Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Formal




Oleh Marsigit

Formal Dewasa Mandireng:
Blaaaaghh..dlalah...marah besar aku terhadap perilaku Normatif Dewasa Pertikel. Sudah keterlaluan uraiannya. Sudah tidak mau memenuhi kemauanku, masih ceramah ngalor-ngidul lagi. Wah saya harus bertindak. Aku akan menghimpun kekuatan untuk menghadapi kesewenang-wenangan Normatif Setengah Baya.

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Aku..aku setuju dengan apa yang engkau pikir Wahai Formal Dewasa Mandireng. Aku juga merasakan apa yang engkau rasakan. Maka aku mendukung rencana-rencanamu.

Formal Dewasa Parlogos:
Kalau aku ingin bersikap realistis. Kita ini kan sudah komitmen dan berjanji kepada diri kita masing-masing. Dan juga sudah teken kontrak. Bahwasanya kita bersedia bergaul dengan Normatif Setengah Baya. Maka kita ikuti saja skemanya dengan ikhlas, maka mudah-mudahan kita akan bisa mengambil manfaatnya dari semua kegiatan-kegiatan ini.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Wahai Formal Dewasa Mandireng dan Formal Dewasa Mandireng Paralel, aku menolak keinginanmu. Selama ini aku selalu mengikuti gerak-gerikmu. Aku sangat tidak mengerti dengan sikapmu. Mengapa engkau mempunyai hati sekeras batu, mengapa engkau menutupi diri dari pengetahunmu, mengapa engkau cenderung berbuat anarkhis. Ingatlah bahwa disini yang berkepentingan bukan hanya dirimu saja, tetapi aku juga berkepentingan. Ketahuilah bahwa aku mempunyai program-program jangka panjang. Jika engkau terus-teruskan sikapmu yang demikian itu maka aku khawatir, aku juga akan terkena dampaknya. Maka dengan ini aku proklamirkan bahwa aku menentang semua rencana-rencanamu.

Formal Anak-anak Mandireng:
Aku protes terhadap perilaku Normatif Remaja Pertikel. Aku sudah setengah mati mempelajari dan mengikuti ternyata harapannya tidak sesuai dengan rencanaku. Eee..malah permintaannya bermacam-macam. Saya tidak suka dengan segala perilaku Normatif.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai para Formal Mandireng..marilah kita bersatu untuk menghadapi para Normatif Pertikel. Tetapi ketahuilah bahwa perjuangan kita sangat berat. Ketahuilah bahwa kita harus bisa berjuang kalau perlu melakukan pemberontakan bagaimana agar para Formal itu bisa menjadi Normatif, dan sebaliknya bagaimana agar para Normatif kita tangkap dan kita penjarakan sehingga mereka itu kita jadikan saja sebagai Formal atau kalau perlu sebagai Material. Untuk mewujudkan rencanaku itu, siapakah diantara kamu semua yang mempunyai ide atau gagasan?

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Anak-anak Mandireng:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Dewasa Parlogos:
Itu ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Menurutku itu juga ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi. Rencanamu itu seperti ingin menukar siang dan malam.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau begitu saya akan mengadakan sayembara. Barang siapa dapat membantu diriku menemukan cara bagaimana mengubah Formal menjadi Normatif dan sebaliknya maka akan saya beri “hadiah berupa bukan hadiah”.

Para Formal:
Wahai Formal Dewasa Mandireng, apakah sudah engkau pikirkan masak-masak ucapanmu itu. Bukankah ucapanmu itu bersifat kontradiktif. Seperti apakah yang engkau maksud dengan “hadiah berupa bukan hadiah”?

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..inilah kesenanganku dan kesengajaanku. Kiranya aku tidak bisa menyamai Normatif. Bukankah kebingunganmu itu menunjukkan bahwa aku secara ontologis telah pantas diangkat sebagai Normatif?

Para Formal:
Tetapi ingatlah wahai Formal Dewasa Mandireng. Bahwa keinginanmu itu akan terwujud jika semua Formal yang lainnya mendukung. Padahal engkau mengetahui bahwa hanya sebagian kecil dari para Formal itu mendukungmu.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha...haha..haha. Harus. Itu harus. Adalah kewajibanmu untuk mendukungku.

Para Formal:
Lho..kok mengharuskan. Wah kalau ini namanya memaksa.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau engkau menyadari maka aku menghormatimu. Kalau engkau belum mendengar maka dengarkanlah teriakanku. Kalau engkau tetap tidak mendukungku maka engkau semua akan aku paksa.

Para Formal:
Waaa.. ini namanya anarkhis. kalau sudah begini, bukan berbipir lagi kita. Ini namanya sudah perang.

Formal Dewasa Mandireng dan Para Formal:
Berperang...berperang...berperang...berperang...dar..dir..dor..der..dur.

Normatif Dewasa Pertikel:
Aku melihat pertempuran hebat di antara para Formal. Apa gerangan yang terjadi?

Normatif Anak-anak Pertikel:
Wahai Normatif Dewasa Pertikel. Sebetulnya yang menjadi pokok persoalan adalah dirimu dan juga diriku. Sebagian para formal, yang dipimpin oleh Formal Dewasa Mandireng menginginkan agar merekalah yang menjadi Normatif. Sedangkan kita para Normatif dikehendakinya untuk menjadi Formal saja. Maka bagaimanakah hal ini menurut dirimu itu?

Normatif Dewasa Pertikel:
Whus...aneh benar kejadiannya. Tidak adalah suatu teori berpikir di dunia ini yang dapat menjelaskan perihal kejadian ini, kecuali...

Normatif Anak-anak Pertikel:
Kecuali apa...

Normatif Dewasa Pertikel:
Hanya Normatif Tua Pertikel sajalah yang mampu menjelaskan dan memberi solusinya.

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif, ketahuilah, bahwa ada saatnya manusia itu menghadapi suatu kejadian di mana banyak di antara mereka tidak mampu memikirkannya, karena memang bukan kapasitasnya. Untuk kejadian ini hanya dirikulah yang mempunyai senjata untuk menjelaskan dan memberikan solusinya.

Para Normatif:
Tolong wahai Normatif Tua Pertikel, segera uraikan caramu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Yang kelihatannya tautologi pada suatu level, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu tautologis. Yang kelihatannya kontradiksi, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu kontradiksi. Mengapa? Karena permasalahannya bukan pada tautologi ataupun pada kontradiksi itu sendiri. Tetapi persoalannya pada mengapa sampai timbul tautologi dan kontradiksi, dan bagaimana implikasi yang ditimbulkannya.

Para Normatif:
Kami tidak paham.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau tidak akan paham sampai aku betul-betul mengeluarkan senjataku itu.

Para Normatif:
Tolong segera keluarkan senjatamu itu?

Normatif Tua Pertikel:
Senjataku ada tiga macam. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Ketiga, menggapai logos. Dengan ketiga senjataku ini, maka aku akan bisa menangkap para Formal pemberontak.
Senjata pertamaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau tidak menepati ruang dan waktu yang engkau sanggupi. Maka sehebat-hebat dirimu, aku telah menagkapmu. Engkaulah si tidak sadar ruang dan waktu. Maka dengan senjataku ini jikalau engkau ikhlas maka engkau akan segera bisa menjadi Normatif. Bersiaplah.
Senjata keduaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersembunyi di balik kata-katamu. Sedalam engkau bersembunyi di situ maka aku bisa menangkap dirimu. Itulah engkau si tidak mau berpikir intensif dan ekstensif. Maka dengan senjataku ini jika engkau iklhas maka engkau segera bisa menjadi Normatif. Maka bersiaplah.
Senjata ketigaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersikeras mempertahankan pendirianmu? Padahal hati nuranimu mengatakan bahwa pikiranmu itu tidak sesuai dengan suratan takdirmu. Mengapa engkau sangat bangga dengan jargon-jargonmu. Bukankah engkau menyadari bahwa itu adalah perileku mitos-mitosmu. Maka dengan senjataku ini, jika engkau ikhlas maka engkau akan segera menjadi manusia menggapai logos. Dengan demikian engkau akan bisa segera menjadi Normatif. Maka bersiaplah.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..wahai Normatif Tua Pertikel. Kirain saya menyerah begitu saja. Lihatlah bahwa ketiga senjatamu yang engkau agung-agungkan itu, ternyata aku belum mau menyerah. Maka tunggulah balasanku ini.

Normatif Tua Pertikel:
Jika dengan ketiga senjataku itu ternyata aku belum mampu menaklukan dirimu. Maka engkau Formal Dewasa Mandireng, benar-benar bukan tandingan manusia. Engkau adalah jelmaan jin bertanduk tujuh. Engkau adalah syaetan yang pertama, tertua dan terbesar. Maka jika aku terpaksa harus bertempur melawanmu untuk yang terakhir kalinya, maka satu-satunya cara adalah aku harus menyatukan ketiga senjataku itu menjadi satu, dan mengarahkannya ke tengah dalam mulutmu sehingga engkau akan tertembus sampai belakang lehermu. Maka dengan doaku, engkau akan terpenggal lehermu dan terputuslah lehermu.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai Normatif Tua Pertikel, lihatlah diriku ini. Walaupun aku hanya tinggal kepalaku saja, maka aku masih bisa melawanmu.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau memperlihatkan bahwa hanya dengan kepalamu saja engkau masih bisa mengamuk dan merusak. Maka senjataku saja tidak bisa mengalahkanmu kecuali aku harus minta bantuan gunung yang tinggi untuk bersedia melongsorkan sebagian lereng dan tebingnya sehingga kepalamu, Formal Dewasa Mandireng akan terbenam jauh di bawah dasar gunung. Itulah saat di mana semua bentuk angkara murkamu akan terhenti. Tiadalah manusia mampu mengalahkan jin bertanduk tujuh jika tiadalah bantuan dari Allah SWT. Amiin.

Para Normatif:
Terus..terus..bagaimana...di mana?

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif. Janganlah engkau mengaku sebagai normatif, jika engkau tidak mampu melihatnya. Ketahuilah, begitu selesai aku bercerita, maka selesai pulalah pertempuran itu. Lihatlah maka kita melihat disana para Formal sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Mereka telah menyadari bahwa mereka juga memerlukan para Normatif. Mereka juga telah menyadari bahwa mereka juga tidak serta merta bisa menihilkan keberadaan Normatif. Sesungguhnya yang terjadi adalah, agar para Formal bisa menjadi Normatif, maka semua Formal yang lain harus mendukungnya. Apakah arti dari kalimatku yang terakhir itu. Itulah sebenar-benar makna ontologis. Ontologis suatu hal tidaklah bisa dipaksakan, tetapi memaksa sendiri itu adalah ontologis. Maka renungkanlah?

Para Normatif:
Wahai Normatif Tua Pertikel..aku curiga dengan dirimu. Jika Engkau benar-benar Normatif seperti aku. Mengapa engkau mempunyai kemampuan melebihi diriku. Siapakah dirimu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Aku tidak lain tidak bukan adalah si Orang Tua Berambut Putih. Itulah sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Maka gunakan akal dan pikiranmu untuk menggapai ilmumu dan untuk memecahkan urusan sehari-hari. Tetapi aku telah membuktikan bahwa akal saja tidaklah cukup. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Tetapi itu juga belum cukup jika engkau belum menggapai Rakhmat dan Hidayah Nya.
Amiin.

22 comments:

  1. Aristiawan
    17701251025
    PEP B 2017

    Saya tidak begitu memahami isi dari elegi ini. Namun penggalan terakhir dari elegi ini mengingatkan saya pada kekuatan doa. Yang mana merupakan senjata yang kuat bagi orang yang beriman. Ketika semua senjata tidak mampu mengalahkan lawan, maka doa adalah senjata yang paling bisa diandalkan.

    ReplyDelete
  2. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pikiran manusia adalah kemampuan manusia itu sendiri. Tidaklah mampu sesorang menggapai pikiran orang lai, karena sesungguhnya pikiranku adalah bukan pikiranmu. Untuk menggapai suatu ilmu kita tidak hanya menggunakan pikiran dan akal saja namun juga mempertimbangkan hati nurani kita yang paling dalam. Banyak orang kurang menyadari kemampuan yang dimiliki dan kurang memahami bagaimana proses berpikir yang tidak dikendalikan dengan hati. Akibatnya mereka menjadi budak atau hamba untuk menuruti hawa nafsunya.
    Dan untuk mengubah suatu hal yang formal menjadi normatif dibutuhkan tiga cara yaitu. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Ketiga, menggapai logos.

    ReplyDelete
  3. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Untuk mengubah formal menjadi normatif tidaklah mudah, apalagi di Negara ini banyak kegiatan yang keberadaannya berada di bawah pemerintah untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah. Sehingga untuk menjadi normatif harus dimulai dari hal-hal kecil seperti misalnya sekolah homeschooling dengan aturan yang diciptakan sekolah itu sendiri yang berasal dari usulan-usulan siswa beserta orang tuanya.

    ReplyDelete
  4. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Elegi ini menggambarkan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan ini tidak hanya akal yang dibutuhkan, namun juga hati. Akal itu sebagai sarana untuk berpikir dan hati ini sebagai pemantau. Pengetahuan yang didapatkan manusia untuk menyelesaikan masalah sehari-hari dan prilaku manusia sebagai pendukung untuk menjadi manusia yang baik. Tak dapat dibayangkan jika ada orang yang sangat pintar tanpa memiliki hati yang baik. Pasti kehidupan di dunia ini akan rusak, tidak ada lagi rasa nyaman, aman, apalagi tentram. Yang ada hanyalah pertikaian, permususan, haus kekuasaan dan kekayaan, dll.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Untuk menggapai ilmu dalam kehidupan ini kita tidak hanya menggunakan akal dan pikiran saja. Tetapi hati juga perlu digunakan. Ketiga-tiganya yaitu akal, pikiran dan hati harus berjalan secara harmoni agar ilmu yang kita dapatkan bermanfaat dan kita dapatkan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti.

    ReplyDelete
  6. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini diketahui bahwa formal ingin memberontak menjadi normatif. Yang kemudian sebenarnya ada 3 cara yang dapat mengubah formal menjadi normatif. Yaitu dengan cara sadar akan ruang dan waktu. Kedua berpikir intensif dan ektensif dan yang ketiga adalah mengan menggapai logos. Dalam hal ini kitak harus mampu menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu, tak boleh hanya berkata-kata saja namun harus bertindak pula. Kemudian yang terakhir kita dilarang untuk berhenti pada suatu pemikiran yang tidak benar.

    ReplyDelete
  7. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Untuk memperoleh ilmu itu harus seimbang, antara formatif dan normatif. Formatif dan normatif dapat berjalan beriringan agar terjadi harmoni dan tidak saling memaksakan kehendak.

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Kesadaran ruang dan waktu merupakan senjata penting untuk menghadapi para formal. Selain itu kesadaran ruang dan waktu juga penting untuk memecahkan masalah sehari-hari. Dengan kesadaran ruang dan waktu kita juga akan membuktikan bahwa akal saja tidaklah cukup dalam memecahkan masalah sehari- hari. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Dan dengan kesadaran ruang dan waktu kita akan menyadari bahwa akal bertemu hati tidaklah cukup tanpa petunjuk Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Kita harus memahami bahwa baik formal dan normatif, keduanya penting. Tidaklah cukup formal saja atau normatif saja. Tidaklah cukup ketetapan tanpa memperhatikan pelaksanaan. Maka dari itu antara formal dan normatif harus berjalan beriringan secara berimbang. Keduanya dapat berjalan beriringan hanya jika kita mampu menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu, menggunakan akal dan hati nurani dalam melakukan segala hal, dan senantiasa belajar untuk menuju arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Formal dan normative sangat penting untuk dijaga, karena bila dianalogikan formatif sebagai wadah dan normatif sebagai isi. Keduanya saling melengkapi dan berhubungan satu sama lain serta membuat mereka sebagai sesuatu yang berharga dan memiliki nilai. Dalam dunia pendidikan dapat dicontohkan seperti anggaran sekolah yang memiliki rancangaan (RAPS) untuk masa satu tahun. Dalam RAPBS itu memuat pemasukkan dan pengeluaran yang nantinya menjadi acuan pengelolaan keuangan setiap bulannya.

    ReplyDelete
  11. Filsafat merupakan olah piker utk memperoleh ilmu. Olah piker terkait urusan sehari-hari. Ikhlasnya piker akan membuat seorang mudah dalam menggapai ilmu-Nya. Ikhlas piker harus dibarengi juga dengan ikhlas hati, agar hawa napsu tidak menguasai diri, yang menyebabkan kesombongan dan kehancuran diri.

    ReplyDelete
  12. Filsafat sebagai bentuk olah piker, selalu berdimensi ekstensif dan intensif. Memikirkan dan membedakan yang etik dan estetik. Dengan olah piker yang baik, manusia bisa bersikap bijaksana, selalu berusahamenggapai maksud objek piker, dan berbuat kebaikan dalam kehidupannya.Dngan selalu diirngi rasa syukur kepada-Nya berkat pemberian kemampuan olah piker sehingga mampu memahami ayat-ayat alam-Nya

    ReplyDelete
  13. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Normatif dan formal bisa duduk bersama untuk mendiskusikan berbagai hal yang selama ini mereka pertikaikan. Jadi disana akan ada komunikasi dua arah, tidak ada yang merasa menang sendiri. Diskusi tersebut bisa dimoderatori oleh yang netral diantara keduanya. Keduanya merupakan aset bangsa yang harus dijaga dan dipupuk supaya berkembang untuk memajukan bangsa ini.

    ReplyDelete
  14. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Peraturan formal memang tetap harus dijalankan disamping peraturan normatif. Karena aturan formal itulah yang nantinya akan menghasilkan pengakuan yang formal pula, dimana pengakuan formal itulah yang akan menjadi salah satu tolak ukur sampai dimanakah tingkat keilmuan kita. Jadi dalam hal ini aturan-aturan formal harus tetap dijalankan dan ditegakkan. Namun dalam menjalankan aturan formal tersebut tentunya aturan normatif jangan diabaikan, sehingga kita tidak boleh menghalalkan segala cara untuk dapat menjalankan segala aturan dan syarat formal yang ada.

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Elegi di atas memberi pelajaran bahwa dalam menggapa ilmu dibutuhkan akal pikiran dan keikhlasan. Jika manusia telah menggunakan akal pikirannya, namun tidak mengesampingkan hati, sebenarnya manusia itu telah mencapai dimensi yang lebih tinggi. Hati digunakan untuk mengendalikan pikiran, begitu pula sebaliknya. Tidak semua hal mampu dipikirkan oleh pikiran manusia karena pikiran manusia terbatas dan bersifat sementara, di saat itu kita harus menggunakan hati nurani. Dalam meraih kesuksesan sebaiknya jangan hanya mengandalkan kekuatan pikiran semata, berusahalah menggunakan kekuatan hati nurani.
    Jadikanlah hati nurani sebagai pembimbing dalam setiap langkah kehidupan.

    ReplyDelete
  16. Setelah manusia dapat menyeimbangkan hati dan pikirannya, manusia tersebt harus menyadari bahwa tujuan akhir dari semuanya adalah untuk menggapai rahmat Allah. Maka, lakukan segala sesuatu dengan keikhlasan dalam pengharaoan menggapai ridho dan rahmat-Nya.

    ReplyDelete
  17. IM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kita sebagai manusia tidak boleh jika hanya menggunakan akal saja dalam membeerikan penilaian kepada peserta didik. Karena hal ini merupakan hal yang tidak terlalu menghargai proses yang dilakukan oleh peserta didik. Peserta didik akan mereasa dihargai jika proses yang dilakukan mereka juga dihargai. Hal ini sangat penting karena kita tahu bahwa proses itu lebih baik daripada hasil.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Di dalam kehidupan kita tidak boleh hanya menggunakan pikiran saja, karena jika iya maka itu berarti kita telah mengagungkan pikiran saja. Maka manusia di dalam kehidupannya di dunia perlu menggunakan hati dan pikiran,namun hati dan piikiran pun tidak boleh digunakan hanya untuk kepentingan dunia. Hidup adalah sinergi anatara kepentingan dunia dan akhirat maka gunakan hati dan pikiran untuk mencari ridhaNya, dan kemudian kepentingan dunia pun akan tercapai.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dimensi di dunia ini mulai dari material, formal, normative, hingga ke spiritual. Fomal adalah ranah pikiran sedangkan normative adalah ranah hati. Jika manusia hanya baru sebatas hingga formal maka ia baru hanya mencapai ilmu saja, padahal ia harus menuju ke spiritual. Sehingga dalam hidup pikiran saja tidaklah cukup.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Yag paling penting dalam mewujudkan sebuah perubahan adalah menjalakan apa yang kita anggap benar. Menjalankan, bukan asal menjalankan tetapi membutuhkan sebuah tindakan serta ketepatan waktu. nah, dalam artikel ini memberikan kita wawasan dalam berpikir. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kita membutuhkan sebuah ruang dan waktu dalam mewujudkan nya. Tanpa ada ruang dan waktu, maka akan terjadi sesiasiaan semata. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Berpikir secara jernih. Mengurai secara tempat sesuai dengan ruang dan waktu. Ketiga, menggapai logos. Di mana berpikir secara tepat dan nyaman harus digunakan demi mewujudkan sebuah tidankan yang bagus.

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    elegi pemberontakan para formal dapat disimpulkan bahwa ilmu saja tidak cukup dipelajari oleh manusia. manusia juga harus belajar tentang akal dan pikiran sehingga menusia bisa menerapkan ilmu yang didapatnya dengan akal pikiran dan perbuatan yang tepat.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Ada 3 hal yang dapat menjadi solusi supaya tidak terjebak dalam pemberontakan Formal. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Ketiga, menggapai logos. Dengan ketiga solusi tersebut, ktia dapat menyelesaikan permasalahan Formal dan berjalan menggapai Logos.

    ReplyDelete