Oct 15, 2010

Elegi Pemberontakan Para Formal




Oleh Marsigit

Formal Dewasa Mandireng:
Blaaaaghh..dlalah...marah besar aku terhadap perilaku Normatif Dewasa Pertikel. Sudah keterlaluan uraiannya. Sudah tidak mau memenuhi kemauanku, masih ceramah ngalor-ngidul lagi. Wah saya harus bertindak. Aku akan menghimpun kekuatan untuk menghadapi kesewenang-wenangan Normatif Setengah Baya.

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Aku..aku setuju dengan apa yang engkau pikir Wahai Formal Dewasa Mandireng. Aku juga merasakan apa yang engkau rasakan. Maka aku mendukung rencana-rencanamu.

Formal Dewasa Parlogos:
Kalau aku ingin bersikap realistis. Kita ini kan sudah komitmen dan berjanji kepada diri kita masing-masing. Dan juga sudah teken kontrak. Bahwasanya kita bersedia bergaul dengan Normatif Setengah Baya. Maka kita ikuti saja skemanya dengan ikhlas, maka mudah-mudahan kita akan bisa mengambil manfaatnya dari semua kegiatan-kegiatan ini.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Wahai Formal Dewasa Mandireng dan Formal Dewasa Mandireng Paralel, aku menolak keinginanmu. Selama ini aku selalu mengikuti gerak-gerikmu. Aku sangat tidak mengerti dengan sikapmu. Mengapa engkau mempunyai hati sekeras batu, mengapa engkau menutupi diri dari pengetahunmu, mengapa engkau cenderung berbuat anarkhis. Ingatlah bahwa disini yang berkepentingan bukan hanya dirimu saja, tetapi aku juga berkepentingan. Ketahuilah bahwa aku mempunyai program-program jangka panjang. Jika engkau terus-teruskan sikapmu yang demikian itu maka aku khawatir, aku juga akan terkena dampaknya. Maka dengan ini aku proklamirkan bahwa aku menentang semua rencana-rencanamu.

Formal Anak-anak Mandireng:
Aku protes terhadap perilaku Normatif Remaja Pertikel. Aku sudah setengah mati mempelajari dan mengikuti ternyata harapannya tidak sesuai dengan rencanaku. Eee..malah permintaannya bermacam-macam. Saya tidak suka dengan segala perilaku Normatif.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai para Formal Mandireng..marilah kita bersatu untuk menghadapi para Normatif Pertikel. Tetapi ketahuilah bahwa perjuangan kita sangat berat. Ketahuilah bahwa kita harus bisa berjuang kalau perlu melakukan pemberontakan bagaimana agar para Formal itu bisa menjadi Normatif, dan sebaliknya bagaimana agar para Normatif kita tangkap dan kita penjarakan sehingga mereka itu kita jadikan saja sebagai Formal atau kalau perlu sebagai Material. Untuk mewujudkan rencanaku itu, siapakah diantara kamu semua yang mempunyai ide atau gagasan?

Formal Dewasa Mandireng Paralel:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Anak-anak Mandireng:
Ng...nggak...enggak ..aku enggak punya ide. Tetapi kita harus tetap maju.

Formal Dewasa Parlogos:
Itu ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi.

Formal Dewasa Parlogos Paralel:
Menurutku itu juga ide dan rencana gila. Tidaklah mungkin epistemologi mampu menjungkir-balikkan ontologi. Rencanamu itu seperti ingin menukar siang dan malam.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau begitu saya akan mengadakan sayembara. Barang siapa dapat membantu diriku menemukan cara bagaimana mengubah Formal menjadi Normatif dan sebaliknya maka akan saya beri “hadiah berupa bukan hadiah”.

Para Formal:
Wahai Formal Dewasa Mandireng, apakah sudah engkau pikirkan masak-masak ucapanmu itu. Bukankah ucapanmu itu bersifat kontradiktif. Seperti apakah yang engkau maksud dengan “hadiah berupa bukan hadiah”?

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..inilah kesenanganku dan kesengajaanku. Kiranya aku tidak bisa menyamai Normatif. Bukankah kebingunganmu itu menunjukkan bahwa aku secara ontologis telah pantas diangkat sebagai Normatif?

Para Formal:
Tetapi ingatlah wahai Formal Dewasa Mandireng. Bahwa keinginanmu itu akan terwujud jika semua Formal yang lainnya mendukung. Padahal engkau mengetahui bahwa hanya sebagian kecil dari para Formal itu mendukungmu.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha...haha..haha. Harus. Itu harus. Adalah kewajibanmu untuk mendukungku.

Para Formal:
Lho..kok mengharuskan. Wah kalau ini namanya memaksa.

Formal Dewasa Mandireng:
Kalau engkau menyadari maka aku menghormatimu. Kalau engkau belum mendengar maka dengarkanlah teriakanku. Kalau engkau tetap tidak mendukungku maka engkau semua akan aku paksa.

Para Formal:
Waaa.. ini namanya anarkhis. kalau sudah begini, bukan berbipir lagi kita. Ini namanya sudah perang.

Formal Dewasa Mandireng dan Para Formal:
Berperang...berperang...berperang...berperang...dar..dir..dor..der..dur.

Normatif Dewasa Pertikel:
Aku melihat pertempuran hebat di antara para Formal. Apa gerangan yang terjadi?

Normatif Anak-anak Pertikel:
Wahai Normatif Dewasa Pertikel. Sebetulnya yang menjadi pokok persoalan adalah dirimu dan juga diriku. Sebagian para formal, yang dipimpin oleh Formal Dewasa Mandireng menginginkan agar merekalah yang menjadi Normatif. Sedangkan kita para Normatif dikehendakinya untuk menjadi Formal saja. Maka bagaimanakah hal ini menurut dirimu itu?

Normatif Dewasa Pertikel:
Whus...aneh benar kejadiannya. Tidak adalah suatu teori berpikir di dunia ini yang dapat menjelaskan perihal kejadian ini, kecuali...

Normatif Anak-anak Pertikel:
Kecuali apa...

Normatif Dewasa Pertikel:
Hanya Normatif Tua Pertikel sajalah yang mampu menjelaskan dan memberi solusinya.

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif, ketahuilah, bahwa ada saatnya manusia itu menghadapi suatu kejadian di mana banyak di antara mereka tidak mampu memikirkannya, karena memang bukan kapasitasnya. Untuk kejadian ini hanya dirikulah yang mempunyai senjata untuk menjelaskan dan memberikan solusinya.

Para Normatif:
Tolong wahai Normatif Tua Pertikel, segera uraikan caramu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Yang kelihatannya tautologi pada suatu level, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu tautologis. Yang kelihatannya kontradiksi, jika ditingkatkan dimensinya maka dia belum tentu kontradiksi. Mengapa? Karena permasalahannya bukan pada tautologi ataupun pada kontradiksi itu sendiri. Tetapi persoalannya pada mengapa sampai timbul tautologi dan kontradiksi, dan bagaimana implikasi yang ditimbulkannya.

Para Normatif:
Kami tidak paham.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau tidak akan paham sampai aku betul-betul mengeluarkan senjataku itu.

Para Normatif:
Tolong segera keluarkan senjatamu itu?

Normatif Tua Pertikel:
Senjataku ada tiga macam. Pertama, kesadaran ruang dan waktu. Kedua, berpikir intensif dan ekstensif. Ketiga, menggapai logos. Dengan ketiga senjataku ini, maka aku akan bisa menangkap para Formal pemberontak.
Senjata pertamaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau tidak menepati ruang dan waktu yang engkau sanggupi. Maka sehebat-hebat dirimu, aku telah menagkapmu. Engkaulah si tidak sadar ruang dan waktu. Maka dengan senjataku ini jikalau engkau ikhlas maka engkau akan segera bisa menjadi Normatif. Bersiaplah.
Senjata keduaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersembunyi di balik kata-katamu. Sedalam engkau bersembunyi di situ maka aku bisa menangkap dirimu. Itulah engkau si tidak mau berpikir intensif dan ekstensif. Maka dengan senjataku ini jika engkau iklhas maka engkau segera bisa menjadi Normatif. Maka bersiaplah.
Senjata ketigaku: Hai, kau tentu anak buah Formal Dewasa Mandireng, kenapa engkau bersikeras mempertahankan pendirianmu? Padahal hati nuranimu mengatakan bahwa pikiranmu itu tidak sesuai dengan suratan takdirmu. Mengapa engkau sangat bangga dengan jargon-jargonmu. Bukankah engkau menyadari bahwa itu adalah perileku mitos-mitosmu. Maka dengan senjataku ini, jika engkau ikhlas maka engkau akan segera menjadi manusia menggapai logos. Dengan demikian engkau akan bisa segera menjadi Normatif. Maka bersiaplah.

Formal Dewasa Mandireng:
Waha..haha..haha..wahai Normatif Tua Pertikel. Kirain saya menyerah begitu saja. Lihatlah bahwa ketiga senjatamu yang engkau agung-agungkan itu, ternyata aku belum mau menyerah. Maka tunggulah balasanku ini.

Normatif Tua Pertikel:
Jika dengan ketiga senjataku itu ternyata aku belum mampu menaklukan dirimu. Maka engkau Formal Dewasa Mandireng, benar-benar bukan tandingan manusia. Engkau adalah jelmaan jin bertanduk tujuh. Engkau adalah syaetan yang pertama, tertua dan terbesar. Maka jika aku terpaksa harus bertempur melawanmu untuk yang terakhir kalinya, maka satu-satunya cara adalah aku harus menyatukan ketiga senjataku itu menjadi satu, dan mengarahkannya ke tengah dalam mulutmu sehingga engkau akan tertembus sampai belakang lehermu. Maka dengan doaku, engkau akan terpenggal lehermu dan terputuslah lehermu.

Formal Dewasa Mandireng:
Wahai Normatif Tua Pertikel, lihatlah diriku ini. Walaupun aku hanya tinggal kepalaku saja, maka aku masih bisa melawanmu.

Normatif Tua Pertikel:
Engkau memperlihatkan bahwa hanya dengan kepalamu saja engkau masih bisa mengamuk dan merusak. Maka senjataku saja tidak bisa mengalahkanmu kecuali aku harus minta bantuan gunung yang tinggi untuk bersedia melongsorkan sebagian lereng dan tebingnya sehingga kepalamu, Formal Dewasa Mandireng akan terbenam jauh di bawah dasar gunung. Itulah saat di mana semua bentuk angkara murkamu akan terhenti. Tiadalah manusia mampu mengalahkan jin bertanduk tujuh jika tiadalah bantuan dari Allah SWT. Amiin.

Para Normatif:
Terus..terus..bagaimana...di mana?

Normatif Tua Pertikel:
Wahai para Normatif. Janganlah engkau mengaku sebagai normatif, jika engkau tidak mampu melihatnya. Ketahuilah, begitu selesai aku bercerita, maka selesai pulalah pertempuran itu. Lihatlah maka kita melihat disana para Formal sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Mereka telah menyadari bahwa mereka juga memerlukan para Normatif. Mereka juga telah menyadari bahwa mereka juga tidak serta merta bisa menihilkan keberadaan Normatif. Sesungguhnya yang terjadi adalah, agar para Formal bisa menjadi Normatif, maka semua Formal yang lain harus mendukungnya. Apakah arti dari kalimatku yang terakhir itu. Itulah sebenar-benar makna ontologis. Ontologis suatu hal tidaklah bisa dipaksakan, tetapi memaksa sendiri itu adalah ontologis. Maka renungkanlah?

Para Normatif:
Wahai Normatif Tua Pertikel..aku curiga dengan dirimu. Jika Engkau benar-benar Normatif seperti aku. Mengapa engkau mempunyai kemampuan melebihi diriku. Siapakah dirimu itu.

Normatif Tua Pertikel:
Aku tidak lain tidak bukan adalah si Orang Tua Berambut Putih. Itulah sebenar-benar diriku adalah pengetahuanmu. Maka gunakan akal dan pikiranmu untuk menggapai ilmumu dan untuk memecahkan urusan sehari-hari. Tetapi aku telah membuktikan bahwa akal saja tidaklah cukup. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Tetapi itu juga belum cukup jika engkau belum menggapai Rakhmat dan Hidayah Nya.
Amiin.

31 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam menjalani hidup ini, kita harus selalu ingat 3 hal, yaitu: 1) ruang dan waktu; 2) berpikir intensif dan ekstensif; serta 3) menggapai logos. Dengan selalu mengingat ruang dan waktu, kita bisa menempatkan diri dengan benar, seperti sebagai seorang mahasiswa saat kuliah sedangkan sebagai anak ketika di rumah, dsb. Selanjutnya, berpikirlah intensif dan ekstensif. Artinya, berpikir secara intensif yaitu berpikir dengan sungguh-sungguh dan kontinu hingga memperoleh hasil yang optimal, dan berpikir secara ekstensif, yaitu berpikir dengan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Selain itu, kita tahu bahwa tujuan manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah, menggapai Rakhmat dan Hidayah Allah SWT. Walaupun kita menggunakan akal dan hati, itu belumlah cukup untuk menggapainya. Maka sebagai manusia, kita hanya bisa selalu berusaha untuk meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya. Ketiga inilah yang jika digabungkan semua akan menjadi kekuatan yang besar dalam menggapai sesuatu dalam menjalani hidup ini.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu dihadapkan masalah, baik sederhana maupun kompleks. Manusia telah dikaruniai akal dan pikiran. Pikiran manusia adalah kemampuan manusia itu sendiri. Tidaklah mampu sesorang menggapai pikiran orang lain, karena sesungguhnya pikiranku adalah bukan pikiranmu. Keterbatasan kemampuan manusia itulah sebab utama manusia tidak dapat memikirkan hal yang tidak ada dalam pikirannya. Oleh sebab itu untuk dapat menyelesaikan masalah maka kita harus: (1) kesadaran ruang dan waktu, (2) berpikir intensif dan ekstensif, (3) menggapai logos. Jika dengan akal dan pikiran tidak bisa menyelesaikannya maka gunakan akal dengan hati untuk menggapai rahmat dan hidayah Nya.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Formal dan normatif dua istilah yang memiliki bidang kajian yang berbeda. Secara ontologis, formal dan normatif tidak dapat disamakan, karena ruang dan waktu yang berbeda. Kapan dan dimana dapat dikatakan formal atau normatif tergantung berada dalam dimensi mana mereka berada. Maka tidak serta merta formal menjadi normatif dan normatif menjadi formal, seperti yang dipaparkan dalam elegi ini. Satu ungkapan yang dapat dikatakan bahwa ontologis tidak dipaksakan, tetapi memaksa itu juga merupakan ontologis.

    ReplyDelete
  4. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Seharusnya antara yang normatif maupun formatif bisa saling mendukung, bekerja sama, dan saling melengkapi. Yang formatif dapat memandang bahwa ujian nasional bukan penentu utama untuk menentukan kelulusan peserta didik dalam menempuh jenjang pendidikan karena masih ada penilaian yang semestinya ikut dipertimbangkan misal dari ujian sekolah juga penilaian perilaku. Yang normatif dapat memandang bahwa ujian nasional merupakan sebagai alat untuk mengukur sejauh mana sudah kemampuan yang dimiliki selama menimba ilmu di sekolah tanpa adanya mengeluh maupun melakukan kecurangan.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Syahlan romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Untuk menggapai ilmu dalam kehidupan ini kita tidak hanya menggunakan akal dan pikiran saja. Tetapi hati juga perlu digunakan. Ketiga-tiganya yaitu akal, pikiran dan hati harus berjalan secara harmoni agar ilmu yang kita dapatkan bermanfaat dan kita dapatkan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti.

    ReplyDelete
  7. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Pikiran manusia sangatlah terbatas, maka pikiran manusia adalah kemampuan manusia itu sendiri. Karena pikiranku adalah pikiranku bukan pikiranku adalah pikiranmu, maka tidaklah mampu seseorang menggapai pikiran orang lain. Keterbatasan inilah sebab utama manusia tidak dapat memikirkan hal yang tidak ada dalam pikirannya. Manusia hanya memiliki kemampuan untuk menggapai pengetahuan, namun manusia tidak mampu menggapai yang lainnya bila tanpa pertolongan Allah SWT. Hal tersebut hanya bisa digapai dengan keyakinan hati seorang manusia, maka itulah batas kemampuan manusia.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Ketika manusia dianugrahi akal, pikiran dan hati sebagi bekal untuk menghadapi hari-harinya maka sudah sangat tinggi dimensi manusia.
    Dengan akal dan pikiran dapat mempertimbangkan baik dan buruknya suatu hal. Sehingga manusia akan lebih bisa berbuat dengan baik.
    Ditambah lagi dengan adanya hati. Ketika manusia sudah berusaha berbuat baik akan menjadi bijak ketika hati digunakan dalam kehidupannya.
    Tetapi itu juga belum cukup jika belum menggapai Rakhmat dan Hidayah Nya. Maka sebagai manusia yang bertuhan sudah seharusnya kita ggunakan akal, pikiran dan hati kita untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya untuk menggapai rahmat dan hidayahNya.

    ReplyDelete
  9. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    Dengan menggunakan akal dan pikiran kita tentu tidak ada masalah yang tak terselesaikan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa akal manusia memiliki kemampuan yang tak terbatas. Namun kita uga harus mengimbanginya dengan kekuatan hati. Dengan hati kita dapat mengimabangi mana yang baik dan buruk.

    ReplyDelete
  10. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi tersebut dapat diketahui bahwa akal dan hati menjadi dua hal yang perlu berjalan beriringan. Hal yang paling menarik dari elegi tersebut yaitu tentang perdebatan/pertikaian antara formal dengan normatif. Tak jarang dalam kehidupan, banyak orang yang menghendaki formal tanpa normatif. Dari elegi juga dipaparkan beberapa tips mencapai normatif, yaitu kesadaran ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif, serta menggapai logos.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. Untuk memperoleh ilmu itu harus seimbang, antara formatif dan normatif. Formatif dan normatif dapat berjalan beriringan agar terjadi harmoni dan tidak saling memaksakan kehendak.

    ReplyDelete
  12. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS Pend. Matematika D

    Elegi ini mengingatkan kepada kita bahwa dalam menjalani hidup di dunia ini kita harus berpegang pada 3 hal yang meliputi kesadaran ruang dan waktu, berpikir ekstensif dan intensif, serta menggapai logos. Semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini ditentukan sesuai dengan ruang dan waktunya. Kita juga dituntut berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, sehingga kita dapat menggapai logos, kita tidak terpengaruh akan hal buruk yang menjebak diri kita.

    ReplyDelete
  13. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Formatif dan normatif haruslah berjalan seimbang, berjlaan seimbang dengan selalu melibatkan pikiran dan hati dalam menjalaninya. Karna semua yang ada dan mungkin tidak ada, harapan kita adalah selalu berada dalam lingkup kebaikan meskipun dibatasi oleh ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Tentulah kita sebagai manusia memiliki tujuan yang kitaingin capai. Sesuatu yang ingin dicapai tersebut diperlukan kekuatan dalam menggapainya. Kekuatan tersebut ialah pengetahuan akan penyesuaian ruang dan waktu yang tepat, berpikir secara intensif dan ekstensif serta menggapai logos. Jika kekuatan tersebut digunakan secara bersamaan maka tidak ada yang dapat mengahalangi untuk menggapai tujuan tersebut.

    ReplyDelete
  15. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Kehidupan di dunia ini dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga pikiran kita mempunyai batas. Dengan keterbatasan pikiran manusia maka manusia dianugerahi hati yang fungsinya diatas dari pikiran. Ketika pikiran tidak mampu untuk memikirkannya maka pada saat itu hatilah yang akan berfungsi. Dan keputusan yang baik adalah apabila kita memutuskan setelah dipikirankan dengan pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  16. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang saya uraikan pada elegi pemberontakan para normative, seharusnya formatif dan normative mampu beriring-ringan untuk membentuk sinergi yang lebih untuk menciptakan premis-premis baru yang menjadi logos-logos yang mengevaluasi program-program yang ada.

    ReplyDelete
  17. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    akal dan pikiran harus sejalan. Dengan menggunakan akal kita dapat memahami apa yang tidak kita mengerti. Sedangkan dengan hati kita dapat menentukan mana yang baik dan yang buruk, sehingga komunikasi dengan orang lain dapat terjalin dengan baik. Apalagi jika kita di Rahmati oleh sang maka pencipta, tentu hidup ini akan berkah

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ada hak, ada juga kewajiban. Ada formal, ada juga normatif. Hal tersebut yang sampai saat ini menarik untuk dibahas karena meliputi banyak hal. Formal menempati ruang dan waktunya sendiri, begitupun dengan normatif, ia menempati ruang dan waktunya sendiri. Sebagai manusia, ada kalanya menjadi formal dan ada kalanya menjadi normatif. Manusia dapat mencapai ikhlas ketika mampu menggapai logosnya. Dengan menggapai logos maka manusia menjadi normatif. Karena sebenar – benar diri adalah pengetahuan maka semoga kita dapat menggunakan segala akal dan pikiran kita untuk menggapai ilmu dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan agar hidup kita lebih baik dari yang lalu.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Dari kisah pemberontakan para formal dapat saya simpulkan bahwa manusia sebaiknya sadar akan ruang dan waktu yang dijalaninya dan tidak terjebak dengan angan-angan yang belum pasti kebenarannya, manusia juga perlu untuk berpikir intensif dan ekstensif untuk mempertimbangkan perilakunya sudah benar atau salah, dan juga perlu membuka diri terhadap semua pikiran dan ilmu yang masuk dan mempertimbangkan kebenarannya secara adil. Dengan tiga jurus sakti normatif tua partikel diharapkan manusia tidak terjebak dengan formalitas sehingga dapat merasakan esensi dari sesuatu yang dilakukannya.

    ReplyDelete
  20. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu hal yang saya garis bawahi ialah bahwa menyadari ruang dan waktu adalah penting. Dengan berbekal kesadaran ini, maka kita menjadi tahu bagaimana posisi diri kita sehingga mampu menempatkan diri dengan sebenar-benarnya.

    ReplyDelete
  21. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Normative fan Formatif adalah dua hal yang harus beriringan. seperti hati dan pikiran yang seharusnya berjalan beriringan, bukan berjalan secara sendiri sendiri dan tanpa beriringan. hati dan pikiran harus menjadi beriringan searah karena hati dan pikiran ada dalam diri kita secara bersama dan tidak dapat dipisahkan.

    ReplyDelete
  22. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2


    Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang istimewa. Dalam diri manusia dibekali akal pikiran dengan tujuan untuk berpikir. Pikiran manusia adalah kemampuan manusia itu sendiri. Tidaklah mampu seseorang menggapai pikiran orang lain, karena sesungguhnya pikiranku adalah bukan pikiranmu. Keterbatasan kemampuan manusia itulah sebab utama manusia tidak dapat memikirkan hal yang tidak ada dalam pikirannya. Kemampuan yang dimiliki manusia adalah cara menggapai pengetahuan, tidak hanyalah kemampuan yang dibutuhkan akan tetapi hati dan manusia tidak akan luput dari pertolongan Tuhan dalam mencapai kemampuannya.

    ReplyDelete
  23. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seharusnya normatif dan formal selalu berjalan beriringan dan juga saling mendukung sesuai dengan dimensi ruang dan waktunya. Didalam menjalani kehidupan hendaknya kita harus mengetahui 3 hal agar kita selalu dalam keadaan yang baik, yaitu: kesadaran ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif dan yang ketiga menggapai logos. Dengan melakukan 3 hal ini kita diharapkan bisa bisa mencapai tigkatan yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  24. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam kehidupan ini, normatif dan formatif haruslah saling selaras atau sejalan. Tidak lain halnya antara hati dan pikiran pun juga harus saling selaras atau sejalan sehingga memunculkan suatu keharmonisasian.

    ReplyDelete
  25. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada kalimat menarik dari elegi pemberontakan para formal ini, yaitu "Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Tetapi itu juga belum cukup jika engkau belum menggapai Rakhmat dan Hidayah Nya". Ini menunjukkan bahwa sebesar apapun usaha kita, tidak akan mampu mengalahkan kebesaranNya. Sehingga kita sebagai seorang hamba hendaknya senantiasa berusaha dengan diiringi doa.

    ReplyDelete
  26. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada saatnya di mana kita menghadapi suatu kejadian yang tidak terpikirkan oleh akal sehat kita sebagai manusia. Oleh karena itu, kita harus menggunakan akal dan pikiran untuk memperoleh ilmu dan memecahkan masalah sehari-hari. Diimbangi dengan hati yang ikhlas dan penuh do'a, semoga kita selalu dapat mengambil manfaat dari semua permasalahan yang kita alami di dunia ini.

    ReplyDelete
  27. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam menjalani kehidupan, normatif dan formal harus berjalan beriringan agar terjadi keseimbangan dalam hidup ini. Yang perlu diketahui manusia adalah bahwa terdapat 3 hal penting agar normatif dan formal dapat berjalan beriringan. Tiga hal tersebut yaitu Sadar akan ruang dan waktu, berpikir intensif dan ekstensif, serta manusia menggapai logos.

    ReplyDelete
  28. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Yang formal memberontak dengan yang tidak formal. yang tidak normal dianggap benar maka yang formal akan merasa iri dan memberontak. karena sesungguhnya adil itu susah. tetapi pastilah ada yang formal dan nonformal didunia ini. tinggal bagaimana kita menanggapinya.

    ReplyDelete
  29. Desinta Armiani
    14301241041
    S1 Pend Matematika A 2014

    Pemikiran manusia memiliki keterbatasan, oleh karena itu diperlukan keseimbangan normatif dan formatif. Tetapi terkadang manusia dihadapkan dengan masalah yang tidak dapat ditalar oleh akal sehat. Maka diperlukan dimensi tertinggi manusia dimana akal bertemu dengan hati. Tetapi tetap menharap ridhoNya, karena apapun yang kita hadapi ada didalam kuasa Allah SWT.

    ReplyDelete
  30. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    formal dan normatif, akan selalu berada disekeliling kita. karena dengan keduanya tercipta sebuah keharmonisan. begitupula dengan hati dan pikiran, mereka harus senantiasa berada dalam diri kita. karena memang dalam hidup ini yang membuat indah adalah karena hadirnya pasangan-pasangan. panas-dingin, siang-malam, besar-kecil, manis-pahit, dsb. itulah dunia, semua berpasang-pasangan dan harus senantiasa beriringan untuk mendapatkan keharmonisan.

    ReplyDelete
  31. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Antara material, formal, normatif, dan spiritual ialah saling merentang. Material meliputi formal, normatif, spiritual. Formal meliputi material, normatif, spiritual, dst. Hanya dengan selalu mengingat ruang dan waktu maka kita dapat menempatkan diri dengan benar, sehingga kita dapat menjalankan peran yang ada dalam diri kita dengan benar sesuai dengan ruang dan waktunya. Akal pikiran bersama dengan hati dan perasaan saling terlibat dalam menentukan penyelesaian. Agar diperoleh hasil terbaik dan adil, yang tidak akan menimbulkan penyesalan.

    ReplyDelete