Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Normatif




Oleh Marsigit

Subyek Formal Bersemi:

Hai anak-anak, walau engkau masih kecil-kecil, ini ni pelajari. Berapa ini dikali itu. Itu dibagi ini. Itu pangkat itu. Ini pangkat ini. Ayo jawab! Kok diam saja.

Obyek Normatif Mengintip:

Waduh sulit bu. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Aku emoh belajar dengan ibu. Ibu itu nakal. Suka mbentak-mbentak. Aku ingin pulang.

Subyek Formal Bersemi:
Jika engkau ingin pandai ya ini pelajari. Jika engkau tak mau belajar berarti aku gagal.

Obyek Normatif Mengintip:
Aku ingin menangis saja bu.

Subyek Formal Berkuncup:
Wahai muridku, engkau telah menyadari semuanya, bahwa satu-satunya sukses dan keberhasilan adalah lulus ujian nasional. Itu harga mati. Barang siapa tidak lulus UN maka tiadalah dia mempunyai harga. Jangankan di depan negara. Di depan calon mertua saja maka dia tidak mempunyai harganya. Oleh karena itu maka adalah wajib hukumnya bagi engkau untuk lulus UN. Nah marilah engkau aku beri kesempatan menempuh UN ini. Silahkan kerjakan!

Obyek Normatif Patuh:
Wah soalnya sulit. Yang ini aku belum mempelajari. Jangankan mempelajarinya, mendengan dan melihat saja aku belum pernah. Sedangkan yang telah aku baca dan pelajari kok tidak keluar dalam UN. Aku sebetulnya senang melukis, tetapi kenapa tidak ada ujian melukis? Aku sebetulnya ingin menjadi Dai dan sudah banyak belajar khotbah, tetapi dalam UN ini kok tidak ada soal bagaimana kothbah. Kok yang diujikan hanya 3 (tiga) mapel. Wah ini tidak adil. Tetapi bagaimana ya, saya itu kan harus patuh dengan Bapak guru dan sekolah. Ya sudah, saya pasrah saja.

Subyek Formal Berbunga:

Iya pak saya telah paham dan memahami. Ini adalah kebijakan maka saya juga percaya betul dengan apa yang Bapa katakan. Sudahlah, Bapak bicara apa saja, tanpa reserve tanpa ragu-ragu, aku pasti percaya dan siap melaksanakan. Tak usah khawatir, asalah Bapak konsisten yaitu menyediakan juga biaya dan fasilitas agar bisa dilaksanakannya, pasti beres. Bapak untung, saya kan juga boleh memperoleh keuntungannya. Perkara para obyek normatif, mereka tahu apa. Apapun yang kita programkan pastilah bisa dilaksanakan.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai para Subyek Formal, lihat dan ketahuilah buah-buahku itu. Bukankan engkau tahu bahwa buah-buah itu dapat engkau nikmati, itu dikarenakan kepatuhanmu terhadap diriku. Oleh karena sekali lagi aku ingatkan. Jaganlah ragu-ragu akan keputusanku itu. Barang siap ragu-ragu terhadap keputusanku, maka hidupnya tidak akan tenteram. Apalagi jika menolaknya maka dia akan saya black list.

Obyek Normatif Kritis:
Wahai Subyek Formal berbuah, aku telah menemukan kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Aku menemukan bahwa di lapangan atau di daerah-daerah UN telah berubah menjadi tujuan yang mengerikan. Mereka telah membentuk tim-tim sukses. Wah ini tidak baik. Tetapi memang kenapa. Kenapa UN hanya untuk beberapa mata pelajaran saja. Bukankah siswa belajar semua mapel. Tetapi kenapa UN tidak mengujikan semua mapel. Kenapa Tes nya berupa tes obyektif, atau pilihan ganda. Apakah engkau pikir hidup ini adalah pilihan ganda. Bukankah proses atau sikap para siswa juga perlu dilihat. Maka sebetulnya saya tidak setuju dengan UN. Bukankah aku juga memerlukan normatif dari sekedar formal?

Subyek Formal Berbuah:
Hai engkau. Jangan macam-macam. Simpan temuanmu dan usulmu itu. Jika engkau terus-teruskan sikap dan pikiranmu itu, maka engkau bisa dianggap membahayakan keamanan kebijakan pemerintah. Maka diamlah engkau di situ.

Obyek Normatif Kritis:
Tidak..tidak saya akan pertahankan pikiran kritisku.

Subyek Formal Berbuah:
Kalau begitu akan aku laporkan engkau kepada Kepala Sekolahmu. Ketahuilah bahwa Kepala Sekolahmu itu sudah aku tangkap dan tidak bisa berbuat apapun kecuali sebagai Subyek Formal anak buahku dikarenakan dia telah makan buahku.

Obyek Normatif Berbuah:
Wahai Subyek Formal Berbuah, ketahuilah bahwa yang dapat berbuah di dunia ini bukanlah hanya engkau saja. Lihat dan ketahuilah bahwa diriku juga berbuah. Oleh karena itu aku akan memperingatkan dirimu agar jangan engkau main paksa kepada murid-muridku yaitu kepada para Normatif.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai Obyek Normatif Berbuah, yang membedakan antara dirimu dengan diriku adalah bahwa aku itu adalah subyek, sedangkan engkau itu adalah obyek. Sebenar-benar obyek tidaklah mampu mengalahkan subyek, walaupun dengan subyek kecil sekalipun.

Subyek Formal Mandireng:
Wahai para Subyek Formal dan Obyek Normatif, kenapa engkau bertengkar?

Subyek Formal Berbuah:
Begini Subyek Formal Mandireng, aku adalah subyek, engkau juga subyek. Tetapi engkau adalah subyekku, sedangkan aku adalah obyekmu. Maka tiadalah hukumnya disitu untuk saling berselisih paham. Maka apapun yang terjadi adalah bahwa engkau harus hanya mendengarkan apa yang aku katakan. Maka jangan engkau dengarkan kata-kata para obyek normatif itu.

Subyek Formal Mandireng:
Baik, tentu saja demikian. Maka laksanakan program-programmu maka aku akan dukung sepenuhnya.

Obyek Normatif Berbuah:

Wahai Normatif Agung. Aku tahu bahwa engkau bisa mewujudkan dirimu baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Maka aku ingin mengajukan protes dan usul terhadapmu, perihal perilaku para Subyek Formal. Para Subyek Formal telah tertutup normatifnya. Mereka main paksa. mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Itulah keadaan menyedihkan yang telah membawa berbagai persoalan normatif. Oleh karena itu aku usul agar engkau dapat mewujudkan dirimu sebagai Subyek, sehingga mampu menghentikan sepak terjang para Subyek Formal.

Normatif Agung:
Dengan ini aku menyatakan bahwa “Aku melarang dilaksanakan Ujian Nasional”. Titik

37 comments:

  1. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sangat memilukan ketika membaca elegi di atas. seorang guru yang diharapkan menjadi fasilitator untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan siswa memiliki pandangan yang salah. Dari elegi di atas terlihat bahwa guru memiliki pandangan bahwa, murid-murid belajar adalah untuk lulus, bukan untuk mendapatkan pengetahuan untuk bekal hidupnya. Dari orientasi yang salah itulah sehingga guru tergesa-gesa dalam mengajar. Guru selalu ingin memenuhi semua materi yang ada dalam waktu yang ditentukan tanpa memperhatikan apakah siswa paham atau tidak. Guru seakan-akan hanya menggugurkan kewajiban untuk menyampaikan materi yang ditentukan.

    ReplyDelete
  2. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari membaca elegi di atas, timbul banyak pertanyaan. Diantaranya adalah, mengapa UN menjadi dasar untuk menentukan kelulusan? Atas dasar apa kompetensi-kompetensi ditentukan sekian-sekian untuk jenjang yang ini dan yang itu?

    ReplyDelete
  3. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di Indonesia, system pendidikan sangat berbeda dengan negara-negara maju lainnya. Itu dapat terihat dari dialog diatas aspek formal lebih diutamakan daripada aspek normative, padahal asepek normatif pada seseorang lebih baik jika kita bisa mengeksploitasi lebih dalam lagi. Di Negara maju, para siswa lebih diajarkan bagaimana bersosialisasi, berinteraksi dan pengajaran dalam praktek di keseharian.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    UN merupakan penilaian hasil belajar oleh pemerintah dalam rangka untuk pemetaan mutu program/satuan pendidikan. Sayangnya UN ini dijadikan sebagai penentu keberhasilan siswa dan sekolah. Cara seperti ini bukanlah hal yang baik, karena keberhasilan pendidikan bukan hanya dilihat dari lulus UN saja, melainkan harus melihat keseluruhan aspek kemampuan siswa meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun sekarang UN ini akhirnya bukan salah satunya yang menentukan kelulusan siswa. Adanya tambahan nilai rapot digunakan juga sebagai penentu kelulusan.

    ReplyDelete
  5. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan postingan Bapak Marsigit di atas, saya menyimpulkan bahwa banyak ketidak adilan dalam penerapan Ujian Nasional di sekolah-sekolah. Mungkin sebagian siswa di luar sana banyak menanyakan: “Kenapa Ujian Nasional hanya pelajaran itu itu saja?” Kenapa tidak ada mata ujian menggambar, ujian pidato, ujian kaligrafi, ujian menyanyi dalam ujian Nasional? Kalau begitu, pemerintah pilih kasih. Siswa dianggap pandai jika nilainya bagus pada matematika, IPA, dan mapel lainnya yang tercantum dalam UN saja. Bahkan siswa dengan UN tertinggi kerap masuk koran, TV, media.

    Penyelenggaraan UN juga diwarnai kecurangan di sana-sini, seperti kebocoran soal, tim sukses UN, dan sebagainya. Begitulah kalau orientasi hanya pada nilai UN. Segala cara dilakukan untuk mencari nilai UN yang bagus demi menaikkan rata-rata nilai sekolah dan rangking sekolah tentunya. Guru pun yang seharusnya menjadi panutan bagi siswa-siswanya, justru ikut andil dalam kecurangan tersebut, seperti memberi bocoran UN dan ikut tim sukses UN. Tidak dipungkiri pelaksanakan UN membuka celah-celah yang dapat merusak moral, integritas, dan harga diri para guru sebagai tenaga pengajar.

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.MAT A UNY 2017

    Ujian NAsional atau UN memang menjadi momok yang paling menakutkan bagi semua siswa yang duduk sibangku akhir sekolah. bagaimana tidak, mereka sekolah selama 6 tahun (SD) akan tetapi nasibnya hanya ditentukan selama 3 hari. apabila mereka tidak lulus UN, maka akan menjadi hal yang sangat memalukan bagi dirinya, keluarganya dan juga sekolahnya. namun, apabila tidak diselenggarakan UN, maka tetap akan berdampak buruk bagi siswa dan gurunya. siswa menjadi tidak serius belajar, guru menjadi santai dalam mengajar arena tidak adanya tuntutan yang kuat untuk memaksa setiap dalam pendidikan, baik itu siswanya maupun gurunya untuk belajar lebih keras dan bekerja lebih giat demi memajukan pendidikan di negeri Indonesia tercinta ini. Pro dan konta pelaksanaan UN sudah sering terjadi, namun sebagai warga negara hendaknya mengikuti peraturan yang dibuat pemerintah dan menjalankan dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  7. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Ketika saya membaca tulisan tanggal 15 Oktober 2010 ini, emosi saya sedikit naik. Betapa tidak adilnya pelaksanaan UN pada waktu itu. Ketidakadilan UN yang hanya tiga mata pelajaran, sulitnya soal UN karena belum pernah dipelajari sebelumnya, kecurangan para penyelenggara UN, menghukum mereka yang yang kritis dan tidak bersalah, membebaskan yang bersalah, dan masih banyak lainnya yang belum terungkap. Mau jadi apa Indonesia kalau Subjek Formalnya bertingkah seperti itu? Merasa paling benar, tak ingin disalahkan, kejujuran musnah. Itulah tahun 2010 silam.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  8. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Tahun demi tahun berjalan, Subjek Formal yang cerdas mulai muncul ke permukaan. Tak semudah membalikkan telapak tangan memang untuk memperbaiki kekacauan sebelumnya. Akan tetapi, dengan sikap optimisme dan kerja sama dari seluruh komponen baik subjek maupun objek, bukan tidak mungkin dunia pendidikan yang kita idam-idamkan akan terwujud. Keadilan yang semakin lebih adil. UN sekarang sudah tidak menjadi ukuran mutlak suatu kelulusan sekolah, tetapi ujian sekolah yang mencakup semua mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, kecuali mata pelajaran untuk UN, juga berpengaruh besar dalam menentukan kelulusan siswa. Semoga pendidikan Indonesia ke depannya dapat semakin lebih baik dan lebih baik lagi dari segala bidang. Aamiin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Jika merujuk pada peraturan pemerintah, maka penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) sudah diserahkan oleh dinas pendidikan wilayah setempat. Lika liku perlunya UN ini memang tidak pernah ada habisnya. Menurut hemat saya, adanya UN ini sebetulnya antara perlu dan tidak perlu. Perlunya adalah UN digunakan sebagai salah satu assessment peserta didik setelah melalui kegiatan pembelajaran. Tidak perlunya adalah UN digunakan sebagai penentu kelulusan di setiap jenjang pendidikan. Pada tahun 2017 ini sudah diberlakukan bahwa UN bukanlah satu – satunya alternatif untuk menentukan kelulusan. Akan tetapi, nilai UN murni masih digunakan sebagai standar masuk sekolah pada jenjang berikutnya. Tujuan daripada UN ini adalah mengukur pencapaian kompetensi para peserta didik pada mata pelajaran tertentu dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan. Namun, apakah pelaksanaan UN saat ini sudah memenuhi standar yang ada sesuai Prosedur Operasi Standar yang dikeluarkan oleh BSNP? Sementara kita masih melihat melalui media ketika UN dilaksanakan begitu banyak beredar kunci jawaban. Tidak akan ada ujungnya jika kita membahas tentang Ujian Nasional. Seperti Elegi Pemberontakan para Normatif yang Prof. tuliskan 7 tahun lalu ini. Sampai saat ini pun, fenomena UN masih menjadi perbincangan yang tak berujung.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Pelaksanaan ujian nasional menjadi tindakan yang melampaui aspek-aspek normatif. Maka tidak aneh lagi jika dalam implementasinya di banyak sektor digunakanlah tujuan-tujuan pragmatis. Lah ini malah gimana, lah wong UN nya saja sudah menjadi tujuan pragmatis pendidikan di Indonesia. Sithik-sithik UN. Benar juga ini, "bahwa satu-satunya sukses dan keberhasilan adalah lulus ujian nasional. Itu harga mati. Barang siapa tidak lulus UN maka tiadalah dia mempunyai harga. Jangankan di depan negara. Di depan calon mertua saja maka dia tidak mempunyai harganya. Oleh karena itu maka adalah wajib hukumnya bagi engkau untuk lulus UN". Gawat betul keadaannya. Pendidikan di Indonesia sudah benar-benar meninggalkan proses, yang penting hasil, UN bagus, rangking sekolah meningkat, rangking daerah meningkat, murid paham atau tidak tak dipedulikan. Benar-benar pendidikan yang membelenggu. Lantas siapa pula ini yang akan "mencerdaskan kehidupan bangsa"?

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pelaksanaan UN memang sudah menjadi pro dan kontra di bidang pendidikan maupun di masyarakat. Tidak adil jika 3 tahun belajar di sekolah (SMP atau SMA), tetapi kelulusannya hanya di tentukan dalam waktu 3 hari. Tentu ini sangat menjadi beban bagi anak sekolah. Tetapi alhamdulillah, akhirnya kebijakan ini berubah. Sekarang kelulusan seorang siswa tidak hanya ditentukan dari nilai UN saja tetapi juga dikombinasikan dengan nilainya selama 3 tahun di sekolah (nilai rapot). Selain itu, pelaksanaan UN sskarang ini juga sudah berbasis komputer. UNBK (ujian nasional berbasis komputer) ini menurut saya lebih efektif dan juga meminimalisir terjadinya kecurangan siswa. Semoga kedepannya sistem UN terus menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  12. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B


    Manusia dapat dibagi menjadi subjek dan objek. Contohnya dalam pembejaran yang menjadi subjek adalah guru sedangkan yang menjadi objek adalah siswa. Selama masih menjadi objek, terdapat beberapa keadaan yang harus dipatuhi dan dipenuhi oleh objek yaitu normatif. Contohnya apabila objek ingin lulus maka objek harus lulus ujian nasional. Terdapat peraturan yang mengikat objek, seorang objek tidak bisa memilih hal yang disukai saja, tetapi harus mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh subjek-subjeknya. Misalnya apabila ada seorang objek yang hanya menyukai pelajaran tertentu atau dia hanya ahli pada pelajaran tertentu, dia masih dikatakan objek yang belum berhasil ketika pada pelajaran yang lain dia tidak dapat mencapai yang diharapkan subjeknya, atau harus mencapai kenormatifannya.

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca "Elegi Pemberontakan Para Normatif" bahwa pendidikan itu telah identik dengan Ujian Nasional (UN). Sampai sekarang ini masih banyak kalangan pro-kontra yang setuju dan yang tidak setuju adanya Ujian Nasional (UN). Menurut pandangan saya, UN tetap dan perlu dilakukan untuk mengukur tingkat kecerdasan dan ilmu yang telah diperoleh peserta didik. Saya pun setuju jika mata pelajaran yang di UN-kan sedikit, agar peserta didik tidak tertekan dan setres. Untuk mata pelajaran lain bisa diujikan dengan tes sesuai ketentuan sekolah masing-masing. Namun pelaksanaan UN perlu ditingkatkan, seperti tidak ada lagi pembocoran soal.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  14. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam upaya membangun pendidikan Indonesia menjadi lebih baik, maka hendaklah para subjek juga memperhatikan aspirasi para objek. Dalam pembelajaran dikelas guru sebagai subjek hendaklah memperhatikan aspirasi, bakat, dan keinginan para murid sebagai objek. Para jajaran pembuat kebijakan sebagai subjek hendaknya juga memperhatikan aspirasi guru dan siswa sebagai objek. Ujian nasional bertujuan untuk mengukur kualitas pendidikan di Indonesia. Tapi bagaimana cara mengukur kualitas pendidikan hendaknya juga memperhatikan aspirasi guru dan siswa. Karena pendidikan di Indonesia bukanlah hanya sekedar matematika, bahasa, dan IPA. Karena pendidikan juga tentang bakat- bakat siswa. Karena pendidikan juga tentang moral dan akhlak siswa.

    ReplyDelete
  15. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Dari dulu hingga kini, UN menjadi ketakutan tersendiri bagi siswa. Dari yang dulunya UN menjadi satu-satunya penentu kelulusan, hingga kini yang berubah menjadi salah satu penentu kelulusan. Karena sekarang penentuan kelulusan juga dipengaruhi hal lain seperti nilai rapor, dan nilai-nilai lainnya. Namun demikian, hingga kini UN masih tetap saja menjadi momok tersendiri bagi siswa.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  16. Setiap anak terlahir istimewa. Setiap siswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Sementara ada keahlian siswa yang tidak bisa diukur dari soal-soal yang ada di UN. Misalnya seseorang yang berpotensi menjadi penari, seseorang yang berpotensi menjadi pelukis, desainer, da'i, dan masih banyak yang lain. Namun demikian, untuk masuk dari SD ke SMP maupun dari SMP ke SMA sekarang ini masih menggunakan nilai UN yang hanya ditentukan oleh 4 mapel untuk SMP dan 3 mapel untuk SD. Hal tersebut rasanya tidak adil bagi siswa-siswa yang tidak ahli di mata pelajaran yang di UN kan, sementara ahli bahkan menjadi sang juara di bidang lain. Walaupun demikian, menurut saya Indonesia tetap membutuhkan suatu bentuk ujian yang dapat menjadi pemetaan untuk keberhasilan pendidikan yang berskala nasional mengingat Indonesia yang beranekaragam ini.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  17. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pada elegi sebelumnya, elegi begawat menggapai kesempatan, disebutkan bahwa guru yang sebenar-benar begawat menggapai kesempatan adalah jika dapat selalu hidup dan menghidupkan murid-muridnya. Dan pada elegi ini ditambahkan bahwa guru gagal apabila siswa tidak mau belajar. Maka dapat disimpulkan bahwa sebenar-benarnya guru adalah jika ia dapat berbagi ilmu dan menghidupkan kemauan murid-murid dalam belajar. Namun seseorang guru hendaknya menyampaikan ilmu tanpa adanya tekanan dan keterpaksaan. Guru sebagai pendidik harus berusaha menciptakan suasana belajar yang membuat siswa terdorong untuk belajar sehingga tidak adanya pemberontakan yang timbul akibat rasa keterpaksaan.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari postingan ini bahwa, selama ini banyak kontopersi dimana-dimana mengenai UN. Selama ini UN dirasakan tidak adil dikalangan masyarakat. Sekolah 3 tahun hanya ditentukan dengan UN selama 3 hari, tanpa memperdulikan bagaimana proses pembelajaran siswa tersebut disekolah. Ini yang menjadi beban mental siswa, sehingga banyak terjadi kecurangan dimana-dimana. Banyak upaya curang saat Ujian Nasional. Karena ketika dalam 3 hari UN nilai anak dibawah standar yang ditentukan, maka anak dinyatakan tidak lulus. Sehingga gurupun merasa sedih karena telah gagal dalam pengajaran. Padahal menurut saya UN tidak mengukur kemampuan siswa sepenuhnya. Karena ketika pelaksanaan UN bisa saya siswa lagi kurang sehat, dan mental sangat mempengaruhi. Tapi Alhamdulillah zaman sekaran, kelulusan tidak hanya dilihat dari nilai UN, tapi ada persentasinya dimana UN juga dipengaruhi nilai rapot sekolah, sehingga beban mental anak mulai terobati sedikit.

    ReplyDelete
  19. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan bagi siswa/i menjadikan siswa/i merasa sangat terbebani karena proses belajar yang mereka laksanakan selama betahun-tahun ditentukan hanya dalam beberapa hari saja. Semua soal didistribusi dari pusat diharapkan agar dapat menghindari kecurangan. namun kenyataannya, banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi dan kunci-kunci jawaban yang beredar. UN tidaklah lagi menjadi Ujian Nasional, melainkan Ujian Nyontek. Sebagian siswa/i yang melakukan kecurangan bisa disebabkan karena tertekan atau mereka sangat takut tidak lulus sehingga mereka menghalalkan segala cara. Ujian Nasional yang diharapkan dapat memberi dampak positif justru memberikan efek yang negatif. Keputusan bahwa Ujian Nasional bukan syarat satu-satunya seorang siswa/i dapat dikatakan lulus sekolah saya rasa merupakan keputusan yang sangat tepat karena dengan begini siswa tidak merasa terlalu terbebani.

    ReplyDelete
  20. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    dari dulu saya kurang setuju dengan diadakannya UN di sekolah-sekolah. saya merasa UN hanya menjadi ajang peningkatan gengsi disuatu sekolah. bagaimana tidak? citra sekolah menjadi buruk jika ada anak muridnya yang tidak lulus, (setidaknya ini pandangan masyarakat). para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah negeri. Gara gara UN semua proses menjadi sia-sia. fokus sekolah hanya pada hasil, padahal dikehidupan mana pun proses adalah hal yang paling penting dan utama dalam mendasari hasil. proses yang baik akan menciptakan hasil yang baik.
    jika dengan begitu tak heran kalau generasi bangsa banyak yang tidak peduli akan proses mendapatkan sesuatu. asal hasilnya bagus sok atuh lanjutkan, begitu kira-kira pemikiran mereka. mereka tidak peduli apakah cara itu baik ataupun buruk, dianjurkan atau dilarang agama. disinilah banyak terjadi mental-mental pengecut yang hobi mencontek dengan alasan supaya nilai bagus, dan ketika besar dan mempunyai jabatan dinegara ini merekalah yang menjadi koruptor negara. PENCONTEK adalah bibit awal dari KORUPTOR.
    Dan ini dimula dari mereka ketika masa sekolah guru-guru lebih mementingkan hasil dari pada proses ataupun bakat anak.

    ReplyDelete
  21. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Menjadi subjek memang tidak mudah. Tetapi menjadi obyek pun tidak mudah. Maka, jadilah subjek dan obyek yang dapat mengambil keputusan dan kebijakan yang sekiranya tidak menimbulkan berbagai macam persoalan normatif. Subjek dan obyek hendaknya saling membantu dan saling mengisi, bukan saling berebut untuk saling mengalahkan dan memaksakan kehendak dengan seenaknya sendiri. Mengapa Subjek Formal Berbuah begitu tertekan dan mengancam Obyek Normatif Kritis ketika Obyek Normatif Kritis mengungkapkan berbagaimacam polemik yang sebenarnya terjadi dengan UN? Menurut saya karena Subjek Formal Berbuah sebenarnya mengetahui kebijakan yang diciptakannya itu banyak menimbulkan polemik, tetapi belum bisa mengatasi dan menemukan jalan keluar yang terbaik. Untuk mendapatakan jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak, hendaknya seluruh pihak baik Subjek maupun Obyek saling terbuka akal dan pikirannya, dan saling menerima jika pendapatnya memang belum pantas untuk dijadikan sebuah kebijakan.
    Saya sangat setuju dengan Dilarangnya Pelaksanaan Ujian Nasional. Merdeka.

    ReplyDelete
  22. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B 2017

    Ujian Nasional menjadi salah satu isu kontroversi yang tak pernah usai solusinya. Sia-sia ketika kita hanya menyalahkan si A, B, C dan D saja tanpa memberikan peran yang nyata. Sebagai calon akademisi maupun praktisi sebaiknya kita memberikan solusi ilmiah berdasarkan penelitian-penelitian pada aspek pendidikan di negara-negara maju maupun berkembang. Finlandia misalnya, sebagai negara dengan sistem pendidikan termaju di dunia yang tidak mengenal namanya Ujian Nasional. Namun, evaluasi mutu pendidikan sepenuhnya dipercayakan kepada para guru sehingga negara berkewajiban melatih dan mendidik guru agar bisa melaksanakan evaluasi yang berkualitas.
    Selain Finlandia, saya juga tertarik dengan sistem pendidikan di Australia. Di Negara Australia ini, ujian nasional tidak dilaksanakan bahkan tidak dikenal sama sekali, melainkan ujian state. Ujian stase tidak menentukan lulus tidaknya para peserta didik, namun untuk menentukan kemana siswa tersebut akan melanjutkan pendidikan. Berapapun nilai yang didapatkan oleh siswa dari ujian tersebut tetap dinyatakan lulus. Bahkan nilai nol sekalipun tetap dinyatakan lulus, namun kelulusan tersebut tidak ada gunanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa tersebut akan sangat sulit untuk melanjutkan pendidikannya. Tak ada salahnya, jika Penguasa di Republik ini mencoba mempelajari hingga menerapkan sistem tersebut, sehingga tidak hanya memperbaiki dari segi akademik saja tetapi juga mengubah karakter peserta didik untuk lebih menyadari dan mengasah kemampuannya pada masing-masing bidang yang ditekuni.

    ReplyDelete
  23. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Elegi ini merupakan gambaran dari permasalahan pendidikan saat ini. Pendidik yang merasa dituntut untuk memberikan pendidikan formal, sementara siswa yang sulit mengikuti proses belajar yang menuntut mereka, karena karakteristik siswa yang berbeda-beda antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Sistem pendidikan membuat guru untuk mengikuti arahan pembuat kebijakan, walaupun tidak setuju tetapi harus menutup mata untuk hal tersebut. Maka diperlukan ketegasan dan sinkronisasi antara kebijakan dan penerimaatau pelaksana kebijakan. Semoga wajah dunia pendidikan Indonesia semakin hari semakin membaik dengan cara tidak menghilangkan karakteristik setiap individu yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  24. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi ini menyiratkan banyaknya pertentangan pada pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian yang selalu diadakan setiap tahunnya, dimana para siswa dipush sedemikian hingga untuk belajar agar bisa menyelesaikan UN dengan sebaik-baiknya. Walaupun dalam beberapa tahun ini Un tidak menjadi harga mati penentu kelulusan, namun selalu menimbulkan polemik baik dikalanan atas atupun sampai dikalangan siswa. Para siswa yang dipacu untuk bisa membawa nama baik sekolah, para guru yang selalu dituntut untuk menyiapkan anak-anak murid kelas akhir agar dapat melalui UN dengan hasil memuaskan, agar bisa membawa nama sekolahan lebih baik, orang tua yang menginginkan anaknya untuk meraih yang terbaik sehingga terkadang menyudutkan anaknya untuk mengikuti Bimbel ataupun les tambahan yang menguras waktu dan pemikiran anak dan menguras keuangan orang tua Semoga ke depannya kebijakan akan berpihak kepda orang-orang yang mau berusaha sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  25. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Kebijakan yang diambil pemerintah harus serta merta dilaksanakan oleh pelaksana, terutaa kami para guru. Namun terkadang yang menjadi pertanyaan, apakah kebijakan itu juga sudah memepertimbangan kami sebagai pelaksana kebijakan. Semoga ke depannya segala bentuk kebijakan bisa lebih melihat dampak dari pelaksanaan kebijakan tersebut.

    ReplyDelete
  26. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Elegi Pemberontakan Para Normatif. Setelah membaca elegi ini, menurut saya normatif dan formal harusnya saling melengkapi dan jangan saling menyalakan sehingga ingin menag sendiri. Subyek formal sebagai pengada UN, seharusnya menerima saran dari normatif yang berpendapat bahwasanya UN saja sebagai penentu kelulusan bukannya sesuatu yang adil. Hal itu karena UN tidak dapat menilai kemampuan siswa yang bukan hanya kemampuan kognitif saja selain itu UN sangat rentan terjadinya manupulasi dan kecurangan. Seharunya subyek formal juga memperhatikan dan mengakomodasi saran dari obyek normatif, jangan malah mengabaikannya karena normatif hanya dianggap sebuah obyek yang patuh pada subyeknya. Namun, obyek normatif juga jangan sombong dengan melarang UN. Karena, UN tidak selamanya memiliki sisi kelam. Seharusnya Subyek formal dan obyek normatif, duduk berdampingan untuk menemukan jalan keluar. Sejatinya normatif dan formal adalah dua hal yang dapat saling melengkapi. Terimakasih.

    ReplyDelete
  27. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Aku sebetulnya senang melukis, tetapi kenapa tidak ada ujian melukis?"
    Betul-betul gambaran yang mengkotak-kotakan. Apakah siswa yang tak pandai matematika tetapi pandai melukis tak berhak lulus sekolah? Ketika kelulusan hanya berpatokan pada ujian nasional, maka ujian nasional menjadi momok bagi siswa. Banyak siswa yang dengan terpaksa meninggalkan kebahagiaannya lewat bakatnya menulis atau bakatnya bernyanyi atau bakatnya melukis atau bakatnya berolahraga hanya untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian nasional. Apakah ini esensi pendidikan? Meninggalkan pengembangan bakat hanya demi beberapa hari ujian. Sungguh pelaksanaan ujian nasional memang perlu dievaluasi mendalam.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Akhir dari tulisan ini mengejutkan saya. Mungkinkah itu terjadi? Ujian nasional dilarang? Saya pribadi juga merasakan bahwa Ujian Nasional ini lebih banyak berdampak kurang baik untuk karakter para siswa. Mereka melakukan segala cara demi lulus UN, dan yang tidak berhasil bahkan ada yang sampai bunuh diri. Sebenarnya karakter apa yang hendak dicapai dengan pemberlakuan UN ini? Mungkin saat ini sekolah yang sungguh dapat mewadahi berbagai kemampuan anak masih ada dalam dunia ide. Namun tentu tidak berlebihan juga jika saya berharap, sebab segalanya adalah mungkin, bahwa Ujian Nasional ini dihapuskan saja. Tentu kemudian perlu dicari upaya lain untuk dapat memetakan kemampuan para siswa, namun bukan dengan Ujian Nasional.

    ReplyDelete
  29. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Ujian Nasional merupakan topik bahasan tahunan yang tak kunjung berakhir, padahal tiap tahun yang dibahas itu-itu saja “Bagaimana bisa lulus Ujian Nasional dengan skor yang tinggi?”. Seiring perkembangan peradaban dunia yang dinamis. Mungkin bisa dibuat kajian bahwa masihkan efektif ujian Nasional tersebut sebagai tolak ukur kesuksesan pendidikan siswa-siswi Indonesia. Pengukuran keefektifan ini didasarkan fakta dilapangan bahwa kami mengalami bahwa satu tahun pembelajaran difokuskan untuk mempelajari SKL Ujian nasional sehingga kadang dalam proses penyampaian materi pelajaran dikelas 12 atau 9 bersifat searah yakni dari guru ke murid sehingaa kurangnya proses pembelajaran dengan mengedepankan pengalaman belajar. Selain itu, para siswa sering curhat bahwa beberapa dari mereka mencemaskan nilai ujian nasional dan kelulusannya. Hal ini berdampat pula pada psikologi siswa.
    Mungkin saja, jika kegiatan UN dianggap kurang efektif maka bisa saja di adakan bentuk evaluasi pembelajaran yang bertujuan seperti UN namun tidak membuat siswa merasa cemas. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  30. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    memang benar jika kelulusan hanya ditentukan oleh nilai UN, maka itu akan menjadi sangat tidak adil. bagaimana jika siswa yang telah belajar selama bertahun-tahun dengan nilai yang memuaskan, tetapi kemudian di saat UN dia mendapatkan nilai yang tidak memadai dikarenakan sakit atau grogi daat mengerjakan soal UN? maka peraturan yang memaksakan kelulusan mutlak berdasarkan nilai UN sepertinya perlu dipertimbangkan lagi.

    ReplyDelete
  31. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof untuk ilmu yang sudah diberikan. Saya sangat menginginkan percakapan pada ulasan ini berkelanjutan. Saya sendiri juga merasa penasaran dengan tanggapan para subyek dan obyek formal terkait dengan pernyataan dari normatif agung. Menurut saya, jika memang ada alternatif lain yang lebih baik untuk menguji kelulusan siswa dalam belajar selain dengan ujian nasional maka sangat baik untuk dilaksanakan dan dipertimbangkan lebih dalam. Apalagi jika memang alternatif lain yang dimiliki mengutamakan dengan pembangunan karakter siswa. Semoga pernyataan normatif agung dapat menjadi salah satu pendorong pada perubahan yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  32. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih banyak prof. Marsigit atas ulasan di atas. Perbincangan yang cukup relevan meski manka yang terkandung disampaikan secara tersirat. Sebagai obyek normatif yang hanya mampu menjalankan segala keformalan aturan yang ada dari para subyek formal, memang sangat perlu seyogyanya diberikan kesempatan dan berbicara tentang apa yang dirasakan mereka selama mengenyam pendidikan. Bagaimana segala aturan yang ada harus mereka laksanakan tanpa ada ketulusan hati. Sebagai contoh UN, memanglah tidak adil bagi para siswa. Sedikit banyak siswa terpaksa karena tuntutan kelulusan,namun nyatanya adanya UN tidak menjadikan mereka pandai dan cerdas dalam menuntut ilmu. Apakah hanya dengan cara itu untuk meluluskan siswa, masih efektif kah ujian Nasional tersebut sebagai tolak ukur kesuksesan pendidikan siswa-siswi Indonesia. Itulah yang menjadi pertanyaan besar dan bahan peninjauan ulang bagi para pemangku dan pembuat kebijakan. Saya jadi penasaran bagaimanakah respon dari para subyek dan obyek formal terkait dengan pernyataan dari normatif agung ketika UN dihentikan olehnya, adakah masalah dan pemberontakan yang timbul. Maka sebenar-benar peraturan yang mutlak hanyalah aturan dan ketentuan Allah sedangkan bagi segala yang ada dan mungkin ada hanyalah bersifat relatif. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  33. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP B (S2)

    Pada elegi ini menurut saya menggambarkan keadaan yang saat ini terjadi. Keadaan dimana formal merupakan satu-satunya yang penting dalam pendidikan dan normatif dianggap tidak penting lagi. Formal sudah menjadi subyek dan normatif adalah obyeknya. Semua yang terlibat dalam normatif akan terancam karena tidak sesuai dengan formal yang bertindak sebagai subyek. Keadaan demikian menjadi miris, ketika pendidikan yang dilaksanakan sepenuhnya adalah formal maka keberadaan siswa dengan bermacam-macam potensi diri yang dimiliki akan diabaikan sehingga menganggap semua siswa adalah sama. Menurut saya, dalam pendidikan sebaiknya menyeimbangkan antara formal dan normatif karena kompromi dari keduanya diperlukan. Menggunakan formal dan normatif sesuai dengan ruang dan waktunya sehingga tercipta keindahan dan kenyamanan dalam hidupnya pendidikan.

    ReplyDelete
  34. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Normative sering kali diartika sebagai suatu hal yang ajek. Sebuah standar ideal yang dijadikan sebagai tolak ukur. Ketika ada suatu hal yang melenceng dari tujuannya maka sering kali disebut tidak normatif. Normatif dapat disebut sebagai kemapanan. Dalam konteks tulisan bapak, saya dapat menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan pemberontakan para normatif adalah berusaha lepas dari belenggu kemapanan. Normatif sebagai subjek yang memberontak meungkin merasa bosan pada eksistensinya yang terlalu kaku dan begitu-begitu saja.

    ReplyDelete
  35. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Sangat disyangkan sekali sikap guru terhadap muridnya tersebut. Dimana seharusnya guru tidak menetupi sufat-sifat yang ada pada siswanya. Bisa dikatakan ini adalah dampak dari penyelenggaraan UN yang akan diadakan. Saya memang kurang setuju akan adanya UN, dikarenakan UN hanya melihat hasil akhir dari siswa, bukan melihat dari sebuah proses apa yang sudah siswa lewati. Hasil akhir bisa saja dijadiakn sebuah penilaia, akantetapi sebenarnya proses lah yang dapat dijadikan sebagai dasar penilaian utama.

    ReplyDelete
  36. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    UN_Masih saja sampai saat ini menjadi perbincangan yang tiada habisnya. Ada atau tidak adanya UN yang sering menjadi pro kontra banyak kalangan, substansi/isi UN bahkan sampai kenapa hanya 3 mata pelajaran saja yang di ujikan. semua ini harus kita sikapi dengan cerdas. UN mungkin masih bisa diadakan dengan perbaikan-perbaikan sistem pelaksanaannya demi untuk mengukur seberapa ketercapaian pembelajaran disekolah. Sebagai calon guru yang jelas kita harus mampu menstransfer ilmu yang kita miliki dengan profesional, masalah ada/tidak adanya UN dan bagaimana sistematikanya kita serahkan kepada ahlinya yang pastinya lebih tau positif dan negatifnya. semoga guru dan pemerintah mampu menjadi pelaku normatif yang bijak

    ReplyDelete
  37. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Dari elegi diatas menggambarkan kesemerawutan pelaksanaan ujian nasional. Digambarkan dalam elegi diatas ada dua kubu yaitu kubu formal dan normatif. Dimana ini menggambarkan kubu formal adalah kubu yang telah terkena mitos, melakukan segala sesatu tidak sesuai dan memaksakan kehendak, juga melampaui batas. Dilain pihak kubu normatif sangat menentang kubu formal, untuk mengembalikan segala sesuatu sesuai dengan semestinya, untuk mencari logos, tetapi ada akhirnya kubu normatif ikut menjadi mitos, karena diakhir menolak ujian nasional tanpa pandang baik dan buruknya.

    Ini menggambarkan pendidikan disekitar kita yang semuanya telah terjebak mitos, maka pembelajaran yang sekarnag ini adalah pembelajaran mitos. Semoga kita semua segera disadarkan dari mitaos ini. Amiin.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete