Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Normatif




Oleh Marsigit

Subyek Formal Bersemi:

Hai anak-anak, walau engkau masih kecil-kecil, ini ni pelajari. Berapa ini dikali itu. Itu dibagi ini. Itu pangkat itu. Ini pangkat ini. Ayo jawab! Kok diam saja.

Obyek Normatif Mengintip:

Waduh sulit bu. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Aku emoh belajar dengan ibu. Ibu itu nakal. Suka mbentak-mbentak. Aku ingin pulang.

Subyek Formal Bersemi:
Jika engkau ingin pandai ya ini pelajari. Jika engkau tak mau belajar berarti aku gagal.

Obyek Normatif Mengintip:
Aku ingin menangis saja bu.

Subyek Formal Berkuncup:
Wahai muridku, engkau telah menyadari semuanya, bahwa satu-satunya sukses dan keberhasilan adalah lulus ujian nasional. Itu harga mati. Barang siapa tidak lulus UN maka tiadalah dia mempunyai harga. Jangankan di depan negara. Di depan calon mertua saja maka dia tidak mempunyai harganya. Oleh karena itu maka adalah wajib hukumnya bagi engkau untuk lulus UN. Nah marilah engkau aku beri kesempatan menempuh UN ini. Silahkan kerjakan!

Obyek Normatif Patuh:
Wah soalnya sulit. Yang ini aku belum mempelajari. Jangankan mempelajarinya, mendengan dan melihat saja aku belum pernah. Sedangkan yang telah aku baca dan pelajari kok tidak keluar dalam UN. Aku sebetulnya senang melukis, tetapi kenapa tidak ada ujian melukis? Aku sebetulnya ingin menjadi Dai dan sudah banyak belajar khotbah, tetapi dalam UN ini kok tidak ada soal bagaimana kothbah. Kok yang diujikan hanya 3 (tiga) mapel. Wah ini tidak adil. Tetapi bagaimana ya, saya itu kan harus patuh dengan Bapak guru dan sekolah. Ya sudah, saya pasrah saja.

Subyek Formal Berbunga:

Iya pak saya telah paham dan memahami. Ini adalah kebijakan maka saya juga percaya betul dengan apa yang Bapa katakan. Sudahlah, Bapak bicara apa saja, tanpa reserve tanpa ragu-ragu, aku pasti percaya dan siap melaksanakan. Tak usah khawatir, asalah Bapak konsisten yaitu menyediakan juga biaya dan fasilitas agar bisa dilaksanakannya, pasti beres. Bapak untung, saya kan juga boleh memperoleh keuntungannya. Perkara para obyek normatif, mereka tahu apa. Apapun yang kita programkan pastilah bisa dilaksanakan.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai para Subyek Formal, lihat dan ketahuilah buah-buahku itu. Bukankan engkau tahu bahwa buah-buah itu dapat engkau nikmati, itu dikarenakan kepatuhanmu terhadap diriku. Oleh karena sekali lagi aku ingatkan. Jaganlah ragu-ragu akan keputusanku itu. Barang siap ragu-ragu terhadap keputusanku, maka hidupnya tidak akan tenteram. Apalagi jika menolaknya maka dia akan saya black list.

Obyek Normatif Kritis:
Wahai Subyek Formal berbuah, aku telah menemukan kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Aku menemukan bahwa di lapangan atau di daerah-daerah UN telah berubah menjadi tujuan yang mengerikan. Mereka telah membentuk tim-tim sukses. Wah ini tidak baik. Tetapi memang kenapa. Kenapa UN hanya untuk beberapa mata pelajaran saja. Bukankah siswa belajar semua mapel. Tetapi kenapa UN tidak mengujikan semua mapel. Kenapa Tes nya berupa tes obyektif, atau pilihan ganda. Apakah engkau pikir hidup ini adalah pilihan ganda. Bukankah proses atau sikap para siswa juga perlu dilihat. Maka sebetulnya saya tidak setuju dengan UN. Bukankah aku juga memerlukan normatif dari sekedar formal?

Subyek Formal Berbuah:
Hai engkau. Jangan macam-macam. Simpan temuanmu dan usulmu itu. Jika engkau terus-teruskan sikap dan pikiranmu itu, maka engkau bisa dianggap membahayakan keamanan kebijakan pemerintah. Maka diamlah engkau di situ.

Obyek Normatif Kritis:
Tidak..tidak saya akan pertahankan pikiran kritisku.

Subyek Formal Berbuah:
Kalau begitu akan aku laporkan engkau kepada Kepala Sekolahmu. Ketahuilah bahwa Kepala Sekolahmu itu sudah aku tangkap dan tidak bisa berbuat apapun kecuali sebagai Subyek Formal anak buahku dikarenakan dia telah makan buahku.

Obyek Normatif Berbuah:
Wahai Subyek Formal Berbuah, ketahuilah bahwa yang dapat berbuah di dunia ini bukanlah hanya engkau saja. Lihat dan ketahuilah bahwa diriku juga berbuah. Oleh karena itu aku akan memperingatkan dirimu agar jangan engkau main paksa kepada murid-muridku yaitu kepada para Normatif.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai Obyek Normatif Berbuah, yang membedakan antara dirimu dengan diriku adalah bahwa aku itu adalah subyek, sedangkan engkau itu adalah obyek. Sebenar-benar obyek tidaklah mampu mengalahkan subyek, walaupun dengan subyek kecil sekalipun.

Subyek Formal Mandireng:
Wahai para Subyek Formal dan Obyek Normatif, kenapa engkau bertengkar?

Subyek Formal Berbuah:
Begini Subyek Formal Mandireng, aku adalah subyek, engkau juga subyek. Tetapi engkau adalah subyekku, sedangkan aku adalah obyekmu. Maka tiadalah hukumnya disitu untuk saling berselisih paham. Maka apapun yang terjadi adalah bahwa engkau harus hanya mendengarkan apa yang aku katakan. Maka jangan engkau dengarkan kata-kata para obyek normatif itu.

Subyek Formal Mandireng:
Baik, tentu saja demikian. Maka laksanakan program-programmu maka aku akan dukung sepenuhnya.

Obyek Normatif Berbuah:

Wahai Normatif Agung. Aku tahu bahwa engkau bisa mewujudkan dirimu baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Maka aku ingin mengajukan protes dan usul terhadapmu, perihal perilaku para Subyek Formal. Para Subyek Formal telah tertutup normatifnya. Mereka main paksa. mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Itulah keadaan menyedihkan yang telah membawa berbagai persoalan normatif. Oleh karena itu aku usul agar engkau dapat mewujudkan dirimu sebagai Subyek, sehingga mampu menghentikan sepak terjang para Subyek Formal.

Normatif Agung:
Dengan ini aku menyatakan bahwa “Aku melarang dilaksanakan Ujian Nasional”. Titik

39 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menurut saya, normatif itu sesuatu yang cenderung statis. Dalam arti dia tidak dapat bergerak, tidak dapat marah, apalagi memberontak terhadap apapun perintah subyek formal (pemimpin yang sewenang-wenang). Seperti pada elegi ini, normatif diumpamakan sebagai seorang siswa yang mengikuti semua perintah guru untuk belajar keras hanya dengan tujuan lulus UN, atau orang-orang yang mengetahui banyak terdapat praktek kecurangan dan dampak dari UN, tetapi ia terkadang tak mampu melakukan apa-apa karena tekanan dari subyek formal. Subyek formal terkadang sudah tertutup normatifnya. Mereka main paksa, mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Oleh karena itu, perlu usaha yang keras, konsisten dan keberanian dalam menghadapi kesewenang-wenangan subyek formal.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Penilaian normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan penilaian formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan penilaian normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam pendidikan, memang terlihat jelas bahwa aspek kognitif (formal) lebih diutamakan daripada aspek afektif (normatif). Hal tersebut salah satunya terlihat dari sistem UN yang hanya mempertimbangkan nilai dari 3 mata pelajaran saja. Padahal minat anak dalam pelajaran sangat beragam tetapi seolah-olah dengan nilai UN ini dapat mencerminkan segala kemampuan dan jati diri siswa. Siswa akan dipandang tinggi derajatnya hanya karena nilai UN tanpa memperhatikan kemungkinan bahwa siswa tersebut dapat lebih dominan dalam aspek lain selain nilai UN. Hal ini lah yang dianggap bahwa normatif tidak lebih penting dari formal, padahal mempertimbangkan normatif dapat menggali lebih dalam mengenai potensi-potensi siswa yang tidak dapat ditunjukan mereka secara eksplisit melalui nilai-nilai UN maupun nilai-nilai mata pelajaran lain yang diperolehnya.

    ReplyDelete
  4. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Akal dan pikiran sebagai media untuk memperoleh ilmu pengetahuan sehingga dapat mempermudah kita dalam memecahkan permasalahan. Tapi tidaklah cukup menggunakan akal dan pikiran saja untuk menggapai dimensi yang setinggi-tingginya. Karena setinggi-tingginya dimensi manusia adalah pertemuan antara akal dan hati. Namun, akal dan hati juga belum cukup untuk menggapai rahmat-Nya.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Aspek formal lebih dipentingkan karena itu sudah sistem pemerintah. jika harus megikuti kemauan prta didik maka akan susah keberhasilan pendidikan indonesia.

    ReplyDelete
  6. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Tujuan utama kita menempuh pendidikan adalah untuk menutut ilmu bukan untuk mencari nilai. Nilai digunakan sebagai sarana untuk memotivasi kita dalam menuntut ilmu. Sepertinya kurang pas jika kelulusan hanya ditentukan melalui nilai UN saja. Alhamdulillah untuk beberapa tahun terakhir ini, nilai UN sudah tidak digunakan sebagai penentu kelulusan. Tetapi, walaupun begitu, pada praktik di lapangan masih banyak sekolah yang sangat mendewakan nilai UN.
    Semoga ada langkah dan solusi terbaik untuk pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  7. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Kita tahu juga bahwa pada Elegi pemberontakan para normatif tersebut, menceritakan tentang bagaimana tolak ukur pendidikan di Negara Indonesia. Menurut saya, tolak ukur pendidikan Indonesia yang berupa Ujian Akhir Nasional kurang tepat. Karena, sungguh ironis sekali jika kemampuan seorang siswa selama 3 tahun, hanya di ukur dan ditentukan dalam waktu beberapa hari. Sungguh sangat disayangkan sekali. Bahkan, banyak sekali kasus anak yang pintar bahkan juara olimpiade, harus rela mendapatkan ijazah sma yang berupa paket c, karena tidak lulus UAN. Dan, banyak juga kasus tentang kebocoran soal-soal ujian. Menurut saya pengadaan UAN ini sangat kurang tepat sebagai tolak ukur pendidikan nasional kita.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dengan diselenggarakannya Ujian Nasional. Banyak tanggapan yang muncul. Mulai dari yang mendukung hingga menolaknya.
    Hal ini karena banyak sekali pendapat. Hingga akhirnya banyak sekali perubahan yang terjadi pada penyelenggaraan Ujian Nasional.
    Mulai dari Ujian Nasional sebagi penentu kelulusan, Ujian Nasional sebagai bagian penentu kelulusan, hingga Ujian Nasional sebagai pengguna dalam memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
    Semoga dengan adanya perubahan akan menjadikan Indonesia menjadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam pendidikan indonesia sekarang memang mengharuskan adanya Ujian Nasional, akan tetapi tidak lagi menjadi penentu kelulusan. hal ini sedikit banyak nya meringankan beban pikiran siswa. karena sebagaimana yang kita tahu bahwa untuk melihat apakah siswa telah mencapai target afektif, kognitif dan psikomotor tidak hanya bergantung pada UN saja. ya wajar kalau normatif bersikap demikian.

    ReplyDelete
  10. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional digadang-gadangkan menjadi satu-satunya penentu kesuksesan pendidikan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa barangsiapa yang tidak lulus UN, maka tiadalah mempunyai harga. Proses belajar selama beberapa tahun hanya ditentukan oleh beberapa hari saja. Hal tersebut sungguh ironi, mengingat pembelajaran tidak hanya melihat hasil namun juga perlu melihat prosesnya. UN jangan dijadikan menjadi suatu patokan yang mutlak dalam penentu keberhasilan pendidikan. Dalam hal ini, kita perlu melihat proses pendidikan secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  11. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelaksanaan Ujian Nasional hingga kini menuai pro dan kontra. Orientasi yang keliru akan keberhasilan pendidikan menjadikan siswa pun terpatri untuk sukses UN tanpa mempedulikan proses pembelajaran. Mata pelajaran yang menjadi bahan UN pun di drill kepada siswa. Hal tersebut menjadikan adanya pengesampingan pada mata pelajaran lain. Siswa memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Jangan menilai prestasi siswa hanya dari sebuah nilai. Ada beberapa hal yang patut kita pertimbangkan mengenai kecerdasan siswa yang lain, seperti kecerdasan linguistik, musik, kinetik, visual, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebagai calon pendidik hendaknya kelak tidak hanya mengedepankan hasil namun juga proses dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional, mengapa menjadi polemik dan momok yang mengerikan? Maraknya pemberitaan tentang pelaksanaan UN yang ada di media, dan (perasaan) isinya pemberitaan negatif semua. Pada akhirnya, muncul wacana untuk meniadakan UN saja, karena dinilai lebih banyak mudharat daripada manfaat, membuat stress anak, dan dianggap tidak fair karena menjadikan ujian beberapa hari sebagai tolak ukur kelulusan pda suatu jenjang pendidikan. Sebenarnya, semua persepsi tersebut justru akan membahayakan sistem pendidikan. Sebab, hal tersebut akan tertanam dalam benak siswa, guru, maupun masyarakat bahwa UN adalah satu-satunya tolok ukur kualitas pendidikan. UN hanya dititikberatkan pada mata pelajaran yang dianggap penting. Padahal jika kita lihat masing-masing siswa memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda-beda. Kecerdasan seseorang ada 8 macam, yaitu nature smart, people smart, picture smart, self smart, body smart, music smart, number smart, dan word smart. Persepsi sebagian masyarakat masih terdapat kekeliruan. Terkadang, seseoran dikatakan ‘cerdas’ apabila ia pintar matematika, fisika, kimia, biologi, dan lain-lain. Akan tetapi, seperti yang telah disebutkan bahwa kecerdasan seseorang bermacam-macam. Ada yang cerdas dalam bidang musik, melukis, dan olahraga. Hal yang demikian juga termasuk anak yang cerdas. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengkajian ulang mengenai problematika tersebut.

    ReplyDelete
  13. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Berpikir secara normative tidak hanya memperhatikan apa yang ada saja, tapi juga memperhatikan aturan-aturan yang ada. dalam elegi ini terjadi pemberontakan karena murid hanya difokuskan untuk memperhatikan rumus dan materi yang ada di UN saja tanpa memperhatikan makna dari objek-objek matematikanya. Ini juga yang menjadi dilemma para guru, yang dituntut bukan hanya untuk mengajarkan matematika formal saja tapi juga makna dari setiap objek matematika yang ada.

    ReplyDelete
  14. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Adanya polemik pro-kontra mengenai kebijakan ujian nasional di Indonesia bukanlah masalah yang baru. Karena hasil ujian nasional menjadi tolak ukur penentuan kelulusan siswa. Jika nilai yang diperoleh siswa tidak mencapai standar nilai kelulusan maka siswa tersebut tidak lulus atau gagal dalam pembelajaran, sehingga siswa tersebut harus mengikuti ujian ulang atau bisa saja mengulangi proses pembelajaran. Rasanya tidak adil, karena proses pembelajaran yang berlangsung selama 6 tahun untuk siswa sekolah dasar dan 3 tahun untuk siswa sekolah menengah, ditentukan kelulusan hanya beberapa hari saja dari hasil mengikuti ujian nasional. Karena yang dinilai bukanlah prosesnya akan tetapi hasil akhir dari proses tersebut. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan tindakan negatif bagi setiap sekolah agar semua siswanya bisa lulus. Karena hasil akhir ujian nasional ini juga dapat mencerminkan mutu pendidikan di sekolah tersebut. Mudah-mudahan masalah pendidikan di Indonesia bisa segera teratasi demi tercapainya tujuan pendidikan nasional.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    normatif adalah seuatu yang memiliki norma dan kaidah. formal juga merupakan sesuatu yang memiliki aturan. mungkin lingkup geraknya kurang bebas, mungkin seperti pada elegi ini. UN tidak terlepas dari bahasan dunia pendidikan. UN dijadikan patokan sebuah kelulusan. namun, tetapan dari pemerintah ini semata-mata sudah memiliki tujuan dan harapan yangs udah difikrkan matang-matang.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam artikel di atas, Normatif Agung melarang Ujian Nasional karena Obyek Normatif Kritis menemukan adanya ketidakjujuran dalam Ujian Nasional. Ia menemukan bahwa secara nyata, Ujian Nasional telah berubah menjadi takdir yang menakutkan. Ujian Nasional hanya terdiri dari beberapa pelajaran, sedangkan siswa belajar semua pelajaran di sekolah dan mengapa ujian ini dilakukan dengan tes objektif, sedangkan guru harus melihat proses atau perilaku siswa. Jadi, Ujian Nasional juga butuh normatif daripada sekedar formal.

    ReplyDelete
  17. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi diatas dapat saya ambil hikmah, bahwa ketika seseorang itu sudah diatas (sudah berkuasa) maka dia tidak akan mendengarkan jeritan orang bawah. Dia akan memutuskan sesuatu itu tanpa mempertimbangkan saran dari bawah karena dia sudah merasa hebat sehingga dia memberi keputrusan dengan semena-mena. Hal seperti inilah yang terjadi di Indonesia, rakyat menjerit namun para penguasa tetap diam dan selalu mempertahankan jabatannya dengan berbagai cara, tak perlu apakah cara itu baik atau tidak yang penting dia menang.

    ReplyDelete
  18. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Seperti yang sudah dikatakan pada elegi sebelumnya, UN memang sangat hangat dan menarik untuk diperbincangkan pada setiap tahunnya. Guru akan sangat bangga apabila bisa mengantarkan anak didiknya meraih sukses dalam UN. Kepala Sekolah akan sangat bangga ketika sekolah yang dipimpinnya mendapatkan hasil terbaik dalam UN. Kepala Dinas pun demikian. Sebaliknya mereka akan merasa sangat terpuruk apabila hasil UN tidak sesuai dengan harapannya. Dalam keadaan yang seperti ini akan terjadi sebuah kondisi yang saling menyalahkan. Proses pembelajaran yang telah berlangsung 3 atau 6 tahun sebelumnya hanya ditentukan keberhasilannya dengan UN. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang wajar apabila banyak upaya-upaya (bahkan beberapa semestinya tidak dilakukan oleh sebuah institusi pendidikan) untuk meraih sukses dalam kegiatan itu.
    Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan seputar pelaksanaan UN, sudah semestinya paradigma UN di ubah dan dikembalikan seperti yang tercantum dalam peraturan pemerintah, yaitu sebagai salah satu pengukuran saja yang dilakukan secara nasional. Dengan demikian UN hanya dilaksanakan sebagai salah satu bentuk standarisasi tanpa menjadikannya sebagai salah satu penentu kelulusan peserta didik.

    ReplyDelete
  19. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bicara mengenai formal dan normative, keduanya saling mendukung sebenarnya. Baik SQ, EQ, IQ. Indonesia sendiri dalam sitemnya lebih menekan ke penilaian formal atau kognitif. Sedangkan untuk normative sendiri itu bukan diujikan itu merupakan pembiasaan tak perlulah diuji, karena secara normatifpun penilaainnya akan tergantung dari sudut pandang penilainya, atau dengan kata lain patokannya belum jelas berbeda dengan subjek formal

    ReplyDelete
  20. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Namun dewasa ini, untuk masalah formal dan normative pemerintah menjalankan program-programnya agar selaras mengikuti alur formal dan normative, sehingga terciptanya keseimbangan antar keduannya.

    ReplyDelete
  21. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    pada dasarnya UN memberikan banyak pengaruh pada beban pikiran siswa, yang mana kadang lebih merasa tertekan dengan adanya UN. Sebagai subyek normatif tentu kita juga pernah berada di posisi yang seperti itu. Semoga pendidikan indonesia kedepannya akan lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  22. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berbicara mengenai UN tentunya akan ada banyak hal yang bisa dibahas, salah satunya mengenai penilaiannya. Saya rasa kurang adil memang jika UN hanya dinilai dari beberapa mata pelajaran saja karena dalam proses belajar di sekolahan ada banyak mata pelajaran dan setiap siswa mempunyai kemampuannya masing – masing dalam mata pelajaran tertentu. Bagaimana jadinya jika siswa yang menyukai pelajaran bahasa daerah namun justru tidak ada dalam UN. Menurut saya, UN juga memberatkan siswa karena siswa hanya akan fokus pada mata pelajaran yang diujikan dan kemudian agak mengesampingkan yang lainnya. Belum lagi jika ada yang tidak lulus maka akan merasa beban yang luar biasa dalam hidupnya. Tetapi ini juga hanya pendapat saya. Pemerintah yang menyetujui pelaksanaan UN tentunya sudah mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi dalam pelaksanaan UN.

    ReplyDelete
  23. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Formalitas terkadang tidak melihat obyeknya dengan menyeluruh dan hanya melihat dari sudut pandangnya. Jika demikian kebijakan-kebijakan yang diambil menjadi kurang pas dengan keadaan obyek yang dituju. Jadi mungkin akan lebih baik jika setiap kebijakan yang sudah ada dievaluasi dengan mempertimbangkan dampak yang dirasakan obyeknya, dan tidak sembarang membuat kebijakan baru yang hanya dilihat dari sudut pandang pemikirannya.

    ReplyDelete
  24. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tidak semua praktik pembelajaran di sekolah hanya mentah-mentah memberikan materi sehingga peserta didik tidak dapat memaknai matematika. Namun, memang masih banyak praktik pembelajaran seperti itu. Hal tersebut ternyata memiliki banyak dampak negatif karena secara kognitif peserta didik merasa terbebani. Mereka menjadi peserta didik yang cenderung menghapal dan tidak kreatif. Maka, sebagai calon guru, alangkah baiknya jika mulai dari skarang kita belajar menjadi seorang pendidik yang mampu memfasilitasi dan membantu peserta didik mengkonstruk pengetahuan.

    ReplyDelete
  25. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terkait UN (Ujian Nasional), saya pribadi ketika menjadi siswa sungguh merasa terbebani. Seolah semua hasil belajar saya selama beberapa tahun hanya dinilai dengan ujian yang dilaksanakan dalam waktu kurang dari seminggu. Terlebih, banyak teman-teman yang akhirnya memilih jalan singkat demi memiliki predikat 'lulus'. Hal ini saya rasa kurang efektif. Namun, susah pula menentukan keputusan terkait pengadaan atau peniadaan UN karena menyangkut banyak pihak. Yang bisa dilakukan sekarang ialah memotivasi para peserta didik agar lebih 'memaknai' proses belajar mereka.

    ReplyDelete
  26. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    sebenarnya saya juga ingin bertanya kenapa kelulusan hanya tergantung nilai UN, lalu untuk apa bersekolah selama 3 tahun jika kelulusan hanya ditentukan oleh UN. padahal siswa juga memiliki bakat bakat lain, tetapi kenapa tidak di masukkan dalam UN. memang mungkin banyak siswa yang ingin bakat bakat mereka dimasukkan ke dalam salah satu uji UN.

    ReplyDelete
  27. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Memang ujian nasional merupakan salah satu faktor penentu dalam kelulusan siswa dari satu jenjang ke jenjang pendidikan selanjutnya. Namun demikian sifat ujian nasional yang merata atau menyeluruh di wilayah Indonesia, menimbulkan begitu banyak pertanyaan. Salah satunya adalah apakah ujian nasional ini pantas atau sesuai jika diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan di sisi lain, faktanya pendidikan di Indonesia tidaklah merata dari segi kualitas guru, fasilitas, sarana dan prasarana. Hal ini tentunya menimbulkan perbedaan juga dari segi kualitas siswa yang dibentuk. Siswa di kota dengan segala fasilitas dan kemampuan guru yang memadai tentu berbeda jauh dengan siswa di daerah-daerah terpencil yang belajar dengan segala keterbatasan yang ada. Tentunya ini juga harus menjadi pertimbangan bagi para pemangku kebijakan di dunia pendidikan. Akhir-akhir ini tentunya kita telah mendengar adanya wacana dari menteri pendidikan tentang penghapusan ujian nasional dengan menggantinya USBN (ujian sekolah berstandar nasional)di mana pihak daerah dan sekolah diberikan hal untuk membuat dan menentukan kelulusan bagi siswa nya, namun setelah beberapa kali bedah pendapat, wacana ini terdengar hanya wacana saja karena atasan tidak terlalu setuju dengan wacana tersebut. Oleh karena itu, kami berharap aga pemerintah dapat memberikan solusi yang terbaik bagi siswa dan sekolah dalam menentukan kelulusan peserta didiknya.

    ReplyDelete
  28. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran di sekolah saat ini lebih fokus kepada Ujian Nasional (UN), sehingga banyak siswa yang hanya belajar soal-soal UN, tanpa mempelajari konsep mendasar dari materinya. sehingga hanya fokus kepada nilai sedangkan pengetahuan yang dikonstruk oleh siswa tidak mendasar. Akibat dari praktek ini, jika siswa diberikan soal yang open-ended mereka akan susah mengerjakannya dikarenakan soal-soal seperti tersebut jarang mereka temui di UN.

    ReplyDelete
  29. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya, formal adalah menganut aturan-aturan hukum yang tertulis didalam undang-undang sedangkan normatif adalah sesuai dengan norma yang berlaku lebih bersifat statis karena dapat berubah sesau dengan ruang dan waktunya. Didalam kasus Ujian Nasional (UN) memanglah banyak sebagian yang mengatakan bahwa UN itu tidaklah adil karena ketika sekolah mata pelajaran yang dipelajari sangatlah banyak namun saat ujian hanya mata pelajaran tertentu saja yang diujikan. Selain itu banyak faktor yang sebenarnya bisa membuat nilai siswa menjadi jelek. Keucurangan-kecurangan dalam UN juga banyak terjadi seperti bocornya kunci jawaban. Oleh karena itu perlu lagi dikaji apakah UN pantas sebagai penentu kelulusan.

    ReplyDelete
  30. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    membahas mengenai Ujian Nasional memang banyak pro dan kontra. Banyak yang mendukung, banyak juga yang menentang. Saya juga kurang setuju dengan adanya Ujian Nasional sebenarnya dengan alasan bahwa kelulusan dari sekolah selama 3 tahun itu ditentukan hanya dengan nilai Ujian Nasional. Namun, karena hal itu merupakan program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia maka sebagai masyarakat yang baik kita hanya bisa berpartisipasi.

    ReplyDelete
  31. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bicara mengenai Ujian Nasional, banyak yang mempertanyakan kebermanfaatan dan keefektifannya. Ujian Nasional yang digunakan sebagai syarat kelulusan hanya dilaksanakan selama beberapa hari saja. Siwa yang memiliki kecerdasan lebih tinggi dibanding teman-teman lain bisa saja mendapatkan nilai rendah, dan begitu pula sebaliknya. Proseslah yang seharusnya diterapkan dalam proses penentuan kelulusan, sehingga guru mampu mengetahui siswa mana yang masuk kategori lulus dan yang tidak lulus.

    ReplyDelete
  32. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada beberapa pro dan kontra pula jika standar kelulusan ditentukan oleh guru selama proses pembelajaran di sekolah. Tidak menutup kemungkinan akan ada guru yang meluluskan semua siswanya, dengan alasan tuntutan pihak sekolah agar sekolah tersebut terlihat bagus dimata masyarakat. Inilah yang menjadi PR besar pemerintah dalam menindaklanjuti pelaksanaan ujian nasional.

    ReplyDelete
  33. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hingga saat ini, masih banyak kalangan yang pro dan kontra terhadap adanya Ujian Nasional. Bahkan aturan yang terbaru saat ini, UN tidak lagi dijadikan sebagai syarat kelulusan dan untuk jenjang SMA, siswa berhak memilih mata pelajaran yang akan mereka kerjakan saat UN. Menurut pandangan saya, UN memang tetap dan perlu dilakukan untuk mengukur tingkat kecerdasan dan ilmu yang telah diperoleh siswa. Saya juga setuju jika siswa boleh memilih mata pelajaran yang di UN kan sehingga mereka tidak akan merasa tertekan dan stres.

    ReplyDelete
  34. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ujian Nasional atau biasa disingkat UN memang masih menjadi perdebatan sengit di ranah pendidikan saat ini. Banyak yang berpikir bahwa UN sebaiknya jangan diadakan karena akan membuat siswa stress. Jika menurut saya, UN tetap diadakan, namun bukan menjadi syarat kelulusan siswa. Hal ini dimaksudkan agar dari UN dapat terlihat sebaran kualitas pendidikan di Indonesia saat ini. Sehingga pemerintah atau pihak terkait dapat menentukan langkah kedepannya agar kualitas pendidikan Indonesia dapat merata antar daerah.

    ReplyDelete
  35. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Normatif adalah berpegang teguh pada norma, aturan dan ketentuan ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini kata normatif itu mengacu pada sikap, loyalitas dan kesetiaan seseorang terhadap aturan atau kaidah yang berlaku di lingkunganya. Sebagai contoh sikap normatif yang diaplikasikan pada UN yang hanya berdasarkan 3 mata pelajaran, sedangkan minat siswa itu beragam dari sekian mata pelajaran yang diberikan. Inilah dimana normatif tidak lebih penting daripada formal.

    ReplyDelete
  36. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sangat memilukan ketika membaca elegi di atas. seorang guru yang diharapkan menjadi fasilitator untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan siswa memiliki pandangan yang salah. Dari elegi di atas terlihat bahwa guru memiliki pandangan bahwa, murid-murid belajar adalah untuk lulus, bukan untuk mendapatkan pengetahuan untuk bekal hidupnya. Dari orientasi yang salah itulah sehingga guru tergesa-gesa dalam mengajar. Guru selalu ingin memenuhi semua materi yang ada dalam waktu yang ditentukan tanpa memperhatikan apakah siswa paham atau tidak. Guru seakan-akan hanya menggugurkan kewajiban untuk menyampaikan materi yang ditentukan.

    ReplyDelete
  37. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari membaca elegi di atas, timbul banyak pertanyaan. Diantaranya adalah, mengapa UN menjadi dasar untuk menentukan kelulusan? Atas dasar apa kompetensi-kompetensi ditentukan sekian-sekian untuk jenjang yang ini dan yang itu?

    ReplyDelete
  38. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di Indonesia, system pendidikan sangat berbeda dengan negara-negara maju lainnya. Itu dapat terihat dari dialog diatas aspek formal lebih diutamakan daripada aspek normative, padahal asepek normatif pada seseorang lebih baik jika kita bisa mengeksploitasi lebih dalam lagi. Di Negara maju, para siswa lebih diajarkan bagaimana bersosialisasi, berinteraksi dan pengajaran dalam praktek di keseharian.

    ReplyDelete
  39. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    UN merupakan penilaian hasil belajar oleh pemerintah dalam rangka untuk pemetaan mutu program/satuan pendidikan. Sayangnya UN ini dijadikan sebagai penentu keberhasilan siswa dan sekolah. Cara seperti ini bukanlah hal yang baik, karena keberhasilan pendidikan bukan hanya dilihat dari lulus UN saja, melainkan harus melihat keseluruhan aspek kemampuan siswa meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun sekarang UN ini akhirnya bukan salah satunya yang menentukan kelulusan siswa. Adanya tambahan nilai rapot digunakan juga sebagai penentu kelulusan.

    ReplyDelete