Oct 1, 2010

Elegi Menggapai Bahasa




Oleh Marsigit

Bahasa:
Sampai saatnya aku perlu merefleksikan diriku. Silahkan para anggotaku, pertama kenalkanlah dirimu masing-masing, kedua jelaskanlah siapa dirimu. Kemudian bersiaplah menjawab jika ada pertanyaan.

Analog:
Kenalkan aku adalah analog. Pekerjaanku adalah menyelidiki susunan dan arah kesemestaan kenyataan. Tetapi perhatian utama dan pertamaku adalah pada kenyataan yang ada. Aku menjadi alat utama dan pertama bagi kesadaran manusia. Terlebih-lebih bagi para ilmuwan, pemikir dan juga para filsuf. Keberadaanku itu bersifat ontologis tetapi fungsiku bersifat epistemologis. Fungsiku adalah menyatukan bahasa dan pikiran. Artinya, aku berusaha menyatakan pikiran dengan bahasa, tetapi bahasaku ternyata menghasilkan pikiran juga. Kata-kata adalah wakil-wakilku yang paling sederhana, sedangkan pengertian atau konsep merupakan wakil dari pikiranku. Tiadalah kata dan konsep itu dapat dipisahkan. Adapun konsepku yang paling dalam adalah konsepku tentang yang ada, lebih khusus lagi yaitu tentang pengada. Maka keberadaanku itu ditentukan oleh fungsiku menyatakan konsep-konsep pengada .

Bahasa:
Penjelasanmu kelihatannya terlalu mekanistis, kaku, sulit, masih di langit dan belum membumi. Berikan contoh-contoh kongkritnya.

Analog:
Baiklah. Sebelum aku memberi contoh-contoh kongkrit, maka aku sampaikan bahwa teman karibku adalah reduksi dan kelengkapan. Reduksi adalah penyederhanaan atau simplifikasi. Sedangkan kelengkapan adalah usahaku menggapai ilmuku menggunakan bahasaku. Jika aku berpikir tentang konsep “satu”, maka “satu” itu berlaku bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Artinya, pertama aku mungkin berpikir bahwa kepalaku itu hanyalah satu, maka dengan bahasa analog konsep satu itu berlaku bagi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga saya bisa mengatakan satu buku, satu tujuan, satu manfaat, satu batu, satu tumbuhan ...dst.

Bahasa:
Apakah masih ada contoh lain yang mudah dipahami.

Analog:
Jika saya menunjuk sifat dari jatuhnya selembar daun ke tanah, dan kemudian daun itu menutupi tanah. Maka saya bisa mengambil analogi jatuhnya cat ke permukaan dinding sehingga menutupi sifat dinding. Jatuhnya bedhak ke mukaku, sehingga menutupi kulit mukaku. Dst.... Itulah analogi. Jika saya berpikir tentang cangkir sebagai wadahnya air, maka saya bisa berpikir mulut sebagai wadahnya suara, hati sebagai wadahnya doa, kepala sebagai wadahnya pikiran, badan sebagai wadahnya jasmani, laut sebagai wadahnya ikan. Ds...Itulah analogi. Jika aku berpikir subyek, maka bisa aku memikirkan subyek manusia, subyek binatang, subyek tumbuhan, dst.

Bahasa:
Baik terimakasih. Silahkan yang lain.

Univokal:
Kenalkan aku adalah univokal. Aku adalah salah satu dari anggota bahasa. Tugasku adalah menyatakan konsep-konsep yang memiliki arti yang sama bagi segala yang ada dan yang mungki ada. Aku tidak dibatasi oleh wadah, struktur, dan relasi-relasi. Walaupun aku menggunakan kata-kata yang berbeda tetapi maksudku adalah sama.

Bahasa:
Aku belum jelas tentang penjelasanmu itu. Bisakah beri contohnya yang kongkrit.

Univokal:
Untuk menunjuk pengertian “satu” maka aku bisa menggunakan berbagai bahasa misalnya one, siji, setunggal. Maka satu, one, siji, setunggal adalah diriku yaitu bahasa univokal. Maka ide, gagasan, konsep, pengertian adalah univokal. Maka sifat dan karakter adalah univokal.

Bahasa:
Terus apa fungsimu dalam filsafat?

Univokal:
Sebelumnya aku sampaikan bahwa teman akrabku adalah analog. Maka jika aku bermaksud mengatakan subyek. Maka semua yang aku pikir subyek, manusia, atau benda-benta lain merupakan bahasa univokal.

Bahasa:
Penjelasanmu malah bikin bingung?

Univokal:
Jika aku berpikir tentang “tetap”, maka kata-kata ku yang univokal meliputi Permenides, Plato, Plotinus, Duns Scotus, Descartes, ...dst. Jika aku berpikir tentang “berubah” bahasa univokalku meliputi Heraklitos, Aristoteles, David Hume, ...dst.

Bahasa:
Baiklah aku sudah mulai paham. Silahkan yang lain.

Struktur:
Aku adalah struktur bahasa. Aku terdiri dari unsur-unsur permanen yang jumlahnya terbatas. Fungsiku adalah sebagai naskah yang menyatakan kehidupan beserta aspeknya. Ketahuilah bahwa unsur-unsur dalam diriku itu saling berelasi dan bersintesis satu dengan lainnya, sehingga hubungan diantara unsur-unsur sangatlah erat. Jika satu unsur mengalami perubahan maka seluruh dari strukturku akan mengalami perubahan pula.

Bahasa:
Penjelasanmu masih cukup rumit.

Struktur:
Jika satu konsep daru unsurku berubah maka seluruh bahasaku dengan segala maknanya akan mengalami perubahan. Maka dalam diriku itu engkaudapat melihat universalitas baik pada permukaan strukturku maupun pada dalam strukturku.

Bahasa:
Penjelasan tambahanmu malah bikin pusing. Berikan contoh kongkritnya?

Struktur:
Secara harfiah atau di permukaan maka aku menampakan diri dalam kalimat-kalimat. Maka cukup jelaslah struktur kalimat itu pada umumnya, tentu ada subyek dan predikat, dst. Tetapi di dalam strukturku itu terdapat subyek, predikat, obyek, hubungan, model bahkan teori. Lebih dari itu maka di dalam diriku juga terdapat kesadaranku akan dimensi unsur-unsurku. Maka sebenar-benar diriku itu adalah konsepku, sedangkan kalimatku adalah representasiku.

Bahasa:
Wah..wah semakin bingung saja aku. Kemudian, ..apa pula fungsimu dalam filsafat?

Struktur:
Tiadalah semua tulisanku dapat menyatakan semua pikiranku. Pikiranku itu bersifat terbuka, tetapi dia serta merta akan tertangkan menjadi bahasa tertutup ketika telah masuk ke dalam strukturku. Artinya strukturku yang masih dalam pikiranku itu bersifat terbuka, sedangkan strukturku yang sudah aku tulis itu bersifat tertutup.

Bahasa:
Ditanya fungsimu dalam filsafat malah nyeloteh ngalor-ngidul?

Struktur:
Karena tulisanku bersifat tertutup maka tidaklah ada Mengada dan Pengada yang dapat hadir di situ.

Bahasa:
Hai..struktur..hentikanlah celotehanmu itu. Berikan contoh konkritnya.

Struktur:
Jika engkau berpikir tentang struktur panitia, dimana ada ketua dan anggota di situ. Itulah struktur maknamu yang masih di dalam pikiranmu. Maka jika aku tuliskan di atas kertas, berhentilah aku memikirkan struktur kepanitiaan itu, itulah sifat tertutupnya.

Bahasa:
Apakah ada contoh penerapan yang lainnya tentang dirimu di dalam filsafat?

Struktur:
Orang jawa mengenal struktur kehidupan meliputi mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Maka strukturmu itu bersifat terbuka apakah manusia mengatasi alam, alam mengatasi manusia, artinya manusia menjadi anggotanya alam semesta.

Bahasa:
Baiklah aku sedikit memperoleh gambaran. Sekarang gilran yang lainnya?

Ekuivokal:
Aku adalah ekuivokal. Fungsiku adalah mengungkap penyakit bahasa. Penyakit bahasa adalah bahasa yang membingungkan.

Bahasa:
Berikan contohnya!

Ekuivokal:
Jika engkau gunakan kata “bisa” maka maksudnya adalah racun atau dapat. Jika engkau gunakan kata “kepala” maka maksudnya adalah kepalamu atau kepala kantor. Jika aku menyebut “x” maka dia bisa berarti 5 atau 10.

Bahasa:
Apakah fungsimu dalam filsafat?

Ekuivokal:
Sebelumnya aku sampaikan bahwa teman akrabku adalah plural atau jamak. Maka segala macam pengamatanmu adalah jamak dan tidaklah sama dengan satu dan lainnya. Maka sebenar-benar diriku dalam filsafat adalah ekuivokal dalam pikiranku yang bersifat terbuka. Sedangkan kalimatku atau kata-kataku itu bersifat tertutup.

Bahasa:
Masih berbelit-belit. Bisa beri contoh konkritnya.

Ekuivokal:
Jika aku melihat orang sedang “tidur”, padahal orang lain mengatakan dia bukan tidur tetapi sedang istirahat. Maka tidur dan istirahat itu ekuivokal.

Bahasa:
Kelihatannya jawabanmu ragu-ragu. Yang betul gimana?

Ekuivokal:
Wah ..bagaimana yah sulit mencari contohnya. Ekstrimnya, seorang Witgenstain pernah menggunakan bahasa matematika hanya sebagai permainan. Setiap kata itu di zonderkan dari arti, artinya kata sengaja tidak di beri makna. Maka menurut Witgenstain matematika adalah sekedar permainan bahasa. Maka semua kata-kata yang digunakan bersifat ekuivokal.

Bahasa:
Engkau dituntut harus bisa memberi contoh konkritnya.

Ekuivokal:
Baiklah saya adalah kumpulan kata-kata yang mempunyai arti ganda atau jamak, sehingga sulit dimengerti.

Bahasa:
Ya sudah gitu saja kok repot. Silahkan yang lain.

Lambang:
Kenalkan saya adalah lambang atau simbol. Aku terdiri dari tanda-tanda dan aku bersifat formal. Diriku bisa sebaga tanda, data, pesan atau informasi.

Bahasa:
Bukankah hal yang biasa, apa istimewanya?

Lambang:
Maksudku, aku itu bisa dibedakan dengan yang lainnya. Jika engkau memperhatikan aku sebagai tanda, maka itulah diriku lambang. Sedangkan rumahku sering disebut sebagai semiotik.

Bahasa:
Ya terserah sajalah.

Lambang:
Ntar dulu bahasa. Jika engkau fungsikan aku sebagai pembawa pesan itulah yang aku maksud sebagai tidak hanya diriku. Itulah temanku si semantik.

Bahasa:
Aku tahu itu.

Lambang:
Tetapi jika engkau mengfungsikan diriku sebagi pembawa informasi, maka itulah sifat dirimu yang cenderung pragmatis.

Bahasa:
Lho kok kamu menuduhku pragmatis. Sebentar..mana itu yang telah engkau sebut tadi..silahkan semantik, giliranmu.

Semantik:
Kenalkan aku adalah semantik. Aku adalah ilmu tentang kalimat dan aku berurusan langsung dengan makna kalimat. Aku juga dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tentang makna.

Bahasa:
Kalau begitu tentu engkau mempunyai peran yang besar dalam filsafat?

Semantik:
Hampir setiap kajian filsafat menggunakanku. Aku juga hampir dijuluki sebagai ontologis nya bahasa.

Bahasa:
Terus?

Semantik:
Tetapi aku tidak mau disamakan dengan ontologi. Keberadaanku itu memang bersifat ontologis. Aku fungsiku itulah untuk mengungkan makna secara ontologi.

Bahasa:
Aku agak ragu? Coba teruskan kedudukanmu di dalam filsafat?

Semantik:
Baik. Konsepku dapat dipahami baik memalui koherensi pikiranku, maupun melalui korespondensi dengan pengamatanku. Jadi aku itu dapat bersifat analitik, apriori, sintetik ataupun aposteriori.

Bahasa:
Wah kok malah rumit?

Semantik:
Sederhana saja. Aku selalu mengikuti jalan pikiran kritis. Padahal pikiran kritis itu adalah filsafat. Maka menurut diriku, aku dapat mendefinisikan filsafat itu sebagai semantik.

Bahasa:
Apa engkau tidak terlalu berani?

Semantik:
Setidaknya itulah yang berada dalam pikiranku. Yang masih berada dalam pikiranku sungguh masih bersifat terbuka. Sedangkan jika sudah aku tuliskan maka bersifat tertutup.

Bahasa:
Heran aku, bagaimana sebuah semantik bisa berfilsafat?

Semantik:
Itu karena aku memang mempelajari arti. Padahal sebenar-benar arti bisa engkau jumpai dalam filsafat.

Bahasa:
Baik, aku setuju. Silahkan teruskan uraianmu.

Semantik:
Aku sangat peduli dengan berbagai karakter kata atau kalimat. Mereka yang ucapannya sama tetapi artinya berbeda. Mereka yang punya arti sama tetapi kata-katanya berbeda. Kata-kata yang berlawanan atau lawan kata. Kata-kata yang mempunyai banyak arti. Kata-kata yang berhubungan dengan kata-kata yang lain. Kata-kata yang diturunkan. Kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang dapat diekstensikan maknanya. Kata-kata yang menunjukkan keanggotaan. Kata-kata yang menunjukkan keseluruhan. Metapora atau makna yang tidak disebut menggunakan nama aslinya. Frasa kata atau kumpulan kata yang sudah berbeda artinya dari kata dasarnya. Dst..

Bahasa:
Sudah..sudah..bukankah itu bidangnya orang bahasa. Relevansimu bicara itu apa?

Semantik:
Bukankah aku gunakan sebagian besar dari mereka itu dalam membuat Elegi-elegi?

Bahasa:
Oh..ya..silahkan teruskan penjelasanmu.

Semantik:
Jika engkau memikirkan wanita, maka di situ ada aspek hubungan semantik dengan seorang anak gadis.

Bahasa:
Lho ..mengapa?

Semantik:
Ya keduanya sama-sama wanita.

Bahasa:
Oh begitu, teruskan.

Semantik:
Jika engkau memikirkan Bapak, Ibu, anak, kakak, adik, Presiden, Menteri, ... itulah engkau sedang memandang wajahku.

Bahasa:
Wajahmu?

Semantik:
Itulah aku sebetulnya sedang berbicara tentang manusia.

Bahasa:
Teruskan saja.

Semantik:
Jika aku memikirkan Presiden, maka aku mempunyai “Bekas Presiden” dan “Mantan Presiden”. Maka perubahan dari bekas menjadi mantan, itu juga diriku. Jika aku katakan bahwa “Kertas ini adalah biru” padahal senyatanya adalah putih, itu juga salah satu karyaku. Aku juga sangat tertarik mempelajari makna-makna yang diperolah manusia melalui pengamatan sekitarnya. Tetapi aku juga menaruh perhatian yang tinggi terhadap konteks atau referensi bagi makna suatu kata atau kalimat.

Bahasa:
Baik-baik..waktunya sudah cukup. Aku capai.

Tautologi:
Sebentar dulu, aku belum diberi kesempatan. Aku adalah tautologi. Jika engkau ingin mencari sesuatu yang bukan kontradiktif, inilah aku makhluknya. Tautologi adalah benar tanpa syarat. Dia benar dengan tidak peduli ruang dan waktunya.

Bahasa:
Contohnya?

Tautologi:
Jika aku katakan “aku atau bukan aku” maka seluruh dunia akan terangkum di dalamnya. Jika aku katakan : ada atau bukan ada” maka juga sudah meliputi seluruhnya. Maka aku menduduki istimewa dalam filsafat. Bahkan aku berani mendefinisikan filsafat sebagai diriku yaitu sebagai tautologi. Berapapun tautologi yang engkau produksi maka engkau akan terhindar dari kontradiksi.

Kontradiksi:
Aku adalah kontradiksi. Kalimat “aku dan bukan aku” maka selamanya dia kontradiksi. Secara semantik maka kalimat kontradiktif itu bernilai salah.

Bahasa:
Baik..baik..saya tahu masih banyak lagi yang ingin tampil, tetapi karena terbatasnya ruang dan waktu maka saya akhiri dulu forum ini. Mudah-mudahan dapat dipahami mengapa dalam berfilsafat kita mengemploy bahasa seperti yang terjadi dalam Elegi-elegi.
Sekian terimakasih..semoga bermanfaat. Amiin.

23 comments:

  1. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan bahasa. Tanpa bahasa, manusia akan kesulitan untuk berkomunikasi. Bahasa tidak hanya sebatas pada bahasa Indonesia, bahasa inggris, bahasa jawa, bahasa melayu, bahasa arab, bahasa mandarin, namun bisa berarti banyak. Kedipan mata bisa berarti bahasa, senyum bisa bermakna bahasa, tangis bisa berarti bahasa, mimic wajah bisa berarti bahasa. Meskipun bahasa kelihatannya sederhana, tapi setelah membaca elegi ini, saya merasa bahasa memiliki makna, struktur, bagian yang sangat kompleks. Satu kata bisa memiliki banyak makna yang berbeda-beda, tergantung tinjauannya.

    ReplyDelete
  2. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pentingnya suatu bahasa sebagai dasar komunikasi dalam pembelajaran matematika. Bahasa merupakan kunci utama dalam memahami sesuatu. Dalam mempelajari pengetahuan apapun termasuk filsafat juga harus dapat mengerti bahasanya. Oleh karena itu, filsafat dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Dari elegi tersebut telah dijelaskan mengenai berbagai macam istilah-istilah bahasa, diantaranya ialah analog, univocal, struktur, ekuivokal, lambang, semantik, tautologi, dan kontradiksi. sejak lahir pun kita sudah dikenalkan dengan bahasa bahkan kita sebagai pelaku dari pemberi bahasa. misalkan ketika kecil kita hanya bisa menangis. tangisan tersebut bisa berarti kita lapar, digigit semut, atau bahkan buang air kecil/besar. Menangis adalah termasuk bahasa.

    ReplyDelete
  3. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Dalam budaya jawa terdapat ungkapan ajining diri saka lathi yang artinya bicara adalah cerminan isi dari diri. Seperti teko dan isinya, ketika teko berisi teh maka ia akan mengeluarkan teh ke dalam cangkir, jika ia berisi susu maka ia akan mengeluarkan susu ke dalam cangkir. Dapat dikatakan bahwa bahasa adalah cerminan kualitas diri. Dalam keseharian kita berkomunikasi menggunakan bahasa, baik bahasa verbal maupun bahasa isyarat. Namun dalam filsafat bahasa yang digunakan adalah bahasa analog yang lebih tinggi tingkatannya seperti ungkapan, peribahasa, sajak, dan lain sebagainya. Maka dari itu ketika kita ingin mengerti ilmu filsafat, kita pun harus dapat memahami bahasa analog tersebut.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Bahasa merupakan alat komunikasi manusia. Dengan bahasa, manusia saling terjemah-menerjemahkan satu sama lain. Bahasa itu kaya akan makna. Ada kata-kata atau kalimat yang terlihat sama tetapi ternyata mempunyai maksud berbeda, tergantung bagaimana para subyek menggunakannya. Pemahaman manusia akan bahasa juga berbeda satu dengan lainnya, tak jarang sering terjadi miskomunikasi dalam percakapan sehari-hari. Kepekaan pikiran dan hati lah yang mampu mengungkap makna dibalik suatu bahasa. Namun, manusia itu memiliki keterbatasan, sehingga memohon petunjuk-Nya lah satu-satunya jalan ketika kita mencapai batas.

    ReplyDelete
  5. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini menceritakan tentang bahasa yang meliputi analog, univokal, struktur, ekuivokal, lambang, semantik, tautologi, dan kontradiksi. Saya akan membahas mengenai kontradiksi. Dalam bahasa, kontradiksi merupakan kondisi yang berkebalikan dengan ucapan. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menemui kontardiksi. Misalkan Saya tidak punya uang, padahal nyatanya ia punya uang walaupun sedikit. Ada banyak kata yang termasuk kontradiksi seperti aku dan bukan aku, kaya dan miski, pandai dan bodoh, dll.

    ReplyDelete
  6. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Bahasa adalah alat yang penting dalam sebuah komunikasi, baik dalam kehidupan bermasyarakat ataupun dalam bahasa sebuah pembelajaran. Seseorang pendidik selalu menggunakan bahasa-bahasa yang baik agar yang mendengar dapat mengerti apa yang disampaikan. Kemudian sebuah bahasa juga menampilkan jati dirinya seseorang, jika ia berkata secara terstruktur dan bagus, maka baik juga penilaian akan ilmunya. Dalam berfilsafat, nilai sebuah bahasa sangat penting. Karena filsafat adalah ilmu olah pikir dan ilmu bahasa (cara berfilsafat dalam bahasa).

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Bahasa merupakan sarana komunikasi antarmanusia, sehingga manusia mampu mengomunikasikan segala sesuatu. Bahasa juga merupakan filsafat yang tinggi. Berbahasa sebenarnya tidak semudah seperti yang kita pikirkan selama ini. Berbahasa juga ada tata caranya, sopan santunnya, yang disesuaikan dengan ruang dan waktu

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Ketika berbicara tentang bahasa. Maka ada beberapa hal yang berkaitan dengannya. Yaitu pertama bahwa bahasa merupakan alat utama yang digunakan bagi kesadaran manusia. Bahwa bahasa adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan apa yang adda dalam pikiran. Reduksi adalah penyederhanaan atau simplifikasi. Sedangkan kelengkapan adalah usahamenggapai ilmu menggunakan bahasa. Dari elegi ini saya mengetahui bahasa baru yaitu univokal. Fungsi dari univokal adalah menyatakan konsep-konsep yang memiliki arti yang sama bagi segala yang ada dan yang mungki ada. Univokal tidak dibatasi oleh wadah, struktur, dan relasi-relasi. Yang intinya jika disampaikan dengan kata yang berbeda, maka sejatinya maknanya sama. Atau lebih kita kenal dengan bahasa analog.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. Dengan bahasa semua yang ada dalam pikiran seseorang dapat disampaikan ke orang lain, bahasa dapt digunakan sebagai alat bertukar pikiran. Semakin tinggi ilmu seseorang maka kosa kata yang dimiliki semakin luas, dan bahasa yang digunakan semakin rumit. Namun setinggi apapun ilmu jangan sombong dengan bahasa, jangan menggunakan bahasa yang rumit untuk menjelaskan sesuatu kepada orang yang kurang paham. Gunakan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan makna ganda.

    ReplyDelete
  10. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Bahasa bisa diibaratkan kunci utama dari suatu komunikasi. Sukses tidaknya komunikasi, tersampaikan atau tidaknya suatu pesan, salah satunya dipengaruhi oleh bahasa. Maka dari itu sebaik-baik bahasa adalah yang mampu membuat dua pihak yang borkomunikasi menjadi paham. Kemampuan berbahasa sangat dipengaruhi oleh ilmu dan pengalaman seseorang. Kalau sama melihat, dalam elegi-elegi filsafat, Prof. Marsigit seringkali menggunakan bahasa analogi, tujuannya adalah untuk membuat filsafat lebih dekat dengan kehidupan orang awam sehingga menjadi lebih mudah dipahami.

    ReplyDelete
  11. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Bahasa adalah sarana penyampaian berita maupun informasi. Dalam filsafat, bahasa sangatlah berperan. Karena dengan bahasa itu kita mampu memahami sejarah masa lalu. Meskipun dalam filsafat menggunakan bahasa yang mungkin susah dipahami oleh orang awam. Oleh karenanya diperlukan pemikiran dan wawasan untuk dapat memahmi filsafat itu sendiri. Dalam bahasa tersebut terdapat unsur-unsur yang membentuk sebuah kalimat. Unsur tersebut memiliki fungsi dan kedudukannya masing-masing didalam filsafat.

    ReplyDelete
  12. Nurika Miftahuljannah
    17709251060
    PPs P. Mat C
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Bahasa merupakan aspek utama dalam komunikasi apalagi pembelajaran matematika. Dalam mempelajari pengetahuan kita harus dapat mengerti bahasa yang dimaksud agar paham apa isi pengetahuan tesebut, tak terkecuali filsafat. Oleh karena itu, filsafat dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Berdasarkan elegi di atas, banyak istilah dalam bahasa, diantaranya ialah analog, univocal, struktur, ekuivokal, lambang, semantik, tautologi, dan kontradiksi.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  13. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Bahasa merupakan kunci utama dalam memahami sesuatu. Untuk dapat mempelajari filsafat juga harus dapat mengerti bahasanya. Oleh karena itu filsafat dan bahasa tidak dapat dipisahkan.
    Bahasa merupakan perantara. Mempelajari bahasa itu bukan hal yang mudah, karena bahasa menjadi hasil dari apa yang kita pikirkan. Di bangku sekolah, masih jarang ditemui nilai ujian bahasa Indonesia yang sempurna. Filsafat masih sulit diterima orang awam karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang analog. Bahasa yang berfungsi untuk menyatukan bahasa dan pikiran. Kata-kata menjadi wakil bahasa yang paling sederhana, sedangkan konsep merupakan wakil dari pikiran manusia

    ReplyDelete
  14. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Bahasa memiliki bermacam-macam bentuk. Bahasa tautologi dan bahasa kontradiksi sering dipakai dalam berlogika. Secara semantik tautologi itu pasti benar karena menggunakan kata hubung "atau", jadi jika keduanya benar pasti benar, jika salah satu benar pasti juga benar. Sedangkan kontradiksi secara semantik bernilai salah. Karena kontradiksi itu keadaan tidak bisa mencapai identitas yang terjadi di dunia.

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi memahami bahasa ini memunyai seni tersendiri dan sangat unik, begitu pula ketika kita membaca elegi diblog ini, penuh dengan analogi-analogi yang harus disintesiskan terlebih dahulu agar dapat memahaminya. Disinilah kita dilatih untuk bersabar dan telaten dalam menimba ilmu. Sikap keegoisan kita dikikis untuk dapat memahami elegi dengan baik. Sehingga dalam hal ini kesabaran dan ketelatenan dan keluasan pemikiran adalah salah satu kunci dalam memahami bahasa dalam elegi di blog ini.

    ReplyDelete
  16. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sebagai alat komunikasi, bahasa memiliki banyak anggota, banyak tipe, dan berbagai macam karakter. Tujuan dari komunikasi adalah untuk saling memahami makna yang disampaikan. Makna dari setiap kata yang diucapkan itu sendiri bsa menimbulkan banyak makna tergantung dari konteks pembicaraan, dan tergantung dari ruang dan waktu. Supaya mampu mengenali keberagaman bahasa dan berbagai macam karakternya dibutuhkan pengalaman dan wawasan dalam berbagai macam ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  17. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C
    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Narasi besar yang telah dipaparkan oelh profesor mengatakan bahwa bahasa merupakan filsafat. Karena pada dasarnya tanpa bahasa antara sesama tidak akan mengetahui satu sama lainnya. Hal inilah yang memberikan makna bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah bahasa. Karena bahasa merupakan hal yang penting untuk berkomunikasi antar sesama makhluk.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia di dunia ini tidak sendirian, maka dalam membangun kehidupannya ia memerlukan orang lain, dan memerlukan Tuhan. Interaksi manusia dengan sesama manusia dapat dilakukan melalui komunikasi, dan yang menjadi alat komunikasi manusia adalah bahasa. Oleh karena itu bahasa diperlukan oleh manusia guna membangun kehidupannya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Melalui bahasa kita mampu menjelaskan sifat-sifat dari segala objek yang ada dan mungkin ada. oleh karena itulah bahasa termasuk ke dalam filsafat. Olah pikir jika hanya ada di pikiran saja tidak akan bermanfaat, oleh karena itu diperlukan bahasa untuk menjelaskannya kepada orang lain.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Memahami artikel Oktober 2010 ini seperti memberikan kita tahapan-tahapan berpikir untuk membuat sebuah pemberontkakan yang begitu apik serta sistematis. Dari diri sendiri hingga dalam lingkung ruang dan waktu sebuah lembaga. Tetapi dari semua itu menjadi apik tatkala ditutup dalam argumen bahasa. Sebab bahas merupakan cukup pokok dalam menyampaikan sebuah argumen. Tanpa ada bahasa yang apik, maka logos yang kita pikirkan akan menjadi kesia-siaan semata. Bahkan orang akan memahami negatif setiap perubahan yang kita tawarkan.

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    elegi menggapai bahasa mengajarkan bahwa setiap unsur didunia itu penting. unsur-unsur didunia saling memelngakpi satu sama lain. begitu pun dalam filsafat, dalam filsafat setiap unsur mengandung arti yang berbeda pula. unsur tersebut melengkapi unsur yang lain.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Bahasa adalah jalan seseorang dalam menyampaikan pikirannya. Pengetahuan seseorang dapat dinilai melalui bahasanya. Karena sebenar-benar ilmu seseorang adalah bahasanya. Bahasa ada banyak jenisnya. Begitu pula dalam filsafat. Dimana setiap jenis bahasa memiliki fungsinya masing-masing. Bahasa dalam filsafat memang berbeda dengan bahasa biasa, oleh karena itu tidak semua orang dapat memahami filsfat. Dengan beragam jenis bahasa dan fungsi masing-masing akan memudahkan seseorang dalam memahami filsafat. Pemahaman akan semakin meningkat seiring banyaknya bacaan terkait filsafat itu sendiri. Dengan memahami filsafat seseorang semakin mampu mengelolah bahasanya sesuai dengan lawan bicaranya.

    ReplyDelete
  23. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Ada suatu ungkapan, jika ingin menguasai dunia maka kuasailah bahasa. Maka mengetahui bahasa atau istilah menjadi hal yang penting bagi kita, terutama bahasa-bahasa dalam filsafat matematika. Dari artikel ini saya menjadi lebih memahami apa itu analog, univokal, ekuivokal, struktur, lambang/simbol, semantik, tautologi, dan kontradiksi

    ReplyDelete