkin ada yang sedang mulai berhenti engkau pikirkan itulah prejudice, itulah tidak pure-reason, itulah tidak menggapai logos, itulah mitos, itulah kotoran cermin, itulah pikiran tidak jernih”.

Dalam perjalanan filsafat dan para filsuf, untuk mencapai keadaan seperti itu tidaklah mudah.

Dalam rangka menggapai logos, maka Socrates mengembangkan metode dialektik kritis.

Dala rangkan menggapai pikiran jernih, maka Plato membuat tangga keluar dari Gua Plato

Dalam rangka menggapai bukan mitos, maka Aristoteles mengembangkan logika dan sillogisma.

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Descartes berusaha mencari “kepastian pikir” dengan cara “meragukan semua yang ada dan yang mungkin ada”.

Rene Descartes berhasil menemukan “pikiran jernih “ yaitu “kepastian pikir” yaitu “pikiran yang tidak dapat dibantah lagi” yaitu ternyata bahwa “satu-satunya hal yang tidak dapat dibantah adalah fakta bahwa dirinyalah itu pasti adanya yaitu dirinya yang sedang BERTANYA atau BERPIKIR”.

Maka Rene Descartes menemukan bahw “cogito-ergosum” adalah satu-satunya pikiran jernih atau kepastian pikiran, yaitu bahwa “dia ada dikarenakan dia sedang bertanya”.

Itulah hukum yang ditemukan seorang Rene Descartes, bahwa jika engkau tidak mampu mengajukan pertanyaan maka akan terancam hidupmu, yaitu akan termakan ketiadaan.

Itulah sekarang maka saya juga sedang membuktikan bahwa dirimu itu ternyata ada, karena engkau telah mengajukan pertanyaan kepada diriku.

Sedangkan penjelasanku atas pertanyaanmu itulah sebenar-benar ilmuku.

Dalam rangka menggapai pure-reason, maka Immanuel Kant mensintesiskan resionalisme dan empiricisme.

Maka pikiran jernih bagi Immanuel Kant adalah “sintetik a priori”, itulah hakekat berpikir, itulah hakekat logos menurut dia.

Dalam rangka menggapai pikiran bersih maka Moore membuat filsafat bahasa sebagai "common sense".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Auguste Comte sampai-sampai membuat Bendungan Compte (Bacalah Elegi Bendungan Compte".

Dalam rangka menggapai pikiran jernih, maka Sir Bertrand Russell sampai-sampai terperangkap di rumah paradox (Bacalah Elegi Rumah Paradox)

Dalam rangka menggapai pikiran jernih maka Socrates, Galileo dan Bruno sampai mengorbankan jiwanya.

Dalam rangka menggapai tidak prejudice, maka Husserl mengembangkan Phenomenology. Husserl sampai-sampai membuat rumah yang dia sebut sebagai “epoche” sebagai penjaranya bagi para mitos.

Maka agar memperoleh kejernihan terhadap apa yang dipikirkan, maka segala macam pengetahuan awal tentang yang akan dipikirkan itu dia anggap sebagai mitos dan dimasukkan di dalam penjara “epoche”.

Maka Husserl menemukan bahwa si makhluk jernih atau jernihnya pikiran itu tidak lain adalah 2 (dua) serangkai “abstraksi” dan “idealisasi”. Itulah yang kemudian digunakan oleh para matematikawan untuk memikirkan “konsep-konsep matematika”.

Obyek matematika adalah benda-benda pikir yang diperoleh dari benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan cara membersihkannya dengan metode “abstraksi” dan “idealisasi”.

Abstraksi adalah hanya memikirkan sifat-sifat tertentu saja. Misalnya bersihnya pikiran tentang “kubus” maka hanya dipikirkan tentang bentuk dan ukurannya saja. Segala macam sifat yang ada dan yang mungkin ada misalnya, harganya, bahannya, baunya, warnanya, ...semuanya dimasukkan di dalam “epoche”, artinya tidak diperhatikan.

Idealis adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Ketahuilah bahwa tiadalah sifat sempurna di dunia ini. Tiadalah barang yang lancip di dunia ini. Ujung jarung adalah atom yang lintasannya melingkar, maka tidaklah lancip unjung jarum itu. Maka di dalam matematika sifat yang ada “dianggap sempurna”, lancip ya lancip betul, lurus ya lurus betul, datar ya datar betul, dst. Itulah idealisasi.

Ternyata aku telah menemukan bahwa pertanyaanmu tentang “pikiran jernih” itu sebetulnya persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu yang merupakan perjuangan para filsuf sejak awal hingga akhir.

Itulah mengapa aku merasa perlu segera menjawabnya. Maka uraianku semua di atas tidak lain tidak bukan adalah filsafat ilmu atau filsafat itu sendiri. Jika engkau mampu berpikir jernih, maka semua Elegi-elegi yang aku tulis itu sebetulnya adalah epistemologi atau metode berpikir atau pikiran jernih.

Demikian mudah-mudahan engkau dan teman-temanmu jernih pula dalam membaca jawabanku.

Amiin.

45 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Memahami dan mempelajari filsafat tidak lain merupakan bentuk dari refleksi pemikiran kita. Belajar filsafat haruslah disertai dengan pemikiran yang jernih dan tidak cepat terpengaruh dengan hal-hal yang akan mengganggu cara berpikir kita. Karena belajar filsafat tidak seperti mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dalam filsafat ada hal-hal yang tidak dapat dipikirkan dengan sekedar pemikiran ilmu pengetahuan biasa. Belajar filsafat tidak seperti belajar dalam matematika, jika dalam matematika dari tidak jelas menjadi jelas namun dalam filsafat dari yang jelas menjadi tidak jelas. Artinya, filsafat tidak akan pernah puas, tidak pernah membiarkan sesuatu sebagai sudah selesai. Selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  2. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Objek pikiran adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Apa yang terjadi dalam berpikir adalah mengenai logos dan mitos dimana keduanya berbeda dan saling bertentangan. Supaya mengenali mana batasan logos dan mitos perlulah dilakukan cara berpikir yang disebut “berpikir jernih”. Berpikir jernih agar semua objek pikiran yang mulai dipikirkan dapat menggapai logos karena pada dasarnya kita berpikir adalah untuk menggapai logos bukan mitos yang merupakan lawan dari logos.


    ReplyDelete
  3. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Filsafat merupakan upaya dalam mencari kebenaran dan merupakan gambaran atau refleksi bentuk olah pikir kita. Jadi dalam berfilsafat semua itu tergantung pikiran kita, apa yang kita pikirkan yang terkait dengan yang ada dan yang mungkin ada. Dari itu akan selalu timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita semakin kritis dalam mencari kebenarannya. Semua itu dapat kita peroleh dengan pikiran yang jernih, dengan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  4. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Pikiran yang jernih adalah pikiran yang dipengaruhi oleh hati, bukan nafsu. Kebanyakan pikiran atau akal manusia dipengaruhi atau dibelenggu oleh nafsu karena hati yang kotor sehingga tidak kuat untuk mendominasi pada Pikiran.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Benar memang kesulitan kita belajar atau memahami sesuatu, dipengaruhi oleh kejernihan pikiran. Kita tidak perlu khawatir akan kekurang jernihan pikiran kita, karena itu bisa dilatih. untuk mendapatkan kejernihan pikiran perlulah kita membersihkan hati. Caranya dengan perbanyak ibadah, ciptakan dzauq kita terhadap makhluq karena akan mengembang ke perasaan terhadap tuhan. Kita juga perlu bertafakur atau banyak menyendiri memikirkan penciptaan makhluq.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dari elegi ini “pikiran jernih” dapat saya ibaratkan sebagai “cermin yang bersih”. Artinya, baik pikiran maupun yang aku pikirkan keduanya haruslah sebagai cermin yang bersih, atau sesuatu yang jelas. Mitos itulah kotoran yang menyebabkan pikiranmu tidak jernih atau cerminmu menjadi kotor. Alat untuk membersihkan pikiranmu serta obyek-obyek pikiranmu adalam “pure reason” atau “menggapai logos” atau “tidak prejudice”. Oleh karena itu agar tidak menjadi mitos maka janglah berhenti untuk berpikir agar nantinya dapat menjadi logos.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Pikiran dan hati adalah dua hal yang saling mempengaruhi. Hati sangatlah mempengaruhi pikiran. Ketika hati sedang kacau maka akan berakibat kacaunya pikiran. Sehingga jika kita ingin berpikir jernih maka hati kita terlebih dahulu dibersihkan. Dengan bersihnya hati, maka segala sesuatu yang kita kerjakan akan lebih bermakna.

    ReplyDelete
  9. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Kesempurnaan hanyalah milik Alloh yang maha sempurna. Sehingga tidak ada di dunia ini yang sempurna.
    Sebaik, sebagus apapun sesuatu yang di dunia ini tidak akan mencapai sempurna, hanya mendekati sempurna.
    Sehingga sudah menjadi hal yang sanagt perlu diingat bahwa manusia jangan sampai merasa besar dan bangga apalagi merasa sempurna.
    Karna kesempurnaan hanya milikNya.

    ReplyDelete
  10. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam berfilsafat memang membutuhkan kejernihan pikiran. karena dengan filsafat kita butuh pemahaman yang dalam tentang segala sesuatunya. dan karena filsafat merupakan suatu ilmu, sebagaimana saya sebagai mahasiswa pendidikan, tentu memahami bahwa belajar merupakan proses transfer ilmu. maka dalam hal mentransfer ilmu butuh pemikiran yang siap dan terbuka untuk menerimanya,. maka dari itu pikiran kita harus senantiasa jernih

    ReplyDelete
  11. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dalam elegi ini kita tahu bahwa obyek-obyek pikiran yaitu "Pure reason" atau "menggapai logos" atau "tidak prejudice". Oleh karena itu, dalam menggunakan pikiran kita harus menanamkan pikiran jernih dalam melakukan sesuatu hal. Dimana dalam menggapai pikiran jernih merupakan jalan dimana kita bisa mensintesiskan pemikiran para filsuf. Pikiran kita sangat bergantung pada hati, hal ini bermaksud jika hati bersih maka pikiranpun akan jernih. Terkait dengan itu, hati perlu dipenuhi dengan pemahaman spiritual dan ilmu pengetahuan yang luas untuk menggapai pikiran yang jernih. sehingga kita dapat menggapai logos-logos kita.

    ReplyDelete
  12. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Objek filsafat terdiri atas segala yang ada dan yang mungkin ada. Dalam belajar filsafat, seseorang harus berpikir jernih, memiliki hati yang bersih dan ikhlas hati serta ikhlas pikir. Pikiran yang jernih itu ibarat cermin yang bersih. Jika cermin yang digunakan itu bersih, secara otomatis gambar yang direfleksikan itu jelas. Seperti halnya pikiran kita, jika pikiran kita jernih maka kita akan mampu memikirkan sesuatu dengan jelas. Untuk memiliki pikiran yang jernih, terlebih dahulu kita berusaha untuk membersihkan hati kita, karena pikiran yang jernih pastinya dilandasi hati yang bersih. Jadi berpikir jernih adalah salah satu kunci berfilsafat agar semua objek pikiran yang mulai dipikirkan dapat menggapai logos karena pada dasarnya kita berpikir adalah untuk menggapai logos bukan mitos yang merupakan lawan dari logos.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Dalam mempelajari suatu ilmu tentu diperlukan pikiran yang jernih. Diperlukan pula hati yang ikhlas untuk belajar. Untuk memperoleh pikiran yang jernih diperlukan hati yang ikhlas, dan hati tidak boleh dikuasai oleh nafsu. Jika belajar dengan nafsu maka yang didapat hanyalah ilmu sesaat. Dengan hati yang iklhas dan pikiran yang jernih ilmu yang bermanfaat akan diperoleh.

    ReplyDelete
  14. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Berfilsafat adalah kegiatan merefleksikan diri kita terhadap pikiran kita. Dalam kegiatan refleksi, kita dapat mengibaratkan pikiran kita sebagai cermin, kita harus menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada termasuk pikiran dan hati kita sebagai cermin. Pikiran jernih adalah sebagai cermin yang bersih artinya baik pikiran maupun apa yang kita pikirkan haruslah sebagai cermin yang bersih atau sesuatu yang jelas.

    ReplyDelete
  15. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Mempelajari berbagai ilmu diperlukan pikiran yang jernih, sesuai dengan kata 'jernih' itu sendiri yang berarti bening, tidak suram, bersih, tidak keruh. Dengan berpikir jernih, kita dapat berpikir secara luas dan tanpa disertai emosi atau berkeinginan yang dikendalikan oleh hawa nafsu. Untuk dapat berpikir jernih, kita seharusnya mampu mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Di dalam pikiran jernih terdapat kehidupan yang jernih. Kehidupan yang jernih dicerminkan melalui perbuatan yang bersih. Sehingga akan berakibat menjauhi mitos dan menggapai logos. Hal ini lah yang akan menjauhi diri dari hal – hal buruk.

    ReplyDelete
  17. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Segala sesuatu harus dimulai dengan niat, dan niat itu berada dalam hati. Hati dan pikiran adalah milik Allah, tentu tidak ada cara lain untuk membersihkan hati dan pikiran itu kecuali dengan mendekatkan diri padaNya. Kerjakan apa yang diperintahkanNya dan tinggalkan apa yang dilarangNya dengan kaffah. Kalau sudah kita lakukan hal yang demikian saya yakin pikiran dan hati kita akan jernih. Sehingga dengan hati dan pikiran yang jernih maka ilmupun akan mudah masuk ke dalam diri kita.

    ReplyDelete
  18. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    pikiran jernih tidak erlepas dengan hati yang tenang. karena dengan berpikir jernih, segala sesuatu yang bersifat menyesatkan bisa terkontrol dengan baik. begitu juga dengan ilmu pengetahuan, jika berpikir dengan jernih , hati pun menerima dengan tenang, maka ilmu itu akan terekam dalam pikiran sebagai ilmu yang bermanfaat nantinya

    ReplyDelete
  19. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sejatinya kesempurnaan yang betul-betul sempurna hanyalah dianggap adanya, sedangkan pada dataran nyata hal itu tidak ada. Dalam berfikir matematis yang mengubah kenyataan menjadi obyek fikir, tingkat sempurnanya kepresisian hanya pada abstraksi logis. akan berbeda manakala kembali dituangkan kembali dalam kenyataan. hanya saja melalui proses tersebut memudahkan dan mengurangi buruknya tingkat kesempurnaan presisi.

    ReplyDelete
  20. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berpikir jernih tidak hanya berpikir dengan memenjarakan si nafsu. Namun, terus-terus berpikir menggapai logos dari yang adaa atau a\yang munkin ada. Tak mebiarkan yang ada dan yang mungkin ada tebengkalai, terbengkalai di penjara oleh para mitos.

    ReplyDelete
  21. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bahasa jernih bisa dikatakanberpikir dengan arah tujuan baik tujuannya yang ada atau yang mungkin aa. Tidak semua jalur pikiran dapat dilalului, jika pikiran sudah bertemu jalan buntuk, bukan memenjarakan diri yang dipilih namun mencari arternatif baru atau mendobrak dinding kokoh yang menghalangi. Berpikir jernih itu bukan hanya berpikir tidak kotor, namun terus merefleksikan ke diri setiap langkah pikiran terus dan terus direfleksika. Bukan hanya merefleksikan namun terus memperbaiki diri, menuju pikiran yang sebenar-benarnya pikiran.

    ReplyDelete
  22. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    pemikiran yang jernih merupakan pokok dasar kita untuk dapat menerima ilmu., apalagi yang akan dipelajari ilmu filsafat. Dengan hari yang iklas tentu ilmu akan lebih mudah memahaminya, karena dengan hati yang ikhlas otak kita bekerja tanpa paksaan. Sehingga membuat kita lebih santai dalam belajar.

    ReplyDelete
  23. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Agar mencapai pikiran jernih perlu dilakukan refleksi. Refleksi membantu manusia untuk melihat kembali apa yang telah ia lakukan, apakah benar atau salah. Fungsinya hampir mirip seperti cermin. Jika tidak mampu berefleksi sendiri, maka bisa meminta bantuan orang lain untuk dapat melakukan refleksi, mungkin bisa dengan bertanya kepada orang lain. Dalam memahami elegi – elegi ini juga diperlukan pikiran jernih. Oleh karena itu semoga kita semua dapat berpikir dengan jernih sehingga dapat memahami elegi – elegi ini dan dapat mengerti epistemologis yang disampaikan dari setiap elegi.

    ReplyDelete
  24. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Sepenangkapan saya yang dimaksud dengan pikiran jernih disini adalah membersihkan pikiran dari teori-teori atau paham yang belum tentu benar, dan memandang segala sesuatu dengan seimbang. Tetapi sangatlah sulit untuk memisahkan pikiran yang sudah tertanam walaupun belum tentu kebenarannya, sehingga sulit pula untuk sadar di pikiran jernih. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu tidak bisa kita lakukan. Sebenarnya yang perlu kita lakukan hanya tetap terus menambah wawasan dan pengetahuan kita, sehingga kita dapat membedakan mana yang benar dan yang sala secara jelas.

    ReplyDelete
  25. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memang benar, ketika belajar filsafat harus memiliki pikiran yang jernih. Karena ketika saya sedang membaca bacaan yang berkaitan dengan filsafat saya harus berfikir lebih keras ketika apa yang sedang saya pikirkan berbeda dengan apa isi bacaan tersebut. Maka saya harus membuka sudut pandang yang baru untuk dapat menerima is bacaan tersebut sebagai bahan untuk refleksi diri saya.

    ReplyDelete
  26. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya setuju dengan pernyataan di atas bahwa untuk memahami segala sesuatu membutuhkan pemikiran yang jernih. Sebab dengan pikiran yang jernih, seseorang mampu berpikir secara luas dan terbebas dari emosi. Ibarat sedang memancing di sungai, apabila kita memancing dengan pikiran yang jernih (tidak terburu-buru) maka ia akan mudah memperoleh ikan. Kemudian dari segi air, jika air tersebut tidak jernih maka kita akan sulit memahami kondisi dan titik lengah ikan. Dari analogi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam mempelajari dan memahami suatu ilmu pengetahuan diperlukan kejernihan dalam pikiran agar mudah menggapainya. Seperti halnya dalam mempelajari filsafat. Kita hendaknya berpikir ‘jernih’, supaya kita dapat memaksimalkan pemahaman kita terhadap filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  27. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Untuk menggapai pikiran yang jernih maka yang pertama kali dilakukan adalah berikir positif. karena dengan kita selalu berfikir positif maka hati akan terasa damai dan pikiran kita dapat jernih.

    ReplyDelete
  28. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pikiran jernih merupakan pikiran yang tidak dihinggapi oleh mitos, yang ada di dalam pikiran hanyalah logos. Pikiran jernih mampu membuat manusia menggapai sebuah ilmu yang bermanfaat, ketika filsuf-filsuf ternama mampu membentuk suatu teori filsafat maka teori itu merupakan hasil dari pikiran jernih. Suatu pikiran jernih mampu terbentuk dengan niat yang baik. Segala sesuatu akan dipermudah jika manusia memiliki niat yang baik dalam melakukan sesuatu, maka terbentuknya ilmu atau karakter yang baik dalam diri manusia itu adalah dengan hasil pemikiran yang jernih.


    ReplyDelete
  29. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sering saya menemui sebuah kalimat yang berbunyi "don't stop questioning". Setelah membaca elegi di atas, saya menjadi tahu, ternyata kalimat tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan Rene Descartes. Saya sangat termotivasi dengan hal tersebut. Bertanya adalah naluriah, pertanyaan yang muncul dalam diri seseorang pun seringkali datang dari pikiran yang jernih. Pertanyaanlah yang terus membimbing seseorang untuk terus ada dan hidup.

    ReplyDelete
  30. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Saya setuju dengan pernyataan bahwa untuk memahami segala sesuatu diperlukan pikiran dan hati yang jernih. Meski pun seringkali kita dapati hati dan pikiran itu bertolak belakang, namun kedua nya saling berkaitan.

    ReplyDelete
  31. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam memahami segala sesuatu, menurut saya pertama kita harus memiliki hati yang jernih. Jernih di sini dapat diartikan dengan tenang, bersih, dan tenteram. Dengan begitu kita dapat memiliki pikiran yang jernih pula sehingga dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas.

    ReplyDelete
  32. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam melakukan segala sesuatu, hendaknya kita selalu menggunakan pikiran yang jernih. Termasuk dalam membaca elegi-elegi Bapak dalam blog ini. Saya harus menggunakan pikiran yang bersih agar mampu memahami pesan yang terkandung didalamnya.

    ReplyDelete
  33. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Proses pemikiran yang jernih bisa dimulai dengan memposisikan hati dalam ketenangan. Jika hati merasa was-was atau tidak tenang, maka pikiran pun akan ikut was-was. Disinilah kerja sama antara hati dan pikiran berjalan. Jika pikiran bekerja tanpa hati, maka semgala sesuatunya hanya akan berjalan sia-sia.

    ReplyDelete
  34. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, saya belajar bahwa “pikiran jernih” itu merupakan persoalan filsafat khusunya epistemologi atau filsafat ilmu. Jika kita bisa memahami dan mengerti tentang penjelasan di atas berarti kita sudah berhasil memahami elegi tersebut dan mempunyai pikiran yang jernih dalam mencerna maksud elegi ini.

    ReplyDelete
  35. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pikiran yang jernih adalah kunci untuk kita dapat memahami sesuatu. Jernihnya pikiran ialah “abstraksi” dan “idealisasi”. Abstraksi ialah memikirkan sifat-sifat tertentu saja, sedangkan idealisasi menganggap sempurna sifat yang ada, sedangkan kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Misalnya saja pada geometri, adanya garis lurus itu adalah sebuah idealisasi (penyempurnaan), karena tidak ada garis yang benar-benar lurus di dunia ini.

    ReplyDelete
  36. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memiliki pikiran jernih adalah langkah awal kita dalam memahami sesuatu. Termasuk pada elegi-elegi yang pak Prof tulis dalam blog ini, kita dapat mengambil banyak ilmu dan pandangan tentang nilai yang disampaikan apabila sedari awal kita menjernihkan pikiran terlebih dahulu, terbuka, dan memiliki sifat keingintahuan yang tinggi

    ReplyDelete
  37. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Terkadang dan memang benar bahwa pikiran yang jernih didapatkan dari hari yang bersih. kita dapat berfikir jernih jika kondisi hati bersih dan ikhlas. palagi disaat pagi hari dengan suasana sejuk akan lebih mendukung untuk dapat berpikir jernih. oleh karenanya banyak yang belajar di pagi hari karena danggap otak masih fresh untuk belajar.

    ReplyDelete
  38. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pikiran jernih haruslah kita miliki saat sedang mempelajari sesuatu. Karena saat mempelajari pengetahuan yang baru, kita perlu berpikir lebih keras lagi. Salah satunya saat kita mempelajari filsafat khususnya saat membaca elegi-elegi. Pikiran kita yang jernih tentu akan memudahkan kita dalam memahami pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  39. Rindang Wijayanto
    14301241028
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Memulai segala kegiatan dengan berdoa dapat melancarkan segala kegiatan kita. Pikiran kita menjadi jernih dan positif karena doa yang kita haturkan.

    ReplyDelete
  40. Desinta ARmiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Saya sangat setuju dengan pendapat bahwa belajar filsafat harus dengan fikiran yang jernih. Jernih itu bersih,bening, serta damai. Dengan fikiran yang jernih maka saya akan bisa belajar filsafat lebih dalam, tetapi fikiran yang jernih tidak lepas dari perasaan hati yang jernih pula. Jika hati dan fikiran jernih tentram dan damai, maka akan mendapatkan kemudahan untuk mempelajari filsafat lebih dalam.

    ReplyDelete
  41. Elli susilawati
    16709251073
    pamt D pps 16

    Berhati-hati dengan hati. Hati yang jernih, bukan semata-mata hasil usaha dari manusia itu sendiri namun ada Dzat Maha membolak-balikkan hati. Maka mintalah kepada Sang Pencipta hati itu sendiri agar diberikan hati yang bersih. Insya Allah, jika hati sudah bersih maka pikiran pun akan mengikuti.

    ReplyDelete
  42. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pikiran yang jernih itu ibaratnya adalah cermin yang bersih. Saat kita berfikir, pikiran yang bersih dari emosi atau pikiran negatif dan terbebas persepsi yang salah terhadap sesuatu saat itu lah pikiran dikatakan jernih. Dengan berfikir jernih maka dalam belajar dapat secara luas dan sedalam-dalamnya. Agar dapat mencapai pikiran yang jernih sebaiknya kita membersihkan hati terlebih dahulu. Dengan hati yang bersih maka fikiranpun jernih.

    ReplyDelete
  43. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berfilsafat merupakan kegiatan berpikir meliputi tentang segala yang ada dan yang mungkin ada berdasarkan dimensinya. Dengan fikiran yang jernih maka akan membantu mmepermudah dalam berfilsafat. Akan mempermudah pula dalam mengkomunikasikan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dimensi tertentu. Hanya dengan pikiran jernihlah maka kita dapat memaknai tulisan-tulisan elegi yang penuh dengan bahasa analog.

    ReplyDelete
  44. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Pikiran jernih merupakan suatu keadaan dimana ketika kita memikirkan sesuatu tetapi tetap terpikirkan semua yang ada dan mungkin ada. Hal ini dilakukan supayatidak merugikan yang ada dan mungkin ada. Jernih itu bersih. Yang membuat sesuatu hal tidak bersih adalah noda-noda. Maka pikiran yang jernih adalah pikiran yang bersih dari noda-nona yang tidak baik. Noda-noda yang dimaksud adalah prasangka buruk. Saya setuju bahwa dalam berfilsafat harus dengan pikiran jernih. Maka saya salut dengan orang yang mampu berfilsafat dengan mudah dan baik.

    ReplyDelete
  45. Pikiran jernih merupakan pikiran yang jauh dari prasangka. Pikiran jernih ketika menghadapi masalah maka pikiran tersebut dapat memperjelas masalah tersebut. Pikiran yang dapat menjelaskan masalah dengan sangat baik, tidak ada bagian dari masalah yang ditutup-tutupi atau tidak dapat dijelaskan. Seperti pikiran jernih dari Descartes yaitu Cogito ergo sum. Bahwa yang ada adalah pikiran. Orang yang menggunakan akal pikirannyalah yang disebut ada.

    ReplyDelete