Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Normatif




Oleh Marsigit

Subyek Formal Bersemi:

Hai anak-anak, walau engkau masih kecil-kecil, ini ni pelajari. Berapa ini dikali itu. Itu dibagi ini. Itu pangkat itu. Ini pangkat ini. Ayo jawab! Kok diam saja.

Obyek Normatif Mengintip:

Waduh sulit bu. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Aku emoh belajar dengan ibu. Ibu itu nakal. Suka mbentak-mbentak. Aku ingin pulang.

Subyek Formal Bersemi:
Jika engkau ingin pandai ya ini pelajari. Jika engkau tak mau belajar berarti aku gagal.

Obyek Normatif Mengintip:
Aku ingin menangis saja bu.

Subyek Formal Berkuncup:
Wahai muridku, engkau telah menyadari semuanya, bahwa satu-satunya sukses dan keberhasilan adalah lulus ujian nasional. Itu harga mati. Barang siapa tidak lulus UN maka tiadalah dia mempunyai harga. Jangankan di depan negara. Di depan calon mertua saja maka dia tidak mempunyai harganya. Oleh karena itu maka adalah wajib hukumnya bagi engkau untuk lulus UN. Nah marilah engkau aku beri kesempatan menempuh UN ini. Silahkan kerjakan!

Obyek Normatif Patuh:
Wah soalnya sulit. Yang ini aku belum mempelajari. Jangankan mempelajarinya, mendengan dan melihat saja aku belum pernah. Sedangkan yang telah aku baca dan pelajari kok tidak keluar dalam UN. Aku sebetulnya senang melukis, tetapi kenapa tidak ada ujian melukis? Aku sebetulnya ingin menjadi Dai dan sudah banyak belajar khotbah, tetapi dalam UN ini kok tidak ada soal bagaimana kothbah. Kok yang diujikan hanya 3 (tiga) mapel. Wah ini tidak adil. Tetapi bagaimana ya, saya itu kan harus patuh dengan Bapak guru dan sekolah. Ya sudah, saya pasrah saja.

Subyek Formal Berbunga:

Iya pak saya telah paham dan memahami. Ini adalah kebijakan maka saya juga percaya betul dengan apa yang Bapa katakan. Sudahlah, Bapak bicara apa saja, tanpa reserve tanpa ragu-ragu, aku pasti percaya dan siap melaksanakan. Tak usah khawatir, asalah Bapak konsisten yaitu menyediakan juga biaya dan fasilitas agar bisa dilaksanakannya, pasti beres. Bapak untung, saya kan juga boleh memperoleh keuntungannya. Perkara para obyek normatif, mereka tahu apa. Apapun yang kita programkan pastilah bisa dilaksanakan.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai para Subyek Formal, lihat dan ketahuilah buah-buahku itu. Bukankan engkau tahu bahwa buah-buah itu dapat engkau nikmati, itu dikarenakan kepatuhanmu terhadap diriku. Oleh karena sekali lagi aku ingatkan. Jaganlah ragu-ragu akan keputusanku itu. Barang siap ragu-ragu terhadap keputusanku, maka hidupnya tidak akan tenteram. Apalagi jika menolaknya maka dia akan saya black list.

Obyek Normatif Kritis:
Wahai Subyek Formal berbuah, aku telah menemukan kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Aku menemukan bahwa di lapangan atau di daerah-daerah UN telah berubah menjadi tujuan yang mengerikan. Mereka telah membentuk tim-tim sukses. Wah ini tidak baik. Tetapi memang kenapa. Kenapa UN hanya untuk beberapa mata pelajaran saja. Bukankah siswa belajar semua mapel. Tetapi kenapa UN tidak mengujikan semua mapel. Kenapa Tes nya berupa tes obyektif, atau pilihan ganda. Apakah engkau pikir hidup ini adalah pilihan ganda. Bukankah proses atau sikap para siswa juga perlu dilihat. Maka sebetulnya saya tidak setuju dengan UN. Bukankah aku juga memerlukan normatif dari sekedar formal?

Subyek Formal Berbuah:
Hai engkau. Jangan macam-macam. Simpan temuanmu dan usulmu itu. Jika engkau terus-teruskan sikap dan pikiranmu itu, maka engkau bisa dianggap membahayakan keamanan kebijakan pemerintah. Maka diamlah engkau di situ.

Obyek Normatif Kritis:
Tidak..tidak saya akan pertahankan pikiran kritisku.

Subyek Formal Berbuah:
Kalau begitu akan aku laporkan engkau kepada Kepala Sekolahmu. Ketahuilah bahwa Kepala Sekolahmu itu sudah aku tangkap dan tidak bisa berbuat apapun kecuali sebagai Subyek Formal anak buahku dikarenakan dia telah makan buahku.

Obyek Normatif Berbuah:
Wahai Subyek Formal Berbuah, ketahuilah bahwa yang dapat berbuah di dunia ini bukanlah hanya engkau saja. Lihat dan ketahuilah bahwa diriku juga berbuah. Oleh karena itu aku akan memperingatkan dirimu agar jangan engkau main paksa kepada murid-muridku yaitu kepada para Normatif.

Subyek Formal Berbuah:
Wahai Obyek Normatif Berbuah, yang membedakan antara dirimu dengan diriku adalah bahwa aku itu adalah subyek, sedangkan engkau itu adalah obyek. Sebenar-benar obyek tidaklah mampu mengalahkan subyek, walaupun dengan subyek kecil sekalipun.

Subyek Formal Mandireng:
Wahai para Subyek Formal dan Obyek Normatif, kenapa engkau bertengkar?

Subyek Formal Berbuah:
Begini Subyek Formal Mandireng, aku adalah subyek, engkau juga subyek. Tetapi engkau adalah subyekku, sedangkan aku adalah obyekmu. Maka tiadalah hukumnya disitu untuk saling berselisih paham. Maka apapun yang terjadi adalah bahwa engkau harus hanya mendengarkan apa yang aku katakan. Maka jangan engkau dengarkan kata-kata para obyek normatif itu.

Subyek Formal Mandireng:
Baik, tentu saja demikian. Maka laksanakan program-programmu maka aku akan dukung sepenuhnya.

Obyek Normatif Berbuah:

Wahai Normatif Agung. Aku tahu bahwa engkau bisa mewujudkan dirimu baik sebagai subyek maupun sebagai obyek. Maka aku ingin mengajukan protes dan usul terhadapmu, perihal perilaku para Subyek Formal. Para Subyek Formal telah tertutup normatifnya. Mereka main paksa. mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Itulah keadaan menyedihkan yang telah membawa berbagai persoalan normatif. Oleh karena itu aku usul agar engkau dapat mewujudkan dirimu sebagai Subyek, sehingga mampu menghentikan sepak terjang para Subyek Formal.

Normatif Agung:
Dengan ini aku menyatakan bahwa “Aku melarang dilaksanakan Ujian Nasional”. Titik

9 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menurut saya, normatif itu sesuatu yang cenderung statis. Dalam arti dia tidak dapat bergerak, tidak dapat marah, apalagi memberontak terhadap apapun perintah subyek formal (pemimpin yang sewenang-wenang). Seperti pada elegi ini, normatif diumpamakan sebagai seorang siswa yang mengikuti semua perintah guru untuk belajar keras hanya dengan tujuan lulus UN, atau orang-orang yang mengetahui banyak terdapat praktek kecurangan dan dampak dari UN, tetapi ia terkadang tak mampu melakukan apa-apa karena tekanan dari subyek formal. Subyek formal terkadang sudah tertutup normatifnya. Mereka main paksa, mereka telah berusaha mereduksi bahwa pendidikan itu telah identik dengan UN. Oleh karena itu, perlu usaha yang keras, konsisten dan keberanian dalam menghadapi kesewenang-wenangan subyek formal.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Penilaian normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan penilaian formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan penilaian normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam pendidikan, memang terlihat jelas bahwa aspek kognitif (formal) lebih diutamakan daripada aspek afektif (normatif). Hal tersebut salah satunya terlihat dari sistem UN yang hanya mempertimbangkan nilai dari 3 mata pelajaran saja. Padahal minat anak dalam pelajaran sangat beragam tetapi seolah-olah dengan nilai UN ini dapat mencerminkan segala kemampuan dan jati diri siswa. Siswa akan dipandang tinggi derajatnya hanya karena nilai UN tanpa memperhatikan kemungkinan bahwa siswa tersebut dapat lebih dominan dalam aspek lain selain nilai UN. Hal ini lah yang dianggap bahwa normatif tidak lebih penting dari formal, padahal mempertimbangkan normatif dapat menggali lebih dalam mengenai potensi-potensi siswa yang tidak dapat ditunjukan mereka secara eksplisit melalui nilai-nilai UN maupun nilai-nilai mata pelajaran lain yang diperolehnya.

    ReplyDelete
  4. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Akal dan pikiran sebagai media untuk memperoleh ilmu pengetahuan sehingga dapat mempermudah kita dalam memecahkan permasalahan. Tapi tidaklah cukup menggunakan akal dan pikiran saja untuk menggapai dimensi yang setinggi-tingginya. Karena setinggi-tingginya dimensi manusia adalah pertemuan antara akal dan hati. Namun, akal dan hati juga belum cukup untuk menggapai rahmat-Nya.

    ReplyDelete
  5. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Aspek formal lebih dipentingkan karena itu sudah sistem pemerintah. jika harus megikuti kemauan prta didik maka akan susah keberhasilan pendidikan indonesia.

    ReplyDelete
  6. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Tujuan utama kita menempuh pendidikan adalah untuk menutut ilmu bukan untuk mencari nilai. Nilai digunakan sebagai sarana untuk memotivasi kita dalam menuntut ilmu. Sepertinya kurang pas jika kelulusan hanya ditentukan melalui nilai UN saja. Alhamdulillah untuk beberapa tahun terakhir ini, nilai UN sudah tidak digunakan sebagai penentu kelulusan. Tetapi, walaupun begitu, pada praktik di lapangan masih banyak sekolah yang sangat mendewakan nilai UN.
    Semoga ada langkah dan solusi terbaik untuk pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  7. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Kita tahu juga bahwa pada Elegi pemberontakan para normatif tersebut, menceritakan tentang bagaimana tolak ukur pendidikan di Negara Indonesia. Menurut saya, tolak ukur pendidikan Indonesia yang berupa Ujian Akhir Nasional kurang tepat. Karena, sungguh ironis sekali jika kemampuan seorang siswa selama 3 tahun, hanya di ukur dan ditentukan dalam waktu beberapa hari. Sungguh sangat disayangkan sekali. Bahkan, banyak sekali kasus anak yang pintar bahkan juara olimpiade, harus rela mendapatkan ijazah sma yang berupa paket c, karena tidak lulus UAN. Dan, banyak juga kasus tentang kebocoran soal-soal ujian. Menurut saya pengadaan UAN ini sangat kurang tepat sebagai tolak ukur pendidikan nasional kita.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dengan diselenggarakannya Ujian Nasional. Banyak tanggapan yang muncul. Mulai dari yang mendukung hingga menolaknya.
    Hal ini karena banyak sekali pendapat. Hingga akhirnya banyak sekali perubahan yang terjadi pada penyelenggaraan Ujian Nasional.
    Mulai dari Ujian Nasional sebagi penentu kelulusan, Ujian Nasional sebagai bagian penentu kelulusan, hingga Ujian Nasional sebagai pengguna dalam memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
    Semoga dengan adanya perubahan akan menjadikan Indonesia menjadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam pendidikan indonesia sekarang memang mengharuskan adanya Ujian Nasional, akan tetapi tidak lagi menjadi penentu kelulusan. hal ini sedikit banyak nya meringankan beban pikiran siswa. karena sebagaimana yang kita tahu bahwa untuk melihat apakah siswa telah mencapai target afektif, kognitif dan psikomotor tidak hanya bergantung pada UN saja. ya wajar kalau normatif bersikap demikian.

    ReplyDelete